Blog

  • ADA YANG MAU MEMBAKAR NEGERI INI

    ADA YANG MAU MEMBAKAR NEGERI INI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Pernahkah kita memperhatikan cara kerja lampu atau kompor minyak tanah? Kenapa api hanya membakar ujung atas sumbunya saja? Karena sifat api hanya membakar apa yang ada diatasnya.

    Kalau begitu, bukankah posisi api itu sudah paling atas, dan seharusnya ia akan padam? Betul, seharusnya ia padam jika tidak ada bahan bakar.

    Minyak tanah itulah yang akan membuat api itu akan terus menyala. Dan api hanya mengikuti sifat alamiah atau hukum alam saja.

    Begitu juga dalam kehidupan. Sifat api dalam hati kita hanya membakar apa yang ada diatasnya. Api iri, cemburu, dengki dsb hanya membakar akibat keinginan yang lebih tinggi.

    Hukum alam api di dalam hati kita hanya akan memiliki sifat iri kepada orang yang lebih sukses, pandai, kaya, rupawan, dsb. Intinya, hanya kepada orang-orang yang berada di atas level kita.

    Ini tidak hanya berlaku secara personal.

    Juga berlaku secara kelompok, organisasi bahkan sampai pada level negara.

    Hati kita dengan lampu minyak setidaknya sebuah analogi yang identik. Api itu harus tetap menyala namun terukur agar menjadi semangat dalam kehidupan.

    Api yang kecil akan menerangi, namun jika ia besar dan tak terkendali justru akan membakar dirinya sendiri dan apa yang ada disekitarnya.

    Pun begitu dengan minyaknya sebagai pembakar semangat. Ia juga harus terukur dan terarah. Itulah kenapa ia hanya boleh mengalir dalam sumbu dan bukan disiramkan yang bisa memicu kebakaran.

    Jika seperti ini, ia bukan sebagai penyemangat melainkan sebagai provokator yang sifatnya merusak.

    Dalam skala sosial, semangat itu sendiri manifestasinya bisa dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Contohnya, ketika ada fenomena pembakaran bendera PKI.

    Orang-orang yang memiliki nalar dan akal yang masih sehat, tentu bisa menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah rekayasa.

    Ideologi yang sudah tidak laku, tiba-tiba bangkit dan dikabarkan memiliki anggota 60 juta lebih di Indonesia.

    Disinilah perlunya ukuran nalar dan semangat kebangsaan yang terarah.

    Begitu pula dengan fenomena Klepon sebagai jajanan tradisional yang dianggap tidak Islami. Ini juga dituntut nalar dan semangat beragama yang terukur dan terarah.

    Dan terakhir tentang kejadian pembakaran baliho seorang tokoh.

    Bagi orang yang memiliki nalar dan akal yang masih sehat, tentu akan paham sifat api yang membakar apa yang ada di atasnya.

    Itulah kenapa dalam video pembakaran bendera PKI dengan baliho gambar tokoh itu akan terlihat perbedaan cara atau teknis membakarnya.

    Bendera dibakar dari bawah, sedangkan baliho dibakar dari atas.

    Yang satu akan mudah terbakar, sementara satunya akan padam.

    Apalagi terduga pelakunya terafiliasi pada kelompok yang sama.

    Perhatikan, pikirkan dan rasakan. Sudah jelas bahwa rupanya ada penyiram minyak dalam kehidupan berbangsa dan beragama di negeri kita ini.

    Tujuannya bukannya untuk menerangi, melainkan agar negeri ini terbakar oleh adu domba akibat “ghirah” yang tak terkendali.

    Semoga kita selalu cinta damai…
    Walaupun blakangan ini ada perbedaan dan perdebatan politik hingga membawa sejarah palsu dan saling tidak menghargai.

    Hentikan itu semua, kita 1 saudara seatap NKRI HARGA MATI

    Kalian yang berjiwa cinta damai ayo repost foto ini mari tumbuhkan lagi jiwa nasionalisme kita..! Untuk Indonesai Raya ( POST SANTRI NU)

  • BANSER DAN BONEK KERJA BHAKTI DI TUGU PANCASILA PACET

    BANSER DAN BONEK KERJA BHAKTI DI TUGU PANCASILA PACET

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Perawatan dan pemeliharaan Tugu Pancasila Pacet oleh BANSER Satkoryon Pacet dan BONEK Pacet. Koordinasi bagus dan kompak ditunjukan oleh BANSER Satkoryon Pacet dan BONEK Pacet dengan mengadakan kegiatan bersih-bersih serta pengecatan Tugu Pancasila Pacet tersebut.

    Dalam memasuki HUT RI ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, bulan agustus ini diawali oleh jajaran BANSER Satkoryon Pacet dan BONEK Kecamatan Pacet. Kegiatan ini dirasa penting untuk memupuk cinta tanah air dan mengetahui sejarah akan adanya tugu pancasila yang ada di pertigaan karlina Pacet Mojokerto.

