Blog

  • KYAI NAWAWI YANG MENEPATI JANJI

    KYAI NAWAWI YANG MENEPATI JANJI

    SORBANSANTRI.COMKisah pemakaman Syuhada Kemerdekaan

    Selasa, 23 Agustus 1946, Mojokerto diliputi duka. Seorang syuhada telah tiada, pergi menghadap padanya. Keinginannya untuk gugur di medan perjuangan tercapai dan kepergiannya diiringi berjuta doa.

    Kyai Nawawi adalah Rois Syuriah NU Mojokerto kedua setelah meninggalnya Kyai Zainal Alim. Kyai berpostur kecil itu dikenal memiliki keberanian yang besar. Meskipun menduduki berbagai jabatan tetapi dia tidak pernah tinggal diam di garis belakang. Beliau lebih senang ikut bertempur di garis depan untuk memberi tauladan pada anak buahnya, para anggota Lasykar Sabilillah Mojokerto yang dipimpinnya.

    Kerap kali ulama asal Desa Kemantren Mojokerto itu berkata, “Kalau kalian kurang giat saya pimpin, kalian akan saya tinggal. Saya ingin bertemu bidadari di akhirat nanti..”. Kalimat yang beliau tunjukkan dengan menolak mundur ketika lawan mengepungnya di dusun Botokan Desa Plembungan Sukodono Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 22 Agustus 1946.

    Pada tubuhnya terdapat beberapa tusukan bayonet, salah satunya tepat di lehernya. Darah segar terus mengucur dari tubuhnya. Kyai pemberani itu memang menjadi incaran lawan. Dan hari itu, di belakang rumah H. Nur Hasan, jenazahnya diketemukan.

    Jasad Kyai Nawawi berhasil diselamatkan setelah pasukan pejuang membunuh semua pasukan lawan yang mengeroyok sang kyai. Pada hari itu juga jenazahnya dibawa pulang ke Mojokerto.

    Gugurnya Kyai Nawawi cepat menyebar di daerah asalnya. Ribuan orang sudah menyambut memenuhi halaman stasiun Mojokerto. Ketika diturunkan dari gerbong kereta api yang membawanya dari stasiun Tarik langsung disambut dengan Isak tangis kesedihan. Cucuran air mata yang berbaur dengan tetesan darah segar yang masih keluar saat Kyai Nawawi dibawa ke langgar Jagalan, rumahnya.

    Esok pagi, pemakaman sudah ditetapkan. Keluarga beliau memilih komplek pemakaman umum Losari Gedeg sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Tawaran untuk dimakamkan di Taman Bahagia Mojokerto, sekarang disebut Taman Makam Pahlawan Gajah Mada, ditolak dengan alasan pesan Kyai Nawawi yang ingin dimakamkan bersama warga lainnya. Ya, beliau ingin tetap bersama warga lainnya sebagai orang biasa.

    Proses pemakaman berlangsung haru. Ribuan pelayat berdatangan dari berbagai penjuru. Saat keranda diberangkatkan, pengiring berjejal di sepanjang jalanan dari rumah hingga komplek makam yang berjarak sekitar 2 kilo meter tersebut. Saking banyaknya orang, untuk masuk dan menyaksikan pemakaman pun sulit sekali.

    Upacara pemakaman dipimpin oleh Kyai Abdul Ghani, penghulu Mojokerto. Para pejabat pemerintahan dan komandan militer ikut menyaksikan untuk memberi penghormatan terakhir pada Kyai yang berprofesi sebagai tukang jahit tersebut. Dan ribuan orang menjadi saksi bahwa beliau adalah syuhada yang gugur membela negeri. Kyai Nawawi menepati janji sekaligus menunjukkan bagaimana melaksanakan Fatwa Jihad gurunya, Mbah Hasyim Asy’ari.

    Besarnya perhatian rakyat Mojokerto saat pemakaman berlangsung menunjukkan betapa beliau sangat dihormati. Sebagai tokoh penting kala itu, Kyai Nawawi tidak segan mendampingi langsung para pejuang republik bertempur di garis depan. Wafatnya beliau sedemikian heroik dengan tidak menyerah meski telah dikepung musuh. Pada akhirnya, seperti yang dinadzarkannya, Kyai Nawawi memenuhi takdirnya sebagai syuhada, syahid di medan laga

    Untuk mengenang jasa Kyai Nawawi dibuatlah monumen sederhana di lokasi gugurnya sang Syuhada. Monumen itu dibuat atas prakarsa Kyai Achyat Chalimy, Ketua NU Mojokerto yang sekaligus meresmikannya dengan menandatangani prasasti.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • Kiai Maksum Lasem dan “Rahasia” Shalawat Nariyyah

    Kiai Maksum Lasem dan “Rahasia” Shalawat Nariyyah

    SORBANSANTRI.COM

    Ada tiga tokoh besar dari Lasem, Rembang, yang memainkan peranan penting dalam sejarah pendirian NU: Kiai Maksum (ayahanda dari Kiai Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta), Kiai Baidlawi, dan Kiai Kholil (ini bukan Kiai Kholil Kasingan; beliau juga pendiri dan pengasuh Pondok al-Nur Lasem).

    Ketiga sosok ini adalah salah satu pendiri NU, dan hidup segenerasi dengan Hadlratusysyaikh Hasyim Asy’ari (kakek Gus Dur). Konon, Mbah Hasyim (begitu beliau sering dipanggil) memanggil Kiai Maksum dengan sebutan “Kangmas”, karena dari segi umur, beliau satu tahun lebih muda dari kiai Lasem itu.

