Kategori: Sejarah

studi tentang masa lalu, termasuk peristiwa, tokoh, budaya, dan perkembangan yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu. Studi sejarah mencakup penelitian, interpretasi, dan analisis terhadap sumber-sumber sejarah, seperti dokumen tertulis, artefak arkeologi, rekaman audio-visual, dan saksi mata. Tujuan dari studi sejarah adalah untuk memahami dan menggambarkan evolusi manusia, peradaban, kebudayaan, dan peristiwa yang membentuk dunia seperti yang kita kenal saat ini.

  • TRAGEDI UTSMAN: DARI HOAKS KE PEOPLE POWER

    TRAGEDI UTSMAN: DARI HOAKS KE PEOPLE POWER

    SORBANSANTRI.COM

    LD PWNU Jawa Barat – Ide anti pemerintah, anti otoritas yang sah dan anti konstitusi, ide kuno yang dalam sejarah Islam pertama kali muncul ketika Dzul Khuwaisirah ketika protes atas pembagian harta emas yang dikirim Ali bin Abi Thalib dari Yaman yang dilakukan Rasulullah Saw. Protes Dzul Khuwaishirah menyinggung perasaan Nabi Saw. Secara tidak langsung dia menuduh Nabi Saw berbuat dzalim.

    Saking tidak beradabnya dia menyuruh Rasulullah Muhammad Saw bertaqwa kepada Allah, “Wahai Rasulullah bertaqwalah engkau kepada Allah.” Mendengar hal itu, Nabi Saw bersabda: “Celaka engkau! Bukankah aku adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk bertaqwa kepada Allah?!” (HR. Bukhari [2/232], Muslim [2/740]). Mendengar hal itu, Nabi Saw bersabda: “Celaka engkau! Bukankah aku adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk bertaqwa kepada Allah?!” (HR. Bukhari [2/232], Muslim [2/740]).

    Sebagai sebuah gerakan politik, Abdullah bin Saba’ orang pertama yang mengorgansir gerakan anti pemerintah dan inkonstitusional. Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam. Berlagak bak ulama dia menyebar isu, opini negatif, tuduhan miring dan hoaks di tengah-tengah masyarakat muslim yang baru tumbuh di daerah-daerah pinggiran pusat Islam saat itu, Bashrah, Kufah dan Mesir.

    Masyarakat muslim yang baru menerima Islam. Keimanan mereka masih labil. Ilmu pengetahuan mereka belum kokoh. Tapi semangat keberagamaan mereka menggebu-gebu. Pengikut Abdullah bin Saba’ kebanyakan orang-orang Badui Arab yang baru hijrah dari kehidupan jahiliyah.

    DR. Utsman bin Muhammad al-Khamis dalam Hiqbah Minat Tarikh yang terbit 2007 di Kairo mencatat 13 tuduhan ditujukan Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya kepada Khalifah Utsman. Edisi Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Pustaka Imam Syafi’i cetakan kelima 2016 dengan judul “Inilah Faktanya”.

    Tuduhan-tuduhan yang mendeskriditkan Khalifah Utsman. Sebagian tuduhan sudah dibantah Khalifah Utsman sewaktu rumahnya dikepung massa aksi people power yang datang dari tiga kota Muslim di luar Jazirah Arab. Sebagian lagi dibantah para sahabat kepada utusan massa people power ketika mereka berdialog.

    Enam tuduhan yang bukanlah kesalahan dan pelanggaran terhadap syariah melainkan ijtihad syar’i sebagai Khalifah. Sebagai Khalifah, Utsman berhak dan berkewajiban melakukan ijtihad politik dalam rangka menyempurnakan tugasnya mengatur urusan umat.

    Ijtihad politik Khalifah Utsman yang dibully tersebut adalah: Mengangkat keluarga menjadi pejabat, membakar mushaf-mushaf dan memerintahkan kaum muslimin untuk menrujuk kepada satu mushaf saja, memperluas lahan konversi hewan ternak dan kuda, tidak mengqashar shalat dalam perjalanan, tidak mengqishash ‘Ubaidullah bin Umar padahal dia membunuh Hurmuzan dan menambah adzan kedua dalam shalat Jum’at.

    Dua tuduhan miring tetapi justru itu kebaikan Khalifah Utsman yaitu Utsman tidak ikut perang Badar dan tidak hadir pada Bai’atur Ridlwan dan menge Perihal Utsman absen saat perang Badar karena saat itu ia sedang menjaga istrinya yang juga putri Rasulullah saw yang sedang jatuh sakit.

    Tentang ini Nabi saw bersabda: inna laka ajra rajulin mimman syahida badran wa sahmahu ‘Sungguh, engkau mendapatkan pahala seperti pahala seorang yang ikut perang Badar. Engkau juga berhak mendapat ghanimahnya.’ Sementara ketidakhadirannya dalam Bai’atur Ridwan karena Utsman diutus Nabi saw ke Mekkah untuk melakukukan negosiasi dengan kaum Quraisy. Sudah barang tentu justru karena kemuliaan Utsman di mata Nabi saw dan di mata kaum Quraisy, dia diutus ke Mekkah.

    Saat Utsman bernegosiasi, prosesi Bai’atur Ridlwan dilakukan. Sambil mengulurkan Rasulullah saw kemudian bersabda: “Tangan ini mewakili Utsman.” (Shahihul Bukhari, Kitab Fadhail Shahabah, Bab Manaqib Utsman no. 3699).

