Penulis: Sorban Santri

  • INDONESIA SEBAGAI BANGSA YANG BERBUDI LUHUR

    INDONESIA SEBAGAI BANGSA YANG BERBUDI LUHUR

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Indonesia adalah negara beragama bukan negara agama dan setiap agama tentu mengajarkan agar sesama manusia saling menjalin kasih sayang karena manusia sejatinya adalah mahluk sosial.

    Begitupun dalam Islam Rosulullah SAW bersabda “Tidak akan sempurna iman seseorang hingga yang bersangkutan sanggup mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

    Seseorang tidak akan mungkin mau dirinya susah, menderita, menanggung kerugian, dan apalagi celaka, begitu pula, sebagai bentuk kecintaan terhadap sesama, semestinya orang lain pun tidak boleh menanggung perasaan yang ia sendiri membencinya.

    Agama sebagai ajaran yang mulia, ternyata belum selalu ditangkap oleh umatnya dengan baik, seseorang yang telah mengaku sebagai seorang beriman kepada yang diyakini, tentu akan memiliki perilaku yang baik dalam keseharianya, ketika bergaul begitupun saat dia berkomunikasi dengan orang lain.

    Tema besar yang diusung pada HUT RI Ke 75 ini adalah menciptakan Indonesia Maju, yang merepresentasikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Logo HUT RI ke-75 terinspirasi dari simbol perisai di dalam lambang Garuda Indonesia. Logo ini juga menggambangkan Indonesia sebagai negara yang mampu memperkokoh kedaulatan, menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.
    Dan sebagai simbol arti dari kesetaraan dan pertumbuhan ekonomi untuk rakyat Indonesia dan progres nyata dalam bekerja untuk mempersembahkan hasil yang terbaik bagi semua rakyat Indonesia.

    #JayalahIndonesiaku
    #JanganLelahCintaiIndonesia
    #BhinekaTunggalIka
    #BersatuUntukIndonesiaMaju

    ( Ontoseno )

  • DOSAKAH MENJADI INDONESIA?

    DOSAKAH MENJADI INDONESIA?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Sudah 75 tahun Indonesia merdeka, ternyata masih ada “agen asing” di Indonesia yang secara psikologi politik merasa malu, risih, bahkan berdosa mengakui Indonesia sebagai negara dan bangsanya. “Orang” di Indonesia lahir, besar, hidup dan mencari penghidupan di sini tanpa bangsa dan negara. Mereka bukan warga negara asing yang memiliki paspor luar negeri. Karena di luar Indonesia mereka juga tidak punya bangsa dan negara.

    “Agen asing” di Indonesia kebanyakan bagian dari komunitas transnasional. Komunitas transnasional merupakan komunitas yang identitas budaya, kesetiaan politik dan orientasi psikologisnya melampaui batas-batas nasional. (Andrew Heywood, terj. 2016:326). Di antara komunitas transnasional yang menonjol adalah ISIS, HTI dan sebagian Salafi Wahabi.

    “Agen asing” di Indonesia memandang Indonesia dari perspektif komunitas mereka. Dari doktrin, nilai, norma dan standar mereka. Persepsi-persepsi ini sudah jadi dogma yaitu keyakinan tertutup yang tidak diuji, diverifikasi dan dikonfirmasi dengan kenyataan. Keyakinan yang ditanamkan sebagai materi pembinaan.

    “Agen asing” di Indonesia memandang Indonesia dari perspektif komunitas mereka. Dari doktrin, nilai, norma dan standar mereka. Persepsi-persepsi ini sudah jadi dogma yaitu keyakinan tertutup yang tidak diuji, diverifikasi dan dikonfirmasi dengan kenyataan. Keyakinan yang ditanamkan sebagai materi pembinaan.

    Ciri khas “agen asing” di Indonesia menjadi bagian dari komunitas transnasional mereka mencita-citakan kehidupan kosmopolitanisme melintasi bangsa dan negara bangsa. Kosmopolitanisme secara harfiah berarti keyakinan terhadap kosmopolis atau negara dunia. Kosmopolitanisme moral adalah keyakinan bahwa dunia seharusnya terdiri atas satu komunitas moral tunggal di mana setiap orang memiliki kewajiban kepada orang lain apapun nasionalitasnya, agama, budaya dan etnisnya. (Andrew Heywood, terj. 2016:327). Kosmopolitanisme dalam bentuk Khilafah.

    Hal mendasar yang membuat “agen asing” di Indonesia tidak bisa menjadi Indonesia karena faktor ideologi dan sejarah. Menurut mereka ideologi negara Indonesia, ideologi kufur, pemerintahannya thaghut, hukumnya hukum jahiliyah, penguasanya pengkhianat, antek-antek Barat, sejarah terbentuknya buah dari gerakan separatis (bughat) terhadap Khilafah Utsmaniyah dan proyeksi masa depan Indonesia yang tidak sesuai dengan Nubuwwah Nabi saw tentang Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah.

