Penulis: Sorban Santri

  • NU ADALAH ORMAS PALING ANEH DI DUNIA

    NU ADALAH ORMAS PALING ANEH DI DUNIA

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com –
    Itulah sekelumit ulasan Prof Alan Nielsen, seorang pengamat inteljen Barat. Bagaimana tidak? Sejak kelahirannya, NU selalu difitnah dan diintimidasi dan ingin dihabisi keberadaannya.
    Mulai tahun 1955-1998, pergerakan dakwah dan politiknya diawasi super ketat oleh penguasa, sehingga ingin mengadakan pengajian minta ijin sulitnya minta ampun, dan NU tak diberi ruang sedikitpun untuk menghidupkan “strukturalnya” .
    Ia mengibaratkan “NU itu ibarat manusia yang dipotong lehernya tapi ia masih bisa berlari dan hidup”, padahal jika organisasi apapun akan hancur jika di habisi kepalanya (strukturnya).
    Nazi, NII, NI, Masyumi, PKI, dan banyak lagi, semua tinggal nama. Tapi tidak dengan NU yang masih tetep eksis dan berkembang pesat hingga sekarang, yang terjadi malah sebaliknya, “siapa yang memusuhi NU akan hancur dengan sendirinya.”
    Sejarah membuktikan organisasi-organisasi terdahulu yang hancur itu karna mereka selalu memusuhi NU, mulai dari PKI ,Masyumi, DII, TII, NII, bahkan orde baru yang mengintimidasi NU selama 32 tahun pun kini hanya tinggal nama.
    Maka sesungguhnya andai NU ini sebagai organisasi yang bukan didirikan oleh para ulama/aulia dan bukan organisasi yang diridhoi Allah tentu NU sudah hancur sejak dari dulu.
    Saudi dan sekutunya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 tahun untuk meluluh lantakkan Irak, Libya, Suriah, Afganistan, tapi ia tak mampu menguasai indonesia meski telah menghabiskan milyaran dollar, karna di NKRI masih ada sebuah organisasi yang bernama NU. (abi sorban)
  • Menteri Agama Malaysia: Tak ada Tempat bagi Islam Salafi di Kuala Lumpur

    Menteri Agama Malaysia: Tak ada Tempat bagi Islam Salafi di Kuala Lumpur

    • Menteri Agama Malaysia Mujahid Yusof Rawa
      Menteri Agama Malaysia Mujahid Yusof Rawa

    Menteri urusan Agama Malaysia, Mujahid Yusof Rawa saat merespon statemen Zakir Naik, pemimpin Salafi India yang berdomisili di Malaysia mengungkapkan, Islam yang disebarkan Zakir Naik tidak mendapat tempat di negara ini.

    IRNA Selasa (25/9) melaporkan, Mujahid Yusof Rawa dalam sebuah seminar dengan tema Islam dan Kedalanya di Masyarakat Multietnis mengkritik pidato Zakir Naik terkait pelecehan terhadap seluruh agama.

    Seraya mengisyaratkan sejumlah statemen Zakir Naik, Rawa menjelaskan, tidak boleh melecehkan dan menghina agama lain baik itu di pidato maupun statemen. Yang seharusnya menurut Rawa adalah dakwa Islam harus dilakukan dengan metode yang moderat dan seimbang.

    SORBANSANTRI.COM
    Zakir Naik

    Menteri Agama Malaysia menilai rahasia kesuksesan dakwah Islam di masa lalu adalah tidak menyerang agaman lain. Ia menjelaskan, Islam agama kasih sayang dan tidak ada tempat pelecehan kepada agama lain di Islam.

    Naik diusir dari India tahun 2016 karena didakwa menyebarkan ideologi Salafi dan Wahabi. Ia juga didakwa melakukan pidato propagandis yang berujung pada serangan teror di Dhaka tahun 2016. Insiden teror tersebut menewaskan 22 orang. (MF)

    (SUMBER)

  • BERDIRINYA ANSOR MOJOKERTO

    BERDIRINYA ANSOR MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COM

    Tangan dingin Kyai Achyat Chalimy

    Kyai Achyat Chalimy, biasa dikenal dengan panggilan Abah Yat. Beliau adalah sosok yang selalu ada dalam denyut organisasi NU di Mojokerto. Sebagai santri Tebu Ireng, Achyat Chalimy langsung terlibat dalam kepengurusan Jam’iyah yang didirikan oleh gurunya, Mbah Hasyim Asy’ari. Abah Yat sangat disegani karena rendah hati.

