Blog

  • Mencari Makam Syuhada

    Mencari Makam Syuhada

     

    SORBANSANTRI.COM

    Mojokerto Kota Perjuangan

    Makam dengan nomer kode 244 ada di jajaran paling selatan Taman Makam Pahlawan (TMP) Gajah Mada Mojokerto. Pada nisannya tertulis nama Mat Jatim. Pada makam itulah tertanam jasad seorang syuhada, dia mati syahid.

    Ditulis oleh Pamoe Rahardjo, komandan Pasukan Komando Hayam Wuruk, bila jenazah Mat Jatim dipindahkan dari Ngembeh sekitar tahun 1950. Saat dibongkar kondisi jasad dan pakaiannya dalam kondisi utuh. Padahal Mat Jatim gugur dalam pertempuran tanggal 12 Pebruari 1949.Subhanallah.

    Jenazah yang masih mengenakan baju saat meninggal dengan peluru menembus dada itu dipindah ke belakang Kantor Kecamatan Kutorejo. Prakarsa pemindahan makam syuhada tersebut datang dari Mayor Mansyur Solikhi yang saat itu menjabat Komandan KDM Mojokerto sekaligus merangkap selaku Bupati Militer Kab. Mojokerto. Mayor Mansyur adalah atasan Mat Yatim pada pertempuran tanggal 12 Pebruari yang menyebabkan dia gugur. Tahun 1980-an makam Mat Yatim dipindahkan lagi ke TMP Gajah Mada Mojokerto.

    Informasi penghuni TMP bisa kita lihat setelah melewati pintu gerbang. Pada dinding marmer yang memuat nama jenazah yang dimakamkan di lokasi itu tertulis nama Achmad Khosim. Nama itu adalah nama asli komandan Kompi IV Bn 03 Mansyur Sholikhi. Mat Jatim merupakan nama panggilan karena dia memang anak yatim. Kemungikinan dia gugur pada usia muda, sekitat 20 tahun.

    Perkiraan umur itu bisa ditentukan dari syarat pendaftaran Hizbullah pada awal tahun 1945. Untuk bisa berangkat ke kamp pelatihan adalah seorang pemuda muslim, usia sekurangnya 17 tahun, masih lajang dan mendapatkan ijin dari orang tua atau walinya. Karena hidup di Panti Asuhan ijin tertulis didapatkan dari pengurus panti. Perkiraan Khosim lahir pada tahun 1928

    Pendidikan militer dia dapatkan tentara Jepang tahun 1945. Mat Jatim merupakan salah satu peserta pelatihan Hizbullah di Cibarusa Bekasi. Syarat menjadi peserta adalah pemuda dwngan usia minimal 17 tahun. Peserta juga harus lajang, belum berumah tangga. Disanalah dia digembleng untuk memperoleh sertifikat yang ditandatangani Mbah Hasyim Asyari. Dan setelahnya dia setia bergabung dalam kesatuan Lasykar Hizbullah Mojokerto hingga dilebur dalam TNI tahun 1947.

    Bila melihat kondisi makamnya, tampak bahwa tidak pernah ada yang menziarahi. Ada banyak rumput tumbuh di atas pusaranya. Rerumputan itu segera dicabuti oleh petugas makam saat menunjukkan lokasi makam tersebut. Sepertinya makam yang tidak pernah didatangi keluarga tidak begitu diperhatikan oleh petugas kebersihan TMP.

    Sayangnya niat mencari makam Kapten Madjid Asmara, Kepala staf Bn 03 tidak ketemu. Pada buku daftar nama makam tidak tercantum nama mantan Komandan Hizbullah Gresik yang menjadi korban pertempuran di jembatan Ngembeh tersebut. Sebelum bergabung dalam Lasykar Hizbullah, Madjid Asmara pada jaman Jepang merupakan anggota sukarelawan PETA.

    Kemungkinan besar Kapten Madjid Asmara adalah korban pertempuran dengan jabatan tertinggi saat itu. Jabatan Kepala Staf Batalyon merupakan orang kedua setelah Mansyur Sholikhi, komandan yang berpangkat Mayor. Karena itu, Mansyur sangat berduka atas gugurnya Madjid Asmara.

