Tag: Mojokerto

  • Perbedaan Bukan Suatu Alasan Pertikaian

    Perbedaan Bukan Suatu Alasan Pertikaian

    SORBANSANTRI.COM

    Ciri Khas Pencak Silat NU Pagar Nusa

    1. Faham Dan Tradisi Spesifik , Pagar Nusa sebagai bagian dari Kultur dan Tradisi Nahdlatul Ulama, Menganut asas ketaatan menjalankan tradisi keagamaan dan petunjuk dari Ulama sebagai pihak yang memiliki Otoritas Keagamaan.
    2. Persaudaraan dikalangan Anggota Pagar Nusa yaitu persaudaraan dalam pengertian Luas ,Persaudaraan sesama warga NU ( Ukhuwah Nahdliyah ) , Persaudaraan sesama Muslim ( Ukhuwah Islamiyah ) , Persaudaraan antar sesama Bangsa ( Ukhuwah Wathoniyah ), Persaudaraan sesama Manusia ( Ukhuwah Basyariyah).
    3. Pagar Nusa memiliki filosofi “Pertahanan lebih Utama dari pada Penyerangan” dalam artian bahwa kemampuan Beladiri yang dikembangkan Pagar Nusa adalah kemampuan untuk mempertahankan jika terjadi penyerangan. Penyerangan yang dilakukan Pagar Nusa adalah untuk melumpuhkan , sebagai shock theraphy yang menjadikan lawan menyerah tanpa harus mematikan lawan, Inilah beladiri dengan menggunakan Akhlaqul Karimah.
  • KEMERIAHAN HARLAH NU KE-94 DI JETIS MOJOKERTO

    KEMERIAHAN HARLAH NU KE-94 DI JETIS MOJOKERTO

    Cyberaswaja.online|Jetis. Semarak Harla NU ke-94 di seluruh Nusantara begitu ramai dengan ragam kegiatan yang dilakukan. Seperti halnya di salah satu kabupaten Mojokerto. Dalam rangka Harlah NU ke-94 GP Ansor Canggu Kecamatan Jetis mengadakan kegiatan diantara Pelatihan Bekam Tibbun Nabawi yang dilaksanakan oleh Rijalul Ansor Canggu.

    HARLAH NU-94 JETIS
    FOTO: PANITIA HARLAH NU-94 Desa Canggu-Jetis

    Terkait biaya, serta pelatihan ini, tidak dipungut biaya sepersen pun alias gratis. Bekam Tibbun Nabawi dilakukan pada Hari sabtu malam ini, berada di tempat Kopi Gladak, Tepatnya Di Dusun Balongsono Desa Canggu, Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. (01/02/2020).

    harlah NU 94
    Foto: pengurus GP Ansor Jetis Bersama Muspika di Harlah NU ke-94

    Pada pelatihan ini, merupakan semangat kader dalam rangka menyambut Harlah Nu ke-94 ini, kordinasi untuk mempermudah agenda ini dibentuk, agar memudahkan peserta dalam mengikuti kegiatan tersebut.

    “Harla NU ke-94 merupakan kebanggan kita sebagai kader untuk berperan mewarnainya, GP Ansor Canggu benar mengadakan pelatihan Bekam Tibbun nabawi, kita sudah menentukan kordinatornya untuk mempermudah peserta mengikutinya”. Tegas Abah Alim Banser Jetis ini.

    Tidak mau ketinggalan, PAGAR NUSA Canggu dalam rangka Harla Nu ke-94, diketahui pada hari Minggu, pukul 08:30 WIB  juga mengadakan Latihan Gabungan (LATGAB) yang dikuti oleh 500 orang Pendekar Pagar Nusa yang dilaksanakan di Lapangan Canggu. (02/02/2020).

    Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto
    Foto: Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah Nu-94

    Para pendekar-pendekar Pagar Nusa ini dalam Atraksi Melakukan; Pemecahan Benda Keras, Bambu Gila, Kekebalan, Jurus Yaa Hayyuu Yaa Qoyyum. Yang didampingi oleh senior-senior Ahli dari Pagar Nusa.

    Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto
    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94

    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94
    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94

    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94
    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94

     

    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94
    Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94

    Antusiasme masyarakat dalam
    Foto: Menyanyikan Mars Subulul Wathon oleh Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94

    Antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut pecah, dengan menonton atraksi yang diberikan oleh Pasukan Pagar Nusa, tepuk tangan riyuh melihat atraksi ini. Skill dan kompetensi yang dimiliki peserta sudah melalui tahap latihan latihan yang telah diberikan bekal sebelumnya.

    Disisi lain, Harlah NU ke-94 ini juga dimeriahkan oleh MUSLIMAT dan FATAYAT desa Canggu Kecamatan Jetis, dengan mengadakan TAHLIL bersama, di Hari Minggu Paginya, yang dilaksakan di Musholla “Baitul Muttaqin” Balonsono, Jetis kabupaten Mojokerto. (02/02/2020).

    Jamaah Muslimat dan Fatayat NU Canggu-Jetis-Mojokerto
    Foto: Jamaah Muslimat dan Fatayat NU Canggu-Jetis-Mojokerto di Harla NU-94

     Kemeriahan giat Harla NU ke 94 ini, sudah direcanakan sejak awal, sehingga agenda tersebut dipersiapkan matang-matang oleh salah satu Banom NU ini. Terlihat jamaah yang memadati dari Mushollah tersebut. 

    Jamaah Muslimat dan Fatayat NU Canggu-Jetis-Mojokerto
    Foto: Jamaah Muslimat dan Fatayat NU Canggu-Jetis-Mojokerto di Harlah NU-94

    Kirim do’a dengan pembacaan Tahlil Bersama, menyambut Harlah NU-94 juga untuk keuntuhan NKRI juga, merupakah salah satu amaliyah NU yang sudah menjadi tradisi untuk setiap tahunya dalah memperingati Harlah NU-94, untuk dilaksanakan, dilestarikan yang dilaksanakan kader-kader selanjutnya.

