Tag: KAJIAN ISLAMI

  • Permulaan Mendapat Hidayah – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Permulaan Mendapat Hidayah – KITAB BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, Infokom Banser NU – بسم الله الرحمن الرحيم  Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam atas makhluk-Nya termulia, Muhammad, Rasul dan hamba-Nya, serta atas keluarga dan sahabat beliau.

    Ketahuilah wahai manusia yang ingin mendapat curahan ilmu, yang betul-betul berharap dan sangat haus kepadanya, bahwa jika engkau menuntut ilmu guna bersaing, berbangga, mengalahkan teman sejawat, meraih simpati orang, dan mengharap dunia, maka sesungguhnya engkau sedang berusaha menghancurkan agamamu, membinasakan dirimu, dan menjual akhirat dengan dunia. Dengan demikian, engkau mengalami kegagalan, perdaganganmu merugi, dan gurumu telah membantumu dalam berbuat maksiat serta menjadi sekutumu dalam kerugian tersebut. Gurumu itu seperti orang yang menjual pedang bagi perompak jalanan, sebagaimana Rasul saw. bersabda, “Siapa yang membantu terwujudnya perbuatan maksiat walaupun hanya dengan sepenggal kata, ia sudah menjadi sekutu baginya dalam perbuatan tersebut. ”

    Jika niat dan maksudmu dalam menuntut ilmu untuk mendapat hidayah, bukan sekadar mengetahui riwayat, maka bergembiralah. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya untukmu saat engkau berjalan dan ikan-ikan paus di laut memintakan ampunan bagimu manakala engkau berusaha. Tapi, engkau harus tahu sebelumnya bahwa hidayah merupakan buah dari ilmu engetahuan. Hidayah memiliki permulaan dan akhir serta aspek lahir dan batin. Untuk mencapai titik akhir tersebut, permulaannya harus tersusun rapi. Begitu pula, untuk menyingkap aspek batinnya, harus diketahui terlebih dahulu aspek lahirnya.

    Oleh karena itu, di sini akan aku tunjukkan padamu permulaan dari sebuah hidayah agar engkau bisa mencoba dirimu dan menguji hatimu. Apabila engkau mendapati hatimu condong pada hidayah tersebut lalu dirimu berusaha untuk menggapainya, maka setelah itu engkau bisa melihat perjalanan akhir darinya yang melaju dalam lautan ilmu. Sebaliknya, jika engkau mendapati hatimu berat dan lengah dalam mengamalkan apa yang menjadi konsekuensinya, ketahuilah bahwa jiwa yang mendorongmu untuk menuntut ilmu tersebut adalah jiwa al-ammaarah bi as-su’ (yang memerintahkan pada keburukan). Jiwa tersebut bangkit karena taat kepada setan terkutuk untuk dijerat dengan tali tipuannya. Ia terus memberikan tipudayanya kepadamu sampai engkau betul-betul binasa. Ia ingin agar engkau memperbanyak kejahatan dalam bentuk kebaikan sehingga ia bisa memasukkanmu dalam kelompok orang yang merugi dalam amalnya. Yaitu, mereka yang sesat di dunia ini, yang mengira bahwa mereka telah melakukan suatu perbuatan baik.

    Saat itu setan menceritakan padamu tentang keutamaan ilmu, derajat para ulama, serta berbagai riwayat di seputarnya. Namun, setan tersebut membuatmu lalai dari sabda Nabi saw., “Siapa yang bertambah ilmu, tapi tidak bertambah hidayah, ia hanya bertambah jauh dari Allah. ” Juga dari sabda Nabi saw. yang berbunyi, “Orang yang paling keras siksanya dihari kiamat, adalah orang alim yang ilmunya tak Allah berikan manfaat padanya. ”

    Nabi saw. berdoa:

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
    Allahumma innii a’udzubika min ‘ilmi laa yanfa’u wa qalbin laa yakhsya’ wa ‘ amalin laa y urf a’ u w a du’ain laa yusma’u

    “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari amal yang tak diterima, dan dari doa yang tak didengar. ”

    Sabda Nabi saw., “Di malam aku melakukan Israk, aku melewati sekelompok kaum yang bibir mereka digunting dengan gunting api neraka. Lalu aku bertanya, ‘Siapa kalian? ’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang memerintahkan kebaikan tapi tidak melakukannya, dan mencegah keburukan tapi kami sendiri mengerjakannya! ”

    Oleh karena itu, jangan engkau serahkan dirimu untuk – diperdaya oleh jerat tipuannya. Celaka sekali bagi orang bodoh, karena ia tidak belajar. Tapi celaka seribu bagi orang alim yang tak mengamalkan ilmunya!

