Kategori: Sejarah

studi tentang masa lalu, termasuk peristiwa, tokoh, budaya, dan perkembangan yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu. Studi sejarah mencakup penelitian, interpretasi, dan analisis terhadap sumber-sumber sejarah, seperti dokumen tertulis, artefak arkeologi, rekaman audio-visual, dan saksi mata. Tujuan dari studi sejarah adalah untuk memahami dan menggambarkan evolusi manusia, peradaban, kebudayaan, dan peristiwa yang membentuk dunia seperti yang kita kenal saat ini.

  • GURU MULIA AL MUSNID AL HABIB UMAR BIN HAFIDZ berkata:

    GURU MULIA AL MUSNID AL HABIB UMAR BIN HAFIDZ berkata:

    wp.sorbansantri.com – Ada di kalangan manusia yang akan memasuki SYURGA secara mudah. Mereka ialah orang yang MENCINTAI ULAMA walaupun sebesar biji zarah.

    Ada di kalangan manusia yang akan memasuki NERAKA secara mudah. Mereka ialah orang yang MEMBENCI ULAMA walaupun sebesar biji zarah.

    “Orang yang selalu ke MASJID, apabila satu hari dia tidak datang karena sakit,maka para malaikat akan menziarahinya di rumah, apabila dia meninggal dunia,maka malaikat akan mengiringi jenazahnya”

    ” Masalah (sosial) yang menimpa manusia zaman ini. disebabkan tidak ada rasa cinta kepada Allah SWT, para Nabi dan Rasul dan orang-orang shaleh. Mereka lebih mencintai artis-artis,para pemain bola sepak dan orang-orang yang melalaikan”

    “Kepada siapa kita tujukan rasa CINTA kita?”

    “Allah akan bangkitkan kita diakhirat kelak bersama orang kita cintai didunia”

    ‘Walaupun kita tak pernah berjumpa dengan Rasullullah Saw, akhlak kita tak sehebat Rasulullah Saw, tapi ada perasaan cinta, kasih dan sayang kepada Rasulullah Saw, Insya Allah kita akan dibangkitkan dan dekat bersama-sama dengannya.(Rasulullah Saw)🤲🤲🤲
    اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

  • KISAH GUS DUR DI PANGGIL SUNAN GUNUNG JATI ( CIREBON ) DI SURUH MAMPIR

    KISAH GUS DUR DI PANGGIL SUNAN GUNUNG JATI ( CIREBON ) DI SURUH MAMPIR

    Sorbansantri.com- ” jika ada cerita MU’JIZAT dan KAROMAH DAHULUKAN IMAN baru AKAL nanti akal akan mengikuti iman ”
    ( Abah HABIB MUHAMMAD LUTHFI )

    Sesungguhnya para kekasih Allah tidaklah mati, mereka hanya meninggalkan wujud fisik yang fana, tetapi jiwa mereka abadi.

    Al Qur’an dalam surat Ali Imron ayat ke 169 menegaskan “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” Kisah tentang “kehidupan” para wali yang sudah meninggal ini bisa diantaranya dialami oleh Gus Dur yang sering berkomunikasi dengan sejumlah wali yang telah lama meninggal, diantaranya dengan Sunan Gunung Jati.

    Mantan sekretaris jenderal PBNU H Arifin Junaidi mengisahkan, suatu ketika, ia dherekke Gus Dur ke Cirebon untuk bertemu dengan KH Fuad Hasyim, pengasuh pesantren Buntet. Usai pertemuan yang berlangsung sampai larut malam tersebut, mereka bergerak menuju Pekalongan untuk mengunjungi Habib Lutfi bin Yahya.

    Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah Losari, sekitar pukul 1 malam. Gus Dur meminta sopirnya untuk kembali lagi, menuju ke makam Sunan Gunung Jati yang berada di kompleks Astana Gunung Sembung Cirebon. “Saya baru saja dipanggil Sunan Gunung Jati” kata Gus Dur menjelaskan alasannya kembali ke Cirebon.

    Anggota rombongan yang lain semuanya terdiam saja, tanpa komentar. Dan perjalanan pun berlanjut sampai di kompleks makam. Herannya, ditengah malam buta tersebut, para juru kunci yang ada semuanya berkumpul, lengkap, menyambut kedatangan Gus Dur tersebut dengan memakai seragam kebesarannya yang biasa dipakai ketika menerima tamu istimewa, seolah-olah sudah ada yang memberi tahu, padahal waktu itu belum ada HP sebagai alat komunikasi yang canggih.

