Blog

  • HADIRKAN 3 ULAMA AHLUSSUNAH DUNIA, PUSKOHIS IAIN SURAKARTA SUKSES ADAKAN SEMINAR INTERNASIONAL

    HADIRKAN 3 ULAMA AHLUSSUNAH DUNIA, PUSKOHIS IAIN SURAKARTA SUKSES ADAKAN SEMINAR INTERNASIONAL

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Dalam rangka memperingati Hari Konstitusi Nasional yang jatuh pada 18 Agustus 2020, Rektor IAIN Surakarta meresmikan Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam (Puskohis) IAIN Surakarta. Setelah diresmikan Puskohis menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema “Meneguhkan Konstitusi di NKRI”. Seminar Internasional tersebut diselenggarakan secara virtual melalui aplikasi Zoom pada Selasa, 4 Agustus 2020 ini, diikuti oleh peserta dari Indonesia berjumlah 770 orang dan Cendekiawan serta Ilmuan dari 32 Negara antara lain Australia, Amerika Serikat, Belanda, Yaman, Turki, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Maroko, Sri Langka, Nigeria, Qatar, Abu Dabi, Hongkong, dan Singapura.

    Dalam acara ini panitia juga mengundang beberapa instansi yang memiliki lembaga Fatwa Hukum misalnya PBNU dengan LBM nya, Lembaga Bantuan Hukum ( LBH ), MUI, Majelis Taklim, Majelis Muwasholah Jawa Tengah, Kementrian Agama Jawa Tengah serta Pondok Pesantren yang ada disekitar Soloraya.
    Bertindak sebagai moderator sekaligus menjadi Penerjemah Bahasa adalah Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, S. H. , M. H. yang merupakan Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam IAIN Surakarta dan juga Ketua LBM PCNU Surakarta. Seminar dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. H. Mudhofir, S.Ag., M.Pd. selaku Rektor IAIN Surakarta.

    Rektor IAIN Surakarta memiliki harapan besar dengan adanya PUSKOHIS ini kedepan IAIN Surakarta akan mampu memberikan kontribusi lebih kepada Negara dan dunia umumnya.
    Dalam sambutannya, beliau juga meresmikan berdirinya Puskohis. Adapun keynote speaker yang semula akan disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah adalah K.H. Taj Yasin Maimun diwakili oleh Kabiro Kesra dengan tema “Meneguhkan Konstitusi NKRI demi Ketaatan Masyarakat kepada Konstitusi dan Syariat Agama”.
    “UUD NRI 1945 adalah kontrak sosial atau perjanjian bersama tertinggi dalam suatu negara,” ujar Kabiro Kesra. Menurut beliau, perumus telah mengikhtiarkan agar kontitusi dibangun sesuai karakter bangsa meskipun disusun berdasarkan referensi konstitusi dari berbagai negara.

    SORBANSANTRI.COM

    “Tata Hukum negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD telah memberikan landasan dan arah politik hukum terhadap pembangunan bidang hukum Islam dengan jelas dengan merujuk pada Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa,” tambah beliau.
    Sebelum mengakhiri penyampaiannya, beliau mengajak semua elemen bangsa termasuk mahasiswa, kaum akademisi, budayawan, ulama, seniman, wartawan, tokoh adat dan semua komunitas untuk menjadikan Pancasila dan UUD 1945 menjadi titik temu nilai bersama.

    Pembicara pertama, Prof. Dr. Syekh Maher Al Munajid menyampaikan tentang ketaatan kepada pemerintah, setelah Allah Swt. dan Rasulullah saw.
    Dalam penyampaiannya, Guru Besar dari Universitas Abi Nur Damaskus Suriyah itu mendoakan agar Negara Indonesia serta IAIN Surakarta menjadi senantiasa diberkahi oleh Allah. Selain itu, beliau juga mendoakan agar semua urusan kampus dimudahkan oleh Allah dan siapa pun yang membantu dan memuliakan kampus IAIN Surakarta diangkat derajatnya oleh Allah SWT.

    Dalam kehidupan bernegara, Syekh Maher mengingatkan kita untuk memperhatikan lima hal yang sangat urgensi agar kehidupan kita mulia dunia akhirat.

    Pertama, iman kepada Allah SWT.
    “Barangsiapa yang beriman dan mengikuti perintah Allah Swt., akan mendapat kemuliaan dan arah hidup yang benar serta hidup bahagia dunia dan akhirat. Adapun orang yang berkhianat dan tidak beriman, akan mendapat kesusahan dalam hidupnya,” ucap beliau.

    Kedua, Pentingnya Persatuan, nasihat-menasihati dalam kebeneran. Dalam penyampaian materinya, beliau juga mengajak pemerintah untuk meneladani Sahabat Rasulullah.
    “Hendaknya pemerintah mengikuti teladan Sayidina Umar bin Khotob dan Sayidina Umar bin Abdul Aziz, yaitu mendahulukan kepentingan rakyatnya. Persatuan negara harus diutamakan, bukan kepentingan pribadi.”

    Ketiga, as-syuro atau musyawarah. Apa yang kita lakukan hendaknya kita musyawarahkan dengan cara demokrasi. Beliau juga menyampaikan bahwa mencitai tanah air adalah suatu keniscaayaan dan kewajiban.

    Keempat, keadilan sosial. Kita harus menerapkan sikap adil kepada siapa pun, baik dalam hal kenegaraan maupun keagamaan.

