InfokomBanserNU- Membaca Sholawat Fatih 1 kali dihadiahkan kepada ahli qubur dengan niat supaya ditebus dimerdekakan dari neraka (fida’/’ataqoh), maka dimerdekakannya seketika
(al-Yaqutah, hal.: 61).
Membaca Sholawat Fatih 1 kali menyamai (mendapat pahala sama dengan) semua bacaan tasbih, zikir, do’a yang terjadi di alam
(Jawahir al-Ma’ani, jilid I, hal. 114).
Apabila semua bacaan zikir, shighot sholawat, dan do’a satu per satu masing-masing dari semuanya bila setiap harinya dibaca 100 000 kali selama 100.000 tahun, dan pahala semuanya dikumpulkan menjadi satu, maka tidak bisa menyamai pahala Sholawat Fatih 1 kali
(Khulashoh al-Wafiyah, hal. 70).
Membaca Sholawat Fatih 1 kali menyamai (mendapat pahala sama dengan) 600.000 kali lipat sholawatnya semua malaikat, manusia, dan jin sejak alam diciptakan hingga hari membacanya ditambah 400 perang Sabilillah
(al-Yaqutah, hal. 59, dan Bughyah al-Mustafid, hal. 271, dan Jawahir al-Ma’ani, jilid I, hal. 114).
Jika diumpamakan ada 100.000 umat, pada setiap umat terdapat 100.000 kabilah (suku), setiap kabilah 100.000 orang masing-masing hidup 100.000 tahun setiap harinya membaca sholawat kepada Nabi saw. selain Sholawat Fatih, dan semua pahalanya selama 100.000 tahun itu dikumpulkan, maka tidak akan bisa menyamai Sholawat Fatih satu kali (Jawahir al- Ma’ani, jilid I, hal. 117).
Mendapat pahalanya semua bacaan tasbih, zikir, solawat, do’a semua makhluk, manusia, malaikat, dan jin dengan dilipatkan 6000 kali (Jawahir al-Ma’ani dan Bughyah al-Mustafid, hal. 271).
Apabila ada wali al-‘arif billah berumur satu juta tahun yang tidak membaca Sholawat Fatih, maka orang awam membaca sholawat Fatih 10 kali lebih banyak pahalanya dari pada wali tersebut (Khulashoh al-Wafiyah, hal. 69 dan Bughyah
al Mustafid, hal. 270).
Wallahu a’lamu bisshowabi…
Demikianlah, di antara keutamaan Sholawat Fatih, dan masih lebih banyak yang tidak mampu disebutkan, yang lebih tidak mampu dijangkau angan-angan karena luasnya fadhol Allah ta’aala.
wp.sorbansantri.com – Suasana pagi hari yang sejuk nampak gumpalan mendung menyelimuti langit sehingga menutupi cayaha matahari di pagi hari itu, tepatnya pada pukul 08.00. WIB. Tgl 31 Januari 2021.tampak para santri berpakaian Serba hitam dan di balut sabuk hijau yang terikat di pinggang (pakaian sakral PSNU Pencak Silat Nahdlatul Ulama) sedang berdatangan berkumpul di lapangan dusun sarirejo/ jalinan, Plososari, Puri, Mojokerto.untuk mengikuti acara ujian kenaikan tingkat dari sabuk strip polos ke strip putih.
Penyematan sabuk oleh H. Budi kepad salah satu peserta.
Pemberkatan jalan fisik
Ujian ini adalah ujian tingkat dasar sebelum Santri Pagar Nusa masuk ke jenjang berikutnya, mereka harus mengikuti ujian mental,materi ke aswajaan,materi kebangsaan,dan materi pencak silat. UKT pada tahun ini di ikuti oleh sekitar 30 peserta mulai dari usia 8 tahun sampai 12 tahun, hadir pula dalam acara tersebut dewan pengurus wilayah pagar Nusa Jawa timur yaitu H. Budi. Mbah Sumarno. Dan juga pengurus cabang kabupaten Mojokerto yaitu kang Hariadi kang Dedi dan Mbah Muslimin.tak ketinggalan para dewan pendekar dari berbagai ranting pagar nusa sebagi tim penguji juga datang di acara itu.
