Blog

  • Kisah KH.As’ad Syamsul Arifin Saat Disuruh Mbah Kholil Bangkalan ( Pada Tahun 1924 )

    Kisah KH.As’ad Syamsul Arifin Saat Disuruh Mbah Kholil Bangkalan ( Pada Tahun 1924 )

    InfokomBanserNU- Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ro’. Saya ini pelat (cadal). “Arrohman Arrohim…”

    Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”

    “Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”

    Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.

    Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?”

    “Sudah Kyai.”

    “Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”

    “Tahu.”

    “Kok tahu? Pernah mondok di sana?”

    “Tidak. Pernah sowan.”

    “Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”

    “Ya, kyai.”

    “Kamu punya uang?”

    “Tidak punya, kyai.”

    “Ini.”

    Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

    Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?”

    “Ada kyai.”

    “Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?”

    Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

    وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

    “Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

    Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”

    Ada yang lain bilang: “Ini wali.”

    Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu.

    Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan.

    Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?”

    “Saya, Kyai.”

    “Anak mana?”

    “Dari Madura, Kyai.”

    “Siapa namanya?”

    “As’ad.”

    “Anaknya siapa?”

    “Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”

    “Anaknya Maimunah kamu?”

    “Ya, Kyai”

    “Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”

    “Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.”

    “Tongkat apa?”

    “Ini, Kyai.”

    “Sebentar, sebentar…”

    Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”

    Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

    وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

    “Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

    “Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.”

    Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak mengerti.

    Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang kamu?”

    “Ya, Kyai.”

    “Cukup uang sakunya?”

    “Cukup, Kyai.”

    “Saya cukup didoakan saja, Kyai.”

    “Ya, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.”

    Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.

    Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: “As’ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”

    “Tidak, Kyai.”

    “Hasyim Asy’ari?”

    “Ya, Kyai.”

    “Di mana rumahnya.”

    “Tebuireng.”

    “Dari mana asalnya?”

    “Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.”

    “Ya, benar. Di mana Keras?”

    “Di baratnya Seblak.”

    “Ya, kok tahu kamu?”

    “Ya, Kyai.”

    “Ini tasbih antarkan.”

    “Ya, Kyai.”

    Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

    Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: “Ke sini, makan dulu!”

    “Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”

    “Dari mana kamu dapat?”

    “Saya beli di jalan, Kyai”

    “Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”

    “Ya, Kyai.”

    Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: “Cukup itu?”

    “Cukup, Kyai.”

    “Tidak!”

    Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.

    “Ini.”

    Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. “Kok leher?”

    “Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”

    “Ya, kalau begitu.”

    Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.” Ada yang bilang “wali”, ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.

    Ada yang narik: “Karcis! karcis!”

    Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi Auliya’ itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

    Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: “Apa itu?”

    “Saya mengantarkan tasbih.”

    “Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”

    “Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).

    “Lho?”

    “Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su’ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”

    Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata Kyai?”

    “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”

    “Siapa yang berani pada NU akan HANCUR.
    Siapa yang berani pada ulama akan HANCUR.” Ini dawuhnya.

    ALLAHUMMA sholli ‘alaa sayyidina muhammad wa angzilhu almaq ‘ada almuqorrobba ‘indaka yaumal qiyyamah
    wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa barrik wa ssalim ajma’in

    (Ansor Pejogol)

  • LTMNU PC Temanggung dan NU-Care LAZISNU Temanggung adakan Rapat koordinasi Galakkan Sinergi

    LTMNU PC Temanggung dan NU-Care LAZISNU Temanggung adakan Rapat koordinasi Galakkan Sinergi

    InfokomBanserNU- Upaya Mewujudkan Sinkronisasi antar lembaga dan banom NU, jajaran Pengurus LTMNU PC Temanggung mengadakan rapat koordinasi dengan jajaran pengurus NU-Care Lazisnu PC Temanggung.

    Rapat ini dilaksanakan pada 16 Desember 2019 lalu, di Kantor PCNU Temanggung yang dihadiri oleh KH. Badarudin (Ketua LTMNU), KH. Masturi (WaKa LTMNU), KH. Saifurrahman(Ketua NU-Care LAZISNU), Haris (Media NU-Care LAZISNU) Beserta beberapa anggota jajaran kepengurusan LTMNU dan NU-Care LAZISNU Lainnya.