    Hanya satu tuduhan yang memang kesalahan Utsman. Itupun kesalahan kecil yang sangat manusiawi. Kesalahan itu sudah dimaafkan dan diampuni yakni lari ketika pasukan kaum muslimin diserang balik waktu perang Uhud sebagaimana firman Allah swt

    إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ۖ وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

    Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Ali Imran; 155).

    Kendati demikian, Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya yang menjadi peletak dasar gerakan Khawarij terus menyudutkan Khalifah Utsman dengan isu-isu hoaks. Khalifah Utsman difitnah telah mengasingkan Abu Dzar al-Ghifari ke Rabadzah.

    Abu Dzar sahabat Nabi saw dikenal jujur, zuhud dan wara’. Di Syam dia debat dengan Muawiyah yang saat itu menjadi Gubernur. Mereka berdua ikhtilaf soal tafsir ayat ke-34 surat at-Taubah tentang larangan menimbun emas dan perak. Muawiyah berpendapat ayat itu ditujukan kepada ahlu kitab, adapun Abu Dzar mengatakan ayat itu untuk umat Islam dan ahlu kitab.

    Perdebatan ini buntu tidak ketemu jalan penyelesaiannya. Lalu Muawiyah menulis surat ke Khalifah Utsman. Dia mengadu kelakuan Abu Dzar. Lalu Khalifah Utsman meminta Abu Dzar menemuinya di Madinah. Abu Dzar mengisahkankan ceritanya kepada Khalifah Utsman.

    Setelah itu Khalifah Utsman berkata: “Kalau engkau mau pergi engkau boleh melakukannya, tapi ke tempat yang tidak jauh (dari Madinah).” Itulah yang membuat Abu Dzar pergi ke Rabadzah. Sebagai warga negara yang baik, Abu Dzar tunduk, patuh dan taat kepada Khalifah. Dia berujar: “Seandainya yang menjadi pemimpinku berasal dari orang Habasyah, aku tetap akan mendengar dan tunduk kepadanya.” (Shahihul Bukhari, Kitab Az-Zakah, Bab “Ma Uddiya Zakatahu bi Kanzin no. 1406).

    Jadi sebenarnya Abu Dzar mengasingkan diri ke Rabadzah karena keinginannya sendiri. Khalifah Utsman tidak pernah mengusirnya dari Madinah. Abu Dzar sendiri pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: idza balagha al-bina’u sal’an fakhruj minha ‘Jika kamu menyaksikan bangunan di Madinah sudah setinggi Gunung Sala’, maka keluarlah dari Madinah’ (Ath-Thabaqat Ibnu Sa’ad, IV:226). Artinya Nabi saw sendiri yang memerintahkan Abu Dzar untuk meninggalkan Madinah.

    Kaum Khawarij juga menyebarkan hoaks bahwa Khalifah Utsman mengembalikan Marwan bin al-Hakam ke Madinah yang telah diasingkan oleh Nabi saw. Padahal faktanya Marwan bin al-Hakam masuk Islam waktu fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah). Ia termasuk orang-orang yang disebut Nabi sebagai orang-orang yang yang bebas dari segala tuntutan hukum atas perbuatannya di masa lalu.

    Marwan bin al-Hakam tinggal di Mekkah, lalu bagaimana mungkin dia diusir Nabi dari Madinah?!. korupsi memberi Marwan bin Hakam 1/5 harta ghanimah. Padahal 1/5 harta ghanimah yang diberikan Khalifah Utsman diambil dari bagian Imam/Khalifah yang pembagiannya diserahkan kepada ijtihad Khalifah.

    Hoaks yang menggelikan, Khalifah Utsman dituding kaum Khawarij telah memukul Ibnu Mas’ud hingga ususnya robek dan memukul ‘Ammar hingga tulang rusuknya patah. Ini jelas kebohongan. Tidak mungkin orang selemput Utsman bertindak kasar apalagi kepada sahabat Nabi saw. Andaikata usus Ibnu Mas’ud robek, tentu dia sudah mati dan bagaimana mungkin Ammar bisa ikut perang Shiffin bersama Khalifah Ali dengan rusuk yang patah.?!

    Massa people power yang sudah kemakan hoaks tidak menyadari kalau ada invisible hand yang bekerja di balik kencangnya tuntutan kepada Khalifah Utsman untuk meletakkan jubah kepemimpinannya. Massa yang terbakar emosinya makin kalap. Mereka merangsek masuk ke dalam rumah Khalifah Utsman. Dan akhirnya Khalifah Utsman syahid saat membaca al-Qur’an di tangan kaum Khawarij. Gerakan makar kaum Khawarij menjadi nota hitam sejarah umat Islam yang tak bisa dihapus sampai hari kiamat.

    Nahdlatul Ulama senantiasa bersikap i’tidal, sikap yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi saw di tengah ketegangan dan konflik politik. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

    Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8).

