InfokomBanserNU- Dibanding dengan jaringan ulama dan pesantren Jawa, pengetahuan kita mengenai jaringan ulama dan pesantren Sunda amat sangat sedikit. Hanya para peneliti tertentu saja yang mengetahuinya. Masyarakat umum, apalagi di luar Sunda, hampir tidak mengenalnya secara baik dan benar.
Beberapa hari kemarin saya dan sejumlah dosen UNUSIA Jakarta berkesempatan mengunjungi makam para ulama Sunda dan pesantrennya. Kami memulai perjalanan dari Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasik, dan berakhir di Ciamis. Banyak hal yang kami dapatkan, bahkan sebagiannya terdengar mengejutkan.
Misalnya soal peranan KH Abdullah bin Nuh yang seringkali diklaim oleh HTI sebagai ulama yang mendukung khilafah. Setelah membaca tulisan beliau sendiri yang kami dapatkan di pesantren Al-Ghozali, Bogor, klaim tersebut ternyata menipu. Secara jelas dan tegas beliau menyatakan Pancasila adalah “jalan tengah” bagi Indonesia.
Sementar itu, di Cianjur kami menziarahi makam KH Ahmad Syathibi yang lebih dikenal sebagai Mama Gentur. Meskipun setiap haulnya diziarahi ribuan orang, banyak orang, apalagi generasi milenial, tidak lagi mengenalnya. Padalah beliau adalah salah satu simpul utama ulama Sunda pada awal abad ke-20. Pandangan keagamaannya yang khas masih tercermin dalam aturan di sekitar pemakamannya hingga sekarang. Para peziarah tidak boleh membawa hape melewati gerbang yang gambarnya bisa dilihat di bawah.
Memahami konstelasi keagamaan di Jawa Barat, khususnya Priangan, hari ini tidak bisa dilakukan tanpa memahami jaringan ulama dan pesantrennya. Sayang banyak hal belum tergali. Keberadaan pesantren Fauzan di Garut, misalnya, jarang diekspos oleh media. Kajian-kajian akademis juga melupakannya. Padahal kita tidak akan mengerti mengapa terjadi ketegangan di Garut ketika terjadi pembakaran bendera HTI dua tahun lalu jika tidak tahu bagaimana peranan penting pesantren Fauzan di sana. Dalam amatan saya, tidak ada pesantren yang lebih gagah berani membela NU di Priangan melebihi pesantren Fauzan.
Masih banyak hal lain yang sesungguhnya ingin saya ceritakan. Di Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, kami juga mendengarkan informasi menarik. Dalam pengakuan pengasuhnya, karena dulu almarhum KH Choer Affandi sebagai pendiri pernah bergabung dengan DI (Darul Islam), maka sekarang terdapat stigma terhadap mereka. Seolah-olah Miftahul Huda anti-NU, padahal, menurut KH Abdul Aziz Affandi, pengasuhnya sekarang, “kami ini Nahdliyyin!”
Insya Allah saya dan teman-teman UNUSIA akan menuliskan cerita perjalanan yang sebenarnya terlalu singkat itu. Termasuk dalam hal ini temuan-temuan mengenai kesalahpahaman terhadap “Islam Nusantara” di sebagian masyarakat, khususnya di Jawa Barat. Semoga ini bisa menambah pengetahuan, meski sedikit, tentang jaringan ulama dan pesantren Sunda yang terlupakan.
InfokomBanserNU- Ada seorang Ustadz Modern (UM) yang gerah melihat amalan warga kampung yang dipimpin seorang Kyai Kampung (KK)
Akhirnya Ustadz Modern mendatangi Kyai Kampung. Setelah ucapkan salam, maka terjadilah dialog:
UM: Sudahlah Kyai tinggalkan kitab-kitab kuning (turats) itu, karena itu hanya karangan ulama kok. Kembali saja kepada al-Quran dan Hadits ”
Mendapat pertanyaan, Kyai Kampung tak langsung mereaksi. Sang KK mendengarkan dengan penuh perhatian dan tak langsung menanggapi.
Malah KK itu menyuruh anaknya mengambil termos berisi kopi dan gelas. Kemudian mempersilahkan minum.
Tamu itupun menuangkan kopi ke dalam gelas.
Lalu KK bertanya dengan santainya: “Kok tidak langsung diminum dari termos saja. Mengapa dituang ke gelas dulu?”
Kemudian UM menjawab: ” Ya… ini agar lebih mudah minumnya too kyai..!
Akhirnya KK memberi penjelasan: ” Itulah jawabannya, mengapa kami tidak langsung mengambil dari al-Quran dan Hadits. Kami menggunakan kitab-kitab kuning yang mu’tabar, ibarat gelasnya, karena kami mengetahui bahwa kitab-kitab mu’tabarah itupun diambil dari al-Quran dan Hadits, ibarat termosnya, sehingga kami yang awam ini lebih mudah mengamalkan wahyu, sebagaimana apa yang engkau lakukan saat minum kopi dengan menggunakan gelas, agar lebih mudah minum kopinya, bukankah begitu ???”
Terimakasih Abah Anom (red.Abi)
Sosok satu ini asli produk Nusantara. Meskipun secara nasab berjalur ke Hadhramaut Yaman. Namun beliau lahir di Indonesia, tepatnya Surabaya, bahkan ayahnya juga Indonesia yakni Sulawesi. Wafat tahun 1969, sejaman dengan para pendiri NU. Kakak kelas dari ulama kebanggaan Nusantara Syaikh Yasin al-Faddani. Diantara alasan inilah beliau Habib Salim Bin Jindan sangat mencintai Indonesia.
Dibuktikan setiap kali menulis kitab setelah membubuhi al-Alawy al-Husaini di belakang namanya selalu mencantumkan al-Indonesia. Tidak kurang dari 400 ulama seluruh dunia yang menjadi gurunya. Hingga dirinya menjadi ulama pakar sejarah (muarrikh), hadits (muhaddits), nasab (munsib), sanad (musnid), dsb.
Terhitung karya tulisnya sebanyak 133 buah kitab. Dimana satu contoh kitabnya saja yang berjudul asy-Syamikh disebut oleh Syaikh Abdul Halim Mahmud memiliki 28 jilid. Sedangkan yang masih tersisa ada di tangan sang cucu, Habib Ahmad bin Novel bin Salim Bin Jindan, hanya 4 jilid. Sedangkan satu jilidnya saja mencapai 1000-an halaman. Kitab yang memuat biografi para gurunya Habib Salim ini ditulis detail. Urut dari abjad alif, ba’, ta, dst. Dari 4 jilid itu saja baru sampai huruf kho’.
Habib Ahmad Novel Jindan mengungkapkan bahwa jumlah manuskrip karya ulama Nusantara asal Hadhramaut (para sadah Alawiyyin) jauh lebih banyak dibanding negara asalnya. Dari segi suku (fam/marga) pun banyak yang di negara asalnya sudah punah namun di Nusantara masih ada, misalnya Khoneiman dan Bin Jindan. Bahkan ulama-ulama Nusantara itu hebat-hebat dan jauh lebih banyak dari ulama-ulama Timur Tengah. Tapi entah kenapa para ulama Nusantara jarang disebut oleh ulama-ulama Timur Tengah.
Menurut Habib Ahmad Bin Jindan, sedikitnya ada dua alasan; karena jaraknya yang jauh di ujung dunia dan faktor bahasa yang berbeda. India masih banyak disebut karena jaraknya cukup dekat dengan Timur Tengah. Adapun ulama Nusantara yang menjadi rujukan ulama Timur Tengah semisal Syaikh Nawawi Banten, Syaikh Mahfudz Termas dan Syaikh Yasin Padang, pun dikarenakan mereka berhijrah dari Nusantara ke negara Arab.
Alhasil, wallahu a’lam. Inilah bagian dari rahasia Allah yang belum terungkap. Apalagi besok tanggal 8-10 April akan berlangsung Konferensi Ulama Sufi Internasional terbesar di dunia. Acara yang diinisiasi oleh JATMAN NU dan Menhan ini membuktikan negara ini benar-benar negara yang dipenuhi keberkahan, gudangnya ulama, dan ummat Islam terbesar di dunia. Saya bangga menjadi Indonesia. Kita NU. Pancasila Jaya. NKRI Harga Mati!
Tulisan ini saya resume dari sedikit cuplikan pembahasan dalam acara Islam Nusantara Center – INC di Perpusnas bersama Habib Ahmad Jindan, Syaikh Faishal an-Najjar dan TG. Ajengan KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban.
Silakan dishare, halal semua tanpa perlu ijin. Sampai jumpa di Pekalongan. (Ditulis oleh: Syaroni As-Samfuriy)
FAIDAH-FAIDAH YANG BISA DIPETIK DARI HAUL KE-10 KH. ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR) DI PP. TEBUIRENG JOMBANG
Sambutan Anita Wahid, putri ke-3 Gus Dur
✓ Gus Dur mewariskan 9 nilai utama: ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekesatriaan, dan kearifan lokal.
Sambutan Dr. KH. Sholahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang
✓ Islam dan Indonesia layaknya Bapak dan Ibu. Orang yg mengatakan “Saya orang Indonesia yg beragama Islam” ataupun “Saya pemeluk agama Islam yg tinggal di Indonesia” itu sama dengan anak durhaka yg ingin kedua orangtuanya bercerai.
Maka katakanlah, “Saya 100% Islam, 100% Indonesia. Tidak lebih condong ke salah satunya”.
Testimoni dr. Marsilam Simanjuntak, Sekretaris Kabinet Pemerintahan Gus Dur
✓ Tak ada bidang pengetahuan yg tidak dipelajari Gus Dur. Gus Dur fasih berbicara agama, sosial, ekonomi, politik, bahasa, kesenian, bahkan olahraga.
✓ Karena stok lelucon Gus Dur tak terbatas, maka Gus Dur seringkali tak dapat menahan diri untuk tidak melucu. Namun lelucon Gusdur memiliki level yg berbeda.
Testimoni Ir. Sarwono Kusumaatmadja, Menteri Eksplorasi Kelautan Kabinet Pemerintahan Gus Dur
✓ Gus Dur memiliki 2 keistimewaan:
• Mampu menghubungkan satu gejala dengan gejala lainnya yang sebenarnya tampak tidak berhubungan, dgn cara jenaka.
• Omongan Gus Dur baru bisa dimengerti beberapa bulan bahkan bertahun-tahun kemudian setelah diutarakan, krn kita ternyata menggunakan perangkat pengetahuan yg parsial untuk memahami pemikiran Gus Dur yg integral. Gus Dur punya “rezim pengetahuan” tersendiri yg tidak dimiliki orang lain.
✓ Ramalan Gus Dur bersifat definitif, bukan spekulatif. Dulu, dia pernah berkata pada saya, “Saya kelak akan menjadi presiden”. Saya tertawa. Dan ternyata terjadi.
Testimoni Prof. Dr. KH. Nasihin Hasan, sahabat Gus Dur
✓ Tidak lagi sebagai individu, tapi Gus Dur adalah sebuah institusi, school of integrity. Gus Dur adalah lembaga demokrasi itu sendiri.
✓ Jarak kehidupan dan kematian hanya sejengkal. Tapi Gus Dur berhasil mengisi jarak sejengkal tsb dgn 3 hal secara bernas: Keagamaan, keummatan, kebangsaan.”
✓ 5 bulan setelah Gus Dur wafat, KH. Maimoen Zubair mendatangi saya dgn heran dan bertanya mengapa makam Gus Dur diziarahi orang-orang tanpa henti. Barangkali Gus Dur pernah punya ajian tertentu semasa hidupnya. Dengan rendah hati saya menghibur Mbah Moen dgn menjawab bahwa Gus Dur memiliki 4 ajian:
• kesederhanaan hidup (nrimo ing pandum). Gus Dur pernah menjadi penasehat informal LP3ES. Kesana kemari naik bis. Gus Dur tidak pernah punya dompet. Saat mengetik artikel/buku, Gus Dur menggunakan kertas bekas karena tidak mau menjadi bagian dari para pelaku penggundulan hutan.
• suka sekali silaturrahim sampai ke pelosok-pelosok, ke orang yg masih hidup maupun yg sudah meninggal.
• Dermawan. Suka memberi sesuatu berharga pada orang yg dikenal maupun yg tidak dikenal.
• Out of the box (khariqul ‘adah)
Lalu Mbah Moen menjawab dalam bahasa Jawa: “Ora kuat aku niru Gus Dur. Iku lakune sufi!” Kata Mbah Moen, Gus Dur berhasil membantinkan nilai menjadi laku, intelektualitas mewujud spiritualitas, jamali sekaligus tajalli, roso jadi rosa (perasaan menjadi kekuatan).
Pembicara Inti: KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha’)
✓ Gus Baha’ diundang datang ke Tebuireng, karena selain sanad fiqihnya tersambung ke atas sampai KH. Hasyim Asy’ari, via Mbah Moen, juga karena memiliki silsilah leluhur yg sama dgn leluhur KH. Hasyim Asy’ari.
✓ Gus Baha’ mengagumi Gus Dur dalam perspektif fiqih, yakni kemampuan Gus Dur mengelola konflik tanpa pertumpahan darah. Gus Baha’ menganggap Gus Dur berhasil meniru sifat visioner Nabi Muhammad saw. yg bersikeras menempuh jalan damai meskipun (seakan) dirugikan dalam Perjanjian Hudaibiyah.
