Kategori: Opini dan Analisis

Artikel opini, analisis mendalam, dan editorial tentang berbagai topik yang relevan.

  • Tidak perlu politisasi agama untuk merebut kekuasaan

    Tidak perlu politisasi agama untuk merebut kekuasaan

    wp.sorbansantri.com- Menganggap salah satunya PKI, satunya islamis, memprogandakan delusi itu, sampai diringkus pihak berwajib.

    Apa yang didapat?

    Sementara tokoh yang dianggap icon perjuangan mereka sekarang nangkring bersama di puncak kekuasaan.

    Semoga foto dan susunan kabinet Presiden Jokowi saat ini menyadarkan sampai ke hati dan pikiran paling dalam, tidak perlu politisasi agama untuk merebut kekuasaan.

    SORBANSANTRI.COM

    Dan tidak perlu menganggap ada yang lebih mewakili Islam antara satu dibanding yang lain, juga tidak perlu berasumsi ada yang anti Islam antara yang satu dan yang lain.

    Seperti dalam Siyasah al-Syar’iyah Ibn Taimiyah, acuan dalam politik Islam adalah profesionalitas dalam menjalankan tugas.

    Dulu kami tidak memilih Pak Prabowo dan Pak Sandi, bukan kami benci, bukan kami menganggap Pak Sandi kurang Islami, tapi kami yakin Pak Jokowi lebih memiliki kapasitas jadi Presiden RI.

    Kalau Pak Prabowo dan Sandi jadi menteri Pak Jokowi ya sah-sah saja, Pak Prabowo punya kapasitas jadi menhan, seperti Pak Sandi punya kemampuan jadi menteri Pariwisata.(Ahmad Tsauri)
  • PERAN PENTING INSTRUKTUR BANSER MOJOKERTO

    PERAN PENTING INSTRUKTUR BANSER MOJOKERTO

    Mojokerto, cyberaswaja.online – Menjadi BANSER harus lulus mengikuti Diklatsar (Pendidikan Latihan Dasar) Banser, Pentingnya Peran Instruktur Banser di Jajaran SATKORCAB (SATUAN KORDINATOR CABANG) BANSER Kab.Mojokerto untuk pelaksanaa Kaderisasi Banser Di wilayahnya. Kordinasi dan Konsolidasi INSTRUKTUR dalam pelaksanaan pelatihan untuk Kaderisasi ini memerlukan waktu ekstra yang luar biasa, penyusunan konsep kordinasi dengan pihak terkait dan lain sebagainya. Kunci sukses pelatihan Banser ini, salah satunya tergantung Tim Instruktur, meluangkan waktu sampai meninggalkan rumah, merupakan konsekuensi mereka yang diberikan tugas dan tanggung jawab menjalankan roda organisasi. Kaderisasi di wilayah kabupaten Mojokerto terus dilakukan terus menerus oleh GP Ansor, mencetak kader kader yang militan, serta menjaga Marwah nama baik organisasi merupakan ketegasan dalam bingkai “Satu Komando” Semoga kita semua yang berkhidmah kepada NU melalui BANOMnya nantinya diakui serta diakhirat bersama sama KH. Hasyim Asy’ari memasuki Surga. Amin
    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Kordinasi tim instruktur dan bayangan caraka malam
    SORBANSANTRI.COM
    Foto:Konsolidasi TIM Instruktur Caraka Malam
    SORBANSANTRI.COM
    Foto: intruktur penetuan rute caraka malam

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Penelusuran Rute caraka malam
    SORBANSANTRI.COM
    Foto: kordinasi Intruktur pada Peta Caraka Malam
    SORBANSANTRI.COM
    Foto: evaluasi oleh Pemateri tiap Pos caraka malam
    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Peran Penting Provost di DTD Banser Jatirejo
  • JANGAN NGAKU NGAKU NAHDLIYYIN NAHDLATUL ULAMA KALAU MASIH INGIN MENGHANCURKAN NKRI

