Kategori: Sejarah

studi tentang masa lalu, termasuk peristiwa, tokoh, budaya, dan perkembangan yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu. Studi sejarah mencakup penelitian, interpretasi, dan analisis terhadap sumber-sumber sejarah, seperti dokumen tertulis, artefak arkeologi, rekaman audio-visual, dan saksi mata. Tujuan dari studi sejarah adalah untuk memahami dan menggambarkan evolusi manusia, peradaban, kebudayaan, dan peristiwa yang membentuk dunia seperti yang kita kenal saat ini.

  • Mengenal Siapa Sosok Buyut Sanur Yang Ada di Makam Wonosari Ngoro Mojokerto

    Mengenal Siapa Sosok Buyut Sanur Yang Ada di Makam Wonosari Ngoro Mojokerto

    Mojokerto.Sorbansantri.com – Kali ini saya akan mengungkap sejarah siapa sebenarnya buyut Sanur itu yang konon makamnya ada di kawasan desa Wonosari kecamatan Ngoro Mojokerto, saya mencoba menggali informasi dari dzuriyah beliau yang masih ada, dan alhamdulillah saya bertemu dengan gus Abdun Nafi’ lebih dikenal dengan gus Nafi’ putra dari almaghfurlah Kyai Khusairi juga masih ada keturunan dari ki Sawunggaling yang makamnya ada di Wotanmas Jedong.

    Menurut sumber cerita dari gus Nafi’ buyut sanur itu adalah orang yang babat alas desa Wonosari cucu dari ki ageng penanggungan atau Sayyid Yahya kejapanan, ayahnya bernama KH. Basyariyah yang makamnya ada di Tuban, ini di perkuat keterangan dari gus Maskub Pacet dan juga gus Iwan keluarga dari sidoresmo Surabaya, beliau berkata mbah buyut Sanur ini masih ada hubungan family dengan maulana habib Lutfi bin Yahya jawa tengah dan mempunyai istri bernama buyut Sarbiyah.

  • BERDOA DI MAKAM  ULAMA TIDAK ADA LARANGAN

    BERDOA DI MAKAM  ULAMA TIDAK ADA LARANGAN

    SORBANSANTRI.COM

    Dibawah ini akan dijelaskan kebolehan berdoa di makam ulama sebagai bentuk memulyakan ulama dan juga bertabarruk sebagaimana kebiasaan ulama salaf .

    MENGAPA BERDOA DIMAKAM ULAMA ?

    قُلْتُ: وَالدُّعَاءُ مُسْتَجَابٌ عِنْدَ قُبُوْرِ اْلاَنْبِيَاءِ وَاْلاَوْلِيَاءِ وَفِي سَائِرِ الْبِقَاعِ، لَكِنْ سَبَبُ اْلاِجَابَةِ حُضُوْرُ الدَّاعِي وَخُشُوْعُهُ وَابْتِهَالُهُ، وَبِلاَ رَيْبٍ فِي اْلبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ وَفِي الْمَسْجِدِ وَفِي السَّحَرِ وَنَحْوِ ذَلِكَ يَتَحَصَّلُ ذَلِكَ لِلدَّاعِي كَثِيْرًا وَكُلُّ مُضْطَرٍّ فَدُعَاؤُهُ مُجَابٌ (سير أعلام النبلاء للذهبي – ج 17 / ص 77)

    “Saya (adz-Dzahabi) berkata: Doa akan dikabulkan di dekat makam para Nabi dan wali, juga di beberapa tempat. Namun penyebab terkabulnya doa adalah konsentrasi orang yang berdoa dan kekhusyukannya. Dan tidak diragukan lagi di tempat-tempat yang diberkati, di masjid, saat sahur dan sebagainya. Doa akan lebih banyak didapat oleh pelakunya. Dan setiap orang yang sangat membutuhkan doanya akan terkabul” (al-Hafidz adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ 17/77)

    MAKAM IMAM MALIK

    قلت: ودفن (الامام مالك) بالبقيع اتفاقا، وقبره مشهور يزار، رحمه الله (سير أعلام النبلاء – ج 8 / ص 132)

    “Saya berkata: Ulama sepakat bahwa Imam Malik dimakamkan di Baqi’ (Masjid Nabawi, Madinah). Kuburnya popular dan diziarahi” (Siyar A’lam an-Nubala’ 8/132)

    MAKAM IMAM MUSLIM

    توفي مسلم في شهر رجب سنة إحدى وستين ومئتين بنيسابور، عن بضع وخمسين سنة، وقبره يزار(سير أعلام النبلاء – ج 12 / ص 580)  

    “Muslim meninggal pada bulan Rajab 261 di Naisabur dalam usia 50 tahun lebih. Makamnya diziarahi” (Siyar A’lam an-Nubala’ 12/580)

    MAKAM IMAM IBNU MUBARAK

    وَقَبْرُهُ (عَبْدُ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) بِهَيْتٍ مَعْرُوْفٌ يُزَارُ زُرْتُهُ وَتَبَرِّكْتُ بِهِ

     (غاية النهاية في طبقات القراء – ج 1 / ص 198)

    “Makam Abdullah bin Mubarak di Hait sudah dikenal dan diziarahi. Saya menziarahinya dan mencari berkahnya” (Ghayat an-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’ 1/198)

    MAKAM SAYYIDINA HUSAIN

    جعفر الخلدي يقول: كان بي جرب عظيم فتمسحت بتراب قبر الحسين، فغفوت فانتبهت وليس عليّ منه شيء (المنتظم – ج 2 / ص 201)

    “Ja’far al-Khuldi berkata: Saya punya penyakit kulit yang para, kemudian saya usapkan dengan debu makam Husain, saya tidur lalu terbangun, dan sudah tidak ada lagi sedikitpun dari penyakit itu” (al-Muntadzam 2/201)

    Melihat keterangan diatas maka diperbolehkan dan tidak ada larangan  ziarah sekaligus berdoa di makam para ulama sebagai sarana untuk bertabarruk ( ngalap berkah ), sebagaimana yang sudah sering dilakukan oleh warga Nahdhiyyin. (Gus Khotib)

     

  • Imam Syafi’i : Tidak Apa-apa! – Saat ditanya Baca Al-Qur’an di Kuburan

    Imam Syafi’i : Tidak Apa-apa! – Saat ditanya Baca Al-Qur’an di Kuburan

    SORBANSANTRI.COM

    Berikut adalah hujjah ASWAJA dalil serta pendapat ulama’ salaf yang berkaitan dengan baca Al-Qur’an di kuburan.

    حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاَءِ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ لِي أَبِي يَا بَنِيَّ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَلْحِدْنِي فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي فَقُلْ بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ثُمَّ سِنَّ عَلَيَّ الثَّرَى سِنًّا ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ ذَلِكَ (رواه الطبراني في الكبير رقم 15833)

    “Dari Abdurrahman bin ‘Ala’ dari bapaknya, bahwa: Bapakku berkata kepadaku: Jika aku mati, maka buatkan liang lahat untukku. Setelah engkau masukkan aku ke liang lahat, bacalah: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. Kemudian ratakanlah tanah kubur perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda demikian” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 15833)

    Al-Hafidz al-Haitsami berkata:”Perawinya dinilai sebagai orang-orang terpercaya” (Majma’ al-Zawaid III/66

     

    Pendapat Ulama Salaf

    وَقَالَ الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحُ الزَّعْفَرَانِي سَأَلْتُ الشَّافِعِيَّ عَنِ اْلقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِهَا (الروح لابن القيم 1  11)

    “Al-Za’farani (perawi Imam Syafii dalam Qaul Qadim) bertanya kepada Imam Syafii tentang membaca al-Quran di kuburan. Beliau menjawab: Tidak apa-apa” (al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)

    Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

    وَهَذَا نَصٌّ غَرِيْب عَنِ الشَّافِعِي وَالزَّعْفَرَانِي مِنْ رُوَاةِ الْقَدِيْمِ وَهُوَ ثِقَة وَإِذَا لَمْ يَرِدْ فِي الْجَدِيْدِ مَا يُخَالِفُ مَنْصُوْصَ الْقَدِيْمِ فَهُوَ مَعْمُوْل بِهِ يلزم من ذلك أن يكون الشافعي قائلا بوصول ثواب القرآن لأن القرآن أشرف الذكر (الإمتاع للحافظ بن حجر العسقلاني 1 / 85)

     

    “Ini penjelasan yang asing dari al-Syafi’i. Al-Za’farani adalah perawi Qaul Qadim, ia orang terpercaya. Dan jika dalam Qaul Jadid tidak ada yang bertentangan dengan penjelasan Qaul Qadim, maka Qaul Qadim inilah yang diamalkan. Dengan begitu asy-Syafii mengatakan sampainya pahala al-Quran, sebab Quran adalah dzikir yang paling mulia (yaitu boleh membaca al-Quran di kuburan)” (al-Imta’, Ibnu Hajar, I/11).

    (Gus Khotib)

  • Kitab Nazham “Sejarah Besar Nahdlatul Ulama” Karangan KH. Abdul Halim Leuwimunding

    Kitab Nazham “Sejarah Besar Nahdlatul Ulama” Karangan KH. Abdul Halim Leuwimunding

    Mojokerto, Sorban santri. Com – Ini adalah naskah kitab yang berjudul “Sejarah Perjuangan Kiai Haji Abdul Wahhab” karangan salah satu pendiri organisasi Nahdtalul Ulama (NU) yang berasal dari Pasundan (Jawa Barat), tepatnya dari Leuwimunding, Majalengka, yaitu KH. Abdul Halim (1898-1972 M).

    Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu-Indonesia beraksara Arab (Jawi-Pegon) dalam bentuk nazhaman (puisi). Meski berjudul “Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab” (KH. Abdul Wahhab Hasbullah), namun kandungan kitab ini mengungkapkan sejarah besar pendirian dan perjuangan NU dari masa ke masa.

    KH. Abdul Halim Leuwimunding adalah salah satu murid terdekat dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambak Beras Jombang), sekalus kader andalan beliau. Ketika ikut sama-sama membidani kehaliran NU pada tahun 1926 M di Surabaya, KH. Abdul Halim Leuwimunding menjadi salah satu pendiri termuda (selain KH. As’ad Syamsul Arifin, Asembagus Situbondo), sekaligus satu-satunya pendiri yang berasal dari Pasundan. Pada saat itu, KH. Abdul Wahhab Hasbullah menunjuk KH. Abdul Halim Leuwimunding sebagai katib tsani.

    Melalui kitab ini, sejarah organisasi Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah itu didedahkan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding dalam bentuk puisi secara runut, ringkas, dan kaya akan data serta informasi. Karena itu, keberadaan kitab ini menjadi sangat penting sebagai salah satu sumber utama sejarah besar NU yang langsung ditulis oleh salah satu pendirinya.

    Saya mendapatkan salinan naskah ini dari sahabat saya al-Fadhil Agus H. Muhammad al-Barra putra KH. Asep Saefuddin Halim, yang merupakan cucu dari pengarang kitab ini. Rencananya kitab ini akan dijadikan beliau sebagai bahan utama kajian disertasi doktoral beliau pada Departemen Filologi Universitas Padjadjaran Bandung.

