Penulis: Sorban Santri

  • PENDAPAT SEBAGAIAN ULAMA’ TENTANG DEMO

    PENDAPAT SEBAGAIAN ULAMA’ TENTANG DEMO

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Tidak banyak ulama yang berani menyoroti hukumnya berdemonstrasi dalam islam. Sebab sebagian ulama ada yg sudah menganggap aksi demo itu ‘jihad’. Mungkin juga beberapa dari mereka takut dituduh fanatik anti-demokrasi karena melarang demo.

    Tapi hey, aksi demo itu cuma atribut demokrasi lhoo…bukan demokrasi itu sendiri. Banyak cara dalam sistem demokrasi untuk menyampaikan pendapat selain aksi demo. Bahkan di banyak negara eropa warganya jarang demo, kecuali para simpatisan partai berhaluan kiri atau komunis-marxis (yg memang aksi demo itu adalah modulnya) di Eropa.

    Pertimbangan para ulama yg melarang demo tak lain adalah MUDHARAT atau dampak negatif yg ‘mendompleng’ aksi demo itu sendiri seperti ditunggangi kelompok dg niat terselubung, dibonceng kelompok2 anarkis yg ingin mengail untung di dalam kerusuhan massal bakar2an, jatuhnya korban nyawa dsb

    Masih mau demo ?

    Hmm belajar aja deh yaa. Biar otak, akal dan lisan kamu tajam dan tidak tumpul seperti orasi mu atau mati seperti spanduk aksi mu

    “.. dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS Yunus : 100)
    (abi-sorban)

  • Agama Perintahkan Lawan lewat Diplomasi Bukan Demo

    Agama Perintahkan Lawan lewat Diplomasi Bukan Demo

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Bila melihat penguasa yang kita anggap zolim, diperintahkan untuk : Menguasai masalah – Berwawasan – Bertutur kata – Santun. Ini semua disebut BERDIPLOMASI atau tabligh.

    Diplomasi itu penting karena dengag ini kita bisa mencapai win-win solution, menghindari kemudharatan dan memenangkan perang tanpa pertempuran dan jatuh korban.

    Bahkan ahli perang Tiongkok kuno, Sun Tzu mengatakan ‘Kemenangan sejati adalah kemenangan yang diraih sebelum pertempuran itu dimulai’

    Kalau belum sanggup berdiplomasi lalu kita kudu ngapain dong ? Ya belajar sih, menambah wawasan, mengasah keahlian.

    Pun kalo kita belum bisa berdiplomasi itu artinya memang kita belum memahami masalahnya dan belum waktunya bagi kita untuk memecahkan masalah itu. Kalau kita belum paham masalahnya lalu kebelet melakukan aksi yaa artinya kita sudah ditunggangi.

    Kalau cuma aksi bergerombol unjuk rasa, angkat spanduk, teriak2. Itu ngga perlu belajar, apalagi memahami masalah, siapapun bisa. Bahkan bocil medsos pun bisa. (abi-sorban)

  • Demonstrasi adalah praktik ajaran Komunis & Marxisme

    Demonstrasi adalah praktik ajaran Komunis & Marxisme

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Demonstrasi (aksi pagelaran massa) pertama kali dipopulerkan oleh Lenin, tokoh komunis Unisovyet. Di tahun 1917 Lenin memprovokasi kaum proletar (buruh) untuk mogok dan melakukan aksi protes melawan Kerajaan Tsar Rusia yg berkuasa saat itu selama berhari2 dan menebarkan kekacauan dan teror yg puncaknya adalah para buruh bersama Lenin melakukan pemberontakan bersenjata dan menggulingkan (kudeta) kekuasaan Tsar dan mendirikan Republik Unisovyet berhaluan Komunis-Marxisme, dengan menumbalkan korban di kedua belah pihak.

    Modus yg sama terjadi dalam berdirinya negara RRC di Tiongkok dan aksi2 massa PKI th 1965 di Indonesia dulu.