    Jika menilik dari pemindahan makam para pahlawan yang ada di seluruh wikayah Mojokerto untuk disatukan di TMP, harusnya makam Madjid Asmara ada di tempat itu juga. Setidaknya tidak jauh dari makam Kapten Mat Jatim. Entah dimana makamnya setelah proses pemindahan. Ataukah nisannya diberi nama “tidak dikenal” seperti makam lainnya. Memang ada banyak makam tertulis tanpa nama di TMP Gajah Mada itu.

    Seorang syuhada jelas tidak butuh makam karena sudah disediakan tempat oleh Allah. Seperti juga saat berjuang yang tidak memikirkan jabatan. Namun adalah tugas generasi kini untuk merawatnya sebagai bentuk penghormatan. Rasa hormat atas pengorbanan para syuhada

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • NU CARE LAZISNU MWCNU JETIS membantu yatim piatu dan dhuafa di desa sawo

    NU CARE LAZISNU MWCNU JETIS membantu yatim piatu dan dhuafa di desa sawo

    Sorbansantri.com – NU CARE LAZISNU MWCNU JETIS MOJOKERTO memberikan bantuan kepada 20 yatim piatu dan dhuafa di masjid al hidayah desa sawo kecamatan jetis kabupaten mojokerto(31/01/2021), acara di mulai dari ba’da sholat magrib, selain dari para anak yatim piatu dan dhuafa yang hadir juga dari pengurus masjid serta warga sekitar.

    Ustadz MAHMUD BUKHORI S.Ag selaku ketua, saat memberikan sambutan menjelaskan kepada warga yang hadir tentang keberadaan LAZISNU MWCNU JETIS di wilayah jetis dan mengharapkan warga jetis bila menyalurkan zakat, infaq, shodaqohnya ke LAZISNU, cukup dengan menghubungi pengurus via whatsapp maka team khusus akan hadir untuk mengambil donasi, beliau juga menjelaskan untuk warga yang ingin berinfaq shodaqoh ke LAZISNU meskipun 10.000 team khusus siap untuk mengambil.

    SORBANSANTRI.COM
    Ustadz MAHMUD BUKHORI S.Ag saat memberikan sambutan

    “Untuk santunan saat ini adalah progam lanjutan tahun 2020 yaitu menyantuni yatim piatu dhuafa ke seluruh desa yang ada di kecamatan jetis secara bergilir, dengan harapan bisa meringankan beban mereka meskipun yang di berikan NU CARE LAZISNU JETIS tidak seberapa” kata Ustadz MAHMUD S.Ag kepada team SORBAN.

    Sebelum pembagian bantuan di serahkan kepada para yatim piatu dan dhuafa, ada arahan, penjelasan dari pengurus PC LDNU KAB MOJOKERTO yaitu KH MAHRUS ALI kepada semua yang hadir dan masyarakat jetis untuk sadar zakat, meskipun pada awalnya dengan memaksakan diri untuk mengeluarkan zakat dan kalau sudah terbiasa akan hadir ke iklasan dari hati, beliau juga menharapakan warga jetis untuk menyalurkan zakat, infaq dan shodaqohnya melalui lembaganya NU yaitu LAZISNU

    Beliau juga menjelaskan pentingnya zakat dan shodaqoh di musim pandemi berdasarkan hadits rosululloh

    وقال صلى الله عليه وسلم: {حَصِّنُوا أموالَكم بالزَّكاةِ وَدَاووا مَرْضَاكُمْ بالصَّدَقَةِ وأَعِدُّوا لِلْبَلاءِ الدُّعَاءَ}
    Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Jagalah harta kalian dengan zakat, obatilah orang-orang sakit dengan sedekah dan siapkanlah do`a untuk menolak bencana.”}

    Para jamaah yang hadir mendengarkan penyampaian dari pengurus LAZISNU dan KH MAHRUS ALI dengan khitmad dan tidak ada yang meninggalkan lokasi sampai acara selesai (Dikin sorban)

  • PERKARA YANG MENYEBABKAN WAJIB MANDI | Matn al-Ghoyah Wa at-Taqrib

    PERKARA YANG MENYEBABKAN WAJIB MANDI | Matn al-Ghoyah Wa at-Taqrib

    والذي يوجب الغسل ستة أشياء
    ثلاثة تشترك فيها الرجال والنساء وهي التقاء الختانين وإنزال المني والموت
    وثلاثة يختص بها النساء وهي الحيض والنفاس والولادة.