    Pada kolofon, disebutkan penulisan kitab ini diselesaikan pada 12 September 1970 M (bertepatan dengan 11 Rajab 1390 Hijri). Kitab ini kemudian dicetak oleh Percetakan “Baru” yang terletak di Jalan Pajagalan 3, Bandung (Jawa Barat), dengan tebal 31 halaman. Tertulis di sana;

    ‎دافت إذن دي جيتاك ايني رواية # ياله تغكال دوابلاس ايتو تفات

    ‎سفتيمبر سمبيلان بلس توجوه فولوه # سيا مغهادف كجومباغ دغن سغكوه

    ‎مودهمودهان توهن ممبري منفعة # فدا رواية ايني يغ سيا سيغكات

    (Dapat izin dicetak ini riwayat # ialah tanggal dua belas itu tepat

    September Sembilan belas tujuh puluh # saya menghadap ke Jombang dengan sungguh

    Mudah-mudahan Tuhan memberi manfaat # pada riwayat ini yang saya singkat)

    Melihat tanggal penulisan kitab ini dalam tahun Hijriah, yaitu 11 Rajab 1390 H), tampaknya kitab ini ditulis untuk menyambut peringatan hari lahir NU yang ke-46. Organisasi NU sendiri diresmikan pada 16 Rajab 1344 Hijri (bertepatan 31 Januari 1926 Masehi).

    Dalam kata pengantarnya, KH. Abdul Halim Leuwimunding mengatakan jika banyak koleganya yang hendak mengetahui sejarah besar NU dari awal mula berdirinya, peran serta kiprahnya dalam perjuangan keagamaan Islam, kebangsaan Indonesia, serta kemanusiaan, hingga sampai pada tahun 1970 ketika karya ini ditulis dan NU sudah menjadi sebuah organisasi keislaman terbesar di Nusantara. Beliau menulis;

    ‎سيا بكين رواية فدا فوكويا # بياق تمان ايغين مغتاهوئييا

    ‎ايغين تاؤ اسال () برديرييا # هيغكا جدي فرتي بسارله ياتيا
    Sumber : https://www.facebook.com/1784976351/posts/10211145309226990/

    ‎ميلوروه سوده دي كنال ناميا # تيدأ اسيغ دونيا مغتاهوئييا

    ‎مكا يغ تيمفو برديري فرتاميا # هيا تيغكال يغ ميسيه امفات اوراغيا

    (Saya bikin riwayat pada poko[k]nya # banyak teman ingin mengetahuinya

    Ingin tau asal NU berdirinya # hingga jadi [se]perti besarlah nyatanya

    Menyeluruh sudah dikenal namanya # tidak asing dunia mengetahuinya

    Maka yang tempo berdiri pertamanya # hanya tinggal yang masih empat orangnya).

    KH. Abdul Halim Leuwimunding kemudian melanjutkan;

    ‎سيا يويون اياله دغن سعيران # بييار اناك2 تاؤ بركمبيرأن

    ‎مغتاهوئي علماء جارا برفيكير # مغتاهوئي تراديسي بهان فميكير

    ‎مورني تيدأ ترجامفور ايدي فنجاجه # سباب غرتي صفة منوسيا حرية

    (Saya susun ialah dengan si’iran # biar anak-anak tau bergembiraan

    Mengetahui ulama cara berpikir # mengetahui tradisi bahan pemikir

    Murni tidak tercampuri ide penjajah # sebab ngerti sifat manusia huriah [merdeka]).

    Dalam menulis kitab nazham sejarah besar NU ini, KH. Abdul Halim terlebih dahulu meminta izin dan restu dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (w. 1971 M) dan KH. Ahmad Syaikhu (w. ?), dan KH. Idham Cholid (yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU). KH. Abdul Halim Leuwimunding menulis;

    ‎سيا مينتا اذن فا كياهي وهاب # سباب ايتو كورو سيا وقتو طلب

    ‎مينتا اذن فا شيخو ياله سبابيا # سباب سورابيا مولائي برديرييا

    ‎جوكا مينتا اذن ككتوا عموم # فا كياهي إدهام فيمفنان هارس معلوم

    (Saya minta izin Pak Kiyai Wahhab # sebab itu guru saya waktu tholab (belajar)

    Minta izin Pak Syaikhu ialah sebabnya # sebab Surabaya mulai berdirinya (NU)

    Juga minta izin ke ketua umum # Pak Kiyai Idham (Cholid) pemimpin harus maklum).

    Dikatakan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding, bahwa dalam menyusun kitab nazham sejarah besar NU ini, dirinya bersandar pada muktamar-muktamar NU yang hingga pada masa itu sudah berlangsung 24 kali. Kesemua (24) muktamar itu selalu dihadiri oleh beliau. Karena itu, sebaga macam perkembangan, perubahan, dan keputusan NU dari masa ke masa dapat diketahui dengan sangat baik oleh beliau.

    KH. Abdul Halim Leuwimunding wafat dan dikebumikan di tempat kelahirannya di Leuwimunding, Majalengka, pada 11 April 1972 M (bertepatan dengan 26 Safar 1392 Hijri). Beliau meninggalkan sebuah pesantren dan institusi pendidikan yang masih lestari hingga kini, yaitu Sabilul Chalim. Salah satu putra beliau, KH. Asep Saeful Halim, tinggal dan berkarir di Surabaya dengan mendirikan pesantren unggulan Amanatul Ummah. KH. Asep Saeful Halim pernah menjabat sebagai ketua PCNU Surabaya dan Ketua PERGUNU PBNU

    Sumber : https://www.facebook.com/1784976351/posts/10211145309226990/

    (Anwar sorban)

  • Haul Ke XXI Riyanto PC GP Ansor Kota Mojokerto Gelar Apel Kebhinekaan dan Doa Bersama