    Mereka pun langsung menuju pemakaman. Sebagaimana tradisi Nahdliyin, ketika berziarah, mereka pun memanjatkan dzikir dan tahlil serta mendoakan Sunan Gunung Jati yang telah berjasa menyebarkan Islam di Jawa Barat.

    Usai tahlil, Gus Dur tertunduk dan diam saja. Ia lalu keluar dari ruangan tempat dzikir menuju halaman. Arifin masih penasaran kok para juru kunci sudah pada siap menerima kunjungan Gus Dur, padahal sebelumnya tidak ada rencana berziarah. Ia lalu bertanya kepada seseorang tentang kejadian ini.

    “Kok sudah pada siap dan siapa yang memberi tahu?”

    Dijawabnya, semua juru kunci dibangunkan malam-malam itu juga oleh koordinatornya, dan disuruh bersiap oleh Kanjeng Sunan dengan pesan

    “Cucuku mau datang ke sini.”

    Ia pun hanya bisa manggut-manggut keheranan akan fenomena luar biasa ini. Setelah dirasa cukup ziarahnya, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan ke Pekalongan sebagaimana rencana semula.

    Karena masih penasaran, ia lalu bertanya kepada Gus Dur, kapan dipanggil oleh Sunan Gunung Jati. “Ya tadi, waktu perjalanan baru dipanggil, disuruh mampir. Ke Cirebon kok ngak mampir.” Gus Dur juga menjelaskan, waktu dirinya terdiam seusai tahlil, ia sedang berdialog dengan Sunan Gunung Jati, membincangkan berbagai masalah yang dihadapi oleh umat.

    Sumber : NU ONLINE

    Marilah kita selalu Istiqomah banyak membaca SHOLAWAT kepada RASULALLAH ﷺ , kalau bisa jangan kurang dari 1.000 di setiap harinya
    ” SHOLLALAHU ALA’ MUHAMMAD ” atau yang lainnya

    ALLAHUMMA berkat RASULALLAH ﷺ , berkat SHOLAWAT kepada RASULALLAH ﷺ, berkat para wali-waliyullah, berkat para ulama’-ulama’ILLAH, berkat guru-guru kami yaAllah. Mudah-mudahan kita semua, bapak ibu kami, keluarga kami, saudar2 kami, tetangga kami, dan orang-orang yang cinta kepada KANJENG NABI MUHAMMAD ﷺ cinta kepada para AULIYA’ dan para ULAMA’ cinta kepada kami ya Allah.

    Semoga kita semua mendapat ampunan segala dosa dan kesalahan lahir batin seumur hidup, di beri kesehatan lahir batin, panjang umur berkah umur, banyak rejeki barokah rejeki, barokah keturunan, tambah ilmu barokah ilmu dunia akhirat, mendapat rahmat yang luas, selamat dunia akhirat, mati beriman sempurna, segala hajat qobul, mendapat SYAFAAT RASULALLAH ﷺ,
    terkumpul dalam surga bighoiri hisab.
    Aamin Aamin…Ya Rabbal A’lamiin…..

    اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد في اﻷولين واﻷخرين وفي الملآء اﻷعلى الى يوم الدين

  • KH. HASYIM ASY’ARI MENYEBUT HAJI ILYAS PENARIP MOJOKERTO HADRATUSSYEH

    KH. HASYIM ASY’ARI MENYEBUT HAJI ILYAS PENARIP MOJOKERTO HADRATUSSYEH

    Mbah Sholeh adalah pendiri Pesantren Penarip Kota Mojokerto yang memiliki pengetahuan luas. Beberapa kitab rujukan pesantren beliau hafal luar kepala. Kedalaman ilmu agama itu membuat banyak orang menaruh hormat, termasuk Mbah Hasyim Asy’ari Tebuireng.

    Buktinya, sebuah surat bertulis tangan dengan menggunakan huruf pego dibuat Mbah Hasyim untuk Mbah Sholeh Penarip. Surat yang dibuat pada bulan Rabiuts-tsani tahun 1359 H yang bertepatan dengan bulan Juli/Agustus 1940 itu nampaknya ditulis sebagai jawaban atas surat Mbah Sholeh pada pengasuh pesantren Tebuireng tersebut.

    Tidak ada hal khusus dijelaskan pada selembar surat tersebut. Dinyatakan di dalamnya bila pesan Mbah Sholeh melalui utusan bernama Ghozali telah diterima dan jawabannya diberikan secara lisan melalui utusan tersebut. Tampaknya hal yang dibahas merupakan persoalan yang “rahasia” sehingga tidak bisa dituliskan langsung. Jawaban hanya diberikan dengan perantaraan seorang utusan yang bisa dipercaya.