    Meriahnya kegiatan HarlahNU-94 ini, juga diwarnai dengan giat “Gebyar Sholawat” oleh IPNU dan IPPNU Canggu Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. (02/02/2020).

    IPNU dan IPPNU Gebyar Shalawat di Harlah NU-94
    Foto: IPNU dan IPPNU Gebyar Shalawat di Harlah NU-94

    Bertempat di Kopi Gladak pada Minggu Malam, salah satu banom NU dari IPNU dan IPPNU melaksanakan Pembacaan sholawat untuk kedamaian bangsa Indonesia pada Harlah NU-94 kali ini.

    Sholawat yang dibawakan oleh Generasi penerus ini, bertujuan juga untuk semangat meraih ridho ALLOH dengan akhir khusnul khotimah. Serta menyatukan tekat untuk mejaga NKRI dengan berkhidmat di NU. (WG-Infokom)

  • Mencari Makam Syuhada

    Mencari Makam Syuhada

     

    SORBANSANTRI.COM

    Mojokerto Kota Perjuangan

    Makam dengan nomer kode 244 ada di jajaran paling selatan Taman Makam Pahlawan (TMP) Gajah Mada Mojokerto. Pada nisannya tertulis nama Mat Jatim. Pada makam itulah tertanam jasad seorang syuhada, dia mati syahid.

    Ditulis oleh Pamoe Rahardjo, komandan Pasukan Komando Hayam Wuruk, bila jenazah Mat Jatim dipindahkan dari Ngembeh sekitar tahun 1950. Saat dibongkar kondisi jasad dan pakaiannya dalam kondisi utuh. Padahal Mat Jatim gugur dalam pertempuran tanggal 12 Pebruari 1949.Subhanallah.

    Jenazah yang masih mengenakan baju saat meninggal dengan peluru menembus dada itu dipindah ke belakang Kantor Kecamatan Kutorejo. Prakarsa pemindahan makam syuhada tersebut datang dari Mayor Mansyur Solikhi yang saat itu menjabat Komandan KDM Mojokerto sekaligus merangkap selaku Bupati Militer Kab. Mojokerto. Mayor Mansyur adalah atasan Mat Yatim pada pertempuran tanggal 12 Pebruari yang menyebabkan dia gugur. Tahun 1980-an makam Mat Yatim dipindahkan lagi ke TMP Gajah Mada Mojokerto.

    Informasi penghuni TMP bisa kita lihat setelah melewati pintu gerbang. Pada dinding marmer yang memuat nama jenazah yang dimakamkan di lokasi itu tertulis nama Achmad Khosim. Nama itu adalah nama asli komandan Kompi IV Bn 03 Mansyur Sholikhi. Mat Jatim merupakan nama panggilan karena dia memang anak yatim. Kemungikinan dia gugur pada usia muda, sekitat 20 tahun.

    Perkiraan umur itu bisa ditentukan dari syarat pendaftaran Hizbullah pada awal tahun 1945. Untuk bisa berangkat ke kamp pelatihan adalah seorang pemuda muslim, usia sekurangnya 17 tahun, masih lajang dan mendapatkan ijin dari orang tua atau walinya. Karena hidup di Panti Asuhan ijin tertulis didapatkan dari pengurus panti. Perkiraan Khosim lahir pada tahun 1928

    Pendidikan militer dia dapatkan tentara Jepang tahun 1945. Mat Jatim merupakan salah satu peserta pelatihan Hizbullah di Cibarusa Bekasi. Syarat menjadi peserta adalah pemuda dwngan usia minimal 17 tahun. Peserta juga harus lajang, belum berumah tangga. Disanalah dia digembleng untuk memperoleh sertifikat yang ditandatangani Mbah Hasyim Asyari. Dan setelahnya dia setia bergabung dalam kesatuan Lasykar Hizbullah Mojokerto hingga dilebur dalam TNI tahun 1947.

    Bila melihat kondisi makamnya, tampak bahwa tidak pernah ada yang menziarahi. Ada banyak rumput tumbuh di atas pusaranya. Rerumputan itu segera dicabuti oleh petugas makam saat menunjukkan lokasi makam tersebut. Sepertinya makam yang tidak pernah didatangi keluarga tidak begitu diperhatikan oleh petugas kebersihan TMP.

    Sayangnya niat mencari makam Kapten Madjid Asmara, Kepala staf Bn 03 tidak ketemu. Pada buku daftar nama makam tidak tercantum nama mantan Komandan Hizbullah Gresik yang menjadi korban pertempuran di jembatan Ngembeh tersebut. Sebelum bergabung dalam Lasykar Hizbullah, Madjid Asmara pada jaman Jepang merupakan anggota sukarelawan PETA.

    Kemungkinan besar Kapten Madjid Asmara adalah korban pertempuran dengan jabatan tertinggi saat itu. Jabatan Kepala Staf Batalyon merupakan orang kedua setelah Mansyur Sholikhi, komandan yang berpangkat Mayor. Karena itu, Mansyur sangat berduka atas gugurnya Madjid Asmara.

    Jika menilik dari pemindahan makam para pahlawan yang ada di seluruh wikayah Mojokerto untuk disatukan di TMP, harusnya makam Madjid Asmara ada di tempat itu juga. Setidaknya tidak jauh dari makam Kapten Mat Jatim. Entah dimana makamnya setelah proses pemindahan. Ataukah nisannya diberi nama “tidak dikenal” seperti makam lainnya. Memang ada banyak makam tertulis tanpa nama di TMP Gajah Mada itu.

