Kategori: Sejarah

studi tentang masa lalu, termasuk peristiwa, tokoh, budaya, dan perkembangan yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu. Studi sejarah mencakup penelitian, interpretasi, dan analisis terhadap sumber-sumber sejarah, seperti dokumen tertulis, artefak arkeologi, rekaman audio-visual, dan saksi mata. Tujuan dari studi sejarah adalah untuk memahami dan menggambarkan evolusi manusia, peradaban, kebudayaan, dan peristiwa yang membentuk dunia seperti yang kita kenal saat ini.

  • ROMBONGAN JIN BAGHDAD NGAJI DI TEBUIRENG, HADRATUSSYAIKH JADI REFERENSI ULAMA DUNIA

    ROMBONGAN JIN BAGHDAD NGAJI DI TEBUIRENG, HADRATUSSYAIKH JADI REFERENSI ULAMA DUNIA

    wp.sorbansantri.com – Hadratus Syaikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah(14 Februari 1871 – 25 Juli 1947 M), pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang juga pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, merupakan ulama besar yg menjadi referensi ulama internasional. Hadratussyaikh banyak mencetak ulama besar di Jawa dan Luar Jawa serta dikenal alim dan hafal ribuan hadits. Hadratussyaikh juga dikenal sbg ulama pengayom seluruh umat Islam dan tidak partisan.
    Banyak santri dari berbagai penjuru nusantara dan dunia belajar mengaji kepada Hadratussyaikh di Tebuireng. Bahkan santri Hadratussyaikh tidak hanya terdiri dari unsur manusia, tapi juga makhluk halus yaitu jin. Karena itu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari melarang santrinya di Tebuireng mengaji di bawah bedug masjid.
    “Kiai Hasyim pidato, jangan ngaji di bawah bedug. Karena di bawah bedug itu ada rombongan jin dari Baghdad ikut mengaji,” kata KH Abdul Qoyyum Mansur saat menyampaikan Mauidhoh Hasanah pada acara Wisuda Takhassus dan Bin Nadhor Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, Selasa malam (30/4/2019).
    “Jadi Kiai Hasyim itu maraji’ umat Islam dan ulama dunia,” kata Gus Qoyyum, panggilan KH. Abdul Qoyyum Mansur. Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem Rembang Jawa Tengah itu menegaskan bahwa jin ngaji kepada Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari itu fakta. “Ya, ini beneran,” tegas Gus Qoyyum di depan para wisudawan dan wali santri yg hadir di halaman Pesantren Tebuireng pada malam itu.
    Dari mana Gus Qoyyum dapat info itu? “Dari abah saya yg dulu mondok di Tebuireng. Kamar abah saya itu dekat bedug,” kata Gus Qoyyum. Ayah Gus Qoyyum adalah KH Mansur Kholil, pendiri Pondok Pesantren An-Nur Lasem Rembang Jawa Tengah yang kini diasuh Gus Qoyyum.
    Berita santri dari unsur jin di Tebuireng memang populer. Bahkan santri jin di Tebuireng itu tidak hanya pada era kepemimpinan Hadrassyaikh Hasyim Asy’ari. Tapi juga saat Tebuireng diasuh KH Abdul Wahid Hasyim, putra sulung Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, santri jin di Tebuireng juga banyak.
    “Tempat santri jin itu dulu ada di kamar atas yg bawahnya ada jeding (kamar mandi) itu,” ungkap KH Sueb Hasy, alumnus Pesantren Tebuireng yang dikenal banyak memelihara jin di kawasan Pucang Adi Surabaya. Kamar yg dimaksud adalah kamar di bagian belakang sebelah kanan masjid Tebuireng yg kini bagian bawahnya jadi tempat wudlu berdekatan dgn kamar tamu.
    “Kalau mereka (jin) ramai, Kiai Wahid Hasyim biasanya datang menyuruh mereka diam. Mereka langsung diam,” tambah Kiai Sueb Hasy.
    Kiai A Wahid Hasyim selain dikenal sbg salah satu pendiri Republik Indonesia juga dikenal sbg ulama alim yg pernah menjadi penerus Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam memimpin pengajian Hadits Shahihul Bukhari dan Muslim. Bahkan Kiai A Wahid Hasyim inilah yg jadi “asisten” Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. “Kalau Kiai Hasyim ada acara, Kiai Abdul Wahid Hasyim yg mengganti ngaji Shahih Bukhari dan Muslim,” tutur Gus Qoyyum.
    Menurut Gus Qoyyum, ada dua ulama Tebuireng yg selalu jadi asisten Hadratussyaikh dalam pengajian Shahihul Bukhari dan Muslim. Yaitu Kiai A Wahid Hasyim, putranya sendiri. Satunya lagi, KH Idris Kamali, santri Hadratussyaikh yg kemudian diambil menantu.
    Kiai Idris Kamali, dikenal sbg ulama alim dan zuhud. Ia banyak belajar di Makkah. Sepulang dari Makkah ia nyantri ke Hadratussyaikh di Tebuireng.
    Yang menarik, ia sangat disegani kaum jin. Bahkan di Pesantren Kempek Jawa Barat, tempat Kiai Idris Kamali berasal, jika ada ribut2 tentang jin, begitu disebut nama Kiai Idris Kamali, jinnya langsung kabur.
    Kiai Idris Kamali ini menikah dgn Nyai Azzah, salah satu putri Hadratussyaikh, dan dikarunai satu putra Gus Abdul Haq. Kiai Idris Kamali juga pernah menjadi penerus Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam mimpin pengajian Shahihul Bukhari dan Muslim di Tebuireng.
    Menurut Gus Qoyyum, abahnya yakni Kiai Mansur Kholil ngaji kitab Hadits Shahihul Buchari dan Muslim langsung kepada Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Kiai Mansur selalu menulis secara detail apa saja yg disampaikan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam kitab Shahihul Buchari dan Muslim yg dikajinya. Bahkan mana hadist yg diajarkan Hadratussyaikh dan mana yg diajarkan asistennya, yakni Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Kiai Idris Kamali, diberi catatan.
    Sehingga Gus Qoyyum bisa mengikuti semua catatan2 tentang pengajian yg diberikan langsung oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.
    Menurut Gus Qoyyum, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mengajar ngaji Shahihul Buchari dan Muslim secara rutin pada bulan Ramadlan. Dalam mengkaji hadits itu Hadratussyaikh selalu mutobiqotul bab. Artinya, setiap mengkaji hadits selalu dijelentrehkan dgn kontek kekinian.
    Kisah 9 Wali Nyantri Di Tebuireng
    Gus Qoyyum juga menuturkan bahwa abahnya, Kiai Mansur Kholil, saat mondok di Pesantren Tebuireng satu kamar dengan 9 orang santri dari Banten. Nah, 9 santri ini aneh. Karena saat itu usia mereka sudah jauh lebih tua dari usia Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. “Usia mereka sudah 80 tahunan,” kata Gus Qoyum mengutip penuturan abahnya.
    Yang lebih aneh lagi, tutur Gus Qoyyum, selama bulan Ramadan mereka berpuasa tapi tak pernah sahur, tak pernah berbuka dan tak pernah tidur. Kiai Mansur Kholil, abah Kiai Qoyyum, akhirnya menyadari bahwa 9 santri itu bukan santri biasa tapi 9 wali yg nyantri ke Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Karena itu Kiai Mansur Kholil dan Kiai Qoyyum pun berkesimpulan bahwa Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari itu seorang auliya’ullah yg dijaga para wali
    Ila Ruhi Hadrotusy Syaih Hasyim Asy’ari Wa Usulihi Wa Furu’ihi
    Lahumul Fatihah
    (sahabat imam mahdi)
  • BAKSOS BASADA pada Kaderisasi DIROSAH KADER ULA