    Sebenarnya sudah banyak kajian ilmiah fiqhiyah yang membantah persepsi mereka. Nah, tidak ada salahnya dibongkar kembali persepsi mereka guna mengurai kekusutan nalar, meluruskan pemahaman dan menghilangkan beban serta hambatan psikologi politik “orang” di Indonesia menjadi orang Indonesia seutuhnya.

    Secara global kesalahan fatal “agen asing” di Indonesia seperti HTI dan ISIS, mereka mencampuradukkan fakta bentuk negara, sistem pemerintahan, sejarah berdirinya negara dan perilaku penguasa. Akibatnya, nalar mereka kusut. Tentu tidak sesuai tradisi berpikir fiqih Islam “menghukumi fakta per fakta secara terperinci”. Apakah karena kedangkalan ilmu mereka atau karena kemalasan berpikir serius, sistematis, metodis dan mendalam atau karena ghirah keberislaman yang over dosis, yang pasti mereka keliru menilai Indonesia.

    Mengingat pembahasan syar’i tentang negara, pemerintahan dan penguasa sudah banyak, kali ini saya mau meluruskan pemahaman “agen asing” di Indonesia tentang masa lalu dan masa depan Indonesia. Masa lalu terkait dengan sejarah pembentukan negara Indonesia, sedangkan masa depan membahas positioning Indonesia berhubungan dengan Nubuwwah Nabi saw.

    Nasionalisme: Unifikasi Anti Kolonial
    Bagi “agen asing” di Indonesia, Khilafah Turki Utsmani negara ideal yang jadi standar untuk menilai keabsahan negara lain. Meskipun idealisme ini jauh dari kenyataan, “agen asing” di Indonesia menyalahkan keberadaan negara muslim selain Khilafah Turki Utsmani.

    Sudah menjadi fakta sejarah, negara-negara Arab modern terbentuk dari konspirasi Eropa dengan penguasa lokal untuk memberontak terhadap Khilafah Turki Utsmani. Ide nasionalisme yang diusung penguasa Arab saat itu, nasionalisme separatisme anti Turki Utsmani pro kolonial Eropa. Kenyataan ini membuat “orang” di Indonesia mengharamkan nasionalisme.

    Lain halnya dengan sejarah Arab modern, rakyat Indonesia kemerdekaannya 17 Agustus 1945, 21 tahun setelah runtuhnya Khilafah Turki Utsmani. Khilafah Turki Utsmani resmi dibubarkan pada tanggal 3 Maret 1924. Jadi tidak masuk akal jika Indonesia berdiri sebagai hasil pemberontakan (separatisme) terhadap Khilafah Turki Utsmani karena ketika Indonesia berdiri Khilafah Turki Utsmani sudah tidak ada.

    Selain gagal paham soal proses pembentukan negara Indonesia, “agen asing” di Indonesia mewacanakan persatuan umat sebagai alasan syar’i untuk mendirikan Khilafah.

    Mereka mengambil fakta unifikasi negara Eropa ke dalam Uni Eropa sebagai bukti kemungkinan unifikasi umat dalam bingkai Khilafah. Unifikasi Eropa secara terbatas pertama kali tahun 1957. Sampai sekarang baru bisa menggabungkan 27 negara. Unifikasi Eropa sebentuk asosiasi negara-negara Eropa bukan leburan yang membentuk satu negara kesatuan baru.

    Lagi-lagi “agen asing” di Indonesia gagal membaca sejarah Indonesia. Indonesia 12 tahun lebih dulu dari unifikasi Eropa. Indonesia berdiri hasil unifikasi dari berbagai kesultanan di nusantara, ormas-ormas Islam dan kalangan non Islam.

    Hasil riset Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada 2012, ada 186 kerajaan yang masih eksis secara fisik, yakni wilayah, bangunan, budaya, dan struktur monarki, namun tidak berdaulat lagi karena bergabung dengan NKRI.

    Di antara 186 kesultanan yang secara garis keturunan dan budaya masih kuat di antaranya Kesultanan Yogyakarta, Kesultanan Surakarta, Kasultanan Cirebon, Kerajaan Ternate, dan Kesultanan Kanoman. Berbeda dengan nasionalisme Arab, nasionalisme Indonesia bersifat unifikasi dan anti kolonial.

    Indonesia Makmur Tanpa Khilafah
    Dari 400-an hadits tentang Nubuwwah akhir zaman, tidak ditemukan hadits yang menyebut Indonesia secara spesifik. Juga tidak ada hadits yang menunjuk langsung atau dengan qarinah (indikasi) bahwa Indonesia akan jadi Khilafah. Sehingga positioning Indonesia di masa depan dapat diprediksi dari keumuman dalil tentang keadaan negeri-negeri di akhir zaman.

