
wp.sorbansantri.com- Suatu hari Kyai Hamid mengadakan peringatan maulid Nabi mengundang para masayich, diantaranya Kyai As’ad, kebetulan kyai As’ad duduk disebelah kanan Kyai Hamid sedang sebelah kiri adalah Kyai Ahmad Sidiq .
studi tentang masa lalu, termasuk peristiwa, tokoh, budaya, dan perkembangan yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu. Studi sejarah mencakup penelitian, interpretasi, dan analisis terhadap sumber-sumber sejarah, seperti dokumen tertulis, artefak arkeologi, rekaman audio-visual, dan saksi mata. Tujuan dari studi sejarah adalah untuk memahami dan menggambarkan evolusi manusia, peradaban, kebudayaan, dan peristiwa yang membentuk dunia seperti yang kita kenal saat ini.


wp.sorbansantri.com- Suatu hari Kyai Hamid mengadakan peringatan maulid Nabi mengundang para masayich, diantaranya Kyai As’ad, kebetulan kyai As’ad duduk disebelah kanan Kyai Hamid sedang sebelah kiri adalah Kyai Ahmad Sidiq .


wp.sorbansantri.com- Pada saat tiga atau empat hari sebelum wafat, KH. Abdul Karim terbaring sakit di tempat tidur ditunggui oleh putri-putrinya.
Sambil menangis beliau mengeluarkan kata-kata.
“Dongakno yo! Mugo-mugo aku mbesuk neng kono diakoni dadi santrine Mbah Kholil.” (Doakan ya! Semoga saya kelak di sana diakui menjadi santrinya Mbah Kholil).
Permintaan doa ini sangat mengherankan. Biasanya permintaan seseorang sebelum meninggal adalah minta didoakan agar husnul khotimah, diampuni dosanya atau masuk surga. Tapi ini tidak. Kiai Abdul Karim justru meminta didoakan supaya diakui sebagai santri dari guru beliau, Kiai Kholil Bangkalan. Itupun disampaikan sambil menangis. Bukti bahwa hal itu adalah sesuatu yang tidak main-main dan sangat penting untuk diungkapkan. Apa sebenarnya maksud dari permintaan doa itu? Jawabanya adalah dawuh beliau setelahnya.
“Tanpo aku diakoni santrine Mbah Kholil, aku gak iso mlebu swargo.” (Tanpa saya diakui santrinya Mbah Kholil, saya tidak bisa masuk surga).
Ini adalah sikap tawadlu yang luar biasa. Kiai Abdul Karim tidak merasa dirinya mempunyai amal yang bisa mengantarkan beliau masuk syurga. Beliau tidak percaya diri dengan amal ibadah yang dilakukan semasa hidup. Harapan masuk surga hanya dengan mendapatkan pengakuan santri dari gurunya yang masyhur sebagai wali Allah. Sehingga diharapkan Kiai Kholil memberikan syafaat kepada beliau agar bisa masuk surga.()
*Disarikan dari ceramah KH. Abdul Aziz Manshur saat khataman kitab Jauharul Maknun tahun 2014. (abi sorban)


SORBANSANTRI.COM – Pada setiap hari Ahad sekitar jam 11 sampai jam setengah satu, Syaikhona Maimoen Zubair mengajarkan kitab tafsir Al-Jalalain di Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar.


SORBAN SANTRI – Al-Habib Ahmad bin Umar bin Smith mengatakan yang maknanya adalah seperti ini:
Apakah hukum orang yang gemar menyambung silaturahim dengan memberikan bantuan, hubungan baik, dan penghiburan akan tetapi ia tidak pernah menanyakan kepada mereka bagaimana keadaan agama, mereka tidak pula mengajarkan agama kepada mereka?
Apakah ia akan dikumpulkan di hari Kiamat bersama dengan orang yang menyambung silaturahim atau bersama orang yang memutus silaturahim?
Tanyalah kepada ulama mengenai ini sehingga kalian tidak tertipu dalam masalah ini.
Syeikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam kitabnya at-Tanwir mengatakan bahwa, “Orang yang shalat dan menjaga shalat, akan tetapi ia memiliki keluarga yang tidak shalat, tidak memerintahkan mereka untuk shalat, tidak pula menegur atau mengucilkan mereka maka ia tidak akan dikumpulkan bersama orang-orang yang shalat, kelak ia akan dikumpulkan bersama orang-orang yang meninggalkan shalat. Walaupun ia selalu shalat di awal waktu, berjamaah dan di shaf pertama.
Maka tegakkanlah perintah Allah di kalangan keluarga kalian, seretlah mereka ke surga. Jika tidak, mereka yang akan menyeretmu ke neraka.
.
[ Kitab Majmu’ Kalam Habib Ahmad bin Umar bin Smith hal. 258 ]


