Kategori: Opini dan Analisis

Artikel opini, analisis mendalam, dan editorial tentang berbagai topik yang relevan.

  • SEDEKAH SELAMA 7 HARI DARI KEMATIAN

    SEDEKAH SELAMA 7 HARI DARI KEMATIAN

    SORBANSANTRI.COM

    asNUter, wp.sorbansantri.com –  

    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ (رواه البخاري، 11)

    Dari Abdullah bin Amr , “Ada seorang laki-laki bertanya pada Nabi , “Perbuatan apakah yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “Menyuguhkan makanan dan mengucapkan salam, baik kepada orang yang engkau kenal atau tidak.” (HR. al-Bukhari [11]).

    عَنْ سُفْيَانَ (الثَّوْرِيّ) قَالَ قَالَ طَاوُوْس إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أْنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامَ

    (المطالب العلية للحافظ ابن حجر 5 / 330 والبداية والنهاية لابن كثير 9 / 270 وشرح صحيح البخارى لابن بطال 3 / 271 وعمدة القاري شرح صحيح البخارى للعيني 12 / 277)

    “Imam Ahmad mengutip pernyataan Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut” (Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-Aliyah V/330, Abu Nuaim dalam Hilyat al-Auliya’ IV/11, Ibnu al-Jauzi dalam Shifat al-Shafwah I/20, Ibnu Katsir (murid Ibnu Taimiyah, ahli Tafsir) dalam al-Bidayah wa al-Nihayah IX/270, Ibnu Baththal dalam Syarah al-Bukhari III/271 dan al-Aini

    فَائِدَة رَوَى أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ فِي الزُّهْدِ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ عَنْ طَاوُسٍ أَنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ إِسْنَادُهُ صَحِيْح وَلَهُ حُكْمُ الرَّفْعِ وَذَكَرَ ابْنُ جُرَيْجٍ فِي مُصَنَّفِهِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عَمِيْرٍ أَنَّ الْمُؤْمِنَ يُفْتَنُ سَبْعًا وَالْمُنَافِقَ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَسَنَدُهُ صَحِيْح أَيْضًا وَذَكَرَ ابْنُ رَجَبَ فِي اْلقُبُوْرِ عَنْ مُجَاهِدٍ أَنَّ اْلأَرْوَاحَ عَلَى الْقُبُوْرِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ يَوْمِ الدَّفْنِ لاَ تُفَارِقُهُ وَلَمْ أَقِفْ عَلَى سَنَدِهِ (الديباج على مسلم بن الحجاج للحافظ جلال الدين السيوطي 2 / 490)

    “Ahmad meriwayatkan dalam kitab Zuhud dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dari Thawus bahwa ‘sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut’. Sanad riwayat ini sahih dan berstatus hadis marfu’. Ibnu Juraij menyebutkan dalam kitab al-Mushannaf dari Ubaid bin Amir bahwa ‘orang mukmin mendapatkan ujian (di kubur) selama 7 hari, dan orang munafik selama 40 hari’. Sanadnya juga shahih. Ibnu Rajab menyebutkan dalam kitab al-Kubur dari Mujahid bahwa ‘arwah berada dalam kubur selama 7 hari sejak dimakamkan dan tidak berpisah’. Tetapi saya tidak menemukan sanadnya” (al-Dibaj Syarah sahih

     

    • إِنَّ سُنَّةَ اْلإطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّة إلَى اْلآنَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لَمْ تُتْرَكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَإِنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي للسيوطي – ج 3 / ص 288)

     

    Al-Hafidz As-Suyuthi berkata: “Anjuran memberi makanan 7 hari, telah sampai kepada saya bahwa hal itu berlangsung hingga sekarang di Makkah dan Madinah. Secara Dzahir hal itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat hingga sekarang, dan mereka meneruskannya secara turun temurun dari masa Awal” (al-Haawii 3/288)

     

    Syaikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki berkata :

     

    اِعْلَمْ اَنَّ الْجَاوِيِّيْنَ غَالِبًا اِذَا مَاتَ اَحَدُهُمْ جَاؤُوْا اِلَى اَهْلِهِ بِنَحْوِ اْلاَرُزِّ نَيِّئًا ثُمَّ طَبَّخُوْهُ بَعْدَ التَّمْلِيْكِ وَقَدَّمُوْهُ ِلاَهْلِهِ وَلِلْحَاضِرِيْنَ عَمَلاً بِخَبَرِ “اصْنَعُوْا ِلاَلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا” وَطَمَعًا فِي ثَوَابِ مَا فِي السُّؤَالِ بَلْ وَرَجَاءَ ثَوَابِ اْلاِطْعَامِ لِلْمَيِّتِ عَلَى اَنَّ اْلعَلاَّمَةَ الشَّرْقَاوِيَ قَالَ فِي شَرْحِ تَجْرِيْدِ الْبُخَارِي مَا نَصُّهُ وَالصَّحِيْحُ اَنَّ سُؤَالَ الْقَبْرِ مَرَّةٌ وَاحِدَةٌ وَقِيْلَ يُفْتَنُ الْمُؤْمِنُ سَبْعًا وَالْكَافِرُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَمِنْ ثَمَّ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُطْعَمَ عَنِ الْمُؤْمِنِ سَبْعَةَ اَيَّامٍ مِنْ دَفْنِهِ اهــ بِحُرُوْفِهِ (بلوغ الامنية بفتاوى النوازل العصرية مع انارة الدجى شرح نظم تنوير الحجا 215-219)   