    Terjemah :
    Perkara yang mewajibkan mandi junub (ghusl) ada 6 (enam).
    Tiga diantaranya berlaku untuk laki-laki dan perempuan, yaitu :

    1. Senggama
    2. Keluar sperma
    3. Meninggal dunia atau mati
    4. Tiga lainnya khusus untuk perempuan, yaitu :
      Haid
      Nifas
    5. Melahirkan (wiladah).

    Penjelasan :

    1. Senggama adalah pertemuan dua kemaluan/kelamin.
    2. Yaitu memasukkan hasyafah/kepala penis atau kira-kira hasyafah dari penis yang terpotong hasyafahnya seseorang yang jelas kelaminnya (laki-laki) ke dalam farj (kemaluan perempuan).
    3. Seseorang yang hidup yang kemaluannya dimasuki hasyafah juga menjadi junub. Tidak dengan orang yang meninggal/mati.
    4. Mayat yang sudah dimandikan, tidak perlu dimandikan lagi ketika dimasuki hasyafah.
    5. Seorang yang tidak jelas identitas kelaminnya, yaitu khuntsa musykil (pemilik dua jenis kelamin), tidak wajib baginya melakukan mandi sebab memasukkan hasyafahnya atau kemaluannya dimasuki hasyafah.
    6. Penyebab wajib mandi nomer dua adalah keluar sperma, baik laki-laki ataupun perempuan.
    7. Walaupun sperma yang keluar hanya sedikit seperti satu tetes. Walaupun berwarna darah. Walaupun sperma keluar sebab jima’ atau selainnya, dalam keadaan terjaga atau tidur, disertai birahi ataupun tidak, dari jalur yang normal (kelamin) ataupun bukan dari kelamin seperti punggungnya belah kemudian spermanya keluar dari sana.
    8. Penyebab wajib mandi (wajib dimandikan) nomer tiga adalah meninggal dunia atau mati. Kecuali orang yang mati syahid, maka tidak wajib mandi (dimandikan).
    9. Penyebab mandi khusus bagi wanita diantaranya haid.
    10. Maksud haid adalah darah normal yang keluar dari kemaluan seorang wanita yang telah mencapai usia minimal sembilan tahun.
    11. Penyebab kedua khusus wanita adalah nifas.
    12. Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan.
    13. Penyebab nomer tiga khusus wanita adalah melahirkan.
    14. Melahirkan yang disertai dengan basah-basah mewajibkan mandi secara pasti.
    15. Sedangkan melahirkan yang tidak disertai basah-basah mewajibkan mandi menurut pendapat tersahih.

    #NgajiFikih
    #KajianFikihPemula
    #MatnGhayahWatTaqrib
    #LDNUBanjar
    #AbuZeinFardany

  • PERINGATI HARLAH NU 94 BANSER GELAR BAKSOS di MAKAM Rois Syuriah Pertama PC NU

    PERINGATI HARLAH NU 94 BANSER GELAR BAKSOS di MAKAM Rois Syuriah Pertama PC NU

    Cyberaswaja.online|Gedeg. Memperingati HARLAH NU ke-94 BANSER GELAR BAKSOS di MAKAM Rois Syuriah Pertama PC NU – Sesuai namanya, BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) pasukan elit Nahdlatul Ulama (NU) ini dididik untuk siap siaga dalam kondisi dan situasi apapun.

    BANSER BAKSOS HARLA NU 94
    FOTO: Kepala Banser bersama jajarannya di Makam Rois Syuriah Pertama PC NU Kab.Mojokerto.

    Satuan Koordinasi Cabang (SATKORCAB) Banser kabupaten Mojokerto. Pada hari Jumat mereka menggelar Bhakti Sosial di kawasan makam panjang Desa Losari kecamatan Gedeg Mojokerto. Sejak pagi, ratusan anggota BANSER tersebut nampak semangat membersihkan area makam KH. Zainal Alim (Rois Syuriyah pertama PCNU kabupaten Mojokerto). 31/1/2020. 
    FOTO: KEPALA BANSER BERSAMA JAJARANYA MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM
    FOTO: Banser membersihkan Makam KH. ZAINAL ALIM, Rois Syuriah Pertama PC NU Kab.Mojokerto

    Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor kabupaten Mojokerto, Ali Mohammad Nasih memang telah mengintruksikan kepada KASATKORCAB agar selain kegiatan pam keamanan, apel kebangsaan dan ngaji organisasi, BANSER juga bergerak aktif kegiatan social kemasyarakatan seperti ini. Terlebih ini adalah makam Kyai NU.
    “Kegiatan bersih makam ini dilakukan untuk menyambut HARLAH NU ke-94 dan sebagai bentuk bhakti santri pada Kyainya” Ungkap KASATKORCAB BANSER Mojokerto H. Moh. Yunus. 
    FOTO: KEPALA BANSER BERSAMA JAJARANYA MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM
    FOTO: Baksos BANSER di MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM

    “BANSER itu juga santri. Jadi harus khurmat Kyai, lah. Apalagi ini kan HARLAH NU,” Tambah Abah Yunus, sapaan akrabnya, Jumat (31/1/2020).