    Yang menarik adalah dalam surat itu Mbah Hasyim menyebut nama Mbah Sholeh dengan sebutan penghormatan “Hadratussyeich Haji Mohammad Ilyas”. Tentu bukan sebutan biasa dari seorang Rois Akbar NU pada seseorang kyai pesantren yang kebesarannya tidak sekondang Tebuireng. Sebutan yang sepertinya menunjukkan ke-aliman Mbah Ilyas dalam pandangan Mbah Hasyim. Sebutan hadratussyeich hanya diberikan pada orang tertentu saja dengan kualifikasi keilmuan tinggi. Selain itu, tentu Mbah Hasyim tahu bila Moh. Ilyas/Mbah Sholeh merupakan karib sekamar dari tokoh terkenal masa itu, Kyai Khozin Siwalanpanji, saat mondok di Japanan Pasuruan.

    Moh. Iyas dalam surat itu adalah nama kecil Mbah Sholeh Penarip. Nama yang digunakan saat menuntut ilmu diberbagai pesantren. Nama Moh Sholeh digunakan setelah Moh Ilyas naik haji. Sebutan Moh. Ilyas masih digunakan Mbah Hasyim untuk menyebut sejawatnya itu.

    Surat korespondensi semacam itu biasa dilakukan antar tokoh untuk mendiskusikan satu persoalan yang butuh pemecahan. Sangat dimungkinkan diskusi itu membahas masalah fiqh menyangkut problem sosial yang berkembang di Mojokerto. Sayangnya, Mbah Sholeh tidak pernah menceritakan apa jawaban yang diterima melalui Ghozali itu.

    Menurut cerita, dulu ada beberapa lembar surat korespondensi antara Mbah Sholeh dengan Mbah Hasyim. Komunikasi literal antar tokoh dengan keilmuan setara guna membahas masalah fiqhiyah. Setidaknya ada 4 buah yang sekarang hanya tersisa satu itu saja.

    Surat yang sekarang disimpan oleh dzuriyah Pesantren Penarip itu mungkin tidak memiliki kandungan yang penting karena tidak menjelaskan persoalan tertentu. Tetapi karena dibuat oleh Mbah Hasyim maka surat yang sudah berlubang dibeberapa bagian hingga perlu dilaminasi untuk menyelamatkannya itu memiliki nilai intrinsik tinggi. Sungguh surat yang sangat layak untuk disimpan.

    Sidiwangun, 10 April 2018

  • Cinta dan Kasih Sayang Nabi Muhammad SAW Mengalahkan Segalanya

    Cinta dan Kasih Sayang Nabi Muhammad SAW Mengalahkan Segalanya

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Disaat Rasulullah SAW duduk dengan para sahabat dimasjid tiba-tiba datanglah seorang yahudi yg langsung menghampirinya, dan menarik sorban  beliau hingga Nabi SAW tercekik, lalu dikendorkan agar Nabi SAW dapat berbicara..hal tersebut dilakukan yahudi  didepan para sahabat. 

    Lalu Nabi SAW berkata ; 

    “ada apa wahai yahudi? 

    yahudi bersuara keras dengan mengatakan ;

    “anda harus membayar pinjaman yg anda pinjam dari saya wahai muhammad ..

    Nabi SAW  menjawab; “bukankah belum waktunya dan kesepakatannya masih beberapa minggu saya membayarnya ?..tetapi yahudi tetap memaksa harus dibayar saat itu juga. 

    Kemudian Umar bin khathab ra berkata ; “yaa Rasulullah izinkan saya menebas leher yahudi ini..

    Lalu Nabi SAW berkata ; “diamlah sebentar wahai Umar dan pergilah ke baitul’maal dan ambillah 20 sak kurma untuk membayar hutang yahudi ini, dan tambahkan 20 sak lagi untuknya wahai Umar..”

    Lalu Umar berkata ; “yaa Rasulullah 20 sak untuk membayar hutang yahudi ini dan yg 20 sak lagi untuk apa anda berikan kepadanya..?

    Nabi  SAW berkata; ” 20 sak untuk membayar hutang yahudi ini dan 20 sak lagi untuk membayar karena kau telah menakuti yahudi ini karena ingin menebas leher yahudi ini.. 

    Nabi  SAW tidak  menghukum yahudi itu,tetapi menghukum Umar r.a, karena menakutinya dengan membayar dengan 20 sak..kemudian Umar pergi dan memberikan 20 sak pertama kepada yahudi,dan ketika ingin memberikan 20 sak lagi yahudi tersebut menolaknya dan menyuruh Umar meletakannya..namun Umar mengatakan ini adalah perintah Nabi SAW

    Lalu yahudi itu berkata ; 

    “Tidak perlu wahai Umar, ketahuilah sebenarnya aku datang bukan tujuan menagih hutang yg belum waktunya dan tidak mungkin aku berani datang ke Nabi kalian dan mencekiknya didepan kalian itu berarti aku sama saja  menyerahkan nyawaku.. dan aku datang untuk membuktikan yg mana semua ciri2 Nabi kalian dan prilakunya yg sudah tertera dikitab kami semua ada padanya..”