    Berkat jasa-jasa mereka ini, Lasem diberikan status “istimewa” hingga sekarang sebagai Cabang Khusus NU (PCNU Lasem). Padahal status “cabang” hanya berlaku untuk daerah setingkat kabupaten, sementara Lasem hanyalah kota kecamatan. Status ini jelas untuk menghargai kota Lasem yang telah “menyumbangkan” tiga kiai penting dalam barisan pendiri NU.

    Kisah berikut ini saya terima dari Gus Zaim (cucu Kiai Maksum Lasem, dan putera Kiai Ahmad Syakir bin Kiai Maksum). Sementara Gus Zaim menerima kisah ini dari Kiai Imron Hamzah (pernah menjabat sebagai Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur). Kisah berikut ini berkaitan dengan tradisi salawat Nariyyah yang amat populer di kalangan nahdliyyin.

    Di Lasem dan beberapa pesantren di seluruh Jawa, ada tradisi membaca salawat Nariyyah sebanyak 4444 kali dengan “kaifiyyah” atau cara tertentu (kalau kaifiyyah-nya ndak pas, tentu kurang “mandi” alias efektif). Tetapi, model salawat Nariyyah yang di-ijazah-kan oleh Kiai Maksum, menurut penuturan Gus Zaim, berbeda dari (berbeda “dari”, bukan “dengan”) versi yang umum beredar.

    Versi Kiai Maksum: “… ‘ala Muhammadin tanhallu bihi al-‘uqad…,” tanpa kata sambung “alladzi” sebagaimana versi yang biasa kita dengar.

    Konon, ini adalah versi salawat Nariyyah yang diwarisi oleh Kiai Maksum dari leluhurnya yang berasal dari tanah Minangkabau: Sultan Mahmud atau Sunan Mingkabau (dimakamkan di kawasan Bonang, sebelah timur Lasem). Menurut beliau, versi ini lebih “cespleng” dari “versi alladzi” yang umum dipakai.

    Suatu saat, Kiai Imron Hamzah yang juga santri Kiai Maksum itu, memberanikan diri untuk bertanya: “Kiai, kenapa kok salawat ini dibaca 4444? Kenapa harus sebanyak itu? Apa alasannya?”

    “Begini ya, Cung,” kata Kiai Maksum, menjawab dengan sabar pertanyaan Imron Hamzah muda. “Setiap angka itu ada sirr-nya, ada rahasianya.” Kiai Maksum berhenti sejenak. Tetapi Imron Hamzah muda ndak sabar, lalu menyergah dengan nada agak meninggi:

    “Apa RAHASIANYA, Kiai?”

    Dengan santai, Kiai Maksum menjawab: “Ya saya ndak tahu. Kalau saya tahu, namanya bukan sirr, bukan rahasia lagi.”

    Lemaslah Kiai Imron Hamzah. 😁😁😁

    Penulis: Kiai Ulil Abshar Abdalla

  • Yang terlupakan dan dilupakan oleh “Mereka Disana”

    Yang terlupakan dan dilupakan oleh “Mereka Disana”

    Infokom NU Mojokerto: Kami tetap ber-ziarah meskipun pengikut engkau tidak men-ziarahimu

    Karena kami tahu engkau pahlawan Bangsa yang sealiran,seaqidah dan seguru dengan maha guru Kami. Meskipun generasi pengikut engkau telah sedikit demi sedikit membelokan ajaran Aqidahmu. Semoga Engkau dikumpulkan dan dipertemukan dengan Maha guru kami ditempat yang sangat Mulia. AMIN….

    AL FATIHAH.

    By.Chisbulloh/Irul infokom

  • SENJATA YANG BIKIN JERA LASKAR HIZBULLAH DI PERTEMPURAN PACET

    SENJATA YANG BIKIN JERA LASKAR HIZBULLAH DI PERTEMPURAN PACET

    Tidak menyangka jika mortir yang sudah diarahkan pada posisi lawan itu tidak bisa jalan. Tiba tiba ledakan terjadi dan laras senjata pelontar mortir itu meledak keras. Akibatnya, lima orang pejuang yang ada di dekat ledakan mortir harus kehilangan nyawa. Mereka gugur bukan karena peluru musuh, nyawa para pejuang melayang sebab senjata buatan sendiri.

    Kisahnya….

    Udara dingin menyelimuti kawasan Pacet Mojokerto. Pada gelap malam beberapa orang mengendap-endap ditepian jalan. Seolah tidak ingin langkahnya terdengar orang lain. Sebentar lagi matahari akan muncul dari balik pepohonan di Pacet Mojokerto. Matahari saat itu juga menandakan bahwa tahun sudah berganti, tanggal 1 Januari 1949. Suasana senyap karena semalam ada pesta di kota kecil di lereng gunung Welirang yang berhawa dingin. Serdadu Belanda yang ada di sana masih lelap dalam mimpi setelah menggelar pesta akhir tahun, atau mungkin mereka sedang mabok minuman keras yang disajikan dalam pesta tersebut. Satu regu serdadu dibawah pimpinan Kapten Schumacher tidak menyadari jika mereka telah dikepung para pejuang.

