Blog

  • Akan Hancur Negara Indonesia Jika Beri Peluang Manhaj Takfiriyah, HTI, PKS

    Akan Hancur Negara Indonesia Jika Beri Peluang Manhaj Takfiriyah, HTI, PKS

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Awal dari segalanya adalah Manhaj Takfiriyah, yang sekarang bisa berkembang di Indonesia ini menjadi Organisasi seperti HTI, menjadi Partai seperti PKS. Banyak sekarang ini mempunyai pemikiran mengkafirkan orang di luar keyakinan dia. Sedikit-sedikit kalau melakukan ini dibilang kafir, sedikit-sedikit dibilang bid’ah, sehingga yang masuk surga cuma dia saja. Kok ndak takut masuk surga sendirian? inilah bedanya Wali Songo Waliyulloh dengan wali jenggot salafy wahabi.

    Yang sekarang terjadi adalah agama dihadapkan kepada negara, maka akan memberikan suasana kalau negara akan menjadi penindas agama kemudian agama akan menjadi pemberontak dalam suatu negara.

    Dalam kondisi tersebut, dalam jangka panjang pasti akan membahayakan Kesatuan Negara Republik Indonesia.

    Seharusnya NU dan Muhammadiyah yang dimodali oleh negara, untuk mendeteksi Manhaj Takfiriyah tadi. Tapi masih banyak mereka yang tampak dalam gerakan mengkafirkan orang, membidahkan orang, itu masih dimodali oleh Pemerintah dan asing. Bahkan diberi kesempatan kebebasan menjalankan doktrin-doktrinnya yang jauh dari ajaran ASWAJA ANNAHDLIYAH NU dan PANCASILA. Lebih ironisnya lagi mereka masih diberi kedudukan di pemerintahan, seperti Gubernur, Bupati, DPR, dan lain-lain.

    Jadi kita tidak usah anti asing sementara kita menerima uang asing. yang tidak asing dan yang betul-betul asli made in Indonesia itu NU dan Muhammadiyah.

    ini kalau sudah kena Manhaj Takfiriyah tadi, Semuanya akan Bubar semua, Negara Kacau, banyak Demo menentang pemerintah, mudahnya mengkafirkan, sering tuduh menuduh dan lain-lain.

    Sehingga pengrusakan adalah bagian dari ibadah seperti demo 212, demo 411, demo bela ulama’, padahal pengertian aman itu adalah anamu wa amilus sholihat tapi bagaimana Amanu itu bisa dilakukan dengan wafasaadu??! ini semuanya menjadi renungan kita.

    tapi karena sekarang bukan ketuhanan yang maha esa tapi keuangan yang maha kuasa, Maka ini merayap dan mewabah sampai mana mana di bumi nusantara ini.Dijadikan agitasi oleh para teroris untuk terus melawan negara.

    Rata-rata rakyat minta Bagaimana cara Indonesia Aman dalam satu kesatuan NKRI, bagaimana caranya? ya dimulai dari HULUnya, dilaksanakan pelan-pelan melalui pendidikan ketegasan hukum dll. (abi sorban)

  • HILANGNYA MALAIKAT MASJID

    HILANGNYA MALAIKAT MASJID

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Pengusiran anak-anak di masjid menjadi pemandangan biasa di Indonesia, Mata-mata tajam dan kata-kata kasar kadang keluar dari penjaga masjid.
    Jika anak-anak berlari  riang  tawa di masjid itu lah ciri khas anak-anak tetapi kalau yang berlari dan tertawa itu orangtua baru layak di usir. Mereka sebenarnya “malaikat” yang sedang bergembira di rumah Robb-Nya Bahkan Hasan dan Husein pernah menaiki tubuh Rasulullah saat mengimami sholat para sahabat.
    Rasulullah sujud begitu lama Hingga ada sahabat yg bertanya “mengapa lama sekali sujudmu ya Rasulullah” Rasul menjawab “Tadi Hasan dan Husein naik di tubuhku, aku khawatir kalau aku bangkit mereka terjatuh, ku biarkan mereka puas bermain”.
    Dalam riawayat yg lain Rasulullah mempercepat sholatnya karena ada tangis anak kecil yang memanggil ibunya yg sedang ikut berjama’ah bersama Rasulullah…Itulah mesjid Nabi yang tak sepi dari anak-anak kecil…Lalu mesjid apa yang anti dengan anak-anak kecil ?
    Muhammad Al fatih pernah berkata : “Jika kalian tidak lagi mendengar riang tawa dan gelak bahagia anak-anak di masjid-masjid. Waspadalah. Saat itu kalian dalam bahaya.” (abi sorban)
  • Cegah DBD, Ansor Sei Beduk Lakukan Foging

    Cegah DBD, Ansor Sei Beduk Lakukan Foging

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Puluhan anggota barisan Ansor serbaguna ( Banser) Sei Beduk, Minggu ( 20/09/2020) melakukan penyemprotan/fogging di kelurahan Tanjung Piayu. Penyemprotan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD).

    Muhammad Fajri selaku Ketua Pimpinan Anak Cabang Ansor Sei Beduk mengatakan bahwa DBD merupakan salah satu jenis penyakit yang kerap terjadi dikala musim hujan seperti. Untuk itu mengantisipasi penyebaran DBD maka diadakan fogging.

    “Gerakan Pemuda Beserta kader-kader Banser Kecamatan Sei Beduk dan Ranting telah menyatakan waspada DBD pada bulan September sampai akhir tahun 2020 nanti.” Kata Fajri.

    Fajri juga menambahkan bahwa pelaksanaan Foging ini menyasar ke titik yang dinilai rawan penyebaran DBD. “Hari ini ada tiga titik yang menjadi konsentrasi kami. Pertama di RW 13 Perumahan kav. Pancur. Kedua di kavling pancur dan terahir di perumahan bukit lestari. Ada 9 RT di sana.” Ujar pria pencinta shalawat ini.

    Sementara itu, Nur Wahidin ketua RW 01 Tanjung Piayu yang ikut dalam kegiatan fogging mengatakan sangat berterimakasih kepada teman-teman Banser yang telah melakukan penyemprotan di wilayahnya.

    “Saya selalu Ketua RW 01 mengucapkan terimakasih, kawan-kawan Banser atas sudah melakukan pencegahan dini di lingkungan kami. semangatnya sungguh luar biasa. Saya juga meminta kepada warga RW 01 untuk selalu menerapkan hidup sehat.” Ucap pria yang biasa disapa pak nur ini.