Acara dimulai dengan jalan fisik keliling desa Plososari dari dusun jalinan ke makam Sayyid Mahmud Tirim Plososari, jalan fisik yang di lalui para santri PSNU cukup jauh sekitar 3 km baru sampai di makam Sayyid Mahmud tirim. Di sana mereka melakukan tawassul, istighotsah dan berdoa bersama agar mendapat ridho dari Allah Swt.
Setelah istighotsah,mereka berjalan lagi, namun kali ini di buat beberapa kelompok untuk mengikuti tes dari tim penguji di setiap pos pos yang di laluinya.namun di tengah tengah ujian tes tiba tiba hujan lebat turun suasana makin seru karena diguyur hujan, dalam keadaan basah kuyup santri dan tim penguji tetap semangat. Jika para peserta sudah sampai pos terakhir mereka kembali berkumpul di lapangan dsn jalinan untuk mengikuti upacara dan menerima tausyiah serta penyematan sabuk oleh H Budi.
Walaupun keadaan lapangan tergenang air karena habis di guyur hujan, H Budi tetap semangat dengan suara lantang berapi api menyampaikan pesan pesan moral tentang tujuan mengikuti pencak silat Nahdlatul Ulama.
Bahwa mengitkuti pencak silat bukan untuk mencari musuh,bukan untuk kesombongan,bukan untuk adigang adigung,tapi harus mengedepankan akhlak mulia, rendah hati, tawadduk,taat, patuh, sopan santun baik kepada kedua orang tua,guru,dan sesama santri, sanggup menjaga ajaran Aswaja dan mengabdikan diri kepada bagsa dan agama. Setelah doa dan penutup para santri kemudian makan purakan ala santri. (Sorban Santri Rosyid).
InfokomBanserNU- Peringatan HARLAH NU ke 94 Tahun 1026-2020 H memberikan nuansa lain di Bumi Pacet Mojokerto. Dengan bertemakan “Meneguhkan Kemandirian NU untuk Perdamaian Dunia”. Deretan pengurus MWCNU Pacet Mojokerto hadir dalam peringatan Harlah NU ke-94 tersebut.
Acara yang diadakan Hari Jum’at 31 Januari 2020, dihadiri oleh semua jajaran pengurus MWCNU PACET MOJOKERTO serta warga dan didukung oleh banom-banom NU seperti Ansor Banser IPNU IPPNU FATAYAT MUSLIMAT Pacet, menambah semarak dengan suasana hikmat dalam tiap-tiap jalannya acara, yang dimulai dari Mars Ansor Lagu Indonesia Raya dan Gema Sholawat oleh anggota Ansor Banser Pacet.
JAMA’AH PACET HARLAH NU
MAKAN BARENG HARLAH NU PACET
AL BANJARI ANSOR BANSER PACET
BALANTAS PACET
HARLAH NU PACET
Hadir juga KH. ISKANDAR MUNIR sebagai Ro’is Suriah MWCNU PACET MOJOKERTO memimpin pembacaan Istighosah Dzikir yang dilanjut dengan Al Banjari dari sahabat Ansor dan Banser.
RO’IS SURIAH MWCNU PACET MOJOKERTO – KH. ISKANDAR MUNIR
Dalam acara HARLAH tersebut disisipkan perjalanan panjang sejarah NU di Pacet Mojokerto, yang dimulai dari slide foto dan video tentang NU di Pacet yang di pandu oleh Ustadz AGUS SANTOSO selaku sekretaris MWCNU PACET MOJOKERTO.
SEKRETARIS MWCNU PACET MOJOKERTO – USTADZ AGUS SANTOSO
Penyelamatan aset yang ada di Pacet harus segera diselamatkan seperti Masjid Musholla Pendidikan dan lainnya. Karena selama ini hanya memakai atasnama pribadi, tujuannya dari itu semua biar mudah mengkondisikan aset serta mengamankan waqof yang dapat dikelola penuh memakai atasnama MWCNU PACET MOJOKERTO.
KETUA MWCNU PACET MOJOKERTO – H. M. YUSUF. S.Pd
Acara tersebut berakhir sekitar pukul 23.00 wib dengan penutup Do’a oleh KH. Abdul Jamil yang dilanjutkan dengan ramah tamah berupa makan tumpeng.