    “Ketahuilah, pada umumnya orang-orang Jawa jika diantara mereka ada yang meninggal, maka mereka datang pada keluarganya dengan membawa beras mentah, kemudian memasaknya setelah proses serah terima, dan dihidangkan untuk keluarga dan para pelayat, untuk mengamalkan hadis: ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far’ dan untuk mengharap pahala sebagaimana dalam pertanyaan (pahala tahlil untuk mayit), bahkan pahala sedekah untuk mayit. Hal ini berdasarkan pendapat Syaikh al-Syarqawi dalam syarah kitab Tajrid al-Bukhari yang berbunyi: Pendapat yang shahih bahwa pertanyaan dalam kubur hanya satu kali. Ada pendapat lain bahwa orang mukmin mendapat ujian di kuburnya selama 7 hari dan orang kafir selama 40 hari tiap pagi. Oleh karenanya para ulama terdahulu menganjurkan memberi makan untuk  orang mukmin selama 7 hari setelah pemakaman” (Bulugh al-Amniyah dalam kitab Inarat al-Duja 215-219). (abi sorban)

  • Gus Barok mengajak kader Ansor kecamatan Kemlagi Istiqomah Nderek Kiai

    Gus Barok mengajak kader Ansor kecamatan Kemlagi Istiqomah Nderek Kiai

    SORBANSANTRI.COM
    Gus Barok Mengahadiri kegiatan rutin MDS. Rijalul Ansor Kemlagi Mojokerto

    Mojokerto, wp.sorbansantri.com – Salah satu Pengurus Wilayah Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Jawa Timur Gus M. Ainul Mubarok, M.Pd hadir memberikan sambutan dalam acara kegiatan rutin Pimpinan Anak Cabang (PAC) Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto, di Masjid Miftahul Jannah Desa Mojorejo Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto, Ahad (9/1/2022).

    Salah satu gawagis dan pengajar di Pondok Pesantren Salafiyyah Fatchul Ulum Pacet, Mojokerto tersebut berharap agar Rijalul Ansor mengawal dan istiqomah menghidupkan amaliyah Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) tanpa meninggalkan bendera Ahlussunah wal Jamaah Annahdliyyah, yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Dengan bendera NU maka amaliyah yang dilakukan adalah pasti Aswaja Annahdliyyah, dan tetap berkomitmen menyambungkan sanad dengan Muassis NU, Masyayikh NU, Aulia, dan ahli Thariqah Ahlussunah wal Jamaah.

    “Kepada Gus Ibrahim, Gus Mu’amar dan yang lain-lain selamat berjuang, mengawal amaliyah Ahlussunah wal Jamaah, masyarakatkan amaliyah Ahlussunah wal Jamaah. Upayakan sampai ranting istighotsahan, ratiban, tahlilan, shalawatan semua, tapi tetap NKRI harga mati, Istiqomah Nderek Kiai” kata Gus Barok.”

    Pria yang juga aktif sebagai wakil sekretaris 1 Asosiasi Pesantren Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (RMI PWNU Jawa Timur)) ini juga merespon maraknya majelis- majelis ta’lim yang bermunculan di tengah masyatakat.

    ” Saat ini banyak sekali bermunculan majelis-majelis dzikir dan sholawat ditengah masyarakat, maka kita semua harus bisa memilih mana yang benar- benar aswaja an nahdliyyah dan mana yang bukan, karena biasanya hampir semua mengaku aswaja, tapi nyatanya bukan aswaja annahdliyyah yang tegas bersemboyan NKRI Harga Mati, Nderek Kiai Sampe Mati “, jelasnya.

    Oleh karena itu, dirinya mengimbau agar Rijalul Ansor istiqomah mengawal ajaran ahlussunnah wal jamaah annahdliyyah dengan memperbanyak kegiatan rutinan.

    “Jadi kita sabagai santri, pemuda NU, wajib ikut para ulama, masyayikh NU, untuk istiqomah membumikan, mengamalkan dan mengawal ajaran aswaja ini dengan lebih memperbanyak kegiatan kegiatan rutin di ranting-ranting”, pungkasnya.

  • Gus Baha’: Gak Usah Lebay, Biasa Saja

    Gus Baha’: Gak Usah Lebay, Biasa Saja

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Gus Baha’ sekalipun sering guyon, beliau juga sangat sering serius. Tapi setiap kali habis ngendikan serius, beliau lalu bercanda lagi.

    “Saya ini, guyon saja ada sanadnya…” ujarnya suatu saat sambil terkekeh, dan disambut gemuruh tawa para santrinya.

    Suatu saat, beliau berkata dengan serius. “Untuk kali ini, saya serius. Karena sudah berhubungan dengan tauhid. Ini penting saya paparkan di sini. Urusan tauhid itu dijaga betul. Jangan sembrono.

    “Saya sering mendengar ada orang bilang, ‘Saya jangan mati dulu, kalau saya mati, bagaimana dengan nasib istri dan anak saya’.

    Lho itu pernyataan apa?
    Kalau kamu mati ya mati saja. Sudah kehendak Allah. Diantar beberapa orang ke kuburan, setelah dikubur lalu dilupakan orang.

