Kategori: Idiologi ASWAJA

Ideologi atau paham keagamaan dalam Islam yang menekankan pada pemahaman yang berdasarkan Al-Quran, Hadis, dan pemikiran para ulama salaf.

  • Kenapa Sahabat Memilih NU Sebagai Tempat Bernaung

    Kenapa Sahabat Memilih NU Sebagai Tempat Bernaung

    SORBANSANTRI.COM

    Kenapa anda memilih NU Sebagai tempat Bernaung…..???
    Sebagai tempat menimba Ilmu….???  Sebagai_kendaraan_dalam_berislam….???
    Kok bukan yang Lainnya…?

    SAYA_JAWAB :

    “…Terimakasih atas pertanyaan nya sodaraku, Akan saya jelas kan perlahan biar mudah dipahami dan di hayati, ada beberapa hal yang mendasari kenapa saya memilih NU…”

    Pertama :
    Karena NU adalah wadahnya AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH.
    ( meski NU bukan satu-satu nya )

    Kedua :
    Karena SANAD KEILMUAN
    Ulama/Kyai/Ustadz yang Ada di NU jelas
    dan insyalloh muttashil hingga ke Rosululloh saw.
    (Meski di luar NU mungkin juga jelas sanadnya)

    Ketiga :
    Karena di NU saya menemukan ajaran yang #ROHMATAN_LIL ‘ALAMIN,#Toleran,#Moderat dan menghargai semua manusia apapun sukunya,apapun golongannya dan apapun agamanya.
    (meski di luar NU pun ada yang seperti itu)

    Nah atas dasar itu dan lain nya, itulah sebab saya memilih NU.Di atas saya katakan kenapa harus NU sebagai kendaraan dalam ber islam…???

    Jika di ibarat ORMAS itu Adalah :
    sebuah kendaraan (Bis/kapal/kereta/pesawat) maka banyak sekali kendaraan dalam ber islam di negeri ini.Dan semua kendaraan itu pasti akan berlomba mempromosikan bahwa PO nya itu yang terbaik.

    Tapi kenapa saya memilih NU, bukan yang lainya..???
    Alasannya ya karena itu tadi.

    Pertama :
    Pendirinya jelas

    Kedua :
    Supirnya jelas,dan sudah memiliki SIM yang paten (bukan SIM tembakan) punya lisensi yang jelas dan di akui.

    Ketiga :
    Krunya ramah-ramah

    keempat :
    Cara mengemudinya nyantai (nggak kebut-kebut an nyalip sana-sini)

    Kelima :
    Penumpangnya umumnya suka humor, suka bercanda nggak kaku apalagi sampe nguamuk an karena gak dapat tempat duduk.

    Dan yang pasti insyaALLAH akan mengantarkan penumpang nya selamat sampai tujuan.

    Lalu apakah yang lainnya tidak…???
    Saya nggak tau, karena dari kecil saya nggak pernah ganti kendaraan.
    Dari kecil hingga kini dan insyaAlloh sampai nanti, saya akan tetep NU. Adapun akhir-akhir ini Banyak yang memfitnah NU Itu wajar dan biasa.

    Kenapa…???
    Karena mereka itu iri dengan kebesaran NU.
    Sehingga muncul tuduhan bahwa NU yang sekarang bukan NU yang dulu.😘😘😘

    Pertanyaan nya..???
    Apa sampeyan sudah pernah merasakan NU yang dulu, sehingga bisa menilai NU yang sekarang…???

    Lalu bagaimana anda bisa tau NU yang sekarang bukan NU yang dulu..?
    wong anda tidak pernah masuk di NU yang dulu

    Lalu ada yang bilang kalau supir NU yang sekarang itu liberal syiah sesat.

    Perlu anda ketahui :
    bahwa untuk menjadi supir NU itu tidak semudah menjadi supir taksi.
    Ada beberapa syarat dan mekanisme khusus dan seleksi ketat dari dewan khusus yang ada di NU.
    Dan setelah menjadi supir pun tetep di awasi, agar tidak melenceng dari koridor dan rel yang sudah di tetapkan.

    Bukan supir taksi yang bebas kemanapun membawa kendaraannya
    Bukan supir angkot yang bebas kebut-kebut an karena ngejar setoran

    Itulah semua alasan kenapa saya memilih NU.

    #JANGAN_SURIAH_KAN_INDONESIA
    #NKRI_HARGA_MATI

    #sorbansantrinu

  • CIRI-CIRI LAILATUL QODAR

    CIRI-CIRI LAILATUL QODAR

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Ijma’ para ulama’ mengenai hadist yang menjelaskan ciri-ciri terjadinya malam lailatul qodr.

    Menurut Imam Al-Ghazali dan juga ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Thalibin juz 2, hal. 257, bahwa cara untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Ramadhan:

    قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة

    1. Jika Romadhon awalnya jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29

    2. Jika Romadhon awalnya jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21

    3. Jika Romadhon awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jum’at maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27

    4. Jika Romadhon awalnya jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25

    5. Jika Romadhon awalnya jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23

    Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata: “Semenjak saya menginjak usia dewasa Lailatul Qadar tidak pernah meleset dari jadwal atau kaidah tersebut.”(abi SORBAN)

  • Dawuh Kyai “Hubbul Wathan Minal Iman

    Dawuh Kyai “Hubbul Wathan Minal Iman

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Kyai dan pesantren, mendidik para santri dengan semboyan tersebut. Semboyan tersebut bukanlah hadits. Tapi semboyan tersebut maknanya Shoheh, tidak melenceng dan sesuai dengan apa yang pernah dialami dan pernah dilakukan Nabi-nabi terdahulu.

