Penulis: Sorban Santri

  • Kaderisasi GP Ansor telah dimulai di Wonosobo Jawa Tengah

    Kaderisasi GP Ansor telah dimulai di Wonosobo Jawa Tengah

    SORBANSANTRI.COMSORBAN SANTRI – Sabtu Minggu, 27-28 Juni 2020, berlokasi di SMA Ma’arif Wadaslintang
    Wonosobo Jawa Tengah dilangsungkan Simulasi Diklat Banser Masa Pandemi. Meski disebut simulasi, Diklat ini dilaksanakan dengan materi pengkaderan yang standar dengan beberapa penyesuaian, terutama terkait protokol Covid-19.Sebelum tiba di lokasi, 25 peserta calon kader GP Ansor dipersyaratkan dalam : kondisi sehat, membawa masker, membawa peralatan makan, minum, sholat dan mandi sendiri, serta membawa hand sanitizer.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Panitia sendiri tentu saja menyiapkan juga sabun cuci tangan, hand sanitizer, face shield dan melakukan penyemprotan disinfektan di lokasi kegiatan. Selama mengikuti Diklat, peserta diwajibkan mengikuti protokol kesehatan yang diatur di Tata Tertib Pelatihan.Setelah dilakukan evaluasi, format kaderisasi kebiasaan baru ini akan diberlakukan dalam kegiatan pengkaderan GP Ansor di seluruh dunia, tentu saja dengan mengikuti aturan dari otoritas pemerintah setempat. Simulasi Diklat ini sendiri sejak awal telah melibatkan pihak Dinas Kesehatan, Puskesmas setempat, serta unit Banser BASADA (Banser Husada) dan BAGANA (Banser Tanggap Bencana).Semoga Allah SWT meridloi semua ikhtiar ini.(abi SORBAN)

  • BUKAN KRIMINALISASI ULAMA TAPI ULAMANYA YANG KRIMINAL

    BUKAN KRIMINALISASI ULAMA TAPI ULAMANYA YANG KRIMINAL

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Sejak terkuaknya skandal dugaan penggunaan ijasah palsu oleh Tengku Zulkarnaen ketika dirinya akan diangkat sebagai anggota MUI, publik masih menunggu kejelasan tindak lanjut dari kasus ini. Sepekan berlalu namun belum juga ada klarifikasi dari pihak-pihak terkait, baik dari pihak Tengku Zul maupun MUI, keduanya diam tak bergeming.

    MUI adalah lembaga independen yang mewadahi para ulama dan cendekiawan Islam. Mereka bertugas untuk membimbing, membina, dan mengayomi umat Islam di Indonesia. Fungsi pokok lain dari MUI yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang berkualitas (Khoirul Ummah), agar dapat terwujud negara yang aman, damai, adil makmur rohaniah dan jasmaniah yang diridhai Allah SWT.

    Mengingat tujuan dan fungsinya tersebut, seharusnya MUI diisi oleh orang-orang dengan kredibilitas tinggi, yaitu orang yang memiliki pengetahuan cukup tentang agama serta dapat menjadi contoh yang baik (Uswatun Hasanah) bagi seluruh umat. Bukan diisi oleh oknum seperti Tengku Zulkarnaen ini yang suka menyampaikan opini sesat dan beragam narasi provokatif di tengah masyarakat. Bahkan tak jarang pula dia mengekspos berita hoax untuk menyerang pihak yang tidak sependapat dengannya, termasuk pemerintah.

    Banyak orang ketika mendengar informasi tersebut kemudian kaget dan terheran-heran bagaimana mungkin lembaga keagamaan sekelas MUI bisa kecolongan sampai memposisikan seorang penipu dalam struktural kepengurusan lembaganya.

