Tag: Mojokerto

  • PELANTIKAN PIMPINAN ISNU PAC SE-KAB. MOJOKERTO 2021-2024

    PELANTIKAN PIMPINAN ISNU PAC SE-KAB. MOJOKERTO 2021-2024

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Sebanyak 18 Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) kabupaten mojokerto resmi dilantik masa bakti 2021-2024 pada hari minggu 21 maret 2021 di institut pesantren KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto. 

    Pelantikan PC ISNU Kabupaten Mojokerto ini diagendakan dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang didampingi oleh Bupati Mojokerto Dr. IKfina Fahmawati dan Wakil Bupati terpilih Gus Muhammad al Barra, namun karena ada kepentingan lain Ibu Gubernur Jatim ini berhalangan hadir. 

    Meskipun demikian, acara pelantikan 18 PAC yang tersebar di seluruh kecamatan se kabupaten mojokerto yang diawali dengan sambutan oleh ketua PC ISNU Kabupaten Mojokerto H. Mukti Ali dilanjutkan sambutan tuan rumah Prof. Dr. KH. Asep Syaifuddin Chalim.MA., berjalan dengan khidmat dan lancar sampai akhir acara. 

    Jadwal acara yang padat dan berisi berlangsung dengan penuh semangat peserta, setelah ishoma acara yang dihadiri lebih dari 100 orang sarjana NU Mojokerto itu langsung dilanjut dengan acara simposium kebangsaan bertema “Peran Sarjana NU dalam mewujudkan Mojokerto Maju Adil dan Makmur” dengan nara sumber Prof. Mas’ud Saidi dan Gus Muhammad al Barra. 

    “Kita sebagai sarjana NU Mojokerto harus siap dan mampu memaksimalkan diri berperan aktif dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat” Jawaban Prof. Mas’ud Saidi atas pertanyaan yang dilontarkan peserta saudara Kusmanuji ketua PAC ISNU Pacet, disambut riuh applause dari peserta. (Abdu Pct)

  • BERDIRINYA ANSOR MOJOKERTO

    BERDIRINYA ANSOR MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COM

    Tangan dingin Kyai Achyat Chalimy

    Kyai Achyat Chalimy, biasa dikenal dengan panggilan Abah Yat. Beliau adalah sosok yang selalu ada dalam denyut organisasi NU di Mojokerto. Sebagai santri Tebu Ireng, Achyat Chalimy langsung terlibat dalam kepengurusan Jam’iyah yang didirikan oleh gurunya, Mbah Hasyim Asy’ari. Abah Yat sangat disegani karena rendah hati.

    Lahir di Mojokerto pada tanggal 23 Maret 1918, Achyat sudah ditinggalkan ayahnya sejak dalam kandungan. H. Chalimy meninggalkan janin dalam kandungan Hj Marfuah ketika usia 6 bulan. Karena sudah tidak miliki ayah maka Achyat berdua dengan kakaknya, Aslan diasuh oleh ibunya.

    Pendidikan formal diterima di Volkschool Miji atau Sekolah Rakyat. Sekolah yang hanya diperuntukkan bagi orang pribumi itu dilaluinya hingga lulus tahun 1926. Meskipun berasal dari keluarga yang cukup mampu, seorang anak seperti Achyat tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Beliau tidak memiliki darah priyayi sebagai syarat meneruskan sekolahnya. Selanjutnya pendidikan pesantren menjadi pilihannya dengan mondok di Tebu Ireng Jombang. Tahun 1933, tujuh tahun kemudian pemuda Achyat meninggalkan pesantren Tebu Ireng.

    Jiwa sosial sudah tampak ketika ada di Tebu Ireng. Meskipun dikenal sebagai anak Yatim, Achyat senang memberi sedekah. Tidak jarang beliau mengundang kawan-kawannya untuk makan nasi liwet yang dimasaknya sendiri. Sikap semacam itu yang terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Kyai Achyat tidak pernah menonjolkan diri untuk tampil di depan. Peran sebagai “tukang masak” itu yang terus diperankan hingga akhir hayatnya.

    Jenjang organisasi pertama yang ditapaki Achyat adalah sebagai ketua Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) Mojokerto. Pada tahun 1934 secara resmi ANO berdiri atas prakarsa Achyat bersama beberapa pemuda sekitar Mojokerto. Dengan memanfaatkan jaringan santri ANO Mojokerto cepat menyebar ke daerah lainnya di wilayah Mojokerto.

    Pada saat itu, daerah Mojokerto secara administratif terdiri dari empat wilayah kawedanan. ANO juga mengikuti pola tersebut saat membentuk kepengurusannya. Para pimpinan ANO kawedanan tercatat nama Moenasir, Munadi dan Mustaqim dari kawedanan Mojosari. Wilayah kawedanan Jabung dipimpin oleh Sofwan dan Abdul Halim. Mansyur Solikhi bersama Imam Mahdi memimpin ANO Mojokasri. Sementara dari Kawedanan Mojokerto dibawah kendali Achyat Chalimy, Ahmad Rifai dan Samsumadyan.

    Pada suatu hari para pemuda itu berkumpul di langgar panggung Kradenan. Mereka datang atas undangan Mahfudz sebagai tuan rumahnya. Pertemuan yang diawali dengan rujakan itu pada akhirnya menunjuk Achyat Chalimy selaku nahkoda organisasi pemuda yang baru berdiri tersebut.

    Perkembangan ANO Mojokerto dalam waktu relatif singkat dapat diterima kalangan pemuda. Kemampuan manajerial Achyat Chalimy mulai tampak dan diperhitungkan orang. Selain sikap kepemimpinan, beliau juga memiliki ketrampilan mengetik dengan menggunakan sepuluh jari. Kemampuan yang langka saat itu, karena kecepatannya menggunakan perangkat tulis itu Achyat sempat ditunjuk sebagai sekretaris Majelis Diskusi Pesantren Tebu Ireng yang dipimpin oleh Wahid Hasyim.

    Berawal dari keberhasilan membangun ANO tersebut, Achyat selanjutnya diminta menjadi sekretris di NU Mojokerto. Tahun 1938 terbentuk kepengurusan NU yang dipimpin oleh Kyai Zainal Alim dan Kyai Nawawi sebagai Rois dan wakil Rois Syuriah. Pada jajaran Tandfidziyah, Ketua :Kyai Achmad Dimyati, Sekretaris : Achyat Chalimy dan Kamad sebagai Bendahara.

    Sebelumnya, jajaran pimpinan NU Mojokerto yang terbentuk tahun 1928 dipimpin oleh Kyai Zainal Alim dan Kyai Nawawi selaku Syuriah. Tandfidziyah diketuai oleh Maslam, Sekretaris : Den Hafi, Bendahara : Kamad.

    Dengan ditunjuk sebagai sekretris NU maka praktis Achyat memimpin dua organisasi di NU tersebut. Posisi yang dipegang hingga Jepang datang.