    Kelima, menjaga kemuliaan setiap manusia. Hal itu bisa dilakukan dengan cara tidak mengambil barang yang bukan hak kita, melakukan sumpah palsu, mengurangi timbangan, hendaknya tidak memberi tugas seseorang melebihi dari kemampuannya dan memberikan hak setiap manusia.

    Ada satu hadist penting yang mendasari Argumentasi beliau yaitu dari Auf ibn Malik, berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian.”
    “Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga yang kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian. Lalu, Auf berkata: “Ya Rasulullah, bolehkah kita memberontak kepada mereka?” Rasulullah SAW bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah kalian.”
    (HR Muslim). Dari hadist ini jelas bagaimana kita bersikap sebagai pemimpin atau warga negara.

    Pemateri kedua, Prof. Dr. Syekh Fahthi Al Hijazi Al Husaini, Guru Besar Universitas Al Azhar Cairo Mesir. Beliau menyampaikan bahwa agar menjadi manusia yang bahagia dunia akhirat, kita harus memperhatikan tiga hal, yaitu taat kepada Allah, Rasulullah, dan pemerintah. “Ketaatan kepada ketiganya mutlak, tidak bisa dipisahkan. Pemerintah yang kita pilih adalah pemrintah yang memiliki keilmuan dalam pemerintahan. Seperti Sayidina Abubakar, dan tiga khulafaurrasyiddin yang lain.”

    Berdasarkan penuturan beliau, hendaknya pemerintah taat kepada Allah, meminta nasihat seperti Sayidina Umar yang selalu meminta pendapat atau nasihat Sayidina Ali. Seperti yang disampaikan oleh pemateri pertama, beliau juga menyampaikan bahwa aturan yang dibuat oleh pemerintah tidak boleh berseberangan dengan syariat. Selain itu, pemerintah harus menghargai bawahannya.

    “Apabila ada masalah dalam kehidupan kita, kembalilah kepada Allah dan Rasulullah! Selagi tidak memerintahkan kemaksiatan, wajib taat kepada pemerintah,” ungkap beliau.
    Sebelum menutup materinya, Syekh Fahthi yang merupakan salah seorang “Sayyid” atau keturunan Rasulullah itu mengajak kita untuk memperhatikan tiga hal penting.

    Pertama, pastikan kita adalah orang yang menaati hukum negara, kontitusi, dan syariat Allah.

    Kedua, mencintai dan memuliakan orang lain.

    Ketiga, selalu berusaha husnudzan atas apa yang ditentukan oleh Allah SWT.

    Beliau mengintakan kepada kita tentang bahayanya menentang pemerintah bahwa Rasulullah SAW bersabda :“Barangsiapa melihat sesuatu yang tidak disenangi dari pribadi pemimpinnya ( Kepala Negaranya ), hendaklah ia bersabar. Karena tidak ada seorangpun yang memisahkan diri dari jama’ah ( tidak mau mengakui kepemimpinan seorang Kepala Negara ) bila ia mati ia akan mati secara jahiliyah.” H.R. Thabrany.

    Pembicara ketiga, Prof. Dr. Makhrus, S.H., M.Hum, yaitu Guru Besar Ilmu Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau memaparkan materi “Meneguhkan Kontitusi di NKRI Perspektif Syariat Islam”.
    Prof. Makhrus menyampaikan bahwa Indonesia dengan dasar Pancasila adalah bentuk atau hasil dari perjanjian politik yang memiliki tiga poin penting. Pertama, Pancasila sebagai pilar atau penyangganya. Kedua, negara wajib ada karena kebhinekaan. Ketiga, komponen bangsa wajib menjaga keutuhan negara.

    Mengutip penyataan Imam Ghozali, beliau mengutarakan hubungan antara negara dan agama.
    “Negara dan agama adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan bernegara,”
    Umar bin Khattab pernah berkata
    “Bahwasanya tidak ada Islam kecuali dengan jama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan keamiran, dan tidak ada keamiran kecuali dengan ketaatan.”
    Kata beliau bahwa Negara Indonesia menjadikan Agama sebagai sendi dalam kehidupan bernegara. Sehingga Negara tidak boleh meninggalkan Agama.
    Negara tidak boleh mencampuri setiap warga yang beribadah sesuai agama, akan tetapi Negara Wajib melindungi setiap warga negara yang beribadah sesuai agamanya. ( LBM PCNU Surakarta )

    Kontributor: Mokh. Yahya, M.Pd. dan AM. Mustain Nasoha (Dosen IAIN Surakarta)

  • Kisah BANSER BATANG DI TOLIKARA

    Kisah BANSER BATANG DI TOLIKARA

    SORBANSANTRI.COM
    Photo sebagian Sahabat Banser Gringsing Batang yang dulu pernah diberangkatkan ke Tolikara Papua. #BanserNU

    SORBAN SANTRI- Kisah ini kami angkat kembali, meskipun pernah kami post beberapa tahun yang lalu tentang pemberangkatan anggota Banser ke Tolikara Papua, agar Banser muda tahu bahwa saat konflik dengan isue agama di Tolikara Papua, Banser lah yang datang ke sana dan ikut memulihkan kondisi sehingga Umat Muslim Tolikara bisa dengan aman melaksanakan Ibadah seperti sebelumnya. Kali ini, akan kami angkat kisah lain di balik keberhasilan tersebut.

    Cerita ini saya dengar langsung dari Kyai Faizin GZ Plelen Gringsing yang meminpin missi perdamaian ke Tolikara Papua.

