Kategori: Nabi Rosul dan Waliyulloh

Kisah Nabi Rasulullah dan Waliyullah merujuk kepada cerita dan peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan dan perjalanan spiritual para nabi dan waliyullah dalam tradisi Islam.

  1. Nabi Rasulullah (Nabi Muhammad SAW): Kisah Nabi Muhammad SAW mencakup berbagai aspek kehidupan beliau, mulai dari kelahiran, dakwah, hijrah, perang-perang, hingga wafatnya. Kisah ini juga mencakup ajaran-ajaran Islam yang beliau sampaikan, mukjizat-mukjizat yang beliau tunjukkan, serta pengaruh beliau terhadap perkembangan agama Islam dan umat Muslim.
  2. Waliyullah: Waliyullah merujuk kepada orang-orang yang dianggap dekat dengan Allah SWT dan memiliki kedudukan spiritual yang tinggi dalam pandangan Islam. Kisah-kisah waliyullah seringkali mencakup kehidupan mereka yang penuh ketakwaan, ibadah, mujahadah (perjuangan spiritual), serta mukjizat-mukjizat kecil atau karomah yang mereka miliki.

Kisah-kisah tentang Nabi Rasulullah dan Waliyullah menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran dalam agama Islam. Mereka dianggap sebagai teladan dalam beribadah, berakhlaq, dan menghadapi berbagai ujian dalam kehidupan. Kisah-kisah ini sering diceritakan dalam literatur Islam, kajian agama, dan ceramah-ceramah keagamaan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran Islam dan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

  • SEJARAH Ketupat LEBARAN

    SEJARAH Ketupat LEBARAN

    SORBANSANTRI.COMSORBAN SANTRI – Adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa.
    Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.
    Arti Kata Ketupat.
    Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
    Ngaku lepat artinya mengakui
    kesalahan.
    Laku papat artinya empat tindakan.
    Ngaku Lepat.
    Tradisi sungkeman menjadi
    implementasi ngaku lepat (mengakui
    kesalahan) bagi orang jawa.
    Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan
    dari orang lain.
    Laku Papat.
    1. Lebaran.
    2. Luberan.
    3. Leburan.
    4. Laburan.
    Lebaran.
    Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa.
    Luberan.
    Meluber atau melimpah, ajakan
    bersedekah untuk kaum miskin.
    Pengeluaran zakat fitrah.
    Leburan.
    Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.
    Laburan.
    Berasal dari kata labur, dengan kapur
    yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
    Maksudnya supaya manusia selalu
    menjaga kesucian lahir dan batinnya.
    FILOSOFI KUPAT – LEPET
    KUPAT
    Kenapa mesti dibungkus janur?
    Janur, diambil dari bahasa Arab ” Ja’a nur ” (telah datang cahaya ).
    Bentuk fisik kupat yang segi empat
    ibarat hati manusia.
    Saat orang sudah mengakui
    kesalahannya maka hatinya seperti
    kupat yang dibelah, pasti isinya putih
    bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.
    Kenapa? karena hatinya sudah
    dibungkus cahaya (ja’a nur).
    LEPET
    Lepet = silep kang rapet.
    Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat.
    Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.
    Betapa besar peran para wali dalam
    memperkenalkan agama Islam. Umat muslim sudah seharusnya memuliakan budaya atau ajaran yang telah disampaikan para wali di Indonesia ini.(Generasi Muda NU)

  • DOSA YANG LEBIH BESAR DARI ZINA

    DOSA YANG LEBIH BESAR DARI ZINA

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Suatu senja, seorang wanita melangkahkan kaki mendekati kediaman Nabi Musa.

    Setelah mengucapkan salam, dia masuk sambil terus menunduk.
    Air matanya berderai tatkala berkata, “Wahai Nabi ALLAH, tolonglah saya.

    Doakan agar ALLAH mengampuni dosa keji saya”.
    “Apakah dosamu wahai wanita…?” Tanya Nabi Musa.
    “Saya takut mengatakannya,”­ jawab wanita itu.
    “Katakanlah, jangan ragu-ragu…!”desak Nabi Musa.

    Maka perempuan itu pun dengan takut bercerita, “Saya telah berzina.”

    Kepala­ nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.
    “Dari perzinaan itu saya hamil. Setelah anak itu lahir,
    langsung saya cekik lehernya sampai mati,” lanjut perempuan itu seraya menangis.

    Mata Nabi Musa berapi-api.
    Dengan muka yang berang dia menghardik.
    “Perempuan celaka, pergi dari sini. Agar siksa ALLAH tak jatuh ke dalam rumahku.

    Pergi…!!!!” teriak nabi Musa sambil berpaling karena jijik.

    Hati perempuan itu bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh.
    Dia menangis tersedu-sedu dan keluar dari rumah Nabi Musa.
    Ia tak tahu harus kemana lagi mengadu. Bahkan dia tak tahu ke mana harus melangkahkan kaki.

    Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana manusia lain bakal menerimanya…?

    Sepeninggalnya wanita tersebut, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa.

    Jibril lalu bertanya,
    “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak BERTAUBAT

    dari dosanya…? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar dari itu…?”

    Nabi Musa terperanjat.
    “Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu…?

    Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang hina itu…?” Tanyanya.

    “Ada…!!!” Jawab Jibril dengan tegas.

    “Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada SERIBU kali berzina.”

    Mendengar penjelasan ini Nabi Musa memanggil wanita tadi,
    lalu berdoa memohon ampunan kepada ALLAH.

    Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja

    tanpa penyesalan seakan menganggap remeh perintah ALLAH.
    Sedangkan BERTAUBAT dan menyesali Dosa dengan sungguh-sungguh­

    berarti masih mempunyai IMAN di dadanya dan Yakin ALLAH itu ada.

