Kategori: Opini dan Analisis

Artikel opini, analisis mendalam, dan editorial tentang berbagai topik yang relevan.

  • Menteri Agama Malaysia: Tak ada Tempat bagi Islam Salafi di Kuala Lumpur

    Menteri Agama Malaysia: Tak ada Tempat bagi Islam Salafi di Kuala Lumpur

    • Menteri Agama Malaysia Mujahid Yusof Rawa
      Menteri Agama Malaysia Mujahid Yusof Rawa

    Menteri urusan Agama Malaysia, Mujahid Yusof Rawa saat merespon statemen Zakir Naik, pemimpin Salafi India yang berdomisili di Malaysia mengungkapkan, Islam yang disebarkan Zakir Naik tidak mendapat tempat di negara ini.

    IRNA Selasa (25/9) melaporkan, Mujahid Yusof Rawa dalam sebuah seminar dengan tema Islam dan Kedalanya di Masyarakat Multietnis mengkritik pidato Zakir Naik terkait pelecehan terhadap seluruh agama.

    Seraya mengisyaratkan sejumlah statemen Zakir Naik, Rawa menjelaskan, tidak boleh melecehkan dan menghina agama lain baik itu di pidato maupun statemen. Yang seharusnya menurut Rawa adalah dakwa Islam harus dilakukan dengan metode yang moderat dan seimbang.

    SORBANSANTRI.COM
    Zakir Naik

    Menteri Agama Malaysia menilai rahasia kesuksesan dakwah Islam di masa lalu adalah tidak menyerang agaman lain. Ia menjelaskan, Islam agama kasih sayang dan tidak ada tempat pelecehan kepada agama lain di Islam.

    Naik diusir dari India tahun 2016 karena didakwa menyebarkan ideologi Salafi dan Wahabi. Ia juga didakwa melakukan pidato propagandis yang berujung pada serangan teror di Dhaka tahun 2016. Insiden teror tersebut menewaskan 22 orang. (MF)

    (SUMBER)

  • KYAI NAWAWI YANG MENEPATI JANJI

    KYAI NAWAWI YANG MENEPATI JANJI

    SORBANSANTRI.COMKisah pemakaman Syuhada Kemerdekaan

    Selasa, 23 Agustus 1946, Mojokerto diliputi duka. Seorang syuhada telah tiada, pergi menghadap padanya. Keinginannya untuk gugur di medan perjuangan tercapai dan kepergiannya diiringi berjuta doa.

    Kyai Nawawi adalah Rois Syuriah NU Mojokerto kedua setelah meninggalnya Kyai Zainal Alim. Kyai berpostur kecil itu dikenal memiliki keberanian yang besar. Meskipun menduduki berbagai jabatan tetapi dia tidak pernah tinggal diam di garis belakang. Beliau lebih senang ikut bertempur di garis depan untuk memberi tauladan pada anak buahnya, para anggota Lasykar Sabilillah Mojokerto yang dipimpinnya.

    Kerap kali ulama asal Desa Kemantren Mojokerto itu berkata, “Kalau kalian kurang giat saya pimpin, kalian akan saya tinggal. Saya ingin bertemu bidadari di akhirat nanti..”. Kalimat yang beliau tunjukkan dengan menolak mundur ketika lawan mengepungnya di dusun Botokan Desa Plembungan Sukodono Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 22 Agustus 1946.

    Pada tubuhnya terdapat beberapa tusukan bayonet, salah satunya tepat di lehernya. Darah segar terus mengucur dari tubuhnya. Kyai pemberani itu memang menjadi incaran lawan. Dan hari itu, di belakang rumah H. Nur Hasan, jenazahnya diketemukan.

    Jasad Kyai Nawawi berhasil diselamatkan setelah pasukan pejuang membunuh semua pasukan lawan yang mengeroyok sang kyai. Pada hari itu juga jenazahnya dibawa pulang ke Mojokerto.

    Gugurnya Kyai Nawawi cepat menyebar di daerah asalnya. Ribuan orang sudah menyambut memenuhi halaman stasiun Mojokerto. Ketika diturunkan dari gerbong kereta api yang membawanya dari stasiun Tarik langsung disambut dengan Isak tangis kesedihan. Cucuran air mata yang berbaur dengan tetesan darah segar yang masih keluar saat Kyai Nawawi dibawa ke langgar Jagalan, rumahnya.

    Esok pagi, pemakaman sudah ditetapkan. Keluarga beliau memilih komplek pemakaman umum Losari Gedeg sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Tawaran untuk dimakamkan di Taman Bahagia Mojokerto, sekarang disebut Taman Makam Pahlawan Gajah Mada, ditolak dengan alasan pesan Kyai Nawawi yang ingin dimakamkan bersama warga lainnya. Ya, beliau ingin tetap bersama warga lainnya sebagai orang biasa.

    Proses pemakaman berlangsung haru. Ribuan pelayat berdatangan dari berbagai penjuru. Saat keranda diberangkatkan, pengiring berjejal di sepanjang jalanan dari rumah hingga komplek makam yang berjarak sekitar 2 kilo meter tersebut. Saking banyaknya orang, untuk masuk dan menyaksikan pemakaman pun sulit sekali.

    Upacara pemakaman dipimpin oleh Kyai Abdul Ghani, penghulu Mojokerto. Para pejabat pemerintahan dan komandan militer ikut menyaksikan untuk memberi penghormatan terakhir pada Kyai yang berprofesi sebagai tukang jahit tersebut. Dan ribuan orang menjadi saksi bahwa beliau adalah syuhada yang gugur membela negeri. Kyai Nawawi menepati janji sekaligus menunjukkan bagaimana melaksanakan Fatwa Jihad gurunya, Mbah Hasyim Asy’ari.