    Berawal dari tawaran Satkornas Banser kepada beberapa Satkorcab yang siap diberangkatkan ke Tolikara untuk misi perdamaian terhadap konflik Sara yang berujung pembakaran masjid.

    Dari sekian satkorcab, ternyata Satkorcab Batang yang bersedia diberangkatkan. Meskipun dengan syarat yang berat, di antranya semua personel harus kebal senjata apapun dan ahli bela diri.

    Perjalanan diawali dari Batang menuju Jakarta untuk mendapat pembekalan dan breffing. Selanjutnya setelah dua kali penerbangan, perjalanan dilanjutkan dengan jalur darat yang sangat panjang.

    Begitu mendekati lokasi konflik, tiba-tiba pasukan Banser Batang yang berjumlah 15 orang itu dikepung oleh pasukan penduduk asli yang dibekingi pemberontak Papua. Dengan bersenjatakan panah, tombak dan golok, mereka siap menyerang rombongan banser yang berpakaian lengkap yang didampingi juru bicara atau pemandu dri orang asli Papua. Negosiasi panjang dilakukan dalam suasana sangat tegang dan mencekam.

    Tiba² naluri Banser muncul dari Kyai Faizin, dengan lantang beliau berteriak,
    “Kami pasukan Gus Dur.
    Datang kesini utk berdamai dengan saudara² Papua.”

    Begitu mendengar teriakan
    “Pasukan Gus Dur maka sang pimpinan pasukan suku asli itu bangkit dan berteriak,
    “Stop. Kita kedatangan saudara,
    Gus Dur saudara, Gus Dur saudara.”

    Maka, seketika semua pasukan pengepung itu meletakkan senjata dan maju merangkul dengan sangat akrab.”

    Banser begitu diterima oleh semua komponen di Tolikara. Hingga missi perdamaian berhasil dengan kesepakatan² kedua belah pihak untuk mengakhiri konflik.

    Ketika pasukan Banser Batang hendak pulang, pakaian seragamnya dilucuti dan diminta oleh penduduk asli. Mereka ingin memakainya dan berminat menjadi anggota Banser.

    Demikianlah. Menurut Kyai Faizin, kita benar² meyakini kewalian *Gus Dur*. Sebab, meskipun telah tiada, nama besarnya masih bgitu berpengaruh dan ditakuti banyak pihak. Sehingga, wirid dan hizib yg telah diamalkan, kanuragan dan kesaktian yang telah disiapkan, tak jadi digunakan. Cukup dengan menyebut nama “Gus Dur”, semua bisa teratasi dan misi berjalan kancar.

    (Kisah saya dengar dari Kyai Faizin dan saya kembangkan dengan redaksi saya. Kurang lebihnya bisa dikonfirmasi langsung kepada Beliau)

    Sumber tulisan: Sodikin Rusydi, M. Ag. (Sahabat Ansor Reban Batang) tulisan asli dengan edit tanda baca seperlunya. (M. Wicaksono)

  • USAHAKAN BACA SHOLAWAT DENGAN LENGKAP

    USAHAKAN BACA SHOLAWAT DENGAN LENGKAP

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Bacaan sholawat yang biasa kita ucapkan itu bukan sekedar bacaan biasa. Memang bunyinya seakan mendoakan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Secara harfiah memang demikian. Namun, dibalik itu semua, ada sebuah rahasia besar yang luar biasa sekali.

    Jika kita menganggap bahwa sholawat itu semata-mata adalah mendoakan rahmat kepada Kanjeng Nabi, itu salah besar. Kanjeng Nabi itu tidak butuh doa kita. Amalan beliau sudah turah-turah. Kanjeng Nabi kok butuh doa kita, lha emang kita ini siapa?
    Bila dikaji dengan secara mendalam, ternyata sholawat adalah kata kunci, semacam “password” untuk menyatukan seluruh frekuensi kehidupan di jagad raya ini. Jadi, bukan sekedar mendoakan rahmat kepada Kanjeng Nabi semata.

    Oleh karena itu, jika membaca sholawat jangan sampai hanya sebatas: Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad. Secara harfiah itu boleh-boleh saja, tidak salah. Namun itu termasuk sholawat buntung. Lalu bagaimana yang lebih sempurna?
    Bacalah: Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad WA’ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD (Ya Allah semoga kiranya rahmat senantiasa tercurah kepada Kanjeng Nabi Muhammad dan juga atas keluarga Kanjeng Nabi Muhammad) . Minimal demikian. Jangan lupa sertakan selalu kalimat WA’ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD.

    Menurut Sayyidina Imam Syafi’i, kalimat Wa’ala ali Sayyidina Muhammad itu tidak sekedar tertuju kepada keluarga, ahlul bait atau dzurriyah Kanjeng Nabi semata, tetapi juga seluruh Kaum Muslimin di muka bumi ini.
    Jadi, ketika membaca sholawat secara lengkap akan menjadi kekuatan super dahsyat, dimana kaum Muslimin di seluruh jagad raya ini menyatukan diri dalam sebuah frekuensi. Menjadi bagian dari kekuatan doa yang Sangat dahsyat. Semua termaktub dalam satu kalimat. Sungguh luar biasa. (ala-NU Media)
    -Maulana Habib Luthfi bin Yahya-

  • Sekali Banser Tetap Banser

    Sekali Banser Tetap Banser


    SORBANSANTRI.COM

    Orang seperti Mbah Mujiono ini, tidak banyak, bisa dihitung jumlahnya. Dilahirkan sebelum bangsa ini merdeka. Pada di usia 6 tahun, sampai sekarang memorinya masih tajam untuk mengenang gelegar bom para sekutu berikut berondongan suara peluru.