    Semoga hal ini tidak terjadi di negara kita. Tragedi pembunuhan Khalifah Utsman kita ambil hikmahnya, bahwa gerakan makar berawal dari isu-isu hoaks menjadi people power. Direvisi di Tangerang, 16 Juni 2020 ( Ayik Heriansyah )

     

  • Kalam Indah Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani

    Kalam Indah Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani

    SORBANSANTRI.COM

    1. Siapa saja yang memiliki kitab wiridku, berarti ia telah mendapatkan ijazah (izin untuk mengamalkannya). Ijazah itu bukan dariku, tetapi langsung dari para pengarang wirid-wirid tersebut.
    2. Seharusnya seorang santri mempunyai bacaan wirid untuk menjaga dirinya dari kesesatan.
    3. Seharusnya seorang santri banyak beribadah, dengan tujuan menjaganya dari perbuatan maksiat dan untuk memperkuat hafalannya.
    4. Kunci segala rahasia bersumber pada bacaan shalawat kepada Rasulullah ShalAllahu ‘Alaihi Wasallama.
    5. Jadikanlah Shalawat kepada Rasulullah ShalAllahu ‘Alaihi Wasallama. senantiasa berada diantara dirimu dan munajatmu.
    6. Ketika kita memuji atau menyebut keutamaan seseorang, bukan berarti kita juga merendahkan pihak lain (yang tidak disebut).
    7. Tidak meremehkan santri, kecuali orang bodoh.
    8. Sikap patuh dan rendah hati yang dibarengi dengan sedikit ilmu itu lebih baik, dari pada sifat licik dan sombong yang dibarengi dengan banyaknya ilmu.
    9. Aku senang kepada santri yang berani, tetapi sopan.
    10. Orang alim tidak cukup dengan ilmunya saja, tetapi ia harus meiliki sifat bijaksana.
    11. Orang alim tidak cukup dengn ilmunya saja, tetapi ia harus memiliki akhlak yang baik.
    12. Orang alim harus memiliki dada yang lapang.
    13. Orang yang memiliki cakrawala ilmu yang luas, akan sedikit protes kepada orang lain.
    14. Akhlak lebih di dahulukan daripada ilmu.
    15. Aku terlebih dahulu mengajarkan akhlak dan moral, sebelum aku mengajarkan ilmu dan kitab.
    16. Ilmu masih bisa dicari, tetapi tidak demikian dengan khidmah (pengabdian).
    17. Amar makruf dan nahi munkar harus dilakukkan dengan sikap bijak, lembut, dan bertahap.
    18. Hendaknya tujuanmu adalah menyebarkan ilmu, bukan malah mengalihkan perhatian banyak orang kepada dirimu.
    19. Sebarkanlah ilmu tanpa harus memperdulikan apakah mereka menerimamu atau berpaling darimu.
    20. Ilmu tidak akan berkumpul dengan sifat sombong di dalam satu dada.
  • Kalimat Yang Disampaikan Sunan Ampel kepada Sunan Kalijaga

    Kalimat Yang Disampaikan Sunan Ampel kepada Sunan Kalijaga

    Wali-Songo-1024x722

    Ojo Kagetan, Ojo Gumunan

    (Dhawuh Kanjeng Sunan Ampel kepada Kanjeng Sunan Kalijaga)

    cyberaswaja.online- Tulisan ini sebenarnya sudah disebarkan melalui status postingan di facebook dan mendapatkan sambutan positif dari masyarakat luas. Namun, melihat kondisi yang semakin giat menyerang NU, maka kami ingin mengangkat tulisan ini ke dalam website.

    Pola-pola dan cara-cara menyerang NU, penulis sarikan dari temuan-temuan di media sosial, baik di youtube, facebook, Grop WA, instagram sampai kepada twitter. Mereka yang menyerang itu bukan dan belum tentu orang NU. Karena di medsos siapa saja bisa ngomong apa saja, tanpa sumber yang jelas, maka jatuhnya bisa hoax dan ujaran kebencian. Kita masih kesulitan menelusur sumber tulisan itu, kecuali jika memiliki alat yang canggih untuk melacak sumber dan arah share-an informasi.

    1. Mengaku NU

    Pola pertama dengan merendahkan KH. Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU.

    Cara ini biasanya terucap dengan kata: “saya ini juga NU, tapi NU nya Mbah Hasyim Asy’ari bukan Said Aqil Siradj” ada lagi “Saya ini NU sejak lahir, tapi NU sekarang beda dengan NU nya Mbah Hasyim” dan masih banyak varian perkataan yang intinya merendahkan KH. Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU.

    Padahal kita bisa ber-NU ala Mbah Hasyim Asy’ari ya harus lewat jalurnya, yaitu PBNU. Harus ada sanad yang jelas, sehingga sanad keilmuwan NU itu bagaikan untaian emas dari Mbah Hasyim Asy’ari, Rais Akbar kepada Ulama dan Pimpinan NU sesudahnya.

    Pola kedua: Muncul pula kelompok-organisasi dan grop medsos liar yang mengaku NU dan Aswaja tapi hendak menggiring secara halus jama’ah yang polos untuk dijerumuskan menjelekkan NU.

    2. Mengaku Santri

    Dahulu banyak orang anti dengan kata Santri, dianggap kuno dan identik NU. Tapi, muncul sebuah gerakan halus dan senyap, khususnya di media sosial penggunaan kata “Santri” tapi malah menolak PBNU. Biasanya bergerak di grop-grop WA dan facebook, beberapa di instagram. Maka, pengguna media sosial jangan tertipu dan mudah kagum kalau ada yang mengaku-aku di medsos.