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • KYAI NAWAWI YANG MENEPATI JANJI

    KYAI NAWAWI YANG MENEPATI JANJI

    SORBANSANTRI.COMKisah pemakaman Syuhada Kemerdekaan

    Selasa, 23 Agustus 1946, Mojokerto diliputi duka. Seorang syuhada telah tiada, pergi menghadap padanya. Keinginannya untuk gugur di medan perjuangan tercapai dan kepergiannya diiringi berjuta doa.

    Kyai Nawawi adalah Rois Syuriah NU Mojokerto kedua setelah meninggalnya Kyai Zainal Alim. Kyai berpostur kecil itu dikenal memiliki keberanian yang besar. Meskipun menduduki berbagai jabatan tetapi dia tidak pernah tinggal diam di garis belakang. Beliau lebih senang ikut bertempur di garis depan untuk memberi tauladan pada anak buahnya, para anggota Lasykar Sabilillah Mojokerto yang dipimpinnya.

    Kerap kali ulama asal Desa Kemantren Mojokerto itu berkata, “Kalau kalian kurang giat saya pimpin, kalian akan saya tinggal. Saya ingin bertemu bidadari di akhirat nanti..”. Kalimat yang beliau tunjukkan dengan menolak mundur ketika lawan mengepungnya di dusun Botokan Desa Plembungan Sukodono Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 22 Agustus 1946.

    Pada tubuhnya terdapat beberapa tusukan bayonet, salah satunya tepat di lehernya. Darah segar terus mengucur dari tubuhnya. Kyai pemberani itu memang menjadi incaran lawan. Dan hari itu, di belakang rumah H. Nur Hasan, jenazahnya diketemukan.

    Jasad Kyai Nawawi berhasil diselamatkan setelah pasukan pejuang membunuh semua pasukan lawan yang mengeroyok sang kyai. Pada hari itu juga jenazahnya dibawa pulang ke Mojokerto.

    Gugurnya Kyai Nawawi cepat menyebar di daerah asalnya. Ribuan orang sudah menyambut memenuhi halaman stasiun Mojokerto. Ketika diturunkan dari gerbong kereta api yang membawanya dari stasiun Tarik langsung disambut dengan Isak tangis kesedihan. Cucuran air mata yang berbaur dengan tetesan darah segar yang masih keluar saat Kyai Nawawi dibawa ke langgar Jagalan, rumahnya.

    Esok pagi, pemakaman sudah ditetapkan. Keluarga beliau memilih komplek pemakaman umum Losari Gedeg sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Tawaran untuk dimakamkan di Taman Bahagia Mojokerto, sekarang disebut Taman Makam Pahlawan Gajah Mada, ditolak dengan alasan pesan Kyai Nawawi yang ingin dimakamkan bersama warga lainnya. Ya, beliau ingin tetap bersama warga lainnya sebagai orang biasa.

    Proses pemakaman berlangsung haru. Ribuan pelayat berdatangan dari berbagai penjuru. Saat keranda diberangkatkan, pengiring berjejal di sepanjang jalanan dari rumah hingga komplek makam yang berjarak sekitar 2 kilo meter tersebut. Saking banyaknya orang, untuk masuk dan menyaksikan pemakaman pun sulit sekali.

    Upacara pemakaman dipimpin oleh Kyai Abdul Ghani, penghulu Mojokerto. Para pejabat pemerintahan dan komandan militer ikut menyaksikan untuk memberi penghormatan terakhir pada Kyai yang berprofesi sebagai tukang jahit tersebut. Dan ribuan orang menjadi saksi bahwa beliau adalah syuhada yang gugur membela negeri. Kyai Nawawi menepati janji sekaligus menunjukkan bagaimana melaksanakan Fatwa Jihad gurunya, Mbah Hasyim Asy’ari.

    Besarnya perhatian rakyat Mojokerto saat pemakaman berlangsung menunjukkan betapa beliau sangat dihormati. Sebagai tokoh penting kala itu, Kyai Nawawi tidak segan mendampingi langsung para pejuang republik bertempur di garis depan. Wafatnya beliau sedemikian heroik dengan tidak menyerah meski telah dikepung musuh. Pada akhirnya, seperti yang dinadzarkannya, Kyai Nawawi memenuhi takdirnya sebagai syuhada, syahid di medan laga

    Untuk mengenang jasa Kyai Nawawi dibuatlah monumen sederhana di lokasi gugurnya sang Syuhada. Monumen itu dibuat atas prakarsa Kyai Achyat Chalimy, Ketua NU Mojokerto yang sekaligus meresmikannya dengan menandatangani prasasti.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • PENGURUS PC GP ANSOR KAB. MOJOKERTO BAHAS PROGRAM TAHUN 2020 DI GRAHA MWC. NU PACET

    PENGURUS PC GP ANSOR KAB. MOJOKERTO BAHAS PROGRAM TAHUN 2020 DI GRAHA MWC. NU PACET

    Acara yang dilaksanakan Ahad, 19 Januari 2020 di Graha MWC. NU Pacet Kab. Mojokerto, Pengurus PC GP Ansor Mojokerto mengadakan Pertemuan dengan jajaran pengurus PH dan Lembaga PC GP ANSOR, Kasatakorcab, Ketua dan Sekretaris PAC GP ANSOR, Ketua RA PAC,Kasatkoryon dan Setma Banser Se-Kab. Mojokerto.

    Acara yang dimulai pukul 17:00 WIB dan berakhir 01.00 WIB, membahas beberapa poin penting yang menentukan program dan langkah kedepan organisasi antara lain :

    1. Persiapan akhir dirosah kader ula
    2. Menyatukan komunikasi sesuai hasil pertemuan Infokom Banser
    3. Hasil PPK
    4. Persiapan Diklatsus
    5. Info pertemuan dengan PCNU
  • Pelantikan Pengurus Baru, Wujud Sukses Pengkaderan

    Pelantikan Pengurus Baru, Wujud Sukses Pengkaderan

    SORBANSANTRI.COM

    Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto kembali melakukan pelantikan Pengurus Ranting. Kali ini melantik Pengurus Pimpinan Ranting Desa Ketemasdungus, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto Masa Khidmat 2019-2021 (Sesuai SK tertanggal 25 Desember 2019). Pelantikan tersebut dilaksanakan bersama dengan kegiatan Lailatul Ijtima’ tingkat Ranting NU Desa Ketemasdungus pada Senin malam (20/01), di Musholla Al-Ihsan Dusun Sangkan Desa Ketemasdungus.

    Jumlah Anggota GP Ansor Ranting Desa Ketemasdungus yang dilantik sekitar 40 anggota yang terdiri dari 15 Pengurus Harian dan yang selebihnya 25 merupakan Anggota. Menurut sahabat Suyanto selaku Ketua Ranting periode sebelumya (purna tugas), dengan jumlah tersebut tentunya ini merupakan sejarah baru bagi Ranting GP Ansor Desa Ketemasdungus dan sebagai bentuk kebangkitan pemuda Desa Ketemasdungus.