    Jumhur ulama sepakat bahwa Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua akan terjadi di bawah kepemimpinan Imam Mahdi didampingi Nabi Isa as. Adapun pendapat yang mengatakan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua terwujud sebelum Imam Mahdi, pendapat ini masih khilafiyah karena bersandar pada dalil-dalil umum tentang kemakmuran umat di akhir zaman. (Al-Hajj: 40; Ash-Shaffat: 171-173; Muhammad; 7; Al-Mujadilah; 21; Al-A’raf: 128; Al-Anbiya: 105; Al-Mu’min: 51; An-Nur: 55).

    Sedangkan Khilafah yang dipimpin oleh Imam Mahdi secara khusus disebutkan dalam sejumlah hadits. Imam Mahdi dibai’at di Makkah dekat Ka’bah antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim (HR. Nu’aim bin Hammad, Hakim dan Ath-Thabari dalam Ausath dari Ummu Salamah. Abu Dawud kitab al-Mahdi no. 4286 dan al-Hakim kitan al-Fitan wal Malahim no. 8326). Kemudian Imam Mahdi melakukan ekspansi di jazirah Arab, menaklukkan Persia dan malhamah kubra di A’maq dan Dabiq dekat Damaskus.

    Adapun Nabi Isa bin Maryam akan turun di menara putih bagian timur kota Damaskus (HR. Muslim, kitab al-Fitan wa Asyrath As-Sa’ah, ban Dzikr ad-Dajjal 18: 67-68). Kemudian Nabi Isa as membunuh Dajjal dekat Baitul Maqdis (HR. Ahmad, Baqi Musnad al-Mukatstsirin hadits no. 14965, Ibnu Majah, hadits no. 4077).

    Berdasarkan keumuman dalil-dalil kemenangan, kejayaan dan kemakmuran umat Islam dan merujuk pada kekhususan hadits-hsdits tentang Imam Mahdi dan Nabi Isa as di mana setting lokasinya di kawasan Arab yaitu Makkah, Madinah, Hijjaz, Syam, A’maq, Dabiq, Damaskus dan Baitul Maqdis, maka bisa diprediksi umat Islam di Indonesia juga mengalami masa kemakmuran gemah ripah loh jenawi walaupun bukan pusat Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

    Dengan demikian di masa depan Indonesia makmur dan sejahtera tanpa harus jadi Khilafah. Perjuangan “agen asing” di Indonesia akan sia-sia karena bertentangan dengan hadits-hadits tentang Imam Mahdi dan Nabi Isa as. Belum terlambat untuk kembali ke Indonesia. Jadilah Indonesia lahir batin. Menjadi Indonesia kewajiban syar’i bagi pribumi dan warga negaranya. (Oleh Ayik Heriansyah )

  • BANSER dan HISNURI (Santri Nurul Iman) Awali HUT RI ke-75 Dengan Pasangan Umbul-umbul

    BANSER dan HISNURI (Santri Nurul Iman) Awali HUT RI ke-75 Dengan Pasangan Umbul-umbul

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI-  Satkoryon Pacet Banser, PAC GP Ansor Pacet dan HISNURI (himpunan santri nurul iman) mengadakan giat rutin setiap tahun dalam memperingati HUT kemerdekaan RI.
    Acara yang diawali dengan pemasangan umbul-umbul ini dimulai dari Senin, 3 Agustus 2020 sampai selesai, yang selanjutnya akan diadakan kegiatan perayaan kemerdekaan di Bulan Agustus 2020.
    Kegiatan ini di fokuskan disepanjang jalan RT 1 dan RT 2 Dusun Pacet Nggapuk / Pacet Utara Desa Pacet Kecamatan Pacet Mojokerto yang mana daerah tersebut merupakan jalan utama menuju kawasan wisata air panas pacet.

    Hal ini perlu dilakukan karena kita sebagai warga Negara yang cinta akan tanah air, jangan sampai lupa akan karunia Alloh SWT dan pejuangan para syuhada di medan pertempuran dalam menegakkan kemerdekaan yang saat ini kita bisa rasakan. Kita sebagai kader saat ini memegang tongkat estafet mengiring dan mengisi kemerdekaan di Negara Indonesia ini.” ungkap salah satu anggota BANSER yang ikut dalam kegiatan itu.

    Sosialisasi dan Koordinasi ini sudah diagendakan sebelum Bulan Agustus 2020, dan baru dimulai kemarin Selasa 3 Agustus 2020 yang diawali dengan pencarian bambu yang kebetulan kawasan tersebut masih banyak bambu dipemukiman penduduk. Sampai berita ini di tayangkan, kegiatan tersebut masih berlangsung dan untuk hari-hari kedepannya di Bulan Agustus ini akan di isi dengan kegiatan-kegiatan kemerdekaan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang mana pada saat ini wabah covid-19 masih ada di sekitar kita.(ABI SORBAN)

  • ADA YANG MAU MEMBAKAR NEGERI INI

    ADA YANG MAU MEMBAKAR NEGERI INI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Pernahkah kita memperhatikan cara kerja lampu atau kompor minyak tanah? Kenapa api hanya membakar ujung atas sumbunya saja? Karena sifat api hanya membakar apa yang ada diatasnya.