    Semoga Bermanfaat Untuk Kita semua Aamiin

  • Cerita Nabi Musa

    Cerita Nabi Musa

    SORBANSANTRI.COM

    Pada suatu hari,malaikat Izrail diperintahkan Allah utk mencabut nyawa nabi Musa.

    Tiba di kediaman nabi Musa,malaikat mengetuk pintu.
    “Siapa kamu?” tanya nabi Musa dr dlm rumah.
    “Aku,Izrail.” jawab malaikat lantang.
    “Ada perlu apa kau datang kemari?” tanya nabi Musa lagi.
    “Aku diperintahkan Allah utk mencabut nyawamu malam ini.” jawab malaikat lbh lantang.

    Tanpa menjawab,nabi Musa langsung membuka pintu dan memukul wajah malaikat Izrail dgn keras hingga lepaskah sebelah matanya.

    Malaikat Izrail mengaduh kesakitan.
    “Siapa kau berani2nya mencabut nyawaku. Tak tahukah kau siapa aku? Derajat dan kedudukanku? Pergi sana!” hardik nabi Musa dgn sombong.

    Karena malaikat Izrail mengetahui kedudukan nabi Musa di sisi Allah,maka ia segera melesat ketakutan ke langit menghadap Allah.
    Musa,pria gagah perkasa dan mendapat kemuliaan dr Allah shg berjuluk kalamullah,yg bisa berbicara dengan Allah.

    Tiba di langit,malaikat Izrail ditanya oleh Allah, “Kemana sebelah matamu,wahai malaikatku?”
    “Duhai,Rabb… Musa telah memukulku.”
    “Turunlah lagi kebumi,ambil matamu. Dan perintahkan Musa naik ke puncak gunung. Katakan,aku ingin bicara dgnnya.”
    “Baik,ya Rabb.”

    Maka,turunlah malaikat Izrail mengambil sebelah matanya yg lepas sekaligus menyampaikan pesan Rabb-Nya pada nabi Musa.

    Dan,nabi Musa pun naik gunung. Tiba disana,dia menghadap Allah.
    “Wahai,Musa… kuperintahkan engkau untuk turun gunung. Dan carilah makhluk-Ku yg menurutmu paling hina dimuka bumi ini. Kuberi kau waktu seminggu. Bawalah dia kemari.” begitu perintah Allah pd nabi Musa.

    Lalu,nabi Musa pun turun gunung dan mulai melakukan pencarian ke seluruh pelosok negeri,mencari makhluk yg hina.

    Tiba di sebuah desa,nabi Musa melihat seorang laki2 tua,berjalan tertatih menggunakan tongkat. Rambutnya beruban,kulitnya keriput. Pakaiannya lusuh dan bau.
    “Ahh,akhirnya… kutemukan orang yg hina itu.” begitu pikir nabi Musa.
    Lalu dia ajak orang tua itu naik gunung utk menemui Allah. Tapi,ditengah perjalanan nabi Musa berpikir lagi,”Tunggu dulu,orang ini lbh tua drpd aku. Bisa jadi ibadahnya lbh banyak drpd aku. Sedekahnya,tahajjudnya dan amal sholehnya. Tidak mungkin,dia orang yg paling hina.”
    Maka,nabi Musa menyuruh orang tua itu kembali ke desanya setelah memberinya bekal secukupnya.

    Dan,nabi Musa pun melanjutkan perjalanannya.
    Tiba di suatu desa,nabi Musa melihat anak kecil yg berlarian tanpa alas kaki.
    Maka dia bawa anak kecil itu untuk menghadap Allah. Tapi,ditengah jalan nabi Musa berfikir, “Dia masih muda. Bisa jadi dia belum banyak berbuat dosa dan maksiat.”
    Maka,dilepaskan lagi anak kecil itu.

    Dan,nabi Musa melanjutkan perjalanan lagi.
    Di suatu sudut pasar nabi Musa melihat seekor anjing kurap yg sedang mengais2 sampah mencari sisa2 makanan.
    Pikir nabi Musa,”Akhirnya kutemukan makhluk hina ini.”
    Maka dibawalah anjing itu kepuncak gunung utk menghadap Allah.
    Tapi,lagi2 ditengah jalan nabi Musa berpikir,
    “Bukankah anjing adalah binatang yg tak memiliki akal. Dia hanya sekedar hidup utk makan dan berkembang biak. Tak ada hisab untuknya. Tak perlu beribadah. Tak punya dosa,pun tak ada pahala.”
    Maka,sekali lagi nabi Musa melepaskan anjing itu.
    Sedangkan waktu yg ditentukan oleh Allah sudah habis. Tanpa membawa apa2,nabi Musa menemui Allah.
    “Wahai,Musa…. angkat kepalamu.”
    “Ampun,yaa Rabb… hamba malu. Hamba tak bisa memenuhi perintahMu.” jawab nabi Musa tertunduk.
    “Kenapa?” tanya Allah.
    Lalu,nabi Musa menceritakan tentang kisah pencariannya dan berkata, “Akhirnya,hamba sadari… makhlukMu yg paling hina adalah hamba sendiri yaa,Rabb.”
    “Ketahuilah,Musa… seandainya hari ini kau menghadap Aku dan membawa salah satu dari makhluk-Ku,meskipun hanya anjing itu… maka hari ini juga akan kucabut gelar kenabianmu.
    Akulah satu2nya yg berhak menyombongkan diri,wahai Musa.” kata Allah.
    “Hamba mengerti,yaa Rabb. Ampunilah kekhilafan hamba.”
    Dan,nabi Musa pun bersujud seraya berdzikir mengagungkan Rabb-Nya.

    Smoga kita dpat mngambil makna crita ini..