    Koordinasi antara BANSER dan BONEK Kec. Pacet ini terlaksana Hari Minggu, 02 Agustus 2020 yang diawali Pukul 12.00 wib sampai selesai. Kegiatan ini dimulai dengan kerjabakti bersih-bersih Tugu Pancasila yang terkesan tidak terawat dan kurang perhatian dalam pemeliharaan dan dilanjutkan dengan pengecatan tugu.

    Diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut, masyarakat umum dan kita semua agar lebih menghargai perjuangan para pahlawan dalam menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia” ungkap Sahabat HANDIKA yang ikut dalam kegiatan tersebut (abi SORBAN)

  • TAFSIR AL JAILANY 800 TAHUN HILANG, DITEMUKAN DI VATIKAN

    TAFSIR AL JAILANY 800 TAHUN HILANG, DITEMUKAN DI VATIKAN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Penemuan karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani oleh cucu ke-25-nya sendiri, Syekh Dr. Muhammad Fadhil, membuat dunia akademik dan pengamal tarekat/tasawuf terkagum-kagum. Bagaimana tidak? Naskah ini selama 800 tahun menghilang dan baru ditemukan secara utuh di Vatikan. Manuskrip yang berisis 30 Juz penuh ini tersimpan secara baik di perpustaan.

    Tak ada yang menyangka sebelumnya bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menulis kitab tafsir Al-Quran 30 juz yang mengulas ayat-ayat Al-Quran. Kita seolah-olah mempelajari samudra tasawuf dari ayat ke ayat. Dan, alhamdulillah, Tafsir Al-Jailani, yang dalam bahasa Arab telah diterbitkan oleh Markaz Al-Jailani Turki (6 jilid), kini telah berhasil diterjemahkan dalam bahasa Indonesia/Melayu menjadi 12 Jilid. Hingga hari ini, Markaz Jailani Asia Tenggara baru mencetak 2 jilid pertama.

    Para salik yang berada di Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand dan Singapura yang berbahasa Melayu bisa mempelajari makna-makna penting tasawuf yang diajarkan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan mudah.

    Kami sangat berterima kasih dengan perjuangan penelitian dan penyelidikan yang dilakukan oleh Syekh Dr Muhammad Fadhil dalam menyelamatkan manuskrip-manuskrip langka ini. Terutama yang berkaitan dengan Tafsir Al-Jailani. Kami terharu ketika mendengarkan langsung kisah pengkajian dan penelitiannya selama puluhan tahun.

    Berikut adalah penuturan Syekh Fadhil dalam pembukaan kitab Tafsir Al-Jailani yang ditelitinya:

    “Saya tumbuh besar di bawah pendidikan kakek saya Sayyid Syarif al-Alim al-Muqtada bih wa al-Quthb al-Kamil asy-Syaikh Muhammad Shiddiq Jalilaniy al-Hasaniy. Ayah saya bernama Sayyid Syarif al-Alim al-Allamah wa al-Bahr al-Fahhamah Syaikh Muhammad Faiq Jailaniy al-Hasaniy.

    Setelah saya mendatangi Madinah Munawwarah dan tinggal di kota ini, saya pun mulai mencari kitab-kitab Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy Radhiyallahu ‘Anhu pada tahun 1977 M di Madinah al-Munawwarah dan kota-kota lainnya sampai tahun 2002 M.

    Setelah tahun itu, saya menghabiskan seluruh waktu saya untuk mencari kitab-kitab sang Syaikh Radhiyallahu ‘Anhu, dan sampai hari ini saya masih terus melanjutkan pencarian itu.

    Saya telah mendatangi sekitar lima puluh perpustakaan negara dan puluhan perpustakaan swasta yang terdapat di lebih dari 20 negara. Bahkan ada beberapa negara yang saya datangi sampai lebih dari dua puluh kali.

    Dari proses panjang itu saya berhasil mengumpulkan tujuh belas kitab dan enam risalah yang salah satunya adalah kitab tafsir ini yang menurut saya, tidak ada bandingannya di seluruh dunia.

    Dari perjalanan saya mendatangi beberapa pusat-pusat ilmu pengetahuan, saya pun mengetahui bahwa ada empat belas kitab karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang dianggap punah. Oleh sebab itu, saya terus melakukan pencarian kitab-kitab tersebut di pelbagai perpustakaan internasional setelah kitab tafsir ini selesai dicetak dan diterbitkan, insyaallah.

    Sungguh saya sangat bergembira dan bersyukur kepada Allah SWT ketika saya mengetahui bahwa jumlah lembaran tulisan karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy radhiyallâhu ‘anhu yang berhasil saya kumpulkan mencapai 9.752 lembar. Jumlah itu tidak termasuk tulisan-tulisan yang akan kami terbitkan saat ini dan beberapa judul yang hilang.

    Tentu saja, semua ini membuat saya sangat gembira dan bangga tak terkira kepada kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy r.a..

    Ada sebuah pengalaman menakjubkan yang saya alami ketika saya mendatangi negeri Vatikan untuk mencari karya-karya sang Syaikh di perpustakaan Vatikan yang termasyhur. Ketika saya memasuki negara Vatikan, petugas imigrasi bertanya kepada saya tentang alasan saya mengunjungi Perpustakaan Vatikan.