    Ditemui di tempat terpisah, ustadz Aziz Elmuna penasehat Gerakan Pemuda Ansor Sei Beduk mengatakan pentingnya juga menerapkan pola 3 M dalam kehidupan sehari-hari. “3 M itu yakni menguras, menutup dan mendaur ulang.” Ujar ustadz Aziz.(m. Fajri Sei Beduk)

  • MENJAGA IDEOLOGI SERTA SOLIDARITAS LEWAT TAWASSUL DAN DO’A

    MENJAGA IDEOLOGI SERTA SOLIDARITAS LEWAT TAWASSUL DAN DO’A

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Ada hal yang sangat menarik dan patut diteladani dalam makna persaudaraan yang ada di Ansor dan Banser. Mengingat Ansor adalah pagar bajanya aqidah Aswaja NU dan Benteng NKRI harus selalu kokoh dan serempak dalam gerakan.

    Ada cerita lain waktu sahabat-sahabat PAC GP Ansor Banser Pacet dalam kegiatan yang diadakan warga NU asal Mojokerto hadir pada acara Haul ke-12 Syeikh Mahmud Muchtar Cirebon tanggal 21 September 2020, disela-sela waktu ishoma kegiatan acara haul, sahabat-sahabat PAC GP ANSOR Pacet Mojokerto masih menyempatkan doa dan ziarah ke makam syeikh Mahmud Muchtar Cirebon untuk tawassul dan mendoakan sahabat SORBAN (Ansor Banser) di Pacet agar selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam berjuang menegakkan IDEOLOGI.

    Mengingat masa-masa Pilkada serempak PILBUB 2020 di Mojokerto banyak penyimpangan IDEOLOGI dalam memperjuangkan Aqidah Annahdliyah. Masih banyak Bapak kita (MWC) dan Sahabat kita ( Lembaga dan Banom), masih belum mengetahui baik itu sadar apa tidak bahwa saat ini kita dalam masa perang IDEOLOGI dan ada penyelewengan secara struktural dengan meng atas namakan NU.

    Untuk itu kami berharap agar semua kader yang masih ragu-ragu dalam berpolitik, yang masih mementingkan kepentingan sendiri dalam politik, diberikan kecerahan hati dan pikiran untuk tetap setia memegang teguh IDEOLOGI ASWAJA NU” ungkap sahabat Sunardi yang memimpin dalam kegiatan doa dan tawassul PAC GP ANSOR PACET. (Abi SORBAN )

  • Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar

    Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – 3 Shofar 1442 H / 21 September 2020 M. Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar diadakan di Pondok Pesantren DARUL ‘ULUMISY-SYAR’ IYYAH Bo’de Plumbon Cirebon Jawa Barat. Beliau adalah pengarang kitab Tarjamah Ajrumiyah yang banyak dipakai kalangan pesantren, madrasah, dan sekolah diniyah. Kitab ini merupakan terjemah dari kitab Matan al-Ajruymiyyah yang ditulis dalam bentuk syair berbahasa Jawa dengan menggunakan bahar Rajaz.

    SORBANSANTRI.COM
    Syeikh Mahmud Mukhtar

    Pada hari ini senin 21 September 2020 sudah sejak pagi dihadiri tamu rombongan dari berbagai wilayah, seperti Warga NU Mojokerto yang hadir sekitar 150 jamaah yang datang pada pukul 07.00 wib. Acara tersebut dimulai dengan ramah tamah yang di lanjutkan dengan khotmil quran sekaligus doa.

    Acara Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar ini akan berlangsung sampai malam nanti. Untuk mengantisipasi banyaknya tamu yang hadir, kesigapan Satkoryon Banser Weru sangat diperlukan apalagi sekarang musim pandemi covid-19 jadi pemeriksaan dan pengamanan sangat diperlukan.

    Alhamdulillah Sahabat Aroyan selaku kasatkoryon Ba ser Weru dapat melakukan koordinasi yang bagus dengan anggotanya, Mudah”an acara haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud berjalan dengan lancar Aamiin Ya Robbal’alamiin. (abi-sorban)

  • SANAD ILMU NAHDLATUL ULAMA

    SANAD ILMU NAHDLATUL ULAMA

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Kesemuanya itu mempunyai sanad yang tsiqah sampai ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Nahnu ashhabul haq fiddini wassiyasi. NU adalah aliran yang benar.

    Keilmuan dalam Islam terbagi menjadi 3 yaitu:
    1. Aqidah(tauhid)
    2. Syariah (fiqh)
    3. Akhlak (Tasawuf)

    SANAD AQIDAH ASY’ARIYYAH ANNAHDLIYYAH

    Para ulama Tanah Air, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma’shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:

    Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Abubakar Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi al-Husaini asy-Syafi’i (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
    Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanawani asy-Syafi’i (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
    Syaikh Isa bin Ahmad al-Barawi az-Zubairi asy-Syafi’i (w. 1182 H/1768 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad ad-Dafari asy-Syafi’i (w. setelah 1161 H/ M), dari gurunya
    Syaikh Salim bin Abdullah al-Bashri asy-Syafi’i (w. 1160 H/1747 M), dari gurunya
    Syaikh Abdullah bin Salim al-Bashri al-Makki asy-Syafi’i (1048-1134 H/1638-1722 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin al-‘Ala’ al-Babili asy-Syafi’i al-Azhari (1000-1077 H/1591-1666), dari gurunya
    Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Ghunaimi (964-1044 H/1557-1634 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
    Syaikh al-Islam, Qadhi al-Qudhat Zainuddin Abu Yahya Zakariya bin Muhammad al-Anshari (826-926 H/1423-1520 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Taqiyyuddin Muhammad bin Muhammad bin Fahad al-Makki asy-Syafi’i al-‘Alawi al-Hasyimi (787-871 H/1385-1466 M), dari gurunya
    Syaikh Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub al-Lughawi asy-Syirazi al-Fairuzabadi (729-817 H/1329-1415 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Sirajuddin Umar bin Ali al-Qazwini (683-750 H/1284-1349 M), dari gurunya
    Al-Qadhi Abubakar Muhammad bin Abdullah al-Taftazani, dari gurunya
    Syarafuddin Abubakar Muhammad bin Muhammad al-Harawi, dari gurunya
    Syaikh Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi (544-606 H/1150-1210 M), dari gurunya
    Syaikh Dhiyauddin Umar bin al-Husain ar-Razi (hidup sebelum 559 H/1164 M), dari gurunya
    Syaikh Abu al-Qasim Salman bin Nashir bin Imran al-Anshari al-Arghiyani (w. 512 H/1118 M), dari gurunya
    Imam al-Haramain Dhiyauddin Abu al-Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M), dari gurunya
    Al-Ustadz Abu al-Qasim Abdul Jabbar bin Ali bin Muhammad bin Haskan al-Asfarayini al-Iskaf (w. 452 H/1034 M), dari gurunya
    Ruknuddin al-Ustadz Abu Ishaq al-Asfarayini (w. 418 H/1027 M), dari gurunya
    Syaikh al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Bahili, dari gurunya
    Syaikh as-Sunnah, Imam al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Asy’ari (270-330 H/883-947 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Zakariya as-Saji (220-307 H), dari gurunya
    Imam Rabi’ al-Muradi (w. 270), dari gurunya
    Imam al-Muzani (w. 264 H), dari gurunya
    Imam Muhammad bin Idris bin Syafi’ (w. 204), dari gurunya
    Imam Malik bin Anas, dari gurunya
    Imam Nafi’, dari gurunya
    Sahabat Ibnu Umar Ra., dari
    Sayyidina Rasulullah Saw.
    Ibnu Qadhi Syuhbah menjelaskan bahwa Imam al-Asy’ari berguru kepada Syaikh Zakariya as-Saji, beliau dari Rabi’ dan al-Muzani, keduanya adalah murid Imam asy-Syafi’i. Dari al-Hafidz Zakariya as-Saji inilah Imam al-Asy’ari mengutip riwayat dalam madzhab Ahlussunnah. (Lihat dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah juz 1 hal. 7)
    SANAD AQIDAH MATURIDIYYAH ANNAHDLIYYAH

