Kategori: Idiologi ASWAJA

Ideologi atau paham keagamaan dalam Islam yang menekankan pada pemahaman yang berdasarkan Al-Quran, Hadis, dan pemikiran para ulama salaf.

  • Menghormati Ulama Apa Syirik?

    Menghormati Ulama Apa Syirik?

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Lagi-lagi untuk yang kesekian kali mereka menghukumi Muslim yang tidak berbuat syirik dituduh syirik.

    Mari kita pelajari hadisnya lebih dalam bersama dengan analisanya, tentu analisa dari ahli hadis dan ulama Fikih:

    ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ، ﻗَﺎﻝَ: ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ: ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠَّﻪِ اﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣِﻨَّﺎ ﻳَﻠْﻘَﻰ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺃَﻭْ ﺻَﺪِﻳﻘَﻪُ ﺃﻳﻨﺤﻨﻲ ﻟَﻪُ؟ ﻗَﺎﻝَ: «ﻻَ»، ﻗَﺎﻝَ: ﺃَﻓَﻴَﻠْﺘَﺰِﻣُﻪُ ﻭَﻳُﻘَﺒِّﻠُﻪُ؟ ﻗَﺎﻝَ: «ﻻَ»، ﻗَﺎﻝَ: ﺃَﻓَﻴَﺄْﺧُﺬُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻭَﻳُﺼَﺎﻓِﺤُﻪُ؟ ﻗَﺎﻝَ: «ﻧَﻌَﻢْ»

    Dari Anas bin Malik bahwa ada seseorang yang berkata: “Wahai Rasulullah, jika diantara kami bertemu dengan saudaranya atau kawannya apakah membungkuk?” Nabi menjawab: “Jangan!”. Ia bertanya: “Apakah berdiri dan mencium?” Nabi menjawab: “Jangan!”. Ia bertanya apakah bersalaman?” Nabi menjawab: “Ya” (HR Tirmidzi).

    Dari hadis ini ulama Syafi’iyah tidak ada yang menghukumi syirik. Maksimal makruh dan ada sisi dibolehkan:

    (ﻗَﻮْﻟُﻪُ: ﻭﺣﻨﻲ اﻟﻈَّﻬْﺮِ ﻣَﻜْﺮُﻭﻩٌ) ﻗَﺎﻝَ اﻟﺸَّﻴْﺦُ ﻋِﺰُّ اﻟﺪِّﻳﻦِ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ اﻟﺴَّﻼَﻡِ ﺗَﻨْﻜِﻴﺲُ اﻟﺮُّءُﻭﺱِ ﺇﻥْ اﻧْﺘَﻬَﻰ ﺇﻟَﻰ ﺣَﺪِّ اﻟﺮُّﻛُﻮﻉِ ﻓَﻼَ ﻳُﻔْﻌَﻞُ ﻛَﺎﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﻭَﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﻋَﻦْ ﺣَﺪِّ اﻟﺮُّﻛُﻮﻉِ ﻟِﻤَﻦْ ﻳُﻜْﺮِﻡُ ﻣِﻦْ اﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ

    Membungkukkan punggung adalah makruh. Syekh Izzuddin bin Abdussalam berkata: “Merendahkan kepala jika sampai batas ruku’ (lurus kepala, leher, pundak dan bokong) maka tidak boleh dilakukan, seperti sujud. Jika membungkuk tidak sampai batas ruku’ (seperti gambar santri di bawah) maka tidak apa-apa bagi orang yang memuliakan kalangan Muslimin” (Syekh Syaubari, Hamisy Asna Al-Mathalib, 4/186)

    •] Gambar di bawah yang diklaim Syirik adalah para sahabat kami Santri Lirboyo yang sedang menyambut KH Anwar Mansur untuk dijadikan pegangan karena usia beliau sudah sepuh (semoga Allah memberikan kesehatan dan panjang umur untuk beliau). Sebenarnya semua pesantren melakukan hal itu semua. Lihatlah apakah mereka sampai ruku’? Sekali lagi amati dengan jelas!!! Tidak sampai ruku’ karena posisi kepala lebih tinggi dari pada punggung. Anehnya pada gambar orang Saudi yang sama-sama membungkuk kepada raja-raja dan ulama mereka, kok tidak dihukumi Syirik?!(KH. Ma’ruf khozin)

  • Jangan Melihat ke Atas Terus

    Jangan Melihat ke Atas Terus

     

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Jika melihat orang punya rumah tinggi, kita ingin memilikinya. Ada orang baru keluar dari dealer mobil mewah, kita ngiler ingin memasukkan ke garasi kita. Ada yang pegang hp keluaran terbaru, membuat kita ingin mengantonginya. Kalau begitu terus kapan kita akan bersyukur?

    ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ، ﻗَﺎﻝَ: ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ اﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: «اﻧْﻈُﺮُﻭا ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻦْ ﺃَﺳْﻔَﻞَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ، ﻭَﻻَ ﺗَﻨْﻈُﺮُﻭا ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻦْ ﻫُﻮَ ﻓَﻮْﻗَﻜُﻢْ، ﻓَﻬُﻮَ ﺃﺟﺪﺭ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺗَﺰْﺩَﺭُﻭا ﻧِﻌْﻤَﺔَ اﻟﻠﻪِ»

    Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian. Janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi. Hal itu lebih tepat untuk tidak meremehkan nikmat dari Allah” (HR Muslim)

    ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲٍ، ﻗَﺎﻝَ: ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ اﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: «ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻻِﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﻭَاﺩِﻳَﺎﻥِ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻝٍ ﻻَﺑْﺘَﻐَﻰ ﻭَاﺩِﻳًﺎ ﺛَﺎﻟِﺜًﺎ، ﻭَﻻَ ﻳَﻤْﻸَُ ﺟَﻮْﻑَ اﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﺇِﻻَّ اﻟﺘﺮاﺏ، ﻭَﻳَﺘُﻮﺏُ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﺗَﺎﺏَ»

    Dari Anas bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika manusia memiliki 2 jurang berisi harta, maka ia masih menginginkan kekayaan yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut manusia kecuali tanah (mati). Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat” (HR Bukhari dan Muslim)

    (KH. MA’RUF KHOZIN)

  • Ketika Sedekah Lebih Utama Dari Pada Ibadah Haji

    Ketika Sedekah Lebih Utama Dari Pada Ibadah Haji

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Peristiwa ini dialami oleh seorang ulama besar di masa Tabi’in, beliau bernama Ibnu Mubarak [lahir 118 H]. Kisahnya disampaikan oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam kitab sejarah Al-Bidayah Wa An-Nihayah 10/191:

    خرج عبد الله بن المبارك مرة إلى الحج فاجتاز ببعض البلاد، فمات طائر معهم فأمر بإلقائه على مزبلة هناك، وسار أصحابه أمامه وتخلف هو وراءهم

    Abdullah bin Mubarak hendak pergi haji. Ia melewati sebuah negeri, lalu ada burung mati. Ia menyuruh agar burung itu dibuang ke tempat sampah. Murid-muridnya berangkat di depan dan dia berjalan di belakang mereka.