    “Dan hanya satu yg belum aku buktikan yaitu tentang rasa kasih sayangnya,dan hari ini aku membuktikan bahwa rasa kasih sayangnya beliau telah mengalahkan emosinya.. maka aku ucapkan dihadapanmu wahai Umar ‘Asyhadu an laa ilaha illallah wa Asyhadu anna muhammadar rasulullah.. “

    Rasa sayangnya Nabi SAW telah membuat seorang yahudi beriman kepadanya..dan akhlak mulia beliau telah mengalahkan segalanya….Masyaa Allah. (abi-sorban)

     اللهم صل على سيدنا محمد و على آله وصحبه  وسلم

  • Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

    Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh : Gus Nadirsyah Hosen
    wp.sorbansantri.com – Belakangan ini beredar luas kutipan yang dikatakan berasal dari Imam Syafi’i tentang ulama mana yang harus kita ikuti. Dari kutipan baik berbentuk tulisan maupun meme (gambar) itu konon Imam Syafi’i menyarankan kepada muridnya untuk mengikuti ulama yang terkena fitnah atau dibenci oleh orang kafir.
    Saya penasaran. Di kitab mana Imam Syafi’i mengatakan demikian? Saya telusuri sejumlah kitab karya Imam Syafi’i yang saya miliki, dari mulai ar-Risalah, al-Umm, Diwan dan Musnad, tapi saya tidak menjumpainya. Begitu juga sejumlah kitab babon yang ditulis oleh para murid Imam Syafi’i juga saya coba telusuri, namun saya tidak mendapatkan sanad kutipan tersebut.
    Dalam bahasa Arab kutipan yang beredar itu begini teksnya:
    ‎سئل اﻹمام الشافعي رحمه الله : كيف نرى الحق من بين كل هذه الفتن ؟ ‎فقال :اتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق
    Imam Syafi’i ditanya: “Bagaimana kita mengetahui pengikut kebenaran di jaman yang penuh fitnah?”
    Beliau menjawab: “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka itu akan menunjukimu kepada siapa ‘Pengikut Kebenaran’ itu”.
    Redaksi di atas telah dimodifikasi dalam berbagai versi yang viral sesuai kepentingan masing-masing. Misalnya yang saya temukan:
    Versi pertama;
    Imam Syafi’i berkata: “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah FITNAH menuju kepadanya, IKUTILAH mereka yang banyak di FITNAH, Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di JALAN yang BENAR.”
    Versi kedua:
    Imam Syafi’i pernah berkata: Nanti di akhir zaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat.
    Lantas murid Imam Syafi’i bertanya: “Ulama seperti apa yang kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?”
    Beliau menjawab: “Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari Keridhoan Allah“.
    Saya menemukan pula di internet bahwa kutipan senada yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i itu juga sering disandarkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan juga kepada Ibn Taimiyah. Jadi sebenarnya itu kutipan dari siapa? Wa Allahu a’lam.
    Tapi yang jelas sejauh ini saya tidak menemukan rujukan dari kitab klasik manapun dan juga tidak mendapati sanad kutipan yang diklaim berasal dari pernyataan Imam Syafi’i. Terakhir, setelah usaha saya menelusuri lembaran kitab gagal, saya bertanya langsung kepada Syekh Ibrahim al-Shafie seorang ulama keturunan langsung dari Imam Syafi’i. Lewat WA beliau mengonfirmasi bahwa beliau pun tidak menemukan kutipan tersebut dalam kitab manapun baik dari Imam Syafi’i maupun dari murid-murid sang Imam.
    Jadi, saya berani mengatakan bahwa kutipan di atas itu PALSU, sampai ada yang bisa menyebutkan sumber dan sanad kutipan tersebut dan kita verifikasi bersama kevalidannya.
    Nah, kutipan di atas telah diviralkan sejumlah pihak sesuai kepentingannya. Para pendukung HRS misalnya mengatakan banyak fitnah terhadap HRS dari para musuh Islam dan itu membuktikan HRS sebagai ulama yang benar, berbeda dengan para ulama NU seperti Gus Dur dan Kiai Said Aqil Siradj yang justru disenangi oleh kaum kafir. Pendukung Gus Dur dan Kiai SAS juga melawan dengan menggunakan kutipan yang sama bahwa justru banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada kedua kiai NU ini, dan itu menunjukkan mereka juga benar.
    Yang mengejutkan ISIS pun ternyata memakai kutipan di atas dan mengatakan dulu panah musuh, sekarang pesawat tempur dan rudal musuh Islam ditujukan kepada mereka, maka merekalah kelompok yang benar dan harus diikuti umat Islam.
    Saya ingin mengatakan bahwa kutipan di atas yang belum terverifikasi itu sudah menjadi BOLA LIAR dan dipakai untuk membela kepentingan masing-masing. Tapi jangan-jangan kita semua yang memakai kutipan di atas jadi turut berdusta atas nama Imam Syafi’i.
    Dan kalau kita mau kaji lebih jauh, masak sih standar ‘kebenaran’ itu diukur dari berapa banyak fitnah yang ditujukan kepada ulama? Jangankan para ulama, lha wong saya saja yang bukan siapa-siapa sering kena fitnah dibilang liberal, Syi’ah, sesat, bahkan setiap saat akun saya di medsos diserang para haters. Apa otomatis itu menjadikan pendapat saya benar? Ya belum tentu. Ukuran kebenaran bukan semata-mata soal kebencian dan fitnah dari orang lain, tapi yang terutama adalah soal otoritas keilmuan dan kekuatan argumentasi berdasarkan Nash dan kitab-kitab rujukan.
    Kembali ke masalah di atas. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa klaim kutipan dari Imam Syafi’i di atas belum terverifikasi, dan harus kita anggap sebagai PALSU dan jangan lagi disebarkan selama belum ada sumber dan sanadnya. Kalau ada yang menyebarkannya, tanya saja: “di kitab apa Imam Syafi’i berkata demikian?” Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Imam Syafi’i. (kang jay)
    Mari kita kirimkan al-Fatihah untuk Imam Syafi’i 
  • Tradisi silat pesantren Berdirinya Ikatan Pencak Silat NU PAGAR NUSA