KH. ABDUL JAMIL
USTADZ NUR ROHMAD
Mengingat pentingnya acara tersebut, dalam menegakkan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, SATSUS BALANTAS ( Banser Lalu Lintas ) Pacet, mengawal jalannya lalu lintas demi keselamatan dan kelancaran Acara Harlah NU ke-94 di Gedung Graha NU Pacet Mojokerto. (red-AbiTsani)
InfokomBanserNU- Belajar berorganisasi pada saat sekarang ini memang sangat diperlukan, terutama untuk generasi2 muda yang kelak menjadi penerus bangsa. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa saat ini banyak organisasi yang justru menjerumuskan generasi muda kita kedalam lembah kesesatan.
Menyikapi hal tersebut, MA Al Hidayah PUrwojati mengadakan kegiatan Penguatan Keorganisasian untuk Pengurus OSIS yang baru dilantik. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 31 Januari s/d 1 Februari 2020 dan diikuti oleh 30 siswa MA Al Hidayah Purwojati.
Menurut Kepala Madrasah, Bapak Panggih Widodo, S.Pd.I menyampaikan bahwa kegiatan ini diadakan untuk memantapkan para Pengurus OSIS agar dapat menjadi organisator yang baik, dan tidak bertentangan dengan Pancasila.
Dalam kegiatan ini, pihak MA Al Hidayah Purwojati mempercayakan pada PAC Ansor Purwojati untuk menghandle untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa.
Menurut Ketua PAC Ansor Purwojati, sahabat Yuslihudin, kegiatan semacam ini bernilai sangat positif bagi siswa2 ataupun generasi muda. Terlebih lagi, kegiatan ini juga dilaksanakan untuk menguatkan aqidah aswaja An-Nahdliyah serta menangkal radikalisme yang sekarang marak di Indonesia.
Lebih lanjut, sahabat Yuslih menyampaikan bahwa kegiatan ini hendaknya bisa dilaksanakan oleh sekolah2 lain, agar nantinya tercipta generasi muda yang unggul, bukan hanya dalam bidang akademik, tp juga bisa meneruskan perjuangan generasi sebelumya yang beraqidah ahlussunnah wal jamaah anNahdliyah dan tidak bertentangan dengab Pancasila Dan UUD ’45. (ansor pejogol) #PCNUbanyumas #PCAnsorbanyumas #PACAnsorpurwojati #ACMbanyumas #ACMcikalpurba #Ansormedia
wp.sorbansantri.com – Minggu, 31 Januari 2021. Santunan yang dikemas dalam Sorban Peduli adalah bentuk sosial kemanusiaan yang dirasa sudah waktunya dilakukan, apalagi setelah mengkaji beberapa kasus kemanusiaan (khususnya Janda), mereka hampir tidak tersentuh dalam giat sosial yang apalagi janda-janda yang akan memperoleh santunan adalah mereka yang terdampak bencana banjir di Mojokerto.
Mengingat gerakan sosial kemanusiaan tersebut masih dalam wacana tapi harus dilakukan maka, sorban santri membuat Komunitas Sorban Peduli yang kedepannya akan secara rutin dilakukan di wilayah kecamatan di kabupaten Mojokerto. Dan pertama kali difokuskan di daerah sooko mojokerto dan sekitarnya dan dipilih untuk janda yang memperjuangkan dalam organisasi NU sekaligus memeriahkan HARLAH NU ke 95.
Doa dipimpin Ustad H M Rofiudin dan penyerahan amanah Penasehat – Ketua
Penyerahan Bantuan pada Janda Pejuang dan Tokoh NU
salah satu contoh Bu Sumiati yang mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Sorban Peduli atas bantuan yang sudah diperoleh. Bu Sumiati adalah istri dari pak darno yang merupakan salah satu penggerak ISHARI yang ada di mengelo sooko-Mojokerto.
Data janda pejuang NU yang terkumpul dihasilkan dari PAC GP Ansor Sooko yang diserahkan pada Sorban Peduli Kamis (28/1). Dan nilai tambah dalam pelaksanaan penyalurannya yaitu diadakan Do’a bersama yang dipimpin oleh Ustad H M Rofiudin sebelum diserahkan. Dengan harapan agar para Donatur, Relawan dan Janda Pejuang NU, diberi kelancaran rejeki yang dipenuhi keberkahan.