    فلما مر بالمزبلة إذا جارية قد خرجت من دار قريبة منها فأخذت ذلك الطائر الميت ثم لفته ثم أسرعت به إلى الدار

    Ketika Ibnu Mubarak melewati tempat sampah, lalu ada anak perempuan keluar dari sebuah rumah di dekatnya, ia mengambil bangkai burung itu. Ia membungkusnya dan segera membawa pulang

    فجاء فسألها عن أمرها وأخذها الميتة، فقالت: أنا وأخي هنا ليس لنا شيء إلا هذا الإزار، وليس لنا قوت إلا ما يلقى على هذه المزبلة، وقد حلت لنا الميتة منذ أيام، وكان أبونا له مال فظُلم وأخذ ماله وقتل.

    Ibnu Mubarak bertanya kepada anak perempuan itu mengapa mengambil bangkai burung. Anak perempuan itu menjawab: “Aku dan adikku disini tidak memiliki apa-apa kecuali kain ini. Tidak ada makanan untuk kami kecuali yang ada di tempat sampah. Beberapa hari ini bangkai yang ditemukan (untuk dimakan). Kami punya ayah yang kaya raya. Tapi ia dizalimi, hartanya dirampok dan dibunuh.”

    فأمر ابن المبارك برد الأحمال، وقال لوكيله: كم معك من النفقة؟ قال: ألف دينار، فقال: عد منها عشرين ديناراً تكفينا إلى مرو وأعطها الباقي، فهذا أفضل من حجنا في هذا العام، ثم رجع.

    Ibnu Mubarak memerintahkan untuk mengembalikan harta bawaan. Ia bertanya kepada wakilnya: “Berapa bekal kita?” Wakilnya menjawab: “1000 Dinar”. Ibnu Mubarak berkata: “Ambil 20 Dinar, cukup untuk transportasi kita ke Marwa [Turkmenistan]. Sisanya berikan kepada anak perempuan itu. Ini lebih utama dari pada ibadah haji kita tahun ini”. Ibnu Mubarak kemudian pulang (tidak berangkat haji).

    •] Terjemah gambar: Jika tahun ini tidak ada haji dan umroh, maka tawaflah (kelilinglah) ke rumah-rumah orang fakir-miskin dan orang-orang yang memerlukan.(KH.ma’ruf Khozin)

  • Wallahul Muwaffiq, Bukan Sekedar Kalimat Penutup

    Wallahul Muwaffiq, Bukan Sekedar Kalimat Penutup

    abdul-hamidcyberaswaja.online- Setiap aktifis NU maupun badan otonom selalu menutup pidato dan surat resmi dengan kalimat “wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq” sebelum salam. Apa dan siapa pencipta salam kebanggan yang terkesan sulit diucapkan tersebut? Bacaan penutup salam tersebut memang selama ini dikenal khas diucapkan oleh kalangan NU. sementara biasanya Muhammadiyah kerap menggunakan kata penutup “wabillahi taufiq wal hidayah”

    Setiap aktifis NU maupun badan otonom selalu menutup pidato dan surat resmi dengan kalimat “wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq” sebelum salam. Apa dan siapa pencipta salam kebanggan yang terkesan sulit diucapkan tersebut?

    Bacaan penutup salam tersebut memang selama ini dikenal khas diucapkan oleh kalangan NU. sementara biasanya Muhammadiyah kerap menggunakan kata penutup “wabillahi taufiq wal hidayah” atau “nasrum minallahi wa fathun qariib.”

    Seperti diketahui, wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq merupakan kalimat penutup pidato dan surat-menyurat khas warga NU sebelum salam penutupan. Arti harfiahnya kurang lebih “Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya”. Istilah ini diciptakan oleh KH Ahmad Abdul Hamid dari Kendal, Jawa Tengah.

    Sebelum menciptakan kalimat wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq, Kiai Ahmad telah menciptakan istilah “Billahit taufiq wal-hidayah”. Namun karena kalimat tersebut kemudian digunakan oleh hampir semua kalangan umat Islam, maka beliau merasa kekhasan untuk orang NU tidak ada lagi. Untuk itu diciptakan istilah baru, yakni wallahul muwaffiq ila aqwamit thariiq yang dirasakan cukup sulit ditirukan oleh orang non-NU.

    KH Ahmad Abdul Hamid adalah salah satu ulama kharismatik di Jawa Tengah. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren al-Hidayah dan Imam Masjid Besar Kendal. Karena peran dan ketokohannya, masyarakat Kendal menyebutnya sebagai “Bapak Kabupaten Kendal”. (red)

  • Hukum Hewan Piaraan Mengganggu Tetangga

    Hukum Hewan Piaraan Mengganggu Tetangga

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat memelihara ayam atau burung merpati dan dibiarkan lepas dari kandangnya, sehingga masuk ke teras rumah tetangga dan mengotorinya, ke pekarangan tetangga dan bertelur di sana, atau bahkan tidak kembali ke kandang pemilik aslinya. Hewan piaraan juga mengganggu bahkan merusak harta milik tetangga (memakan padi yang sedang dijemur, menjatuhkan genting rumah dan semisalnya). Karena jengkel dan merasa terganggu, sampai-sampai hewan piaraan tersebut ditangkap dan dimiliki oleh tetangga.