    Selanjutnya, sahabat Sobirin selaku Ketua PAC GP Ansor Puri dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud tanggung Jawab dan amanat organisasi untuk terus melakukan pengkaderan sebagai upaya penguatan NU di masa sekarang pun di masa yang akan datang. Ia juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak baik dari jajaran pemerintah desa, tokoh agama maupun tokoh masyarakat yang telah mendukung kegiatan pemuda. Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada Pengurus yang lama karena adanya pelantikan pengurus yang baru ini tidak lain adalah wujud dari keberhasilan pengurus sebelumnya.
    Disela-sela ramah-tamah, Bapak Jupri selaku Ketua Ranting NU berpesan semoga perjuangan GP Ansor Ranting Ketemasdungus khususnya dan PAC GP Ansor Puri pada umumnya semakin maju dan mampu bersinergi serta istiqomah.

    Di akhir kegiatan sebelum dibacakan do’a, Ketua Ta’mir Musholla, H. Jawawi, beliau menhaturkan kebanggaan yang luar biasa karena tidak menyangka yang hadir di acara lailatul ijtima’ kali ini jauh dari biasanya, membludak. Oleh karena itu beliau menyampaikan permohonan maaf bila ada kekurangan. beliau juga turut memberikan semangat kepada pemuda Ansor dan berpesan agar bapak ibu yang hadir di acara yang dianggap selaku orang tua agar terus mendukung kegiatan para pemuda Ansor.
    Turut hadir pula pada kegiatan ini Ibu Dwi Siti Kholiyah selaku Ketua Muslimat NU Desa Ketemasdungus yang juga merupakan Kepala Desa Ketemasdungus yang baru saja terpilih pada Pilkades serentak 23 Oktober 2019 lalu. Hadir pula tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat.

    (Red. Fahrul Irwan Alif)

     

  • Mbah Kyai Ismail Ibrahim, Kyai Ahli Riyadoh dari Kedungmaling

    Mbah Kyai Ismail Ibrahim, Kyai Ahli Riyadoh dari Kedungmaling

    SORBANSANTRI.COM

    Ada satu desa yang namanya sangat unik di daerah Brangkal Kab. Mojokerto. Namanya Kedungmaling. Dari cerita mulut ke mulut, nama itu diperoleh dari suatu cerita dimana daerah Brangkal dulu terdapat Kedung. Kedung itu adalah bagian dari sungai yang sangat dalam. Ia biasanya tenang, tetapi menghanyutkan. Pada suatu ketika, ada maling yang sedang lari dikejar-kejar oleh penduduk. Pada saat ia mengalami kebingungan, ia mencebur ke dalam sungai yang ada kedungnya itu tadi. Dan ia pun tenggelam ke dasar sungai itu. Peristiwa tenggelamnya maling di kedung sungai itulah yang kemudian menjadi penanda nama desa itu yang kelak kemudian diberi nama Desa Kedungmaling.

    Dulu, Desa Kedungmaling lebih banyak orang awamnya daripada orang yang mengerti agama. Tetapi seketika itu berubah seiring kedatangan seorang santri dari Kediri, namanya Ismail Ibrahim. Ismail Ibrahim pernah nyantri di Pondok Mojosari-Nganjuk. Kemudian melanjutkan mondoknya dengan durasi lama, yakni di Pondok Semelo, yang sekarang lebih dikenal dengan PP. Umar Zahid yang terletak di dusun Semelo, desa Kayen, kecamatan Bandarkedungmulyo-Jombang. Di Pondok ini, Ismail Ibrahim belajar berbagai fan ilmu ke-Islaman. Dan juga melatih jiwannya dengan riyadoh dibawah asuhan KH. Umar Zahid.

    Seperti pada umumnya Kyai-Kyai zaman dahulu, selain memikirkan tentang keilmuan santrinya, KH. Umar Zahid juga memikirkan masa depan santri-santrinya. Selain menikahkan, KH. Umar Zahid melalui KH. Munawir Sholeh mencarikan tempat berdakwah pada Ismail Ibrahim. Dan Ismail Ibrahim diberi alternative pilihan untuk mengabdikan ilmunya. Dan melalui sebuah istikhoroh dengan lambang surat an-Nasr, maka desa Kedungmaling-lah yang menjadi tempat pilihannya.

    Di Desa Kedungmaling, Ismail Ibrahim menempati sebuah Masjid kecil hasil wakaf dari Ibu Masriah. Ibu Masriah sendiri itu adalah istri dari Kyai Anwar (Ayah dari Pendiri STIE Al Anwar). Namun pernikahannya itu unik. Masing masing suami istri itu bekerja sendiri sendiri. Kyai Anwar berdagang, Ibu Masriah juga berdagang. Dagangannya Ibu Masriah itu diambil dari Surabaya. Tiap ke Surabaya, ia selalu mampir ke Pondok Nderesmo untuk ikut ngaji mendengarkan ceramahnya Mbah Kyai Mansur. Karena seringnya ngaji ke Ndresmo inilah, menjadikan ibu Masriah memiliki kedekatan dengan Mbah Mansur. Ibu Masriah dibimbing untuk menjadi wanita sholehah. Termasuk juga mengarahkan agar tabungan kekayaannya dipergunakan untuk diwakafkan membangun Masjid.

    Taqdir kemudian berkata, antara Kyai Anwar dan Ibu Masriah berpisah. Namun bukan berarti terjadi peristiwa pertengkaran yang berlarut larut. Harta gono gininya dibagi secara adil. Dan pembangunan Masjid atas suplay dari Kyai Anwar dan seorang pengusaha asal Jatirejo, Bapak Nur Kholis tetap berjalan hingga berdiri megah.

    Dan kemudian Ibu Masriah ini dinikahi oleh Kyai Munawir Sholeh. Dan atas perantara Kyai Munawir Sholeh itulah Ismail Ibrahim menempati Masjid hasil wakaf Ibu Masriah ini.
    Siti Sofiah, cucu dari Ibu Masriah bercerita, kalau Ismail Ibrahim dulu menempati rumah Ibu Masriah, yang sekarang menjadi PP. Riyadlul Quran. Setelah usai pembangunan, maka Ismail Ibrahim menempati Masjid yang telah dibangun.
    Di Masjid itu, Ismail Ibrahim merawat dan memakmurkan Masjid. Dan satu persatu para santri ikut mengaji kepada Ismail Ibrahim. Tetapi kata Masrurah, putrinya, bercerita kalau KH. Ismail Ibrahim waktu itu pernah merasa putus asa menghadapi masyarakat Kedungmaling yang banyak tidak bisa mengaji. Beruntung ada satu dua santrinya yang bisa mengaji sehingga menambah semangat untuk terus mengabdi di tempat yang baru itu.

    Dalam segi ekonomi, Ismail Ibrahim bekerja apa saja untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun demikian, ia tidak pernah berjodoh dengan pekerjaan itu. Hingga ia pun memutuskan untuk lebih mengkonsentrasikan “ngopeni” santri-santrinya.