    Lahir di Mojokerto pada tanggal 23 Maret 1918, Achyat sudah ditinggalkan ayahnya sejak dalam kandungan. H. Chalimy meninggalkan janin dalam kandungan Hj Marfuah ketika usia 6 bulan. Karena sudah tidak miliki ayah maka Achyat berdua dengan kakaknya, Aslan diasuh oleh ibunya.

    Pendidikan formal diterima di Volkschool Miji atau Sekolah Rakyat. Sekolah yang hanya diperuntukkan bagi orang pribumi itu dilaluinya hingga lulus tahun 1926. Meskipun berasal dari keluarga yang cukup mampu, seorang anak seperti Achyat tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Beliau tidak memiliki darah priyayi sebagai syarat meneruskan sekolahnya. Selanjutnya pendidikan pesantren menjadi pilihannya dengan mondok di Tebu Ireng Jombang. Tahun 1933, tujuh tahun kemudian pemuda Achyat meninggalkan pesantren Tebu Ireng.

    Jiwa sosial sudah tampak ketika ada di Tebu Ireng. Meskipun dikenal sebagai anak Yatim, Achyat senang memberi sedekah. Tidak jarang beliau mengundang kawan-kawannya untuk makan nasi liwet yang dimasaknya sendiri. Sikap semacam itu yang terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Kyai Achyat tidak pernah menonjolkan diri untuk tampil di depan. Peran sebagai “tukang masak” itu yang terus diperankan hingga akhir hayatnya.

    Jenjang organisasi pertama yang ditapaki Achyat adalah sebagai ketua Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) Mojokerto. Pada tahun 1934 secara resmi ANO berdiri atas prakarsa Achyat bersama beberapa pemuda sekitar Mojokerto. Dengan memanfaatkan jaringan santri ANO Mojokerto cepat menyebar ke daerah lainnya di wilayah Mojokerto.

    Pada saat itu, daerah Mojokerto secara administratif terdiri dari empat wilayah kawedanan. ANO juga mengikuti pola tersebut saat membentuk kepengurusannya. Para pimpinan ANO kawedanan tercatat nama Moenasir, Munadi dan Mustaqim dari kawedanan Mojosari. Wilayah kawedanan Jabung dipimpin oleh Sofwan dan Abdul Halim. Mansyur Solikhi bersama Imam Mahdi memimpin ANO Mojokasri. Sementara dari Kawedanan Mojokerto dibawah kendali Achyat Chalimy, Ahmad Rifai dan Samsumadyan.

    Pada suatu hari para pemuda itu berkumpul di langgar panggung Kradenan. Mereka datang atas undangan Mahfudz sebagai tuan rumahnya. Pertemuan yang diawali dengan rujakan itu pada akhirnya menunjuk Achyat Chalimy selaku nahkoda organisasi pemuda yang baru berdiri tersebut.

    Perkembangan ANO Mojokerto dalam waktu relatif singkat dapat diterima kalangan pemuda. Kemampuan manajerial Achyat Chalimy mulai tampak dan diperhitungkan orang. Selain sikap kepemimpinan, beliau juga memiliki ketrampilan mengetik dengan menggunakan sepuluh jari. Kemampuan yang langka saat itu, karena kecepatannya menggunakan perangkat tulis itu Achyat sempat ditunjuk sebagai sekretaris Majelis Diskusi Pesantren Tebu Ireng yang dipimpin oleh Wahid Hasyim.

    Berawal dari keberhasilan membangun ANO tersebut, Achyat selanjutnya diminta menjadi sekretris di NU Mojokerto. Tahun 1938 terbentuk kepengurusan NU yang dipimpin oleh Kyai Zainal Alim dan Kyai Nawawi sebagai Rois dan wakil Rois Syuriah. Pada jajaran Tandfidziyah, Ketua :Kyai Achmad Dimyati, Sekretaris : Achyat Chalimy dan Kamad sebagai Bendahara.

    Sebelumnya, jajaran pimpinan NU Mojokerto yang terbentuk tahun 1928 dipimpin oleh Kyai Zainal Alim dan Kyai Nawawi selaku Syuriah. Tandfidziyah diketuai oleh Maslam, Sekretaris : Den Hafi, Bendahara : Kamad.

    Dengan ditunjuk sebagai sekretris NU maka praktis Achyat memimpin dua organisasi di NU tersebut. Posisi yang dipegang hingga Jepang datang.

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • KYAI NAWAWI YANG MENEPATI JANJI

    KYAI NAWAWI YANG MENEPATI JANJI

    SORBANSANTRI.COMKisah pemakaman Syuhada Kemerdekaan

    Selasa, 23 Agustus 1946, Mojokerto diliputi duka. Seorang syuhada telah tiada, pergi menghadap padanya. Keinginannya untuk gugur di medan perjuangan tercapai dan kepergiannya diiringi berjuta doa.