    Besarnya perhatian rakyat Mojokerto saat pemakaman berlangsung menunjukkan betapa beliau sangat dihormati. Sebagai tokoh penting kala itu, Kyai Nawawi tidak segan mendampingi langsung para pejuang republik bertempur di garis depan. Wafatnya beliau sedemikian heroik dengan tidak menyerah meski telah dikepung musuh. Pada akhirnya, seperti yang dinadzarkannya, Kyai Nawawi memenuhi takdirnya sebagai syuhada, syahid di medan laga

    Untuk mengenang jasa Kyai Nawawi dibuatlah monumen sederhana di lokasi gugurnya sang Syuhada. Monumen itu dibuat atas prakarsa Kyai Achyat Chalimy, Ketua NU Mojokerto yang sekaligus meresmikannya dengan menandatangani prasasti.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • Yang terlupakan dan dilupakan oleh “Mereka Disana”

    Yang terlupakan dan dilupakan oleh “Mereka Disana”

    Infokom NU Mojokerto: Kami tetap ber-ziarah meskipun pengikut engkau tidak men-ziarahimu

    Karena kami tahu engkau pahlawan Bangsa yang sealiran,seaqidah dan seguru dengan maha guru Kami. Meskipun generasi pengikut engkau telah sedikit demi sedikit membelokan ajaran Aqidahmu. Semoga Engkau dikumpulkan dan dipertemukan dengan Maha guru kami ditempat yang sangat Mulia. AMIN….

    AL FATIHAH.

    By.Chisbulloh/Irul infokom

  • SENJATA YANG BIKIN JERA LASKAR HIZBULLAH DI PERTEMPURAN PACET

    SENJATA YANG BIKIN JERA LASKAR HIZBULLAH DI PERTEMPURAN PACET

    Tidak menyangka jika mortir yang sudah diarahkan pada posisi lawan itu tidak bisa jalan. Tiba tiba ledakan terjadi dan laras senjata pelontar mortir itu meledak keras. Akibatnya, lima orang pejuang yang ada di dekat ledakan mortir harus kehilangan nyawa. Mereka gugur bukan karena peluru musuh, nyawa para pejuang melayang sebab senjata buatan sendiri.

    Kisahnya….

    Udara dingin menyelimuti kawasan Pacet Mojokerto. Pada gelap malam beberapa orang mengendap-endap ditepian jalan. Seolah tidak ingin langkahnya terdengar orang lain. Sebentar lagi matahari akan muncul dari balik pepohonan di Pacet Mojokerto. Matahari saat itu juga menandakan bahwa tahun sudah berganti, tanggal 1 Januari 1949. Suasana senyap karena semalam ada pesta di kota kecil di lereng gunung Welirang yang berhawa dingin. Serdadu Belanda yang ada di sana masih lelap dalam mimpi setelah menggelar pesta akhir tahun, atau mungkin mereka sedang mabok minuman keras yang disajikan dalam pesta tersebut. Satu regu serdadu dibawah pimpinan Kapten Schumacher tidak menyadari jika mereka telah dikepung para pejuang.

    Pada kegelapan malam, kesatuan tempur Batalyon 42 yang lebih dikenal dengan nama Bn Mansyur menyiapkan posisi. Sebuah bangunan villa yang digunakan sebagai markas oleh KNIL dikepung rapat. Selain itu, Mayor Mansyur juga telah membagi anggotanya menjaga ruas jalan dari arah Mojokerto dan Mojosari ke arah Pacet. Hari itu kesatuan tempur yang berasal dari Lasykar Hizbullah ingin memberi kado tahun baru pada musuhnya, penjajah Belanda. Selain itu, Mayor Mansyur Solikhi, komandan batalyon 42 juga ingin membalas serangan udara Belanda di Gumeng yang menyebabkan gugurnya puluhan orang pejuang.

    Ketika fajar mulai menyingsing, aba-aba memulai tembakan diberikan. Suara tembakan dengan peluru yang diarahkan pada markas serdadu Belanda membuat penghuninya gelagapan. Beberapa diantara serdadu yang rata rata berusia muda itu tumbang tersambar peluru pejuang. Beberapa diantara mereka berhasil meraih senjata dan mencoba memberi perlawanan dengan membalas tembakan. Namun efek minuman keras belum sepenuhnya hilang sehingga bidikan mereka tidak tepat sasaran. Dalam kondisi tubuh setengah sadar semacam itu maka sebagus apapun senjata mereka menjadi tidak berguna. Asrama serdadu Belanda menjadi tempat mereka meregang nyawa. Satu persatu mereka tewas tepat di hari pertama tahun 1949. Tidak sampai satu jam tembakan dari markas lawan terdiam. Para pejuang mulai maju memeriksa keadaan, tetap dengan kesiagaan. Sebagian lawan yang mencoba bersembunyi berhasil diketahui dan dihajar tembakan juga. Seluruh serdadu Belanda di Pacet tumpas.

    Rupanya, sebelum meninggal dunia, mereka telah menghubungi Markas induk pasukannya. Maka tidak lama kemudian datanglah bantuan dari arah Pangeran dan juga dari jurusan Mojosari. Tujuannya jelas untuk menyelamatkan kawannya yang sedang diserang pejuang Hizbullah itu. Kedatangan mereka segera dihadang oleh para pejuang yang memang sudah menduga akan kehadiran mereka.

    Dari arah Pugeran, pasukan Belanda datang dengan mengendarai beberapa truk. Ketika sampai di desa Kemiri pejuang menyambutnya dengan tembakan dari senjata tinggalan Jepang dan senjata rampasan lawan. Truk musuh berhenti dan penumpangnya berhamburan mengambil posisi. Tetapi situasi dan tempat yang diambil pejuang lebih menguntungkan. Dengan posisi terbuka dengan mudah musuh menjadi sasaran tembakan. Mereka kemudian mundur dengan membawa serdadu yang luka atau mungkin juga meninggal dunia.

    Pertempuran hebat terjadi pada jalur arah Mojosari. Pasukan Belanda datang bukan hanya mengendarai truk, mereka juga membawa tank dan panser. Para pejuang menggunakan batu besar dan pematang sawah.sebagai perlindungan dengan gencar menghujani tembakan. Sebuah senjata kaliber 20 mm berhasil menghambat laju lawan. Panser yang berjalan di depan pasukan terpaksa berhenti oleh tembakan senapan mesin pejuang. Tembak menembak dengan sengitnya terjadi. Hari mulai siang, pertarungan senjata belum juga berhenti.