    Pertanyaan
    a. Bagaimana hukum meliarkan (membiarkan lepas dari kandangn) hewan piaraan sebagaimana deskripsi?
    b. Bagaimana hukum tetangga (yang terganggu) memiliki telur ayam dan telur burung daranya?
    c. Bolehkan ayam atau burung dara piaran tersebut ditangkap dan disembelih dengan alasan telah mengganggu kerukunan bertetangga?
    d. Wajibkah pemilik hewan menanggung kerusakan yang disebabkan oleh burung dara atau ayam piaraannya?

    Jawaban A
    Pada dasarnya hukum melepaskan hewan diperbolehkan, namun bagi pemilik hewan harus mengondisikan hewan ternaknya supaya tidak menimbulkan keresahan bagi (mengganggu) orang lain.
    Referensi

    تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 23 / ص 202)
    فَلَوْ اعْتَادَ الطَّائِرُ النُّزُولَ عَلَى جِدَارِ غَيْرِهِ وَشَقَّ مَنْعُهُ كُلِّفَ صَاحِبُهُ مَنْعَهُ بِحَبْسِهِ أَوْ قَصِّ جَنَاحٍ لَهُ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ ، وَإِنْ لَمْ يَتَوَلَّدْ عَنْ الطَّائِرِ ضَرَرٌ بِجُلُوسِهِ عَلَى الْجِدَارِ ؛ لِأَنَّ مِنْ شَأْنِ الطَّيْرِ تَوَلُّدَ النَّجَاسَةِ مِنْهُ بِرَوْثِهِ وَيَتَرَتَّبُ عَلَى جُلُوسِهِ مَنْعُ صَاحِبِ الْجِدَارِ مِنْهُ لَوْ أَرَادَ الِانْتِفَاعَ بِهِ

    Jawaban B
    Ditafsil:
    (1) bila pemiliknya diketahui secara jelas, maka bagi pemilik rumah (tetangga yang terganggu) tidak boleh memiliki telur burung dara atau telur ayam dan wajib mengembalikan kepada pemiliknya—pemilik telur adalah orang yang mempunyai hewan betina—;
    (2) bila pemiliknya tidak diketahui, maka berlaku hukum luqathah.[1]
    Referensi

    الزواجر الجزء الأول ص: 251
    تتمة لو اختلط حمامه بحمام غيره لزمه رده بأن يخلي بينه وبين مالكه وما تناسل منهما لمالك الإناث فإن لم يتميز فله أخذ قدر ملكه بالاجتهاد ولا يخفى الورع أو نحو درهم أو دهن حرام بدراهمه أو دهنه جاز له على ما قاله الغزالي وغيره إفراز قدر الحرام وصرفه لجهة استحقاقه والتصرف في الباقي

    أسنى المطالب – (ج 13 / ص 105)
    ( فَصْلٌ : لَا يُلْتَقَطُ إلَّا مَا ضَاعَ بِسُقُوطٍ أَوْ غَفْلَةٍ ) عَنْهُ ، أَوْ نَحْوِهِمَا ( وَكَانَ فِي أَرْضٍ غَيْرِ مَمْلُوكَةٍ ) كَمَوَاتٍ وَشَارِعٍ وَمَسْجِدٍ ( وَ ) فِي ( بَلَدٍ فِيهِ مُسْلِمُونَ ) بِأَنْ يَكُونَ بِبِلَادِ الْإِسْلَامِ ، أَوْ بِدَارِ الْحَرْبِ وَفِيهَا مُسْلِمُونَ وَخَرَجَ بِمَا قَالَهُ مَا بَيَّنَهُ بِقَوْلِهِ ( فَإِنْ أَلْقَى هَارِبٌ ، أَوْ الرِّيحُ ثَوْبًا فِي حِجْرِهِ ) مَثَلًا ( أَوْ خَلَّفَ مُوَرِّثُهُ وَدِيعَةً وَجَهِلَ الْمَالِكُ ) كَذَلِكَ ( لَمْ يَتَمَلَّكْهُ بَلْ يُحْفَظُ ) لِأَنَّهُ مَالٌ ضَائِعٌ ( وَمَا وُجِدَ فِي ) أَرْضٍ ( مَمْلُوكَةٍ فَلِذِي الْيَدِ ) فِيهَا فَلَا يُؤْخَذُ لِتَمَلُّكِهِ بَعْدَ تَعْرِيفِهِ . ( فَإِنْ لَمْ يَدَّعِهِ ) ذُو الْيَدِ فَلِمَنْ كَانَ ذَا يَدٍ ( قَبْلَهُ ) وَهَكَذَا إلَى أَنْ يَنْتَهِيَ ( إلَى الْمُحْيِي ، ثُمَّ ) إذَا لَمْ يَدَّعِهِ الْمُحْيِي ( يَكُونُ لُقَطَةً ) كَمَا مَرَّ بِمَا فِيهِ مَعَ جَوَابِهِ فِي زَكَاةِ الرِّكَازِ وَمَا وُجِدَ فِي دَارِ الْحَرْبِ وَلَا مُسْلِمَ فِيهَا ( فَغَنِيمَةٌ : الْخُمُسُ مِنْهَا لِأَهْلِهِ ، وَالْبَاقِي لِلْوَاجِدِ )

    أسنى المطالب – (ج 13 / ص 106)
    ( تَنْبِيهٌ ) قَالَ الْقَفَّالُ : وَإِذَا وَجَدَ دِرْهَمًا فِي بَيْتِهِ لَا يَدْرِي أَهُوَ لَهُ ، أَوْ لِمَنْ دَخَلَ بَيْتَهُ فَعَلَيْهِ تَعْرِيفُهُ لِمَنْ يَدْخُلُ بَيْتَهُ كَاللُّقَطَةِ أَيْ الْمَوْجُودَةِ فِي غَيْرِ بَيْتِهِ مِمَّا مَرَّ .

    كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار – (ج 2 / ص 6)
    [فرع]: إذا وجد ما لا يتمول كزبيبة ونحوها فلا يعرف، ولواجداه الاستبداد به وإن تمول وهو قليل فالأصح أنه لا يعرف سنة بل يعرف زمناً يظن أن فاقده يعرض عنه غالباً، وضابط القليل ما يغلب على الظن أن فاقده لا يكثر أسفه عليه ولا يطول طلبه غالباً والله أعلم

    Jawaban C
    Ditafsil:
    (1) Tidak diperbolehkan apabila pemiliknya diketahui (muayyan),—tindakan yang sebaiknya dilakukan pemilik pekarangan dan atau rumah adalah memberitahukan kepada pemilik bahwa hewan peliharaannya telah membuat keresahan (mengganggu) di pekarangan dan atau rumahnya, dan jika pemiliknya tidak menanggapi maka diperbolehkan untuk menolaknya (mengusirnya) dengan cara yang paling ringan hingga cara yang paling berat—;
    (2) Diperbolehkan apabila pemiliknya tidak diketahui dan telah dilakukan ketentuan-ketentuan dalam hukum luqathah seperti pada jawaban sub b.
    Referensi

    المجموع للإمام زكريا محى الدين بن شرف النووى مانصه :
    (الشرح) الأحكام اذا كانت له شجرة فى ملكه فانتشرت اغصانها فوق ملك جاره فللجار ان يطالب مالك الشجرة بازالة ما انتشر فوق ملكه لأن الهواء تابع للقرار وليس له ان ينتفع بقرار ارض جاره بغير إذنه فكذالك هواء ارض جاره فان لم يزل مالك الشجرة ذلك فللجار ان يزيل ذلك عن هواء ارضه بغير إذن الحاكم كما لو دخلت بهيمة لغيره إلى ارضه فله ان يخرجها بنفسه

    الباجوري الجزء الثاني ص: 251
    وكل حيوان عهد منه الإتلاف كالهرة التى عرفت بالإتلاف للطير والطعام وغيرهمايضمن مالكه أومن يأويه ما أتلفه ليلا أونهارا ويدفع بالأخف فالأخف كالصائل ولا يجوز التعرض له فى غير حال الجناية وقيل انه التحق بالفواسق الخمس المأمور بقتلها فلا يعصمها الإقتناع ووضع اليد عليها ولو كان بداره كلب عقور او دابة جموح ودخلها شخص باذنه ولم يعلمه بالحال فعضه الكلب او جمحته الدابة ضمنه ولو كان الداخل بصيرا فان دخل بلا اذنه او أعلمه بالحال فلا ضمان لأنه المتسبب فى هلاك نفسه وكذا لو كان ما ذكر حارجا عن داره ولو كان بجانب بابها فلا ضمان لأن ذلك ظاهرى يمكن الأحتراز عنه اهـ

    المحلي الجزء الرابع ص: 209
    (ويدفع الصائل بالأخف) فالأخف (فإن أمكن بكلام أو استغاثة) بالمعجمة والمثلثة (حرم الضرب أو بضرب بيد حرم سوط أو بسوط حرم عصا أو بقطع عضو حرم قتل فإن أمكن هرب فالمذهب وجوبه وتحريم قتال) والقول الثاني لا يجب والطريق الثاني حمل نص الهرب على من تيقن النجاة به ونص عدمه على من لم يتيقن

    المحلي الجزء الرابع ص: 213
    (تنبيه) يدفع ذلك الحيوان بالأخف فالأخف وجوبا وإن أدى إلى قتله كالصائل قال بعضهم لو كان يندفع بالزجر لكنه يعود ويتلف ما دفع عنه مع التغافل عنه وتكرر ذلك منه جاز قتله ولو في غير حال صياله لأنه لا يكف شره إلا بالقتل فراجعه

    الشروانى الجزء التاسع ص:
    (وهرة تتلف طيرا أو طعاما إن عهد ذلك منها-إلى أن قال- ولا يجوز قتل التي عهد منها ذلك إلا حالة عدوها فقط أي إن لم يمكن دفعها بدون القتل كالصائل كما دل عليه كلام الشيخين وجوزه القاضي مطلقا كالفواسق الخمس وردوه بأن ضراوتها عارضة ومحل الخلاف في غير الحامل إذ لا جناية من حملها كذا قيل وفيه نظر ويلزم قائله أن الدابة الحامل لو صالت على إنسان لا يدفعها وهو بعيد جدا فالوجه جواز الدفع بل وجوبه ولا نظر للحمل وإن قلنا إنه يعلم لأنا لم نتيقن حياته وتيقنا إضرارها لو لم يدفعها فروعي والله أعلم
    (قوله أي إن لم يمكن إلخ) عبارة النهاية حيث تعين قتلها طريقا لدفعها وإلا دفعها كالصائل وشمل ذلك ما لو خرجت أذيتها عن عادة القطط وتكرر ذلك منها ا هـ قال ع ش أي : أما إذا لم يتعين بأن أمكن دفعها بضرب أو زجر فلا يجوز قتلها بل يدفعها بالأخف فالأخف كدفع الصائل ومنه ما لو كانت الهرة صغيرة لا يفيد معها الدفع بالضرب الخفيف ولكن يمكن دفعها بأن يخرجها من البيت ويغلقه دونها أو بأن يكرر دفعها عنه مرة بعد أخرى فلا يجوز قتلها ولا ضربها ضربا شديدا اهـ (قوله وجوزه القاضي) أي القتل مطلقا أي في حالة عدوها وغيرها أمكن دفعها بدون القتل أم لا قال الشارح في الإمداد وكان ابن عبد السلام اعتمده حيث أفتى بقتل الهر إذا خرج أذاه عن العادة وتكرر منه واختاره الأذرعي في هر مهمل لا مالك له إلحاقا بالكلب العقور ورجحه في المملوك أيضا لأنه لا تبقى له قيمة مع ظهور إفساده اهـ

    العزيز الجزء الحادي عشر ص: 312
    فيجوز للمصول عليه دفعه وان أتي الدفع علي نفسه فلا ضمان ولا دية ولا كفارة-إلي أن قال-فالبهيمة إذا صالت صارت بمثابة الكلب العقور والسبع الضاري. التغافل عنه وتكرر ذلك منه جاز قتله ولو في غير حال صياله لأنه لا يكف شره إلا بالقتل فراجعه

    Jawaban D
    Bagi pemilik burung dara atau ayam diwajibkan dhaman (mengganti rugi), jika hewan piaraannya menimbulkan kerusakan. Adapun qaul yang mengatakan tidak wajib dhaman diarahkan untuk hewan yang kebiasaannya tidak merusak apabila diliarkan (dilepas dari kandangnya).
    Referensi