    BAKSOS BASADA pada Kaderisasi DIROSAH KADER ULA

    Cyberaswaja.online | Ngoro. Kaderisasi DIROSAH KADER ULA PC GP ANSOR, yang digelar oleh PAC GP ANSOR Ngoro pertama kali ini, merupakan kehormatan sekaligus kebanggaan bagi Kader untuk membantu mensukseskan kegiatan tersebut. 

    BANSER HUSADA KABUPATEN MOJOKERTO
    FOTO: BANSER HUSADA KABUPATEN MOJOKERTO

    Berada di Lereng Gunung Penanggungan yang konon banyak situs situs peninggalan Kerajaan Mojopahit ini, berdiri Ponpes Sabilillah, tepatnya di dusun Watusari desa Wotanmasjedong kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto Jatim DIROSAH KADER ULA ini kemudian digelar. (24/01/2020)

    FOTO: SATKORCAB BANSER KABUPATEN MOJOKERTO
    FOTO: JAJARAN SATKORCAB BANSER KABUPATEN MOJOKERTO.

    Kasatkorcab Banser (kepala Satuan Kordinasi Cabang Barisan Ansor Serba Guna) Menerjunkan Semua Biro yang ada di struktural nya. diantaranya Biro INFOKOM, BASADA, BALANTAS, BAGANA turut menghadiri dalam agenda pembukaan tersebut.

    BAGANA KABUPATEN MOJOKERTO
    FOTO: Anggota BAGANA SATKORCAB BANSER MOJOKERTO
    FOTO: JAJARAN SATKORCAB BANSER PEMBUKAAN DIROSAH KADER ULA
    FOTO: JAJARAN SATKORCAB BANSER pada Pembukaan DIROSAH KADER ULA

    Baksos BASADA BANSER pada DIROSAH KADER ULA ini, membuat posko untuk mengawal selama kegiatan berlangsung. Dengan berbagai Skill dan kompetensi yang dimiliki BANSER HUSADA tampil untuk membantu pengobatan dalam hal medis maupun non medis. (gp/infokom)

  • MONUMEN SEDATI NGORO PENANDA PERANG YANG TERHALANG

    MONUMEN SEDATI NGORO PENANDA PERANG YANG TERHALANG

    SORBANSANTRI.COM

    Patung pejuang kemerdekaan berdiri di sekitar pertigaan Ngoro Indutrial Park (NIP). Penanda peristiwa masa revolusi itu merupakan salah satu monumen terbaik di Kabupaten Mojokerto karena bentuknya berbeda dengan bentuk monumen yang sering kita lihat hanya berupa tugu berbentuk peluru. Namun sayang tidak banyak yang tahu mengapa monumen itu didirikan disana ?

    Ketika belanda melakukan gerakan militer pada bulan september 1948, para pejuang republik terpaksa mengalami perubahan posisi. Serdadu Belanda menyerang hampir semua kedudukan militer RI, bahkan ibukota Jogjakarta jatuh dan para petinggi pemerintahan ditawan. Belanda mengambil momentum saat kedudukan militer Indonesia kacau akibat peristiwa Musi di Madiun yang dikenal sebagai Madiun Affair. Dalam analisa militer Belanda, pada saat itu kekuatan militer Indonesia lemah akibat pertikaian internal republik. Namun perkiraan itu meleset sebab para pejuang menolak menyerah dan menyerang balik menggunakan taktik gerilya. Maka berkobarlah perang Kemerdekaan jilid 2.

    Suatu hari di bulan Pebruari 1949, satu kompi pasukan dibawah pimpinan Kapten Budiman Sumantri membuat barikade. Kompi Budiman merupakan bagian dari kesatuan tempur Batalyon Bambang Yuwono (BY) yang saat itu ditempatkan di wilayah Ngoro-Mojosari. Kompi itu menggunakan bekas bangunan Pabrik Gula Sedati sebagai markasnya. Misi sebenarnya dari batlayon BY adalah masuk ke wilayah Sidoarjo dengan sasaran akhir bersama kesatuan perjuangan lainnya merebut Surabaya. Namun misi itu terhalang oleh kuatnya penjagaan lawan di jembatan Ngerame, Tanjangrono maupun jembatan porong. Sedangkan masuk ke Sidoarjo dengan cara menyeberangi Kali Porong juga riskan karena airnya besar pada saat musim hujan saat itu.

    Kompi Budiman membuat barikade di jalan raya yang menghubungkan Sedati dengan Japanan yang saat itu dikuasai musuh. Barikade itu dibuat dengan cara menebang pohon-pohon dan meletakkannya melintang di jalanan, bebatuan atau benda apa saja yang dapat menghambat pergerakan lawan. Barikade harus dibuat sebab beberapa hari sebelumnya terjadi pertempuran sporadis di desa Jedong. Setelah kejadian itu kemungkinan serdadu Belanda akan melakukan pembersihan dan berusaha menguasai Sedari.

    Tidak lama setelah barikade terpasang, sekira pukul 10.00 mulai terlihat gerakan pasukan musuh. Sebuah brencarrier berjalan pelan disertai formasi pasukan agak jauh dibelakangnya. Kendaraan tempur itu merupakan pembuka jalan untuk serangan lebih besar. Barikade yang dipasang para pejuang cukup efektif menghambat laju lawan. Kedatangan panser ringan itu segera disambut dengan tembakan pejuang. Sebuah upaya yang kurang efektif sebab jarak kendaraan itu masih diluar jarak tembak efektif. Namun hujan peluru itu cukup mengagetkan lawan. Terjadi kontak senjata sekitar setengah jam.