    Meskipun dengan tertatih-tatih, Ismail Ibrahim tetap istiqomah dalam melayani santri dan masyarakatnya. Lambat laun, orang-orang Kedungmaling dan sekitarnya mengenal Ismail Ibrahim sebagai orang yang linuweh. Orang orang pun berbondong-bondong bertamu dan mengaji kepadanya. Dan kemudian memanggilnya dengan KH. Ismail Ibrahim.
    Masruroh bercerita, santri-santri KH. Ismail Ibrahim tidak banyak yang bermukim, paling sekitar 25 santri. Tetapi pada saat ramadhan tiba, Masjid berjubel jubel dengan santri yang mengaji. Para santri itu juga berinisiatif membuat gubuk-gubukan di sekitar Masjid untuk tempat mukim mereka. Bahkan masyarakat, baik masyarakat sekitar atau yang jauh, ikut pula bergabung mendengarkan ngaji dari KH. Ismail Ibrahim. Yang unik, para pedagang-pedagang, ikut ngaji sambil membawa daganganya, sebelum pergi ke pasar.
    Biasanya, kata Masruroh, KH. Ismail Ibrahim mengaji kitab Hikam karya Ibnu Athoillah yang terkenal itu. Selebihnya, KH. Ismail Ibrahim lebih menekankan pada penguasaan pembacaan al Quran pada santri-santrinya. Penguasaan pada al-Quran itu bisa dirunut ke PP. Semelo atau KH. Umar Zahid yang ahli dibidang al-Quran. Bahkan pondok ini pulalah yang melahirkan tokoh sebesar KH. Ahmad Munawir Krapyak dan KH. Ahmad Masduki (Pengasuh Roudlotul Tahfidzil Quran Perak-Jombang).

    KH. Ismail Ibrahim semakin diperhitungkan oleh masyarakat saat meletusnya pemberontakan PKI tahun 1965. KH. Ismail Ibrahim-lah yang membedeng Ansor-Ansor pada masa itu untuk menghadapi PKI. Dan terbukti pemberontakan PKI di Mojokerto mampu dipadamkan oleh bahu membahunya antara tentara dan Ansor.

    Tetapi dari pengakuan Masruroh, jauh sebelumnya, KH. Ismail Ibrahim, juga pernah ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan bergabung menjadi Hizbullah. Dan ia sempat menjadi pelindung KH. Wahid Hasyim saat beliau menjadi buron tentara Belanda yang hendak menghabisinya. Dan pada tahun 1955, KH. Ismail Ibrahim juga adalah penggerak partai NU. Hingga sebelum NU berfusi menjadi PPP, KH. Ismail Ibrahim-lah yang menjadi jurkam handal dari partai NU.

    Pada tahun 1968, saat putra kinasihnya KH. Basyaruddin menikah itulah, kata Ahmad Zaini, penanda mulai berkibarnya pesantren yang kemudian diberi nama Darul Hikmah. Pesantren Darul hikmah dikenal selain memperdalam ilmu agama, juga diajarkan kepada santri-santrinya untuk memperbanyak riyadoh-riyadoh. KH. Ismail Ibrahim sendiri, kenang Ahmad Zaini, adalah Kyai yang ahli riyadoh. Tiap malam KH. Ismail Ibrahim tidak pernah tidur. Bada subuh, KH. Ismail Ibrahim mengajak para santri-santrinya untuk berdzikir dan mengaji al-Quran sampai waktu dhuha. Baru setelah itu beliau istirahat.

    Tetapi bukan tanpa tantangan, orang orang yang tidak suka kepada KH. Ismail Ibrahim sering mengganggunya. Saat berceramah, kadang orang orang usil sering mengganggunya. Tetapi bukan KH. Ismail Ibrahim kalau tidak berani menantang para pengganggunya.

    Pernah suatu peristiwa, santri-santri Darul Hikmah disihir oleh seorang pentolan ormas di dekat desa Kedungmaling. Banyak santri santri mengalami kesurupan. KH. Ismail Ibrahim mengumpulkan para santri dan kemudian diterapi serta mengajak kepada seluruh santri untuk mengamalkan dzikir dzikir yang pernah diijazahkan oleh guru-gurunya. Dan pada akhirnya kembali pulalah sihir sihir yang ditiupkan oleh pemimpin ormas yang sekarang berkibar dalam balutan kesesatan itu.

    #

    Ahmad Zaini, santri KH. Ismail Ibrahim, mengenang pertemuan awalnya dengan KH. Ismail Ibrahim tatkala mendengar ceramahnya yang mempesona. Konon pula, setiap kali KH. Ismail Ibrahim berceramah, sesuatu yang ia ceramahkan itu akan terjadi ditempat itu. Ahmad Zaini akhirnya memutuskan nyantri ke KH. Ismail Ibrahim. Di hadapan KH. Ismail Ibrahim, Ahmad Zaini diajar bagaimana melayani masyarakat dengan mengisi kamar mandi dan tempat wudhu.

    Pelajaran melayani itu kelak dirasakan saat ia pada tahun 1975 dinikahkan dan ditempatkan untuk berdakwah di Desa Jalinan. Dengan masyarakat yang masih awam, ia melayani dengan sabar. Dan konon Masjid yang ia tempati untuk berdakwah itu, adalah jejak pohon keramat. Ketika pohon itu ditebang dan menjadi Masjid, maka orang pun tidak menggunakan sesajian ke tempat tempat angker, tetapi berubah ke Masjid.

    Menjelang usianya yang semakin sepuh, KH. Ismail Ibrahim seperti menjadi sentral bagi para Kyai-Kyai yang konon banyak orang menyebutnya sebagai wali. Mbah Ilyas dengan keanehan-keanehan yang dilakukan di pasar Brangkal, setiap kali ber-”operasi”, selalu menyempatkan untuk berkunjung ke rumah KH. Ismail Ibrahim. Pun dengan Mbah Ud Pagerwojo-Sidoarjo, seringsekali berkunjung ke KH. Ismail Ibrahim. Bahkan KH. Khusein Ilyas sendiri, setiap kali habis lelaku, senantiasa berkunjung ke rumah KH. Ismail Ibrahim.

    Tidak hanya sekadar para Kyai, para pengusaha-pengusaha pun mendekat kepada KH. Ismail Ibrahim. Pak Jakfaril, Ayah Mustofa Kamal Pasha, Mantan Bupati Mojokerto, sering bertandang ke rumah KH. Ismail Ibrahim. Ia sering memberi uang yang banyak kepada KH. Ismail Ibrahim. Katanya, ia suka dengan Kyai yang bekerja.

    #

    Ada satu hal dari karya KH. Ismail Ibrahim yang hingga sekarang tetap lestari. Apabila pesantren pesantren menggunakan haul sebagai sarana untuk mengirim doa kepada Kyai pendiri pesantrennya, tetapi jamiul jawami’ yang diselenggarakan oleh KH. Ismail Ibrahim diperuntukkan untuk seluruh penduduk langit dan penduduk bumi. Biasanya diadakan acara yang meriah selayaknya haul.