    JANGAN NGAKU NGAKU NAHDLIYYIN NAHDLATUL ULAMA KALAU MASIH INGIN MENGHANCURKAN NKRI

    Infokom Banser NU – 

    KH. Hasyim Asyari Tidak Pernah Melawan Negara atas Nama Agama
    .
    “Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ari membela Negara dengan menggunakan Agama, tapi tidak melawan Negara dengan menggunakan Agama.”
    .
    Berbeda dengan kondisi saat ini, agama dijadikan alat untuk menyerang dan membusukkan pemerintah yang sah. Golangan tersebut menggunakan simbol-simbol Islami untuk membikin gaduh negeri.
    .
    Mereka kencang sekali meneriakkan takbir, memakai bendera tauhid, mengatasnamakan agama dan Tuhan untuk melampiaskan nafsunya, rakus dengan kekuasaan.
    .
    Seharusnya, agama menjadi penguat negara bukan agama sebagai penghancur negara. Kalau agama hanya bertugas mempentungi negara, maka jangan salahkan pula jika negara menggebug para penganut agama itu.
    .
    Dari sini terlihat jelas bahwa sekarang ini banyak penganut agama yang gagal paham, tak mampu memahami agama dengan baik dan benar. Bukan salah agamanya, akan tetapi salah manusianya yang memaknai agama dengan nafsu dan semaunya sendiri.
    .
    Bahkan Pendapat dan Pedoman Beliau sangat Terkenal dengan Ucapan beliau.”HUBBUL-WATHON MINAL-IIMAAN”,mencintai tanah air sebagian dari iman.

  • BANSER Adalah Menjaga Kedamaian NKRI

    BANSER Adalah Menjaga Kedamaian NKRI

    Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam bersabda : Mata-mata yang nanti tidak menangis di hari kiamat adalah mata yang tidak tidur karena menjaga keamanan.

    Doc.PC GP Ansor Sidoarjo

    SIDOARJO — Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sedang berkumpul di Sidoarjo. Tepatnya, dengan titel acara Banser Bersholawat Bersama TNI-Polri untuk Kedamaian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di GOR Sidoarjo, Sabtu 14 Desember 2019, malam ini.

    “Mencintai Indonesia lahir batin, menyejukkan dengan Sholawat Nabi,” tulis akun resmi Banser Jawa Timur.

    Banser sebagai elemen penting dalam Gerakan Pemuda Ansor belakangan cukup banyak mendapat tantangan. Namun, dinamika eksistensi Banser di tengah masyarakat selalu mendapat perhatian.

    Bahkan, Habib Ali Al Jufri berpesan khsusu kepada Banser NU: “Kalian Sekarang Sedang Jihad di Jalan Allah”.

    Habib Ali Al-Jufri dalam ceramahnya pada acara Ramah Tamah dan Bedah Buku “‘Al-Insaniyyah Qabla Tadayun’ karya Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri, di UIN Walisongo Semarang, menyampaiakan rasa terima kasih kepada Banser NU yang telah menjaga keamamanan.

    Habib Ali Al Jufri, ulama asal Uni Emirat Arab ini, menyampaikan:

    “Terima kasih yang menjaga keamanan, yang berdiri di sini (Banser NU). Ini bukan cuma basa-basi saja. Apa yang niatnya jujur dari hati, yang kalian niatkan di dalam hati kalian, dan Allah mengetahui apa yang di hati. Di dalam pekerjaan yang kalian lagi lakukan sekarang ini, (yaitu) mengamankan manusia, menjaga bangsa dan negara, mencari ridhonya Allah, maka kalau niat seperti itu kamu sekarang sedang jihad di jalan Allah”.

    Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam bersabda : Mata-mata yang nanti tidak menangis di hari kiamat adalah mata yang tidak tidur karena menjaga keamanan.

    Maka semakin tinggi ketaqwaan, maka Allah akan mendidik kalian untuk menjaga yang lain. (Red) Sumber: https://pwnujatim.or.id/banser-bersholawat-di-gor-sidoarjo-bersama-tni-polri-untuk-kedamaian-nkri/

  • KH. HASYIM ASY’ARI MENYEBUT HAJI ILYAS PENARIP MOJOKERTO HADRATUSSYEH

    KH. HASYIM ASY’ARI MENYEBUT HAJI ILYAS PENARIP MOJOKERTO HADRATUSSYEH

    Mbah Sholeh adalah pendiri Pesantren Penarip Kota Mojokerto yang memiliki pengetahuan luas. Beberapa kitab rujukan pesantren beliau hafal luar kepala. Kedalaman ilmu agama itu membuat banyak orang menaruh hormat, termasuk Mbah Hasyim Asy’ari Tebuireng.