    إعانة الطالبين الجزء الرابع ص: 179
    وإن كانت وحدها فأتلفت زرعا أو غيره نهارا لم يضمن صاحبها أو ليلا ضمن إلا أن لا يفرط في ربطها وإتلاف نحو هرة طيرا أو طعاما عهد إتلافها ضمَّنَ مالكَها ليلا ونهارا إن قصر في ربطه
    (قوله وإن كانت وحدها) أي وإن كانت الدابة سائرة وحدها أي وقد أرسلها في الصحراء على الأصح في الروضة وقال الرافعي إنه الوجه أما لو أرسلها في البلد فيضمن مطلقا لمخالفته العادة قال في التحفة وقضيته أن العادة لو اطردت به أي بإرسالها في البلد أدير الحكم عليها أيضا كالصحراء إلا أن يفرق بغلبة ضرر المرسلة بالبلد فلم تقو فيها العادة على عدم الضمان ويؤيده قول الرافعي إن الدابة في البلد تراقب ولا ترسل وحدها (وقوله: لم يضمن صاحبها الخ) أي للحديث الصحيح بذلك، الموافق للعادة في حفظ نحو الزرع نهارا، وحفظ الدابة ليلا، ومن ثم لو جرت عادة بلد بعكس ذلك، إنعكس الحكم، أو بحفظها فيهما – أي ليلا ونهارا – ضمن فيهما – كما بحثه البلقيني – وقياسه أنها لو جرت بعدمه فيهما لم يضمن فيهما اه. تحفة. (قوله: إلا أن يفرط في ربطها) أي أن الضمان عليه فيما أتلفته ليلا، إلا إذا لم يفرط في ربطها، بأن أحكمه وأغلق الباب واحتاط على العادة، فخرجت ليلا لنحو حلها، أو فتح لص للباب، فإنه لا ضمان عليه حينئذ لعدم تقصيره. (قوله: وإتلاف نحو هرة) دخل فيه الطير والنحل، فقولهم لا ضمان بإرسال الطير والنحل، محمول على غير العادي الذي عهد إتلافه.سم.وقال: ق ل على الجلال: إنه لا ضمان مطلقا، كما قاله شيخنا ز ي وخ ط، وخالفهما شيخنا م ر اه.بجيرمي.
    (وقوله: عهد إتلافها) أي الهرة، والاولى إتلافه بتذكير الضمير، والمراد عهد ذلك منه مرتين أو ثلاثا.وقيل يكتفي بمرة.وخرج به التي لم يعهد ذلك منها، فلا ضمان فيه على الاصح، لان العادة جرت بحفظ الطعام عنها لا ربطها (وقوله: ضمن) – بفتح الضاد وتشديد الميم المفتوحة – وضميره المستتر يعود على المبتدأ وهو إتلاف، والجملة خبره. (وقوله: مالكها) أي نحو الهرة، والاولى أيضا أن يكون مالكه بتذكير الضمير. ولو قال كما في شرح المنهج مضمن لذي اليد لكان أولى، لايهامه تخصيص ذلك بالمالك، وليس كذلك إذ المستعير والمستأجر ونحوهما كالمالك. (وقوله: إن قصر في ربطه) أي نحو الهرة، لان هذا ينبغي أن يربط، ويكفى شره، وخرج به ما إذا أحكم ربطه وأغلق الباب واحتاط على العادة، فانحل من رباطه، أو فتح لص الباب، فخرج وأتلف فلا ضمان

    [1] Jika barangnya remeh maka bagi orang lain yang hendak memilikinya tidak perlu mengumumkannya sampai satu tahun, melainkan dengan dhan (dugaan) bahwa pemiliknya sudah tidak menghiraukannya.

    Keputusan Bahtsul Masail Ke 3 PCNU Kab Tulungagung (2016-2021) di Masjid Jami’ Sulaiman, Lebak Ayu Sawahan Madiun, Ahad 16 April 2017 M/19 Rojab 1438 H

    Musahih: KH. Tohari Sholeh
    Perumus: Ust Hakim Fauzi, S.Pd.I dan Ust Jauhar Ansori, S.Pd.I
    Moderator: Ust. Sastro Jari

  • Hujjah Aswaja Khatib Pegang Tongkat

    Hujjah Aswaja Khatib Pegang Tongkat

    dalil-hujjah-aswaja-tongkat-khotib-nu-2cyberaswaja.online- Nabi shalallahu alaihi wasallam keluar menuju tempat shalat Id berjalan kaki. Pulang juga berjalan. Nabi memperbanyak takbir di sela-sela Khutbah. Dan Nabi juga memperbanyak Takbir dalam Khutbah. Ketika Khutbah Nabi memegang tongkat (HR Al-Hakim, Thabrani dan Baihaqi)

    Anjuran melaksanakan shalat Idul Fitri di rumah saja, telah berlalu. Meski sebagian kecil juga ada yang menyelenggarakan Shalat Id di masjid dan mushala, tapi sebagaian besar juga melaksanakan shalat berjamaah di rumah.

    Namun begitu, masih ada tersisa masalah. Yakni, soal memegang tongkat saat berkhotbah dalam Shalat Idul Fitri di masa Pandemi Covid-19 kali ini.

    Sejumlah media sosial menayangkan model berkhutbah yang lazim dilakukan di kalangan masyarakat secara umum di masjid-masjid di Indonesia. Yakni, dalam khotbah, baik Shalat Jumat maupun Shalat Id, dengan memegang tongkat.

    Menanggapi hal itu, Ustadz Ma’ruf Khozin, Ketua Aswaja NU Center Jawa Timur, memberi penjelasan sebagai berikut:

    Memegang tongkat saat khutbah hari raya adalah dianjurkan dalam Madzhab Syafi’iyah, berdasarkan riwayat:

    ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﺇِﻟَﻰ اﻟْﻌِﻴﺪَﻳْﻦِ ﻣَﺎﺷِﻴًﺎ ﻭَﻳَﺮْﺟِﻊُ ﻣَﺎﺷِﻴًﺎ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﺑَﻴْﻦَ ﺃﺿﻌﺎﻑ اﻟْﺨُﻄْﺒَﺔِ ﻭَﻳُﻜْﺜِﺮُ اﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮَ ﻓِﻲ اﻟْﺨُﻄْﺒَﺔِ ﻭَﻳَﺨْﻄُﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺼًﺎ

    Nabi shalallahu alaihi wasallam keluar menuju tempat shalat Id berjalan kaki. Pulang juga berjalan. Nabi memperbanyak takbir di sela-sela Khutbah. Dan Nabi juga memperbanyak Takbir dalam Khutbah. Ketika Khutbah Nabi memegang tongkat (HR Al-Hakim, Thabrani dan Baihaqi)

    Di Bab Jum’at atau hari raya Imam Syafi’i menganjurkan pakai tongkat. Bagaimana bila tidak ada tongkat?

