Kategori: Sejarah

studi tentang masa lalu, termasuk peristiwa, tokoh, budaya, dan perkembangan yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu. Studi sejarah mencakup penelitian, interpretasi, dan analisis terhadap sumber-sumber sejarah, seperti dokumen tertulis, artefak arkeologi, rekaman audio-visual, dan saksi mata. Tujuan dari studi sejarah adalah untuk memahami dan menggambarkan evolusi manusia, peradaban, kebudayaan, dan peristiwa yang membentuk dunia seperti yang kita kenal saat ini.

  • Sejarah Lengkap Penulisan Al-Qur’an (bag. 1)

    Sejarah Lengkap Penulisan Al-Qur’an (bag. 1)

    SORBAN Infokom-

    بسم الله الرحمن الرحيم…
    Posted by Saifur Ashaqi

    Diambil dari kitab “Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Qur’an” karya Imam Az-Zarqani. Pengumpulan Al-Qur’an ditinjau dari segi penulisannya terjadi 3 periode : Pertama, pada masa Nabi saw. Kedua, pada masa sahabat Abu Bakar As-Shiddiq. Ketiga, pada masa sahabat Utsman bin Affan. Dan pada masa terakhir ini mushaf-mushaf telah berhasil disalin dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia.

    Penulisan Al-Qur’an Pada Masa Rasulullah saw.

    Rasulullah saw. mengangkat penulis-penulis wahyu manakala turun ayat-ayat Al-Qur’an dan memerintahkan mereka untuk menulisnya. Tujuannya adalah untuk mengukuhkan dan mengikat (menjaganya). Dan untuk menambah rasa percaya diri, hafalan, dan kehati-hatian pada kitab Allah Ta’ala, sehingga tulisan tersebut jelas lafadznya dan bisa ditulis lafadznya.

    Adapun mereka para penulis wahyu yang merupakan sahabat Nabi yang terbaik, di antaranya: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Muawiyah, Aban bin Sa’id, Khalid bin Walid, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Tsabit bin Qais, dan lainnya. Adapun Nabi saw. menunjuk mereka terhadap subjek yang ditulis dari surahnya. Dan mereka menuliskannya pada tempat yang mudah (mereka peroleh) yakni dari daun palm, batu, kulit atau kertas, potongan endoderm (jaringan bagian dalam kulit), tulang dari tulang bahu dan rusuk, kemudian tulisan tersebut disimpan di rumah Rasulullah saw.

    Demikianlah, berlalunya masa Nabi dengan selamat dan Al-Qur’an dikumpulkan dengan cara demikian. Bagaimana pun ia belum ditulis di atas mushaf.

    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata, “Apabila ada sebuah surah diturunkan kepada Rasulullah saw., maka beliau memanggil sebagian (sahabat) yang bertugas menulisnya dan bersabda : “Letakkanlah surah ini pada tempat yang disebutkan demikian dan demikian”.

    Dan dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, “Pada masa Rasulullah saw. Al-Qur’an ditulis pada kulit atau kertas”. Dan adapun penyusunan tersebut (menjadi) pelajaran keteraturan susunan ayat-ayat berdasarkan bimbingan Nabi saw. dan dengan didasarkan atas ketetapan dari malaikat Jibril as. atas perintah Allah Azza wa Jalla.

    Penulisan Al-Qur’an Pada Masa Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq

    Peristiwa-peristiwa besar dan kesulitan-kesulitan yang terjadi telah membawa perubahan pada masa pemerintahan sahabat Abu Bakar As-Shiddiq. Diantaranya yaitu terjadinya perang Yamamah pada tahun 12 H. yang mana banyak para penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam pertempuran tersebut.

    Permasalahan ini ditanggapi serius oleh sahabat Umar bin Khattab, yang kemudian ia mendorong sahabat Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Hal tersebut dilakukannya karena dikhawatirkan Al-Qur’an dapat tersia-sia (tercecer), sebab banyaknya para penghafal Al-Qur’an yang meninggal dunia. Atas dasar dorongan sahabat Umar bin Khattab, Allah-pun membukakan hati sahabat Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur’an.

    Ia mendapatkan pencerahan dari Allah dalam mengerjakan pekerjaan ini, yaitu dengan mengangkat salah satu sahabat terbaik. yaitu Zaid bin Tsabit. Hal tersebut dikarenakan Zaid bin Tsabit merupakan sahabat yang memiliki kelebihan dibanding sahabat-sahabat lain, seperti beliau merupakan penghafal Al-Qur’an, penulis wahyu Rasulullah saw. dan juga turut menyaksikan Al-Qur’an dihadapkan kepada Rasulullah menjelang akhir hayatnya. Selain itu, Zaid bin Tsabit juga dikenal sebagai sahabat yang memiliki pendirian yang kokoh, wira’i, amanah, sempurna akhlaknya dan istiqomah dalam menjalankan agamanya.

    Dalam mengumpulkan Al-Qur’an, Zaid bin Tsabit menempuh jalan dengan sangat hati-hati, sabar dan menyusunnya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh sahabat Abu Bakar dan sahabat Umar bin Khattab. Di dalam aturan tersebut terdapat tanggungan (aturan) yang mencakup kitabullah, dengan aturan yang patut baginya seperti penetapan (tasabbut/akurasi) yang tinggi dan kehati-hatian yang mendalam. Pengumpulan Al-Qur’an tidak hanya mengandalkan hafalan yang ia miliki, tidak pula dengan tulisan yang ia tulis dan apa yang ia dengar dari telinganya, akan tetapi lebih dari itu, ia berupaya semaksimal mungkin dengan rasa percaya diri, dengan mengacu pada dua hal pokok, yaitu:

    1.) Al-Qur’an yang ditulis langsung dihadapan Rasulullah saw.

