Blog

  • Kisah Abah Guru Ketika Tsanawiyah

    Kisah Abah Guru Ketika Tsanawiyah

    wp.sorbansantri.com – Abah Guru Sekumpul masih muda bersama Guru Semman Mulia Sedikit mengambil berkah kisah Abah Guru Waktu Abah Guru sekolah di Darussalam kelas satu tsanawiyah, beliau termasuk murid yang jenius, bukan pandai lagi, kalau ulangan selalu dapat nilai “jayyid jiddan” artinya nilai tertinggi. Namun paman beliau Guru Semman Mulia, ingin keponakannya benar-benar ‘alim.

    Dan dikelas beliau mengajar itu ada pengajarnya yang ahli ilmu. Guru Semman meminta wali kelasnya supaya keponakannya jangan dinaikkan kelas supaya bisa belajar setahun lagi dengan pengajarnya yang ‘alim itu.

    Lalu Abah Guru dipanggil oleh Guru Seman selaku guru senior, dan menanyakan kepada Abah Guru dengan berbagai pertanyaan agama, dan Abah Guru bisa menjawabnya.

    Setelah Semua pertanyaan itu habis ditanyakan, akhirnya guru seman bertanya ” Zaini, berapa jumlah bulu ketiak ikam???” (Wahai Zaini, berapakah jumlah bulu ketiakmu?), maka Abah Guru pun tidak dapat menjawabnya.. Kemudian kata Guru Semman, “han kada ‘alim ikam kada bisa menjawab, mun kada naik kelas jangan salahkan aku lah” (kalau tidak bisa menjawab berarti kamu belum ‘alim, jangan salahkan saya kalau kamu tidak naik kelas).

    Akhirnya memang Abah Guru tidak naik kelas atas permintaan pamannya sendiri dengan tujuan yang mulia.. Dan Guru Semman sendiri sudah tau bahwa Abah Guru nanti akan menjadi orang besar, maka beliau di tarbiyah supaya jangan diri merasa ‘alim, padahal nilai-nilai Abah Guru selalu yang tertinggi.

    (KALAM PARA ULAMA’)

  • Semangat 2 sahabat ikuti Diklatsar Banser Ngoro di Akhir Tahun 2020, patut diacungi jempol

    Semangat 2 sahabat ikuti Diklatsar Banser Ngoro di Akhir Tahun 2020, patut diacungi jempol

    wp.sorbansantri.com- Ada yang lain dalam Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser Angkatan 4 di PAC Ngoro Kabupaten Mojokerto pada penghujung Tahun 2020. Yang dilaksanakan pada hari Jum’at – Sabtu – Minggu Tanggal 25,26,27 Desember.

    Ini adalah DIKLAT pertama dalan kepemimpinan sahabat Moh. Saufi S.kom sebagai ketua PAC GP Ansor Kecamatan Ngoro (2020-2023) menggantikan Sahabat Ahmad Surotin,yang diikuti oleh 125 calon anggota Banser.

    Yang paling menarik dan Luar biasa dalam Diklatsar ini adalah dengan adanya 2 sahabat yang kurang Fisiknya yaitu sahabat Mattino (yang harus memakai tongkat karena habis kecelakaan) dan sahabat Dwi Purnomo (memakai tongkat karena cacat bawaan waktu dia lahir). Semangat juang dan mengabdi pada NU serta NKRI inilah yang membuat bangga serta haru pada anggota yang lain,panitia,tim instruktur bahkan masyarakat serta tokoh di sekitar.

    Moh. Saufi S.kom (ketua PAC) dalam sambutannya menyampaikan “Ini adalah semangat juang dan dedikasi luar biasa untuk Agama Islam dan NKRI yg diberikan oleh sahabat Mattino dan Dwi Purnomo dalam Diklatsar ini” lalu dia melanjutkan sambutannya ” jadi…. Sahabat sahabat Yang lain jangan sampai kalah sama sahabat Mattino dan Dwi Purnomo dalam mempertahankan keutuhan NU dan NKRI”. //Choirul biro Infokom

  • PAC GP ANSOR CANDI SIDOARJO ZIAROH WALI SONGO JATIM

    PAC GP ANSOR CANDI SIDOARJO ZIAROH WALI SONGO JATIM

    Sorbansantri.com – PAC GP ANSOR CANDI SIDOARJO pada hari Minggu (03/02/2021) melakukan Ziaroh ke makam wali songo Jawa timur atau yang lebih populer dengan sebutan Ziaroh wali limo, di ikuti oleh perwakilan tiap tiap ranting GP ANSOR sekecamatan Candi dengan harapan bisa menjalin silaturahim antar ranting.