    Pertanyaan itu dijawab oleh seorang kawan asal Italia yang mendampingi saya dengan mengatakan bahwa saya sedang mencari buku-buku karya kakek saya Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy. Saya kaget ketika tiba-tiba saja, petugas itu langsung berdiri dan berhormat seraya berkata: “Ya, ya, Sang Filsof Islam, Abdul Qadir al-Jailaniy.”

    Setelah saya memasuki Perpustakaan Vatikan, saya menemukan pada katalog perpustakaan dan beberapa buku yang ada di situ sebuah tulisan dalam Bahasa Italia yang berbunyi: “Filsuf Islam”, dan dalam Bahasa Arab: “Syaikh al-Islâm wa al-Muslimîn”.

    Dua gelar ini tidak pernah saya temukan di semua perpustakaan yang ada di tiga benua kecuali hanya di sini. Di Perpustakaan Vatikan saya juga menemukan sebuah tulisan tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailaniy yang berbunyi: “Sang Syaikh Radhiyallahu ‘Anhu membahas tiga belas macam ilmu.”

    Kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Bagaimana mungkin, karya-karya monumental Syekh Abdul Qadir Al-Jailani justru tersimpan rapi di perpustakaan di Vatikan? Kemana saja ahli-ahli sejarah kita? Mengapa karya sehebat itu “hilang” selama berabad-abad? Jangan-jangan selama ini lebih fasih orang Katolik mempelajari karya-karya Syekh Abdul Qadir Jailani daripada kita yang setiap bulan ikut Manaqib Syekh Abdul Qadir?

    Saya jadi Teringat Dawuh Yai Said,dalam salah satu Sambutan dalam acara di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan .
    Kalau Bukan Kita yang Menghafal (Nahdliyyin) ,Orang (Kelompok)Sebelah yang suruh Ngehafal ?

  • Pengamanan Malam Takbiran Idul Adha di Kawasan Pacet Mojokerto

    Pengamanan Malam Takbiran Idul Adha di Kawasan Pacet Mojokerto

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Jajaran relawan TIM SATGAS Covid-19 Kec. Pacet Mojokerto yang terdiri dari Gabungan  Banser Satkoryon Pacet, Polsek Pacet, Koramil Pacet, Pramuka, TAGANA dan Welirank Community. Melakukan kegiatan Pengamanan Malam Takbiran Idul Adha di Kawasan Pacet Mojokerto.
    Acara tersebut diadakan di Kawasan Pacet Mojokerto terutama Jalan Raya yang biasanya ada rombongan motor dan mobil yang merayakan takbir keliling.
    Kamis,30 Juli 2020 Apel rencana kegiatan dimulai pukul 18.00 wib di Depan POLSEK Pacet dan pelaksanaan 17.30 wib sampai pukul 22.00 wib.

    Kegiatan tersebut adalah tindakan antisipasi jika terjadinya perayaan takbir keliling, yang tahun sebelumnya banyak adanya rombongan motor dan mobil menjelang Hari Raya Idul Adha.
    Dan dimasa pandemi covid-19 ini dilarang dengan adanya iring-iringan bergerombol malam takbiran dengan menggunakan kendaraan bermotor seperti mobil. Kita tidak akan melarang takbiran tetapi kita melarang perayaan takbir dengan cara bergerombol dan berkeliling” ungkap komandan apel dalam kegiatan tersebut.

    Kegiatan pengamanan ini menempatkan tiap-tiap titik yang dinilai sebagai pintu masuk kawasan Pacet Mojokerto seperti, POM Pandan Arum, Pertigaan Arah RS Sumber Glagah dan Pertigaaan Nggapuk menuju kawasan Wisata Air Panas Pacet Mojokerto.
    Dimulainya kegiatan ini dengan cara menyusuri jalan raya yang ada di Pacet Mojokerto dan berhenti di titik yang telah ditentukan pada pelaksanaan apel.(abi sorban)

  • KISAH NYATA, QURBAN UNTUK EMAK

    KISAH NYATA, QURBAN UNTUK EMAK

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – KISAH ini diceritakan seorang pedagang hewan qurban pada Idul Adha tahun lalu, tentang sebuah kejadian yang membuat hatinya amat tersentuh, berikut kisahnya:

    SEORANG wanita datang memperhatikan dagangan saya.

    DILIHAT dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli.

    NAMUN tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya.

    SILAHKAN BU..!

    LANTAS Ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya : “Kalau yang itu berapa Pak?”

    “Yang itu 2.500.000 BU.” jawab saya.

    “Harga pasnya berapa?” tanya kembali si Ibu..

    “2.200.000 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah” jawab saya.”

    “TAPI, uang saya hanya 2.000.000, boleh pak.” pintanya.

    WADUH, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya DIPUTUSKAN diberikan saja dengan harga itu kepada IBU tersebut.

    Saya pun mengantar hewan qurban tersebut sampai ke rumahnya, (begitu tiba di rumah nya)??