    Waktu pun berlalu. Dan kini, Mbah No, sapaan akrab Mujiono (79) warga Jl. Abusono RT. 08 RW. 02 Nomor 20 Kelurahan Ngampel Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, menghabiskan sisa waktunya menjadi pemulung untuk bertahan hidup dengan barang rongsokan.

    Usia, baginya, tidak bisa menjadi alasan untuk meninggalkan pengabdian kepada bangsa, negara dan juga menjaga para ulama. Meski telah renta, namun semangat hidupnya dibuktikan dengan bergabung menjadi anggota Banser Ranting Ngampel.

    Hampir di semua kegiatan di Kota Kediri, sosok kakek bercucu dua ini, selalu tidak lepas dari sepeda onta yang mengantarkan ke mana pun dia pergi. “Saya dulu menggembala kambing milik Mbah Kiai Mahrus Aly. Saat itu, Tahun 1950, dari Cirebon diminta datang ke Pondok Lirboyo,” tutur Mbah No ditemui di rumahnya, hanya seluas 2 x 4 meter dengan dikelilingi barang rongsokan.

    Ikut Diklat Banser di Jombang.

    Memang, selain mengembala kambing titipan milik para tetangga, Mbah No juga mencari barang bekas berkeliling Kota Kediri dengan berjalan kaki. Barang-barang tersebut kemudian dikumpulkan di rumahnya, lalu ada yang datang untuk mengambil.

    Hasil yang didapat dari usaha ini, kisaran Rp900 ribu dalam sebulan. “Ya cukup buat makan sehari–hari, karena ketika sakit sudah mendapat keringanan bantuan dari pemerintah,” kata Mbah No sangat polos.

    Penghasilannya juga menyokong kebutuhan anak perempuan dan kedua cucunya yang masih duduk di bangku TK. “Saya mulai mencari barang bekas sejak Tahun 2006, setelah ditinggal mati istri. Anak dua, yang pertama laki-laki bekerja di proyek. Yang kedua perempuan telah lama cerai sama suaminya, tinggal di rumah bersama dua anaknya masih TK,” jelasnya.

    Terkait keikutsertaannya di organisasi GP Ansor, jelasnya, ini sudah dijalani sejak Tahun 1943 ketika merantau ke Cirebon, Jawa Barat. Ketekunannya menjadi pasukan Banser sehingga mempertemukannya dengan Mbah Kiai Mahrus Aly tahun 1950. Sedangkan Diklat Banser, ia ikuti sekitar tahun 2000 di Jombang.

    Mengabdi kepada Kiai dan organisasi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya. Baginya sekali Banser tetap Banser. Seiring meninggalnya Mbah Kiai Mahrus Aly, Mbah Mo memutuskan aktif di organisasi Banser untuk mengisi waktu luangnya. Meski di bawah garis kemiskianan, namun sosok Mbah No tetaplah santun dan terlihat semangat yang luar bisa untuk mengisi waktu sehari–harinya. Tenaganya juga sering dibutuhkan untuk pengamanan acara.

  • PKPNUNYA  JELAS, TERKADANG ORANGNYA YANG GAK JELAS

    PKPNUNYA JELAS, TERKADANG ORANGNYA YANG GAK JELAS

    SORBAN SANTRI- Dalam artikel ini kalau bahasannya di Orangnya atau Personnya jadi bisa saja Pematerinya, Pemimpinnya, Penggeraknya, kiainya SIAPAPUN!! tidak terkecuali Sesosok GUS DUR sekalipun yang bilang dan  memerintahkan..

    Ada cerita pengalaman saiya sendiri dengan beliau ( salah satu penggugus dan penggerak PKPNU dan NU ONLINE ) dengan berbicara keras kepada saiya. KAMU BUKAN KADER PKPNU YA?!
    terkait arah politik yang saiya nilai jauh dari IDEOLOGI. ( mulanya saiya heran, kok beliau ngerti saiya bukan kader PKPNU ? padahal beliau belum tau dan kenal saiya itu siapa? Tapi gak apalah yang penting bangga bisa sowan pada beliau walaupun via telp dan merasa tergerak hati ini dengan adanya kejadian yang akan kita (warga NU) kedepan terkait arah politik di Mojokerto ) .

    Dari situ setiap saat saiya merenung dan berfikir dengan KOK BISA YA?! KOK TAU YA?! di pikiran masih bingung dengan arah kemana-mana dan berbuat apa..

    Alhamdulillah Minggu, 02 Agustus 2020 saiya diajak salah satu sahabat SORBAN (anSOR BANser) Kec. Pacet Mojokerto untuk sowan ke salah satu tokoh kiai yang mana beliau adalah salah satu sosok yang memberikan jawaban atas keburaman pikiran saiya tersebut. Apa yang beliau katakan?!
    ” SAAT INI MOJOKERTO DIKASIH UJIAN YANG SANGAT BERAT SEKALI TERKAIT SIAPA LAWAN SIAPA KAWAN TERKAIT ARAH POLITIK DI MOJOKERTO “ dan beliau juga menyampaikan ” AWAL DARI RAHMATALLIL’ALAMIN ITU DARI NU AWALNYA INSYAALLOH DARI MOJOKERTO “

    Dari rentetan peristiwa itu, saiya pulang dengan sudah bisa tersenyum dan sudah menemukan jawaban dari yang selama ini saiya pikirkan bahwa:

    MOJOKERTO INI LAGI MENGHADAPI UJIAN, DAN SIAPAPUN YANG MENYIMPANG DAN BERBELOK ARAH JANGAN DI IKUTI, SIAPAPUN ITU… MESKIPUN DIA ITU PEMIMPIN BAHKAN SESOSOK GUS DUR SEKALIPUN… SUNGGUH PERANG IDEOLOGI ITU ADA DAN NYATA!! TIDAK BISA DIUTARAKAN LEWAT BAHASA!! SEDERHANANYA BEGINI ” BERBICARA SALAH SAMBIL MENGEDIP KEDIPKAN MATA .