    Pada kegelapan malam, kesatuan tempur Batalyon 42 yang lebih dikenal dengan nama Bn Mansyur menyiapkan posisi. Sebuah bangunan villa yang digunakan sebagai markas oleh KNIL dikepung rapat. Selain itu, Mayor Mansyur juga telah membagi anggotanya menjaga ruas jalan dari arah Mojokerto dan Mojosari ke arah Pacet. Hari itu kesatuan tempur yang berasal dari Lasykar Hizbullah ingin memberi kado tahun baru pada musuhnya, penjajah Belanda. Selain itu, Mayor Mansyur Solikhi, komandan batalyon 42 juga ingin membalas serangan udara Belanda di Gumeng yang menyebabkan gugurnya puluhan orang pejuang.

    Ketika fajar mulai menyingsing, aba-aba memulai tembakan diberikan. Suara tembakan dengan peluru yang diarahkan pada markas serdadu Belanda membuat penghuninya gelagapan. Beberapa diantara serdadu yang rata rata berusia muda itu tumbang tersambar peluru pejuang. Beberapa diantara mereka berhasil meraih senjata dan mencoba memberi perlawanan dengan membalas tembakan. Namun efek minuman keras belum sepenuhnya hilang sehingga bidikan mereka tidak tepat sasaran. Dalam kondisi tubuh setengah sadar semacam itu maka sebagus apapun senjata mereka menjadi tidak berguna. Asrama serdadu Belanda menjadi tempat mereka meregang nyawa. Satu persatu mereka tewas tepat di hari pertama tahun 1949. Tidak sampai satu jam tembakan dari markas lawan terdiam. Para pejuang mulai maju memeriksa keadaan, tetap dengan kesiagaan. Sebagian lawan yang mencoba bersembunyi berhasil diketahui dan dihajar tembakan juga. Seluruh serdadu Belanda di Pacet tumpas.

    Rupanya, sebelum meninggal dunia, mereka telah menghubungi Markas induk pasukannya. Maka tidak lama kemudian datanglah bantuan dari arah Pangeran dan juga dari jurusan Mojosari. Tujuannya jelas untuk menyelamatkan kawannya yang sedang diserang pejuang Hizbullah itu. Kedatangan mereka segera dihadang oleh para pejuang yang memang sudah menduga akan kehadiran mereka.

    Dari arah Pugeran, pasukan Belanda datang dengan mengendarai beberapa truk. Ketika sampai di desa Kemiri pejuang menyambutnya dengan tembakan dari senjata tinggalan Jepang dan senjata rampasan lawan. Truk musuh berhenti dan penumpangnya berhamburan mengambil posisi. Tetapi situasi dan tempat yang diambil pejuang lebih menguntungkan. Dengan posisi terbuka dengan mudah musuh menjadi sasaran tembakan. Mereka kemudian mundur dengan membawa serdadu yang luka atau mungkin juga meninggal dunia.

    Pertempuran hebat terjadi pada jalur arah Mojosari. Pasukan Belanda datang bukan hanya mengendarai truk, mereka juga membawa tank dan panser. Para pejuang menggunakan batu besar dan pematang sawah.sebagai perlindungan dengan gencar menghujani tembakan. Sebuah senjata kaliber 20 mm berhasil menghambat laju lawan. Panser yang berjalan di depan pasukan terpaksa berhenti oleh tembakan senapan mesin pejuang. Tembak menembak dengan sengitnya terjadi. Hari mulai siang, pertarungan senjata belum juga berhenti.

    Tiba-tiba di langit Pacet menderu dua pesawat pemburu Mustang buatan Amerika yang dimiliki angkatan udara Belanda. Melihat itu, senapan mesin 20 mm segera diarahkan ke udara. Peluru menghambur dari pesawat itu menghujani para pejuang. Meski merepotkan namun peluru lawan tidak ada yang menemui sasaran. Ketika pesawat dengan cocor dicat merah itu berputar dan siap kembali menyerang, satu diantaranya jatuh diterjang peluru kaliber 20 mm. Satu lainnya memilih kembali ke pangkalannya di Surabaya.

    Konsentrasi pertempuran kembali ke daratan. Pasukan lawan mulai menggunakan meriam untuk mendesak posisi pejuang republik yang bertahan dibalik bebatuan. Mendapat serangan senjata berat, para pejuang tidak mau kalah. Kompi pejuang yang menghadang itu juga memiliki sebuah pelontar mortir. Senjata itu didapatkan dari pembagian markas tentara pimpinan Mayor Jendral Soengkono bikinan pabrik Mrican Kediri. Beberapa orang pejuang menyiapkan mortir. Setelah bidikan dianggap tepat, peluru mortir dimasukkan ke larasnya. Sayang peluru mortir tidak terlontar, bahkan peluru itu meledak pada larasnya. Lima orang pejuang gugur dalam insiden tersebut.

    Akhirnya, ketika hari menjelang senja, musuh memilih mundur balik ke Mojosari. Pertempuran yang berlangsung sepanjang hari itu dimenangkan pejuang dari batalyon Mansyur. Kemenangan gemilang karena berhasil menguasai Pacet. Selain itu, sebuah pesawat cocor merah dapat ditembak jatuh. Pesawat itu cukup ditakuti sebab telah membawa banyak korban pada pejuang, salah satunya di Gumeng. Keberhasilan menembak jatuh pesawat itu menjadi sebuah kebanggaan. Tentu mereka juga bangga dapat mengalahkan puluhan serdadu musuh yang ditempatkan di Pacet. Korban lain, baik luka ataupun meninggal di Kemiri maupun Pandanarum tidak diketahui karena musuh bisa mengevakuasinya.