    “Nasib istri dan anakmu ya itu biar diurus Allah. Kan di kehidupan sehari-hari banyak kita temui, perempuan yang dulu miskin, sengsara, begitu ditinggal mati suaminya lalu menikah lagi dengan laki-laki lain hidupnya tambah baik, tambah kaya, tambah bahagia. Anaknya juga begitu, punya bapak baru yang lebih sayang, lebih terhormat, dan lebih kaya.

    “Gak usah drama dan lebay. Biasa saja. Kalau kamu mati ya mati saja. Kok seakan-akan kematianmu menyebabkan nasib orang lain makin buruk. Ada-ada saja.

    “Demikian juga dengan Pilpres. Kalau kamu mau nyoblos ya nyoblos saja. Gak usah sok-sokan bilang kalau Capres A terpilih lalu kamu akan sejahtera. Rakyat sejahtera. Mana ada rakyat atau orang sejahtera gara-gara presiden.

    “Apalagi sampai bilang, kalau tidak Si A yang jadi Presiden bagaimana nasib agama Islam?
    Itu pernyataan yang sembrono.
    Ngawur itu.

    Islam itu pernah ditinggal meninggal dunia Kanjeng Nabi, para sahabat, orang-orang saleh, dan Islam makin baik karena sudah kehendak Allah.
    Makin banyak penganutnya.
    Itu sudah ketetapan Allah.

    (asnuter)

  • Kitab Nazham “Sejarah Besar Nahdlatul Ulama” Karangan KH. Abdul Halim Leuwimunding

    Kitab Nazham “Sejarah Besar Nahdlatul Ulama” Karangan KH. Abdul Halim Leuwimunding

    Mojokerto, Sorban santri. Com – Ini adalah naskah kitab yang berjudul “Sejarah Perjuangan Kiai Haji Abdul Wahhab” karangan salah satu pendiri organisasi Nahdtalul Ulama (NU) yang berasal dari Pasundan (Jawa Barat), tepatnya dari Leuwimunding, Majalengka, yaitu KH. Abdul Halim (1898-1972 M).

    Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu-Indonesia beraksara Arab (Jawi-Pegon) dalam bentuk nazhaman (puisi). Meski berjudul “Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab” (KH. Abdul Wahhab Hasbullah), namun kandungan kitab ini mengungkapkan sejarah besar pendirian dan perjuangan NU dari masa ke masa.

    KH. Abdul Halim Leuwimunding adalah salah satu murid terdekat dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambak Beras Jombang), sekalus kader andalan beliau. Ketika ikut sama-sama membidani kehaliran NU pada tahun 1926 M di Surabaya, KH. Abdul Halim Leuwimunding menjadi salah satu pendiri termuda (selain KH. As’ad Syamsul Arifin, Asembagus Situbondo), sekaligus satu-satunya pendiri yang berasal dari Pasundan. Pada saat itu, KH. Abdul Wahhab Hasbullah menunjuk KH. Abdul Halim Leuwimunding sebagai katib tsani.

    Melalui kitab ini, sejarah organisasi Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah itu didedahkan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding dalam bentuk puisi secara runut, ringkas, dan kaya akan data serta informasi. Karena itu, keberadaan kitab ini menjadi sangat penting sebagai salah satu sumber utama sejarah besar NU yang langsung ditulis oleh salah satu pendirinya.

    Saya mendapatkan salinan naskah ini dari sahabat saya al-Fadhil Agus H. Muhammad al-Barra putra KH. Asep Saefuddin Halim, yang merupakan cucu dari pengarang kitab ini. Rencananya kitab ini akan dijadikan beliau sebagai bahan utama kajian disertasi doktoral beliau pada Departemen Filologi Universitas Padjadjaran Bandung.

    Pada kolofon, disebutkan penulisan kitab ini diselesaikan pada 12 September 1970 M (bertepatan dengan 11 Rajab 1390 Hijri). Kitab ini kemudian dicetak oleh Percetakan “Baru” yang terletak di Jalan Pajagalan 3, Bandung (Jawa Barat), dengan tebal 31 halaman. Tertulis di sana;

    ‎دافت إذن دي جيتاك ايني رواية # ياله تغكال دوابلاس ايتو تفات

    ‎سفتيمبر سمبيلان بلس توجوه فولوه # سيا مغهادف كجومباغ دغن سغكوه

    ‎مودهمودهان توهن ممبري منفعة # فدا رواية ايني يغ سيا سيغكات

    (Dapat izin dicetak ini riwayat # ialah tanggal dua belas itu tepat

    September Sembilan belas tujuh puluh # saya menghadap ke Jombang dengan sungguh

    Mudah-mudahan Tuhan memberi manfaat # pada riwayat ini yang saya singkat)

    Melihat tanggal penulisan kitab ini dalam tahun Hijriah, yaitu 11 Rajab 1390 H), tampaknya kitab ini ditulis untuk menyambut peringatan hari lahir NU yang ke-46. Organisasi NU sendiri diresmikan pada 16 Rajab 1344 Hijri (bertepatan 31 Januari 1926 Masehi).