    2.) Al-Qur’an yang telah dihafal oleh para sahabat

    Diantara kehati-hatian tersebut dibuktikan oleh sahabat Zaid bin Tsabit, bahwasanya ia sedikit pun tidak mau menulis sumber-sumber yang ada sebelum ia mendatangkan dua orang saksi bahwasanya Al-Qur’an yang ditulis benar-benar berasal dari Rasulullah saw.

    Berdasarkan peraturan yang bijaksana ini, penulisan dan pengumpulan Al-Qur’an selesai dilakukan dengan kemuliaan sahabat Abu Bakar, sahabat Umar bin Khattab, dan mayoritas para sahabat, serta kesepakatan umat. Sahabat Ali bin Abu Thalib berkata, “Orang yang mendapatkan pahala paling besar di dalam pengumpulan Al-Qur’an adalah sahabat Abu Bakar”. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada sahabat Abu Bakar karena beliau merupakan pioner dalam pengumpulan Al-Qur’an.

    Al-Qur’an yang telah disusun oleh sahabat Zaid bin Tsabit dengan mendapatkan perhatian dan pertolongan yang lebih dari para sahabatnya, akhirnya diterima dan disimpan di sisi sahabat Abu Bakar, kemudian pada periode kekhalifahan Umar bin Khattab disimpan oleh beliau dan setelah sahabat Umar bin Khattab meninggal dunia, Al-Qur’an pun disimpan di rumah putri Umar bin Khattab, yaitu Hafsah yang mendapatkan gelar Ummul Mukminin. Pada periode selanjutnya Al-Qur’an yang telah berhasil dikumpulkan dijadikan pijakan oleh sahabat Utsman dalam penyalinan Al-Qur’an, sebagaimana keterangan berikut. (kalam ulama)

  • KISAH NABI SULAIMAN DAN SEMUT MERAH

    KISAH NABI SULAIMAN DAN SEMUT MERAH

    Berita SORBAN- Ketika rombongan Nabi Sulaiman a.s akan melintasi lembah yang ditempati sebagai sarang semut, dan Beliau menyeru kepada semut-semut itu agar berlindung. Atas kebijakan Nabi SUlaiman inilah semut-semut itu memberikan pujian kepada Nabi Sulaiman.

    Pada masa-kanak-kanak, Nabi Sulaiman sudah menampakkan tanda-tanda kecerdasan, ketajaman otak, kepandaian berfikir serta ketelitian dalam mempertimbangkan dan mengambil suatu keputusan. Sebuah peristiwa yang menunjukkan kecerdasan dan ketajaman otak Nabi Sulaiman dibuktikan dengan kecerdasannya dalam memecahkan beberapa masalah.

    [irp]

    Salah satu mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Sulaiman adalah mengerti bahasa binatang. Suatu hari rombongan besar Nabi Sulaiman hendak menuju lembah Asgalan, dan rombongan itu terdiri dari Nabi Sulaiman dan umatnya, malaikat, jin serta binatang-binatang.

    Ditengah perjalanan, Beliau menyuruh rombongannya berhenti.

    “Berhentilah sejenak, kita beri waktu kepada makhluk ALlah untuk menyelamatkan diri,” ucap Nabi Sulaiman.

    “Wahai Nabiyullah, mengapa kita tiba-tiba berhenti di tengah jalan,” tanya salah satu rombongan.

    “Di depan ada lembah semut yang di dalamnya terdapat jutaan semut, mereka akan kusuruh untuk berlindung agar tidak terinjak oleh rombongan kita,” jawab Nabi Sulaiman.

    [useful_banner_manager banners=5 count=1]

    Dari jarak yang cukup jauh itu, Nabi Sulaiman nampaknya mendengar dialog Raja Semut yang menyuruh para semut untuk berlindung. Sungguh mukjizat yang sangat hebat sob, seseorang bisa mendengar pembicaraan hewan dari jarak yang jauh lagi, dialah Nabiyullah Sulaiman, Raja segala raja yang pernah hidup di dunia ini, dan tak pernah ada seorang rajapun di dunia ini sehebat Beliau.

    Pujian Semut.

    “Hai semut-smur, masuklah kalian ke dalam sarang agar selamat dan tidak terinjak oleh rombongan Nabi Sulaiman,” ucap Raja Semut.

    [irp]

    Nabi Sulaiman tersenyum mendengar suara semut yang ketakutan itu.

    Ketika kaum semut itu tengah sibuk menyelamatkan diri, Nabi Sulaiman menyuruh kepada rombongannya untuk terus bersyukur kepada Allah SWT. Sungguh Anugerah Allah, meskipun diberi kekuatan hebat pun Nabi Sulaiman ini tidak pernah sombong, rasa syukur yang selalu Beliau ucapkan sob.

    Setelah beberapa saat berhenti, Nabi Sulaiman dan rombongannya kembali meneruskan perjalanan.

    Ketika melintasi lembah semut itu, Nabi Sulaiman dan rombongannya mendapatkan pujian dari Raja Semut. Kaum semut bersyukur karena sarangnya tidak rusak oleh rombongan Nabi Sulaiman.

    “Kami takjub kepada Nabi Sulaiman yang mengerti bahasa binatang, sehingga tidak ada satupun yang terbunuh diantara kami,” kata Raja Semut.