✓ Kata Gus Baha’, Cucu mewarisi Kakek. Pemikiran out of the box Gus Dur tidak muncul begitu saja, namun memiliki sanad dari kakeknya, Hadrotusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari yg perannya dalam kemerdekaan Indonesia dijelaskan secara detil dalam kitab karya Muhammad Asad Shihab berjudul
العلامة محمد هاشم أشعري: واضع لبنة استقلال إندونيسيا
(Gus Baha mewakafkan kitab ini untuk dikaji di Tebuireng). Maka, membicarakan Gus Dur harus melibatkan KH. Hasyim Asy’ari, karena membicarakan Nabi Muhammad saw. pasti membicarakan Nabi Ibrahim as. Itulah barokahnya moyang.
✓ Banyak sekali hal penting yg diutarakan Gus Baha’, tapi tidak terkait langsung dengan Gus Dur.
wp.sorbansantri.com – Bagi kita yg tak pernah tahu bagaimana rupa Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam cukuplah berkumpul dan menatap para auliya atau ulama.
Imam Hasan Al Basri berkata:
Seseorang bertanya kepada Imam Hasan Al Basri
“wahai Imam hasan katakan amalan apa yg bisa membuat aku dekat dengan Allah dan menyelamatkan diriku ditempat terbaik di yaumil akhir (jannah) dan imam Hasan menjawab “cintailah para auliya atau ulama (orang yg dekat dgn Allah) dan berharap ketika Allah menatap hati para kekasihnya itu dan disana tertulis namamu, dan itu akan membuat Allah membiarkan engkau bersama mereka di tempat terbaik Nya” In syaa Allah, Aamiin… (Majlis Sema’an Al Qur’an Wa Dzikrul Ghofilin Jantiko Mantab)
Mbah Sholeh adalah pendiri Pesantren Penarip Kota Mojokerto yang memiliki pengetahuan luas. Beberapa kitab rujukan pesantren beliau hafal luar kepala. Kedalaman ilmu agama itu membuat banyak orang menaruh hormat, termasuk Mbah Hasyim Asy’ari Tebuireng.
Buktinya, sebuah surat bertulis tangan dengan menggunakan huruf pego dibuat Mbah Hasyim untuk Mbah Sholeh Penarip. Surat yang dibuat pada bulan Rabiuts-tsani tahun 1359 H yang bertepatan dengan bulan Juli/Agustus 1940 itu nampaknya ditulis sebagai jawaban atas surat Mbah Sholeh pada pengasuh pesantren Tebuireng tersebut.
Tidak ada hal khusus dijelaskan pada selembar surat tersebut. Dinyatakan di dalamnya bila pesan Mbah Sholeh melalui utusan bernama Ghozali telah diterima dan jawabannya diberikan secara lisan melalui utusan tersebut. Tampaknya hal yang dibahas merupakan persoalan yang “rahasia” sehingga tidak bisa dituliskan langsung. Jawaban hanya diberikan dengan perantaraan seorang utusan yang bisa dipercaya.
Yang menarik adalah dalam surat itu Mbah Hasyim menyebut nama Mbah Sholeh dengan sebutan penghormatan “Hadratussyeich Haji Mohammad Ilyas”. Tentu bukan sebutan biasa dari seorang Rois Akbar NU pada seseorang kyai pesantren yang kebesarannya tidak sekondang Tebuireng. Sebutan yang sepertinya menunjukkan ke-aliman Mbah Ilyas dalam pandangan Mbah Hasyim. Sebutan hadratussyeich hanya diberikan pada orang tertentu saja dengan kualifikasi keilmuan tinggi. Selain itu, tentu Mbah Hasyim tahu bila Moh. Ilyas/Mbah Sholeh merupakan karib sekamar dari tokoh terkenal masa itu, Kyai Khozin Siwalanpanji, saat mondok di Japanan Pasuruan.
Moh. Iyas dalam surat itu adalah nama kecil Mbah Sholeh Penarip. Nama yang digunakan saat menuntut ilmu diberbagai pesantren. Nama Moh Sholeh digunakan setelah Moh Ilyas naik haji. Sebutan Moh. Ilyas masih digunakan Mbah Hasyim untuk menyebut sejawatnya itu.
Surat korespondensi semacam itu biasa dilakukan antar tokoh untuk mendiskusikan satu persoalan yang butuh pemecahan. Sangat dimungkinkan diskusi itu membahas masalah fiqh menyangkut problem sosial yang berkembang di Mojokerto. Sayangnya, Mbah Sholeh tidak pernah menceritakan apa jawaban yang diterima melalui Ghozali itu.
Menurut cerita, dulu ada beberapa lembar surat korespondensi antara Mbah Sholeh dengan Mbah Hasyim. Komunikasi literal antar tokoh dengan keilmuan setara guna membahas masalah fiqhiyah. Setidaknya ada 4 buah yang sekarang hanya tersisa satu itu saja.
Surat yang sekarang disimpan oleh dzuriyah Pesantren Penarip itu mungkin tidak memiliki kandungan yang penting karena tidak menjelaskan persoalan tertentu. Tetapi karena dibuat oleh Mbah Hasyim maka surat yang sudah berlubang dibeberapa bagian hingga perlu dilaminasi untuk menyelamatkannya itu memiliki nilai intrinsik tinggi. Sungguh surat yang sangat layak untuk disimpan.
Infokom Ansor Banser NU-Habib Ali al-Jufri kepada Banser “mata-mata yg tidak menangis di hari kiamat adalah mata mereka yg tidak tidur utk menjaga keamanan manusia” Lihat ekspresi pak Banser, saat mendengar tausiyah Habib Ali, tidak ada terdengar teriakan dan pekikan takbir, malah mewek sambil berdoa, kenapa?! Karena selama ini Banser menjaga keamanan, kemanusiaan, negara dan bangsa bukan untuk gagah-gagahan. Itu semua karena gerakan dr hati ruhani untuk melaksanakan perintah ulama-kiai.
SORBAN SANTRI-Telah syahid guru kami, Syeikh Muhammad Adnan al-Afyouni, di Qudsia Provinsi Damaskus. Syahidnya beliau menambah daftar panjang ulama yang diserang secara keji oleh teroris yang mengatasnamakan Islam. Syeikh Adnan adalah sosok ulama yang mempunyai peran sangat penting dalam proses rekonsiliasi konflik di Suriah. Beliau lah ulama yang turun langsung meng-islahkan pihak-pihak yang bertikai.
Beliau ulama yang mendapatkan kepercayaan, baik dari pemerintah maupun oposisi, karena integritasnya yang tinggi. Beliau juga termasuk ulama yang sangat dekat dengan umat Islam Indonesia, mempunyai ratusan murid di Indonesia, melakukan serangkaian kunjungan rutin ke Indonesia semasa menjadi mufti Provinsi Damaskus, mewanti-wanti agar jangan sampai apa yang menimpa negaranya terjadi pula di Indonesia. Beliau juga mempunyai kedekatan dengan ulama-ulama Indonesia, terutama Habib Luthfi bin Yahya, Anggota Wantimpres RI dan ketua Jamiyah Toriqoh Mutabarah al-Nahdliyah (JATMAN).
Semoga dilipatgandakan segala kebaikannya, dikumpulkan bersama para pendahulunya di surga firdaus-Nya. Amin. Kami kehilangan seorang guru, ulama, dan rekonsiliator. Syahidnya beliau mengingatkan pada kita bahwa perjuangan melawan radikalisme dan terorisme masih panjang. Perlawanan terhadap Khawarij dan turunannya adalah jalan hidup para ulama, dari generasi sahabat hingga periode kita sekarang ini… (abi sorban)
Pihak-pihak yang bertikai dalam konflik seperti di Suriah terkadang memanfaatkan data dan statistik, serupa dengan metode perbandingan yang dilakukan oleh click here dalam menilai berbagai platform online.
Engkau seolah-olah membuat murid-muridmu menyembah sesama makhluk?
Tidakkah hanya Allah saja yang layak disembah?
Tunduk atau menunduk kepada makhluk adalah perbuatan syirik. Habib Umar hanya tersenyum mendengar ucapan dan pertanyaan dari seorang pemuda tersebut.
Lantas Habib Umar memanggil pemuda tadi dan mendekatinya.
Habib Umar mengambil pena yang ada di dalam saku baju pemuda tersebut kemudian menjatuhkannya ke bawah.
Ketika si pemuda ini menundukkan kepala dan badannya kebawah guna mengambil pena tersebut, Habib Umar menahannya dan berkata: “Jangan menunduk!, tidakkah menunduk kepada makhluk adalah bathil?”
“Tidak, aku hanya ingin mengambil pena ku di bawah.”
Lantas Habib Umar berkata: “Aku ini ibaratkan pena, seorang pencari ilmu tidak akan mendapat ilmu jika tidak mempunyai pena, Begitu juga dengan murid-muridku mereka menghargai dan menghormatiku bukan atas permintaaanku, Aku tidak pernah memaksa, aku tidak pernah menyuruh mereka mencium tanganku. Tetapi ketahuilah wahai pemuda; Seorang thalabul ilim tidak akan mendapatkan setetespun ilmu yang bermanfaat jika dia tidak menghormati gurunya.”
K.H. Ahyat Halimy ketika baru pulang dari belajar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, usianya masih sangat muda, yaitu 20 tahun, tetapi karena perangainya yang sangat santun, dan hormat pada Ulma’, maka beliau sudah dipercaya untuk menjabat Sekretaris Tanfidziyah NU yang diketuai oleh K.H. Dimyati dari Kauman, dan Rois Syuriyah-nya K.H. Zainal Alim dari Suronatan.
Ditengah-tengah kesibukannya
sebagai sekretaris Tanfidziyah NU, K.H. Ahyat Halimy beserta
teman-temannya, pada tahun 1938 mendirikan Ansoru Nah-dlatul Ulama (ANO)
atau GP Ansor. Motor dari gerakan ini adalah Pak Munasir dari Mojosari,
P. Soleh Rusman dari Kradenan, beserta dua belas pemuda lainnya. Fungsi
utama ANO waktu itu adalah membantu seluruh kegiatan dan program
Nahdlatul Ulama.
Tahun 1940 s/d 1942, selain masih
menjabat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU, K.H. Ahyat Halimy juga
dipercaya menjabat Ketua GP Ansor. Pada masa kepe-mimpinannya, K.H.
Ahyat Halimy membentuk tenaga penggerak di setiap Kawedanan, sebagai
berikut :
Kawedanan Mojosari, diserahkan pada P. Munasir, P. Munadi dan P. Mustaqim.
Kawedanan Mojokasri diserahkan pada P. Mansur Solikhi dan Sdr. Imam Muhtadi.
Kawedanan Jabung diserahkan pada P. Shofwan dan P. Abd. Hamid.
Kawedanan Mojokerto, diserahkan pada K.H. Ahyat Halimy sendiri, K.H. Samsoemadyan, P. H. Bilal, dan P. H. Rifa’i.
Pada
periode ini, kegiatan G.P. Ansor tidak hanya sekedar membantu kegiatan
dan program NU, tetapi sudah memiliki kegiatan kepemudaan yang lain,
seperti baris berbaris, kepanduan, bela diri dan lain-lain.
Disamping
itu, hampir setiap malam, mereka selalu berkumpul di Surau Jl. Miji 36
untuk sekedar ngomong-ngomong dan berdiskusi tentang berbagai hal.
Mereka bahkan sudah memiliki satu pasukan berseragam, terompet
sangkakala, dan beberapa perangkat kegiatan “kepanduan” ( seperti
Pramuka jaman sekarang).
Tahun 1943, ketika tentara Jepang
mulai memasuki Mojokerto, dan terjadi penjarahan besar-besaran
ter-hadap semua toko dan gudang bahan makanan dan barang penting lain
yang dikuasai Cina dan Belanda, aktivitas GP Ansor sempat terhenti,
meskipun sebenar-nya mereka semua masih sangat kompak, bersatu padu
dalam satu tekad “ Li I’laai kalimatillah “.
Penjarahan
itu ternyata memang diperintahkan oleh Penjajah Jepang, pada hari
pertama mereka masuk Kota Mojokerto, bukan untuk rakyat, tetapi untuk
kepentingan Penjajah Jepang sendiri. Hal ini terbukti pada esok harinya
ada pengumuman, bahwa barang jarahan itu harus dikumpulkan di
gudang-gudang dan markas tentara Jepang. Rupanya mereka sudah mulai
memepersiapkan kebutuhan logistik, untuk digunakan sewaktu-waktu keadaan
menjadi sangat sulit.
Akibat dari Penjajahan Jepang ini,
rakyat semakin men-derita, persedian sandang dan pangan semakin tipis
dan sangat langka, penganiayaan dan pemerkosaan oleh tentara Jepang
terjadi dimana-mana. Mereka yang melawan akan dikenakan hukuman mati,
yang ekse-kusinya dilaksanakan di alun-alun kota Mojokerto, dengan
terlebih dahulu mengumpulkan masyarakat sebanyak-banyaknya untuk
menyaksikan eksekusi tersebut. Eksekusi itu antara lain dilaksanakan
terha-dap 20 orang pembangkang, salah satunya adalah P. Mansur Solikhi.