    (ﻗَﺎﻝَ اﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲُّ) : ﻭَﺃُﺣِﺐُّ ﻟِﻜُﻞِّ ﻣَﻦْ ﺧَﻄَﺐَ ﺃَﻱَّ ﺧُﻄْﺒَﺔٍ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﺘَﻤِﺪَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْءٍ

    “Asy-Syaafi’i berkata: Aku senang bagi setiap Khatib, Khutbah apapun, untuk memegang sesuatu” (Al-Umm 1/272)

    “Sesuatu” boleh tombak, boleh pancing, boleh senapan tembak (gun), boleh kayu, stick billiar pun boleh.

    •] Shalat Id di rumah dan khutbah Saudara Muslim di Negeri Jiran tetap memegang tongkat, yang penting benda panjang, apapun itu. (Red)

  • Pedoman, Aqidah dan Asas Nahdlotul Ulama’

    Pedoman, Aqidah dan Asas Nahdlotul Ulama’

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Pedoman Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas. Aqidah Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah; dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi; dalam fiqih mengikuti salah satu dari madzhab empat (Hanafi, Maliki Syafi’i dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam Al-Junaidi.

    Pedoman

    Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas.

    Aqidah

    Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah; dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi; dalam fiqih mengikuti salah satu dari madzhab empat (Hanafi, Maliki Syafi’i dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam Al-Junaidi Al-Bagdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali.

    Asas

    Dalam Kehidup berbangsa dan bernegara di Indonesia Nahdlatul Ulama berasas kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

    Mudah-mudahan bermanfaat. (red)

  • Salat Jum’at Di Masa New Normal (Salat Jumat Gelombang 1 dan 2)

    Salat Jum’at Di Masa New Normal (Salat Jumat Gelombang 1 dan 2)

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Dalam keadaan normal salat Jumat hukumnya wajib secara berjamaah bagi laki-laki, kecuali wanita, hamba sahaya, anak kecil dan musafir (HR Abu Dawud)

    Saat pemberlakuan new normal ini bukan berarti kembali seperti keadaan semula, tetap melakukan prosedur dan protokol medis, tetap pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, mengurangi aktivitas di luar rumah dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan jumatan? Problematika ini berkaitan di kota besar, misalnya dalam 1 pabrik, instansi dan perkantoran berisi ratusan staf dan karyawan. Kalau di desa dan kampung tidak ada masalah.

    Jika masih memungkinkan untuk salat Jumat maka tetap wajib sesuai aturan dari pihak terkait dan medis. Bila tidak memungkinkan ada beberapa tahapan:

    1. Memperbanyak Tempat Salat Jum’at.

    Cara ini ditempuh dan disahkan oleh para Ulama dan Habaib di Pasuruan. Yakni jangan sampai meninggalkan salat Jumat tetapi memperbanyak tempat salat Jumat seperti di musolla dan langgar meskipun jama’ahnya tidak sampai 40 orang.

    Syekh Abu Bakar Dimyathi, Guru dari para ulama Tanah Jawa, metulis dalam catatan kitabnya:

    ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺴﻴﻮﻃﻲ: ﻛﺜﻴﺮا ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺑﺘﻘﻠﻴﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ، ﺇﺫ ﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲ ﻗﺎﻡ اﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺭﺟﺤﺎﻧﻪ. اﻩ ﻭﺣﻴﻨﺌﺬ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﺃﺣﺪ ﻫﺬﻳﻦ اﻟﻘﻮﻟﻴﻦ ﺃﻭﻟﻰ ﻣﻦ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ.

    As-Suyuthi berkata: Banyak dari ulama Syafi’iyah yang taqlid kepada Abu Hanifah soal jama’ah Shalat Jum’at terdiri dari 4 (empat) orang. Padahal pendapat ini merupakan salah satu dari pendapat Asy-Syaafi’i yang memiliki keunggulan dalil. Dengan demikian mengikuti salah satu dari 2 pendapat Asy-Syaafi’i lebih utama dari pada (pindah) taqlid kepada Abu Hanifah (Hamisy Hasyiah I’anah Thalibin 2/70)

    1. Diganti Dzuhur

    ﻭﺃﺟﻤﻌﻮا ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻓﺎﺗﺘﻪ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻣﻦ اﻟﻤﻘﻴﻤﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻮا ﺃﺭﺑﻌﺎ

    Para ulama telah membuat konsensus (Ijma’) bahwa orang yang tertinggal melakukan salat Jumat bagi para Muqimin [bukan Musafir] maka wajib salat Dzuhur (Ibnu Al-Mundzir, Al-Ijma’, 1/40)

    1. Pendapat yang Melarang Jum’at bergelombang/ Shift

    حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمْعَةِ لَمْ يُقِمْهَا إِلاَّ فِيْ مَسْجِدِهِ وَلَمْ يُرَخِّصْ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ مَعَ فَرَطِ حُبِّهِ لِلتَّيْسِيْرِ عَلَى أُمَّتِهِ فِيْ أَنْ يُقِيْمُوْهَا فِيْ مَسَاجِدَ مُتَعَدِّدَةٍ أَوْ يُصَلِّيَ بِمَنْ يَتَيَسَّرُ لَهُ الْحُضُوْرُ أَوَّلَ الْوَقْتِ وَيَأْذَنُ فِيْ أَنْ تُقَامَ بَعْدَهُ جُمْعَةٌ وَجُمْعَةٌ وَثَالِثَةٌ وَهَكَذَا لِبَاقِيْ الَّذِيْنَ لاَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَحْضُرُوْا، وَكَانَ ذَلِكَ أَيْسَرَ عَلَيْهِمْ لَوْ كَانَ