    Rupanya serdadu Belanda tidak tahan tekanan hujan peluru dari para pejuang. Walaupun brencarrier sanggup menahan peluru, tetapi mereka memilih lari meninggalkan kendaraannya untuk bergabung dengan induk pasukannya. Rupanya sebelum lari, serdadu itu sudah merusak mesin peralatan tempur tersebut. Saat didekati oleh para pejuang kondisi kendaraan itu mesinnya mati. Dari pertempuran singkat itu berhasil disita sebuah radio komunikasi (LCR), sepucuk pistol suar/isyarat dan tentu kendaraan itu sendiri. Namun karena mesin mati kendaraan itu ditinggal setelah dirusak. Mutralieur yang terpasang juga tidak bisa dibawa sebab sulit melepasnya.

    Beberapa hari berselang sejak peristiwa itu, tepatnya tanggal 11 Pebruari, gerakan pasukan lawan kembali terlihat. Sebelum masuk ke wilayah Sedati, mereka sudah melepaskan tembakan meriam terlebih dahulu. Kedudukan pejuang menjadi porak poranda karena masing masing berusaha menyelamatkan diri tanpa menghiraukan formasi pasukannya. Setelah peluru meriam dan mortier berhenti, tank.dan panser bergerak masuk ke Sedati. Perlawanan sporadis dilakukan menyambut datangnya lawan. Namun perlawanan itu tak banyak berarti karena formasi pejuang sudah porak poranda. Pada hari itu Sedati jatuh ke tangan Belanda. Tidak lama kemudian Mojosari juga berhasil dikuasai tentara belanda.

    Rupanya Sedati dan Mojosari memang menjadi target serangan lawan. Dari kedua daerah itu kemudian dilakukan serangan besar-besaran terhadap kedudukan pejuang di daerah Kutorejo. Pasukan Belanda menyerang dari berbagai arah. Kedudukan pasukan republik yang tergabung dalam Pasukan Komando Hayam Wuruk terjepit. Pertempuran terjadi sejak pagi hingga malam pada tanggal 12 Pebruari 1949.

    Jika saja waktu itu Sedati bisa dipertahankan tentu para pejuang masih punya jalan untuk lolos dari kepungan. Pertempuran besar itu merupakan pertempuran terbuka, kedua kekuatan berhadapan mengadu senjata dan keberanian, mirip dengan pertempuran nopember 1945 di Surabaya. Tidak tercatat pasti berapa jumlah korban, namun setidaknya lebih dari 1000 nyawa melayang.

    Monumen Sedati dibangun untuk mengenang perjuangan pasukan pejuang dari kesatuan Batalyon Bambang Yuwono. Selain di Sedati, sebuah tugu peluru di Gumeng Gondang juga didirikan  sebagai penanda bagi Batalyon tersebut. Sayangnya monumen sebagai penanda perjuangan masa revolusi kemerdekaan itu keberadaannya tidak banyak diketahui. Patung pejuang tersebut terhalang pandang oleh bangunan yang tumbuh disekitarnya.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • BIJI DURIAN JUMADIL KUBRO

    BIJI DURIAN JUMADIL KUBRO

    SORBANSANTRI.COM

    Kisah tentang Sjech Jumadil Kubro sebagai penyebar Islam generasi awal tidaklah banyak. Tentu tidaklah mungkin tokoh sebesar beliau tidak memiliki cerita sejenis mitos yang banyak kita jumpai ada disekitar para wali. Tetapi jejak kewaliannya malah ada di negeri China.

    Alkisah, seorang muslim mendarat di negeri China. Tokoh itu ikut kapal dagang dari negeri Gujarat di tanah India. Perahu dagang China dan India memang telah memiliki jalur laut untuk melakukan niaga, selain ada jalur darat yang dikenal sebagai jalur sutera. Para pedagang muslim memang menjadikan Gujarat sebagai pangkalan dagang ke berbagai penjuru.

    Diketahui orang muslim itu bernama Sjech Jumadil Akbar atau Jumadil Kubro. Dia telah banyak berkelana di daerah India untuk menyebarkan risalah Islam pada penduduk negeri yang belum mengenal Islam. Sebagai tokoh yang namanya sudah kondang maka Jumadil Kubro memiliki banyak relasi dari kalangan atas, baik pejabat maupun saudagar. Salah seorang saudagar kenalannya bersedia memberi tumpangan ke negeri China. Bahkan saudagar tersebut tidak berkeberatan mengenalkannya dengan penguasa negeri China.

    Seperti lazimnya, rombongan saudagar segera menghadap penguasa pelabuhan untuk mendapat ijin kapalnya bersandar. Setelah itu dia akan sowan pada penguasa guna menyerahkan upeti demi mendapatkan ijin menjual barang dan membeli komoditi untuk dibawa pulang. Saat menyerahkan upeti itulah Jumadil Kubro ikut serta.

    Singkat cerita, Jumadil Kubro menyampaikan maksudnya untuk menyampaikan tentang Agama Islam yang akan disyiarkannya ke penduduk Kota Raja. Pada akhirnya Jumadil Kubro juga mengajak agar Kaisar menjadi pemeluk Islam.

    Kaisar China terperanjat karena ada orang yang berani menyebut bila raja China adalah orang biasa seperti manusia lainnya. Kaisar China mempercayai bila dirinya adalah penguasa keturunan langsung dari para dewa. Kekuasaan yang ada di tangannya adalah kekuasaan turunan yang harus disembah seperti rakyat menyembah dewa. Dalam pikirannya akan kehilangan martabat bila dirinya ikut menjadi muslim. Agama Islam memandang semua manusia sama dengan pembeda pada nilai ketaqwaannya.

    Situasi memanas karena Kaisar seolah merasa ditantang oleh tamunya itu. Bila orang itu diijinkan berkeliaran di negaranya tentu akan menjadi api yang jika membesar akan membakar kekuasaannya. Pun demikian pula dengan Jumadil Kubro yang berpikir jika sudah tidak mungkin menjalankan dakwah saat penguasa sudah ada kecurigaan. Firasatnya, Kaisar China akan menghalangi dirinya dengan berbagai cara.

    Untuk menunjukkan siapa yang benar apakah Kaisar sebagai putra dewa ataukah Jumadil Kubro yang membawa kebenaran agama, maka Kaisar membuat uji kesaktian. Dia memiliki biji buah durian yang disebutnya sebagai buah paling nikmat di dunia. Kaisar ingin sekali memiliki tanaman durian di istananya. Tetapi biji durian itu tidak pernah bisa tumbuh karena memang habitatnya di daerah panas atau tropis.

    “Jika tuan bisa menanam biji durian ini hingga tumbuh di sini, saya akan ijinkan tuan menyebarkan Agama Islam di negeri China. Bahkan saya tidak berkeberatan ikut Agama tuan”. Tantang Kaisar China.