    Seorang syuhada jelas tidak butuh makam karena sudah disediakan tempat oleh Allah. Seperti juga saat berjuang yang tidak memikirkan jabatan. Namun adalah tugas generasi kini untuk merawatnya sebagai bentuk penghormatan. Rasa hormat atas pengorbanan para syuhada

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • PERINGATI HARLAH NU 94 BANSER GELAR BAKSOS di MAKAM Rois Syuriah Pertama PC NU

    PERINGATI HARLAH NU 94 BANSER GELAR BAKSOS di MAKAM Rois Syuriah Pertama PC NU

    Cyberaswaja.online|Gedeg. Memperingati HARLAH NU ke-94 BANSER GELAR BAKSOS di MAKAM Rois Syuriah Pertama PC NU – Sesuai namanya, BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) pasukan elit Nahdlatul Ulama (NU) ini dididik untuk siap siaga dalam kondisi dan situasi apapun.

    BANSER BAKSOS HARLA NU 94
    FOTO: Kepala Banser bersama jajarannya di Makam Rois Syuriah Pertama PC NU Kab.Mojokerto.

    Satuan Koordinasi Cabang (SATKORCAB) Banser kabupaten Mojokerto. Pada hari Jumat mereka menggelar Bhakti Sosial di kawasan makam panjang Desa Losari kecamatan Gedeg Mojokerto. Sejak pagi, ratusan anggota BANSER tersebut nampak semangat membersihkan area makam KH. Zainal Alim (Rois Syuriyah pertama PCNU kabupaten Mojokerto). 31/1/2020. 
    FOTO: KEPALA BANSER BERSAMA JAJARANYA MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM
    FOTO: Banser membersihkan Makam KH. ZAINAL ALIM, Rois Syuriah Pertama PC NU Kab.Mojokerto

    Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor kabupaten Mojokerto, Ali Mohammad Nasih memang telah mengintruksikan kepada KASATKORCAB agar selain kegiatan pam keamanan, apel kebangsaan dan ngaji organisasi, BANSER juga bergerak aktif kegiatan social kemasyarakatan seperti ini. Terlebih ini adalah makam Kyai NU.
    “Kegiatan bersih makam ini dilakukan untuk menyambut HARLAH NU ke-94 dan sebagai bentuk bhakti santri pada Kyainya” Ungkap KASATKORCAB BANSER Mojokerto H. Moh. Yunus. 
    FOTO: KEPALA BANSER BERSAMA JAJARANYA MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM
    FOTO: Baksos BANSER di MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM

    “BANSER itu juga santri. Jadi harus khurmat Kyai, lah. Apalagi ini kan HARLAH NU,” Tambah Abah Yunus, sapaan akrabnya, Jumat (31/1/2020).

    Kegiatan sosial ini dilaksanakan guna menumbuhkan serta menguatkan rasa kebersamaan dan kegotong-royongan khususnya sesama anggota BANSER, umumnya kepada masyarakat.

    “Banser jaman sekarang dituntut semangat dan kesadarannya. Selain ngalap barokah (mencari berkah) kegiatan seperti ini dilakukan juga untuk uri-uri tradisi NU. Orang NU sejak dulu kan suka gotong royong dan menjaga kebersamaan,” imbuhnya.

    FOTO: KEPALA BANSER BERSAMA JAJARANYA MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM
    FOTO: BANSER Tabur Bunga di makam ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM

    Kegiatan Baksos di Makam ini dihadiri sekitar 110 personil BANSER dari perwakilan seluruh PAC (Pimpinan Anak Cabang) se-Kabupaten Mojokerto, yang turut serta dalam kegiatan ini. Rencananya kegiatan ini akan dijadikan agenda rutin tahunan dan akan disebar ke makam para Kyai NU di kawasan Mojokerto. (wg/infokom)

    Penulis: Ki Narto
    Editor : WG-Infokom
  • Hujan Bukan rintangan untuk ber-Dzikir dan ber-Sholawat

    Hujan Bukan rintangan untuk ber-Dzikir dan ber-Sholawat

    Cyberaswaja.online|Pungging. Sungguh semangat yang luar biasa kita acungkan 4 jempol kepada para jama’ah dan penggemar Dzikir dan Sholawat pada hari Sabtu malam pukul 20.30wib sampai selesai. Meskipun hujan terus melanda mulai dari sore tadi tapi tetap semangat dan pantang menyerah para Jama’ah untuk ber-Dzikir dan ber-Sholawat.(01/02/2020).

    Foto: Jamaah Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor
    Foto: Jamaah Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor

    Foto: Jamaah Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor
    Foto: Jamaah Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor

    Kegiatan Dzikir dan Sholawat ini di adakan oleh LMDS-RA GP.Ansor PAC Kec.Pungging bersama MBS (Majelis Bronto Sholawat) dihadiri oleh para Ulama’ dan Umaro’ diwilayah Kec.Pungging serta dihadiri jamaah sekitar 1.500 orang.

    Foto: Jamaah Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor
    Foto: Seni Sholawatan

    Kegiatan berlangsung aman dan kondusif, terlihat BANSER sebagai Garda Terdepan Bangsa ini, juga menjaga untuk memastikannya kegiatan berjalan dengan baik. (Irul/infokom)

  • Si Mbah Kyai Moh. Mustofa, Kyai Dungdeng Anak Singokerto Asal Kedungsumur

    Si Mbah Kyai Moh. Mustofa, Kyai Dungdeng Anak Singokerto Asal Kedungsumur

    SORBANSANTRI.COM

    Canggu, selain memiliki jejak jejak sejarah Majapahit yang berlimpah, juga menyimpan sejarah agung seorang ulama yang pernah lahir di wilayah itu. Namanya Mustamin anaknya Singokerto, ki Lurah Kedungsumur Canggu Jetis Mojokerto. Di mulai dari kenakalan Mustamin saat masih muda. Ia berguru kanuragan dari berbagai guru. Tidak hanya ilmu putih, ilmu hitam pun ia serap. Dan yang menjadi cirinya kala itu, ilmu itu harus bisa dibuktikan. Cara membuktikannya dengan bertarung, mencuri, dan perbuatan asusila lainnya.