    Konon Ketua PKI DN Aidit dan Muso saat bergabung dg Komintern (Komunis Internasional) menjalani pembekalan di Unisovyet. Mata kuliah wajib yg mereka pelajari diantaranya metode pagelaran massa (aksi demo) dan teknik agitasi dan propaganda, yg menjadi ciri khas partai-partai berhaluan komunis-marxis di seluruh dunia.

    Metode aksi massa ini merupakan tafsiran Lenin atas ajaran Karl Marx (Marxisme) bahwa kemenangan kaum proletar (buruh) dapat terjadi hanya melalui benturan langsung atau pergulatan antar kelas – borjuis kapitalis vs proletar.

    Tidak dianjurkannya mahasiswa muslim untuk berdemo sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. yaitu barang siapa mengikuti suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut. (abi-sorban)

  • KETUA PC GP ANSOR MOJOKERTO HADIR DALAM GIAT RUTIN KEBANSERAN

    KETUA PC GP ANSOR MOJOKERTO HADIR DALAM GIAT RUTIN KEBANSERAN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI-Sabtu, 10 Oktober 2020. Untuk kesekian kalinya Satkoryon Banser Kec. Pacet melakukan giat rutin manaqib banser serta Sharing keBanseran yang harus ada untuk maksimalnya jalannya organisasi.
    Kali ini Musholla Pandan Sili Dsn.Treceh Ds.Sajen menjadi tempat berlangsungnya kegiatan tersebut yang disertai dengan selamatan tumpengan adanya pengurus Ranting yang baru.

    Dalam kegiatan tersebut sempat hadir Ketua PC GP Ansor Kab. Mojokerto Sahabat Gus Ali M. Nasih untuk memberikan wawasan dalam penguatan IDEOLOGI yang harus dijaga, dari hulu sampai hilir harus satu barisan, satu komando dalam gerakan karena ANSOR hari ini adalah tanggung jawab kita.

    Untuk pesta demokrasi yang akan diadakan 9 Desember 2020, kader-kader Ansor Banser harus bisa memilih pemimpin yang bisa memberikan manfaat besar untuk organisasi bukan untuk pribadi dan kepentingan kelompok. Kita pertahankan IDEOLOGI kita, Kita ramaikan Masjid-masjid kita, dengan kegiatan Amaliyah-amaliyah Annahdliyah. IDEOLOGI itu nomor satu dan menjadi dasar dalam menjalankan organisasi dan beragama.

    Beliau juga berpesan agar dalam rapat atau group group whatsapps, Jangan apatis dalam menyikapi setiap kegiatan seperti yang sudah banyak dan jadi budaya adalah kata PASRAH. Hal yang seperti itu tidak dianjurkan dalam membahas dan merencanakan kegiatan. Kader Ansor Banser diharapkan punya gagasan dan ide untuk keberlangsungan dan kelancaran setiap kegiatan.

    Pasrah (Ngepas No Arah) itu cuma ada 4 :
    1. Satu garis lulus dengan guru
    2. Satu arah dengan Orang tua
    3. Satu Jalan dengan Rosulullah SAW
    4. Pasrah terhadap Alloh SWT

    Mudah-mudahan realita dalam keAnsoran keBanseran masih 1 Barisan, 1 Komando dan semua sahabat-sahabat diluangkan waktunya oleh Alloh SWT dan diberikan rizki yang barokah sehingga bisa istiqomah dalam setiap kegiatan. Aamiin Ya Robbal’alamiin. (abi sorban)

  • Sunan Kalijaga Raden Sahid

    Sunan Kalijaga Raden Sahid

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman. Beliau merupakan putra Raden Sahur putra Temanggung Wilatika Adipati Tuban. Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.

    Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam ‘kungkum’ di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan. Raden Sahid sebenarnya anak muda yang patuh dan kuat kepada agama dan orang tua, tapi tidak bisa menerima keadaan sekelilingnya yang terjadi banyak ketimpangan, hingga dia mencari makanan dari gudang kadipaten dan dibagikan kepada rakyatnya. Tapi ketahuan ayahnya, hingga dihukum yaitu tangannya dicampuk 100 kali sampai banyak darahnya dan diusir.