    “Baiklah, saya bersedia menanam biji durian itu. Saya akan berdoa pada Allah agar biji itu segera tumbuh di istana tuan Kaisar”. Balas Jumadil Kubro.

    “Ingat selama biji itu belum tumbuh tuan dilarang keluar dari wilayah pelabuhan”, ujar Kaisar mengingatkan.

    Dengan disaksikan oleh para petinggi kerajaan, Jumadil Kubro menuju alun-alun depan Istana Kaisar. Tangannya menggali tanah dan meletakkan biji durian yang dia terima dari Kaisar. Saat biji ditimbuni serta disiram air, saat itulah Jumadil Kubro memanjatkan doa agar biji durian menjadi jalan turunnya hidayah bagi rakyat negeri China.

    Sesuai kesepakatan, Jumadil Kubro hanya boleh tinggal di sekitar pelabuhan saja. Namun Jumadil Kubro tidak menunggu hingga biji durian itu tumbuh. Dia tahu jika Kaisar tidak akan pernah mau menerima ajaran Islam yang akan menurunkan derajatnya dihadapan rakyat yang bertahun-tahun memuliakan Kaisar seperti dewa. Jumadil Kubro memilih keluar dari negeri China.

    Beberapa hari kemudian, Istana Kaisar menjadi gempar. Di alun-alun ada pohon durian tumbuh. Pertumbuhan pohon baru itu juga cepat membesar. Kaisar menjadi bimbang, dalam hatinya mengakui kebenaran ajaran agama yang di dengarnya dari Jumadil Kubro. Biji durian itu menjadi bukti betapa doa Jumadil Kubro lebih didengar dari pada doanya. Walaupun pengalaman dan logika sulit biji durian itu hidup di tanah China yang memiliki iklim dingin, tetapi Kaisar kuatir bila dirinya kalah bertaruh dengan Jumadil Kubro.

    Biji Durian itu bukan hanya persoalan siapa yang benar, lebih jauh lagi biji durian itu menyangkut kepercayaan. Jika rakyat tahu Kaisar kalah tentu akibatnya bisa melunturkan kepercayaan pada dirinya selaku putra dewa. Kaisar China lalu melakukan ritual agar dewa tidak memberi kehidupan pada biji durian tersebut. Namun kini dia melihat sendiri ada pohon durian dekat istananya.

    Kaisar segera memerintahkan patih agar mencari Jumadil Kubro di pelabuhan. Tentu saja Patih tidak menemukannya karena orang di pelabuhan bilang jika Jumadil Kubro sudah pergi meninggalkan China. Dia ikut menumpang kapal dagang milik orang Jawa. (Red. M.Ha)

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • R.P. SOENARJO GONDOKOESOMO TOKOH PERGERAKAN ASAL MOJOKERTO

    R.P. SOENARJO GONDOKOESOMO TOKOH PERGERAKAN ASAL MOJOKERTO

     

    SORBANSANTRI.COM

    Pernah satu tanya terlintas dalam pikiran ketika menerima informasi jika Jendral AH. Nasution dulu sering ke Mojokerto. Untuk keperluan apa dia datang ke Mojokerto ?. Dan kata tanya itu terjawab saat ditemukan benang merahnya dengan seorang tokoh asal Mojokerto bernama Raden Panji Soenarjo Gondokoesoemo.

    Soenarjo Gondokoesoemo lahir di Mojokerto pada 2 Nopemer 1892. Ayahnya bernama R.P. Djayusman Gondokoesoemo yang berkedudukan sebagai Patih Kabupaten Mojokerto. Sedangkan ibunya bernama R. Ajoe Ngalipah yang masih memiki hubungan darah dengan para penguasa Surabaya. Soenarjo memiliki beberapa saudara yang salah satunya bernama R.A. Soekarsinah yang kemudian dinikah oleh R.P. Soeroso.

    Dengan status sebagai keturunan priyayi maka Soenarjo memiliki hak untuk sekolah sampai tingkat lanjutan. Menurut Suhario Padmodiwiryo atau yang dikenal dengan julukan Hario Ketjik, Soenarjo bukan hanya menuntut ilmu di Indonesia, dia juga sempat sekolah ilmu akuntansi di Negeri Belanda. Dan setelah kembali ke Indonesia, Soenarjo bekerja pada perusahaan asuransi “Blom Van Der A” di Surabaya. Data diri Soenarjo yang terdapat pada buku Orang Jang Terkemoeka di Jawa menyebutkan dia pernah menjadi pegawai dinas pengairan di Probolinggo sebelum pindah ke perusahaan kereta api SCS, SDS dan juga OJS.

    Selain itu Soenarjo juga sempat berkarir di Asuransi Boemi Poetra di Surabaya hingga kemudian dipindah ke Bandung. Selama di Surabaya dia pernah menjadi direktur Harian Soeara Oemoem yang dimiliki oleh Parindra. Serta mengurus Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Bubutan Surabaya.

    Tahun 1924 Soenarjo menikah dengan seorang perempuan Belanda bernama Hendrika Maria Rademeker, anak seorang insinyur yang pernah berdinas di Mojokerto. Pasangan itu kemudia memiliki 3 orang anak, dua laki-laki dan seorang perempuan bernama Soenarti Gondokoesoemo.

    Rupanya hubungan sebagai saudara ipar dengan R.P. Soeroso, ketua Sarekat Islam Mojokerto, ikut mempengaruhi pemikiran politik Soenarjo. Saat R.P. Soeroso keluar dari SI dan mendekat pada PBI yang didirikan oleh dr. Soetomo, maka langkah tersebut diikuti pula oleh Soenarjo. Bahkan Soenarjo kemudian dikenal sebagai orang dekat dari pendiri organisasi Budi Utomo tersebut. Kedekatan itu dapat dibuktikan dengan ditunjuknya Soenarjo sebagai ketua Studie Club’ yang dibentuk Soetomo pada bulan Juli 1928 di Surabaya.

    Pada bulan Desember 1935, Soetomo mengadakan pertemuan untuk menyatukan partai tengah, yaitu PBI dan Budi Utomo yang dipimpin oleh R. Wuryoningrat. Pada pertemuan di Solo itu disepakati peleburan keduanya dengan membentuk partai baru yang diberi Partai Indonesia Raya yang disingkat Parindra. Soetomo dipilih sebagai ketua dan Wuryoningrat sebagai wakilnya. Ternyata Parindra mendapatkan dukukngan dengan masuknya beberapa organisasi seperti, M.H. Thamrin dengan Perkumpulan Kaum Betawi, Ratulangi (Serikat Minahasa/Celebes), Latuharhary (serikat Ambon), Dahlan Abdullah (Serikat Sumatra), dan Roeslan Wongsokusumo (Serikat Madura).