    Dalam kata pengantarnya, KH. Abdul Halim Leuwimunding mengatakan jika banyak koleganya yang hendak mengetahui sejarah besar NU dari awal mula berdirinya, peran serta kiprahnya dalam perjuangan keagamaan Islam, kebangsaan Indonesia, serta kemanusiaan, hingga sampai pada tahun 1970 ketika karya ini ditulis dan NU sudah menjadi sebuah organisasi keislaman terbesar di Nusantara. Beliau menulis;

    ‎سيا بكين رواية فدا فوكويا # بياق تمان ايغين مغتاهوئييا

    ‎ايغين تاؤ اسال () برديرييا # هيغكا جدي فرتي بسارله ياتيا
    Sumber : https://www.facebook.com/1784976351/posts/10211145309226990/

    ‎ميلوروه سوده دي كنال ناميا # تيدأ اسيغ دونيا مغتاهوئييا

    ‎مكا يغ تيمفو برديري فرتاميا # هيا تيغكال يغ ميسيه امفات اوراغيا

    (Saya bikin riwayat pada poko[k]nya # banyak teman ingin mengetahuinya

    Ingin tau asal NU berdirinya # hingga jadi [se]perti besarlah nyatanya

    Menyeluruh sudah dikenal namanya # tidak asing dunia mengetahuinya

    Maka yang tempo berdiri pertamanya # hanya tinggal yang masih empat orangnya).

    KH. Abdul Halim Leuwimunding kemudian melanjutkan;

    ‎سيا يويون اياله دغن سعيران # بييار اناك2 تاؤ بركمبيرأن

    ‎مغتاهوئي علماء جارا برفيكير # مغتاهوئي تراديسي بهان فميكير

    ‎مورني تيدأ ترجامفور ايدي فنجاجه # سباب غرتي صفة منوسيا حرية

    (Saya susun ialah dengan si’iran # biar anak-anak tau bergembiraan

    Mengetahui ulama cara berpikir # mengetahui tradisi bahan pemikir

    Murni tidak tercampuri ide penjajah # sebab ngerti sifat manusia huriah [merdeka]).

    Dalam menulis kitab nazham sejarah besar NU ini, KH. Abdul Halim terlebih dahulu meminta izin dan restu dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (w. 1971 M) dan KH. Ahmad Syaikhu (w. ?), dan KH. Idham Cholid (yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU). KH. Abdul Halim Leuwimunding menulis;

    ‎سيا مينتا اذن فا كياهي وهاب # سباب ايتو كورو سيا وقتو طلب

    ‎مينتا اذن فا شيخو ياله سبابيا # سباب سورابيا مولائي برديرييا

    ‎جوكا مينتا اذن ككتوا عموم # فا كياهي إدهام فيمفنان هارس معلوم

    (Saya minta izin Pak Kiyai Wahhab # sebab itu guru saya waktu tholab (belajar)

    Minta izin Pak Syaikhu ialah sebabnya # sebab Surabaya mulai berdirinya (NU)

    Juga minta izin ke ketua umum # Pak Kiyai Idham (Cholid) pemimpin harus maklum).

    Dikatakan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding, bahwa dalam menyusun kitab nazham sejarah besar NU ini, dirinya bersandar pada muktamar-muktamar NU yang hingga pada masa itu sudah berlangsung 24 kali. Kesemua (24) muktamar itu selalu dihadiri oleh beliau. Karena itu, sebaga macam perkembangan, perubahan, dan keputusan NU dari masa ke masa dapat diketahui dengan sangat baik oleh beliau.

    KH. Abdul Halim Leuwimunding wafat dan dikebumikan di tempat kelahirannya di Leuwimunding, Majalengka, pada 11 April 1972 M (bertepatan dengan 26 Safar 1392 Hijri). Beliau meninggalkan sebuah pesantren dan institusi pendidikan yang masih lestari hingga kini, yaitu Sabilul Chalim. Salah satu putra beliau, KH. Asep Saeful Halim, tinggal dan berkarir di Surabaya dengan mendirikan pesantren unggulan Amanatul Ummah. KH. Asep Saeful Halim pernah menjabat sebagai ketua PCNU Surabaya dan Ketua PERGUNU PBNU

    Sumber : https://www.facebook.com/1784976351/posts/10211145309226990/

    (Anwar sorban)