  • Kenapa Walisongo Tidak Mensyariatkan Cadar Dan Jubah Di Bumi Nusantara

    Kenapa Walisongo Tidak Mensyariatkan Cadar Dan Jubah Di Bumi Nusantara

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRIKisahnya begini, ketika itu, Sunan Ampel sangat memprihatinkan keadaan adat istiadat serta kebudayaan masyarakat Jawa yang nilai-nilainya jauh dari ajaran Islam. Sunan Ampel kemudian menghubungi sahabat beliau di Makkah, yaitu Syaikh Abdul Qayyim supaya mengirim seseorang ke tanah Jawa yang ahli di bidang kebudayaan serta menata adat istiadat agar dari yang kurang bersifat Islami menjadi tidak jauh dari tuntutan agama Islam.

    Permintaan Sunan Ampel ini kemudian dituruti oleh Syaikh Abdul Qayyim. Oleh beliau dikirimlah putra beliau sendiri, yaitu Syaikh Khazin yang memang ahli di bidang tersebut. Semenjak itulah berangkat Syaikh Khazin ke tanah Jawa.

    Sesampainya beliau di Jawa, beliau kemudian mendampingi Sunan Kalijaga, karena Sunan Kalijaga adalah seorang tokoh muballigh yang berasal dari keluarga terpandang dalam struktur sosial masyarakat Jawa. Beliau adalah putra dari Adipati Tumenggung (setara dengan bupati sekarang) di Tuban. Harapan dari Syaikh Khazin al-Makki, masyakarat Jawa akan lebih mudah menerima dakwah dengan pola pendekatan adat istiadat serta budaya Jawa apabila yang menyampaikan dakwah tersebut adalah seorang putra dari tokoh terpandang di masyarakat Jawa itu sendiri.

    Pertimbangan ini diyakini oleh Syaikh Khazin al-Makki tepat, karena sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan oleh kehidupan yang berbasis serta mengelola tradisi, kebudayaan, serta adat istiadat Jawa, tentu Sunan Kalijaga lebih mampu menjiwai dalam khayal (cipta), dzauq (rasa), dan ‘adah (karsa) dibanding dengan muballigh lain yang tidak berlatar belakang serta adat istiadat Jawa. Sehingga, untuk bermusyawarah hampir dipastikan Sunan Kalijaga tidaklah mengalami kesulitan menangkap apa yang diinginkan oleh Syaikh Khazin al-Makki.

    Seiring dengan perkembangan waktu, Sunan Kalijaga merasakan bahwa Syaikh Khazin al-Makki ini memang benar-benar orang yang mampu serta mengerti dan menguasai ilmu dakwah yang cocok untuk diterapkan dalam ruang lingkup masyarakat Jawa. Pelurusan pelurusan agar tidak jauh dari ajaran Islam dirasakan oleh Sunan Kalijaga mudah dipraktekkan dalam dakwah dan aplikasinya di ruang lingkup masyarakat. Oleh karenanya, Sunan Kalijaga kemudian memberikan julukan pada Syaikh Khazin al-Makki dengan lawan “Bagus Maulana”. Maksudnya adalah seorang pengelana yang ahli memperhalus serta memperbaiki budaya serta adat istiadat Jawa.

    Figur Bagus Maulana pada saat sekarang ini kurang banyak dikenal orang. Akan tetapi, dahulu adalah sosok figur yang dikenal oleh para ulama di zamannya sebagai tokoh muballigh yang senantiasa mendampingi Sunan Kalijaga dalam hal olah pelurusan seni budaya serta tradisi masyarakat agar tidak jauh dari ajaran Islam.

    Sebagai seorang waliyullah, Bagus Maulana mempunyai banyak karamah. Di antara karamah beliau yang sempat masyhur waktu itu ialah:
    1. Mempunyai tongkat yang jika ditancapkan di tanah gersang maka dari tanah tersebut akan dapat memancar air.
    2. Mampu mengubah air asin menjadi air tawar.
    3. Merubah pohon yang kering langsung menjadi basah (hidup) subur dan berbuah.

    Syaikh Khazin mempunyai nama Khazin bin ‘Abdul Qayyim bin Yasir bin Nu’man bin Ma’mun bin Yasin bin Malik al-Makki asy-Syafi’i. Disebut al-Makki asy-Syafi’i karena beliau, ayah dan kakek-kakeknya semua berasal dari Makkah serta bermadzhabkan Syafi’i dalam fiqh ‘ubudiyahnya. Lahir di kota Makkah sekitar tahun 842 H/ 1439 M.

    Syaikh Khazin al-Makki wafat kurang lebih satu tahun setelah kesultanan Demak pindah ke Pajang atau sekitar tahun 957 H/ 1550 M dalam usia 111 tahun. Jasad beliau dimakamkan di area komplek makam Kadilangu Demak.
    (abi sorban)

  • Kisah Safinah Ra. Ketika Ditolong Hewan Buas

    Kisah Safinah Ra. Ketika Ditolong Hewan Buas

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online – Safinah Ra. adalah seorang pembantu dirumah Rasulullah Saw. Suatu hari ia mengadakan perjalanan yang lumayan cukup jauh, sebab untuk sampai ketempat itu selain menggunakan kendaraan unta, Safinah juga harus menggunakan kapal laut. Setelah ia tiba dipelabuhan kapal, Safinah langsung naik kapal yang akan membawanya ketempat yang ia tuju. Tak lama kemudian kapalpun berangkat meninggalkan pelabuhan.

