Apakah saudara sudah bersuci ?
Hadloroh pada Para Nabi, Shahabat, Para Wali dan Pendiri NU
Membaca Al-Fatihah 1 kali
Apakah sudara-saudara Siap dibaiat ?
Ikuti bacaan berikut ini
Dengan diucapkan dengan lisan diyakini dalam hati
3Xأشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا
وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا
وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلاً
وَبِنَهْضَةِ اْلعُلَمَاءِ جَمْعِيًّا
Demi Allah sebagai kader NU saya berjanji:
Setia, memelihara, dan membela ajaran Islam ala ahlusunnah wal jamaah.
Setia mempertahankan dan membela ideologi Negara Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan segenap jiwa raga siap sedia menghadapi musuh dan pengkhianat terhadap Islam Aswaja, organisasi NU dan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Siap sedia menjaga dan menjunjung tinggi martabat ulama dan organisasi serta memuliakan warga NU.
Siap menjalankan garis perjuangan dan titah pimpinan Nahdlatul Ulama.
Ini sumpah siapa ? (Sumpah Saya)
Bagaimana kalau anda berkhianat? (Allah akan menghukum saya)
SORBAN SANTRI- Lokasi titik rawan bantuan dan bencana Antara Bukit Bayangan dan Puncak Lereng Penanggungan yang sudah di isi oleh BAGANA (Banser Tanggap Bencana) SATKORCAB Mojokerto, PAC GP Ansor Pacet dan LPBI NU Mojokerto serta relawan Lainnya.
BANSER TANGGAP BENCANA DAN LPBI NU MOJOKERTO SIAGA DI LERENG PENAGGUNGAN
Mengingat di Lokasi Lereng Gunung Penanggunan banyak sekali bebatuan yang rawan jatuh di Jalur pendakian menuju puncak penanggungan. Dan pada tanggal 17 Agustus 2020 ada momen pengibaran bendera sepanjang 1000 Meter dari puncak Penaggungan. Gelapnya malam dan Suhu Udara yang dingin berpotensi akan adanya Pendaki yang membutuhkan Bantuan dan Pertolongan pada Tim BANSER BAGANA dan relawan lainnya.
SIAGA DI 20 METER MENUJU BUKIT BAYANGAN PENANGGUNGAN
BAGANA (BANSER TANGGAP BENCANA) DAN LPBI MOJOKERTO siaga dan memberikan pertolongan pada para pendaki dengan cara evakuasi korban luka dan memberikan pengobatan, serta selalu memberikan himbauan pada para pendaki yang kebetulan pada saat itu sangat ramai pendaki. Diperkirakan pengunjung yang datang antara Tanggal 14-17 Agustus 2020 sudah mencapai 10.000 pendaki.
Tercatat sampai pada tanggal 17 Agustus 2020 sudah ada 2 korban longsoran bebatuan dari atas akibat pijakan yang kurang kuat sehingga batu mengarah dan meluncur kebawah mengenai pendaki lainnya. Korban 1 Remaja Wanita bernama HUSNIA dari Kepanjen Malang yang mengalami Luka di lengan dan Bahu kiri, sehingga harus di gendong oleh BANSER BAGANA dalam pengevakuasian menuju titik Pos Pelayanan. Dan Korban yang kedua M. Feriyanto dari Wedoro Waru Sidoarjo yang mengalami Luka Pada Wajah indikasi adanya benturan dan harus ditandu oleh LPBI NU menuju UGD.
