Penulis: Sorban Santri

  • ALLOH MENYAPA DENGAN GERHANA DAN COVID-19 NU CANGGU SHOLAT GERHANA

    ALLOH MENYAPA DENGAN GERHANA DAN COVID-19 NU CANGGU SHOLAT GERHANA

    Bulan Syawal 1441 H tahun ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya karena ada dua tamu istimewa yaitu covid 19 dan juga gerhana matahari cincin (21/06) yang bisa di lihat oleh beberapa negara termasuk Indonesia

    Dalam menyikapi gerhana matahari tersebut tokoh tokoh Annahdliyah Canggu bisa melaksanakan sholat gerhana matahari tepat bakda sholat asyar dengan hikmat yang di laksanakan di markas NU Canggu permai yaitu masjid Al Muttaqin yang menjadi masjid kebanggaan warga Canggu permai

    Sholat gerhana yang di imami oleh mutasyar MWCNU JETIS yaitu USTADZ NUR ALIMAN AL HAFIDZ serta di ikuti oleh jamaah masjid Al Muttaqin dan pengurus NU Canggu permai berlangsung dengan mengunakan protokol kesehatan

    SORBANSANTRI.COM

    Ustadz NUR ALIMAN al hafidz

    Dalam khotbahnya Ust NUR ALIMAN menyampaikan betapa pentingnya meningkatkan iman dan taqwa apalagi dengan adanya gerhana seperti saat ini masih banyak umat yang menghubung hubungkan antara gerhana dengan penyakit , balak dan lain sebagainya ..

    Gerhana merupakan peristiwa alam yang menunjukkan kekuasaan dan kebesaran ALLAH bagi orang orang yang berakal . Sepandai dan besar apapun kekuatan manusia jika di bandingkan kekuatan alam tidak akan ada artinya apalagi di banding dengan kekuatan ALLAH , manusia hanya berencana dan berencana ketentuan akhir ada pada yang khalik yaitu ALLAH SWT ..

    Wallahu a’ lam ..

  • GP ANSOR CANGGU JETIS MOJOKERTO TETAP BERBAGI DI TENGAH PANDEMI

    GP ANSOR CANGGU JETIS MOJOKERTO TETAP BERBAGI DI TENGAH PANDEMI

    SORBAN JETIS,–Wabah yang sedang menghantui Indonesia bahkan dunia saat ini yaitu covid 19 tidak menyurutkan semangat sahabat sahabat GP ANSOR Canggu untuk berbagi dan terus berempati terhadap fakir miskin dan anak Yatim piatu …..

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Proses penyerahan sembako oleh GP ANSOR canggu

    Sekaligus sebagai langkah kongkrit bentuk kepedulian Ansor terhadap sesama . Bulan ini GP ANSOR Canggu mampu memberikan santunan kepada 19 anak Yatim dan membagikan paket sembako kepada 15 kaum duafa(21/06). Hal ini sekaligus program rutin tiap bulan sebagai poenix proyek untuk GP ANSOR Canggu ..

    Pembagian santunan dan sembako ini juga di support oleh IPNU ranting Canggu yang juga sebagai tongkat estafet nantinya . Khususnya para duafa penerima sembako sangat gembira dan berterima kasih karena sangat membantu meringankan beban perekonomian mereka ..

    SORBANSANTRI.COM

    Dukungan IPNU canggu yang ikut membantu pendistribusian

    SORBANSANTRI.COM

    Gus ROFIQ salah satu pengurus GP ANSOR canggu

    Pemberian santunan bulan Juni 2020 ini juga mampu merambah ke duafa di dusun lain . Gus ROFIC salah satu pengurus GP ANSOR canggu mengatakan ” kami akan selalu bergerak untuk melaksanakan progam progam GP ANSOR canggu, termasuk santunan yatim piatu dan duafa, bulan ini masih 34 yang kami santuni, insyaALLOH akan kami tingkatkan”

    SORBANSANTRI.COM

    H. ALIM SODIKIN ketua TANFIDZIYAH NU canggu

    Kegiatan berbagi yatim piatu duafa oleh GP ANSOR canggu di acungi jempol oleh ketua TANFIDZIYAH NU canggu H ALIM SODIKIN “saya bangga sama kader kader GP ANSOR canggu yang selalu semangat untuk berkhidmat pada NU, Semoga GP ANSOR canggu bisa terus Istiqomah berbagi serta amanah dan semakin profesional mengelola dana umat, serta mudag mudahan semua selalu sehat lahir batin”

    by : s.parman sorban

  • Siapa Presiden Ihwanul Muslimin dan PKS

    Siapa Presiden Ihwanul Muslimin dan PKS

     

    SORBAN SANTRI- Sebelum kemunculan HRS, tak ada catatan mengenai “konflik” antara habaib dan nahdliyin kecuali kasus individual Habib Husein al-Habsyi yg menyerukan penggulingan Gus Dur dari kursi kepresidenan, pada 2001.

    Saat itu, seruan habib yang pernah mendekam di penjara selama 10 tahun dengan dakwaan terlibat peledakan candi Borobudur itu, ditentang oleh banyak habib lainnya. Di antaranya oleh sekumpulan habib yang tergabung dalam Forum Habib Jawa Timur.

    Selain dinilai menyeret kehabiban ke dalam konflik kepentingan politik, Habib Husein al-Habsyi dianggap sebagai provokator yang ingin memisahkan habaib dari para kiai.

