Kategori: Religius

berita yang fokus pada aspek keagamaan, seperti ajaran agama, praktik keagamaan, perkembangan dalam komunitas keagamaan, dan isu-isu terkait keagamaan. Berita ini dapat mencakup liputan tentang acara keagamaan, ceramah agama, perayaan agama, dan pandangan agama terhadap isu-isu kontemporer. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi yang mendalam dan mendukung pemahaman yang lebih baik tentang aspek keagamaan dalam masyarakat.

  • MANDI KEMBANG MENURUT ISLAM DAN FILOSOFI KEJAWEN

    MANDI KEMBANG MENURUT ISLAM DAN FILOSOFI KEJAWEN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Membicarakan masalah mandi kembang tentu pikiran kita akan menuju ke suatu ritual mistis yang dilakukan seseorang untuk tujuan tertentu.

    Tapi apakah semua orang yang mandi kembang pasti melakukan suatu ritual tertentu , bagaimana jika itu hanya untuk terapi .

    Bunga tidak hanya dikenal karena kecantikannya. Bunga juga mengandung berbagai macam manfaat lain yang belum diketahui oleh khalayak ramai. Namun tak sedikit juga yang tahu bahwa mandi kembang dapat membersihkan aura tubuh, serta memperkuat energi yang terpancar dari tubuh manusia.
    Ritual mandi kembang sudah ada dari jaman dulu kala. Hanya saja, beberapa orang masih salah mengartikan makna dari ritual tersebut.
    Alangkah baiknya bila seseorang menyelami makna filosofis dari ritual mandi kembang lebih dalam supaya tidak muncul kesalahpahaman.

    Bagaimana Sebenarnya Makna Filosofis dari Ritual Mandi Kembang?

    Mandi kembang lebih dikenal sebagai ritual kejawen (adat jawa). Setelah diteliti berkali-kali, ditemukan fakta bahwa ritual mandi kembang mampu membersihkan aura manusia. Aura yang kuat dan bersih yang berasal dari kesehatan fisik dan juga mental dapat diperoleh dengan melakukan ritual tersebut. Ditambah lagi, wewangian yang berasal dari bunga-bunga terpilih itu juga dapat mempengaruhi sistem kerja saraf tubuh manusia, sehingga membuat seseorang dapat melakukan hal-hal yang lebih positif. Karena pkiran dan hatinya bersih, maka apa yang dilakukannya juga akan menjadi baik.

    Pada sastra kitab klasik, telah dijabarkan oleh Jalaludin As Suyuthi mengenai makna filosofis dari ritual mandi kembang. Selain menimbulkan energi, bunga memiliki ciri aromanya masing-masing. Aroma sedap yang tercium dari bunga, serta bentuk dan warnanya yang indah akan memberikan perasaan nyaman bagi siapapun yang melihatnya.

    Ritual mandi kembang menurut Islam bukanlah hal musrik. Mereka yang menganggap ritual mandi kembang adalah musrik, berarti mereka adalah tipe orang yang kurang bisa berpikir jernih. Ritual mandi kembang merupakan tradisi jaman dulu sebelum mengenal sabun. Jadi, supaya tubuhnya bersih dan wangi maka orang jaman dulu menggunakan bunga untuk menyeka tubuhnya. Selagi tidak ada bentuk penyembahan yang melatarbelakangi ritual tersebut, maka mandi kembang bukanlah hal musrik.
    Nah , jika disitu tidak ada unsur syirik , apa bedanya dengan mandi susu atau luluran ?
    Jadi bisa dipahami bukan ?

    Seperti yang disabdakan Allah SWT bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, seperti saat sebelum memulai sholat hendaknya seseorang membersihkan dirinya terlebih dahulu dengan berwudhu. Mandi kembang 7 rupa dalam Islam adalah mandi dengan mencampurkan 7 jenis bunga ke dalam air bersih agar supaya aura dan energi luar dan dalam tubuhnya tetap terjaga. Atau dengan kata lain, supaya kebersihan tubuh tetap terawat.

    Mandi Kembang di Malam Jumat? Ini Manfaatnya !

    Apa yang terlentas di benak kita ketika mendengar kata “malam jumat”? Pastilah hal-hal yang menakutkan dan mengerikan dan beraura mistis.
    Namun tidak demikian adanya, dalam adat kejawen, mandi kembang pada malam jumat dapat mendatangkan banyak manfaat.

    Berikut manfaat mandi kembang malam jumat menurut ritual adat Jawa.

    Membuka dan membersihkan aura.
    Mandi kembang pada malam jumat dipercaya dapat memperkuat aura seseorang. Diistilahkan sebagai mandi aura karena ritual itu bertujuan untuk mempertajam aura seseorang.

    Menetralisir berbagai penyakit.
    Dalam adat Jawa, mandi kembang juga dapat menjauhkan seseorang dari penyakit yang ditimbulkan dari aura negatifnya, seperti santet atau pelet.

    Ternyata bunga memiliki daya vibrasi. Vibrasi energi yang terkandung dalam bunga mampu membuat medan energi tubuh menjadi stabil, sehingga sistem pencernaan tubuh berfungsi dengan benar. Manfaat mandi bunga akan sangat dirasakan apabila seseorang sedang mengalami perasaan gelisah atau tertekan. Sebenarnya, tidak peduli pagi, siang, sore, atau malam, seseorang tetap bisa menyerap energi positif yang diberikan oleh bunga-bunga tersebut.

    Maka dari itu, orang-orang pada jaman dahulu sering melakukan ritual mandi kembang untuk membebaskan jiwa-jiwa yang sedang terganggu ketentramannya. Karena apabila jiwa seseorang sedang terganggu, fisiknya pasti akan terganggu juga. Berdasarkan penjelasan diatas, hendaknya makna filosofis dari ritual mandi kembang disikapi dengan bijaksana agar tidak menimbulkan prasangka buruk.

    Jadi disini bisa disimpulkan bahwa mandi kembang memang tidak dilarang dalam islam selagi tidak ada unsur kemusrikan .
    Bagaimana dengan kasus memandikan keris atau mobil baru ?

    Pertanyaan seperti ini seharusnya tidak usah dijawab , atau bisa ditanya balik kalau ada yang menanyakan pada kita ?
    Apakah keris , mobil perlu mandi kembang , apakah mereka perlu terapi seperti kita , bukankah mereka benda mati .
    Jadi bisa dipastikan itu ada unsur lain yang melatarbelakanginya , dan anda pasti tahu jawabannya.