    Buktinya, sebuah surat bertulis tangan dengan menggunakan huruf pego dibuat Mbah Hasyim untuk Mbah Sholeh Penarip. Surat yang dibuat pada bulan Rabiuts-tsani tahun 1359 H yang bertepatan dengan bulan Juli/Agustus 1940 itu nampaknya ditulis sebagai jawaban atas surat Mbah Sholeh pada pengasuh pesantren Tebuireng tersebut.

    Tidak ada hal khusus dijelaskan pada selembar surat tersebut. Dinyatakan di dalamnya bila pesan Mbah Sholeh melalui utusan bernama Ghozali telah diterima dan jawabannya diberikan secara lisan melalui utusan tersebut. Tampaknya hal yang dibahas merupakan persoalan yang “rahasia” sehingga tidak bisa dituliskan langsung. Jawaban hanya diberikan dengan perantaraan seorang utusan yang bisa dipercaya.

    Yang menarik adalah dalam surat itu Mbah Hasyim menyebut nama Mbah Sholeh dengan sebutan penghormatan “Hadratussyeich Haji Mohammad Ilyas”. Tentu bukan sebutan biasa dari seorang Rois Akbar NU pada seseorang kyai pesantren yang kebesarannya tidak sekondang Tebuireng. Sebutan yang sepertinya menunjukkan ke-aliman Mbah Ilyas dalam pandangan Mbah Hasyim. Sebutan hadratussyeich hanya diberikan pada orang tertentu saja dengan kualifikasi keilmuan tinggi. Selain itu, tentu Mbah Hasyim tahu bila Moh. Ilyas/Mbah Sholeh merupakan karib sekamar dari tokoh terkenal masa itu, Kyai Khozin Siwalanpanji, saat mondok di Japanan Pasuruan.

    Moh. Iyas dalam surat itu adalah nama kecil Mbah Sholeh Penarip. Nama yang digunakan saat menuntut ilmu diberbagai pesantren. Nama Moh Sholeh digunakan setelah Moh Ilyas naik haji. Sebutan Moh. Ilyas masih digunakan Mbah Hasyim untuk menyebut sejawatnya itu.

    Surat korespondensi semacam itu biasa dilakukan antar tokoh untuk mendiskusikan satu persoalan yang butuh pemecahan. Sangat dimungkinkan diskusi itu membahas masalah fiqh menyangkut problem sosial yang berkembang di Mojokerto. Sayangnya, Mbah Sholeh tidak pernah menceritakan apa jawaban yang diterima melalui Ghozali itu.

    Menurut cerita, dulu ada beberapa lembar surat korespondensi antara Mbah Sholeh dengan Mbah Hasyim. Komunikasi literal antar tokoh dengan keilmuan setara guna membahas masalah fiqhiyah. Setidaknya ada 4 buah yang sekarang hanya tersisa satu itu saja.

    Surat yang sekarang disimpan oleh dzuriyah Pesantren Penarip itu mungkin tidak memiliki kandungan yang penting karena tidak menjelaskan persoalan tertentu. Tetapi karena dibuat oleh Mbah Hasyim maka surat yang sudah berlubang dibeberapa bagian hingga perlu dilaminasi untuk menyelamatkannya itu memiliki nilai intrinsik tinggi. Sungguh surat yang sangat layak untuk disimpan.

    Sidiwangun, 10 April 2018

  • ANAK KORBAN DOKTRINASI TERORIS DAN PEMBODOHAN YANG LUAR BIASA.

    ANAK KORBAN DOKTRINASI TERORIS DAN PEMBODOHAN YANG LUAR BIASA.

    wp.sorbansantri.com – Teroris adalah sebuah kebodohan karena para pelaku taat dengan kejahatan manusia dan nafsunya untuk membunuh sesama, artinya tidak cerdas dalam memahami hal yang berbahaya bagi dirinya. dan pantaslah ternisbat menjadi bodoh. dan jika ini terjadi pada anak kita lalu bagaimana ajaran Islam ? resapi pernyataan kunci dibawah:

    ومن ترك ولده جاهلا كان كل ذنب عمله عليه
    “Dan barang siapa membiarkan anak dalam keadaan bodoh, maka semua perbuatan dosa yang dilakukan anak, ikut ditanggung oleh orangtuanya.’”

    Anak anak kecil yang seharusya memandang masa depannya menjadi panorama indah, ternyata hanya dihadapkan dan di doktrinasi kata darah. otaknya dibonsai menjadi kerdil dan dicekoi kata bunuh dengan pekikan takbir. seperti meneguk bir dengan suara dan urat membesar leher dan mulut bergetar serta otot leher dan mulut melebar.