    Terpidana Bom Candi Borobudur adalah Habib Husein Al Habsyi, ia mendirikan Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI) kisaran tahun 2001. Ikhwanul Muslimin versi Habib Husein Al Habsyi bukanlah IM ‘cabang’ dari Ikhwanul Muslimin yang di Mesir itu.

    Ada juga, bahkan banyak juga salah faham ketika menyebut (nama) Habib Husein Al Habsyi Presiden IMI itu. Karena namanya sama dengan pendiri YAPI Bangil (Syi’ah). Ini adalah Foto Habib Husein Al Habsyi yang mengklaim dirinya sebagai Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI).

    Sedangkan Habib Husein Al Habsyi Pendiri Pesantren YAPI Bangil yang beraliran Syiah. Ikhwanul Muslimin yang versi resmi di bawa oleh kelompok gerakan Tarbiyah yang kini mendirikan Parpol: PKS.

    Jadi PKS (dulu PK) itu sejatinya adalah kepanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin yang berpusat di Mesir Ketika Habib Husein Al Habsyi mendeklarasikan ormas dengan nama Ikhwanul Muslimin. Di cibir oleh kalangan Tarbiyah (PKS). Menyikapi itu, tokoh utama Gerakan Tarbiyah Ust. Rahmat Abdullah berkata ” Ia (Hb Husein AlHabsyi) hanya mendapat Klaim saja.

    Yusuf Supendi salah satu pendiri PK (PKS) membenarkan kalau PKS adalah Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Bahkan Yusuf Supendi mengatakan saat Pemilu ’99 Partainya 90% dana kampanye Pemilu di bantu oleh Ikhwanul Muslimin.

    Yusuf Qardawi juga pernah menyebut bahwa PKS adalah kepanjangan tangan Ikhwanul Muslimin. Tapi petinggi PKS no comment. PKS tentu tutup mulut karena di negeri kita parpol di larang menerima bantuan dari asing. Apalagi kepanjangan tangan dari asing

    Tidak ada memang bukti struktural bahwa PKS di bawah naungan Ikhwanul Muslimin Mesir. Tapi ideologi tidak bisa di sembunyikan. Lihatlah sikap kader PKS melihat konflik Ikhwanul Muslimin/Mursi di mesir sekarang. Karena memang PKS adalah Ikhwanul Muslimin.

    SORBANSANTRI.COM
    Kembali ke Habib Husein Al Habsyi, saya juga heran kenapa dia mendirikan ormas bernama Ikhwanul Muslimin. Habib Husein Al Habsyi – IM Yang jelas, dia memang akrab di kalangan Islam Radikal. dengan Habib Rizieq, juga dgn Abu Bakar Ba’asyir.

    Karena dalam perjalanannya di Ikhwanul Muslimin ada 2 arus besar. Salah satunya adalah Ikhwan Quthbiyah. Yakni Ikhwan Garis Keras tokoh utamanya adalah Sayyid Quthub. Bahkan Yusuf Qardawi mengatakan Sayyid Quthub harus bertanggung jawab atas berkembangnya Islam Radikal di dunia

    SORBANSANTRI.COM
    Sayyid Quthb akhirnya di hukum mati, digantung (pada 29 Agustus 1966). Karena ideologi radikalnya. Sayyid Quthub awalnya moderat, termasuk ketika menulis kitab Tafsir fi Dzilalil Qur’an. Tapi Akhirnya Radikal,Beliau memang pujangga, kitab lainnya adalah kitab Ma’alim fi at-Thariq

    Itulah Ikhwanul muslimin dan menjelma menjadi PKS..

    Muhibbul fillah..
    Salam takdziim.

    (GusNadjb)

  • SUPPORT LUAR BIASA YANG DIBERIKAN KELUARGA ANSOR BANSER PACET DI ACARA IPNU/IPPNU PADA PENGGALANGAN DANA UNTUK SAHABAT RIO

    SUPPORT LUAR BIASA YANG DIBERIKAN KELUARGA ANSOR BANSER PACET DI ACARA IPNU/IPPNU PADA PENGGALANGAN DANA UNTUK SAHABAT RIO

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Support dan kasih semangat luar biasa untuk adik-adik IPNU / IPPNU Pacet yang diberikan oleh Keluarga Besar Ansor Banser Pacet Mojokerto di acara ngamen online yang ditayangkan di Youtube SorBan Santri dan Jejaring sosial lainnya seperti Facebook dan Instagram. Kehadiran sahabat-sahabat Ansor Banser memberikan nuansa yang beda dalam pagelaran acara tersebut bahkan ada yang ikut berpartisipasi memainkan alat musik dikegiatan amal tersebut, yang diadakan di Halaman Gedung GrahaNU Pacet Mojokerto. Sabtu, 21 Juni 2020.

    SORBANSANTRI.COM
    Kegiatan Ngamen Online Dalam Rangka Penggalangan Dana Sahabat Rio

    Tampak hadir adik-adik dari IPNU / IPPNU dan memanfaatkan momen Malam minggu dengan kegiatan yang positif, yaitu penggalangan dana untuk sahabat RIO yang saat ini lagi berjuang melawan penyakit LUPUS dan Kebocoran Ginjal. Dan hasil dari kegiatan tersebut, semuanya akan diserahkan ke sahabat RIO.

