Blog

  • FPI MATI MATIAN BELA BAHAR SMITH

    FPI MATI MATIAN BELA BAHAR SMITH

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI–Kasus dan masalah yang menimpa Bahar Smith masih saja terus dipolitisasi oleh kelompok sebelah.

    Padahal akar masalahnya ada di Bahar Smith itu sendiri. Tampil menggebrak dengan menyerang pemerintah, menghina presiden, hingga menganiaya dua bocah karena namanya dicatut. Yang lebih hebat lagi adalah, orang ini dianggap sebagai habib. Habib atau ulama, yang harusnya memberikan contoh yang baik, malah melakukan tindakan tidak berperikemanusiaan terhadap dua bocah.

    Dibebaskan dari penjara karena program asimilasi, Bahar malah membuat kerumunan massa hingga kepolisian memutuskan untuk menahan Bahar kembali. Seolah masih belum kapok juga, simpatisan Bahar bahkan membuat kekacauan dan gangguan keamanan hingga merusak pagar lapas, sehingga Bahar kembali diungsikan ke lapas di Nusakambangan. Ini adalah hadiah beruntun untuk Bahar dan pendukungnya yang arogan dan banyak tingkah.

    Akan tetapi, Bahar yang merupakan tokoh FPI, pastilah akan mendapatkan dukungan dari kelompoknya. Meski salah, tetap saja akan dibenarkan dan dianggap sebagai korban. Kelompok ini memanh pintar melontarkan narasi dizalimi. Berbuat salah tapi merasa tidak bersalah.

    Para ulama dari organisasi musyarakat seperti FPI, GNPF, PA 212 hingga MUI DKI mengecam pencabutan asimilasi yang didapat oleh Bagar Smith serta penangkapan yang dinilai berlebihan.

    Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif mengatakan, pencabutan asimilasi tersebut adalah merupakan bentuk arogansi kekuasaan terjadi terhadap umat Islam dan tokoh yang kritis terhadap negara. “Kami melihat bahwa alasan sesungguhnya pencabutan status asimilasi tersebut bukan semata pelanggaran PSBB, tapi dikarenakan Habib Bahar bin Smith menyatakan akan tetap melakukan perlawanan terhadap rezim zalim,” kata Slamet Maarif.

    Menurut dia, pelanggaran PSBB sebenarnya juga dilakukan oleh para pejabat negara dengan melempar bantuan sosial di pinggir jalan, mengadakan konser, membuka jalur transportasi, membiarkan mal beroperasi dan membuka pintu bagi tenaga kerja asing, khususnya China.

    “Justru semua pembiaran ini yang jelas-jelas 100 persen melanggar PSBB,” katanya.

    Yah, dasar pakar cocoklogi murahan. Bahar kan masih dalam program asimilasi. Tanpa asimilasi ini, Bahar wajib jalani hukuman di penjara. Dibebaskan malah langgar PSBB dan pendukungnya bikin onar. Jadi wajar dong, Bahar dipindahkan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh pendukungnya yang bodoh dan arogan itu.

    Kemudian, mereka menilai kondisi makin parah saat penangkapan Bahar Smith pada dini hari dan pemindahan ke Lapas Batu Nusakambangan tanpa diberitahukan kepada pihak keluarga dan kuasa hukumnya, serta akses keluarga dan kuasa hukum yang dibatasi untuk menjenguk.

    “Kami mendesak agar pihak-pihak dan pejabat yang sedang menjalankan agenda anti Islam segera mengembalikan status Habib Bahar bin Smith dalam kondisi semula yaitu status asimilasi,” ucap Slamet.

    Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, mereka mengajak seluruh umat Islam untuk melakukan pembangkangan sipil terhadap seluruh kebijakan pemerintah.

    Seruan ini dilayangkan oleh berbagai pimpinan ormas Islam seperti PA 212 Slamet Ma’arif, An Nashr Institute Munarman, DPP FPI Shabri Lubis, GNPF-Ulama Yusuf M Martak, HRS Center Abdul Chai Ramadan, dan sejumlah pimpinan lainnya.

    Perlu diklarifikasi dulu. Pemerintah tidak anti Islam. Pemerintah tidak anti ulama. Hanya mereka yang sakit hati, yang ngaku-ngaku ulama, yang dipaksakan jadi ulama serta yang mengaku mewakili umat, itulah yang sering bikin ribut dan memperkeruh suasana.

    Apa maksud mereka mengajak dan menghasut orang lain untuk membangkang? Bukankah ini termasuk upaya untuk mengganggu keamanan dan ketertiban nasional? Dengan keinginan dan upaya tersebut, bukankah kelompok ini sudah memenuhi syarat untuk ditindak tegas karena, bukan cuma satu kali, tapi sudah berkali-kali berusaha untuk mengganggu pemerintah dengan narasi, provokasi dan hasutan yang sifatnya mengganggu? Mau sampai kapan kelompok ini dibiarkan? Sampai berkembang biak di luar kendali hingga tak mampu lagi dikendalikan?

    Saya selalu percaya dengan prinsip ini. Selagi masalah masih kecil, atasi sesegera mungkin. Karena kalau masalah sudah membesar dan tak terkendali, kita seperti kalah jadi abu menang jadi arang. Masalah tetap dibiarkan, kita game over. Mau atasi pun, kita tetap setengah mati dan berdarah-darah. Dua-duanya bukan kondisi yang bagus. Inilah yang akan terjadi kalau kelompok penjual surga macam FPI dan PA 212 dibiarkan membangun panggung politik.

    Bagaimana menurut Anda?

    (Sumber seword.com)

  • Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)

    Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)

    SORBANSANTRI.COM
    Sumber Gambar: tempo.co

    JUMLAH KORBAN KONFLIK PKI

    Aksi pemberontakan dan kekerasan yang dilakukan PKI menimbulkan konflik Horizontal kala itu, PKI yang melakukan pembantaian dan membuat onar dibanyak tempat pun akhirnya mendapatkan Perlawanan dari Masyarakat yang Non PKI. Banyak orang-orang PKI pun diburu oleh masyarakat yang sudah jenggah dengan kekejaman yang mereka lakukan. Dalam konflik PKI dan Masyarakat ini pun cukup banyak menelan korban jiwa, namun perkiraan jumlah korban jiwa yang muncul pun ternyata ada perbedaan antara pandangan pihak dalam negeri dengan pandangan pihak-pihak diluar negeri. Perhatikan tabel berikut ini:

    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Benturan NU-PKI
    Jumlah korban yang diperkirakan oleh Tim Pencari Fakta sendiri tidaklah terlalau dramatis, begitu juga pengakuan kalangan PKI sendiri yang menjadi korban. Sudisman dari PKI memperkirakan korban sebanyak 150.000. bahkan ia memperkirakan tidak lebih dari 50.000. Begitu juga jumlah yang dipercaya Bung Karno yang memperkirakan jumlah korban sekitar 60.000. Perkiraan ini berdasarkan temuan Tim Pencari Fakta yang dibentuk oleh Komando Operasi Tertinggi (KOTI) pada Desember 1965. Ketika diadakan penyelidikan lanjutan ditemukan korban 87.000. Bahkan setelah dilakukan penyelidikan dengan cermat menemukan jumlah korban di daerah yang paling gawat yaitu Jombang dan Kediri berkisar antara 11.256 sampai 17.260 orang korban. Diperkirakan jumlah korban di daerah lain lebih  kecil dari jumlah itu.
    Hal ini berbeda dengan data yang disajikan oleh pihak Asing yang angkanya sangat fantastis. Jumlah korban PKI yang diperkirakan oleh pihak pengamat dan politisi dan media Asing (Barat) sedemikian besar. Tak urung besarnya jumlah yang mereka lansir itu membuat heboh masyarakat Barat dan masyarakat Indonesia sendiri. Berbeda dengan jumlah yang diperkirakan bangsa Indonesia baik para pelaku maupun korban yang pada umunya lebih proporsional. Sebaliknya kalangan Barat menyuguhkan perkiraan yang sangat spektakuler. 
    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Benturan NU-PKI
    Bayangkan orang yang selama ini terlanjur dipercaya pendapatnya seperti Ben Anderson memperkirakan jumlah korban PKI antar 500.000 hingga 1.000.000 orang. Sebuah perkiraan yang angat mustahil dan dinilai sangat fiktif. Tetapi karena reputasi akademiknya selama ini maka data fiktif tersebut cenderung dipercaya, bahkan menjadi rujukan para peneliti sesudahnya. Hal itu mempengaruhi opini publik baik kalangan cendekiawan maupun jurnalis.
    Penggelembungan jumlah korban PKI yang dilakukan para penulis Barat itu ketika dicek ke lapangan oleh Hermawan Sulistyo terdapat banyak kejanggalan ketika dikonfrontasi dengan data demografis di lapangan. Menurutnya korban yang berkaitan dengan karyawan Pabrik Gula di beberapa tempat di Jawa Timur itu terdata dengan rapi, dan itu jumlahnya hanya belasan hingga puluhan orang saja. Begitu pula daerah yang mayoritas penduduknya PKI penduduknya tidak berkurang secara signifikan. Tetapi dramatsasi jumlah korban PKI itu telah dipercayai banyak orang dan menimbulkan rasa simpati pada PKI, kemudian menyalahkan pelaku baik NU maupun TNI, tanpa mau peduli terhadap kesalahan dan kekejaman PKI selama ini.
    Dramatisiasi jumlah korban dari PKI ini menjadi komoditas politik yang sedang dijajakan di pasar opini internasional. Selain itu para politisi asing dan peneliti asing tidak pernah mengungkap jumlah korban para ulama dan rakyat yang dibantai oleh PKI baik selama peristiwa Madiun 1948 apalagi peristiwa sepanjang tahun 1950 hingga tahun 1968 yang dilakukan PKI terhadap rakyat Indoneisa baik terhadap NU maupun kelompok lainnya termasuk terhadap tentara ini juga tidak pernah diungkap.
    KETIKA PESANTREN JADI TARGET PKI