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH

  • 3 JENIS MANUSIA DALAM MENUNTUT ILMU – BIDAYATUL HIDAYAH

    3 JENIS MANUSIA DALAM MENUNTUT ILMU – BIDAYATUL HIDAYAH

    Ngaji, InfokomBanserNU-

    بسم الله الرحمن الرحيم

    (1) Seseorang yang menuntut ilmu guna dijadikan bekal untuk akhirat dimana ia hanya ingin mengharap rida Allah
    dan negeri akhirat. Ini termasuk kelompok yang beruntung;

    (2) Seseorang yang menuntut ilmu guna dimanfaatkan dalam kehidupannya di dunia sehingga ia bisa memperoleh
    kemuliaan, kedudukan, dan harta. Ia tahu dan sadar bahwa keadaannya lemah dan niatnya hina. Orang ini termasuk ke dalam kelompok yang berisiko. Jika ajalnya tiba sebelum sempat bertobat, yang dikhawatirkan adalah penghabisan yang buruk (su’ ul-khatimah ) dan keadaannya menjadi berbahaya. Tapi jika ia sempat bertobat sebelum ajal tiba, lalu berilmu dan beramal serta menutupi kekurangan yang ada, maka ia termasuk orang yang beruntung pula. Sebab, orang yang bertobat dari dosanya seperti orang yang tak berdosa;

    (3) Seseorang yang terperdaya oleh setan. Ia pergunakan ilmunya sebagai sarana untuk memperbanyak harta, serta
    untuk berbangga dengan kedudukannya dan menyombongkan diri dengan besarnya jumlah pengikut. Ilmunya menjadi tumpuan untuk meraih sasaran duniawi. Bersamaan dengan itu, ia masih mengira bahwa dirinya mempunyai posisi khusus disisi Allah karena ciri-ciri, pakaian, dan kepandaian berbicaranya yang seperti ulama, padahal ia begitu tamak kepada dunia lahir dan batin.

    Orang dari kelompok ketiga di atas termasuk golongan yang binasa, dungu, dan tertipu. Ia tak bisa diharapkan bertobat karena ia tetap beranggapan dirinya termasuk orang baik. Ia lalai dari firman Allah Swt. yang berbunyi, “Wahai orang orang yang beriman. Mengapa kalian mengatakan apa-apa yang tak kalian lakukan?!” (Q.S. ash-Shaff: 2). Ia termasuk mereka yang disebutkan Rasul saw., “Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ketimbang Dajjal. ” Beliau kemudian ditanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ulama su’ (buruk).” Sebab, Dajal memang bertujuan menyesatkan, sedangkan ulama ini, walaupun lidah dan ucapannya memalingkan manusia dari dunia, tapi amal perbuatan dan keadaannya mengajak manusia ke sana.

    Padahal, realita lebih berbekas dibandingkan ucapan. Tabiat manusia lebih terpengaruh oleh apa yang dilihat ketimbang mengikuti apa yang diucap. Kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatannya lebih banyak daripada perbaikan yang di sebabkan oleh ucapannya. Karena, biasanya orang bodoh mencintai dunia setelah melihat si alim cinta pada dunia. Ilmu pengetahuan yang dimilikinya, menjadi faktor yang menyebabkan para hamba Allah berani bermaksiat pada-Nya. Nafsunya yang bodoh tertipu, tapi masih memberi angan-angan dan harapan padanya. Bahkan, ia mengajaknya untuk mempersembahkan sesuatu untuk Allah dengan ilmunya. Nafsu tersebut membuatnya beranggapan bahwa ia lebih baik dibandingkan hamba Allah yang lain.