    Acara penggalangan dana dengan jalan ngamen online ini, rencananya bertahap dan kegiatan berikutnya insyaAlloh akan diadakan di Pada Tanggal 30 Juni 2020 di Kedai Nglaras Pacet Mojokerto, kata ketua IPNU/IPPNU Pacet sahabat Yusril. Dengan harapan dengan semua yang dihasilkan bisa meringankan beban sahabat RIO dan tentunya diharapkan lekas sembuh dan  bisa aktif lagi dalam kegiatan berbaur dengan sahabat-sahabat IPNU / IPPNU lainnya. (abi sorban)

  • TRAGEDI UTSMAN: DARI HOAKS KE PEOPLE POWER

    TRAGEDI UTSMAN: DARI HOAKS KE PEOPLE POWER

    SORBANSANTRI.COM

    LD PWNU Jawa Barat – Ide anti pemerintah, anti otoritas yang sah dan anti konstitusi, ide kuno yang dalam sejarah Islam pertama kali muncul ketika Dzul Khuwaisirah ketika protes atas pembagian harta emas yang dikirim Ali bin Abi Thalib dari Yaman yang dilakukan Rasulullah Saw. Protes Dzul Khuwaishirah menyinggung perasaan Nabi Saw. Secara tidak langsung dia menuduh Nabi Saw berbuat dzalim.

    Saking tidak beradabnya dia menyuruh Rasulullah Muhammad Saw bertaqwa kepada Allah, “Wahai Rasulullah bertaqwalah engkau kepada Allah.” Mendengar hal itu, Nabi Saw bersabda: “Celaka engkau! Bukankah aku adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk bertaqwa kepada Allah?!” (HR. Bukhari [2/232], Muslim [2/740]). Mendengar hal itu, Nabi Saw bersabda: “Celaka engkau! Bukankah aku adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk bertaqwa kepada Allah?!” (HR. Bukhari [2/232], Muslim [2/740]).

    Sebagai sebuah gerakan politik, Abdullah bin Saba’ orang pertama yang mengorgansir gerakan anti pemerintah dan inkonstitusional. Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam. Berlagak bak ulama dia menyebar isu, opini negatif, tuduhan miring dan hoaks di tengah-tengah masyarakat muslim yang baru tumbuh di daerah-daerah pinggiran pusat Islam saat itu, Bashrah, Kufah dan Mesir.

    Masyarakat muslim yang baru menerima Islam. Keimanan mereka masih labil. Ilmu pengetahuan mereka belum kokoh. Tapi semangat keberagamaan mereka menggebu-gebu. Pengikut Abdullah bin Saba’ kebanyakan orang-orang Badui Arab yang baru hijrah dari kehidupan jahiliyah.

    DR. Utsman bin Muhammad al-Khamis dalam Hiqbah Minat Tarikh yang terbit 2007 di Kairo mencatat 13 tuduhan ditujukan Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya kepada Khalifah Utsman. Edisi Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi’i cetakan kelima 2016 dengan judul “Inilah Faktanya”.

    Tuduhan-tuduhan yang mendeskriditkan Khalifah Utsman. Sebagian tuduhan sudah dibantah Khalifah Utsman sewaktu rumahnya dikepung massa aksi people power yang datang dari tiga kota Muslim di luar Jazirah Arab. Sebagian lagi dibantah para sahabat kepada utusan massa people power ketika mereka berdialog.

    Enam tuduhan yang bukanlah kesalahan dan pelanggaran terhadap syariah melainkan ijtihad syar’i sebagai Khalifah. Sebagai Khalifah, Utsman berhak dan berkewajiban melakukan ijtihad politik dalam rangka menyempurnakan tugasnya mengatur urusan umat.

    Ijtihad politik Khalifah Utsman yang dibully tersebut adalah: Mengangkat keluarga menjadi pejabat, membakar mushaf-mushaf dan memerintahkan kaum muslimin untuk menrujuk kepada satu mushaf saja, memperluas lahan konversi hewan ternak dan kuda, tidak mengqashar shalat dalam perjalanan, tidak mengqishash ‘Ubaidullah bin Umar padahal dia membunuh Hurmuzan dan menambah adzan kedua dalam shalat Jum’at.

    Dua tuduhan miring tetapi justru itu kebaikan Khalifah Utsman yaitu Utsman tidak ikut perang Badar dan tidak hadir pada Bai’atur Ridlwan dan menge Perihal Utsman absen saat perang Badar karena saat itu ia sedang menjaga istrinya yang juga putri Rasulullah saw yang sedang jatuh sakit.

    Tentang ini Nabi saw bersabda: inna laka ajra rajulin mimman syahida badran wa sahmahu ‘Sungguh, engkau mendapatkan pahala seperti pahala seorang yang ikut perang Badar. Engkau juga berhak mendapat ghanimahnya.’ Sementara ketidakhadirannya dalam Bai’atur Ridwan karena Utsman diutus Nabi saw ke Mekkah untuk melakukukan negosiasi dengan kaum Quraisy. Sudah barang tentu justru karena kemuliaan Utsman di mata Nabi saw dan di mata kaum Quraisy, dia diutus ke Mekkah.

    Saat Utsman bernegosiasi, prosesi Bai’atur Ridlwan dilakukan. Sambil mengulurkan Rasulullah saw kemudian bersabda: “Tangan ini mewakili Utsman.” (Shahihul Bukhari, Kitab Fadhail Shahabah, Bab Manaqib Utsman no. 3699).