    PKI Tak segan melibas siapa saja yang mereka anggap sebagai batu sandungan gerakan mereka, tak cuma menyerang aparat seperti kantor Polisi, kantor tentara, dan kantor pemerintahan, PKI juga membidik Pesantren sebagai target. Hal ini bukan tanpa alasan, karena saat era penjajahan Pesantren memang sebagai basis gerakan Islam untuk melawan Penjajah, Pesantren yang mengajarkan cinta kepada tanah air juga dianggap sebagai duri yang bisa menghalangi gerakan mereka, belum lagi banyak tokoh agama yang saat itu begitu Vokal melakukan penolakan terhadap PKI juga menjadi dasar penargetan Pesantren selain Aparat Keamanan dan Birokrat.
    SORBANSANTRI.COM
    Gerbang Pesantren Sabilil Muttaqien, Takeran – Magetan. (sumber gambar: skycrapecity.com)

    Untuk menghadapi kekuatan pesantern itu PKI memiliki slogan tersediri yaitu “Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati !” (Pesantren Reot, Musholla Bubar, Santri Mati), Ternyata slogan itu bukan sekadar gertakan, tetapi benar-benar dilaksanakan. Sementara strateginya adalah teror, tangkap dan bantai. Penculikan terhadap para pimpinan pesantren yang selama ini aktif dalam perjuangan Kemerdekaan telah dimulai. Para kiai yang mengajarkan agama dan cinta tanah air itu dianggap menghambat agenda PKI karena itu harus disingkirkan.Ponpes Sabilil Muttaqien salah satu Pesantren Unggulan yang berada di Takeran – Magetan Jatim pada 17/9/1948 digeruduk oleh segerombolan PKI yang telah mengepung pesantren dengan baju serba hitam dan ikat kepala merah yang dipimpin Suhud seorang camat PKI. Mereka mencari Pengasuh Pesantren yakni KH. Imam Mursyid yang juga pemimpin Tarekat Syatariyah untuk diajak berunding, namun sayang itu cuma siasat PKI yang ingin menculik sang Kyai. Seusai Sholat Jum’at sang kyai pun dibawa PKI ke Gorang-Gareng, Mulanya KH, Imam Mursyid tidak mau ikut, tapi akhirnya sang kyai menyerah dan ikut dengan PKI, sebab jika melawan diancam pesantrennya akan dibakaar, santri dan keluarganya dihabisi. Kiai Musyid turut berjasa membantu KH. Wahid Hasyim angota BPUPKI merumuskan konsep Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Mukadimah UUD 1945. Karena itu Mukadimah UUD 1945 itu sangat bernuansa religius suatu hal yang tidak disukai PKI.

    Salah satu yang ikut menjemput KH. Imam Mussyid adalah Ilyas/alias sipit yang ternyata pernah jadi santri KH. Imam Musyid, jauh-jauh hari KH. Imam Mursyid sempat berujar jika dirinya tak lagi percaya dengan Sipit karena sudah tak pernah sholat lagi. Ketika dibawa PKI seorang santri mengajukan diri untuk ikut menemani sang kyai, namun sayang Semenjak itu KH. Imam Mursyid tak pernah kembali ke Pondok.

    SORBANSANTRI.COM
    kampanye PKI kala itu (pinterest.com)

    Dua hari berselang yakni pada minggu 19/9/1948 seorang kurir PKI datang ke Pesantren dengan membawa pesan KH. Imam Mursyid masih belum bisa pulang dan perundingan itu memerlukan kehadiran KH. Muhammad Noer (sepupu KH. Imam Mursyid). Tak cukup sampai disitu, kurir PKI kembali datang membawa pesan jika KH. Imam Mursyid dan KH. Muhammad Noer baru bisa pulang jika dijemput Ustad Turmudji (adik KH. Imam Mursyid). Mendengar kabar jika dirinya dicarai PKI Ustad Turmudji pun memilih menyelamatkan diri, meski tak menemukan Ustad Turmudji PKI justru melakukan penangkapan terhadap ustad-ustad di Pondok Sabilil Muttaqien termasuk menangkap ustad Pondok yang berasal dari Mesir. Keseluruhan kyai dan Ustad yang dibawa PKI dari Pesantren Sabilil Muttaqien ada 14 orang. Selepas itu mereka semua tidak pernah kembali ke Pondok dan malah ditemukaan menjadi mayat di sumur-sumur Pembantaian milik PKI yang ada di wilayah Magetan termasuk sumur maut di Pabrik Gula Gorang-Gareng Magetan.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    Monumen yang dulunya menjadi sumur maut tempat pembantaian oleh PKI di Magetan. (idealoka.com)

    Pesantren lain seperti Pesantren Burikan Magetan juga tak luput dari serbuan PKI. Pada Sabtu 18/9/1948 Pesantren Buikan dibakar oleh FDRPKI sementara kiainya ditangkap seperti Kyai Keang, Kyai Malik dan Mulyono semuanya dibantai dan dimasukkan lubang pembantaian yang sudah mereka siapkan di daerah Batokan. Harta benda mereka di rampas, berbagai kitab dibakar, sehingga santri bubar, menyelematkan diri kembali ke kampung halaman masing-masing, atau mengungsi ke daerah lain. Hal itu membuat pesantren semakin sepi dan keluarga pesantren tidak mendapat penjagaan yang ketat dari para santri. Penjagaan hanya dilakukan oleh keluarga kiai dan tetangga terdekat, sehingga posisi para kiai sangat terancam.

    Lain lagi dengan cerita KH Sulaiman Zada karena santrinya sudah lama mengungsi, maka dengan mudah ditangkap gerombolan PKI, karena tidak melakukaan perlawanan maka Pesantren dibiarkan berdiri, walaupun santrinya sudah lama meliburkan diri sejak Madiun dilanda pemberontakan. Namun demikian nasib sang Kia dengan keluarganya tidak bisa terselamatkan di bawah pembantaian kelompok komunis yang sengaja ingin membumihanguskan pesantren sebagai basis gerakan Islam yang menghalangi ekspansi PKI. Baru beberapa tahun kemudian jenazahnya ditemukan. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 17-19, 48-51). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya.
  • Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)

    Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)

    SORBANSANTRI.COM
    Logo Partai Komunis Indonesia (Tribunnews.com)

    SORBAN SANTRI – Berita dengan judul Sejarah Propaganda PKI ini sengaja saya buat untuk memperkaya wawasan sejarah kebangsaan kita semua sebagai bangsa Indonesia. Dan pemilihan referensi dari NU sengaja saya pilih agar pembahasan sejarah PKI yang saya sampaikan menjadi netral dengan tidak ada bumbu-bumbu politik.

    NU PINDAHKAN KANTOR PUSAT DI MADIUN

    Sejak dikeluarkannya peringatan oleh KH Hasyim Asy’ari tahun 1947 kala Muhtamar NU-17 di Madiun, kalangan NU sendiri selalu siaga terhadap serbuan PKI, tetapi mengingat besarnya kekuatan PKI maka sulit dibendung. Selama masa revolusi itu kantor pusat PBNU pun sengaja dipindahkan dari Surabaya ke Madiun sehingga kesibukan para tokoh NU terpusat di Madiun. Selepas Muhtamar NU-17 Madiun, KH Wahab Hasbullah seorang Pemimpin Besar NU ditugaskan untuk mengkonsolidasi NU dan Barisan Sabilillah se Jawa. Pertemuan ini sebenarnya untuk menghadapi agresi Belanda tetapi juga sekaligus membentengi Indonesia dari komunis, yang sudah merajalela di mana-mana.
    SORBANSANTRI.COM
    dari kiri : KH. Bisri Sansyuri – Hadratus Saikh Hasyim Asy’ari- KH. Ahmad Dahlan
    Pertemuan yang dihadiri petinggi NU dan pimpinan Sabilillah se Jawa tersebut diselenggarakan di kota Ngawi yang jaraknya sangat dekat dengan Madiun, Pertemuan itu digagas guna mengumpulkan kekuatan NU untuk menghadapiagresi Belanda ke-2 hingga menghadapi propaganda PKI yang semakin masif melakukan aksinya. Para kiai mendapatkan tugas beragam, seperti KH Yusuf Hasyim (putra KH. Hasyim Asyari) mendapatkan tugas mengkonsolidasikan para ulama Pesantren yang ada di sekitar kota Madiun. Bersamaan dengan dilaksanakannya pertemuan antara pemipin NU dan Pimpinan Hisbullah Sabilillah itu terjadilah peristiwa Kudeta berdarah di Madiun. Pertemuan itu langsung ditutup seluruh peserta disuruh segera kembali ke daerah, masing-masing untuk jihad menghadapi PKI. Untuk bisa keluar dari Ngawi juga sangat susah, tetapi karena semuanya telah belajar strategi dan taktik bertempur di Cibarusa selama masa penjajahan Jepang, maka merka bisa keluar dari ngawi dengan selamat. Termasuk Kiai Wahab sendiri sebagai tokoh terkemuka NU yang wajahnya sangat mudah dikenali, ketika kembali ke Surabaya harus melewati Madiun. Gara bisa menembus blokde PKI dengan selamat, maka Kiai itu berhasil keluar dari Ngawi bahkan melewati Madiun dengan selamat sampai ke Surabaya dengan menyamar sebagai orang biasa, sehingga bisa menyelamatkan diri dari sergapan PKI.
    PKI UNJUK KEBOLEHAN JUMLAH MASSA
    Dalam beberapa kesempatan untuk menyongsong tahun 1955 (Event Pemilu pertama Indonesia) PKI mulai melakukan konsolidasi dan rapat umum terbuka di berbagai pelosok negeri terutama di daerah-daerah yang dekat Basis mereka di Madiun Jawa Timur. Bebererapa kali PKI menggelar kegiatan Rapat Umum dengan menghadirkan Puluhan Ribu Massa, hal ini nampaknya sengaja dilakukan PKI untuk memperlihatkan jumlah mereka di Indonesia kala itu. Padahal tidak semua yang hadir di acara PKI adalah orang PKI, banyak juga masyarakat umum yang di mobilisasi dan dipaksa untuk ikut menghadiri acara PKI. Karena jika tidak mau keselamatannya terancam para warga pun terpaksa mengikuti saja ajakan itu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    sumber gambar: Pinterest.com