  • Membangun Soliditas NU Brebes Pasca Muktamar Lampung

    Membangun Soliditas NU Brebes Pasca Muktamar Lampung

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh : H.M. Muhyidin,MH
    wp.sorbansantri.com – Perhelatan Akbar Muktamar NU ke 34 di Lampung paling dinanti oleh NU Brebes. Hajat besar nasional oleh PBNU bagi warga NU Brebes akan bisa menjawab bagaimana NU Brebes yang sebenarnya ? Tentu ukuran benar dan salah atau aspek legal standing suatu organisasi yang secara normatif harus dibuktikan dg SK. Kendatipun SK sudah diterbitkan oleh PBNU namun banyak anggapan yang muncul di masyarakat bawah (grass roots) ,bahwa SK itu bodong, palsu , tanda tangan scan dll.
    Sebagian besar masyarakat menunggu jawaban yang pasti adalah siapa yang akan menjadi peserta sah dalam Muktamar NU di Lampung. Peserta Muktamar NU di Lampung dari PCNU Brebes adalah H.Samsul Ma’arif selaku Ketua Tanfidziah, KH Labib Shodik selaku Rois Syuriah dan KH Nubkhatul Fikri mewakili Kyai Kultural NU Brebes. Beliau bertiga sebesar resmi sebagai peserta Muktamar delegasi dari PCNU Brebes.
    Karena itu Muktamar sebagai bukti dan fakta realita bahwa kekuatan SK sebagai legalstanding organisasi PCNU BREBES tidak bisa dianulir oleh surat keterangan ( Suket PWNU ) atau sebatas rekomendasi.
    Oleh karena itu, sesuai dengan instruksi dari PBNU yg mengharuskan NU dimanapun tempatnya dibutuhkan soliditas organisasi. NU sebagai ormas sosial keagamaan mengedepankan persatuan ummat dan ukhuwah nahdliyah sebagaimana termaktub dalam Qonun Asasi NU ( Mukodimah AD ART NU ) .
    PCNU BREBES sudah sah dan meyakinkan dengan kekuatan hukum formal serta bukti sebagai peserta Muktamar NU di Lampung Karena itu hembusan issue yang tidak bertanggung jawab yg menyatakan bahwa SK itu palsu dan bodong mestinya tidak diganti dengan isu lain yang kurang sehat.
    Mukhtamar ke 34 di Lampung adalah bukti kongkrit yang tidak bisa terbantahkan oleh alasan apapun sebgai jawaban yang meyakinkan bahwa kepemimpinan NU Brebes adalah sesuai SK PBNU.
    Oleh karena itu, Pasca Muktamar menjadi tanggung jawab organisasi utk mensolidkan seluruh MWC NU di seluruh Brebes dengan proses yg elegan sesuai dengan aturan organisasi. Adapun mekanisme Secara formal, PCNU BREBES bisa berkirim surat kepada seluruh MWC NU untuk mematuhi peraturan PBNU dan kembali membangun NU BREBES dengan remojong bahu mambahu dan apabila masih ada yg mbalelo dan tidak patuh terhadap keputusan PBNU, maka langkah yang dilakukan harus sesuai dengan AD/ART dan PO organisasi dan peraturan organisasi wajib di jalankan dengan sebelumnya melakukan langkah-langkah komunikatif. Tahapan berikutnya dengan surat peringatan sampai dengan pembekuan MWC utk dibentuk carateker dan harus melakukan konferensi MWC utk membentuk kepengurusan yg sah dan sesuai AD/ART.
    Hal ini harus kita lakukan, sebagai bagian dari konsolidasi organisasi.
    NU itu Jam’iyah ( organisasi ) bukan hanya jamaah ( kumpulan ), maka sistem, mekanisme dan prosedur organisasi sesuai dengan aspek yuridis organisasi kita jalankan dengan etika organisasi.
    Mari berkhidmah untuk NU Brebes, hilangkan fitnah untuk menjadikan NU berkah. Mari berorganisasi dengan tulus hati tidak dengan emosi agar mendapatkan ridlo Ilahi. (red)
  • Sejumput Tafsir Kekalahan Kyai Sa’id Agil Siradj

    Sejumput Tafsir Kekalahan Kyai Sa’id Agil Siradj

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Ketika seseorang sufi telah mencapai “Maqom Kewalian”, maqom dimana seseorang benar benar mencintai dan dicintai Allah, maka umumnya ia berusaha menyembunyikannya dari pengetahuan manusia, bahkan terkadang ia melakukan hal hal yang secara tafsir agama dilarang hanya untuk menutupi Maqom Kewaliannya itu.
    Salah satu syarat paling penting mencapai Maqom itu adalah tidak ada rasa sombong sedikitpun dan sekecil apapun dalam hatinya, tidak boleh merasa sedikitpun paling baik dari makhluk Allah yang lainnya bahkan dari tumbuhan sekalipun dan tidak memiliki bisikan hati sekecil apapun untuk menyakiti dan merendahkan mahluk Allah.
    Sebagai seorang yang memiliki kedalaman ilmu ilmu agama, khususnya dalam bidang Tasawwuf saya menyakini bahwa Kyai Sa’id Agil Siradj, telah mendekati atau bahkan telah sampai ke Maqom itu.
    Saya menduga, karena nya beliau ingin menutupi maqomnya itu dari khalayak, dan menjaganya dengan cara menghilangkan penyakit hati yang paling membahayakan, yaitu kesombongan, merasa paling benar, dan kehendak menyakiti juga merendahkan siapapun.
    Saya memperkirakan Kyai Sa’id Agil Siradj telah mengetahui bahwa beliau akan kalah dalam pemilihan ketua tanfidhiyah PBNU, namun beliau tetap maju. Mengapa?
    Diantara Alasan paling utama adalah untuk menghilang penyakit hati itu. Sehingga Maqom Kewaliannya tetap bisa terjaga.
    Alasan lainnya, tapi bagi saya tidak penting, adalah untuk memberikan pembelajaran pada warga NU bahwa untuk “berjuang” itu harus “berjuang” dan bahwa perjuangan itu selalu harus dijalankan dengan hati yang bersih dan tulus.
    Terima kasih Abahku Guruku Kyai Sa’id Agil Siradj, saya mencintai panjenengan. Saya juga bangga menyaksikan kebesaran dan kedewasaan ber NU melalui panjenengan dan para kyai lainnya
    Wallahu A’lam. (AufArulminan)
  • Gunung Semeru Goro-Goro Tanah Jawa Munculnya Ratu Adil