Beliau sudah diikat pada tiang ekseku-si, tetapi atas pertolongan Alloh
SWT, beliau selamat dari tembakan pasukan Jepang, dan dijebloskan
kem-bali ke rumah tahanan. Maka lengkaplah penderitaan rakyat Indonesia
pada masa pendudukan Jepang.
Perintah untuk melakukan
penjarahan ini terus ber-langsung, banyak pula rakyat yang ditahan. Hal
ini kemudian mengusik keberanian K.H. Ahyat Halimy. Beliau bersama P.
Mansur Sholikhi, memanfaatkan situasi ini, bukan untuk menjarah barang
atau bahan makanan, tetapi dengan melaksanakan gerakan untuk menjarah
dan melucuti senjata pegawai pemerintah Hindia Blanda di Kantor
Kawedanan. Setelah itu Mansur Solikhi beserta kawan-kawannya melakukan
penggrebekan ke Pabrik Gula Gempol Kerep, sekali lagi untuk merampas
senjata pegawai Pabrik. Gerakan Mansur Solikhi ini, dengan cepat
menyebar ke Kawe-danan lain, dan segera diikuti oleh pemuda-pemuda
Ansor. Mereka melakukan penggrebekan ke Pabrik Gula di Bangsal, Dinoyo,
dan lain-lain. Tetapi malang tak dapat dielakkan, sehari setelah
Gerakan ini P. Mansur Sholikhi tertangkap, dan ditahan oleh Jepang
selama 1 tahun di rumah tahanan Perwotengah. K.H. Ahyat Halimy sendiri
berhasil meloloskan diri dan pulang ke rumah.
Selama dalam
tahanan ini P. Mansur Solikhi, sempat bertemu dengan K.H. Hasyim
Asy’ari yang juga di tahan di rumah tahanan Purwotengah, karena menolak
tunduk pada Jepang.
Ditengah kesulitan dan kebencian
seperti itu, semen-tara pasukan Sekutu mulai memenangkan peperangan di
banyak Daerah, akhirnya Jepang yang membawa missi kemenangan dalam
Perang Asia Timur Raya, mengajak pemuda-pemuda Indonesia, untuk
mengikuti semacam pelatihan militer dan membuka luas gerakan bela
negara, seperti Heiho, Peta dan lain-lain. Para pemuda, melalui arahan
dari pemimpin Pergerakan Nasional, menerima ajakan ini, bukan untuk
membela Jepang, tetapi untuk persiapan pembentukan Tentara Nasional,
jika Indonesia merdeka pada suatu hari nanti.
Membentuk Hisbullah.
Melihat
realitas kepedihan rakyat di masa pendudukan Jepang, serta mulai
dibukanya gerakan militer oleh tentara Jepang, maka atas prakarsa
beberapa Ulama di Jawa Barat, dan pendekatan yang dilakukan oleh K.H.
Wahid Hasyim, selaku Ketua Masyumi, penjajah Jepang mengizinkan
diadakannya latihan militer di Jibarosa Bogor. Setelah berembuk dengan
P. Mansur Sholikhi dan P. Munasir, disepakti GP Ansor Mojokerto
mengi-rimkan 3 kadernya untuk mengikuti latihan di Jibarosa, mereka yang
diutus itu adalah ; Sdr. Suhud (Alm. K.H. Suhud, Kemlagi), Sdr. Ahmad
Yatim, yang gugur dalam pertempuran di Pacet, dan Sdr. Mulyadi.
Selesai
mengikuti latihan di Jibarosa, tiga kader GP Ansor tersebut diajak oleh
K.H. Ahyat Halimy, untuk membentuk Pasukan Hisbullah di Mojokerto. Dari
hasil pertemuan yang diawali dengan “rujakan” itu, terbetuk Pengurus
Hizbullah, yang terdiri dari ;
Ketua : Mansur Solikhi
Wakil Ketua : Munasir
Sekretaris : Samsumadyan
Pembantu Umum : Ahyat Halimy
Anggota : Ahmad Khotib, Akhmad Efendi, Sholeh Yasin, Hudan, Muridan dan Mahfud.
Seluruh
anggota GP Ansor, digerakkan untuk masuk ke Laskar Hisbullah, sehingga
dalam waktu tidak lebih dari satu bulan, Hisbullah Mojokerto berhasil
memben-tuk dua batalyon. Batalyon pertama di pimpin oleh Mansur
Sholikhi, dan Batalyon kedua di pimpin oleh P. Munasir. K.H. Ahyat
Halimy diangkat sebagai Koman-dan Kompi IV, di bawah Batalyon Munasir.
Kompi IV ini mempunyai tugas khusus untuk mengawal para Ulama yang
tergabung dalam Laskar Sabilillah.
Seluruh persenjataan
dan perlengkapan militer dari Laskar Hisbullah ini, diambil dari pasukan
atau pega-wai Hindia Belanda yang sudah ditundukkan oleh tentara
Jepang, dan persenjataan tentara Jepang sete-lah mereka mnyerah pada
Sekutu.
Perang Gerilya.
Seperti biasanya,
malam itu Ahyat, Munasir dan Samsoemadyan, sedang bercengkerama di
Surau. Sambil menunggu kedatangan teman yang lain, mereka makan “tahu
solet”. Tiba-tiba Mansur Solikhi datang dengan nafas yang
terengah-engah, matanya berbinar. Setelah mengucap salam, Mansur segera
berkata ; “ Saya baru saja mendengar Radio, tadi pagi Bung Karno dan
Bung Hatta, memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Sekarang kita sudah
punya Negara sendiri. Negara yang dipimpin dan dijalankan oleh bangsa
kita sendiri. Allohu akbar ! Allohu Akbar ! .“ katanya berapi-api.
“Benarkah itu ?.” tanya Ahyat.
“Saya
mendengarkan dua kali, yaitu siaran setelah maghrib, dan siaran setelah
Isya’ “ kata Mansur Solikhi meyakinkan teman-temannya. Tanpa dikomando
mere-ka berempat serentak mengumandangkan takbir, sam-bil
berjingkrak-jingkrak. Kemudian Ahyat mengajak teman-temannya untuk sujud
syukur di surau. Berita ini segera disebarkan ke masyarakat, khususnya
teman-teman Ansor di Kota Mojokerto.
Keesokan harinya,
entah atas perintah siapa, masyara-kat berbondong-bondong ke alun-alun
kota. Beberapa diantara mereka ada yang mengumandangkan Takbir dengan
semangat. Tak lama kemudian sudah berkum-pul sekitar seribu orang,
mereka rata-rata hanya berbisik-bisik memastikan kabar Proklamasi.
Maklum, mereka sebenarnya agak takut, karena di sebelah utara dan
selatan alun-alun adalah Markas Kompetai, yang dijaga oleh tentara
Jepang dengan senjata laras pan-jang. Tidak seperti biasanya, meski ada
kerumunan banyak orang, tentara Jepang itu hanya berdiri me-matung.
Tak
lama kemudian tampak ada seorang pemuda me-lambaikan tangan dari Markas
Kompetai, sambil menenteng senjata. Beberapa orang pemuda berlarian
masuk markas, kemudian keluar sambil membawa senjata. Rupanya mereka
sedang melucuti senjata tentara Jepang.
Diantara para
pemuda tersebut tampak Mansur Solikhi dari Hisbullah yang juga sudah
membawa senjata laras panjang. Mansur kemudian menyuruh teman-teman
Hisbullah untuk mengambil senjata, terutama karena tentara Jepang sama
sekali tidak memberikan perla-wanan apapun, mereka hanya menolak kalau
senjata yang mereka bawa diambil.
Malam harinya, pengurus
Hizbullah Mojokerto rapat di surau Jl. Miji 36 dan K.H. Ahyat Halimy
mengusulkan agar semua senjata yang diambil oleh anggota Hisbul-lah,
dikumpulkan di suatu tempat, dan hanya akan diambil dan dipergunakan
pada situasi yang tepat, atas perintah Ketua Hisbullah. Usul ini
disepakati, demi keselamatan para anggota Hizbullah sendiri serta
menjaga kemungkinan penyalahgunaan senjata.
Hari-hari
berikutnya merupakan “hari pesta” bagi rakyat Indonesia, termasuk
masyarakat Mojokerto, setiap berpapasan dengan teman, dimanapun mereka
berada selalu meneriakkan salam “Merdeka !”. Tapi kegembiraan ini juga
diusik oleh adanya berita bahwa tentara Sekutu akan masuk dan menyerang
Indonesia, sehingga masyarakatpun mulai bersiap-siap melaku-kan
perlawanan pada Sekutu.
Menyikapi situasi ini K.H. Ahyat
Halimy meminta kepada teman-teman Hizbullah untuk melakukan koor-dinasi
dengan Bapak Husaini Tiway Ketua GP Ansor Surabaya, yang juga sudah
membentuk dan menata Laskar Hizbullah di Surabaya. Mereka bahkan sudah
membagi wilayah dan tugas untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya,
termasuk Mojokerto, Gresik, Sidoarjo dan Pasuruan.
Benar
saja, akhir bulan September, beberapa orang yang mengaku sebagai
perwakilan tentara sekutu, mulai masuk Surabaya. Mereka kebanyakan
adalah tentara Comenwealt Inggris yang berada di Australia, dan beberapa
orang Belanda yang berhasil melarikan diri ke Australia ketika Jepang
masuk ke Indonesia. Di Surabaya, mereka menempati Hotel Orange di Jl.
Tun-jungan. Tiba-tiba saja pada tanggal 19 September 1945, mereka
mengibarkan bendera Merah Putih Biru di puncak menara hotel. Keruan saja
hal ini menimbulkan reaksi keras dari arek-arek Suroboyo. Mereka secara
spontan berduyun-duyun ke Hotel Orange, dan dianta-ra mereka kemudian
ada yang mulai memanjat menara Hotel, kemudian merobek warna biru pada
bendera yang berkibar, sehingga yang tersisa adalah warna bendera merah
putih.
Tanggal 25 september 1945, tentara Sekutu
benar-benar sudah mendarat di Jakarta, mereka terdiri dari tentara
Inggris, Gurgha (orang India yang menjadi ten-tara Inggris), dan ikut
pula tentara Belanda. Missi mereka yang sebenarnya adalah untuk melucuti
senjata tentara Jepang dan menjadikan mereka sebagai tawanan perang,
serta membebaskan tawanan Jepang, khususnya orang-orang Belanda, atau
para Pegawai Pemerintah Kolonial Belanda yang ditawan Jepang.
Tetapi
dibalik missi resmi itu, rupanya ada agenda khusus dari tentara
Belanda, yaitu mengembalikan kekuasan Hindia Belanda. Agenda ini
ternyata memang di dukung oleh Inggris, sehingga setiap tentara sekutu
datang, kemudian melakukan perundingan dengan “Tentara Indonesia”,
selalu berakhir dengan perang. Karena rupanya sekutu enggan mengakui
kemerde-kaan Indonesia.
Setelah Insiden 19 September,
Tentara BKR (Badan Keamanan Rakyat), terutama Hizbullah, mulai
mem-persiapkan diri. Tanggal 20 Oktober tentara sekutu mulai memerapat
di pelabuhan Tanjung Perak, Sura-baya, dan dipimpin oleh Jendral AWS
Mallaby, awalnya Arek Suroboyo menolak masuknya tentara Sekutu ini,
tetapi setelah dilakukan perundingan, mereka mene-rima dengan beberapa
syarat. Tanggal 26 Oktober tentara sekutu mulai mendarat secara
besar-besaran, dengan dilengkapi senjata berat. Tentara Belanda dan
Gurgha, masuk terlalu jauh ke daratan Surabaya, sehingga menyalahi
perjanjian yang sudah disepakti dengan Jendral AWS Malaby. Untuk
menyelesaikan masalah ini diadakan perundingan kembali di Hotel
Internatio, tetapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba mun-cul kegaduhan,
dan seorang tentara sekutu melepaskan tembakan ke arah keruman massa di
depan Hotel Internatio. Kegaduhan itu dicoba untuk dilerai, ketika
keadaan sudah mulai mereda tiba-tiba muncul suara tembakan, entah dari
mana, maka baku tembak-pun mulai terjadi. Entah yang benar mana, insiden
Hotel Internatio, menurut sebgaian sumber telah menewas-kan Jendral AWS
Mallaby. Sebagian menceritakan bahwa Jendral Malaby tidak tewas, tetapi
diculik arek-arek Suroboyo. Yang jelas sejak insiden tersebut Jendral
AWS Malaby tak diketahui keberadaannya.
Pertempuran besar
sudah diambang pintu, karena perundingan mengalami jalan buntu. Laskar
Rakyat sudah mulai bersiap menghadang pendaratan sekutu, perlawanan
sudah mulai diteriakkan. Dari Mojokerto sendiri sudah ada satu kompi
laskar rakyat yang berangkat ke Surabaya. Dari Tebuireng, K.H. Hasyim
Asy’ari mengeluarkan Fatwa yang berisi tentang revolusi jihad berupa :
Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945, wajib dipertahankan ;
Republik Indonesia adalah satu-satunya pemerin-tahan yang syah
diseluruh bekas wilayah Hindia Belanda, wajib dibela dan dipertahankan,
meski-pun meminta pengorbanan harta dan nyawa ;
Musuh Indonesia terutama adalah Belanda yang membonceng tugas-tugas sekutu yang diwakili Inggris ;
Ummat Islam, terutama warga Nahdlatul Ulama wajib mengangkat senjata
melawan Belanda dan kawan-kawan yang hendak kembali menjajah Indonesia.