    [irp]

    Kisah ini merupak cuplikan dari ayat Al Qur’an surat An-Naml ayat 18 yang artinya,

    “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

    (QS. An-Naml: 18). (red-sorban)

  • TAHLILAN 7 HARI TRADISI PARA SAHABAT NABI SAW DAN TABI’IN

    TAHLILAN 7 HARI TRADISI PARA SAHABAT NABI SAW DAN TABI’IN

    SORBAN Infokom | Siapa bilang budaya bersedekah dengan menghidangkan makanan selama mitung dino (tujuh hari) atau empat puluh hari pasca kematian itu budaya hindu ?

    Di Indonesia ini banyak adat istiadat orang kuno yang dilestarikan masyarakat. Semisal Megangan, pelepasan anak ayam, siraman penganten, pitingan jodo, duduk-duduk di rumah duka dan lainnya. Akan tetapi bukan berarti setiap adat istiadat atau tradisi orang kuno itu tidak boleh atau haram dilakukan oleh seorang muslim.

    Tidak semua budaya itu lantas diharamkan, bahkan Rasulullah Saw sendiri mengadopsi tradisi puasa ‘Asyura yang sebelumnya dilakukan oleh orang Yahudi yang memperingati hari kemenangannya Nabi Musa dengan berpuasa. Syare’at telah memberikan batasannya sebagaimana dijelaskan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib saat ditanya tentang maksud kalimat “ Bergaullah kepada masyarakat dengan perilaku yang baik “, maka beliau menjawab: “Yang dimaksud perkara yang baik dalam hadits tersebut adalah :

    هو موافقة الناس في كل شيئ ما عدا المعاصي

    “ Beradaptasi dengan masyarakat dalam segala hal selain maksyiat “. Tradisi atau budaya yang diharamkan adalah yang menyalahi aqidah dan amaliah syare’at atau hukum Islam.

    Telah banyak beredar dari kalangan salafi wahhabi yang menyatakan bahwa tradisi tahlilan sampai tujuh hari diadopsi dari adat kepercayaan agama Hindu. Benarkah anggapan dan asumsi mereka ini?
    Sungguh anggapan mereka salah besar dan vonis yang tidak berdasar sama sekali. Justru ternyata tradisi tahlilan selama tujuh hari dengan menghidangkan makanan, merupakan tradisi para sahabat Nabi Muhammad Saw dan para tabi’in.

    Perhatikan dalil-dalilnya berikut ini :

    Imam Suyuthi Rahimahullah dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya mengtakan :

    قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام

    “ Thowus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “.

    Sementara dalam riwayat lain :

    عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق, فاما المؤمن فيفتن سبعا واماالمنافق فيفتن اربعين صباحا

    “ Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari “.

    Dalam menjelaskan dua atsar tersebut imam Suyuthi menyatakan bahwa dari sisi riwayat, para perawi atsar Thowus termasuk kategori perawi hadits-hadits shohih.
    Thowus yang wafat tahun 110 H sendiri dikenal sebagai salah seorang generasi pertama ulama negeri Yaman dan pemuka para tabi’in yang sempat menjumpai lima puluh orang sahabat Nabi Saw. Sedangkan Ubaid bin Umair yang wafat tahun 78 H yang dimaksud adalah al-Laitsi yaitu seorang ahli mauidhoh hasanah pertama di kota Makkah dalam masa pemerintahan Umar bin Khoththob Ra.

    SORBANSANTRI.COM SORBANSANTRI.COM

    Menurut imam Muslim beliau dilahirkan di zaman Nabi Saw bahkan menurut versi lain disebutkan bahwa beliau sempat melihat Nabi Saw. Maka berdasarkan pendapat ini beliau termasuk salah seorang sahabat Nabi Saw.

    Sementara bila ditinjau dalam sisi diroyahnya, sebgaimana kaidah yang diakui ulama ushul dan ulama hadits bahwa: “Setiap riwayat seorang sahabat Nabi Saw yang ma ruwiya mimma la al-majalla ar-ra’yi fiih (yang tidak bisa diijtihadi), semisal alam barzakh dan akherat, maka itu hukumnya adalah Marfu’ (riwayat yang sampai pada Nabi Saw), bukan Mauquf (riwayat yang terhenti pada sahabat dan tidak sampai kepada Nabi Saw).

    Menurut ulama ushul dan hadits, makna ucapan Thowus ;

    ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام

    berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “, adalah para sahabat Nabi Saw telah melakukannya dan dilihat serta diakui keabsahannya oleh Nabi Saw sendiri.

    (al-Hawi) li al-Fatawi, juz III hlm. 266-273, Imam As-Suyuthi).

    Maka tradisi bersedekah selama mitung dino / tujuh hari atau empat puluh hari pasca kematian, merupakan warisan budaya dari para tabi’in dan sahabat Nabi Saw, bahkan telah dilihat dan diakui keabsahannya pula oleh beliau Nabi Muhammad Saw.

    (Ibnu Abdillah Al-Katibiy)

  • Anda Termasuk Penjahat Terbesar Bagi Kaum Muslimin ?

    Anda Termasuk Penjahat Terbesar Bagi Kaum Muslimin ?