    Para ulama Tanah Air, seperti KH. M. Hasyim Asy’ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma’shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:
    Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
    Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanwani (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Hasan al-Munir as-Samanudi asy-Syafi’i (1099-1199 H/1688-1785M), dari gurunya
    Burhanuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Budairi al-Husaini ad-Dimyathi al-Asy’ari asy-Syafi’i, populer dengan sebutan Ibn al-Mayyit (w. 1131 H/1719 M), dari gurunya
    Burhanuddin Abu al-‘Irfan al-Mulla Ibrahim bin Hasan al-Kurani (1025-1101 H/1616-1690 M), dari gurunya
    Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Yunus al-Qusyasyi ad-Dajani al-Husaini (991-1071 H/1583-1661 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
    Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari (826-926 H/1423-1520), dari gurunya
    Al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani (773-852 H/1372-1449 M), dari gurunya
    Syaikh Syamsuddin Muhammad al-Qurasyi, dari gurunya
    Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Hajjaj al-Kasyqari, dari gurunya
    Syaikh Hisyamuddin Husain bin Ali as-Saghnaqi (w. 711 H/1311 M), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Nashr an-Nasafi (w. 693 H/1294 M), dari gurunya
    Al-Hafidz Najmuddin Umar bin Muhammad an-Nasafi (461-537 H/1068-1142 M), dari gurunya
    Al-Qadhi Shadrul Islam Abu al-Yusr Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Bazdawi (421-493 H/1030-1100 M), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Husain al-Bazdawi, dari gurunya
    Syaikh Husain bin Abdu Karim al-Bazdawi, dari gurunya
    Syaikh Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa bin Isa al-Bazdawi (w. 390 H/1000 M), dari gurunya
    Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H/945 M).
    Demikian mata rantai sanad madzhab al-Asy’ari dan madzhab al-Maturidi yang sampai kepada guru-guru kita, para tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Selain sanad di atas, masih banyak jalur-jalur lain yang menyambungkan mata rantai akidah Ahlussunnah wal Jama’ah kepada para ulama terdahulu, hingga kepada Rasulullah Saw.

    SANAD ILMU FIQIH NAHDLATUL ULAMA

    Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepada Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama memiliki 2 Jalur, Jalur Imam Malik dan Jalur Imam Abu Hanifah.

    1. Jalur Imam Malik

    Imam Malik bin Anas (w. 179 H, Pendiri Madzhab Malikiyah) berguru kepada ① Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H), ② Nafi’ Maula Abdillah bin Umar (w. 117 H), ③ Abu Zunad (w. 136 H), ④ Rabiah al-Ra’y (w. 136H), dan ⑤ Yahya bin Said (w. 143 H)

    Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Abdullah bin Mas’ud (w. 94 H), ② Urwah bin Zubair (w. 94 H), ③ al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (w. 106 H), ④ Said bin Musayyab (w. 94 H), ⑤ Sulaiman bin Yasar (w. 107 H), ⑥ Kharihaj bin Zaid bin Tsabit (w.100 H), ⑦ dan Salim bin Abdullah bin Umar (w.106 H).

    Kesemuanya berguru kepada ① Umar bin Khattab (w. 22 H), ② Utsman bin Affan (w. 35 H),③ Abdullah bin Umar (w. 73 H), ④ Abdullah bin Abbas (w. 68 H), dan ⑤ Zaid bin Tsabit (w. 45 H).

    Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

    1. Jalur Imam Abu Hanifah

    Imam Syafii berguru kepada Muhammad bin al-Hasan (w. 189 H), berguru kepada Abu Hanifah (w. 150 H, Pendiri Madzhab Hanafiyah), berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H).

    Berguru kepada ① Ibrahim bin Yazid al-Nakhai (w. 95 H), ② al-Hasan al-Basri (w. 110 H), dan ③ Amir bin Syarahbil (w. 104 H).

    Kesemuanya berguru kepada ① Syuraih bin al-Haris al-Kindi (w. 78 H), ② Alqamah bin Qais al-Nakhai (w. 62 H), ③ Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani (w. 62 H), ④ al-Aswad bin Yazid bin Qais al-Nakhai (w. 95 H).

    Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) dan ② Ali bin Abi Thalib (w. 40 H)

    Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

    Madzhab Syafiiyah terdiri dari beberapa generasi (Thabqah).

    Thabqah I Murid-Murid Imam Syafi’i

    Abdullah bin Zubair Abu Bakar al-Humaidi (w. 219 H), Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi (w. 231 H), Ishaq bin Rahuwaih (w. 238 H), Abu Utsman al-Qadhi Muhammad bin Syafi’i (w. 240 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H, Pendiri Madzhab Hanbali), Harmalah bin Yahya bin Abdullah al-Tajibi (w. 243 H), Abu Ali al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi (w. 245 H), Abu Tsaur al-Kulabi al-Baghdadi (w. 246 H), Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman al-Tajibi (w. 250 H), al-Bukhari (w. 256 H), al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabbah al-Za’farani (w. 260 H).

    Thabqah II

    Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H), Ahmad bin al-Sayyar (w. 268 H), al-Rabi’ bin Sulaiman (w. 270 H), Abu Dawud (w. 275 H), Abu Hatim (w. 277 H), al-Darimi (w. 280 H), Ibnu Abi al-Dunya (w. 281 H), Abu Abdillah al-Marwazi (w. 294 H), Abu Ja’far al-Tirmidzi (w. 295 H), Al-Junaid al-Baghdadi (w. 298 H).

    Thabqah III

    al-Nasai (w. 303 H), Ibnu Suraij (w. 306 H), Ibnu al-Mundzir (w. 318 H), Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H, Imam Ahlissunah Dalam Aqidah), Ibnu al-Qash (w. 335 H), Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340 H), al-Mas’udi (w. 346 H), Abu Ali al-Thabari (w. 350 H), al-Qaffal al-Kabir al-Syasyi (w. 366 H), Ibnu Abi Hatim (w. 381 H), Al-Daruquthni (w. 385 H).