Melawan Penjajah adalah Jihad fi Sabi-lillah, membela agama Alloh,
karena itu bersifat perseorangan atau fardlu ‘ain.
Tanggal
10 Nopember 1945, sekutu memaksa untuk mendaratkan pasukannya, maka
pertempuran pun tak terhindarkan. Seluruh Pasukan Hisbullah, dan
laskar-laskar rakyat yang ada di Mojokerto berangkat ke Surabaya,
menghadang masuknya kembali penjajah Belanda. Dengan berbekal senjata
seadanya, dan kendaraan seadanya mereka berbondong-bondong ke Surabaya,
memasuki kancah peperangan dengan modal tekat Jihad fi Sabilillah.
Sementara
itu penduduk Surabaya yang sudah manula, atau masih balita dan kaum
Ibu, diungsikan keluar dari Surabaya, menuju daerah sekitar di
Mojokerto, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Lamongan dan Jombang,
Surabaya
telah menjadi medan pertempuran. Meskipun laskar rakyat kalah dalam
persenjataan, namun tidak mudah bagi Sekutu untuk menguasai Surabaya,
karena selain memberikan perlawanan langsung dengan senjata seadanya,
arek-arek Suroboyo juga melaksana-kan “gerilya” kota. Laskar Rakyat yang
tidak memiliki senjata api, mulai keluar kota, mereka bertahan di
Sepanjang, Waru, Porong dan Gresik.
Karena Sekutu sudah
mulai menguasai wilayah perko-taan, maka daerah-daerah pinggiran mulai
dihujani mortir, dan serangan udara. Mojokerto-pun mulai digunakan
sebagai Pos Komando Laskar Hisbulloh. Markas Kompetai di selatan
alun-alun, dijadikan Markas Hisbulloh, sedang Pos Kompetai yang berada
di Timur Alun-alun digunakan sebagai Markas Sabilillah.
Dalam
sebuah serangan di Sepanjang, tepatnya di desa Klopo Sepuluh, K.H.
Nawawi dari Laskar Sabilillah gugur sebagai syuhada’. Jenazahnya di bawa
ke Mojo-kerto, dan dimakamkan di Pemakaman Losari. Gugur-nya K.H.
Nawawi ini bukan menyurutkan nyali para pejuang, melainkan menambah
kebencian pada Belan-da, dan menyulut semangat jihad para pejuang
kemer-dekaan.
Sebagai Komandan Kompi IV, yang mempunyai
tugas khusus mengawal Laskar Sabilillah yang terdiri dari para Ulama’
dan Tokoh-tokoh NU, K.H. Ahyat Halimy lebih banyak melakukan tugas
koordinasi, dan untuk itu tidak jarang K.H. Ahyat Halimy masuk ke daerah
pertempuran untuk menyampaikan pesan dan perintah dari Markas besar
Hisbullah dan Sabilillah. Bahkan ketika terjadi penyergapan atas tentara
BKR oleh sekutu di Pacet Mojokerto, K.H. Ahyat Halimy terlibat dalam
pertempuran yang sengit. Dalam pertempuran yang menelan banyak korban
ini, salah satu dian-taranya adalah Achmat Yatim, beliau tertembak dalam
pertempuran di Pacet, tetapi berhasil diselamat-kan oleh
rekan-rekannya, ketika sampai di Kutorejo, nyawanya tidak dapat
diselamatkan lagi.
Pertempuran di Pacet ini merupakan
pertempuran terbesar selama perang gerilya. Ketika tentara sekutu sudah
menguasai Sepanjang dan Porong, hampir semua batalyon BKR, berkumpul di
Pacet, Mereka merencana-kan menggiring pasukan Sekutu ke Mojosari dan
Kutorejo. Di Kutorejo Sekutu akan diserang secara bersamaan oleh BKR,
dari arah Pacet, Dlanggu bangsal dan trawas. Tetapi rupanya konsentrasi
pasukan BKR di Pacet ini tercium terlebih dahulu oleh pasukan Sekutu,
dan mereka mulai menyerbu pasukan BKR, bukan dari arah Mojosari, tapi
dari arah Trawas. Serangan mendadak ini membuat pasukan BKR tidak bisa
memberikan perlawanan maksimal. Mereka bah-kan tercerai berai, dan
mundur ke Wonosalam, melalui Jatirejo. Korban di pihak BKR mencapai
ratusan orang.
Pasukan Hisbullah dan Sabilillah, yang
tercerai bera sepakat untuk melakukan konsolidasi di Perak Jom-bang.
Nah, untuk konsolidasi inilah, peran K.H. Ahyat Halimy sangat dirasakan,
satu bulan lebih beliau malang melintang ke Jombang, Somobito,
Peterongan, Wonosalam dan Mojokerto, untuk menggalang kembali kekuatan
Hisbullah dan Sabilillah.
Setiap kota yang sudah diduki
oleh Sekutu, selalu di-ikuti oleh pembentukan pemerintahan, dengan
meng-angkat Bupati dari mantan pejabat atau Pegawai Peme-rintah Hindia
Belanda, maka semakin jelaslah bahwa Belanda memang berkeinginan untuk
merebut kembali kekuasaannya di Indonesia. Mereka juga segera
meng-gunakan politik Devait At Impera, atau politik meme-cah belah
bangsa Indonesia, dengan mendirikan negara-negara kecil.
Setelah
hampir semua Kota di Jawa Timur berhasil dikuasai, Belanda mendirikan
NDT (Negara Jawa Timur). Dengan demikian maka Jawa Timur dikuasai oleh
dua Pemerintahan, yaitu Propinsi Jawa Timur yang dipimpin oleh Gubernur
RI di Surabaya, dan Negara Jawa Timur yang dipimpin oleh Wali Negara
Djawa Timoer. Menyikapi hal ini, sekali lagi K.H. Ahyat Halimy mendapat
tugas khusus untuk menghubungi dan mengundang para Ulama untuk berkumpul
di Trowulan bersama tokoh-tokoh Republiken.
Pertemuan di
Trowulan ini diselenggarakan pada bulan Desember 1949, selain dihadiri
oleh Wakil-wakil Badan Sosial, Masyumi, GPII, Alim Ulama, juga dihadiri
oleh lurah-lurah se kecamatan Trowulan dan lurah dari desa-desa sekitar
Trowulan. Hasil pertemuan pada intinya Menolak serta tidak mengakui
berdirinya Nega-ra Djawa Timoer (NDT), karena mereka hanya mengu-asai
sebagian wilayah Kota saja, dan sama sekali tidak menguasai wilayah
pedalaman.
Membentuk STII. 1951.
Untuk
mengakhiri perang gerilya yang berkepanjang-an, akhirnya dicapai
kompromi di tingkat Nasional melalui konferensi Meja Bundar, untuk
membentuk Negara Republik Indonesia Serikat pada tahun 1950, dimana RI
termasuk dalam bagian Negara Republik Indonesia Serikat yang dipimpina
oleh Ir. Soekarno dan Bung Hatta. Kompromi ini terpaksa harus diterima,
agar penderitaan Rakyat tidak berlarut-larut.
Salah satu
langkah awal dari pemerintahan Republik Indonesia Serikat ini adalah
pengamanan persedian kebutuhan bahan pokok, antara lain berupa beras,
dan pemerintah melakukan pembelian padi kepada rakyat secara
besar-besaran. Dalam praktiknya, ternyata yang paling diuntungkan adalah
para tengkulak, karena mereka memang memiliki modal yang cukup besar.
Di Mojokerto, para tengkulak ini digerakkan oleh dua pabrik penggilingan
padi yang cukup besar dan di-kuasai oleh Cina, yaitu Pabrik
Penggilingan Padi “Bin-tang”, yang ada di Jl. Mojopahit dan di Sooko.
K.H.
Ahyat Halimy, melihat dengan nyata bahwa tata-niaga pengadaan bahan
pokok ini masih belum ber-pihak kepada petani kecil, oleh karenanya K.H.
Ahyat Halimy dan H. Husain Abd. Ghani, kemudian mem-prakarsai
didirikannya Sarikat Tani Islam Indonesia (STII) pada tahun 1951, yang
secara nasional meru-pakan Organisasi yang berinduk pada Masyumi. Dalam
menjalankan STII ini, H. Husain Abd. Gani diserahi sebagai Ketua, dan
dibantu oleh kalangan pemuda dan pengusaha antara lain ; H. Mahfudz
Barnawi, Thoyib Rusman, H. Karomain, Abd. Hamid, H. Abdullah Sumadi, dan
H. Said Bangsal.
Setelah STII terbentuk K.H. Ahyat Halimy
berusaha melakukan pendekatan kepada Bupati Mojokerto, dan
alhamdulillah berhasil mendapatkan Izin untuk me-lakukan pembelian Padi
kepada petani secara lang-sung. Setelah Izin ini keluar, maka dengan
memanfaat-kan jaringan GP Ansor dan NU, STII melakukan pem-belian Padi
secara langsung kepada petani, dengan modal pertama dari H. Husain Abd.
Ghani serta urunan para pengusaha. Hasilnya selain petani mendapatkan
harga yang lebih tinggi dibanding harga dari tengkulak, STII juga
mendapatkan premi dari pemerintah. Setelah premi ini terkumpul, selain
dipergunakan untuk biaya operasional, K.H. Ahyat Halimy mengarahkan
penggu-naan dana itu pembelian gedung, di Jl. Poerwotengah (Sekarang
Jalan Taman Siswa). Tanah dan bangunan tersebut digunakan untuk
keperluan ummat Islam, dan berstatus wakaf, serta diberi nama “Balai
Muslimin”.
Dalam perkembangannya, Balai Muslimin ini
pernah digunakan sebagai tempat SMI (Sekolah Menengah Islam), SD
Muhammadiyah, Pusat Latihan Pencak Silat “Tapak Suci”, Basic Training GP
Ansor, IPNU, IPPNU, PMII, Pertemuan-pertemuan NU dan Muhammadiyah.
Perkembangan berikutnya, karena ada program ummat Islam yang di
Prakarsai oleh Bupati Mojokerto, Bpk. D. Fatchoerrahman, untuk
mendirikan Rumah Sakit Islam, dengan menggalang dana langsung dari
masyarakat Islam, belum dapat direalisir, kegiatan untuk mendi-rikan
Rumah Sakit Islam ini berhenti hanya sampai dengan pengadaan tanah di
Desa Japan Kecmatan Sooko.
Dengan demikian di Mojokerto
ada dua asset ummat Islam, yaitu Balai Muslimin dan Tanah yang
diper-siapkan untuk membangu Rumah Sakit Islam. Kedua asset tersebut
sama tidak dapat difungsikan secara maksimal, karena dua ormas islam
terbesar di Mojo-kerto yaitu NU dan Muhammadiyah, belum seia-sekata
dalam memanfaatkan kedua asset tersebut.
Kemudian atas
inisiatif dan permintaan Bapak D. Fat-hurrohman, pada tahun 1993
diadakanlah pertemuan antara tokoh NU dan Muhammadiyah, di Aula
Condro-mowo, Desa Pekukuhan, Mojosari. Perte-muan tersebut antara lain
dihadiri oleh Bpk. Hamzah, P. Suyono, P. Fathurrohman, H. Siroj, H.
Mahfudz Barnawi dan Masud Yunus, serta menghasilkan kesepakatan : “Balai
Muslimin” ditetapkan sebagai Badan Waqfiyah dan pengelolannya
diserahkan kepada Muhammdiyah, sedang tanah di Desa Japan, Kecamatan
Sooko diserah-kan pada RSI Sakinah, dan dikelola oleh NU, dengan harapan
dapat dimanfaatkan bagi pengembangan RSI Sakinah.
Karena
lokasi tanah terpisah dengan RSI Sakinah, maka dilakukan ruilslag
(pertukaran), dengan tanah milik NU yang berada disebelah selatan RSI
Sakinah dengan luas yang sama agar dapat dipergunakan untuk
pengem-bangan RSI Sakinah, dan diatas tanah Eks RSI, sekarang sudah
dibangun Kantor NU.
Melawan G.30.S PKI.
Pemberontakan
G.30.S PKI yang dimulai dengan pembunuhan secara biadab pada Jendral A.
Yani dan 6 orang petinggi ABRI lainnya, menimbulkan kemarahan yang luar
biasa dari kebanyakan bangsa Indonesia. Tuntutan untuk membubarkan PKI
oleh gerakan Mahasiswa di Jakarta belum menunjukkan hasilnya. Tuntutan
itu kemudian menggema ke bawah, banyak Daerah mulai bereaksi dengan
mengadakan demo untuk menuntut dibubarkannya PKI dan organisasi
pendukungnya.
Di Mojokerto juga mulai ada inisiatif untuk
mengada-kan gerakan. Ormas-ormas Islam berkumpul di Masjid Al Fatah,
berencana untuk menutup Kantor CC PKI dan ormas-ormasnya. Berita ini
rupanya cepat menyebar, sehingga yang datang di Masjid Jami’ bukan hanya
pimpinan ormas, tetapi juga kebanyakan anggotanya. Hingga menjelang
tengah malam, seribu orang lebih telah berkumpul di Masjid. Mereka sudah
berniat untuk langsung bergerak, menutup Kantor CC PKI, tetapi tidak
ada satupun tokoh yang hadir berani memberi komando, karena mereka belum
tahu persis posisi Batalyon 516, yang bermarkas di utara alun-alun
Mojokerto ( Sekarang Markas Korem ). Didepan Markas Batalyon 16, tidak
seperti biasanya, dijaga oleh sekitar 20 orang, dan bersenjata lengkap.