    Kegiatan sosial ini dilaksanakan guna menumbuhkan serta menguatkan rasa kebersamaan dan kegotong-royongan khususnya sesama anggota BANSER, umumnya kepada masyarakat.

    “Banser jaman sekarang dituntut semangat dan kesadarannya. Selain ngalap barokah (mencari berkah) kegiatan seperti ini dilakukan juga untuk uri-uri tradisi NU. Orang NU sejak dulu kan suka gotong royong dan menjaga kebersamaan,” imbuhnya.

    FOTO: KEPALA BANSER BERSAMA JAJARANYA MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM
    FOTO: BANSER Tabur Bunga di makam ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM

    Kegiatan Baksos di Makam ini dihadiri sekitar 110 personil BANSER dari perwakilan seluruh PAC (Pimpinan Anak Cabang) se-Kabupaten Mojokerto, yang turut serta dalam kegiatan ini. Rencananya kegiatan ini akan dijadikan agenda rutin tahunan dan akan disebar ke makam para Kyai NU di kawasan Mojokerto. (wg/infokom)

    Penulis: Ki Narto
    Editor : WG-Infokom
  • SARUNG, IDENTITAS PELAMPAU JAMAN

    SARUNG, IDENTITAS PELAMPAU JAMAN

    Perlawanan Budaya dan Ideologi para Kyai

     

    SORBANSANTRI.COM

    Pada suatu hari, protokol Istana Negara datang ke kediaman Mbah Wahab Hasbullah. Dia menyampaikan jika akan ada kegiatan Presiden Soekarno yang juga mengundang Rois Syuriah Partai NU untuk hadir. Dan karena itu diharuskan para undangan mengenakan pakaian jas lengkap dengan dasinya.

    Pada hari pelaksanaan, Mbah Wahab pun muncul di Istana. Kehadiran beliau ternyata membuat para undangan lainnya terkesima. Mereka heran sebab Mbah Wahab memakai jas dan sekaligus berdasi tetapi tidak memakai celana dan bersepatu. Mbah Wahab seperti biasa memakai sarung dan sendal saja untuk menggantikan celana panjang dan juga sepatu sebagai padanan jas yang dikenakannya. Maka jadilah Mbah Wahab satu-satunya peserta acara yang beda diantara yang lainnya.

    Sarung memang tidak pernah lepas dari Mbah Wahab dalam kegiatan apapun, tidak peduli meski itu kegiatan resmi dengan aturan protokoler kenegaraan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung maupun anggota DPR-RI beliau tetap setia dengan sarungannya. Karena itu beliau dikenal sebagai politisi sarungan. Istilah yang awalnya dibuat oleh golongan modernis untuk menunjuk kelompok islam tradisionalis. Istilah konotasi dengan tujuan merendahkan.

    Perjalanan sarung sebagai sebuah identitas NU ternyata memiliki sejarah panjang. Sarung ditengarai datang ke Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim asal Gujarat. Mereka berdagang di pelabuhan-pelabuhan dengan memakai kain sarung. Karena itu mereka disebut sebagai Orang Selam atau orang Islam dengan sarung sebagai identitasnya. Setelah Islam berkembang di Nusantara maka sarung pun ikut menjadi salah satu atributnya. Maka kain sarung itu bersanding dengan kain batik yang dililitkan seperti yang biasa dikenakan oleh orang Jawa.

    Secara pemakaian, sarung tentu lebih praktis dibandingkan dengan lilitan kain batik. Sarung bisa cepat dikenakan maupun di lepas. Demikian pula dengan fungsinya yang dapat digunakan sebagai selimut tubuh bila malam datang. Bagi masyarakat pantai atau, kain sarung seolah menjadi barang wajib yang harus dibawa ketika bekerja hingga melahirkan istilah “cul dayung adol sarung”, jika berhenti melaut terpaksa jual sarung yang dimiliki.