    Haul Ke XXI Riyanto PC GP Ansor Kota Mojokerto Gelar Apel Kebhinekaan dan Doa Bersama

    Sorbansantri.Com – Haul almarhum sahabat Riyanto adalah agenda rutin tiap tahun yang dilaksanakan oleh Jajaran Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Mojokerto. Tahun 2021 ini memperingati Haul yang ke XXI (ke-21)dilaksanakan pada hari minggu (19/12/2021) di lapangan Prajurit kulon. Dengan tema “Apel Kebhinekaan dan Gelar Pasukan”

    Acara dilaksanakan dari pagi pukul 07.00 dimulai dengan Apel Pasukan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan tabur bunga di makam almarhum Riyanto (Makam umum Prajurit Kulon)

    Dalam pelaksanaan Apel dipimpin langsung oleh Ahmad Saifulloh S.Pd.I (ketua PC GP Ansor Kota Mojokerto) yang akrab dipanggil Gus Ipung, sebagai Komandan Apel sahabat Zaenal Abidin, dengan diikuti kurang lebih 300 Anggota Banser juga dari sahabat Pagar Nusa dan Senkom. Hadir juga tamu undangan dari Polres kota, Kodim, PAC Ansor terdekat,IPNU-IPPNU.

    Dalam sambutanya Gus Ipung mengatakan bahwa “Kita (Ansor Banser) selain harus menjaga marwah organisasi,membentengi para Ulama dan NKRI juga harus bisa menjaga marwah serta membentengi diri sendiri dengan keilmuan, kwalitas dan kapasitas untuk menghadapi dunia luar.”.

    “Ansor Banser harus bisa mewujudkan dan menghidupkan NKRI yang penuh dengan kesejahteraan, keadilan dan kesentosaan dan Ansor Banser harus mampu bersikap adil dan seimbang serta harus mampu menjaga dan membangun toleransi antar kehidupan manusia” Lanjut Gus Ipung.

    “Senjata yang paling ampuh bukanlah senjata yang paling canggih dan besar tapi senjata yang paling ampuh adalah Pesatuan dan Kesatuan”. Pungkas Gus Ipung.
    (Anwar-sorban)

  • Gunung Semeru Goro-Goro Tanah Jawa Munculnya Ratu Adil

    Gunung Semeru Goro-Goro Tanah Jawa Munculnya Ratu Adil

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Dalam kitab kuno Tantu Pagelaran yang ditulis pada abad ke-15, dijelaskan asal usul adanya Gunung Semeru di Pulau Jawa. Sejarah dan mitos Gunung Semeru mengatakan konon dulunya Pulau Jawa sempat terapung dan terombang-ambing tak tentu arah di tengah lautan. Menurut kepercayaan yang beredar, saat itulah Dewa Siwa berusaha untuk “memaku” Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru ke Pulau Jawa.
    Hyang Siwa memindahkan Gunung Mahameru Bharatawarsa India ke Pulau Jawa dengan bantuan Dewa Wisnu yang menjelma sebagai kura-kura raksasa dan Dewa Brahma yang menjelma sebagai ular sangat panjang.
    Gunung Meru ini ditancapkan di sisi barat barat Pulau Jawa. Namun karena berat sebelah, maka sebagian Gunung Meru ditancapkan di sisi timur Pulau Jawa. Gunung di sisi barat Jawa kini diberi nama Gunung Pananggungan, sedangkan yang di sisi timur Jawa bernama Semeru atau Mahameru.
    Asal-usul nama Mahameru ini konon berasal dari bahasa sanskerta “Meru Agung”. Meru berarti pusat dari alam semesta, baik secara fisik maupun spiritual. Sedangkan Agung berarti sangat besar, atau bisa juga diartikan Maha. Dari sinilah kemudian puncak Gunung Semeru diberi nama Mahameru.
    Sejarah dan mitos Gunung Semeru berkisah bahwa kehadiran Mahameru di timur Jawa melahirkan gunung-gunung lain yang lebih kecil. Beberapa di antaranya Gunung Lawu, Gunung Kelud, Gunung Wilis, Gunung Kawi, Gunung Arjuna dan Gunung Kemukus. Mungkin karena inilah Gunung Semeru dianggap menjadi gunung yang paling agung. Bahkan sejarah dan mitos Gunung Semeru juga menceritakan bahwa gunung ini adalah bapak dari Gunung Agung Bali.
    Terlebih lagi menurut kepercayaan Hindu, pemindahan Gunung Meru India ke Pulau Jawa juga merupakan pemindahan kayangan para dewa dan nilai-nilai luhur dalam agama Hindu. Jauh sebelum Gunung Meru dipindahkan ke Jawa masyarakat Hindu percaya bahwa gunung ini merupakan tempat bersemayamnya para dewa.
    Gelar Gunung Para Dewa pun dilegitimasi oleh cerita Gunung Semeru sebagai area pertapaan Dewa Siwa. Untuk memperindah lokasi pertapaan, Dewa Siwa disebutkan membuat sebuah danau untuk pemandian. Konon, danau tersebut adalah Ranu Kumbolo. Kisah-kisah itu juga diperkuat dengan ditemukannya situs purbakala di sekitar Gunung Semeru. Yang paling dikenal adalah prasasti di Ranu Kumbolo dan Arcapada.
    Bagi para peneliti, gunung ini ibarat laboratorium arkeologi. Banyak situs purbakala di sana. Diidentifikasi ada sebanyak 123 situs purbakala di sana. Dan masih banyak yang lainnya yang belum di temukan.
    Wujud situs–situs tersebut mulai dari punden berundak, candi, petirtaan atau kolam pemandian kerajaan hingga goa pertapaan. Situs–situs itu berdiri berurutan mulai dari kaki hingga pinggang gunung sebelum puncak.
    Pandangan Hindu Siwaistis yang berpengaruh besar di Nusantara, termasuk Bali. Mereka percaya bahwa Dewa Siwa bersemayam di gunung tertinggi. Itu berarti di puncak gunung Mahameru (Himalaya) di India, atau pucak Gunung Semeru di Nusantara. Teks-teks Purana India yang tergolong kitab Upaweda, memang menyuratkan Tuhan Yang Mahatunggal bersemayam di puncak Mahameru dan dikenal pula dengan nama gunung Kailasa atau gunung Himawa, yang bersalju abadi. Di sanalah Siwa menurunkan ajaran-ajaran-Nya kepada sakti-Nya, Dewi Parwati, Sang Dewi Gunung.
    Kisah sejarah dan mitos Gunung Semeru yang masih dipercaya sampai saat ini adalah bahwa gunung ini merupakan gerbang portal terhubungnya bumi, tempat tinggal manusia, dan kayangan, tempat berkumpulnya para dewa.
    Wabah yang seperti saat ini tengah melanda Indonesia, dulu pernah terjadi pada masa peperangan Diponegoro.
    Selama ini belum banyak yang mengetahui bahwa salah satu faktor Perang Diponegoro adalah karena adanya wabah.
    Pada Tahun 1821, empat tahun sebelum perang tersebut dimulai, pelayar dari Malaka datang ke Semarang, ternyata membawa wabah penyakit Kolera.
    Dalam waktu satu minggu, sebanyak 1275 orang meninggal karena wabah tersebut, dan penyakit itu juga bergerak ke Surakarta, Yogyakarta bahkan sampai ke Batavia pada masa itu.
    Wabah itu juga ditambah dengan krisis pangan dan kekeringan, muncul pergolakan sosial, terus sampai tahun berikutnya. Hingga terjadinya gunung api meletus, dan munculnya Pangeran Diponegoro yang dianggap sebagai Ratu Adil pada saat itu.
    Sedangkan saat wabah Virus korona di Indonesia, juga terjadi bersamaan dengan beberapa peristiwa, seperti adanya gunung meletus setelah kedatangan Raja Belanda, William Alexander.
    Banyak kemiripan antara kondisi saat ini dengan sejarah masa lalu, meskipun sejarah tidak bisa berulang, tapi polanya hampir sama.
    Diponegoro melancarkan perang yang sengit untuk sebuah harapan yang radikal seraya tahu bukan dia sang Ratu Adil yang mengatasi waktu. Ia hanya sarananya. Sebuah nujum menyebut, peran itu tak akan lama: sira srananipun/ mapan iku tan dawa…” (engkaulah sarananya/ meskipun hal itu tak akan lama).
    “Sekali berarti, sudah itu mati,” tulis Chairil Anwar dalam sajaknya, Diponegoro. Yang penting bukanlah hidup atau mati, melainkan membuat perjuangan berarti.
    Dengan itulah harapan mendapatkan “daya mesianik”: harapan akan Keadilan itu mampu melebur batas waktu. (sabdo palon)
  • SEJARAH DAN LEGENDA GUNUNG SEMERU PAKU PULAU JAWA