    Dan dari deretan cerita itu juga, saiya mengerti dan sudah tidak lolos PKPNU paling pertama kali ketika salah satu penggugus sekaligus penggerak PKPNU bilang, “KAMU BUKAN KADER PKPNU YA?! dan Alhamdulillah sekarang saiya bisa tersenyum dan mengerti yang Beliau katakan. Bahasa sederhananya begini ” SAYA (KIAI YANG BILANG KAMU BUKAN KADER PKPNU) ITU SALAH, DAN KAMU ( SAIYA SENDIRI ) ITU BENAR DALAM PENEGAKAN IDIOLOGI, SEKARANG INI UJIAN KAMU ” seperti itu kira-kira bahasa yang saiya tangkap, dan saiya sadar dan gak lolos dalam ujian itu.

    Hikmahnya adalah saiya tahu bahwa OKNUM-OKNUM, pelaku pemanfaatan nama besar organisasi, kader pemalu, kader penakut, kader kepentingan,kader ragu-ragu, kader pamrih, kader balasbudi dsb, tidak akan lolos dalam ujian ini dalam menegakkan IDIOLOGI. Dan dari situ saiya benar-benar faham SIAPA KAWAN .. SIAPA LAWAN ..
    Dan saiya termasuk kader ragu-ragu dalam arah IDIOLOGI ini.. sehingga saiya tidak lolos dalam ujian ini.

    Mudah-mudahan cerita ini bisa difahami oleh sahabat-sahabat dan jangan sampai terpancing ujaran dan slogan-slogan gak jelas… MOJOKERTO DALAM UJIAN, JADI HARAP TENANG!!

    (abi SORBAN)

    Salam 1 Komando
    #NKRIHARGAMATI
    #ASJAWAAQIDAHKITA

    #SORBANSANTRINU

  • Ledakan Bom Tak Kenal Etika Kemanusiaan

    Ledakan Bom Tak Kenal Etika Kemanusiaan

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Saya dari dulu mengikuti pilihan para kyai NU yang selalu menjaga perdamaian, tidak memilih opsi perang. Mengapa? Sebab perang di zaman Nabi berbeda dengan zaman sekarang. Dulu di zaman Nabi perang memiliki etika. Sekarang sama sekali tidak ada etikanya karena alat perangnya membabi-buta dan meluluhlantakkan apapun.

    Memangnya apa etika perang yang diajarkan oleh Nabi? Berikut adalah sabda mulia Nabi kita:

    عن ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «اﻧﻄﻠﻘﻮا ﺑﺎﺳﻢ اﻟﻠﻪ ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﻣﻠﺔ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﻭﻻ ﺗﻘﺘﻠﻮا ﺷﻴﺨﺎ ﻓﺎﻧﻴﺎ ﻭﻻ ﻃﻔﻼ ﻭﻻ ﺻﻐﻴﺮا ﻭﻻ اﻣﺮﺃﺓ، ﻭﻻ ﺗﻐﻠﻮا، ﻭﺿﻤﻮا ﻏﻨﺎﺋﻤﻜﻢ، ﻭﺃﺻﻠﺤﻮا ﻭﺃﺣﺴﻨﻮا ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﻳﺤﺐ اﻟﻤﺤﺴﻨﻴﻦ»

    Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda (kepada para pasukan yang akan berangkat perang) : “Berangkatlah dengan nama Allah, karena Allah dan ikut Agama Rasulullah. Jangan bunuh orang tua renta, jangan bunuh bayi, jangan bunuh anak kecil dan jangan bunuh wanita. Jangan berkhianat. Kumpulkan harta rampasan perang. Lakukan islah (rekonsiliasi) dan berbuatlah baik. Sebab Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan” (HR Abu Dawud)

    Dalam riwayat lain:

    ” ﻭﻻ ﺗﻘﺘﻠﻮا اﻟﻮﻟﺪاﻥ، ﻭﻻ ﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﺼﻮاﻣﻊ ”

    “Jangan bunuh anak-anak dan para pendeta” (HR Ahmad)

    Sabda Nabi yang lain:

    ﻭﻻ ﺗﺨﺮﺑﻮا ﻋﻤﺮاﻧﺎ، ﻭﻻ ﺗﻘﻄﻌﻮا ﺷﺠﺮﺓ ﺇﻻ ﻟﻨﻔﻊ، ﻭﻻ ﺗﻌﻘﺮﻥ ﺑﻬﻴﻤﺔ ﺇﻻ ﻟﻨﻔﻊ، ﻭﻻ ﺗﺤﺮﻗﻦ ﻧﺨﻼ، ﻭﻻ ﺗﻐﺮﻗﻨﻪ، ﻭﻻ ﺗﻐﺪﺭ، ﻭﻻ ﺗﻤﺜﻞ

    “Jangan hancurkan bangunan, jangan tebang pohon kecuali diperlukan, jangan bunuh hewan kecuali diperlukan, jangan bakar pohon kurma, jangan tenggelamkan, jangan rusak perjanjian dan jangan membunuh dengan mutilasi” (HR Al-Baihaqi)

    Ini etika perang yang diperintah oleh Nabi ketika perang fi Sabilillah. Lalu kalau perang sesama Muslim apalagi sesama anak negeri? Semoga NKRI tetap aman dan damai.