    Hanya satu tuduhan yang memang kesalahan Utsman. Itupun kesalahan kecil yang sangat manusiawi. Kesalahan itu sudah dimaafkan dan diampuni yakni lari ketika pasukan kaum muslimin diserang balik waktu perang Uhud sebagaimana firman Allah swt

    إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ۖ وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

    Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Ali Imran; 155).

    Kendati demikian, Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya yang menjadi peletak dasar gerakan Khawarij terus menyudutkan Khalifah Utsman dengan isu-isu hoaks. Khalifah Utsman difitnah telah mengasingkan Abu Dzar al-Ghifari ke Rabadzah.

    Abu Dzar sahabat Nabi saw dikenal jujur, zuhud dan wara’. Di Syam dia debat dengan Muawiyah yang saat itu menjadi Gubernur. Mereka berdua ikhtilaf soal tafsir ayat ke-34 surat at-Taubah tentang larangan menimbun emas dan perak. Muawiyah berpendapat ayat itu ditujukan kepada ahlu kitab, adapun Abu Dzar mengatakan ayat itu untuk umat Islam dan ahlu kitab.

    Perdebatan ini buntu tidak ketemu jalan penyelesaiannya. Lalu Muawiyah menulis surat ke Khalifah Utsman. Dia mengadu kelakuan Abu Dzar. Lalu Khalifah Utsman meminta Abu Dzar menemuinya di Madinah. Abu Dzar mengisahkankan ceritanya kepada Khalifah Utsman.

    Setelah itu Khalifah Utsman berkata: “Kalau engkau mau pergi engkau boleh melakukannya, tapi ke tempat yang tidak jauh (dari Madinah).” Itulah yang membuat Abu Dzar pergi ke Rabadzah. Sebagai warga negara yang baik, Abu Dzar tunduk, patuh dan taat kepada Khalifah. Dia berujar: “Seandainya yang menjadi pemimpinku berasal dari orang Habasyah, aku tetap akan mendengar dan tunduk kepadanya.” (Shahihul Bukhari, Kitab Az-Zakah, Bab “Ma Uddiya Zakatahu bi Kanzin no. 1406).

    Jadi sebenarnya Abu Dzar mengasingkan diri ke Rabadzah karena keinginannya sendiri. Khalifah Utsman tidak pernah mengusirnya dari Madinah. Abu Dzar sendiri pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: idza balagha al-bina’u sal’an fakhruj minha ‘Jika kamu menyaksikan bangunan di Madinah sudah setinggi Gunung Sala’, maka keluarlah dari Madinah’ (Ath-Thabaqat Ibnu Sa’ad, IV:226). Artinya Nabi saw sendiri yang memerintahkan Abu Dzar untuk meninggalkan Madinah.

    Kaum Khawarij juga menyebarkan hoaks bahwa Khalifah Utsman mengembalikan Marwan bin al-Hakam ke Madinah yang telah diasingkan oleh Nabi saw. Padahal faktanya Marwan bin al-Hakam masuk Islam waktu fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah). Ia termasuk orang-orang yang disebut Nabi sebagai orang-orang yang yang bebas dari segala tuntutan hukum atas perbuatannya di masa lalu.

    Marwan bin al-Hakam tinggal di Mekkah, lalu bagaimana mungkin dia diusir Nabi dari Madinah?!. korupsi memberi Marwan bin Hakam 1/5 harta ghanimah. Padahal 1/5 harta ghanimah yang diberikan Khalifah Utsman diambil dari bagian Imam/Khalifah yang pembagiannya diserahkan kepada ijtihad Khalifah.

    Hoaks yang menggelikan, Khalifah Utsman dituding kaum Khawarij telah memukul Ibnu Mas’ud hingga ususnya robek dan memukul ‘Ammar hingga tulang rusuknya patah. Ini jelas kebohongan. Tidak mungkin orang selemput Utsman bertindak kasar apalagi kepada sahabat Nabi saw. Andaikata usus Ibnu Mas’ud robek, tentu dia sudah mati dan bagaimana mungkin Ammar bisa ikut perang Shiffin bersama Khalifah Ali dengan rusuk yang patah.?!

    Massa people power yang sudah kemakan hoaks tidak menyadari kalau ada invisible hand yang bekerja di balik kencangnya tuntutan kepada Khalifah Utsman untuk meletakkan jubah kepemimpinannya. Massa yang terbakar emosinya makin kalap. Mereka merangsek masuk ke dalam rumah Khalifah Utsman. Dan akhirnya Khalifah Utsman syahid saat membaca al-Qur’an di tangan kaum Khawarij. Gerakan makar kaum Khawarij menjadi nota hitam sejarah umat Islam yang tak bisa dihapus sampai hari kiamat.

    Nahdlatul Ulama senantiasa bersikap i’tidal, sikap yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi saw di tengah ketegangan dan konflik politik. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

    Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8).

    Semoga hal ini tidak terjadi di negara kita. Tragedi pembunuhan Khalifah Utsman kita ambil hikmahnya, bahwa gerakan makar berawal dari isu-isu hoaks menjadi people power. Direvisi di Tangerang, 16 Juni 2020 ( Ayik Heriansyah )

     

  • Catatan ISTRI BANSER

    Catatan ISTRI BANSER

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – H-5 menjelang lebaran, Ndan Amir mudik bersama istri dan anaknya, tapi Ndan Amir hanya mengantar saja.

    Setelah bercengkerama sejenak dengan mertuanya, Ndan Amir segera mengenakan seragam Bansernya dan berpamitan kembali untuk melaksanakan pengamanan disebuah Posko Lebaran.