    SEJARAH DAN LEGENDA GUNUNG SEMERU PAKU PULAU JAWA

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com –  Setu Wage, 4 Desember 2021, sekitar pukul 15.00 Gunung Semeru (Gunung Meru) yang terletak di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur ini, mengalami erupsi cukup dahsyat. Seperti tanpa ada pemberitaan apapun di jagad media, kalaupun ada tidak seperti Gunung Merapi yang dalam beberapa bulam terakhir menghiasi berbagai pemberitaan lokal, nasional bahkan dunia, seolah-olah mengaget masyarakat ketika mendengar bahwa semeru “tiba-tiba” terjadi erupsi. Gunung yang dikenal sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian mencapai 3.676 meter dari permukaan laut ini, sebagaimana gunung manapun memiliki kemenarikan dari sisi panorama, cerita, legenda dan mitos tersendiri. Selain panorama lavender, terdapat Danau Ranu Kumnolo serta pemandangan eksotis yang menjadi pemikat bagi para pendaki dan pecinta alam.

    Dari sisi legenda, gunung ini juga menyimpan legenda dan sejarah yang sangat menarik, bahkan dijuluki sebagai “paku pulau Jawa”. Sebagai mana catatan Rudi Badil, dkk dalam buku “Soe Hok Gie, Sekali Lagi: Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya”, diberitakan bahwa ada sebuah kitab kuno bernama “Tantu Pagelaran” yang diyakini berasal dari abad ke-15.

    Di dalamnya dicatat bahwa suatu kala Pulau Jawa terombang-ambing di atas lautan. Dalam legenda itu diceritakan, Batara Guru (Sang Hyang tunggal) meminta para dewa dan raksasa untuk memindah Gunung Mahameru di India sebagai paku pada Pulau Jawa agar tidak bergerak. Gunung Mahameru kemudian diletakkan di barat Pulau Jawa. Namun, karena bagian timur pulau ini terjungkit ke atas, akhirnya Gunung Mahameru dipindahkan ke timur.

    Dalam perjalanan pemindahan ini, Gunung Mahameru tercecer dan membentuk gunung-gunung lainnya di Pulau Jawa. Diantara “ceceran” tersebut adalah Gunung Lawu yang ada di Karanganyar, Jawa Tengah. Ketika Gunung Mahameru berhasil diletakkan di sebelah timur Pulau Jawa, posisinya miring ke arah utara. Sehingga, dikisahkan ujung gunung tersebut dipotong dan potongannya itu diletakkan di barat laut. Potongan gunung tersebut diberi nama Gunung Pawitra yang kini dikenal sebagai Gunung Penanggungan.