    Tiba-tiba di langit Pacet menderu dua pesawat pemburu Mustang buatan Amerika yang dimiliki angkatan udara Belanda. Melihat itu, senapan mesin 20 mm segera diarahkan ke udara. Peluru menghambur dari pesawat itu menghujani para pejuang. Meski merepotkan namun peluru lawan tidak ada yang menemui sasaran. Ketika pesawat dengan cocor dicat merah itu berputar dan siap kembali menyerang, satu diantaranya jatuh diterjang peluru kaliber 20 mm. Satu lainnya memilih kembali ke pangkalannya di Surabaya.

    Konsentrasi pertempuran kembali ke daratan. Pasukan lawan mulai menggunakan meriam untuk mendesak posisi pejuang republik yang bertahan dibalik bebatuan. Mendapat serangan senjata berat, para pejuang tidak mau kalah. Kompi pejuang yang menghadang itu juga memiliki sebuah pelontar mortir. Senjata itu didapatkan dari pembagian markas tentara pimpinan Mayor Jendral Soengkono bikinan pabrik Mrican Kediri. Beberapa orang pejuang menyiapkan mortir. Setelah bidikan dianggap tepat, peluru mortir dimasukkan ke larasnya. Sayang peluru mortir tidak terlontar, bahkan peluru itu meledak pada larasnya. Lima orang pejuang gugur dalam insiden tersebut.

    Akhirnya, ketika hari menjelang senja, musuh memilih mundur balik ke Mojosari. Pertempuran yang berlangsung sepanjang hari itu dimenangkan pejuang dari batalyon Mansyur. Kemenangan gemilang karena berhasil menguasai Pacet. Selain itu, sebuah pesawat cocor merah dapat ditembak jatuh. Pesawat itu cukup ditakuti sebab telah membawa banyak korban pada pejuang, salah satunya di Gumeng. Keberhasilan menembak jatuh pesawat itu menjadi sebuah kebanggaan. Tentu mereka juga bangga dapat mengalahkan puluhan serdadu musuh yang ditempatkan di Pacet. Korban lain, baik luka ataupun meninggal di Kemiri maupun Pandanarum tidak diketahui karena musuh bisa mengevakuasinya.

    Seharusnya tidak ada korban jiwa dari batalyon Mansyur seandainya tidak ada insiden ledakan mortir milik sendiri. Karena kecelakaan itu Mayor Mansyur tidak mau lagi menggunakan senjata pelontar mortir buatan Mrican tersebut. Para pejuang dari Hizbullah jera dan khawatir peristiwa semacam itu terulang lagi. Mereka jelas tidak ingin ada lagi korban sia-sia.

    Senjata pelontar bom buatan Mrican itu memang dimodifikasi dari bahan yang ada disekitarnya. Komponen tidak dibuat khusus untuk kebutuhan senjata. Larasnya mengginakan bekas tiang telepon yang dipotongbyang kadang tidak presisi dengan ukuran pelurunya. Meskipun dikerjakan dengan perlatan seadanya oleh para pelajar sekolah teknik, mortir semacam itu cukup membantu mencukupi kebutuhan senjata bagi prajurit republik. Insiden pecahnya laras mortir mungkin bukan yang pertama. Mungkin juga di kesaruan lainnya mortir Mrican bisa beroperasi tanpa kendala

    Pada waktu membuat buku tentang Hizbullah Mojokerto, saya penasaran pada bentuk fisik mortir Mrican. Dan baru tahu saat berkunjung ke museum brawijaya Malang. Ada satu mortir buatan benkel PG Mrican dipajang di sana.

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • ANSOR BANSER LUAR BIASA KATA GIBRAN_RAKABUMING

    ANSOR BANSER LUAR BIASA KATA GIBRAN_RAKABUMING

    InfokomBanserNU_ Post dalam Twiter  @gibran_rakabuming Anak Presiden Joko Widodo.

    Jelas sebuah kebanggan saya diangkat jadi anggota kehormatan Banser Surakarta. Tapi, status itu menuntut tanggung jawab yang besar dan berat, karena ada kesejarahan jamaah dan jam’iyyah NU sebagai salah satu unsur penting pendiri dan penjaga kelangsungan NKRI.

    Peristiwa penting itu terjadi tadi malam, pada acara penutupan Diklatsar Banser-Ansor, Minggu kemaren di Jalan Wanda Maramis, Nusukan, Banjarsari.

    Saya, seperti juga Banser yang lain harus bisa menjadi sahabat siapa saja yang menyintai Indonesia, dengan menjaga jarak yang sama dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan latar belakang jenis kelamin, etnis, agama, kesukuan dan sebagainya.

    Saya rasa, sahabat-sahabat Banser dan Nahdliyyin sudah jauh lebih lama mengamalkan ajaran-ajaran para kiai dan pendiri NU.Mari galang terus persaudaraan, menjadi benteng bangsa dan negara dari unsur-unsur radikal yang berpandangan sempit demi kelangsungan peradaban manusia yang adil dan setara.

    Semoga kita semua menjadi manusia yang bermanfaat, menjalankan perintah Allah untuk menjadi pribadi-pribadi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.Jelas sebuah kebanggan saya diangkat jadi anggota kehormatan Banser Surakarta. Tapi, status itu menuntut tanggung jawab yang besar dan berat, karena ada kesejarahan jamaah dan jam’iyyah NU sebagai salah satu unsur penting pendiri dan penjaga kelangsungan NKRI.

    Peristiwa penting itu terjadi tadi malam, pada acara penutupan Diklatsar Banser-Ansor, Minggu kemaren di Jalan Wanda Maramis, Nusukan, Banjarsari.

    Saya, seperti juga Banser yang lain harus bisa menjadi sahabat siapa saja yang menyintai Indonesia, dengan menjaga jarak yang sama dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan latar belakang jenis kelamin, etnis, agama, kesukuan dan sebagainya.

    Saya rasa, sahabat-sahabat Banser dan Nahdliyyin sudah jauh lebih lama mengamalkan ajaran-ajaran para kiai dan pendiri NU.

    Mari galang terus persaudaraan, menjadi benteng bangsa dan negara dari unsur-unsur radikal yang berpandangan sempit demi kelangsungan peradaban manusia yang adil dan setara.