Banyak yang mendukung dan mensupport dari gerakan ini, ada yang dari kalangan media Online dan Cetak seperti sekilasmedia.com dan RepublikNews. Ada juga komunitas, Organisasi serta masyarakat umum. Pembina Sorban Peduli Gus Ali M Nasih berharap, apa yang telah dilakukan dalam Sorban Peduli ini bisa meluas gerakannya dan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat bisa amanah dan bermanfaat bagi yang berhak untuk kita perjuangkan ” Pungkasnya. (abi sorban)
Data Donasi masuk dan zona amal Sorban Peduli bisa di lihat di SINI
Cyberaswaja.online|Pungging. Sungguh semangat yang luar biasa kita acungkan 4 jempol kepada para jama’ah dan penggemar Dzikir dan Sholawat pada hari Sabtu malam pukul 20.30wib sampai selesai. Meskipun hujan terus melanda mulai dari sore tadi tapi tetap semangat dan pantang menyerah para Jama’ah untuk ber-Dzikir dan ber-Sholawat.(01/02/2020).
Foto: Jamaah Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor
Foto: Jamaah Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor
Kegiatan Dzikir dan Sholawat ini di adakan oleh LMDS-RA GP.Ansor PAC Kec.Pungging bersama MBS (Majelis Bronto Sholawat) dihadiri oleh para Ulama’ dan Umaro’ diwilayah Kec.Pungging serta dihadiri jamaah sekitar 1.500 orang.
Foto: Seni Sholawatan
Kegiatan berlangsung aman dan kondusif, terlihat BANSER sebagai Garda Terdepan Bangsa ini, juga menjaga untuk memastikannya kegiatan berjalan dengan baik. (Irul/infokom)
sorbanpeduli.com – Permadi Arya atau yang akrab disapa dengan Abu Janda adalah sosok pegiat media sosial yang telah mengabdikan dirinya untuk bangsa Indonesia ini dalam melawan dan membasmi intoleran dan radikalisme di media sosial.
Ancaman bunuh, pemenggalan kepala, hingga bullyan sudah menjadi sarapan sehari-hari baginya. Ia yang memilih zona tak nyaman dalam kehidupannya, itu yang membuat salut saya dan semua pejuang yang menghendaki Indonesia ini tetap merah putih, tetap Pancasila dan tetap dalam kebhinekaan.
Eksistensi Abu Janda dalam proteksinya untuk bangsa Indonesia tidak kita ragukan. Dia punya khas dalam melawan segala bentuk intoleran dan radikalisme. Tentunya ada upaya melemahkannya. Dia harus tetap ada laksana benteng penyelamat. Dari banyak pernyataannya ia telah banyak membantu bangsa Indonesia ini bangkit, mengajak untuk bersemangat menjaga NKRI hingga menetralisir akun-akun sosial yang melakukan propaganda untuk memecah belah Indonesia.
Apa yang terjadi dalam 2 hal tentang dugaan rasisme terhadap Natalius Pigai adalah hal yang dipaksakan belaka. Kata evolusi tidaklah bermaksud pada teori Darwin, tapi evolusi yang mencakup perubahan. Adapun perubahan itu maknanya luas. Abu Janda sendiri telah menjelaskan bahwa evolusi di sini artinya perubahan pada pemikiran. Ya sebagaimana kita ketahui bahwa Natalius terkadang juga berlebihan dalam status-statusnya di media sosial.
Kemudian masalah penyebutan Islam adalah agama arogan dalam satu statementnya bukanlah merujuk pada ajarannya atau entitas Islam itu sendiri. Tapi sejatinya adalah fokus memfilterisasikan sikap keberagamaan seorang muslim yang intoleran. Karena lanjutan dari pernyataannya adalah ada orang Islam yang mengharamkan kebaya, mengharamkan sedekah laut dll.
Nah, apa yang disebutkan oleh Permadi Arya ini sangat bagus dan alhamdulillah viral pula. Yang ia katakan benar ada pola Islam yang dibawa itu sampai mengharamkan wayang, keris, beduk, marhabanan, maulid, Isra’ Mi’raj dsb. Bahkan mengkafirkan yang tak sepaham dengan mereka yang merasa Islamnya paling benar. Itulah sebabnya ia katakan tidak ramah jadinya.