    Ini tentu saja menjadi pertanyaan banyak pihak. Apakah MUI tidak selektif pada saat menyeleksi calon pengurusnya? Atau mungkin sudah ada kerjasama kong-kalikong antara MUI dan Tengku Zulkarnain? Karena sampai saat ini belum juga ada klarifikasi ataupun bantahan baik dari pihak MUI maupun dari Tengku Zulkarnain sendiri.

    Jika informasi itu benar, maka sejatinya MUI segera mengambil sikap tegas untuk memecat Tengku Zulkarnain dari struktural kepengurusan MUI. Karena ini sangat berbahaya bagi masyarakat dan juga bagi MUI sendiri. Jika dibiarkan, maka konsekuensinya adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap MUI.

    Majelis Ulama Indonesia adalah lembaga terhormat dan untuk menjaga kehormatannya harus diisi dan dipimpin oleh orang-orang terhormat. Bukan penipu yang berijazah palsu apalagi orang yang hanya ngaku-ngaku sebagai ulama.

    Jika informasi tersebut salah dan tak bisa dibuktikan kebenarannya, maka sebaiknya Tengku Zulkarnain dan juga para pendukungnya agar mengklarifikasi atau membantah tuduhan itu. Jika diam adalah pilihan maka jangan salahkan rakyat kalau kemudian menjustifikasi dan berasumsi bahwa MUI selain wadah ulama juga merupakan wadah pembohong.

    Perlu diingat bahwa tuntutan klarifikasi kasus ijasah palsu Tengku Zul ini tak ada kaitannya dengan pemerintah, karena yang menyuarakan ini adalah bukan pemerintah tapi segenap rakyat Indonesia yang benci dengan kebohongan yang dilakukan oleh pejabat. Janganlah nanti diframing seolah pemerintah anti Islam, pemerintah anti ulama dan ujung-ujungnya nanti menyalahkan Jokowi dan menuduhnya telah melakukan kriminalisasi ulama.

    Bagaimana Bisa Dikatakan Kriminalisasi Ulama Jika Ulamanya Saja Berbuat Kriminal..?
    (Rudi Bintang)

  • Hari Gini Masih Tanya Dalil Baca Qur’an Di Kuburan?

    Hari Gini Masih Tanya Dalil Baca Qur’an Di Kuburan?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Mereka menyalahkan Amaliah ziarah kubur yang duduk lama sambil baca Qur’an sebagai cara yang menyalahi sunah Nabi shalallahu alaihi wasallam. Andaikata mereka membaca tuntas kitab Ar-Ruh karya Ibnu Al-Qayyim tanpa terpengaruh dengan catatan kaki ulama Salafi tentu mereka akan menerima perbedaan pendapat.

    Mari kita turunkan tensi ego kita dengan berkaca kepada Imam Ahli hadis yang digelari penghafal 1.000.000 hadis, yaitu Imam Ahmad bin Hambal:

    ﻭﺭﻭﻱ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: اﻟﻘﺮاءﺓ ﻋﻨﺪ اﻟﻘﺒﺮ ﺑﺪﻋﺔ، ﻭﺭﻭﻱ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ ﻫﺸﻴﻢ، ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ: ﻧﻘﻞ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺟﻤﺎﻋﺔ، ﺛﻢ ﺭﺟﻊ ﺭﺟﻮﻋﺎ ﺃﺑﺎﻥ ﺑﻪ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻪ

    Diriwayatkan dari Ahmad bin Hambal bahwa beliau berkata: “Membaca Qur’an di kubur adalah bidah”. Juga diriwayatkan dari Husyaim. Abu Bakar berkata bahwa riwayat itu disampaikan oleh banyak ulama. Kemudian Ahmad bin Hambal meralat dan menjelaskan pendapatnya sendiri

    ﻓﺮﻭﻯ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﺃﺣﻤﺪ ﻧﻬﻰ ﺿﺮﻳﺮا ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃ ﻋﻨﺪ اﻟﻘﺒﺮ، ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻪ: ﺇﻥ اﻟﻘﺮاءﺓ ﻋﻨﺪ اﻟﻘﺒﺮ ﺑﺪﻋﺔ. ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻗﺪاﻣﺔ اﻟﺠﻮﻫﺮﻱ: ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ: ﻣﺎ ﺗﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﻣﺒﺸﺮ اﻟﺤﻠﺒﻲ؟ ﻗﺎﻝ: ﺛﻘﺔ.