    Ideologi politik Soetomo yang ada pada garis kanan tengah sangat mewarnai diri Soenarjo. Dia tidak canggung untuk bekerja sama dengan Belanda demi memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Karena itu gerakan ala Soetomo itu dapat diterima oleh pemerintah kolonial dan sekaligus memperoleh dukungan dari rakyat, terutama di Jawa Timur. Parindra kemudian mendirikan Rukun Tani, Rukun Nelayan, serta membentuk lumbung tani. Untuk memberikan pinjaman pada anggotanya yang terus berkembang juga didirikan Bank Nasional Indonesia denga menunjuk Soenarjo sebagai direkturnya.

    Dan yang paling dikenal adalah organisasi pemuda yang diberi nama Surya Wirawan. Organisasi yang beratribut seperti tentara itu dilatih disiplin. Mereka bukan hanya sebagai pandu namun juga bersikap semi militer. Sebuah foto tentang sikap militeristik terlihat saat mereka memberi penghormatan ala Nazi saat pemakaman M.H. Thamrin, Januari 1941.

    Soenarjo Gondokoesoemo kemudian pindah ke Bandung untuk memimpin Asuransi Boemi Poetra disana pada tahun 1937. Kepindahannya juga dimaksudkan guna memperkuat kepengurusan Parindra di Jawa Barat. Dia bekerja sama dengan R. Otto Iskandar Dinata yang memutuskan bergabung dengan Parindra. Duet keduanya membuat Parindra bisa berkembang di tanah Pasundan.

    Saat tentara Jepang datang, Soenarjo memiliki relasi yang cukup baik dengan penguasa yang menyebut dirinya sebagai saudara tua. Hubungan baik itu dikarenakan Soenarjo sempat menyelamatkan seorang penerbang Jepang yang pesawatnya tertembak jatuh. Penerbang yang di daerah perkebunan tersebut disembunyikan Soenarjo dari penangkapan serdadu Belanda.

    Nama Soenarjo Gondokoesoemo tidak begitu terdengar pada jaman revolusi kemerdekaan. Aktifitas politiknya mengapung kembali pada tahun 1954 dia diangkat menjadi anggota DPR Sementara (DPRS) oleh Presiden Soekarno dari Fraksi Parindra yang memiliki 7 kursi parlemen. Kedudukan itu didapat dari pergantian antar waktu (PAW) karena RP. Soeroso, ketua umum Parindra, ditunjuk sebagai menteri sosial dalam kabinet Ali Sastroamidjojo. Dalam kepengurusan Partai Parindra Soenarjo Gondokoesoemo tercatat sebagai pimpinan pusat partai pada bagian sosial dan ekonomi.

    Karir politik Soenarjo Gondokoesoemo berakhir karena perolehan suara Parindra jatuh dalam pemilu 1955. Partai dengan lambang dua tangan memegang tangkai padi dan pena itu hanya mendapatkan 2 kursi di parlemen yang salah satunya diduduki oleh R.P. Soeroso. Perjalanan panjang Soenarjo sebagai tokoh pergerakan selesai karena dia meninggal pada tahun 1963.

    Lalu apa hubungannya dengan A.H. Nasution dan Mojokerto ?. A.H. Nasution yang merupakan alumni akademi militer Belanda di Bandung dengan pangkat letnan muda pernah ditampung oleh keluarga Soenarjo. Nasution yang saat itu disersi dari kesatuannya menjadi buronan baik oleh Belanda maupun Jepang. Setelah menempuh perjalanan dari Jember hingga Bandung dan sempat mampir ke rumah RP. Soeroso di Mojokerto, kemudian bersembunyi di rumah Soenarjo. Karena hubungan baik Soenarjo dengan pihak Jepang maka Nasution tidak ditangkap.

    Nasution tinggal bersama keluarga tersebut sekitar 3 bulan. Dari sana kemudian tumbuh benih asmaranya pada Soenarti yang memang cantik jelita. Perjumpaan keduanya berlanjut ketika Soenarti melanjutkan sekolah di Jogjakarta ikut di rumah pamannya, R.P. Soeroso. Keduanya kemudian menikah pada tahun 1947.

    Kaitannya dengan Mojokerto adalah karena salah satu putra Soenarjo yang ikut kakekkya menikah dengan anak bungsu Kyai Rofi’i Pekuncen. Oleh menantu Kyai Rofi’i, yaitu Kyai Sholeh Penarip, pernikahan itu diberi syarat terlebih dahulu. Syaratnya pengantin pria harus belajar ngaji terlebih dahulu. Setelah dianggap memenuhi syarat keduanya diberi tanggung jawab mengajar ngaji di langgar Sinoman, langgar yang didirikan Kyai Sholeh. Kisah pernikahan mereka tertulis dalam buku Kyai Sholeh Pesantren Penarip karya H.A. Yazid Qohar.

    Karena ada tali persaudaraan itulah kemungkinan A.H. Nasution sempat beberapa kali datang ke Mojokerto untuk mengunjungi kakak iparnya.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • SYUHADA YANG TERLUPA

    SYUHADA YANG TERLUPA

    SORBANSANTRI.COM

    Jasadnya masih segar saat dibongkar

    Pertempuran besar terjadi di sekitar jembatan Ngembeh Kecamatan Dlanggu. Pertarungan terbuka antara para perjuangan dengan serdadu Belanda itu menimbulkan korban besar dari kedua belah pihak. Diantara korban itu terdapat dua orang syuhada, Ahmad Qosim dan Madjid Asmara. Mereka gugur sebagai Kusuma Bangsa tanpa penanda.

    Selama meneliti masa perjuangan kemerdekaan di Mojokerto, banyak tempat sudah terdatangi. Lokasi dimana pernah terjadi pertempuran mempertahankan kemerdekaan itu acap kali diberi tanda atau monumen. Tugu dan bangunan itu dimaksud untuk pengingat bahwa tempat itu memiliki riwayat yang harus tetap diingat. Sebagian besar monumen itu ada di wilayah selatan Mojokerto, tempat dimana pernah dibentuk pasukan Komando Hayam Wuruk pada akhir tahun 1948.

    Ada monumen Gumeng yang dibuat untuk mengenang gugurnya Kapten Soenarjo dari Batalyon Bambang Yuwono. Monumen Jatidukuh yang dipersembahkan bagi gugurnya Kapten Hartono. Monumen Padusan dibangun untuk mengingat keberanian Kapten Soemadi. Monumen Kepuh Arum yang dibuat untuk Batalyon Tjipto. Dan beberapa monumen lainnya.