    Maka dari itu, jadilah engkau termasuk golongan yang pertama. Waspadalah agar tidak menjadi golongan kedua
    karena betapa banyak orang yang menunda-nunda, ternyata ajalnya tiba sebelum bertaubat sehingga akhirnya rugi dan kecewa. Lebih dari itu, waspadalah! Jangan sampai engkau menjadi golongan ketiga karena engkau betul-betul akan binasa, tak mungkin selamat dan bahagia.

    Apabila engkau bertanya, “Apa permulaan dari hidayah tersebut sehingga aku bisa menguji diriku dengannya?” Maka ketahuilah bahwa hidayah bermula dari ketakwaan lahiriah dan berakhir dengan ketakwaan batiniah. Tak ada balasan kecuali dengan takwa dan tak ada hidayah kecuali bagi orang-orang bertakwa. Takwa adalah ungkapan yang mengandung makna melaksanakan perintah Allah Swt. dan menghindarkan larangan-larangan-Nya. Masing-masing ada dua bagian. Di sini aku akan menunjukkan kepadamu secara ringkas aspek lahiriah dari takwa dalam dua bagian tersebut secara bersamaan. Aku masukkan bagian ketiga agar tulisan menjadi lengkap dan cukup. Allah tempat meminta pertolongan.

    IMAM AL GHAZALI RH | BIDAYATUL HIDAYAH

  • PEMBAGIAN THOHAROH ATAU BERSUCI

    PEMBAGIAN THOHAROH ATAU BERSUCI

    ngaji, InfokomBanserNU- THOHAROH Secara Bahasa THOHAROH berma’na bebersih, sedangkan secara istilah memiliki banyak arti salah satunya adalah pekerjaan yang bisa menjadikan bolehnya untuk sholat.

    Sedangkan jika TH0HAROH (Tho’ dibaca dhommah) berarti sisa air yang digunakan bersuci seperti di Teko, dll bukan seperti di sumur.

    Thoharoh sendiri dibagi menjadi 2

    1. Wajib contoh : bersuci dari hadats, dll. Thoharoh yang wajib juga dibagi a. Membersihkan badan dan b.Membersihkan hati
    2. Sunnah contoh : memperbarui wudhu’

    Source : Al-Iqna’ dan Tausyeh.(mjbr)

  • Kisah Abah Guru Ketika Tsanawiyah

    Kisah Abah Guru Ketika Tsanawiyah

    wp.sorbansantri.com – Abah Guru Sekumpul masih muda bersama Guru Semman Mulia Sedikit mengambil berkah kisah Abah Guru Waktu Abah Guru sekolah di Darussalam kelas satu tsanawiyah, beliau termasuk murid yang jenius, bukan pandai lagi, kalau ulangan selalu dapat nilai “jayyid jiddan” artinya nilai tertinggi. Namun paman beliau Guru Semman Mulia, ingin keponakannya benar-benar ‘alim.

    Dan dikelas beliau mengajar itu ada pengajarnya yang ahli ilmu. Guru Semman meminta wali kelasnya supaya keponakannya jangan dinaikkan kelas supaya bisa belajar setahun lagi dengan pengajarnya yang ‘alim itu.

    Lalu Abah Guru dipanggil oleh Guru Seman selaku guru senior, dan menanyakan kepada Abah Guru dengan berbagai pertanyaan agama, dan Abah Guru bisa menjawabnya.

    Setelah Semua pertanyaan itu habis ditanyakan, akhirnya guru seman bertanya ” Zaini, berapa jumlah bulu ketiak ikam???” (Wahai Zaini, berapakah jumlah bulu ketiakmu?), maka Abah Guru pun tidak dapat menjawabnya.. Kemudian kata Guru Semman, “han kada ‘alim ikam kada bisa menjawab, mun kada naik kelas jangan salahkan aku lah” (kalau tidak bisa menjawab berarti kamu belum ‘alim, jangan salahkan saya kalau kamu tidak naik kelas).

    Akhirnya memang Abah Guru tidak naik kelas atas permintaan pamannya sendiri dengan tujuan yang mulia.. Dan Guru Semman sendiri sudah tau bahwa Abah Guru nanti akan menjadi orang besar, maka beliau di tarbiyah supaya jangan diri merasa ‘alim, padahal nilai-nilai Abah Guru selalu yang tertinggi.

