Penulis: Sorban Santri

  • 1000 LEBIH SAHABAT ISHARI NU HADIR DI PACET DAN CERITA MULYANYA SHOLAWAT

    1000 LEBIH SAHABAT ISHARI NU HADIR DI PACET DAN CERITA MULYANYA SHOLAWAT

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Dalam acara Haul H. Drail, HJ, Daiyah dan Gus H. Samiun, yang diadakan pada hari kamis, 1 Oktober 2020 yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, banyak jama’ah dan sahabat ISHARI NU dari berbagai wilayah hadir dalam acara yang diadakan di Dsn Treceh Desa Sajen Kec. Pacet Mojokerto.

    Acara yang dimulai ba’da Sholat Magrib itu berakhir dinihari pukul 01.00 wib 2 Oktober 2020 yang dilanjut dengan khotmil Qur’an sampai Subuh. Mengingat padatnya acara dan banyaknya tamu yang hadir dari berbagai wilayah maka, Banser Satkoryon Pacet mengadakan koordinasi yang rapi dalam kegiatan tersebut.

    Mengingat tempat parkir yang berada di tengah perkampungan warga, banser satkoryon pacet sampai membagi 10 titik pos penjagaan dalam pengaturan lalu lintas, demi kelancaran kendaraan yang biasa keluar masuk pada daerah tersebut.

    Tampak hadir ulama’ dan kiai seperti Pengasuh Pondok Pesantren Fatchul Ulum Pacet KH. Muslikh Abbas dan Mbah Khusain Ilyas yang dalam kesempatan tersebut sempat memberikan cerita dongeng oSholawat.

    Telah dikisahkan Oleh Kiai NAWAWI yang diceritakan ini adalah seseorang yang bernama KABUL. Dan Menurut cerita Mbah Khusain Ilyas, kiai NAWAWI kalau mati ingin seperti KABUL. Apa sih yang dilakukan KABUL itu?

    Bahwa kiai NAWAWI itu suka membaca sholawat, apalagi pas acara maulud nabi, dan KABUL itu pekerjaannya gembala kambing dan kambingnya itu tidak kurang dari 5000 ekor. Setiap malam jum’at ada kegiatan sholawat dan KABUL ini bilang ke kiai NAWAWI kalau ada kegiatan sholawat dipersilahkan ambil kambingnya untuk dijadikan makanan pada acara sholawat tersebut. Jadi setiap malam jum’at selalu ada pengambilan kambing buat hormat dalam kegiatan sholawat.

    Jaman dahulu musholla / langgar itu mangkring (ada diatas) dan dibawahnya itu kolong, Jadi KABUL itu suka sholawatan pas membaca Ashroqol Badru, pasti ada di bawah langgar atau musholla dan membaca paling keras sendiri diantara jama’ah karena sangat cintanya sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

    Cerita ini berjalan beberapa tahun, cuma KABUL ini menderita penyakit kulit (borok sekujur tubuhnya) semua badannya itu melepuh. Ketika akan ada lagi kegiatan sholawat itu, salah seorang utusan kiai NAWAWI itu berencana mengambil kambing buat acara sholawat, KABUL ini minta ijin gak bisa ikut kegiatan sholawat dikarenakan luka borok sekujur tubuhnya dan berbau tidak sedap serta gak bisa memakai pakaian jadi tidak bisa ikut kegiatan sholawat yang rutin diadakan oleh kiai NAWAWI.

    Ketika acara sholawat dimulai, pas membaca Ashroqol Badru, dan KABUL ini sangat sayangnya dengan Nabi Muhammad SAW maka bangunlah KABUL dari rumah menuju langgar/musholla itu dalam keadaan telanjang dan merangkak menuju bawah musholla, karena sangat sayangnya pada Nabi Muhammad SAW. Setelah srokalan selesai, seperti ada bulan jatuh yang cahayanya itu terang benderang dan berjalan kearah musholla. KABUL marah dan menggerutu, ada orang yang telanjang begini kok malah di dekati.

    Cahaya itu tambah dekat dan semakin dekat dengan KABUL dan KABUL semakin marah, kok tambah didekati dalam keadaan telanjang itu. Dan akhirnya pipi kanan KABUL itu di pegang oleh cahaya tadi dan bilang ” KABUUUL, aku Rusullulloh SAW ” dan apa yang terjadi… KABUL disayang dicium dengan Nabi Muhammad SAW kemudian KABUL meninggal dunia. Makanya kiai NAWAWI berkata kalau mati ingin didoakan seperti matinya KABUL.

    Setelah kematian KABUL dibawah langgar / musholla tadi, yang didatangi Nabi Muhammad SAW itu kiai NAWAWI, kemudian Nabi Muhammad SAW menyuruh sekaligus memberitahukan kalau KABUL sekarang meninggal dan ada di bawah langgar / musholla, besok setelah selesai sholat subuh panggulen ( gendong ) dan harus kamu yang gendong, kalau sucikan harus kamu yang pangku, kalau dikubur harus kamu yang memasukkan keliang lahat (kuburan). Subhanalloh..