Mudah-mudahan sahabat Banser dan relawan lainnya selalu diberi Kesehatan untuk mengawal pendaki dan siap dalam bencana. Tenaga dan pengorbanan para BANSER sangat luar biasa, dan kami sangat berterima kasih akan adanya BANSER dab LPBI NU Mojokerto dalam momen seperti ini. Ungkap salahsatu Pendaki yang berasal dari Malang. (abi SORBAN)
SORBAN JETIS__ Kemerdekan republik INDONESIA sudah berusia 75 tahun, masyarakat INDONESIA selalu memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan dengan berbagai macam cara sesuai dengan adat istiadat masing masing
Seperti yang di lakukan warga balongsono rt02 rw01 Canggu Jetis mojokerto, warga di kumpulkan di malam 17 (16/08/2020) di halaman rumah ketua RT untuk doa bersama dan di lanjutkan oleh pemuda pemuda untuk mengadakan lomba anak anak
Suasana lomba sangat meriah karena di ikuti puluhan anak anak, selain anak anak rt02 juga hadir anak anak dari rt sebelah lomba yang bikin bapak bapak dan ibu ibu termangu saat lomba doa dan menghafal surat pendek Al Qur’an ternyata anak anak banyak yang hafal doa dan surat surat pendek
Anak Safa saat memanjatkan doa Ananda Fikri saat melantunkan surat pendek Al Qur’anPemberian hadiah lomba pada anak anak
Acara juga di selingi pembacaan tembang mocopat oleh ibu Endang yang membahas tentang virus Corona dan berisi doa semongga covid-19 segera reda dari bumi INDONESIA
Bu ENDANG mengumandangkan mocopat tentang covid-19 dan doa semoga covid-19 segera sirna Indonesia
Sambutan dari ketua rt02 rw01 Canggu Jetis Mojokerto bapak SENERI mengharapkan seluruh warga tetap menjaga kebersihan lingkungan dan memberikan apresiasi kepada ibu ibu rt02 yang luar biasa menjalankan kegiatan kegiatan serta kepada bapak bapak yang aktif melakukan ronda poskampling bahkan memberikan dorfres kepada bapak bapak yang aktif, ketua rt02 juga mengharapkan generasi muda dan anak anak akan teros menjaga NKRI sebagai bukti kecintaan kepada negara kesatuan REPUBLIK INDONESIA
Sambutan ketua rt02 bapak SENERIPemberian dorfres kepada warga yang aktif ronda di poskampling
Sambutan dari tokoh masyarakat bapak AGUS PRIYANTO mengharapkan mendukung progam progam pemerintah dengan visi/misi Indonesia maju
Sambutan tokoh masyarakat bapak AGUS PRIYANTOBapak SUWANDI sesepuh rt02
Senada dengan sambutan yang di sampaikan oleh sesepuh rt02 bapak SUWANDI “warga rt02 di harapkan selalu menjaga kesehatan dengan menjalankan intruksi pemerintah untuk mengunakan protokol kesehatan di setiap aktifitas serta menjaga kerukunan di era politik pilbup mendatang meskipun pilihan beda tapi tetap kita semua adalah saudara”
SorbanSantri – Saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para kiai pesantren memahami dan menerapkan betul kalimat “Hubbul wathan minal iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Sehingga apapun akan mereka lakukan untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa sekalipun. Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh PBNU menjadi titik tolak perjuangan para kiai – tentu, beserta santri-santrinya -. Pada 21-22 Oktober, NU mengumpulkan semua kiai dan konsul NU se-Jawa Madura untuk memusyawarahkan tentang sikap yang akan diambil terkait masuknya kembali pasukan Belanda dan sekutu ke Indonesia. Dari pertemuan tersebut, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa fardlu ain bagi umat Islam untuk memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Sontak saja, Resolusi Jihad tersebut segera disambut angkat senjata oleh segenap warga nahdliyin, baik kiai, santri maupun simpatisannya. Tak terkecuali di Banyuwangi. Menyambut seruan tersebut, para kiai kembali mengorganisir para laskar, baik yang tergabung dalam pasukan Hisbullah, Sabilillah, maupun laskar-laskar lokal lainnya.