    Ketua PAC Gus M ANAS FAHRUDIN saat di wawancarai oleh redaksi wp.sorbansantri.com , di serambi masjid makam syech MAULANA ISHAQ Lamongan menginformasikan bahwa Ziaroh kali ini adalah salah satu agenda praraker yang ke_2 dengan harapan selain bisa menjalin silaturahim antar ranting juga GP ANSOR bisa berperan aktif untuk menjaga dan melestarikan tradisi Aswaja.

    Saat wawancara masih berlangsung jamaah berkumpul di sebelah utara makam lebih tepatnya di tempat peristirahatan nampak beberapa pemuda membagikan nasi kotak dengan tersenyum Gus ANAS berkata dengan logat jawa” biasa mas arek arek ansor yo ngene iki, bontot dewe ben tambah akur tur radi ngirit ” kalau di artikan ‘ sudah kebiasaan ANSOR seperti ini, bawa bekal sendiri biar tambah rukun dan agak hemat”

    Beliau juga memberitahukan bahwa rombongan yang berjumlah 55 jamaah ini di kawal oleh 5 BANSER yang di pimpin langsung oleh kasatkoryon, insyaALLOH nanti juga akan di sempatkan masuk ke tempat wisata baru yaitu pantai kelapa sebelum menuju ke makam sunan bonang. (Dikin sorban)

  • Tim Bagana Tabanan Bali Berhasil Temukan Anak yang Tenggelam

    Tim Bagana Tabanan Bali Berhasil Temukan Anak yang Tenggelam

    Bali, InfokomBanserNU- Bersama Tim SAR dan Aparat setempat, Tim Banser Tanggap Bencana (Bagana) Satkorcab Tabanan turut membantu mencari Dhimas, Siswa MTs Al-AMin Tabanan yang diketahui tenggelam di sungai Tanggulan Kamis (2/1) pukul 01.00 Wita. Tidak mudah untuk mencari anak tersebut, mengingat sungai Tanggulan terkenal berpalung berbahaya, dan berarus deras. Namun dengan doa dan ikhtiar bersama, Sahabat Musthofa dibantu sahabat Bagana lainya yaitu Sahabat Roni, Ridwan, Rendra dan Fauzi, berhasil menemukan anak tersebut pada pukul 17.15 Wita.

    “Alhamdulillah berkat doa bersama dan ikhtiar, yang menemukan jenazah Almarhum Dhimas (Siswa MTs Al-Amin) adalah seorang anggota BANSER BAGANA SATKORCAB TABANAN bernama Musthofa, Seorang penyelam yang TIDAK menggunakan alat selam. SALUT…” Kata Amron Sudarmanto, Kasi Bimas Islam Kemenag Kab.Tabanan sekaligus Penasehat PW Ansor Bali melalui Whatsapp group Ansor Bali.

    SORBANSANTRI.COM
    Proses evakuasi korban oleh tim SAR setelah sebelumnya jenazah diangkat oleh Tim Bagana

    Aksi dari sahabat Musthofa dan sahabat-sahabat Bagana tersebut, mendapatkan apresiasi yang besar dari masyarakat, ketua PW Ansor Bali, Yunus Naim turut menyampaikan ucapan terimakasih dan berdoa untuk keluarga yang ditinggalkan agar diberikan ketabahan.

    “Alhamdulillah sudah ditemukan. Semoga keluarganya tabah dalam menghadapinya (cobaan ini). Terima kasih kepada sahabat-sahabat Ansor Banser yang tanggap dan peduli lingkungan.” ujar H. Yunus Naim.