    3. Memusuhi Pimpinan NU

    Kyai Haji Said Aqil Siradj adalah Ketua Umum PBNU. Ketua Umum adalah amanah terpenting di NU. Marwah Ketua Umum PBNU sama juga Marwah NU.

    Pola saat ini, ada arus untuk membuat de-legitimasi (tidak percaya) kepada KH. Said Aqil Siradj, dengan segala fitnah yang ditujukan kepada beliau.

    Bukan hanya Ketua Umum, tapi juga Rais Aam dan Khatib Syuriah juga pernah difitnah. Semata-mata untuk de-legitimasi. Agar arah pikiran masyarakat umum: “Ketuanya aja kayak gitu, pasti NU yang dipimpin juga kayak gitu”.

    4. Memusuhi Banser

    Banser adalah anak dari GP. Ansor, sebuah Banom di NU. Penyerangan kepada Banser juga termasuk ke dalam nomor 3, yaitu : Membuat de-legitimasi. Kita tahu, komitmen Kebangsaan inilah yang senantiasa dijaga Banser, dan NU pada umumnya.

    5. Menyerang Tradisi dan Amaliyah

    Ini sudah dari dahulu. Tetap NU tetap istiqomah dan semakin kuat dengan menjelaskan dalil-dalil yang kuat.

    Dan fenomena organisasi nyempal adalah ingin “asal beda” dari NU dan jelekin NU. Tapi setelah NU nunjukkin dalil-dalil kuatnya, maka larinya kalau gak pake taktik “menyerupakan diri dengan NU” ya “menyerang Banser atau Kyai Said”

    Jangan terlalu mudah dan terpancing dengan postingan di medsos, di internet pada umumnya. Internet itu sebuah jagad sendiri, makanya disebut jagad maya atau dunia maya. Dunia yang luas dan siapa saja bisa dengan mudah menyebar hoax dan ujaran kebencian.

    Rumusnya hidup di era media sosial, internet dan dunia maya adalah “Ojo Kagetan, Ojo Gumunan” (Dhawuh Kanjeng Sunan Ampel kepada Kanjeng Sunan Kalijaga)

    Maka, segenap Jama’ah dan Jam’iyyah NU tetap Istiqomah dalam Dakwah.

    Pahami NU itu apa dan bagaimana. Kenali Para Ulama dan Pimpinan NU dan bagaimana adab bersikap kepada mereka. (abi sorban)

    NU bukan sekedar organisasi biasa maka keadaban harus tetap dipakai.

  • Etika Islam Hadapi Wabah Penyakit di Syam

    Etika Islam Hadapi Wabah Penyakit di Syam

    ILUSTRASI-WABAH-PENYAKIT-1000x576
    ILUSTRASI-WABAH-PENYAKIT-1000×576

    cyberaswaja.online- Maka Ibnu Abbas memanggil mereka, lalu Umar bermusyawarah dengan mereka. Kata Umar: “Wabah penyakit sedang melanda negeri Syam. Bagaimana pendapat kalian?”

    Wabah Virus Corona menyita perhatian dunia. Berbagai kerumunan sepi. Sekolah dan aktivitas kantor pun demikian, karena imbauan untuk tidak lakukan aktivitas di banyak orang.

    Lalu bagaimana Islam menyikapi adanya wabah penyakit?

    Etika Islam ketika terjadi wabah melanda di Syam, telah ditunjukkan Sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khattab. Inilah kisahnya.

    Suatu ketika khalifah Umar bin Khattab berangkat ke Syam bersama rombongan besar para sahabat. Namun di tengah perjalanan, sesampainya di wilayah Saragh, para pemimpin pasukan muslim di wilayah itu datang menyambut mereka; diantaranya adalah Abu Ubaidah bin Jarrah bersama para sahabat lainnya. Mereka mengabarkan kepada sang Khalifah bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam (dan mereka berselisih pendapat soal masalah ini).

    Umar berkata kepada Ibnu Abbas: “Panggil ke sini para pendahulu dari orang-orang Muhajirin yang ikut dalam rombongan kita!”

    Maka Ibnu Abbas memanggil mereka, lalu Umar bermusyawarah dengan mereka. Kata Umar: “Wabah penyakit sedang melanda negeri Syam. Bagaimana pendapat kalian?”

    Mendengar pertanyaan ini mereka berbeda pendapat. Sebagian berkata: “Anda berangkat ke Syam untuk suatu urusan penting. Karena itu kami berpendapat, tidak selayaknya Anda pulang begitu saja.” Sebagian lain mengatakan: “Anda datang membawa rombongan besar, beberapa merupakan sahabat utama Rasulullah SAW. Kami tidak sependapat jika Anda harus membawa mereka menghadapi wabah penyakit ini.”

    Umar pun berkata: “Pergilah kalian dari sini!”. Kemudian Umar memerintahkan Ibnu Abbas: “Panggil ke sini orang-orang Anshar yang ada dalam rombongan kita!”.

    Maka Ibnu Abbas memanggil mereka. Umar pun bermusyawarah dengan mereka. Namun ternyata sebagaimana orang-orang Muhajirin, mereka pun saling berbeda pendapat.

    Maka kata Umar: “Pergilah kalian dari sini!”. Selanjutnya Umar memerintahkan Ibnu Abbas: “Panggil ke sini pemimpin-pemimpin Quraisy yang hijrah sebelum penaklukan Makkah!”. Maka Ibnu Abbas memanggil mereka.