    Kalau begitu, bukankah posisi api itu sudah paling atas, dan seharusnya ia akan padam? Betul, seharusnya ia padam jika tidak ada bahan bakar.

    Minyak tanah itulah yang akan membuat api itu akan terus menyala. Dan api hanya mengikuti sifat alamiah atau hukum alam saja.

    Begitu juga dalam kehidupan. Sifat api dalam hati kita hanya membakar apa yang ada diatasnya. Api iri, cemburu, dengki dsb hanya membakar akibat keinginan yang lebih tinggi.

    Hukum alam api di dalam hati kita hanya akan memiliki sifat iri kepada orang yang lebih sukses, pandai, kaya, rupawan, dsb. Intinya, hanya kepada orang-orang yang berada di atas level kita.

    Ini tidak hanya berlaku secara personal.

    Juga berlaku secara kelompok, organisasi bahkan sampai pada level negara.

    Hati kita dengan lampu minyak setidaknya sebuah analogi yang identik. Api itu harus tetap menyala namun terukur agar menjadi semangat dalam kehidupan.

    Api yang kecil akan menerangi, namun jika ia besar dan tak terkendali justru akan membakar dirinya sendiri dan apa yang ada disekitarnya.

    Pun begitu dengan minyaknya sebagai pembakar semangat. Ia juga harus terukur dan terarah. Itulah kenapa ia hanya boleh mengalir dalam sumbu dan bukan disiramkan yang bisa memicu kebakaran.

    Jika seperti ini, ia bukan sebagai penyemangat melainkan sebagai provokator yang sifatnya merusak.

    Dalam skala sosial, semangat itu sendiri manifestasinya bisa dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Contohnya, ketika ada fenomena pembakaran bendera PKI.

    Orang-orang yang memiliki nalar dan akal yang masih sehat, tentu bisa menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah rekayasa.

    Ideologi yang sudah tidak laku, tiba-tiba bangkit dan dikabarkan memiliki anggota 60 juta lebih di Indonesia.

    Disinilah perlunya ukuran nalar dan semangat kebangsaan yang terarah.

    Begitu pula dengan fenomena Klepon sebagai jajanan tradisional yang dianggap tidak Islami. Ini juga dituntut nalar dan semangat beragama yang terukur dan terarah.

    Dan terakhir tentang kejadian pembakaran baliho seorang tokoh.

    Bagi orang yang memiliki nalar dan akal yang masih sehat, tentu akan paham sifat api yang membakar apa yang ada di atasnya.

    Itulah kenapa dalam video pembakaran bendera PKI dengan baliho gambar tokoh itu akan terlihat perbedaan cara atau teknis membakarnya.

    Bendera dibakar dari bawah, sedangkan baliho dibakar dari atas.

    Yang satu akan mudah terbakar, sementara satunya akan padam.

    Apalagi terduga pelakunya terafiliasi pada kelompok yang sama.

    Perhatikan, pikirkan dan rasakan. Sudah jelas bahwa rupanya ada penyiram minyak dalam kehidupan berbangsa dan beragama di negeri kita ini.

    Tujuannya bukannya untuk menerangi, melainkan agar negeri ini terbakar oleh adu domba akibat “ghirah” yang tak terkendali.

    Semoga kita selalu cinta damai…
    Walaupun blakangan ini ada perbedaan dan perdebatan politik hingga membawa sejarah palsu dan saling tidak menghargai.

    Hentikan itu semua, kita 1 saudara seatap NKRI HARGA MATI

    Kalian yang berjiwa cinta damai ayo repost foto ini mari tumbuhkan lagi jiwa nasionalisme kita..! Untuk Indonesai Raya ( POST SANTRI NU)

  • BANSER DAN BONEK KERJA BHAKTI DI TUGU PANCASILA PACET

    BANSER DAN BONEK KERJA BHAKTI DI TUGU PANCASILA PACET

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Perawatan dan pemeliharaan Tugu Pancasila Pacet oleh BANSER Satkoryon Pacet dan BONEK Pacet. Koordinasi bagus dan kompak ditunjukan oleh BANSER Satkoryon Pacet dan BONEK Pacet dengan mengadakan kegiatan bersih-bersih serta pengecatan Tugu Pancasila Pacet tersebut.

    Dalam memasuki HUT RI ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, bulan agustus ini diawali oleh jajaran BANSER Satkoryon Pacet dan BONEK Kecamatan Pacet. Kegiatan ini dirasa penting untuk memupuk cinta tanah air dan mengetahui sejarah akan adanya tugu pancasila yang ada di pertigaan karlina Pacet Mojokerto.

    Koordinasi antara BANSER dan BONEK Kec. Pacet ini terlaksana Hari Minggu, 02 Agustus 2020 yang diawali Pukul 12.00 wib sampai selesai. Kegiatan ini dimulai dengan kerjabakti bersih-bersih Tugu Pancasila yang terkesan tidak terawat dan kurang perhatian dalam pemeliharaan dan dilanjutkan dengan pengecatan tugu.

    Diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut, masyarakat umum dan kita semua agar lebih menghargai perjuangan para pahlawan dalam menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia” ungkap Sahabat HANDIKA yang ikut dalam kegiatan tersebut (abi SORBAN)

  • TAFSIR AL JAILANY 800 TAHUN HILANG, DITEMUKAN DI VATIKAN

    TAFSIR AL JAILANY 800 TAHUN HILANG, DITEMUKAN DI VATIKAN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Penemuan karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani oleh cucu ke-25-nya sendiri, Syekh Dr. Muhammad Fadhil, membuat dunia akademik dan pengamal tarekat/tasawuf terkagum-kagum. Bagaimana tidak? Naskah ini selama 800 tahun menghilang dan baru ditemukan secara utuh di Vatikan. Manuskrip yang berisis 30 Juz penuh ini tersimpan secara baik di perpustaan.

    Tak ada yang menyangka sebelumnya bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menulis kitab tafsir Al-Quran 30 juz yang mengulas ayat-ayat Al-Quran. Kita seolah-olah mempelajari samudra tasawuf dari ayat ke ayat. Dan, alhamdulillah, Tafsir Al-Jailani, yang dalam bahasa Arab telah diterbitkan oleh Markaz Al-Jailani Turki (6 jilid), kini telah berhasil diterjemahkan dalam bahasa Indonesia/Melayu menjadi 12 Jilid. Hingga hari ini, Markaz Jailani Asia Tenggara baru mencetak 2 jilid pertama.

    Para salik yang berada di Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand dan Singapura yang berbahasa Melayu bisa mempelajari makna-makna penting tasawuf yang diajarkan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan mudah.

    Kami sangat berterima kasih dengan perjuangan penelitian dan penyelidikan yang dilakukan oleh Syekh Dr Muhammad Fadhil dalam menyelamatkan manuskrip-manuskrip langka ini. Terutama yang berkaitan dengan Tafsir Al-Jailani. Kami terharu ketika mendengarkan langsung kisah pengkajian dan penelitiannya selama puluhan tahun.

    Berikut adalah penuturan Syekh Fadhil dalam pembukaan kitab Tafsir Al-Jailani yang ditelitinya:

    “Saya tumbuh besar di bawah pendidikan kakek saya Sayyid Syarif al-Alim al-Muqtada bih wa al-Quthb al-Kamil asy-Syaikh Muhammad Shiddiq Jalilaniy al-Hasaniy. Ayah saya bernama Sayyid Syarif al-Alim al-Allamah wa al-Bahr al-Fahhamah Syaikh Muhammad Faiq Jailaniy al-Hasaniy.

    Setelah saya mendatangi Madinah Munawwarah dan tinggal di kota ini, saya pun mulai mencari kitab-kitab Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy Radhiyallahu ‘Anhu pada tahun 1977 M di Madinah al-Munawwarah dan kota-kota lainnya sampai tahun 2002 M.

    Setelah tahun itu, saya menghabiskan seluruh waktu saya untuk mencari kitab-kitab sang Syaikh Radhiyallahu ‘Anhu, dan sampai hari ini saya masih terus melanjutkan pencarian itu.

    Saya telah mendatangi sekitar lima puluh perpustakaan negara dan puluhan perpustakaan swasta yang terdapat di lebih dari 20 negara. Bahkan ada beberapa negara yang saya datangi sampai lebih dari dua puluh kali.

    Dari proses panjang itu saya berhasil mengumpulkan tujuh belas kitab dan enam risalah yang salah satunya adalah kitab tafsir ini yang menurut saya, tidak ada bandingannya di seluruh dunia.

    Dari perjalanan saya mendatangi beberapa pusat-pusat ilmu pengetahuan, saya pun mengetahui bahwa ada empat belas kitab karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang dianggap punah. Oleh sebab itu, saya terus melakukan pencarian kitab-kitab tersebut di pelbagai perpustakaan internasional setelah kitab tafsir ini selesai dicetak dan diterbitkan, insyaallah.

    Sungguh saya sangat bergembira dan bersyukur kepada Allah SWT ketika saya mengetahui bahwa jumlah lembaran tulisan karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy radhiyallâhu ‘anhu yang berhasil saya kumpulkan mencapai 9.752 lembar. Jumlah itu tidak termasuk tulisan-tulisan yang akan kami terbitkan saat ini dan beberapa judul yang hilang.

    Tentu saja, semua ini membuat saya sangat gembira dan bangga tak terkira kepada kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy r.a..

    Ada sebuah pengalaman menakjubkan yang saya alami ketika saya mendatangi negeri Vatikan untuk mencari karya-karya sang Syaikh di perpustakaan Vatikan yang termasyhur. Ketika saya memasuki negara Vatikan, petugas imigrasi bertanya kepada saya tentang alasan saya mengunjungi Perpustakaan Vatikan.