    •] Tulisan ini tidak secara khusus mengomentari peristiwa di Lebanon, namun menyampaikan secara umum bahaya perang. Jazakumullah Khoiron katsiron. (POST  KH. MA’RUF KHOZIN)

  • Filosofi Hidup Ngaji Gus Baha’

    Filosofi Hidup Ngaji Gus Baha’

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Posisi apapun sama sekali bukan tujuan. Tidak menjadi apapun juga tidak masalah. Tidak kenal juga tidak masalah. Tidak diakui keberadaannya juga tidak masalah. Tidak dihormati juga tidak masalah. Justru bisa bersembunyi dari perhatian banyak orang malah lebih leluasa dan santai.

    Mendapatkan penghormatan bukan berarti kesuksesan. Menghormati belum tentu karena betul-betul memiliki rasa hormat. Bisa aja orang yang menghormati kita karena takut, karena diharuskan, karena mereka bekerja untuk kita, mereka butuh sama kita atau supaya terlihat pantas saja.

    “Hidup ndak usah dibuat sulit, nggak usah ruwet. Asal tidak maksiat, bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang, serta tidak mengusik hidup orang lain, itu sudah cukup,” kata Gus Baha’. (abi sorban)

    #UlamaNusantara

  • INDONESIA SEBAGAI BANGSA YANG BERBUDI LUHUR

    INDONESIA SEBAGAI BANGSA YANG BERBUDI LUHUR

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Indonesia adalah negara beragama bukan negara agama dan setiap agama tentu mengajarkan agar sesama manusia saling menjalin kasih sayang karena manusia sejatinya adalah mahluk sosial.

    Begitupun dalam Islam Rosulullah SAW bersabda “Tidak akan sempurna iman seseorang hingga yang bersangkutan sanggup mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

    Seseorang tidak akan mungkin mau dirinya susah, menderita, menanggung kerugian, dan apalagi celaka, begitu pula, sebagai bentuk kecintaan terhadap sesama, semestinya orang lain pun tidak boleh menanggung perasaan yang ia sendiri membencinya.

    Agama sebagai ajaran yang mulia, ternyata belum selalu ditangkap oleh umatnya dengan baik, seseorang yang telah mengaku sebagai seorang beriman kepada yang diyakini, tentu akan memiliki perilaku yang baik dalam keseharianya, ketika bergaul begitupun saat dia berkomunikasi dengan orang lain.

    Tema besar yang diusung pada HUT RI Ke 75 ini adalah menciptakan Indonesia Maju, yang merepresentasikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Logo HUT RI ke-75 terinspirasi dari simbol perisai di dalam lambang Garuda Indonesia. Logo ini juga menggambangkan Indonesia sebagai negara yang mampu memperkokoh kedaulatan, menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.
    Dan sebagai simbol arti dari kesetaraan dan pertumbuhan ekonomi untuk rakyat Indonesia dan progres nyata dalam bekerja untuk mempersembahkan hasil yang terbaik bagi semua rakyat Indonesia.

    #JayalahIndonesiaku
    #JanganLelahCintaiIndonesia
    #BhinekaTunggalIka
    #BersatuUntukIndonesiaMaju

    ( Ontoseno )

  • DOSAKAH MENJADI INDONESIA?

    DOSAKAH MENJADI INDONESIA?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Sudah 75 tahun Indonesia merdeka, ternyata masih ada “agen asing” di Indonesia yang secara psikologi politik merasa malu, risih, bahkan berdosa mengakui Indonesia sebagai negara dan bangsanya. “Orang” di Indonesia lahir, besar, hidup dan mencari penghidupan di sini tanpa bangsa dan negara. Mereka bukan warga negara asing yang memiliki paspor luar negeri. Karena di luar Indonesia mereka juga tidak punya bangsa dan negara.

    “Agen asing” di Indonesia kebanyakan bagian dari komunitas transnasional. Komunitas transnasional merupakan komunitas yang identitas budaya, kesetiaan politik dan orientasi psikologisnya melampaui batas-batas nasional. (Andrew Heywood, terj. 2016:326). Di antara komunitas transnasional yang menonjol adalah ISIS, HTI dan sebagian Salafi Wahabi.

    “Agen asing” di Indonesia memandang Indonesia dari perspektif komunitas mereka. Dari doktrin, nilai, norma dan standar mereka. Persepsi-persepsi ini sudah jadi dogma yaitu keyakinan tertutup yang tidak diuji, diverifikasi dan dikonfirmasi dengan kenyataan. Keyakinan yang ditanamkan sebagai materi pembinaan.

    “Agen asing” di Indonesia memandang Indonesia dari perspektif komunitas mereka. Dari doktrin, nilai, norma dan standar mereka. Persepsi-persepsi ini sudah jadi dogma yaitu keyakinan tertutup yang tidak diuji, diverifikasi dan dikonfirmasi dengan kenyataan. Keyakinan yang ditanamkan sebagai materi pembinaan.