    Dalam rapat ini membahas sinkronisasi program LTMNU dengan NU-Care Lazisnu terkait alokasi dana pilar jaminan kesejahteraan Imam masjid, operasional Masjid dan Musholla, selain itu menekankan agar LTMNU selalu bergandengan erat dengan Lembaga dan Banom lain, Karena hal tersebuat adalah Satu-Satunya Cara akan terwujudnya sebuah sinergi antar lembaga dan banom yang solid yang nantinya akan dapat menghindari terjadinya miss komunikasi program kegiatan, yang kedepannya Semua program kegiatan akan berjalan lebih baik dan maksimal.

    Akhir pertemuan Rapat Ini dihangatkan dengan Beberapa pesan dari ketua, waka LTMNU, dan ketua lazisnu bahwa segala hal yang berkaitan dengan proker Semuanya harus tertata rapi dan tertarget. Untuk yang berkaitan dengan dedikasi KH. Masturi menyampaikan: “Hidmah di NU dituntut bukti bukan hanya sekedar simbul untuk gagah-gagahan.”

    Semoga Dengan adanya Rapat koordinasi ini Bisa menjadi bekal didalam mengawali pelaksanaan kinerja kepengurusan LTMNU PC Temanggung untuk menjadi yang lebih baik dan maju. Amin …

    Team media LTMNU PC Temanggung

     

  • Pubertas atau Aqil Baligh Dalam Agama Punya Sikap Suka Menyalahkan

    Pubertas atau Aqil Baligh Dalam Agama Punya Sikap Suka Menyalahkan

    InfokomBanserNU- Semua orang pernah mengalami pubertas beragama, tapi biasanya itu gak lama, asal terus belajar dan tak berhenti membaca.

    Di pesantren, santri kelas wushto yg lagi semangat belajar Nahwu pasti sensi banget saat lihat kosakata arab yang i’robnya salah. Santri Ulya senyum-senyum saja. “Maklum belum hatam Alfiyah” katanya.

    Waktu ngajinya masih Fathul Qorib, keluar dari kamar mandi jinjit-jinjit, sarung diangkat di atas betis karena takut najis. Waktu udah hatam Fathul Jawad, baru sadar kalau semua itu lebay dan melampau batas.

    Pada ngaku gak, waktu ngaji Sulam Taufiq dikit-dikit bilang Murtad dan Syirik.
    Tapi setelah mempelajari syarahnya, Isy’adur Rofiq jadi lebih arif dan gak asal kritik.
    Mereka yang baru belajar baca Quran Terjemah, baca ayat jihad yang terbayang perang dan darah.

    Coba selami tafsirnya, pasti paham bagaimana sulitnya menahan amarah demi tersebarnya islam yang rahmah. Semakin bertambah ilmu semakin ringan menyelesaikan persoalan.
    Ibarat balon yang diisi Hellium bisa terbang melayang. Beda sama yang ditiup dengan mulut, melembung tapi nggelundung.

    Ngaji itu tak kenal berhenti, dari bayi sampai mati.
    Apakah biar menang debat? Bukan. Tapi biar tahu kalau kita ini gak tahu.

    #NUgarislucu
    wes ngunu ae

    (wali)

  • Apa sih Ijma’- Qiyas….???

    Apa sih Ijma’- Qiyas….???

    PAC GP Ansor Pacet- Alasan kitab madzhab Syafi’i menyebut ijma’ dan qiyas sebagai landasan hukumBerdasarkan hadits:
    تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِى
    Maka landasan hukum di dalam Islam itu hanya dua, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Mengapa di dalam kitab-kitab madzhab Syafi’i ada dua masukan sebagai landasan hukum, ijma’ dan qiyas?Kalau menurut prinsip dari pendirian golongan syi’ah, memang ijma’ dan qiyas itu tidak dapat digunakan sebagai landasan Hukum. Akan tetapi bagi madzhab Syafi’i dan juga madzhab mu’tabar yang lain, menggunakan ijma’ dan qiyas sebagai landasan hukum itu, tidak menyimpang dari Al-Qur’an dan Hadits, sebab Al-Qur’an dan Hadits sendiri juga memerintahkan supaya kita menggunakan Ijma’ dan Qiyas.