    SORBAN Infokom | Sebagai seorang Muslim, maukah anda menjadi Penjahat Besar bagi kaum Muslimin? Pastinya anda tidak mau kan? Tapi secara tidak sadar selama ini mungkin anda sudah termasuk bagian dari Penjahat-penjahat Besar terhadap kaum muslimin. Cobalah teliti apakah anda hobby mempermasalahkan amal-amal shalih kaum muslimin? Misalnya, apakah anda gemar meneriaki muslimin yang sedang baca surat Yasin (Yasinan) di malam jum’at sebagai Ahli Bid’ah sesat dan masuk neraka? Banyak isu-isu bid’ah yang disebarkan di tengah ummat Islam yang kesemuanya menimbulkan fitnah terhadap Islam. Akibat dari tersebarnya isu-isu bid’ah mampu merubah persepsi yang Mubah jadi haram bahkan yang halal pun jadi haram, inilah fitnah kepada Islam dan sekaligus menjadi kejahatan terbesar. Pernyataan ini bukan ngawur lho, sebab yang mengatakan demikian adalah Rasulullah Saw. Mari kita simak dan hayati perkataan Rasul Saw berikut ini….

    قال رسول الله صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ : إِن أَعْظَمَ
    الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرمْ فَحُرمَ
    مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

    (صحيح البخاري)

    Sabda Rasulullah saw :
    “Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang
    mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram
    sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

    Berdasar pada hadits Shahih di atas sangat jelas, bahwa mempermasalahkan amalan muslimin yang tidak haram dikatakan haram (bid’ah terlarang) itu adalah kejahatan terbesar. Itu Nabi Saw yang mengatakannya. Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan, sesungguhnya adalah amal-amal shalih kaum muslimin, tetapi karena dipermasalahkan membuatnya menjadi haram karena dianggap bid’ah terlarang (dosa bagi pengamalnya).

    [irp posts=”3486″ name=”Fakta Mengejutkan Tentang Tahlilan yang Dianggap Haram Oleh Salafi Wahabi”]

    Kaitannya dengan itu, dalam melancarkan missi dakwahnya Kaum Wahabi di Indonesia sangat gemar mempermasalahkan Tahlilan yang tidak haram dikatakan haram (pengertian bid’ah menurut Wahabi adalah: berdosa jika melakukan hal bid’ah. Ini artinya tidak lain adalah haram). Maulid Nabi tidak haram dikatakan haram, Tawassul dengan Nabi Saw tidak haram dikatakan haram bahkan pelaku Tawassul dikatakan Musyrik oleh kaum Wahabi. Kenapa Kaum Wahabi hobby berbuat demikian, tidak sadarkah mereka telah melakukan kejahatan terbesar kepada Ummat Islam menurut pandangan Nabi saw?

    Bagi yang merasa pengikut Wahabi mari kita simak kembali dan renungkan sedalam-dalamnya hadits yang mulia ini agar sembuh dari Maksiat Kejahatan Terbesar kepada Kaum Muslimin:

    قال رسول الله صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ : إِن أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرمْ فَحُرمَ مِنْ
    أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
    (صحيح البخاري)
    Sabda Rasulullah saw :
    “Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

    Dari penjelasan analisa singkat di atas dapat kita katakan bahwa setiap yang haram itu dosa akan tetapi bid’ah itu tidak selalu haram. Semoga kita selamat dari pengaruh fitnah Wahabisme, dan yang selama ini sudah terlanjur jadi Tukang Fitnah kepada ajaran Islam semoga sadar dan tidak enggan bertaubat. Wallohu a’lam….

    [irp posts=”3492″ name=”TAHLILAN 7 HARI TRADISI PARA SAHABAT NABI SAW DAN TABI’IN”]

    Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

    “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Disahihkan oleh Albani dalam ash-Shahîhah, no. 3201).
    Firman Allah: “…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An Nahl 43]

    (abi-infokom)

  • KETIKA KHALIFAH DISURUH BELAJAR KEPADA RAJA ORANG KAFIR

    KETIKA KHALIFAH DISURUH BELAJAR KEPADA RAJA ORANG KAFIR

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN Infokom – Kisah menarik ini yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali dalam Al-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk halaman 20:

    حضر بعض الزهاد بين يدي خليفة، فقال له: عظني فقال: يا أمير المؤمنين إني سافرت الصين وكان ملك الصين قد أصابه الصمم وذهب سمعه فسمعته يقول يوماً وهو يبكي: والله ما أبكي لزوال سمعي وإنما أبكي لمظلوم يقف ببابي يستغيث فلا أسمع استغاثته، ولكن الشكر لله إذ بصري سالم. وأمر منادياً ينادي ألا كل من كانت له ظلامة فليلبس ثوباً أحمر. فكان يركب الفيل فكل من رأى عليه ثوباً أحمر دعاه واستمع شكواه وأنصفه من خصمائه. فانظر يا أمير المؤمنين إلى شفقة ذلك الكافر على عباد الله وأنت مؤمن من أهل بيت النبوة فأنظر كيف تريد أن تكون شفقتك على رعيتك.

    Sejumlah orang zuhud datang ke Khalifah yang meminta saran dari mereka. Salah seorang berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, saya pernah mengunjungi negeri Cina. Raja mereka menjadi tuli pendengarannya dan Raja sangat bersedih. Namun Raja Cina ini berkata bahwa “aku bersedih bukan karena hilangnya pendengaranku, tapi boleh jadi ada pencari keadilan yang dizalami yang berhenti di depan pintu istanaku tapi aku tidak bisa mendengarnya. Tapi syukurlah mataku masih bisa melihat.”

    Kemudian Raja memberi perintah siapa yang hendak protes atas kezaliman yang menimpanya harus memakai baju merah (agar diketahui oleh Raja). Raja kemudian blusukan menemui rakyatnya dengan mengendarai gajah, dan menemui mereka yang berbaju merah.