    Ciri khas “agen asing” di Indonesia menjadi bagian dari komunitas transnasional mereka mencita-citakan kehidupan kosmopolitanisme melintasi bangsa dan negara bangsa. Kosmopolitanisme secara harfiah berarti keyakinan terhadap kosmopolis atau negara dunia. Kosmopolitanisme moral adalah keyakinan bahwa dunia seharusnya terdiri atas satu komunitas moral tunggal di mana setiap orang memiliki kewajiban kepada orang lain apapun nasionalitasnya, agama, budaya dan etnisnya. (Andrew Heywood, terj. 2016:327). Kosmopolitanisme dalam bentuk Khilafah.

    Hal mendasar yang membuat “agen asing” di Indonesia tidak bisa menjadi Indonesia karena faktor ideologi dan sejarah. Menurut mereka ideologi negara Indonesia, ideologi kufur, pemerintahannya thaghut, hukumnya hukum jahiliyah, penguasanya pengkhianat, antek-antek Barat, sejarah terbentuknya buah dari gerakan separatis (bughat) terhadap Khilafah Utsmaniyah dan proyeksi masa depan Indonesia yang tidak sesuai dengan Nubuwwah Nabi saw tentang Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah.

    Sebenarnya sudah banyak kajian ilmiah fiqhiyah yang membantah persepsi mereka. Nah, tidak ada salahnya dibongkar kembali persepsi mereka guna mengurai kekusutan nalar, meluruskan pemahaman dan menghilangkan beban serta hambatan psikologi politik “orang” di Indonesia menjadi orang Indonesia seutuhnya.

    Secara global kesalahan fatal “agen asing” di Indonesia seperti HTI dan ISIS, mereka mencampuradukkan fakta bentuk negara, sistem pemerintahan, sejarah berdirinya negara dan perilaku penguasa. Akibatnya, nalar mereka kusut. Tentu tidak sesuai tradisi berpikir fiqih Islam “menghukumi fakta per fakta secara terperinci”. Apakah karena kedangkalan ilmu mereka atau karena kemalasan berpikir serius, sistematis, metodis dan mendalam atau karena ghirah keberislaman yang over dosis, yang pasti mereka keliru menilai Indonesia.

    Mengingat pembahasan syar’i tentang negara, pemerintahan dan penguasa sudah banyak, kali ini saya mau meluruskan pemahaman “agen asing” di Indonesia tentang masa lalu dan masa depan Indonesia. Masa lalu terkait dengan sejarah pembentukan negara Indonesia, sedangkan masa depan membahas positioning Indonesia berhubungan dengan Nubuwwah Nabi saw.

    Nasionalisme: Unifikasi Anti Kolonial
    Bagi “agen asing” di Indonesia, Khilafah Turki Utsmani negara ideal yang jadi standar untuk menilai keabsahan negara lain. Meskipun idealisme ini jauh dari kenyataan, “agen asing” di Indonesia menyalahkan keberadaan negara muslim selain Khilafah Turki Utsmani.

    Sudah menjadi fakta sejarah, negara-negara Arab modern terbentuk dari konspirasi Eropa dengan penguasa lokal untuk memberontak terhadap Khilafah Turki Utsmani. Ide nasionalisme yang diusung penguasa Arab saat itu, nasionalisme separatisme anti Turki Utsmani pro kolonial Eropa. Kenyataan ini membuat “orang” di Indonesia mengharamkan nasionalisme.

    Lain halnya dengan sejarah Arab modern, rakyat Indonesia kemerdekaannya 17 Agustus 1945, 21 tahun setelah runtuhnya Khilafah Turki Utsmani. Khilafah Turki Utsmani resmi dibubarkan pada tanggal 3 Maret 1924. Jadi tidak masuk akal jika Indonesia berdiri sebagai hasil pemberontakan (separatisme) terhadap Khilafah Turki Utsmani karena ketika Indonesia berdiri Khilafah Turki Utsmani sudah tidak ada.

    Selain gagal paham soal proses pembentukan negara Indonesia, “agen asing” di Indonesia mewacanakan persatuan umat sebagai alasan syar’i untuk mendirikan Khilafah.

    Mereka mengambil fakta unifikasi negara Eropa ke dalam Uni Eropa sebagai bukti kemungkinan unifikasi umat dalam bingkai Khilafah. Unifikasi Eropa secara terbatas pertama kali tahun 1957. Sampai sekarang baru bisa menggabungkan 27 negara. Unifikasi Eropa sebentuk asosiasi negara-negara Eropa bukan leburan yang membentuk satu negara kesatuan baru.

    Lagi-lagi “agen asing” di Indonesia gagal membaca sejarah Indonesia. Indonesia 12 tahun lebih dulu dari unifikasi Eropa. Indonesia berdiri hasil unifikasi dari berbagai kesultanan di nusantara, ormas-ormas Islam dan kalangan non Islam.

    Hasil riset Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada 2012, ada 186 kerajaan yang masih eksis secara fisik, yakni wilayah, bangunan, budaya, dan struktur monarki, namun tidak berdaulat lagi karena bergabung dengan NKRI.

    Di antara 186 kesultanan yang secara garis keturunan dan budaya masih kuat di antaranya Kesultanan Yogyakarta, Kesultanan Surakarta, Kasultanan Cirebon, Kerajaan Ternate, dan Kesultanan Kanoman. Berbeda dengan nasionalisme Arab, nasionalisme Indonesia bersifat unifikasi dan anti kolonial.