    Sekolompok ulama meriwayatkan bahwa Ahmad bin Hambal melarang orang buta membaca Qur’an di makam dan mengatakan bidah. Lalu Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari bertanya: “Wahai Abu Abdillah (Ahmad bin Hambal) apa komentarmu tentang Mubashir Al-Halabi? Ahmad menjawab: “Dia perawi terpercaya”

    ﻗﺎﻝ: ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ ﻣﺒﺸﺮ، ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ، ﺃﻧﻪ ﺃﻭﺻﻰ ﺇﺫا ﺩﻓﻦ ﻳﻘﺮﺃ ﻋﻨﺪﻩ ﺑﻔﺎﺗﺤﺔ اﻟﺒﻘﺮﺓ ﻭﺧﺎﺗﻤﺘﻬﺎ، ﻭﻗﺎﻝ: ﺳﻤﻌﺖ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻳﻮﺻﻲ ﺑﺬﻟﻚ. ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ: ﻓﺎﺭﺟﻊ ﻓﻘﻞ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﻳﻘﺮﺃ

    Muhammad bin Qudamah berkata bahwa Mubashir mengabarkan kepadaku dari ayahnya bahwa ia berwasiat agar di dekatnya dibacakan awal dan akhir Al-Baqarah. Ia berkata bahwa ia mendengar Ibnu Umar berwasiat seperti itu. Ahmad bin Hambal berkata: “Susul orang itu dan katakan kepadanya baca Qur’an di kubur” (Al-Mughni, li Ibni Qudamah, 2/422)

    Lihatlah kelapangan Imam Ahmad dalam menerima kebenaran, yang awalnya beliau mengatakan bidah kemudian justru memerintahkan membaca Qur’an di makam.

    Kalau mereka masih membandel karena dalilnya hanya waktu pemakaman saja, maka jawab dengan pendapat Imam mereka yaitu Syekh Ibnu Taimiyah:

    عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ وَصَّى أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ دَفْنِهِ بِفَوَاتِحِ الْبَقَرَةِ وَخَوَاتِمِهَا وَالرُّخْصَةُ إمَّا مُطْلَقًا وَإِمَّا حَالَ الدَّفْنِ خَاصَّةً (جامع المسائل لابن تيمية 3 / 132)

    Ibnu Umar bahwa beliau berwasiat setelah dimakamkan untuk dibacakan pembukaan surat al-Baqarah dan penutupnya. Dispensasi ini bisa jadi secara mutlak (boleh baca al-Quran di kuburan kapan saja), dan bisa jadi khusus ketika pemakaman saja” (Ibnu Taimiyah, Jami’ al-Masail III/132)

    Kalau dalil di atas masih menjadikan mereka bersikeras tetap menolak karena hanya wasiat Shahabat saja bukan hadis, maka bacakan kepada mereka hadis berikut ini:

    عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاَءِ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ لِي أَبِي يَا بَنِيَّ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَلْحِدْنِي فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي فَقُلْ بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ثُمَّ سِنَّ عَلَيَّ الثَّرَى سِنًّا ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ ذَلِكَ (رواه الطبراني في الكبير رقم 15833)

    “Dari Abdurrahman bin ‘Ala’ dari bapaknya, bahwa: Bapakku berkata kepadaku: Jika aku mati, maka buatkan liang lahat untukku. Setelah engkau masukkan aku ke liang lahat, bacalah: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. Kemudian ratakanlah tanah kubur perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda demikian” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 15833)

    Hadis ini dinilai oleh Al-Hafidz Al-Haitsami bahwa para perawinya adalah terpercaya.