    Tradisi silat pesantren Berdirinya Ikatan Pencak Silat NU PAGAR NUSA

    Dilingkungan Pesantren NU,terdapat banyak aliran silat baik aliran silat jawa timur,jawa barat,jawa tengah,Banten,silat betawi,silek minang,silat Mandar,Silat Mataram,dan lain lain,oleh karena itulah untuk menyatukan semua aliran silat tersebut di bentuklah pagar nusa.sebagai wadah perkumpulan pencak silat yang masih dalam naungan NU.Wadah ini tetap membuka keragaman dan memberi keluasaan pada tiap-tiap perguruan untuk mengembangkan diri.artinya walaupun ada perbedaan namun tetap satu saudara.

    InfokomBanserNU-Tahun 1985, di Pesantren Tebuireng Jombang, beberapa Pengasuh Pondok Pesantren, perguruan-perguruan dan para Pendekar berkumpul berinisiatif membentuk organisasi pencak silat yang terdapat di pondok pesantren dan perguruan-perguruan. Tahun 1986, di Pesantren Lirboyo, bersama-sama Gus Maksum Jauhari membidani dan memepersiapkan lahirnya organisasi Pencak Silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama “PAGAR NUSA” yang merupakan akronim dari “Pagarnya NU dan Bangsa”. Tahun 1989, Musyawarah Nasional (MUNAS) pertama Lembaga Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa diselenggarakan di Pesantren Genggong Probolinggo, Jawa Timur. Dihadiri ratusan perguruan dengan segala macam kekayaan khasanah budaya, seni bela diri dan amaliahnya dari seluruh Indonesia.

    Tahun 2004, Muktamar NU ke-31 di Solo, Jawa Tengah. Pagar Nusa menjadi salah satu badan otonom NU yang membidangi pengembangan seni bela diri NU.

    Tahun 2007, Kongres pertama Ikatan Pencak Silat NU (IPS-NU) Pagar Nusa diselenggarakan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta timur.

    Tahun 2008, Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa menjadi anggota tetap Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

    Tahun 2010, Muktamar NU ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan menjadi “Pagar Nusa”.