    Saat penjajahan Belanda semakin menguat maka sarung menjadi sebuah identitas perlawanan budaya. Belanda memang gencar mengenalkan gaya hidup barat dengan jas dan celana selaku atribut kemodernan. Para priyayi mulai banyak meninggalkan lilitan kain batik untuk bertukar dengan celana. Kampanye tersebut mendapatkan perlawanan dari para kyai dan ulama yang tidak ingin rakyat hanyut oleh arus ke-Belanda-belandaan.

    Untuk melakukan perlawanan budaya maka dipakailah sarung sebagai ciri pembeda. Untuk menguatkan perlawanan itu dikaitkan dengan hadits “Mantasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum”. Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia akan digolongkan sebagai kaum tersebut.

    Meskipun penerapan dalil tersebut mendapat perlawanan dari kelompok Islam yang tidak sepakat, para kyai terus menerapkannya. Maka dijadikanlah sarung sebagai pakaian “wajib” bagi para santri yang belajar di pesantren. Pesantren itu sendiri juga merupakan simbol perlawanan terhadap pola pendidikan sekolah kolonial. Klop sudah identitas perlawanan yang digagas.

    Dalam sebuah artikel di Koran Jawa Pos yang terbit pada 1 September 1989 menulis jika di Jawa pernah terjadi gerakan swadesi pada tahun 1932. Gerakan yang bertujuan melawan atau menolak membeli produk asing itu menjadikan sarung sebagai pakaian rakyat. Sarung buatan Pekalongan pun menjadi naik produksinya.

    Setelah Indonesia merdeka, dibentuklah sebuah organisasi politik yang mewadahi aspirasi umat Islam yang dinamakan Masyumi. Hampir semua organisasi Islam masuk dalam Masyumi tersebut, termasuk NU. Pada awalnya persoalan perbedaan pandangan politik tidak mengemuka di Masyumi saat Mbah Hasyim ditunjuk sebagai pucuk pimpinan Masyumi. Sikap merendahkan NU muncul setelah Mbah Hasyim wafat pada tahun 1947. Dalam Konggres Masyumi di Jogjakarta, Desember 1949, Walikota Jogjakarta, Muhammad Saleh, yang juga tokoh Muhammadiyah mulai menyerang secara verbal dengan kalimat, “Politik adalah luas, Politik ini, saudara-saudara, tidak bisa dibicarakan sambil memegang tasbih, jangan dikira scope-nya politik ini hanya di sekeliling pondok dan pesantren saja..”.

    Peran politik NU di Masyumi kian dipinggirkan setelah kekuasaan Syuriah atau dewan syuro dipangkas dan Masyumi dikendalikan oleh kaum Islam Modernis. Dengan begitu peran kyai tidak lagi dijadikan rujukan penentuan sikap politik Masyumi lagi. Hubungan itu semakin meruncing saat posisi menteri agama yang biasa diberikan pada NU kemudian dialihkan pada Fakih Usman dari Muhammadiyah dalam kabinet Wilopo tahun 1952. Sebelum itu, kedudukan anggota parlemen NU hanya diberi jatah 7 kursi oleh Masyumi. Karena peristiwa politik yang menyakitkan itulah NU mengambil keputusan keluar dari Partai Masyumi.

    Sebuah keputusan yang bukan hanya mengagetkan Masyumi bahkan kalangan NU pun sebagian menentanghnya. Meskipun banyak orang yang meragukan kemampuan NU untuk mengarungi dunia politik, namun Mbah Wahab yang menjadi Rois Syuriah Partai NU tidak bergeming. Dalam rapat partai NU, Mbah Wahab menegaskan, “Kalau tuan-tuan ragu kepada kebenaran sikap yang kita ambil, nah silahkan saja tuan-tuan tetap duduk dalam Masyumi. Biarlah saya sendiri pimpin NU sebagai partai politik yang memisahkan diri dari Masyumi. Saya cuma minta ditemani satu orang pemuda, cukup satu orang, sebagai sekretaris saya. Tuan-tuan boleh lihat nanti,”.