    Jika masih menolak, maka saya bukanlah pemberi kesadaran apalagi hidayah kepada mereka. Allahu Al-Musta’aan.

    Ma’ruf Khozin (Direktur Aswaja NU Center PWNU Jatim)

  • Kenapa PANCASILA Harus Dikuatkan?

    Kenapa PANCASILA Harus Dikuatkan?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Setelah membaca dengan seksama RUU Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), saya menangkap pesan yang mendalam di dalamnya untuk memantapkan PANCASILA sebagai satu-satunya ideologi dalam berbangsa dan bernegara kesatuan republik Indonesia.

    Pertanyaannya kenapa PANCASILA harus dikuatkan?
    Serbuan dan serangan ideologi dari luar yang salah satunya dimotori oleh HTI adalah yang melandasinya serta beberapa organisasi yang pernah terdeteksi menolak PANCASILA sebagai dasar ideologi.

    Terlepas dari beberapa kalimat, frasa di dalam pasal yang menimbulkan perdebatan, RUU HIP bagi saya (rakjat djelata) perlu untuk dilanjutkan. Beberapa ketidaksepahamam masih bisa dilakukan diskusi-diskusi dan jalan tengah. Hal tersebut karena di dalam RUU HIP ini juga syarat kepentingan rakyat dengan menjunjung tinggi KEADILAN SOSIAL, kewajiban usaha besar bermitra dengan koperasi, UMKM, usaha kecil dan juga dijaminnya kebebasan berserikat.

    Tidak saya ketemukan dalam pasal-pasal yang ada untuk mengganti ideologi Pancasila justru yang ada adalah menguatkan posisi ideologi Pancasila.
    Jadi sungguh sangatlah aneh ketika ada kelompok yang tidak mengakui ideologi Pancasila dan sekarang seolah-olah menjadi SANG PEMBELA. Gleeekkkk…!!

    Terkait dengan frasa “Ketuhanan yang berkebudayaan” sebaiknya merujuk kepada penjelasan yang diberikan bapak bangsa, Ir H. SOEKARNO.

    Jadi, mari berfikir adil sejak dari dalam fikiran. Jauhi ikut-ikutan tanpa upaya untuk mencari kebenaran. (Yusa Abdulloh Syah)

  • HABIB ALI KWITANG MARAH TERKAIT LAMBANG NU YANG DI LETAKAN SEMBARANGAN

    HABIB ALI KWITANG MARAH TERKAIT LAMBANG NU YANG DI LETAKAN SEMBARANGAN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (1870-1968), akrab disebut Habib Ali Kwitang, adalah ulama’ besar di Jakarta yang sangat akrab dengan para kiai NU. Ditegaskan Gus Dur bahwa NU masuk Betawi ya melalui Habib Ali Kwitang. Majlis Taklim Kwitang yang digelar setiap ahad pagi dibanjiri ribuan jama’ah dari berbagai daerah.

    Semasa hayatnya, Hadratusysyaikh KH Hasyim Asy’ari juga sangat akrab dengan Habib Ali Kwitang. Bahkan, Kiai Hasyim berpesan kepada keluarga dan santrinya untuk selalu sowan kepada Habib Ali Kwitang setiap kali datang di Jakarta.

    Salah satu anak angkat Habib Ali menjadi tokoh besar NU, yakni KH Idham Kholid yang pernah menjadi Ketua Umum PBNU. Pada masa orde lama, KH Idham Kholid memimpin NU yang menjadi partai politik dan juga berkoalisi dengan pemerintahan Bung Karno.

    Pada suatu musyawarah, para kiai dan habaib diundang di Kantor PBNU. Selain Habib Ali Kwitang, hadir juga Al-Habib Ali bin Husein Al-Athas atau Habib Ali Bungur, Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Athas. Para kiai dari berbagai daerah juga datang memenuhi undangan PBNU.