    Semoga bermanfaat, (abi SORBAN)

  • KEADILAN DAN KELALIMAN

    KEADILAN DAN KELALIMAN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Tak lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundangi para ulama di kawasan itu. Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:

    “Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

    Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kejahatan Timur Lenk ini. Dan akhirnya, tibalah waktunya Nasrudin diundang. Ini adalah perjumpaan resmi Nasrudin yang pertama dengan Timur Lenk. Timur Lenk kembali bertanya dengan angkuh :

    “Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

    Dan dengan menenangkan diri, Nasrudin menjawab :

    “Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami.”

    Setelah berpikir sejenak, Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk lebih lanjut.

    TIMUR LENK DI AKHIRAT

    Timur Lenk meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.

    “Nasrudin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu ? Apakah aku ditempatkan bersama orang-orang yang mulia atau yang hina ?”

    Bukan Nasrudin kalau ia tak dapat menjawab pertanyaan ‘semudah’ ini.

    “Raja penakluk seperti Anda,” jawab Nasrudin, “Insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah.”

    Timur Lenk benar-benar puas dan gembira. “Betulkah itu, Nasrudin ?”

    “Tentu,” kata Nasrudin dengan mantap. “Saya yakin Anda akan ditempatkan bersama Fir’aun dari Mesir, raja Namrudz dari Babilon, kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan.”

    Entah mengapa, Timur Lenk masih juga gembira mendengar jawaban itu.(abi-sorban)

  • YANG MENARIK DARI NU

    YANG MENARIK DARI NU

    SORBANSANTRI.COMSORBAN SANTRI – Apa yang menjadi daya tarik NU hingga bisa bertahan puluhan tahun dan jumlahnya jamaahnya terus membesar? Survei terakhir Alvara tahun 2019 menunjukkan jumlah orang indonesia yang mengaku menjadi anggota NU sebesar 39.4%, jumlah ini setara dengan lebih dari 88 juta penduduk Indonesia

    Bila dilihat dari sisi spiritual, kita akan dengan mudah menemukan jawabannya. NU adalah organisasi ulama yang didirikan oleh kyai-kyai yang sudah teruji, siapa bisa meragukan kealiman Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri, dan para muassis NU lainnya. Kebesaran NU hingga hari ini adalah bukti karomah beliau-beliau yang secara ikhlas mendedikasikan seluruh hidupnya di NU dan umat.

    Namun demikian kita juga membutuhkan penjelasan yang lebih rasional. Penjelasan yang mudah dimengeri oleh semua orang terutama buat khalayak yang tidak terlalu paham mengenai NU.

    Dulu saya pernah mengutip Susan Fournier, Profesor Marketing dari Boston University, soal tiga jenis kemunitas. Pertama, Pools, komunitas ini disatukan oleh shared values atau nilai-nilai yang sama, atau bahasa gampangnya komunitas yang memiliki ideologi yang sama.

    Kedua, Web, komunitas ini disatukan oleh jejaring yang kuat, hubungan antar anggota komumitas ini cukup erat. Ketiga, Hub, komunitas ini disatukan oleh tokoh idola/panutan, karisma dari sang tokoh membuat orang tertarik ikut dalam sebuah komunitas.

    Maka kalau dilihat dari teori ini, kita akan menemukan jawaban kenapa NU sampai saat ini tetap memiliki magnet yang sangat kuat. Kenapa? Karena ketiga tipe komunitas itu ada dan menyatu dalam tubuh NU sejak awal berdiri hingga kini. Mari kita bedah satu-satu.

    Pertama, Tidak mudah untuk menjawab apa itu shared values NU, para pemikir NU kontemporer biasanya menjelaskan karakter atau prinsip keagamaan NU ada tiga, yaitu tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang), dan i’tidal (tegak lurus). Tapi apakah ini yang menyatukan NU dalam satu komunitas? Saya rasa tidak. Lalu apa? Jawabannya kita harus menengok kembali ke masa saat NU berdiri tahun 1926.

    Harus diakui salah satu latar belakang berdirinya NU tahun 1926 adalah respon atas menguatnya ajaran Wahabi yang di sokong oleh Bani Saud di Arab Saudi kala itu. Ajaran Wahabi yang cenderung puritan adalah ancaman serius terhadap ajaran ahlusunnah wal jamaah (Aswaja) yang dipercaya dan dipraktekkan oleh mayoritas umat islam dunia termasuk Indonesia. Jadi suka tidak suka Aswaja, sebagai antitesis Wahabi, lah yang membuat orang-orang berbondong menjadi NU.

    Kedua, kekuatan sentral NU terletak pada kyai dan pesantrennya yang jumlahnya hingga ratusan ribu dan tersebar hingga ke penjuru Indonesia. Pesantren tersebut tidak berdiri sendiri tapi terkait satu sama lain. Jejaring pesantren ini terbentuk setidaknya karena dua hal, keilmuwan dan kekerabatan.

    Maka tidak salah juga kalau ada orang yang mengatakan NU adalah sebenarnya adalah asosiasi pondok pesantren. Namun demikian harus diakui juga jaringan pondok pesantren dan hubungan pribadi antar kyai inilah yang menjadi perekat NU hingga kini.

    Ketiga, NU dilahirkan oleh ulama-ulama besar dan hingga kinipun juga masih melahirkan ulama-ulama yang memiliki kealiman yang tinggi. Gus Dur misalnya, ketokohanya tidak hanya terjadi dikalangan NU, tapi juga mampu menembus sekat-sekat primordial masyarakat kita. Karisma tokoh kyai yang mumpuni akan selalu menjadi daya tarik yang kuat untuk membuat orang-orang masuk ke sebuah komunitas keagamaan.

    Walhasil berbekal kekuatan tersebut bagaimana NU menatap kedepan?(abi SORBAN)

  • Meneguhkan Aqidah Asy’ariyah

    Meneguhkan Aqidah Asy’ariyah

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh: KH. Ma’ruf Khozin

    Semalam saya berkesempatan ikut ngaji Aqidah Asy’ariyah bersama para pakar Aqidah. Selama ini memang saya masih lebih banyak berkutat dengan Fikih dan seputaran Amaliah Aswaja. Beruntungnya dahulu saat mondok di Ploso saya sempat khatam ngaji Ramadhan kitab Tuhfah Al Murid Syarah Jauharah At-Tauhid, karya Syaikhul Islam wal Azhar, Ibrahim Al Bajuri. Pengajian tersebut diasuh oleh Gus Firjaun Jhon Barlam (Putra KH Ahmad Siddiq, Rais Am PBNU semasa Gus Dur).

    Perdebatan di ranah Aqidah memang tidak seramai masalah tuduhan Bid’ah, Khurafat dan Syirik. Karena memang belum terlalu banyak dari mereka. Namun bukan berarti tidak penting. Justru sangat penting. Sebab yang menyebarkan Aqidah yang berlawanan dengan Asy’ariyah saat ini adalah mereka yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, seperti Allah berada di arah tertentu, firman Allah sama seperti perkataan makhluk dan sebagainya. Allah Maha Suci dari ungkapan mereka semuanya.