    Kali ini pendapat mereka sama, tidak ada perbedaan. Kata mereka: “Kami berpendapat, sebaiknya Anda pulang kembali bersama rombongan Anda dan jangan menghadapkan mereka kepada wabah ini.”

    Setelah mendengar pendapat ini, lalu Umar menyerukan kepada seluruh rombongan: “Besok pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian!”

    Mendengar perintah tersebut Abu ‘Ubaidah bin Jarrah (pemimpin pasukan di Saragh) bertanya: “Apakah kita hendak lari dari takdir Allah?”

    Umar menjawab: “Mengapa kamu bertanya demikian, wahai Abu ‘Ubaidah?” Beliau meneruskan: “Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain.”

    Umar balik bertanya, “Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu saat menggembalakannya engkau menemui suatu lembah yang mempunyai dua sisi; sisi yang satu subur dan sisi lainnya tandus. Bukankah jika engkau memilih menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala di dalam takdir Allah? dan jika pun engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala di dalam takdir Allah?”

    Di tengah perbincangan Umar dengan Abu Ubaidah, datang Abdurrahman bin ‘Auf yang sebelumnya pergi meninggalkan rombongan karena suatu hajat. Lalu Abdurrahman bin ‘Auf berkata: “Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah bersabda:

    ‘Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak menyelamatkan diri.’

    Mendengar keterangan itu, Umar bin Khattab mengucapkan puji syukur kepada Allah. Keesokan harinya beliau (bersama rombongannya) pulang kembali ke Madinah.

    Demikian termaktup dalam Hadits diriwiyatkan (HR) Muslim, alih bahasa Zaenal Muttaqin.

    Dalam sebuah keterangan disebutkan wabah di Syam saat itu menelan 200.000 jiwa.

    “Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)”, demikian sabta Rasulullah Muhammad saw (HR Bukhari)

    “Peliharalah harta kalian dengan zakat, obatilah orang-orang yang sakit dengan shadaqah, dan persiapkanlah doa untuk menghadapi malapetaka,” Sabda Rasulullah Muhammad Saw ((HR. Ath-Thabrani)

    Aisyah ra, ia berkata:
    “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang wabah penyakit. Rasulullah Saw memberitahukan kepadaku: ‘Wabah penyakit itu adalah azab yang diutus Allah kepada orang-orang yang Ia kehendaki. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah. Ia yakin bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan Allah. Maka ia mendapat balasan seperti mati syahid”. (HR Bukhari)

    “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan musibah, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” Rasulullah Muhammad Saw. (HR Muslim)

    “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah [2]: 155-157)

    Demikian wallahu a’lam.

  • SOSOK ABAH KH.UCI TURTUSI CILONGOK

    SOSOK ABAH KH.UCI TURTUSI CILONGOK

    101547873_567239177317124_8786622705219665920_n

    cyberaswaja.online- Ulama NU Banten Dengan Keluasan Ilmu Namun Tetap Sederhana Bagi kalangan santri, pemburu barokah khususnya Nahdliyin warga NU yang tinggal di Jabodetabek nama beliau mungkin tidaklah asing lagi, sosok guru keagamaan yang tampil sederhana, santun murah senyum dan tentunya dengan keluasan ilmu beliau, cara penyampaian dakwah yang sejuk, mudah di terima dan di cerna semua kalangan. Setiap pengajian beliau tidak pernah sepi dari pengunjung dari mana saja, ada yang dari jakarta, bekasi, bogor hingga karawang dan purwakarta, mulai dari pedagang kaki lima hingga pejabat semua rela ndlosor alias duduk di alas tikar ngariung bersama.

    Abah KH.Uci Turtusi memiliki kedekatan khusus dengan tokoh-tokoh NU dari dulu hingga sekarang, beliau sangat dekat dengan Gusdur, KH.Abuya Muhtadi, Habib Luthfi bin Yahya, KH.Said Aqil Siradj hingga KH.Ma’ruf Amin.

    Dengan logat sunda nya yang masih sangat kental beliau suka membaur secara langsung di masyarakat, tidak heran walaupun beliau tidak muncul di televisi, tidak memiliki chanel khusus Youtube atau tim dakwah media lainnya beliau tetap di sowani para tokoh-tokoh besar, para komunitas pemuda keagamaan hingga hingga para aparatur sipil negara yang sekedar ingin nasihat beliau.

    Kesaksian beliau tentang kewalian Gusdur juga di balas dengan kesaksian Gusdur bahwa kelak beliau benar-benar akan menjadi salah satu ulama besar tanah banten.

    Beliau juga salah satu kyai yang gemar & hafal membaca kitab kuning, yang selama ini menjadi kitab penting kalangan santri pesantren dan ulama-ulama Nusantara lainnya.