    Orang zuhud yang bercerita kisah ini kepada Khalifah kemudian berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, ini tindakan bijak penguasa kafir kepada rakyatnya, bagaimana dengan anda yang orang beriman dan keturunan Nabi Muhammad? Sudahkan anda memperhatikan rakyat anda?” 

    (LDNU Banjar)

  • JOHN INDRA… Kader BANSER Sumatera Barat yang Luar Biasa

    JOHN INDRA… Kader BANSER Sumatera Barat yang Luar Biasa

    Sorbansantri.com – Namanya John Indra dia adalah Sekertaris PC GP ANSOR Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat, pada hari Minggu (7 Maret 2021) melakukan perjalanan menuju Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, untuk mengikuti pendidikan SUSPELAT 1 (pendidikan dalam ke-Banseran tingkat Pelatih) yang segera dilaksanakan pada Tanggal 11 s.d 14 Maret 2021, atas Support dari Ketua Tanfiziah PCNU KH. Nurkholidin, Ketua MWC Timpeh Kyai Maksum Fanani,Ketua PW GP ANSOR Sumatera Barat, Ketua PC GP ANSOR Dharmasraya, serta jajaran Satkorwil Banser Provinsi Sumatera Barat.

    Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan,pada tanggal 9 Maret 2021, pukul 19.30 WIB tiba di Gedung PCNU Kab.Mojokerto, dan juga disana terdapat Mako PC GP ANSOR Mojokerto, Setiba di Mako Dia langsung disambut oleh panitia SUSPELAT 1, sekaligus juga berbincang- bincang dengan Ali Muh Nasih (Gus Ali) yang merupakan Ketua PC GP ANSOR Kab.Mojokerto.Beliau mengapresiasi kedatangan John yang menempuh jarak 3 hari 2 malam untuk sampai di Mako Beliau.

    Dalam sharing John berpendapat dalam hati bahwa “memang perjalan saya ini jauh dan melelahkan,tapi tidak akan sia-sia, karna banyak dukungan,saran dari para beliau semuanya,termasuk pendapat serta arahan dan wejangan yang diberikan oleh Gus Ali” terimakasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Gus Ali,ungkap John.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Berhubung pelaksanaan dimulai tanggal 11 Maret 2021, masih ada satu hari waktu luang, Jonh meminta ijin untuk dapat diantarkan pergi Ziarah, ke makam Syeh Djumadil Kubro, yang saya dengar bahwa Syeh Djumadil Kubro merupakan sesepuh Wali Songo (wali 9)
    Alhamdulilah, saya langsung di fasilitasi oleh Sahabat Banser yang langsung diperintah oleh Kasatkorcab H.M Yunus untuk mengawal dan mendampingi saya mulai berangkat sampai kembali, terimakasih Komandan,,” terang John
    ziarah ini merupakan tradisi dan ajaran yang luar biasa yang dilakukan oleh warga Nahdliyyin/NU khususnya dari masyarakat Islam JAWA

    SORBANSANTRI.COM

    Dalam benaknya,John selalu teringat wejangan dan tetuah dari gurunya KH.NURKHOLIDIN , yang merupakan tokoh dan Ketua Tanfiziah PCNU Kab. Dharmasraya “Tetaplah berkhidmat untuk NU khususnya Ansor-Banser,kalau kamu ikhlas serta benar dalam berkhidmat,maka.. Barokah-Berkah serta Hidayah akan selalu menyertaimu” dimana Beliau tak henti-hentinya selalu membimbing saya, kebetulan di ponpes Tarbiyatul Athfal tersebut menjadi pusat kegiatan ke NU an, serta Banom banom NU, Terutama Kegiatan PC GP ANSOR Kab.Dharmasraya.

    Selamat dan Sukses JOHN INDRA semoga ilmu yang kamu peroleh di Jawa dalam pendidikan ke-Banseran atau SUSPELAT 1 berguna dan bermanfaat bagi Sahabat sahabat Ansor-Banser di tanah kelahiranmu.