    Sebagaimana Nabi Muhammad mencintai Mekkah sebagai Negeri, sebagai Tanah air, sebagai Tanah Kelahiran. Sampai sampai Nabi menangis, tatkala hijrah menuju Madinah. Bliau menghadap ke Mekkah, berkata bahwa Bliau cinta Dengan Mekkah, cinta dengan Tanah kelahirannya. Andaikan kalau bukan Kaumnya yg mengusir bliau, bliau tak akan meninggalkan Mekkah, tanah air yang dicintainya.

    Dan sebagaimana Nabi Ibrahim mencintai Negerinya, memohon kebaikan untuk negerinya, dan bahkan Allahpun mengabadikan doa Nabi Ibrahim dalam Al Quran, Surat Al Baqara ayat 126.

    Itulah sebabnya, Kyai pondok pesantren di Indonesia menanamkan benih-benih Hubbul Wathan dalam hati santrinya, hati tempat keimanan berada. Karena orang yang menciintai Negerinya, orang tersebut telah merealisasikan sebentuk keimaannya.

    Maka kalau ada sekelompok orang (yang mengaku) islam, tapi justru berkata bahwa mencintai Negeri dan Tanah air adalah Toghut dan bahkan Haram, sesungguhnya mereka belajar dari orang orang yang Sanad Ilmunya Terputus dari Sanad keimuan Nabi. (abi sorban)

  • Namaku Layla dan Aku Lebih Mulia dari Seribu Bulan

    Namaku Layla dan Aku Lebih Mulia dari Seribu Bulan

     

     

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Namaku Layla. Lebih dari satu miliar penduduk dunia tengah mencari dan berharap bertemu denganku. Aku tersembunyi dan hanya bisa ditemukan di malam ganjil bulan suci Ramadhan.

    Tapi kenapa aku lebih mulia dari seribu bulan? Iya, bulan yang selalu dipandangi oleh para pecinta yang merindukan kekasihnya; bulan yang selalu menginspirasi para pujangga menuliskan perasaan mereka. Aku lebih mulia dari seribu bulan itu. Pada diriku, terkandung berjuta cinta dan perasaan. Tak heran, aku harus disembunyikanNya.

    Tafsir ar-Razi mengingatkan kalian bahwa jikalau diketahui keeberadaanku pada malam yang keberapa, namun alih-alih beribadah pada Ilahi, kalian malah melakukan maksiat, maka dosanya pun akan lebih dari seribu bulan. Itu sebabnya kepastian kehadiranku disembunyikan agar tak ada yang berdosa lebih dari seribu bulan. Ketersembunyianku adalah bentuk kasih sayang Allah.

    ‎كأنه تعالى يقول: لو عينت ليلة القدر، وأنا عالم بتجاسركم على المعصية، فربما دعتك الشهوة في/ تلك الليلة إلى المعصية، فوقعت في الذنب، فكانت معصيتك مع علمك أشد من معصيتك لا مع علمك، فلهذا السبب أخفيتها عليك،

    Ini persis kisah Nabi Saw yang memasuki masjid dan melihat seorang sahabat tengah tertidur. Nabi meminta Sayidina Ali membangunkan orang itu dan menyuruhnya berwudhu. Kata Sayidina Ali, “Ya Rasul, mengapa bukan njenengan sendiri yang membangunkannya?” Jawab Nabi, “Kalau aku yg bangunkan, dan dia membantah diriku, maka dia jadi kafir. Itu sebabnya aku minta engkau saja yang membangunkannya, biar kalau dia membantahmu dia tidak jadi kafir.” Inilah kasih sayang Allah dan RasulNya.

    ‎فإذا كان هذا رحمة الرسول، فقس عليه رحمة الرب تعالى، فكأنه تعالى يقول: إذا علمت ليلة القدر فإن أطعت فيها اكتسبت ثواب ألف شهر، وإن عصيت فيها اكتسب عقاب ألف شهر، ودفع العقاب أولى من جلب الثواب

    Namaku Layla. Lengkapnya Laylatul Qadr. Para ulama berdebat apakah aku hadir hanya sekali saja, atau setiap tahun aku hadir?

    ‎هذه الليلة هل هي باقية؟ قال الخليل: من قال إن فضلها لنزول القرآن فيها يقول انقطعت وكانت مرة، والجمهور على أنها باقية،

    Ada ulama yang berpendapat bahwa keutamaan malam itu karena turunnya al-Qur’an dari Lauh al-Mahfuzh ke langit dunia. Peristiwa agung ini hanya terjadi sekali, dan tidak berulang setiap tahun. Namun mayoritas ulama mengatakan bahwa malam mulia ini hadir setiap tahun, bukan hanya sekali. Kalau cuma sekali, buat apa Rasulullah menyarankan umatnya untuk mencarinya pada 10 malam terakhir di bulan suci?

    Lantas pada malam keberapa aku akan hadir menemui kalian?