    Bagaimana bisa bangsa indonesia ini menjadi nyaman, kalau teriakan teriakan generasinya seperti kelompok bar dengan slogan slogan membakar dengan tangan tangan seperti mencakar kerukunan dan mengoyak kedamaian lalu dengan sesama anak negeri membenci dan menampar dengan dalih ayat ayat suci dicemarkan.

    Anda anda sekalian tahu mengapa fenomena gelagat radikalis terorist ini terlihat mengejawantah pada aksi dan reaksi sebagian anak Indonesia? yah karena ada pendoktrin dan pengarah pembimbingan yang menyuplai nutrisi otaknya dengan sejuta doktrinasi kebencian mengajari mudah mengkafirkan melawan pemerintah pemimpin dan dengan tega membunuh walaupun sesama ummat Islam. melalui mindset jihad dan jahatnya

    Lalu siapa yang mendoktrinasi anak anak kecil akar generasi kita ini menjadi buas ? tidak lain yang menjadi pion pion yang mempengaruhi alur suci fikiran sang anak menjadi keruh kotor dan beringas, hingga terasa hawa darahnya menjadi bergolak dan panas adalah para ustad ustad liar radikal dimimbar bebas yang memang terbina dan membina dan nemoengaruhi pemahaman dan jiwa ansk kita menjadi ekstrim dsn radikal.

    Mereka adalah eksodan gelap timur tengah yang membangun konspirasi gerakan gerakan HTI ISIS Ikhwanul Muslim yang bermasalah di Negaranya. Di sisi lain sebagian sempalan Wahabi dengan paham puritanisme ekstrim kanan, salafi Wahabi dengan gerakan Islam garis keras juga mencoba mencoba menjelma menjadi ormas penggerak demo melawan Negara dan juga menjadi bagian dari menebarkan paham bunuh dan penghalalan jihad yang terinspirasi dan terimplementasi dari ayat perang maupun ayat pedang yang sering kali dipahami mereka.

    Dalam hal ini saya mengajak anda sekalian berfikir kembali memapah ke generasi menuju bimbingan dan pendidikan pemahaman Islam yang benar Islam wasatiyah moderat tentunya rahmatal lilalamin. yakni mengikuti pemahaman para Masyayih Ulama safasshalihin dengan mengedepankan dakwah bijak lemah lembut dengan konsep Tasamuh tawasuth tawazun dan itidal menghargai perbedaan pandangan membangun kebhenekaan dan menyelamatkan bangsa.

    Alhasil jika generasi kita telah berbeda pemahaman dengan kita bahkan menjadi keras berfikir ekstrim bengis, ia tidak segan segan melawan kita menggorok leher kita sendiri atas nama jihad dan kita hanya menangis kerena penyesalan yang menumpuk pada memory perasaan kita. maka mulai hari ini jauhkan mereka dari provokasi dan agitasi kebencian dari siappun dan dari pihak manapun baik dari alam maya google YouTube dan sejenisnya maupun nyata karena jika sudah terindikasi itu maka tidak mudah di renovasi kembali karena kebengisan doktrin anak kita telah mendarah mendaging dalam persada kehidupanya sulit diterapy kembali dan kita benar benar telah berdosa. Naudzu Billah.(Abdulloh Faizin)

  • HUT KE-20: RADIKALISME DAN TERORISME MENGINTAI PROVINSI TIMAH

    HUT KE-20: RADIKALISME DAN TERORISME MENGINTAI PROVINSI TIMAH

    Oleh Ayik Heriansyah
    Mahasiswa Kajian Terorisme SKSG UI

    wp.sorbansantri.com – Baru saja Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memperingati hari jadinya yang ke-20 pada tanggal 21/11/2020. Provinsi muda dengan penduduk 1,4 juta jiwa yang terdiri dari berbagai suku di Indonesia (Melayu, Bugis, Banjar, Cina, Jawa, Sunda, Batak, dsb) terus berlari dan melompat, melesat membangun daerahnya. Dengan sumber daya alam tambang, perikanan, kelautan, perkebunan dan pariwisata serta didukung oleh sumber daya manusia putra asli daerah yang mumpuni, Provinsi Bangka Belitung diprediksi akan menjadi provinsi muda yang terdepan.