    Kami persilahkan baca Al-Qur’an ayat 115 di dalam surat An-Nisa’:وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ اْلهَدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ اْلمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا. Barang siapa menentang Rasul sesudah terang petunjuk baginya dan menuruti selain jalannya ornag-orang mu’min, maka Allah membiarkan akan dia bersama apa yang dia sukai, dan Allah akan memasukkan dia di dalam neraka jahannam, sejelek-jelek tempat kembali.Hadits Shohihain:لاَتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَتِى ظَاهِرِيْنَ عَلىَ اْلحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ خِلاَفُ مَنْ خَالَفَهُمْ. Tidak henti-hentinya segolongan dari umatku, selalu terang-terangan bersama-sama membela hak (kebenaran), tidak mempengaruhi mereka tentangan orang-orang yang menentang kepadanya.

    Kami persilahkan baca ayat surat Al-Hasyr:فَاعْتَبِرُوْا يَا اُولِى اْلأَبْصَارِMaka ambil contohlah engkau, hai orang-orang yang mempunyai pengertian.Surat Amirul Mu’minin Umar bin Khottob yang ditujukan kepada Abi Musa Al-Asy’ari:َالْفَهْمَ اَلْفَهْمَ فِيْمَا اَدَّى إِلَيْكَ مِمَّا لَيْسَ فِى قُرْآنٍ وَلاَ فِى سُنَّةٍ، ثُمَّ قِسِ اْلأُمُوْرَ عِنْدَ ذَلِكَ Pahamilah! Pahamilah! Di dalam apa yang datang kepadamu, daripada yang tidak ada di dalam Al-Qur’an dan sunah Rasul, kemudian kiaskanlah perkara-perkara itu ketika perkara-perkara itu tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Hadits.(mjbr)

  • Akidah Seorang Mukmin – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Akidah Seorang Mukmin – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, InfokomBanserNU-

    بسم الله الرحمن الرحيم  Kemudian, seorang mukalaf minimal harus meyakini tafsiran dari kata-kata “tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.” Jika ia membenarkan Rasul saw., maka ia juga harus membenarkan beliau dalam hal sifat-sifat Allah Swt.

    Dia Zat Yang Maha hidup, Berkuasa, Mengetahui, Berbicara, dan Berkehendak Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan- Nya. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Namun, ia tak harus meneliti hakikat sifat-sifat Allah tersebut serta tak harus mengetahui apakah kalam dan ilmu Allah bersifat qadim atau baru. Bahkan, tak jadi masalah walaupun hal RI tak pernah terlintas dalam benaknya sampai ia matt dalam keadaan mukmin. Ia tak wajib mempelajari dalil dalil yang dikemukakan oleh para ahli kalam. Selama hatinya meyakini al-Haq, walaupun dengan iman yang tak disertai dahi dan argumen, ia sudah merupakan muk mi n. Rasulullah saw. tidak membebani lebih dari itu.

    Begitulah keyakinan global yang dimiliki oleh bangsa Arab dan masyarakat awam, kecuali mereka yan berada di negeri- negeri dimana masalah-masalah tentang qadim dan barunya kalam Allah, serta istiwa dan nuzul Allah, ramai diperdebatkan. Jika hatinya tak terlibat dengan hal itu dan hanya sibuk dengan ibadah dan amal salehnya, maka tak ada beban apa pun baginya. Namun, jika ia juga memikirkan hal itu, maka minimal ia harus mengakui keyakinan orang-orang salaf yang mengatakan bahwa Alquran itu qadim, bahwa Al- quran adalah kalam Allah, bukan makhluk, bahwa istiwa Allah adalah benar, bahwa menanyakan tentangnya adalah bidah, dan bahwa bagaimana cara istiwa itu tidak diketahui.