    Semoga kita semua menjadi manusia yang bermanfaat, menjalankan perintah Allah untuk menjadi pribadi-pribadi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

    (red_abi)

  • GUS BAHA MENERANGKAN CIRI-CIRI AHLI SUNNAH ZAMAN AKHIR

    GUS BAHA MENERANGKAN CIRI-CIRI AHLI SUNNAH ZAMAN AKHIR

    InfokomBanserNU- Dalam pengajiannya gus Baha’ ( KH. Ahmad Bahauddin bin K.H. Noer Salim) menerangkan tentang ciri Ahlussunnah Wal Jamaah di zaman akhir.

    Ciri Ahli Sunnah di zaman akhir itu, dalam aqidah
    – Menganut Abu Hasan Al-Asyaari dan
    – Menganut Imam Abu Mansur Al Maturidi.

    Dalam fiqih mengikuti salah satu mazhab 4 yaitu:
    – Imam Abu Hanifah,
    – Imam Malik,
    – Imam Syafii atau
    – Imam Ahmad bin Hambal.

    Dan dalam tasawuf mengikuti salah satu mazhab antara
    – Abbul Qosim Al-Juanidi atau
    – Imam Ghozali.
    .
    .
    Mengapa menjadi definisi begitu?
    Karena, dulu firqoh di arab banyak yang menentang,
    “Itu pengertian apa?”
    Nabi tidak pernah menjelaskan begitu,
    Kalian jangan terjebak dengan ucapan mereka, bahwa nabi tidak pernah mengeluarkan definisi tentang ciri Ahlussunnah Wal Jamaah seperti itu,
    Ya tentu nabi tidak akan mengatakan seperti itu, karena di zaman nabi belum ada imam Ghozali, belum ada Abbul Qosim Al Junaidi.
    Tapi kita percaya dengan definisi seperti itu. Mengapa?
    Karena kita percaya bahwa Aswaja itu, orang yang seperti di katakan Nabi:

    _“Maa ana alaihil yauma wa ashabi.”
    “Yaitu orang yang mengikuti perilaku saya dan mengikuti para sahabat saya.”

    Itu teks yang disampaikan Nabi,
    Lalu kenapa kita harus menyebut nama imam-imam kita dan sanad kita?
    Karena kalau kita tidak menyebut sanad,
    akan muncul pertanyaan,
    “Kamu ko bisa tahu sahabat melakukan itu kata siapa?”
    Jawabnya “Kata guru saya.”
    Kita kan tidak bisa langsung mengatakan “kata Nabi.”
    Kata Nabi itu yang meriwayatkan siapa?

    Contoh Imam Bukhori,
    Imam Bukhori itu siapa?
    Beliau itu muridnya Imam Syafii,
    Karena Imam Bukhori itu periodenya setelah Imam Syafii,
    Saya hafal sanadnya Imam Bukhori sampai ke Rasulullah.
    Dan saya ( gus Baha ) punya sanad sampai Imam Bukhori.

    Misalkan kalian ditanya, “kamu tahu Amerika?”
    Terus kamu jawab “Tahu.”
    “Ko bisa tahu Amerika?
    Dan kamu jawab “lihat di TV.”
    Televisi saja kamu jadikan sanad ko Imam Syafii tidak jadi sanad.

    Misalkan lagi,
    “Kamu ko tahu kalau ketua DPR tersangka?”
    “Kata TV”.
    Sanadmu dari mana?
    “Kan dari TV.”
    Dan misal kamu bilang “Tahu sendiri” itu tidak mungkin,
    kan tidak mungkin kamu tahu sendiri ketika ada sidang di KPK.

    Contoh lagi, misalkan kamu ditanya suatu hal, terus kamu jawab “Nabi itu berkata gini, jadi tak perlu ulama, harus ke Nabi saja langsung”
    Lha kamu ko tahu kalau nabi bilang seperti itu kata siapa?.
    Apa kamu mau jawab lewat mimpi?
    Akhirnya mau tidak mau kamu harus menyebutkan guru.

    Makanya ada tradisi menyebut sanad, atau disebut juga menyebut ulama,
    Tapi orang-orang sekarang juga kadang bodoh,
    Ada orang yang bilang gak usah lewat ulama, yang penting langsung ke Nabi,
    Ulama bisa salah, kalau Nabi kan tidak bisa salah,
    Lha kamu itu ko bisa bilang kalau Nabi tidak bisa salah kata siapa?
    Jawabmu pasti “kata ulama atau kata guru.”
    Padahal katanya tidak percaya ulama?

    Makanya kalau bodoh jangan kebangetan,
    Apalagi sudah bodoh ngajak-ngajak lagi,
    Dan saya juga heran dengan orang model seperti itu,
    Bodoh kok bisa seperti itu sanadnya gimana?.

    Itulah mengapa, masyhur di dalam ilmu thariqah dan ilmu hakikat pepatah yang bilang begini
    “Laula Murobbi Lamaa arofnaa Robbi,
    wa laulal ulama lamaa arofnal ambiya”

    “Andaikan tidak ada yang mendidikku,sanad,
    tentu aku tidak tahu Tuhanku itu siapa,
    Dan andaikan tidak ada ulama,
    tentu kita tidak tahu para Nabi”.

    Kita mengetahui Tuhan karena ada yang mengajari,
    Kamu tidak mungkin bisa mengetahui Tuhan secara langsung.!
    Tapi diajari guru, bahwa Allah itu wujud, qidam baqa’ dst.
    Anehnya kadang dikenalkan oleh gurunya, terus lama-lama sombong, malah mbantah gurunya,
    Tapi itu sekedar sombong saja, hakikatnya tetap saja mengetahui Allah itu lewat guru.

    Misalnya lagi kamu tahu Nabi lewat saya,
    Saya ( gus Baha ) itu muridnya Kyai Maimoen,
    Kyai Maimoen muridnya Kyai Zubair,
    Kyai Zubair muridnya Kyai Faqih Maskumambang,
    Kyai Faqih muridnya Kyai Mahfudh Tremas,
    Kyai Mahfudh itu murid Sayyid Abu Bakar Satos yang mengarang kitab I’anatut Tholibin,
    Beliau muridnya Sayyid Zaini Dahlan,
    Muridnya Syekh Ustman Addimyati terus sampai

    (red.abi)

  • Hati-hati Mencari Ustadz PASAR GELAP USTADZ oleh Rumaidi Ahmad

    Hati-hati Mencari Ustadz PASAR GELAP USTADZ oleh Rumaidi Ahmad

    InfokomBanserNU- Saya berkali-kali menyampaikan, hati-hati mencari ustaz. Jangan sembarangan mengundang orang untuk mengisi pengajian, memanggil dia ustaz, apalagi menyebutnya sebagai ulama.