    Dalam pasukan Komando Hayam Wuruk yang dipimpin Mayor Pamoe Rahardjo intinya ada pada 4 Batalyon. Batalyon Bambang Yuwono (BY), Batalyon Tjipto (T), Batalyon Mansyur Solikhi (M) dan Batalyon Isa Idris (I). Tiga Batalyon pertama merupakan pasukan tempur dan satu batalyon, Batalyon I, adalah pasukan teritorial. Belakangan muncul bantuan dari Batalyon Moenasir yang menggantikan posisi Batalyon I yang tidak begitu aktif di Mojokerto. Isa Idris memilih berkonsentrasi di perbatasan Mojokerto – Jombang.

    Setelah berhasil menguasai wilayah Mojokerto selatan, pasukan Hayam Wuruk mendapat tekanan dari lawan. Mereka terkepung di barat Pesanggrahan. Dari Pugeran hingga Dlanggu berjajar tank Belanda dan dari Pacet serta Mojosari pasukan infantri menjepit posisi para pejuang.

    Pada rapat tanggal 11 Malam di sebuah mushola di selatan Mojosari, Mayor Pamoe Rahardjo memutuskan pasukannya untuk mundur ke daerah pegunungan Anjasmoro di selatan atau masuk kembali ke Trowulan. Daerah itu masih dalam kontrol kekuatan pejuang. Masing-masing Batalyon diperintahkan untuk mencari jalan menerobos kepungan lawan.

    Pagi tanggal 12 Pebruari, pecah pertempuran terbuka. Pertempuran yang menjurus satu lawan satu seperti pada pertempuran Surabaya. Pertempuran yang sudah jarang terjadi setelah penerapan taktik gerilya. Seluruh Batalyon memang berhasil lolos dari kepungan itu, namun banyak anggotanya yang gugur dalam pertarungan. Tidak tercatat berapa besar korban, tetapi informasi menunjuk pada angka lebih dari 1000 nyawa melayang.

    Diantara korban itu terdapat nama Mayor Madjid Asmara, kepala staf Batalyon M. Ada pula komandan kompi IV Batalyon M, Kapten Ahmad Qosim yang lebih sering dipanggil Mat Yatim. Mereka merupakan alumni pendidikan Hizbullah di Cibarusa. Kamp pelatihan yang dididik langsung oleh Kapten Yanagawa pada awal tahun 1945. Madjid Asmara mewakili Kabupaten Gresik dan Mat Yatim berangkat atas nama Mojokerto. Mat Yatim dikenal keberaniannya saat menghadapi pasukan Jangkar Merah atau pasukan Marinir Belanda dalam pertempuran Kembangsore Pacet pada tanggal 1 Januari 1949.

    Mat Yatim gugur dengan tubuh tertembus peluru di desa Sawo. Jenazahnya kemudian dimakamkan oleh rakyat desa tersebut setelah pertempuran berakhir. Madjid Asmara tertembak dan coba diselamatkan oleh kawan-kawannya. Upaya penyelamatan perwira Batalyon itu gagal karena Madjid meninggal karena kehilangan banyak darah di dekat jembatan Ngembeh.

    Tepat setahun kemudian, 12 Pebruari 1950, makam Mat Yatim dibongkar dan jenazahnya dipindahkan ke halaman kecamatan Kutorejo. Anehnya, jenazah itu masih utuh dan jelas terlihat lobang peluru di badannya. Demikian pula dengan pakaian yang dikenakan tidak rusak sama sekali, sama seperti saat dia pertama dikebumikan. Peti jenazah yang disiapkan menjadi sesak karena dikira jenazahnya akan menyusut. Ternyata jasad syuhada itu tidak mengalami perubahan sama sekali. Subhanallah.

    Makam Kapten Mat Yatim diketahui berada di TMP Gajah Mada Mojokerto. Kondisinya tidak terawat, seperti tidak pernah ada yang mengunjunginya. Hal itu mungkin dikarenakan tidak ada keluarga yang mengunjunginya sebab dia gugur sebelum berkeluarga. Sedangkan makam Madjid Asmara entah dimana. Dalam buku daftar makam di TMP tidak terdapat nama Madjid Asmara.

    Madjid Asmara dan Achmad Qosim adalah seorang syuhada yang merelakan jiwanya demi tegaknya Indonesia. Pertempuran di selatan Mojosari menjadi pertarungan sengit yang menelan banyak korban. Tentu jumlahnya lebih besar dibanding dengan peristiwa Gumeng dan penyergapan di Jatidukuh. Yang gugur juga terdapat perwira berpangkat Mayor. Entah kenapa pemerintah tidak membuatkan monumen penanda.

    Semoga catatan kecil ini menjadi pengingat bagi generasi nanti. Mengingat syuhada yang terlupa.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • Makna Filosofi Logo Harlah ke-95 Nahdlatul Ulama

    Makna Filosofi Logo Harlah ke-95 Nahdlatul Ulama

    Sorbansantri.com – Jakarta, NU Online //
    Pada 31 Januari 2021 yang akan datang, Nahdlatul Ulama genap berusia 95 tahun dalam hitungan tahun Masehi. Pada tahun ini, tema yang diangkat pada Hari Lahir (Harlah) ormas keagamaan terbesar di Indonesia ini, adalah Khidmah NU: Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan.

    Visualisasi tema besar ini pun sudah terwujud dalam logo Harlah Ke-95 NU. Sang desainer logo, Dain Nur Rafita Ardani Rahmansyah menjelaskan bahwa ada makna filosofis terkandung dalam logo Harlah yang waktu pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar empat hari.

    Dalam desain tersebut terdapat dua bulatan yang menggabungkan angka sembilan dan lima di bagian tengah. Dua bulatan yang berbentuk seperti angka delapan ini dibuat dengan satu tarikan garis memiliki makna konsistensi atau keajegan.

    “Ini sesuai tema yang diusung yaitu konsistensi khidmah NU dalam menyebarkan Aswaja dan meneguhkan komitmen kebangsaan, serta konsistensi dalam membawa Islam yang Rahmatan lil alamin,” jelas Dian kepada NU Online, Ahad (17/1).

    Dalam logo Harlah yang dipadu dengan logo NU di atasnya dan tanggal serta tahun kelahiran NU di bawahnya ini, ada dua warna yang dominan yakni warna emas dan hijau. Bukan tanpa alasan dua warna ini dipadukan dengan apik sehingga mewujudkan logo yang terlihat bersinar.

    “Warna emas menggambarkan kemuliaan, hijau melambangkan kedamaian,” jelas Dian.

    Saat penggarapan, Dian mengungkapkan beberapa langkah dan kompleksitas dalam mewujudkan desain ini. Memang menurut Dian, kesulitan yang dihadapi oleh para desainer logo adalah mencari konsep dan memvisualisasikan tema. “Biasanya konsep udah nemu tapi nggak nyambung sama tema,” ungkapnya.