    Padahal TUBUH kabul banyak borok serta baunya gak sedap, setelah di cium dengan Nabi Muhammad SAW, Air yang jatuh menjadi harum. Mudah-mudahan kita semua akan di sayang oleh Nabi Muhammad SAW.( abi sorban)

  • Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
    Saya gak mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
    Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
    Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
    Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet. Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan. Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur. Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
    Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
    Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
    Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
    Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
    Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
    Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
    Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
    Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
    Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik. Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak. Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
    Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
    Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
    Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis. (abi sorban)
    Penjelasan Gus Baha; ( KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) dalam pengajian beliau
  • Kitab Titik Nol Penuh Kenangan, Kisah KH. Ma’ruf Khozin Waktu Santri

    Kitab Titik Nol Penuh Kenangan, Kisah KH. Ma’ruf Khozin Waktu Santri

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Entah kenapa pagi ini tiba-tiba saya membuka lemari dan mendapatkan kitab Tarsyih Mustafidin, sebuah kitab yang penuh kenangan bagi saya. Karena di dalam Kitab inilah tercatat perubahan drastis dalam diri saya.
    Sebelumnya saya sama seperti kebanyakan santri yang dibiayai oleh orang tua, yang boleh dibilang berkecukupan. Kalau mau minta uang dipenuhi oleh orang tuanya. Dan segala fasilitas pondok yang lain juga diwujudkan. Saat itu antara tahun 1994 sampai tahun 2000.
    Saya sama seperti santri yang lain. Tidak terlalu menonjol dalam prestasi. Kalau dibangunin sulit, tidurnya juga sampai larut malam. Subuhnya bangun paling lambat, kecuali kalau kiai langsung yang keliling pondok sambil membangunkan santri.
    Kebiasaan saya nongkrong di kantin, sering ‘khoyal’ (cangkrukan) di dapur dengan 1 gelas kopi dijoin 3-4 teman, kadang di bawah jemuran untuk menghindari dari keamanan pondok (termasuk Gus Umronuddin dan Ust Agha  lladzifie / Pak Ghofur).
    Kenyamanan bagi santri nakal semacam itu tiba-tiba terhenti ketika Abah saya wafat, tepat 2 hari setelah pergantian Milenium tahun 2000. Sejak saat itu saya merasa kehidupan sudah berakhir. Sudah tidak bisa melanjutkan kehidupan. Sudah terasa berat menjalani hari-hari tanpa Abah. Saat kembali ke pondok pun tidak ada semangat, tidak ada gairah.
    Selama di pondok saya berusaha untuk melupakan hal-hal yang berkaitan dengan Abah saya, tapi saat berada di kantin Pondok yang teringat hanya wajah Abah saya. Ketika bercengkrama dengan teman-teman yang lain yang terbayang juga Abah saya. Ketika di dapur pun yang terbesit di dalam pikiran adalah kenangan bersama Abah. Semua diliputi perasaan yang terus menghantui itu.
    Belum saya temukan bagaimana caranya supaya hilang. Tapi ketika membuka kitab tiba-tiba lenyap pikiran itu. Semakin lama membuka kitab semakin tidak ingat terhadap Abah. Maka saya pun terus membuka kitab dan kebetulan di kamar saya ada Kamus Munawir besar, saya cari makna kitab yang tidak saya ketahui di kamus tersebut.
    Saya pun kemudian meminjam kepada kakak saya, Mas Nasihudin, kitab Fathul Muin yang sudah penuh dengan makna dari ngaji beliau kepada Kiai Fuad Jazuli. Lalu saya salin ke kitab saya ini yang bernama kitab Tarsyih Al-Mustafidin, yang bagian atasnya adalah Syarah dan Matan dari Fathul Mu’in.
    Di situlah saya merasakan nikmat betul memaknai kitab, sama sekali tidak ada ingatan terhadap orang tua yang sudah wafat. Ketika kemudian terbangun malam saya pun kemudian memaknai kitab ini. dan terasa nikmat kalau ditemani oleh kopi khas anak pondok, namanya kopi Brontoseno. Ada teman yang kebetulan mengetahui saat itu, di antaranya Mas Amin (Zinedine).
    Terus saya lakukan itu beberapa bulan. Sampai memaknai kitab Fathul Mu’in ini khatam (13 Agustus 2000, walaupun sudah khatam di hari-hari aktif saya masih ngaji Fathul Mu’in kepada Gus Zidni dan Gus Ma’mun). Setelah itu berlanjut ke beberapa kitab yang lain.
    Dari situlah saya merasa ada perubahan dalam hidup saya. Saya tidak menyalahkan kalau ada teman-teman yang menjumpai kehidupan saya di Pondok pada kisaran di bawah tahun 2000, menganggap Ma’ruf itu tukang tidur, itu sukanya di kantin bla bla bla. Tidak salah anggapan itu.
    Tetapi terkadang Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk berubah dan memperbaiki diri. Dari perjalanan hidup saya tersebut saya belajar tidak meremehkan orang lain. Mereka masih berpeluang besar diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi lebih baik. Justru kitalah yang tidak boleh terlalu ujub, bangga diri, sebab boleh jadi tergelincir dalam kesombongan. Naudzubillah. (abi sorban)
    Sumber KH. Ma’ruf Khozin
  • Sejarah K.H. Raden Ma’mun Nawawi Cibogo