    (KALAM PARA ULAMA’)

  • Kisah KH Abdullah Salam Memberi Jas Mahal Pada Tamu

    Kisah KH Abdullah Salam Memberi Jas Mahal Pada Tamu

    Infokom Ansor Banser NU- Mbah Dullah punya selera yang tinggi dalam berpakaian. Koleksi jam tangan Beliau didominasi merk Mido, waktu itu sekitar tahun 90-an, sudah ada yang berbandrol 9jt, ada yang 6jt.

    Almari pakaian Beliau dipenuhi sarung merk BHS dan belbagai macam jas. Beliau memang penyuka jas, dan Beliau juga mahir bikin jas, karena di waktu muda dulu, di sela mengabdi di Pesantren, Beliau juga berprofesi sebagai seorang penjahit pakaian, bahkan jas. Sampai sepuh, Beliau masih suka menjahit baju yang bakal beliau kenakan.

    Suatu hari, seorang santri diutus Mbah Dullah mencari kain wool untuk dibikin jas. Contoh kain tersebut dibawakan agar tidak keliru dalam membeli. Santri tersebut ngubek-ubek toko kain sekota Kudus, namun belum menemukan kain yang sesuai dengan contoh yang diberikan.

    Esok harinya, Kota Semarang yang dituju. Si santri muter-muter hampir ke seluruh toko kain dan mall se-Semarang. Alhamdulilah, di salah satu mall yang megah, kain yang sesuai dengan contoh yang dibawa si santri didapatkan. Harganya? Hampir 3 juta permeter. Total pembelian untuk ukuran jas yang dikehendaki, 5 juta lebih. Lalu kain tersebut dibawa oleh si santri ke penjahit jas yang terkenal, “Eka Karya” di jalan Kyai Saleh, Semarang, sesuai arahan Sang Kiai.

    Contoh jas sebagai ukuran dan kain wool-pun diserahkan pada sang penjahit. Sang penjahit berucap “Yo, Kang. Jas pesanan akan segera kami bikin, nanti kalau jas sudah jadi tidak usah diambil ke sini, akan kami antar sendiri ke Kajen sekalian sowan”.

    Sang penjahit yang asli Wedung, Demak, memang kenal dengan Mbah Dullah. Lalu si santri-pun pulang. Lewat satu minggu, Sang Penjahit sudah datang di Kajen, mencari si santri minta diantar untuk sowan. Sang penjahit kemudian diantar si santri sowan, dalam pisowanan tersebut, sudah ada tamu lain yang menunggu, yang juga hendak bertamu pada Mbah Dullah. Setelah bertemu dengan Mbah Dullah, sang penjahit menyerahkan jas pesanan, Mbah Dullah-pun mencoba memakai jas baru tersebut. Pas! Enak dipakai dan bagus sekali..

    Sang penjahit pun pamit permisi setelah makan, ongkos pembikinan jas digratiskan untuk tabarrukan. Lalu, tamu lain yang tadi bareng sowan nyeletuk, sekedar basa-basi, “Mbah, jas-e sae sanget”. Mbah Dullah menyahut, “Jenengan remen?”. “Nggih, sae sanget”. Mbah Dullah ngendikan, “nek Jenengan remen, monggo Jenengan betho mawon, kangge Jenengan”. Jas-pun kembali dimasukkan ke pembungkusnya, diserahkan pada Sang Tamu tadi.

    Sang Tamu yang awalnya jengah menerima, akhirnya tetap membawa jas tersebut karena setengah dipaksa. Si santri melongo, memendam rasa dongkol yang tiba-tiba menggunung memenuhi hatinya, teringat perjuangannya mendapatkan kain bahan jas itu. “Kenapa tidak diberikan ke saya saja, mbah?”, jeritnya dalam hati. Begitulah, Mbah Dullah!

    Makanya tidak heran jika waktu itu banyak Santri Ndalem yang bersarung BHS dan ber-arloji Mido, hadiah dari Sang Kiai. Teruntuk Mbah Dullah, alfatihah…

    cerita ini disarikan dari tutur Sang Santri, Kang Sunhadi!