    ASTAGHFIRULLAH.., ALLAHUMMA YAA ALLAHU AKBAR…terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.

    Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan puteranya di rumah gubug reot berlantai tanah tersebut.

    Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik.

    Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.

    Di atas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus.

    “MAK, bangun MAK, nih lihat saya bawa apa?” kata ibu itu pada nenek yang sedang rebahan sampai akhirnya terbangun.

    MAK, saya sudah belikan EMAK “kambing buat qurban”, nanti kita antar ke Masjid ya mak.” kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.

    Si nenek sangat terkaget, tapi nampak jelas raut bahagia di wajahnya, ia segera berjalan keluar dengan langkah yang gontai karena usianya yang senja..

    Sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap : “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau EMAK mau BER-QURBAN.”

    “Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama EMAK saya.” Kata ibu muda itu.

    Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa : YAA ALLAH, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-MU yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun KEKAYAAN IMANNYA begitu LUAR BIASA.

    “Pak, ini ongkos kendaraannya.” Panggil ibu itu.

    “Sudah bu, biar ongkos kendaraanya saya yang bayar.” kata saya sambil menyembunyikan mata saya yang sudah berkaca-kaca.

    Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari ALLAH yang sudah mempertemukan dengan hamba-NYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya meski dengan segala keterbatasan ekonominya.

    Ma Syaa Allah !!

    “UNTUK MULIA ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan”

    KITA bisa belajar KEIKHLASAN dari ibu itu untuk menggapai KEMULIAAN HIDUP, bukan untuk dirinya, tapi DEMI IBUNDA tercintanya.

    Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada kengganan untuk berqurban.

    Padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yang menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban.

    Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan..Semoga ada manfaatnya, Aamiin.

    SAUDARAKU Ayo Bagikan Artikel ini, semoga menjadi KEBAIKAN bagi kita semua, ….Aamiin…!!!

    YAA ALLAH. MUDAHKANLAH urusan orang yang Membaca status ini.

    “DEKATKANLAH Rezekinya, SEHATKANLAH jiwa raganya dan MUDAHKANLAH jodohnya untuk orang yang belum bertemu jodohnya, dan yang nge-Like dan nge-share Status Ini”.

    “Aamiin Yaa Rabbal ‘Alaamiin…!!!!”

    Jika kita blm bisa berkurban, maka BAGIKAN kisah ini dengan Ikhlas…sebagai motivasi untuk diri kita sendiri… .!!
    MOHON MAAF bila tidak berkenan🙏🙏🙏

  • TIDAK KEMBALI PULANG SEBELUM KITA YANG MENANG

    TIDAK KEMBALI PULANG SEBELUM KITA YANG MENANG

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Kalimat ini pastilah sangat familier bagi Banser (Barisan Ansor Serbaguna) dan para pecintanya. Digaungkan membahana menebar semangat yang luar biasa.

    Namun, belum banyak yang tahu bahwa penggalan kalimat ini bukanlah kalimat biasa. Namun, kalimat penuh karomah yang pernah diucapkan oleh perempuan mulia pada zaman Rosulullah SAW.

    Beliaulah sahabiyah mulia Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshoriyah RA. Beliau inilah yang berhasil melobi duta Islam Sayyidina Mus’ab Bin Umair RA supaya bisa langsung bersyahadat di hadapan Rosulullah SAW.

    Maka masuklah beliau dalam rombongan Bai’at Aqobah Kedua dan masuk jajaran assabuqunal awwalun dari kalangan Anshor. Tentu saja hal ini merupakan kejadian langka pada zamannya. Peristiwa luar biasa ini sampai diabadikan Gusti Allah dalam firmannya di QS Al Mumtahanah:12.

    Bunda Nusaibah inilah yang termasuk turut mengkondisikan Madinah sehingga menjadi tempat ternyaman untuk dakwah Rosulullah, sebab penduduknya sudah banyak yang menerima ajaran Islam.

    Beliau pulalah yang tampil luar biasa dengan memberikan “bonus” bagi perempuan yang berkenan masuk Islam akan diajarkan baca tulis. Dari jasa beliau inilah kelak di kemudian hari lahir generasi-generasi jenius dari ibu-ibu yang jenius. Yang mendakwahkan Islam hingga seluruh penjuru dunia.

    Dikisahkan, suatu pagi buta, ketika penduduk Madinah masih terlelap, beliau melihat kepulan debu dari kejauhan. Ini bukan pertanda baik. Ini merupakan pertanda ada musuh dengan pasukan berkuda dalam jumlah besar hendak menyerang Madinah.

    Perempuan agung ini segera masuk rumah. Membangunkan suami tercintanya. Sayyidina Sa’id Bin ‘Ashim RA. Beliau mengambil pedang dan memberikan kepada suaminya. Meminta supaya segera memberitahu Rosulullah.

    “Jangan kembali pulang sampai kita menang…!!!”. Itulah kalimat yang beliau ucapkan kepada sang suami. Sayyidina Said melapor kepada Rosulullah.