Di Banyuwangi Kota muncul beberapa nama Kiai yang terlibat dalam mengorganisir massa untuk menghadapi gempuran NICA, baik di pertempuran 10 November di Surabaya maupun pertempuran-pertempuran lain di Banyuwangi. Nama Kiai Saleh Lateng terdengar nyaring dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Selain melakukan tirakat (riyadlah) demi mewujudkan kemerdekaan bangsa, Kiai Saleh menjadi tempat jujukan para santri dan pejuang lainnya untuk meminta nasehat dan doa. Kiai Saleh juga mengirimkan para santrinya untuk ikut perang di Surabaya. Bahkan, pada peperangan yang kelak dikenal sebagai hari pahlawan tersebut, beliau tampak ikut bertempur di medan laga.
Kiai Syamsuri Singonegaran dan Kiai Abdul Wahab Penataban juga merupakan punggawa pasukan Sabilillah Banyuwangi. Kedua orang tersebut merupakan sahabat karib dan seperjuangan Kiai Saleh. Masjid Riyadus Sholihin Singonegaran yang didirikan oleh Kiai Syamsuri kerap menjadi jujukan para laskar Hisbullah. Konon, ada beberapa anggota laskar yang terluka dan dibawa kesana, lalu akhirnya meninggal dan dimakamkan tak jauh dari sana.
Sedangkan Kiai Wahab sendiri memiliki kemampuan kanuragan yang luar biasa. Bom-bom yang berjatuhan dari pesawat tempur Belanda, tak satu pun yang meledak. Mungkin hal ini terdengar mustahil, namun hal ini nyata adanya. Surat kabar “Kedaulatan Rakjat” tertanggal 26-11-1945, mengkonfirmasi hal tersebut. “Kesaktian kijai2 di medan pertempoeran, ternyata boekan hanja berita lagi, tapi kita saksikan sendiri. Banjak mortier jang melempem, bom tidak meledak dsbnja lagi.” Selain nama-nama di atas, juga muncul seorang kiai muda asal Tukangkayu, Kiai Harun. Pendiri PP Darunnajah yang juga menjadi ketua cabang NU Banyuwangi ini menjadi semacam kordinator penggerak santri dan laskar ke medan tempur. Pesantrennya yang tak jauh dari stasiun Banyuwangi Lama (Pasar Karangrejo) menjadi meeting point sebelum berangkat ke Surabaya. Konon, ada dua rombongan dari Banyuwangi, ada yang turun di stasiun Gedangan, Surabaya lalu langsung terlibat pertempuran. Ada pula yang menuju ke Parakan terlebih dahulu untuk memohon barakah bambu runcing ke Kiai Subkhi. Geser ke Selatan, ada nama Kiai Abdullah Faqih di Cemoro, Songgon. Sebagai salah satu kiai sepuh, Kiai Faqih juga menjadi bagian dari pasukan Sabilillah yang bagian mendoakan dan berperang dengan mendayagunakan kekuatan spritualnya. Kisah yang beredar turun temurun, Kiai Faqih memimpin beberapa peperangan di Banyuwangi, baik perang Bedewang maupub perang Laban hanya dengan memendam dirinya disebuah bukit di desa Parangharjo, Songgon.
Tak hanya Kiai Faqih, putra-putra dan para santrinya pun ikut serta dalam pertempuran. Dengan nama Laskar Santri Cemoro dibawah pimpinan Gus Sholeh dan Gus Idris, segenap jiwa raga mereka persembahkan untuk ibu pertiwi Indonesia. Bahkan, Gus Idris syahid di tengah medan tempur. Di Srono adapula kiai kharismatik yang menggerakkan masyarakat dan santrinya untuk berjuang. Kiai Dimyati Syafi’i namanya. Rois Syuriah NU Blambangan ini tanpa ragu memfatwakan warga nahdliyin untuk ikut berjihad sebagaimana instruksi dari PBNU kala itu. Tak ayal, ketika perjuangan beliau terendus Belanda, seketika langsung dibumi hanguskan pesantrennya, PP. Nahdlatut Thullab, Kepundungan, Srono.