    Thabqah IV

    al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H), Ibnu al-Mahamili (w. 415 H), Mahmud bin Sabaktakin (w. 422 H), Abu Muhammad al-Juwaini (w. 438 H), al-Mawardi (w. 458 H), Ahmad bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H), al-Qadhi al-Marwazi (w. 462 H), Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 465 H), Abu Ishaq al-Syairazi (w. 476 H), Imam al-Haramain (w. 478 H), Al-Karmani (w. 500 H).

    Thabqah V

    al-Ghazali (w. 505 H), Abu Bakar al-Syasyi (w. 507 H), al-Baghawi (w. 516 H), al-Hamdzani (w. 521 H), al-Syahrastani (w. 548 H), al-Amudi (w. 551 H), Ibnu Asakir (w. 576 H), Ibnu al-Anbari (w. 577 H), Abu Syuja’ al-Ashbihani (w. 593 H).

    Thabqah VI

    Ibnu al-Atsir (w. 606 H), Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), Aminuddin Abu al-Khair al-Tibrizi (w. 621 H), al-Rafii (w. 623 H), Ali al-Sakhawi (w. 643 H), Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H), Ibnu Malik (w. 672 H), Muhyiddin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), Al-Baidhawi (w. 691 H).

    Thabqah VII

    Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H), Quthbuddin al-Syairazi (w. 710 H), Najmuddin al-Qamuli (w. 727 H), Taqiyuddin al-Subki (w. 756 H), Tajuddin al-Subki (w. 771 H), Jamaluddin al-Asnawi (w. 772 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), Ibnu al-Mulaqqin (w. 804 H), al-Zarkasyi (w. 780 H).

    Thabqah VIII

    Sirajuddin al-Bulqini (w. 805 H), Zainuddin al-Iraqi (w. 806 H), Ibnu al-Muqri (w. 837 H), Syihabuddin al-Ramli (w. 844 H), Ibnu Ruslan (w. 844 H), Ibnu Zahrah (w. 848 H), Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyah (w. 874 H).

    Thabqah IX

    Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H), al-Qasthalani (w. 923 H), Zakariya al-Anshari (w. 928 H), Zainuddin al-Malibari (w. 972 H), Abdul Wahhab al-Sya’rani (w. 973 H), Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), al-Khatib al-Syirbini (w. 977 H), Ibnu al-Qasim al-Ubbadi (w. 994 H).

    Thabqah X

    Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H), Abu Bakar al-Syinwani (w. 1019 H), Syihabuddin al-Subki (w. 1032 H), Ibnu ‘Alan al-Makki (w. 1057 H), al-Raniri (w. 1068 H), Syihabuddin al-Qulyubi (w. 1070 H), Muhammad al-Kaurani (w. 1078 H), Ibrahim al-Maimuni (w. 1079 H), Ali al-Syibramalisi (w. 1078 H), Abdurrauf al-Fanshuri (w. 1094 H).

    Thabqah XI

    Najmuddin al-Hifni (w. 1101 H), Ibrahim al-Kaurani (w. 1101 H), Ilyas al-Kurdi (w. 1138 H), Abdul Karim al-Syarabati (w. 1178 H), Jamaluddin al-Hifni (w. 1178 H), Isa al-Barmawi (w. 1178 H), Athiyah al-Ajhuri (w. 1190 H), Ahmad al-Syuja’i (w. 1197 H).

    Thabqah XII

    Abdushomad al-Palimbani (w. 1203 H), Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H), Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H), Arsyad al-Banjari (w. 1227 H), Muhammad al-Syinwani (w. 1233 H), Muhammad al-Fudhali (w. 1236 H), Khalid al-Naqsyabandi (w. 1242 H), Abdurrahman Ba’alawi al-Hadhrami (w. 1254 H), Khatib al-Sanbasi (w. 1289 H), Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H).

    Thabqah XIII

    Zaini Dahlan (w. 1303 H), al-Bakri Muhammad Syatha (w. 1310 H), Nawawi al-Bantani (w. 1315 H), Shalih Darat (w. 1321 H), Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1332 H), Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 H), Mahfudz al-Tarmasi (w. 1338 H), Ahmad Khalil al-Bangkalani (w. 1345 H), Yusuf bin Ismail al-Nabhani (w. 1350 H).

    Thabqah XIV

    KH Hasyim Asy’ari (w. 1367 H), Pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama

    Referensi:

    1. Muhammad Abu Zahrah “al-Syafi’i”
    2. Hadlari Bik “Tarikh Tasyri”
    3. Sirajuddin Abbas “Tabaqat al-Syafi’iyah”

    SANAD TASHAWWUF ANNAHDLIYYAH

    Dalam bidang Tasawuf, Nahdlatul Ulama mengikuti Imam al-Junaid al-Baghdadi (w. 297H.) dan Abu Hamid al-Ghazali (450-505 H./1058-1111 M.). KH. M. Hasyim Asy’ari berguru kepada:
    Syaikh Mahfudz at-Tarmasi, dari gurunya
    Syaikh Abubakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dari gurunya
    Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syinwani, dari gurunya
    Syaikh Abdullah bin Hijazi, (memiliki dua jalur, pertama) dari gurunya Mahmud bin Abu Yazid al-Kurdi, dari gurunya Muhammad bin Salim al-Hifni, (kedua) dari al-Hifni, dari gurunya
    Syaikh Mushtafa al-Bakri (w. 1162 H), dari gurunya
    Syaikh Abdullathif al-Halabi, dari gurunya
    Syaikh Musthafa al-Afandi, dari gurunya
    Syaikh Ali Qarrah Basya, dari gurunya
    Syaikh Ismail al-Jurumi, dari gurunya
    Syaikh Umar al-Fuadi, dari gurunya
    Syaikh Muhyiddin al-Qasthamuni, dari gurunya
    Syaikh Sya’ban al-Qasthamuni, dari gurunya
    Syaikh Khairuddin al-Waqqadi, dari gurunya
    Syaikh Sulthan Afandi (populer dengan Jamal al-Halwati), dari gurunya
    Syaikh Muhammad bin Bahauddin asy-Syairawani, dari gurunya
    Syaikh Jalaluddin Yahya al-Bakuri, dari gurunya
    Syaikh Shadruddin al-Jayani, dari gurunya
    Syaikh Izzuddin asy-Syarwani, dari gurunya
    Syaikh Muhammad Amiram al-Khalwati, dari gurunya
    Syaikh Umar al-Khalwati, dari saudaranya
    Syaikh Muhammad al-Khalwati asy-Syarwani, dari gurunya
    Syaikh Ibrahim az-Zahid al-Kailani, dari gurunya
    Syaikh Jamaluddin at-Tibrizi (populer dengan Ibnu Shaidalani), dari gurunya
    Syaikh Syihabuddin Muhammad bin Mahmud al-Atiqi asy-Syairazi, dari gurunya
    Syaikh Ruknuddin Abu Ghanaim Muhammad bin Fadhl an-Najjasyi, dari gurunya
    Syaikh Quthbuddin Muhammad bin Ahmad al-Abhari, dari gurunya
    Syaikh Abu Najib al-Abhari (wf. 563 H), dari gurunya
    Syaikh Umar al-Bakri, dari gurunya
    Syaikh Wajihuddin al-Qadhi, dari gurunya
    Syaikh Muhammad al-Bakri, dari gurunya
    Syaikh Ahmad ad-Dainuri, dari gurunya
    Syaikh Mamsyad ad-Dainuri, dari gurunya
    Imam Abul Qasim al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H), dari gurunya
    Imam Sirri as-Saqathi (w. 253 H), dari gurunya
    Imam Abu Mahfudz Ma’ruf al-Karakhi (w. 200 H), dari gurunya
    Imam Dawud ath-Thai (w. 165 H), dari gurunya
    Imam Habib al-Ajami, dari gurunya
    Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H), dari gurunya
    Amirul Mu’minin Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. (w. 40 H), dari gurunya
    Sayyidina Rasulullah Saw.