Rupanya
ada beberapa pengurus NU Cabang Mojokerto yang menghubungi K.H. Ahyat
Halimy, dan memberi laporan tentang keadaan di Masjid Jami’. Beliau-pun
langsung berangkat ke Masjid, dengan mengendarai sepeda motor BSA butut.
Begitu memasuki Masjid, K.H. Ahyat Halimy berpidato sebentar untuk
member pengarahan. “ Jangan ada pengerusakan. Ambil saja dokumen-dokumen
penting, kemudian tutup dan segel Kantornya !, jangan juga ada yang
mengambil barang untuk kepentingan pribadi, itu maling namanya. Mari
kita berjuang iklhlas karena Alloh Ta’ala. Allohu Akbar !, Allohu Akbar
!, Allohu Akbar !”
K.H. Ahyat Halimy-pun segera melangkah
keluar dari Masjid, diikuti semua orang yang ada. Diluar mereka langsung
belok kanan, lewat Jl. Mojopahit, kemudian masuk Jl. Kartini, menuju
perempatan Prapanca ke Kantor CC PKI, sambil meneriakkan Takbir, banyak
diantara mereka yang membawa golok. Sesampainya di Kantor CC PKI, tanpa
ada satu perlawanan pun, mereka mendobrak pintu Kantor, memeriksa dan
mengambil beberapa dokumen penting, Setelah itu mereka keluar, menutup
kembali pintu kantor, dan menyegelnya dengan kayu yang dipasang
melintang dan di paku. Kita sekarang menuju ke Jl. Pemuda, yaitu pusat
kegiatan PKI di SMP Udaya. Takbirpun bergema kembali !, dan entah siapa
yang memulai, beberapa orang mulai melempari Kantor CC PKI, sebagian
lagi merangsek masuk, mendobrak pintu yang baru disegel, kemudian
mengeluarkan peralatan kantor, Lemari, Mesin Ketik, Telepon dan beberapa
berkas yang masih tersisa, menumpuknya di Jl. Brawijaya kemudian
membakar-nya. Massa rupanya sudah mulai tidak terkendali. K.H. Ahyat
Halimy sendiri, setelah memberi komando untuk berangkat, keluar dari
Masjid, mengambil motor, dan kembali ke PP Sabilul Muttaqin. Tidak
mengikuti rombongan demontrasi tengah mala ini.
Massa
mulai bergerak ke Jl. Pemuda dengan memekik-kan takbir. Tidak ada
satupun penduduk yang berani keluar, bahkan untuk sekedar membuka
jendela mere-ka tidak ada yang berani. Malam semakin mencekam, Sesampai
di jl. Pemuda dan memasuki halaman SMP Udayana, aksi serupa perempatan
Prapanca terulang kagi, setelah beberapa dokumen diamankan, semua
perabot didalam kantor dikeluarkan dan dibakar. Kemudian massa bergerak
ke Panggreman, menuju ke sebuah rumah didekat lapangan sepakbola. Rumah
ini biasa digunakan untuk latihan “Genjer-genjer”. Genjer-genjer ini
sebenarnya adalah sebuah judul lagu yang biasa dinyanyikan oleh
orang-orang PKI, tetapi kemu-dian berkembang menjadi sebutan untuk
sebuah pentas sejenis Ludruk, yang biasa dipergunakan oleh PKI media
komunikasi dan provokasi.
Di Panggreman ini sempat terjadi
ketegangan sebentar, karena rumah rupanya sudah dijaga oleh belasan
orang, bersenjatakan clurit dan pedang, Tetapi begitu melihat rombongan
massa yang sangat besar, mereka lari kearah barat. Beberapa orang
mengejar, tetapi kehilangan jejak setelah sampai di Kali Cemporat,
Karena massa sudah mulai panas, dan ada sedikit perlawanan, massapun
menjadi semakin tidak terken-dali. Mereka menyerbu masuk rumah,
mengobrak abrik Gamelan, kemudian rumahnya dibakar, Sampai matahari
terbit, masih ada sisa-sisa api yang membakar rumah itu, Massa sudah
kembali ke rumahnya masing-masing, sekitar seratus orang pemuda tidak
pulang, tetapi langsung ke Surau Jl. Miji 36. Usai solat subuh, K.H.
Ahyat Halimy mendapat laporan, beliau langsung marah-marah, sudah saya
peringatkan jangan ada pengrusakan, malah membakar rumah. Mana pimpinan
Ansor ? bisa ndak mengendalikan anggotanya ?.
Semuanya
terdiam. Untung Kiyai Muhaimin datang, beliau masuk ke surau, dan
memulai kuliah subuh. K.H. Ahyat Halimy-pun segera masuk ke surau dan
ikut memberikan kuliah subuh.
Dokumen-dokumen yang
berhasil diambil dari Kantor CC PKI itu setelah diteliti lebih lanjut,
selain berisi daftar anggota dan pengurus PKI dan organisasi
pen-dukungnya, juga ditemukan daftar nama tokoh-tokoh agama yang
dianggap musuh PKI dan harus dilenyap-kan. Dokumen yang terakhir ini
sangat mengejutkan banyak pihak, dan menjadi bahan pembicaraan yang
paling diminati, sekaligus meningkatkan kebencian pada orang-orang PKI.
Beberapa
hari setelah pengerusakan kantor CC PKI, Kota Mojokerto dikejutkan oleh
ditemukannya sesosok mayat di Jl. Mojopahit, tepatnya di sebelah utara
jalan menuju pekuburan Kelurahan Suratan. Mayat itu ter-geletak ditengah
rel kereta api, dengan luka menganga di lehernya. Mayat itu dipastikan
dibunuh ditempat lain, kemudian dibuang disana. Hal ini dapat dilihat
dari tidak adanya bekas pergerakan kaki atau tangan dari si mayat, dan
darah yang tergenang di bawah luka leher. Mayat tersebut ditemukan oleh
warga sekitar jam 8 malam, dan baru tengah malam diangkut oleh pihak
kepolisian pada tengah malam. Ini jelas propo-kasi, sebab setelah itu
beredar kabar bahwa yang me-ninggal itu adalah tokoh PKI keturunan Cina
asal Jombang.
Setelah kejadian penemuan mayat ini, Kota
Mojokerto setiap malam menjadi sangat mencekam. Berita akan adanya
pembalasan dari pihak PKI terus berkembang dari mulut ke mulut. Surau di
Jl. Miji 36 kembali men-jadi tempat berkumpulnya para pemuda, khususnya
Pengurus GP Ansor. Selain untuk menjaga keamanan K.H. Ahyat Halimy,
mereka juga saling tukar informasi, menganalisis keadaan, juga
merencanakan macam-macam kegiatan pengamanan dan perlawanan ter-hadap
PKI. K.H. Ahyat Halimy dalam setiap kesem-patan, selalu menekankan
kepada pemuda-pemuda yang berkumpul di Surau Jl. Miji 36 untuk selalu
waspada dan siaga, dan melarang untuk bertindak sendiri-sendiri.
Surau
Jl. Miji 36 ini, sekarang sudah menjadi semacam Pos Komando untuk
kegiatan penumpasan G.30.S PKI. Selain para pemuda, juga ada 3 atau 4
orang dari pihak berwajib, baik itu TNI AD, maupun Kepolisian. Gerakan
untuk menangkap gembong-gembong PKI, selalu di-mulai dari “Pos Komando”
ini. Mereka yang tertangkap kemudian dimasukkan ke penjara di Jl. Taman
Siswa. Sudah puluhan orang yang ditahan disana.
Beberapa
hari setelah gerakan penangkapan gembong-gembong PKI ini, muncul
provokasi kedua, yaitu adanya mayat yang terapung di sungai Berantas,
awalnya cuma dua atau tiga mayat yang terapung, dan tidak ada seorangpun
yang berani atau berkeinginan untuk mengangkat dan memakamkan
mayat-mayat itu. Masarakat sudah yakin bahwa mayat-mayat itu adalah
tokoh PKI yang dieksekusi secara sefihak, tidak melalui proses
peradilan. Beberapa minggu kemudian, jumlah mayat yang terapung di
sungai Brantas semakin banyak, biasanya mulai muncul di sungai Berantas
pada sekitar jam tiga atau empat sore, kondisi mayat-nya juga masih
belum rusak.
K.H. Ahyat Halimy, tak henti-hentinya
mengingatkan kepada pemuda-pemuda Ansor, untuk mengendalikan emosinya,
tidak grusa-grusu, dan selalu bekerja sama dengan pihak ABRI dalam
melakukan gerakan penum-pasan G. 30. S PKI.
K.H. Ahyat
Halimy juga menangkap sinyal yang “kurang baik” melihat jumlah mayat
yang terus muncul di sungai Berantas. K.H. Ahyat Halimy sangat khawatir
terjadi salah sasaran, atau dimanfaatkan orang untuk melampiaskan dendam
pribadi. Berkali-kali beliau mengingatkan dosa yang akan dipikul
apabila hal itu terjadi. Berita yang tersiar dari mulut ke mulut,
ter-nyata adalah adanya “kiriman” gembong PKI dari Sura-baya, Sidoarjo
dan Gresik untuk dieksekusi di Mojo-kerto. K.H. Ahyat Halimy, adalah
tokoh yang dikenal sangat tegas dalam menerapkan hukum Islam sekaligus
ulama’ yang selalu dapat menerima kenyataan. Artinya apabila terjadi
sesuatu yang kurang atau tidak sesuai dengan syari’at, kemudian sudah
diusahakan sedapat mungkin untuk dihindari dan dicegah, tetapi tidak
bisa, maka K.H. Ahyat Halimy seringkali dapat menerima kenyataan itu,
dengan senantiasa mengajak dan mem-perbanyak istighfar. Begitu pula
halnya yang dilakukan dalam melihat kenyataan kegiatan penumpasan G.30.S
PKI ini, beliau sangat setuju gerakan penumpasan G.30.S PKI, tetapi
jelas nampak kurang berkenan dengan cara-cara yang dipakai dalam
melakukan gerakan itu.
Membangun Pesantren.
Kuliah
subuh yabg diselenggarakan oleh K.H. Ahyat Halimy sejak tanggal 25
Januari 1956, di surau kecil peninggalan datuknya + 150 tahun yang lalu,
dengan membaca kitab Kasyifat al Sajaa’, sesuai dengan saran K.H.
Romly, Rejoso Jombang, merupakan langkah awal dari K.H. Ahyat Halimy
untuk mengabdikan hidupnya bagi Ilmu, sesuai dengan saran K.H. Hasyim
Asy’ari. Mengabdikan diri dan hidupnya untuk ilmu agama, berarti seluruh
aktifitas hidupnya adalah untuk meng-ajarkan dan mengamalkan ilmu
agama. Beliau sepan-jang hidupnya sangat konsisten / istiqomah dalam
melaksanakan tekatnya ini.
Pada awalnya kuliah subuh ini
hanya diikuti oleh satu orang saja, yaitu Sdr. Ruhan Zahidi, dari
Kranggan. Ia sangat istiqomah dalam mengikuti kuliah subuh ini, meskipun
hanya sendirian. Ia menjadi enggan untuk tidak mengikuti kuliah subuh,
karena awalnya pernah beberapa kali, dia bangun kesiangan, ketika masuk
ke Surau Miji 36, ternyata K.H. Ahyat Halimy tetap mem-baca kitab dengan
suara keras, padahal beliau sen-dirian, ngaji tanpa santri sekalipun.
Sejak itu ia ber-tekat terus akan mengikuti kuliah subuh ini sampai
akhir hayatnya, dan janji ini ditepati oleh Sdr. Ruhan Zahidi, ia hanya
absen sekitar satu minggu karena sakit dan ajalnya tiba. Melihat
kegiatan kuliah subuh ini, beberapa jama’ah subuh seperti K.H. Aslan, P.
H. Thohir, P. Zaini dll. Mulai mengikuti.
Tahun 1960,
mulai mendapatkan “santri” yang mene-tap di Surau. Ada empat orang yang
mulai menetap di surau ini, yaitu : Sdr. Rubakhin dari Jatirejo, Sdr.
Abd. Munif dari Porong, Sdr. Ali Tamam dari Diwek, Jom-bang, dan Sdr.
Marwah Efendi dari Nganjuk. Dengan bermodalkan kegiatan Kulliah Subuh
dan empat orang santri inilah akhirnya K.H. Ahyat Halimy bertekad untuk
membangun Pondok Pesantren. Ia mulai tekad-nya dengan berziarah ke makam
aulia’, serta bermuna-jat kepada Alloh SWT. Tanggal 29 April 1964, K.H.
Ahyat Halimy mulai membangun surau itu menjadi Pondok Pesantren. Beliau
sangat yakin bahwa “do’a” dari Almukarrom Kanjeng Sunan Giri, dalam
mimpinya akan sangat membantu. “Kowe tak dungakno iso mba-ngun
bangunan”, kata Kanjeng Sunan. Dan benar saja ketika batu pertama
diletakkan, datang orang tak di-kenal memberikan bantuan berupa 23.000
batu bata merah.