    Seharusnya tidak ada korban jiwa dari batalyon Mansyur seandainya tidak ada insiden ledakan mortir milik sendiri. Karena kecelakaan itu Mayor Mansyur tidak mau lagi menggunakan senjata pelontar mortir buatan Mrican tersebut. Para pejuang dari Hizbullah jera dan khawatir peristiwa semacam itu terulang lagi. Mereka jelas tidak ingin ada lagi korban sia-sia.

    Senjata pelontar bom buatan Mrican itu memang dimodifikasi dari bahan yang ada disekitarnya. Komponen tidak dibuat khusus untuk kebutuhan senjata. Larasnya mengginakan bekas tiang telepon yang dipotongbyang kadang tidak presisi dengan ukuran pelurunya. Meskipun dikerjakan dengan perlatan seadanya oleh para pelajar sekolah teknik, mortir semacam itu cukup membantu mencukupi kebutuhan senjata bagi prajurit republik. Insiden pecahnya laras mortir mungkin bukan yang pertama. Mungkin juga di kesaruan lainnya mortir Mrican bisa beroperasi tanpa kendala

    Pada waktu membuat buku tentang Hizbullah Mojokerto, saya penasaran pada bentuk fisik mortir Mrican. Dan baru tahu saat berkunjung ke museum brawijaya Malang. Ada satu mortir buatan benkel PG Mrican dipajang di sana.

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • LOYALITAS “ANSOR” TANPA BATAS

    LOYALITAS “ANSOR” TANPA BATAS

    Infokom NU Mojokerto : Semangat dan loyalitas sahabat sahabat PAC GP Ansor Jetis Kab.Mojokerto di buktikan pada hari Sabtu,tgl 29 Febuari 2020,pukul 19.30wib. Karena di tengah tengah guyuran hujan sejak sore hari , belum lagi untuk menuju lokasi harus melewati perbukitan serta jalan nya licin dan terjal dan terkendali.

    Hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk mengumandangkan zdikir dan sholawat untuk menggapai Ridho Illahi. Bertempat di PP. Annur Ridhotilah yang berada di puncak bukit Jetis dan area terpencil yang dikelilingi sawah dan perkebunan itu berlangsung dengan meriah dan hikmat ..

    Dalam kesempatan itu tuan rumah yang juga pengasuh PP.Annur Ridhotilah yaitu KH Ahmad Jufri dalam sambutanya menyampaikan:”Saya sangat terharu terhadap semangat sahabat sahabat Ansor PAC Jetis dalam menghidupkan gerakan Ansor di wilayah Jetis dan mengingatkan betapa pentingnya jiwa memiliki organisasi” beliau melanjutkan sambutanya: “Jika di dalam jiwa sudah ada perasaan memiliki dan kemauan sendiri untuk berjuang insya Allah seberat apapun tugas dan tanggung jawab itu akan terasa ringan dan mudah”

    Arahan dan Sambutan KH.Ahmad Jufri

    SORBANSANTRI.COM

    Tidak mau kalah loyal dengan ANSOR,… Barisan Ansor Serbaguna(BANSER) juga turut mensupport dan mengawal dengan setia perjuangan Ahlisunnah Waljamaah ini . Benteng pertahanan Annahdliyah PAC Jetis yang di pimpin langsung kasatkoryon (Muhammad Isa) ini mengerahkan sebagian pasukan BANSER sekitar 25 personil, ini masih sebagian karena BANSER se Kec.Jetis lebih dari 100 personil.

    Suasana waktu mengaji khitab

    SORBANSANTRI.COM

    Adapun puncak acara di isi ceramah agama oleh Gus Muhammad Yasak dari Gresik Beliau menekankan “Penting nya ngaji,,,, tidak hanya ngaji Al-Qur’anul Karim saja tetapi juga ngaji Al-qur’an Kauniyah ( ngaji alam ) agar hidup menjadi lebih sempurna”yaitu memperbaiki hubungan dengan ALLAH dan hubungan dengan manuisia ( insan kamil ) ….

    Acara selesai pada pukul 24.00wib. kegiatan tersebut berjalan dengan Aman,Nyaman dan Terkendali karna dengan adanta BANSER..

    Infokom PAC Jetis.

    By : sahabat parman/Abah Alim/Irul infokom,

  • “TAHLIL KUBRO” MUSLIMAT NU SE KECAMATAN MOJOSARI

    “TAHLIL KUBRO” MUSLIMAT NU SE KECAMATAN MOJOSARI

    Infokom NU Mojokerto: Agenda kegiatan ibu2 MUSLIMAT PAC Mojosari yaitu “Tahlil Kubro Muslimat NU Se Kecamatan Mojosari” pada hari Minggu tanggal 1 Maret 2020 pukul 07.00-12.30 wib di halaman SDN desa Awang Awang Kec.Mojosari

    Ibu2 MUSLIMAT NU PAC Mojosari yang sangat luar biasa.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    .

    Dimana kegiatan “Tahlil Kubro” ini sekaligus peresmian sekolah TK dan Paud DARMA WANITA PERTIWI. Yang langsung diresmikan oleh Bupati Kab.Mojokerto (Bp. Pungkasiadi).dikarenakan Bapak Bupati berhalangan tidak bisa hadir,maka beliau menunjuk Ibu Pungkasiadi (istri Bp.Pungkasiadi) untuk mewakili peresmian gedung TK dan Paud tersebu.pada pukul 09.00 ibu Pungkasiadi hadir disambut dengan Sholawat Nabi dan langsung meresmikan dengan memotong Pita di depan gedung sebagai bukti bahwa gedung tersebut telah Resmi dinyatakan Sah.