    Diambil dari akun Nun Al Bani

  • Bungkam Gerombolan Kelompok yang Tuduh Liberal kepada Gus Dur, Kyai Sa’id dan NU

    Bungkam Gerombolan Kelompok yang Tuduh Liberal kepada Gus Dur, Kyai Sa’id dan NU

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Saat tabayyun di Lirboyo, Kyai Said menjelaskan semua tuduhan yang dialamatkan kepada Kyai Said di hadapan Mbah Idris, Mbah Anwar Mansur, Gus Imam dan Masyayikh Lirboyo lainnya. Mulai tuduhan Syi’ah, tuduhan makelar Seminari, tuduhan liberal, tuduhan antek Wahabi, semuanya dijelaskan dihadapan para masyayikh Lirboyo saat itu, dan clear bahwa tuduhan itu adalah fitnah yang keji. Saiki aku tak tekon sampean kabeh (Kyai Marzuki mengajak dialog para hadirin), Kalau guru-guru Kyai Said wis ridho, wis iso nompo penjelasane Kyai Said, njur sampean kabeh sing dudu guru lan dudu sopo-sopo kok gak percoyo Kyai Said, opo sampean luwih alim dari Mbah Idris Lirboyo? Luwih pinter dari para masyayikh Lirboyo? yen sampean luwih pinter lan luwih alim, yo sak karepmu (pungkas Kyai Marzuki).

    Saiki masalah NU, banyak orang yang bilang”Saya NU nya mbah Hasyim yang lurus, bukan NU ala Gus Dur yang liberal bukan pula NU yang dipimpin Kyai Said”, Sing muni ngunu iku mesti wong gak faham. Muktamar 33 di Jombang yang oleh Ahlul Halli Wal Aqdi(AHWA) secara defacto dan de jurro menyatakan Kyai Said dan Kyai Ma’ruf Amin adalah Rois Aam dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’. AHWA kui sopo wae? ada Mbah Maimun Zubair Sarang, Kyai Ma’ruf Amin Jakarta, Kyai Nawawi Abdul Jalil Sidogiri Pasuruan, Kyai Mas Subadar Pasuruan, Tuan Guru Turmudzi NTB, Kyai Maktum Hanan Cirebon, Kyai Ali Akbar Maimun Medan, Kyai Dimyati Rois Jawa Tengah, dan Kyai Kholilurrahman Kalimantan Barat. Semuanya sudah ACC bahwa Rais Aam dan Pimpinan PBNU periode 2015-2020 adalah Kyai Ma’ruf Amin dan Kyai Said Aqil Sirajd. Lha opo sing ngomong” Saya NU Asli Ala Mbah Hasyim bukan NU ala Gus Dur” kui luwih ngalim tinimbang mbah Maimun Zubair? Luwih ngalim dari mbah Nawawi Abdul Jalil Pondok Sidogiri Pasuruan?dan lebih ngalim dari para anggota AHWA yang sudah menetapkan PBNU yang Syah? Sak karepmu wis.

    Kemudian, kalau ada alumni Lirboyo. alumni Sidogiri atau alumni pondok manapun yang tidak percaya pada Kyainya, gurunya, sampean delok nek kitab ngumaryotho (عمريطى) (sebutan ngumaryotho adalah sindiran Kyai Marzuki kepada yang ngaku ustadz tapi gak bisa baca kitab gundul sehingga tulisan arab yang haruse dibaca Imrithi malah dibaca ngumaryotho) nadhoman unine “idzil fata Hasba’ tiqoodihi rufi’, wa kullu man lam yantaqid lam yantafi’” (setiap murid yang punya cita-cita tinggi tapi kok gak punya keyakinan pada gurunya, maka murid tersebut tidak akan mendapat ilmu manfaat”.

    Dadi santri kok suudzon dengan gurunya, ya susah mendapat kemanfaatan. Oleh karenanya, mari kita husnudzon kepada para Kyai-Kyai kita, lha kalau gak bisa, gak ngalim, apalagi bukan ahli ibadah, lebih baik diam, jangan kebanyakan tanya dan ngritisi tanpa nandhangi gawean. Jelas semuanya?(tanya Kyai Marzuki kepada hadirin).

    Sak iki masalah Gus Dur, kalau ada yang bilang Gus Dur liberal, Gusdur antek Asing, iku mesti wong sing durung teko pikirane. Gus Dur kontroversi, betul. Tapi kontroversi tersebut adalah siasat, tak-tik, strategi untuk mencapai tujuan kemaslahatan dan mengurangi kemadharatan. Lha kok gak seperti mbah Hasyim? karena situasi dan jaman yang berbeda, maka butuh tak-tik dan strategi yang berbeda pula. Misalnya, Gus Dur berpelukan dengan Romo Mangun Jogja Selatan, seorang misionaris handal. Menurut Kyai Mahfudz Jogja, rangkulan Gus Dur dengan Romo Mangun adalah untuk mengurangi gerakan Kristenisasi di Jogja. Lha kok bisa? ya bisa saja. Kalau Gus Dur akrab dan dekat dengan Romo Mangun, pastilah saat kegiatan sosial, bagi sembako, pengobatan, pastilah sang Romo ngajak Gus Dur. Lha saat kegiatan bareng Gus Dur, sang Romo Mangun gak berani melakukan dan menjalankan misi Kristenisasi seperti biasa. Inilah cerdasnya Gus Dur.