    Tahun 1955, hanya dalam waktu 3 tahun setelah keluar dari Masyumi, NU harus bertarung dalam kerasnya pemilu yang pertama setelah merdeka. Dengan mengenakan kain sarung Mbah Wahab berkeliling menjadi juru kampanye. Pun demikian dengan para kyai yang berdiri dibelakangnya. Dan dunia menyaksikan kenaikan kursi yang luar biasa dari hasil kerja kaum sarungan tersebut. Partai NU menduduki posisi ketiga dalam jumlah suara yang berhasil dikumpulkannya. Meski masih kalah dengan partai Masyumi namun bergaining politik NU naik mengalahkan Masyumi.

    Kini istilah kaum sarungan yang dulu dipakai untuk merendahkan dengan bangga dipakai sebagai identitas diri santri. Kaum sarungan tidak lagi dianggap kecil, apalagi setelah Partai Masyumi dibubarkan karena ikut dalam pemberontakan PRRI. NU sebagai partai memang sudah selesai namun perannya terus lestari.

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • AKIBAT CURAH HUJAN TINGGI, TANAH LONGSOR DAN POHON TUMBANG DI PACET

    AKIBAT CURAH HUJAN TINGGI, TANAH LONGSOR DAN POHON TUMBANG DI PACET

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – selasa, 2 Februari 2021. Setelah hujan yang berhari-hari mengguyur kawasan pacet mojokerto dan sekitarnya, akhirnya terjadi juga tanah longsor yang disertai pohon bambu. yang mana kejadian tersebut menutup jalan raya antara Pacet dan trawas. Peristiwa tersebut terjadi di Dsn Kambengan Ds Cempokolimo Kecamatan Pacet Kab. Mojokerto.(2/2/2021)

    Tim relawan Banser Tanggap Bencana (BAGANA) bersama relawan lainnya berhasil mengevakuasi longsoran tersebut dengan memakai alat seadanya. Kawasan Pacet pada bulan-bulan ini memang sering diguyur hujan deras dari siang sampai malam hari, terkadang disertai angin kencang yang membuat rasa was-was bagi warga, apalagi pengguna jalan raya” kata sahabat sulistiawan yang merupakan anggota ansor dan banser di PAC Pacet Mojokerto.

    Peranan masyarakat apalagi pemerintah sangat diperlukan dalam hal ini.  Apabila sewaktu-waktu ada bencana lagi seperti tanah longsor, pohon tumbang yang memang sangat rawan dan memungkinkan terjadinya bencana di Kawasan Pacet ini. Namun sangat disayangkan karena Relawan dengan potensi serta tenaga seperti BAGANA yang ada di Pacet Mojokerto, belum mempunyai peralatan yang mendukung dalam setiap kegiatan terutama di bidang kebencanaan. (abi sorban)

     

  • PSNU bershalawat untuk keselamatan bangsa.

    PSNU bershalawat untuk keselamatan bangsa.

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – PSNU Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat pada tanggal 31 Januari 2021 di mulai dr pukul 08.30 sampai 12.00 di Ponpes Nuhuyiah Pambusuang Polman menggelar HAULx ke 35 tahun dirangkaikan dgn HAUL NU ke 95 tahun, dalam acara tersebut di laksanakan dalam bentuk NU bershalawat untuk keselamatan bangsa.

    Moment ini di rangkaikan dengan mendoakan saudara2 kita yg telah tertimpa musibah gempa bumi di Sulbar, banjir di Kalimantan selatan, dab Manado dan seluruh warga negara Indonesia yang tertimpa musibah Kegiatan tersebut dihadiri pengurus PCNU POLMAN, PSNU POLMAN,PSNU SULBAR dan banom2 NU lainnya.

    Sumber:
    Panitia pelaksana Abd.Wahid, M.Pd. Alumni ISNTITUT KH.ABD.CHALIM MOJOKERTO
    Dan ketua tanfidziyah PCNU Polman ustadz Arsyad.

    PERGUNU SUL BAR.

    PSNU SUL BAR.

    PCNU POL MAN SUL BAR.

    NU SUL BAR.

  • Lailatul Ijtima’ MWC NU Jetis, Cermin Kokohnya Persatuan Jamaah

    Lailatul Ijtima’ MWC NU Jetis, Cermin Kokohnya Persatuan Jamaah

    Cyberaswaja.online|Jetis. Kekuatan sebuah jam’iyyah bisa diukur dari seberapa besar kekompakan jamaahnya dalam menjalankan amanat organisasi. Dalam NU, salah satu cara untuk memompa semangat dalam berorganisasi adalah dengan mengadakan acara Lailatu Ijtima’. Acara ini biasanya diikuti oleh semua Banom dan Lembaga NU di seluruh tingkatan.