Di Alquran pun sendiri disebutkan misalnya dalam surat Al-Adiyat ayat 6, “Sesungguhnya manusia itu ingkar.” Ayat tersebut mengindikasikan bahwa kata manusia itu disebutkan secara umum tapi dimaknai khusus, artinya tidak semua manusia yang ingkar. Begitu pula ketika disebutkan Islam Arogan bukanlah keseluruhan Islam yang ajarannya rahmatan lil ‘alamin tapi Islam yang telah terpolarisasi di tangan muslim yang tidak menempatkan makna Islam sebagai agama damai sesuai definisi etimologinya. Seperti cara beragama wahabi dll.
Ini merupakan kritik konstruktif sejatinya supaya jangan hiperbolik beragama sehingga membutakan nurani dan menghambat kecerdasan. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surat An-Nisa’ ayat 171, “Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam beragama.”
Saya sampaikan teruslah berjuang mas Permadi Arya seperti pahlawan yang terus mempertahankan benteng NKRI ini dari kadrun, intoleran dan radikalisme. (kang salim)
InfokomBanserNU- Tradisi yang ada di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU) sebetulnya memiliki andil besar dalam menjaga perdamaian di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Salah satu di antaranya adalah Muludan yang di dalamnya terdapat beberapa hikmah sosial, seperti gotong royong, urunan, dan silaturahim antarmasyarakat. Demikian disampaikan Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kiai Jampang Muda saat mengisi ceramah agama dalam kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad, Kamis (29/11). kegiatan berlangsung di Dusun Kareo, Desa Caracas, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang. “Alhamdulillah dengan adanya kegiatan Muludan ini kita bisa saling silaturahim satu sama lain karena terkadang masalah itu muncul disebabkan oleh kurangnya silaturahim kita dengan yang lain sehingga menimbulkan sikap saling curiga,” ujarnya di hapan ratusan jamaah yang memadati lokasi acara.
Kiai Jampang menambahkan, begitu juga dengan kegiatan tahlilan yang digelar sampai tujuh hari berturut-turut, tradisi ini mempunyai hikmah tersendiri untuk orang yang masih hidup, di antaranya adalah silaturahim antarmasyarakat akan tetap terjaga. Belum lagi kegiatan istighotsah, manakiban, rajaban, dan tradisi NU lainnya. “Dengan adanya kegiatan-kegiatan itu masyarakat akan saling menyapa dan berkomunikasi dengan obrolan yang positif karena tidak mungkin dalam kegiatan keagamaan semacam itu akan berbicara hal yang tidak senonoh,” tambahnya. Oleh karena itu, lanjutnya, keberadaan organisasi kemasyarakatan (Ormas) berperan penting dalam menjaga perdamaian dalam negeri.
Sebut saja salah satunya NU. Organisasi kemasyarakatan dan keagamaan terbesar di Indonesia ini hingga kini menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian. Ia kemudian mencontohkan, di beberapa negara Islam yang ada di wilayah Arab seolah kehilangan arah karena dilanda konflik saudara yang berkepanjangan dan tak kunjung usai. Sementara di Indonesia terlihat masih kondusif walaupun ada konflik horizontal namun hal itu masih bisa diatasi dengan baik. “Muassis NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pernah dawuh: Hubbul wathan minal iman, cinta tanah air sebagian dari iman, dawuh ini menjadi pegangan kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di bumi pertiwi Indonesia,” tegasnya. Ditambahkan, dengan adanya rasa cinta kepada tanah air dan tumpah darah Indonesia akan mengesampingkan ego atau kepentingan pribadi maupun kelompok, karena tentu akan melihat kepentingan yang lebih luas, yaitu perdamaian dan kemasalahatan Indonesia.