    Setelah berada dikapal cukup lama, waktu cuaca sangat bersahabat, dengan dihiasi pemandangan yang indah dan tiupan angin sepoi-sepoi. Sebuah perjalanan yang sungguh mengasyikkan Safinah waktu itu. Tak lama kemudian secara tiba-tiba Safinah terbangun dari tidurnya karena mendengas suara gaduh yang mengusik tidurnya. Ternyata orang-orang yang berada dalam kapal sedang panik, karena kapal telah diterjang ombak yang tingginya setinggi bukit, langit menjadi gelap dan angin bertiup dengan sangat kencang yang disertai hujan yang lebat dengan diiringi suara petir yang menggelegar. Tidak disangka cuaca yang tadinya bersahabat berubah menjadi garang dan mengerikan. Keadaan itulah orang-orang yang berada didalam kapal berteriak ketakutan karena panik.

    Pembantu Rasulullah inipun tak tahu harus bagaimana dan tidak pula tahu apa yang harus ia lakukan karena kapal terombang-ambing diterjang badai ombak yang besar. Kapal pun mulai mengalami kebocoran disana-sini. Safinah kemudian pasrah atas kehendak Allah Swt. apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia berdoa memohon pertolongan Allah Swt. atas bencana itu.

    Kajadian yang tidak diharapkan pun terjadi, kapal yang tumpangi Safinah inipun pecah diterjang ombak yang besar dan kuat. Kapal pun terbelah. Safinah kemudian tenggelam, kemudian berenang kepermukanan air laut dan mendapati sebauh papan kapal yang pecah itu digunakannya untuk berpegangan. Safinah pun hanyut mengikuti derasnya arus air yang bergelombang. Tentunya hal itu tidak mudah ia lakukan, karena tangannya yang terluka yang sudah pasti perih dan sakit lantaran sesekali dihempas oleh ombak, tetapi ia terus berusaha berpegang dengan papan itu dengan harapan agar selamat dan sampat ketepi pantai.

    Sampai akhirnya Safinah terdampar disebuah pulau yang berhutan sangat lebat. Ia pun bersyukur diberi keselamatan oleh Allah Swt. dan mendapat keberuntungan saat kapal pecah akibat terjangan ombak yang besar. Setelah berhasil menemukan air tawar di sebuah sungai, ia menyelusuri air sungai untuk mencari perkampungan. Namun ditengah perjalanan ada ada seekor Harimau menghadang, ia terlihat sedang lapar yang seolah-olah siap menerkam Safinah. Safinah mencoba tetap tenang, sebab ketakutan akan menyebabkan hewan yang buas itu akan lebih ganas dan beringas.

    Lalu Safinah berkata kepada Harimau itu:

    “Wahai harimau, aku adalah pelayan Rasulullah Saw.,”

    Perkataan itu meluncur dari mulutnya tanpa disadarinya. Safinah seperti mendapat ilham dari Allah Swt. Tanpa disangka harimau itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan harimau itu mengerti dengan apa yang telah diucapkan Safinah kepadanya. Harimau itu mendekat dan ketika berada didepan Safinah, harimau itu kemudian menunduk menurunkan punggungnya agar Safinah menaikinya.

    Safinah yakin bahwa binatang ini tidak akan membahayakannya, lantas ia memberanikan diri untuk menaiki punggung harimau itu. Ternyata keyakinannya benar bahwa binatang itu bersahabat. harimau itu kemudian berjalan pelan membawa kesebuat tempat yang biasa dilalui orang. Setelah sampai harimau itu kemudian pergi meninggalkan Safinah dengan disertai suara auman harimau itu seperti mengucapkan selamat jalan kepada Safinah dan dijawab olehnya dengan ucapan terimah kasih dan doa keselamatan dari Allah Swt.

    HIKMAH DIBALIK KISAH

    Kisah safinah adalah sebuah kisah dari sebagian hamba Allah yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Menyerahkan semua hidupnya atas kehendak Allah Swt. Sabar dalam menghadapi cobaan, senantiasa bertawakal diiringi dengan usaha dan doa, maka sesulit apapun keadaan yang kita hadapi akan terasa mudah kita selesaikan, karena yakin Allah Swt adalah Tuhan kita dan yakin sepenuh hati Bahwa Dia akan menolong kita. Benar nggak sahabat Muslim. Subhanallah

    Semoga kisah ini dapat menjadikan sebuah pelajaran yang baik untuk kita semua. Alhamdulillahi Robbil ‘alamin. Amin. (abi sorban)

  • Kisah Kedua Putra Ādam a.s. Qobil dan Habil

    Kisah Kedua Putra Ādam a.s. Qobil dan Habil

    SORBANSANTRI.COM
    kisah qobil dan habil

    SORBAN Infokom – Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan ceritakanlah (Muḥammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Ādam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Hābīl) diterima dan dari yang lain (Qābīl) tidak diterima. Dia (Qābīl) berkata: “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Hābil) berkata: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (‘amal) dari orang yang bertaqwa”. “Sungguh, jika engkau (Qābīl) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb seluruh alam.” “Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zhalim.” Maka nafsu (Qābīl) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qābīl) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qābīl berkata: “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal.” (QS. al-Mā’idah [5]: 27-31).

    Kami telah menyebutkan kisah yang disebutkan ayat tersebut di dalam at-Tafsīr, dan kami anggap cukup; sehingga tidak perlu disebutkan kembali dalam pembahasan ini. (1321) Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah semata.

    Di sini kami hanya akan menyebutkan kesimpulan penjelasan yang telah disebutkan oleh para ulama’ salaf. As-Suddī meriwayatkan dari Abū Mālik dan Abū Shāliḥ, dari Ibnu ‘Abbās. Dan dari Murrah yang bersumber pada Ibnu Mas‘ūd, juga dari sekelompok shahabat, bahwasanya Ādam menikahkan anak laki-laki yang dilahirkan dari satu proses kehamilan dengan anak perempuan yang dilahirkan dari proses kehamilan yang lain. Maka dari itu, Hābīl ingin menikahi saudari Qābīl. Qābīl lebih besar dari Hābīl, dan saudarinya lebih cantik dari saudari Hābīl. Karena Qābīl juga memendam rasa terhadap saudarinya; dan tidak ingin menyerahkannya kepada Hābīl, maka ketika Ādam memerintahkan Qābīl untuk menikahkan Hābīl dengan saudarinya, dia menolak perintah ayahnya.