    Oleh: Mujibur Rachman Ma’mun, Pengasuh Pesantren Al Hikmah Kajen, cucu Mbah Dullah Salam Kajen

    (Kalam Para Ulama)

  • Kisah Mbah Maksum Lasem dan Etnis Tionghoa

    Kisah Mbah Maksum Lasem dan Etnis Tionghoa

    Infokom Ansor Banser NU- Mbah Maksum Lasem dikenal sebagai kiai yang penuh karomah. Banyak kisah yang menegaskan Mbah Maksum sebagai kekasih Allah, salah satunya pernah ditemui Nabi Muhammad. Beliau mendirikan Pesantren Al-Hidayat Lasem setelah berhenti berdagang, karena mendapatkan petunjuk yang langsung ditemui Nabi Muhammad.

    Mbah Maksum bersahabat dekat dengan para kiai besar di Nusantara. Salah satunya adalah KH.M. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, dan lainnya. Makanya, tidak salah Mbah Maksum masuk sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Beliau sangat cinta dengan NU, dan mengajak santri-santrinya untuk berjuang di NU.

    Prinsip hidup Mbah Maksum itu moderat, persis dengan jalan perjuangan NU. Makanya, semua yang ada di sekitar Mbah Maksum begitu senang dengan kehadiran beliau. Salah satunya adalah warga Tionghoa, karena masyarakat Tionghoa banyak yang hidup di Lasem. Mbah Maksum tetap menjaga hubungan baik dengan mereka, tanpa diskriminasi.

    Ini dikisahkan oleh putri Mbah Maksum, yakni Ibu Nyai Azizah Maksum. Sebelum mendirikan pesantren, kisah Nyai Azizah, Mbah Maksum membangun tujuh masjid yang ada di Lasem. Mbah Maksum ngaji keliling di masyarakat, dari satu desa ke desa lain di Rembang dan Lasem. Mbak Maksum sangat akrab dengan masyarakat, termasuk dengan warga Tionghoa.

    Suatu hari, ada warga Tionghoa yang mengeluh. Ada apa? Ternyata buah mangga miliknya sering hilang karena diambil para santri. Tahu keluhan warga Tionghoa ini, Mbah Maksum segera menelusuri siapa santri yang melakukan itu. Ketika sudah diketahui, maka dipanggillah santri itu, juga warga Tionghoa.

    Santri yang mencuri mangga Tionghoa itu kemudian dihukum Mbah Maksum. Santri itu disuruh nungging, lalu dipukul bokongnya. Warga Tionghoa menyaksikan itu di depannya. Santri itu juga disuruh meminta maaf. Dengan itulah, Mbah Maksum mendidik santrinya, sekaligus menjaga hubungan harmonis dengan warga Tionghoa.

    (kalam para ulama’)

  • 5 RUKUN QOULI UCAPAN DALAM SHOLAT

    5 RUKUN QOULI UCAPAN DALAM SHOLAT

    Rukun sholat ada 3 kategori, yaitu rukun qolbi, qouli & fi’li. Yang mana jika ditinggalkan (baik sengaja maupun tidak sengaja) maka sholatnya menjadi tidak sah. Salah satu rukun yang sering kali ditinggalkan adalah Rukun Qouli (Ucapan).

    Yang mana bacaanya tidak boleh dibaca didalam hati, harus diucapkan minimal didengar oleh telinga sendiri. Jangan terlalu keras apalagi ketika sholat berjama’ah, karena dapat mengganggu jama’ah disebelahnya.
    .
    RUKUN QOULI ADA 5, yaitu :

    ⒈ TAKBIRATUL IHRAM
    ⒉ SURAH AL FATIHAH
    ⒊ TAHIYAT AKHIR
    ⒋ SHOLAWAT PADA TAHIYAT AKHIR
    ⒌ SALAM (SALAM PERTAMA)


    Adapun syarat-syaratnya masing -masing, diantaranya :

    ☞⒈ Takbiratul Ihram (mengucapkan “Allahu Akbar”)