    Gunung Semeru Goro-Goro Tanah Jawa Munculnya Ratu Adil

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Dalam kitab kuno Tantu Pagelaran yang ditulis pada abad ke-15, dijelaskan asal usul adanya Gunung Semeru di Pulau Jawa. Sejarah dan mitos Gunung Semeru mengatakan konon dulunya Pulau Jawa sempat terapung dan terombang-ambing tak tentu arah di tengah lautan. Menurut kepercayaan yang beredar, saat itulah Dewa Siwa berusaha untuk “memaku” Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru ke Pulau Jawa.
    Hyang Siwa memindahkan Gunung Mahameru Bharatawarsa India ke Pulau Jawa dengan bantuan Dewa Wisnu yang menjelma sebagai kura-kura raksasa dan Dewa Brahma yang menjelma sebagai ular sangat panjang.
    Gunung Meru ini ditancapkan di sisi barat barat Pulau Jawa. Namun karena berat sebelah, maka sebagian Gunung Meru ditancapkan di sisi timur Pulau Jawa. Gunung di sisi barat Jawa kini diberi nama Gunung Pananggungan, sedangkan yang di sisi timur Jawa bernama Semeru atau Mahameru.
    Asal-usul nama Mahameru ini konon berasal dari bahasa sanskerta “Meru Agung”. Meru berarti pusat dari alam semesta, baik secara fisik maupun spiritual. Sedangkan Agung berarti sangat besar, atau bisa juga diartikan Maha. Dari sinilah kemudian puncak Gunung Semeru diberi nama Mahameru.
    Sejarah dan mitos Gunung Semeru berkisah bahwa kehadiran Mahameru di timur Jawa melahirkan gunung-gunung lain yang lebih kecil. Beberapa di antaranya Gunung Lawu, Gunung Kelud, Gunung Wilis, Gunung Kawi, Gunung Arjuna dan Gunung Kemukus. Mungkin karena inilah Gunung Semeru dianggap menjadi gunung yang paling agung. Bahkan sejarah dan mitos Gunung Semeru juga menceritakan bahwa gunung ini adalah bapak dari Gunung Agung Bali.
    Terlebih lagi menurut kepercayaan Hindu, pemindahan Gunung Meru India ke Pulau Jawa juga merupakan pemindahan kayangan para dewa dan nilai-nilai luhur dalam agama Hindu. Jauh sebelum Gunung Meru dipindahkan ke Jawa masyarakat Hindu percaya bahwa gunung ini merupakan tempat bersemayamnya para dewa.
    Gelar Gunung Para Dewa pun dilegitimasi oleh cerita Gunung Semeru sebagai area pertapaan Dewa Siwa. Untuk memperindah lokasi pertapaan, Dewa Siwa disebutkan membuat sebuah danau untuk pemandian. Konon, danau tersebut adalah Ranu Kumbolo. Kisah-kisah itu juga diperkuat dengan ditemukannya situs purbakala di sekitar Gunung Semeru. Yang paling dikenal adalah prasasti di Ranu Kumbolo dan Arcapada.
    Bagi para peneliti, gunung ini ibarat laboratorium arkeologi. Banyak situs purbakala di sana. Diidentifikasi ada sebanyak 123 situs purbakala di sana. Dan masih banyak yang lainnya yang belum di temukan.
    Wujud situs–situs tersebut mulai dari punden berundak, candi, petirtaan atau kolam pemandian kerajaan hingga goa pertapaan. Situs–situs itu berdiri berurutan mulai dari kaki hingga pinggang gunung sebelum puncak.
    Pandangan Hindu Siwaistis yang berpengaruh besar di Nusantara, termasuk Bali. Mereka percaya bahwa Dewa Siwa bersemayam di gunung tertinggi. Itu berarti di puncak gunung Mahameru (Himalaya) di India, atau pucak Gunung Semeru di Nusantara. Teks-teks Purana India yang tergolong kitab Upaweda, memang menyuratkan Tuhan Yang Mahatunggal bersemayam di puncak Mahameru dan dikenal pula dengan nama gunung Kailasa atau gunung Himawa, yang bersalju abadi. Di sanalah Siwa menurunkan ajaran-ajaran-Nya kepada sakti-Nya, Dewi Parwati, Sang Dewi Gunung.
    Kisah sejarah dan mitos Gunung Semeru yang masih dipercaya sampai saat ini adalah bahwa gunung ini merupakan gerbang portal terhubungnya bumi, tempat tinggal manusia, dan kayangan, tempat berkumpulnya para dewa.
    …
    Wabah yang seperti saat ini tengah melanda Indonesia, dulu pernah terjadi pada masa peperangan Diponegoro.
    Selama ini belum banyak yang mengetahui bahwa salah satu faktor Perang Diponegoro adalah karena adanya wabah.
    Pada Tahun 1821, empat tahun sebelum perang tersebut dimulai, pelayar dari Malaka datang ke Semarang, ternyata membawa wabah penyakit Kolera.
    Dalam waktu satu minggu, sebanyak 1275 orang meninggal karena wabah tersebut, dan penyakit itu juga bergerak ke Surakarta, Yogyakarta bahkan sampai ke Batavia pada masa itu.
    Wabah itu juga ditambah dengan krisis pangan dan kekeringan, muncul pergolakan sosial, terus sampai tahun berikutnya. Hingga terjadinya gunung api meletus, dan munculnya Pangeran Diponegoro yang dianggap sebagai Ratu Adil pada saat itu.
    Sedangkan saat wabah Virus korona di Indonesia, juga terjadi bersamaan dengan beberapa peristiwa, seperti adanya gunung meletus setelah kedatangan Raja Belanda, William Alexander.
    Banyak kemiripan antara kondisi saat ini dengan sejarah masa lalu, meskipun sejarah tidak bisa berulang, tapi polanya hampir sama.
    Diponegoro melancarkan perang yang sengit untuk sebuah harapan yang radikal seraya tahu bukan dia sang Ratu Adil yang mengatasi waktu. Ia hanya sarananya. Sebuah nujum menyebut, peran itu tak akan lama: sira srananipun/ mapan iku tan dawa…” (engkaulah sarananya/ meskipun hal itu tak akan lama).
    “Sekali berarti, sudah itu mati,” tulis Chairil Anwar dalam sajaknya, Diponegoro. Yang penting bukanlah hidup atau mati, melainkan membuat perjuangan berarti.
    Dengan itulah harapan mendapatkan “daya mesianik”: harapan akan Keadilan itu mampu melebur batas waktu. (sabdo palon)
  • Gus Muhammad Al-Barra Terpilih Jadi Ketua GP ANSOR Kab. Mojokerto 2021