    Peresmian gedung TK dan Paud oleh ibu Pungkasiadi.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Tidak ketinggalan BANSER HUSADA (BASADA)) hadir dalam “Tahlil Kubro Muslimat NU PAC Mojosari” tersebut.dengan mengadakan pengobatan alternatif secara gratis. Pengobatan Gratis tersebut juga hadir dari pihak puskesmas Mojosari untuk membantu BANSER HUSADA.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Kesigapan BASADA dalam menangani Pasien dengan dibantu oleh pihak Puskesmas

    SORBANSANTRI.COM

    Acara selesai sekitar pukul 13.00wib dan kondisi serta situasi lokasi dan acara “Aman-Lancar-Terkendali” dengan adanya BANSER PAC MOJOSARI serta aparat Kepolisian,Satpol PP dan Linmas.

    BANSER PAC MOJOSARI

    SORBANSANTRI.COM

    Infokom PAC Mojosarii

    #By.irul Infokom:02/03/2020

  • Nekat! Hadiri Muktamar NU di Banyuwangi Kiai Mukti Ngontel dari Ngawi

    Nekat! Hadiri Muktamar NU di Banyuwangi Kiai Mukti Ngontel dari Ngawi

    SORBANSANTRI.COM

    Jarak Desa Beran, Kecamatan Ngawi dengan Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi jika dilihat di google map jaraknya tak kurang dari 456 KM. Jarak yang demikian jauh itu, ditempuh oleh Kiai Abdul Mukti dengan mengendarai sepeda ontel alias sepeda angin demi menghadiri Muktamar ke-9 NU pada April 1934.

    Bersepeda pada zaman itu, bukanlah hal yang menyenangkan sebagaimana hobi orang gowes dewasa ini. Selain kenyamanan bersepeda sangat terbatas, keamanan pun sangat rawan. Jika misalnya Kiai Mukti harus melewati pantura atau jalur Deandles, ia harus melewati hutan Baluran sebelum mencapai Banyuwangi. Sedangkan jika menempuh perjalanan lewat Jember, mau tak mau harus menempuh Gunung Gumitir. Dua pilihan yang tak mudah, dua jalur yang masih banyak binatang buas dan rampok pada masa itu.

    Kesaksian yang diungkapkan oleh KH. Muchit Muzadi dalam biografinya “Berjuang Sampai Akhir: Kisah Seorang Mbah Muchit” itu, menggambarkan bagaimana kecintaan Kiai Mukti pada Nahdlatul Ulama. Organisasi yang didirikan oleh gurunya, KH. Hasyim Asy’ari.

    Kiai Mukti sebenarnya berasal dari Jetis, Ponorogo. Ia lahir pada 12 Desember 1908 dari pasangan Asfai dan Markamah. Orang tuanya tersebut tak lebih hanyalah petani kecil. Meski berasal dari keluarga kelas bawah, Mukti yang merupakan anak terakhir dari empat bersaudara itu memiliki semangat belajar yang tinggi.

    Sejak berusia delapan tahun, Mukti memulai petualangan intelektualnya ke sejumlah pesantren. Sebagaimana diungkapkan oleh Hengki Puastono dalam skripsinya di UIN Sunan Ampel yang berjudul “KH. Abdul Mukti dan Pengembangan Islam di Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi” itu, pesantren yang pertama kali dituju adalah Pesantren Banjarsari, Minggiran, Kediri. Lalu, ia melanjutkan ke Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu masih diasuh pendirinya, KH. Hasyim Asy’ari. Di sini lah kelak, kecintaan Mukti kepada NU mulai bersemi.

    Setelah dari Jombang, Mukti muda menimba ilmu di Pesantren Tawangsari, Sepanjang, Sidoarjo. Juga pernah di Pesantren Mangunsari dan Pesantren Langitan di Tuban. Sebelum kembali ke kampung halamannya, Mukti juga sempat ngalap barokah di Pesantren Kasingan, Rembang.

    Kedalaman ilmu dan keluruhan akhlaq dari Mukti muda, memantik kepercayaan masyarakat Jetis. Pada usia yang masih relatif muda, 20 tahun, Mukti telah dipercaya untuk mengajar di Madrasah yang ada di kampung halamannya. Tak lama kemudian ia diambil menantu oleh KH. Imam Iskandar asal Kebonsari, Dalopo, Kabupaten Madiun. Ia dinikahkan dengan Sariatun.

    Tak seberapa lama dari pernikahannya tersebut, tepatnya pada 1930, ia pindah ke Desa Beran, Ngawi. Kepindahannya tersebut atas ajakan dari Kiai Thohir. Nama terakhir tersebut adalah seorang yang memiliki perhatian yang tinggi terhadap agama serta banyak mewakafkan kekayaannya demi syiar Islam. Kiai Mukti diberikan fasilitas guna mengajarkan Islam kepada penduduk Beran dan sekitarnya.

    Seiring waktu, Kiai Mukti tak sekadar menjadi guru ngaji biasa. Ketokohannya mulai muncul. Lebih-lebih ketika beliau aktif di Nahdlatul Ulama. Beliau termasuk salah satu tokoh yang merintis NU di Kabupaten Ngawi. Pada 1936, beliau disebutkan menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Ngawi sebagaimana tertulis di skripsi tersebut di atas.