    John-Anwar sorbansantri

  • CORONA(PAGEBLUG) DAN RADEN ARYA KEMUNING

    CORONA(PAGEBLUG) DAN RADEN ARYA KEMUNING

    SORBAN Infokom–Kaisar Ming mengirim utusan kepada Nusantara, meminta bantuan untuk mengatasi wabah penyakit di China.
    Wabah penyakit dulu di sebut “PAGEBLUG” artinya berjatuhan. Yaitu wabah yang menyebabkan banyak korban berjatuhan.Konon pada masa Majapahit juga pernah terjadi PAGEBLUG akibat ambisi membuat pusaka tak tertandingi yang menggegerkan dunia siluman. Tujuannya adalah untuk menyatukan Nusantara (kisah di balik Sumpah Palapa). Efeknya energi – energi negatif menyerang warga, namun dapat di redam dengan keris pusaka sabuk inten.SORBANSANTRI.COMCORONA juga disinyalir dari efek pembuatan senjata nuklir pemusnah masal.Jika memang benar adanya, dua kasus di atas memiliki akar masalah yang sama yaitu KESEIMBANGAN ALAM.Sunan Ampel menerima utusan khusus dari Kaisar Ming – China.
    Oleh karena permintaan dari raja (Kaisar Ming) Wali Songo bermusyawarah dan hasil keputusannya adalah mengirim Syekh Syarif Hidayatullah. Karena beliau adalah seorang wali sekaligus seorang raja, yaitu Raja Cirebon. Karena seorang raja mesti mengerti etika kerajaan.Raja Syarif Hidayatullah yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati berangkat ke Cina sendirian tanpa pengawalan. Beliau langsung terjun ke masyarakat karena kondisi darurat wabah dan langsung mengatasi pageblug dengan metode doa, air, syahadat dan rempah rempah seadanya.Kaisar Ming mendengar kabar bahwa ada tabib sakti yang dapat mengobati segala penyakit hanya dengan doa dan rempah – rempah seadanya. Padahal di China gudangnya tabib.Kaisar Ming mengundang tabib Syarif Hidayatullah ke kerajaan. Kaisar menyiapkan siasat dan pertanyaan jebakan untuk menguji beliau. Syekh Syarif Hidayatullah tidak diperlakukan sebagai mana seorang Raja melainkan seorang tabib, karena Kaisar Ming belum mengetahui bahwa Syekh Syarif Hidayatullah adalah Raja Cirebon.Kaisar Ming mendandani putrinya bernama Ong Tien sebagai mana orang hamil, perutnya diganjal dengan bokor kuningan (semacam bejana berbahan kuningan)Di depan para petinggi kerajaan Kaisar Ming bertanya kepada Syekh Syarif Hidayatullah. Jika benar kamu orang hebat, coba tebak kandungan putriku apakah anaknya laki -laki atau perempuan?
    Syekh Syarif Hidayatullah yang ilmunya sudah “Kun fayakun” menunjuk perut putri Ong Tien dan menjawab “laki – laki”.
    Sontak Syekh Syarif di tertawakan dan dipermalukan karena seisi kerajaan tau bahwa putri Ong Tien masih gadis hanya saja di dandani seperti orang hamil. Syekh Syarif dipersilahkan pulangSyekh Syarif bertolak ke Cirebon di antar oleh orang yang bersimpati kepadanya karena melihat kinerjanya di masyarakat dalam mengentaskan wabah. Dalam perjalanan pulang Perahu Syekh Syarif tiba tiba disergap bajak laut Mongol di pimpin Patih Keling. Mongol saat itu memang terkenal angkatan lautnya. Patih Keling yang dikalahkan Syekh Syarif bersumpah bahwa dirinya dan anak keturunannya akan mengabdi kepada Syekh Syarif dan keturunannya.
    Di cirebon, abdi dalem keturunan Patih Keling dikenal dengan sebutan “Elang”Di China Kaisar Ming mengadakan pesta seakan akan baru memenangkan sebuah permainan, tapi tiba-tiba Kaisar Ming kebingungan karena ternyata putri Ong Tien benar – benar hamil. Kaisar Ming rapat dengan para petinggi kerajaan akan nasib putrinya dan siapa yang harus jadi suaminya.
    Sementara itu utusan Kaisar Ming tiba membawa surat balasan dari Indonesia yang isinya bahwa Indonesia telah mengirim Raja Cirebon, bernama Syarif Hidayatullah untuk mengatasi pageblug di China.AAMMBYAARRR… kowe Miiiingg… Ming!!!Penyesalan dan rasa malu tak terkira yang ada di benak Kaisar Ming. Bagaimana tidak?
    Syekh Syarif telah mengatasi wabah namun Kaisar tidak berterima kasih. Tidak menghormatinya sebagaimana seorang raja, Bahkan ia mempermalukan dan menjebaknya dalam permainan tebak tebakan yang imbasnya putri Ong Tien benar – benar hamil. Lalu siapa yang harus jadi suaminya? Siapa ayah dari cucunya?
    Ah… Andai saja Syekh Syarif bukan seorang Raja….Kaisar Ming mengirim Putri Ong Tin beserta para pasukan dengan 500 perahu yang berisi perbekalan, pakaian, perabotan, perhiasan dsb. sebagai permohonan maaf sekaligus permohonan agar Syekh Syarif Hidayatullah sudi menikahi Ong Tien putrinya. Akhirnya Putri Ong Tien menikah dengan Syekh Syarif Hidayatullah dan anaknya dikenal dengan nama Raden Arya Kemuning.Pada jaman kenabian “Kun Fayakun” terjadi melibatkan Roh Kudus (Jibril) kemudian lahirlah Isa Al Masih putra Maryam.
    Pada jaman Wali Songo “Kun Fayakun” terjadi melibatkan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) kemudian lahirlah Raden Arya Kemuning.Segala fasilitas dan kenikmatan kita sekarang ini tidak lepas dari doa dan jasa para leluhur kita. Maka selipkanlah doa dalam tawasul kepada leluhur kita sebagai rasa syukur.Untuk para leluhur IndonesiaLahum, al fatihah…..Rahayu kamulyaning Djagad 🙏🙏🙏

  • Kitab Safinah an-Najah “PERAHU KESELAMATAN”

    Kitab Safinah an-Najah “PERAHU KESELAMATAN”

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Umat muslim nusantara sudah tidak asing lagi dengan kitab ini, begitu populer karena hampir seluruh madrasah dan pesantren, sejumlah majelis taklim, menjadikanya sebagai bacaan utama bagi “santri pemula dan jamaah”.

    Kitab ini masuk dalam kategori fan fiqih. Dan begitu mendengar isinya fiqih, kitab ini tipis harganya kisaran 18rb – 20rb Rupiah pasti Anda tidak percaya, kitab setipis ini isinya fiqh dari masalah rukun islam, thaharah, sampai bab mayit.