    Trus masalah Gus Dur meresmikan Kong Hu Cu dan Tahun baru Imlek sebagai agama sah orang China serta Imlek sebagai libur nasional. Sesungguhnya, ini adalah tak-tik dan strategi Gus Dur untuk membebaskan Muslim di China untuk bebas menjalankan agama Islam dan bisa melaksanakan Haji ke Baitullah. Karena sebelumnya, seluruh muslim yang ada di China ditekan dan diawasi serta dilarang menjalankan kegiatan beragama, termasuk larangan berhaji. Alhamdulillah, Marzuki menjadi saksi pada tahun 2000 untuk pertama kali ada jama’ah haji dari China, setelah Gus Dur melakukan lobi dan negoisasi dengan perdana menteri China saat Gus Dur menjabat Presiden RI. Genah ora? tanya Kyai Marzuki kepada para hadirin yang disambut tepuk tangan dan shalawat nabi.

    Gus Dur iku, lek wulan poso ngaji kitab Hikam, Fathul Mungin yo nglonthok, Thariqohe Syadziliyah, wiridan yo sregep, Tirakate luar biasa, Ahlussunnah wal Jama’ah Asy ‘ariyah wal Maturidiyah, Hizbnya juga Josh, NU patlikur karat. Ora ono bedhane dengan Abahe K.H Wahid Hasyim, pun pula gak ada nylewengnya dengan NU yang di dirikan mbah Hasyim Asy’ ari. Sampean rungokne, Gus Dur iku, cucu laki-laki pertama dari anak pertama. Sampean pikir lan mbayangke “kepriye tresnane simbah maring putu lanang dari anak pertama sing pinter sisan”. Saya yaqin, Gus Dur pasti ada di hati kakeknya. Dadi lek ono sing wani-wani ngino Gus Dur, iku podo ngino mbah Hasyim. Paham blok? blok lor blok kidul.

    Lha njur kok ada yang bilang NU ala Mbah Hasyim bukan NU ala Gus Dur bukan pula NU Kyai Said. Ini sebenarnya adalah strategi kelompok di luar NU untuk memecah NU dan menghancurkan NU.

    Mangkane dulur, monggo kito husnudzan kalian Kyai kito, lek sampean bingung, tekon, lek gak bisa ya diam, gak usah kokean omongan. Ingat cerita nabi Musa yang banyak bertanya saat mengikuti nabi Hidr untuk belajar kepada nabi Hidr. Gara-gara kebanyakan bertanya, nabi Musa harus berpisah dengan Hidr A.S.

    Kalau ditanyakan bagaimana cara meyakini kebenaran pendapat para Kyai kita? Caranya adalah dengan menghormati dan mengikuti dawuh-dawuhnya. Ojo sampek ono crito, warga NU luwih percaya dengan orang diluar NU. Jangan pula orang NU justru separuh Wahabi utowo ISIS.

    Sopo kui Wahabi? Di dalam kitab An Nushus al Islamiah al Rad ‘ala Madzhabil Wahabiyyah Karya Kyai Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang Gresik Wakil Rais Akbar dan Pendiri NU. Dalam kitab ini juga ada tulisan Mbah Maimun Zubair dan Kyai Aziz Mashuri Denanyar. Disana dijelaskan siapa itu Wahabi ;

    ” وقد اعد هذه الفرقة اعداء الاسلام واطلقوا عليها الحركه السلفيه لتحارب الاسلام باسم الاسلام. اما شيخهم محمد ابن عبد الهاب فقد تخرج على يد جاسوس المستعمرات البريطانيه، جيفري همفر”

    Dan musuh-musuh Islam telah mempersiapkan sebuah sekte/firqah yang diberinama gerakan kelompok salafi dengan maksud dan tujuan untuk memerangi dan menghancurkan Islam menggunakan nama Islam. Adapun pendiri Wahabi yang juga disebut salafi adalah Muhammad bin Abdul Wahab yang telah berlutut dibawah kendali inteljen tentara Britania (CIA) yang bernama Jefri Hampher. Jadi musuh-musuh Islam sengaja menghancurkan Islam dengan nama dan sebutan Islam juga. podo karo arep menghancurkan NU dengan Nama NU juga, makane ono NU garis-garisan kui, sing kemana-mana selalu nggaris kancane.

    Kadang juga, akeh wong NU sing kapusan mbi pakaian sing digawe ” Serbane gedhe, gamisan klimis, lek ngomong sitik-sitik “kher-kher alhamdulillah” ternyata akhir-akhirane ngajak musuhi tokoh NU, ragu dengan amaliyah NU, ragu dengan Kyai, karena kyai gak ngarab-ngarab blas, mung tampilane yo sarungan, irunge yo gak mbangir, bajune pakai hem, kopyahan ireng. Sampean eling-eling ;

    ” ابغض العبد الى الله ثوبه الانبياء و عمله جبالين”

    hamba yang paling dibenci oleh Allah adalah hamba yang berpenampilan ala nabi tapi amalnya katrok kayak orang pelosok pegunungan(jauh dari peradaban). Hormat Habib iya, ta’dzim Kyai juga harus. Senajan jenenge Paijo lek memang ‘alim, lan nglonthok kitab kuning, akhlaqe luhur terpuji, iku wajib dihormati ketimbang sing jenenge ndek KTP Hadrotus syekh bin syekh as Syekh. tapi gak iso moco kitab kuning lan gak gelem ngaji lan gak gelem ngamalne ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW.. monggo para nahdiyin naahdiyat.

    Credit: Bang Doel

  • 1 TAHUN LEBIH GIAT BAKSOS DILAKUKAN GP ANSOR RANTING PUNGGING

    1 TAHUN LEBIH GIAT BAKSOS DILAKUKAN GP ANSOR RANTING PUNGGING

    SORBANSANTRI.COM
    Relawan BAKSOS GP Ansor Ranting Pungging

    SORBAN SANTRI- Minggu, 20 September 2020, GP Ansor Ranting Pungging mengadakan giat sosial yang berupa BAKSOS untuk kesekian kalinya. Yang mana dalam kegiatan itu adalah merupakan agenda acara kegiatan yang dilaksanakan rutinan setiap 1 bulan sekali, “alhamdulillah kegiatan baksos dari masjid dan musholla sudah 1 Tahun berjalan” Kata Moh.sulaiman afandi, selaku koordinator dalam setiap kegiatan baksos GP Ansor Ranting Pungging.

    SORBANSANTRI.COM
    Moh. Sulaiman Afandi Koordinator Baksos GP Ansor Ranting Pungging

    Pada kegiatan kali ini GP Ansor Ranting Pungging melaksanakan kegiatan Bhakti Sosial di Masjid Baitunnajah Dusun Gebang Desa Pungging yang dimulai Pukul 07.30 wib – selesai. Ada puluhan personil dalam kegiatan tersebut dengan membawa peralatan masing-masing seperti sapu, timba, sabun, dll yang diperlukan dalam kegiatan BAKSOS tersebut.