    • Dilakukan pada waktu berdiri pada sholat (bagi orang yang sholat berdiri)
    • Menghadap kiblat
    • Harus memakai bahasa Arab
    • Harus menggunakan lafadz “Allah” (الله) dan kalimat “Akbar” ( أكْبَر)
    • Harus tertib antara lafadz “Allah” lalu lafadz “Akbar”
    • Memakai lafadz “Allah” (tidak boleh diganti dengan nama-nama dari Asmaul Husna), contoh ar-rohman, dll.
    • Harus benar dalam pengucapan lafadznya
      diantaranya :
      • Tidak memanjangkan suara “A” pada kalimat Allah (contoh : Aaallahu …)
      • Tidak memanjangkan suara “BA” pada kalimat Akbar (contoh : … Akbaaar)
      • Tidak mentasydidkan lafadz “akbar” (contoh : … akabbar)
      • Tidak menambah suara panjang pada kalimat “HU” (allahuuu ….)
      • Tidak menambah suara “WA” diantara kalimat Allahu dengan Akbar (Allahu wakbar)
      • Tidak menambah suara “WA” sebelum kalimat Allah (wallahu Akbar)
      • Tidak boleh berhenti antara dua kalimat (allahu akbar)
    • Tidak menyembunyikan satu huruf pun dari huruf-hurufnya
    • Harus terdengar bacaan takbirnya (minimal oleh telinga sendiri)
    • Waktu membaca takbiratul ihram setelah masuknya waktu sholat (jika belum, maka tidak sah)
    • Bagi yang berjama’ah, maka takbirnya makmum setelah takbirnya imam.
    • Berusaha menyamakan tatkala mengucapkan takbir dengan bersama mengucapkan niat dalam hati

    ☞ 2. Bacaan surat Al-Fatihah

    • Tertib
      yaitu membaca surat al-Fatihah sesuai urutan ayatnya
    • Muwalat
      yaitu membaca surat al-Fatihah dengan tanpa terputus
    • Memperhatikan makhroj huruf (tempat keluar huruf) serta tempat-tempat tasydid.
    • Tidak lama terputus antara ayat-ayat al-Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.
    • Membaca semua ayat al-Fatihah.
    • Basmalah termasuk ayat dari al-fatihah.
    • Tidak menggunakan lagu yang dapat merubah makna.
    • Membaca surat al-Fatihah dalam keaadaan berdiri (jika sholatnya dalam keadaan berdiri)
    • Mendengar surat al-Fatihah yang dibaca.
    • Tidak terhalang oleh dzikir yang lain.

    Apakah Makmum masih harus membaca Al Fatihah di belakang Imam pada saat Sholat Jahriyah (dikeraskan) ???
    • Dalam mazhab Syafi’i, Makmum masih berkewajiban membaca Alfatihah.
    Ada 2 cara melakukannya :
    1. cara pertama, mengikuti setiap imam selesai membaca 1 ayat
    2. Cara yang kedua, membaca Al fatihah setelah bacaan Al fatihah nya Imam selesai seluruhnya. Sehingga sebelum melanjutkan ke surah lainnya, Imam dianjurkan memberikan waktu sebentar bagi makmum untuk menyelesaikan al fatihahnya, dimaksudkan agar makmum bisa fokus dalam pembacaan surah berikutnya yang dibaca oleh imam.
    • Sedangkan Mazhab lainnya berpendapat Al fatihahnya makmum sudah ditanggung oleh Imam.

    ☞ 3. Tahiyat Akhir

    • Dalam duduk yang betul
    • mendengar bacaan yang dibaca
    • tertib
    • memlihara hurufnya
    • memelihara lafadznya
    • memelihara tasydidnya

    4. Sholawat pada tahiyat akhir

    • Memlihara hurufnya
    • memelihara tasydidnya
    • memlihara kalimatnya
    • mendengarkan bacaan yang dibaca
    • Tertib
    • Dalam duduk tahiyyat akhir
    • Minimal sholawat yang dibaca adalah “Allahumma sholli ala Muhammad”, dianjurkan dilengkapi dengan membaca sholawat Ibrahimiyah

    ☞ 5. Salam (Assalamu’alaikum wa rahmatullah)

    • Memlihara hurufnya
    • memelihara tasydidnya
    • memelihara kalimatnya
    • mendengarkan bacaan salam yang dibaca
    • Tertib
    • Dalam duduk tahiyyat akhir

    Disunnahkan menoleh ke kanan ketika salam pertama, dan ke kiri ketika salam kedua.