    Namun, dengan kesungguhan dan pengalaman dalam dunia desain, akhirnya ia bisa mewujudkan logo Harlah Ke-95 NU untuk tahun 2021. Logo ini nantinya bakal banyak terwujud dalam berbagai media seperti umbul-umbul, bendera, dan berbagai suvenir.

    Pewarta: Muhammad Faizin
    Editor: Kendi Setiawan


    Follow @nuonline_id
    Kunjungi www.nu.or.id

    #nahdlatululama #nu #nuonline #nuonline_id #harlah95nu

  • SAKSI MATA PERISTIWA GUMENG KECAMATAN GONDANG

    SAKSI MATA PERISTIWA GUMENG KECAMATAN GONDANG

    Mengenang Pahlawan

    Namanya Kamil yang aku panggil Mbah Kamil karena usianya memang sudah sepuh. Dulu kerjanya bertani seperti profesi penduduk desa lainnya. Dan hanya dia yang tersisa dari peristiwa 68 tahun silam. Peristiwa gugurnya para pejuang kemerdekaan di desa tengah hutan

    Siang itu, 29 Desember 1949. Penduduk desa yang sedang bekerja di ladangnya terkejut oleh kedatangan ratusan orang. Rombongan yang sebagian besar membawa senjata api itu muncul dari hutan yang mengelilingi desa. Pakaian yang dikenakan terlihat lusuh seperti berhari-hari belum dicuci. Wajah mereka tampak lelah dengan peluh bercampur sisa air hujan yang membasahi tubuhnya. Kemunculan yang tidak diduga oleh warga desa Gumeng.

    Gumeng adalah desa di tengah hutan selatan Pohjejer Kec. Gondang Mojokerto. Ada sebuah sungai dengan air jernih membelah desa kecil itu. Jalan yang menghubungkan dengan dunia luar adalah jalan setapak yang susah dilewati pada musim penghujan. Kala itu penduduknya hanya puluhan orang saja. Rumah pun masih jarang.

    Pak Kamil mendengar bila pimpinan rombongan pejuang republik itu bernama Pak Pamoe. Para pejuang itu berangkat dari Wonosalam di daerah Jombang sekitar 4 hari sebelumnya. Perjalanan melelahkan karena harus menembus lebatnya pepohonan dan tanah licin saat diguyur hujan bulan Desember. Orang bilang Desember itu gede-gedene sumber, besar-besarnya curah hujan.

    Lurah Gumeng sempat bilang bila warganya tidak akan bisa memberi makan ratusan, mungkin jumlahnya seribuan orang pejuang. Ternak dan simpanan bahan makanan milik warga mungkin hanya cukup dikonsumsi 2-3 hari saja. Kekhawatiran Lurah yang dijawab pak Pamoe dengan kalimat tidak usah repot kami hanya singgah melepas lelah, ada bahan makanan kami bawa sendiri.

    Ada beras yang membebani kuda-kuda para pejuang itu. Bahan makanan yang bisa menghidupi lebih dari seminggu. Mereka juga masih bisa mengambil makan dari buah atau umbi-umbian di hutan. Makan memang bukan persoalan, namun sebagai tuan rumah Pak Lurah jelas tidak enak kalau tidak menyambut tamunya secara layak.

    Sore itu suasana desa menjadi berbeda. Desa kecil menjadi penuh sesak oleh senda gurau manusia. Malamnya, pendopo rumah pak lurah tidak bisa menampung orang yang numpang tidur. Begitupun rumah warga sudah penuh hingga sebagian tidur di luar rumah. Pagi esoknya sebagian besar berpencar pergi meninggalkan desa Gumeng. Pak Kamil tidak tahu kemana dua rombongan pejuang itu menuju. Di desa yang tersisa jumlahnya mungkin tiga ratusan orang. Pak Pamoe juga masih ada di Gumeng.

    Siangnya, Pak Pamoe memimpin pejuang berbaris di halaman rumah pak Lurah. Dia memerintahkan pasukan yang masih ada untuk segera berkemas. Pak Kamil mendengar bila mereka akan menuju desa Pugeran yang letaknya di utara desa Gumeng. Sebelum barisan dibubarkan, di udara terlihat pesawat terbang Belanda melintas dari arah utara.

    Pesawat itu kemudian berbelok dan dari arah timur terbang rendah. Pak Pamoe berteriak memerintahkan pasukannya bubar dan mencari perlindungan. Komandan itu tahu kalau pesawat itu akan menyerang barisan pejuang. Benar saja, seperti hujan peluru berhamburan dari senapan mesin di sayap dan badan pesawat tersebut. Serangan itu diakhiri oleh lemparan bom dari pesawat yang selanjutnya menghilang ke barat.

    “Bom meledak dengan suara keras memekakkan telinga. Suasana menjadi gelap oleh asap dan debu tanah yang berhamburan. Ada juga serpihan kain yang terkoyak berhamburan” kata Pak Kamil mengenang peristiwa yang disaksikannya.

    Serangan pesawat itu ternyata menewaskan puluhan orang pejuang. Pak Pamoe selamat karena berlindung di balik batu besar yang menahan terjangan peluru mitralyur dan guncangan ledakan bom. Mereka yang tidak sempat mencari perlindungan banyak menjadi korban. Para korban kemudian segera dimakamkan dan para pejuang bergegas meninggalkan desa. Tidak lama kemudian datang pasukan Belanda masuk Gumeng merazia mencari para pejuang yang sudah pergi masuk hutan.

    Itulah sedikit kisah dari Pak Kamil yang rumahnya ada di dekat Tugu Peringatan Pertempuran Gumeng. Cerita yang keluar dari orang tua yang matanya sudah tidak bisa dipakai melihat dan pendengarannya yang berkurang. Lima tahun yang silam aku temui di rumahnya. Apakah saat ini Pak Kamil masih sehat? entahlah…..

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • KOMPI MACAN PUTIH KAPTEN SOEMADI PERWIRA TINGGI ASLI AREK MOJOKERTO