    ‎وقال الحسن البصري: السابعة عشرة، وعن أنس مرفوعا التاسعة عشرة، وقال محمد بن إسحاق: الحادية والعشرون. وعن ابن عباس الثالثة والعشرون، وقال ابن مسعود: الرابعة والعشرون، وقال أبو ذر الغفاري:
    ‎الخامسة والعشرون، وقال أبي بن كعب وجماعة من الصحابة: السابعة والعشرون، وقال بعضهم: التاسعة والعشرون

    Ada jawaban yang berbeda. Simak saja:
    Al-Hasan al-Bashri: malam ke 17
    Anas: ke-19
    Muhammad bin Ishaq: 21
    Ibn Abbas: 23
    Ibn Mas’ud: 24
    Abu Dzar: 25
    Ubay bin Ka’ab dan jamaah sahabat: 27
    Yang lain: 29

    ‎أني أخفيت هذه الليلة حتى يجتهد المكلف في طلبها، فيكتسب ثواب الاجتهاد

    Perbedaan pandangan Sahabat Nabi dan ulama di atas merupakan ijtihad mereka untuk mencari keberadaan diriku. Semua usaha sungguh-sungguh akan mendapatkan pahala ijtihad, yaitu kalau benar dapat dua pahala, kalau salah pun, tetap dapat satu pahala. Enak kan?

    Bagaimana mungkin ibadah yang dijalankan pada malam itu, sama sebagaimana dijalankan pada malam lainnya, tapi kok nilainya bisa lebih dari seribu bulan? Bagaimana penjelasannya?

    ‎أن الفعل الواحد قد يختلف حاله في الحسن والقبح بسبب اختلاف الوجوه المنضمة إليه، ألا ترى أن صلاة الجماعة تفضل على صلاة الفذ بكذا درجة، مع أن الصورة قد تنتقض فإن المسبوق سقطت عنه ركعة واحدة،

    Menurut Tafsir ar-Razi, dapat saja satu amalan yang pada lahirnya sama dengan amalan yang lain, bahkan mungkin pada lahirnya kurang, tetapi bisa mendapat nilai tambah dibanding dengan amalan serupa. Contohnya, shalat yang sama jika dilakukan berjama’ah bisa mendapat pahala 27 kali lebih banyak dibanding shalat sendirian. Padahal shalatnya sama, bacaan dan gerakannya juga sama.

    Begitu juga dengan makmum yang terlambat (masbuq) dapat langsung ruku’ bersama Imam tanpa membaca al-Fatihah, namun pahalanya 27 kali lebih banyak ketimbang shalat sendirian yang sempurna dengan bacaan al-Fatihah.

    Inilah penjelasan kenapa ibadah yang sama namun dilkukan di malam yang mulia, maka nilainya bisa melebihi seribu bulan.

    Namaku Layla. Aku lebih mulia dari seribu bulan. Semoga aku bertemu dengan kalian.

    Tabik,

    Nadirsyah Hosen
    Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

  • ISLAM SATU TAPI DI LAPANGAN TIDAK SATU

    ISLAM SATU TAPI DI LAPANGAN TIDAK SATU

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Maping (pemetaan) Islam di dunia ini setidanya ada 3 golongan. Mapping ini berdasarkan bagaimana cara umat Islam memahami Alquran:

    1. Islam Moderat
    2. Islam Radikal
    3. Islam Liberal

    Pemetaan ini bukan berarti memecah belah Islam atau merusak ukhuwah islamiyah, tapi sekedar mempermudah mencari benang merah saat terjadi perbedaan pendapat bahkan pertentangan diantara umat Islam.

    Dalam video Gus Baha menjelaskan kesalahan Salafi/Wahabi (Islam radikal), juga Islam liberal. Dengan kata lain, karena salah paham dalam memahami Alquran inilah maka seseorang akhirnya menjadi radikal atau liberal. Dengan kata lain, jika sudah benar cara berislam seseorang, sudah pas dalam memahami Alquran dan Hadits tentu seseorang tersebut akan menjadi moderat.

    Agar terhindar dari pemahaman yang salah (radikal dan liberal) dalam memahami Alquran dan Hadits maka belajarlah pada ulama moderat sehingga akhirnya menjadi Islam moderat. Tinggalkan Islam radikal dan Islam liberal, karena Allah berfirman:

    وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ

    “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia” (al-Baqarah: 143)

    Jadi, berislam itu jangan ke kiri (liberal) dan jangan ke kanan (radikal), tapi berislamlah yang tengah-tengah (moderat) sebagaimana perintah Allah subhanahu wata’ala.

    Follow :
    Instagram HWMI :
    https://www.instagram.com/hubbul_wathon_

    Twitter HWMI :

    Subscribe Juga Youtube Channel Kami:
    https://www.youtube.com/channel/UC6VYPhQt75ogtA9vQF6b0kQ