    Perbuatan Mustamin itu membuat banyak orang resah. Keamanan terganggu. Dan semua orang menjadi takut kepadanya. Akhirnya menggiring kepada para tokoh bermusyawarah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Ki Lurah Singokerto pun hadir. Ia menjadi gundah gulana saat mengetahui bahwa anaknyalah yang ternyata berulah. Kepada peserta musyawarah itu Ki Lurah Singokerto berjanji akan menyelesaikannya sendiri terkait ulah anaknya. Pak Lurah pun pergi menemui anaknya, dan menanyakan tujuan dari keonaran yang ia perbuat. Dari percakapan antara bapak dan anak itu, akhirnya Ki Lurah Singokerto faham, bahwa anaknya ingin menjadi dungdeng (sakti). Dan Ki Lurah berjanji akan mencarikan guru yang hebat yang bisa membuat ia menjadi orang yang sakti mandraguna.

    Mustamin kemudian dibawa mondok ke Pondok Sidosermo -Surabaya. Pada saat itu yang menjadi pengasuh adalah KH. Baidlowi. Di Pondok Sidosermo itu Mustamin tidak diajar mengaji, tetapi hanya ditugasi menabuh beduk untuk sholat lima waktu. Karena Mustamin tidak pernah ngaji dan hanya menabuh beduk selama nyantri, maka ia sering diejek teman temannya, akan memperoleh ilmu apa kelak kalau nyantrinya hanya menabuh beduk saja. Tetapi dijawab oleh Mustamin, kalau yang ia perbuat hanya menaati perintah gurunya.

    Mustamin nyantri ke Pondok Sidosermo selama satu tahun. Setelah itu ia melanjutkan nyantri di daerah Pati. Di pondok Pati Jawa Tengah itu pun, ia tidak diajar ngaji oleh gurunya. Ia hanya ditugasi untuk menata dampar para santri yang hendak mengaji. Ia sendiri saat dimulai ngaji, selalu diusir oleh gurunya. Perlakuan gurunya itu membuat nestapa Mustamin. Ia pun nekat untuk ikut ngaji. Setiap Kyainya memberi ngaji kepada santri-santrinya, ia pun naik ke atas genting, mendengarkan isi pengajiannya. Hal itu dilakukan terus menerus. Tetapi pada suatu saat, ia tertidur. Dan kemudian terjatuh dari atap sampai ke bawah di depan pintu.

    Bertepatan pula sang Kyai telah selesai dan melangkahkan kaki ke pintu keluar. Sang Kyai kaget dan memarahi Mustamin. Mustamin meminta maaf. Ia mengaku melakukan itu semua karena ingin mengaji. Kyainya tetap memarahi dan mengusirnya sambil mengatakan, “Kalau begitu ilmuku ambil semua”

    Kata kata Kyai itu yang kemudian menjadi sebab ilmu laduni diperoleh oleh Mustamin. Mustamin memiliki ilmu tingkat tinggi. Ia pun pandai membaca kitab kuning. Perbendaharaan kitabnya pun begitu melimpah.

    Kata Ustad Nur Aliman, Ketua Takmir Masjid Al Mustofa yang saya temui, tentang ilmu laduni itu dan penguasaan teks Arab KH. Muh. Mustofa, dibuktikan dengan pengakuan santri santri KH. Muh. Mustofa sendiri yang pernah ngaji kitab kitab berbahasa Arab. Koleksi kitab dari perpustakaan peninggalan KH. Mustofa sendiri juga berjimbun. Bahkan KH. Muh. Mustofa sendiri juga memiliki karya kitab berbahasa Arab tentang Thoriqoh. Sayangnya Ustad Nur Aliman tidak menyimpannya.

    Setelah dari Pati, Mustamin nyantri ke Pondok di Jrebeng Krian Sidoarjo. Entah pondoknya namanya apa. Ustad Nur Aliman menyebut bahwa waktu itu yang menjadi pengasuhnya bernama KH. Dasuki. Dengan KH. Dasuki ini, Mustamin berbaiat thoriqot Naqsabandiyah Kholidiyah. Ada juga yang bilang kalau thoriqotnya adalah Naqsabandiyah Qodiriyah.

    Tetapi sebelum berbaiat, Mustamin memperoleh perlakuan mengenaskan dari santri santrinya KH. Dasuki. Ia tidak diperkenankan untuk tidur di Pondok. Pun di Masjid. Para santri pernah mendengar sepak terjang Mustamin sebelumnya. Konon, Mustamin, ketika mempelajari ilmu tertentu, pernah meminum darahnya anjing. Karena hal itulah, kemungkinan para santri itu menganggap Mustamin itu najis.

    Perlakuan para santri itu dihadapi dengan sabar. Mustamin kemudian tidur di lapangan.

    Saat KH. Dasuki hendak melaksanakan sholat malam, ia terkaget kaget melihat sinar silau yang menembus langit di tengah lapangan. Dan ternyata sinar itu berasal dari seseorang yang tidur di lapangan. Akhirnya KH. Dasuki menandai santri yang tidur itu dengan memberi tali pada sarungnya. Dan pada akhirnya KH. Dasuki siapa yang tubuhnya bersinar menembus langit itu.

    Selesai berguru ke KH. Dasuki, Mustamin pulang ke rumahnya. Kepada ayahnya ia meminta untuk dibuatkan Masjid. Dan permintaan itu dikabulkannya. Warga berduyun duyun ikut membangunkan Masjid. Dan di Masjid al Mustofa itulah Mustamin memulai dakwahnya. Ia mulai menerima santri.

    Ditengah kesibukannya mengajar ngaji para santrinya, ia merasa belum sempurna perjalanannya sebelum berangkat haji. Ia pun izin kepada ibunya, dan diberi izin untuk melaksanakan haji. Usai menjalankan ibadah haji itulah namanya berubah. Ia kemudian dikenal dengan nama KH. Muhammad Mustofa.

    Nama KH. Muhammad Mustofa semakin harum ditengah masyarakat. Banyak santri dari berbagai daerah ikut ngaji dan mengikuti thoriqohnya. Santrinya pun beragam macam. Maling maling celuring pun ditaklukan dan seketika berubah menjadi santrinya. Pun dengan orang orang sakti, mampu ditandinginya dan kemudian menjadi santrinya.