    Namun di balik itu ada ancaman serius dan bahaya laten bagi pembangunan dan kemajuan provinsi, yakni radikalisme dan terorisme. Radikalisme dan terorisme ibarat air dan ikan. Di dalam kelompok, komunitas dan masyarakat yang radikal, tumbuh subur terorisme dan jaringannya. Kelompok radikalisme mensyaratkan sikap intoleransi dari pengikutnya. Hal ini menjadi ancaman kemajemukan masyarakat Bumi Serumpun Sebalai.

    Bibit-bibit radikalisme ada di pulau Timah sebelum provinsi terbentuk. Radikalisme mengalami pertumbuhan dan perkembangan pesca pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saat suasana eforia reformasi, otonomi daerah dan pembentukan provinsi baru, di saat semua orang bebas berpendapat, setiap aliran, kelompok dan organisasi dibiarkan menyebarkan paham dan ideologi, kelompok radikal mengambil kesempataan emas ini.

    Sejak tahun 2002 kelompok radikal secara struktural, sistematis, massif dan intensif melalukan radikalisasi bagi masyarakat Bumi Serumpun Sebalai dengan menggunakan media sosial, menyelenggarakan diskusi publik/seminar, mimbar-mimbar khutbah jum’at, buletin jum’at, pengajian-pengajian umum, dan acara di radio/televisi lokal, serta aksi-aksi unjuk rasa menentang pemerintah kebijakan pemerintah. Radikalisasi yang berlangsung bertahun-tahun ini terkesan dibiarkan oleh pejabat pemerintahan daerah.

    Pertumbuhan dan perkembangan radikalisme di Babel beriringan dengan pertumbuhan dan perkembangan provinsi dan kabupaten-kabupaten baru, sehingga radikalisme masuk ke dalam sendi-sendi birokrasi. Gejala-gejala radikalisasi birokrasi di Bangka Belitung terasa dari beberapa kali pemerintah daerah mengundang Ustadz-ustadz radikal mengisi acara-acara resmi. Dan terlihat mengabaikan ulama dan ustadz yang ada di Provinsi sendiri, yang dikenal moderat.

    Puncaknya ketika terjadi insiden Surat Edaran dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kep. Bangka Belitung perihal Membaca Buku Muhammad al-Fatih pada tanggal 30/09/2020 yang lalu. Mungkin Pak Kepala Dinas hilaf dan lupa, kalau pahlawan Islam yang berjuang melawan penjajah di Bangka Belitung adalah Depati Amir, Depati Bahrin, Depati Hamzah, Hamidah. Batin Tikal, Depati Rahad Belitong, Hananjoeddin Belitong, Moch Roeslly Effendy. Bukan Muhammad al-fatih. Bukan jugaa Felix Siauw. Bukan pula FPI dan HTI.

    Pak Kepala Dinas tidak tahu Felix Siauw adalah seorang propagandis HTI, yang mengerahkan segala upayanya guna berdirinya negara Khilafah Tahririyah (Khilafah versi HTI). Entah siapa yang memberi saran kepada Pak Kepala Dinas sehingga muncul ide membaca buku Felix. Surat Edaran tersebut memang dibatalkan keesokan harinya setelah mendapat protes dari masyarakat, akan tetapi kejadian tersebut mengkonfirmasi bahwa ada radikalisasi di birokrasi Bangka Belitung.

    Menurut indeks yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT, 2020), dari 32 provinsi, Provinsi Timah menduduki urutan ke-13, mengalahkan Sulawesi Tengah (urutan 15) dan Jawa Barat (urutan 19). Padahal di Sulawesi Tengah tepatnya di Poso bercokol kekompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berafilsasi kepada ISIS. Sampai sekarang mereka menebar teror di tengah masyarakat. Sedangkan Jawa Barat, sudah mafhum menjadi ibu kandung tempat lahirnya kelompok-kelompok radikal dan teror di Indonesia.