    Waba’du, kegigihan dan kecintaan Kiai Mukti tersebut kepada NU, tak luntur sepanjang hayat. Hingga ajal menjemput pada 6 Maret 1976 dengan meninggalkan banyak monumen perjuangan. Seperti halnya madrasah dan masjid. (M.Ha)

  • Menurut Qonun Asasi NU, Wahabi Adalah Ahli Bid’ah

    Menurut Qonun Asasi NU, Wahabi Adalah Ahli Bid’ah

    InfokomBanserNU- Ahli Bid ’ah Dalam Qonun Asasi NU. NU dengan tegas menempatkan dirinya pada posisi “jalan kebenaran”. Hal ini dapat anda lihat di dalam Qonun Asasi NU sebagai berikut:

    Sementara itu segolongan orang yang terjun ke dalam lautan fitnah; memilih bid’ah dan bukan sunnah-sunnah Rasul dan kebanyakan orang mukmin yang benar hanya terpaku. Maka para ahli bid’ah itu seenaknya memutar balikkan kebenaran , memunkarkan makruf dan memakrufkan kemunkaran.

    Mereka mengajak kepada kitab Allah, padahal sedikitpun mereka tidak bertolak dari sana.Mereka tidak berhenti sampai disitu, malahan mereka mendirikan perkumpulan pada perilaku mereka tersebut. Maka kesesatan semakin jauh. Orang-orang yang malang pada memasuki perkumpulan itu. Demikian penggalan kalimat dalam Qonun Asasi NU.

    Namun siapakah atau golongan manakah yang dimaksud sebagai ahli Bid’ah dalam Qonun Asasi NU tersebut? Mari kita merujuk pada salah satu kitab pedoman Ahlussunnah wal Jama’ah yang dikarang langsung oleh KH. Hasyim Asy’ari sendiri dalam kitabnya Kitab Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Hal 9:

    ﺯﻋﻤﻮﻥ ﺃﻧﻬﻢ ﻗﺎﺋﻤﻮﻥ ﺑﺎﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ
    ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ، ﺣﺎﺻﻮﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻭﺍﺟﺘﻨﺎﺏ
    ﺍﻟﺒﺪﻉ ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺸﻬﺪ ﺇﻧﻬﻢ ﻟﻜﺎﺫﺑﻮﻥ

    Menganggap dirinya (salafi wahabi) melaksanakan amar makruf nahi munkar, merecoki masyarakat dengan mengajak untuk mengikuti ajaran-ajaran syariat dan menjauhi kebid’ahan. Padahal Allah maha mengetahui,
    bahwa mereka berbohong. (Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Hal 9

    ﻭ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﺮﻗﺔ ﻳﺘﺒﻌﻮﻥ ﺭﺃﻱ ﻣﺤﻤﺪ ﻋﺒﺪﻩ ﻭ ﺭﺷﻴﺪ ﺭﺿﺎ
    ، ﻭﻳﺄﺧﺬﻭﻥ ﻣﻦ ﺑﺪﻋﺔ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﺍﻟﻨﺠﺪﻱ
    ، ﻭﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ﻭﺗﻼﻣﺬﻳﻪ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻭ
    ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻬﺎﺩﻱ

    Di antara mereka (sekte yang muncul pada kisaran tahun 1330 H.), terdapat juga kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Melaksanakan kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahhab al-najdy, Ahmad bin Taimiyah serta murid-murid Ibnul Qoyyim al-jauzy dan Abdul hadi

    ﻓﺤﺮﻣﻮﺍ ﻣﺎ ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﺪﺑﻪ ، ﻭﻫﻮ
    ﺍﻟﺴﻔﺮ ﻟﺰﻳﺎﺭﺓ ﻗﺒﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
    ﻭﺳﻠﻢ ، ﻭﺧﺎﻟﻔﻮﻫﻢ ﻓﻴﻤﺎ ﺫﻛﺮ ﻭﻏﻴﺮﻩ

    Mereka mengaharamkan hal-hal yang telah disepakati oleh orang-orang Islam sebagai sebuah kesunnahan, seperti bepergian untuk menziarahi makam Rasulullah SAW serta berselisih dalam kesepakatan-kesepakatan lainnya.

    ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ﻓﻲ ﻓﺘﺎﻭﻳﻪ : ﻭﺇﺫﺍ ﻻ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺃﻧﻬﺎ ﺃﻱ
    ﺯﻳﺎﺭﺓ ﻗﺒﺮ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻃﺎﻫﺔ ، ﻛﺎﻥ
    ﺫﻟﻚ ﻣﺤﺮﻣﺎ ﺑﻐﺠﻤﺎﻉ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ، ﻓﺼﺎﺭ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻣﻦ
    ﺍﻷﻣﺮ ﺍﻟﻤﻘﻄﻮﻉ ﺑﻪ

    Bahkan Ibnu Taimiyah menyatakan dalam Majmu’ Fataawa-nya, “……………… dengan demikian, karena berkeyakinan (yakni mengunjungi makam Rasulullah sebagai sebuah bentuk ketaatan), mereka telah jatuh pada keharaman yang telah disepakati oleh umat Muslim. Karenanya, keharaman adalah sesuatu yang mestinya ditinggalkan……………..”