    Sejarah K.H. Raden Ma’mun Nawawi Cibogo

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- K.H. Raden Ma’mun Nawawi adalah seorang ulama ternama kelahiran Cibogo, Cibarusah, Bekasi. Kiai Ma’mun Nawawi akrab dengan panggilan Mama’ Cibogo. Lahir pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M.
    Ngaji di Purwakarta Sampai Mekkah
    Perjalanan keilmuan Kiai Ma’mun Nawawi dimulai pada usia 15 tahun. Setelah mendapat didikan langsung dari ayahnya, beliau melanjutkan studi ke pesantren yang diasuh oleh Tugabus Bakri bin Seda (Mama Sempur) di Plered Sempur Purwakarta hingga 7 tahun. Kecerdasan dan akhlak Kiai Ma’mun Nawawi diakui oleh seluruh santri, baik junior maupun senior. Hal demikian sampai menjadikan Kiai Ma’mun Nawawi diangkat menjadi menantu oleh pemilik pondok pesantren, yaitu Mama’ (panggilan untuk tokoh agama di Sunda) Sempur.
    Selesai di Purwakarta, beliau melanjutkan studinya ke Mekkah selama 2 tahun. Selama di Mekkah, beliau berguru pada lebih dari 13 muallif (pengarang kitab), diantaranya adalah al-Muhaddits as-Sayyid Alawi al-Maliki, Mama KH. Mukhtar Ath Tharid, dan syaikh ‘Ali al Maliki. Mengaji di Jawa Timur Sampai Tanah Betawi Sekembalinya dari Mekkah, saat itu usianya 24 tahun, Kiai Ma’mun Nawawi melanjutkan perjalanan keilmuannya ke Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan pesantren Syaikh Ihsan Jampes Kediri.
    Menarik dicatat bahwa Kiai Ma’mun dan Syaikh Ihsan Jampes, keduanya sama-sama menulis kitab tentang rokok. Syaikh Ihsan Jampes (guru) menulis kitab yang berjudul Irsyad al-Ikhwan fi Bayani Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhan berisi penyeimbang atas larangan-larangan merokok.Sedangkan kitab Kiai Ma’mun Nawawi (murid) berjudul Risalat Syurb ad-Dukhan yang berisi rambu-rambu larangan merokok. Sang Guru diketahui sebagai perokok berat, sedangan Sang Murid sangat anti terhadap rokok. Perbedaan ilmiah semacam ini sudah terjadi di Nusantara sejak zaman dahulu.
    Setelah menyelesaikan perjalanan di pulau Jawa bagian timur, beliau belajar lagi ke pesantren yang diasuh Syaikh KH. Manshur bin Abdul Hamid al-Batawi, pengarang kitab Sullam an-Nayirain, di Jembatan Lima, Jakarta. Kitab Sullam an-Nayirain berisi tentang ilmu falak. Kitab ini mampu dipelajari dan dikuasai oleh Kiai Ma’mun Nawawi selama 40 hari saja.
    Secara umum Kiai Ma’mun Nawawi lebih dikenal sebagai ulama falakiyah. Sampai saat ini, Cibogo, kampung kelahiran beliau, memiliki kalender sendiri dalam perhitungan awal bulan, tahun, puasa, dan lebaran. Maka dalam jangka waktu sepuluh tahun, ada saja perbedaan antara kalender Cibogo dengan pemerintah dalam penentuan awal puasa dan lebaran. Karena basis kalender Cibogo adalah hisab, sedangkan pemerintah adalah rukyat.
    Dalam bidang Hadis, Kiai Ma’mun Nawawi berguru kepada al-Muhaddis Ali al-Maliki, al-Muhaddis as-Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas, dan Syaikh Mukhtar Ath-Tharid al-Bogori di Makkah. Untuk al-Muhaddis Ali al-Maliki, Syaikh Muhammad Yasin al-Fadni sampai mencatat tersendiri periwayatan darinya dalam karya al Maslak al Jaliy fi Asanid Fadhilah as-Syaikh Muhammad Ali al Maliki. Di Indonesia, beliau berguru kepada Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Bukti bahwa beliau ulama yang mempuni dalam bidang Hadis adalah hadirnya kitab Bahjat al Wudluh fi Hadis Opat Puluh (Empat Puluh) dengan metode dan isi yang akan kami paparkan pada tulisan mendatang.
    Dari Laskar Hizbullah sampai Produktif Menulis Selain sibuk dengan ilmu, Kiai Ma’mun Nawawi juga punya pernanan penting dalam catatan sejarah kemerdekaan Indonesia. Berbekal kedekatan Kiai Ma’mun Nawawi dengan sang guru, Hadlratussyaikh Hasyim Asy’ari dan anaknya K.H Wahid Hasyim, ditambah dengan daerah strategis, Cibarusah didaulat menjadi tuan rumah pusat pelatihan Laskar Hizbullah pada masa revolusi dan reformasi kemerdekaan Indonesia.
    Majalah Tempo, 18 April 2011, menggambarkan adanya fakta perjuangan heroik “Laskar Allah” dari Cibarusah. Sekitar lima ratus pemuda berkemeja dengan celana tanggung biru berbaris keluar dari barak-barak anyaman bambu. Para calon opsir ini bersiap mengikuti upacara pembukaan latihan Laskar Hizbullah di Desa Cibarusah, Bekasi. Suatu pagi pada Februari 1945.
    Dalam situasi segenting itu, semangat literasi Kiai Ma’mun Nawawi melahirkan karya-karya yang memenuhi dahaga masyarakat, terutama masyarakat Sunda. Tidak kurang dari enam puluh tiga karya lahir dari “tangan dingin” beliau. Karya-karya beliau mencakup keilmuan Islam dalam bidang Hadis, fikih, astronomi (falak), sastra, dan lain-lain. Pada umumnya karya-karya beliau ditulis dengan menggunakan arab pegon dan berbahasa Sunda.
    Akhir Hayat Kiai Ma’mun Nawawi wafat pada malam Jum’at 26 Muharram 1395 H pukul 01.15 WIB yang bertepatan dengan tanggal 7 Februari 1975 M di Cibogo pada usia 63 tahun (1912-1975). Pondok pesantrennya saat ini diteruskan oleh salah satu putranya, KH. Jamaluddin Nawawi. Makam Kiai Ma’mun Nawawi berada di sekitar pesantren dan banyak dikunjungi orang baik dari Bekasi, Banten, atau Bogor, khususnya pada bulan Maulid.
    Tulisan ini disarikan dari buku “Peranan K.H Raden Ma’mun Nawawi dan Laskar Hizbullah Pada Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia,” (Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bekasi, 2018) karya A. Sopandi & A. Jaelani dengan beberapa pengembangan hasil penelitian penulis).
  • Haul KH.MUSTHOFA bin SINGOKERTO Canggu Jetis mojokerto di era pandemi covid-19