    Tahun 2012, Kongres ke-2 di Pesantren Sunan Drajad Lamongan, Jawa Timur. Menetapkan perubahan menjadi “PENCAK SILAT NU (PSNU) PAGAR NUSA” dan “Pagar Nusa” menjadi trademark-nya

    Peran besar Gus Maksum
    Sebenarnya di kalangan NU banyak sekali Pendekar Silat,Kyai atau ajeungan yang memiliki ilmu kanuragan,namun nama Gus Maksum tidak bisa di pisahkan dari sejarah Pencak Silat Pagar Nusa.Kecintaan silat dan rasa keprihatinan Gus Maksum bahwa banyak sekali aliran silat yang ada di lingkungan NU tapi belum punya wadah yang mengikat sehingga menjadi keluarga yang bersama sama mengembangkan serta mempertahankan tradisi silat yang turun temurun dari Wali songo mengalir ke tokoh tokoh pesantren

    Hal inilah yang menginpirasi beliau mendirikan sebuah perguruan silat,ide pendirian silat ini rencananya diberi nama GASMI (Gabungan Aksi Silat Muslimin Indonesia) pada tahun 1965 walaupun belum resmi berdiri,beliau sudah mulai melakukan pelatihan silat.pada waktu itu pelatihan diadakan di komplek pesantren Lirboyo Kediri,selain bertujuan mengembangkan budaya silat di pesantren juga salah satu counter atas LEKRA ( lembaga kesenian rakyat ) lembaga di bawah naungan partai komunis indonesia PKI.Sebab LEKRA adalah otak dibalik aksi provokatif,sabotase,teror dan lain lain.Menghadapi aksi LEKRA ini,beliau mengatakan “Ada aksi ada Reaksi” artinya LEKRA beraksi GASMI bereaksi,Amar ma’ruf nahi mungkar selalu ditegakan.

    Karena kesibukan beliau mengabdi pada umat,ngurusin santri dan perjuangan melawan aksi aksi PKI baru setelah sintuasi mulai kondusif pada tanggal 14 januari 1970 GASMI secara resmi didirikan dikediaman beliau,dihadiri para pendekar se eks-karisidenan Kediri dan Ponorogo.

    GASMI inilah yang menginspirasi Gus Maksum untuk menyatukan silat yang ada di NU.dimulai dengan merangkul perguruan silat tradisional lokal seperti Jiwa Suci milik pesantren Al maruf bandar lor kediri,PORTUGAL silat tradisional Blitar,Asta Dahana perguruan silat Kediri.dan beberapa perguruan silat lokal lainnya.

    Pertemuan awal para pendekar PAGAR NUSA
    Akhirnya dengan usaha dan pendekatan yang intensif kepada para pendekar dan Kyai pimpinan pondok pesantren , tokoh silat dan tokoh masyarakat membuahkan hasil berupa kesepakatan untuk mengadakan pertemuan pertama pada tahun 1986 di Tebu Ireng Jombang Jawa Timur.Di hadiri ulama sepuh dan kaum pendekar.Di antara kyai sepuh itu adalah KH.Syansuri Badawi.

    Pertemuan bersejarah ini dihadiri beberapa pendekar antara lain,Gus Maksum sendiri,KH.Abdurahman Ustman Jombang,KH.muhajir Kediri,H.Atoillah Surabaya,Drs.Lamro Ponorogo,Timbul Jaya SH pendekar Lumajang dan beberapa pendekar lainnya,tokoh tokoh inilah yang berada dibalik berdirinya pagar nusa.

    Pertemuan pertama ini menghasilkan kesepakatan yang sangat penting yaitu :
    1.Adanya Fatwa Ulama KH.Syansuri Badawi bahwa,”Mempelajari Silat Hukumnya boleh dipelajari dengan tujuan perjuangan.
    2.Di sepakati dibentuknya suatu ikatan bersama untuk mempersatukan berbagai aliran silat dibawah naungan NU.

    Pertemuan Bersejarah ke 2 Pagar Nusa
    Selanjutnya pada Tahun 1989 diadakan MUNAS Pagar Nusa yang ke1 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Zainul Hasan,Genggong,Kraksaan,Probolinggo.Di hadiri pendekar silat NU seluruh Nusantara ,Munas itu mengangkat Langsung KH.M.Abdullah Maksum Jauhari sebagai ketua umum pertama Pagar Nusa,dan Prof.Dr.H.Suharbillah sebagai ketua Harian SekJen.H.Kuncoro ( H.Masyhur )

    Sikap Jati diri Pagar Nusa
    Jati diri Pagar Nusa sama dengan jati diri NU itu sendiri (baca posting Jati diri NU ) yaitu Persaudaraan antar Pagar Nusa Artinya Persaudaraan tanpa membedakan aliran dan perguruan silat,di Pagar Nusa makanya di kenal dengan istilah “Bhineka Tunggal Ika” biarpun berbeda tapi tetap satu juga” berbeda aliran tapi tetap dalam satu ikatan pagar nusa.