    (Sebagai jalan tengahnya), Ādam memerintahkan mereka berdua agar mempersembahkan sebuah qurban. Setelah itu Ādam pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Saat itu, Ādam meminta langit untuk menjaga anak-anaknya, namun langit menolak permintaannya. Demikian juga dengan bumi dan gunung-gunung; mereka menolak permintaan Ādam untuk menjaga anak-anaknya. Di saat yang sama. Qābīl justru menerima permintaan tersebut.

    Tatkala Ādam pergi, mereka berdua (Qābīl dan Hābīl) mulai mempersembahkan kurbannya. Hābīl berqurban dengan unta betina yang gemuk, padahal dia memiliki kambing. Sedangkan Qābīl berqurban dengan seikat padi yang sangat buruk bijinya. Lalu api turun dari langit dan memakan qurban yang dipersembahkan oleh Hābīl, dan membiarkan qurban yang dipersembahkan oleh Qābīl. Qābīl pun marah seraya berkata: “Wahai Hābīl, aku akan membunuhmu sehingga engkau tidak menikahi saudariku.” Hābīl menjawab: “Sesungguhnya Allah hanya akan menerima (qurban) yang dipersembahkan oleh orang-orang yang bertaqwa.” (1332).

    Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dari jalur yang lain, (1343) dari ‘Abdullāh bin ‘Amru, dia berkata: “Demi Allah, sebenarnya yang terbunuh itu (Hābīl) adalah lebih kuat dari yang membunuh (Qābīl). Namun perasaan berdosa menghalangi tangannya untuk membalasnya.” (1354).

    Abu Ja‘far al-Baqir menyebutkan bahwa Adam memerintahkan Hābīl dan Qābīl untuk berqurban. Dan yang dikabulkan (oleh Allah) adalah qurban yang dipersembahkan oleh Hābīl, bukan Qābīl. Lalu Qābīl berkata kepada Ādam: “Qurban Hābīl diterima karena engkau mendoakannya, dan tidak mendoakan diriku.” Akhirnya, Qābīl mengancam saudaranya; Hābīl.

    Suatu malam, Hābīl terlambat pulang dalam mengembala hewan ternaknya. Maka dari itu, Ādam mengutus Qābīl untuk menemui saudaranya tersebut. Ketika Qābīl pergi menemui saudaranya, dia berkata kepadanya: “Mengapa hanya qurbanmu yang diqabulkan, sedangkan qurban yang aku persembahkan tidak diterima?” Hābīl menjawab: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa.” Mendengar jawaban itu, Qābīl pun marah dan memukul saudaranya dengan besi yang dia pegang, hingga saudaranya tewas.

    Ada yang berpendapat bahwa Qābīl membunuh saudaranya dengan batu besar yang ia timpakan ke kepala saudaranya yang tengah tidur. Pendapat lain mengatakan Qābīl mencekik Hābīl dengan cekikan yang sangat keras dan menggigitnya sebagaimana yang dilakukan oleh binatang buas hingga dia meninggal dunia. Wallāhu a‘lam.

    Saat diancam bunuh oleh saudaranya, Hābīl menjawab: “Sungguh, jika engkau (Qābīl) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb seluruh alam.” (QS. al-Mā’idah [5]: 28), menunjukkan akhlak yang baik, rasa khawatir dan takut kepada Allah ‘azza wa jalla, dan sebagai perbuatan wara‘ untuk tidak membalas perbuatan buruk yang dilakukan oleh saudaranya terhadap dirinya dengan keburukan yang setimpal.

    Oleh sebab itu, di dalam shahih al-Bukhārī dan Muslim (1365) disebutkan hadits dari Rasūlullāh s.a.w. bahwa beliau bersabda: “Jika dua muslim berhadap-hadapan dengan kedua pedangnya, maka keduanya sama-sama masuk neraka.” Maka para shahabat bertanya: “Kalau yang membunuh sudah maklum. Lantas, bagaimana bisa yang dibunuh juga demikian?” Nabi s.a.w. menjawab: “Karena dia juga berkehendak membunuh saudaranya.”

    Allah ‘azza wa jalla berfirman:

    إِنِّيْ أُرِيْدُ أَنْ تَبُوْءَ بِإِثْمِيْ وَ إِثْمِكَ فَتَكُوْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَ ذلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِيْنَ

    “Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zhalim.” Yakni, saya (Hābīl) tidak ingin membalas untuk membunuhmu meskipun aku lebih kuat dan lebih pemberani dibandingkan dirimu. Apabila dirimu melakukan apa yang kamu inginkan , tentulah engkau akan kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri. Yakni menanggung dosa karena telah membunuhku, dan dosa-dosa yang telah engkau lakukan sebelumnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mujāhid, as-Suddī, Ibnu Jarīr, dan yang lainnya.

    Maksudnya, bukanlah berarti dosa-dosa orang yang terbunuh akan dibebankan kepada pembunuhnya; sebagaimana anggapan sebagian orang. Dan Ibnu Jarīr telah menyebutkan ijma‘ yang menyelisihi pendapat tersebut. (1376).