    Haul KH.MUSTHOFA bin SINGOKERTO Canggu Jetis mojokerto di era pandemi covid-19

    Sorban jetis_KH. Muhammad Musthofa bin singokerto salah satu kyai sakti mojokerto, makam beliau di masjid al musthofa, masjid peninggalan beliau di wilayah canggu jetis mojokerto, selain terkenal sakti, beliau juga adalah salah satu ulama yang menyebarkan agama islam di wilayah canggu dan sekitarnya

    SORBANSANTRI.COM
    KH. Moh. Musthofa bin Singokerto

    Untuk mengenang jasa beliau, santri dan warga canggu tiap tahun mengadakan haul di masjid al musthofa, yang di hadiri ribuan santri dan warga sekitar. Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya tahun ini haul di laksanakan dengan sederhana, karena mengingat masih dalam kondisi pandemi covid-19, yang di hadiri sekitar 450 santri dan warga canggu.(30/09/20)

    SORBANSANTRI.COM
    Makam KH. Moh. Musthofa bin Singokerto

    Menurut keterangan dari ketua takmir masjid al musthofa Ustadz NUR ALIMAN mengatakan ” sebelum acara di laksanakan pihak takmir sudah berkoordinasi sama kepala desa canggu dan pihak keamanan yang akhirnya di ijinkan melaksanakan acara haul tahun ini, dengan syarat harus bisa memenuhi protokol kesehatan, dan alhamdulillah dengan di bantu BANSER semuanya yang hadir memakai masker, cuci tangan sebelum masuk masjid dan menjaga jarak” untuk undangan menurut Ustadz NUR ALIMAN hanya takmir masjid al musthofa, dan pengurus NU CANGGU serta banomnya, sekitar seratusan undangan tapi yang hadir di luar dugaan masih hampir lima ratusan

    SORBANSANTRI.COM

    Gus DARTOK MULYADI selaku Ketua GP ANSOR CANGGU saat di temui team SORBAN mengatakan “setelah ada permintaan pam BANSER dari pihak takmir masjid al musthofa pada acara haul KH. M MUSTHOFA bin SINGOKERTO Langsung saya intruksikan kepada BANSER canggu untuk hadir semua dan yang hadir sekitar 20 personil, dan kami juga di bantu sahabat2 PAGAR NUSA canggu ada 5 sahabat, dan alhamdulillah acara berjalan dengan lancar aman sampai selesai”

    SORBANSANTRI.COM

    Pantauan dari lokasi acara nampak dari seragam yang di pakai ada NU canggu, ANSOR, MUSLIMAT, FATAYAT, IPNU, PAGARNUSA di kelompok ibu ibu ada sekelompok seragam batik IPPNU, mereka semua tertib dan khusuk mengikuti acara sampai selesai

    By:alim sorban

  • AMALAN MENEMPATI RUMAH BARU

    AMALAN MENEMPATI RUMAH BARU

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Kita patut bersyukur menempati rumah baru karena itu adalah nikmat Allah yg patut disyukuri. Agar rumah atau tempat yg baru dihuni mendapatkan keberkahan dan aman dari gangguan jin, sebagian ulama menganjurkan kita untuk melakukan amalan sebagai berikut.

    1. Membaca Surat Al-Fatihah 3 kali

    2. Kemudian membaca Surat Al-Mu’minun ayat 28-29 sbg berikut:

    فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنتَ وَمَن مَّعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ * وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلاً مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ

    Artinya, “Bila kau dan pengikutmu sudah di atas kapal, maka katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yg menyelamatkan kami dari kaum aniaya.’ Katakanlah, ‘Tuhanku, tempatkan aku di tempat yg berkah karena Engkau sebaik2 pemberi tempat.’