    Gus Muhammad Al-Barra Terpilih Jadi Ketua GP ANSOR Kab. Mojokerto 2021

    SORBANSANTRI.COM

    Mojokerto, wp.sorbansantri.com – Gus Muhammad Al-Barra terpilih menjadi ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kab. Mojokerto periode 2021-2025.

    Pemilihan dilakukan secara voting dalam Konferensi Cabang (Konfercab) GP Ansor Kabupaten Mojokerto di Graha PC NU Kabupaten Mojokerto dipimpin Pengurus PW Jawa Timur GP Ansor Muhammad Ja’far Sodiq.

    Terdapat 4 nama calon ketua dalam pemilihan ini yaitu Gus Muhammad Mahbubullah, Gus Muhammad Al Barra, Gus Samsul Ma’arif dan Gus Ali Muhammad Nasih. Dari 4 calon tersebut yang mendapatkan jumlah dukungan suara terbanyak adalah Gus Muhammad Al Barra yang dengan kata lain menjadi ketua terpilih.

    Saat menyampaikan visi dan misinya, Gus Muhammad Al Barra mengajak Ansor untuk konsisten dalam mengawal Kiai dan NKRI. Dan juga sebagai penopang dalam memberantas paham-paham radikal dan paham-paham ekstrim demi menjaga keutuhan NKRI.

    Konfercab digelar 12 Desember 2021. Hadir dalam pembukaan hari ini Bupati Mojokerto Ibu Ikfina, Wakil Bupati Gus Muhammad Al Barra, Kapolres Kabupaten Mojokerto dan Kapolres Mojokerto Kota.(sfa sorban)

  • Ansor : Kader Militan dan Karbitan

    Ansor : Kader Militan dan Karbitan

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Organisasi Ansor merupakan Organisasi Pemuda terbesar di Indonesia, jumlahnya lebih dari tujuh juta pemuda.

    Banyak orang yang menganggap Ansor bukanlah apa-apa, namun ketika meraka sadar dan melihat sejarah, Pemuda Ansor lah salah satu organisasi pemuda yang berada digarisan terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan sampai saat ini keberadaan mereka terus menjaga, merawat keutuhan kemerdekaan dengan komintmen jiwa dan raganya.

    Kader Ansor tumbuh dan berkembang sejak dimunculkannya hingga saat ini ditopang oleh kader-kader yang terdidik dan terbina dari pengkaderan yang terstruktur dan sistematis, sehingga dari pengkaderan itu memunculkan kemantapan dalam mengemban marwah organisasi Ansor ini dengan penuh keteguhan dan dedikasi tinggi.

    Saat ini Gerakan Pemuda Ansor terlihat memiliki peran luar biasa di tengah masyarakat, dedikasi nyatanya bisa dirasakan langsung oleh lapisan masyarakat, keikhlasannya siang dan malam tanpa lelah telah dilakukannya, kebesaran namanya akhirnya dipandang memiliki pengaruh besar.

    Saat ini banyak yang menginginkan bersama dengan Ansor karena massa yang dimilikinya, pengaruh besarnya diharapkan menjadi modal untuk melenggangkan tujuan pribadinya, namun mirisnya mereka hanya memakai kebesaran organisasi ini sebagai wadah pencitraan dan popolaritas mereka.

    Ansor saat ini sangat mudah untuk dimasuki para politisi dan orang yang memiliki syahwat kekuasaan sebagai batu loncatan, pengkaderan sudah tidak jadi syarat wajibnya, yang penting pernah ikut kegiatannya, mereka akan secara otomatis menjadi kader, sehingga tidak salah kalau ada yang mengatakan kader karbitan, kader yang secara otomatis lahir dari kepentingan bukan secara tahapan demi tahapan yang dilakukan yang akan mengantarkannya sebagai kader Militan.