    Kegiatan ini berjalan sangat bagus karena selalu ada koordinasi dalam setiap melakukan kegiatan. Dengan harapan agar dengan adanya giat BAKSOS yang diadakan oleh GP Ansor Ranting Pungging ini, memberikan manfaat dan memberikan tauladan buat para remaja, kader-kader tentang betapa pentingnya kerukunan, kenyamanan, dan kebersamaan.

    Uniknya dalam setiap selesai kegiatan BAKSOS oleh GP Ansor Ranting Pungging, selalu memberikan kenang-kenangan berupa Jam Dinding buat Masjid dan Musholla dengan harapan agar bermanfaat bagi jama’ah masjid dan musholla setempat.

    Mudah-mudahan kegiatan yang diadakan oleh GP Ansor Ranting Pungging memberikan inspirasi buat GP Ansor Ranting lainnya sehingga kekompakan, kebersamaan, dalam satu wadah organisasi Nahdlatul Ulama’dan terasa sampai pada tingkat bawah. (abi SORBAN)

  • BAHAS PROBLEMATIKA PILKADA SERENTAK TAHUN 2020 DI TENGAH PANDEMI, PUSKOHIS IAIN SURAKARTA GELAR WEBINAR NASIONAL

    BAHAS PROBLEMATIKA PILKADA SERENTAK TAHUN 2020 DI TENGAH PANDEMI, PUSKOHIS IAIN SURAKARTA GELAR WEBINAR NASIONAL

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Pada Hari Sabtu, 19 September 2020 Puskohis IAIN Surakarta seminarkan urgensi Pilkada Serentak 2020. Seminar nasional tersebut dilakukan secara virtual karena keadaan masih belum kondusif.
    Dengan menghadirkan tiga narasumber andal, pusat studi yang baru diresmikan bulan lalu suskes menggelar seminar kali ini dengan tema “Urgensi Pilkada Serentak 2020 dalam Bingkai Demokrasi Konstitusional”.
    Pilkada Serentak 2020 ini memang sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, baik di dunia nyata maupun dunia maya (red. media sosial).

    Acara diawali sambutan Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam IAIN Surakarta oleh R. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, S.H., M.H. Dalam sambutannya beliau mengutip pendapat Carl J. Friedrich dalam bukunya: “Constitutional Government and Democracy Theory and Practice in Europe and America” yang mendefinisikan konstitusi dalam 5 konsep: Filosofis (Philosophical), Struktural (Structural), Legal (Legal),)Dokumentarian (Documentarian), dan Prosedural (Procedural). Beliau menegaskan bahwa 5 Konsep ini menjadi Fokus Utama PUSKOHIS IAIN Surakarta. Sesuai Visi dan Misi PUSKOHIS pungkasnya. PUSKOHIS akan selalu berkomitmen memberikan kontribusi untuk Bangsa dan Negara dalam urusan Konstitusi dan Hukum Islam. Beliau berharap Negara senantiasa berjalan pada jalur konstitusional, Menjunjung tinggi tegaknya HAM dan Demokrasi.

    Direktur PUSKOHIS yang akrab dipanggil Gus Mustain ini juga mengutip pendapat pakar Hans Kelsen dalam bukunya “General Theory of Law and State” yang mengatakan: “konstitusi adalah dasar dari tata hukum nasional”. Dengan demikian apapun yang berlaku di Negara Indonesia haruslah sesuai jalur hukum yang berlaku di Negara Indonesia. Beliau berharap dengan adanya diskusi ilmiah membahas problematika Pilkada Serentak 2020 di tengah pandemi ini PUSKOHIS akan mampu merekomendasikan usulan solutif kepada Pemerintah baik Presiden, KPU, maupun lembaga yang berkepentingan dengan Pilkada Serentak dimasa pandemi ini.
    Rektor IAIN Surakarta Prof. Dr. KH. Mudhofir S. Ag, M.Pd. melalui Direktur PUSKOHIS juga menyampaikan apresiasinya atas terselenggranya acara ini. Beliau berharap agar diskusi ilmiah seperti ini berlanjut untuk tema-tema berikutnya.

    SORBANSANTRI.COM

    Menurut narasumber Pertama, Z. Saifudin, S.H.,M.H., tema yang diangkat oleh Puskohis sangat menarik dan terkini karena memang sedang menjadi trending topic. Direktur Institut Pemantau dan Pengawas Pemerintahan Daerah (IP3D) itu menyebutkan bahwa dari 3 opsi usulan KPU akhirnya disetujui pada tanggal 9 Desember Tahun 2020 sebagai opsi paling realistis untuk dilaksanakan Pemilukada. Keputusan tersebut diambil dalam forum rapat bersama dengan DPR dan pemerintah (Kemendagri) pada akhir maret 2020. Dengan ditindak lanjuti dikeluarkan Perppu tanggal 4 Mei 2020. Anggaran dana yang disetujui sekitar 2,6 T.

    Beliau juga menjabarkan tentang pertaruhan Konstitusi dalam Bab VI tentang Pemerintahan Daerah khususnya Pasal 18 ayat (4). Aturan UU Pemilukada bahkan sampai aturan teknis PKPU No.5, 6 dan 10. Dikupas secara tuntas. Juga mengkritisi banyak persoalan dan dinamika sebelum proses penetapan calon tanggal 23 September 2020. Termasuk tentang 25 daerah yang masih terdapat calon tunggal. Dijelaskan juga jika ada potensi kotak kosong menang atas calon tunggal. Ada juga tentang tarik ulur dukungan Parpol dan mahar politik yang sulit pembuktiannya.

    Dalam kutipannya “Ada hal menarik pada Pemilukada tahun ini, yaitu adanya 25 calon tunggal. Selain itu, ada tarik ulur dukungan Parpol yang menjadikan sengketa, contohnya di Kota Kutai Kartanegara. calon lawan tidak jadi maju sehingga terjadi calon tunggal masih ada walau sudah masa perpanjagan pendaftaran,” papar beliau lebih lanjut.

    Tidak lupa dijelaskan potensi adanya gugatan hukum. Beliau membagi dalam 3 domain. Sebelum penetapan, pasca kampaye dan setelah penetapan dari KPU. Gugatan dapat dilakukan di PTUN, PN, DKPP dan MK sebagai hasil akhirnya.
    Beliau juga memberikan jalan solutif dan alternatif agar Pemilukada dapat berjalan lancar. Komisi II DPR dan Pemerintah (Kemendagri) agar aktif komunikasi. Mengevaluasi KPU sebagai penyelenggara teknis. Mendorong agar ada koordinasi berkala dalam Forkompimda. Termasuk pelibatan penegak hukum. Dia juga menyinggung soal Keppres No.12 Tahun 2020 bahwa Kepala Daerah sebagai Ketua Gugas Pandemi. Agar pemerintah pusat tidak terlalu intervensi. Agar kepala daerah sekarang fokus dalam pandemi.