    Ada seorang santri bernama Abdullah yang saat itu sangat senang melayani para habaib dan kiai. Ia mengantarkan makanan dan minuman yang sudah disediakan, termasuk kepada Habib Ali Kwitang. Ketika bersimpuh di hadapan Habib Ali, Abdullah menurunkan nampan kaleng bermotif warna-warni bersisi makanan dan minuman.

    Habib Ali Kwitang meminta Abdullah untuk mengangkat nampan itu. Ada apa kok diangkat? Habib Ali menemukan lambang NU di pantat nampan.

    “Ini kok begini. Maksudnya apa ini,” tanya Habib Ali.

    “Iya bib, ini tanda kalau ini nampan milik NU,” jawab Abdullah dengan lugu.

    Suasana saat itu jadi hening, para habaib dan kiai tertuju dengan kejadian itu. KH Idham Kholid dipanggil Habib Ali terkait itu, para kiai lain memperhatikan apa yang sedang terjadi.

    “Jangan kalian berani-berani membuat jatuh perkumpulan ini dengan meletakkannya di bawah.”

    Mendengat nasehat yang sangat tegas ini, KH Idham Kholid menyimaknya dengan penuh khidmah, apalagi itu adalah nasehat sosok ayah angkat dan ulama’ besar yang sangat dihormati. Para kiai dan habaib juga menyaksikan penuh dengan penuh takdzim atas apa yang disampaikan Habib Ali.

    KH Idham Kholid segera bergerak cepat berkoordinasi kepada para santri untuk segera memakai nampan yang biasa, tanpa ada lambang NU. Wujud takdzim dan sam’an watho’atan dengan dawuh seorang ulama.

    Para ulama’ dan habaib yang menyaksikan itu langsung paham dengan lambang NU. Itu bukan lambang biasa, hasil istikharah KH Ridwan Abdullah yang sudah direstui KH Hasyim Asy’ari. (md)

  • Sunnah Rasulullah yang jarang dipakai

    Sunnah Rasulullah yang jarang dipakai

    SORBANSANTRI.COM

    1. Pakai celak mata sebelum tidur malam
    2. Ketika berduduk hendak berdiri baca shalawat(shollallahu ‘ala Muhammad) dan juga ketika berdiri hendak berduduk baca shalawat. Shalawat yang pendek aja
    3. Ketika melihat orang bersin kita membaca “Yarhamukallah”
    4. Ketika memasang baju yang pakai kancing, memasang kancing nya dari bawah
    5. Ketika memakai celana, harus berduduk
    6. Mamutar cincin ketika berwudhu
    7. Pakai imamah(surban) ketika sembahyang(cukup sembahyang dirumah saja sendirian atau dengan kaluarga)
    8. Bersin kesebelah kiri
    9. Ketika mendangar orang adzan *”Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”* kita mambaca *”Marhaban bihabiybiy wa qurrati ‘aini Muhammad ibni Abdillah saw”*. Setelah membaca doa nya lalu kecup kedua ibu jari kita dan langsung usap kemata
    10. Setelah selesai berwudhu, berjalan sambil membaca surah al Qadr *”Inna anzalna”* tiga kali
    11. Ketika manguap tutup mulut, lalu membaca *”Audzubillahi mina syaithonirrajiim”* dan sunnat manutup mulut pakai tangan kiri
    12. Mamakai minyak wangi/ farfom ketika hendak tidur
    13. Memakai kopiah/penutup kepala ketika hendak masuk WC
    14. Suka dengan warna Hijau,Hitam,dan Putih. Kerna Rasulullah suka banget sama warna2 yang ada didalam surga.. Yaitu wara Hitam,Putih,Dan Hijau