    Kyai Nawawi adalah Rois Syuriah NU Mojokerto kedua setelah meninggalnya Kyai Zainal Alim. Kyai berpostur kecil itu dikenal memiliki keberanian yang besar. Meskipun menduduki berbagai jabatan tetapi dia tidak pernah tinggal diam di garis belakang. Beliau lebih senang ikut bertempur di garis depan untuk memberi tauladan pada anak buahnya, para anggota Lasykar Sabilillah Mojokerto yang dipimpinnya.

    Kerap kali ulama asal Desa Kemantren Mojokerto itu berkata, “Kalau kalian kurang giat saya pimpin, kalian akan saya tinggal. Saya ingin bertemu bidadari di akhirat nanti..”. Kalimat yang beliau tunjukkan dengan menolak mundur ketika lawan mengepungnya di dusun Botokan Desa Plembungan Sukodono Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 22 Agustus 1946.

    Pada tubuhnya terdapat beberapa tusukan bayonet, salah satunya tepat di lehernya. Darah segar terus mengucur dari tubuhnya. Kyai pemberani itu memang menjadi incaran lawan. Dan hari itu, di belakang rumah H. Nur Hasan, jenazahnya diketemukan.

    Jasad Kyai Nawawi berhasil diselamatkan setelah pasukan pejuang membunuh semua pasukan lawan yang mengeroyok sang kyai. Pada hari itu juga jenazahnya dibawa pulang ke Mojokerto.

    Gugurnya Kyai Nawawi cepat menyebar di daerah asalnya. Ribuan orang sudah menyambut memenuhi halaman stasiun Mojokerto. Ketika diturunkan dari gerbong kereta api yang membawanya dari stasiun Tarik langsung disambut dengan Isak tangis kesedihan. Cucuran air mata yang berbaur dengan tetesan darah segar yang masih keluar saat Kyai Nawawi dibawa ke langgar Jagalan, rumahnya.

    Esok pagi, pemakaman sudah ditetapkan. Keluarga beliau memilih komplek pemakaman umum Losari Gedeg sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Tawaran untuk dimakamkan di Taman Bahagia Mojokerto, sekarang disebut Taman Makam Pahlawan Gajah Mada, ditolak dengan alasan pesan Kyai Nawawi yang ingin dimakamkan bersama warga lainnya. Ya, beliau ingin tetap bersama warga lainnya sebagai orang biasa.

    Proses pemakaman berlangsung haru. Ribuan pelayat berdatangan dari berbagai penjuru. Saat keranda diberangkatkan, pengiring berjejal di sepanjang jalanan dari rumah hingga komplek makam yang berjarak sekitar 2 kilo meter tersebut. Saking banyaknya orang, untuk masuk dan menyaksikan pemakaman pun sulit sekali.

    Upacara pemakaman dipimpin oleh Kyai Abdul Ghani, penghulu Mojokerto. Para pejabat pemerintahan dan komandan militer ikut menyaksikan untuk memberi penghormatan terakhir pada Kyai yang berprofesi sebagai tukang jahit tersebut. Dan ribuan orang menjadi saksi bahwa beliau adalah syuhada yang gugur membela negeri. Kyai Nawawi menepati janji sekaligus menunjukkan bagaimana melaksanakan Fatwa Jihad gurunya, Mbah Hasyim Asy’ari.

    Besarnya perhatian rakyat Mojokerto saat pemakaman berlangsung menunjukkan betapa beliau sangat dihormati. Sebagai tokoh penting kala itu, Kyai Nawawi tidak segan mendampingi langsung para pejuang republik bertempur di garis depan. Wafatnya beliau sedemikian heroik dengan tidak menyerah meski telah dikepung musuh. Pada akhirnya, seperti yang dinadzarkannya, Kyai Nawawi memenuhi takdirnya sebagai syuhada, syahid di medan laga

    Untuk mengenang jasa Kyai Nawawi dibuatlah monumen sederhana di lokasi gugurnya sang Syuhada. Monumen itu dibuat atas prakarsa Kyai Achyat Chalimy, Ketua NU Mojokerto yang sekaligus meresmikannya dengan menandatangani prasasti.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • Kiai Maksum Lasem dan “Rahasia” Shalawat Nariyyah

    Kiai Maksum Lasem dan “Rahasia” Shalawat Nariyyah

    SORBANSANTRI.COM

    Ada tiga tokoh besar dari Lasem, Rembang, yang memainkan peranan penting dalam sejarah pendirian NU: Kiai Maksum (ayahanda dari Kiai Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta), Kiai Baidlawi, dan Kiai Kholil (ini bukan Kiai Kholil Kasingan; beliau juga pendiri dan pengasuh Pondok al-Nur Lasem).