    Istilah radikalisme air bagi ikan terorisme. Dimana ada kelompok, komunitas dan masyarakat radikal, di situ tumbuh subur terorisme dan jaringannya. Harus menja

    di perhatian khusus bagi pemerintahan daerah Bangka Belitung. Secara geografis, kepulauan Bangka Belitung sangat ideal menjadi tempat persembunyian dan persemaian teroris dan jaringan teror. Jangan biarkan keindahan alam dan keindahan toleransi di Bumi Serumpun Sebalai rusak gara-gara radikalisme dan terorisme.(abi-sorban)

  • Rois Syuriah NU Mojokerto pertama

    Rois Syuriah NU Mojokerto pertama

    KYAI ZAINAL ALIM SURONATAN

    Tidak banyak kisah yang terungkap tentang sosok Kyai Zainal Alim. Ulama yang ditunjuk sebagai Rois Syuriah NU Mojokerto itu wafat tanpa meninggalkan keturunan. Makamnya di komplek pemakaman Losari tidak terawat dengan baik. Dari berbagai penelusuran hanya sedikit yang bisa didapatkan.

    Kyai Zainal Alim berasal dari daerah Sidayu Gresik. Kota kecil di pesisir laut Jawa itu merupakan salah satu pusat perkembangan agama Islam. Beberapa keturunan Arab yang berprofesi sebagai saudagar menetap disana. Dari salah satu keturunan Arab itulah Kyai Zainal Alim dilahirkan.

    Layaknya keturunan Arab, Kyai Zainal Alim berpostur tinggi besar dengan warna kulit kuning mendapatkan didikan ilmu agama yang mumpuni. Beliau kemudian pindah ke Mojokerto bersama istrinya untuk mengembangkan usahanya. Tempat yang dipilih adalah kampung Suronatan, sebuah kampung yang terletak di tepi kali Brantas.

    Seperti umumnya orang Arab, Kyai Zainal Alim juga berprofesi sebagai pedagang. Setiap harinya berniaga di pasar Tanjung yang dibangun oleh Gemeente Mojokerto untuk menggantikan pasar Pahing. Barang yang dijual berupa pakaian, sarung dan kopyah. Profesi yang digelutinya memberi kehidupan yang layak bagi keluarga Kyai Zainal Alim.

    Sebuah langgar kemudian didirikan dekat rumahnya yang dikenal sebagai Langgar Zainal Alim atau langgar Suronatan. Langgar yang bergaya Jawa itu digunakan tempat mengaji anak-anak di sekitarnya. Kegiatan ngaji yang semakin lama semakin berkembang dengan jumlah santri yang terus bertambah.

    Sebagai pendidik, Kyai Zainal Alim ternyata berpikir jauh ke depan. Melihat banyaknya anak yang datang ke langgar Suronatan, beliau berkeinginan untuk memberi bekal ilmu yang lebih. Setidaknya ilmu berhitung ala sekolah model Belanda harus diberikan pada santri-santri disana. Keinginan itu untuk mengimbangi pendidikan sekolah sekuler yang didirikan penjajah Belanda.

    Ide itu ternyata disambut baik oleh koleganya di NU Mojokerto. Pada akhirnya disepakati berdirinya Madrasah Ibtidaiyah NU yang bertempat di langgar Kyai Zainal Alim. Madrasah itu yang menjadi embrio MI Al Muhsinun yang hingga sekarang berdiri di komplek Masjid Agung Kauman.

    Ketokohan Kyai Zainal Alim sangat dihormati oleh kalangan Kyai Mojokerto. Hal itu terbukti ketika dibentuk organisasi NU di Mojokerto pada tahun 1928. Para ulama sepakat menunjuk beliau sebagai figur sentral organisasi yang didirikan oleh Kyai Hasyim Asy’ari tersebut. NU yang biasa dipimpin oleh pengasuh pesantren ternyata berbeda penerapannya di Mojokerto. Kyai Zainal Alim tidak memiliki pesantren, hanya mengajar ngaji di langgarnya saja. Pada saat itu sudah ada beberapa pesantren seperti Pesantren Besuk, Kemlagi dan Karangsari Sooko, yang sudah lama berdiri. Namun para kyai menyerahkan jabatan tertinggi organisasi pada Kyai Zainal Alim. Kemungkinan karena faktor ketokohan yang membuat beliau dipercaya memimpin NU Mojokerto.

    Dalam menjalankan roda organisasi NU, Kyai Zainal Alim berpartner dengan Kyai Nawawi Jagalan. Duet itu mirip dengan kolaborasi Kyai Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah. Kyai Zainal Alim sosok yang tenang, sedangkan Kyai Nawawi figur yang dinamis dengan mobilitas tinggi.

    Belum ada data pasti kapan Kyai Zainal Alim wafat. Nama beliau tidak lagi terdengar ketika Jepang datang. Saat pergantian kekuasaan itu kendali NU Mojokerto sudah beralih ke tangan Kyai Nawawi. Besar kemungkinan Rois Syuriah NU Mojokerto meninggal antara tahun 1942-1943.