    Semoga guru-guru kita semua di berikan kesehatan, terus menebar barokah dari setiap manfaat ilmu-ilmu yang beliau amalkan pada masyarakat dan santri.( fb. santrinu)

  • HABIB HUSEIN AL-MUTHAHAR, PENCIPTA LAGU “17 AGUSTUS TAHUN 45”

    HABIB HUSEIN AL-MUTHAHAR, PENCIPTA LAGU “17 AGUSTUS TAHUN 45”

    11896301_863845910372749_2690254194349858487_o

    cyberaswaja.online- Habib Muhammad Husein Muthahar tidak hanya dikenal sebagai penyelamat bendera pusaka dan pendiri Paskibraka saja, tetapi beliau juga seorang komponis lagu Indonesia yang hebat. Habib yang dikenal dengan nama H. Mutahar ini telah menghasilkan ratusan lagu Indonesia, seperti lagu nasional Hari Merdeka, Hymne Syukur, Hymne Pramuka, Dirgayahu Indonesiaku, juga lagu anak-anak seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, dan lain-lain. Lagu Hari Merdeka dan Hymne Syukur adalah salah satu lagu fenomenal yang diciptakan oleh Habib Muhammad Husein Muthahar.

    Terkait penciptaan lagu Hari Merdeka, ada satu cerita yang menarik. Ternyata inspirasi lagu Hari Merdeka ini muncul secara tiba-tiba saat beliau sedang berada di toilet salah satu hotel di Yogyakarta. Bagi seorang komponis, setiap inspirasi tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Beliau pun cepat-cepat meminta bantuan Pak Hoegeng Imam Santoso (Kapolri pada 1968–1971). Saat itu Pak Hoegeng belum menjadi Kapolri.

    Sang Habib menyuruh Pak Hoegeng untuk mengambilkan kertas dan bolpoin. Berkat bantuan Pak Hoegeng, akhirnya jadilah sebuah lagu yang kemudian diberi judul “Hari Merdeka”. Sebuah lagu yang sangat fenomenal dan sangat terkenal yang banyak dinyanyikan oleh bangsa Indonesia, bahkan anak-anak pun sangat hafal dan pandai menyanyikannya.

    Berikut lirik lagu “Hari Merdeka” ciptaan Habib Muhammad Husein Muthahar:

    Tujuh belas Agustus tahun empat lima
    Itulah hari kemerdekaan kita
    Hari merdeka Nusa dan Bangsa
    Hari lahirnya bangsa Indonesia
    Merdeka

    Sekali merdeka tetap merdeka
    Selama hayat masih di kandung badan
    Kita tetap setia tetap sedia
    Mempertahankan Indonesia
    Kita tetap setia tetap sedia
    Membela negara kita

    Selain “Hari Merdeka”, lagu berikut juga menjadi karya fenomenal beliau. Judulnya “Syukur”. Lagu ini tercipta dibuatnya pada tanggal 7 September 1944 setelah menyaksikan banyak warga Semarang, kota kelahirannya, bisa bertahan hidup dengan hanya memakan bekicot. Berikut lirik lagunya:

    Dari yakinku teguh
    Hati ikhlasku penuh
    Akan karuniamu
    Tanah Air pusaka
    Indonesia merdeka
    Syukur aku sembahkan
    KehadiratMu Tuhan

    Sekilas Tentang Habib Husein Muthahar

    “Husein Mutahar”, begitu nama latinnya, lahir di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 5 Agustus 1916. Perjalanan pendidikan formalnya dimulai dari ELS (Europese Lagere School atau sama dengan SD Eropa selama 7 tahun) , kemudian dilanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs atau sama dengan SMP selama 3 tahun) dan dilanjutkan ke AMS (Algemeen Midelbare School atau sama dengan SMA selama 3 tahun) Jurusan Sastra Timur khususnya Bahasa Melayu, di Yogyakarta. Kemudian beliau melanjutkan ke Universitas Gajah Mada dengan mengambil Jurusan Hukum dan Sastra Timur dengan khusus mempelajari Bahasa Jawa Kuno. Namun perkuliahannya hanya 2 tahun, drop out (DO) karena harus ikut berjuang.

    Habib Husein Muthahar terlibat Pramuka sejak awal lembaga kepanduan berdiri. Beliau adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis. Ia juga dikenal anti-komunis. Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Habib Husein Muthahar juga menjadi tokoh di dalamnya.

    Dalam kehidupan berorganisasi, pengalaman beliau adalah sbb :
    1. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai pemimpin Pandu serta kemudian menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan Nasional Indonesia “Pandu Rakyat Indonesia”, 28-12-1945 s.d. 20-5-1961.
    2. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pramuka, duduk sebagai anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan Latihan, 1961-1969.
    3. Sekretaris Jenderal Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka, 1973 -1978, dan anggota biasa, 1978-2004.

    Habib Muhammad Husein Muthahar, yang juga mantan duta besar Italia ini, kemudian meninggal dunia di Jakarta tanggal 9 Juni 2004 di usia 88 tahun. Walaupun beliau berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kalibata karena memiliki Tanda Kehormatan Negara Bintang Mahaputera atas jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih dan juga memiliki Bintang Gerilya atas jasanya ikut berperang gerilya pada tahun 1948-1949, tetapi beliau tidak menginginkan itu. Sesuai dengan wasiat beliau, akhirnya pada 9 Juni 2004 beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan. (foto ulama’ dan habaib)

  • MENGENANG ABAH SULAIMAN Al-LOSARY

    MENGENANG ABAH SULAIMAN Al-LOSARY

    cyberaswaja.online- Sebagai adik kandung yg juga muridnya hingga kini saya masih terheran-heran dg ahir kehidupan seorang kakaku yg orang-orang memanggilnya “Abah” itu. Setahu saya beliau bukan orang yg banyak melakukan “sembayang sunah atau puasa sunah”. Kalau boleh saya berkata sembayang dan puasa beliau pas-pasan saja.