    Metode yang digunakan adalah mudzakarah, bergantian dari para pakar Aqidah yang menyampaikan. Sesekali para pakar inilah yang menyampaikan bahan pertanyaan, sehingga menguji adrenalin, bagaimana mungkin dalam waktu bersamaan tanpa persiapan jawaban, namun tiba-tiba banyak yang bisa terjawab. Subhanallah. Inilah ilmu-ilmu Allah yang diberikan kepada para ulama muda kita.

    Dari beberapa pakar tersebut saya melihat memang ada yang betul-betul menguasai dalil Naqli (Qur’an dan Sunnah) di bidang Aqidah. Juga dalil-dalil Aqli yang dahulu pernah meramaikan jagad perdebatan di masa-masa Imam Al-Ghazali, Ar-Razi, Al-Baidhawi dan sebagainya. Dan diantara yang menguasai keduanya adalah Host-nya, yang memandu kami dengan bahasa yang mudah dipahami, yaitu Sayidi Al-Habib Geys Bin Abdurrahman Assegaf.

    Nikmat ngaji Aqidah Asy’ariyah dengan para ahlinya ini membuat saya ingin menghentikan detak perjalanan jam yang terasa cepat, dimulai jam 20.00 dan selesai jam 22.30. Dan semua berakhir ketika para istri kyai tersebut memberi isyarat kepada para suami bahwa ini adalah malam Jum’at.

    •] Kiriman gambar dari Habib Geys, serasi antara HP dan laptopnya.

  • Tiba-Tiba Mata Saya Bisa Melihat Lagi

    Tiba-Tiba Mata Saya Bisa Melihat Lagi

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Di Majelis Dzikir Manakib Syaikh Abdul Qodir Jailani ra, KH Achmad Muzakky Syah bercerita, “Ketika itu di rumah saya sedang banyak tamu baik laki-laki dan perempuan. Tamu laki-laki berada di teras rumah dan tamu perempuan ada di dalam rumah. Ada seorang nenek yg berada di tempat tamu laki-laki di teras rumah sehingga saya suruh nenek tersebut masuk kedalam rumah, “nek, masuk nek ke dalam”

    “Tidak bisa melihat kiai” jawab nenek tersebut
    “iya nek masuk aja kedalam, tamu perempuan di dalam”
    “saya gak bisa melihat kiai” jawab nenek
    “Ya sudah, sembuh, sembuh”
    Akhirnya nenek tersebut diantar masuk ke dalam rumah.

    Beberapa hari kemudian nenek ini bertamu ke kiai ingin tasyakuran menyembelih kambing.
    “Tasyakuran untuk apa nek”
    “Sebenarnya saya ini sudah 8 bulanan tidak bisa melihat kiai, kemarin waktu kiai menyuruh saya masuk rumah kiai bilang ‘sembuh, sembuh’. Nah alhamdulillah kiai tidak lama setelah itu dirumah tiba-tiba mata saya bisa melihat lagi kiai”
    “Semua itu karena berkah karomah Syaikh Abdul Qodir Jailani ra” (Al-Qodiri)

  • Khatib Pegang Tongkat

    Khatib Pegang Tongkat

    SORBAN SANTRI– Memegang tongkat saat khutbah hari raya adalah dianjurkan dalam Madzhab Syafi’iyah, berdasarkan riwayat:

    ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﺇِﻟَﻰ اﻟْﻌِﻴﺪَﻳْﻦِ ﻣَﺎﺷِﻴًﺎ ﻭَﻳَﺮْﺟِﻊُ ﻣَﺎﺷِﻴًﺎ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﺑَﻴْﻦَ ﺃﺿﻌﺎﻑ اﻟْﺨُﻄْﺒَﺔِ ﻭَﻳُﻜْﺜِﺮُ اﻟﺘَّﻜْﺒِﻴﺮَ ﻓِﻲ اﻟْﺨُﻄْﺒَﺔِ ﻭَﻳَﺨْﻄُﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﺼًﺎ

    Nabi shalallahu alaihi wasallam keluar menuju tempat shalat Id berjalan kaki. Pulang juga berjalan. Nabi memperbanyak takbir di sela-sela Khutbah. Dan Nabi juga memperbanyak Takbir dalam Khutbah. Ketika Khutbah Nabi memegang tongkat (HR Al-Hakim, Thabrani dan Baihaqi)

    Di Bab Jum’at atau hari raya Imam Syafi’i menganjurkan pakai tongkat. Bagaimana bila tidak ada tongkat?

    (ﻗَﺎﻝَ اﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲُّ) : ﻭَﺃُﺣِﺐُّ ﻟِﻜُﻞِّ ﻣَﻦْ ﺧَﻄَﺐَ ﺃَﻱَّ ﺧُﻄْﺒَﺔٍ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﺘَﻤِﺪَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْءٍ

    “Asy-Syaafi’i berkata: Aku senang bagi setiap Khatib, Khutbah apapun, untuk memegang sesuatu” (Al-Umm 1/272)

    “Sesuatu” boleh tombak, boleh pancing, boleh senapan tembak (gun), boleh kayu, stick billiar pun boleh.

    •] Shalat Id di rumah dan khutbah Saudara Muslim di Negeri Jiran tetap memegang tongkat, yang penting benda panjang, apapun itu.
    •] Khotib Indonesia pakai bedil

    (kh.ma’ruf khozin)

  • Puasa 6 Hari Bulan Syawal

    Puasa 6 Hari Bulan Syawal

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Syawal tahun ini terasa beda dari Syawal sebelumnya. Ada sebagian rumah di Surabaya yang tertulis di depan pagar rumah: “Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. Maaf tidak menerima tamu”. Ada lagi di status WA: “Untuk mengurangi penularan virus Corona maka pemberian uang unjung-unjung ditiadakan”, dan sebagainya.

    Dari pada sekedar di rumah online terus lebih baik dilanjutkan puasa Sunah 6 hari bulan Syawal. Sebulan saja mampu, in syaa Allah 6 hari juga mampu.

    ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺃَﻳُّﻮﺏَ اﻷَْﻧْﺼَﺎﺭِﻱِّ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ، ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ: «ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺛُﻢَّ ﺃﺗﺒﻌﻪ ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّاﻝٍ، ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺼِﻴَﺎﻡِ اﻟﺪَّﻫْﺮِ»

    Dari Abu Ayyub Al Ansori bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa bulan Ramadhan kemudian melanjutkan 6 hari puasa bulan Syawal maka seperti (pahala) puasa 1 tahun” (HR Muslim)

    1. Maksud Seperti Puasa 1 Tahun

    ﻗَﺎﻝَ اﻟْﻌُﻠَﻤَﺎءُ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻛَﺼِﻴَﺎﻡِ اﻟﺪَّﻫْﺮِ ﻷَِﻥَّ اﻟْﺤَﺴَﻨَﺔَ ﺑِﻌَﺸْﺮِ ﺃَﻣْﺜَﺎﻟِﻬَﺎ ﻓَﺮَﻣَﻀَﺎﻥُ ﺑِﻌَﺸَﺮَﺓِ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﻭَاﻟﺴِّﺘَّﺔُ ﺑِﺸَﻬْﺮَﻳْﻦِ

    Ulama menjelaskan bahwa puasa tersebut seperti puasa 1 tahun sebab 1 kebaikan dilipatgandakan 10 kebaikan. Maka Ramadhan seperti 10 bulan dan 6 hari seperti 2 bulan” (Syarah Muslim 8/58)

    Penjelasan ini menurut Imam Nawawi berdasarkan hadis:

    ﻋَﻦْ ﺛَﻮْﺑَﺎﻥَ، ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ: «ﺻِﻴَﺎﻡُ ﺷَﻬْﺮِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺑِﻌَﺸَﺮَﺓِ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﻭَﺻِﻴَﺎﻡُ ﺳِﺘَّﺔِ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّاﻝٍ ﺑﺸﻬﺮﻳﻦ ﻓَﺬَﻟِﻚَ ﺻِﻴَﺎﻡُ ﺳَﻨَﺔٍ»

    Dari Tsauban bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Puasa Ramadhan seperti 10 bulan. Dan puasa 6 hari bulan Syawal seperti 2 bulan. Itulah puasa 1 tahun” (HR Nasa’i)

    1. Boleh Berurutan Atau Dipisah

    ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑُﻨَﺎ ﻭَاﻷَْﻓْﻀَﻞُ ﺃَﻥْ ﺗُﺼَﺎﻡَ اﻟﺴِّﺘَّﺔُ ﻣُﺘَﻮَاﻟِﻴَﺔً ﻋَﻘِﺐَ ﻳَﻮْﻡِ اﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻓَﺈِﻥْ ﻓَﺮَّﻗَﻬَﺎ ﺃَﻭْ ﺃَﺧَّﺮَﻫَﺎ ﻋَﻦْ ﺃَﻭَاﺋِﻞِ ﺷَﻮَّاﻝٍ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻭَاﺧِﺮِﻩِ ﺣَﺼَﻠَﺖْ ﻓَﻀِﻴﻠَﺔُ اﻟْﻤُﺘَﺎﺑَﻌَﺔِ ﻷَِﻧَّﻪُ ﻳَﺼْﺪُﻕُ ﺃَﻧَّﻪُ ﺃَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّاﻝٍ

    Ulama Syafi’iyah berkata: “Yang utama adalah berpuasa 6 hari bulan Syawal secara terus menerus setelah Idul Fitri. Jika 6 hari tersebut dipisah-pisah atau diakhirkan dari hari awal-awal bulan Syawal maka tetap memperoleh pahala tersebut karena masih kategori meneruskan 6 hari bulan Syawal” (Syarah Muslim 8/58)

    1. Qadha’ Puasa Ramadhan bersama Puasa 6 Hari Bulan Syawal

    (ﺳُﺌِﻞَ) ﻋَﻦْ ﺷَﺨْﺺٍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺻَﻮْﻡٌ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﻗَﻀَﺎءٌ ﻓِﻲ ﺷَﻮَّاﻝٍ ﻫَﻞْ ﻳَﺤْﺼُﻞُ ﻟَﻪُ ﻗَﻀَﺎءُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﺛَﻮَاﺏُ ﺳِﺘَّﺔِ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّاﻝٍ ﻭَﻫَﻞْ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻧَﻘْﻞٌ؟

    Ar-Ramli ditanya tentang seseorang yang punya tanggungan puasa Ramadhan dan diqadla’ (ditunaikan) di bulan Syawal apakah dia mendapatkan pahala qadha’ dan pahala 6 hari bulan Syawal, apakah ada dalilnya?

    (ﻓَﺄَﺟَﺎﺏَ) ﺑِﺄَﻧَّﻪُ ﻳَﺤْﺼُﻞُ ﺑﺼﻮﻣﻪ ﻗَﻀَﺎءُ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﺇِﻥْ ﻧَﻮَﻯ ﺑِﻪِ ﻏَﻴْﺮَﻩُ ﻭَﻳَﺤْﺼُﻞُ ﻟَﻪُ ﺛَﻮَاﺏُ ﺳِﺘَّﺔٍ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّاﻝٍ ﻭَﻗَﺪْ ﺫَﻛَﺮَ اﻟْﻤَﺴْﺄَﻟَﺔَ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦْ اﻟْﻤُﺘَﺄَﺧِّﺮِﻳﻦَ.

    Ar-Ramli menjawab: “Dia mendapatkan pahala qadha’ Ramadhan bersama puasa 6 Syawal, meskipun niat dengan lainnya. Dia juga tetap mendapatkan pahala 6 hari bulan Syawal. Masalah ini telah disampaikan oleh para ulama generasi akhir” (Fatawa Ar-Ramli 2/66) (abi sorban)

  • CUKUP ANAK SANTRI MELAWAN KAUM SALAFI WAHABI PORO KYAI DUDUK MANIS

    CUKUP ANAK SANTRI MELAWAN KAUM SALAFI WAHABI PORO KYAI DUDUK MANIS

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- 
    Ikhwan Salafi lagi di Private Santri NU

    RANGKUMAN ALUR DISKUSI ANTARA
    Nurul Lailatirrahmah DENGAN Putra Mandala Wangi

    TEMA DISKUSI : “TAHLILAN”

    Nurul Lailatirrahmah
    THREAD KHUSUS AKU SEDIAKAN

    UNTUK AKHY Putra Mandala Wangi

    Dalam salah satu postingannya akhy Putra Mandala Wangi menuliskan sebagaimana yg aku copy paste berikut ini :

    Putra Mandala Wangi
    Kemarin ada yg memberitau ana, katanya admin di group ini suka menantang debat ikhwan Salafi.

    Bila info tsb mmg bnr, ana mau mencoba melayaninya.

    Merespon postingan tersebut melalui thread ini aku bermaksud mengajak akhy Putra Mandala Wangi untuk berdiskusi di sini
    INGAT…..!!!
    Ajakan aku adalah untuk BERDISKUSI, bukan untuk BERDEBAT.

    SELANJUTNYA Kepada Akhy Putra Mandala Wangi aku persilahkan utk memilih dan menentukan terlebih dahulu , apa kira kira TEMA yg mau didiskusikan.