    Saya perlu semakin serius mengingatkan hal ini. Karena semakin banyak orang-orang yang hanya bermodal bisa pidato, berbaju gamis, mengumpat sana-sini diundang kemana-mana, dipanggil ustaz. Hafal satu dua ayat al-Quran dan hadis cukup menjadi modal.

    Pasar gelap ustaz ini biasanya dihuni dua kelompok besar. Pertama, para muallaf. Beberapa muallaf, meskipun tidak punya ilmu keislaman yang cukup, tiba-tiba dia menjadi ustaz karena modal bisa pidato. Yang paling banyak diceramahkan biasanya menjelek-jelekkan keyakinan lamanya. Dia ingin menunjukkan sekarang sudah mendapat “hidayah”. Tak lupa, biasanya juga menebar ketakutan, bahwa agama lamanya itu menjadi ancaman terhadap Islam. Kalau melihat orang seperti ini, saya sering jengkel sendiri, membayangkan kalau ada orang keluar dari Islam kemudian menjelek-jelekkan Islam dalam komunitas agamanya yang baru. Orang-orang seperti ini yang biasanya menaikkan ketegangan muslim dan non muslim.

    Kedua, orang-orang yang dulu jauh dari Islam, suka maksiat dan sebagainya, kemudian berubah menjadi lebih religius, mengubah penampilan dan sebagainya. Orang-orang seperti ini biasanya menyebut diri sebagai orang yang sudah “hijrah”. Modal kegelapan masa lalu dieksploitasi, seolah sekarang sudah benar-benar hidup dalam terang. Dengan modal bisa pidato, punya tim media sosial untuk menaikkan popularitasnya, mereka tiba-tiba dipanggil ustaz dan dijadikan rujukan dalam beragama.

    Dua kelompok ini, intinya sama. Mereka tidak punya otoritas keagamaan, tapi dimanjakan oleh situasi. Mareka memanfaatkan media sosial untuk marketing. Yang saya heran, orang-orang seperti ini banyak yang tidak tahu diri soal kapasitas keislamannya.

    Pasar gelap ustaz ini bisa terjadi karena dua hal. Pertama, Islam memang longgar dan tidak ada lembaga yang melakukan “stadarisasi” keulamaan seseorang. Pasar ustaz dalam Islam sangat terbuka. Semua sangat tergantung pada “pasar”. Jika Anda populer, ceramahnya disukai orang, maka Anda bisa masuk dalam pasar keulamaan.

    Kedua, sekarang banyak sarana yang bisa digunakan untuk branding. Jika dulu, untuk menjadi ustaz atau ulama membutuhkan waktu untuk diakui masyarakat, sekarang pengakuan itu bisa dilakukan dengan instan. Yang penting populer di medsos, sudah cukup.

    Siapa yang menjadi korban dari pasar gelap ini? ya masyarakat Islam sendiri. Orang-orang ini bicara atas nama Islam, padahal dia sama sekali tidak punya otoritas ilmu dan moral. Saya tak perlu menyebut nama sebagai contoh. Sekarang ini, masyarakat Islam suka marah-marah, sebagian merupakan hasil dari pasar gelap itu. Benar kata ahli yang mengatakan, di era disrupsi informasi maka akan lahir era matinya keahlian (death of expertise). Yang menjadi rujukan masyarakat bukan orang-orang yang punya otoritas, tapi orang yang terkenal, terutama di media sosial. Lihat saja survey-survey tentang tokoh-tokoh agama yang mereka ikuti, sebagian adalah orang-orang yang lain di pasar gelap ustaz itu.

    Masyarakat harus dididik agar mempunyai literasi keulamaan. Kalau mau menuntut ilmu keislaman, belajarlah pada orang-orang yang gurunya jelas, sanad ilmunya juga jelas. Jangan terpesona dengan tampilan luar. Saya senang, sekarang masyarakat sudah mulai kritis dan berani mempertanyakan ustaz yang menebarkan kebencian dimana-mana. Hanya masyarakat seperti ini yang bisa menghentikan pasar gelap itu.

    Tebet, 21 Pebruari 2019

    Rumadi Ahmad
    Ketua Lakpesdam PBNU

    (LDNU Banjar)

  • Kegiatan rutin LMDS-RA PAC GP Ansor kecamatan Ngoro

    Kegiatan rutin LMDS-RA PAC GP Ansor kecamatan Ngoro

    Sorrbansantri.com – Rijalul Ansor adalah bagian dari Ansor yang ada merupakan Banom dari Nahdlatul Ulama’ yang bergerak di bidang dakwah dan syiar agama lebih-lebih di ke-NUan.

    Hari Sabtu malam Minggu tanggal 20-2-2021 kegiatan rutin LMDS (Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat) yang bertempat di Masjid Darut Taqwa Dusun Kontrak Desa Ngoro, dalam rutinan ini dihadiri oleh seluruh Banom NU baik IPNU, IPPNU, ANSOR, FATAYAT, MUSLIMAT yang tersebar di seluruh Kecamatan Ngoro juga tim keamanan dari ratusan anggota Banser Satkoyon kecamatan Ngoro, selain dari itu tampak hadir juga tamu undangan dari Rois syuriah MWC NU Ngoro Kyai Marzuki Nur beserta jajarannya, juga turut mengundang Romo Kyai Khusain Ilyas, Kyai Muhajir sebagai pengisi maulidatul Hasanah,

    Acara pembukaan diisi dengan Pembacaan Ratib al-haddad Istighosah dan tahlil yang dipimpin oleh Gus Miftah, dilanjut dengan acara pemberian santunan kepada anak yatim yang di kordinir oleh gus Sujono selaku ketua umum Rijalul Ansor Kec Ngoro.

    Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Ngoro sahabat Saufi, S.Kom berpesan kepada para anggotanya “untuk selalu mematuhi instruksi pemerintah dengan menjalankan kegiatan sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan oleh petugas gugus Covid-19”

    Dalam Maulidatul Hasanah yang pertama oleh KH Muhajir, beliau menyampaikan bahwa “kita harus sering-sering membaca shalawat Nabi sebagai bekal untuk menangkal penyebaran virus Corona yang sedang melanda negara kita ini”
    Mauidhotul Hasanah yang kedua yang disampaikan oleh Romo Kyai Husein Ilyas,beliau berpesan “agar kita selalu hormat dan patuh kepada kedua orang tua kita lebih lebih kepada ibu kita karena ridhonya orang tua ridho Allah juga”
    acara terakhir di tutup dengan doa yg di pimpin oleh Kyai Marzuki Nur.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Dari keseluruhan rangkaian acara ditutup dengan gelar apel pasukan Banser sebagai tanda selesainya tugas untuk pengamanan selama acara LMDS berlangsung.yang langsung dipimpin oleh Sahabat Api’i selaku Kasatkoryon Banser Kec.Ngoro. (Hasan.sorban)

  • Mengenal Pencipta Shalawat Nahdliyyah

    Mengenal Pencipta Shalawat Nahdliyyah

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh Abdul Moqsith Ghazali

    wp.sorbansantri.com – Belakangan warga NU luar Jawa Timur sudah mulai tahu nama pencipta Shalawat Nahdhiyah, yang tak lain dan tak bukan adalah KH Hasan Abdul Wafi. Siapa KH Hasan Abdul Wafi? Mari saya jelaskan secara singkat. Ia lahir di Pamkesasan Madura tahun 1923 dan wafat di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur pada Rabu, 31 Juli 2000. Lahir dari pasangan KH. Miftahul Arifin ibn Kiai Hadu dan Nyai Nyai Lathifah ibn Kiai Jamaluddin ibn Kiai Ruham.

    Berbagai sumber mengisahkan bahwa Kiai Hadu dan Kiai Ruham adalah saudara kandung. Dan kita tahu bahwa Kiai Ruham adalah kakek dari KH. R. As’ad Syamsul Arifin ibn KH.R Syamsul Arifin ibn Kiai Ruham (1841-1951). Dengan demikian, jika dirunut dari jalur ayah, maka KH. Hasan Abdul Wafi adalah sepupu KH. R. As’ad Syamsul Arifin (1897-1990).

    Namun, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah keponakan Kiai As’ad, karena ibunda Kiai Hasan (Nyai Lathifah) adalah anak dari Kiai Jamaluddin Ruham yang notabene kakak kandung KH.R Syamsul Arifin. Namun, Kiai Hasan Abdul Wafi dan enam kakaknya seperti KH Sufyan Miftahul Arifin Situbondo (1912-2012 M.) dan Kiai Masduqi Miftahul Arifin (ayahanda KH. Badri Masduqi Probolinggo [1942-2002]) lebih memilih memanggil paman pada Kiai As’ad dan bukan kakak.

    Singkatnya, jika melalui jalur ayahandanya, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah Bani Hadu, maka melalui jalur ibundanya, beliau adalah Bani Ruham.

    Wafat dan dikebumikan di Pesantren Nurul Jadid Paiton karena Kiai Hasan Abdul Wafi adalah menantu KH Zaini Mun’im (1906-1976), Pendiri dan Pengasuh Pertama PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Beliau menikah dengan Nyai Aisyah binti Zaini Mun’im. Bukan hanya menantu, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Kiai Zaini. Ini karena istri Kiai Ruham yang bernama Nyai Nur Sari adalah saudara kandung Kiai Mudarik/Kiai Mudrikah.

    Jika dibentangkan, maka silsilahnya adalah Kiai Hasan Abdul Wafi ibn Nyai Lathifah binti Nyai Nur Sari binti Kiai Ismail. Sementara silsilah Kiai Zaini adalah Kiai Zaini ibn Kiai Abdul Mun’im ibn Kiai Mudarik ibn Kiai Ismail. Dengan demikian, nasab Kiai Hasan dan Kiai Zaini bertemu di Kiai Isma’il (keponakan Kiai Mahalli, Pendiri Pesantren Kembang Kuning Pamekasan tahun 1619 M.)

    Demikian nasab biologis Kiai Hasan Abdul Wafi yang terhubung dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin dan Kiai Zaini Mun’im. Bagaimana nasab ilmunya?

    Sebagaimana Kiai As’ad dan Kiai Zaini Mun’im yang santri kelana, maka Kiai Hasan Abdul Wafi juga. Ia malang melintang dari satu pesantren ke pesantren lain. Pertama-tama tentu Kiai Hasan belajar pada orang tuanya. Setelah ayah dan ibunya wafat ketika beliau masih kecil, maka Kiai Hasan melanjutkan studi ke Pesantren Banyuanyar yang saat itu diasuh oleh KH Abdul Madjid ibn Kiai Abdul Hamid ibn Kiai Itsbat.

    Tak hanya Kiai Hasan Abdul Wafi yang belajar di Pesantren Banyuanyar Pamekasan. Satu tahun sebelum Kiai Hasan Abdul Wafi lahir (1923), tahun 1922 KH Zaini Mun’im mondok di Pesantren Banyuanyar Pamekasan asuhan KH Abdul Hamid yang dibantu putranya, KH Abdul Madjid (wafat tahun 1958 M.). Hal yang sama juga dilakukan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Beliau juga berguru pada Kiai Abdul Hamid. B

    Bahkan, menurut penuturan KH Muhyiddin Abdushomad (Rais Syuriah PCNU Jember), Kiai As’ad sempat menjadi menantu Kiai Abdul Madjid saat beliau menikahi Nyai Tuhfah binti Kiai Abdul Madjid. Setelah menikah selama dua tahun, karena satu dan lain hal, mereka berpisah, pernikahan tak bisa dilanjutkan.

    Dengan demikian jelas, sekiranya Kiai Hasan Abdul Wafi belajar pada Kiai Abdul Madjid Banyuanyar, maka Kiai As’ad dan Kiai Zaini Mun’im belajar pada ayahanda Kiai Abdul Madjid, yaitu Kiai Abdul Hamid.