    Kader militan akan menjaga marwah Ansor menjadi lebih berwibawa sedangkan kader karbitan bisa jadi akan membawa Ansor menjadi organisasi transaksional. (hr laros)

  • KALAH JADI HEBAT MENANG JADI HEBAT

    KALAH JADI HEBAT MENANG JADI HEBAT

    SORBANSANTRI.COM

    (Catatan untuk konfercab GP Ansor Mojokerto) – oleh H. Imron Rosyadi (abah Im).

    Mojokerto, wp.sorbansantri.com – Konfercab yang akan berlangsung pagi ini terasa istimewa, yang tidak tertemukan pada era-era sebelumnya. dinamikanya begitu terasa, beberapa sosok istimewa tertantang untuk turun, menjadi yg terdepan dalam estafet kepemimpinan GP. Ansor Mojokerto. Suasana seperti ini layak kita syukuri, kita ambil sisi positifnya, kita ambil hikmah nya.

    Ada 5 sosok kader terbaik yg akan bersaing menduduki tampuk tertinggi di kepemimpinan GP Ansor Mojokerto akan datang, bahkan salah satunya adalah sosok no 2 di Mojokerto. Ada Gus Barra, ada Gus Fahmi, ada Gus Ali, ada Gus Mahbub serta Gus Syamsul. Semua adalah sosok calon yg potensial dan luar biasa, dengan latar kecakapan yang berbeda, semua salin melengkapi.

    Hadirnya 5 sosok tersebut menjadi asumsi2 yg menarik,

    1. Keberhasilan kaderisasi di GP Ansor
    2. Berhasilnya transformasi GP Ansor.
    3. NU tidak akan paceklik kader.
    4. Mojokerto tidak susah menemukan pemimpin nya
    5. Kesiapan NU untuk “merebut” kepemimpinan lembaga potensial di Mojokerto
    6. “Pertarungan” lebih dini lebih menggairahkan dan lebih mendewasakan

    1. keberhasilan kaderisasi GP. Ansor.

    Muncul nya 5 kader terbaik sebagai calon pemimpin nya adalah fakta tak terbantahkan suksesnya kaderisasi, keseimbangan “olah raga dan olah fikir”
    Suksesnya olah raga terindikasikan dengan sukses nya kirab panji2 NU pada HSN Tempo hari yang massif di berbagai kecamatan yang semua diinisiasi oleh Banser. Suksesnya olah fikir terukur dari pelaksanaan PKD di Ancab2, yang ditutup dengan pelaksanaan PKL beberapa yg lalu. Semua adalah proses yg membanggakan.

    2. Berhasilnya transformasi GP Ansor

    Adanya 5 calon pemimpin mengikuti bursa ketua GP ANSOR dengan latar belakang calon yang mumpuni, menjadi bukti ANSOR sangat menarik. Beberapa pemberitaan di media online maupun offline menunjukkan Ansor sebagai media darling, dan organisasi yg cukup diperhitungkan, ini sebuah proses yg tidak mudah.

    3. NU tidak akan paceklik kader

    Akhir2 sepanjang pantauan kami, tidak pernah menemukan ada kader2 minded, mantan2 ketua GP ANSOR menjadi ketua NU, sebagai bukti kesinambungan kader, fakta ini kedepan bisa jadi akan berubah, bila melihat peta kader di GP Ansor yg banyak tokoh2 potensial nya. Kesinambungan kaderisasi di NU akan menemukan jawabannya.

    4. Mojokerto tidak kesulitan menemukan pemimpin nya.

    Ketika ada perhelatan pemilihan pemimpin no 1 di Mojokerto, warga NU tidak susah menemukan dan menentukan pemimpin nya yg kadar ke NU annya 24 karat. Pemaksaan kader2 diluar NU, menjadi NU situasional, akan menjadi catatan masa lalu. Kita tidak sulit mencari calon-calon yang benar NU, optimis ini sangat rasional dengan hadirnya calon-calon ketua GP ANSOR ini.

    5. Kesiapan NU untuk mewarnai kepemimpinan lembaga potensial di Mojokerto

    Tidak lama lagi pemilu legislatif akan hadir.
    Kesiapan NU untuk mewarnai semua lembaga strategis (partai) akan mudah. Tradisi ke NU an akan tertemukan di lembaga luar NU, bukan sebaliknya, membawa tradisi luar NU ke NU. Terjadinya senergi meski beda kendaraan tapi mereka berasal dari induk yg sama. Apapun makanannya minumannya tetap tetap ……, apapun partainya asalnya tetap NU

    6. “Pertarungan” lebih dini lebih menggairahkan dan lebih mendewasakan

    Konfercab kali ini mgkin ada tarikan2 yg bernuansa politik praktis, ini tidak masalah, proses ini akan mendewasakan NU muda untuk biasa berbeda, menjadikan perbedaan sebagai kekayaan, menjadikan perbedaan sebagai kewajaran. Bila ajang pertarungan seperti ini terjadi lebih dini seperti saat ini, maka kedepan di perhelatan di induknya kelak NU, bisa lebih diminimalkan, bila memang harus terjadi kita semua lebih siap lewat pembelajaran dini ini

    Akhir nya selamat berkonfrensi, semoga terpilih best of the best, yg mampu membawa GP Ansor membumbung lebih tinggi.

    Wallahu a’lam bisshawab. (redaksi sorban)