    Namun di hari wafatnya saya dibuatnya kagum dan terheran, terlebih usia beliau yg cukup muda untuk dituakan dan dimusim pandemi yg mewajibkan PSBB. Sejak detik tersiar berita wafatnya ratusan orang berbondong-bondong untuk menyolati dan memberi penghormatan terahir pada beliau. Sekian ulama dan kyai sepuh menangisi kepergian almarhum. Seperti tidak lagi berlaku hukum PSBB di tempat wafatnya yg sempat dinyatakan sebagai zona merah ini. Bahkan dari kepolisian dan TNI menolak untuk diganti memikul jenazahnya hingga turut mengubur jenazahnya. Bahkan hingga tulisan ini saya buat rombongan-rombangan tamu masih berdatangan dirumah duka; dari dalam dan luar kota.

    Beliau itu bukan orang yg punya harta; beliau hanya anak petani yang hidupnya hanya pas-pasan saja. Namun cerita di ahir hanyatnya sungguh membuatku ingin tahu dan mengikuti jejaknya. Ya, siapa orangnya yg tak ingin kepergiannya ditangisi oleh ulama dan kyai? Perlahan saya sedikit memahami bahwa beliau ini pribadi yg sholeh sosialnya. Beliau seseorang yg mampu duduk bersama dan menghormati bahkan pada “bajingan dan pemabuk” sekalipun.

    Banyak dari santri-santrinya yg sebelumnya adalah bajingan, pemabuk dan jomblo putus asa. Selain itu, pengabdiannya pada NU yg totalitas yg mengalahkan segala kepentingan pribadinya bahkan kepentingan kesehatan dirinya sendiri. Ah.. Semoga saya bisa mengikuti jejak semangat juangnya yg tak kenal lelah itu. Amin..

    (Disarikan dari cerita santri dan sekian orang-orang yg kerap berinteraksi dan menyaksikan hidupnya).

  • ASAL USUL HALAL BIHALAL

    ASAL USUL HALAL BIHALAL

    HALAL BI HALAL

    cyberaswaja.online- Penggagas istilah “Halal bi Halal” ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

    Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

    Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”.

    “Itu gampang”, kata Kiai Wahab.

    “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal’, jelas Kiai Wahab.

    Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

    Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

    Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

    Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah “Halal bi Halal”, meskipun esensinya sudah ada.

    Tapi istilah “halal bi halal” ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl “yujza’u” bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

    Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thoriq
    KH Masdar Farid Mas’udi
    Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

    Sumber : MWC NU Wedarijaksa [dari NU Online]

  • 9 JENDRAL TERHEBAT SEPANJANG SEJARAH ISLAM

    9 JENDRAL TERHEBAT SEPANJANG SEJARAH ISLAM

    Generasi-Shalahuddin-Al-Ayubi-1280x720

    SALAHUDDIN AL AYYUBI

    Dunia mengenalnya sebagai salah satu tokoh pemimpin terbesar. Dialah juga merupakan salah satu tokoh terbesar dalam Perang Salib. Namanya dikenal luas takkala ia dapat menaklukkan kerajaan Jerusalem yang ketika itu dipimpin oleh Guy The Lusignan Raja Jerusalem. Pasukan Shalahuddin dikenal sebagai pasukan yang pemberani dibawah pimpinannya. Bernama lengkap Salahuddin Al-Ayubi yang dikenal didunia barat sebagai Saladin terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nur Ad-Din atau Nuruddin Zangi.

    1490682815170
    ABDULLAH BIN AAMIR

    Abdullah bin Aamir (bahasa Arab:عبدالله بن عامر ) adalah gubernur Busrha (647–656) dan merupakan jenderal militer yang sangat sukes pada masa pemerintahan Khalifah Rasyidin Utsman bin Affan. Dia dikenal atas kehebatannya dalam administrasi dan militer.

    Screenshot_201
    AMR BIN ASH

    Namanya adalah Amr bin Ash bin Wail bin Hisyam bin Said bin Sahm al-Qurasyi as-Sahmi. Di antara jasa besarnya adalah ketika Umar bin Khattab mengamanatinya untuk menaklukkan Mesir, dan dia berhasil menunaikan amanat tersebut. Amr merupakan salah seorang pahlawan bangsa Arab yang sangat terkenal, sekaligus seorang politisi yang cemerlang. Terkenal dengan kecerdasan dan kepintarannya mengatur siasat.

    Screenshot_202
    TARIQ BIN ZIYAD

    Thariq bin Ziyad (670 – 720) (Bahasa Arab: طارق بن زياد), dikenal dalam sejarah Spanyol sebagai legenda dengan sebutan Taric el Tuerto(Taric yang memiliki satu mata), adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.

    Screenshot_203
    SYURAHBIL BIN HASANAH

    Adalah sahabat Muhammad. Dia merupakan salah satu komandan tersukes dalam pasukan Rasyidin, bertugas di bawah Khalifah Rasyidin Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Dia merupakan salah satu komandan lapangan utama selama penaklukan Muslim di Suriah, bertugas sejak tahun 634 hingga kematiannya pada tahun 639 akibat wabah.