    Ketiga sosok ini adalah salah satu pendiri NU, dan hidup segenerasi dengan Hadlratusysyaikh Hasyim Asy’ari (kakek Gus Dur). Konon, Mbah Hasyim (begitu beliau sering dipanggil) memanggil Kiai Maksum dengan sebutan “Kangmas”, karena dari segi umur, beliau satu tahun lebih muda dari kiai Lasem itu.

    Berkat jasa-jasa mereka ini, Lasem diberikan status “istimewa” hingga sekarang sebagai Cabang Khusus NU (PCNU Lasem). Padahal status “cabang” hanya berlaku untuk daerah setingkat kabupaten, sementara Lasem hanyalah kota kecamatan. Status ini jelas untuk menghargai kota Lasem yang telah “menyumbangkan” tiga kiai penting dalam barisan pendiri NU.

    Kisah berikut ini saya terima dari Gus Zaim (cucu Kiai Maksum Lasem, dan putera Kiai Ahmad Syakir bin Kiai Maksum). Sementara Gus Zaim menerima kisah ini dari Kiai Imron Hamzah (pernah menjabat sebagai Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur). Kisah berikut ini berkaitan dengan tradisi salawat Nariyyah yang amat populer di kalangan nahdliyyin.

    Di Lasem dan beberapa pesantren di seluruh Jawa, ada tradisi membaca salawat Nariyyah sebanyak 4444 kali dengan “kaifiyyah” atau cara tertentu (kalau kaifiyyah-nya ndak pas, tentu kurang “mandi” alias efektif). Tetapi, model salawat Nariyyah yang di-ijazah-kan oleh Kiai Maksum, menurut penuturan Gus Zaim, berbeda dari (berbeda “dari”, bukan “dengan”) versi yang umum beredar.

    Versi Kiai Maksum: “… ‘ala Muhammadin tanhallu bihi al-‘uqad…,” tanpa kata sambung “alladzi” sebagaimana versi yang biasa kita dengar.

    Konon, ini adalah versi salawat Nariyyah yang diwarisi oleh Kiai Maksum dari leluhurnya yang berasal dari tanah Minangkabau: Sultan Mahmud atau Sunan Mingkabau (dimakamkan di kawasan Bonang, sebelah timur Lasem). Menurut beliau, versi ini lebih “cespleng” dari “versi alladzi” yang umum dipakai.

    Suatu saat, Kiai Imron Hamzah yang juga santri Kiai Maksum itu, memberanikan diri untuk bertanya: “Kiai, kenapa kok salawat ini dibaca 4444? Kenapa harus sebanyak itu? Apa alasannya?”

    “Begini ya, Cung,” kata Kiai Maksum, menjawab dengan sabar pertanyaan Imron Hamzah muda. “Setiap angka itu ada sirr-nya, ada rahasianya.” Kiai Maksum berhenti sejenak. Tetapi Imron Hamzah muda ndak sabar, lalu menyergah dengan nada agak meninggi:

    “Apa RAHASIANYA, Kiai?”

    Dengan santai, Kiai Maksum menjawab: “Ya saya ndak tahu. Kalau saya tahu, namanya bukan sirr, bukan rahasia lagi.”

    Lemaslah Kiai Imron Hamzah. 😁😁😁

    Penulis: Kiai Ulil Abshar Abdalla

  • Yang terlupakan dan dilupakan oleh “Mereka Disana”

    Yang terlupakan dan dilupakan oleh “Mereka Disana”

    Infokom NU Mojokerto: Kami tetap ber-ziarah meskipun pengikut engkau tidak men-ziarahimu

    Karena kami tahu engkau pahlawan Bangsa yang sealiran,seaqidah dan seguru dengan maha guru Kami. Meskipun generasi pengikut engkau telah sedikit demi sedikit membelokan ajaran Aqidahmu. Semoga Engkau dikumpulkan dan dipertemukan dengan Maha guru kami ditempat yang sangat Mulia. AMIN….

    AL FATIHAH.