    Pertanyaan itu dijawab oleh seorang kawan asal Italia yang mendampingi saya dengan mengatakan bahwa saya sedang mencari buku-buku karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy. Saya kaget ketika tiba-tiba saja, petugas itu langsung berdiri dan berhormat seraya berkata: “Ya, ya, Sang Filsof Islam, Abdul Qadir al-Jailaniy.”

    Setelah saya memasuki Perpustakaan Vatikan, saya menemukan pada katalog perpustakaan dan beberapa buku yang ada di situ sebuah tulisan dalam Bahasa Italia yang berbunyi: “Filsuf Islam”, dan dalam Bahasa Arab: “Syaikh al-Islâm wa al-Muslimîn”.

    Dua gelar ini tidak pernah saya temukan di semua perpustakaan yang ada di tiga benua kecuali hanya di sini. Di Perpustakaan Vatikan saya juga menemukan sebuah tulisan tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang berbunyi: “Sang Syaikh Radhiyallahu ‘Anhu membahas tiga belas macam ilmu.”

    Kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Bagaimana mungkin, karya-karya monumental Syekh Abdul Qadir Al-Jailani justru tersimpan rapi di perpustakaan di Vatikan? Kemana saja ahli-ahli sejarah kita? Mengapa karya sehebat itu “hilang” selama berabad-abad? Jangan-jangan selama ini lebih fasih orang Katolik mempelajari karya-karya Syekh Abdul Qadir Jailani daripada kita yang setiap bulan ikut Manaqib Syekh Abdul Qadir?

    Saya jadi Teringat Dawuh Yai Said,dalam salah satu Sambutan dalam acara di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan .
    Kalau Bukan Kita yang Menghafal (Nahdliyyin) ,Orang (Kelompok)Sebelah yang suruh Ngehafal ?

  • Pengamanan Malam Takbiran Idul Adha di Kawasan Pacet Mojokerto

    Pengamanan Malam Takbiran Idul Adha di Kawasan Pacet Mojokerto

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Jajaran relawan TIM SATGAS Covid-19 Kec. Pacet Mojokerto yang terdiri dari Gabungan  Banser Satkoryon Pacet, Polsek Pacet, Koramil Pacet, Pramuka, TAGANA dan Welirank Community. Melakukan kegiatan Pengamanan Malam Takbiran Idul Adha di Kawasan Pacet Mojokerto.
    Acara tersebut diadakan di Kawasan Pacet Mojokerto terutama Jalan Raya yang biasanya ada rombongan motor dan mobil yang merayakan takbir keliling.
    Kamis,30 Juli 2020 Apel rencana kegiatan dimulai pukul 18.00 wib di Depan POLSEK Pacet dan pelaksanaan 17.30 wib sampai pukul 22.00 wib.

    Kegiatan tersebut adalah tindakan antisipasi jika terjadinya perayaan takbir keliling, yang tahun sebelumnya banyak adanya rombongan motor dan mobil menjelang Hari Raya Idul Adha.
    Dan dimasa pandemi covid-19 ini dilarang dengan adanya iring-iringan bergerombol malam takbiran dengan menggunakan kendaraan bermotor seperti mobil. Kita tidak akan melarang takbiran tetapi kita melarang perayaan takbir dengan cara bergerombol dan berkeliling” ungkap komandan apel dalam kegiatan tersebut.

    Kegiatan pengamanan ini menempatkan tiap-tiap titik yang dinilai sebagai pintu masuk kawasan Pacet Mojokerto seperti, POM Pandan Arum, Pertigaan Arah RS Sumber Glagah dan Pertigaaan Nggapuk menuju kawasan Wisata Air Panas Pacet Mojokerto.
    Dimulainya kegiatan ini dengan cara menyusuri jalan raya yang ada di Pacet Mojokerto dan berhenti di titik yang telah ditentukan pada pelaksanaan apel.(abi sorban)

  • KISAH NYATA, QURBAN UNTUK EMAK

    KISAH NYATA, QURBAN UNTUK EMAK

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – KISAH ini diceritakan seorang pedagang hewan qurban pada Idul Adha tahun lalu, tentang sebuah kejadian yang membuat hatinya amat tersentuh, berikut kisahnya:

    SEORANG wanita datang memperhatikan dagangan saya.

    DILIHAT dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli.

    NAMUN tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya.

    SILAHKAN BU..!

    LANTAS Ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya : “Kalau yang itu berapa Pak?”

    “Yang itu 2.500.000 BU.” jawab saya.

    “Harga pasnya berapa?” tanya kembali si Ibu..

    “2.200.000 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah” jawab saya.”

    “TAPI, uang saya hanya 2.000.000, boleh pak.” pintanya.

    WADUH, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya DIPUTUSKAN diberikan saja dengan harga itu kepada IBU tersebut.