    Sebagai puncak dari semua manuver dan provokasi tadi adalah diselengarakannya rapat umum yang dihadiri langsung oleh Muso maupun Amir Syarifuddin pada bulan Agustus tahun 1948 di beberapa tempat seperti Madiun, Trenggalek dan juga di kota kota lain di sekitar Jawa Timur –Jawa Tengah, sebagai strategi PKI untuk show of forceterhadap kekuatan mereka untuk menguasai Republik Indonesia. Semua tokoh PKI setempat dan daerah serta dari CC-PKI hadir dalam rapat umum yang dihadiri puluhan ribu orang. Tetapi bukan semuanya PKI, sebagian masyarakat desa yang tidak tahu-menahu urusan politik tetapi dimobilisasi secara paksa oleh PKI. Mereka ikuti saja kehendak PKI, kalau mereka menolak jiwa mereka akan terancam. Dengan demikian kekuatan PKI kelihatan sangat besar sehingga bisa menggetarkan lawan.

    SORBANSANTRI.COM
    Tokoh PKI Musso (historia.id)
    SORBANSANTRI.COM
    Tentara FDR PKI (historia.id)
    Suatu ketika KH Yusuf Hasyim (anak KH. Hasyim Asyari) melakukan konsolidasi barisan kiai NU di Kota Madiun, kota itu terlihat sangat lengang, warga menghindarkan diri supaya tidak bertemu dengan tentara FDR-PKI terutama dari unsur Pesindo yang sangat agresif. Mereka berkeliaran ke seluruh sudut kota dan desa dengan seragam serba hitam dengan selendang merah bersenjata api atau pedang, siap membunuh dan merampas siapa saja yang ditemui. Pasukan keamanan baik Tentara maupun Polisi sendiri kelihatan sudah kewalahan mengatasi keadaan, sehingga kelompok PKI leluasa melakukan teror dan penindasan. Saat itulah para Kiai yang dikunjungi menyarankan agar K Yusuf Hasyim segera meninggalkan Madiun karena takut bertemu dengan tentara FDR-PKI . Kiai Yusuf Hasyim berhasil keluar dari Madiun dengan selamat, kemudian mendengar kabar para kiai yang kemarin di kunjungi sudah menjadi syuhada dibantai oleh PKI.
     PROKLAMIRKAN NEGARA SOVIET MADIUN, PKI BANTAI BIROKRAT
    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Benturan NU-PKI 1948-1965

    Untuk memperluas pengaruh Front Demokrasi Rakyat (FDR) PKI serta untuk mempersiapkan kader-kader militan PKI, PKI Menyusun siasat untuk mengambil alih karesidenan Madiun dan beberapa daerah disekitarnya untuk di jadikan Negara Komunis. Setelah situasi sudah dianggap matang maka FDR yang berada di Kota Madiun yang dipimpin oleh Soemarsono pada tengah malam sekitar jam 24.00 WIB pada 18 September 1948, memproklamasikan pemerintahan baru yang disebut sebagai Pemerintah Front Nasional, sebagai lawan dari Pemerintah Republik Indonesia, hal itu merupakan cikal bakal berdirinya negara komunis yang dinamakan Negara Soviet Madiun.
    Gerakan ini dimulai dengan menyerbu ke markas Tentara, ke kantor Polisi, setelah pasukan keamanan itu dilumpuhkan baru menyerang perkantoran pemerintah. PKI menjebol berbagai penjara yang ada daerah basisnya untuk membebaskan para aktivis PKI dan penjahat kriminal lainnya yang ditahan aparat kepolisian. Kelompok itulah yang kemudian direkrut sebagai kekuatan PKI dalam melakukan serangan terhadap lawannya. Dengan disemangati balas dendam pada polisi dan aparat negara lainnya, mereka terus melakukan penangkapan dan pembantaian kepada siap saja yang dianggap menghalangi gerakan mereka.

    SORBANSANTRI.COM
    (sumber gambar: Merdeka.com)
    SORBANSANTRI.COM
    Monumen Surjo di Ngawi (musabab.com)

    Setelah posisi mereka kuat di karasidenan Madiun lalu PKI menuju sasaran utama yakni merebut Kantor Residen Madiun serta instansi pemerintah lainnya. Saat itu Residen Madiun Mr. Samadikun kebetulan tidak ada di Madiun, karena sedang bertemu dengan pemerintah RI di Yogyakarta, maka selamatlah ia dari pembunuhan. Sementara wakilnya yaitu Patih berha sil ditangkap dan dibunuh pemberontak. Demikian juga nasib yang dialami pimpinan daerah seluruh Karesidenan Madiun seperti Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan dilakukan penangkapan terhadap para pejabat pemerintah, para bupati, patih, wedono dan para asistennya ditangkap dan dibunuh. Pejabat tinggi yang menjadi korban peristiwa ini adalah R. Soerjo Gubernur pertama Jawa Timur yang ditelanjangi dan dibunuh oleh PKI dengan tangan dan kaki terikat, PKI juga membunuh 2 personel Polisi yang saat itu menemani R. Soerjo mereka adalah Kombes M. Doerjat (Kapolda Jatim saat itu) dan Kompol Soeroso, rombongan para Birokrat / pejabat pemerintah daerah yang sedang melewati Ngawi juga dijegat dan dibantai oleh PKI yang jenazahnya dilempar ke tepi Bengawan Solo.

    SORBANSANTRI.COM
    sumber gambar; agustusl.blogspot.com

    Sebagai langkah lanjutan dari kudeta berdarah itu PKI yang bukan pemerintah resmi melakukan penggantian kepala pemerintahan, sebagai Residen untuk menggantikan Mr. Samadikun ditunjuklah Abdul Muthalib sebagai Residen, dia seorang tokoh Pesindo bekas Wakil Residen Surabaya. Kemudian Soemarsono pemimpin pemberontak ditetapkan sebagai Gubernur Militer, sementara wakilnya adalah Soepardi bekas Walikota Madiun, Komandan Militer dipimpin oleh Kolonel Joko Sujono yang sejak awal mendampingi pimpinan pemberontak Soemarsono. Demikian juga seluruh kepala jawatan di seluruh jajaran diganti dengan orang-orang PKI, sehingga daerah Madiun dan sekitarnya sepenuhnya betul telah dikuasai PKI dan di situlah mereka melakukan pembantaian terhadap orang-orang non PKI. Secara serentak beberapa pimpinan derah yang dikuasasi PKI diganti dengan orang-orang PKI seperti di Ngawi, Blora, Pati dan sebagainya. Ketika kelompok FDR pimpinan Soemarsono telah menguasasi Madiun dan sekitarnya barulah pada 19 September 1948 pimpinan tertingi FDR Muso dan Amir Syarifuddin masuk ke Madiun dengan disambut meriah oleh para pemberontak seraya meneriakkan “Menang Perang!”. Di tengah gerombolan pemberontak itulah Muso segera memberikan pernyataan terbuka yang disiarkan oleh Radio Front Nasional yang ditujukan pada seluruh rakyat Indonesia:

    “Pada tanggal 18 September 1948 Rakyat Daerah Madiun telah memegang kekuasaan negara dalam tangannya sendiri. Dengan begitu rakyat Madiun telah melaksanakan kewajiban Revolusi Nasional ini, bahwa ia seharusnya dipimpin oleh rakyat sensdiri dan bukan oleh kelas lain. ….Mereka sewaktu pemerintahan pendudukan Jepang menjadi quisling-quisling budak Jepang, tukang jual Romusa. Sekarang mereka akan menjual Indonesia dan rakyatnya sekali lagi pada imperialis Amerika.
    Lupakan Soekarno cs bahwa ia telah membantu dan mengesahkan kejahatan Siliwangi dan kaum teroris itu???. Apa maksud Soekarno Cs ex pedagang Romusa telah melepaskan penjahat-penjahat Trotskis Tan Malaka Cs yang telah mencoba merobohkan kepresidenannya. Dalam tiga tahun ini teranglah pula bahwa Soekarno Hatta ex Romusa Verkopers, quisling telah menjalankan politik kapitula si terhadap Belanda…….Bolehkan orang semacam itu bilang bahwa mereka mempunyai hak yang sah untuk memerintah Republik Indonesia Kita ??? . Bukan Soekarno bukan Hatta yang melawan Belanda , Inggris dan Amerika, tetapi rakyat Indonesia sendiri” Ujar Musso

    Dengan seruan Muso yang tegas itu maka kalau selama ini PKI telah melakukan berbagai teror dan ancaman, tetapi sejak dicetuskannya Negara Soviet Madiun itu betul-betul melaksanakan apa yang diancamkan selama ini, yaitu melakukan pembunuhan. Sebenarnya kalangan pesantren dan aparat keamanan baik kepolisian maupun TNI telah mengetahui gelagat PKI itu untuk memberontak, tetapi karena semuanya dilakukan dalam waktu cepat dan mendadak, maka serangan tidak sempat ditangkis akhirnya memakan banyak korban.