    Jumhur (mayoritas) Ulama berpendapat yang menjadi rukun hanya salam pertama, sedangkan salam kedua hukumnya sunnah. Maka jika terjadi hal yang membatalkan sholat pada saat salam kedua (misalnya : kentut dll), maka Ulama berbeda pendapat
    • pendapat pertama, sholatnya tetap sah, tetapi kehilangan sunnah mengucapkan salam yang kedua
    • pendapat kedua, sholatnya batal. Karena tetap melakukan salam yang kedua, yang berarti menjadi satu kesatuan dengan salam yang pertama.

    Maka dianjurkan sebagai bentuk kehati-hatian, jika dirasa tidak kuat menahan hal-hal yang membatalkan sholat (contoh : kentut dll) pada saat salam yang kedua, maka seyogyanya sholatnya ditutup hanya dengan salam yang pertama.

    Semoga bermanfaat
    والله أعلمُ بالـصـواب

  • Pentingnya Ilmu Alat Nahwu Shorof

    Pentingnya Ilmu Alat Nahwu Shorof

    Bismillahirrohmanirrohim

    contoh isim nakiroh : Aku bertemu laki-laki (laki2 tsb belum jelas siapa)
    Dalam bahasa Arab: رأيت رجلا
    contoh isim ma’rifat : aku melihat laki-laki (laki2 tsb sudah jelas, misal : Umar, zaid, dll)
    Dalam bahasa Arab: رأيت الرجل
    Memaknai lafal Allah….
    Ulama’ ahli nahwu pernah terjadi perbedaan pendapat tentang lafal Allah, sebagian besar memandah lafal Allah adalah isim nakiroh, mereka beranggapan bahwa lafal Allah bukan terbentuk dari lafal apapun melainkan dari lafal Allah itu sendiri.
    tetapi salah seorang Ulama’ IMAM SYIBAWAIHI beranggapan bahwa lafal Allah merupakan Isim makrifat, terbentuk dari ال اله (al-ilahu), bisa menjadi lafal Allah karena di’illatkan.
    lafal ilahun sendiri adalah bahasa arab yang berarti TUHAN.
    dari ungkapan tersebut Imam Syibawaihi beranggapan dari lafalnya, Lafal ALLAH itu berarti Tuhan yang jelas dan Haq…
    Karena pendapat tersebut, Imam Syibawaihi dimasukkan Allah SWT ke dalam surga-NYA…

  • Rutinan Akhir Tahun Dzikir Al Khidmah diadakan di Pacet Mojokerto

    Rutinan Akhir Tahun Dzikir Al Khidmah diadakan di Pacet Mojokerto

    Pacet, Infokom Banser NU- Acara rutinan setiap akhir tahun oleh Jamaah Dzikir Al Khidmah Kedinding Surabaya KH. Ahmad Asrori Al-ishaqi (alm) sudah 3 kali ini diadakan di Pacet. Acara tersebut dimulai dari pukul 17.00 wib sore tadi.

    “Banser dan Ansor harus membantu pengamanan dan kegiatan Jama’ah yang mengamalkan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah, meskipun bukan dari acara NU” kata Ketua PAC GP Ansor Ke. Pacet, Sahabat Mujibur Rohman.

    SORBANSANTRI.COM
    Mujibur Rohman, Ketua PAC GP ANSOR KEC. PACET

    Jama’ah yang berasal dari berbagai Daerah se Jawa Timur hadir dan penuh hikmad dengan pakaian serba putih. Sampai berita ini di unggah, selalu saja jama’ah ada yang hadir berdatangan. Ribuan orang menangis harus, tersedu-sedu, meraung tangis dalam muhasabah dirinya masing-masing. Bahkan, ada yang sampai kehilangan kesadaran dalam dzikirnya (ekstase).

    [embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=CNfHHVkWh5E[/embedyt]

     

    Hal seperti itulah sesungguhnya potret makna kemusliman dan kemukminan kita. Muslim satu dengan lainnya adalah saudara. Mukmin satu dengan yang lain adalah saudara. Ya, Innamal mu’minuna ikhwah. Sesama muslim tidak boleh saling membenci, tidak boleh saling menggunjing, tidak boleh saling menjatuhkan, tidak boleh saling memfitnah dan sebagainya. Demikian pula antar muslim sudah seharusnya saling mencinta, saling berprasangka baik, saling mendoakan, saling membantu kala sulit dan senang, salaing berbagi, dan sebagainya. Namun sayang, kerap ditemui contoh kurang baik di lapangan kehidupan, bila seorang yang mengaku muslim berprilaku negatif pada muslim lainnya. Naudzubillah.