    Setelah diusir selain mengembara, ia bertemu orang berjubah putih, dia adalah Sunan Bonang. Lalu Raden Sahid diangkat menjadi murid, lalu disuruh menunggui tongkatnya di depan kali sampai berbulan-bulan sampai seluruh tubuhnya berlumut. Maka Raden Sahid disebut Sunan Kalijaga.

    Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dalam rangka penyebaran Islam, antara lain dengan wayang, sastra dan berbagai kesenian lainnya. Pendekatan jalur kesenian dilakukan oleh para penyebar Islam seperti Walisongo untuk menarik perhatian di kalangan mereka, sehingga dengan tanpa terasa mereka telah tertarik pada ajaran-ajaran Islam sekalipun, karena pada awalnya mereka tertarik dikarenakan media kesenian itu. Misalnya, Sunan Kalijaga adalah tokoh seniman wayang. Ia tidak pernah meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu disisipkan ajaran agama dan nama-nama pahlawan Islam. (abi sorban)

  • PESANTREN ITU URUNG DIBAKAR DI PAPUA

    PESANTREN ITU URUNG DIBAKAR DI PAPUA

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Cerita berawal dari profesi saya sebagai penjual ayam, yang alhamdulillah lumayan sukses. Banyak masyarakat Papua, baik pendatang maupun asli sana yang jadi pelanggan ayam saya. Namun, dalam menyembelih ayam-ayam itu, mereka masih belum dikatakan sempurna secara syar’i.
    Dari situlah awal saya memberikan sedikit demi sedikit arahan soal menyembelih hewan. Alhamdulillah banyak yang meniru. Di Papua sini komunitas muslim sangat minoritas. Sebetulnya banyak kelompok Islam baru yang bermunculan, namun berhaluan keras. Sehingga masyarakat asli merasa terusik dan tentu tidak begitu tertarik atas kehadiran mereka.
    Karena itulah ketika kami membangun Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (PPMQ) di Papua Barat, mereka mengira bahwa kami sama dengan komunitas muslim garis keras yang tidak simpatik kepada orang Papua dan juga adat Papua. Berkat pertolongan Allah, alhamdulillah lama-kelamaan mereka mengetahui siapa kami dan bahkan mau belajar Al-Quran kepada kami, yang hanya penjual ayam ini.
    Saya tidak punya ilmu Al-Quran sebaik dan sepandai sahabat-sahabat santri lain. Saya hanya bisa alif ba’, ta’. Namun semua aktivitas mengajar Qur’an kami lakukan dengan ikhlas, sesuai nasihat Romo Kiai Yusuf Masyhar.
    Awal berdiri, semua menolak kehadiran PPMQ Al-Qalam. Bahkan dari pihak lintas gereja pun menolak keras (maaf, saya ngetik ini sambil menangis karena ingat waktu itu). Majelis Rakyat Papua juga menolak.
    Kami dikepung. Tempat kami dikelilingi berbagai macam sajam, tombak, panah, parang dan lainnya, hendak mengusir kami dari bumi Papua. Mereka pun merangsek masuk ke dalam pondok, ke ruang utama. Di saat itulah mereka melihat logo NU, foto Gus Dur, Kalender Tebuireng dan MQ, serta foto Mbah Hasyim dan lainnya.
    Melihat semua itu, kepala suku besar berteriak ke orang-orang sudah siap dengan senjatanya di luar pondok, “Berhenti, kau punya pesantren ada hubungan apa dengan Tebuireng dan foto-foto ini?”. Saya hanya diam tidak menjawab. Kondisi saat itu benar-benar mencekam.
    Setelah itu, mereka meletakkan senjata semua. Duduk dengan hormat mengikuti kepala suku besarnya. Mereka berteriak, “Gus Dur… Gus Dur,.. kita punya orang tua… NU kita punya saudara…”. Ya Allah ya Rabb.
    Lalu mereka berkata langsung ke saya, “Pak ustadz, mulai detik ini kami yang menjaga pesantren ini, kami yang jaga”. Lalu mereka berteriak bersama-sama tanda mendukung.
    Alhamdulillah sampai detik ini pesantren kita berdiri, dengan dukungan mereka, sahabat kami semua, yang mengakui dan tunduk menghormati Gus Dur sebagai orang tua. Masyaallah. Terimakasih kepada kepala suku, Gus Dur dan NU.
    Sahabatku semua, ini kisah nyata yang kami alami di Papua Barat. Banyak yang belum saya ceritakan. Insyaallah lain waktu saja. Doa, berkah, serta ridho guru-guru kita di pondok pesantren sangatlah penting. Sekali lagi, berpeganglah pada Al-Quran dan berdakwalah dengan akhlak yang sejuk. Semua akan membantu.
    Darto Syaifuddin, pengasuh PP Tahfidz Madrasatul Qur’an Al-Qolam, Papua Barat, alumni Madrasatul Qur’an Tebuireng tahun 2000. (PRANOTO)
  • SIKAP WARGA NU TERHADAP PKS HTI FPI