    Adapun hadits yang diriwayatkan oleh sebagian orang yang tidak dikenal, menyatakan bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Tidak ada yang ditinggalkan oleh pembunuh bagi orang yang dibunuhnya, kecuali dosa.” Sesungguhnya hadits tersebut tidak ada dasarnya, dan tidak dikenal di dalam kitab-kitab hadits dengan sanad yang shaḥīḥ, ḥasan, atau dha‘īf sekalipun. (1387) Akan tetapi sebagian orang berpendapat bahwa, pada hari kiamat kelak orang yang terbunuh akan menuntut pembunuhnya. Sehingga ketika kebaikan orang yang membunuhnya tersebut telah habis karena kezhaliman yang dilakukannya, maka keburukan-keburukan orang yang terbunuh akan dibebankan kepadanya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits shahih tentang akibat segala bentuk kezhaliman. (1398) Dan pembunuhan adalah bentuk kezhaliman yang paling besar. Wallāhu a‘lam. Hal itu semua telah kami sebutkan di dalam pembahasan tafsir. (1409) Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah semata.

    Imām Aḥamd (14110), Abū Dāūd, dan at-Tirmidzī meriwayatkan dari Sa‘ad bin Abī Waqqāsh, dia berkata ketika terjadi pembunuhan ‘Utsmān bin ‘Affān: “Saya bersaksi bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah bersabda: “Kelak akan timbul suatu fitnah. Orang yang duduk saat itu lebih baik dari orang yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berlari kecil.” Kemudian Abū Sa‘īd bertanya: “Bagaimana menurut anda apabila ada seseorang yang masuk ke rumahku dan dia membentangkan tangannya kepadaku untuk membunuhku?” Rasūlullāh s.a.w. menjawab: “Jadilah seperti putra Ādam”.” Sedangkan Imām Muslim dan ahli sunan kecuali an-Nasā’ī meriwayatkan hadits serupa dari Abū Dzarr. (14211).

    Ibnu Mardawaih (14312) meriwayatkan hadits tersebut dari Ḥudzaifah ibn-ul-Yaman secara marfū‘ dengan redaksi: “Jadilah yang terbaik dari kedua anak Ādam.”

    Imām Aḥmad juga berkata: (14413) Telah menceritakan kepada kami Abū Mu‘āwiyah dan Wakī‘, telah menceritakan kepada kami al-A‘masy, dari ‘Abdullāh bin Murrah, dari Masrūq, dari Ibnu Mas‘ūd, dia berkata bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

    لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كَفْلٌ مِنْ دَمِهَا لِأَنَّهُ كَانَ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ.

    “Tidaklah seorang jiwa dibunuh secara zhalim, melainkan anak Adam yang pertama ikut menanggung dosanya. Karena dialah orang pertama yang memberi contoh pembunuhan.”

    Hadits itu diriwayatkan oleh al-Jamā‘ah (14514) selain Abū Dāūd melalui jalur al-A‘masy. Hadits serupa juga diriwayatkan dari ‘Abdullāh bin ‘Amru bin al-‘Āsh dan Ibrāhīm an-Nakha‘ī. (14615).

    Di atas gunung Qasiun; yang terletak di sebelah utara Damaskus terdapat sebuah gua yang bernama gua darah. Gua itu dikenal sebagai tempat di mana Qābīl membunuh saudaranya; Hābīl. Sebagaimana yang mereka nukil dari Ahli Kitāb. Wallāhu a‘lam.

    Al-Ḥāfizh Ibnu ‘Asākir (14716) menyebutkan sebuah keterangan di dalam tarjamah Aḥmad bin Katsīr – dia menuturkan bahwa Aḥmad bin Katsīr termasuk orang shalih – , bahwasanya dia bermimpi melihat Nabi s.a.w., Abū Bakar, ‘Umar bin Khaththāb, dan Hābīl. Lalu orang tersebut meminta Hābīl bersumpah bahwa ini adalah darahnya, dan Hābīl pun bersumpah; memenuhi permintaannya. Disebutkan pula bahwa Hābīl memohon kepada Allah agar menjadikan tempat tersebut sebagai tempat dikabulkannya doa, kemudian Allah mengabulkan permohonannya Hābīl, Abū Bakar, dan ‘Umar bin Khaththāb mendatangi tempat ini setiap hari Khamis.” Seandainya mimpi tersebut benar berasal dari Aḥmad bin Katsīr, maka hal itu tetap tidak memenuhi ketetapan hukum syar‘i. Wallāhu a‘lam. ( sorban-abi)

  • Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Sembuhkan Virus Menular (Wabah)

    Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Sembuhkan Virus Menular (Wabah)

    SORBANSANTRI.COM
    Syekh-Abdul-Qadir-Al-Jailani

    SORBAN Infokom- Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah sosok ulama besar yang dikenang sepanjang masa. Karomah-karomahnya sangat masyhur, apalagi beliau dikenal sebagai rajanya para wali (Sulthonul Aulia’). Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga meninggalkan banyak karya yang sampai sekarang dikaji di seluruh dunia. Karya-karyanya menjadi referensi utama dalam ilmu tasawuf.

    Di tengah kondisi wabah penyakit mematikan saat ini, sosok Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga menjadi rujukan tawasul para ulama dan umat Islam ketika meminta pertolongan dari Allah SWT. Namanya selalu dikenang dalam berbagai majlis taklim, majlis mujahadah, majlis ilmu, dan lainnya.

    Dalam Kitab Tafrihul Khotirfi Mananaqibi Sayyid Abdul Qodir, dijelaskan bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pernah menyembuhkan orang-orang yang terjangkit wabah Thaun yaitu suatu penyakit menular yang mematikan.

    Saat itu, wabah penyakit Thaun sangat mematikan, bahkan sampai ada ribuan manusia yang meninggal setiap harinya. Di tengah kondisi itu, maka para ulama, petinggi pemerintah dan orang-orang terhormat menghadap kepada tuan syekh mereka memohon untuk menolak wabah penyakit tersebut.