    3. Kemudian membaca doa sebagai berikut sebanyak 3 kali:

    اَللهم يَا مَنْ فَلَقَ الْبَحْرَ لِمُوْسَى بْنِ عِمْرَانَ وَنَجَّى يُوْنُسَ مِنْ بَطْنِ الْحُوْتِ وَسَيَّرَ الْفُلْكَ لِمَنْ شَاءَ أَنْتَ الْعَالِمُ بِعَدَدِ قَطْرِ الْبِحَارِ وَذَرَّاتِ الرِّمَالِ يَا خاَلِقَ أَصْنَافِ عَجَائِبِ الْمَخُلُوْقَاتِ أَسْأَلُكَ الْكِفَايَةَ يَا كَافِيَ مَنْ اِسْتَكْفَاهُ يَا مُجِيْبَ مَنْ دَعَاهُ يَا مُقِيْلَ مَنْ رَجَاهُ أَنْتَ الْكَافِيْ لَا كَافِيَ إِلَّا أَنْتَ اِكْفِنِيْ شَرَّمَا أَخاَفُ وَأَحْذَرُ وَامْلَأْ مَنْزِلِيْ هَذَا خَيْراً وَبَرَكَةً وَصَلِّ عَلَى نَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

    Allâhumma yâ man falaqal bahra li Mûsâ bin ‘Imrân, wa najjâ Yûnusa min bathnil hût, wa sayyaral fulka li man syâ’a, antal ‘âlimu bi ‘adadi qathril bihâri, wa dzarrâtir rimal. Yâ Khâliqa ashnâfi ‘ajâ’ibil makhlûqât. As’alukal kifâyah, yâ kâfiya man istakfâh, yâ Mujîba man da‘âh, yâ muqîla man rajâh. Antal kâfi, lâ kâfiya illa anta. Ikfinî syarra ma akhâfu wa ahdzar. Wamla’ manzilî hâdzâ khairan wa barakah. Washalli ‘ala nabiyyika wa rasûlika sayyidina Muhammadin wa âlihi wa shahbih wa sallim.

    Artinya, “Ya Allah yg membelah lautan untuk Musa bin ‘Imran, dan menyelamatkan Yunus dari perut ikan besar, yg menjalankan perahu kepada siapapun yg dikehendaki. Engkau mengetahui jumlah tetesan air laut dan satuan2 kerikil. Wahai zat yg menciptakan beberapa macam keajaiban makhluk2. Aku memohon kepada-Mu kecukupan, wahai zat yg mencukupi hamba yg memintakan kecukupan kepada-Nya. Wahai zat yg mengabulkan hamba yg berdoa kepada-Nya, yang mengampuni hamba yang mengharap rahmat-Nya, Engkau maha mencukupi. Tiada yg mencukupi selain-Mu. Cukupilah aku dari keburukan sesuatu yg kukhawatirkan, penuhilah tempatku ini dengan kebaikan dan keberkahan. Shalawat salam semoga tercurah kepada nabi dan utusan-Mu, junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, dan kepada para keluarga serta sahabatnya.”

    Amalan di atas dibaca setiap pagi dan sore selama tiga hari berturut2. Amalan ini dikutip dari Kitab Al-Wasa’ilis Syafi’ah karya Syekh Al-Habib Muhammad bin Ali Khirid Al-Alawi Al-Husaini At-Tarimi, Beirut, Darul Hawi, cetakan kedua, 1999 M, halalaman 512.

    Wallahu a‘lam

    Jangan lupa doa masuk rumah lainnya, yakni mengucap salam. Dengan begitu, harapannya seseorang bisa dijauhi dari gangguan jin atau setan. Perintah mengucap salam tertulis dalam Al-Quran surat An-Nur: 61 yg berbunyi:

    فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

    Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah2 (ini) hendak lah kamu memberi salam kepada (penghuni yg berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yg ditetapkan dari sisi Allah, yg diberi berkat lagi baik. (abi SORBAN)

  • KHALIFAH UMAR r.a. DAN BUDAYA KRITIK

    KHALIFAH UMAR r.a. DAN BUDAYA KRITIK

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Khalifah Umar ibn al-khatthab r.s. sering dijadikan contoh sebagai pemempin yang menyukai kritik. Beliau punya kebiasaan belusukan ke kampung kampung. Salah satu tujuannya mencari tahu tentang aib dan kekurangan dirinya. Hal itu membuat masyarakat berani dan tidak segan untuk mengeritiknya.

    Dikisahkan bahwa kholifah Umar pada suatu ketika dicegat di jalan oleh seorang perempuan tua bernama Khaulah binti Tsa’labah dan dimintanya berhenti. Cukup lama beliau berhenti di jalan seraya menyimak kalimat2 yang meluncur dari lisan Khaulah binti Tsa’labah yang berisi nasihat nasihat sebagai berikut :

    ﻳﺎ ﻋﻤﺮ ، ﻛﻨﺖَ ﺗﺪﻋَﻰ ﻋُﻤﻴﺮﺍ ﺛﻢ ﺻﺮﺕَ ﻋﻤﺮ ، ﺛﻢ ﻗﻴﻞ ﻟﻚ ﺃﻣﻴﺮُ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ، ﻓﺎﺗﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﻋﻤﺮ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻣَﻦ ﺃﻳﻘﻦ ﺑﺎﻟﻤﻮﺕ ﺧﺎﻑ ﺍﻟﻔﻮﺕَ ، ﻭ ﻣﻦ ﺃﻳﻘﻦ ﺑﺎﻟﺤﺴﺎﺏ ﺧﺎﻑ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ .

    Wahai Umar, engkau dulu dipanggil Umair (Umar kecil), kemudian berubah menjadi Umar, lalu sekarang engkau dipanggil dengan julukan “amirul mukminin”. (Pesan saya) : takutlah engkau, wahai Umar kepada Allah, karena barangsiapa meyakini adanya kematian, ia pasti khawatir akan hilangnya kesempatan, dan barangsiapa yg meyakini adanya hisab, ia pasti takut menghadapi adzab.

    Pertemuan di jalan antara Khalifah dan perempuan tua itu menjadi tontonan dan sekaligus membuat orang orang yang melihatnya keheranan. Maka di antara mereka ada yang terpaksa bertanya : wahai amirul mukminin, mengapa njenengan rela berhenti di sini hanya untuk mendengarkan omongan perempuan tua itu?

    Khalifah Umar menjawab : “Seandainya perempuan itu meminta agar saya berhenti di tempat ini dari awal siang sampai akhir siang, pasti saya tidak akan beranjak kecuali untuk shalat. Tahukah kalian, siapakah perempuan tua itu?”

    Mereka mejawab : kami tidak tahu.

    Sayyidina Umar menjelaskan, Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah, seorang perempuan yang perkataannya didengar oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dari atas langit yang tujuh. Apa pantas Umar tidak mau mendengarkan ucapan perempuan itu, sementara Allah Ta’ala mau mendengarkannya.

    Kisah tentang Khaulah binti Tsa’labah secara singkat difirmankan oleh Allah sbb :

    ﻗﺪ ﺳﻤﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺠﺎﺩﻟﻚ ﻓﻲ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻭ ﺗﺸﺘﻜﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻭ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺴﻤﻊ ﺗﺤﺎﻭﺭﻛﻤﺎ ، ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﻤﻴﻊ ﺑﺼﻴﺮ
    ‏( ﺍﻟﻤﺠﺎﺩﻟﺔ : ١ )

    Tentu Allah mendengar perkataan wanita yang mengajukan permasalahan kepadamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal-jawab kamu berdua. Sesungguhnya, Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.
    (KH Afifuddin Muhajir)

  • HUKUM KIRIM FATIHAH LEWAT STIKER/COPY PASTE?

    HUKUM KIRIM FATIHAH LEWAT STIKER/COPY PASTE?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Sebagai Bahan Muhasabah dan Pengingat Bagi Kita Semua.
    Hadirnya media sosial sebagai sebuah media dalam memudahkan berbagai aktifitas, sudah menjadi hal lumrah.

    Hal ini juga berlaku bagi orang yang hendak kirim fatihah atau doa. Biasanya kalau ada kabar duka orang meninggal dunia di grup whatsapp. Dalam hitungan detik setelah kabar duka muncul, langsung disambut balasan doa dan fatihah dalam bentuk stiker atau teks yang sepertinya sudah di-save dan tinggal copy-past saja.

    Anehnya kadang hanya mengirim stiker atau teks doa tersebut. Lupa melafalkannya.
    Lantas, cukupkah dengan cara demikian? Tanpa mengucapkannya lagi.
    .

    Jawab:
    Sebagaimana lazim diketahui bahwa doa yang dikirim untuk orang yang sudah meninggal adalah bisa sampai. Tapi jika hanya bentuk stiker atau teks tanpa diucapkan, maka tidak dikatakan doa. Harus dilafadzkan (diucapakan).

    Referensi:
    Al-Adzkar li-Syaikhil Islam al-Imam an-Nawawi hal. 150:

    ﺑﺎﺏُ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻊُ ﺍﻟﻤﻴّﺖَ ﻣﻦ ﻗَﻮْﻝ ﻏﻴﺮﻩ : ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻸﻣﻮﺍﺕ ﻳﻨﻔﻌﻬﻢ ﻭﻳَﺼﻠُﻬﻢ . ﻭﺍﺣﺘﺠّﻮﺍﺑﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠّﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ :
    } ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺟﺎﺅﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻫِﻤْﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺭَﺑَّﻨﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨﺎ ﻭﻹِﺧْﻮَﺍﻧِﻨﺎ ﺍﻟَّﺬﻳﻦ ﺳَﺒَﻘُﻮﻧﺎﺑﺎﻹِﻱﻣَﺎﻥِ { ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻵﻳﺎﺕ ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭﺓ ﺑﻤﻌﻨﺎﻫﺎ،ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭﺓ ﻛﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻬﻮﺳﻠﻢ : ” ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻷﻫْﻞِ ﺑَﻘِﻴﻊِ ﺍﻟﻐَﺮْﻗَﺪِ ” ﻭﻛﻘﻮﻟﻬﺼﻠﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ” ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﺤَﻴِّﻨﺎ ﻭَﻣَﻴِّﺘِﻨَﺎ ” ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ .
    “Bab perkataan dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi mayyit : ‘Ulama telah ber-ijma’ (bersepakat ) bahwa do’a untuk orang meninggal dunia bermanfaat dan pahalanya sampai kepada mereka. Dan ‘Ulama’ berhujjah dengan firman Allah : {“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami (59:10)”}, dan ayat-ayat lainnya yang maknanya masyhur, serta dengan hadits-hadits masyhur seperti do’a Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam “ya Allah berikanlah ampunan kepada ahli pekuburan Baqi al-Gharqad”, juga do’a : “ya Allah berikanlah Ampunan kepada yang masih hidup dan sudah meninggal diantara kami”, dan hadits- yang lainnya.”