    Khalid-bin-Walid-Panglima-Perang-yang-Dipecat-Karena-Tak-Pernah-Berbuat-Kesalahan-1
    KHALID BIN WALID

    Khalid ibn al-Walid, atau sering disingkat Khalid bin Walid, adalah seorang panglima perang pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya, terkenal sebagai panglima tertinggi untuk Nabi Muhammad dan penerus-penerusnya. Dibawah kepemimpinan militernya lah Arabia untuk pertama kalinya dalam sejarah membentuk entitas politik yang bersatu, Kekhalifahan.

    Mengkomandani pasukan muslim yang baru, dia tak terkalahkan lebih dari seratus pertempuran termasuk melawan Kekaisaran Byzantium, Kekaisaran Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka termasuk juga suku-suku Arab di luar kekuasaan Khalifah. Pencapaian strategis dia ialah penaklukan Arab, Persia Mesopotamia dan Suriah Romawi hanya dalam waktu empat tahun pada tahun 632 ke 636. Kemenangan-kemenangan yang terkenal darinya ialah kemenangan telak pada Pertempuran Yamama, Pertempuran Ullais dan Pertempuran Firaz, dan kesuksesan taktis pada Pertempuran Walaja dan Pertempuran Yarmuk.

    57990_09461711092019_muhamad_al_fatih
    MUHAMMAD AL FATIH

    Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

    Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.

    Screenshot_204
    SA’AD BIN ABI WAQQASH

    Kepahlawanan Sa’ad bin Abi Waqqas tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan melawan tentara Persia di Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam.

    Bersama tiga ribu pasukannya, ia berangkat menuju Qadasiyyah. Di antara mereka terdapat sembilan veteran perang Badar, lebih dari 300 mereka yang ikut serta dalam ikrar Riffwan di Hudaibiyyah, dan 300 di antaranya mereka yang ikut serta dalam memerdekakan Makkah bersama Rasulullah. Lalu ada 700 orang putra para sahabat, dan ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan.

    Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah di dekat Hira. Untuk melawan pasukan Muslim, pasukan Persia yang siap tepur berjumlah 12O ribu orang dibawah panglima perang kenamaan mereka, Rustum.

    12-1
    ABU UBAIDAH BIN ALJARRAH

    Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Mekkah yang termasuk paling awal untuk memeluk agama Islam. Ia ikut berhijrah ke Habasyah (saat ini Ethiopia) dan kemudian, Ia hijrah ke Madinah. Ia mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Setelah wafatnya Nabi Muhammad, Ia merupakan salah satu calon Khalifah bersama dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

    Setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah, Dia ditunjuk untuk menjadi panglima perang memimpin pasukan Muslim untuk berperang melawan Kekaisaran Romawi. Ia meninggal disebabkan oleh wabah penyakit.

  • GURU MULIA SIMBAH KH MAKSUM LASEM

    GURU MULIA SIMBAH KH MAKSUM LASEM

    SORBANSANTRI.COMSORBAN SANTRI – Berjalan Tanpa Henti, Menyeru Perlawanan Terhadap PKI

    Salah satu pendiri utama Nadhlatul Ulama 1926 adalah Guru Mulia Simbah Kyai Haji Maksum Bin Ahmad Lasem, atau biasa kita sebut sebagai Mbah Maksum Lasem.

    Beliau lahir pada
    tahun 1870 dan wafat pada tahun 1972.

    Berdasarkan nasab dari
    ayahandanya, beliau merupakan
    dzuriyah Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
    Dikenal sebagai pribadi yang jujur,
    mengayomi dan senantiasa menjalin silaturahim, serta selalu menghormati tamu.

    Ketika meletus pemberontakan PKI t
    ahun 1965, ada salah satu anggota angkatan bersenjata yang berpihak pada pemberontak. Sehingga waktu itu menyebabkan pemerintahan Kota Lasem lumpuh total.
    Mbah Maksum segera bergerak.
    Beliau menyediakan pondok yang beliau asuh, Pondok Pesantren Al Hidayah menjadi pusat pemerintahan Kota Lasem.

    Disulaplah kamar-kamar pondok
    dengan pintu tertutup dan jendela terbuka dengan senjata otomatis menghadap keluar, sebagai kewaspadaan jika setiap saat mendapat serangan dari pemberontak. Sehingga dengan demikian, beliau adalah orang yang paling ditarget untuk dibunuh oleh PKI.

    Pada waktu itu,
    beliau sudah mencapai usia 97 tahun.
    Ketika kondisi semakin tidak menentu,
    beliau memaksa untuk ‘turun tangan’ langsung mengobarkan perang melawan PKI yang telah membunuh Ulama, Santri dan warga NU.

    Dikisahkan, banyak santri yang berusaha mencegah beliau, mengingat usia beliau yang sudah mendekati satu abad, dan kondisinya tentu sudah tidak muda lagi.
    Namun, beliau bersikeras, sehingga akhirnya beliau keluar dari Lasem dikawal oleh beberapa santri pilihan sebagai pengayuh becak secara bergantian.

    Tak tanggung-tanggung, perjalanan
    Ini beliau tempuh dalam waktu dua bulan.
    Terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain tanpa berhenti hingga menembus beberapa wilayah di Jawa Timur.
    Alhamdulillah, beliau selalu dalam
    lindungan Gusti Allah SWT. Hingga akhirnya pemberontakan ini berhasil dipadamkan, dan kondisi bisa dipulihkan seperti sedia KALA.