    Kaum Muslimin segera menggalang kekuatan. Menghadang penyerang di luar kota Madinah, di sekitar Bukit Uhud. Adapun Bunda Nusaibah tidak mau ketinggalan. Beliau segera menyiapkan perbekalan dan obat-obatan bagi para pejuang.

    Tibalah perang berkecamuk. Ketika pasukan Muslimin lengah, mengira bahwa musuh telah kalah, maka pasukan pemanah yang ada di bukit turun.

    Kesempatan ini dipakai oleh pasukan kafir menyerang kembali barisan kaum Muslimin. Lalu kocar-kacirlah barisan ini. Orang-orang bubar dari sekitar Rosulullah.

    Bunda Nusaibah meminta suaminya melindungi Rosulullah. Karena semua energi musuh ditujukan untuk menghabisi Kanjeng Nabi, maka jebollah pertahanan Sayyidina Sa’id. Beberapa kali tebasan pedang musuh mengakhiri pertahannya. Menuntaskan tugas mulia sebagai talangpati Rosulullah.

    Dan yang terjadi bisa ditebak. Pasukan kafir semakin merangsek ke arah Kanjeng Nabi. Beliau hanya menangkisi serangan dari berbagai penjuru hingga pelipis beliau terserempet anak panah.

    Melihat kejadian ini membuat Bunda Nusaibah segera bertindak. Beliau mengambil pedang dan menaiki kuda seraya memecah kepungan.

    Membabat puluhan tentara yang hendak melukai Rosulullah. Para Sahabat melihat kejadian ini terpesona luar biasa. Menyaksikan seorang perempuan menjadi perisai Rosulullah SAW.

    Lalu Para Sahabat Mulia merapatkan barisan dan berhasil memukul mundur Barisan Kafir. Kejadian ini membuat Bunda Nusaibah mendapatkan luka yang sangat parah sehingga jatuh pingsan. Beliau tidak sempat melihat akhir perang Uhud ini.

    Ketika bangun, beliau tidak bertanya tentang suami dan anaknya yang turut menjemput janji syahidnya. Yang beliau tanyakan adalah, “Bagaimana keadaan Rosulullah?”

    Ketika dijawab bahwa Baginda dalam kondisi tak kurang suatu apapun, beliau tersenyum bahagia, “Asalkan Baginda Rosul baik-baik saja, apapun yang terjadi maka biarlah terjadi”.

    Semoga cerita ini menjadi teladan bagi Ansor dan para pecintanya. Kepada perempuan NU terutama.

    Jadi, semangatlah selalu. Dan ketika Mars Banser dikumandangkan, turutlah bersemangat. Ngalap berkah Bunda tercinta kita Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshoriyah RA.

    Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad…

    Oleh: Shuniyya Ruhama
    Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri Kendal

    #INDONESIA_BILADI
    #BANSER_UNTUK_NEGERI

  • INDAHNYA BERBAGI (ANSOR CANGGU JETIS)

    INDAHNYA BERBAGI (ANSOR CANGGU JETIS)

    Ditengah perekonomian yang tidak menentu tidak menyurutkan semangat sahabat sahabat Ansor ranting Canggu untuk berbagi . Di awal bulan Dzulhijjah 1441 H ini Ansor Canggu masih bisa melanjutkan program program organisasi selain program rutin MDS dan program lainya ..

    Bertepatan hari Ahad tgl 26 Juli 2020 bakda Isyak pendistribusian santunan yatim dan dhuafa di laksanakan di awali dengan kordinasi tim yang di komandoi oleh Gus Rofiq, Tidak ketinggalan acara tersebut juga di support oleh IPNU ranting Canggu , dalam hal ini sekaligus sebagai upaya pembelajaran kepada IPNU yang akan menjadi estafet perjuangan Ansor ..

    SORBANSANTRI.COM
    Gus ROFIC saat membagikan sembako

    Dalam program kali ini Banom NU yang di pimpin Gus Darto ini bisa memberikan santunan kepada yatim piatu sebanyak 19 anak dan membagikan paket sembako kepada 16 kaum duafa .

    SORBANSANTRI.COM
    Sahabat ANSOR CANGGU saat pendistribusian sembako ke para dhuafa

    Salah satu penerima paket sembako ( Bu Mis ) sangat gembira ketika menerima bantuan tersebut karena sangat membantu meringankan petekonomianya .

    SORBANSANTRI.COM

    Semoga kegiatan seperti ini bisa istiqoma dan memberikan inspirasi buat semuanya betapa pentingnya berbagi serta sesuai harapan dari ketua ranting NU Canggu ( H Alim Sadikin ) bahwa agar Ansor selalu bergerak baik kegiatan majlis zdikir maupun lainya seperti santunan untuk yatim dan kaum duafa …

    Wallahu a’ lam ..