    Inilah yang dilakukan oleh jajaran MWC NU Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. Ketua MWC NU Kecamatan Jetis, H. Khoirul Amin, S.Sos, menyatakan kebanggaannya atas terselenggaranya acara lailatul ijtima’ ini. Menurutnya, lailatul ijtima’ ini sangat besar manfaatnya bagi seluruh warga Nahdliyyin Jetis. Karena dari kegiatan ini rasa ukhuwwah semakin tertanam, seluruh masalah dalam ranting tersampaikan ke MWC dan koordinasi dari PAC sampai Pengurus Ranting bisa maksimal.

    lailatul Ijtima MWCNU Jetis
    Foto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-ittihad Perning Kec.Jetis

    “Di Jetis sudah menjadi agenda rutin bulanan bergantian antar ranting. Bahkan biasanya jumlah jamaah Lailatul ijtima’nya terbanyak se kabupaten,” Ungkap Ketua MWC NU Kecamatan Jetis, H. Khoirul Amin, S.Sos, Senin (27/1/2020).

    Lailatul ijtima’ yang diadakan di Masjid Al Ittihad desa Perning kecamatan Jetis ini dihadiri sekitar 3000 warga Nahdliyyin baik dari kalangan muda maupun tua. Jajaran BANSER Satkoryon Jetis juga terlihat aktif ikut mengamankan dan mengatur lalu lintas jalan raya.

    “Kegiatan ini jelas sangat penting karena selain sholat dan doa bersama, jamaah juga memahami kondisi pergerakan NU, informasi yang dihadapi, sekaligus solusi terbaik untuk jamiyyah,”  imbuhnya. Adanya pertemuan seperti ini juga menambah wawasan jamaah dan semangat organisasi dalam membuat inovasi baru dalam pergerakan.

    lailatul Ijtima MWCNU Jetis
    Foto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-ittihad Perning Kec.Jetis

    “Apalagi di era milenial seperti ini. Banyak berita yang harus disikapi dengan bijak oleh warga NU. Agar tidak mudah terprofokasi dan menimbulkan perpecahan dalam tubuh NU,” Tegas Ketua MWC NU Kecamatan Jetis, H. Khoirul Amin, S.Sos.

    oto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-itihad Perning Kec.Jetisoto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-itihad Perning Kec.Jetis
    Foto: Jamaah Lailatul Ijtima MWCNU Di Masjid Al-ittihad Perning Kec.Jetis

    Puncak kegiatan Lailatul Ijtima’ adalah Mauidloh Hasanah yang disampaikan oleh KH. Abdul jalil Umar Lamongan. Tampak hadir pada kegiatan tersebut KH. Sholihin (Rois Syuriyah), H. Usail (katib), KH. Mahrus Ali (PC LDNU Mojokerto), H. Imam Muslim (bendahara PCNU Mojokerto) dan seluruh ketua ranting NU beserta seluruh Ketua Banom dan Lembaga NU kecamatan Jetis.

    Penulis ; Ki Narto
    Editor : WG-Infokom
  • Kualitas Aspal Ataukah Cara Pengerjaan Yang Kurang Tepat

    Kualitas Aspal Ataukah Cara Pengerjaan Yang Kurang Tepat

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com
    -Di musim penghujan saat ini banyak keluhan oleh warga akibat rusaknya jalan raya baik jalan raya kabupaten, provinsi maupun nasional, tak banyak warga yang menjadi korban akibat jalan yang berlubang, ada yang luka ringan ada juga yang mengalami luka berat.

    Sudah beberapa kali kami menyampaikan keluhan ke dinas2 terkait atas keluhan warga ini, walaupun kami secara tidak langsung datang ke kantor dinas tersebut tapi kita sudah melaporkannya lewat medsos, betul mendapat respon dan langsung di tindak lanjuti oleh pihak terkait tetapi hasil kenyataan di lapangan tidak sesuai harapan yang kita rasakan.

    Contoh kecil kemarin kita mengajukan perbaikan jalan yang berlubang yang ada di jembatan jurangsari kecamatan ngoro kab mojokerto yang baru di tindak lanjuti oleh Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur baru dapat beberapa hari belum sampai seminggu aspal yang buat menambal sudah pada mengelupas dan terjadi lubangan lagi.