    By.Chisbulloh/Irul infokom

  • SENJATA YANG BIKIN JERA LASKAR HIZBULLAH DI PERTEMPURAN PACET

    SENJATA YANG BIKIN JERA LASKAR HIZBULLAH DI PERTEMPURAN PACET

    Tidak menyangka jika mortir yang sudah diarahkan pada posisi lawan itu tidak bisa jalan. Tiba tiba ledakan terjadi dan laras senjata pelontar mortir itu meledak keras. Akibatnya, lima orang pejuang yang ada di dekat ledakan mortir harus kehilangan nyawa. Mereka gugur bukan karena peluru musuh, nyawa para pejuang melayang sebab senjata buatan sendiri.

    Kisahnya….

    Udara dingin menyelimuti kawasan Pacet Mojokerto. Pada gelap malam beberapa orang mengendap-endap ditepian jalan. Seolah tidak ingin langkahnya terdengar orang lain. Sebentar lagi matahari akan muncul dari balik pepohonan di Pacet Mojokerto. Matahari saat itu juga menandakan bahwa tahun sudah berganti, tanggal 1 Januari 1949. Suasana senyap karena semalam ada pesta di kota kecil di lereng gunung Welirang yang berhawa dingin. Serdadu Belanda yang ada di sana masih lelap dalam mimpi setelah menggelar pesta akhir tahun, atau mungkin mereka sedang mabok minuman keras yang disajikan dalam pesta tersebut. Satu regu serdadu dibawah pimpinan Kapten Schumacher tidak menyadari jika mereka telah dikepung para pejuang.

    Pada kegelapan malam, kesatuan tempur Batalyon 42 yang lebih dikenal dengan nama Bn Mansyur menyiapkan posisi. Sebuah bangunan villa yang digunakan sebagai markas oleh KNIL dikepung rapat. Selain itu, Mayor Mansyur juga telah membagi anggotanya menjaga ruas jalan dari arah Mojokerto dan Mojosari ke arah Pacet. Hari itu kesatuan tempur yang berasal dari Lasykar Hizbullah ingin memberi kado tahun baru pada musuhnya, penjajah Belanda. Selain itu, Mayor Mansyur Solikhi, komandan batalyon 42 juga ingin membalas serangan udara Belanda di Gumeng yang menyebabkan gugurnya puluhan orang pejuang.

    Ketika fajar mulai menyingsing, aba-aba memulai tembakan diberikan. Suara tembakan dengan peluru yang diarahkan pada markas serdadu Belanda membuat penghuninya gelagapan. Beberapa diantara serdadu yang rata rata berusia muda itu tumbang tersambar peluru pejuang. Beberapa diantara mereka berhasil meraih senjata dan mencoba memberi perlawanan dengan membalas tembakan. Namun efek minuman keras belum sepenuhnya hilang sehingga bidikan mereka tidak tepat sasaran. Dalam kondisi tubuh setengah sadar semacam itu maka sebagus apapun senjata mereka menjadi tidak berguna. Asrama serdadu Belanda menjadi tempat mereka meregang nyawa. Satu persatu mereka tewas tepat di hari pertama tahun 1949. Tidak sampai satu jam tembakan dari markas lawan terdiam. Para pejuang mulai maju memeriksa keadaan, tetap dengan kesiagaan. Sebagian lawan yang mencoba bersembunyi berhasil diketahui dan dihajar tembakan juga. Seluruh serdadu Belanda di Pacet tumpas.

    Rupanya, sebelum meninggal dunia, mereka telah menghubungi Markas induk pasukannya. Maka tidak lama kemudian datanglah bantuan dari arah Pangeran dan juga dari jurusan Mojosari. Tujuannya jelas untuk menyelamatkan kawannya yang sedang diserang pejuang Hizbullah itu. Kedatangan mereka segera dihadang oleh para pejuang yang memang sudah menduga akan kehadiran mereka.

    Dari arah Pugeran, pasukan Belanda datang dengan mengendarai beberapa truk. Ketika sampai di desa Kemiri pejuang menyambutnya dengan tembakan dari senjata tinggalan Jepang dan senjata rampasan lawan. Truk musuh berhenti dan penumpangnya berhamburan mengambil posisi. Tetapi situasi dan tempat yang diambil pejuang lebih menguntungkan. Dengan posisi terbuka dengan mudah musuh menjadi sasaran tembakan. Mereka kemudian mundur dengan membawa serdadu yang luka atau mungkin juga meninggal dunia.

    Pertempuran hebat terjadi pada jalur arah Mojosari. Pasukan Belanda datang bukan hanya mengendarai truk, mereka juga membawa tank dan panser. Para pejuang menggunakan batu besar dan pematang sawah.sebagai perlindungan dengan gencar menghujani tembakan. Sebuah senjata kaliber 20 mm berhasil menghambat laju lawan. Panser yang berjalan di depan pasukan terpaksa berhenti oleh tembakan senapan mesin pejuang. Tembak menembak dengan sengitnya terjadi. Hari mulai siang, pertarungan senjata belum juga berhenti.