    By: S. Parman SORBAN

  • INDAHNYA BERBAGI (ANSOR CANGGU JETIS)

    INDAHNYA BERBAGI (ANSOR CANGGU JETIS)

    Ditengah perekonomian yang tidak menentu tidak menyurutkan semangat sahabat sahabat Ansor ranting Canggu untuk berbagi . Di awal bulan Dzulhijjah 1441 H ini Ansor Canggu masih bisa melanjutkan program program organisasi selain program rutin MDS dan program lainya ..Bertepatan hari Ahad tgl 26 Juli 2020 bakda Isyak pendistribusian santunan yatim dan dhuafa di laksanakan di awali dengan kordinasi tim yang di komandoi oleh Gus Rofiq, Tidak ketinggalan acara tersebut juga di support oleh IPNU ranting Canggu , dalam hal ini sekaligus sebagai upaya pembelajaran kepada IPNU yang akan menjadi estafet perjuangan Ansor ..

    SORBANSANTRI.COM

    Gus Rofic saat membagikan sembako

    Dalam program kali ini Banom NU yang di pimpin Gus Darto ini bisa memberikan santunan kepada yatim piatu sebanyak 19 anak dan membagikan paket sembako kepada 16 kaum duafa .Salah satu penerima paket sembako ( Bu Mis ) sangat gembira ketika menerima bantuan tersebut karena sangat membantu meringankan petekonomianya .

    SORBANSANTRI.COM

    Semoga kegiatan seperti ini bisa istiqoma dan memberikan inspirasi buat semuanya betapa pentingnya berbagi serta sesuai harapan dari ketua ranting NU Canggu ( H Alim Sadikin ) bahwa agar Ansor selalu bergerak baik kegiatan majlis zdikir maupun lainya seperti santunan untuk yatim dan kaum duafa …Wallahu a’ lam ..

    By: S. Parman SORBAN

  • KH. MUHAIMIN (MOJOKERTO) : SANTRI MBAH HASYIM ASY’ARI

    KH. MUHAIMIN (MOJOKERTO) : SANTRI MBAH HASYIM ASY’ARI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Sosok Kyai memang menjadi panutan bagi jama’ah dan para santrinya. Karena beliau2lah pewaris para nabi. Salah ulama dan pejuang di Kota Mojokerto. KH. Muhaimin juga patut untuk dicontoh. Seorang ulama yg lahir di dusun kedung Kopek desa Surodinawan Kota Mojokerto, 13 April 1913 dari pasangan KH. Moh. Noer dan Hj. Shoimah. Di bawah bimbingan orang tua dan kakeknya, KH usman, beliau dibesarkan di lingkungan yg agamis di desa Surodinawan Kota Mojokerto. Mulai dari sini, beliau mendapatkan pendidikan agama yg sangat kental di tengah2 zaman penjajahan. KH. Muhaimin adalah salah satu sosok ulama dan pejuang kemerdekaan yg konsen dalam bidang sosial dan pendidikan, khususnya pendidikan agama.

    Pendidikannya dimulai tahun 1919 sampai 1925, beliau melanjutkan ke Pondok Pesantren Assholikhiyyah Kranggan Mojokerto yg diasuh oleh KH. Ilyas. Tahun 1925, beliau menuntut ilmu kembali di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang di bawah bimbingan Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Baidlowi dan Kyai Mahfudz. Bersama kawannya, KH. Achyat Chalimi, KH. Yahdi Matlab dan KH Shodiq mengaji dan sekolah di Jombang Jawa Timur.

    Atas izin Allah SWT, beliau bisa menunaikan ibadah haji pada tahun 1933. Sperti yg kita ketahui, perjalnan haji tidak semudah sekarang ini. Dahulu, perjalanan haji dapat memakan waktu yg cukup lama sehingga memerlukan periapan yg banyak. Dalam perjalanan panjang nya, beliau mengisinya dengan mendalami ilmu2 agama di atas kapal bersama kawan2nya. Sepulang dari tanah suci pada tahun 1939, beliau dinikahkan dgn putri Kyai Romli Trowulan Mojokerto. Namun karena belum siap untuk dijadikan mantu oleh kyai, KH. Muhaimin melarikan diri ke untuk mondok lagi di mojosari Nganjuk. Atas nasihat dari KH. Zainuddin, akhirnya beliau memutuskan untuk menikah dgn putri kyai. tiga tahun setelah menikah, beliau masih mondok di Nganjuk. Tahun 1936, beliau kembali ke Trowulan Mojokerto membantu di Pondok Pesantren bersama kakak iparnya, KH. Dimyati Romli, KH. Anwar Panji Buduran Sidoarjo, dan KH. Munasir.

    Tahun 1939, beliau pindah ke kedung mulang Kota Mojokerto dgn harapan bisa mengamalkan ilmu yg telah diperoleh kepada masyarakat sekitar. Selain rumah, beliau juga mendirikan surau (Sekarang menjadi komplek pendidikan Islam). Tahun berikutnya, dibantu oleh sang istri, beliau mengajarkan ilmu2 agama, baca tulis, bahasa Arab, dan keterampilan menyulam kerudung. Karena kegigihannya dalam pendidikan Islam, para penjajah Jepang sempat mengawasi secara ketat seluruh kegiatan keagamaannya. Untuk menyiasatinya, kegiatan keagamaan tetap berjalan di siang hari dan menjadi markaz komando untuk memba1has rencana strategi melawan penjajahan.