    Apabila kamisan, mungkin semacam khususiyah, dzikir khusus bagi pengikut thoriqoh, kata Ustad Nur Aliman menirukan salah satu santri KH. Muhammad Mustofa yang pernah ditemuinya, Masjid Al-Mustofa bagaikan pasar. Semua orang tumplek blek menjadi satu. Mereka ikut thoriqohan dan ngaji kepada KH. Muhammad Mustofa.

    Ada cerita menarik, ada salah satu santrinya yang berguru kepada KH. Muhammad Mustofa dengan tujuan ingin sakti. Kemudian oleh KH. Muhammad Mustofa, ia ditempatkan disebuah ruangan, semacam suluk, disuruh berdzikir dan riyadoh selama empat puluh hari. Selama riyadoh itu, ia dibukakan hijab hijabnya. Sampai selesai riyadohnya, ia kemudian menyatakan tidak ingin sakti lagi. Ia hanya ingin memandang Allah semata. Subhanallah.

    KH. Achyat Halimi dari pengakuan santri KH. Muhammad Mustofa, Mbah Aman, Sesepuh Masjid Tiban, menyatakan bahwa KH. Achyat Chalimi juga pernah menjadi santri KH. Muhammad Mustofa. Bahkan beberapa waktu pernah menggantikan posisi imam saat khususiyah.

    Pun Kyai Bajuri, si Mbah Kyai-nya IAI Uluwiyah Mojosari, juga tercatat sebagai santri dari KH. Muhammad Mustofa. Beliau belajar kanuragan dalam upaya ikut berjuang menghadapi Belanda.

    Bisa jadi pula, pejuang pejuang kemerdekaan, menjadikan KH. Muh. Mustofa sebagai jujugan selama perang kemerdekaan. Mengingat pada usia itu, KH. Muhammad Mustofa tergolong Kyai yang disepuhkan. Juga terkenal akan ke-dongdengan-nya.

    Ustad Nur Aliman menceritakan pengalamannya menemui santri santri KH. Muhammad Mustofa yang masih ada. Hampir saat ditemui dan menceritakan sosok KH. Muhammad Mustofa, rata rata menangis tersedu sedan. Ada rasa rindu yang menyeruak. Lidah seakan kelu untuk mengucapkan keagungan dari KH. Muhammad Mustofa.

    Satu dua ada yang dengan jelas bercerita. Seperti KH. Ach Qusyairi Mansur, generasi kedua dari Pondok Pesantren Darul Hikmah Sawahan Mojosari. Saat KH. Muhammad Mustofa memiliki seorang anak. Sang Kyai memperoleh isyarah kalau anaknya akan kelak ketika besar akan menjadi nakal dan tidak memiliki jalan taubat. Karenanya KH. Muhammad Mustofa mengumpulkan para santri untuk berdoa kepada Allah dengan membacakan al-Fatihah agar Allah memberikan yang “terbaik” untuk anaknya. Kecuali KH. Ach Qusyairi Mansur. Ia tidak mau membaca al-Fatihah. Katanya setelah ketahuan dan ditanya oleh KH. Muhammad Mustofa, ia tidak tega kalau seorang anak didoakan meninggal dunia. Ia pun dihukum oleh KH. Mustofa dengan membaca Al Fatihah seribu kali. Usai membaca Al-Fatihah itu, KH. Mustofa mendoakannya menjadi Kyai. Dan terbukti kemudian ia menjadi Kyai besar.

    Dari peristiwa itu, pada akhirnya anak dari KH. Muhammad Mustofa itu memang benar benar meninggal dunia. KH. Muhammad Mustofa tidak memiki keturunan setelah itu. Dan ia pun tidak benar benar pula secara sareh menunjuk khalifah pengganti beliau. Sehingga sempat terjadi kevakuman dalam keberlanjutan throriqohnya. Namun dikemudian hari ada salah satu santrinya bermimpi dan diberi tongkat sebagai penanda estafet kepemimpinan berikutnya. Kata Ustad Nur Aliman, namanya Mustofa dan punya anak yang bernama Mustamin. Asal Sawahan Bangsal.

    Tercatat, KH. Muhammad Mustofa meninggal pada tanggal 27 September 1955. Makamnya berada dibelakang Masjid al Mustofa Canggu. Tiap tahun, khususnya pada bulan Saffar, peringatan Haul dilakukan. Pada saat haul inilah anak dan cucu cucu santrinya dulu masih berkumpul untuk memperingati Mbah Kyai Mustofa. Wallahu alam.

    Isno El Kayyis
    Ketua LTN NU Kab. Mojokerto

    Sumber Tulisan dari Wawancara dengan Ustad Nur Aliman di rumahnya, Desa Canggu, pada tanggal 21 Januari 2020. Ustad Nur Aliman saat ini adalah Ketua Takmir Masjid Al Mustofa. Beliau juga tercatat sebagai anggota Jamaah Qura wal Huffad NU Kab. Mojokerto.

  • MONUMEN SEDATI NGORO PENANDA PERANG YANG TERHALANG

    MONUMEN SEDATI NGORO PENANDA PERANG YANG TERHALANG

    SORBANSANTRI.COM

    Patung pejuang kemerdekaan berdiri di sekitar pertigaan Ngoro Indutrial Park (NIP). Penanda peristiwa masa revolusi itu merupakan salah satu monumen terbaik di Kabupaten Mojokerto karena bentuknya berbeda dengan bentuk monumen yang sering kita lihat hanya berupa tugu berbentuk peluru. Namun sayang tidak banyak yang tahu mengapa monumen itu didirikan disana ?