    Sepeninggal sang suami, orang tua istri heran bertanya :

    “kok suamimu pulang lagi ?”

    “iya pak, karena dia harus tugas lagi di Posko Lebaran.”

    “Memangnya tidak bisa libur ???”

    Tersenyum Istrinya menjawab : “nggak juga pak, dia kan terikat sumpah janji nya (#NAWAPRASETYA) dengan segala resikonya sudah siap to njeh..
    Monggo diunjuk kopinya pak…”

    “Terus suamimu nanti sahur dan buka makan apa ?”, tanya ayahnya sambil menuang kopi panas

    “Nggak usah kuatir, Dia bisa sendiri pak.”

    “Ck..ck..ck, padahal anak tetangga kita yang kerjanya merantau jauh-jauh bisa pulang ?!”

    Lagi-lagi tersenyum sang istri menjawab :

    “Pak….., Dia bukan BANSER pak…. Kalau dia BANSER pasti dia sedang tugas saat ini. Menantu bapak sedang melaksanakan tugas yang mulia. Membantu orang2 yang akan melaksanakan mudik lebaran pak.”

    Orang tua itu bertanya lagi dengan mata berkaca kaca :

    “kalau begitu kenapa kamu tidak mendampinginya dan mengurusnya disana ?”

    Dengan senyum lebar sang istri menjawab, :

    “Pak, saya pulang karena keinginan menantu Panjenengan Pak, katanya biar bisa kumpul dengan keluarga, supaya waktu lebaran bapak dan ibu tidak kesepian.
    Biarlah dia dan sahabat2nya yang merayakan lebaran dalam kesepian, jauh dari rumah, Kepanasan, kedinginan, capek, Mereka sudah siap dengan serba keterbatasannya, ikhlaskan saja dia menjalankan tugasnya pak. Mengamankan orang2 yang mau mudik lebaran, seperti saya yang akan mengunjungi keluarganya”.

    Lalu kedua ayah anak itu saling berangkulan…

    Dengan meneteskan air mata orang tua itu berkata, “besok sesudah sholat Idul fitri kamu pulang ya nak. Temani suamimu”.

    Kisah ini di dedikasikan buat Sahabat-sahabat Banser dan Unit BALANTAS
    Lindungi dan Layani Masyarakat dengan hati yanğ tulus ikhlas.(abi SORBAN)

  • di Saat Sedekah Lebih Utama Dari Pada Ibadah Haji

    di Saat Sedekah Lebih Utama Dari Pada Ibadah Haji

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Dari TV9 menanyakan tema Kiswah sore ini. Saya jawab silahkan kalau ada usulan tema. Ternyata melihat di FB saya soal penundaan jamaah haji dan gambar orang yang tawaf dengan memberi sedekah kepada fakir dan miskin, serta kisah yang dialami seorang Tabi’in, Ibnu Mubarak. Saya pun menyanggupi tema ini.

    Kisah ulama Salaf ini sebenarnya dapat dijumpai dalam literatur kitab-kitab Fikih Syafi’iyah, seperti yang dijelaskan oleh Syekh Dimyathi Syatha, Guru para pendiri NU di Negeri Hijaz, Makkah:

    ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻤﻦ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﻔﻘﺘﻪ اﻟﺰﻭﺟﺔ، ﻭاﻟﻘﺮﻳﺐ، ﻭاﻟﻤﻤﻠﻮﻙ اﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻟﺨﺪﻣﺘﻪ، ﻭﺃﻫﻞ اﻟﻀﺮﻭﺭاﺕ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻗﺎﺭﺑﻪ ﻟﻤﺎ ﺫﻛﺮﻭﻩ ﻓﻲ اﻟﺴﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺩﻓﻊ ﺿﺮﻭﺭاﺕ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﺈﻃﻌﺎﻡ ﺟﺎﺋﻊ، ﻭﻛﺴﻮﺓ ﻋﺎﺭ، ﻭﻧﺤﻮﻫﻤﺎ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻣﻠﻚ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻛﻔﺎﻳﺔ ﺳﻨﺔ. ﻭﻗﺪ ﺃﻫﻤﻞ ﻫﺬا ﻏﺎﻟﺐ اﻟﻨﺎﺱ، ﺣﺘﻰ ﻣﻦ ﻳﻨﺘﻤﻲ ﺇﻟﻰ اﻟﺼﻼﺡ

    (Penjelasan awal bahwa orang yang wajib haji adalah orang yang memiliki kemampuan biaya transportasi ke Makkah, pulang pergi, serta biaya hidup untuk keluarga yang di rumah)

    Yang dimaksud keluarga yang wajib diberi nafkah adalah istri, keluarga dekat, hamba sahaya dan orang-orang yang sangat membutuhkan dari umat Islam, meskipun bukan keluarganya.

    Seperti telah dijelaskan oleh para ulama dalam Bab Jihad bahwa menghilangkan kesulitan umat Islam dengan memberi makan orang yang kelaparan, memberi pakaian orang yang telanjang dan sebagainya adalah fardhu kifayah (kewajiban kolektif) bagi orang yang memiliki kekayaan lebih untuk dimakan selama 1 tahun. Tetapi masalah ini banyak diabaikan oleh umat Islam hingga oleh mereka yang menganggap dirinya Soleh (I’anah At-Thalibin 2/319) kh. Ma’ruf Khozin

  • SOAL BANGKITNYA PKI ALA GATOT, KALAU KATA GUS DUR: KENAPA TAKUT? PKI AJA DITAKUTI

    SOAL BANGKITNYA PKI ALA GATOT, KALAU KATA GUS DUR: KENAPA TAKUT? PKI AJA DITAKUTI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Gatot Nurmantyo mengarahkan tudingan serius kepada pencabut TAP MPRS 1966 soal PKI dan ajaran komunisme. Padahal sosok yang mencabut itu adalah Gus Dur. Nah lho?