    Ia cukup beriman dengan apa yang dikatakan syariat secara global tanpa mencari-cari hakikat dan caranya. Jika hal itu masih tidak berguna juga, dimana hatinya masih bimbang dan ragu, jika memungkinkan, hendaknya keraguan tersebut dihilangkan dengan penjelasan yang mudah dipahami walaupun tidak kuat dan tidak memuaskan bagi para ahli kalam. Itu sudah cukup dan tak perlu pembuktian dalil. Namun, lebih baik lagi kalau kerisauannya itu bisa dihilangkan dengan dalil yang sebenarnya. Sebab, dalil tidak sempurna kecuali dengan memahami pertanyaan dan jawabannya. Bila sesuatu yang samar itu disebutkan, hatinya akan ingkar dan pemahamannya tak mampu menangkap jawabannya. Sebab, sementara kesamaran tersebut tampak jelas, jawabannya pelik dan membingungkan sehingga sukar dipahami akal. Oleh karena itu, orang-orang salaf tak mau mengkaji dan membahas masalah ilmu kalam. Hal itu mereka lakukan untuk kepentingan masyarakat awam yang lemah.

    Adapun orang-orang yang sibuk memahami berbagai hakikat, mereka memiliki telaga yang sangat membingungkan. Tidak membicarakan masalah ilmu kalam kepada orang awam adalah seperti melarang anak kecil mendekati pinggir sungai karena takut tenggelam. Sedangkan orang-orang tertentu diperbolehkan karena mereka mahir dalam berenang. Hanya saja, ini merupakan tempat yang bisa membuat orang lupa diri dan membuat kaki tergelincir, dimana, orang yang akalnya lemah merasa akalnya sempurna. Ia mengira dirinya bisa mengetahui segala sesuatu dan dirinya termasuk orang hebat. Bisa jadi, mereka berenang dan tenggelam dalam lautan tanpa ia sadari. Hanya segelintir orang saja dari mereka yang menempuh jalan para salaf dalam mengimani para rasul serta dalam membenarkan apa yang diturunkan Allah Swt. dan apa yang diberitakan Rasul-Nya dimana mereka tak mencari-cari dalil dan argumen. Melainkan, mereka sibuk dengan ketakwaan.

    Demikianlah, ketika Nabi saw. melihat para sahabatnya sibuk berdebat, beliau marah hingga memerah kedua pipi beliau dan berkata, “Apakah kalian diperintahkan untuk ini. Kalian mengumpamakan sebagian isi Kitabullah dengan yang lain. Perhatikan! apa yang Allah perintahkan pada kalian kerjakanlah, sedangkan yang dilarang kalian tinggalkan. ” Ini merupakan peringatan terhadap manhaj yang benar. Lengkapnya, hal itu kami jelaskan dalam kitab Qawa ’id al- Aqaa ’id.

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH

  • Hujjah Ahlissunnah Wal Jama’ah Membela Kebenaran Amaliah Nahdhiyyin

    Hujjah Ahlissunnah Wal Jama’ah Membela Kebenaran Amaliah Nahdhiyyin

    [pdf-embedder url=”https://wp.sorbansantri.com/wp-content/uploads/2020/01/Hujjah_Ahlissunnah_Wal_Jamaah_KH.pdf”]

  • 20 Pemabuk Tobat Di Hadapan Habib Munzir

    20 Pemabuk Tobat Di Hadapan Habib Munzir

    Kisah, InfokomBanserNU- Seorang miskin sedih dan nangis. Anaknya meninggal, tapi masyarakat dan ustadz sekitarnya tak mau menshalatkan dan menguburkan di kuburan umum. Kenapa? Anaknya seorang pemuda yang nakal, narkoba, pemabuk, dan seabrek label nagatif lainnya. Sebelum meninggal, pemuda itu bertaubat, mencium kaki ibunya dan meminta maaf kepada ibunya. Tak lama setelah itu, pemuda itu wafat.