    #HubbulWathonMinalIman

  • HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADHAN DALAM PERJALANAN

    HUKUM MENINGGALKAN PUASA RAMADHAN DALAM PERJALANAN

    SORBANSANTRI.COMcyberaswaja.online – Sebagaimana ibadah lainnya, Allah SWT memberikan dispensasi puasa Ramadhan terhadap beberapa orang tertentu, salah satunya ialah orang yang berada dalam perjalanan (musafir). Untuk itu, seorang musafir boleh tidak berpuasa dan menggantinya (qadha) di lain waktu dengan beberapa syarat.Pertama, perjalanan yang ditempuh mencapai jarak minimal diperbolehkan meringkas (qashar) salat, yakni minimal 81 KM. Kedua, ia sudah keluar batas daerah tempat tinggalnya minimal sebelum subuh menurut pendapat yang kuat. Namun menurut Imam al-Muzani, ia diperbolehkan tidak puasa meskipun perjalanan baru dilakukan di siang hari. Sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi:وَمَنْ أَصْبَحَ فِي الْحَضَرِ صَائِمًا ثُمَّ سَافَرَ لَمْ يَجُزْ لَهُ اَنْ يَفْطَرَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ وَقَالَ الْمُزَنِّي لَهُ أَنْ يَفْطَرَ كَمَا لَوْ أَصْبَحَ الصَّحِيْحُ صَائِمًا ثُمَّ مَرَضَ فَلَهُ أَنْ يَفْطَرَ .“Barang siapa yang memasuki waktu subuh masih di rumah dalam keadaan puasa, kemudian pergi, maka ia tidak boleh membatalkan puasanya pada hari itu. Imam al-Muzani berpendapat, bagi orang yang pergi setelah subuh boleh membatalkan puasa sebagaimana orang yang masuk pada waktu subuh dalam keadaan sehat, kemudian mendadak sakit, boleh membatalkan puasa.” (Al-Majmu’Syarh al-Muhadzdzab, VI/260)Apabila telah memenuhi persyaratan tersebut, seseorang boleh tidak berpuasa. Namun yang lebih baik ialah melihat kondisi dirinya ketika berpuasa. Sebagaimana penjelasan Imam Jalaluddin Al-Mahalli:وَيُبَاحُ تَرْكُهُ لِلْمُسَافِرِ سَفَرًا طَوِيلًا مُبَاحًا فَإِنْ تَضَرَّرَ بِهِ فَالْفِطْرُ أَفْضَلُ وَإِلَّا فَالصَّوْمُ أَفْضَلُ“Dan diperbolehkan bagi musafir untuk meninggalkan puasa dalam perjalanan jauh yang dilegalkan. Apabila ia merasa kepayahan akibat puasa, maka meninggalkan puasa lebih baik. Apabila tidak kepayahan, maka tetap puasa justru lebih baik.” (Al-Mahalli Syarh al-Minhaj, II/82)
    []waAllahu a’lam (abi SORBAN)

  • BERDIAM DIRUMAH KETIKA ADA WABAH ADALAH PERINTAH NABI

    BERDIAM DIRUMAH KETIKA ADA WABAH ADALAH PERINTAH NABI

    SORBANSANTRI.COM

    بِـسْــــــــــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِـيْـــــــــــــــــمِ

    ☝️Ada wabah korona kok malah jum’atan libur, pengajian libur , sholat jama’ah libur
    ☝️Kok pada menjauhi masjid krn takut wabah?, masjid sepi dong, kok menjauh dari Alloh ?
    malah Disuruh berdiam diri dirumah.
    📢Yang BENAR itu takut kepada Alloh… Bukan pada virus
    Rata rata Begitulah komentar ummat ini, terutama yg jarang² ke masjid 

    Bagaimana ajaran nabi kita, ketika ada wabah virus ??
    #penjelasan ROSULULLOH

    من جلس في بيته
    siapa saja yg berdiam diri di rumah-nya

    في وقت وقوع الطاعون
    Pada waktu ada wabah tho’un ( virus )

    فله أجر الشهيد وإن لم يمت
    maka baginya mendapat pahala orang yg mati syahid, meskipun dia tidak mati
    ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
    عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت
    Diceritakan dari A’isyah r.a

    سألتُ رسولَ اللهِ ﷺ عن الطاعونِ
    Aku bertanya kpd Rosululloh saw tentang wabah tha’un.

    ، فأخبَرَني رسولُ اللهِ ﷺ:
    Lalu Beliau menjawab:

    أنَّه كان عَذابًا يَبعَثُه اللهُ على مَن يَشاءُ،
    Sebenarnya tho’un itu adzab (peringatan) Alloh bagi siapa saja yang Dia kehendaki

    فجعَلَه رَحمةً للمُؤمِنينَ،
    dan jadi rohmat bagi orang-orang beriman

    فليس مِن رَجُلٍ يَقَعَ الطاعونُ فيَمكُثُ في بَيتِه صابرًا
    Tiada orang yg pada saat terjadi wabah tho’un, dan dia berdiam diri dirumah-nya dg sabar

    مُحتَسِبًا يَعلَمُ أنَّه لا يُصيبُه إلّا ما كَتَبَ اللهُ له
    Yang sekiranya dia tau, dg berdiam diri akan terhindar dari wabah tho’un,
    kecuali Allah menaqdirkan-nya

    إلّا كان له مِثلُ أجْرِ الشَّهيدِ.
    maka bagi-nya pahala bagaikan orang mati syahid”
    إسناده صحيح على شرط البخاري
    ( Sanadnya shohih bukhori )
    ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ

    “Penyakit Tho’un ini adalah adzab atau suatu peringatan, atau sisa dari Adzab yang dengannya Alloh menyiksa sekelompok umat sebelum kalian. Maka apabila kamu mendengar wabah itu berjangkit di suatu negeri, dan kamu berada di dalamnya, janganlah kamu keluar darinya. Dan apabila wabah itu berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya.”
    (Rowahu ahmad )

    Rasulullah SAW memerintahkan mu`adzin untuk adzan mengucapkan :
    “shalatlah di rumah masing2”
    ketika terjadi hujan deras dll, demi menjaga keselamatan umat dari penyakit atau pun hal yang membahayakan
    Apalagi ada wabah seperti saat ini..??

    ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
    ▶️Para ulama salaf sudah menyebutkan kejadian WABAH zaman dulu
    anjuran ulama agar “jangan berinteraksi”
    tapi begitulah ada saja yang terbawa emosi & mengajak doa bersama dsb, penyakit pun makin tersebar, itulah sunnatulloh (aturan Alloh), doa seakan tidak berhasil.

    ▶️Para ulama pun menuliskan pengalaman ketika ada wabah, bahwa :
    banyak orang yang bersih & bertakwa, berkumpul untuk berdo`a tapi tidak dikabulkan, kenapa? Karena mereka tidak mengikuti sunnah nabi

    ▶️Sebagian orang mengajak untuk shalat & berdoa bersama. Orang itu bodoh, seperti yang disebutkan Ibn Hajar :
    " mereka itu menyalahi sunnah, karena kita diperintahkan untuk mengisolasi diri saat perkumpulan membahayakan meskipun itu untuk shalat, do
    a, umrah, haji dsb ”

    KETIKA WABAH MAKIN MENGGANAS
    ▶️Kemudian mereka diperintahkan untuk mengisolasi diri di rumah masing-masing.
    ( Gubernur amr bin ash kala itu memerintahkan warga untuk berpencar ke gunung² dan hutan² untuk memutus penyebaran wabah)

    ▶️Kenapa? Karena mereka memperhatikan secara teliti bahwa perkumpulan menyebabkan penyebaran, meskipun perkumpulan itu untuk shalat jama’ah & berdo’a bersama

    Ketika perkumpulan bisa menyebabkan tersebarkan wabah, maka ” meng-isolasi diri adalah cara menghalangi wabah.

    👉Hal itu disebutkan banyak kitab. Dan terakhir yang menulis setelah kejadian wabah ini sekitar 300 tahun adalah Syekh Abdul-Ghani an-Nabulsi rahimahullah dalam kitab “Luzum al-Buyut”.

    JADI… !!
    ingat..! Berdiam diri dirumah ketika wabah melanda adalah perintah Rosululloh
    Jangan sok sok-an merasa paling takut kpd Alloh,
    ikuti anjuran Nabi-mu dan
    JANGAN NGEYEL

    (abi sorban)

  • Setelah baca Al Qur’an Shadaqallahul Adzim Bid’ah?

    Setelah baca Al Qur’an Shadaqallahul Adzim Bid’ah?

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Bisa gak sih sebulan saja Salafi ini tidak berulah di bulan Ramadhan ini? Saya tidak mau mengotori bulan suci ini dengan perdebatan. Tapi rupanya mereka tidak membedakan mana bulan suci dan tidak. Kalau pun terpaksa saya ‘meladeni’ menjawab tuduhan Bid’ah mereka maka saya lakukan malam hari.

    Bacaan “shadaqallah al-A’dzim” ini dinilai bidah oleh Syekh Bin Baz dan Syekh Utsaimin. Namun Syaikh Athiyah Shaqr, Mufti al-Azhar mengeluarkan Fatwa terkait amaliah membaca Shadaqallahul Adzim saat selesai membaca al-Quran (Fatawa al-Azhar, 8/86):

    وذكر القرطبى في مقدمة تفسيره أن الحكيم الترمذى تحدث عن آداب تلاوة القراَن الكريم وجعل منها أن يقول عند الانتهاء من القراءة : صدق الله العظيم أو أية عبارة تؤدى هذا المعنى . ونص عبارته “ج 1 ص 27 ” : ومن حرمته إذا انتهت قراءته أن يصدق ربه ، ويشهد بالبلاغ لرسوله صلى الله عليه وسلم

    Al-Qurthubi menyebutkan di Mukaddimah Tafsirnya bahwa Hakim al-Tirmidzi menyampaikan tatakrama dalam membaca al-Quran diantaranya adalah “Maha benar Allah”, atau redaksi lain yang semakna. Ia menjelaskan (1/27) bahwa diantara bentuk memuliakan al-Quran jika selesai membacanya adalah menyatakan Allah maha benar dan memberi kesaksian bahwa Rasulullah telah menyampaikan wahyu

    وجاء فى فقه المذاهب الأربعة ، نشر أوقاف مصر، أن الحنفية قالوا : لو تكلَّم المصلى بتسبيح مثل . صدق اللّه العظيم عند فراغ القارئ من القراءة لا تبطل صلاته إذا قصد مجرد الثناء والذكر أو التلاوة ، وأن الشافعية قالوا : لا تبطل مطلقا بهذا القول

    Dijelaskan dalam Fikih 4 Madzhab bahwa Ulama Hanafiyah berkata: “Jika orang yang salat membaca Tasbih, misalnya ‘Allah maha benar’ setelah imamnya selesai membaca al-Quran, maka tidak batal jika bertujuan memuji Allah, berdzikir atau membaca al-Quran”. Ulama Syafiiyah berkata: “Tidak batal mengucapkan kalimat ‘Allah maha benar’ secara mutlak”

    فكيف يجرؤ أحد فى هذه الأيام على أن يقول : إن قول : صدق الله العظيم ، بعد الانتهاء من قراءة القرآن بدعة؟ أكرر التحذير من التعجل فى إصدار أحكام فقهية قبل التأكد من صحتها ، والله سبحانه وتعالى يقول :{ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب إن الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون } النخل : 116