Hal ini menurut dia adalah karakter bangsa Indonesia yang sebenarnya yang jarang dimiliki oleh warga di negara lain. “Di sana memang ada nasionalisme, tapi nasionalismenya itu masih nasionalisme sekuler yang tidak dibalut dengan nilai-nilai keislaman,” ucapnya. Oleh karena itu, lanjutnya, ia meyakini bahwa ketika tidak menentunya perdamaian yang menimpa masyarakat Muslim di beberapa negara, maka NU diyakini akan menjadi ikon perdamaian dunia, indikatornya bisa dilihat dari banyaknya masyarakat dunia yang berkunjung ke PBNU untuk meminta pandangan dan arahan sesuai dengan prinsip yang dipegang oleh NU. “Saat ini sudah ada ratusan Pengurus Cabang Istimewa NU yang ada di belahan dunia, bahkan pengurus NU Afghanistan semuanya diisi oleh penduduk pribumi, para pengurus di ini tentu saja akan menyampaikan pesan damai kepada masyarakat dunia,” pungkasnya.
Canggu, selain memiliki jejak jejak sejarah Majapahit yang berlimpah, juga menyimpan sejarah agung seorang ulama yang pernah lahir di wilayah itu. Namanya Mustamin anaknya Singokerto, ki Lurah Kedungsumur Canggu Jetis Mojokerto. Di mulai dari kenakalan Mustamin saat masih muda. Ia berguru kanuragan dari berbagai guru. Tidak hanya ilmu putih, ilmu hitam pun ia serap. Dan yang menjadi cirinya kala itu, ilmu itu harus bisa dibuktikan. Cara membuktikannya dengan bertarung, mencuri, dan perbuatan asusila lainnya.
Perbuatan Mustamin itu membuat banyak orang resah. Keamanan terganggu. Dan semua orang menjadi takut kepadanya. Akhirnya menggiring kepada para tokoh bermusyawarah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Ki Lurah Singokerto pun hadir. Ia menjadi gundah gulana saat mengetahui bahwa anaknyalah yang ternyata berulah. Kepada peserta musyawarah itu Ki Lurah Singokerto berjanji akan menyelesaikannya sendiri terkait ulah anaknya. Pak Lurah pun pergi menemui anaknya, dan menanyakan tujuan dari keonaran yang ia perbuat. Dari percakapan antara bapak dan anak itu, akhirnya Ki Lurah Singokerto faham, bahwa anaknya ingin menjadi dungdeng (sakti). Dan Ki Lurah berjanji akan mencarikan guru yang hebat yang bisa membuat ia menjadi orang yang sakti mandraguna.
Mustamin kemudian dibawa mondok ke Pondok Sidosermo -Surabaya. Pada saat itu yang menjadi pengasuh adalah KH. Baidlowi. Di Pondok Sidosermo itu Mustamin tidak diajar mengaji, tetapi hanya ditugasi menabuh beduk untuk sholat lima waktu. Karena Mustamin tidak pernah ngaji dan hanya menabuh beduk selama nyantri, maka ia sering diejek teman temannya, akan memperoleh ilmu apa kelak kalau nyantrinya hanya menabuh beduk saja. Tetapi dijawab oleh Mustamin, kalau yang ia perbuat hanya menaati perintah gurunya.
Mustamin nyantri ke Pondok Sidosermo selama satu tahun. Setelah itu ia melanjutkan nyantri di daerah Pati. Di pondok Pati Jawa Tengah itu pun, ia tidak diajar ngaji oleh gurunya. Ia hanya ditugasi untuk menata dampar para santri yang hendak mengaji. Ia sendiri saat dimulai ngaji, selalu diusir oleh gurunya. Perlakuan gurunya itu membuat nestapa Mustamin. Ia pun nekat untuk ikut ngaji. Setiap Kyainya memberi ngaji kepada santri-santrinya, ia pun naik ke atas genting, mendengarkan isi pengajiannya. Hal itu dilakukan terus menerus. Tetapi pada suatu saat, ia tertidur. Dan kemudian terjatuh dari atap sampai ke bawah di depan pintu.
Bertepatan pula sang Kyai telah selesai dan melangkahkan kaki ke pintu keluar. Sang Kyai kaget dan memarahi Mustamin. Mustamin meminta maaf. Ia mengaku melakukan itu semua karena ingin mengaji. Kyainya tetap memarahi dan mengusirnya sambil mengatakan, “Kalau begitu ilmuku ambil semua”
Kata kata Kyai itu yang kemudian menjadi sebab ilmu laduni diperoleh oleh Mustamin. Mustamin memiliki ilmu tingkat tinggi. Ia pun pandai membaca kitab kuning. Perbendaharaan kitabnya pun begitu melimpah.