    Al-Adzkar li-Syaikhil Islam al-Imam an-Nawawi hal. 16:
    ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻷﺫﻛﺎﺭ ﺍﻟﻤﺸﺮﻭﻋﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻭﺍﺟﺒﺔً ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻭ ﻣﺴﺘﺤﺒﺔً ﻻ ﻳُﺤﺴﺐُ ﺷﻲﺀٌ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻻ ﻳُﻌﺘﺪّ ﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻠﻔَّﻆَ ﺑﻪ ﺑﺤﻴﺚُ ﻳُﺴﻤﻊ ﻧﻔﺴﻪ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺴﻤﻊ ﻻ ﻋﺎﺭﺽ ﻟﻪ

    “Ketahuilah bahwa zikir yang disyariatkan dalam salat dan selainnya, baik yang wajib ataupun sunnah tidak dihitung dan tidak dianggap kecuali diucapkan, sekiranya ia dapat mendengar yang diucapkannya sendiri apabila pendengarannya sehat dan dalam keadaan normal (tidak sedang bising dan sebagainya)”.

    Al Mausu’ah al-Fiqhiyah (21/249):
    ” ﻻ ﻳﻌﺘﺪُّ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻤﺎ ﺭﺗَّﺐ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﺍﻷﺟﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺗﻴﺎﻥ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﺫﻛﺎﺭ ﺍﻟﻮﺍﺟﺒﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺴﺘﺤﺒﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻠﻔﻆ ﺑﻪ ﺍﻟﺬﺍﻛﺮ ﻭﻳُﺴﻤﻊ ﻧﻔﺴﻪ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺴﻤﻊ؛

    “Dzikir yang wajib atau sunah, di dalam shalat atau bukan, tidak bisa memdapatkan pahala kecuali dilafalkan oleh orang yang berdzikir tersebut dan (suaranya) terdengar oleh dirinya jika memang pendengarannya normal”. (ANSOR BALI)

    Wallahua’lam, semoga bermanfaat.

    (Pena Aswaja)

  • Menghormati Guru Adalah Salah Satu Sarat Menuntut Ilmu

    Menghormati Guru Adalah Salah Satu Sarat Menuntut Ilmu

    SORBANSANTRI.COM
    Sorban Santri- Diantara syarat yang sering diabaikan oleh para penuntut ilmu sekarang adalah kurang bahkan tidak menghormati guru. Dalam kitab Taysirul Khallaq disebutkan seorang penunut ilmu haruslah meyakini bahwa guru mempunyai kedudukan seperti orang tua, bahkan bisa lebih tinggi, karena orang tua memelihara jasadnya, tapi guru berusaha memelihara jiwanya. Orang tua memperhatikan urusan dunia kita, sementara guru memperhatikan urusan akhirat kita.
    Coba kita perhatikan. Kita mengenal Allah, para Nabi, bahkan kita bisa membaca Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber ajaran islam sehingga bisa menggali lebih dalam syariat islam namun terkadang kita lupa dari manakah kita mengenal semua itu? Tidaklah mungkin kita kenal semua itu tanpa bimbingan guru. Maka benarlah perkataan ulama :
    ﻟﻮﻻ ﺍﻟﻤﺮﺑﻲ، ﻣﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﺭﺑﻲ
    Seandainya tidak ada guru, niscaya aku tidak mengenal Tuhanku
    Betapa mulianya seorang guru hingga Sayyidina Ali yang digelari sebagai kotanya ilmu berkata:
    ﺃﻧﺎ ﻋﺒﺪ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﻨﻰ ﺣﺮﻓﺎ ﻭﺍﺣﺪﺍ، ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺑﺎﻉ، ﻭﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﺳﺘﺮﻕ
    Aku adalah hamba sahaya dari seseorang yang mengajariku satu huruf, jika ia mau maka ia boleh menjual dan jika ia mau maka ia boleh menjadikan aku sebagai budaknya.
    Imam Ahmad banyak mengambil ilmu dari Imam Syafi’i hingga ia berkata: Jika dalam suatu permasalahan tidak aku temui haditsnya maka aku memutuskan hukum dengan perkataan Imam Syafii.
    Maka sebagai balasannya Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
    ﺇِﻧِّﻲْ ﻷَﺩْﻋُﻮ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟِﻠﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ ﻓِﻲْ ﺻَﻼَﺗِﻲْ ﻣُﻨْﺬُ ﺃَﺭْﺑَﻌِﻴْﻦَ ﺳَﻨَﺔً، ﺃَﻗُﻮْﻝُ : ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻲْ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻱَّ ﻭَﻟِﻤُﺤَﻤَّﺪِ ﺑْﻦِ ﺇِﺩْﺭِﻳْﺲَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ
    ”Aku mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Aku berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.”
    [al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i] (arka)
  • Sebarkan Semangat Kampanye Prokes dan Baksos, Ansor-Banser di Sidoarjo Gowes Bareng