    Ceramah ini waktu pengajian beliau masih di keraton tahun 1984…
    Semoga kita bisa mengerjakan nasehat beliau. Berkat mengikuti nasehat beliau kita semua terkumpul dengan beliau di akhirat, bersama Rasulullah, bersama Syeikh Semman, dan bersama Datu Kelampayan diatas kerajaan yang dibangun Alm. Guru sekumpul di akhirat untuk kita semua yang mengikuti langkah jejak beliau. .
    K.H Zaini Bin Abdul Ghani. (abi SORBAN)

  • PERBANYAKLAH TEMAN YG BERIMAN

    PERBANYAKLAH TEMAN YG BERIMAN

    SORBANSANTRI.COM

    قال الحسن البصري رضي اللّٰه عنه : إستكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن الرجل منهم يشفع في صديقه و قريبه فإذا رأي الكافر ذلك قال : ما لنا من شافعين و لا صديق حميم ( الشعراء ١٠٠ ـ ١٠١ )

    كتاب : تفسير مكي بن ابي طالب ج ١٠ ص ٦٤١٦

    berkata imam hasan al bashri R.A
    perbanyaklah teman yg beriman krn seorang yg mukmin akan memberi syafaat ( pembelaan ) untuk teman nya dan kerabat nya dan ketika org kafir melihat itu mereka berkata ( dengan penyesalan )
    maka kami tdk mempunyai pemberi syafaat seorang pun
    dan tdk pula mempunyai teman yg akrab ( as syuara 100 – 101 )

    kitab : tafsir makki bin abi tholib juz 10 hal 6416
    smga bermanfaat

  • TERUSLAH BERSHOLAWAT MAKA RASULULLAH SAW AKAN MENGENAL KITA

    TERUSLAH BERSHOLAWAT MAKA RASULULLAH SAW AKAN MENGENAL KITA

    SORBANSANTRI.COM

    Bayangkan dengan hati kita ..??

    Apabila dipadang Mahsyar kelak dihari Kiamat saat berjuta manusia termasuk kita sedang berkumpul menangis dan menjerit dalam ketakutan dan putus asa karena banyaknya Dosa & yg kamu harapkan hanya Rahmat Allah yg bisa menyelamatkan kita dari Neraka.

    Tiba tiba terdengar suara lembut dari seseorang yg memanngil nama kita lalu kita menoleh dan ternyata Muhammad Rasululloh.SAW yg memanggil nama kita

    Kitapun pasti dgn terbata bata dan merasa malu serta hina akan bertanya: “Darimana engkau tahu namaku ya Rasulalloh…?”

    Maka Nabi Muhammad.SAW pun sambil tersenyum akan menjawab:
    “Dari shalawat dan Salam yg sering Engkau ucapkan Kepada Ku”

    Dan pastinya kita saat itu akan menangis karena bahagia.!|“`

    Uhibbuka Ya Rasulallah……

    “`Dalam kehidupan ini selagi masih ada kesempatan panggillah Rasulullah dengan memperbanyak shalawat dan salam kepada sang pemberi Syafaat dipadang mahsyar OK agar kelak Namamu pantas dipanggil oleh Beliau.

    Masihkah Kita Malas & Pelit tuk Bersholawat Kepada Rasulullah…??

    Rabbana Taqabbal Minna
    Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami), Aaamiin…

    (Al Habib Umar bin Hafidz )

  • KH. ZAINI MUN’IM; SAAT HARUS MEMILIH ANTARA ILMU DAN EMAS

    KH. ZAINI MUN’IM; SAAT HARUS MEMILIH ANTARA ILMU DAN EMAS

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Setelah mondok di pesantren Tebuireng, Jombang kepada Hadhratus Syekh Hasyim Asy’ari, beliau berangkat ke Mekkah bersama keluarganya. Beliau mendalami lagi ilmu fiqih, ushul fiqh, hadis, tafsir, lughah, balaghah dan tasawuf, mengaji kepada beberapa syekh, diantaranya Syekh Umar Hamdani al-Maghribi, Syekh Alwi Al Maliki, Syekh Said al-Yamani, Syekh Umar Bayunid, Syekh Syarif bin Ghulam Makkah dan masyayikh lainnya.