    Maka bagaimana mungkin hari ini ada yang mengatakan bahwa mengucapkan ‘Allah maha benar’ setelah membaca al-Quran adalah bidah? Saya (Syaikh Athiyah) ulang-ulang mengingatkan supaya tidak tergesa-gesa dalam mengeluarkan hukum fikih sebelum memperkuat kesahihannya. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (al-Nahl: 116) (abi-sorban)

  • Fatwa Pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari Tentang Syi’ah

    Fatwa Pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari Tentang Syi’ah

    SORBANSANTRI.COM
    KH. HASYIM ASYARI dan NAHDLATUL ULAMA’

    Fatwa Pendiri Nahdhatul Ulama
    Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (1292-1366 H, 1875-1947 M)
    Tentang Syi’ah
    :
    فصل في بيان تمسك أهل جاوى بمذهب أهل السنة والجماعة، وبيان ابتداء ظهور البدع وانتشارها في أرض جاوى، وبيان أنواع المبتدعين في هذا الزمان.
    قد كان مسلموا الأقطار الجاوية في الأزمان السالفة الخالية متفقي الآراء والمذهب ومتحدي المأخذ والمشرب، فكلهم في الفقه على المذهب النفيس مذهب الإمام محمد بن إدريس، وفي أصول الدين على مذهب الإمام أبي الحسن الأشعري، وفي التصوف على مذهب الإمام الغزالي والإمام أبي الحسن الشاذلي رضي الله عنهم أجمعين.
    ثم إنه حدث في عام الف وثلاثمائة وثلاثين أحزاب متنوعة وآراء متدافعة وأقوال متضاربة، ورجال متجاذبة، فمنهم سلفيون قائمون على ما عليه أسلافهم من التمذهب بالمذهب المعين والتمسك بالكتب المعتبرة المتداولة، ومحبة أهل البيت والأولياء والصالحين، والتبرك بهم أحياء وأمواتا، وزيارة القبور وتلقين الميت والصدقة عنه واعتقاد الشفاعة ونفع الدعاء والتوسل وغير ذلك…
    ومنهم رافضيون يسبون سيدنا أبا بكر وعمر رضي الله عنهما ويكرهون الصحابة رضي الله عنهم، ويبالغون هوى سيدنا علي وأهل بيته رضوان الله عليهم أجميعن، قال السيد محمد في شرح القاموس: وبعضهم يرتقي إلى الكفر والزندقة أعاذنا الله والمسلمين منها. قال القاضي عياض في الشفا: عن عبد الله بن مغفل قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (الله الله في أصحابي لا تتخذوهم غرضا بعدى فمن أحبهم فبحبي أحبهم ومن أبغضهم فببغضي أبغضهم ومن آذاهم فقد آذانى ومن آذانى فقد آذى الله ومن آذى الله يوشك أن يأخذه) وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لا تسبوا أصحابي فمن سبهم فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه صرفا ولا عدلا) وقال صلى الله عليه وسلم (لا تسبوا أصحابي فإنه يجئ قوم في آخر الزمان يسبون أصحابي فلا تصلوا عليهم ولا تصلوا معهم ولا تناكحوهم ولا تجالسوهم وإن مرضوا فلا تعودوهم) وعنه صلى الله عليه وسلم (من سب أصحابي فاضربوه) وقد أعلم النبي صلى الله عليه وسلم أن سبهم وآذاهم يؤذيه وأذى النبي صلى الله عليه وسلم حرام فقال (لا تؤذوني في أصحابي ومن آذاهم فقد آذانى) وقال (لا تؤذوني في عائشة) وقال في فاطمة (بضعة منى يؤذيني ما آذاها). اهـ (الشيخ محمد هاشم أشعري، رسالة أهل السنة والجماعة، ص 9-10).

    Maqolah 1:
    Pasal untuk menjelaskan penduduk Jawi berpegang kepada madzhab Ahlusunnah wal Jama’ah, dan awal kemunculan bid’ah dan meluasnya di Jawa, serta macam-macam ahli bid’ah di zaman ini.
    Umat islam yang mendiami wilayah Jawa sejak zaman dahulu telah bersepakat dan menyatu dalam pandangan keagamaannya. Di bidang fikih, mereka berpegang kepada mazhab Imam Syafi’I, di bidang ushuluddin berpegang kepada mazhab Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, dan di bidang tasawuf berpegang kepada mazhab Abu Hamid Al-Ghazali dan Abu Al-Hasan Al-Syadzili, semoga Allah meridhoi mereka semua. Kemudian pada tahun 1330 H muncul kelompok, pandangan, ucapan dan tokoh-tokoh yang saling berseberangan dan beraneka ragam. Di antara mereka adalah kaum salaf yang memegang teguh tradisi para tokoh pendahulu mereka dengan bermazhab dengan satu mazhab dan kitab-kitab mu’tabar, kecintaan terhadap Ahlul Bait Nabi, para wali dan orang-orang salih, selain itu juga tabarruk dengan mereka baik ketika masih hidup atau setelah wafat, ziarah kubur, mentalqin mayit, bersedekah untuk mayit, meyakini syafaat, manfaat doa dan tawassul serta lain sebagainya.