    Ketika belanda melakukan gerakan militer pada bulan september 1948, para pejuang republik terpaksa mengalami perubahan posisi. Serdadu Belanda menyerang hampir semua kedudukan militer RI, bahkan ibukota Jogjakarta jatuh dan para petinggi pemerintahan ditawan. Belanda mengambil momentum saat kedudukan militer Indonesia kacau akibat peristiwa Musi di Madiun yang dikenal sebagai Madiun Affair. Dalam analisa militer Belanda, pada saat itu kekuatan militer Indonesia lemah akibat pertikaian internal republik. Namun perkiraan itu meleset sebab para pejuang menolak menyerah dan menyerang balik menggunakan taktik gerilya. Maka berkobarlah perang Kemerdekaan jilid 2.

    Suatu hari di bulan Pebruari 1949, satu kompi pasukan dibawah pimpinan Kapten Budiman Sumantri membuat barikade. Kompi Budiman merupakan bagian dari kesatuan tempur Batalyon Bambang Yuwono (BY) yang saat itu ditempatkan di wilayah Ngoro-Mojosari. Kompi itu menggunakan bekas bangunan Pabrik Gula Sedati sebagai markasnya. Misi sebenarnya dari batlayon BY adalah masuk ke wilayah Sidoarjo dengan sasaran akhir bersama kesatuan perjuangan lainnya merebut Surabaya. Namun misi itu terhalang oleh kuatnya penjagaan lawan di jembatan Ngerame, Tanjangrono maupun jembatan porong. Sedangkan masuk ke Sidoarjo dengan cara menyeberangi Kali Porong juga riskan karena airnya besar pada saat musim hujan saat itu.

    Kompi Budiman membuat barikade di jalan raya yang menghubungkan Sedati dengan Japanan yang saat itu dikuasai musuh. Barikade itu dibuat dengan cara menebang pohon-pohon dan meletakkannya melintang di jalanan, bebatuan atau benda apa saja yang dapat menghambat pergerakan lawan. Barikade harus dibuat sebab beberapa hari sebelumnya terjadi pertempuran sporadis di desa Jedong. Setelah kejadian itu kemungkinan serdadu Belanda akan melakukan pembersihan dan berusaha menguasai Sedari.

    Tidak lama setelah barikade terpasang, sekira pukul 10.00 mulai terlihat gerakan pasukan musuh. Sebuah brencarrier berjalan pelan disertai formasi pasukan agak jauh dibelakangnya. Kendaraan tempur itu merupakan pembuka jalan untuk serangan lebih besar. Barikade yang dipasang para pejuang cukup efektif menghambat laju lawan. Kedatangan panser ringan itu segera disambut dengan tembakan pejuang. Sebuah upaya yang kurang efektif sebab jarak kendaraan itu masih diluar jarak tembak efektif. Namun hujan peluru itu cukup mengagetkan lawan. Terjadi kontak senjata sekitar setengah jam.

    Rupanya serdadu Belanda tidak tahan tekanan hujan peluru dari para pejuang. Walaupun brencarrier sanggup menahan peluru, tetapi mereka memilih lari meninggalkan kendaraannya untuk bergabung dengan induk pasukannya. Rupanya sebelum lari, serdadu itu sudah merusak mesin peralatan tempur tersebut. Saat didekati oleh para pejuang kondisi kendaraan itu mesinnya mati. Dari pertempuran singkat itu berhasil disita sebuah radio komunikasi (LCR), sepucuk pistol suar/isyarat dan tentu kendaraan itu sendiri. Namun karena mesin mati kendaraan itu ditinggal setelah dirusak. Mutralieur yang terpasang juga tidak bisa dibawa sebab sulit melepasnya.

    Beberapa hari berselang sejak peristiwa itu, tepatnya tanggal 11 Pebruari, gerakan pasukan lawan kembali terlihat. Sebelum masuk ke wilayah Sedati, mereka sudah melepaskan tembakan meriam terlebih dahulu. Kedudukan pejuang menjadi porak poranda karena masing masing berusaha menyelamatkan diri tanpa menghiraukan formasi pasukannya. Setelah peluru meriam dan mortier berhenti, tank.dan panser bergerak masuk ke Sedati. Perlawanan sporadis dilakukan menyambut datangnya lawan. Namun perlawanan itu tak banyak berarti karena formasi pejuang sudah porak poranda. Pada hari itu Sedati jatuh ke tangan Belanda. Tidak lama kemudian Mojosari juga berhasil dikuasai tentara belanda.

    Rupanya Sedati dan Mojosari memang menjadi target serangan lawan. Dari kedua daerah itu kemudian dilakukan serangan besar-besaran terhadap kedudukan pejuang di daerah Kutorejo. Pasukan Belanda menyerang dari berbagai arah. Kedudukan pasukan republik yang tergabung dalam Pasukan Komando Hayam Wuruk terjepit. Pertempuran terjadi sejak pagi hingga malam pada tanggal 12 Pebruari 1949.

    Jika saja waktu itu Sedati bisa dipertahankan tentu para pejuang masih punya jalan untuk lolos dari kepungan. Pertempuran besar itu merupakan pertempuran terbuka, kedua kekuatan berhadapan mengadu senjata dan keberanian, mirip dengan pertempuran nopember 1945 di Surabaya. Tidak tercatat pasti berapa jumlah korban, namun setidaknya lebih dari 1000 nyawa melayang.

    Monumen Sedati dibangun untuk mengenang perjuangan pasukan pejuang dari kesatuan Batalyon Bambang Yuwono. Selain di Sedati, sebuah tugu peluru di Gumeng Gondang juga didirikan  sebagai penanda bagi Batalyon tersebut. Sayangnya monumen sebagai penanda perjuangan masa revolusi kemerdekaan itu keberadaannya tidak banyak diketahui. Patung pejuang tersebut terhalang pandang oleh bangunan yang tumbuh disekitarnya.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • BIJI DURIAN JUMADIL KUBRO

    BIJI DURIAN JUMADIL KUBRO

    SORBANSANTRI.COM

    Kisah tentang Sjech Jumadil Kubro sebagai penyebar Islam generasi awal tidaklah banyak. Tentu tidaklah mungkin tokoh sebesar beliau tidak memiliki cerita sejenis mitos yang banyak kita jumpai ada disekitar para wali. Tetapi jejak kewaliannya malah ada di negeri China.