    Untuk mendanai jamiul jawami tidaklah mudah. Tetapi perlu biaya besar. Disinilah ada cerita unik. KH. Ismail Ibrahim menyurati Nabi Khidir. Siti Sofiah menuturkan kalau Ayahnya pernah diajak untuk mengirim surat oleh KH. Ismail Ibrahim ke Brondong Lamongan. Ia diajak ke tengah laut. Sampai ditengah laut, surat yang ditulis panjang dengan menggunakan bahasa Arab itu, dilepaskan ditengah laut.Ayah Siti Sofiah pernah bertanya, “Apa bisa sampai surat itu ke Nabi Khidir, Yi?” Dijawab oleh KH. Ismail Ibrahim, “Bisa sampai.” “Buktinya?”tanya Ayah Siti Sofiah. “Nanti kalau pas jamiul jawami, akan banyak yang memberi bandeng. Sebab saya minta bandeng kepada Nabi Khidir” jawab KH. Ismail Ibrahim tenang. Dan memang terbukti, orang orang yang tidak kenal dari berbagai penjuru, setiap jamiul jawami selalu saja ada yang memberi. Dan pengusaha pengusaha asal Gresik, banyak yang memberi bandeng.

    Pada tahun 1983, Masruroh menceritakan bagaimana meninggalnya KH. Ismail Ibrahim. Waktu itu ia masih kuliah dan kebetulan izin untuk menunggui sang Ayah yang sedang sakit. Semalaman suntuk KH. Ismail Ibrahim tidak tidur. Dan saat dicabut malaikat pun, kata Masruroh, beliau dalam kondisi sadar.

    KH. Ismail Ibrahim disemayamkan di dalam Pondok Pesantren. Para alumnus banyak yang menziarahi makamnya. Pun dengan masyarakat sekitar. Setiap tahun, santri dan masyarakat cancut tali wondo meng-hauli Mbah KH. Ismail Ibrahim.

    Isno el kayyis
    Ketua LTN NU Kab. Mojokerto

    Sumber wawancara dengan:

    1. Ning Masruroh Ismail Ibrahim pada tanggal 19 Januari 2019 (Beliau Putri dari KH. Ismail Ibrahim)
    2. Bu Nyai Siti Sofiah, Pengasuh PP. Riyadlul Quran, cucu dari Bu Masriah pada tanggal 20 Januari 2019
    3. Ahmad Zaini, Santri KH. Ismail Ibrahim, di Desa Jalinan, pada tanggal 20 Januari 2019
  • BANSER HUSADA BAKSOS PENGOBATAN KORBAN BANJIR

    BANSER HUSADA BAKSOS PENGOBATAN KORBAN BANJIR

    Cyberaswaja.online| Sooko. Dalam rangka meringankan para korban dampak banjir yang berlangsung pada awal bulan Februari 2020 lalu di salah satu Desa Kecamatan Sooko Kabupuaten Mojokerto, SATUAN KHUSUS BANSER HUSADA ( SATSUS HUSADA ) menggelar Bakti Sosial (Baksos).

    Pada kesempatan baksos kali ini, SASTUS BASADA bersama Biro Satsus lainnya ditingkatan Satuan Kordinasi Cabang Barisan Ansor Serba Guna (SATKORCAB BANSER) Kabupaten Mojokerto, bergerak mendatangi Dusun Tempuran Desa Bekucuk, Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto untuk melaksanakan pengobatan Gratis. (11/02/2020).

    FOTO: Baksos Banser Husada korban banjir
    Foto: Kanan: Moch. Sokib Wakasatkorcab Banser bersama Banser Husada Kab.Mojokerto di Balai Desa Bekucuk-Sooko

    Kasatsus BASADA Kabupaten Mojokerto, mengatakan bahwa kegiatan ini sudah tugas kita semua menjadi Banser, kita laksanakan sesuai Instruksi Satu Komando dari Panglima tertinggi kita, yaitu ketua GP Ansor kabupaten Mojokerto, dan sebelumnya kita sudah koordinasi dengan pemerintahan setempat dan berkomunikasi dengan baik.

    “Pelaksanaan Baksos ini kita dilaksanakan pagi, mulai pukul 08:00-14:00 WIB, dan bertempat di Balai desa Bekucuk, dan sebelumnya kita sudah berkoordinasi dengan pemerintahan setempat, dan alhamdulillah kegiatan ini mendapatkan respon cukup baik sekali oleh warga yang terdampak banjir”. Ucapnya sahabat Sabarudin Selaku Kepala Satsus Basada.

    FOTO: Baksos Banser Husada korban banjir
    Foto: Baksos Pengobatan Banser Husada korban banjir peserta Emak-Emak Muslimat

    foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir
    Foto: Baksos Pengobatan Banser Husada korban banjir

    Wakasatkorcab Banser Kabupaten Mojokerto mengatakan, bukan hanya Satsus BASADA saja yang telah terjun disini, sebelumnya sudah dilaksanakan oleh PC NU, beserta Banom-Banomnya diantaranya, BAGANA (Banser Tanggap Bencana), LBPI dan relawan-relawan lain untuk membantu evakuasi atas banjir yang terjadi.

    “Satsus Basada Baksos mengobati korban banjir, dan sebelumnya awal kejadian banjir, Banser Tanggap Bencana  (BAGANA) sudah terjun dahulu untuk membantu evakuasi bersama relawan-relawan yang lainnya”. Tegas Moch.Sokib selaku Wakasatkorcab Banser kab.Mojokerto.

    Bantuan Sosial berupa pengobatan diberikan BASADA, bermacam-macam, mulai dari pijat, tensi darah, bekam, terapi dan lain-lain, dan diberikan Gratis kepada warga yang sudah antri sejak pagi hari.

    “Pengobatan yang kita berikan diantaranya, tensi darah, pijat, bekam, terapi dan lain-lain, ini dilakukan oleh anggota Basada yang sudah mengikuti pelatihan-pelatihan sebelumnya, artinya mereka sudah punya skill dan kompetensi”. Tegas sahabat Basori Wakabiro Basada.

    FOTO: Baksos Banser Husada korban banjir
    Foto: Baksos Banser Husada Balai Desa Bekucuk

    baksos basada
    Foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir

    foto: Banser husada pengobatan kepada korban banjir
    Foto: Banser Husada Tensi Darah kepada korban banjir

    foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir
      foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir

    baksos basada
    foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir

    foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir

    Foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir

    Perlu diketahui, Bahwasannya Kaderisasi masing-masing Kecamatan se Kabupaten Mojokerto, alhamdulillah sudah terbentuk. Kehadiran Banser dalam kegiatan-kegiatan sosial agama, tampil dengan sesuai instruksi pimpinannya.

    Semoga banjir yang berada di wilayah Kabupaten Mojokerto ini cepat, surut dan masyarakat kembali melakukan rutinitas seperti biasanya. (wg/Infokom)

    nb: mohon maaf apabila salah tulis nama dan gelar dan tempat.
  • KH. Muhammad Suhud; Kyai Militer Yang Terlupakan

    KH. Muhammad Suhud; Kyai Militer Yang Terlupakan

    SORBANSANTRI.COM

    Tidak banyak penulis sejarah peran santri dalam perang kemerdekaan yang mengulas panjang lebar tentang kiprah KH. Muhammad Suhud. Padahal begitu besar jasanya dalam membentuk dan melatih para santri sehingga siap berperang baik dalam Laskar Hizbullah maupun Sabilillah.