    Di tempat lain sepanjang jalan nasional yang kemarin kita ajukan mulai dari jln tunggal pager pungging sampai di jln raya wilayah kecamatan ngoro juga sudah banyak yang mengelupas lagi bahkan ada lubang yang terlewati dan tidak katut dalam penanganan oleh @dinas pu bina marga jalan nasional.

    Harapan kami agar dari dinas pu bina marga provinsi dan nasional agar menurunkan tim survey lokasi seminggu setelah penanganan guna untuk mengecek hasil dari pekerjaan yang sudah di lakukan oleh para pekerja yang ada di lapangan, bila dari hasil survey di temukan ada kejanggalan baik dari bahan aspal atau cara pengerjaan yang kurang optimal mari di kaji ulang dan di evaluasi agar ketika terjun di lapangan hasil dari pekerjaan tersebut benar benar bisa berkualitas dan tidak terkesan mindon gaweni dan dari tim survey bisa mengecek jalan jalan mana sana saja yang perlu di tangani, kami dari RELAWAN LALU LINTAS (RELANTAS ISN) juga siap bila di suruh menunjukkan titik titik lokasi mana saja yang perlu di perbaiki kususnya di sekitaran wilayah ngoro dan pungging.

    Bagi para nitizen kami mohon untuk berkomentar secara bijak yang wajar wajar saja jangan sampai ada komentar yang saling menjatuhkan atau memojokkan, karna disini kita mencari solusi bukan saling membully instansi.
    (Hasan_sorban)

  • KOK ADA WARGA NU CABANG NASRANI?

    KOK ADA WARGA NU CABANG NASRANI?

    Oleh: Shuniyya Ruhama
    Murid Mbah Wali Gus Dur

    wp.sorbansantri.com -Dapat banyak pertanyaan dan keluh kesah beberapa sahabat tentang statemen Guru Mulia KH Said Aqil Siroj yang menyatakan , ” … Bisa dikatakan Pak Kapolri ini warga NU cabang Nasrani”.

    Seperti yang sudah diduga sebelumnya, statemen ini dipotong konteksnya dan diperkarakan secara ndakik-ndakik berlebihan dan dijadikan amunisi menyerang beliau secara pribadi.

    Padahal, jika orang tersebut memang kader NU beneran di tingkat akar rumput dan paham konteks, pasti sudah mafhum bahwa ini merupakan guyonan khas orang NU sebagai penghormatan dan perangkulan atas keberagaman.

    Kecuali jika memang dapatnya cuma potongan statemen yang sudah diberi narasi kebencian yang membuncah dan mengaduk-aduk sentimen keNUan, akan beda lagi masalahnya.

    Lha orang becanda kok dibahas serius amat becandaannya, lalu digoreng sedemikian rupa. Dan seperti biasanya, beberapa orang yang mengaku NU juga ikut-ikutan terprovokasi.

    Mendadak mereka seperti kehilangan logika yang sehat. Padahal semua paham bahwa orang NU beneran yang paling awam sekalipun pasti tahu bahwa NU itu Islam Aswaja. Lha wong yang ngaku Islam saja belum tentu bisa jadi NU, apalagi yang bukan Islam.

    Dan sebenarnya, candaan ini sudah biasa sejak jaman dulu kok. Mbah Wali Gus Dur pada era tahun akhir 1990an juga suka becanda yang model begini. Tapi gak ada yang ribut waktu itu.

    Salah satunya, dulu ada tokoh bernama Pak Bingki Irawan sesepuh agama Konghucu, pernah diperkenalkan Mbah Wali:

    “Pak Bingki ini orang NU, tapi belum bersyahadat”. Semua yang mendengar jadi tertawa dan menjadi akrab dengan Pak Bingki Irawan.

    Bisa jadi Mbah Said ini juga meniru guyonnya Mbah Wali Gus Dur yang sudah ada puluhan tahun silam. Tokh memang Mbah Said Aqil adalah sahabat sekaligus santri Mbah Wali.

    Bedanya, waktu Mbah Wali guyon, pendengarnya adalah Mbah Said dan generasinya sehingga menjadi konsumsi menambah cair suasana.

    Sedangkan saat Mbah Said guyon, yang dihadapi sebagian diantaranya adalah barisan awam yang gak sinkron antara semangat dan kapasitas ilmunya, jadi ya begitu deh.. (Abi sorban)

    Salam cinta NU..
    Salam cinta Indonesia…