    KOMPI MACAN PUTIH KAPTEN SOEMADI PERWIRA TINGGI ASLI AREK MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COMSebuah jalan yang membentang dari pasar Dlanggu hingga ke pertigaan Pesanggrahan diberi nama Jalan Mayjen Soemadi. Siapakah dia hingga namanya diabadikan seperti seorang pahlawan ?Menurut informasi, Soemadi adalah pejuang yang lahir di wilayah Kutorejo. Rumah tempat kelahirannya masih ada dan terjaga hingga saat ini. Selain rumah dan nama jalan yang dikaitkan dengannya, beberapa monumen juga dibuat untuk mengenang perjuangannya. Salah satu monumen itu dinamakan Monumen Kompi Macan Putih yang terbuat dari batu hitam di barat Kutorejo.Nama Soemadi mulai dikenal ketika terjadi restrukturisasi TNI pada tahun 1948. Kompi Soemadi tergabung dalam Batalyon Soenandar yang bermarkas di Kediri. Pada waktu agresi militer Belanda ke-2, Kompi Soemadi ditugaskan menjaga PLTA di Mendalan Kasembon. Dia diperintahkan untuk menghancurkan instalasi listrik terbesar di Jawa Timur tersebut jika tidak bisa dipertahankan dari serangan musuh.Tanggal 21 Desember 1948 Belanda menyerang Mendalan. Sesuai dengan intruksi, pasukan Soemadi menyalakan 10 bom yang total berkekuatan 250 kg. Bom itu memang tidak bisa menghancurkan keseluruhan, tetapi akibat ledakan itu Belanda tidak bisa menguasai Mendalan secara utuh. Empat hari kemudian, tanggal 25 Desember 1949 Kompi Soemadi dan Kompi Mistar mengadakan serangan pada pasukan Belanda yang menjaga mendalan. Pertempuran sengit terjadi antara pejuang dengan pasukan Gajah Merah yang dipimpin Kapten Van De Vries. Serangan itu tidak berhasil merebut Mendalan tetapi mampu menggoyahkan kedudukan lawan. Pasukan tambahan kemudian dikirim oleh Belanda lewat udara. Belanda memperkuat pertahanannya di Mendalan.Sejak itu, kompi Soemadi yang dikenal dengan sebutan Macan Putih sering mengganggu musuhnya. Untuk mengakhiri gangguan itu maka dilakukan operasi militer. Pasukan dengan peralatan tempur tank dan panzer menjepit dari arah Pare, Ngoro dan Kandangan. Letda Moestadjab, komandan peleton andalan Kompi Soemadi gugur dalam peristiwa itu. Dan akhirnya Kompi Soemadi harus mundur dari Mendalan. Arah gerak mundur menuju ke Pacet guna memperkuat pasukan Komando Hayam Wuruk yang berusaha masuk ke Surabaya.Kompi Soemadi sampai ke Desa Padusan dan bermarkas sementara di desa tersebut. Esok harinya pasukan itu sudah menyerang pos Belanda di desa Sajen. Serangan yang menyebabkan beberapa serdadu musuh meninggal. Belanda membalas dengan serangan udara ke Padusan. Bom dijatuhkan dan peluru mitralyur ditembakkan dari pesawat P-51 Mustang. Serma Fakih gugur dan di makamkan di kuburan desa Padusan.Kompi Soemadi kemudian bergerak keluar dari Padusan untuk menghindari serangan susulan. Sampai di pertigaan Pacet, dihadang oleh musuh hingga terjadi tembak menembak di depan SD Pacet. Kompi Soemadi berhasil lolos ke Claket dan selanjutnya bergabung dengan Pasukan Komando Hayam Wuruk di Dlanggu. Kehadiran kompi Soemadi menambah kekuatan pasukan gabungan yang dipimpin oleh Mayor Pamoe Rahardjo tersebut.Pada akhirnya sejarah mencatat Pasukan Komando Hayam Wuruk harus menghadapi serangan besar-besaran. Korban berjatuhan pada kedua belah pihak. Bahkan rakyat sipil juga dikorbankan oleh Belanda sebagai tameng hidup dalam pertempuran sehari semalam pada tanggal 12 Pebruari 1949 itu. Kompi Soemadi kembali lolos dari sergapan dengan menerobos pertahanan musuh di sisi selatan. Kapten Soemadi memimpin anak buahnya kembali masuk ke wilayah Kediri dengan melintas hutan gunung Anjasmoro.Setelah kemerdekaan, Soemadi tetap berkarir di dunia militer. Dia pernah menjabat sebagai Komandan Korem 083 DSJ Malang. Sempat menjadi Panglima Kodam Mulawarman ketika terjadi operasi militer menumpas Gerakan Komunis Kalimantan Utara. Soemadi mengakhiri karirnya dengan menyandang pangkat Mayor Jendral. Tidak berlebihan jika namanya diabadikan di daerah kelahirannya sebagai nama jalan. Soemadi menjadi pejuang asli Mojokerto yang berhasil meniti jenjang hingga perwira tinggi.Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • KITA AMBIL HIKMAHNYA DARI KISAH SUMUR USMAN

    KITA AMBIL HIKMAHNYA DARI KISAH SUMUR USMAN

    wp.sorbansantri.com – Di Madinah, tidak terlalu jauh dari Masjid Nabawi, ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Sumur itu dikenal dengan nama: Sumur Ruma (The Well of Ruma) karena dimiliki seorang Yahudi bernama Ruma.

    Sang Yahudi menjual air kepada penduduk Madinah dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Diwaktu-waktu tertentu sang Yahudi menaikkan seenaknya harga airnya dan rakyat Medinah pun terpaksa harus tetap membelinya. Karena hanya sumur inilah yang tidak pernah kering.

    Melihat kenyataan ini, Rasulullah berkata: “Kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah Surga”.

    Seorang Sahabat Nabi bernama Usman bin Affan mendekati sang Yahudi. Usman menawarkan untuk membeli sumurnya. Tentu saja Ruma sang Yahudi menolak. Ini adalah bisnisnya dan ia mendapat banyak uang dari bisnisnya.

    Tetapi Usman bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi ia juga negosiator ulung. Ia bilang kepada Ruma: “Aku akan membeli setengah dari sumurmu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya”.

    Melalui negosiasi yang sangat ketat, akhirnya sang Yahudi mau menjual sumurnya senilai 1 juta Dirham dan memberikan hak pemasaran 50% kepada Usman bin Affan.

    Apa yang terjadi setelahnya membuat sang Yahudi merasa keki.
    Ternyata Usman menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Pendudukpun mengambil air sepuas puasnya sehingga hari keesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma sang Yahudi.
    Merasa kalah, sang Yahudi akhirnya menyerah, ia meminta sang Usman untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya.

    Tentu saja Usman tidak harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya.

    Sampai sekarang di Madinah, sumur tersebut dikenal dengan nama “Sumur Usman”,atau The Well of Usman.” Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini. Kurmanya dieksport ke berbagai negara didunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu dan pendidikan.

    Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua didunia atas nama Usman bin Affan.
    Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang disaat ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun. (Atau setara 200 Milyar pertahun).

    Sang Yahudi tidak akan penah menang. Kenapa? Karena visinya terlalu dangkal. Ia hanya hidup untuk masa kini, masa ia ada di dunia. Sedangkan visi dari Usman Bin Affan adalah jauh kedepan. Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama:

    “Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan”. Sebuah shadaqah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati.

    Inilah cara memajukan Islam secara cerdas dan barokah dunia akherat.

    Rasulullah S.A.W bersabda :”Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al-Bukhari).
    (ansor kebumen)