    Tiba-tiba di langit Pacet menderu dua pesawat pemburu Mustang buatan Amerika yang dimiliki angkatan udara Belanda. Melihat itu, senapan mesin 20 mm segera diarahkan ke udara. Peluru menghambur dari pesawat itu menghujani para pejuang. Meski merepotkan namun peluru lawan tidak ada yang menemui sasaran. Ketika pesawat dengan cocor dicat merah itu berputar dan siap kembali menyerang, satu diantaranya jatuh diterjang peluru kaliber 20 mm. Satu lainnya memilih kembali ke pangkalannya di Surabaya.

    Konsentrasi pertempuran kembali ke daratan. Pasukan lawan mulai menggunakan meriam untuk mendesak posisi pejuang republik yang bertahan dibalik bebatuan. Mendapat serangan senjata berat, para pejuang tidak mau kalah. Kompi pejuang yang menghadang itu juga memiliki sebuah pelontar mortir. Senjata itu didapatkan dari pembagian markas tentara pimpinan Mayor Jendral Soengkono bikinan pabrik Mrican Kediri. Beberapa orang pejuang menyiapkan mortir. Setelah bidikan dianggap tepat, peluru mortir dimasukkan ke larasnya. Sayang peluru mortir tidak terlontar, bahkan peluru itu meledak pada larasnya. Lima orang pejuang gugur dalam insiden tersebut.

    Akhirnya, ketika hari menjelang senja, musuh memilih mundur balik ke Mojosari. Pertempuran yang berlangsung sepanjang hari itu dimenangkan pejuang dari batalyon Mansyur. Kemenangan gemilang karena berhasil menguasai Pacet. Selain itu, sebuah pesawat cocor merah dapat ditembak jatuh. Pesawat itu cukup ditakuti sebab telah membawa banyak korban pada pejuang, salah satunya di Gumeng. Keberhasilan menembak jatuh pesawat itu menjadi sebuah kebanggaan. Tentu mereka juga bangga dapat mengalahkan puluhan serdadu musuh yang ditempatkan di Pacet. Korban lain, baik luka ataupun meninggal di Kemiri maupun Pandanarum tidak diketahui karena musuh bisa mengevakuasinya.

    Seharusnya tidak ada korban jiwa dari batalyon Mansyur seandainya tidak ada insiden ledakan mortir milik sendiri. Karena kecelakaan itu Mayor Mansyur tidak mau lagi menggunakan senjata pelontar mortir buatan Mrican tersebut. Para pejuang dari Hizbullah jera dan khawatir peristiwa semacam itu terulang lagi. Mereka jelas tidak ingin ada lagi korban sia-sia.

    Senjata pelontar bom buatan Mrican itu memang dimodifikasi dari bahan yang ada disekitarnya. Komponen tidak dibuat khusus untuk kebutuhan senjata. Larasnya mengginakan bekas tiang telepon yang dipotongbyang kadang tidak presisi dengan ukuran pelurunya. Meskipun dikerjakan dengan perlatan seadanya oleh para pelajar sekolah teknik, mortir semacam itu cukup membantu mencukupi kebutuhan senjata bagi prajurit republik. Insiden pecahnya laras mortir mungkin bukan yang pertama. Mungkin juga di kesaruan lainnya mortir Mrican bisa beroperasi tanpa kendala

    Pada waktu membuat buku tentang Hizbullah Mojokerto, saya penasaran pada bentuk fisik mortir Mrican. Dan baru tahu saat berkunjung ke museum brawijaya Malang. Ada satu mortir buatan benkel PG Mrican dipajang di sana.

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • LOYALITAS “ANSOR” TANPA BATAS

    LOYALITAS “ANSOR” TANPA BATAS

    Infokom NU Mojokerto : Semangat dan loyalitas sahabat sahabat PAC GP Ansor Jetis Kab.Mojokerto di buktikan pada hari Sabtu,tgl 29 Febuari 2020,pukul 19.30wib. Karena di tengah tengah guyuran hujan sejak sore hari , belum lagi untuk menuju lokasi harus melewati perbukitan serta jalan nya licin dan terjal dan terkendali.

    Hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk mengumandangkan zdikir dan sholawat untuk menggapai Ridho Illahi. Bertempat di PP. Annur Ridhotilah yang berada di puncak bukit Jetis dan area terpencil yang dikelilingi sawah dan perkebunan itu berlangsung dengan meriah dan hikmat ..