    “Barang siapa orang yang memakan rerumputan madrasahku niscaya akan disembuhkan Allah dari thaun,” kata Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

    Kemudian orang-orang mengambil dan memakan rumput itu sehingga rerumputan itu tidak mencukupinya.

    “Barang siapa yang meminum air madrasahku niscaya disembuhkan Allah dari thaun,” lanjut Syekh Abdul Qadir.

    Kemudian orang-orang meminum air itu, hingga hilang wabah thaun dengan izin Allah.

    Dengan tawasul kita kepada beliau mudah-mudahan wabah penyakit yang ada pada zaman kita ini segera dihilangkan dengan izin Allah. Aamiin. (red.abi)

  • KISAH BUKTI HEBAT DAN AGUNGNYA AKHLAK RASULULLAH SAW

    KISAH BUKTI HEBAT DAN AGUNGNYA AKHLAK RASULULLAH SAW

    Pernah seorang Arab Badwi menarik dengan begitu kasar jubah buatan Najran yang kasar kainnya, yang dipakai oleh Rasulullah SAW hingga berbekas leher baginda. Tetapi Rasulullah SAW tidak marah, malah menghadiahkan jubah itu kepada Arab Badwi tersebut.

    (lebih…)

  • RAHASIA NABI KHIDIR BERUMUR PANJANG

    RAHASIA NABI KHIDIR BERUMUR PANJANG

    SORBAN Infokom –  Kisah ini diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dari Imam Ali ra.

    Semoga dengan kisah ini akan lebih memantapkan keimanan kita kepada Allah SWT, bahwa jika Allah SWT berkehendak maka akan TERJADILAH. Tak seorang pun yang mampu menghalanginya.

    Berikut Kisahnya.

    Pada zaman dahulu hiduplah seorang hamba Allah SWT yang melebihkan kepada dirinya dengan menjadi seorang raja. Dialah Raja Iskandar Zulkarnaen, yang namanya telah tersebut dalam Al Qur’an.

    Pada tahun 322 SM, Raja Iskandar Zulkarnaen berniat mengadakan perjalanan untuk mengelilingi bumi dan Allah SWT mewakilkan salah satu malaikatnya yang bernama Rofa’il untuk menyertainya dalam perjalanan panjang itu.

    Dialog Malaikat dan Raja Iskandar Zulkarnaen.

    Karena ditemani oleh seorang malaikat, Raja Zulkarnaen banyak mengajukan pertanyaan seputar dunia dan akhirat serta isinya. Salah satu pertanyaan yang paling terkenal adalah tentang ibadah para malaikat di langit.

    “Wahai Malaikat Rofa’il, ceritakanlah kepadaku tentang ibadahnya para malaikat yang ada di langit,” tanya Raja Zulkarnaen.

    “Para malaikat yang ada di langit ibadahnya ada yang berdiri tidak mengangkat kepala selama-lamanya, ada juga yang bersujud tidak mengangkat kepala selama-lamanya, ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya,” jawab Malaikat Rofa’il.

    “Duh, alangkah senangnya hati ini seandainya aku bisa hidup bertahun-tahun lamanya untuk beribadah kepada Allah SWT,” kata Raja Zulkarnaen.

    “Wahai raja, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sumber air di bumi. Namanya Ainul Hayat, artinya sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminum airnya seteguk, maka ia tidak akan mati sampai hari kiamat atau jika ia memohon kepada Allah SWT untuk dimatikan,” kata Malaikat Rofa’il.

    “Apakah engkau tahu tempat Ainul Hayat itu wahai Malaikat Rofa’il?” tanya raja.

    “Sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di bumi yang gelap,” jawab Malaikat Rofail.

    Setelah Raja Zulkarnaen mendengar penuturan malaikat Rofa’il tentang Ainul Hayat itu, maka raja segera mengumpulkan para alim ulama pada saat itu. Sebelumnya, raja bertanya kepada mereka tentang letak Ainul Hayat, tapi mereka semua menjawab tidak tahu.

    “Wahai para alim ulama, tahukah kalian dimanakah letak Ainul Hayat itu?” tanya raja.

    “Kami tidak mengetahuinya wahai baginda, hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui,” jawab salah seorang ulama.

    Di luar dugaan, dari pertanyaan Raja Zulkarnaen tersebut, ada salah seorang ulama yang mampu menjawab meski tidak sedetail letaknya.

    “Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat Nabi Adam as bahwa beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah SWT meletakkan Ainul Hayat itu di bumi yang gelap,” kata ulama itu.

    “Dimanakah bumi yang gelap itu?” tanya raja.

    “Yaitu di tempat terbitnya matahari,” jawab orang alim ulama itu.

    Kemudian Raja Zulkarnaen menyuruh para pengawalnya untuk menyiapkan segala keperluan untuk mencari dan mendatangi tempat Ainul Hayat itu.

    “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap?” tanya raja.

    “Kuda betina yang masih perawan,” jawab para sahabatnya.

    Akhirnya raja mengumpulkan seribu kuda betina yang masih perawan dan ia memilih diantara 6 ribu tentaranya yang pandai serta ahli dalam mencambuk. Di antara para tentara itu, ada yang bernama Nabi Khidir as, bahkan beliau menjabat sebagai perdana menteri kala itu.

    Perjalanan Mencari Ainul Hayat.

    Setelah dirasa semua cukup dan siap, maka berangkatlah Raja Zulkarnaen dan Nabi Khidir as yang berjalan di depan pasukan. Setelah sekian lama mencari, akhirnya mereka mengetahui tempat terbitnya matahari.

    Mereka pun menuju arah terbitnya matahari tersebut.

    Perjalanan ke tempat tujuan tersebut memakan waktu 12 tahun lamanya untuk sampai di bumi yang gelap itu. Gelapnya bukanlah seperti di waktu malam hari, melainkan gelap karena ada pancaran seperti asap.