    Saya pun mengantar hewan qurban tersebut sampai ke rumahnya, (begitu tiba di rumah nya)??

    ASTAGHFIRULLAH.., ALLAHUMMA YAA ALLAHU AKBAR…terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.

    Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan puteranya di rumah gubug reot berlantai tanah tersebut.

    Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik.

    Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.

    Di atas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus.

    “MAK, bangun MAK, nih lihat saya bawa apa?” kata ibu itu pada nenek yang sedang rebahan sampai akhirnya terbangun.

    MAK, saya sudah belikan EMAK “kambing buat qurban”, nanti kita antar ke Masjid ya mak.” kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.

    Si nenek sangat terkaget, tapi nampak jelas raut bahagia di wajahnya, ia segera berjalan keluar dengan langkah yang gontai karena usianya yang senja..

    Sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap : “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau EMAK mau BER-QURBAN.”

    “Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama EMAK saya.” Kata ibu muda itu.

    Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa : YAA ALLAH, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-MU yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun KEKAYAAN IMANNYA begitu LUAR BIASA.

    “Pak, ini ongkos kendaraannya.” Panggil ibu itu.

    “Sudah bu, biar ongkos kendaraanya saya yang bayar.” kata saya sambil menyembunyikan mata saya yang sudah berkaca-kaca.

    Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari ALLAH yang sudah mempertemukan dengan hamba-NYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya meski dengan segala keterbatasan ekonominya.

    Ma Syaa Allah !!

    “UNTUK MULIA ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan”

    KITA bisa belajar KEIKHLASAN dari ibu itu untuk menggapai KEMULIAAN HIDUP, bukan untuk dirinya, tapi DEMI IBUNDA tercintanya.

    Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada kengganan untuk berqurban.

    Padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yang menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban.

    Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan..Semoga ada manfaatnya, Aamiin.

    SAUDARAKU Ayo Bagikan Artikel ini, semoga menjadi KEBAIKAN bagi kita semua, ….Aamiin…!!!

    YAA ALLAH. MUDAHKANLAH urusan orang yang Membaca status ini.

    “DEKATKANLAH Rezekinya, SEHATKANLAH jiwa raganya dan MUDAHKANLAH jodohnya untuk orang yang belum bertemu jodohnya, dan yang nge-Like dan nge-share Status Ini”.

    “Aamiin Yaa Rabbal ‘Alaamiin…!!!!”

    Jika kita blm bisa berkurban, maka BAGIKAN kisah ini dengan Ikhlas…sebagai motivasi untuk diri kita sendiri… .!!
    MOHON MAAF bila tidak berkenan🙏🙏🙏

  • TIDAK KEMBALI PULANG SEBELUM KITA YANG MENANG

    TIDAK KEMBALI PULANG SEBELUM KITA YANG MENANG

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Kalimat ini pastilah sangat familier bagi Banser (Barisan Ansor Serbaguna) dan para pecintanya. Digaungkan membahana menebar semangat yang luar biasa.

    Namun, belum banyak yang tahu bahwa penggalan kalimat ini bukanlah kalimat biasa. Namun, kalimat penuh karomah yang pernah diucapkan oleh perempuan mulia pada zaman Rosulullah SAW.

    Beliaulah sahabiyah mulia Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshoriyah RA. Beliau inilah yang berhasil melobi duta Islam Sayyidina Mus’ab Bin Umair RA supaya bisa langsung bersyahadat di hadapan Rosulullah SAW.

    Maka masuklah beliau dalam rombongan Bai’at Aqobah Kedua dan masuk jajaran assabuqunal awwalun dari kalangan Anshor. Tentu saja hal ini merupakan kejadian langka pada zamannya. Peristiwa luar biasa ini sampai diabadikan Gusti Allah dalam firmannya di QS Al Mumtahanah:12.

    Bunda Nusaibah inilah yang termasuk turut mengkondisikan Madinah sehingga menjadi tempat ternyaman untuk dakwah Rosulullah, sebab penduduknya sudah banyak yang menerima ajaran Islam.

    Beliau pulalah yang tampil luar biasa dengan memberikan “bonus” bagi perempuan yang berkenan masuk Islam akan diajarkan baca tulis. Dari jasa beliau inilah kelak di kemudian hari lahir generasi-generasi jenius dari ibu-ibu yang jenius. Yang mendakwahkan Islam hingga seluruh penjuru dunia.

    Dikisahkan, suatu pagi buta, ketika penduduk Madinah masih terlelap, beliau melihat kepulan debu dari kejauhan. Ini bukan pertanda baik. Ini merupakan pertanda ada musuh dengan pasukan berkuda dalam jumlah besar hendak menyerang Madinah.

    Perempuan agung ini segera masuk rumah. Membangunkan suami tercintanya. Sayyidina Sa’id Bin ‘Ashim RA. Beliau mengambil pedang dan memberikan kepada suaminya. Meminta supaya segera memberitahu Rosulullah.