    Di antara mereka juga ada golongan rofidhoh yang suka mencaci Sayidina Abu Bakr dan ‘Umar RA., membenci para sahabat nabi dan berlebihan dalam mencintai Sayidina ‘Ali dan anggota keluarganya, semoga Allah meridhoi mereka semua. Berkata Sayyid Muhammad dalam Syarah Qamus, sebagian mereka bahkan sampai pada tingkatan kafir dan zindiq, semoga Allah melindungi kita dan umat Islam dari aliran ini. Berkata Al-Qadhi ‘Iyadh dalam kitab As-Syifa bi Ta’rif Huquq Al-Musthafa, dari Abdillah ibn Mughafal, Rasulullah SAW bersabda: Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai sahabat-sahabatku. Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki sesudah aku tiada. Barangsiapa mencintai mereka, maka semata-mata karena mencintaiku. Dan barang siapa membenci mereka, maka berarti semata-mata karena membenciku. Dan barangsiapa menyakiti mereka berarti dia telah menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku berarti dia telah menyakiti Allah. Dan barangsiapa telah menyakiti Allah dikhawatirkan Allah akan menghukumnya. (HR al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi Juz V/hal. 696 hadits No. 3762). Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kamu mencela para sahabatku, Maka siapa yang mencela mereka, atasnya laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah Ta’ala tidak akan menerima amal darinya pada hari kiamat, baik yang wajib maupun yang sunnah. (HR. Abu Nu’aim, Al-Thabrani dan Al-Hakim)

    Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kamu mencaci para sahabatku, sebab di akhir zaman nanti akan datang suatu kaum yang mencela para sahabatku, maka jangan kamu menyolati atas mereka dan shalat bersama mereka, jangan kamu menikahkan mereka dan jangan duduk-duduk bersama mereka, jika sakit jangan kamu jenguk mereka. Nabi SAW telah kabarkan bahwa mencela dan menyakiti mereka adalah juga menyakiti Nabi, sedangkan menyakiti Nabi haram hukumnya. Rasul SAW bersabda: Jangan kamu sakiti aku dalam perkara sahabatku, dan siapa yang menyakiti mereka berarti menyakiti aku. Beliau bersabda, Jangan kamu menyakiti aku dengan cara menyakiti Fatimah. Sebab Fatimah adalah darah dagingku, apa saja yang menyakitinya berarti telah menyakiti aku. (Risalat Ahli Sunnah wal Jama’ah, h.9-10)

    المقالة الثانية:
    وليس مذهب في هذه الأزمنة المتأخرة بهذه الصفة إلا المذاهب الأربعة، اللهم إلا مذهب الإمامية والزيدية وهم أهل البدعة لا يجوز الاعتماد على أقاويلهم. اهـ (الشيخ محمد هاشم أشعري، رسالة في تأكد الأخذ بمذاهب الأئمة الأربعة، ص 29).
    Maqolah 2:
    Bukanlah yang disebut mazhab pada masa-masa sekarang ini dengan sifat yang demikian itu kecuali Mazahib Arba’ah (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad). Selain dari pada itu, seperti mazhab Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah, mereka adalah ahul bid’ah yang tidak boleh berpegang kepada pandangan-pandangan mereka. (Risalah fi Ta’akkud Al-Akhdzi bi Al-Madzahib Al-Arba’ah, h.29)

    المقالة الثالثة:
    أما أهل السنة فهم أهل التفسير والحديث والفقه، فإنهم المهتدون المتمسكون بسنة النبي صلى الله عليه وسلم والخلفاء بعده الراشدين، وهم الطائفة الناجية، قالوا وقد اجتمعت اليوم في مذاهب أربعة الحنفيون والشافعيون والمالكيون والحنبليون، ومن كان خارجا عن هذه الأربعة في هذا الزمان فهو من المبتدعة. اهـ اهـ (الشيخ محمد هاشم أشعري، زيادة تعليقات، ص 24-25).
    Maqolah 3:
    Adapun Ahlusunnah mereka adalah para Ahli Tafsir, Hadits dan Fiqih. Sungguh merekalah yang mendapat petunjuk dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi Muhammad SAW dan para khalifah yang rasyid setelah beliau. Mereka adalah ‘kelompok yang selamat’ (thaifah najiyah). Para ulama berkata, pada saat ini kelompok yang selamat itu terhimpun dalam mazhab yang empat; Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali. Maka siapa saja yang keluar atau di luar empat mazhab itu adalah ahlul bid’ah di masa ini. (Ziyadat Ta’liqat, h. 24-25)

    المقالة الرابعة
    وَاصْدَعْ بِمَاتُؤْمَرُ لِتَنْقَمِعَ الْبِدَعُ عَنْ اَهْلِ اْلمَدَرِوَالْحَجَرِ. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “اِذَاظَهَرَتِ الْفِتَنُ اَوِالْبِدَعُ وسُب اَصْحَابِيْ فَلْيُظْهِرِالْعَالِمُ عِلْمَهُ فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالناسِ اَجْمَعِيْنَ

    Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah terberantas dari semua orang. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di caci maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat Malaikat dan semua orang.” (Muqadimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama)..

    (abi-sorban)

  • Tidak Jumatan Di Zona Merah, Mengurangi Syariat Islam?

    Tidak Jumatan Di Zona Merah, Mengurangi Syariat Islam?