    SIKAP WARGA NU TERHADAP PKS HTI FPI

    SORBANSANTRI.COM
    SIKAP WARGA NU TERHADAP PKS, HTI, FPI

    SORBAN SANTRI- Kita ini kader NU dan kita tahu bahwa minhum (PKS, HTI, FPI dkk) itu ingin  Menghancurkan NU dan ingin menerapkan khilafah. Prinsip nya apapun yang datang dari mereka JANGAN PERCAYA!!

    Pegangan kita dalam hal pilihan politik: “Dawuh Habibana Luthfi bin Yahya, di mana ada mereka maka ambillah jalan seberangnya.”

    Pegang baik-baik dawuh beliau tersebut. Panduan kita dalam mencari kebenaran terkait situasi kebangsaan dan politik:

    “Jika kita ingin mengetahui kebenaran itu ada di mana? Maka lihatlah PKS ada di mana, kebenaran itu pasti ada di seberangnya (berlawanan dgn PKS).”

    Mereka sudah dikenal produsen Hoax. Sejak dr 2014 sampai sekarang mereka tidak berubah. Rentetan narasi ujaran kebencian, caci maki dan pelecehan telah sering mereka lakukan kepada Kyai-kyai NU dan NU.

    masih percaya mereka?

  • GERAKAN POLITIK SBY-AGUS DAN PKS SOAL OMNIBUS LAW, HADAPI JOKOWI DIDUKUNG BIN

    GERAKAN POLITIK SBY-AGUS DAN PKS SOAL OMNIBUS LAW, HADAPI JOKOWI DIDUKUNG BIN

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Banyak yang tak paham. Dikira BIN, TNI/POLRI diam dan melakukan pembiaran. Jokowi dikira takut lalu kabur ke Kalteng. Padahal ada skenario kejahatan para politikus yang harus dipahami publik. Aparat keamanan sudah mencium gelagat gerakan untuk membangun kerusuhan.
    Hoaks tentang UU Cipta Kerja sudah beredar seminggu lebih sebelum demo besar. Hoaks yang gagal di-counter oleh Tim Komunikasi Jokowi. Dari Kominfo sampai kementerian terkait gagal memenangkan perang komunikasi.
    Akibatnya, SBY-Agus dan PKS memainkan opini kepentingan. Kepentingan mereka. Lewat tangan proxy yang disebut buruh. Tidak semua buruh. Bahkan perusuh bayaran.
    Sejak dua pekan lalu telah beredar luas informasi terkait para dalang dan gembong gerakan anti UU Omnibus Law, sebagai tunggangan politik. Para pembuat onar baik di medsos maupun di lingkaran politikus dan politikus gelandangan serta kaum khilafah, sudah tampak.
    Namun, Pemerintah gagal menindaklanjuti informasi intelijen – gagal menerapkan pre-emptive measures. Gagal bertindak mencegah. Baru setelah isu hoaks UU Omnibus Law berhasil menghasut rakyat, Pemerintah sudah telat bertindak.
    Uang besar, kekuasaan, alat negara, gagal dimanfaatkan secara tepat karena carut marut kemampuan komunikasi publik yang berantakan. Kalah melawan kemampuan buruh seperti KPSI dalam membangun opini. Kenapa? Tidur kenyang menikmati kue kemenangan Pilpres 2019. Lupa akan kepentingan komunikasi yang elegan cerdas dan decisive. Komunikasi yang mencerahkan rakyat.