    SORBANSANTRI.COM
    Sahabat Musthafa bersama ketua PW Ansor Bali dan tim Banser PW Bali

    Menurut Kasetma Banser Provinsi Bali, Nanang Setiabudi, Sahabat Musthofa memang sudah biasa mencari ikan di sungai arus deras. Beliau juga seorang Banser yang militan dan istrinya merupakan seorang Denwatser yang lulus diklatsar Karangasem Bali.

    “Sahabat Musthofa anggota Banser Satkoryon Kediri Tabanan memang suka mancing di Sungai Arus Deras. Istrinya juga seorang Denwatser yang lulus diklatsar Karangasem,” tandasnya.

    Dengan keberanian sahabat Musthofa dan Tim Bagana Tabanan, yang mempertaruhkan nyawanya di sungai arus deras demi mencari anak yang tenggelam semoga menjadi motivasi dan ghiroh bagi kita semua untuk membantu sesama. (ansor bali)

  • Kader NU se-Kab. Mojokerto Gelar Tiryaqul Mujarrob Secara Akbar 

    Kader NU se-Kab. Mojokerto Gelar Tiryaqul Mujarrob Secara Akbar 

    wp.sorbansantri.com- Minggu, 03 Januari 2021, Semua kader NU se Kab. Mojokerto mulai dari Kiai, Ulama’, ansor,banser, fatayat, muslimat, IPNU IPPNU, dan lembaga-lembaga dibawah naungan NU melakukan pembacaan kitab Tiryaqul Mujarrob bil Waliyil Muqorrob. Acara Besar ini dimulai dari pukul 19.00 wib – selesai di Pondok Pesantren Jolotundo (mbah kyai Mansyur) trawas.

    Persiapan sudah dilakukan 2 Minggu sebelum pelaksanaan kegiatan oleh pengurus LSS ( Laskar Semut Sulaiman) untuk acara pembacaan Tiryaqul Mujarob skala Kabupaten. Dalam acara tersebut diawali dari pembacaan Sholawat Nabi, Yasin, Tahlil dilanjut dengan acara inti pembacaan kitab Tiryaqul Mujarrob bil Waliyil Muqorrob, Mahalul Qiyam, Tausiyah dan Doa.

    Pembacaan Tiryaqul Mujarrob bil Waliyil Muqorob yang diadakan secara masal se-kab. Mojokerto ini bertujuan sebagai ajang silaturrakhim antar kader NU serta penguatan ideologi yang dirasa sangat penting untuk semua kader yang ada di bawah naungan NU. Apalagi waktu dimulainya rutinitas pembacaan Tiryaqul Mujarrob ini bersamaan dengan masa menjelang PILKADA serentak 2020 kemarin, tentunya masih banyak kader-kader NU yang menganggap bahwa rutinitas tiryaq ini adalah Timses salah satu calon dalam pilkada kemarin.

    Dan harapan besar bagi kiai Mansyur sendiri adalah sebagai gerakan untuk menasionalkan kitab Tiryaqul Mujarrob bil Waliyil Muqorrob ini yang dikarang oleh syeikh Mahmud Mukhtar dari cirebon (penulis tarjamah jurumiyah). Agar diamalkan secara jama’ah oleh semua kader di berbagai daerah yang ada di Jama’ah Annnahdliyah. (abi sorban)

  • WASIAT KH. FUAD HASYIM BUNTET

    WASIAT KH. FUAD HASYIM BUNTET

    Seminggu sebelum KH. Fuad Hasyim Buntet Cirebon wafat, beliau berwasiat kepada putra-putri dan murid-muridnya: “Jangan sekali-kali kalian meninggalkan NU dan jangan sekali-kali kalian keluar dari NU. Jika kalian memaksa keluar dari NU, maka Bapak tidak ridha dunia akhirat.”

    SORBANSANTRI.COM

    Foto dalam kenangan, ki-ka: KH. Luthfi (Mudir JATMAN), KH. Endin Fakhrudin Masthuro (Wakil Rais Aam PBNU), KH. Muhaimin Gunardo (PP Parakan Temanggung), KH. Fuad Hasyim (PP Buntet Cirebon), Habib Luthfi Bin Yahya (Pekalongan) dan Prof. KH. Tolhah Hasan (Malang).