    Mendengar kabar ini, Habib Mundzir langsung meluncur menuju rumah duka. Saat itu sudah larut malam, karena Habib Mundzir sedang dalam sebuah acara.

    “Habib, jangan masuk rumah saya. Saya orang miskin, tidak mampu memberi apa-apa buat Habib. Saya tak mampu memberi amplop, ya Habib,” kata lelaki tua yang tak lain adalah ayah dari pemuda yang meninggal. Si ayah itu memang orang miskin, sehingga tak berani menerima tamu ustadz karena takut memberi amplop.

    SORBANSANTRI.COM
    Habib Munzir

    Habib Mundzir tergetar hatinya. Merasa sedih dan malu melihat kondisi bapak itu. Akhirnya, dengan lemah lembut Habib mengajak orang tua itu masuk rumahnya. Habib melihat ruangan tamu dengan dinding tanah, tembok yang kusut, lampu yang redup. Di ruang tamu itu ada 20 anak muda gondrong yang terdiam, teman anaknya yang baru saja meninggal.

    “Anak saya dikuburkan di sebelah rumah, dan belum dingajikan karena saya tak mampu membayar orang yang mengaji. Paketnya 300 ribu (saat itu-red),” kata pak tua itu. .

    Melihat kondisi demikian, Habib Mundzir kemudian memerintah kepada jamaahnya agar mengerahkan 100 orang mengaji Al-Qur’an dan dzikir secara bergantian sampai 3 hari 3 malam. Semua kebutuhan konsumsi ditanggung semua oleh Habib.

    Habib Mundzir kemudian mendatangi makam pemuda tadi, berdoa kemudian menyampaikan tausiyah singkat. Subhanallah! 20 anak muda yang menjadi teman narkoba dan mabuk itu akhirnya taubat bersama Habib Mudzir. Mereka berjanji belajar ngaji, bekerja dengan baik, menikah, dan meninggalkan kemaksiatan.

    “Habib, anak saya itu matinya disiksa Allah kah..?,” pak tua bertanya karena masih bersedih, walaupun juga gembira karena 20 pemuda itu bertaubat.

    (kalam ulama’)

  • Menasehati Diri cara Islam – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Menasehati Diri cara Islam – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, InfokomBanserNU-

    بسم الله الرحمن الرحيم Berbicara tentang nasihat, aku melihat diriku tak pantas untuk memberikannya. Sebab, nasihat seperti zakat. Nisab-nya adalah mengambil nasihat atau pelajaran untuk diri sendiri.  Siapa yang tak sampai pada nisab, bagaimana ia akan  mengeluarkan zakat? Orang yang tak memiliki cahaya tak  mungkin dijadikan alat penerang oleh yang lain. Bagaimana bayangan akan lurus bila kayunya bengkok? Allah Swt.

    mewahyukan kepada Isa bin Maryam, “Nasihatilah dirimu! Jika engkau telah mengambil nasihat, maka nasihatilah orang-orang. Jika tidak, malulah kepada-Ku.” Nabi kita saw bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.” Pemberi nasihat yang berbicara adalah Alquran, sedangkan yang diam adalah kematian. Keduanya sudah cukup bagi mereka yang mau mengambil nasihat. Siapa yang tak mau mengambil nasihat dan keduanya, bagaimana ia akan menasihati orang lain? Aku telah menasihati diriku dengan keduanya. Lalu aku pun membenarkan dan menerimanya dengan ucapan dan akal, tapi tidak dalam kenyataan dan perbuatan. Aku berkata pada diri ini, “Apakah engkau percaya bahwa Alquran merupakan pemberi nasihat yang berbicara dan juru nasihat yang benar, serta merupakan kalam Allah yang diturunkan tanpa ada kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya?” Ia menjawab, “Benar.” Allah Swt. berfirman, “Siapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepadanya balasan amal perbuatan mereka dii dunia dan mereka di dunia ini tak akan dirugikan. Mereka itulah yang tidak akan memperoleh apa-apa di akhirat kecuali neraka. Dan gugurlah semua amal perbuatan mereka serta batallah apa yang mereka kerjakan ” (Q.S. Hud: 15-16).