    Sebarkan Semangat Kampanye Prokes dan Baksos, Ansor-Banser di Sidoarjo Gowes Bareng

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Kabupaten Sidoarjo menjadi salah satu provinsi penyumbang kasus Covid-19 terbanyak di Propinsi Jawa Timur. Berdasarkan data dari Dinas kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo, sebanyak 6204 orang terkonfirmasi positif Covid-19 per tanggal 26 September 2020.
    Hal itu menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mentaati protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di Kabupaten Sidoarjo masih rendah.
    Sebagai upaya untuk mencegah penularan Covid-19 di Kabupaten Sidoarjo semakin bertambah, maka pemerintah dibantu oleh masyarakat harus berperan aktif untuk mengedukasi serta mensosialisasikan terkait bahaya Covid-19 dan pentingnya penggunaan protokol kesehatan di luar ruangan.
    Dalam rangka membantu upaya pemerintah tersebut, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo menggelar aksi kemanusiaan kampanye Protokol kesehatan (Prokes) dan Bakti sosial (Baksos), Ahad (27/9) pagi.
    Kegiatan yang dikemas dalam acara “ Sahabat Ansor Gowes Napak Tilas Dan Bakti Sosial” pagi ini juga didukung oleh Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser husada (Basada) Kabupaten Sidoarjo. Diikuti oleh puluhan anggota Ansor dan Banser Kecamatan Buduran dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.
    Rute yang ditempuh sejauh sekitar 15 kilometer, berangkat dari komplek area makam KH Ali Masud (Mbah Ud), Desa Pagerwojo, Kecamatan Sidoarjo, kemudian menuju makam auliya Desa Siwalanpanji, dan berakhir di area makam Nyai Dewi Sekardadu di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran.
    Ketua PAC GP Ansor Buduran, Nahwan Mas’udi mengatakan, kegiatan gowes bareng bertujuan untuk napak tilas sekaligus mendoakan para muassis Nahdlatul Ulama.
    SORBANSANTRI.COM
    “Selain olahraga, juga bertujuan untuk memperkuat jaringan silaturrahim antar sesama sahabat Ansor dan Banser se-Kecamatan Buduran. Ansor dan Banser berjuang jihad fi sabilillah, jadi fisiknya juga harus kuat. Juga untuk menggaungkan konferensi yang akan dilaksanakan oleh PAC GP Ansor Buduran dalam waktu dekat,” kata guru pengajar di Ponpes Manbaul Hikam Putat tersebut.
    Lebih lanjut, Nahwan mengungkapkan, sebagai wujud kepedulian kepada warga dhuafa terdampak Covid-19, PAC PG Ansor Buduran sekaligus mengadakan Baksos bagi warga dhuafa di sekitar makam Nyai Dewi Sekardadu, Desa Kepetingan.
    “Kami juga mengadakan Baksos diantaranya pelayanan kesehatan gratis dan sosialisasi protokol kesehatan dibantu oleh Satkorcab Basada Kabupaten Sidoarjo, serta santunan untuk warga dhuafa Desa Kepetingan berupa sejumlah sembako dan uang tunai,” ungkapnya. Dirinya berharap, semua sahabat Ansor banser tetap sehat dan selalu mentaati protokol kesehatan, serta tetap beraktivitas meskipun masih dalam pandemi Covid-19.
    Sementara itu, Kepala sekretariat markas (Kasetma) Satkoryon Banser Kecamatan Buduran yang juga menjabat sebagai Kepala satuan khusus (Kasatsus) Satkorcab Basada Kabupaten Sidoarjo, Sunan Rochmat mengemukakan kesiapan timnya untuk menyukseskan acara.
    “Dalam kegiatan pagi ini, tim Satkorcab Basada Kabupaten Sidoarjo siap melaksanakan giat pengamanan P3K dan bakti sosial meliputi penerapan protokol kesehatan untuk para peserta gowes dan melakukan pelayanan kesehatan gratis untuk warga Desa Sawohan, Dusun Kepetingan,” ujarnya.
    Dijelaskannya, anggota tim Satkorcab Basada Kabupaten Sidoarjo yang diterjunkan kurang lebih berjumlah 20 orang untuk bertugas memberikan pelayanan kesehatan baik secara medis maupun non medis.
    “Layanan secara medis seperti sosialisasi protokol kesehatan, cek tensi darah dan gula darah menggunakan alat digital. Sedangkan layanan non medis berupa terapi bekam, totok urat, pijat refleksi, terapi elektrik dengan alat yang dimiliki oleh Basada. Anggota yang diterjunkan kurang lebih 20 orang,” tutupnya. (Yuli Riyanto)