    KH. Muhammad Suhud lahir di Pare Kediri pada tanggal 1 Nopember 1926. Tanggal lahir ini, menurut Gus Yakub, putranya, tanggal lahirnya tidak sesuai, sebab karena urusan dengan pencalonannya menjadi anggota DPR, maka umurnya di-muda-kan. Kemungkinan juga, seperti orang dulu pada umumnya, tidak perduli dengan angka kelahiran. Sehingga ketika diera modern ditanya tentang angka kelahiran, maka akan dikira-kirakan. Apabila mengacu keterangan dari Gus Yakub, kalau umurnya KH. Muhammad Suhud itu “unda undi” dengan KH. Wahid Hasyim, berarti kelahirannya antara tahun 1915-1920. Ini setara pula dengan angka kelahiran dari sahabat sahabt Ansornya di Mojokerto seperti KH. Ahyat Chalimi, KH. Munasir Ali dan Mansur Solikhi yang lahir antara tahun 1915-1920.

    KH. Muhammad Suhud memiliki nasab yang bersambung ke jalur Mataram. Hal ini bisa dilacak disilsilah yang ditulis dalam buku Taman Solaya yang sekarang dikomandani oleh KH. Habib Mastur. Ayah dari KH. Muhammad Suhud adalah KH. Hasan Besari bin KH. Raden Khabib bin KH. Raden Muhammad bin Pangeran Hadi Ningrat Kerto Noto Agomo jejuluk KH. Raden Nur Qoyidi bin Sunan Kuning bin Sunan Mas bin Adipati Anom bin Aryo Prabu Adi bin Mas Rangsang bin Mas Jolang bin Sutowijoyo bin Ki Gede Pemanahan.

    KH. Muhammad Suhud kecil tinggal di Pare. Setelah tumbuh remaja, ia dibawa oleh orang tuanya tinggal di Sumobito. Di Sumobito ini, KH. Muhammad Suhud remaja belajar mengaji di Masjid Sumobito. Kemudian pada tahun 1930 ia melanjutkan nyantri di PP. Tebuireng. Di PP. Tebuireng ini, ia memperoleh pengalaman luar biasa. Ia selain dididik langsung oleh Hadratus Syeikh Hasim Asyari juga menjadi teman diskusi KH. Wahid Hasyim. Dari KH. Wahid Hasyim inilah KH. Muhammad Syuhud memperoleh ilmu organisasi dan ilmu sosial politik, yang kelak menjadi bekalnya dalam berpolitik pasca kemerdekaan.

    Ilmu organisasi dan ilmu sosial politik ini, diperoleh oleh KH. Muhammad Suhud dari KH. Wahid Hasyim, karena pada saat itu, tatkala KH. Wahid Hasyim pulang dari Mekkah, ia mengusulkan reformasi pada sistem pembelajaran yang ada di PP. Tebuireng. Dari bandongan ke sistem diskusi atau musyawarah. Bahkan dalam ilmu terapan, KH. Wahid Hasyim mengusulkan untuk membuat kursus-kursus yang sistematis dan memperoleh hasil sesuai dengan tujuan yang dibuat. KH. Wahid Hasyim juga mengusulkan agar perpustakaan di PP. Tebuireng, tidak hanya sekadar mengoleksi kitab kitab kuning, tetapi juga buku buku berbahasa Inggris, Belanda, melayu dan bahasa bahasa pengetahuan lainnya. Dan KH. Muhammad Suhud memperoleh keberkahan dengan kemajuan yang dialami oleh PP. Tebuireng pada masa itu.

    Selain di PP. Tebuireng, KH. Muhammad Suhud juga menimba ilmu diberbagai pesantren, seperti PP. Mojosari Nganjuk, PP. Siwalan-Sidoarjo, dan lain lain. Bahkan menurut Gus Yakub, KH. Muhammad Suhud juga pernah berguru kepada KH. Halim Majalengka. Di Majalengka inilah ia satu perguruan dengan Kyai Yazid, ahli bahasa dari Pare, yang kelak melahirkan seorang murid penggagas Kampung Inggris, Mr. Kalend.

    Karir KH. Muhammad Suhud dimulai di MI al Muhsinun Kauman. Ia menjadi Kepala Sekolah di Madrasah milik Nahdlatul Ulama bentukan KH. Zaenal Alim ini. Ia juga dipercaya oleh Hadratus Syekh Hasyim Asyari untuk mendirikan dan membina MI dibeberapa daerah. Biasanya Hadratus Syekh Hasyim Asyari setelah pranata disiapkan, akan mengirim santri untuk tinggal ditempat tersebut dan kemudian dijodohkan dengan gadis daerah tersebut. Sehingga kemudian ia mampu mengembangkan dan menyebarkan Islam di daerah tersebut.

    Kemampuan dalam dunia pendidikan semakin terasah, ketika pada tahun 1943, KH. Muhammad Suhud memperoleh kursus pelatihan Guru Agama di Jakarta selama tiga bulan. Dan pada tahun yang sama, KH. Muhammad Suhud juga mewakili Mojokerto ikut kursus pelatihan Kyai di Jakarta selama tiga bulan juga.

    Selain menjadi pengajar di MI al Mushinun, KH. Muhammad Suhud juga bergabung menjadi anggota Ansor Mojokerto pimpinan KH. Ahyat Chalimi. Di Ansor, ia berinteraksi secara intens dengan anggota Ansor seperti KH. Munasir Ali, Mansur Solikhi, Mulyadi, Ahmad Yatim dan lain sebagainya. Pada saat Masyumi menyetujui untuk mengirim santri santri bergabung dengan PETA, KH. Muhammad Suhud ikut bergabung. Ia dikirim untuk berlatih militer di Jatinegara dan Jakarta. Dan kemudian mengantarkannya memperoleh kedudukan sebagai Shodancho.

    Perlu diketahui, Struktur PETA terdiri atas 65 Daidan (batalyon) yang ada di Jawa dan 3 Daidan di Bali. Tiap Daidan beranggotakan 535 personil dipimpin Daidancho (komandan batalyon) pangkat setingkat mayor dibantu kepala staf berpangkat Chudancho. Setiap Daidan terdiri dari 4 Chudan yang dipimpin seorang Chudancho (komandan kompi) pangkat setingkat kapten. Tiap Chudan terdiri dari 3 shodan yang dipimpin seorang shodancho (komandan peleton) pangkat setingkat letnan. Tiap shodan terdiri dari 4 bundan yang dipimpin seorang bundancho (komandan regu) pangkat setingkat sersan.

    Pada saat yang sama, KH. Muhammad Suhud juga ikut tergabung dalam latihan militer di Cibarosa yang diperuntukkan untuk pembentukan Laskar Hizbullah. KH. Muhammad Suhud mewakili Mojokerto bersama dengan Mulyadi dan Ahmad Yatim.
    Ada cerita menarik saat ia dilatih tentara Jepang. Pemuda-pemuda yang dilatih tentara Jepang itu, pada suatu kali diadu dengan Sumo. Siapa yang kalah, dijamin meninggal dunia. Banyak para pemuda yang mengalami retak tubuhnya. Pada gilirannya, KH. Muhammad Suhud dihadapkan dengan Sumo. KH. Muhammad Suhud merapal Hizib Nawawi dan binasalah sumo itu. Tetapi tentara Jepang, segera mengirim Sumo lagi untuk bergulat dengannya. Sampai lima Sumo terpental. Dan sebelum tenaganya sendiri kehabisan, akhirnya KH. Muhammad Suhud membuat strategi, hanya bertahan hingga waktu lama.