    Allah Swt. menjanjikan neraka bagimu karena engkau menginginkan dunia. Segala sesuatu yang tak menyertaimu setelah mati, adalah termasuk dunia. Apakah engkau telah membersihkan diri dan keinginan dan cinta pada dunia? Seandainya ada seorang dokter Nasrani yang memastikan bahwa engkau akan mati atau sakit jika memenuhi nafsu syahwat yang paling menggiurkan, niscaya engkau akan takut dan menghindarinya. Apakah dokter Nasrani itu lebih engkau percayai ketimbang Allah Swt.? Jika itu terjadi, betapa kufurnya engkau! Atau apakah menurutmu penyakit itu lebih hebat dibandingkan neraka? Jika demikian, betapa bodohnya engkau ini! Engkau membenarkan tapi tak mau mengambil pelajaran. Bahkan engkau terus saja condong kepada dunia. Lalu aku datangi diriku dan kuberikan padanya juru nasihat yang diam (kematian). Kukatakan, “Pemberi nasihat yang berbicara (Alquran) telah memberitahukan tentang pemberi nasihat yang diam (kematian), yakni ketika Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kematian yang kalian hindari akan menjumpai kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada alam gaib. Lalu Dia akan memberitahukan kepada kalian tentang apa yang telah kalian kerjakan’ (Q.S. al- Jumuah: 8).” Kukatakan padanya, “Engkau telah condong pada dunia. Tidakkah engkau percaya bahwa kematian pasti akan mendatangimu? Kematian tersebut akan memutuskan semua yang kau punyai dan akan merampas semua yang kau senangi. Setiap sesuatu yang akan datang adalah sangat dekat, sedangkan yang jauh adalah yang tidak pernah datang. Allah Swt. berfirman, ‘Bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kenikmatan pada mereka selama beberapa tahun? Kemudian datang pada mereka siksa yang telah dijanjikan untuk mereka? Tidak berguna bagi mereka apa yang telah mereka nikmati itu. ’ (Q.S. asySyuara: 205-206).”

    SORBANSANTRI.COM
    BIDAYATUL HIDAYAH

    Jiwa yang merdeka dan bijaksana akan keluar dari dunia sebelum ia dikeluarkan darinya. Sementara jiwa yang lawwamah (sering mencela) akan terus memegang dunia sampai ia keluar dari dunia dalam keadaan rugi, menyesal, dan sedih. Lantas ia berkata, “Engkau benar.” Itu hanya ucapan belaka tapi tidak diwujudkan. Karena, ia tak mau berusaha sama sekali dalam membekali diri untuk akhirat sebagaimana ia merancang dunianya. Ia juga tak mau berusaha mencari rida Allah Swt. sebagaimana ia mencari rida dunia. Bahkan, tidak sebagaimana ia mencari rida manusia. Ia tak pernah malu kepada Allah sebagaimana ia malu kepada seorang manusia. Ia tak mengumpulkan persiapan untuk negeri akhirat sebagaimana ia menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musim kemarau. Ia begitu gelisah ketika berada di awal musim dingin manakala belum selesai mengumpulkan perlengkapan yang ia butuhkan untuknya, padahal kematian barangkali akan menjemputnya sebelum musim dingin itu tiba.

    Kukatakan padanya, “Bukankah engkau bersiap-siap menghadapi musim kemarau sesuai dengan lama waktunya lalu engkau membuat perleng- kapan musim kemarau sesuai dengan kadar ketahananmu menghadapi panas?” Ia menjawab: “Benar.” “Kalau begitu”, kataku, “Bermaksiatlah kepada Allah sesuai dengan kadar ketahananmu menghadapi neraka dan bersiap-siaplah untuk akhirat sesuai dengan kadar lamamu tinggal di sana.” Ia menjawab, “Ini merupakan kewajiban yang tak mungkin diabaikan kecuali oleh seorang yang dungu.” Ia terus dengan tabiatnya itu. Aku seperti yang disebutkan oleh para ahli hikmat, “Ada segolongan manusia yang separuh dirinya telah mati dan sepatuhnya lagi tak tercegah.” Aku termasuk di antara mereka. Ketika aku melihat diriku keras kepala dengan perbuatan yang melampaui batas tanpa mau mengambil manfaat dari nasihat kematian dan Alquran, maka yang paling utama harus dilakukan adalah mencari sebabnya disertai pengakuan yang tulus.