    Sumber: LapakNU

  • YAYASAN KOPI GLADAK BERSAMA UPZIS MWCNU JETIS MOJOKERTO MENYANTUNI YATIM PIATU

    YAYASAN KOPI GLADAK BERSAMA UPZIS MWCNU JETIS MOJOKERTO MENYANTUNI YATIM PIATU

    Sorbansantri.com – Yayasan KOPI GLADAK bersama UPZIS MWCNU JETIS menyantuni yatim piatu dan fakir miskin di desa ngabar Jetis Mojokerto pada hari Jum’at jam 16:00wib(25/12/2020) berupa sembako dan amplob berisi uang dengan harapan terjalin hubungan yang baik antara KOPI GLADAK dan UPZIS MWCNU JETIS yang sama sama menginginkan memberi kemanfaatan kepada yatim piatu dan fakir miskin

    Acara di kemas secara sederhana setelah pengurus dari kedua belah pihak dan anak yatim piatu serta fakir miskin berkumpul acara di mulai dan bersamaan dengan melantunkan sholawat pembagian sembako dan uang di bagikan.

    Pengurus UPZIS MWCNU JETIS ustadz MAHMUD BUKHORI mengatakan “santunan yatim piatu dan fakir miskin kami lakukan setiap bulan keliling di tiap desa sekecamatan Jetis dan bulan ini kami bekerja sama dengan KOPI GLADAK sebagai salah satu yayasan yang juga sering melakukan kegiatan yang sama”

    Dari pengurus KOPI GLADAK Gus SUPANGAT saat di wawancarai team sorban santri menyatakan sangat senang karena dari yatim piatu non panti serta fakir miskin yang biasa di santuni oleh KOPI GLADAK bulan ini mendapatkan bantuan lebih banyak dari biasanya, beliau juga mengharapkan bantuan yang di berikan meskipun tidak begitu seberapa bisa meringankan beban mereka.(Dikin sorban)

  • KEHEBATAN ULAMA NUSANTARA

    KEHEBATAN ULAMA NUSANTARA

    SORBANSANTRI.COM

    Sosok satu ini asli produk Nusantara. Meskipun secara nasab berjalur ke Hadhramaut Yaman. Namun beliau lahir di Indonesia, tepatnya Surabaya, bahkan ayahnya juga Indonesia yakni Sulawesi. Wafat tahun 1969, sejaman dengan para pendiri NU. Kakak kelas dari ulama kebanggaan Nusantara Syaikh Yasin al-Faddani. Diantara alasan inilah beliau Habib Salim Bin Jindan sangat mencintai Indonesia.

    Dibuktikan setiap kali menulis kitab setelah membubuhi al-Alawy al-Husaini di belakang namanya selalu mencantumkan al-Indonesia. Tidak kurang dari 400 ulama seluruh dunia yang menjadi gurunya. Hingga dirinya menjadi ulama pakar sejarah (muarrikh), hadits (muhaddits), nasab (munsib), sanad (musnid), dsb.

    Terhitung karya tulisnya sebanyak 133 buah kitab. Dimana satu contoh kitabnya saja yang berjudul asy-Syamikh disebut oleh Syaikh Abdul Halim Mahmud memiliki 28 jilid. Sedangkan yang masih tersisa ada di tangan sang cucu, Habib Ahmad bin Novel bin Salim Bin Jindan, hanya 4 jilid. Sedangkan satu jilidnya saja mencapai 1000-an halaman. Kitab yang memuat biografi para gurunya Habib Salim ini ditulis detail. Urut dari abjad alif, ba’, ta, dst. Dari 4 jilid itu saja baru sampai huruf kho’.

    Habib Ahmad Novel Jindan mengungkapkan bahwa jumlah manuskrip karya ulama Nusantara asal Hadhramaut (para sadah Alawiyyin) jauh lebih banyak dibanding negara asalnya. Dari segi suku (fam/marga) pun banyak yang di negara asalnya sudah punah namun di Nusantara masih ada, misalnya Khoneiman dan Bin Jindan. Bahkan ulama-ulama Nusantara itu hebat-hebat dan jauh lebih banyak dari ulama-ulama Timur Tengah. Tapi entah kenapa para ulama Nusantara jarang disebut oleh ulama-ulama Timur Tengah.