Selanjutnya dalam proses pembangunan
Pondok Pesantren, ada dua orang yang sangat tekun dan giat dalam
mengurusi pembangunan, Yaitu Bpk. Iskan Dimyati dan H. Aslan. Rencana
awal pembangunan Pondok ini adalah membangun 7 buah kamar. Semen-tara
itu empat orang santri pertama K.H. Ahyat Halimy ditempatkan di Jl.
Brawijaya 99, atau mentikan Gg. IV Nomor 43. Akhirnya hanya dalam waktu
kurang dari setahun pembangunan Pondok Pesantren itupun selesai.
“
Dengan rasa syukur kepada Alloh SWT, maka setelah selesai pondok
tersebut, saya terus ke makam Sunan Giri, langsung naik sepeda motor
melalui Surabaya, tanpa mengindahkan lampu merah atau sempritannya
polisi, atas pelanggaran lalu lintas. Terus jalan, tidak saya hiraukan,
dan hingga sampai di makam Sunan Giri dengan selamat. Ini karena syauqi
al jaziil kepada Kanjeng Sunan. Didalam makam Sunan Giri saya me-nangis
kepada Alloh, bagaimana balasan hambanya yang dzo’if dan yang sangat
durhaka ini di hadapan Malikul Jabbar dan atas do’anya Kanjeng Sunan
dikabulkan oleh Alloh. Dan pada waktui itu terciumlah bau-bauan yang
harum sekali, keluar dari Turbah makam Kanjeng Sunan.” Tulis K.H. Ahyat
Halimy dalam catatan “Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin”.
Setelah
Pondok selesai dibangun, pada tahun itu juga mulai datang 15 orang
santri, kebanyakan dari Perak Jombang, dan terus berkembang. Setelah
G.30 S. PKI, Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin semakin dikenal banyak
orang. Tahun 1969 jumlah santrinya sudah mencapai 214 orang santri, dan
Sdr. Abd. Manaf di-angkat sebagai lurah pondok, dibantu oleh Sdr. Yahya
Amari.
Tahun 1970, Presiden Suharto mengucurkan bantuan ke
beberapa Pondok Pesantren di Jawa Timur, antara lain PP Darul Ulum,
Peterongan Jombang, PP Bahrul Ulum, Tambak Beras, dan Pondok Tebuireng.
Di Mojo-kerto, PP Sabilul Muttaqin yang diasuh oleh K.H. Ahyat Halimy,
juga mendapat bantuan sebesar Rp 5 juta. (sebagai perbandingan, waktu
itu harga semen adalah Rp 300,- per sag). Oleh K.H. Ahyat Halimy bantuan
ini dipergunakan untuk membangun Masjid. Sebagai pelaksana fisik
bangunan, di tunjuk H. Amin Hamdani dari Kalimati, sedang urusan
administrasi dan pembu-kuan diserahkan kepada H. Siroj, termasuk
penyusunan laporan pertanggungjawabannya. Melalui proyek ini, surau
kecil yang bersejarah itu sekarang berubah masjid yang cukup megah,
berlantai II, dengan kons-truksi bangunan yang masih cukup aman untuk
di-bangun menjadi 5 lantai.
Tahun 1982, masjid ini sudah
tidak lagi mampu menampung jama’ah, sehingga K.H. Ahyat Halimy bermaksud
untuk melakukan perluasan. Beliau kemu-dian memanggil H. Siroj untuk
dimintai keterangan kemungkinan biaya yang dibutuhkan, dan upaya
penggalian dananya. Setelah di hitung-hitung, ternyata biayanya lebih
murah membangun lagi dari bawah dari pad meneruskan bangunan masjid itu
ke atas.
Seketika itu juga H. Siroj disuruh K.H. Ahyat
Halimy untuk memanggil H. Aslan (Kakak kandungnya) untuk diajak
berembug. H. Aslan ternyata menyetujui tanah di halaman depan rumahnya
(yang juga halaman masjid) untuk digunakan perluasan masjid. Perluasan
ini mene-lan biaya Rp 80 juta, yang dananya merupakan swa-daya
masyarakat murni. H. Siroj ditunjuk sebagai pelaksana bangunan dan
penggalian dananya.
*****
Dalam mengelola
Pondok Pesantren, K.H. Ahyat Halimy berpegang pada tiga prisip ;
Pangabdian pada Alloh SWT, Pengabdian pada Ilmu, dan bertumpu pada
kekuatan dan kemampuan sendiri. Sedang tujuannya adalah untuk membentuk
kader-kader Islam ahlussun-nah wal jamaah, yang taqwa kepada Alloh
lahiriyah dan batiniyah, dengan melanjutkan perilaku dan pola pikir para
salafu al sholihin. Dalam mewujudkan tujuan dan prinsip-prinsip
tersebut, K.H. Ahyat Halimy senantiasa menekankan kepada setiap santri
untuk :
Melaksanaan sholat jamaah 5 waktu, baik didalam maupun di luar pondok ;
Senantiasa percaya diri, dengan tawakkal kepada Alloh SWT. “Jangan menggantungkan nasibmu kecuali kepada Alloh SWT”.
Belajar dan atau mengajar dengan kitab-kitab yang shoheh, selama
hidupnya, senantiasa mengajak orang lain ke jalan Alloh kapanpun dan
dimanapun dia berada ;
Senantiasa berusaha menjadi manusia yang ber-manfaat bagi orang lain ;
Mendidik, melatih dan meyakinkan kepada santri-nya untuk menguasai
“life skill”, khususnya perta-nian dan teknik/pertukangan.
Kesemuanya itu harus dilakukan dengan dasar Iman kepada Alloh dan
Rosulnya, Tasdiq, ihlas, yaqin, sabar dan syukur serta tawakkal kepada
Alloh.
Dalam hal menekankan keinginan K.H. Ahyat Halimy
agar pondok dan santrinya dapat bersikap mandiri, beliau selalu mengajar
santrinya untuk membuat atau memperbaiki sarana pondok oleh
santri-santri itu sendiri. Salah satu “hoby” K.H. Ahyat Halimy antara
lain adalah “belanja” peralatan macam-macam di pasar Loak Jl. Niaga
Mojokerto. Sehingga beliau mempunyai “koleksi” hampir semua peralatan
pertukangan. Hoby ini biasa dilakukan pada sekitar jam 08.00 pagi setiap
ada kesempatan. Bahkan sekitar tahun 1970-an, beliau mengajak santrinya
untuk membuat sumur pompa di musholla-musholla yang airnya kurang baik.
Tidak kurang dari 16 musholla yang berhasil dibangunkan pompa air oleh
KH Ahyat dan santrinya. Bahkan untuk keperluan pondok sendiri, beliau
ingin membuat sumur bor, untuk mengambil air bawah tanah, sehing-ga
tidak perlukan pompa air, dan kebutuhan air di pondok tercukupi. Sayang
usaha ini tidak berhasil.
Peduli Pada Yatim Piatu dan Dzu’afa’
Tahun
1958, bersamaan dengan berakhirnya proses pencarian jatidirinya, K.H.
Ahyat Halimy mengulurkan tangan dan memberikan perhatian kepada anak
yatim dan kaum dzu’afa. Bersama dengan P. Mustakim dari Sinoman, beliau
mengadakan khitanan massal, khusus bagi anak-anak yatim dan keluarga
fakir miskin. Kegiatan khitanan massal yang pertama diselenggara-kan di
Sinoman, dan diikuti oleh 14 anak. Kegiatan ini terus berlanjut, sampai
sekarang, dan selalu diikuti oleh sekitar 100 anak setiap tahun. Mereka
yang di-khitan, selain gratis juga mendapat sepotobaju, sarung, songkok,
sandal dan uang saku serta pengobatan gratis sampai yang dikhitan
betul-betul sembuh.
Setelah K.H. Ahyat Halkimy wafat, pada
tahun 1991, peserta khitan ternyata bukan saja keluarga miskin atau
yatim piatu, tetapi beberapa anak juga berasal dari keluarga yang mampu.
Mereka mengikut sertakan putranya pada khitanan massal di PP Sabilul
Muttaqin, dengan harapan akan mendapat “berkah” dari keich-lasan
almaghfurlah K.H. Ahyat Halimy . Oleh Panitia Khitan, mereka
diperlakukan sama seperti anak yatim dan keluarga miskin lainnya, baik
dalam pelayanan maupun pemberian fasilitas lainnya. Hanya saja
ke-banyakan keluarga mampu ini juga memberikan bantuan kepada panitia
khitanan.
Berangkat dari kegiatan khitanan massal ini
pula, akhirnya K.H. Ahyat Halimy, dibantu secara penuh oleh P. Supaji
Effendi, H. A. Marzuki dan Abd. Halim Hasyim akhirnya mendirikan Yayasan
Panti Asuhan Yatim Piatu dan Dzu’afa “ al Ikhlas”. Meskipun K.H. Ahyat
Halimy, mempunyai hubungan yang cukup baik dengan Pemerintah, hususnya
Bupati dan walikota, namun karena prinsip hidupnya yang selalu
menekankan kemandirian, beliau lebih memilih untuk menggerak-kan
Muslimat NU, berupa gerakan “jumputan beras”. Sikap hidup mandiri,
bertumpu pada kekuatan sendiri ini, tidak menutup bantuan dari manapun,
termasuk dari Pemerintah, selama bantuan itu diberikan secara ihlas dan
sukarela, tidak diikuti dengan macam-macam ikatan dan persyaratan.
Akhirnya berhasil didirikan Asrama atau Panti Asuhan Yatim Piatu dan
Dzu’afa, dengan daya tampung maksimal 60 anak. Panti ini berada di Jl.
Brawijaya 76 Mojokerto.
Disamping panti asuhan, yayasan
ini juga menangani sekitar 200 anak yatim dan keluarga miskin, dalam
bentuk “home care”. Anak-anak itu masih menetap dengan keluarganya yang
masih ada, tetapi untuk seluruh kebutuhan sekolah di tanggung oleh
Yayasan al Ikhlas. Khitanan massal yang diselenggarakan setiap tahun
penyelenggaranya adalah Yayasan al Ikhlas ini.
Mendirikan Lembaga Pendidikan.
Kepedulian
K.H. Ahyat Halimy terhadap pentingnya kader penerus sangat tinggi.
Beliau senantiasa melihat ke depan, memprediksi perkembangan dan
kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Oleh karenanya, meskipun K.H. Ahyat
Halimy sudah mendirikan pondok pesantren untuk mencetak kader-kader yang
paham akan ilmu agama, beliau juga mempunyai keinginan yang kuat untuk
mendirikan lembaga-lembaga pendidikan di bidang keahlian dan disiplin
ilmu yang lain.
Tanggal 15 Januari 1952, beliau
memprakarsai didirikannya Sekolah Menengah Islam (SMI), dengan mengajak
kader-kader muda NU yang memiliki latar belakang pendidikan umum, antara
lain Busyri al Aly, Asy’ary Sibly, Abdullah Iqna’ dan lain-lainnya. SMI
ini menempati gedung “Balai Muslimin” Jl. Taman Siswa 27 Mojokerto.
Sayangnya SMI ini hanya bertahan 4 tahun saja, setelah itu bubar.
Ketika
perjalanan SMI mulai tertatih-tatih, baik karena kesadaran masyarakat
untuk pendidikan masih rendah, maupun karena keterbatasan dana, muncul
tantangan lain. Seorang warga mentikan bernama P. Ghofur datang ke K.H.
Ahyat Halimy, dia berkeluh kesah tentang berdirinya TK Kristen yang
menyewa rumah di Mentikan Gg.II Nomor 54. P. Ghofur khawatir kalau TK
itu terus berdiri, nanti banyak anak Mentikan yang masuk agama Kristen.
Seperti biasanya kalau menerima tamu, K.H. Ahyat Halimy selalu menjadi
pendengar yang baik, beliau menanggapi dengan antusias. Setelah itu,
hampir setiap bertemu K.H. Ahyat Halimy, P. Ghofur selalu menanyakan
perekembangan TK Kristen dan penyikapan K.H. Ahyat Halimy, sampai
akhirnya datang informasi yang menyatakan bahwa tanah dan gedung yang
ditempati TK Kristen tersebut mau dijual.
Kabar ini
ditindak lanjuti oleh K.H. Ahyat Halimy, dengan mendatangi Sdr. Arfan
(Pamong Desa Menti-kan) dan meminta untuk menelusuri kabar tersebut,
terutama mengenai harga yang diminta. Sdr. Arfan dan beberapa pemuka
desa seperti P. Ilham, Abdul Rouf dam Moh. Said, menghubungi pemilik
tanah, dan men-dapat kepastian bahwa tanah dan bangunan seluas + 800 m2
tersebut memang benar-benar akan dijual, dengan harga Rp 65.000,- .
Meskipun ketika itu tidak ada dana sama sekali, K.H. Ahyat Halimy
memutuskan untuk membeli tanah dan bangunan tersebut. Sebagai tanda
jadi, K.H. Ahyat Halimy menjual separangkat Loudspeker milik NU Cabang
Mojokerto seharga Rp 10.000,- kemudian sisanya akan dibayar paling
lambat 6 bulan ke depan, untung saja pemiliknya mau.