    Dalam membaca sebuah legenda yang penuh hyperbol, tentu tidak bisa kita membaca secara “mentah” karena bisa merusak nalar, akan tetapi dari legenda bisa kita ambil hikmah bahkan catatan pengetahuan dengan menterjemahkan simbol-simbol cerita dalam legenda tersebut.

    Versi lain (sebagai tambahan) dari The Seven Summits of Indonesia tulisan tulisan Hendri Agustin, dalam kepercayaan masyarakat Bali, Gunung Semeru diyakini adalah napak dari Gunung Agung yang ada di Bali. Dalam The Seven Summits of Indonesia dicatat, orang yang pertama kali mendaki Gunung Semeru adalah ahli geologi dari Belanda bernama Clignet di tahun 1838. Dia mendaki dari arah barat daya melalui pintu Widodaren. Tentu ini versi “Narasi Belanda”. Faktanya, sangat mungkin sebelum itu sudah beberapa kali dilakukan pendakian tapi tidak tercatat secara baik…. “mungkin”.
    Sedangkan dalam catatan sejarah pendakian semeru selanjutnya adalah pada tahun 1911 yang dilakukan oleh Van Gogh dan Heim melalui lereng urara. Di tahun 1945, ada seorang ahli botani Belanda yang mendaki melalui jalur utara, yaitu Ayek-ayek, Inder-inder, dan Kepolo. Sekali lagi ini catatan versi Belanda. Pasca pendakian di tahun 1945 tersebut, pendakian ke Gunung Semeru pada umumnya dilakukan dari arah utara melalui Ranu Pani dan Ranu Kumbolo, seperti yang banyak dilakukan saat ini.
    Sejarah Erupsi Semeru
    Dari jejak dan catatan berbagai sumber, Erupsi pertama kali Gunung Semeru tercatat pada 8 November 1818. Berpuluh-puluh aktivitas Gunung Semeru kemudian berlanjut dan yang terakhir tercatat adalah pada akhir 2020 lalu sampai Januari 2021 dan hari ini.
    Ikut berdoa, semoga erupsi gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia berjenis strato hari ini akan membawa banyak hikmah bagi banyak pihak, terutama “pengelola” dan masyarakat sekitar. Bahwa alam memiliki “siklus” sendiri dan manusia adalah bagian dari siklus tersebut. Menjaga, merawat, menghormati dan mempersiapkan berbagai hal ketika alam melakukan siklusnya adalah hal-hal yang bisa kita lakukan, terutama “memprioritaskan” tindakan antisipatif ketika alam sudah mengirimkan tanda-tanda siklus nya.
    “PRAY FOR SEMERU”
    (abi sorban)
  • The Moments : Muktamar NU di Surabaya 1971

    The Moments : Muktamar NU di Surabaya 1971

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com – Ditulis sejumlah literatur bahwa di tahun 1971 KH Abdul Wahab Hasbullah mengalami masa kritis di usia 83 tahun. Saat itu kondisi Mbah Wahab sudah sangat lemah. Seakan sudah tinggal menunggu waktu segera menghadap keharibaan Illahi Rabbi, dan hal ini juga disampaikan oleh para ulama sepuh kepada pihak keluarga.
    Walau demikian, beliau yang kala itu masih tercatat sebagai Rais Aam PBNU mampu melampui masa kritisnya dan malaikat Izrailpun urung menunaikan tugas. Seakan telah meminta ajalnya ditunda sampai menyelesaikan Laporan Pertanggungan Jawab (LPJ) sebagai Rais Aam PBNU pada muktamar yang akan dilaksanakan 3 bulan kemudian.
    KH Bisri Syansuri kala itu datang menjenguk.
    “Kiai, engkau jangan wafat dulu,” kurang lebih begitu ungkapan Kiai Bisri kepada Mbah Wahab.
    “Kiai masih punya utang,”
    Mendengar perkataan Kiai Bisri, sontak Mbah Wahab tersadar dari kondisi kritisnya dan menjawab: “Utang apa?” sergahnya.
    “Engkau masih belum LPJ,” jawab Kiai Bisri.
    Tanggal 20-25 Desember 1971, Muktamar NU diselenggarakan di Surabaya. LPJ pun telah dipertanggungjawabkan. Utang Mbah Wahab lunas dibayar kontan. Meski pada muktamar tersebut, Mbah Wahab kembali dipercaya menjabat Rais Aam, hakikatnya beliau telah menuntaskan perjuangannya di NU.
    Selang 4 hari pasca muktamar selesai, tanggal 29 Desember 1971 KH Abdul Wahab Chasbullah wafat. Kepergiannya merupakan duka mendalam tidak hanya bagi Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama, juga bangsa Indonesia. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. (abi sorban)
  • Ayo Sarungan ! Mengenal Sarung Budaya Warga NU di Indonesia Khususnya Santri

    Ayo Sarungan ! Mengenal Sarung Budaya Warga NU di Indonesia Khususnya Santri

     

     

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Asal muasal penyebutan kata sarung sebenarnya merupakan serapan dari bahasa arab yaitu syar’i, yang memiliki arti sesuatu yang harus diikuti umat Islam, termasuk dalam hal berpakaian. Kata syar’i kemudian memiliki masdar syar’un. Karena masyarakat Indonesia saat itu sulit untuk menyebut serapan ‘n’ maka disebutlah sarung.

    Sarung pada awal kemunculannya diperkenalkan oleh orang-orang Islam yang berdagang di Indonesia, yakni para saudagar Arab dan Gujarat India. Selain melakukan perdagangan, mereka juga menyebarkan agama Islam di Nusantara, ini terjadi sekitar abad ke-14 Masehi. Sehingga dalam perkembangannya, sarung di Indonesia identik dengan kebudayaan Islam.