    Ada yang serius dari tudingan Gatot Nurmantyo mengenai kekhawatiran soal kebangkitan PKI ketika diwawancarai Rosiana Silalahi dalam acara Rosi di Kompas TV.

    Salah satunya adalah tudingan bahwa pencabutan TAP MPRS merupakan upaya yang dilakukan oleh PKI, iya, PKI yang Partai Komunis Indonesia itu, yang kalau kata Pak Kivlan Zen sudah bangkit dan punya anggota sebanyak 60 juta—jauh lebih banyak dari yang ikut demo 212.

    Berikut kutipannya, ”Habis itu tuntutan soal pencabutan TAP MPRS nomor 1966, siapa lagi kalau bukan itu? Siapa lagi kalau bukan PKI itu?”

    Salah satu tudingan—dari banyak tuduhan sebenarnya—ada hal yang cukup unik mengenai pencabutan TAP MPRS 1966 yang disebutkan Gatot tersebut. Seperti yang kita juga sudah tahu, undang-undang ini berisi (salah satu di antaranya) mengenai larangan ajaran marxisme-komunisme dan PKI beserta dampak diskrimatif terhadap simpatisan maupun keturunannya.

    Tudingan Gatot ini sangat bisa dimaknai langsung mengarah ke K.H. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan Gus Dur. Ya jelas, salah satu tokoh yang getol dengan pencabutan TAP MPRS pada zaman itu adalah Gus Dur ketika menjabat sebagai presiden. Hal yang pada perkembangannya jadi salah satu sebab (di antara sebab-sebab lain) Gus Dur dilengserkan dari kursi kepresidenan.

    Silogisme sederhananya ya seperti ini;

    TAP MPRS 1966 merugikan orang-orang PKI
    Orang PKI tidak suka dengan TAP MPRS 1966
    Kalau ada yang tidak suka dengan aturan ini berarti dia PKI
    Gus Dur mencabut TAP MPRS 1966
    _____ (silakan isi sendiri)

    Ketika wawancara berlangsung, Rosi sebenarnya sudah mewanti-wanti Gatot untuk memikirkan ulang jawaban ini. Sebab, tentu saja, tudingan ini sangat serius. Mengarahkan simpulan sederhana membabi buta kepada orang yang mencabut TAP MPRS adalah PKI jelas mencederai banyak ”santri-santri” Gus Dur.

    Pertanyaan seputar pilihan yang Gus Dur lakukan saat itu masih jadi perbincangan hangat—terlebih sampai saat ini. Apalagi ketika isu kebangkitan PKI selalu digaungkan setiap tahun di Indonesia.

    Jika sebelumnya Indonesia mengenal dua musim; musim hujan dan kemarau, belakangan ini kita ketambahan satu musim lagi, yakni; musim isu kebangkitan PKI, yang terjadi pada periode akhir September sampai awal Oktober.

    ”Sebab bertentangan dengan Undang-undang Dasar, Mas,” kata Gus Dur saat menjawab alasan di balik dirinya mencabut aturan tersebut.

    Undang-undang yang mana memangnya, Gus? Bukannya muncul kesan Gus Dur bisa saja dianggap melindungi orang-orang PKI?

    ”Ha terserah, kesan nggak kesan. Terserah,” jawab Gus Dur lagi seperti tidak peduli ketika diwawancara Andy F. Noya pada 2005 silam. “Undang-undang melindungi semua,” lanjut Gus Dur yang kemudian menjelaskan bahwa undang-undang itu merupakan turunan praktik dari Pancasila ketika belum ada, yang lebih dikenal dengan: Bhinneka Tunggal Ika.

    Ketidakpedulian Gus Dur mengenai citra yang diterimanya dari masyarakat inilah yang sebenarnya menggambarkan bagaimana Gus Dur lebih peduli kepada kemanusiaan ketimbang urusan politik atau urusan hukum. Bahkan sampai pada titik tertentu, Gus Dur tidak peduli dirinya harus dimusuhi oleh banyak orang. Entah apa persepsi masyakat, Gus Dur selalu berujar, ”Biar sejarah nanti yang membuktikan.”

    Dan benar, kita bisa merunut pada sejarah bagaimana sosok seorang Gus Dur dididik untuk punya rasa kepekaan terhadap sesama melebihi siapapun di republik ini. Jika dirunut dari latar pendidikannya kepekaan ini justru lahir bukan dari masa ketika Gus Dur sekolah di Mesir, Irak, atau bahkan sampai ”nyasar” ke Eropa, melainkan dari sebuah kota di Jawa Timur: Jombang.

    Di Pondok Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, Gus Dur diamanahi untuk menjadi keamanan pondok. Mengurus santri-santri yang nakal. Dan sebagaimana lumrahnya bagian keamanan pondok, Gus Dur pun tak segan-segan menghukum santri-santri yang melanggar peraturan. Penegakan hukum di pondok ada di tangan Gus Dur muda saat itu.