    Indonesia Makmur Tanpa Khilafah
    Dari 400-an hadits tentang Nubuwwah akhir zaman, tidak ditemukan hadits yang menyebut Indonesia secara spesifik. Juga tidak ada hadits yang menunjuk langsung atau dengan qarinah (indikasi) bahwa Indonesia akan jadi Khilafah. Sehingga positioning Indonesia di masa depan dapat diprediksi dari keumuman dalil tentang keadaan negeri-negeri di akhir zaman.

    Jumhur ulama sepakat bahwa Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua akan terjadi di bawah kepemimpinan Imam Mahdi didampingi Nabi Isa as. Adapun pendapat yang mengatakan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua terwujud sebelum Imam Mahdi, pendapat ini masih khilafiyah karena bersandar pada dalil-dalil umum tentang kemakmuran umat di akhir zaman. (Al-Hajj: 40; Ash-Shaffat: 171-173; Muhammad; 7; Al-Mujadilah; 21; Al-A’raf: 128; Al-Anbiya: 105; Al-Mu’min: 51; An-Nur: 55).

    Sedangkan Khilafah yang dipimpin oleh Imam Mahdi secara khusus disebutkan dalam sejumlah hadits. Imam Mahdi dibai’at di Makkah dekat Ka’bah antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim (HR. Nu’aim bin Hammad, Hakim dan Ath-Thabari dalam Ausath dari Ummu Salamah. Abu Dawud kitab al-Mahdi no. 4286 dan al-Hakim kitan al-Fitan wal Malahim no. 8326). Kemudian Imam Mahdi melakukan ekspansi di jazirah Arab, menaklukkan Persia dan malhamah kubra di A’maq dan Dabiq dekat Damaskus.

    Adapun Nabi Isa bin Maryam akan turun di menara putih bagian timur kota Damaskus (HR. Muslim, kitab al-Fitan wa Asyrath As-Sa’ah, ban Dzikr ad-Dajjal 18: 67-68). Kemudian Nabi Isa as membunuh Dajjal dekat Baitul Maqdis (HR. Ahmad, Baqi Musnad al-Mukatstsirin hadits no. 14965, Ibnu Majah, hadits no. 4077).

    Berdasarkan keumuman dalil-dalil kemenangan, kejayaan dan kemakmuran umat Islam dan merujuk pada kekhususan hadits-hsdits tentang Imam Mahdi dan Nabi Isa as di mana setting lokasinya di kawasan Arab yaitu Makkah, Madinah, Hijjaz, Syam, A’maq, Dabiq, Damaskus dan Baitul Maqdis, maka bisa diprediksi umat Islam di Indonesia juga mengalami masa kemakmuran gemah ripah loh jenawi walaupun bukan pusat Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

    Dengan demikian di masa depan Indonesia makmur dan sejahtera tanpa harus jadi Khilafah. Perjuangan “agen asing” di Indonesia akan sia-sia karena bertentangan dengan hadits-hadits tentang Imam Mahdi dan Nabi Isa as. Belum terlambat untuk kembali ke Indonesia. Jadilah Indonesia lahir batin. Menjadi Indonesia kewajiban syar’i bagi pribumi dan warga negaranya. (Oleh Ayik Heriansyah )

  • BANSER dan HISNURI (Santri Nurul Iman) Awali HUT RI ke-75 Dengan Pasangan Umbul-umbul

    BANSER dan HISNURI (Santri Nurul Iman) Awali HUT RI ke-75 Dengan Pasangan Umbul-umbul

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI-  Satkoryon Pacet Banser, PAC GP Ansor Pacet dan HISNURI (himpunan santri nurul iman) mengadakan giat rutin setiap tahun dalam memperingati HUT kemerdekaan RI.
    Acara yang diawali dengan pemasangan umbul-umbul ini dimulai dari Senin, 3 Agustus 2020 sampai selesai, yang selanjutnya akan diadakan kegiatan perayaan kemerdekaan di Bulan Agustus 2020.
    Kegiatan ini di fokuskan disepanjang jalan RT 1 dan RT 2 Dusun Pacet Nggapuk / Pacet Utara Desa Pacet Kecamatan Pacet Mojokerto yang mana daerah tersebut merupakan jalan utama menuju kawasan wisata air panas pacet.

    Hal ini perlu dilakukan karena kita sebagai warga Negara yang cinta akan tanah air, jangan sampai lupa akan karunia Alloh SWT dan pejuangan para syuhada di medan pertempuran dalam menegakkan kemerdekaan yang saat ini kita bisa rasakan. Kita sebagai kader saat ini memegang tongkat estafet mengiring dan mengisi kemerdekaan di Negara Indonesia ini.” ungkap salah satu anggota BANSER yang ikut dalam kegiatan itu.

    Sosialisasi dan Koordinasi ini sudah diagendakan sebelum Bulan Agustus 2020, dan baru dimulai kemarin Selasa 3 Agustus 2020 yang diawali dengan pencarian bambu yang kebetulan kawasan tersebut masih banyak bambu dipemukiman penduduk. Sampai berita ini di tayangkan, kegiatan tersebut masih berlangsung dan untuk hari-hari kedepannya di Bulan Agustus ini akan di isi dengan kegiatan-kegiatan kemerdekaan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang mana pada saat ini wabah covid-19 masih ada di sekitar kita.(ABI SORBAN)