    Atas petunjuk H. Ghumson, mantan aktivis GP Ansor tahun 1960-an, makam Kyai Zainal Alim dapat diketemukan.

    Saat ini makam Kyai Zainal terlihat tidak terawat. Sebuah nisan tua tanpa tulisan terpasang pada pusaranya. Karena tidak memiliki keturunan dan tidak ada tulisan penanda sehingga tidak banyak orang mengetahuinya. Sebagai tokoh pendiri NU Mojokerto, maka selayaknya para penerusnya memberi perhatian terhadap makam beliau tersebut.

    Jika mau serius menelusuri masih ada kemungkinan kisah Kyai Zainal Alim bisa didapati. Selain menggali di sekitar Suronatan bisa juga melacaknya ke Sidayu, tempat kelahirannya.

    SORBANSANTRI.COM
  • NU GARIS LURUS MENCERMINKAN SIAPA DI BELAKANGNYA

    NU GARIS LURUS MENCERMINKAN SIAPA DI BELAKANGNYA

    RIJALUL ASWAJA NU-Entah atas usul dan restu siapa NUGL didirkan, apakah hanya sebatas inisiatif segelintir tokoh pendiri dan pengurusnya yang tak lebih dari 10 orang itu? Bukankah mereka pernah mengenyam pendidikan pesantren? Bukankah Kyainya di Pesantren adalah Tokoh yang terhormat di NU?

    Maka tak berlebihan jika mereka disebut sekawanan propagandis tak beradab, dengan berani merongrong NU yang didirikan oleh Tokoh yang dikenal kewaliannya. Dan tentu sanad ilmu para pendiri NUGL tersebut adalah ke Kyai yang memiliki darah keNUan yang kental. Secara tak langsung mereka telah mencoreng nama baik kiyai dan pesantrennya. Istilah ‘Garis Lurus’ cermin kesombongan yang seolah olah mereka adalah yang paling benar. Namun faktanya idiom garis lurus ternyata sebanding dengan perilaku dan tindak tanduk mereka selama ini yang menabrak norma-norma yang dijunjung tinggi di dunia pesantren, dunianya kaum Nahdliyin. Semua yang dianggapnya bengkong dihantam tanpa kromo alias tanpa adab, Baru-baru ini Pesantren yang disegani seperti Lirboyo tak luput dari hantaman ‘kawanan garis lurus’.

    Sekalipun sudah minta maaf melalui akun yang sama, tetap saja residu negatifnya tak begitu saja lenyap, karena apa yang sedang mereka perankan adalah cermin kebencian membuncah para tokohnya, entah karena sakit hati atau kah iri tapi realitasnya mereka adalah sengkuni tak terbantahkan. Jika tokoh-tokoh NUGL tersebut menjunjung tinggi adab dan keilmuan, maka sudah tentu mereka berani diajak duduk bersama, bukan malah koar-koar ke sana kemari bagai anak kecil yang bodoh. Akhirnya jadilah komplotan liar bagai anak jalanan yang menyebarkan provokasi dan propaganda kurang ajar sebagai penghujat tanpa adab. Bukan kelompok pendebat dialogis yang mampu mengisi ruang ilmiyah yang menjadi warna pesantren sebagai adat maupun istiadat. NUGL terus menggiring kata di dunia maya mengubahnya seakan sepertinya fakta.

    Menggunakan karya mbah Hasyim Asyari sebagai amunisinya. Dan yang paling miris merubah dari informasi bias menjadi justifikasi tanpa konfirmasi kepada pihak yang dihakimi. Korbannya banyak dari para santri yang tak terlalu cerdas dengan keadaan dan rute perpolitikan kemaslahatan dan ghirah perjuangan NU. Setelah jadi korban mereka beramai rami ngeshare dan fitnahan tanpa pertimbangan dan perhitungan. Lihatlah bahaya setelah kreatifitas nakalnya pemotongan video itu apa yang dilakukan? tak ada tabyin dan klarifikasi.