Tak jauh dari Srono, di Muncar muncul dua kiai pejuang asal satu desa yang sama, Sumberberas. Yaitu duet Kiai Askandar (Mambaul Ulum) dan Kiai Abdul Manan (Minhajut Thullab). Waktu pengepungan Belanda ke pesantren, Kiai Abdul Manan berhasil lolos dengan bersembunyi di rumah salah satu warga. Beranjak ke daerah Pesanggaran juga muncul nama Kiai Muhammad dan Kiai Musaddad yang memimpin Front Kayangan Alaspurwo dan Sukomade. Di pasukan yang senantiasa bergerilya inilah, Kiai Mukhtar Syafaat (PP. Darussalam, Blokagung) muda ikut bergabung. Di sisi barat Banyuwangi, muncul nama Kiai Junaidi Genteng. Pengasuh PP. Bustanul Makmur ini kerap kali mengajak para santrinya untuk bergerilya. Atas perjuangannya inilah, kerap pula pasukan Belanda melakukan razia.
Tak jauh dari situ, ada pula kiai sepuh yang juga menjadi jujukan para santri dan pejuang untuk memohon doa dan karomah. Kiai Abbas Hasan, Sempu namanya. Mortir-mortir Belanda yang dijatuhkan di pesantrennya – PP. Al-Azhar – tak ada yang meledak. Meleset dan melempem semua. Di Kalibaru, juga muncul kiai muda yang tergabung dalam laskar Hisbullah, Kiai Abdul Latif Syuja. Tak hanya didaerah Banyuwangi, Kiai Abdul Latif bergerak pula hingga ke wilayah Keresidenan Basuki lainnya. Saat itu, dibawah komando KHR. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo.
Selain nama-nama di atas, juga masih banyak kiai-kiai lain yang ikut serta berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di ujung timur pulau Jawa. Mereka berjuang tanpa pamrih. Semata-mata untuk mengharap ridlo Allah dalam menegakkan Agama dan sejahteranya tanah air. Hanya dengan pekik “Allahu Akbar” dan “Indonesia Merdeka” mereka berjuang hingga titik darah penghabisan. Sebagai generasi penerus, hanya doa dan segenap usaha mengisi kemerdekaan ini yang bisa kami persembahkan untuk para pejuang. Teruntuk semua pejuang, Alfatihah….!!!
Keterangan foto:
Mbah KHR. AS’AD SYAMSUL ARIFIN SITUBONDO saat perang kemerdekaan
SORBAN SANTRI-Yah itulah salah satu instruksi PWNU Jateng untuk warga NU yang ada di Kabupaten Brebes dan langsung ditindak lanjuti oleh PCNU Kabupaten Brebes.
Dalam rangka “sami’na wa atho’na” melaksanakan instruksi PWNU Jateng
KH. M. Aqsho selaku ketua tanfidziyyah Kabupaten Brebespun menggelar rapat koordinasi untuk suksesi program tersebut.
Rapat Koordinasi Persiapan Sensus Warga NU Berbasis SISNU (Sistem Informasi Strategis NU ) dibagi menjadi dua tahap, tahap pertama adalah untuk wilayah MWC yang dekat dengan PANTURA dilaksanakan di desa Sitanggal kecamatan Larangan hari sabtu tanggal 15 Agustus 2020 yang diikuti oleh 11 MWC.
Yaitu kecamatan Banjarharjo, Kersana, Ketanggungan, Larangan, Songgom, Jatibarang, Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tanjung & Losari. Yang rencananya akan disusul dengan tahap kedua beberapa hari kedepan.
Adalah bernilai ibadah bila khidmah pada NU kita niatkan untuk “ngladeni ilmu lan ngladeni ulama”, karena sudah tak diragukan lagi bahwa jam’iyyah NU selain berperan sebagai pendiri NKRI juga merupakan satu wadah yang mempertahankan ajaran islam nan rohmah lil’alamin ala manhaji asy’ariyyah-maturidiyyah ahlus sunnah wal jama’ah.