    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﺨﻴﺖ ﺍﻟﺤﻨﻔﻲ ﺍﻟﻤﻄﻴﻌﻲ
    ﻓﻲ ﺭﺳﺎﻟﺘﻪ ﺍﻟﻤﺴﻤﺎﺓ ﺗﻄﻬﻴﺮ ﺍﻟﻔﺆﺍﺩ ﻣﻦ ﺩﻧﺲ
    ﺍﻹﻋﺘﻘﺎﺩ : ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﻔﺮﻳﻖ ﻗﺪ ﺍﺑﺘﻠﻰ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﺑﻜﺜﻴﺮ
    ﻣﻨﻬﻢ ﺳﻠﻔﺎ ﻭﺧﻠﻔﺎ ، ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻭﺻﻤﺔ ﻭﺛﻠﻤﺔ ﻓﻲ
    ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻋﻀﻮﺍ ﻓﺎﺳﺪﺍ

    Al-Allamah Syeikh Muhammad Bakhit al-Hanafi Al-Muth’i menyatakan dalam kitabnya, Tathirul Fuad min danasil I’tiqood (Pembersihan hati dari Kotoran Keyakinan) bahwa, “kelompok ini sungguh menjadi cobaan berat bagi umat Muslim, baik salaf maupun kholaf. Mereka adalah duri “dalam daging/musuh dalam selimut” yang hanya merusak keutuhan Islam.

    ﻳﺠﺐ ﻗﻄﻌﻪ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﻌﺪﻯ ﺍﻟﺒﺎﻗﻲ ، ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻟﻤﺠﺬﻭﻡ
    ﻳﺠﺐ ﺍﻟﻔﺮﺍﺭ ﻣﻨﻬﻢ ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻓﺮﻳﻖ ﻳﻠﻌﺒﻮﻥ ﺑﺪﻳﻨﻬﻢ
    ﻳﺬﻣﻮﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺳﻠﻔﺎ ﻭﺧﻠﻔﺎ

    Maka wajib menanggalkan/menjauhi (penyebaran) ajaran mereka agar yang lain tidak tertular. Mereka laksana penyandang Lepra yang mesti dijauhi. Mereka adalah kelompok yang mempermainkan agama mereka. Hanya bisa menghina para ulama, baik salaf maupun kholaf.

    ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺇﻧﻬﻢ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﺼﻮﻣﻴﻦ ﻓﻼ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺗﻘﻠﻴﺪﻫﻢ
    ، ﻻ ﻓﺮﻕ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺑﻴﻦ ﺍﻷﺣﻴﺎﺀ ﻭﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﻳﻄﻌﻨﻮﻥ
    ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻳﻠﻘﻮﻥ ﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺕ ، ﻭﻳﺬﺭﻭﻧﻬﺎ ﻓﻲ ﻋﻴﻮﻥ
    ﺑﺼﺎﺋﺮ ﺍﻟﻀﻌﻔﺎﺀ ، ﻟﺘﻌﻤﻰ ﺃﺑﺼﺎﺭﻫﻢ ﻋﻦ ﻋﻴﻮﺏ ﻫﺆﻻﺀ

    Mereka menyatakan, “para ulama bukanlah orang-orang yang terbebas dari dosa, maka tidaklah layak mengikuti mereka, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.” Mereka menyebarkan (pandangan/asumsi) ini pada orang-orang bodoh agar tidak dapat mendeteksi kebodohan mereka.

    ﻭﻳﻘﺼﺪﻭﻥ ﺑﺬﻟﻚ ﺇﻟﻘﺎﺀ ﺍﻟﻌﺪﺍﻭﺓ ﻭﺍﻟﺒﻐﻀﺎﺀ ، ﺑﺨﻠﻮﻟﻬﻢ
    ﺍﻟﺠﻮ ﻭ ﻳﺴﻌﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻓﺴﺎﺩﺍ ، ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻋﻠﻰ
    ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﻭﻫﻢ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ، ﻳﺰﻋﻤﻮﻥ ﺃﻧﻬﻢ ﻗﺎﺋﻤﻮﻥ
    ﺑﺎﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ، ﺣﺎﺻﻮﻥ
    ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻭﺍﺟﺘﻨﺎﺏ ﺍﻟﺒﺪﻉ ، ﻭﺍﻟﻠﻪ
    ﻳﺸﻬﺪ ﺇﻧﻬﻢ ﻟﻜﺎﺫﺑﻮﻥ

    Maksud dari propaganda ini adalah munculnya permusuhan dan kericuhan. Dengan penguasaan atas jaringan teknologi mereka merusak tatanan masyarakat. Mereka menyebarkan kebohongan mengenai Allah, padahal mereka menyadari kebohongan tersebut. Menganggap dirinya melaksanakan amar makruf nahi munkar, merecoki masyarakat dengan mengajak untuk mengikuti ajaran-ajaran syariat dan menjauhi kebid’ahan. Padahal Allah maha mengetahui, bahwa mereka berbohong.

    Nah demikianlah bahwa yang dimaksud Ahli Bid’ah dalam Qonun Asasi NU tersebut sudah jelas, yaitu sebuah ajaran Pada abad ke XII Masehi faham Ibnu Taimiyah yang disebarkan dalam bentuk pratek oleh Muhamad bin abdul
    wahab yang terkenal dengan sebutan WAHABI [1176-1257 M.] di najd dengan mendapat bantuan iparnya yaitu Raja Muhamad bin su’ud raja ke II yang menurunkan dinasti Su’udiyah di saudi arabiyah.