    Di beberapa catatan tertulis, asal mula sarung berasal dari Yaman. Sebuah kain yang awalnya dipakai oleh suku Badui yang tinggal di sana.

    Masyarakat Yaman menyebutnya sebagai futah. Pada saat itu futah merupakan kain putih yang dicelupkan ke pewarna yang berwarna hitam. Adanya perdagangan yang membuat eksistensi sarung semakin meluas. Karena pada saat itu industri tekstil adalah komoditas raksasa dalam perdagangan era Islam.

    Standar kualitas tekstil dalam perdagangan masyarakat muslim di semenanjung Arab sangat tinggi. Sehingga industri tekstil di era Islam sangat berpengaruh besar terhadap bangsa barat. Sarung telah menjadi pakaian tradisional masyarakat Yaman saat itu. Bahkan sekarang sarung masih menjadi salah satu oleh-oleh tradisional khas Yaman.

    Sarung juga menunjukkan eksistensinya saat zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan simbol perlawanan terhadap budaya barat yang dibawa oleh para penjajah. Kaum santri adalah orang-orang yang paling konsisten dalam mengenakan sarung. Sedangkan kaum nasionalis abangan hampir meninggalkan sarung dan beralih ke budaya barat dengan mengenakan celana panjang.

    Itulah sejarah singkat mengenai awal mula kemunculan sarung di Indonesia bahkan eksistensinya saat zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia. Terlepas dari itu semua, sarung adalah salah satu item yang telah melekat pada masyarakat Indonesia dan menjadi identitas diri seorang santri. (W S R sorban)