Setelah
tanah terbayar, muncul masalah baru, dua penghuni yang menyewa rumah
tersebut bersedia pin-dah dengan suka rela, tetapi untuk TK Kristen
mereka tetap bersikukuh untuk menempati rumah tersebut. Padahal
kebanyakan tokoh masyarakat di Mentikan menghendaki agar TK Kristen
tersebut segera di-pindah. Sementara TK Kristen belum mau pindah, K.H.
Ahyat menempatkan 4 orang santrinya yaitu Sdr. Munif, Ali Tamam,
Rubakhin dan Marwan Efendy untuk menempati rumah yang baru dibeli
tersebut, sambil dilakukan pendekatan-pendekatan.
P.
Kodrat, pengurus TK Kristen, ketika didatangi P. Aslan dan diminta untuk
mau pindah, justru menjawab bahwa TK Kristen mau pindah asal dipindah
ke rumah P. Aslan, yaitu rumah didepan Surau Miji 36. Tentu saja ini
merupakan solusi yang mustahil, dan ada nada menantang, maka
keteganganpun tidak bisa dihindari. K K.H. Ahyat Halimy segera menemui
P. Kodrat, dan beliau mengatakan ; “Demi Alloh, andai saja ada lemba-ga
pendidikan Islam yang tidak memiliki tempat, maka sebagai seorang muslim
yang baik saya akan mena-warkan rumah saya untuk ditempati lembaga
pendi-dikan tersebut. Saya Yakin P. Kodrat adalah seorang Kristen yang
baik, tapi mengapa tidak menawarkan rumah P. Kodrat untuk ditempati TK
tersebut ?”. Rumah P. Kodrat terletak kurang lebih 50 m arah selatan
dari TK Kristen tersebut. Alhamdulillah berkat pendekatan K.H. Ahyat
Halimy ini, akhirnya P.Kodrat bersedia memindahkan TK tersebut ke
rumahnya, dan tanah di Jl. Brawijaya 99 sepenuhnya sudah menjadi milik
NU.
Keinginan masyarakat Mentikan untuk membubarkan TK
Kristen tidak pernah di tolak atau ditindak lanjuti oleh K.H. Ahyat
Halimy. Ketika TK Kristen itu itu keluar dari Jl. Brawijaya 99,
masyarakat berharap TK itu akan bubar, tetapi ternyata masih terus
berjalan. Untuk menjawab keinginan masyarakat ini, meskipun tanah dan
bangunan di Jl. Brawijaya 99 ini semula dibeli untuk mendirikan Kantor
NU Cabang Mojokerto, dan Rumah Sakit NU, K.H. Ahyat Halimy akhirnya
meman-faatkan tanah dan bangunan tersebut untuk lembaga pendidikan,
sebagaimana yang dicita-citakannya. Akhirnya pada tanggal 4 Agustus
1961, didirikanlah “Madrasah Muallimin Muallimat Nahdlatul Ulama (MMNU).
Lembaga ini berafiliasi ke Departemen Aga-ma, khususnya pada lembaga
PGAP 4 Tahun. Karena waktu itu Pemerintah sangat membutuhkan Tenaga
Guru, sehingga lembaga Pendidikan Keguruan seperti PGAP 4 Tahun, PGA 6
Tahun, SPG C2, PGSLP dan lain-lain banyak didirikan.
Dalam
perkembangannya MMNU ini pada tahun 1968 berubah bentuk dan fungsinya
menjadi SMP Islam Brawijaya sebagaimana yang kita kenal sekarang.
Tahun
1967, ketika keributan G.30.S PKI sudah mulai mereda, K.H. Ahyat Halimy
menemui RA Basyuni, Bupati Mojokerto, dan mengusulkan agar Pemerintah
Kabupaten mendirikan lembaga pendidikan yang mencetak kader di bidang
pertanian, mengingat 80 % penduduk Mojokerto pekerjaannya adalah sebagai
Petani. Usul ini disetujui oleh Bpk. RA Basyuni, dan didirikanlah
Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) di desa Sooko. Lulusan SPMA ini
kemudian diangkat sebagai Pegawai Penyuluh Pertanian yang berfungsi
sebagai penyuluh dan innovator bidang pertanian, guna meningkatkan
produktivitas pertanian di Kabupaten Mojokerto.
Tahun 1985
animo masyarakat terhadap SPMA semakin menurun, hingga akhirnya SPMA
dibubarkan. K.H. Ahyat Halimy sebenarnya mempunyai keinginan yang kuat
untuk mendirikan SPMA sendiri, khusus untuk mencetak kader-kader NU di
bidang Pertanian. Lebih-lebih setelah SPMA milik Daerah ini bubar. Namun
sampai dengan akhir hayat beliau keinginan ini tidak tercapai.
Tahun
1966, Bapak Tomo Adi yang bertempat tinggal di Sumolepen, setelah lulus
D3 Teknik Sipil, berkeingi-nan untuk mendirikan Sekolah Teknik Menengah
(STM), beliau datang ke rumah Ust. Busyri Al Aly selaku ketua LP
Ma’arif NU, dan menyampaikan keinginannya. Oleh Ust. Busyri al Aly,
beliau dipertemukan dengan Bpk. Sumiadi pegawai Dinas Perindustrian Kota
Mojo-kerto, dan Bpk. Fathoni Aly yang yang juga lulusan Fakultas Teknik
ITS Surabaya. Setelah bermusyawarah, belau berempat menghadap K.H.
Ahyat Halimy, dan menyampaikan gagasannya. K.H. Ahyat Halimy sangat
mendukung gagasan ini, oleh karenanya maka segera didirikan STM yang
diberi nama STM Raden Patah. K.H. Ahyat Halimy kemudian menunjuka Sdr.
Ahmad Mar-zuki selaku sekretaris NU untuk membantu sepenuh-nya proses
berdirinya STM Raden Patah tersebut.
Awalnya STM Raden
Patah ini bertempat di rumah H. Madchury (Kradenan) yang terletak di Jl.
Mojopahit 184 (sekarang Toko Tengah), dan menunjuk Ir. Soecipto sebagai
Kepala Sekolah. Baru satu tahun kemudian, rumah tersebut akan dibangun
Toko Oleh H. Madchuri, sehingga STM di pindahkan ke Jl. Brawijaya 99,
bergabung dengn SMP Islam Brawijaya dan masuk siang hari. Inipun tidak
terlalu lama, hanya dua tahun bertahan karena ada persoalan gangguan
pada siswi-siswi SMP Islam Brawijaya, karena saat pulang siswa SMP Islam
Brawijaya, bersamaan dengan waktu masuk siswa STM Raden Patah. Akhirnya
STM Raden Patah menempati Ex gedung SMP Udayana di Gedongan atas jasa
P. Suja’i. Tetapi rupanya ada sengketa tanah antara P. Suja’I dengan
pemilik tanah. Karena P. Sujai kalah dalam Pengadilan, STM Raden
Patah-pun terpaksa pindah lagi ke SD Kranggan, di SD Kranggan-pun hanya
bertahan satu tahun, pindah lagi ke SMA Gatoel ( sekarang SMA Negeri
Puri). Akhirnya atas bantuan Pemda Kotamadya Mojokerto, STM Raden Patah
men-dapatkan Hibah sebidang tanah di Desa Wates, dan STM Raden Patahpun
mulai menetap dan berkembang di desa Wates (Lokasi Gedung STM Raden
Patah sekarang).
Antara tahun 1967 – 1977, SMP Islam
Brawijaya masih bersifat “ambivalen” artinya lembaga itu masih
ber-orientasi pada Departemen Agama dalam bentuk Madrasah Stanawiyah /
Muallimin-Muallimat 4 tahun, tetapi juga terdaftar pada Dinas Pendidikan
Nasional sebagai SMP Islam. Siswanya setelah kelas III mengi-kuti ujian
SMP, setelah itu bisa melanjutkan ke SMA atau SMK, tetapi bisa juga
melanjutkan kelas IV untuk mendapatkan Ijazah PGAP 4 tahun. Hal ini
tentu saja menyulitkan pengelolaannya. Oleh karenanya tahun 1977 atas
restu K.H. Ahyat Halimy, Orientasinya di perbaiki. Tsanawiyahnya di
pindah ke Kedundung, dan ditangani langsung oleh Abd. Kholiq, sedang di
Jl. Brawijaya hanya ada SMP Islam Brawijaya. Siswa kelas IV ditiadakan.
Sebagai gantinya didirikan SMA Islam Brawijaya, yang baru mendapatkan
ijin operasi dari Depdikbud Propinsi Jawa Timur pada tanggal 4 Nopember
1978.
Alhamdulillah, SMA Islam ini cukup berkembang pesat
dan dirasa mulai kurang efektif untuk terus tinggal di Jl. Brawijaya 99
Mojokerto. Oleh karenanya maka pada tahun 1994, mulai dibangun gedung
baru SMA Islam Brawijaya di Jl. Raya Surodinawan, dan mulai ditempati
secara penuh pada tahun 1996.
Mendirikan Rumah Sakit.
Tahun
1978, seorang anggota jama’ah kuliah subuh di PP Sabilul Muttaqin jatuh
sakit dan harus opname di opname di Rumah Sakit Rekso Waluyo. K.H.
Ahyat Halimy bezook ke rumah sakit. Melihat kondisi “jama-ah”nya, beliau
sangat prihatin sekaligus galau, karena bantal, sprei dan dinding kamar
rumah sakit dipenuhi dengan tanda salib, maklum rumah sakit Kristen.
K.H. Ahyat Halimy pun minta kepada salah seorang anggota keluarganya,
untuk minta izin pada petugas rumah sakit, mengganti urung bantal dan
sprei yang tidak ada tanda salib-nya, juga menurunkan patung Yesus yang
di salib dan menempel di dinding. Setelah mendapat-kan izin, semuanya
diturunkan dan diganti. Kemudian K.H. Ahyat Halimy berdo’a, kemudian
meminta salah seorang anggota keluarga untuk senantiasa membisik kalimah
“Laa ilaaha illah”, kemudian beliau pulang. Beberapa saat setelah itu,
K.H. Ahyat Halimy mendapat berita bahwa “jama’ah”nya yang sakit itu
meninggal dunia.
Peristiwa itu kemudian lebih menggerakkan
kemabli keinginan K.H. Ahyat Halimy untuk suatu saat mem-bangun Rumah
Sakit Islam, sebuah cita-cita yang sudah dilontarkan oleh K.H. Ahyat
Halimy, ketika membeli tanah di Jl. Brawijaya 99 Mojokerto. Tanah
tersebut oleh K.H. Ahyat Halimy sudah direncanakan sejak awal untuk
membangun Kantor NU dan Rumah Sakit Islam. Gagasan yang muncul kembali
ini lalu disampaikan kepada pengurus Cabang NU yang kemudian
mema-sukkannya dalam program jangka panjang Nahdlotul Ulama Cabang
Mojokerto. Sepuluh tahun kemudian, ketika K.H. Ahyat Halimy mulai
terserang penyakit diabet, dan keluar masuk Rumah Sakit, gagasan untuk
mendirikan Rumah Sakit Islam ini tak terbendung lagi. Beliau
menyampaikan kembali gagasan ini kepada Muslimat NU, GP Ansor Cabang
Mojokerto dan Pengu-rus Cabang NU untuk segera melangkah. GP Ansor
menindak lanjuti gagasan ini dengan mengadakan Halaqoh dengan nara
sumber Dr. Zainul Muhtarom dan bertempat diaula YPAY Al Ikhlas serta
mengundang seluruh pengurus Jam’iyah NU dan neven-nevennya. Hasilnya
disepakati untuk segera mendirikan Balai Pengobatan, dan akan dibantu
sepenuhnya oleh Dr. Zainul Muhtarom.
Sebenarnya H. Siroji
Ahmad yang terpilih sebai Ketua GP Ansor tahun 1988, pernah dimintai
secara husus oleh K.H. Ahyat Halimy untuk mulai merintis didirikan-nya
Rumah Sakit Islam ini, Yaitu setelah H. Siroj meng-galang dan
menyerahkan bantuan GP Ansor pada Korban Bencana Letusan Gunung Kelud.
Muslimat
NU juga mulai melangkah secara konkrit, yaitu dengan membeli tanah dan
bangunan di Desa Banjaragung, tetapi beberapa orang dari pengurus NU,
hususnya hususnya pengurus GP Ansor yang dipimpin oleh H. Siroj,
berpikir lebih jauh kedepan. Yaitu men-coba untuk mencari tanah yang
lebih luas sehingga memungkinkan untuk dikembangkan menjadi Rumah Sakit.
Akhirnya,
dengan dimotori oleh Pengurus GP Ansor yang baru terbentuk, yaitu H.
Siroji Ahmad, Mas’ud Yunus dan H. Juwaini mulai mencoba untuk mencari
lahan baru untuk rencana pembangunan Balai Pengo-batan atau Rumah Sakit.
Mereka berempat mengincar tanah dan bangunan milik H. Moh. Sholih,
Brangkal yang berada d Jl. RA Basyuni, dan melakukan pende-katan untuk
disewa. Tetapi H. Moh. Sholeh minta untuk langsung dibeli saja. Tentu
saja tawaran ini diluar kemampuan NU. Salah seorang pengurus cabang GP
Ansor yang lain, yaitu H. Dawi menyampaikan infor-masi baru, yaitu tanah
dan bangunan Rumah Makan mBok Berek di Desa Japan, Kecamatan Sooko,
direnca-nakan pemiliknya untuk dijual dengan harga Rp 200 juta.