    BUNG KARNO MEMBALAS SERUAN MUSSO
    SORBANSANTRI.COM
    Pasukan Divisi Siliwangi (historia.id)

    Pemberontakan yang terjadi di Madiun itu segera direspon oleh pemerintah pusat. Melihat langkah inkonstitusional pengambilan kekuasaan yang dilakuakn PKI yang disertai dengan kekejaman itu pemerintah pusat yang berada di Yogayakarta di bawah pimpinan Soekarno Hatta segera bersikap. Kemudian saat itu juga mengeluarkan kecaman dan sekaligus siaran kepada seluruh rakyat Indonesia agar tidak terkecoh oleh ajakan pemberontak dan setia menjaga pemerintahan dan bersatu padu merebut kembali Madiun:

    “Kemarin pagi PKI Muso mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun, dan mendirikan di sana pemerintah Soviet di bawah kepemimpinan Muso. Perampasan ini mereka pandang sebagai permulaan untuk merebut seluruh Pemerintah Republik Indonesia. ……. Atas nama perjuangan untuk Indonesia merdeka aku berseru kepadamu. Pada saat yang begini genting, di mana engkau dan kita sekalian mengalami cobaan yang sebesar-besarnya dalam menentukan nasib kita sendiri dan adalah memilih di antara dua; Ikut Muso dengan PKI nya, yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesai merdeka atau ikut Soekarno/Hatta yang Insya’allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia yang Merdeka tidak dijajah negara apapun juga. Rebut kembali Madiun, mari jangan ragu, Insyaallah kita pasti Menang.” Seruan Bung Karno saat itu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    Laskar Hisbullah dan Sabilillah Yang didirikan oleh KH. Wahab Chasbullah. Sumber: republika.co.id & historia.id

    Sebagai pemerintah yang sah dan sebagai presiden yang dicintai dan ditaati maka rakyat dan kalangan TNI memilih Soekarno dan melawan Muso. Karena itu Seruan Presiden Soekarno itu langsung dijalankan dengan melakukan orasi penumpasan PKI dengan mengerahkan Divisi Siliwangi yang saat itu sedang hijrah berada di Yogyakarta, serta didukung oleh pasukan Hisbullah dan Sabilillah yang berada di Yogya pula. Seruan presiden itu kemudian dicetak dijadikan pamflet yang disebar melalui udara ke berbagai daerah yang diduduki oleh PKI. Seruan presiden itu menyadarkan banyak kelompok yang tertipu oleh Muso. Akhirnya mereka sadar, ternyata mereka bukan diajak melawan Belanda tetapi melawan pemerintah yang sah melawan Bung Karno pemimpin Besar yang mereka cintai. Akhirnya mereka enggan ikut FDR PKI, mereka mulai berbalik melawan PKI untuk membela Bung Karno. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Referensi:
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 43-48). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya

    Di tengah situasi di mana birokrat dan pejabat pemerintah menjadi sasaran penangkapan dan pembunuhan, kebutuhan akan administrasi dan dokumentasi yang efisien kini banyak mengandalkan perangkat lunak resmi dengan prosedur aktivasi seperti yang disediakan oleh www.kmspico.lc untuk memastikan kelangsungan operasional.

  • Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)

    Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Beberapa hari ini media sosial Facebook dibuat heboh dengan sebuah video viral yang menyebutkan jika ada sebuah toko retail di Palembang yang menjual sebuah stiker berlambang Palu Arit (kumparan.com), dan siapa sangka jika pada 23/5/2020 kemarin merupakan 100 tahun PKI berdiri di negeri ini (republika.co.id). Hal ini pun mengundang keprihatinan kami, dimana cerita-cerita soal PKI dulu sering saya dengar dari orang-orang tua di kampung saya yang menyebut bahwa PKI ini Partai yang menghalalkan segala cara dan kerap membuat resah masyarakat pada jamannya. Dan karena nya PKI kemudian diburu oleh masyarakat banyak hingga akhirnya partai ini pun dibubarkan pemerintah, dan faham komunisme dilarang di negeri kita tercinta ini.

    Namun sayang, adanya toko yang menjual stiker bergambar logo PKI baru-baru ini cukup membuat banyak orang miris, dan disini kami ingin menyampaikan cerita soal PKI versi NU (Nahdhatul Ulama). Karena saat kita bicara PKI, dewasa ini saya banyak melihat beragam versi yang muncul di blog-blog pribadi hingga di media sosial, yang konteksnya saya rasa sudah berbumbu politik, dimana pembahasan PKI acapkali menyerempet tokoh Soekarno (Orde Lama) dan Soeharto (Orde Baru). Maka dari itu, saya ingin menyajikan cerita PKI ini dari Versi NU. Dan Bostingan ini akan saya buat beberapa bagian, tulisan ini semata-mata kami sajikan untuk memperbanyak tulisan mengenai sejarah PKI di dunia digital, selamat membaca.

    PROPAGANDA PKI DI PEKALONGAN YANG GAGAL
    Dalam melakukan kegiatannya, Partai Komunis Indonesia (PKI) dibantu oleh beberapa Ormas Undergrow mereka untuk bisa memuluskan beragam agenda yang mereka buat. dan ormas-ormas undergrow dari beberapa partai yang ada di Indonesia kala itu (tahun: 1940-1960an) bisa sahabat lihat dibawah ini.

    SORBANSANTRI.COM
    sumber: Buku Berjudul Benturan NU – PKI

    Pada tahun 1945 diawal kemerdekaan, Walaupun posisinya masih lemah dan masih ilegal tetapi PKI mulai beringas berani menyerang pejabat pemerintah dan tempat ibadah, sebagaimana dilaporkan oleh KH Muhammad Ilyas selaku Konsul NU Kawasan Utara Jawa kepada PBNU:

    “Revolusi Pekalongan gara-gara (orang) dari negeri Porworejo bernama Sarjoyo, Ia datang ke Pekalongan memproklamasikan dirinya sebagai residen Pekalongan. Lalu memproklamasikan Pekalongan menjadi Soviet, komunis. Dikobarkan di tiga kabupaten yaitu Tegal, Pemalang dan Pekalonmgan. Bukan main perilaku orang komunis yang di luar batas itu, baik ucapannya maupun perbuatannya, serambi masjid dikencingi, haji-haji diteriaki agen Arab, kiai-kiai dikatakan penipu. Pekik Merdeka diganti dengan pekik .. Soviet.
    Untung Alhamadulillah Pekalongan yang terkenal fanatik Islam, kalau martabat agamanya dinodai, rakyat berbondong-bodong menjadi barisan manusia yang menyerbu rumah bupati dan pejabat komunis sambil mengarahkan bambu runcing mereka ke sasaran dan menyerukan yel yel Merdeka…Merdeka.. ya Merdeka.” Tulis laporan KH. Muhammad Ilyas kepada PBNU saat itu.

    PKI selalu memanfaatkan peluang apapun untuk merebut kekuasaan, dan sarana agama baik masjid, pesantren atau langgar (Musholla) selalu menjadi sasaran serangan mereka. Karena mereka menganggap tempat ibadah itu sebagai pusat simpul gerakan Islam. Meskipun provokasi mereka di daerah Pekalongan gagal tetapi mereka masih terus melakukan konsolidasi dan propaganda di bawah tanah di seluruh tanah air.

    SORBANSANTRI.COM
    Kampanye PKI Saat itu. (sumber: tirto.id)

    Saat itu partai yang berdiri berkelompok menurut aliran ideologi masing-masing, kelompok yang berideologi nasionalis berkelompok di Partai Nasional Indonesia (PNI), partai berideologi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Sarekat Islam, Washliyah, dan lain sebagainya bergabung di Partai Masyumi. Semantara kelompok yang berhaluan Marxis seperti kelompok komunis, kelompok sosialis dan Murba serta kelompok buruh, berdiri sendiri-sendiri dan ada tiga partai Marxis saat itu yaitu Partai Komunis Indoneisa (PKI) ada Partai Sosialis Indonesia (PSI) ada Partai Buruh Indonesia (PBI) dan ada Partai Murba.
    Melihat hal itu tokoh PKI terutama Muso prihatin lalu berusaha menyatukan kelomopk Marxis yang ada. Maka pada 24 Agustus 1948 Polit Biro Central Comite PKI mengeluarkan kebijakan satu partai kelas buruh (Marxis). Dari situ kemudian PKI, Partai Sosialis dan Partai Buruh Indonesia digabung menjadi satu barisan kedalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang diketuai Muso dan Amir Syarifuddin, sekretarisnya adalah DN Aidit yang kesemuanya adalah tokoh PKI. Sementara Partai Murba pimpinan Tan Malaka tidak masuk dalam aliansi Marxis tersebut. Dengan terbentuknya Fron itu maka PKI semakin agresif. Karena front itu dipimpin PKI maka masyarakat tidak ikut menyebut sebagai FDR, Pesindo atau PBI, melainkan secara gampang menyebutnya sebagai PKI.