Oleh karenanya dimohon kepada warga NU Brebes untuk mendaftar sensus warga NU berbasis SISNU melalui pengurus ranting didesa masing-masing, agar identifikasi faliditas warga NU tingkat nasional bahkan internasional lebih maksimal dan terarah menuju satu abad usia Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. (pcnu brebes)
SORBAN SANTRI – Berkata Sayiduna Syaikh Ahmad at-Tijani r.a. “Sholawat selain yang dibaca Rosulullah saw (yang disebut dalam hadits) yaitu sholawat yang dari ulama adalah tertulis dengan tulisan bahasa lisan dan bahasa isyaroh di bawah “gambar” Nabi saw. dengan gambar manusia yang berada di Hadlrotul Qudsiyah, sedangkan sholawat para Wali Qutub adalah tertulis disebelah kanan, dan sholawat Auliya’ Siddiqin di bawah Wali Qutub tertulis di sebalah kiri.
Adapun Sholawat Fatih adalah merupakan sholawat dari Allah swt., yakni tidak dari ulama’ dan tidak dari auliya’.
Sholawat Fatih adalah tertulis di atas kepala Nabi saw. dengan huruf yamg difahami semua bahasa arab. Sholawat Fatih adalah sebagai mahkota kemuliaan dan kerajaan Nabi saw.
Dengan Sholawat Fatih, Allah swt. menjadikan Nabi saw. lebih utama melebihi semua kerajaan di alam dunia dan menetapkan khilafahnya (kekuasaannya) di alam dunia tersebut dan juga di alam akhirat.
Dengan Sholawat Fatih, Allah swt. memuliakan agama-Nya serta mendhohirkan semua agama-agama yang lain, dan menjadikan umat ini (umat Nabi saw.) lebih utama dan menjadi saksi atas umat agama yang lain tersebut.
Dengan Sholawat Fatih Nabi saw. menjadi pemimpin para nabi dan para rosul.
Dengan Sholawat Fatih Allah swt. menegakkan ruh-jasmani dan melahirkan atasnya peraturan hukum syari’at dan menciptakan tata peraturan dan pengaturan alam.
Oleh karenanya sholawat Fatih adalah ruh alam wujud dan kehidupannya.
Kemudian atas hukum syariat dan peraturan tersebut Allah swt. menetapkan sorga beserta nikmat-nikmatnya dan neraka beserta siksa-siksanya.
Dengan Sholawat Fatih inilah Allah swt. menampakkan hakikat Muhammadiyah Nabi saw. dan menetapkan hakikat Ahmadiyahnya pada mihrob (maqom) Qudsi, yang dengan Sholawat Fatih, Allah swt. memuliakan Nabi saw. dan memuliakan Sholawat Fatih dengan Nabi saw.
maka dari itu, sholawat Fatih adalah hakikat Nabi saw. yang dengan Sholawat Fatih tersebut Malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il mengenalnya.
Sholawat Fatih adalah pokok semua sholawat yang lahir dari hati Nabi saw. dan orang-orang makrifat.
Sesungguhnya Allah Jalla Jalaluh memberi sholawat kepada Nabi saw. (yang tanpa batas awal dan akhir sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an).
Maksudnya adalah Allah swt. menampakkan kesempurnaan Zat-Nya, Asma-Nya, sifat-Nya pada diri dan dalam diri Nabi Muhammad
saw.
Allah swt. memuliakan dan mengutamakan Nabi saw. yang melebihi semua makhluk, karena Allah swt. tidak menampakkan kepada seseorang dengan kesempurnaan-Nya kecuali kepada Nabi Muhammad saw.
“Menampaknya Allah swt.” kepada Nabi saw. dengan kesempurnaan-Nya inilah yang dimaksud sholawat Allah swt. kepadanya.
Dengan menampakkannya kesempurnaan Allah swt. kepada Nabi saw tesebut, maka Nabi saw. menjadi hakikat kholifah dari-Nya, sedangkan nabi-nabi lain adalah penggantinya.