    #HWMI #INFOKOMBANSERNU

  • ORANG NU WAJIB PERCAYA , SELAIN NU TERSERAH ANDA

    ORANG NU WAJIB PERCAYA , SELAIN NU TERSERAH ANDA

    Ahsun AY-Yang saya senang,
    sebenarnya bukan diangkatnya beliau
    jadi anggota watimpres oleh Pak Jokowi,

    Karena posisi seperti itu bagi saya tidak istimewa, presiden-presiden sebelumnya juga dekat dengan Habib Luthfi, kalau menerima beliau sudah jadi watimpres dari presiden-presiden sebelumnya. Sebab itu yang membuat saya senang adalah bersedianya beliau jadi watimpres.
    Itu yang membuat saya kaget.

    Kalau saya sih, keyakinan saya,
    kenapa dulu beliau tidak berkenan,
    sekarang beliau bersedia jadi Watimpres, karena sekarang sudah direstui Rasulullah saw (رسول الله صلى الله عليه وسلم). Kenapa Rasulullah saw merestui? Soal itu saya tidak berani berandai-andai. Yang pasti kalau Rasul merestui berarti Allah swt (الله سبحانه وتعالى) ridlo.

    Banyak kejadian seperti itu. Yang saya saksikan sendiri, ketika 2010 mentashih Sejarah Nabi karya tulis Purna Santri Lirboyo, ketika sampai pada kisah Gonorik; bahwa Rasulullah saw dikisahkan -menurut sebuah riwayat- beliau menerima wahyu palsu, dan riwayat itu dimuat dalam Thobari,

    Maulana Habib Luthfi “galau berat”
    antara bagaimana memposisikan diri dihadapan Imam Thobari, ulama agung,
    beliau tidak berani berkomentar, disisi lain mustahil Rasul menerima wahyu palsu.

    Biasanya beliau istirahat -setiap hari- bakda dzuhur sampai ashar, saat itu beliau bermimpi Rasulullah saw dihadapan beliau ada Imam Thobari, dan 4 sahabat besar Nabi, Rasulullah memuji sikap Maulana Habib Luthfi, yang begitu menghormati ulamaNya, yaitu Imam Thobari, namun tetap membela nama baik Nabi saw. Kata beliau semua yang hadir tersenyum kepada beliau.

    Ajibnya, biasanya ngaji dimulai jam 9
    kadang beliau turun jam 10, pada waktu itu beliau duduk ditempat ngaji jam 8, sehabis terawih, dan santri belum ada yang datang.

    Karena gembiranya bahwa beliau
    telah mengambil posisi yang tepat antara
    memuliakan Nabi dan menhormati ulamanya.

    Dan secara langsung sikap beliau
    diapresiasi Nabi saw. Kisah ini bisa dikonfirmasi ke banyak kawan-kawan Lirboyo angkatan 2010, tentu saja kawan-kawan ini sekarang sudah jadi kiyai di daerahnya
    masing-masing.

    Saya yakin di NU, banyak sekali
    kiayi yang di bimbing langsung Nabi saw.
    Maka dari itu para kiyai itu nguwalati. Prof Said Aqil Munawar, menceritakan guru beliau, “Syeikh Yasin Al-Fadani bertemu Rasulullah kapan saja syeikh Yasin mau…”, menayakan keabsahan suatu Hadis secara langsung kepada Rasulullah saw. Kisah ini juga bisa dikonfirmasi langsung, karena nara sumbernya, saksi hidupnya masih bersama kita.

    Ini ulama yang semasa dengan kita,
    bagaimana dengan syeikh Zakariya al-Anshari, Ibn Bajar Asqalani, Imam Suyuthi, Abdul wahab Syarani, Imam Ghazali, Imam Haramain, Imam Baqilani, Tabiin dan Sobatan Nabi? Makanya kiyai NU jarang yang melompati guru-guru mereka langsung ke para sahabat, karena pangkat ruhani mereka tak terbayangkan.

    Para ulama kita urusan ‘sepele’ saja
    menunggu restu Rasulullah saw, apalagi menjadi Wapres atau Watimpres, rasa-rasanya tidak mungkin atas kemauan sendiri.
    Mereka sudah tidak memiliki الغرض النفسية, kepentingan pribadi, atau tindakan-tindakan untuk memuaskan hasrat.

    Orang mungkin melihatnya, Habib Luthfi mendapat mandat dari pak Jokowi, tapi saya melihat beliau sedang menjalankan tugas baru dari Rasulullah saw.

    [Urun rembug mengungkapkan
    kebahagiaan yang sangat atas bersedianya beliau jadi Watimpres Pak Jokowi].