    Dalam kesempatan itu tuan rumah yang juga pengasuh PP.Annur Ridhotilah yaitu KH Ahmad Jufri dalam sambutanya menyampaikan:”Saya sangat terharu terhadap semangat sahabat sahabat Ansor PAC Jetis dalam menghidupkan gerakan Ansor di wilayah Jetis dan mengingatkan betapa pentingnya jiwa memiliki organisasi” beliau melanjutkan sambutanya: “Jika di dalam jiwa sudah ada perasaan memiliki dan kemauan sendiri untuk berjuang insya Allah seberat apapun tugas dan tanggung jawab itu akan terasa ringan dan mudah”

    Arahan dan Sambutan KH.Ahmad Jufri

    SORBANSANTRI.COM

    Tidak mau kalah loyal dengan ANSOR,… Barisan Ansor Serbaguna(BANSER) juga turut mensupport dan mengawal dengan setia perjuangan Ahlisunnah Waljamaah ini . Benteng pertahanan Annahdliyah PAC Jetis yang di pimpin langsung kasatkoryon (Muhammad Isa) ini mengerahkan sebagian pasukan BANSER sekitar 25 personil, ini masih sebagian karena BANSER se Kec.Jetis lebih dari 100 personil.

    Suasana waktu mengaji khitab

    SORBANSANTRI.COM

    Adapun puncak acara di isi ceramah agama oleh Gus Muhammad Yasak dari Gresik Beliau menekankan “Penting nya ngaji,,,, tidak hanya ngaji Al-Qur’anul Karim saja tetapi juga ngaji Al-qur’an Kauniyah ( ngaji alam ) agar hidup menjadi lebih sempurna”yaitu memperbaiki hubungan dengan ALLAH dan hubungan dengan manuisia ( insan kamil ) ….

    Acara selesai pada pukul 24.00wib. kegiatan tersebut berjalan dengan Aman,Nyaman dan Terkendali karna dengan adanta BANSER..

    Infokom PAC Jetis.

    By : sahabat parman/Abah Alim/Irul infokom,

  • “TAHLIL KUBRO” MUSLIMAT NU SE KECAMATAN MOJOSARI

    “TAHLIL KUBRO” MUSLIMAT NU SE KECAMATAN MOJOSARI

    Infokom NU Mojokerto: Agenda kegiatan ibu2 MUSLIMAT PAC Mojosari yaitu “Tahlil Kubro Muslimat NU Se Kecamatan Mojosari” pada hari Minggu tanggal 1 Maret 2020 pukul 07.00-12.30 wib di halaman SDN desa Awang Awang Kec.Mojosari

    Ibu2 MUSLIMAT NU PAC Mojosari yang sangat luar biasa.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    .

    Dimana kegiatan “Tahlil Kubro” ini sekaligus peresmian sekolah TK dan Paud DARMA WANITA PERTIWI. Yang langsung diresmikan oleh Bupati Kab.Mojokerto (Bp. Pungkasiadi).dikarenakan Bapak Bupati berhalangan tidak bisa hadir,maka beliau menunjuk Ibu Pungkasiadi (istri Bp.Pungkasiadi) untuk mewakili peresmian gedung TK dan Paud tersebu.pada pukul 09.00 ibu Pungkasiadi hadir disambut dengan Sholawat Nabi dan langsung meresmikan dengan memotong Pita di depan gedung sebagai bukti bahwa gedung tersebut telah Resmi dinyatakan Sah.

    Peresmian gedung TK dan Paud oleh ibu Pungkasiadi.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Tidak ketinggalan BANSER HUSADA (BASADA)) hadir dalam “Tahlil Kubro Muslimat NU PAC Mojosari” tersebut.dengan mengadakan pengobatan alternatif secara gratis. Pengobatan Gratis tersebut juga hadir dari pihak puskesmas Mojosari untuk membantu BANSER HUSADA.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Kesigapan BASADA dalam menangani Pasien dengan dibantu oleh pihak Puskesmas

    SORBANSANTRI.COM

    Acara selesai sekitar pukul 13.00wib dan kondisi serta situasi lokasi dan acara “Aman-Lancar-Terkendali” dengan adanya BANSER PAC MOJOSARI serta aparat Kepolisian,Satpol PP dan Linmas.