    Puluhan BANSER dan PAC GP ANSOR Pacet mengawal acara tersebut dengan rapi, dari pengamanan jalan sampai jalannya acara tersebut. Dimulai turunnya hujan sore sampai selesai acara Banser dan PAC GP Ansor Pacet tetap semangat dalam menjalankan tugasnya masing-masing.
    (red. Infokom Banser NU)

  • ‏MEMAHAMI TAHUN BARU MASEHI DALAM PRESPEKTIF AL QUR’AN

    ‏MEMAHAMI TAHUN BARU MASEHI DALAM PRESPEKTIF AL QUR’AN

    Infokom BanserNU- Bersyukur dan berdo’a memasuki kedua tahun itu hakekatnya mensyukuri nikmat ALLÕH, Maka barangsiapa menganggap sesat penyambutan datangnya tahun baru Syamsiyah atau Masehi, sejatinya dia tidak sadar telah menduakan ALLÕH karena menganggap (Tahun) Matahari bukan ciptaan ALLÕH

    الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (يونس:٥)

    Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah² (tempat²) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)

    ALLÕH tidak menciptakan yg demikian itu melainkan dengan haq. Dia menjelaskan tanda² (kebesaran-NYA) kepada orang² yg mengetahui.” (Yunus:5)

    Ayat ini secara tegas mengakui adanya 2 macam bulan dan tahun :

    Bulan yang dihitung berdasarkan perjalanan Matahari (Syams), maka dinamakan dg Syamsiyah Dan bulan yang dihitung berdasarkan perjalanan bulan (Qomar), maka dinamakan dengan Qomariyah Bahkan pada kesempatan lain ALLÕH menyatakan perbedaan kedua tahun ini melalui firman-NYA:

    Surat Al-Kahf Ayat 25

    وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا،(الكهف:٢٥)

    Artinya :”Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (Al Kahfi:25)

    Ayat ini – melalui kata “ditambah sembilan tahun” menyebutkan perbedaan antara QOMARIYAH dengan SYAMSIYAH yaitu dalam 3 abad selisih 9 tahun Ini penegasan ALLÕH akan keberadaan tahun “SYAMSIYAH”, bukan hanya QOMARIYAH.

    Kedua tahun itu sudah ada sejak dahulu Namun SYAMSIYAH dihitung ulang dari angka 1 dari hari kelahiran Nabi Isa Al Masih, maka sejak saat itu SYAMSIYAH dikenal dg sebutan Masehiyah atau Masehi disingkat “M” Hingga kini berusia 2020 tahun. Karena kebodohannya orang² menisbatkan tahun ini kepada ke-kristenan

    Adapun QOMARIYAH dihitung ulang mulai angka 1 sejak Hijrah Nabi MUHAMMAD SAW, maka sejak saat itu QOMARIYAH dikenal dengan sebutan “Hijriyah” disingkat dengan “H” Hingga kini berumur 1440 tahun.
    Karena fanatik buta orang² menisbatkan tahun ini kepada ke-islaman.

    Padahal BULAN dan MATAHARI tidak punya AGAMA Hanya keduanya memang berhubungan dengan amaliah AGAMA Bulan dikaitkan dengan Puasa dan Haji. Tapi Sholat Dzuhur dan Ashar bahkan buka puasa ditentukan oleh perjalanan MATAHARI Kedua benda langit (BULAN dan MATAHARI) adalah ciptaan ALLÕH Kedua tahun (QOMARIYAH dan SYAMSIYAH) juga ciptaan ALLÕH.

    Maka, waspadalah jangan sampai kita kufur tanpa terasa…
    Bila tidak tahu, diam lebih bermakna. HasbunALLÕH

    Semoga bermanfa’at

    #NahdliyinOnline
    #HappyNUyear2020

    (post. Abdul Jalal)