Kata Ustad Nur Aliman, Ketua Takmir Masjid Al Mustofa yang saya temui, tentang ilmu laduni itu dan penguasaan teks Arab KH. Muh. Mustofa, dibuktikan dengan pengakuan santri santri KH. Muh. Mustofa sendiri yang pernah ngaji kitab kitab berbahasa Arab. Koleksi kitab dari perpustakaan peninggalan KH. Mustofa sendiri juga berjimbun. Bahkan KH. Muh. Mustofa sendiri juga memiliki karya kitab berbahasa Arab tentang Thoriqoh. Sayangnya Ustad Nur Aliman tidak menyimpannya.
Setelah dari Pati, Mustamin nyantri ke Pondok di Jrebeng Krian Sidoarjo. Entah pondoknya namanya apa. Ustad Nur Aliman menyebut bahwa waktu itu yang menjadi pengasuhnya bernama KH. Dasuki. Dengan KH. Dasuki ini, Mustamin berbaiat thoriqot Naqsabandiyah Kholidiyah. Ada juga yang bilang kalau thoriqotnya adalah Naqsabandiyah Qodiriyah.
Tetapi sebelum berbaiat, Mustamin memperoleh perlakuan mengenaskan dari santri santrinya KH. Dasuki. Ia tidak diperkenankan untuk tidur di Pondok. Pun di Masjid. Para santri pernah mendengar sepak terjang Mustamin sebelumnya. Konon, Mustamin, ketika mempelajari ilmu tertentu, pernah meminum darahnya anjing. Karena hal itulah, kemungkinan para santri itu menganggap Mustamin itu najis.
Perlakuan para santri itu dihadapi dengan sabar. Mustamin kemudian tidur di lapangan.
Saat KH. Dasuki hendak melaksanakan sholat malam, ia terkaget kaget melihat sinar silau yang menembus langit di tengah lapangan. Dan ternyata sinar itu berasal dari seseorang yang tidur di lapangan. Akhirnya KH. Dasuki menandai santri yang tidur itu dengan memberi tali pada sarungnya. Dan pada akhirnya KH. Dasuki siapa yang tubuhnya bersinar menembus langit itu.
Selesai berguru ke KH. Dasuki, Mustamin pulang ke rumahnya. Kepada ayahnya ia meminta untuk dibuatkan Masjid. Dan permintaan itu dikabulkannya. Warga berduyun duyun ikut membangunkan Masjid. Dan di Masjid al Mustofa itulah Mustamin memulai dakwahnya. Ia mulai menerima santri.
Ditengah kesibukannya mengajar ngaji para santrinya, ia merasa belum sempurna perjalanannya sebelum berangkat haji. Ia pun izin kepada ibunya, dan diberi izin untuk melaksanakan haji. Usai menjalankan ibadah haji itulah namanya berubah. Ia kemudian dikenal dengan nama KH. Muhammad Mustofa.
Nama KH. Muhammad Mustofa semakin harum ditengah masyarakat. Banyak santri dari berbagai daerah ikut ngaji dan mengikuti thoriqohnya. Santrinya pun beragam macam. Maling maling celuring pun ditaklukan dan seketika berubah menjadi santrinya. Pun dengan orang orang sakti, mampu ditandinginya dan kemudian menjadi santrinya.
Apabila kamisan, mungkin semacam khususiyah, dzikir khusus bagi pengikut thoriqoh, kata Ustad Nur Aliman menirukan salah satu santri KH. Muhammad Mustofa yang pernah ditemuinya, Masjid Al-Mustofa bagaikan pasar. Semua orang tumplek blek menjadi satu. Mereka ikut thoriqohan dan ngaji kepada KH. Muhammad Mustofa.
Ada cerita menarik, ada salah satu santrinya yang berguru kepada KH. Muhammad Mustofa dengan tujuan ingin sakti. Kemudian oleh KH. Muhammad Mustofa, ia ditempatkan disebuah ruangan, semacam suluk, disuruh berdzikir dan riyadoh selama empat puluh hari. Selama riyadoh itu, ia dibukakan hijab hijabnya. Sampai selesai riyadohnya, ia kemudian menyatakan tidak ingin sakti lagi. Ia hanya ingin memandang Allah semata. Subhanallah.