    Hal itu merupakan sesuatu yang menakjubkan. Aku terus-menerus mencari hingga aku menemukan sebabnya. Ternyata aku terlalu tenang. Oleh karena itu berhati-hatilah darinya. Itulah penyakit kronis dan sebab utama yang membuat manusia tertipu dan lupa. Yaitu, keyakinan bahwa maut masih lama. Seandainya ada orang jujur yang memberikan kabar pada seseorang di siang hari bahwa ia akan mati pada malam nanti atau ia akan mati seminggu atau sebulan lagi, niscaya ia akan istikamah berada di jalan yang lurus dan pastilah ia meninggalkan segala sesuatu yang ia anggap akan menipunya dan tidak mengarah pada Allah SWT.

    Jelaslah bahwa siapa yang memasuki waktu pagi sedang ia berharap bisa mendapati waktu sore, atau sebaliknya siapa yang berada di waktu sore lalu berharap bisa mendapati waktu pagi, maka sebenarnya ia lemah dan menunda-nunda amalnya. Ia hanya bisa berjalan dengan tidak berdaya. Karena itu, aku nasihati orang itu dan diriku juga dengan nasihat yang diberikan Rasullah saw ketika beliau bersabda, ” Salatlah seperti salatnya orang yang akan berpisah (dengan dunia). ” Beliau telah diberi kemampuan berbicara dengan ucapan yang singkat, padat, dan tegas.

    Itulah nasihat yang berguna. Siapa yang menyadari dalam setiap salatnya bahwa salat yang ia kerjakan merupakan salat terakhir, maka hatinya akan khusyuk dan dengan mudah ia bisa mempersiapkan diri sesudahnya. Tapi, siapa yang tak bisa melakukan hal itu, ia senantiasa akan lalai, tertipu, dan selalu menunda-nunda hingga kematian tiba. Hingga, pada akhirnya ia menyesal karena waktu telah tiada.

    Aku harap ia memohonkan kepada Allah agar aku diberi kedudukan tersebut karena aku ingin meraihnyg tapi tak mampu. Aku juga mewasiatkan padanya agar hanya rida dengannya dan berhati-hati terhadap berbagai tipuan yang ada. Tipuan jiwa hanya bisa diketahui oleh mereka yang cendekia.

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH

     

     

     

  • ACHJAD, KONSTITUANTE NO 468

    ACHJAD, KONSTITUANTE NO 468

    SORBANSANTRI.COM

    Berdasar biodata keanggotaan

    Achjad adalah anggota Konstituante dari fraksi partai NU. Lahir di Mojokerto, 6 Maret 1918 dan bertempat tinggal di Jl. Midji 34 Kota Mojokerto Jawa Timur. Menjadi anggota Konstituante hasil pemilihan tahun 1955 mewakili Propinsi Jawa Timur dengan nomer anggota 468. Sedangkan di fraksi NU mendapat nomer urut 86. Terklasifikasi sebagai anggota biasa karena tidak memegang jabatan struktural di lembaga perumus konstitusi tersebut.

    Pendidikan yang dilaluinya mulai dari Sekolah Rakyat (SR) Midji, sekolah setingkat SD pada jaman penjajahan Belanda. Melanjutkan ke pesantren Tebuireng Jombang sekaligus masuk ke sekolah Madrasah Nidomiyah (SMN). Madrasah tersebut memberi pelajaran setara MULO (SMP) pada masa itu.