    Raja Zulkarnaen sudah tak sabar lagi hendak masuk ke tempat gelap itu, namun salah seorang cendikiawan mencegahnya. Para tentara berkata kepada raja,

    “Wahai Baginda, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk ke tempat gelap ini, karena tempat yang gelap ini berbahaya.”

    “Wahai prajurit, kita harus memasukinya, tidak boleh tidak,” sanggah sang raja.

    Karena raja bersikeras hendak masuk, maka tak ada seorang pun yang berani melarangnya.

    “Diamlah dan tunggulah kalian di sini selama 12 tahun. Jika aku bisa datang kepada kalian dalam masa itu, maka kedatanganku terhadap kalian termasuk baik. Dan jika aku tidak datang dalam 12 tahun, maka pulanglah kalian kembali ke negeri kalian,” ujar sang raja.

    Setelah itu raja mendekat dan bertanya kepada malaikat Rofa’il,

    “Apabila kita melewati tempat gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita?”

    “Tidak bisa kelihatan<” jawab Malaikat Rofa’il.

    “Akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara. Jika mutiara itu ke atas bumi, maka mutiara itu dapat emnjerit dengan suara yang keras, dengan demikian kawan-kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian,” jelas Malaikat Rofa’il lebih lanjut.

    Masuk ke Ainul Hayat.

    Demikianlah, akhirnya Raja Iskandar Zulkarnaen masuk ke tempat yang gelap itu. Selama 18 hari lamanya tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam maupun siang. Tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi Nabi Khidir as.

    Pada saat mereka berjalan, maka ALlah SWT memberi wahyu kepada Nabi Khidir as.

    “Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu.”

    Setelah Nabi Khidir as menerima wahyu itu, beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya,

    “Berhentilah kalian di tempat masing-masing dan jangan kalian emninggalkan tempat kalian sebelum aku datang kepada kalian.”

    Kemudian Nabi Khidir as menuju kanan jurang hingga beliau menemukan Ainul Hayat itu. Beliau turun dari kudanya, melepaskan pakaiannya dan turun ke Ainul Ahaya tersebut. Beliau mandi dan minum air sumber hidup tersebut dan beliau merasakan bahwa airnya lebih manis daripaada madu.

    Sesudah mandi dan minum air tersebut, beliau keluar dari tempat itu kemudian menemui Raja Iskandar Zulkarnaen. Raja tidak mengetahui apa yang telah terjadi atas diri Nabi Khidir as.

    Wallahu A’lam. (kalam Ulama’)

  • SUNGAI SURGA, PERJALANAN NABI MUHAMMAD SAW

    SUNGAI SURGA, PERJALANAN NABI MUHAMMAD SAW

    SORBAN INFOKOM –

    بسم الله الرحمن الرحيم…

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam juga pernah bersabda,

    “Pada malam perjalananku ke langit, diperlihatkan kepadaku semua surga. Maka aku melihat empat macam sungai:

    sungai air,

    sungai susu,

    sungai khamar,

    dan sungai madu jernih.

    Hal itu sebagimana disebutkan di dalam Al-Qur’an pada surat Muhammad ayat 15. Lalu aku bertanya kepada Jibril, ‘Darimana air itu bersumber dan kemana mengalirnya?’ Jibril menjawab, ‘Mengalir dari telaga al-Kautsar, tetapi aku belum mengetahui dari mana sumber dari air ini. Coba kutanyakan terlebih dahulu kepada Tuhanmu.’

    Kemudian datanglah malaikat dan berkata kepadaku, ‘Hai Rasulullah, pejamkanlah matamu.’ Tiba-tiba aku berada di dekat sebuah pohon, sedang di sisinya terdapat sebuah kubah – yang terdiri dari mutiara putih, sedangkan pintunya terdiri dari yaqut hijau dan kuncinya dari emas merah –

    Jika dunia beserta seluruh isinya diletakkan di atas kubah itu, maka dunia beserta isinya ini bagaikan burung yang hinggap di atas gunung, atau seperti telur yang diletakkan di atas gunung.

    Aku melihat sungai-sungai itu mengalir dari bawah kubah itu. Ketika aku hendak kembali, malaikat itu berkata sekaligus mempersilahkan aku untuk memasukinya. Lalu aku bertanya, ‘Bagaimana aku bisa masuk sedangkan pintunya terkunci?’

    Malaikat tadi kemudian mengatakan: ‘Kuncinya berada di tanganmu. Yaitu lafal bismillaahir rahmaanir rahiim. Tiba-tiba pintu kubah yang tadinya tertutup kemudian terbuka lebar. Dan aku pun masuk ke dalamnya. Aku menyaksikan dari keempat sudut kubah tersebut mengalir keempat sungai yang tadi aku lihat dari luar.

    Ketika aku hendak pulang, malaikat tadi menunjukkan adanya tulisan bismillaahir rahmaanir rahiim tertulis di sudut atas masing-masing kubah itu. Aku menyaksikan bahwa sungai-sungai itu airnya bersumber dari lafal bismillaahir rahmaanir rahiim.

    Sungai air bersumber dari miim dari lafal bismillah. Sungai susu bersumber dari ha dari lafal Allah. Sungai khamar bersumber dari mim dari lafal ar-Rahman. Sedangkan sungai madu bersumber dari mim dari lafal ar-Rahim.

    Dengan menyaksikan secara langsung sumber sungai itu maka aku dapat mengetahui bahwa sumber-sumber sungai itu berasal dari lafal bismillaahir rahmaanir rahiim.

    Kemudian Allah berfirman: “Hai Muhammad, barangsiapa dari umatmu yang menyebut-Ku dengan nama-nama ini, akan Aku beri minum dari sungai-sungai ini.” (Dalam kitab Misykatul Anwar)