    Beliau juga mengutip dari Herbert Mclosly berkata “Partisipasi politik merupakan kekuatan warga negara ketika mengambil bagian pada proses pemilihan penguasa dan kebijakan umum” (Andi Faisal Bakti, 2012: 119). Agar 107 juta voters ikut berpartisipasi. Demi terciptanya kepemimpinan politik yang ideal. Dia mengutip pendapat dari T.B. Bottomore berkata “Kepemimpinan politik merupakan perpaduan semua kelompok kekuatan politik dan pengaruh politik” (Michael Rush dkk, 2011: 249). Kepemimpinan lokal merupakan grass root sebagai embrio kepemimpinan nasional.

    Sebagai rekomendasi beliau, juga memberikan arahan agar Pilkada ini tetap dilanjut dengan catatan dan benang merahnya. Termasuk pengetatan protokol kesehatan. Alasan lain adalah demi menjaga tetap lanjut roda pemerintahan daerah dalam kerangka good governance dan clean goverment serta kepastian hukum terjaga. Dia juga mengingatkan agar tidak terjadi politik pecah belah. Idealnya mengedepankan proses demokrasi dengan menghilangkan sifa egosentris golongan dan/atau kelompok pribadi saja.
    Narasumber kedua, Lisma, M.H. menyampaikan sejarah kali pertama pemilu dilaksanakan dan urgensi Pilkada Serentak 2020.

    “Indonesia pertama kali melakukan pemilu pada tahun 1955 untuk memilih anggota DPR dan DPRD yang diikuti oleh 118 partai politik, organisasi, golongan, dan perorangan. Era orde baru pada tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1999 untuk memilih anggota DPR dan DPRD. Pemilihan wakil-wakil rakyat yakni presiden, gubernur, bupati dan walikota disebut dengan istilah demokrasi perwakilan. Era reformasi, pemilu dilaksankan pada tahun 2004, 2008, dan 2014 untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD, Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten.”
    Salah satu dosen Hukum Tata Negara IAIN Surakarta ini juga menuturkan bahaya pilkada apabila tidak jadi dilangsungkan pada tahun ini.

    “Hal ini dapat menyebabkan potensi konflik vertikal antara pemerintah daerah dan masyarakat maupun konflik horizontal antara kelompok masyarakat pendukung pemerintah dan kelompok masyarakat oposan pemerintah di daerah. Tema konfliknya sudah tentu limitasi kepemimpinan yang tercantum dalam undang-undang dan suksesi kepemimpinan daerah di periode 2020 – 2024,” tutur Lisma.

    “Apabila pilkada dilaksanakan tanpa perppu, hasilnya akan dinilai inkonstitusional dan pemimpin daerah yang terpilih berstatus illegal karena tidak sesuai dengan bulan penetapan pelaksanaan pilkada di dalam UU No. 10 Tahun 2016. Kedua hal ini akan menyebabkan ramainya gugatan hukum secara vertikal dan konflik secara horizontal (antara dua kubu pendukung paslon),” imbuh beliau di sela-sela pemaparan materi.
    “Kita tidak bisa menutup mata dengan adanya Pilkada Serentak 2020. Sebagai warga negara, kita harus ikut berpartisipasi meski banyak polemik,” tutup Lisma.

    Dalam seminar ini juga dibahas problematika pilkada dan analisis hukumnya oleh narasumber ketiga, yaitu Suciyani, S.H.I., M.Sos.Dosen Hukum Pidana Islam IAIN Surakarta itu menjelaskan banyak masalah yang biasa muncul pada pelaksanaan pilkada. Menurutnya, masalah-masalah tersebut menjadi masalah yang tidak terselesaikan karena perlu pengawalan dari penegak hukum dan masyarakat.

    Kasus atau masalah yang dilaporkan memerlukan barang bukti agar bisa diproses oleh apparat penegak hukum.
    “Setiap pilkada harus dilihat potensi-potensi pelanggrannya. Koordinasi Bawaslu, penegak hukum, masyarakat sebagai pelapor sangat dibutuhkan. Pencegahan adanya potensi pelanggaran juga perlu dilakukan. Selama ini, yang dilakukan hanya penyelesaian masalah, tanpa pencegahan,” terang beliau di akhir pemaparannya.

    Peserta tampak antusias dalam webinar tersebt. Meliputi hampir perwakilan provinsi ada. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh para peserta, di antaranya pencalonan independen tanpa Parpol, politik dinasti, sengketa pilkada, mahar politik. Pertanyaan dijawab dengan jelas oleh narasumber dengan saling menambahkan dan diskusi bareng.

    Kontributor: Mokh. Yahya

  • PACARAN TIDAK DIRESTUI, SIMBOL NEGARA JADI SASARAN EMOSI

    PACARAN TIDAK DIRESTUI, SIMBOL NEGARA JADI SASARAN EMOSI

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Lagi-lagi pelecehan simbol negara berasal dari gudangnya warga kadrun. Polda Sumatera Utara (Sumut) mengamankan seorang wanita berinisial RP (28) atas dugaan kasus penistaan terhadap lambang negara bendera sang saka merah putih.
    Wanita pemilik akun Instagram @maya.maya635 yang merupakan, warga Jalan Jalan Negara Lk III, Kelurahan Petapahan, Lubuk Pakam tersebut, saat ini sedang menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik dari Unit 2 Subdit V Ditreskrimsus Polda Sumut untuk proses hukum lebih lanjut.
    Kasubbid Penmas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan menyampaikan, dari hasil penyidikan sementara, motivasi RP melakukan penghinaan terhadap bendera negaranya lantaran hanya untuk mencari perhatian banyak orang.
    “Motivasi tersangka melakukan perbuatan itu ingin mencari perhatian seluruh warga dunia atas tindakannya yang berpacaran dengan warga Malaysia, namun tidak didukung bahkan cenderung ditentang (oleh) keluarga dan semua kenalannya,” ungkapnya, Jumat (18/9/2020) malam.
    MP Nainggolan menjelaskan, atas perbuatannya, RP akan dijerat dengan Pasal 57 Jo Pasal 68 Undang-Undang RI Nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan dan/atau Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2016 perubahan atas Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 310 Jo Pasal 316 KUHPidana.
    Selain itu, sambung dia, dari tersangka petugas juga mengamankan barang bukti, 1 unit Handphone Samsung A20, akun facebook atas nama Lovelyta Putri Valentine, akun Instagram atas nama maya.maya635, 1 buah sikat WC, 1 buah foto Presiden RI dan Wakil Presiden yang telah dirusak dan diberikan warna pada bagian wajah Wakil Presiden, 1 bendera merah putih, 1 bundelan screenshoot dari akun facebook Lovelyta Putri Valentine dan akun Instagram atas nama maya.maya635. (abi SORBAN)