    Ketika gejolak G30S PKI tahun 1965, kegiatan pesantren pun terganggu. Banyak santri yang diganggu oleh orang2 PKI. Namun, ketika kondisi berubah ketika PKI dibubarkan oleh pemerintah pusat, kegiatan para santri lancar dan kondusif. Tahun 1986, yayasan sosial dan pendidikan yg didirikan berhasil mendapatkan pengakuan hukum dari negara melalui notaris., di antaranya adalah TK/MI, MTsN dan Pondok Pesantren Nurul Huda.

    Dibantu oleh ketujuh anaknya, yayasan ini berkembang pesat dalam bidang pendidikan dan sosial. Namun, pada hari Jum’at, 7 Juli 2000, beliau tertimpa musibah kebakaran hebat meluluhlantakkan bangunan rumah dan pesantren putri. Musibah ini tidak hanya menghanguskan bangunan saja, akan tepapi menghilangkan saksi sejara perjuangan kemerdekaan Indonesia dimana rumah tsb menyimpan berbagai peninggalan seperti seragam hisbullah, senjata2 rampasan tak terkecuali yg lebih menyedihkan adalah seluruh kitab2 beliau juga hangus dilalap si jago merah. Kejadian ini cukup mengagetkan, pasalnya seluruh keluarga beserta para santri sedang bersiarah ke walisongo dan menyisakan seorang anggota keluarga di rumah tsb dan beruntung beliau selamat. Namun, beliau tetap sabar dan tabah atas musibah ini.

    Di tahun itu pula, beliau pulang ke rahmatullah bertepatan pada hari senin, 7 agustus 2000 pukul 11.30 dalam usia 87 tahun dalam kecelakaan lalu lintas. Kemudian, beliau dimakamkan di makam Islam berdekatan dgn kakeknya KH. Usman surodinawan Kota Mojokerto. Tak berselang beberapa bulan, Ibu Nyai Hj. Siti Rohmah menyusul pulang ke pangkuan Ilahi pada Kamis, 1 Maret 2001 di Rumah Sakit Islam Sakinah Mojokerto karena sakit. Dan beliau dimakamkan di Makam Islam Surodinawan Kota Mojokerto berdekatan dgn suaminya, KH. Muhaimin. Untuk mengenang jasa2 beliau, setiap kamis sore, salah satu keluarga ndalem mengajak seluruh santri untuk berziarah ke makam. Harapannya, perjuangannya dapat senantiasa diteruskan oleh seluruh santri dimanapun nantinya.

    Segala apa yg diperjuangkan oleh KH. Muhaimin dan keluarga, sekarang sudah membuahkan hasil yg baik. Di antaranya adalah Yayasan sosial dan pendidikan yg semakin membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar, baik itu dari Pondok Pesantren Al-Qur’ans Nurul Huda maupun sekolah-sekolah Islamnya. Salah satu putranya yakni KH. Faqih Usman, Lc memiliki peranan sangat penting dalam memajukan warisan perjuangannya.

    Semoga perjuangannya dalam Islam dan Republik Indonesia dinilai Allah SWT sebagai amal baik dan bisa memberikan manfaat untuk banyak orang. (Abi SORBAN)

    Disarikan dari file keluarga ndalem.
    http://nasrullohmaliki.blogspot.com
    Reshared by Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

    أطال الله بقاءهم في صحة وعافية وسلامة وأعاد علينا من بركاتهم وأسرارهم وعلومهم في الدارين آمين يا رب العالمين بجاه سيد المرسلين محمد صلى الله عليه وآله وسلم
    Lahumul faatihah..

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ. أمين

  • MANTAN EKS-HTI BERKISAH AGAR DIBACA YANG MASIH KEPINCUT DENGAN KHILAFAH

    MANTAN EKS-HTI BERKISAH AGAR DIBACA YANG MASIH KEPINCUT DENGAN KHILAFAH

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Tadi malam, saya didatangi tamu yang ternyata mantan eks-HTI bernama Mas Syaiful Wijayanto. Dia mulai ikut halaqah umum pada tahun 2008 tepatnya di masa akhir SMA-nya di sebuah SMA NEGERI di Jombang. Dalam waktu 1 bulan mengikuti halaqah umum, ia pun mantap untuk menjadi bagian dari HTI dengan menaikkan statusnya dari halaqah umum menjadi darisin.

    Proses halaqah umum tersebut ia jalani di bawah bimbingan seorang musyrif (alm) Bapak B seorang Guru di MAN Kab. Mojokerto yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

    Singkat cerita, ia melanjutkan kuliah di UIN Maliki Malang jurusan Pendidikan Agama Islam, dan sekitar tahun 2011 atau 2012 (ia lupa-lupa ingat tahun persisnya) ia pun mantap untuk diambil sumpah setianya (qosam) sebagai syarat menjadi anggota HTI yang kemudian dikenal dengan istilah hizbiyyin.

    Pengalamannya menjadi pengelola maktab HTI menjadikannya banyak mendapat informasi penting seluk beluk gerakan dan aktifitas para tokohnya yang singgah di Malang.