    Selesai latihan di Cibarosa, KH. Muhammad Suhud mendapat mandat untuk melatih santri santri memiliki dasar-dasar berperang. Latihannya, kalau di Mojokerto di daerah Prajurit Kulon. Sedang kalau di Jombang, ditempatkan di Mojoagung.
    Dari alumni-alumni pelatihannya itulah, kemudian KH. Muhammad Suhud bersama pemimpin lainnya membentuk dan memperkuat pasukannya dalam beberapa kelompok. Yang masih muda dimasukkan ke dalam Laskar Hizbullah sedangkan yang sudah berumur dimasukkan ke dalam Sabilillah. Ada juga Laskar yang dibentuk oleh KH. Muhammad Suhud, yakni Laskar M. Laskar M ini terdiri dari para pencuri, perampok dan bandit. Mereka juga dilatih untuk melakukan aksi aksi mengacaukan. Bahkan mereka adalah spionase spionase handal yang kelak dipergunakan oleh tentara republic Indonesia untuk mendapatkan informasi selama perang revolusi.

    Ketika Laskar Hizbullah masuk ke dalam TKR, KH. Muhammad Suhud juga ikut bergabung. Dan karir kemiliterannya berakhir saat Indonesia telah merdeka secara bulat pada tahun 1950. Ia mengundurkan diri. Sepertinya alasannya seperti pada umumnya para santri, resolusi jihad hanya mengamanatkan untuk mengusir penjajah. Kala penjajah sudah tidak ada maka mengangkat senjata sudah tidak diperlukan lagi.

    Namun demikian, kata Gus Yakub, meskipun KH. Muhammad Suhud mulai fokus ke pesantrennya, Roudlotul Muttaqin Ngares, beliau masih tetap terus diintai oleh para militer, bahkan hendak dikaitkan dengan pemberontakan DI/TII. Dan pada akhirnya, KH. Muhammad Suhud memilih jalur politik untuk melawan berbagai upaya pelemahannya. Pada tahun 1955, ia menjadi DPRD dari jalur Partai NU. Dan kemudian saat orde baru, yang menuntut fusi partai Islam bergabung ke PPP, ia pun bergabung dengan partai yang menaungi umat Islam itu. Tetapi menjelang tahun 1980-an, berbagai intimidasi intimidasi kepada Kyai kerap dilakukan oleh pihak militer. Dan dengan ijtihad politiknya, KH. Muhammad Suhud bergabung dengan Golkar. Keputusan ini pernah mengantarkannya disidang oleh para Kyai. Tetapi dengan argumentasi strategi politiknya, maka para Kyai memahami keputusannya.

    Bahkan salah satu idenya, agar kiai NU bisa ada dimana mana, terwujud pasca NU melakukan gerakan khitoh. Wallahualam.

    Isno Woeng Sayun
    Ketua LTN NU Kab. Mojokerto

     

  • MBAH MANSYUR MENGANGKAT SEPOOR

    MBAH MANSYUR MENGANGKAT SEPOOR

    SORBANSANTRI.COM

    Kaitan Masjid Brangkal dan Pondok Ndresmo

    Daya linuweh yang dimiliki seseorang bukanlah sebuah hal yang aneh. Kelebihan itu didapatkan dari proses lelaku dan kedekatan pada Sang Pencipta. Kejadian yang tidak mungkin bagi mereka dapat dilakukan. Mbah Mansyur salah seorang yang memiliki daya linuweh tersebut.

    Mbah Mansyur adalah seorang dai yang berasal dari Sidoresmo Surabaya. Dia menetap dan mendirikan sebuah masjid di dekat Kali Brangkal. Lokasi masjid itu langsung berhadapan dengan pabrik gula Brangkal milik Eachauzier. Pendirian. Pabrik itu merupakan pabrik gula terbesar yang ada di Mojokerto. Oleh masyarakat sekitar Mbah Mansyur dikenal sebagai orang sakti.

    Ketika membangun masjid Brangkal, ada sebuah peristiwa aneh yang dilakukan oleh Mbah Mansyur. Pada saat menaikkan kap bangunan ternyata diketahui bahwa ada blandar yang kurang panjang. Kayu yang tersedia sudah tidak ada lagi yang bisa digunakan menyambungnya. Menebang kayu lainnya juga tidak mungkin karena butuh waktu untuk mengeringkan kayu tersebut. Mendapatkan laporan dari para tukang, Mbah Mansyur segera turun ke lapangan. Kayu jati yang kurang panjang beliau pegang dan ditariknya. Seperti karet saja, kayu jati itu molor mengikuti tarikan Mbah Mansyur. Setelah itu kayu dipasang dan bangunan dapat diselesaikan tanpa tertunda lagi.

    Salah satu keanehan Mbah Masyur adalah kekuatannya saat menarik gerbong kereta. Diceritakan bahwa pada suatu hari gerbong kereta terjebur ke kali Brangkal. Gerbong kereta barang tersebut milik perusahaan kereta api Oost Java Stoomtram (OJS). Seperti biasanya jika ada kecelakaan semacam itu, maka didatangkalah kereta derek dari stasiun besar Mojokerto.

    Seharian penuh upaya evakuasi dilakukan dengan alat mekanis. Untuk kebutuhan itu maka jalur transportasi kereta dari arah Mojoagung harus dihentikan. Sayangnya gerbong tidak bisa ditarik dari dalam kali. Derek seolah tidak mampu mengangkat berat gerbong kosong tersebut. Para pekerja sudah kehabisan akal mengatasi hal itu.

    Pada saat itulah ada seorang warga yang menyarankan agar minta tolong pada Mbah Mansyur. Saran itu dilakukan dengan mendatangi beliau dan kesediaanpun dudapatkan. Untuk mengangkat gerbong dari dalam kali, Mbah Mansyur tidak butuh alat bantu apapun kecuali seutas benang. Dengan daya linuwehnya, gerbong berhasil ditarik sendiri oleh Mbah Mansyur. Ditarik sendiri dengan seutas benang.

    Peristiwa anjloknya gerbong kereta api OJS di Brangkal itu sendiri terjadi pada bulan Maret 1926. Berita kecelakaan tersebut sempat dimuat dalam koran Sumatra Post tanggal 15 Maret.

    Masyarakat memang tidak heran dengan kesaktiannya. Beliau berasal dari keluarga pesantren Ndresmo yang kondang dengan ilmu kanuragan. Sejak muda terbiasa dengan lelalu dan tirakat untuk menempa dirinya.