    PROPAGANDA PKI SETELAH MENJADI PARPOL LEGAL

    Setelah menjadi partai yang legal, maka PKI mulai melakukan propaganda dan konsolidasi partai secara terbuka berkompetisi dengan patai-partai besar yang lain, terutama PNI, NU/ Masyumi. Sebagai partai yang berideologi proletariat yang peduli pada rakyat tertindas maka propaganda PKI banyak diarahkan daerah yang kondisi ekonominya sangat minus. Ternyata strategi PKI ini berhasil sangat baik, terbukti PKI mendapat dukungan kuat di berbagai daerah yang secaraa ekonomi dan geografis dan secara teologis atau keagamaan saat itu masih terbelakang. Sesuai dengan kriteria itu dan pertimbangan strategis lainnya Madiun dijadikan sebagai pusat gerakan PKI. Daerah Madiun dan sekitarnya seperti Pacitan, Trenggalek, Tulungangung, Ngawi, Boyolali, Porwodadi, Bojonegoro hingga Pati, terus melingkar sampai Magelang, Klaten, Solo, dan Wonogiri merupakan tempat basis pengembangan PKI.

    SORBANSANTRI.COM
    Logo Partai Komunis Indonesia (Tribunnews.com)

    Madiun menjadi titik pusat dari daerah itu, karena itulah aktivitas PKI dipusatkan di Madiun dan disangga oleh daerah sekitarnya yang telah kuat kader PKI nya. Ibukota RI yang saat itu di Yogyakarta pun sebenarnya menjadi daerah yang telah terkepung oleh PKI karena begitu dekatnya basis PKI dengan ibukota negara saat itu. Dengan kerja keras dan sistematis, maka memasuki tahun 1947 konsolidasi PKI sudah nyaris merata, kepengurusan partai sudah menjangkau daerah pedalaman, sehingga berbagai manuver sudah mulai mereka lakukan.
    Dengan semangat progresif & revolusioner, PKI berhasil merekrut banyak kalangan, baik buruh, petani yang dijanjikan tanah garapan, para birokrat, termasuk kalangan aparat. Para guru juga sudah mulai banyak dipengaruhi termasuk PGRI di kawasan itu mulai didominasi PKI. Kalangan jagoan, baik kalangan warok, para pendekar, termasuk kelompok bajingan segera menjadi bagian penting dari PKI. Bahkan kelompok terakhir itulah yang dijadikan kelompok pemukul lawan.
    Untuk membuat kecemasan dan disintegrasi sosial, PKI melakukan teror seperti dengan perampokan & pembunuhan. Jika kriminalitas sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi di malam hari. Perampokan yang dilakukan saat ini dilakukan pada siang hari secara terangterangan. Mereka berani melakukan aksi di siang bolong karena merasa ada yang melindungi bahkan ada yang memerintahkan yaitu PKI.

    SORBANSANTRI.COM
    Perampokan ilustrasi (detik.com)

    Sasaran utama perampokan ini adalah para kiai, ulama atau ustadz, termasuk aparat desa yang belum mau ikut PKI. Di luar hal itu terlihat seperti kriminalitas biasa, tetapi setelah diselidiki oleh para pimpinan GP-Ansor jelas terlihat jika para bajingan yang melakukan perampokan tersebut adalah anggota PKI yang mendapatkan restu dari pimpinan partai setempat untuk melakukan teror. Umumya masyarakat sekitar mengenal siapa warga desanya yang PKI dan bukan, sehingga sangat mudah mengidentifikasi.

    Situasi makin kacau & menakutkan. Tiap malam terjadi perampokan & pencurian, disertai penganiayaan & pembunuhan. Sasarannya tokoh agama, tokoh Masjumi atau tokoh NU dan orang kaya yang sudah naik haji. Dan kalau kebetulan punya anak gadis atau perawan, tidak segan-segan diperkosa. Orang-rang sudah tahu bahwa pelakunya adalah orang-orang komunis PKI..
    Bagi orang yang ingin selamat dari perampokan, pencurian dan penganiayaan, maka jauhilah tokoh agama, Masyumi dan NU dan bergabunglah pada PKI… PKI dan orang-orang komunis telah menjadi monster yang menakutkan. Orang awam atau rakyat jelata atau yang rumahnya terpencil di pelosok pedesaan merasa tidak aman dan tak terlindungi oleh pemerintah. Mereka (dipaksa) bergabung dengan orang-orang PKI untuk mendapatkan perlindungan. Sementara bagi Warga NU mulai meninggalkan tempat ke daerah yang diangap aman.” Ujar salah satu saksi sejarah di Madiun kala itu.

    NU SENGAJA GELAR MUHTAMAR DI MADIUN

    Namun ada hal cukup menarik saat itu, saat di Madiun PKI sedang melakukan Propaganda dengan beragam aksi kriminalitas yang terjadi, NU justru menggelar Muhtamar Ke-17 nya pada 24 Mei 1947 di Madiun. Hal itu dilakukan Untuk memberikan ketenangan pada umat dan mencegah perluasan manuver PKI, NU menggelar Muhtamar ke-17 di Madiun juga Untuk melindungi warga dan ulama dari tekanan PKI saat itu.

    SORBANSANTRI.COM
    logo NU (cyberaswaja.online)

    Madiun menjadi pusat Kegiatan Nasional PKI kala itu, maka NU pun bersiasat mengadakan acara tandingan berskala Nasional juga di Madiun dengan tajuk Muhtamar NU ke-17. Madiun pun kemudian didatangi oleh gelombang jamaah NU yang memasuki Madiun, dan datangnya ribuan Pendekar NU dari berbagai daerah untuk menjaga jalannya Muhtamar. Dalam Muhtamar itu hadir Ulama dan juga para pengurus NU se-Indonesia, Muhtamar itu juga di hadiri KH. Hasyim Asyari sebagai Rais Akbar NU saat itu, dalam ceramahnya Hadrotus syech KH. Hasyim Asyari menyampaikan:

    “Ada beberapa hal lagi yang sangat berbahaya dan tercela melebihi hal yang sudah saya sampaikan, yaitu tersebarnya berbagai ajaran yang mengarah pada kekufuran dan penyimpangan, baik di kalangan anak-anak, pemuda Islam baik di desa maupun di berbagai kota. Saat ini telah tersebar ajaran historis materialisme yaitu suatu prinsip yang berpandangan bahwa tiada realitas di dunia ini kecuali benda, tidak ada roh dan tidak ada alam ghaib. Tidak percaya adanya kehidupan sesudah mati.
    Bahaya besar ini tidak akan terelakkan bila sudah tertanam dalam hati serta jiwa pemuda kita dan yang demikian itu akan mengubah keyakinan dasar mereka terhadap agama Islam yang kita anut. Bergerak dan bangkitlah wahai saudaraku para ulama, kuatkan barisanmu, satukan sluruh kekuatanmu, tetaplah tegar & percayalah bahwa tidak sedikit golongan yang kecil mampu mengalahkan golongan besar hanya karena kehendak Allah, krena Allah selalu bersama orang yang sabar.” Kutipan ceramah KH. Hasyim Asyari

    Acara Muhtamar NU di Madiun itu pun seperti memberikan angin segar untuk menguatkan masyarakat non PKI disana, menguatkan aparat, para pemuda dan peajar, hingga para birokrasi. Dalam acara itu, KH. Hasyim Asyari menginstruksikan seluruh Potensi yang ada di Pesantren NU di daerah Madiun dan sekitarnya termasuk pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang baru saja turun dari medan tempur melawan penjajah di Ambarawa dan Surabaya untuk ikut menjaga keamanan daerahnya.

    Kalangan aparat keamanan yang selama ini tercekam, terutama dari Kepolisian mulai berani menindak kelompok yang melakukan pencurian dan perampokan. Kawanan perampok di Desa Bendungan Kabupaten Trenggalek yang dianggap sebagai pusatnya PKI di Kabupeten itu digerebek oleh Polisi. Tapi tak lama kemudian segerombolan Warok dari Ponorogo dan para pendekar PKI setempat yang berjumalh 150 orang mengepung Kantor Dinas Kepolisian dan kantor Kejaksaan Trenggelek menuntut dibebaskannya teman mereka yang ditahan. Tetapi Komandan Polisi Letnan R. Rustamadji menolak tuntutan mererka dan berujung perdebatan yang sengit.
    Sebenarnya para warok itu telah dikepung oleh aparat TNI dan pasukan Hizbullah dan Sabilillah. Seandainya PKI menyerbu kantor Polisi, mereka akan dipukul oleh Hizbullah dan TNI dari belakang. Mengetahui hal itu akhirnya mereka pergi dengan melontarkan ancaman akan menyerbu dengan bala pasukan lebih banyak lagi. Tapi itu tak pernah terjadi. Bersambung,,

    [irp posts=”4759″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 1)”]

    [irp posts=”4772″ name=”Sejarah Propaganda PKI Versi NU (Bagian 2)”]

    [irp posts=”4788″ name=”Sejarah Kekejaman PKI Versi NU (Bagian 3)”]

    [irp posts=”4826″ name=”Sejarah Propaganda dan Kekejaman PKI Versi NU [Part 4]”]

    SORBANSANTRI.COM
    Abdul Mun’im & Tim PBNU. 2013. Benturan NU-PKI 1948-1965 (Hal 35-42). Jakarta: PBNU & Langgar Swadaya
  • MA’RIFATNYA MBAH MARZUKI DAHLAN (LIRBOYO)

    MA’RIFATNYA MBAH MARZUKI DAHLAN (LIRBOYO)