Informasi ini kemudian dikomunikasikan dengan K.H. Ahyat Halimy, dan
beberapa pengurus NU.
K.H. Ahyat Halimy kemudian mengajak
untuk melihat langsung kondisi kedua lahan tersebut. Setelah melihat
secara langsung kondisi lahan, baik milik H. Moh. Sholeh maupun milik
mBok Berek, lima orang tersebut ( H. Siroj, H. Juwaini, H.Mas’ud Yunus,
H. Dawi, dan K.H. Ahyat Halimy) meluncur ke kebun K.H. Ahyat Halimy di
Trowulan. Sampai disana beliau langsung berwudlu’ dan sholat Istikhoroh.
Selesai sholat kembali menemui pengurus GP Ansor dan menyampaikan hasil
istikho-rohnya ; “ Insyaalloh tanah mBok Berek lebih baik. Asal kita
rukun dan kerja keras, akan dikabulkan oleh Alloh.” Kemudian K.H. Ahyat
Halimy menunjuk empat orang, yaitu H. Siroji Ahmad, H. Juwaini, H.
Mas’ud Yunus, dan H. Dawi untuk bernegosiasi secara langsung ke
Jogyakarta.
Sebenarnya harga tersebut sangat jauh diluar
kemam-puan NU untuk membeli. Tetapi K.H. Ahyat Halimy kemudian membuat
ungkapan yang cukup mengenai. “Iki koyok cecek nguntal klopo.” Kata
beliau, “Tapi iki gak mustahil, carane klopone diparut, cecek mesti
kontal”, lanjutnya. (Ini seperti Cicak menelan buah Kelapa. Tetpi ini
bukan mustahil, caranya ? buah kelapa diparut, Cicak pasti mampu menelan
buah kelapa parutan). Akhirnya tugas ini berhasil dilaksanakan dengan
baik oleh keempat orang tersebut Kesepakatan dengan mBok Berek
tercapai, harga tetap Rp 200 juta, uang muka Rp 20 juta dengan waktu
pelunasan 2 bulan. Apabila dalam jangka waktu dua bulan tidak bias
melunasi maka perjanjian batal, dan uang muka tidak bias diminta
kembali.
Untuk pembayaran uang muka, ternyata NU baru
memiliki uang cas sebsar Rp Rp 17.000.000,- yang ber-sumber dari bantuan
LP Ma’arif sebesar Rp 5.000.000,- dari hasil penjualan tanah di
Tamiajeng Trawas, dan menjual tanah milik NU di Surodinawan kepada
Yaya-san Al Ikhlas, sebesar Rp 12.000.000,- Uang pribadi K.H. Ahyat
Halimy sebesar Rp 3 juta.
Untuk menutup kekurangan dengan
jarak waktu dua bulan, diundanglah para aghniya’ ke Rumah Makan mBok
Berek, untuk diminta bantuannya. Sementara itu juga dilakukan pertemuan
serupa ke daerah-daerah, inilah yang dimaksud “klopone di parut”. Pada
saat mengundang aghniya’ se eks Kawedanan Mojokasri di Jetis, K.H. Ahyat
Halimy sedang opname di Rumah Sakit Darmo, Surabaya. Tetapi beliau
memaksa untuk ikut hadir dalam pertemuan tersebut, sehingga dengan infus
masih di tangan, K.H. Ahyat Halimy datang dalam pertemuan tersebut.
Setelah memberikan wejangan seperlunya, beliau kembali lagi ke Surabaya
untuk opname. Seluruh proses untuk mendirikan rumah sakita Sakinah ini
dilakukan oleh K.H. Ahyat Halimy dengan semangat yang luar biasa,
padahal beliau dalm keadaan sakit-sakitan dan satu kakinya baru saja di
amputasi.
Batas waktu pembayaran kepada mBok Berek tinggal
dua minggu lagi, tetapi uang yang terkumpul baru Rp 145.000.000,- Untuk
menutup kekurangan ini H. Siroj menghubungi H. Abdi Manaf, santri
senior PP Sabilul Muttaqin, juga “mantu keponakan” K.H. Ahyat Halimy.
Tidak ada jalan lain, H. Manaf dan H. Siroj hanya melihat kemungkinan
itu melalui pinjaman pada Bank, tetapi persoalannya apakah K.H. Ahyat
Halimy mau, apa agunannya. Mereka berdua kemudian langsung ke K.H. Ahyat
Halimy, dan diluar dugaan mereka berdua ternyata K.H. Ahyat Halimy
menyetujui, dengan alas an ini “dlorurot dan untuk kepentingan
kemaslahatan ummat”. Beliau bahkan menyerahkan sertifikat tanah dan
rumahnya untuk dijadikan agunan.
Kelihatannya masalah
sudah teratasi, tetapi H. Siroj justru merasa “nggak enak” untuk
menindak lanjuti, khususnya untuk agunan yang menggunakan asset K.H.
Ahyat Halimy pribadi. Oleh karenanya H. Siroj me-nyampaikan kegalauan
hatinya ini kepada P. H. Moh Sholeh (Camat Ngoro), dan sekali lagi
diluar dugaan H. Siroj, P. H. Moh. Sholeh justru menawarkan uang
pribadinya untuk dipinjam, dan silakan dibayar kapan-pun kalau sudah ada
uangnya. Akhirnya uang dari H. Moh. Sholeh inilah yang dipakai untuk
melunasi pem-belian rumah makan mBok Berek, dan sertifikat K.H. Ahyat
Halimy dikembalikan lagi.
Sementara itu untuk tugas
penyusunan struktur orga-nisasi RSI Sakinah, di tunjuk Sdr. H. Siroji
Ahmad dan Sdr. Ahmad Marzuki, untuk mengkomunikasikan dengan beberapa
pihak yang terkait, maka berdirilah RSI Sakinah hingga sekarang.
Sebenarnya
sempat terjadi kesalah pahaman antara NU dengan Muslimat, karena
Muslimat NU juga sudah mulai melangkah untuk menderikan Balai
Pengobatan, bahkan juga sudah membeli tanah dan rumah di Ds.
Banjaragung. Oleh K.H. Ahyat Halimy, akhirnya kedua-duanya terus
dilaksanakan. Jadi Saat yang bersamaan, NU mendirikan dan membangun,
Rumah Sakit, sedang Muslimat NU membangun dan mendirikan Balai
Pengobatan, dan dua-duanya berhasil didirikan.
Kiprah K.H.
Ahyat Halimy dalam bidang Politik sangat dipengaruhi oleh pemikiran
K.H. Hasyim Asy’ari yang mengajarkan bahwa “hubbu al wathon, min al
iman”. Cinta kepada negara adalah bagian dari Iman, oleh karenanya
menurut K.H. Ahyat Halimy, berkiprah dalam dunia politik bukanlah sebuah
“karier”, tetapi adalah pengabdian dan perjuangan, dengan tujuan akhir
“Li I’laai kalimatillah” atau keluhuran agama Alloh, dan peningkatan
kesejahteraan rakyat.
Sementara itu pemahaman K.H. Ahyat
Halimy terhadap Negara Republik Indonesia, sangat dipengaruhi oleh
pemikiran K.H. Wahid Hasyim (putra K.H. Hasyim Asy’ari), yang menyatakan
bahwa bentuk Negara Kesa-tuan Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila, termasuk dalam kategori “Daru al salam” yang me-nurut
syari’at Islam tidak boleh diperangi.
Kiprah politiknya
diawali dengan keterlibatan K.H. Ahyat Halimy dalam perang kemerdekaan
antara tahun 1945 s/d 1950, sebagai anggota Hisbullah. Keterlibatan K.H.
Ahyat Halimy dalam perang Kemerdekaan ini semata-mata karena Resolusi
Jihad yang difatwakan oleh Guru beliau, K.H. Hasyim Asy’ari, yang
menyata-kan bahwa membela Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan
oleh Bung Karno dan Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945, hukumnya adalah
fardlu ‘ain. Hal ini terbukti ketika Belanda menyerahkan kedau-latan
negara kepada RI, dan semua lasykar Rakyat yang tergabung dalam BKR,
mulai keluar dari hutan dan daerah pedalaman untuk dilebur menjadi TNI,
maka K.H. Ahyat Halimy beserta anggota Kompi IV, menya-takan
mengundurkan diri, dan menyerahkan seluruh senjata serta anak buahnya
kepada kepada Komandan Batalyon, yaitu P. Munasir. Serah terima ini
dilakukan di Jombang.
Sikap K.H. Ahyat Halimy ini
disayangkan oleh rekan-rekannya, mereka mengatakan ; “Eman Pak Yat, wis
karek mangan nongkone sampeyan metu tekok TNI !” ( Sayang Pak. Yat,
tinggal memakan nangkanya, kok keluar dari TNI) . Tetapi K.H. Ahyat
Halimy tetap pada pendiriannya, dan mengatakan : “Kewajiban untuk
memerangi Belanda sudah selesai, hukum Fardlu ‘ain sudah tidak ada, jadi
biar saya berhenti dan nangkanya saya ambil di akhirat nanti !”.
Setelah itu K.H. Ahyat Halimy mulai mengabdi pada Ilmu, mendirikan
Pondok Pesantren.
Setelah itu perjuangan K.H. Ahyat Halimy
di bidang politik tidak pernah berhenti, beliau memilih “lahan” lain.
Keanggotaan Konstituante yang dijabat mulai tahun 1956, juga diakhir
pada tahun 1958, hanya karena merasa bukan tempatnya, akhirnya beliau
mengundurkan diri sebagai anggota Konstituante pada tahun 1958. Setelah
itu beliau aktif di Partai NU, dan senantiasa mengingatkan agar kader NU
yang berada di Pemerintahan, baik itu Legislatif maupun Eksekutif untuk
selalu berpihak pada ikhtiar meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Secara
pribadi, K.H. Ahyat Halimy tidk ingin melibatkan diri dalam politik
praktis. Sikap itu sangat jelas ketika beliau memilih untuk mengundurkan
diri sebagai ang-gota Konstituante. Tetapi karena sikap dan kepribadian
beliau yang selalu ingin menjadi orang yang “berman-faat bagi orang
lain”, maka beliau selalu “dilibatkan” dalam setiap keputusan-keputusan
politik. K.H. Ahyat Halimy adalah rujukan dan solusi bagi
politisi-politisi NU, hususnya di Mojokerto. Pandangan-pandangan beliau
yang senantiasa tegas tetapi moderat selalu dapat diterima oleh banyak
pihak.
Dalam hal melaksanakan “amar makruf nahi mungkar”,
K.H. Ahyat Halimy melihatnya sebagai suatu kewajiban pribadi, oleh
karenanya beliau merasa tidak cukup menyerahkan kewajiban “amar makruf
nahi mungkar” tersebut pada Institusi yang ada, melainkan selalu
bertindak langsung secara individu.
Hal ini nampak jelas
ketika Mojokerto dilanda demam judi “Hwa-Hwe” yang direstui Pemerintah
Jatim untuk menggalang dana bagi penyelenggaraan Pon ke VII di Surabaya,
K.H. Ahyat Halimy secara pribadi datang menemui Bupati dan Walikota
Mojokerto, serta meng-ingatkan secara langsung, bahwa perjudian
“hwa-hwe” selain haram juga akan menyengsarakan rakyat, oleh karenanya
Bupati dan Walikota harus tegas melarang perjudian tersebut.
Begitu
pula ketika K.H. Ahyat Halimy melihat ada kebijakan Bupati atau
Walikota yang dianggap akan merugikan rakyat, beliau senantiasa datang
secara langsung ke Bupati atau Walikota untuk mengingat-kannya.
K.H. Ahyat Halimy juga merupakan sosok yang sangat menghargai perbedaan tanpa harus kehilangan prinsip kebenaran yang diyakini. Pada Pemilu 1987 ada gerakan “penggembosan” terhadap PPP yang dilakukan oleh tokoh-tokoh NU. dengan memanfaatkan issue Keputusan Muktamar NU di Situbondo; “NU kembali ke khittoh 1926”. Keputusan ini diartikan secara sempit “NU harus keluar dari PPP”. K.H. Ahyat Halimy meman-dang tidak seharusnya dipahami secara sempit seperti ini. Kemudian atas permintaan beberapa pengurus Cabang PPP, beliau membuat edaran yang intinya beliau berharap agar warga NU tetap berada di PPP. Selebaran ini langsung ditanggapi oleh beberapa Ulama NU secara terbuka dan verbal, sehingga memunculkan konflik terbuka pada warga NU di lapisan bawah. Pengurus Cabang PPP kembali meminta K.H. Ahyat Halimy untuk menanggapi, kali ini minta secara ter-buka, tetapi beliau tidak berkenan. Beliau hanya mengatakan “ Yang sabar saja, ini resiko perjuangan. Kalau saya menanggapi secara terbuka, maka akan terjadi konflik terbuka antar Kiyai, resiko ini terlalu berat untuk perjuangan kita ke depan.” Solusi beliau kemudian adalah mengajak dua orang pengurus PPP untuk secara diam-diam bersilaturrohim kepada hampir seluruh Kiyai dan tokoh NU di Kecamatan, dan menyampaikan sikap beliau yang tetap mendukung PPP.