    CATATAN :
    Khusus utk akhy Putra Mandala Wangi. Selama berdiskusi dilarang keras menuliskan komentar di sub kolom .

    Untuk selain dari Akhy Putra Mandala Wangi, dimohon dengan sangat agar cukup untuk menyimak saja .

    Putra Mandala Wangi
    Kenapa ukhty arena dikusinya kok tidak di lapak yg tadi ana buat, kenapa kok harus dipindahkan di sini?

    Suka Balas · 8 jam

    Nurul Lailatirrahmah
    Alhamdulillah , akhy Putra Mandala Wangi sudah hadir.
    Soal kenapa kok thread diskusinya dipindahkan di sini dan tidak di threat yg akhy buat ???
    ALASANNYA :
    Berdasarkan pengalaman yg sudah sudah , WAHABI kalau kalah adu orgumentasi dalam suatu diskusi, biasanya postingan diskusi yg dibuatnya langsung dihapus.
    Nah utk menghindari agar lapak diskusinya tidak dihapus, maka aku pindahkan di sini
    Demikian klarifikasi .
    Ngomong ngomong apakah akhy Putra Mandala Wangi sudah siap utk memulai diskusinya???

    Suka Balas · 8 jam

    Putra Mandala Wangi
    Afwan ukhty, ana skrg masih sibu

    Suka Balas · 8 jam

    Nurul Lailatirrahmah
    Lantas siapnya kapan ya akhy Putra Mandala Wangi?

    Suka Balas · 8 jam

    Putra Mandala Wangi
    Nanti biar ana kabari

    Suka Balas · 8 jam

    Putra Mandala Wangi
    Ukhty Nurul Lailatirrahmah, skrg ana sudah siap utk berdiskusi.
    Apakah ukhty masih punya nyali berdiskusi dg ana?

    Suka· Balas · 7 jam

    Nurul Lailatirrahmah
    Alhamdulillah kalau akhy Putra Mandala Wangi sudah siap utk berdiskusi.
    Sekarang silahkan tentukan tema yg mau didiskusikan akhy …

    Suka Balas · 7 jam

    Putra Mandala Wangi
    Ketahuilah ukhty Nurul Lailatirrahmah, Bahwa Jarir bin Abdullah Al Bajaliy, ia berkata :

    كُنَّا نَرَى (وفِى رِوَايَةٍ : كُنَا نَعُدُّ) اْلاِجْتِمَاع اِلَى أَهلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ (بَعْدَ دَفْنِهِ) مِنَ الْنِّيَاحَةِ

    Apakah ukhty mengingkari perkataan Jarir bin Abdullah Al Bajaliy tersebut??
    Suka Balas · 7 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Aku sama sekali tidak mengingkari Qoulnya Jarir bin Abdullah Al Bajaliy tersebut.
    Lantas apa masalahnya ya akhy Putra Mandala Wangi???
    Suka· Balas · 7 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Klu memang tidak menginkari mengapa ukhty kok masih melanggarnya dengan melakukan TAHLILAN???
    Suka Balas · 7 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Akhy Putra Mandala Wangi, dalam Qoul yg akhy kutip tersebut tidak ada satu katapun yg menyebut tentang TAHLILAN .
    Lantas atas dasar apa akhy kok membelokkan qoul tsb ke masalah TAHLILAN?
    Suka Balas · 7 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Sbnrnya ukhty Nurul Lailatirrahmah paham atau tidak terhadap maksud dari Qoul Jarir bin Abdullah Al Bajaliy tersebut??
    Suka Balas · 7 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Aku sangat paham akhy .
    Jarir bin Abdullah Al Bajaliy mengatakan bahwa para shahabat Beliau memandang/menganggap bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap”
    PERTANYAANKU:
    Dari Qoul tsb klu mnrt akhy Putra Mandala Wangi di bagian mana yg membahas soal TAHLILAN???
    Suka Balas · 7 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Bukankah TAHLILAN itu tempat kumpul kumpul dan makan makan yaa ukhty Nurul Lailatirrahmah???
    Jadi kalau berdasarkan Qoul tsb jelas TAHLILAN itu dilarang , karena bagian dari NIYAAHAH.
    Suka Balas · 7 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Nah ….. di situlah letak kesalahan fatal akhy Putra Mandala Wangi dalam memahami dan memaknai Qoul tsb
    Selain itu kelihatannya akhy belum bisa membedakan antara TAHLILAN dengan MA’TAM.
    TAHLILAN bukanlah tempat kumpul kumpul dan makan makan sebagaimana yg akhy sangkakan. Tahlilan adalah tempat orang untuk mengamalkan perintah Rosululloh Saw yg isinya :
    1. Utk Bershodaqoh atas nama diri sendiri dan atas nama org yg telah meninggal dunia.
    2. Membacakan beberapa ayat AlQur’an .
    3. Membacakan beberapa kalimatut thoyyibah, seperti Sholawat Nabi , Tasbih, Tahmid. Istighfar , Tahlil
    4. Mendoakan dengan memohonkan rohmat dan ampunan Alloh terhadap orang yg telah meninggal dunia
    Adapun MA’TAM adalah tempat berkumpulnya beberapa orang utk melakukan NIYAAHAH.
    Jadi antara TAHLILAN dengan MA’TAM dan NIYAAHAH itu beda jauh makna dan pengertiannya akhy …
    Suka Balas · 7 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    ‘Afwan Ukhty Nurul Lailatirrahmah, dalam komentar ukhty di atas mengatakan bahwa TAHLILAN adalah tempat orang untuk mengamalkan perintah Rosululloh Saw.
    Mana ada Rosulullah Saw memerintahkan tahglilan???
    Jangan mengada ada lah ukhty …
    Suka· Balas · 7 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Ada akhy ….
    Berikut ini aku kutipkan hadits Nabi yg memerintahkan TAHLILAN:

    ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺃﻋﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﻴﺖﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺫﻛﺮﺍﺳﺘﻮﺟﺐﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ

    ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻰ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺉ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ))

    ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﺗﺼﺪﻗﻮﺍﻋﻠﻰ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻟﻮﺑﺸﺮﺑﺔ ماﺀﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻘﺪﺭﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﺒﺄﻳﺔ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮﺍﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻓﺎﺩﻋﻮ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﻐﻔﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﺍﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺪﻛﻢ ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ

    PERTANYAANKU :
    Akhy Putra Mandala Wangi kira kira mengimani hadits tersebut ataukah ju8stru akan mengingkarinya????
    Suka Balas · 7 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    ‘Afwan ukhty Nurul Lailatirrahmah, bisakah ukhty tuliskan terjemah dari hadits yg ukhty kuti itu??
    Suka Balas · 7 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Lhooo…… sebenarnya akhy Putra Mandala Wangi ini mau kembali kepada Al-Qur’an Hadits atau kembali ke TERJEMAH sih ?
    Suka· Balas · 7 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    ‘Afwan Ukhty, berhubung ana ada keperluan, ana ijin of dulu .
    Nanti disambung lagi .
    Suka Balas · 7 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Nurul Lailatirrahmah Yg akhy maksudkan sbg “NANTI” tersebut kira kira kapan yaa akhy Putra Mandala Wangi???
    Satu jam lagikah ?
    Satu hari lagi kah?
    Satu minggu lagi kah ?
    Satu bulan lagi kah?
    Satu tahun lagi kah??
    Atau kapn????
    Coba lebih dipertegas lagi akhy ….
    Suka Balas · 7 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Baiklah Ukhty Nurul Lailatirrahmah. Ana sdh berhasil menterjemahkan hadits yg ukhty kutip di atas.
    “Barang siapa menolong mayyit dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan dzikir, maka Alloh memastikan surga baginya.”
    “Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya air seteguk. Jika kalian tak mampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Jika kalian tidak mengerti Al-Qur’an, berdo’alah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh, ﺗﻌﺎﻟﻰ الله telah berjanji akan mengabulkan do’a kalian.”
    Dari hadits tersebut bukankah juga tidak ada perintah dari Nabi utk mengadakan tahlilan ya ukhty???
    Suka Balas · 6 jam ·
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Nurul Lailatirrahmah Bener banget akhy Putra Mandala Wangi, dalam hadits tersebut memang tidak ada yg tertulis secara tekstual perintah mengadakan TAHLILAN .
    Tetapi perlu akhy pahami bahwa dalam TAHLILAN isinya adalah semua yg diperintahkan dalam hadits tsb .
    PERTANYAANKU:
    Akhy Putra Mandala Wangi kira kira mengimani hadits tersebut ataukah ju8stru akan mengingkarinya????
    Suka Balas · 6 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Tetapi Ukhty Nurul Lailatirrahmah , bukankah yg namanya ibadah itu bersifat TAUQIF, yaitu terikat oleh Syarat, Rukun, Jumlah, Tempat, Waktu dan Tata caranya???
    Sementara yg namanya tahlilan itu lain daerah kan beda cara pelaksanaannya, lantas di mana letak sifat Tauqifnya?
    Suka Balas · 6 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Aku sepakat dengan akhy Putra Mandala Wangi, bahwa yg namanya ibadah itu bersifat TAUQIF, yaitu sdh terikat segala sesuatunya .
    Yang jadi persolan sekarang :
    Sifat TAUQIF tersebut berlaku dalam ranah ibadah yg bagaimana dulu.
    Ini yg perlu kita paham
    Suk Balas · 6 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Yang namanya ibadah itu ya ibadah ukhty…….
    Jadi tidak perlu ditanyakan lagi tentang ranah ibadah yg mananya…..
    Suka Balas · 6 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    He he he …….. Kelihatannya akhy Putra Mandala Wangi masih belum memahami bahwa yg namanya ibadah itu sangat banyak sekali jenisnya.
    Suka Balas · 6 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Tdk usah sok pinter lah ukhty ……..
    Yg namanya ibadah itu adalah segala bentuk penghambaan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jadi gk usah dibagi bagi
    Suka Balas · 6 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Bagini lho akhy Putra Mandala Wangi.
    Ibadah dalam Islam itu terbagi menjadi beberapa bagian , di antaranya:
    1. Ibadah MAHDHOH
    2. Ibadah GHOIRU MAHDHOH
    Ibadah MAHDHOH dibagi lagi menjadi dua, yaitu:
    a. Ibadah Mahdhoh Muqoyyat
    b. Ibadah Mahdhoh Muthlaqoh .
    Ibadah Mahdhoh Muqoyyat adalah jenis ibadah yg murni hubungannya antara seorang hamba dg Alloh Swt. yang
    dalam pelaksanaannya terikat oleh :
    = Adanya dalil qoth’i yg memerintahkannya
    = Adanya contoh dari Rosululloh Saw
    = Terikat oleh syarat, rukun , jumlah , tempat, waktu dan tata caranya .
    CONTOHNYA :
    Sholat, Puasa Romadlo, Zakat , Haji DLL…….
    Kemudian Ibadah Mahdhoh Muthlaqoh adalah jenis ibadah yg murni hubungannya antara seorang hamba dg Alloh Swt. Yang dalam pelaksanaannya :
    = Terikat oleh Adanya dalil ‘Am yg memerintahkannya
    = Tidak terikat oleh Adanya contoh dari Rosululloh Saw
    = Tidak Terikat oleh syarat, rukun , jumlah , tempat, waktu dan tata caranya .
    CONTOHNYA :
    Berdzikir, Berdo’a, Bersholawat, Membaca Al-Qur’an, Membaca Kalimatut Thoyyibah , DLL…….
    Adapun TAHLILAN masuk ke dalam ranah Ibadah Mahdhoh Muthlaqoh. Jadi Sifat Tauqifnya ibadah tersebut tdk berlaku dalam ibadah Mahdhoh Muthlaqoh…
    Suka Balas · 6 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Ana kok tambah bingung ya ukhty Nurul Lailatirrahmah.
    Untuk sementara waktu tolong beri ana ruang utk berfikir dulu .
    Suka Balas · 6 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Silahkan akhy ….
    Tapi ngomong ngomong jeda waktu ruang utk berfikirnya berapa lama satau sampai kapan yaaa????
    Mohon kejelasannya akhy
    Suka Balas · 6 jam ·
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Ukhty Nurul Lailatirrahmah, masih bolehkah ana mengajukan beberapa pertanyaan yg msh mengganjal di pikiran ana?
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Silahkan akhy Putra Mandala Wangi.
    Mengajukan pertanyaan yg tidak mengganjalpun juga boleh kok
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    .Berdasarkan hadits tersebut , apakah tdk sia sia doa dari org lain ???
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Begini akhy Putra Mandala Wangi , dalam hadits yg akhy kutip tsb kalimat وَلَدٍ صَالِحٍsangat begitu jelas menggunakan kalimat ISIM NAKIROH, yaitu suatu kalimat yg menunjukkan pada sesuatu secara kesatuan yang tidak ditentukan atau sesuatu yg bersifat umum.
    Dengan penggunaan kalimat Isim Nakiroh pada kalimat WALADIN SHOOLIHIN tsb maka dapat ditarik satu kesimpulan bahwa ANAK SHOLIH yg dimaksud dalam hadits di atas tidak terbatas hanya ANAK KANDUNG SAJA tapi bi ma’na bisa anak didik, anak buah atau anak bani Adam yg muslim dan muslimah.
    Sesuai dengan Firman Alloh swt berikut ini:

    رَبَّنَا اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابِ.