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Komunitas ngaji yang saya jalani beragam, ada bu-ibu, pak-bapak, jid-masjid, gar-langgar, tor-kantor dan sebagainya. Kalau jamaah ngajinya banyak yang berumur sepuh porsi ngajinya saya perpanjang, tanya jawab sedikit. Sebab biasanya akan banyak pertanyaan mengulang dan tak jauh dari tema atau bulan-bulan dalam Islam.Kalau jamaahnya masih muda-muda maka porsi tanya jawab saya perpanjang. Seperti dengan para santri atau mahasiswa. Termasuk ngaji online tadi sore bersama para calon-calon dokter masa depan dari Kampus A Fakultas Kedokteran Unair Surabaya.Entah pada pertanyaan ke berapa, mahasiswa FK semester 4 ini menanyakan perihal tidak melakukan shalat Jum’at di masa pandemi dan zona merah. Katanya ia mendengar bahwa jika tidak jumatan maka mengurangi ajaran syariat Islam, padahal syariat ini sudah sempurna.Sekitar tahun 2010-2012 Bahtsul Masail PCNU Kota Surabaya membahas beberapa pabrik dan perkantoran di Surabaya, karena ada tugas seperti menjaga mesin yang sedang berproduksi, menjadi scurity dan beberapa hal lain yang tidak bisa ditinggalkan, maka ada pendapat dari para ulama yang menjadikan hal tersebut sebagai uzur atau alasan yang dibenarkan untuk tidak shalat Jum’at tetapi harus melakukan shalat Dzuhur bagi orang tersebut.Beberapa kitab pun digali sebagai sumber rujukan ilmu. Termasuk dari kitab Mathalib Uli An-Nuha:(ﻓَﺼْﻞٌ ﻓِﻲ اﻷَْﻋْﺬَاﺭِ اﻟْﻤُﺒِﻴﺤَﺔِ ﻟِﺘَﺮْﻙِ اﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻭَاﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ)”Fasal tentang beberapa uzur yang membolehkan meninggalkan Jum’at dan berjamaah.”(ﻭَ) ﻳُﻌْﺬَﺭُ ﺑِﺬَﻟِﻚَ (ﺧَﺎﺋِﻒُ ﺣﺪﻭﺙ ﻣَﺮَﺽٍ) . ﻟِﻤَﺎ ﺭَﻭَﻯ ﺃَﺑُﻮ ﺩَاﻭُﺩ ﻋَﻦْ اﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ «ﺃَﻥَّ اﻟﻨَّﺒِﻲَّ – ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ – ﻓَﺴَّﺮَ اﻟْﻌُﺬْﺭَ ﺑِﺎﻟْﺨَﻮْﻑِ ﻭاﻟﻤﺮﺽ»”Diantara uzur tersebut adalah kekhawatiran datangnya penyakit. Berdasarkan riwayat Abu Dawud dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menafsirkan uzur dengan kekhawatiran dan sakit”(ﺃَﻭْ) ﺧَﺎﺋِﻒُ (ﺯِﻳَﺎﺩَﺗِﻪِ) ، ﺃَﻱْ: اﻟﻤﺮﺽ (ﺃَﻭْ ﺑُﻂْءِ ﺑُﺮْءٍ) ﻣِﻦْ ﻣَﺮَﺽٍ ﺑِﻪِ”Atau khawatir bertambah sakit atau tertundanya masa sembuh yang makin lama” (Mathalib Uli An-Nuha 1/701)Karena yang saya hadapi ini para calon dokter maka saya katakan: “Virus itu tidak mengenal tempat. Virus juga tidak melihat-lihat siapa calon korbannya. Lha saat ada pasien berbohong karena covid-19 ternyata ada sekian dokter yang tertular. Kok gak ngerti sih virus ini? Kalau politikus meninggal masih banyak penggantinya. Jika Ustadz wafat masih gampang carinya, apalagi di YouTube. Kalau dokter yang gugur perlu berapa tahun bisa menemukan penggantinya? Masih perlu kuliah, praktek, sekolah lagi PPDS”. Terlebih beberapa hari terakhir ini di Jatim angka penularan cukup tinggi dibanding Jakarta. Coba jika kita yang jadi dokter, sudah kelelahan menghadapi puluhan pasien Corona tiba-tiba ada korban puluhah lagi yang datang.Lalu saya sampaikan dari hadis Bukhari perihal karena uzur tidak dapat melakukan ibadah maka tatkala melakukan sendirian tetap sempurna pahalanya. Hal ini bisa ditemukan dalam kitab-kitab Syafi’iyah:(ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﺇﻥ ﻗﺼﺪﻫﺎ ﻟﻮﻻ اﻟﻌﺬﺭ) ﻗﻴﺪ ﻓﻲ ﺣﺼﻮﻝ اﻟﻔﻀﻴﻠﺔ ﻟﻪ، ﺃﻱ ﺃﻧﻬﺎ ﺗﺤﺼﻞ ﻟﻪ ﺇﻥ ﻗﺼﺪ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻟﻮﻻ اﻟﻌﺬﺭ ﻣﻮﺟﻮﺩ.”Fadlilah berjamaah (termasuk Jumatan) tetap akan didapat jika orang tersebut berniat akan melakukannya andaikan tidak ada uzur” (I’anah Thalibin, 2/61)Penulis : KH. Ma’ruf Khozin (Direktur Aswaja Center PWNU Jatim)#HubbulWathonMinalIman