    Beberapa naskah menyebutkan bahwa Kiai Abdul Hamid ibn Kiai Itsbat wafat tahun 1931 di Mekah dan dikuburkan di Pekuburan Ma’la bersama kuburan para ulama, para Sahabat Nabi, dan Siti Khadijah binti Khuwailid (istri Nabi Muhammad SAW). Dan sepeninggal Kiai Abdul Hamid, persisnya tahun 1943 Kiai Abdul Madjid mendirikan pesantren sendiri yang diberi nama “Pondok Pesantren Mambaul Ulum” Bata-Bata Pamekasan.

    Usai belajar di Banyuanyar Pamekasan Madura, Kiai Hasan Abdul Wafi melanjutkan studi ke sebuah pesantren di Sidoarjo asuhan KH Sahlan selama dua tahun dan selanjutnya ke PP Darul Ulum Paterongan Rejoso Jombang yang saat itu sedang diasuh KH Ramli Tamim (1888-1958 M.), ayahanda KH Mustain Ramli (1931-1985). Tak hanya Kiai Hasan Abdul Wafi, putra KH Zaini Mun’im seperti KH Moh. Hasyim Zaini (1939-1984) dan KH Abdul Wahid Zaini (1942-2002) juga pernah belajar di Pesantren Paterongan Rejoso Jombang ini.

    Beda dengan dengan enam saudaranya yang lain yang hanya studi di pesantren-pesantren di Jawa Timur, mka Kiai Hasan Abdul Wafi menempuh pendidikan dengan lokasi paling jauh, yaitu Pondok Pesantren Krapyak Jogyakarta. Di pesantren yang kuat tradisi al-Qur’annya ini, Kiai Hasan mendapatkan suasana akademis baru yang beda dengan pesantren-pesantren sebelumnya yang bertitik tekan pada fikih dan tasawuf.

    Di Krapyak, Kiai Hasan melengkapi diri dengan ilmu-ilmu qiraat langsung dari induknya, Ahlul Qur’an. Namun, apakah ketika mondok di Krapyak, beliau sempat berjumpa Kiai Munawwir yang wafat tahun 1942? Walahhu’alam.

    Yang jelas, dari pengembaraan panjangnya mulai dari Banyuanyar hingga Krapyak, Kiai Hasan Abdul Wafi tak pulang ke Pamekasan lagi. Tahun 1956, Kiai Hasan Abdul Wafi melanjutkan belajarnya pada Kiai Zaini Mun’im yang saat itu merintis pendirian Pesantren Nurul Jadid. Bersama sang kakak, KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin, Kiai Hasan Abdul Wafi ikut membantu pembangunan pesantren tersebut.

    Di Nurul Jadid, Kiai Hasan rupanya tak hanya mendapat ilmu melainkan juga istri. Tahun 1957, Kiai Hasan menikahi Nyai Aisyah Zaini Mun’im dengan dikaruniai 12 anak, salah satunya KH Kholilurrahman (mantan Bupati Pamekasan).

    Dalam berorganisasi, Kiai Hasan Abdul Wafi juga mengikuti langkah Kiai Zaini Mun’im; aktif di NU bukan di organisasi lain. Sebagaimana dikisahkan sebagian sumber, awalnya ketika NU keluar dari Masyumi tahun 1952, Kiai Zaini sempat bimbang antara bertahan di Masyumi dan hijrah ke Partai NU.

    Kebimbangan ini bisa dimaklumi. Di satu sisi, Kiai Abdul Madjid putra Kiai Abdul Hamid yang sekaligus guru Kiai Hasan Abdul Wafi tersebut mengajak Kiai Zaini untuk aktif di AKUI, organisasi yang berada di bawah payung Masyumi. Sementara di sini lain, Kiai Zaini masih memiliki keterikatan batin dan kontak perjuangan dengan para kiai alumni Pesantren Demangan Bangkalan asuhan Saikhuna Kholil Bangkalan dan Pesantren Tebuireng asuhan KH Hasyim Asy’ari yang sebagian besar memilih membesarkan Partai NU daripada yang lain.

    Berhari-hari dalam kebimbangan, Kiai Zaini Mu’im melakukan permenungan mendalam dan menjalani shalat istikhorah. Akhirnya, ditemukan jawaban langit bahwa dirinya mantap memilih NU sebagai media perjuangan dengan konsekuensi keluar dari Masyumi.

    Sejak itu, Kiai Zaini dan seluruh keluarga besar PP Nurul Jadid termasuk Kiai Hasan Abdul Wafi aktif ber-NU. Tak hanya menjadi warga NU biasa, Kiai Zaini pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Kraksaan Probolinggo. Dan mengikuti jalan hidup Kiai Zaini, Kiai Hasan Abdul Wafi juga pernah menjabat Rais Syuriah PCNU Kraksaan.

    Putusan Munas NU tahun 1983 agar NU kembali ke khittah 1926 melegakan Kiai Hasan Abdul Wafi. Sejak itu, beliau tak melibatkan diri dalam carut-marut politik praktis. Kiai Hasan berkonsentrasi pada upaya menjadikan NU sebagai media dakwah untuk mengedukasi masyarakat.

    Beliau berkeliling dari desa ke desa untuk menyampaikan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah. Semboyannya yang paling terkenal, masyarakat harus memiliki pengetahuan setara S2, yaitu Sullam Safinah.

    Tak hanya berdakwah ke kampung-kampung. Kiai Hasan Abdul Wafi juga rajin mengikuti aktivitas bahtsul masail NU, mulai dari tingkat PCNU hingga PWNU bahkan Munas dan Muktamar NU.

    Di beberapa diskusi dan bahtsul masail, Kiai Hasan Abdul Wafi berada dalam lingkaran diskusi panas dengan para kiai NU lain. Natijah-natijah hukum Islam yang disampaikan para nara sumber seminar dan perumus bahtsul masail kerap mendapatkan tantangan akademik cukup kuat dari KH Hasan Abdul Wafi.

    Dalam sebuah acara halaqah tentang hukum bunga bank yang diselenggarakan Ma’had Aly Situbondo Jawa Timur, Kiai Hasan Abdul Wafi misalnya terlibat dalam diskusi tajam dengan Prof. Dr. KH Sjechul Hadi Permono (1941-2010). Tarik tambang tambang pemikiran tak terhindarkan.