    Menurut Habib Ahmad Bin Jindan, sedikitnya ada dua alasan; karena jaraknya yang jauh di ujung dunia dan faktor bahasa yang berbeda. India masih banyak disebut karena jaraknya cukup dekat dengan Timur Tengah. Adapun ulama Nusantara yang menjadi rujukan ulama Timur Tengah semisal Syaikh Nawawi Banten, Syaikh Mahfudz Termas dan Syaikh Yasin Padang, pun dikarenakan mereka berhijrah dari Nusantara ke negara Arab.

    Alhasil, wallahu a’lam. Inilah bagian dari rahasia Allah yang belum terungkap. Apalagi besok tanggal 8-10 April akan berlangsung Konferensi Ulama Sufi Internasional terbesar di dunia. Acara yang diinisiasi oleh JATMAN NU dan Menhan ini membuktikan negara ini benar-benar negara yang dipenuhi keberkahan, gudangnya ulama, dan ummat Islam terbesar di dunia. Saya bangga menjadi Indonesia. Kita NU. Pancasila Jaya. NKRI Harga Mati!

    Tulisan ini saya resume dari sedikit cuplikan pembahasan dalam acara Islam Nusantara Center – INC di Perpusnas bersama Habib Ahmad Jindan, Syaikh Faishal an-Najjar dan TG. Ajengan KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban.

    Silakan dishare, halal semua tanpa perlu ijin. Sampai jumpa di Pekalongan. (Ditulis oleh: Syaroni As-Samfuriy)

    Selengkapnya bisa disimak di video ini: https://youtu.be/XTx4OkP7Pgs

    Sumber: LapakNU

  • Kisah KH Abdullah Salam Memberi Jas Mahal Pada Tamu

    Kisah KH Abdullah Salam Memberi Jas Mahal Pada Tamu

    Infokom Ansor Banser NU- Mbah Dullah punya selera yang tinggi dalam berpakaian. Koleksi jam tangan Beliau didominasi merk Mido, waktu itu sekitar tahun 90-an, sudah ada yang berbandrol 9jt, ada yang 6jt.

    Almari pakaian Beliau dipenuhi sarung merk BHS dan belbagai macam jas. Beliau memang penyuka jas, dan Beliau juga mahir bikin jas, karena di waktu muda dulu, di sela mengabdi di Pesantren, Beliau juga berprofesi sebagai seorang penjahit pakaian, bahkan jas. Sampai sepuh, Beliau masih suka menjahit baju yang bakal beliau kenakan.

    Suatu hari, seorang santri diutus Mbah Dullah mencari kain wool untuk dibikin jas. Contoh kain tersebut dibawakan agar tidak keliru dalam membeli. Santri tersebut ngubek-ubek toko kain sekota Kudus, namun belum menemukan kain yang sesuai dengan contoh yang diberikan.

    Esok harinya, Kota Semarang yang dituju. Si santri muter-muter hampir ke seluruh toko kain dan mall se-Semarang. Alhamdulilah, di salah satu mall yang megah, kain yang sesuai dengan contoh yang dibawa si santri didapatkan. Harganya? Hampir 3 juta permeter. Total pembelian untuk ukuran jas yang dikehendaki, 5 juta lebih. Lalu kain tersebut dibawa oleh si santri ke penjahit jas yang terkenal, “Eka Karya” di jalan Kyai Saleh, Semarang, sesuai arahan Sang Kiai.

    Contoh jas sebagai ukuran dan kain wool-pun diserahkan pada sang penjahit. Sang penjahit berucap “Yo, Kang. Jas pesanan akan segera kami bikin, nanti kalau jas sudah jadi tidak usah diambil ke sini, akan kami antar sendiri ke Kajen sekalian sowan”.

    Sang penjahit yang asli Wedung, Demak, memang kenal dengan Mbah Dullah. Lalu si santri-pun pulang. Lewat satu minggu, Sang Penjahit sudah datang di Kajen, mencari si santri minta diantar untuk sowan. Sang penjahit kemudian diantar si santri sowan, dalam pisowanan tersebut, sudah ada tamu lain yang menunggu, yang juga hendak bertamu pada Mbah Dullah. Setelah bertemu dengan Mbah Dullah, sang penjahit menyerahkan jas pesanan, Mbah Dullah-pun mencoba memakai jas baru tersebut. Pas! Enak dipakai dan bagus sekali..