Oleh karenanya, dengan nampaknya kesempurnaan zat, asma, dan sifat Allah swt. kepada Nabi saw., maka Nabi saw. menjadi pembuka (al-fatih) semua yang tersimpan dalam iradah Allah swt., dan penutup (al-khotim) semua apa yang Allah ber-iradah
kepadanya, dan penolong (an-nashir) kepada yang Allah ber-iradah memberi pertolongan kepadanya, dan agama itu adalah dalam pertolongan selamanya.
Begitu pula Nabi saw. menjadi petunjuk (al-hadi) kepada orang yang telah ditetapkan pada ilmu qodim-Nya mendapat hidayah
SORBAN SANTRI- Lembaga Pendidikan Ma’arif PCNU Kab. Brebes gelar kegiatan Rapat Koordinasi dengan Kepala Madrasah/Sekolah yang berada dibawah naungan LP Ma’arif.
Acara tersebut dihadliri oleh Kepala MI/SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA bertempat di aula MTsN 2 Brebes hari rabu 12 Agustus 2020.
Tampak hadir juga Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Brebes H. M. Aqsho, M.Ag. dan Kepala MTsN 2 Brebes Drs.Muhammad Suaedi, M.Pd. yang didampingi Kaur TU MTsN 2 Brebes Drs. Achmad Sofi, M.Pd.
Dalam sambutannya Ketua LP Ma’arif PCNU Kab Brebes, H. Moh. Robikhun, S.Ag. M.Pd. menghaturkan terimakasih atas kehadiran para peserta dan bersepakat untuk lebih menggaungkan ” Ayo Sekolah Di Lembaga Pendidikan NU” dengan strategi yang lebih inovatif dan penuh terobosan baru.
Diantara agenda yang dibahas adalah kaitan dengan persiapan input SIMNU bagi satuan Pendidikan Ma’arif NU , rutinitas lembaga dan menyikapi kegiatan pembelajaran jarak jauh/ belajar dari rumah, bimbingan dan pelatihan bagi Kepala Sekolah/Madrasah, peningkatkan kapasitas guru dengan KKG/ MGMP.
Juga membahas kegiatan refreshing dengan out bound dan refting yang diamini oleh seluruh peserta.
Dialog yang dipandu oleh H. Muhammad Ikhsan juga mereka sepakat agar LP Ma’arif lebih memementingkan kemajuan akademik non akademik, dengan mengutamakan pelayanan bagi institusi demi kejayaan LP Ma’arif Brebes.
Disambutannya ketua PCNU Brebes H. M. Aqsho merasa bahagia dan bangga bisa bertemu dengan pejuang pendidikan sebagai sarana pencetak kader-kader an nahdliyyah di kibaran Lembaga Pendidikan Ma’arif NU.
Diantara isi sambutannya adalah:
” Mari kita kobarkan semangat juang dalm dunia pendidikan, usah hiraukan silang pendapat terkait klaim adanya dualisme kepemimpinan ditubuh PCNU Brebes, karena urusan tersebut adalah ranahnya PWNU Jateng dengan PBNU, kita harus lebih mengutakan peningkatan mutu pendiidkan di naungan LP Ma’arif sehingga bisa menjadi jembatan tersampaikannya ajaran Asy’ariyyah-Maturidiyyah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan yang penting adalah ihtiyar kita agar ketika akreditasi bisa memperoleh predikat unggul (A)”. (PCNU BREBES)
Muhammad bin Abdul Wahhab
(Pendiri dan pelopor gerakan Wahabi/Salafi)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, terkenal dengan sebutan SYEKH BIN BAZ
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terkenal dengan sebutan SYEKH UTSAIMIN. Al Utsaimin adalah ahli fiqih-nya Wahabi Salafi. Banyak persoalan hukum baru nyeleneh yg difatwakan olehnya.
Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terkenal dengan sebutan ALBANI. Dia pelopor wahabi di bidang hadist.
Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan atau dikenal denga nama AL FAUZAN.
Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin atau dikenal dengan sebutan SYEKH JIBRIN.