    Sampai suatu ketika muncul kasus yang menggegerkan. Seorang santri putra ketahuan menyimpan kutang di dalam lemarinya. Iya, kutang, daleman untuk perempuan itu. Sudah barang tentu hal ini segera dilaporkan oleh Gus Dur ke pengasuh, Kiai Abdul Fattah Hasyim. Harapan Gus Dur, si santri ini bisa segera dikeluarkan saja dari pondok karena kenakalannya sudah mengarah pada perbuatan mesum.

    Tapi apa kemudian tanggapan Kiai Fattah di hadapan Gus Dur muda ketika menerima laporan?

    Santri nakal itu malah diminta untuk tinggal bersama Kiai Fattah. Benar memang dikeluarkan dari pondok, tapi justru dimasukkan ke ndalem. Ke kediaman pengasuh di kamar khusus.

    Tentu saja muncul berbagai macam pertanyaan dari keputusan Kiai Fattah ini. Bukannya muncul kesan kalau Kiai justru malah melindungi santri-santri yang nakalnya kelewatan? Uniknya, kelihatan benar Kiai Fattah tidak peduli dengan kesan dari orang lain soal pilihannya ini.

    ”Ha terserah, kesan nggak kesan. Terserah.”

    Si santri ini pun tinggal bersama Kiai Fattah. Sepanjang malam jadi ”terpaksa” ikut tahajud karena dibangunkan langsung oleh kiainya, ketika mengaji kitab jadi petugas yang mengurus kitab-kitab apa yang akan dikaji oleh kiainya, sampai kemudian si santri ini berubah benar-benar jadi orang saleh. Kenakalannya hilang tidak serta-merta, melainkan melebur karena berkumpul langsung dengan orang paling saleh dan bijak di lingkungan pesantren tersebut selama bertahun-tahun. Sosok yang tak lain tak bukan adalah Kiai Fattah sendiri.

    Dari sanalah kemudian Gus Dur mendapatkan pelajaran paling berharga dalam hidupnya—dan juga bagi bangsa ini. ”Ternyata di atas hukum, ada yang lebih penting lagi, yakni kemanusiaan,” begitu kira-kira pelajaran yang bisa dipetik.

    Secara aspek hukum dan peraturan pondok pesantren, si santri sudah sangat layak untuk dikeluarkan. Perbuatannya melebihi kenalakan santri pada umumnya. Melakukan perbuatan mesum—jangankan di pesantren—di luar pesantren sekali pun seseorang bisa berurusan secara pidana. Tapi apa yang dilakukan Kiai Fattah ini tidak seperti itu.

    Bisa saja paman Gus Dur ini memilih mengeluarkan si santri. Secara citra, Kiai Fattah bisa saja mendapatkan predikat sebagai pengasuh yang tegas, berani, dan tidak pandang bulu, tapi ada aspek lain yang diajarkan untuk mendidik para santrinya. Yakni: rasa kemanusiaan. Bahwa semua manusia selalu punya peluang untuk bisa berubah jadi lebih baik, asal kamu rela untuk memilih jalan pedang yang tidak disukai oleh banyak orang. Layaknya pilihan yang dilakukan Kiai Fattah, yang nanti ditiru Gus Dur saat jadi Presiden.

    Secara pengetahuan dan keilmuan, apa yang didapatkan Gus Dur mungkin tidak sebanyak dengan pendidikan Gus Dur di luar negeri. Namun di Tambakberas ini, Gus Dur mendapatkan pelajaran bagaimana caranya memerlakukan seorang manusia dengan sebaik-baiknya.

    Entah itu seorang mesum, entah itu seorang suporter beringas, bahkan entah itu seorang PKI sekalipun. Mereka semua manusia. Dan karena manusia, mereka pantas menerima hak-hak kemanusiaan yang tidak didapatkan dari aturan-aturan diskriminatif terhadap dosa yang belum tentu mereka pernah lakukan sebelumnya.

    ”Kalau belakangan ini ada kekhawatiran PKI akan bangkit?” tanya Andy F. Noya kemudian—sekitar 13 tahun yang lalu—kepada Gus Dur. Hadirin terdiam dengan pertanyaan yang menakutkan itu.

    ”Kenapa takut? PKI aja ditakuti,” jawab Gus Dur santai. Hadirin tertawa, ketakutan barusan hilang seketika. (SANTRINU)

  • IPPNU DAN IPPNU MWCNU PACET MEMBUKA DONASI PEDULI REKAN RIO PENDERITA LUPUS DAN KEBOCORAN GINJAL

    IPPNU DAN IPPNU MWCNU PACET MEMBUKA DONASI PEDULI REKAN RIO PENDERITA LUPUS DAN KEBOCORAN GINJAL

    SORBANSANTRI.COM
    Muhammad Rio Firmansa Basyaria berjuang Penyakit Lupus dan Kebocoran Ginjal

    SORBAN SANTRI- Muhammad Rio Firmansa Basyaria merupakan salah satu kader IPNU Kuripansari Kec. Pacet Mojokerto, yang tengah berjuang melawan komplikasi yang dideritanya pasca operasi Usus Buntu, yaitu Penyakit Lupus dan Kebocoran Ginjal.

    Saat ini rekan Rio tengah membutuhkan dukungan penuh untuk kesembuhannya. Bulan kemarin, pihak Rumah Sakit menyatakan bahwa penyakit yang diderita Rio membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni 2 tahun 6 bulan, dan bahkan hingga seumur hidup.