    Pandangan Pagar Nusa pada aliran perguruan lain senatiasa menganggap saudara,sahabat,bahkan keluarga karena langsung atau tidak langsung semua aliran silat terutama di Nusantara masih punya pertalian ikatan yang sama,apalagi jika kita menapak tilas sejarah kerajaan di Nusantara kemudian ke Abad 14 adanya penyebar islam Wali songo yang banyak mengajarkan tuntunan hidup dengan jalan damai diantaranya melalui seni silat,jelas banyak pendekar di Nusantara adalah murid Wali Songo.

    Kini saatnya Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa Menjadi wadah Ikatan Para Pendekar,Jawara,Pesilat dari berbagai aliran di bawah naungan NU.Amin

  • DOA HABIB UMAR BIN HAFIDZ UNTUK HABIB THOHIR BIN ABDULAH AL KAFF TEGAL

    DOA HABIB UMAR BIN HAFIDZ UNTUK HABIB THOHIR BIN ABDULAH AL KAFF TEGAL

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com- Di waktu guru mulia habib Umar bin Muhammad bin hafidz doa takziyah untuk Habib Thohir bin Abdullah Alkaff tegal Dan di akhir kalimat beliau habib Umar mengatakan ” semoga Allah angkat Derajat ayahnya (hbb Thohir) Kakenya dan paman2 nya termasuk salah satu nya Al Qutb Al Habib Abdurahman bin Ahmad Alkaff” (salah satu dari guru habib Umar bin Muhammad bin hafidz).
    Jadi Habib Thohir adalah Keponakan dari Habib Abdurahman Alkaff, Kerena ayah habib Thohir, yakni Habib Abdullah Saudara dengan habib Abdurrahman bin Ahmad Alkaff Jeddah Dan juga masih saudara dengan kakek dari ustadz kita di dalwa habib Muhammad bin Abdul Qodir bin Husein bin Ahmad Alkaf.
    SORBANSANTRI.COM
    Jadi habib Abdullah(ayah habib Thohir)
    Habib Abdurrahman (Qutb Jeddah)
    Habib Husein(kakek dari habib Muhammad Alkaf)
    Semua masih keturunan dari Habib Ahmad bin Abdullah bin Ali bin Muhammad bin Ali alkaff
    Dan kebanyakan anak Cucu buyut dari habib Ahmad bin Abdullah Alkaff ini semua jadi Mubaligh dan wali
    Diantaranya
    -Habib Abdurrahman bin Ahmad Alkaff(guru nya para Habaib)
    -Habib Husein bin Ahmad Alkaff yang mana beliau punya cucu bernama Ustadz AlHabib Muhammad bin Abdul Qodir Bin Husein Alkaff
    -Habib Abdullah bin Ahmad Alkaff yang Punya 7 anak yang jadi Mubaligh seperti:
    • Habib Muhammad
    • Habib Muthohar
    • Habib Murtadho
    • Habib Thohir
    • Habib Hamid
    • Habib Ahmad
    • Habib Ali Zainal Abidin
    • IBN Abdullah bin Ahmad Alkaff
    • Habib Muhammad bin Ahmad Alkaff
    • Habib Umar Bin Ahmad Alkaff
    • Dll
    yang mana anak habib Ahmad bin Abdullah bin Ali bin Muhammad bin Ali Alkaff Semua tersebar di Jeddah,Yaman, Palembang,Tegal dll. SANAD QIRO’AT NUSANTARA
  • KISAH UNTUK PENCARI ILMU

    KISAH UNTUK PENCARI ILMU

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com- Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.
    “Habib, saya mau pulang saja.”
    “Lho, kenapa?” tanya beliau.
    “Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan
    setengah mati, tidak pantas saya menuntut ilmu, saya minta izin mau pulang.”
    Habib Abdullah berkata
    “Jangan dulu, sabar.”
    “Sudah Bib, saya sudah empat tahun bersabar, sudah tidak kuat, lebih baik saya menikah saja.”
    Lalu beliau berkata
    “Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.”
    Santri itu menjawab
    “Sudah bib, saya menghafalkan setengah mati, tidak hafal- hafal.”
    Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan.
    Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun.
    Kemudian Habib Abdullah menyerahkan
    seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat.
    Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu
    sampai selesai. Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.
    “Ini surat siapa?” tanya Habib.
    “Owh, itu surat ibu saya.”
    “Bacalah!”
    Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai.
    Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.
    “Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi.
    “Sudah ya habib.”
    “Berapa kali?” tanya beliau.
    “Satu kali ya habib.”
    “Tutup surat itu! Apa kata ibumu?”
    “Ibu saya berkata saya disuruh mencari ilmu yang bener, bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.”
    Isi surat yang panjang itu dia berhasil
    menceritakannya dengan lancar dan lengkap.
    Tidak ada yang terlewatkan.
    “Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal, sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.” kata Habib dengan pandangan serius.
    Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat
    ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.
    Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan:
    ﻷﻧﻚ ﻗﺮﺃﺕ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﺃﻣﻚ ﺑﺎﻟﻔﺮﺡ ﻓﻠﻮ ﻗﺮﺃﺕ ﺭﺳﺎﻟﺔ ﻧﺒﻴﻚ
    ﺑﺎﻟﻔﺮﺡ
    ﻟﺤﻔﻈﺖ ﺑﺎﻟﺴﺮﻋﺔ
    “Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu, coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad Saw dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal. ”
    Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah di atas.
    Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak
    menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu, sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
    Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu cinta hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghafalkannya.
    ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻓﺘﺢ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻓﺘﻮﺡ ﭐﻟﻌﺎﺭﻓﻴﻦ ﻭﺍﺭﺯﻗﻨﺎ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﻨﺒﻴـﻴﻦ ﻭﺇﻟﻬﺎﻡ
    ﭐﻟﻤﻼﺋﻜﺔ
    ﺍﻟﻤﻘﺮﺑﻴﻦ ﺑﺮﺣﻤﺘﻚ ﻳﺂ ﺃﺭﺣﻢ ﺍﻟﺮﺍﺣﻤﻴﻦ
    (Habib Abdullah bin Umar Assyatiriy adalah ayahanda Habib Salim bin Abdullah Assyatiriy)
  • Nama Gus Dur Diabadikan oleh Al-Azhar Kairo Mesir