    BANSER PAC MOJOSARI

    SORBANSANTRI.COM

    Infokom PAC Mojosarii

    #By.irul Infokom:02/03/2020

  • Nekat! Hadiri Muktamar NU di Banyuwangi Kiai Mukti Ngontel dari Ngawi

    Nekat! Hadiri Muktamar NU di Banyuwangi Kiai Mukti Ngontel dari Ngawi

    SORBANSANTRI.COM

    Jarak Desa Beran, Kecamatan Ngawi dengan Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi jika dilihat di google map jaraknya tak kurang dari 456 KM. Jarak yang demikian jauh itu, ditempuh oleh Kiai Abdul Mukti dengan mengendarai sepeda ontel alias sepeda angin demi menghadiri Muktamar ke-9 NU pada April 1934.

    Bersepeda pada zaman itu, bukanlah hal yang menyenangkan sebagaimana hobi orang gowes dewasa ini. Selain kenyamanan bersepeda sangat terbatas, keamanan pun sangat rawan. Jika misalnya Kiai Mukti harus melewati pantura atau jalur Deandles, ia harus melewati hutan Baluran sebelum mencapai Banyuwangi. Sedangkan jika menempuh perjalanan lewat Jember, mau tak mau harus menempuh Gunung Gumitir. Dua pilihan yang tak mudah, dua jalur yang masih banyak binatang buas dan rampok pada masa itu.

    Kesaksian yang diungkapkan oleh KH. Muchit Muzadi dalam biografinya “Berjuang Sampai Akhir: Kisah Seorang Mbah Muchit” itu, menggambarkan bagaimana kecintaan Kiai Mukti pada Nahdlatul Ulama. Organisasi yang didirikan oleh gurunya, KH. Hasyim Asy’ari.

    Kiai Mukti sebenarnya berasal dari Jetis, Ponorogo. Ia lahir pada 12 Desember 1908 dari pasangan Asfai dan Markamah. Orang tuanya tersebut tak lebih hanyalah petani kecil. Meski berasal dari keluarga kelas bawah, Mukti yang merupakan anak terakhir dari empat bersaudara itu memiliki semangat belajar yang tinggi.

    Sejak berusia delapan tahun, Mukti memulai petualangan intelektualnya ke sejumlah pesantren. Sebagaimana diungkapkan oleh Hengki Puastono dalam skripsinya di UIN Sunan Ampel yang berjudul “KH. Abdul Mukti dan Pengembangan Islam di Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi” itu, pesantren yang pertama kali dituju adalah Pesantren Banjarsari, Minggiran, Kediri. Lalu, ia melanjutkan ke Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu masih diasuh pendirinya, KH. Hasyim Asy’ari. Di sini lah kelak, kecintaan Mukti kepada NU mulai bersemi.

    Setelah dari Jombang, Mukti muda menimba ilmu di Pesantren Tawangsari, Sepanjang, Sidoarjo. Juga pernah di Pesantren Mangunsari dan Pesantren Langitan di Tuban. Sebelum kembali ke kampung halamannya, Mukti juga sempat ngalap barokah di Pesantren Kasingan, Rembang.

    Kedalaman ilmu dan keluruhan akhlaq dari Mukti muda, memantik kepercayaan masyarakat Jetis. Pada usia yang masih relatif muda, 20 tahun, Mukti telah dipercaya untuk mengajar di Madrasah yang ada di kampung halamannya. Tak lama kemudian ia diambil menantu oleh KH. Imam Iskandar asal Kebonsari, Dalopo, Kabupaten Madiun. Ia dinikahkan dengan Sariatun.

    Tak seberapa lama dari pernikahannya tersebut, tepatnya pada 1930, ia pindah ke Desa Beran, Ngawi. Kepindahannya tersebut atas ajakan dari Kiai Thohir. Nama terakhir tersebut adalah seorang yang memiliki perhatian yang tinggi terhadap agama serta banyak mewakafkan kekayaannya demi syiar Islam. Kiai Mukti diberikan fasilitas guna mengajarkan Islam kepada penduduk Beran dan sekitarnya.

    Seiring waktu, Kiai Mukti tak sekadar menjadi guru ngaji biasa. Ketokohannya mulai muncul. Lebih-lebih ketika beliau aktif di Nahdlatul Ulama. Beliau termasuk salah satu tokoh yang merintis NU di Kabupaten Ngawi. Pada 1936, beliau disebutkan menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Ngawi sebagaimana tertulis di skripsi tersebut di atas.

    Waba’du, kegigihan dan kecintaan Kiai Mukti tersebut kepada NU, tak luntur sepanjang hayat. Hingga ajal menjemput pada 6 Maret 1976 dengan meninggalkan banyak monumen perjuangan. Seperti halnya madrasah dan masjid. (M.Ha)