    Suatu saat ia ditelpon oleh salah satu petinggi HTI Malang yang juga berprofesi sebagai Guru Agama Islam di sebuah SMAN di Malang yang berstatus ASN untuk menyiapkan maktab karena akan ada orang DPP HTI yang ditugaskan mengontak militer di Malang untuk tujuan tholabun nushroh.

    Tahun 2011, ketika liburan semester ia pulang kampung dan menghadiri pertemuan salah satu tokoh HT dari Timur Tengah di PP Al-Mimbar Sambong Jombang. Tokoh itu adalah Ahmad Al Qossos penulis kitab “Usus al Nahdlah al Rasyidah”.

    Kenapa dia keluar?

    Tahun 2013, setelah lulus kuliah ia memutuskan untuk pulang kampung dan berpamitan kepada pengurus HTI Malang. Waktu itu tidak terbetik sedikitpun bahwa niatnya pulang meninggalkan Malang adalah untuk berhenti dari HTI. Justru ia berpikiran ingin melebarkan sayap “dakwah” HTI di kampungnya.

    Setelah kepindahannya ke Jombang nampaknya ia merasakan suasana yang berbeda sama sekali dengan suasana kampus. Interaksinya dengan masyarakat membuka cara berpikirnya. Ia pun mulai menyadari ada yang salah dengan aktivitasnya selama ini di HTI. Melalui perenungan yang mendalam ia pun berkali-kali shalat istikhoroh. Semakin hari keyakinannya untuk meninggalkan HTI semakin mantap. Ia pun memutuskan untuk keluar dari HTI.

    Hingga suatu hari mas’ul (ketua) HTI Jombang wilayah utara Brantas (Ploso, Kabuh, Kudu, dan Ngusikan) baru menghubunginya via sms untuk diajak melanjutkan halaqohnya yang di Malang sebelumnya. Namun ia menolak dan menyampaikan keinginannya untuk berhenti dari HTI.

    Hingga suatu malam mas’ul HTI tersebut datang ke rumahnya, namun ia sudah bulat untuk menolak melanjutkan halaqoh. Hingga suatu hari berikutnya ia diajak bertemu dengan pimpinan DPD II HTI Jombang bernama AF yang waktu itu adalah Guru SMAN di sebuah kecamatan di Jombang. Pertemuan ketiganya dilakukan di masjid Jami’ Bedah Lawak Kecamatan Tembelang.

    Setelah AF menanyai alasan keluar, maka ia pun mengajukan 10 poin alasan keluarnya terdiri dari 9 poin terkait pemikiran HTI dan 1 poin tentang fakta keburukan perilaku oknum syabab-syabab HTI Malang. Dari 10 poin tersebut, hanya 1 poin yang ditanggapi, sedangkan 9 poin tentang pemikiran HTI itu hanya ditanggapi dengan kalimat “ya untuk 9 poin ini perlu kita diskusikan di lain waktu”

    Ia pun menunggu tanggapan mas’ul AF tentang 9 poin tersebut, namun waktu berjalan tidak ada realisasi janji tersebut, yang ada malah ia diminta ikut dulu saja halaqoh dan rapat-rapat yang diadakan HTI Jombang. Namun ia menolak karena ia sudah hafal dengan siasat syabab-syabab HTI.

    Adakah kecaman atau olok-olok setelah dia keluar? Pasti ada, semisal, seorang temannya yang dari Madura dan juga anggota eks-HTI menyindir bahwa keluarnya karena sudah nyaman masuk PNS. Aneh kan? Padahal banyak anggota eks-HTI yang jadi PNS/ASN hingga saat ini. Terlebih lagi sejatinya dia keluar tahun 2013 dan diterima menjadi PNS sebagai guru SMP tahun 2015

    Lalu apa alasan dia keluar? Yang pokok adalah adanya doktrin dalam kitabnya bahwa sesiapa yang tidak berjuang menegakkan khilafah, maka baginya dosa besar yang akan diterima. Dia merenungi hal itu sambil bertanya kepada diri sendiri, apakah orangtuanya dan keluarganya juga akan menanggung dosa besar? Hal ini yang mendorong dia berani mempertimbangkan untuk menolak doktrin dosa besar, ditambah ada acara di TV 9 yang waktu itu narasumbernya salah seorang Habaib dari Madinah menyatakan tidak ada dosa besar kalau tidak menegakkan sistem khilafah. Maka dia dengan mantap berani keluar dari HTI.

    Namun yang perlu dicermati juga, adanya doktrin dosa besar ini pula yang membuat dia awalnya gamang dan tidak berani keluar. Banyak teman-temannya yang juga kemakan doktrin itu sehingga terbelenggu dalam dekapan atau cengkraman ormas yang sudah dilarang ini tanpa berani keluar.

    Saat ini dia berjuang bersama NU dengan mengikuti kegiatan NU di kampungnya. Dia bertekad mengisi NKRI dg ajaran Islam yang rahmah dan ramah.

    ~Dr.Ainur Rofiq Al-Amin

    #HubbulWathanMinaliman