    Nama Gus Dur Diabadikan oleh Al-Azhar Kairo Mesir

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com- Presiden RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), lahir di Jawa tahun 1360 H./1941, berasal dari keluarga yang taat beragama dan menjaga tradisi keislaman, setelah menyempurnakan pendidikan awalnya di Indonesia, pernah kuliah di Universitas al-Azhar, lalu kuliah lagi di Irak, kemudian ke Canada, amat mahir berbahasa Inggris dan Arab (bahkan lancar berbahasa Perancis), telah menjadi pribadi yang religius dan menjadi tokoh masyarakat terkemuka di Indonesia. Beliau dihormati oleh berjuta-juta rakyat Indonesia, menjadi pemimpin gerakan NU, sebuah organisasi sosial Islam terbesar di Indonesia.
    Saat saya baca Kitab Jamharatu A’lam al-Azhar al-Syarif yang terdiri dari 10 jilid tebal, saya menemukan nama dan riwayat amat singkat dari KH. Abdurrahman Wahid pada jilid 9 kitab tersebut. Namanya dicantumkan bersama dengan ratusan nama ulama besar (bukan “imam besar” ) alumni Universitas al-Azhar yang berasal dari seluruh dunia.
    Gus Dur jelas orang hebat dan amat berpengaruh, dan saya tidak pernah percaya jika ada “imam besar” Islam di Indonesia menghinanya sebagai orang yang buta mata buta hati. (Ahmad Ishomuddin)
  • PRESIDEN PERTAMA NU : KH HASAN GIPO

    PRESIDEN PERTAMA NU : KH HASAN GIPO

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com-Sebagian besar dari kita saat ditanya, siapa Presiden atau Ketua Tanfidziyah NU Pertama, maka biasanya akan menyebut nama Hadlrotussyaikh KH. Hasyim Asy’arie. Padahal, sebenarnya Ketua Tanfidziyah NU Pertama adalah Guru Mulia KH Hasan Gipo Surabaya.
    Adapun Hadlrotussyaikh Mbah Hasyim Asy’arie berkedudukan sebagai Rois Akbar, pemimpin tertinggi NU. KH. Hasan Gipo adalah Ketua Pelaksana sesuai dengan arahan maupun fatwa Hadlrotussyaikh.
    KH. Hasan Gipo adalah seorang saudagar kaya raya yang masih merupakan dzuriyah dari Kanjeng Sunan Ampel. Beliaulah yang mendanai Komite Hijaz hingga bisa menembus jazirah Arab.
    Beliau pulalah sponsor terbesar dalam hal harta pribadi kepada NU, sehingga atas wasilah harta beliau, kabar berdirinya NU segera tersebar luas hingga ke seantero Tanah Jawa dari ujung paling timur hingga baratnya, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan tak ketinggalan Singapura.
    Mendapat kabar berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama, mayoritas Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah Al Muktabaroh di seantero Nusantara segera merapatkan barisan, “bermakmum” di belakang Hadlrotussyaikh.
    Ila hadlroti ruhi Guru Mulia KH Hasan Gipo wa zawjatihi wa dzurriyatihi wa furu’ihi wa silsilatihi wa muridihi wa muhibbihi syai-un lillahi lana walahum Al Fatihah …
    oleh : Shuniyya Ruhama