    Sehingga jika sudah datang hari Jum’at, maka beliau Saw. tidak melaksanakan salat Jum’at kecuali di masjidnya. dan Nabi meskipun sangat ingin memberikan kemudahan kepada umatnya tidak memberi dispensasi untuk mendirikan salat Jum’at di banyak mesjid, atau salat bersama orang yang bisa datang kepadanya di awal waktu, dan mendirikan shalat jumat kedua, ketiga dan seterusnya bagi mereka yang tidak bisa datang (di awal waktu). Padahal cara itu lebih mudah bagi mereka seandainya memang diperkenankan. (Tanwir Al-Qulub, 189)

    1. Pendapat yang Membolehkan Bergelombang.

    Masalah seperti ini pernah ditemukan di negeri Eropa, masjid tidak memadai dan sulit memperbanyak tempat salat namun jamaah salat Jumat dari Muslim imigran cukup banyak. Akhirnya ada yang menggunakan cara bershift/ susulan seperti ini:

    ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻠﻪ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺇﻋﺎﺩﺓ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﻭاﺣﺪ ﺑﺤﺠﺔ ﺃﻥ اﻟﻨﻈﺎﻡ ﻓﻲ اﻟﻤﺪﺭﺳﺔ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ اﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﻣﻦ ﺃﺩاء اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻣﻊ اﻷﻭﻟﻴﻦ، ﻓﻬﺬا ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ اﺑﻦ ﺣﺰﻡ ﻭﻣﻦ ﻭاﻓﻘﻪ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ، ﺣﻴﺚ ﻳﺮﻯ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻓﺎﺗﺘﻪ اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﻭﺟﺪ ﻣﻦ ﻳﺼﻠﻲ ﻣﻌﻪ ﻭﻟﻮ ﻭاﺣﺪاً ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺼﻠﻲ ﻣﻌﻪ ﺟﻤﻌﺔ، ﺃﻣﺎ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺪ ﺃﺣﺪاً ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺼﻠﻲ ﻇﻬﺮاً.

    Apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengulang salat Jumat di 1 masjid dengan dalih aturan sekolah tidak memungkinkan bagi orang yang terlambat untuk melakukan salat Jumat bersama gelombang pertama maka menurut pendapat Ibnu Hazm tidak apa-apa. Ibnu Hazm berpendapat jika ada orang yang ketinggalan salat Jumat dan masih menemukan orang untuk diajak salat Jumat, meski 1 orang, maka ia salat Jumat bersamanya. Jika tidak menemukan sama sekali maka ia salat Dzuhur (Qism Al-Fiqh 79/29)

    Kelemahan dari cara no 4 ini untuk diterapkan di negara kita adalah karena pendapat Madzhab Dhahiri (di luar 4 Madzhab). Disamping itu telah menyalahi Ijma’ mayoritas Umat Islam, serta masih mudahnya menemukan tempat untuk dijadikan tempat salat.

    Solusinya terdapat pada cara ke 1, yakni melakukan di banyak tempat meskipun tidak sampai 40 orang. Jika tidak memungkinkan maka diganti salat Dzuhur. (KH. Ma’ruf khozin)

  • BERSYA’IR DAN TABUH REBANA DALAM MASJID TIDAK HARAM ASALKAN

    BERSYA’IR DAN TABUH REBANA DALAM MASJID TIDAK HARAM ASALKAN

    Screenshot_200

    cyberaswaja.online- Sang Mujtahid Fatwa dan Tarjih dalam madzhab Syafi’i yakni Imam Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim Cetakan Baitul Afkar Ad Dauliyah halaman 1056 menjelaskan sebuah hadits :

    عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ فِي الْمَسْجِدِ وَحَسَّانُ يُنْشِدُ فَقَالَ كُنْتُ أُنْشِدُ فِيهِ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَنْشُدُكَ بِاللَّهِ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَجِبْ عَنِّي اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ قَالَ نَعَمْ

    فِيهِ جَوَازُ إِنْشَادِ الشِّعْرِ فِي الْمَسْجِدِ إِذَا كَانَ مُبَاحًا وَاسْتِحْبَابُهُ إِذَا كَانَ في ممادح الاسلام وأهله

    Artinya :

    “Dari Sa’id bin Musayyab ia berkata : suatu ketika Umar berjalan bertemu dengan Hassan bin Tsabit yang sedang melantunkan sya’ir di masjid. Umar menegur Hassan, namun Hassan menjawab : aku melantunkan sya’ir di masjid yang di dalamnya ada seorang yang lebih mulia dari pada kamu, kemudian dia berpaling kepada Abu Hurairah sambil berkata demi Allah apakah engkau pernah mendengar Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jawablah permintaanku, ya Allah kuatkanlah dia dengan ruh al-qudus. Abu Hurairah menjawab : benar (aku telah mendengarnya)”.

    “Dalam hadits ini mengandung kebolehan mendendangkan syi’ir di dalam masjid jika memang bait syi’ir yang dilantunkan adalah sesuatu yang mubah dan kesunnahan bersyi’ir jika memang dalam konteks pujian-pujian kepada Islam dan orang-orang Islam (apalagi Nabi,Sahabat,dan orang sholeh)”.

    👉Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami yang juga seorang mujtahid dalam Madzhab Syafi’i dalam kitab Al Fatawa Al Fiqhiyyah Al Kubro juz 4 halaman 356-357 mengenai tabuh rebana dalam masjid beliau mengatakan :