    “Ya Tuhan kami! Berilah keampunan kepadaku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (Hari Kiamat).”
    Q.S: IBRAHIM, 14:41.

    وَالَّذِيْنَ جَاءُ وْا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالاِيْمَانِ.

    “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka itu akan berkata: Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman sebelum kami”. AL-HASYR, 59:10
    Dengan demikian penolakan terhadap amaliah TAHLILAN dengan dalih bahwa doa yg sampai hanya doa dari anak kandungnya yg sholih sj telah gugur dengan sendirinya.
    Demikian sekelumit penjelasan tentang WALADIN SHOOLIHIN YAD’ULAHU .dari hadits yg akhy ajukan
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Tetapi dalam Surat An-Najm ayat 38-39 Alloh berfirman sebagai berikut:.‎

    أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (38) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39)

    Apakah tidak sia sia belaka walaupun dikirimin pahala sebesar gunung dari orang lain , ???
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Menanggapi Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 38-39 yg akhy Putra Mandala Wangi ajukan, berikut ini aku kutipkan penafsiran Dr. Muhammad Bakar Ismail, seorang ahli fiqh kontemporer dari Mesir. Beliau menjelaskan sebagai berikut :

    وَلَا يَتَنَافَى هَذَا مَعَ قَوْلِهِ تَعَالَى فِى سُوْرَةِ النَّجْمِ وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلاَّمَاسَعَى فَإِنَّ هَذَا التَّطَوُّعَ يُعَدُّ مِنْ قَبِيْلِ سَعْيِهِ فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ بَارًا بِهِمْ فِى حَيَاتِهِ مَا تَرَحَّمُوْا عَلَيْهَ وَلَاتَطَوَّعُوْا مِنْ أَجْلِهِ فَهُوَ فِى الْحَقِيْقَةِ ثَمْرَةٌ مِنْ ثِمَارِ بِرِّهِ وَإِحْسَانِهِ (الفقه الوضح,ج: ١,ص: ٤٤٩)

    Suka· Balas · 5 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Putra Mandala Wangi Bisakah diberikan artinya ya Ukhty Nurul Lailatirrahmah?
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Jelas bisa doooong …….
    Ini arti dari tafsiran r. Muhammad Bakar Ismail yg aku kutipkan di atas:
    “Menghadiah pahala kepada orang yang telah mati itu tidak bertentangan dengan ayat وان ليس للإنسا الإماسعىkarena pada hakikatnya pahala yang dikirimkan kepada ahli kubur dimaksud merupakan bagian dari usahanya sendiri.
    Seandainya ia tidak berbuat baik ketika masih hidup, tentu tidak akan ada orang yang mengasihi dan menghadiahkan pahala untuknya. Karena itu sejatinya, apa yang dilakukan orang lain untuk orang yang telah meninggal dunia tersebut merupakan buah dari perbuatan baik yang dilakukan si mayit semasa hidupnya.”
    Demikian akhy Putra Mandala Wangi.
    Apa masih ada pertanyaan lagi akhy ?
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Tafsiran yg ukhty tulis itu hanya sekedar akal akalan ukhty saja ataukah memang ada Kitab yg menuliskannya ya Ukhty?
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Tafsir dari Dr. Muhammad Bakar Ismail tersebut termaktub dalam Kitab Al-Fiqh Al-Wadlih akhy ……
    Silahkan dibuka saja kalau punya Kitabnya dan bisa membacanya.
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Di Juz berapa dan halaman berapa ya Ukhty ???
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Di juz I, halaman 449 Akhy …….
    (Gayanya nanya Juz dan halaman segala )
    Apa masih ada yg mau ditanyakan lagi akhy Putra Mandala Wangi?
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Ada Ukhty , dan ini pertanyaan terakhir.:
    Kalau memang tahlilan itu disebut sbg sunnah Nabi , apakah ada satu saja riwayat kalau Nabi Saw mengadakan tahlilan ketika para istri , anak anaknya dan para sahabatnya meninggal dunia ?
    Suka Balas · 5 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Akhy Putra Mandala Wangi, akhy harus paham bahwa yang namanya SUNNAH Rosululloh Saw tidak hanya sebatas yg pernah dikerjakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw saja .
    Menurut ahli hadis, sunnah adalah:
    “Segala yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw., baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, maupun perjalanan hidupnya, baik sebelum beliau diangkat menjadi Rasul Saw maupun sesudahnya.”
    Menurut ahli usul fikih, sunnah adalah:
    “Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw. selain al-Qur’an baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya yang pantas untuk dijadikan dalil bagi penetapan hukum syara’ (hukum agama).”
    Berikut ini beberapa macam Sunnah :
    1. Sunnah Qauliyah.
    Sunnah Qauliyah adalah bentuk perkataan atau ucapan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw.
    Dengan kata lain Sunnah Qauliyah yaitu sunnah Nabi Saw. yang hanya berupa ucapannya saja baik dalam bentuk pernyataan, anjuran, perintah cegahan maupun larangan.
    Contoh sunnah qauliyah:
    Hadits tentang TAHLILAN sebagaimana yg sudah aku kutipkan jauh di atas.
    2. Kemudian Sunnah Fi’liyah.
    Sunnah fi’liyah adalah segala perbuatan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Kualitas sunnah fi’liyah menduduki tingkat kedua setelah sunnah qauliyah. Sunnah fi’liyah juga dapat maknakan sunnah Nabi Saw. yang berupa perbuatan Nabi yang diberitakan oleh para sahabat.
    3. Kemudian Sunnah Taqririyah.
    Taqrir, yaitu keadaan Rosululloh Saw mendiamkan, tidak memberikan sanggahan terhadap suatu perkara yang dilakukan oleh sahabat berupa perkataan atau perbuatan, baik hal itu dilakukan di hadapan beliau atau tidak, namun beritanya sampai kepada beliau.
    PERTANYAANNYA:
    Jikalau yg disebut sbg SUNNAH NABI itu hanya sebatas yg dilakukan oleh Nabi Saw saja , lantas akan akhy buang ke mana SUNNAH QOULIYAHNYA dan SUNNAH TAQRIRIYAHNYA Kanjeng Nabi Muhammad Saw???
    Silahkan dijawab akhy .
    Suka Balas · 4 jam
    ==========
    Putra Mandala Wangi
    Maaf Ukhty Nurul Lailatirrahmah, berhubung waktu sdh larut malam ana mohon ijin utk istirahat dulu.
    Wassalaam .
    Suka Balas · 4 jam
    ==========
    Nurul Lailatirrahmah
    Akhy Mandala ini gimana sih …….
    Bukannya ngasih jawaban lha kok malah WASSALAAM .
    Wa’alaikumus salaam wr wb
    Suka Balas · 4 jam
    ===========
    Nurul Lailatirrahmah
    Dari alur diskusi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:

    1. Amaliyah TAHLILAN murni perintah Al-Qur’an maupun Al-Hadits.

    2. Barang siapa yg membid’ah dlolalahkan amaliyah TAHLILAN , sesungguhnya merekalah pelaku BID’AH DLOLALAH yg sebenar benarnya , karena telah mengingkari perintah Alloh dan Rosululloh Saw.