    Sang penjahit pun pamit permisi setelah makan, ongkos pembikinan jas digratiskan untuk tabarrukan. Lalu, tamu lain yang tadi bareng sowan nyeletuk, sekedar basa-basi, “Mbah, jas-e sae sanget”. Mbah Dullah menyahut, “Jenengan remen?”. “Nggih, sae sanget”. Mbah Dullah ngendikan, “nek Jenengan remen, monggo Jenengan betho mawon, kangge Jenengan”. Jas-pun kembali dimasukkan ke pembungkusnya, diserahkan pada Sang Tamu tadi.

    Sang Tamu yang awalnya jengah menerima, akhirnya tetap membawa jas tersebut karena setengah dipaksa. Si santri melongo, memendam rasa dongkol yang tiba-tiba menggunung memenuhi hatinya, teringat perjuangannya mendapatkan kain bahan jas itu. “Kenapa tidak diberikan ke saya saja, mbah?”, jeritnya dalam hati. Begitulah, Mbah Dullah!

    Makanya tidak heran jika waktu itu banyak Santri Ndalem yang bersarung BHS dan ber-arloji Mido, hadiah dari Sang Kiai. Teruntuk Mbah Dullah, alfatihah…

    cerita ini disarikan dari tutur Sang Santri, Kang Sunhadi!

    Oleh: Mujibur Rachman Ma’mun, Pengasuh Pesantren Al Hikmah Kajen, cucu Mbah Dullah Salam Kajen

    (Kalam Para Ulama)

  • Kisah Mbah Maksum Lasem dan Etnis Tionghoa

    Kisah Mbah Maksum Lasem dan Etnis Tionghoa

    Infokom Ansor Banser NU- Mbah Maksum Lasem dikenal sebagai kiai yang penuh karomah. Banyak kisah yang menegaskan Mbah Maksum sebagai kekasih Allah, salah satunya pernah ditemui Nabi Muhammad. Beliau mendirikan Pesantren Al-Hidayat Lasem setelah berhenti berdagang, karena mendapatkan petunjuk yang langsung ditemui Nabi Muhammad.

    Mbah Maksum bersahabat dekat dengan para kiai besar di Nusantara. Salah satunya adalah KH.M. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, dan lainnya. Makanya, tidak salah Mbah Maksum masuk sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Beliau sangat cinta dengan NU, dan mengajak santri-santrinya untuk berjuang di NU.

    Prinsip hidup Mbah Maksum itu moderat, persis dengan jalan perjuangan NU. Makanya, semua yang ada di sekitar Mbah Maksum begitu senang dengan kehadiran beliau. Salah satunya adalah warga Tionghoa, karena masyarakat Tionghoa banyak yang hidup di Lasem. Mbah Maksum tetap menjaga hubungan baik dengan mereka, tanpa diskriminasi.

    Ini dikisahkan oleh putri Mbah Maksum, yakni Ibu Nyai Azizah Maksum. Sebelum mendirikan pesantren, kisah Nyai Azizah, Mbah Maksum membangun tujuh masjid yang ada di Lasem. Mbah Maksum ngaji keliling di masyarakat, dari satu desa ke desa lain di Rembang dan Lasem. Mbak Maksum sangat akrab dengan masyarakat, termasuk dengan warga Tionghoa.

    Suatu hari, ada warga Tionghoa yang mengeluh. Ada apa? Ternyata buah mangga miliknya sering hilang karena diambil para santri. Tahu keluhan warga Tionghoa ini, Mbah Maksum segera menelusuri siapa santri yang melakukan itu. Ketika sudah diketahui, maka dipanggillah santri itu, juga warga Tionghoa.

    Santri yang mencuri mangga Tionghoa itu kemudian dihukum Mbah Maksum. Santri itu disuruh nungging, lalu dipukul bokongnya. Warga Tionghoa menyaksikan itu di depannya. Santri itu juga disuruh meminta maaf. Dengan itulah, Mbah Maksum mendidik santrinya, sekaligus menjaga hubungan harmonis dengan warga Tionghoa.

    (kalam para ulama’)