    Sepulang dari pesantren masuk ke organisasi NU dan dipercaya menjabat Sekretaris NU Cabang Mojokerto pada tahun 1938. Mendirikan Gerakan Pemuda Ansor bersama kawan-kawan pemuda muslim lainnya tahun 1939 dan ditunjuk sebagai ketua Cabang Ansor Mojokerto untuk pertama kalinya. Rangkap jabatan sebagai sebagai sekretaris NU dan Ketua Ansor itu dijalani hingga tahun 1942 saat dirinya diberi amanah memegang jabatan Ketua Cabang NU Mojokerto.

    Saat penjajah Jepang masuk, Achjad dijadikan Ken-Sidoom Mojokerto. Entah jabatan apa itu. Namun jika melihat kata Ken yang artinya Kabupaten maka itu bagian dari struktur lembaga formal yang disirikan oleh Jepang. Pada masa itu pula beliau membidani lahirnya Barisan Hizbullah/Sabilillah di Mojokerto.

    Pada masa perjuangan kemerdekaan aktif sebagai komandan kompi dalam kesatuan Lasykar Hizbullah hingga kemudian kesatuan itu dilebur menjadi satu TNI. Jabatan yang diemban tetap sebagai komandan kompi 34 di kesatuan Batalyon (Bn) 39 pimpinan Mayor Moenasir Ali tahun 1948. Achjad kemudian ditetapkan sebagai Kepala Markas atau kepala staf Bn 39 dengan pangkat Kapten mulai tahun 1949 hingga mundur dari TNI pada tahun 1952.

    Pengabdiannya di masyarakat dilanjutkan dengan menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Sementara (DPRDS) Kota Kecil Mojokerto. Saat pemilihan anggota Konstituante namanya masuk menjadi salah satu yang terpilih mewakili Partai NU. Achjat dilantik sebagai anggota Konstituante pada tanggal 9 Noperber 1955. Pada akhirnya kembali pulang ke Mojokerto saat Konstituante dibubarkan dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

    Mengelo, 4 Maret 2018

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • BUKU MENJERAT GUS DUR AGENDA PELENGSERAN PRESIDEN

    BUKU MENJERAT GUS DUR AGENDA PELENGSERAN PRESIDEN

    InfokomBanserNU- Haul Gus Dur tahun ini agak beda. Haul terasa lebih hangat karena bersamaan dengan peluncuran buku “Menjerat Gus Dur”. Di buku itu misalnya dikisahkan soal agenda pelengseran Presiden Gus Dur. Tak main-main, buku itu menyebut sejumlah nama yang terlibat dalam skenario pelengseran itu.

    Buku itu berguna terutama bagi generasi belakangan yang tidak hidup di era Presiden Gus Dur. Tapi bagi generasi senior yang membaca koran, tabloid serta majalah yang menarasikan pernyataan para tokoh politik kontra Gus Dur saat itu, buku ini lebih bersifat komplementer. Sebab, pelengseran Gus Dur itu bukan agenda tersembunyi. Betapa sejumlah tokoh bicara di TV dengan terus terang menyatakan keinginannya menjatuhkan Gus Dur.

    Sejumlah pimpinan organisasi kemahasiswaan bukan hanya turun ke jalan memprotes Gus Dur. Mereka juga wira-wiri masuk TV untuk menegaskan kegeramannya pada Gus Dur. Jika aktivis angkatan 98 bangga berhasil menurunkan Soeharto, maka beberapa aktivis mahasiswa angkatan 2000 menepuk dada dengan bangga karena sukses menurunkan Gus Dur. Padahal, jelas beda antara Gus Dur dan Pak Harto.

    Apapun itu, sejarah politik kekuasaan Indonesia perlu terus ditulis agar generasi mendatang bisa mengambil pelajaran. Bahwa bukan hanya pemimpin zalim yang bisa jatuhkan, pemimpin bersih seperti Gus Dur pun bisa dilengserkan. Saya jadi ingat pepatah Arab, “al haqqu bila nizham yaghlibuhu al bathil bi nizham”.

    Selasa, 31 Desember 2019
    Salam,

    Cc Abdul Moqsith Ghazali

    (post.muhammad khoirunnadzirin)