    Tak salah maka ketika Agus-SBY dan PKS memanfaatkannya. Tentu diikuti kaum khilafah, eks HTI, dan kadrun yang ikut bermain. Tujuan sama menggoyang Jokowi. Catatan SBY dan Agus serta kaum kadal gurun selalu bersinggungan. Kolaboratif. Catatan SBY memang suka bikin onar. Kompor.
    Demonstrasi 4/11/2016 yang disebut oleh SBY sebagai gerakan seperti Arab Springs. Gagal menjungkalkan Jokowi lewat 411, hanya berhasil menjungkalkan Ahok.
    Kini bapak-anak gagal bernama SBY-Agus kembali bikin ulah.Kini SBY-Agus memainkan Omnibus Law alias UU Cipta Kerja. Sentimen dan settingan dibangun dengan SBY dan Agus menarasikan kegagalan berjuang di parlemen. Agus sebagai fotokopi SBY pun menerapkan politik culas nan kotor. Seolah mereka berjuang menolak UU Cipta Kerja.
    Dengan uang bejibun Cikeas menggerakkan demo, mendukung demo persis seperti Anies yang ikut menyurakan aspirasi. Aspirasi penggerogotan wibawa pemerintah. Sejatinya SBY-Agus, berkolaborasi dengan partai berbalut agama PKS membangun kepentingan bisnis.
    Mereka sedang melindungi kroni mereka seperti eks boss Petral Muhammad Reza Chalid dan yang sedang ngumpet Hatta Rajasa. Karena bisnis besar mereka terancam dibabat habis di bawah Jokowi. Apalagi dengan UU Cipta Kerja, dalam persaingan bebas, mereka bisa rontok.
    Kenapa? Karena Omnibus Law mengatur memangkas lebih dari 1.200 peraturan yang menjadi ajang korupsi. Peraturan yang dibuat rumit sehingga melanggengkan korupsi. Tugas sangat berat Jokowi.
    “Omnibus Law atau UU Cipta kerja salah satunya adalah untuk pemberantasan korupsi,” kata Mahfud MD di Jakarta Jumat (9/10/2020).
    Setelah Netizen membongkar konspirasi persiapan demo Cikeas, bahkan secara khusus Agus memamerkan penolakan terhadap UU Cipta Kerja lewat video, setelah demo besar gagal terlaksana pada 6 Oktober 2020. Dan, skenario kerusuhan besar pun gagal.
    Nah, lalu kenapa tampak TNI/Polri lebih persuasif dan tidak bertindak keras? Karena BIN, TNI/Polri sudah mencium gelagat skenario kerusuhan dengan biaya besar, seperti 411, sedang dipersiapkan. Para pendemo bayaran, kelompok radikal, dan perusuh telah siap untuk membakar Jakarta. Terbukti mereka membakar halte, pos polisi, kendaraan aparat.
    Terlebih lagi situasi PSBB dan Covid-19 akan menjadi titik serang media, ketika terjadi bentrokan all-out. Maka, tindakan aparat adalah menjaga jarak dengan demonstran dan perusuh. Titik-titik obyek vital dijaga dan gerakan massa dikelola di titik tertentu.
    Hasilnya? Bentrokan yang diharapkan gagal total. Dan, gagal pula SBY-Agus dan PKS menjadi pahlawan kesiangan. (Penulis: Ninoy N Karundeng).
  • Silaturahmi KH Thoifur Mawardi Purworejo di kediaman Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan

    Silaturahmi KH Thoifur Mawardi Purworejo di kediaman Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Rabu, 7 Oktober 2020 selepas Isya Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan kedatangan seorang tamu, ulama kharismatik dari kota Purworejo Jawa Tengan, alumni Abuya Sayid Muhammad Almaliki Mekkah, yaitu KH Thoifur Mawardi Purworejo.
    Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan terlihat sangat gembira dan senang sekali dg kedatangannya.
    Begitu beliau tiba dan duduk sejenak di ruang tamu, sudut atas, maka salah seorang abdi dalem beliau memberi tahu, maka beliau Maulana Habib Lutfi bin Yahya langsung beranjak dari kamarnya dan segera menemuinya. Dan ternyata memang kedatangannya itu tengah dinanti- nanti oleh beliau.
    Dua ulama besar yg saling menghormati dan saling menyintai, satu dari kalangan kyai yg satu dari kalangan dzurriyah nabi saw, persis seperti yg pernah terjadi dan dialami pada sahabat Ibnu Abbas dan zeid bin Tsabit ra.
    Kedatangan KH Thoifur Mawardi Purworejo di kediaman Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan disamping untuk silaturahmi, juga untuj membahas berbagai masalah yg berkaitan dg masalah umat, perjuangan dakwah dan lainnya, juga untuk mengantarkan sebuah kitab karya Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan yg usai disyarahi dan beri ta’liq oleh beliau.
    Pertemuan kedua ulama besar tersebut walaupun dalan waktu singkat dan tidak lama, yakni sekitar 2-3 jam, tapi terlihat sangat hangat penuh keakraban dan sejuk di pandang, petanda rahmat dan barokah Allah akan segera turun untuk keamanan dan keselamat negeri tercinta Indonesia ini, yg tengah dilanda berbagai macam masalah, penyakit dan lain sebagainya.
    Keduanya mengungkapkan berbagai cerita sejarah dan untaian ilmu yg sangat menarik, yg kami hanya dapat tercengang, sambil mendengar dan mencatatnya dg setia.
    Dari mulai cerita tentang sholawat, keampuhan membaca sholawat, sejarah nabi, makam para wali dari india, Mesir, Yaman, Mekkah hingga Indonesia, kaum Wahai, sejarah para pejuang Indinesia, hingga cerita tentang guru mereka berdua, yaitu Abuya Sayid Muhammad Almaliki Mekkah.
    Yang menarik adalah saat Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan menceritakan secara rinci tentang berbagai karomah Abuya Sayid Muhammad Almalik dan bagaimana kecintaan, perhatian, sayangnya Abuya Sayid Muhammad kepadanya, maka KH Thoifur Mawardi Purworejo menuturkan dg tegas, “Iya betul, kawan- kawan santri menceritakan hal itu semua kepadaku, Abuya Sayid Muhammad Almaliki Mekkah telah memperlakukan Maulana Habib Lutfi bin Yahya dg sangat istimewa dan luar biasa, dan beliau sangat cinta dan sayang dg Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan.” (Muhdor Ahmad)
  • Sunan Drajat Raden Syarifudin Atau Raden Qasim

    Sunan Drajat Raden Syarifudin Atau Raden Qasim

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Nama aslinya adalah Raden Syarifudin. Ada sumber lain yang mengatakan namanya adalah Raden Qasim, putra Sunan Ampel dengan seorang ibu bernama Dewi Candrawati. Jadi Raden Qasim itu adalah saudaranya Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Oleh ayahnya yaitu Sunan Ampel, Raden Qasim diberi tugas untuk berdakwah di daerah sebalah barat Gresik, yaitu daerah antara Gresik dengan Tuban. Di desa Jalang itulah Raden Qasim mendirikan pesantren.

    Dalam waktu yang singkat telah banyak orang-orang yang berguru kepada beliau. Setahun kemudian di desa Jalag, Raden Qasim mendapat ilham agar pindah ke daerah sebelah selatan kira-kira sejauh satu kilometer dari desa Jelag itu. Di sana beliau mendirikan Mushalla atau Surau yang sekaligus dimanfaatkan untuk tempat berdakwah. Tiga tahun tinggal di daerah itu, beliau mendapat ilham lagi agar pindah tempat ke satu bukit.

    Dan di tempat baru itu beliau berdakwah dengan menggunakan kesenian rakyat, yaitu dengan menabuh seperangkat gamelan untuk mengumpulkan orang, setelah itu lalu diberi ceramah agama. Demikianlah kecerdikan Raden Qasim dalam mengadakan pendekatan kepada rakyat dengan menggunakan kesenian rakyat sebagai media dakwahnya. Sampai sekarang seperangkat gamelan itu masih tersimpan dengan baik di museum di dekat makamnya. (abi sorban)