    Tipisnya kitab ini terkait dengan tipisnya “nalar masyarakat awam dalam memahami fiqih”.
    Sangat disayagkan bila kita telah menikmati sebuah karya, namun tak mengetahui siapa yang menulisnya. Terasa ada yg kurang, dan bisa jadi berkah ilmu kita bakal minus. Sebaliknya, mengenali sang penulis akan menjalin hubungan batin, sehingga cahaya ilmu yg tertransfer mampu menerangi relung hati pembaca. Dalam konteks sekarang, kita telah menyaksikan betapa manfaatnya kitab Safinah. Tidakkah terbenak dalam hati kita; siapa, sih, sang penyusun kitab tipis ini?

    Syekh Salim bin Sumair dari Hadramaut, Yaman. Harus diakui bahwa popularitas sang penulis dikalahkan oleh Safinah-nya.
    Dan, juga perlu diketahui bahwa beliau melawat dari Hadramaut (yaman) sampai ke nusantara (belum indonesia waktu itu) untuk meyebarkan ilmu. Tidak diketahui tahun kelahiran Syaikh Salim, yg tercatat meninggal di Batavia pada tahun 1271 H dan dikuburkan di Tanah Abang.

    Sungguh beliau adalah ulama besar. Beliau bisa saja menulis kitab fiqih yg tebal. Tapi bagi beliau, sebuah karya harus benar² mengarahkan kepada target dan sasaran. Dan target itu tentunya adalah masyarakat muslim Indonesia.

    Bukti akan keulamaan beliau dan kebermanfaatan karyanya, ulama besar dari Banten, Syekh Nawawi memberikan pujian, komentar dan catatan yg detil dan mendalam pada kitab Safinah. Pada akhirnya kitab Safinah dicetak bersamaan dengan komentar Syekh Nawawi yg berjudul Kasyifatus Saja fi Syarah Safinah an-Naja.

    Kitab Safinah ini dengan izin الله swt. dan atas kehendak-Nya telah tersebar secara luas di kalangan para pecinta ilmu fiqih terutama yg menganut Madzhab Imam Syafi’i. Kitab ini dikenal di berbagai negara baik Arab maupun Ajam seperti Yaman, Mekkah, Madinah, Jeddah, Somalia, Ethiopia, Tanzania, Kenya, Zanjibar, dan di berbagai belahan negara² Afrika.Namun demikian perhatian yg paling besar terhadap kitab ini telah diberikan oleh para ulama dan pecinta ilmu, yg hidup di semenanjung Melayu termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, dan negara-negara lainnya.

    Kitab ini juga telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa asing seperti Indonesia, Melayu, Sunda, India, Cina, dan lainnya.

    Dengan perhatian khusus dan antusias tinggi para ulama telah berkhidmah (mengabdi) kepada kitab Safinah sesuai dengan kemampuan dan keahlian mereka masing². Banyak di antara mereka yg menulis syarah (buku pen­jelasan) kitab Safinah, di antara nama-nama kitab tersebut adalah:
    Kitab Kasyifatus Saja ala Safinatin Naja (menyingkap tabir kegelapan dengan syarah kitab safinah). Kitab syarah ini adalah yg terbesar dan terluas dari yg lainnya, dipenuhi dengan masalah² fiqih yg pokok dan mendasar. Kitab ini ditulis oleh seorang ulama dari Jawa Barat yaitu Syekh Nawawi Banten. Beliau dilahirkan pada tahun 1230 H (1815M) dan berangkat ke Mekkah untuk mencari ilmu ketika masih kecil.

    Setelah mendalami ilmu agama, di kota suci Mekkah, beliau juga belajar dari para ulama di kota suci Madinah, Syiria, dan Mesir. Beliau mengajar di Masjidil Haram Mekkah selama puluhan tahun sampai meninggal dunia pada tahun 1314 H (1897 M). Bagi saya, Syekh Salim sungguh seorang koki yg handal. Beliau paham betul tentang selera dan apa yg dimaui dan dibutuhkan oleh para pemula dalam belajar fiqh.

    Jika ada sebagian pihak yang memandang kitab ini dengan nyinyir. Kitab fiqih kok enggak ada Al Qur’an dan hadits.
    Maka saya harus katakan, di sinilah letak hebatnya Syekh Salim dengan Safinah-nya itu.
    Perhatikan perumpamaan berikut ini: Apakah Anda akan menyebut seorang Chef (juru masak) andal ketika ia menyuguhkan gulai kambing, lalu Anda masih menemukan bau kambing atau bulu kambing?
    Pasti Anda akan mengatakan “chef” pemula’.

    Begitu pula dengan Safinah. Begitu hebatnya Syekh Salim ‘memasak’ Al Qur’an dan hadits, sehingga muncullah semangkok ‘fiqih’ yg nyaris tak terendus bau-bau Al Qur’an dan hadits. Tapi yakinlah, bahan utama ‘gulai’ Safinah adalah Al-Qur’an dan hadits.
    والله اعلم

    (sumber)

  • Abu Nawas Syahdan di Sholati Imam Syafi’i

    Abu Nawas Syahdan di Sholati Imam Syafi’i

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Abu Nawas Syahdan, Abu Nawas dikenal sebagai orang yang gemar berbuat maksiat dan agak gila. Dia gemar minum khamer hingga dia mendapat julukan Penyair Khamer. Abu Nawas pernah membuat syair “Biarkan masjid diramaikan oleh orang-orang yang rajin ibadah Kita di sini saja, bersama para peminum khamer, dan saling menuangkan Tuhanmu tidak pernah berkata, ‘Cilakalah para pemabuk.’ Tapi Dia pernah berkata, ‘Cilakalah orang-orang yang shalat.’”.