    أَمَّا الدُّفُّ فَمُبَاحٌ مُطْلَقًا حَتَّى لِلرِّجَالِ كَمَا اقْتَضَاهُ إطْلَاقُ الْجُمْهُورِ وَصَرَّحَ بِهِ السُّبْكِيّ وَضَعَّفَ مُخَالَفَةَ الْحَلِيمِيِّ فِيهِ…….. وَأَمَّا فِعْلُ ذَلِكَ فِي الْمَسَاجِدِ فَلَا يَنْبَغِي لِأَنَّهَا لَمْ تُبْنَ لِمِثْلِ ذَلِكَ وَلَا يَحْرُم ذَلِكَ إلَّا إنْ أَضَرَّ بِأَرْضِ الْمَسْجِدِ أَوْ حُصُرِهِ أَوْ نَحْوِهِمَا أَوْ شَوَّشَ عَلَى نَحْوِ مُصَلٍّ أَوْ نَائِمٍ بِهِ وَقَدْ رَقَصَ الْحَبَشَةُ فِي الْمَسْجِدِ وَهُوَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَنْظُرهُمْ وَيُقِرّهُمْ عَلَى ذَلِكَ وَفِي التِّرْمِذِيِّ وَسُنَنِ ابْنِ مَاجَهْ عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ «أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَافْعَلُوهُ فِي الْمَسَاجِدِ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفِّ» وَفِيهِ إيمَاءٌ إلَى جَوَازِ ضَرْبِ الدُّفِّ فِي الْمَسَاجِدِ لِأَجْلِ ذَلِكَ فَعَلَى تَسْلِيمِهِ يُقَاسُ بِهِ غَيْرُهُ وَأَمَّا نَقْلُ ذَلِكَ عَنْ السَّلَفِ فَقَدْ قَالَ الْوَلِيُّ أَبُو زُرْعَةَ فِي تَحْرِيرِهِ صَحَّ عَنْ الشَّيْخِ عِزِّ الدِّينِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وَابْنِ دَقِيقِ الْعِيدِ وَهُمَا سَيِّدَا الْمُتَأَخِّرِينَ عِلْمًا وَوَرَعًا وَنَقَلَهُ بَعْضُهُمْ عَنْ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيِّ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – وَكَفَاكَ بِهِ وَرِعًا مُجْتَهِدًا وَأَمَّا دَلِيلُ الْحِلِّ لِمَا ذُكِرَ فَفِي الْبُخَارِيِّ أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «سَمِعَ بَعْضَ جَوَارٍ يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ وَهِيَ تَقُولُ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – دَعِي هَذَا وَقُولِي الَّذِي كُنْت تَقُولِينَ» وَفِي التِّرْمِذِيِّ وَابْنِ مَاجَهْ أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَمَّا رَجَعَ مِنْ بَعْضِ غَزَوَاتِهِ أَتَتْهُ جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إنِّي نَذَرْتُ إنْ رَدَّك اللَّهُ تَعَالَى سَالِمًا أَنْ أَضْرِبَ بَيْنَ يَدَيْك بِالدُّفِّ فَقَالَ لَهَا إنْ كُنْتِ نَذَرْتِ فَأَوْفِ بِنَذْرِك»

    “Adapun rebana itu hukumnya mubah secara mutlaq bahkan untuk laki-laki sekalipun, sebagaimana yang dikehendaki oleh pemutlakan dari mayoritas Ulama dan telah dijelaskan oleh Al Imam As Subki dan beliau melemahkan penyelisihan Al Halimi dalam hal ini…..Adapun melakukan tabuh rebana dalam masjid maka hendaknya tidak dilakukan karena masjid tidak dibangun untuk hal itu namun perbuatan tersebut tidak diharamkan kecuali jika membahayakan tanah masjid,tikar masjid, (khawatir) mengganggu orang sholat dan orang tidur. Dan sungguh orang-orang ethiopia menari di dalam masjid, Nabi pun melihat dan menyetujui hal tersebut. Dalam riwayat Imam Turmudzi dan Sunan Ibnu Majah dari Sayyidah Aisyah Rodliyallahu ‘anha Nabi bersabda :

    “Umumkanlah pernikahan ini dan langsungkanlah pernikahan itu dimasjid dan iringilah dengan tabuhan rebana”.

    “Dalam Hadits ini mengandung isyarat kebolehan menabuh rebana dalam masjid.”

    “Adapun kutipan tersebut yang datang dari salaf, maka sungguh Al Wali Abu Zur’ah berkata dalam kitab tahrirnya bahwa hal tersebut memang benar dari Syaikh ‘Izzuddin bin Abdissalam dan Ibnu Daqiq Al ‘Id yang mana beliau berdua adalah pemimpin para ulama muta akhhirin dalam keilmuan dan kewara’an.”

    “Adapun dalil kehalalan tentang yang telah disebutkan adalah dalam Shohih bukhori :

    “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar beberapa budak perempuan yang menabuh rebana mengatakan : “Diantara kami ada nabi yang mengetahui apa yang terjadi esok”. Lalu Nabi berkata : biarkan, dan ucapkan sebagaimana yang mereka ucapkan.”

    “Dan dalam riwayat Imam Turmudzi juga Ibnu Majah :

    “Ketika Rasulullah pulang dari peperangan didatangi oleh seorang budak wanita hitam dan ia berkata: “Wahai Nabi, saya bernadzar jika Engkau kembali dari perang diselamatkan oleh Allah, saya akan menabuh terbang di hadapanmu. Rasulullah menjawab: “Jika kamu bernadzar seperti itu, maka lakukanlah nadzarmu”.

  • TIRAKATNYA SEORANG SUAMI KETIKA ISTRI HAMIL

    TIRAKATNYA SEORANG SUAMI KETIKA ISTRI HAMIL

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Dari Kh sholeh bandar kidul beliau Dari KH Mahrus Ali lirboyo kediri

    1.Seorang suami Seyogyanya didahului dengan berpuasa hari kamis, dan berbuka hanya dg air putih (tidak boleh makan apapun) sempai tengah malam. Kemudian dilanjutkan sholat hajat.

    Kaifiyah sholat hajat
    Rokaat 1 setelah fatehah membaca (رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ)
    [Surat Al-Baqarah 128]

    Rokaat ke 2 setelah fateh membaca

    رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ.رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
    [Surat Ibrahim 40, 41]

    Rokaat ke 3 setelah fatehah membaca

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا)
    [Surat Al-Furqan 74]

    Rokaat ke 4 setelah fatehah membaca
    ( رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضاَه وأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ)
    [Surat Al-Ahqaf 15]

    Setelah salam membaca رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا)
    [Surat Al-Furqan 74]

    1. Membaca sholawat 313 x, kemudian ditiupkan pada pusarnya istri yang hamil, dan di usap (di elus elus) sambil membaca
      ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار
      3 x dalam satu nafas

    2. Hadiah fatehah kepada ayah, ibu dan seterusnya.

    Semoga bermanfaat 😊

    #alanumedia