Memang ilmu bisa diambil dari mana & siapa saja, tapi untuk ilmu agama wajib mengetahui dari mana & dari siapa ilmu itu diambil. Karena nanti ada tanggung jawab di akhirat.
Wajib kita mengshare yg ulama” kalangan kita sendiri yakni:
Dari para ulama’ ahlus sunnah kita baik ulama yang habaib atau bukan.
■ Materi yang selalu di bahas oleh wahabi :
KEMBALI pada Al Qur’an & Sunnah.
=》Artinya ANTI Madzhab/TIDAK bermadzhab.
Padahal mereka selalu mengambil pendapat dari ulama madzhab, khususnya madzhab Hambali, cuman mereka malu malu untuk mengakuinya.
Menyuarakan kata SYIRIK & BID’AH. Kalimat ini hanya berdasar satu hadist nabi saja.
Akan selalu mengambil pendapat dari 6 TOKOH yg sudah disebutkan di atas.
Anti Maulid.
Anti Tahlil.
Anti bermacam² sholawat. (Hanya mau sholawat Ibrohimiyah saja)
Anti Tasawwuf.
Menyebut orang yg ziaroh kubur dengan menyembah kuburan.
Selalu menggunakan [ 2 ] kalimat dibawah ini untuk menjatuhkan argumen² orang yg berlawanan dengan mereka:
a. MANA DALIL NYA?
b. TIDAK ADA KEBAIKAN kecuali PASTI akan dilakukan oleh sahabat nabi, sedangkan sahabat tidak melakukannya.
SORBAN SANTRI-Merah putih, bukan hanya sekadar warna dari bendera Indonesia. Tetapi memiliki makna yang tinggi bagi kebanggaan dan kewibawaan bangsa. Maka wajib hukumnya untuk dihormati.
”Kalau tidak mau hormat pada Bendera Merah Putih, silahkan enyah dari Indonesia,” tegas Ketua Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfiy bin Ali bin Hasyim bin Yahya.
Fanatisme terhadap Indonesia, lanjutnya, mutlak dimiliki oleh segenap umat Islam Indonesia. Jangan hanya janji yang diucapkan tetapi buktikan, kalau jiwa dan raga kita rela dikorbankan untuk Indonesia.
”Sangat aneh kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Mereka tidak mengerti makna musyrik dan syirik, artinya perlu memperdalam lagi belajar agama,” ujar Habib.
Harusnya, kata Habib, kita malu pada para pendahulu kita yang telah menegakan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hasil dari hadiah. Tetapi melalui perjuangan yang memakan banyak korban. ”Betapa tak terkira jumlahnya syuhada bangsa yang telah mengorbakan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia,” papar Habib.
Dikala kita sudah merdeka, kita tinggal mengisinya dengan jalan membangun dan membangun bangsa sesuai dengan posisi dan keahlian masing-masing. Kita harus merenung, bagaimana nasib sebutir nasi yang kita makan. Tidak serta merta ada, tetapi banyak tangan-tangan yang terlibat di dalamnya.
HABIB MUNDZIR BIN FUAD AL-MUSAWA
“Menghormati bendera karena saya tahu Bendera Merah Putih ini
di dukung oleh ratusan ribu Syuhada yang menegakkannya. Hormati para Syuhada itu !!!
Ini Bendera Merah Putih adalah lambang ratusan ribu Syuhada yang mana darah mereka dengan lambang Merah dan lambang
kesucian Putih merah putih. Semoga terangkat dan berkibarnya bendera merah putih di tiap rumah di nusantara ini mengawali pula kebangkitan semangat bangsa ini untuk mencapai sifat2 luhur dan mulia, meneruskan semangat Nabi Muhammad Saw yang terwariskan pada Ahlul badr dan sahabat beliau Saw, lalu berkelanjutan hingga terwariskan pada para pahlawan Negara ini, dan semoga terwariskan pula pada kita semua, semangat Muhammad Rasulullah Saw. Yang beliau Saw itu adalah lambang Rahmat-Nya.” (SORBAN NU)