    Namun, alhamdulillah, diskusi yang sempat panas itu berhasilkan didinginkan oleh sang moderator piawai, KH Yusuf Muhammad Jember (1952-2004). Ya Allah, tiga kiai itu sekarang sudah tidak ada, dipanggil Allah. Allah rahimahum wa nawwara quburahum wa a’ada ‘alaina min barakatihim.

    Akhirnya, saya mengenang Kiai Hasan Abdul Wafi sebagai orang alim terutama di bidang fikih, teguh pendirian, dan memiliki komitmen ke-NU-an cukup kuat. Soal komitmen ke-NU-annya salah satunya tercermin melalui Shalawat Nahdhiyah-nya yang kini berkumandang di mana-mana.. (abi sorban)

  • KHILAFAH PROYEK GAGAL BUZZERS HTI

    KHILAFAH PROYEK GAGAL BUZZERS HTI

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh Ayik Heriansyah
    wp.sorbansantri.com – 10 tahun lalu terjadi demonstrasi besar-besaran di Kairo Mesir berhasil menurunkan Husni Mubarak dari kursi kepresidenan setelah ia menjadi presiden selama 30 tahun. Demo besar-besaran di Arab kala itu menjadi fenomena yang disebut dengan Arab Spring.
    Saya menonton di televisi berita-berita demonstrasi tresebut dari pesantren At-Taqwa Tanjung Pandan Belitung. Rumor yang berkembang, demonstrasi diorganisir dan diikuti oleh kelompok kiri dan Ikhwanul Muslimin. Hizbut Tahrir tidak tampak. Hanya ada foto orang sejumlah hitungan jari tangan yang membawa bendera Hizbut Tahrir di tengah lautan manusia.
    Awal 2011 saya masih tercatat sebagai anggota Hizbut Tahrir. Dalam benak saya, seharusnya, demo-demo besar tersebut diorganisir oleh Hizbut Tahrir Mesir dan lautan manusia di sana adalah para pendukung dan anggota Hizbut Tahrir. Karena Hizbut Tahrir masuk Mesir dibawa langsung oleh pendirinya Taqiyuddin an-Nabhani pada tahun 1950-an, sehingga massanya sudah banyak dan cukup untuk menggoyang kursi Presiden Mesir.
    Selama ini, kami diopinikan bahwa Hizbut Tahrir di Arab itu besar. Pendukung dan anggotanya banyak. Para pengurusnya sangat solid. Akan tetapi Hizbut Tahrir tidak dapat menunjukkan kebesarannya karena tekanan penguasa. Hizbut Tahrir tidak eksis di Arab bukan karena ajaran, doktrin, ide dan metode Hizbut Tahrir yang salah. Jadi, di Arab Hizbut Tahrir tidak ada masalah dengan pemikiran, tetapi politik penguasalah yang membuat mereka terlihat kecil.
    Fakta Arab Spiring membuka mata saya, bahwa sebenarnya Hizbut Tahrir di Arab memang ditolak karena pemikirannya, bukan karena tekanan penguasa. Di Arab berdiri kokoh kampus-kampus tua (yang telah melahirkan ratusan ribu ulama tersohor kelas dunia yang diakui kealiman, kejujuran dan ke-zuhud-annya. Tapi, mereka tidak menjadi pendukung dan anggota Hizbut Tahrir. Bahkan menjadi penentangnya. Sangat sulit jika mau dikatakan mereka menentang kebenaran dan penolak syariat Allah swt.
    Fakta yang sama juga terjadi di Indonesia. Di Indonesia, selama 23 tahun (1998 – 2021), Hizbut Tahrir leluasa menyebarkan paham di dunia maya dengan menggunakan berbagai macam nama website, blog dan akun media sosial. Aktivis HTI semuanya menjadi buzzers khilafah. Mereka aktif membagikan konten di media sosial yang merupakan ruang publik utama di era sekarang.
    Perilaku buzzers khilafah umumnya hanya mem-posting. Enggan menanggapi komentar, bantahan, kritik dan sanggahan netizen. Apalagi diajak adu argumen. Mereka menanggapinya dengan menyerang balik netizen, mengalihkan topik atau mem-posting konten baru, yang pada intinya mereka menghindar. Mengapa demikian? Karena konten yang disebarkan oleh buzzers khilafah bermuatan dis- dan mis-informasi.
    Ada tujuh dis- dan mis-informasi:
    1. Satire, yaitu, tidak ada niat untuk mengelabui tapi berpotensi merugikan.
    2. Konten yang menyesatkan, yaitu, penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu.
    3. Konten tiruan, yaitu, ketika sebuah sumber ditiru.
    4. Konten palsu, yaitu, ketika informasi 100% salah didesain untuk menipu.
    5. Koneksi yang salah, yaitu, ketika judul atau gambar tidak sesuai dengan konten.
    6. Konten yang salah, yaitu, ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah.
    7. Konten yang dimanipulasi, yaitu, ketika gambar atau konten yang salah dimanipulasi untuk menipu. (MY. Alimi, 2018: 82).
    Mudah sekali bagi netizen mendeteksi dis- dan mis-informasi dari konten yang disebarkan oleh buzzers khilafah. Media sosial adalah ruang publik paling demokratis, independen dan netral saat ini. One man one voice. Setiap orang boleh menyatakan dan menyampaikan tentang dirinya ke orang lain tanpa batas selain batas moral dan hukum. Tidak ada batasan bagi nalar netizen, selain nalar netizen lain yang lebih akurat. Di media sosial nalar publik menjadi “hakim” yang imparsial.
    Ide khilafah yang diviralkan oleh buzzers HTI ditolak publik karena ide tersebut tidak akurat. Hujjah-nya lemah. Nalar publik sulit menerima khilafah sebagai solusi semua problematika umat manusia. Penolakan publik atas ide khilafah, bukan karena dibayar dan atas tekanan penguasa. Penolakan itu murni dari akal sehat netizen. Tidak saja di Indonesia, tetapi juga di Arab dan seluruh dunia. (abi sorban)