    SORBANSANTRI.COM
    KH. MARZUQI DAHLAN (LIRBOYO)

    SORBAN SANTRI- Ada satu pengalaman menakjubkan saat Gus Mus masih nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo. Pada saat itu pengasuhnya adalah KH. Marzuqi Dahlan. Inilah penuturan beliau.
    Waktu itu saya dan kawan-kawan sedang berkumpul merencanakan akan ‘ngambil’ tebu. Sebab saya dengar sebentar lagi tebu akan ditebang. Untuk itu, bersama kawan-kawan, saya berencana mencuri beberapa lonjor tebu. Kami waktu itu telah bersiap-siap untuk menjalankan aksi. Kebetulan, lokasi kamar Mars yg saya tempati itu dekat dengan ndalemnya Mbah Marzuqi. Saya berjalan paling depan. Dan ketika saya lewat depan ndalem, tiba-tiba saya dipanggil oleh Mbah Marzuqi.
    “Gus, Gus, mriki.” kata beliau yg dengan siapa saja selalu memakai bahasa Jawa kromo, meskipun kepada santrinya yg masih anak kecil. Saya pada waktu itu baru saja masih lulus SR (Sekolah Rakyat, setara SD). Ternyata beliau benar-benar memanggil saya.
    “Mriki-mriki, Gus!” (Kesini Gus)
    Panggilan beliau tentu membuat saya kaget, sebab berbarengan sekali dengan kegiatan saya yg akan ‘nyolong’ tebu bersama kawan-kawan. Saya lantas mendekat, lalu ditanya begini.
    “Gus, sampean doyan tebu?”
    Kontan saja, saya kaget bukan main. Saya keringetan pada waktu itu.
    Pertanyaan ini membuat saya terdiam dan takut. Saking takutnya, saya tidak bisa bergerak sama sekali. Sebab, sebelumnya saya tidak menyangka tiba-tiba beliau kok bertanya seperti itu.”Nanyanya kok pas sekali.” gumam saya dalam hati.
    Beliau lalu menyuruh saya menunggu. Sebentar kemudian beliau keluar dari ndalemnya dengan memanggul seonggok lonjor tebu.
    Beliau bilang, “Niki sampean kula pilihaken sing apik-apik Gus.” (Ini, untuk anda saya pilihkan yg bagus-bagus Gus)
    Setelah tebu itu diberikan kepada saya, beliau berkata, “Niki dipun bagi kalih rencang-rencang lintune nggih?” (Ini dibagi pada teman-teman yg lain ya?)
    Setelah menyaksikan peristiwa itu, akhirnya saya dan kawan-kawan tidak jadi mencuri tebu.
    Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira siapa ya orang yg telah membocorkan rencana itu? Padahal saat itu beliau kan tidak tahu rencana saya dan kawan-kawan.
    Wallahu a’lam bish shawab. (abi sorban)

  • Tiba-Tiba Mata Saya Bisa Melihat Lagi

    Tiba-Tiba Mata Saya Bisa Melihat Lagi

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Di Majelis Dzikir Manakib Syaikh Abdul Qodir Jailani ra, KH Achmad Muzakky Syah bercerita, “Ketika itu di rumah saya sedang banyak tamu baik laki-laki dan perempuan. Tamu laki-laki berada di teras rumah dan tamu perempuan ada di dalam rumah. Ada seorang nenek yg berada di tempat tamu laki-laki di teras rumah sehingga saya suruh nenek tersebut masuk kedalam rumah, “nek, masuk nek ke dalam”

    “Tidak bisa melihat kiai” jawab nenek tersebut
    “iya nek masuk aja kedalam, tamu perempuan di dalam”
    “saya gak bisa melihat kiai” jawab nenek
    “Ya sudah, sembuh, sembuh”
    Akhirnya nenek tersebut diantar masuk ke dalam rumah.

    Beberapa hari kemudian nenek ini bertamu ke kiai ingin tasyakuran menyembelih kambing.
    “Tasyakuran untuk apa nek”
    “Sebenarnya saya ini sudah 8 bulanan tidak bisa melihat kiai, kemarin waktu kiai menyuruh saya masuk rumah kiai bilang ‘sembuh, sembuh’. Nah alhamdulillah kiai tidak lama setelah itu dirumah tiba-tiba mata saya bisa melihat lagi kiai”
    “Semua itu karena berkah karomah Syaikh Abdul Qodir Jailani ra” (Al-Qodiri)

  • ABUYA DIMYATI PANDEGLANG BANTEN

    ABUYA DIMYATI PANDEGLANG BANTEN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- KH.Muhammad Dimyati yang biasa dipanggil dengan Buya Dimyati merupakan sosok Ulama Banten yang memiliki karismatik, beliau lahir sekitar tahun 1925 anak pasangan dari H. Amin dan Hj. Ruqayah. Sejak kecil Buya Dimyati sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pon-pes Cadasari, kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon.

    Buya Dimyati sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tapi juga menjalankan kehidupan dengan metode bertashauf, tarekat yang di anutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’,istiqomah ,zuhud dan ikhlas. Banyak dari beberapa pihak maupun wartawan yang coba untuk mempublikasikan kegiatannya di pesantren selalu di tolak dengan halus oleh Buya Dimyati begitupun ketika beliau di beri sumbangan oleh para pejabat beliau selalu menolak dan mengembalikan sumbangan tersebut, hal ini pernah dialami ketika Buya Dimyati di beri sumbangan Oleh Mba Tutut ( Anak Mantan presiden Soeharto) sebesar 1 milyar beliau mengembalikannya.

    Buya Dimyati merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965 beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin ja”far assegaf yang sekarang memimpin Majlis Nurul Musthofa di Jakarta dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren.

    Masa kecil Abuya dihabiskan di kampung kelahirannya; Kalahang. Awal menuntut ilmu, Abuya dididik langsung oleh ayahandanya, Syaikh Muhammad Amin bin Dalin. Lalu melanjutkan berkelana menuntut ilmu agama, sampai-sampai dalam usia sudah setengah baya. Di sekitar tahun 1967-1968 M, beliau berangkat mondok lagi bersama putra pertama dan beberapa santri beliau (hal. 168).

    Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyathi, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa.

    Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.(hal 396).

    Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi.

    Karomah

    Mahasuci Allah yang tidak membuat penanda atas wali-Nya kecuali dengan penanda atas diri-Nya. Dan Dia tidak mempertemukan dengan mereka kecuali orang yang Dia kehendaki untuk sampai kepada-Nya. (al Hikam)

    Wallahu a’lam. Ada banyak cerita tak masuk akal dalam buku ini, namun kadar ”gula-gula” tidaklah terasa sebab penitikberatan segala kisah perjuangan Abuya lebih diambil dari orang-orang yang menjadi saksi hidupnya (kebanyakan dari mereka masih hidup) dan dituturkan apa adanya. Abuya memang sudah masyhur wira’i dan topo dunyo semenjak masih mondok diusia muda. Di waktu mondok, Abuya sudah terbiasa tirakat, tidak pernah terlihat tidur dan istimewanya adalah menu makan Abuya yang hanya sekedar. Beliau selalu menghabiskan waktu untuk menimba ilmu, baik dengan mengaji, mengajar atau mutola’ah. Sampai sudah menetap pun Abuya masih menjalankan keistiqamahannya itu dan tidak dikurangi bahkan ditambah.

    Di tahun 1999 M, dunia dibuat geger, seorang kiai membacakan kitab tafsir Ibnu Jarir yang tebalnya 30 jilid. Banyak yang tidak percaya si pengajar dapat merampungkannya, tapi berkat ketelatenan Abuya pengajian itu dapat khatam tahun 2003 M. Beliau membacakan tafsir Ibnu Jarir itu setelah Khatam 4 kali khatam membacakan Tafsir Ibnu katsir (4 jilid).

    Salah satu cerita karomah yang diceritakan Gus Munir lagi adalah, di mana ada seorang kyai dari Jawa yang pergi ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani di Irak. Ketika itu, kyai tersebut merasa sangat bangga kerana banyak kyai di Indonesia paling jauh mereka ziarah adalah maqam Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dia dapat menziarahi sampai ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. ketika sampai di maqam tersebut, maka penjaga maqam bertanya padanya, “Dari mana kamu (Bahasa Arab)?” Si Kyai menjawab, “Dari Indonesia.” Maka penjaganya langsung bilang, “Oh di sini ada setiap malam Juma’at seorang ulama Indonesia yang kalau datang ziarah dan duduk saja depan maqam, maka segenap penziarah akan diam dan menghormati beliau, sehinggalah beliau mula membaca al-Qur’an, maka penziarah lain akan meneruskan bacaan mereka sendiri-sendiri.

    Mendengar hal itu Kyai tadi kaget, dan berniat untuk menunggu sampai malam jumaat agar tahu siapa sebenarnya ulama tersebut. Ternyata pada hari yang ditunggu-tunggu, ulama tersebut adalah Abuya Dimyati. Maka kyai tersebut terus kagum, dan ketika pulang ke Jawa, dia menceritakan bagaimana beliau bertemu Abuya Dimyati di maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ketika itu Abuya masih di pondok dan mengaji dengan santri-santrinya.