Sorban Santri– Diantara pasukan Diponegoro yang lari ke Trenggalek adalah Kyai Samsuri (kiri, surban putih), yang menetap di utara Gunung Kebo. Kyai Samsuri dianugerahi umur panjang. Meski tidak diketahui dengan pasti tanggal kelahirannya, namun ketika wafat pada 1976, anak cucunya memastikan bahwa usianya kurang lebih 220 tahun. Tidak heran jika banyak masyarakat Trenggalek, terutama yang usia paruh baya, yang sempat ”menangi” dengan kiai jaduk ini.
Semasa hidupnya, kyai yang mempunyai tradisi menyembelih kerbau tiap Jum’at Kliwon ini menjadi rujukan mayarakat. Mulai dari masalah pribadi seperti rizki, jodoh, hingga keturunan, hingga persoalan pemerintahan.
Menurut penuturan keturunannya, awalnya Kyai Samsuri memulai berdakwah di daerah Gunung Kebo (Sambirejo, Trenggalek) bersama dua karibnya yang juga bekas pasukan Diponegoro. Keduanya adalah Kyai Abdullah Hafidz atau yang dikenal dengan Mbah Jenggot dan Eyang Kamdi. Pada perkembangannya, untuk makin meluaskan dakwah, Mbah Jenggot sedikit bergeser ke utara, ke sebelah utara Sungai Ngasinan, sedangkan Eyang Kamdi bergeser ke selatan.
Pada 1910, Kyai Samsuri mendirikan masjid yang juga dimaksudkan untuk sarana mengaji masyarakat sekitar. Pada perkembangannya, seiring kedatangan santri dari luar, maka didirikan pula bangunan pondok. Pondok tersebut dinamakan Pondok Gunung Kebo.
Satu dasawarsa paska kewafatannya, tepatnya pada tahun 1988, dakwahnya diteruskan oleh cucunya yang bernama Misni (1942–2001). Kyai Misni yang mewarisi kealiman dan kejadukan kakeknya ini kemudian menamai pesantrennya dengan Hidayatul Mubtadiien, tabarrukan kepada Pondok Hidayatul Mubtadiien Lirboyo. Ini karena memang Kyai Misni merupakan alumni Lirboyo.
Kyai Misni wafat pada tahun 2001 ketika melaksanakan haji, saat proses haji wada’. Jenazahnya dimakamkan di Ma’la (kurang lebih 3 meter dari maqbarah Sayyidah Siti Khadijah).
Saat ini, Pondok Gunung Kebo —begitu orang lebih mengenal— diasuh oleh KH. Miftahul Hakim Ahmad (Gus Hakim), putra pertama Kyai Misni.
Meski kegiatan mengaji madrasah terus berjalan, namun, sekarang, Pondok Gunung Kebo lebih dikenal sebagai tempat pemondokan dan pengobatan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa), yang merupakan unit baru yang diasuh putra kedua, Muhammad Ali Wafa (Gus Muh).(androw dzulfikar)






SORBAN SANTRI- Muhammad Rohmat Amin Wonoroto (Mbah rohmat), Ulama’ pedalaman Magelang, Pengasuh Pesantren Daarul Muhtadiin Wonoroto, Magelang, didirikan pada 1966.
Allah memberi cobaan sakit kepada beliau semenjak kecil, kedua kakinya lumpuh total sejak usia 25 tahun. Sehingga kegiatan belajar mengajar santri, beliau lakukan di pembaringan.
Menurut kisah yang masyhur, Mbah Rohmat tidak pernah mengeluarkan hadats selama puluhan tahun hingga wafatnya, dan jarang tidur, saking seringnya riyadhoh dan mutholaah, wudhu beliau bahkan baru diperbaharui tiap 15 hari sekali. Tetap istiqomah mengajar, dan setiap 3 hari sekali mengkhatam al-Qur’an. Saking cintanya pada ilmu, sebelum Mbah Rohmat lumpuh, alat-alat pertanian untuk buruh tani beliau jual seluruhnya untuk membeli kitab.
Kecintaannya itu sendiri, telah membuat Mbah Rohmat istiqomah dalam mengamalkan ilmu-ilmunya pada masyarakat. Hingga Allah SWT berkenan memanggil Mbah Rohmat dalam keadaan sedang menyimak para santrinya yang sedang mengaji sorogan di pesantrennya. Beliau wafat pada malam selasa ba’da maghrib 19 Februari 2004 bertepatan dengan 27 dzul qo’dah. (abi sorban)
Semoga Allah senantiasa merahmati beliau sekeluarga. Aamiin. Lahu alFaatihah
. *Sumber : Haji Purnoto, KH. Thoifur Mawardi Purworejo, KH Kholil Tembarak Temanggung, Mas Fahmi Ali.
Walahualam…
Alfatihah…


SORBAN SANTRI- Salah seorang Walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan agama Islam di pedesaaan Pulau Jawa adalah Sunan Muria. Beliau lebih terkenal dengan nama Sunan Muria karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria (18 km di sebelah utara Kota Kudus sekarang).
Beliau adalah putra dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said, dalam berdakwah ia seperti ayahnya yaitu menggunakan cara halus, ibarat menganbil ikan tidak sampai keruh airnya. Muria dalam menyebarkan agama Islam. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan dan rakyat jelata. Beliau adalah satu-satunya wali yang mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah dan beliau pulalah yang menciptakan tembang Sinom dan kinanthi. Beliau banyak mengisi tradisi Jawa dengan nuansa Islami seperti nelung dino, mitung dino, ngatus dino dan sebagainya.
Lewat tembang-tembang yang diciptakannya, sunan Muria mengajak umatnya untuk mengamalkan ajaran Islam. Karena itulan sunan Muria lebih senang berdakwah pada rakyat jelata daripada kaum bangsawan. Cara dakwah inilah yang menyebabkan suna Muria dikenal sebagai sunan yang suka berdakwak tapa ngeli yaitu menghanyutkan diri dalam masyarakat. (abi sorban)