    “Jangan kembali pulang sampai kita menang…!!!”. Itulah kalimat yang beliau ucapkan kepada sang suami. Sayyidina Said melapor kepada Rosulullah.

    Kaum Muslimin segera menggalang kekuatan. Menghadang penyerang di luar kota Madinah, di sekitar Bukit Uhud. Adapun Bunda Nusaibah tidak mau ketinggalan. Beliau segera menyiapkan perbekalan dan obat-obatan bagi para pejuang.

    Tibalah perang berkecamuk. Ketika pasukan Muslimin lengah, mengira bahwa musuh telah kalah, maka pasukan pemanah yang ada di bukit turun.

    Kesempatan ini dipakai oleh pasukan kafir menyerang kembali barisan kaum Muslimin. Lalu kocar-kacirlah barisan ini. Orang-orang bubar dari sekitar Rosulullah.

    Bunda Nusaibah meminta suaminya melindungi Rosulullah. Karena semua energi musuh ditujukan untuk menghabisi Kanjeng Nabi, maka jebollah pertahanan Sayyidina Sa’id. Beberapa kali tebasan pedang musuh mengakhiri pertahannya. Menuntaskan tugas mulia sebagai talangpati Rosulullah.

    Dan yang terjadi bisa ditebak. Pasukan kafir semakin merangsek ke arah Kanjeng Nabi. Beliau hanya menangkisi serangan dari berbagai penjuru hingga pelipis beliau terserempet anak panah.

    Melihat kejadian ini membuat Bunda Nusaibah segera bertindak. Beliau mengambil pedang dan menaiki kuda seraya memecah kepungan.

    Membabat puluhan tentara yang hendak melukai Rosulullah. Para Sahabat melihat kejadian ini terpesona luar biasa. Menyaksikan seorang perempuan menjadi perisai Rosulullah SAW.

    Lalu Para Sahabat Mulia merapatkan barisan dan berhasil memukul mundur Barisan Kafir. Kejadian ini membuat Bunda Nusaibah mendapatkan luka yang sangat parah sehingga jatuh pingsan. Beliau tidak sempat melihat akhir perang Uhud ini.

    Ketika bangun, beliau tidak bertanya tentang suami dan anaknya yang turut menjemput janji syahidnya. Yang beliau tanyakan adalah, “Bagaimana keadaan Rosulullah?”

    Ketika dijawab bahwa Baginda dalam kondisi tak kurang suatu apapun, beliau tersenyum bahagia, “Asalkan Baginda Rosul baik-baik saja, apapun yang terjadi maka biarlah terjadi”.

    Semoga cerita ini menjadi teladan bagi Ansor dan para pecintanya. Kepada perempuan NU terutama.

    Jadi, semangatlah selalu. Dan ketika Mars Banser dikumandangkan, turutlah bersemangat. Ngalap berkah Bunda tercinta kita Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshoriyah RA.

    Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad…

    Oleh: Shuniyya Ruhama
    Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri Kendal

    #INDONESIA_BILADI
    #BANSER_UNTUK_NEGERI

  • INDAHNYA BERBAGI (ANSOR CANGGU JETIS)

    INDAHNYA BERBAGI (ANSOR CANGGU JETIS)

    Ditengah perekonomian yang tidak menentu tidak menyurutkan semangat sahabat sahabat Ansor ranting Canggu untuk berbagi . Di awal bulan Dzulhijjah 1441 H ini Ansor Canggu masih bisa melanjutkan program program organisasi selain program rutin MDS dan program lainya ..

    Bertepatan hari Ahad tgl 26 Juli 2020 bakda Isyak pendistribusian santunan yatim dan dhuafa di laksanakan di awali dengan kordinasi tim yang di komandoi oleh Gus Rofiq, Tidak ketinggalan acara tersebut juga di support oleh IPNU ranting Canggu , dalam hal ini sekaligus sebagai upaya pembelajaran kepada IPNU yang akan menjadi estafet perjuangan Ansor ..

    SORBANSANTRI.COM
    Gus ROFIC saat membagikan sembako

    Dalam program kali ini Banom NU yang di pimpin Gus Darto ini bisa memberikan santunan kepada yatim piatu sebanyak 19 anak dan membagikan paket sembako kepada 16 kaum duafa .

    SORBANSANTRI.COM
    Sahabat ANSOR CANGGU saat pendistribusian sembako ke para dhuafa

    Salah satu penerima paket sembako ( Bu Mis ) sangat gembira ketika menerima bantuan tersebut karena sangat membantu meringankan petekonomianya .

    SORBANSANTRI.COM

    Semoga kegiatan seperti ini bisa istiqoma dan memberikan inspirasi buat semuanya betapa pentingnya berbagi serta sesuai harapan dari ketua ranting NU Canggu ( H Alim Sadikin ) bahwa agar Ansor selalu bergerak baik kegiatan majlis zdikir maupun lainya seperti santunan untuk yatim dan kaum duafa …

    Wallahu a’ lam ..

    By: S. Parman SORBAN