    Suatu saat, ketika mondok dan mengaji kepada Syekh Syarif Ghulam, guru tasawuf beliau, beliau tidak hanya sekedar menyerap ilmunya saja, tapi beliau juga menjadi khadam (abdi dalem) nya. Sebagaimana biasanya, suatu saat ketika beliau sedang mengisi air di kamar mandi sang guru dengan menimba air dari sumur ternyata embernya tidak berisi air, namun berisi segumpal emas. Oleh beliau emas itu tidak lantas diambilnya namun justru dikembalikan lagi ke dalam sumur.

    Jawab beliau, “karena yg saya inginkan adalah ilmunya, bukan emas itu”.

    Subhanallah, mungkin ini termasuk ujian dari guru beliau dan KH. Zaini bisa melewatinya dgn ketajaman hati dan pikiran yg Allah berikan pada beliau.

    Dalam kisah di atas, KH. Zaini tidak hanya mengaji kepada gurunya tapi juga berkhidmah dan shuhbah kepada guru beliau, sebagaimana dalam suatu maqalah:

    العلم بالتعلم والبركة بالخدمة

    “Al-‘ilmu bitta’allum, wal barakah bil khidmah”
    Ilmu diperoleh dgn belajar, sedangkan keberkahan diperoleh dgn ber-khidmah (mengabdi).”

    Berkhidmah atau shuhbah dapat memperkuat hubungan murid dengan sang guru, ikhwan dgn Mursyidnya, dan mendapat keridhaan sang guru. Nah ketika sang murid mendapat keridhaan sang guru, maka itulah salah satu alamat dari tanda kesuksesan sang murid di masa depan.

    Bahkan dalam dunia sufi posisi “khidmah” dan “shuhbah” ini sangat penting, karena di sinilah para murid akan mendapatkan asrar (rahasia), ilmu dan hikmah dgn cepat jika sang murid memang bersungguh2 dan senantiasa membersihkan hatinya.

    Dikutip dari buku KH. Zaini Mun’im; Pengabdian dan Karya tulisnya, oleh: Maghfur Ramdhani (Ketua PK MATAN Universitas Nurul Jadid).

  • Ulama Besar yang Tinggal di Rumah Kontrakan

    Ulama Besar yang Tinggal di Rumah Kontrakan

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI-  Pernah suatu orang bertanya kepada Habibana Mundzir ..

    Orang itu bertanya :
    “Yaa Habib , kenapa Habib tinggal di kontrakan? sedangkan Habib ini Ulama besar ,

    “Kenapa tidak tinggal dirumah sendiri saja yang lebih mewah?”

    Habibana Menjawab :
    “Buat apa saya punya Rumah mewah?
    Karena rumah terakhir saya hanyalah di tanah ,
    dari pada saya membeli rumah lebih baik duit saya , buat saya sedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan.”

    Dan kemudian Habibana berkata kepada orang itu ..

    ”Ketika saya wafat , saya tak meninggalkan anak-anak saya harta Yang saya tinggalkan kepada Anak-anak saya hanyalah ILMU dan yang saya tinggalkan kepada orang-orang yang mencintai saya hanya Sebuah Majelis yang saya bangun sendiri. Saya takut dimintai pertanggung jawab kepada Allah, pada suatu saat nanti saya akan di tanya oleh Allah : “Hai Fulan bin Fulan, kamu mempunyai rumah besar, sedangkan sodara-sodara mu apakah sodara-sodara mu mempunyai rumah?” Itu yang membuat saya takut ketika saya ditanya oleh Allah dengan perkataan yang seperti itu.”

    Lahul faatihah

    Credit: Ulama Nusantara