    Alkisah, seorang muslim mendarat di negeri China. Tokoh itu ikut kapal dagang dari negeri Gujarat di tanah India. Perahu dagang China dan India memang telah memiliki jalur laut untuk melakukan niaga, selain ada jalur darat yang dikenal sebagai jalur sutera. Para pedagang muslim memang menjadikan Gujarat sebagai pangkalan dagang ke berbagai penjuru.

    Diketahui orang muslim itu bernama Sjech Jumadil Akbar atau Jumadil Kubro. Dia telah banyak berkelana di daerah India untuk menyebarkan risalah Islam pada penduduk negeri yang belum mengenal Islam. Sebagai tokoh yang namanya sudah kondang maka Jumadil Kubro memiliki banyak relasi dari kalangan atas, baik pejabat maupun saudagar. Salah seorang saudagar kenalannya bersedia memberi tumpangan ke negeri China. Bahkan saudagar tersebut tidak berkeberatan mengenalkannya dengan penguasa negeri China.

    Seperti lazimnya, rombongan saudagar segera menghadap penguasa pelabuhan untuk mendapat ijin kapalnya bersandar. Setelah itu dia akan sowan pada penguasa guna menyerahkan upeti demi mendapatkan ijin menjual barang dan membeli komoditi untuk dibawa pulang. Saat menyerahkan upeti itulah Jumadil Kubro ikut serta.

    Singkat cerita, Jumadil Kubro menyampaikan maksudnya untuk menyampaikan tentang Agama Islam yang akan disyiarkannya ke penduduk Kota Raja. Pada akhirnya Jumadil Kubro juga mengajak agar Kaisar menjadi pemeluk Islam.

    Kaisar China terperanjat karena ada orang yang berani menyebut bila raja China adalah orang biasa seperti manusia lainnya. Kaisar China mempercayai bila dirinya adalah penguasa keturunan langsung dari para dewa. Kekuasaan yang ada di tangannya adalah kekuasaan turunan yang harus disembah seperti rakyat menyembah dewa. Dalam pikirannya akan kehilangan martabat bila dirinya ikut menjadi muslim. Agama Islam memandang semua manusia sama dengan pembeda pada nilai ketaqwaannya.

    Situasi memanas karena Kaisar seolah merasa ditantang oleh tamunya itu. Bila orang itu diijinkan berkeliaran di negaranya tentu akan menjadi api yang jika membesar akan membakar kekuasaannya. Pun demikian pula dengan Jumadil Kubro yang berpikir jika sudah tidak mungkin menjalankan dakwah saat penguasa sudah ada kecurigaan. Firasatnya, Kaisar China akan menghalangi dirinya dengan berbagai cara.

    Untuk menunjukkan siapa yang benar apakah Kaisar sebagai putra dewa ataukah Jumadil Kubro yang membawa kebenaran agama, maka Kaisar membuat uji kesaktian. Dia memiliki biji buah durian yang disebutnya sebagai buah paling nikmat di dunia. Kaisar ingin sekali memiliki tanaman durian di istananya. Tetapi biji durian itu tidak pernah bisa tumbuh karena memang habitatnya di daerah panas atau tropis.

    “Jika tuan bisa menanam biji durian ini hingga tumbuh di sini, saya akan ijinkan tuan menyebarkan Agama Islam di negeri China. Bahkan saya tidak berkeberatan ikut Agama tuan”. Tantang Kaisar China.

    “Baiklah, saya bersedia menanam biji durian itu. Saya akan berdoa pada Allah agar biji itu segera tumbuh di istana tuan Kaisar”. Balas Jumadil Kubro.

    “Ingat selama biji itu belum tumbuh tuan dilarang keluar dari wilayah pelabuhan”, ujar Kaisar mengingatkan.

    Dengan disaksikan oleh para petinggi kerajaan, Jumadil Kubro menuju alun-alun depan Istana Kaisar. Tangannya menggali tanah dan meletakkan biji durian yang dia terima dari Kaisar. Saat biji ditimbuni serta disiram air, saat itulah Jumadil Kubro memanjatkan doa agar biji durian menjadi jalan turunnya hidayah bagi rakyat negeri China.

    Sesuai kesepakatan, Jumadil Kubro hanya boleh tinggal di sekitar pelabuhan saja. Namun Jumadil Kubro tidak menunggu hingga biji durian itu tumbuh. Dia tahu jika Kaisar tidak akan pernah mau menerima ajaran Islam yang akan menurunkan derajatnya dihadapan rakyat yang bertahun-tahun memuliakan Kaisar seperti dewa. Jumadil Kubro memilih keluar dari negeri China.

    Beberapa hari kemudian, Istana Kaisar menjadi gempar. Di alun-alun ada pohon durian tumbuh. Pertumbuhan pohon baru itu juga cepat membesar. Kaisar menjadi bimbang, dalam hatinya mengakui kebenaran ajaran agama yang di dengarnya dari Jumadil Kubro. Biji durian itu menjadi bukti betapa doa Jumadil Kubro lebih didengar dari pada doanya. Walaupun pengalaman dan logika sulit biji durian itu hidup di tanah China yang memiliki iklim dingin, tetapi Kaisar kuatir bila dirinya kalah bertaruh dengan Jumadil Kubro.

    Biji Durian itu bukan hanya persoalan siapa yang benar, lebih jauh lagi biji durian itu menyangkut kepercayaan. Jika rakyat tahu Kaisar kalah tentu akibatnya bisa melunturkan kepercayaan pada dirinya selaku putra dewa. Kaisar China lalu melakukan ritual agar dewa tidak memberi kehidupan pada biji durian tersebut. Namun kini dia melihat sendiri ada pohon durian dekat istananya.