  • JAS HIJAU YANG HILANG DI ORDE BARU

    JAS HIJAU YANG HILANG DI ORDE BARU

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com
    – TKR pertama, Yang nanti menjadi TNI. Dan komandan divisi pertama TKR itu bernama Kolonel KH. Sam’un, pengasuh pesantren di Banten. Komandan divisi ketiga masih Kyai, yakni kolonel KH. Arwiji Kartawinata (Tasikmalaya). Sampai tingkat resimen Kyai juga yang memimpin.
    Fakta, resimen 17 dipimpin oleh Letnan Kolonel KH. Iskandar Idris. Resimen 8 dipimpin Letnan Kolonel KH. Yunus Anis. Di batalyon pun banyak komandan Kyai. Komandan batalyon TKR Malang misalnya, dipimpin Mayor KH. Iskandar Sulaiman yang saat itu menjabat Rais Suriyah NU Kabupaten Malang. Ini dokumen arsip nasional, ada Sekretariat Negara dan TNI.
    Tapi semua data itu tidak ada di buku bacaan anak SD/SMP/SMA. Seolah tidak ada peran Kyai. KH. Hasyim Asy’ari yang ditetapkan pahlawan oleh Bung Karno pun tidak ditulis. Jadi jasa para Kyai dan santri memang dulu disingkirkan betul dari sejarah berdirinya Republik Indonesia ini.
    Waktu itu, Indonesia baru berdiri. Tidak ada duit untuk bayar tentara. Hanya para Kyai dengan santri-santri yang menjadi tentara dan mau berjuang sebagai militer tanpa bayaran. Hanya para Kyai, dengan tentara-tentara Hizbulloh yang mau korban nyawa tanpa dibayar. Sampai sekarang pun, NU masih punya tentara swasta namanya Banser, ya gak dibayar. Wkwkwk
    Tentara itu baru menerima bayaran pada tahun 1950. Selama perjuangan 45 sampai di tahun 50-an itu, tidak ada tentara yang dibayar negara.
    Kalau mau mikir, 10 November Surabaya adalah peristiwa paling aneh dalam sejarah. Kenapa? Kok bisa ada pertempuran besar yang terjadi setelah perang dunia selesai 15 Agustus.
    Sebelum pertempuran 10 November, ternyata ada perang 4 hari di Surabaya. Tanggal 26, 27, 28, 29 oktober 1945. Kok ‘ujug-ujug’ muncul perang 4 hari ceritanya gimana? Jawabnya: Karena sebelum tanggal 26 Oktober, Surabaya bergolak, setelah ada fatwa resolusi jihad PBNU pada tanggal 22 Oktober. Kini diperingati sbg Hari Santri.
    Tentara Inggris sendiri aslinya tidak pernah berfikir akan perang dan bertempur dg penduduk Surabaya. Perang sdh selesai kok, Begitu pikirnya. Tapi karena masarakat Surabaya terpengaruh fatwa dan resolusi jihad, mereka nyerang Inggris, yang waktu itu mendarat di Surabaya. Sejarah inilah yang selama ini ditutupi.
    Jika resolusi jihad ditutupi, orang yang membaca sekilas peristiwa 10 November akan menyebut tentara Inggris ‘ora waras’. Ngapain Ngebomi kota Surabaya tanpa sebab? Tapi kalau melihat rangkaian dari resolusi jihad, baru masuk akal; “Oya, mereka marah karena jenderal dan pasukannya dibunuh arek-arek Bonek Suroboyo”.
    Fatwa Jihad muncul karena Presiden Soekarno meminta fatwa kepada PBNU: apa yg harus dilakukan warga Negara Indonesia kalau diserang musuh mengingat Belanda ingin kembali menguasai. Bung Karno juga menyatakan bagaimana cara agar Negara Indonesia diakui dunia. Sejak diproklamasikan 17 Agustus, tidak ada satupun negara di dunia yang mau mengakui.
    Oleh dunia, Indonesia diberitakan sebagai Negara boneka bikinan Jepang. Bukan atas kehendak rakyat. Artinya, Indonesia disebut sebagai negara yang tidak dibela rakyat. Fatwa dan Resolusi Jihad lalu dimunculkan oleh PBNU. Gara-gara itu, Inggris yang mau datang 25 Oktober tidak diperbolehkan masuk Surabaya karena penduduk Surabaya sudah siap perang.
    Ternyata sore hari, Gubernur Jawa Timur mempersilakan. “Silahkan Inggris masuk tapi di tempat yang secukupnya saja”. Ditunjukkanlah beberapa lokasi, kemudian mereka masuk. Tanggal 26 Oktober, ternyata Inggris malah membangun banyak pos-pos pertahanan dengan karung-karung pasir yang ditumpuk & diisi senapan mesin.
    “Lho, ini apa maunya Inggris. Kan sudah tersiar kabar luas kalau Belanda akan kembali menguasai Indonesia dengan membonceng tentara Inggris”, begitu kata arek-arek. Pada 26 Oktober sore hari, pos pertahanan itu diserang massa. Penduduk Surabaya dari kampung-kampung keluar ‘nawur’ pasukan inggris. “Ayo ‘tawur..tawuran..’!”.
    Para pelaku mengatakan, itu bukan perang mas, tp tawuran. Kenapa? Gak ada komandanya, gak ada yg memimpin. “Pokoke wong krungu jihad.. jihad… Mbah hasyim.. Mbah hasyim…”. Berduyun-duyun, arek2 Suroboyo sudah keluar rumah semua dan langsung tawur sambil teriak ‘Allahu Akbar’ dan itu berlangsung 27 Oktober. Mereka bergerak karena seruan jihad Mbah Hasyim itu disiarkan lewat langgar-langgar, masjid-masjid, dan spiker-spiker. Pada 28 Oktober, tentara ikut arus arek2, ikut gelut dengan Inggris. Massa langsung dipimpin tentara. Dalam pertempuran 28 Oktober ini, 1000 lebih tentara Inggris mati dibunuh.
    Tapi tentara tidak mau mengakui, karena Indonesia meski sudah merdeka, belum ada yang mengakui. Itu jadi urusan besar tingkat dunia jika ada kabar tentara Indonesia yg bunuh Inggris. Tentara tidak mau ikut campur. Negara belum ada yang mengakui kok sudah klaim bunuh tentara Inggris. Itu semua ikhtiyar arek-arek Suroboyo kabeh.
    Pada 29 Oktober pertempuran itu masih terus terjadi. Inggris akhirnya mendatangkan presiden Soekarno dan wakil presiden Mohammad Hatta utk mendamaikan. Pada 30 Oktober ditandatanganilah kesepakatan damai tidak saling tembak-menembak. Yang tanda tangan Gubernur Jatim juga. Sudah damai, tapi massa kampung tidak mau damai.
    Pada 30 Oktober, akhirnya Brigadir Jenderal Mallaby digranat arek-arek Suroboyo. Mati mengenaskan di tangan pemuda Ansor. Ditembak, mobilnya digranat di Jembatan Merah. Sejarah kematian Mallaby ini tidak diakui oleh Inggris. Ada yang menyebut Mallaby mati dibunuh secara licik oleh Indonesia. Aneh, jenderal mati tp disembunyikan sebabnya karena malu.
    Inggris marah betul. Masa negara kolonial kalah. Mereka malu & bingung. Perang sudah selesai, tapi pasukan Inggris kok diserang, jenderalnya dibunuh. Apa ini maksudnya? “Kalau sampai tanggal 9 Nopember jam 6 sore pembunuh Mallaby tidak diserahkan, dan tanggal itu orang-orang surabaya masih yang memegang bedil, meriam dst. tidak menyerahkan senjata kepada tentara Inggris, maka tanggal 10 Nopember jam 6 pagi Surabaya akan dibombardir lewat darat, laut, dan udara,” begitu amuk jenderal tertinggi Inggris.
    Datanglah tujuh kapal perang langsung ke Pelabuhan Tanjung Perak. Meriam Inggris sudah diarahkan ke Surabaya. Diturunkan pula meriam Howidser yang khusus untuk menghancurkan bangunan. Satu skuadron pesawat tempur dan pesawat pengebom juga siap dipakai. Surabaya kala itu memang mau dibakar habis karena Inggris marah kepada pembunuh Mallaby.
    Pada 9 November jam setengah empat sore, Mbah Hasyim yang baru pulang usai Konferensi Masyumi di Jogja sebagai ketua, mendengar kabar arek-arek Suroboyo diancam Inggris. “Fardhu a’in bagi semua umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilo dari Kota Surabaya untuk membela Kota Surabaya”. 94 kilo itu- jarak dibolehkannya solat qoshor.
    Wilayah Sidoarjo, Tulungagung, Trenggalek,Kediri, wilayah Mataraman, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Jombang datang semua karena dalam jarak radius 94 kilo. Dari Kediri, Lirboyo ini datang dipimpin Kyai Mahrus. Seruan Mbah Hasyim langsung disambut luar biasa. Bahkan Cirebon yang lebih dari 500 kilo datang- ke Surabaya ikut seruan jihad PBNU.
    Anak-anak kecil bahkan orang-orang dari lintas agama juga ikut perang. Orang Konghucu, Kristen, dan Budha semua ikut jihad. Selain Mallaby, pertempuran di Surabaya menewaskan Brigadir jendral Loder Saimen. Luar biasa pengorbanan arek-arek Surabaya, para Kyai, dan santri. Tapi lihat, apa yg dilakukan pemerintah di kemudian hari kepada para Kyai ini? Dimanipulasi.
    (bedah buku “Fatwa dan Resolusi Jihad” di Pondok Lirboyo 3 November 2017.)
    (abi sorban)