KH. Achyat Halimi dari pengakuan santri KH. Muhammad Mustofa, Mbah Aman, Sesepuh Masjid Tiban, menyatakan bahwa KH. Achyat Chalimi juga pernah menjadi santri KH. Muhammad Mustofa. Bahkan beberapa waktu pernah menggantikan posisi imam saat khususiyah.
Pun Kyai Bajuri, si Mbah Kyai-nya IAI Uluwiyah Mojosari, juga tercatat sebagai santri dari KH. Muhammad Mustofa. Beliau belajar kanuragan dalam upaya ikut berjuang menghadapi Belanda.
Bisa jadi pula, pejuang pejuang kemerdekaan, menjadikan KH. Muh. Mustofa sebagai jujugan selama perang kemerdekaan. Mengingat pada usia itu, KH. Muhammad Mustofa tergolong Kyai yang disepuhkan. Juga terkenal akan ke-dongdengan-nya.
Ustad Nur Aliman menceritakan pengalamannya menemui santri santri KH. Muhammad Mustofa yang masih ada. Hampir saat ditemui dan menceritakan sosok KH. Muhammad Mustofa, rata rata menangis tersedu sedan. Ada rasa rindu yang menyeruak. Lidah seakan kelu untuk mengucapkan keagungan dari KH. Muhammad Mustofa.
Satu dua ada yang dengan jelas bercerita. Seperti KH. Ach Qusyairi Mansur, generasi kedua dari Pondok Pesantren Darul Hikmah Sawahan Mojosari. Saat KH. Muhammad Mustofa memiliki seorang anak. Sang Kyai memperoleh isyarah kalau anaknya akan kelak ketika besar akan menjadi nakal dan tidak memiliki jalan taubat. Karenanya KH. Muhammad Mustofa mengumpulkan para santri untuk berdoa kepada Allah dengan membacakan al-Fatihah agar Allah memberikan yang “terbaik” untuk anaknya. Kecuali KH. Ach Qusyairi Mansur. Ia tidak mau membaca al-Fatihah. Katanya setelah ketahuan dan ditanya oleh KH. Muhammad Mustofa, ia tidak tega kalau seorang anak didoakan meninggal dunia. Ia pun dihukum oleh KH. Mustofa dengan membaca Al Fatihah seribu kali. Usai membaca Al-Fatihah itu, KH. Mustofa mendoakannya menjadi Kyai. Dan terbukti kemudian ia menjadi Kyai besar.
Dari peristiwa itu, pada akhirnya anak dari KH. Muhammad Mustofa itu memang benar benar meninggal dunia. KH. Muhammad Mustofa tidak memiki keturunan setelah itu. Dan ia pun tidak benar benar pula secara sareh menunjuk khalifah pengganti beliau. Sehingga sempat terjadi kevakuman dalam keberlanjutan throriqohnya. Namun dikemudian hari ada salah satu santrinya bermimpi dan diberi tongkat sebagai penanda estafet kepemimpinan berikutnya. Kata Ustad Nur Aliman, namanya Mustofa dan punya anak yang bernama Mustamin. Asal Sawahan Bangsal.
Tercatat, KH. Muhammad Mustofa meninggal pada tanggal 27 September 1955. Makamnya berada dibelakang Masjid al Mustofa Canggu. Tiap tahun, khususnya pada bulan Saffar, peringatan Haul dilakukan. Pada saat haul inilah anak dan cucu cucu santrinya dulu masih berkumpul untuk memperingati Mbah Kyai Mustofa. Wallahu alam.
Sumber Tulisan dari Wawancara dengan Ustad Nur Aliman di rumahnya, Desa Canggu, pada tanggal 21 Januari 2020. Ustad Nur Aliman saat ini adalah Ketua Takmir Masjid Al Mustofa. Beliau juga tercatat sebagai anggota Jamaah Qura wal Huffad NU Kab. Mojokerto.
Dibentuk di Surabaya pada 31 Januari 1926. Tercatat sebagai Badan Hukum (Rechtpersoon) pada 6 Pebruari 1930. Pada awalnya lambang organisasi NU tulisan Nahdlatoel Oelama masih menggunakan huruf latin, belum memakai huruf Arab seperti sekarang.