    Tokoh sakti itu hidup pada tahun 1930-an. Seperti tokoh yang memiliki kelebihan atau kasekten, maka Mbah Mansyur juga berusaha untuk menjauhkan diri dari keramaian dunia. Sebuah pondok beliau dirikan di Brangkal. Pesantren itu memang tidak sebegitu besar pada waktu diasuh oleh Mbah Mansyur dan mengalami kemajuan pesat saat dipegang oleh KH Khusen Ihsan. Karena itu pesantren tersebut dinamakan Al Ikhsan. Mbah Mansyur kembali ke Sidoresmo pada kisaran tahun 1940-an. Masjid dan pesantren diteruskan oleh Kyai Ihsan dan nantinya dilanjutkan oleh putranya, KH Khusen Ihsan.

    Pada mimbar khutbah di Masjid Brangkal tertulis bila masjid itu didirikan pada bulan Oktober 1938. Pendiriannya tepat pada bulan Ramadhan 1357 Hijriyah. Berdasarkan catatan tahun itu maka dapat dipastikan bahwa Mbah Mansyur tinggal di Brangkal pada kisaran tahun tersebut.

    Saat tinggal di Mojokerto Mbah Mansyur sering mengunjungi makam ulama di sekitar Mojokerto. Salah satu makam yang kerap dikinjungi adalah Makam Mbah Sinari Manting. Oleh karena itu makam mbah Manting hingga saat ini dihormati oleh keluarga Sidosermo.

    Ketetkaitan Mbah Mansyur dengan Pesantren Brangkal terjadi lagi tahun 1946. Keluarga Mbah Mansyur yaitu Kyai Mas Muhajir Masyur mengungsi ke Brangkal. Selain mengungsi beliau juga ikut mengajar disana. Aktifitas yang berhenti saat serdadu Belanda menyerang Brangkal dan menjadikan masjid Brangkal menjadi pos tentara Belanda.

    *photo dari www.Ndresmo.blogspot.

    Sumber : Catatan Serpihan Ayuhanafiq

  • NU, GP ANSOR DAN BANSER, CANGGU-JETIS BERBAGI BERSAMA ANAK YATIM DAN KAUM DHUAFA

    NU, GP ANSOR DAN BANSER, CANGGU-JETIS BERBAGI BERSAMA ANAK YATIM DAN KAUM DHUAFA

    Cyberaswaja.online|Jetis. Pengkaderan dan  Regenerasi ditindak lanjuti GP Ansor Ranting Canggu dengan melaksanakan Program Rutin Bulanan yaitu Majelis Dzikir dan Sholawat (Majlis Dzikir dan Sholawat) MDS tingkat ranting yang dilaksanakan di Masjid Al Muttaqin Perum Canggu Permai pada Rabu Malam berjalan dengan hikmat , meriah dan sukses yang di hadiri oleh kurang lebih 200 (dua ratus) jamaah termasuk 4 group banjari dari Canggu. 5/02/2020.

    GP Ansor Ranting Canggu dengan melaksanakan Program Rutin Bulanan yaitu Majelis Dzikir dan Sholawat
    FOTO: GP Ansor Ranting Canggu Rutin Bulanan Majelis Dzikir dan Sholawat

    Pelaksanaan Kegiatan MDS kali ini juga untuk menunjukkan bahwa masjid Al Muttaqin masjidnya warga NU bukan yang selama ini di tengarai banyak pihak bahwa masjid Al Muttaqin tempat paham paham tertentu yang tidak sesuai dengan Pancasila .

    kita harus memagari/membentengi anak anak kita generasi muda dari paham paham yang radikal. Dan menjadikan Masjid Al Muttaqin sebagai tempat atau basisnya paham ahlisunnah wal jamaah. Ucapnya Alim selaku ketua RW 04 ini.

    Kegiatan rutinan ini disambut baik dan didukung oleh Tamir masjid, “pentingnya ajaran ahlussunnah wal jamaah khususnya ajaran Mbah Hasim dan siap menjadikan masjid Al Muttaqin menjadi sentral siar Islam Aswaja”. Ucapnya Ketua Tamir Masjid Al-Muttaqin .

    GP Ansor Ranting Canggu dengan melaksanakan Program Rutin Bulanan yaitu Majelis Dzikir dan Sholawat
    FOTO: GP Ansor Ranting Canggu Program Rutin Bulanan yaitu Majelis Dzikir dan Sholawat

    Rutinan yang dilaksanakan Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor mengembangkan ke gerenasi selanjutnya, agar amaliyah-amaliyah NU tetap terjaga dan diamalkan.

    “Kita bertekad terus memperjuangkan serta memperkenalkan Amaliyah NU kepada Generasi Muda baik di wilayah Canggu dan juga Perumahan Permai Canggu melalui kegiatan GP ANSOR”. Tegas Gus Darto selaku Ketua Ranting GP Ansor Canggu.

     

    Kegiatan Rutinan GP ANSOR melalui lembaga Majlis Dzikir dan Solawat ini, tidak hanya pembacaan sholawat, namun dilaksankan Program dengan memberikan Santunan Kepada Yatim Piatu dan Kaum Dhuafa, pada kesempataan kali ini, diberikan 17 (tujuh belas) anak Yatim Piatu serta 9 (sembilan) Kaum Dhuafa dengan bentuk pembagian  sembako.

    GP Ansor Ranting Canggu dengan melaksanakan Program Rutin Bulanan yaitu Majelis Dzikir dan Sholawat
    FOTO : GP Ansor Ranting Canggu Santuni Anak Yatim

    GP Ansor Ranting Canggu dengan melaksanakan Program Rutin Bulanan yaitu Majelis Dzikir dan Sholawat
    Foto: Ketua Ranting NU Santuni Anak Yatim

    GP Ansor Ranting Canggu dengan melaksanakan Program Rutin Bulanan yaitu Majelis Dzikir dan Sholawat
    Foto; Ta’mir Masjid Al-Muttaqin berbagi bersama anak yatim

    GP Ansor Ranting Canggu dengan melaksanakan Program Rutin Bulanan yaitu Majelis Dzikir dan Sholawat
    Foto; Rijalul Ansor Canggu berbagi bersama anak yatim 

    Bersholawat dan saling berbagi bersama ini kepada Yatim Piatu dan Kaum Dhuafa mendapatkan dukungan oleh ketua Ranting NU Canggu, kegiatan rutin bulanan GP ANSOR ini melalui Lembaga Majlis Dzikir Dan Sholawat mari kita laksanakan, sebagai Wujud menjaga amaliyah NU serta berdo’a demi kedamaian NKRI.

    “kita selaku bapaknya Ansor, mendukung penuh kegiatan ini, ada santunan anak yatim dan kaum dhuafa ini, kita tanamkan kepada generasi selanjutnya agar tetap dipertahankan melalui program GP ANSOR ini, insya Allah pada kegiatan selanjutnya kita tambah dengan menambah wawasan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang diisi oleh kyai”. Ucapnya Abah Alim, selaku Ketua Ranting NU Canggu.

    Rutinan Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor ini, juga berjalan tertib dan aman dengan kawalan dan keamanan BANSER Canggu dalam pelaksanaan tugasnya, sebagai Garda Terdepan ketika dilapangan. (wg/Infokom).

    nb: mohon maaf apabila ada penulisan nama dan gelar.