    DISKUSI AKU NYATAKAN SELESAI
    Suka Balas · 4 jam
    ==========
    SELESAI

    Alamat Link Diskusinya

     

  • Ziarah Kubur dan Silaturahmi Setelah Shalat Id

    Ziarah Kubur dan Silaturahmi Setelah Shalat Id

    SORBANSANTRI.COM

    Imam Bukhari meriwayatkan dalam Sahihnya:

    ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ اﻟﻠَّﻪِ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ، ﻗَﺎﻝَ: «ﻛَﺎﻥَ اﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﺫَا ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻮْﻡُ ﻋِﻴﺪٍ ﺧﺎﻟﻒ اﻟﻄﺮﻳﻖ»

    Jabir bin Abdullah berkata bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam jika berangkat (ke tempat shalat Id) maka pulangnya tidak melewati tempat awal berangkat (Sahih al-Bukhari No 986)

    Mengapa Nabi shalallahu alaihi wassallam melakukan hal tersebut? Para ulama memiliki penafsiran sendiri-sendiri seperti yang disampaikan oleh pensyarah Sahih al-Bukhari, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani:

    ﻭَﻗَﺪِ اﺧْﺘُﻠِﻒَ ﻓِﻲ ﻣَﻌْﻨَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻗْﻮَاﻝٍ ﻛَﺜِﻴﺮَﺓٍ اﺟْﺘَﻤَﻊَ ﻟِﻲ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﻣِﻦْ ﻋِﺸْﺮِﻳﻦَ

    Para ulama beda pendapat tentang makna hadis di atas ke dalam banyak pendapat, yang terkumpul bagi saya lebih dari 20 pendapat

    ﻭَﻗِﻴﻞَ ﻟﻴﺰﻭﺭ ﺃَﻗَﺎﺭِﺑَﻪُ اﻷَْﺣْﻴَﺎءَ ﻭَاﻷَْﻣْﻮَاﺕَ ﻭَﻗِﻴﻞَ ﻟِﻴَﺼِﻞْ ﺭَﺣِﻤَﻪُ

    Ada yang mengatakan bahwa agar Nabi bisa menziarahi kerabatnya baik yang masih hidup atau sudah wafat. Ada juga yang berpendapat agar Nabi dapat melakukan silaturahmi (Fathul Bari 2/473)

    Apakah anjuran itu hanya bagi imam saja? Al-Hafidz mengutip dari Madzhab Syafi’i:

    ﻭَاﻟَّﺬِﻱ ﻓِﻲ اﻷُْﻡِّ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳُﺴْﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻹِْﻣَﺎﻡِ ﻭَاﻟْﻤَﺄْﻣُﻮﻡِ ﻭَﺑِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻛْﺜَﺮُ اﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻴَّﺔِ

    Penjelasan yang ada dalam kitab Al-Umm bahwa anjuran tersebut berlaku bagi imam dan makmum. Pendapat ini juga disampaikan oleh kebanyakan Madzhab Syafi’iyah (Fathul Bari 2/472)

    •] Ini adalah dalil kita untuk ziarah kubur dan silaturahmi setelah hari raya dalam keadaan normal. Untuk saat ini kita cukup baca Yasin dari rumah, kita yakin pahalanya sampai. Untuk silaturahmi juga dari rumah, pakai alat telekomunikasi, telpon, video call dan sebagainya.

  • ZAKAT KEPADA HABAIB

    ZAKAT KEPADA HABAIB

    SORBANSANTRI.COM

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Saya mau bertanya, apakah sah kalau saya menyerahkan zakat saya kepada seorang Habaib yang sekaligus guru saya?. Karena sering dikatakan dalam kajian Fiqih Zakat, bahwa Ahlul Bait Rasulullah Saw adalah golongan yang tidak bisa menerima zakat. Apa yang mendasari rumusan tersebut?. Terimakasih.

    Zuhroh U, -Surabaya.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

    Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memberikan zakat kepada Ahlul Bait (keluarga dan keturunan Rasulullah Saw) yang berasal dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib.

    Pendapat pertama, menyatakan bahwa Ahlul Bait tidak sah menerima zakat dengan berdasarkan hadis:

    إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتَ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ
    “Sesungguhnya zakat ini adalah kotoran dari manusia. Dan sesungguhnya itu tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad,” (HR. Muslim).

    إِنَّ لَكُمْ فِيْ خُمُسِ الْخُمُسِ مَا يُغْنِيْكُمْ
    “Sesungguhnya bagi kalian (Ahlul Bait) mendapatkan dari Khumusul Khumus (seperlima dari lima bagian harta rampasan perang). Bagian yang telah mencukupi kalian,” (HR. Ibnu Abi Hatim).

    Pendapat kedua, menyatakan bahwa Ahlul Bait dapat menerima zakat. Pendapat ini berargumen bahwa salah satu alasan Ahlul Bait tidak bisa menerima zakat adalah karena telah tercukupi dengan seperlima dari lima bagian harta rampasan perang (Ghanimah). Sementara untuk saat ini, tidak ada sediktpun hasil rampasan perang yang diserahkan kepada Ahlul Bait. Dengan demikian, memberikan zakat kepada mereka hukumnya sah. Pendapat ini pun dinyatakan oleh beberapa ulama besar madzhab Syafi’i seperti Imam Al-Ustukhry, Imam Al-Harowi dan diamalkan oleh Al-Fakhrur Rozi.

    Namun sebagai catatan, syekh Ba’asyan pernah mengatakan demikian, “Sebaiknya bagi yang menyerahkan zakat kepada Ahlul Bait menjelaskan bahwa harta yang diberikan adalah bagian zakat. Sebab mungkin saja mereka menolak karena bersikap wirai atau hati-hati”.[]waAllahu a’lam

    Referensi:

    Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 106-107, cet. Al-Haromain.

    Syarah Al-Yaqut An-Nafis, hal 292.

    Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, VI/227.

    Taqrirat As-Sadidah, hal 427.

    Hasyiyah al-Bajuri, I/285, cet. al-Haromain.