    Gara-gara syairnya ini, Khalifah Harun Ar-Rasyid marah dan ingin memenggal leher Abu Nawas. Tapi, ada orang yang mengatakan kepada Ar-Rasyid: “Wahai Amirul Mukminin, para penyair mengatakan apa-apa yang tidak mereka lakukan. Maafkanlah dia (Abu Nawas).”Menurut satu riwayat, ketika Abu Nawas meninggal dunia, Imam Syafi’i tidak mau menshalati jenazahnya.

    Namun, ketika jasad Abu Nawas hendak dimandikan, di kantong baju Abu Nawas ditemukan secarik kertas bertuliskan syair berikut ini:“Wahai Tuhanku, dosa-dosaku terlalu besar dan banyak Tapi aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih besar Jika hanya orang baik yang boleh berharap kepada-Mu, kepada siapa pelaku maksiat akan berlindung dan memohon ampunan?

    Aku berdoa kepada-Mu, seperti yang Kau perintahkan, dengan segala kerendahan dan kehinaanku Jika Kau tampik tanganku, lantas siapa yang memiliki kasih-sayang? Hanya harapan yang ada padaku ketika aku berhubungan dengan-Mu Dan keindahan ampunan-Mu Dan aku pasrah setelah ini. Setelah membaca syair tersebut, Imam Syafi’i menangis sejadi-jadinya. Dia langsung menshalati jenazah Abu Nawas bersama orang-orang yang hadir.

    Bukan hak-ku, bukan hak-mu, dan bukan hak siapapun menghukum orang lain sebagai pendosa…
    (abi sorban)

  • Kiai Maksum Lasem dan “Rahasia” Shalawat Nariyyah

    Kiai Maksum Lasem dan “Rahasia” Shalawat Nariyyah

    SORBANSANTRI.COM

    Ada tiga tokoh besar dari Lasem, Rembang, yang memainkan peranan penting dalam sejarah pendirian NU: Kiai Maksum (ayahanda dari Kiai Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta), Kiai Baidlawi, dan Kiai Kholil (ini bukan Kiai Kholil Kasingan; beliau juga pendiri dan pengasuh Pondok al-Nur Lasem).

    Ketiga sosok ini adalah salah satu pendiri NU, dan hidup segenerasi dengan Hadlratusysyaikh Hasyim Asy’ari (kakek Gus Dur). Konon, Mbah Hasyim (begitu beliau sering dipanggil) memanggil Kiai Maksum dengan sebutan “Kangmas”, karena dari segi umur, beliau satu tahun lebih muda dari kiai Lasem itu.

    Berkat jasa-jasa mereka ini, Lasem diberikan status “istimewa” hingga sekarang sebagai Cabang Khusus NU (PCNU Lasem). Padahal status “cabang” hanya berlaku untuk daerah setingkat kabupaten, sementara Lasem hanyalah kota kecamatan. Status ini jelas untuk menghargai kota Lasem yang telah “menyumbangkan” tiga kiai penting dalam barisan pendiri NU.

    Kisah berikut ini saya terima dari Gus Zaim (cucu Kiai Maksum Lasem, dan putera Kiai Ahmad Syakir bin Kiai Maksum). Sementara Gus Zaim menerima kisah ini dari Kiai Imron Hamzah (pernah menjabat sebagai Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur). Kisah berikut ini berkaitan dengan tradisi salawat Nariyyah yang amat populer di kalangan nahdliyyin.

    Di Lasem dan beberapa pesantren di seluruh Jawa, ada tradisi membaca salawat Nariyyah sebanyak 4444 kali dengan “kaifiyyah” atau cara tertentu (kalau kaifiyyah-nya ndak pas, tentu kurang “mandi” alias efektif). Tetapi, model salawat Nariyyah yang di-ijazah-kan oleh Kiai Maksum, menurut penuturan Gus Zaim, berbeda dari (berbeda “dari”, bukan “dengan”) versi yang umum beredar.

    Versi Kiai Maksum: “… ‘ala Muhammadin tanhallu bihi al-‘uqad…,” tanpa kata sambung “alladzi” sebagaimana versi yang biasa kita dengar.

    Konon, ini adalah versi salawat Nariyyah yang diwarisi oleh Kiai Maksum dari leluhurnya yang berasal dari tanah Minangkabau: Sultan Mahmud atau Sunan Mingkabau (dimakamkan di kawasan Bonang, sebelah timur Lasem). Menurut beliau, versi ini lebih “cespleng” dari “versi alladzi” yang umum dipakai.

    Suatu saat, Kiai Imron Hamzah yang juga santri Kiai Maksum itu, memberanikan diri untuk bertanya: “Kiai, kenapa kok salawat ini dibaca 4444? Kenapa harus sebanyak itu? Apa alasannya?”

    “Begini ya, Cung,” kata Kiai Maksum, menjawab dengan sabar pertanyaan Imron Hamzah muda. “Setiap angka itu ada sirr-nya, ada rahasianya.” Kiai Maksum berhenti sejenak. Tetapi Imron Hamzah muda ndak sabar, lalu menyergah dengan nada agak meninggi:

    “Apa RAHASIANYA, Kiai?”

    Dengan santai, Kiai Maksum menjawab: “Ya saya ndak tahu. Kalau saya tahu, namanya bukan sirr, bukan rahasia lagi.”

    Lemaslah Kiai Imron Hamzah. 😁😁😁

    Penulis: Kiai Ulil Abshar Abdalla