    Sebagaimana diketahui ayah Muhamad yang bernama Syeikh Abdul wahab adalah seorang ulama yang sholeh dari golongan ahlus sunnah wal jamaah. Begitu pula saudaranya Syeikh Sulaiman Al Qurdi dan Syeikh Muhamad Khayat Assundi dua ulama besar di madinah Pernah mengatakan “ALLAH AKAN MENYESATKAN ANAK INI SERTA ORANG YANG MENGIKUTI FAHAMNYA”.

    Di Mesir ajaran Ibnu Taimiyah ini disebar luaskan oleh Syeikh Muhammad Abduh [1849-1905 M] dan murid ABDUH yang bernama Muhamad Rasyid Ridlo. (red.abi)

  • WAHABI KUASAI PEMERINTAHAN INDONESIA DAN BUBARKAN NU

    WAHABI KUASAI PEMERINTAHAN INDONESIA DAN BUBARKAN NU

    InfokomBanserNU-

    Saat Ini Media Sosial Salah Satu Tempat Paling Efektif Menyebarkan Paham Yang Cukup Mudah,Murah & Efisien.

    Jika Para Pemuda NU Ingin Membuat Satu Acara Pengajian Memerlukan Proses Panjang, Mulai Dari Membentuk Panitia, Mencari Dana, Mencari Event Organizer, Membangun Panggung, Menyebarkan Pamflet Atau Undangan Belum Tentu Ramai Dan Memberikan Sebuah Paham Pada Masyarakat Di Zaman Sekarang Yang Super Sibuk, Tapi Jika Para Nahdliyin Membentuk Komunitas, Untuk Membuat Chanel Dan Jaringan Dakwah Khususnya di Dunia Digital, Medsos Dan YouTube Dan Lainnya, Masyarakat Yang Mungkin Awalnya Tidak Terlalu Paham NU, Kapan Waktu Akan Mengerti Sebuah Pemahaman ISLAM Yang Moderat, Sejuk Dan Penuh Rahmat Yang NU Bawa.

    NU Harus Menjadi Pelopor Persaudaraan, Penggerak Perdamaian, Untuk Semua Golongan, Jangan Sampai Kelompok-kelompok Yang Tidak Jelas Menyuarakan Suara Umat Islam Indonesia, Menyebarkan Paham Yang Menimbulkan Kegaduhan, Perpecahan Dan Kehancuran.

    Maka Dari Itu. Saat Ini Sudah Saatnya Para Pemuda NU, Menyuarakan Islam Yang Ramah, Sejuk Dan Moderat Ala Aswaja An-Nahdliyah.

    Perlu Di Catat Perekrutan Calon-calon lSlS itu 75-80% Melalui Media Sosial.Dan Itu Kesalahan Kita Semua Yang Selama Ini Diam Dan Membiarkan Orang-orang Yang Dangkal Pemahamannya Tentang Islam Tapi Berani Menyuarakan Islam.

    Channel-channel Hijrah Mereka Dengan Ratusan Ribu Hingga Jutaan Folowernya Siap Menjelma Menjadi Agen Kampanye Politik Dadakan Demi Ambisi Khilafah Palsunya, Siapa Yang Tidak Sejalan Dengan Mereka Akan Di Fitnah Habis-habisan, Dengan Propaganda Anti Islam & Isu-isu Yang Untuk Menjatuhkan & Membunuh Karakter Lawan Politiknya.

    Militansi Mereka Sangat Solid. Sangat Terstruktur Di Bidang Media, Satu Artikel Hanya Butuh Waktu Satu Dua Jam Untuk Viral & Menyebar Di Seluruh Beranda Medsos,

    Seperti Fanspage Tere Liye, Yang Menjadi Agen Kampanye Dadakan Padahal Tema Fanspagenya Adalah Kata-kata Motivasi, Hijrah, Saya Pernah Mencoba Diskusi Dengan Tere Liye, Agar Tidak Terlibat Di Panggung Politik Menggunakan Fanspagenya, Hanya Saja Dia Menghindar Dan Memilih Memblokir Saya, Padahal Saya Cukup Dekat & Mengenal Dia Dari Awal Perjuangan Di Komunitas Hijrah & Komunitas Penulis.

    sumber

    • Haddi VJB
    Eks Pengurus Komunitas Hijrah
    Yang Kini Berkhidmah Bersama NU

    Nahdliyin Online

  • MAKAM PUTRI CEMPO DI GUNUNG PETUKANGAN GRESIK.

    MAKAM PUTRI CEMPO DI GUNUNG PETUKANGAN GRESIK.

    SORBANSANTRI.COM

    Liputan kali ini ke sebuah perbukitan Petukangan yang masih dalam kawasan Kebomas Gresik. Di situ bersemayam seorang putri dari negeri Campa (Vietnam) yang oleh sebagian orang dianggap sebagai istri Sunan Giri. Karena kagum dan terpesona dengan watak dan keluhuran budi pekerti Sunan Giri, maka putri jelita ini pun menikah dengan sunan. Ternyata, putri cantik ini adalah seorang saudagar negeri Campa atau Vietnam.

    Versi lain tentang cerita Putri Campa ini ialah ia hanya menaruh hati kepada Sunan Giri. Namun, Sunan Giri tidak menanggapinya hingga akhir hayat putri Cempo tinggal di daerah Petukangan. Konon karena beliau sangat tertarik sama kepribadian sunan Giri yg lembut dan sangat alim maka beliau sudah masuk islam sampai akhir hayatnya.

    Bagi para penikmat ziarah religi dan budaya jika mau berziarah ke makam Sunan Giri bisa sekalian mampir ke makam Putri cempo. (M.Ha)

    Sumber : Atok Winoto