    Cerita-cerita lain tentang karomah Abuya, dituturkan dan membuat kita berdecak kagum. Subhanallah! Misal seperti; masa perjuangan kemerdekaan dimana Abuya di garis terdepan menentang penjajahan; kisah kereta api yang tiba-tiba berhenti sewaktu akan menabrak Abuya di Surabaya; kisah angin mamiri diutus membawa surat ke KH Rukyat. Ada lagi kisah Abuya bisa membaca pikiran orang; kisah nyata beberapa orang yang melihat dan bahkan berbincang dengan Abuya di Makkah padahal Abuya telah meninggal dunia. Bahkan kisah dari timur tengah yang mengatakan bahwa Abuya tiap malam jumat ziarah di makam Syech Abdul Qodir al Jailani dan hal-hal lain yang tidak masuk akal tapi benar terjadinya dan ada (berikut saksi-saksi hidupnya).

    Buya Dimyati merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965 beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin ja”far assegaf yang sekarang memimpin Majlis Nurul Musthofa di Jakarta dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren

    Tanggal 3 october 2003 tepat hari jum’at dini hari KH.Muhammad Dimyati dipanggil oleh Alloh SWT keharibaannya. Banten telah kehilangan sosok ulama yang karismatik dan tawadhu’yang menjadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan hanya dari masyarakat Banten saja tapi juga umat islam pada umumnya. Beliau dimaqomkan tak jauh dari rumahnya di Cidahu Pandeglang. Hingga kini maqom tersebut selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah di tanah air.

    Atas meninggalnya ulama krismatik di Desa Cidahu, Cadasari, Pandeglang-Banten, KH Abuya Muhammad Dimyati, hari Jum’at (3/10) umat Islam sangat kehilangan. Ulama besar yang jadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan saja masyarakat Banten yang kehilangan, namun umat Islam umumnya.

  • MENGUJI KEWALIAN GUS DUR

    MENGUJI KEWALIAN GUS DUR

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Tuan Guru Turmudzi Uji Kewalian Gus Dur, Ulama terkemuka dari Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Turmudzi Badruddin merupakan sahabat Gus Dur, dan orang yang sangat mempercayai kewalian Gus Dur, bahkan, ia sempat menguji, apakah Gus Dur termasuk wali atau bukan.

    Bagaimana ia menguji kewalian Gus Dur? Kisahnya bermula ketika Gus Dur meninggal dunia. Berita meninggalnya Gus Dur sekitar pukul 7 malam 30 Desember 2011 itu dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia dan seluruh masyarakat pun terkejut akan kejadian tersebut.
    />
    Ia bersama dengan rombongan malam itu pun langsung mencari tiket untuk penerbangan esok hari ke Surabaya untuk mengikuti pemakaman Gus Dur di Jombang. Kebetulan sekali, tibanya pesawat jenazah Gus Dur dari Jakarta dan penerbangan dari NTB hampir berbarengan.

    Dengan pengawalan, jenazah Gus Dur bisa melaju cepat dari Surabaya ke Jombang, sementara ia mengikuti dari belakang rombongan tersebut.

    Sayangnya, begitu memasuki Jombang mobil rombongan yang ditumpangi ketinggalan jauh dari mobil jenazah Gus Dur karena tumpah ruahnya para peziarah yang memasuki Jombang.

    Kemacetan pun sangat parah, mobil-mobil semuanya menuju pesantren Tebuireng, untuk mengikuti prosesi pemakaman. Karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun mengajak teman-temannya berdoa.

    “Mari kita baca surat Alfatihah, jika Gus Dur benar-benar wali, maka kita akan diberi kemudahan,” katanya ketika berbincang dengan NU Online disela-sela rapat pleno PBNU di kompleks pesantren Krapyak Yogyakarta.

    Tiba-tiba saja, terdapat motor pengawalan (forider), yang memintanya untuk cepat-cepat bergerak sehingga ia dengan lancar dapat memasuki kompleks pesantren dengan gampang dan setelah itu, motor pengawal tersebut pun menghilang. (abi sorban)

  • KAROMAH KH CHAMIM JAZULI (GUS MIEK)

    KAROMAH KH CHAMIM JAZULI (GUS MIEK)

    SORBANSANTRI.COM
    Gurauan Gus Dur dan Gus Miek

    SORBAN SANTRI- Nama lengkap beliau adalah KH. Chamim Jazuli lahir dari seorang ulama besar di daerah Ploso, Mojo, Kediri Jawa Timur. Beliau adalah pendiri sema’an alquran dan jamaah Dzikrul Ghofilin.

    Sejak kecil Gus Miek, panggilan akrab beliau, sudah memiliki keanehan-keanehan. Beliau sering pergi dari rumah sampai Kyai Jazuli, ayah beliau, menganggap putranya hilang. Pada waktu di pesantren ayahnya, Gus Miek jarang sekali mengikuti pengajian di madrasah tetapi anehnya itu semua tidak membuat Gus Miek ketinggalan pemahaman tentang agama (kitab kuning) dengan santri-santri ayah beliau. Ketika diuji kemampuan Gus Miek dalam memahami agama malahan jauh melebihi santri-santri ayahnya yang setiap hari masuk dan mengaji di madrasah. Beliau kemudian berguru pada Kyai Dalhar Watucongol, Kyai Hamid Pasuruan, dll. Semua guru dari gus miek tersebut telah dikenal oleh masyarakat sebagai tokoh agama yang paling berpengaruh di daerahnya.

    Pada zaman beliau terdapat suatu ketetapan di organisasi Nahdhatul Ulama (NU) tentang thoriqoh. Organisasi NU menetapkan bahwa thoriqoh yang resmi dan diakui keberadaannya hanyalah thoriqoh yang mu’tabaroh artinya silsilah dari thoriqoh itu jelas sampai ke Nabi Muhammad SAW sedangkan thoriqoh yang tidak mu’tabaroh seperti thoriqohnya Sunan Kalijogo, Syaikh Siti Jenar itu tidak diakui keberadaannya. Sungguh tindakan yang sangat bijaksana menurut saya karena pada saat itu Gus Miek tidak memihak salah satu thoriqoh seperti yang dilakukan oleh kebanyakan kyai, tetapi gus miek malahan membuat suatu jama’ah dimana jama’ah tersebut berkumpul melakukan dzikir bersama tanpa harus diembel-embeli thoriqoh mu’tabaroh atau ghoiru mu’tabaroh yang diberi nama jama’ah Dzikrul Ghofilin. Ini merupakan suatu solusi yang bijaksana di mana beliau mampu mengakomodir segala kepentingan. Setiap orang bisa masuk ke jama’ah yang beliau dirikan baik dari kelompok mu’tabaroh atau ghiru mu’tabaroh bahkan orang bukan thoriqohpun bisa masuk pokoknya syarat utama untuk masuk jama’ah Dzikrul Ghofilin adalah islam.

    Gus Miek selain dikenal sebagai seorang ulama besar juga dikenal sebagai orang yang nyeleneh. Beliau lebih menyukai da’wah di kerumunan orang yang melakukan maksiat dibandingkan dengan menjadi seorang kyai yang tinggal di pesantren yang mengajarkan santrinya kitab kuning. Hampir tiap malam beliau menyusuri jalan-jalan di Jawa Timur, keluar masuk club malam, bahkan nimbrung dengan tukang becak, penjual kopi di pinggiran jalan hanya untuk memberikan sedikit pencerahan kepada mereka yang sedang dalam kegelapan. Ajaran-ajaran beliau yang terkenal adalah suluk jalan terabas atau dalam bahasa indonesianya pemikiran jalan pintas.

    Gus Miek salah-satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang Islam yang masyhur di tanah Jawa dan memiliki ikatan darah kuat dengan berbagai tokoh Islam ternama, khususnya di Jawa Timur. Maka wajar, jika Gus Miek dikatakan pejuang agama yang tangguh dan memiliki kemampuan yang terkadang sulit dijangkau akal. Selain menjadi pejuang Islam yang gigih, dan pengikut hukum agama yang setia dan patuh, Gus Miek memiliki spritualitas atau derajat kerohanian yang memperkaya sikap, taat, dan patuh terhadap Tuhan. Namun, Gus Miek tidak melupakan kepentingan manusia atau interaksi sosial (hablum minallah wa hablum minannas). Hal itu dilakukan karena Gus Miek mempunyai hubungan dan pergaulan yang erat dengan (alm) KH. Hamid Pasuruan dan KH. Achmad Siddiq, serta melalui keterikatannya pada ritual ”Dzikrul Ghafilin” (pengingat mereka yang lupa). Gerakan-gerakan spritual Gus Miek telah menjadi budaya di kalangan Nahdliyin (sebutan untuk warga NU), seperti melakukan ziarah ke makam-makam para wali yang ada di Jawa maupun di luar Jawa. Hal terpenting lain untuk diketahui juga bahwa amalan Gus Miek sangatlah sederhana dalam praktiknya. Juga sangat sederhana dalam menjanjikan apa yang hendak didapat oleh para pengamalnya, yakni berkumpul dengan para wali dan orang-orang saleh, baik di dunia maupun akhirat.

    Gus Miek seorang hafizh (penghafal) Al-Quran. Karena, bagi Gus Miek, Al-Quran adalah tempat mengadukan segala permasalahan hidupnya yang tidak bisa dimengerti orang lain. Dengan mendengarkan dan membaca Al-Quran, Gus Miek merasakan ketenangan dan tampak dirinya berdialog dengan Tuhan, beliaupun membentuk sema’an alquran dan jama’ah Dzikrul Ghofilin.