    Sebagai konsekuensi, rekan Rio diharuskan untuk menjalani opname intensif tiap bulannya dengan  Kemo Terapi, sampai pihak Rumah Sakit menyatakan penyakit yang dideritanya benar-benar sembuh. Tentunya biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit. Sedikitnya total biaya yang dibutuhkan ditaksir mencapai nominal angka 40 juta.

    Oleh karena itu, kami atas nama solidaritas kemanusiaan pelajar mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk ikut serta membantu dalam proses penyembuhan rekan Rio.

    Uluran donasi berupa dana sangat kami butuhkan dalam hal ini dengan kisaran nominal minimal Rp. 1000 sampai tak terhingga.

    Penyaluran Donasi :

    • Via Transfer Bank BRI : 7856-01-006289-53-7 (A.n.M RIZKILLAH)
    • Via PAYPAL https://www.paypal.me/pedulirio
    • Via Offline melalui Ketua PAC IPNU-IPPNU Pacet/Ketua Ranting IPNU-IPPNU Kuripan sari

      Sesudah menyalurkan donasi wajib konfirmasi ke CP yang ada.

    Kontak Person:

    • +62 815-5440-0274 (Rizkillah)
    • +62 813-3565-1335 (Amy)

    Dengan ini, kami akan sangat berterimakasih apabila masyarakat majemuk bersedia menyisihkan sedikit rezeki yang dimiliki untuk berdonasi. (Abi SORBAN)

  • Ketika Para Ulama Besar Bertemu.

    Ketika Para Ulama Besar Bertemu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Merendahlah, karena sebagaimana air, ilmu tak akan pernah mengalir ke tempat yang lebih tinggi…. Ini sejumput cerita tentang seorang ulama besar bernama Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi (393–476 H/1003–1083 M).

    Nama lengkap ulama besar mazhab Syafi’i ini adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf bin Abdillah Asy-Syirazi Al-Fayruzabadi. Kitab Al-Muhazzab karya Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi adalah salah satu kitab rujukan utama dalam mazhab Syafi’i sampai abad ke 6 hijriah.

    Al-Muhazzab banyak menjadi bahan kajian ilmiah bagi para ulama, sehingga muncul banyak karya ilmiah yang didasarkan darinya baik berupa Syarah dan Hasyiah. Yang paling termasyhur tentu saja kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab karangan Imam Nawawi.

    Suatu ketika Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi menjadi utusan Khalifah ke Bastam dalam menyelesaikan ketegangan yang terjadi antara Sultan Malik Syah dengan ‘Amid Abu al-Fath bin Laits, seorang pejabat di Iraq.

    Demikian dikisahkan dalam al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283). Ini artinya Khalifah al-Muqtadi sangat mempercayai Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi.

    Nama besar Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi, sebagai utusan Khalifah, menjadi magnet tersendiri. Para ulama keluar menemui beliau, termasuk Syekh Juwaini yang dikenal sebagai Imam al-Haramain, guru dari Imam al-Ghazali. Rakyat juga berbondong-bondong menyambut sambil membawa roti dan buah-buahan.

    Dikisahkan seorang Syekh Sufi bernama as-Sahlaki mendatangi Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi. Ibn al-Atsir menyebut Sahlaki ini sebagai “Syaikhun Kabirun”. Abu Ishaq yang diberitahu kedatangan Syekh as-Sahlaki ini langsung keluar menemuinya dengan berjalan kaki.

    Syekh as-Sahlaki segera turun dari kendaraannya dan mencium tangan Syekh Abu Ishaq. Syekh Abu Ishaq membalas penghormatan ini dengan mencium kaki Syekh as-Sahlaki, lantas menempatkan Syekh as-Sahlaki di kursinya, sementara Syekh Abu Ishaq memilih duduk di bawah di antara kedua tangan Syekh as-Sahlaki.

    Jelas tampak kedua orang ulama besar berbeda disiplin ilmu ini saling menghargai. Yang satu ahli fiqh; satunya lagi seorang sufi. Syekh as-Sahlaki memberi hadiah, yang disebut-sebut merupakan perbendaharaan dari masa Syekh Abu Yazid al-Busthami, seorang sufi agung generasi sebelumnya. Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi menerimanya dengan gembira.

    Syekh as-Sahlaki ini, hasil pelacakan saya, nama lengkapnya adalah Abu al-Fadl Muhammad bin Ali bin Ahmad as-Sahlaki. Beliau mengumpulkan berbagai pernyataan dan ujaran Syekh Abu Yazid al-Busthami.

    Itulah contoh pertemuan antara seorang faqih dengan seorang sufi. Contoh ini menjadi penting karena seringkali terjadi pertentangan antara ahli Hadits dengan ahli Fiqh, dan juga antara ahli Fiqh dengan ahli Tasawuf. Maka jauh-jauh hari Imam Malik sudah mengingatkan:

    “Barang siapa bertasawuf tanpa berfikih maka dia zindiq. Barang siapa berfikih tanpa bertasawuf maka dia fasik. Barang siapa menggabung keduanya maka dia akan sampai pada hakikat.”

    Para ulama, apapun disiplin keilmuannya, bila bertemu akan saling menghormati.
    Bahkan kalaupun mereka saling berbeda pandangan.
    Tidak ada caci-maki yang keluar dari lisan mereka. Itulah akhlak yang diwariskan kepada kita semua.
    Maukah kita meneladaninya?
    Insya Allah.

    Sumber:
    Dalam kitab al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283).