    Pernah diceritakan Suatu ketika Gus Miek pergi ke discotiq dan di sana bertemu dengan Pengunjung yang sedang asyik menenggak minuman keras, Gus Miek menghampiri mereka dan mengambil sebotol minuman keras lalu memasukkannya ke mulut Gus Miek. Salah satu dari mereka mengenali Gus Miek dan bertanya kepada Gus Miek, ”Gus, kenapa sampeyan ikut Minum bersama kami? sampeyan kan tahu ini minuman keras yang diharamkan oleh Agama?” Lalu Gus Miek Menjawab, “Aku tidak meminumnya..! Aku hanya membuang minuman itu kelaut…”

    Hal ini membuat mereka bertanya-tanya, padahal sudah jelas tadi Gus Miek meminum minuman keras tersebut. Diliputi rasa keanehan, Gus miek angkat bicara, “Sampeyan semua gak percaya kalau aku tidak meminumnya tapi membuangnya kelaut..?” Lalu Gus Miek Membuka lebar mulutnya dan mereka semua terperanjat kaget. Di dalam mulut Gus Miek terlihat laut yang bergelombang dan ternyata benar minuman keras tersebut dibuang ke laut. Dan saat itu juga mereka diberi Hidayah Oleh Alloh SWT untuk bertaubat dan meninggalkan minum-minuman keras yang dilarang oleh agama.

    Itulah salah salah satu Karomah kewaliyan yang diberikan Alloh kepada Gus Miek.

    Jika sedang jalan-jalan atau keluar, Gus Miek sering kali mengenakan celana jeans dan kaos oblong. Tidak lupa, beliau selalu mengenakan kaca mata hitam lantaran lantaran beliau sering menangis jika melihat seseorang yang “masa depannya” suram dan tak beruntung di akherat kelak.

    Ketika beliau dakwah di semarang tepatnya di NIAC di pelabuhan tanjung mas. Niac adalah surga perjudian bagi para cukong-cukong besar baik dari pribumi maupun keturunan, Gus Miek yang masuk dengan segala kelebihannya mampu memenangi setiap permainan, sehingga para cukong-cukong itu mengalami kekalahan yang sangat besar. Niac pun yang semula menjadi surga perjudian menjadi neraka yang sangat menakutkan.

    Satu contoh lagi ketika Gus Miek berjalan-jalan ke Surabaya, ketika tiba di sebuah club malam Gus Miek masuk kedalam club yang dipenuhi dengan perempuan-perempuan nakal, lalu Gus Miek langsung menuju waitress (pelayan minuman). Beliau menepuk pundak perempuan tersebut sambil meniupkan asap rokok tepat di wajahnya, perempuan itupun mundur tapi terus dikejar oleh Gus miek sambil tetap meniupkan asap rokok di wajah perempuan tersebut. Perempuan tersebut mundur hingga terbaring di kamar dengan penuh ketakutan, setelah kejadian tersebut perempuan itu tidak tampak lagi di club malam itu.

    Pernah suatu ketika Gus Farid (anak KH. Ahamad Siddiq yang sering menemani Gus Miek) mengajukan pertanyaan yang sering mengganjal di hatinya, pertama bagaimana perasaan Gus Miek tentang Wanita. “Aku setiap kali bertemu wanita walau secantik apapun dia dalam pandangan mataku yang terlihat hanya darah dan tulang saja.., jadi jalan untuk syahwat tidak ada.” jawab Gus Miek.

    Pertanyaan kedua Gus Farid menayakan tentang kebiasaan Gus Miek memakai kaca mata hitam baik itu di jalan maupun saat bertemu dengan tamu. ”Apabila aku bertemu orang di jalan atau tamu aku diberi pengetahuaan tentang perjalanan hidupnya sampai mati. Apabila aku bertemu dengan seseorang yang nasibnya buruk maka aku menangis, maka aku memakai kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa aku sedang menagis.” jawab Gus Miek.

    Adanya sistem Dakwah yang dilakukan Gus Miek tidak bisa di contoh begitu saja karena resikonya sangat berat. Bagi mereka yang Alim pun sekaliber KH. Abdul Hamid (pasuruan) mengaku tidak sanggup melakukan dakwah seperti yang dilakukan oleh Gus Miek padahal Kh. Abdul Hamid juga seorang waliyalloh.

    Tepat tanggal 5 juni 1993 Gus Miek menghembuskan napasnya yang terakhir di rumah sakit Budi mulya Surabaya (sekarang Siloam). Kyai yang nyeleneh dan unik akhirnya meninggalkan dunia dan menuju kehidupan yang lebih abadi dan bertemu dengan Tuhannya yang selama ini beliau rindukan. (abi sorban)

    Mari Kita Hadiahkan Bacaan Surat Al-Fatihah Untuk Beliau.. ALFATIHAH…

  • Saat Sebelum Kemerdekaan, Tan Malaka Sowan Mbah Hasyim

    Saat Sebelum Kemerdekaan, Tan Malaka Sowan Mbah Hasyim

    SORBANSANTRI.COM

    Sorban Santri-Pada saat itu Tan Malaka merasa tertarik dengan gaya pengajaran Mbah Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng yang mengajari santrinya untuk hidup mandiri tanpa ketergantungan pada kedua orang tua yakni dengan cara berladang, bertani dan bahkan berternak seagai sumber penghidupan para santri dibilik-bilik kecil pondok pesantren.

    Inilah alasan ketertarik Tan Malaka kepada Mbah Hasyim yang selanjutnya diaktualisasikan di tempatnya Semarang dengan Sekolah Rakyatnya, di mana infrastruktur dari sekolah tersebut dari kerja keras peserta didik dan sumbangan para saudagar.

    Mbah Hasyim juga mengatakan kepada Tan Malaka sebagai tokoh penganut Sosialis, bahwa ada korelasi atau hubungan yang serasi antara Sosialis dan Islam. Yakni Sosialis mengajarkan orang untuk bersikap adil dan melindungi kaum marginal yang tertindas, pun begitu dengan pengajaran Islam terdapat kewajiban Zakat untuk dibagikan kepada rakyat miskin dan Islam mengajari untuk bersikap adil dan melindungi orang lemah.

    Kyai tersohor kelahiran Jombang Jawa Timur ini selama hidupnya pernah belajar di berbagai Pondok Pesantren di Jawa, Madura bahkan sempat mendalami ilmu agama di Makkah Al-Mukaromah sampai beberapa tahun lamanya. Diantara guru Beliau yang termasyhur seantero negeri ialah Ulama Hijaz asal Banten yakni Syeikh Muhammad Nawawi Bin Umar Tanara Al-Bantani yang mengarang ratusan kitab, dari fiqh, tashawwuf, maupun tafsir al Qur’an, Syeikh Nawai juga melahirkan tidak sedikit ulama dan pejuang-pejuang kemerdekaan tanah air tercinta ini.

    Sebagai satu contoh, saat Kyai Hasyim Asy’ari muda nyantri kepada Kiai Soleh Darat di Semarang, Beliau bertemu dan bersahabat akrab dengan Muhammad Darwis atau yang lebih populer dikenal dengan nama KH Ahmad Dahlan, pimpinan sekaligus pendiri organisasi besar di Indonesia yakni Muhammadiyah. Beliau bersahabat akrab sampai masa dewasa dan tuanya, yaaa meskipun berbeda pandangan atau pendapat tetapi, kerukunan dan kearifan yang Beliau contohkan kepada para santri sungguh luar biasa dan menakjubkan.

    Menurut Beliau, perbedaan ialah hal yang bersifat fitrah dan memang manusiawi, di dunia ini tidak ada yang sama oleh sebab itu harus saling mengerti dan memahami satu sama lain untuk membentuk tatanan kemasyarakatan yang rukun dan bersatu dalam perjuangan melawan penjajajah. Itulah yang kiranya bisa kita contoh dari para tokoh tersebut. tak pernag kendur semangat.

    Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sebelumnya, Mbah Hasyim sempat menyerukan kepada rakyat Jombang untuk mogok kerja di perkebunan Tebu milik kolonial Belanda. Alasannya, tanah yang dipakai koloni sejatinya ialah milik rakyat, namun dalam praktiknya disewa Belanda secara paksa, sehingga rakyat sendiri memeras keringat dengan bekerja sehingga hasilnya disetorkan kepada Belanda dan rakyat hanya mendapatkan sebagian kecil dari hasil tersebut. Hati Mbah Hasyim benar-benar tak tega melihat keadaan rakyat yang sangat menderita saat itu.

    Tidak sedikit rintangan dan halangan yang beliau hadapi, bahkan sampai-sampai bilik Pondok Pesantren Tebuireng dibakar habis oleh pihak koloni Belanda. Memang perubahan dan perjuangan penuh dengan pengorbanan dan Mbah Hasyim menyadari hal itu. Mbah Hasyim tidak serta merta merasa putus asa dan takut menghadapi akibat dari perjuangan yang dilakukannya, karena menurut beliau berjuang membela Tanah Air memang sudah semestinya dilakukan oleh semua orang di Negara ini tanpa terkecuali.

    Mempelajari kisah dan perjuangan dari para pendahulu bangsa, salah satunya dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari inilah, yang semestinya kita sebagai bagian dari Bangsa dan Negara ini insyaf dan sadar akan pentingnya sebuah perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan dengan melakukan hal-hal yang positif saat mengisi kemerdekaan seperti perjuangan membela kaum-kaum yang termarjinalkan. Dengan penuh rasa nasionalisme dan kesadaran Kebhinekaan antara satu dengan yang lainnya untuk bersatu membangun Bangsa dan Negara ini agar senantiasa Maju, Makmur dan Sejahtera.

    Petuah KH Hasyim Asy’ari :

    “Agama Dan Nasionalisme Adalah Dua Kutub Yang Tidak Berseberangan. Nasionalisme Adalah Bagian Dari Agama Dan Keduanya Saling Menguatkan.” (KH. Hasyim Asy’ari)