    Kaisar segera memerintahkan patih agar mencari Jumadil Kubro di pelabuhan. Tentu saja Patih tidak menemukannya karena orang di pelabuhan bilang jika Jumadil Kubro sudah pergi meninggalkan China. Dia ikut menumpang kapal dagang milik orang Jawa. (Red. M.Ha)

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • R.P. SOENARJO GONDOKOESOMO TOKOH PERGERAKAN ASAL MOJOKERTO

    R.P. SOENARJO GONDOKOESOMO TOKOH PERGERAKAN ASAL MOJOKERTO

     

    SORBANSANTRI.COM

    Pernah satu tanya terlintas dalam pikiran ketika menerima informasi jika Jendral AH. Nasution dulu sering ke Mojokerto. Untuk keperluan apa dia datang ke Mojokerto ?. Dan kata tanya itu terjawab saat ditemukan benang merahnya dengan seorang tokoh asal Mojokerto bernama Raden Panji Soenarjo Gondokoesoemo.

    Soenarjo Gondokoesoemo lahir di Mojokerto pada 2 Nopemer 1892. Ayahnya bernama R.P. Djayusman Gondokoesoemo yang berkedudukan sebagai Patih Kabupaten Mojokerto. Sedangkan ibunya bernama R. Ajoe Ngalipah yang masih memiki hubungan darah dengan para penguasa Surabaya. Soenarjo memiliki beberapa saudara yang salah satunya bernama R.A. Soekarsinah yang kemudian dinikah oleh R.P. Soeroso.

    Dengan status sebagai keturunan priyayi maka Soenarjo memiliki hak untuk sekolah sampai tingkat lanjutan. Menurut Suhario Padmodiwiryo atau yang dikenal dengan julukan Hario Ketjik, Soenarjo bukan hanya menuntut ilmu di Indonesia, dia juga sempat sekolah ilmu akuntansi di Negeri Belanda. Dan setelah kembali ke Indonesia, Soenarjo bekerja pada perusahaan asuransi “Blom Van Der A” di Surabaya. Data diri Soenarjo yang terdapat pada buku Orang Jang Terkemoeka di Jawa menyebutkan dia pernah menjadi pegawai dinas pengairan di Probolinggo sebelum pindah ke perusahaan kereta api SCS, SDS dan juga OJS.

    Selain itu Soenarjo juga sempat berkarir di Asuransi Boemi Poetra di Surabaya hingga kemudian dipindah ke Bandung. Selama di Surabaya dia pernah menjadi direktur Harian Soeara Oemoem yang dimiliki oleh Parindra. Serta mengurus Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Bubutan Surabaya.

    Tahun 1924 Soenarjo menikah dengan seorang perempuan Belanda bernama Hendrika Maria Rademeker, anak seorang insinyur yang pernah berdinas di Mojokerto. Pasangan itu kemudia memiliki 3 orang anak, dua laki-laki dan seorang perempuan bernama Soenarti Gondokoesoemo.

    Rupanya hubungan sebagai saudara ipar dengan R.P. Soeroso, ketua Sarekat Islam Mojokerto, ikut mempengaruhi pemikiran politik Soenarjo. Saat R.P. Soeroso keluar dari SI dan mendekat pada PBI yang didirikan oleh dr. Soetomo, maka langkah tersebut diikuti pula oleh Soenarjo. Bahkan Soenarjo kemudian dikenal sebagai orang dekat dari pendiri organisasi Budi Utomo tersebut. Kedekatan itu dapat dibuktikan dengan ditunjuknya Soenarjo sebagai ketua Studie Club’ yang dibentuk Soetomo pada bulan Juli 1928 di Surabaya.

    Pada bulan Desember 1935, Soetomo mengadakan pertemuan untuk menyatukan partai tengah, yaitu PBI dan Budi Utomo yang dipimpin oleh R. Wuryoningrat. Pada pertemuan di Solo itu disepakati peleburan keduanya dengan membentuk partai baru yang diberi Partai Indonesia Raya yang disingkat Parindra. Soetomo dipilih sebagai ketua dan Wuryoningrat sebagai wakilnya. Ternyata Parindra mendapatkan dukukngan dengan masuknya beberapa organisasi seperti, M.H. Thamrin dengan Perkumpulan Kaum Betawi, Ratulangi (Serikat Minahasa/Celebes), Latuharhary (serikat Ambon), Dahlan Abdullah (Serikat Sumatra), dan Roeslan Wongsokusumo (Serikat Madura).

    Ideologi politik Soetomo yang ada pada garis kanan tengah sangat mewarnai diri Soenarjo. Dia tidak canggung untuk bekerja sama dengan Belanda demi memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Karena itu gerakan ala Soetomo itu dapat diterima oleh pemerintah kolonial dan sekaligus memperoleh dukungan dari rakyat, terutama di Jawa Timur. Parindra kemudian mendirikan Rukun Tani, Rukun Nelayan, serta membentuk lumbung tani. Untuk memberikan pinjaman pada anggotanya yang terus berkembang juga didirikan Bank Nasional Indonesia denga menunjuk Soenarjo sebagai direkturnya.

    Dan yang paling dikenal adalah organisasi pemuda yang diberi nama Surya Wirawan. Organisasi yang beratribut seperti tentara itu dilatih disiplin. Mereka bukan hanya sebagai pandu namun juga bersikap semi militer. Sebuah foto tentang sikap militeristik terlihat saat mereka memberi penghormatan ala Nazi saat pemakaman M.H. Thamrin, Januari 1941.

    Soenarjo Gondokoesoemo kemudian pindah ke Bandung untuk memimpin Asuransi Boemi Poetra disana pada tahun 1937. Kepindahannya juga dimaksudkan guna memperkuat kepengurusan Parindra di Jawa Barat. Dia bekerja sama dengan R. Otto Iskandar Dinata yang memutuskan bergabung dengan Parindra. Duet keduanya membuat Parindra bisa berkembang di tanah Pasundan.

    Saat tentara Jepang datang, Soenarjo memiliki relasi yang cukup baik dengan penguasa yang menyebut dirinya sebagai saudara tua. Hubungan baik itu dikarenakan Soenarjo sempat menyelamatkan seorang penerbang Jepang yang pesawatnya tertembak jatuh. Penerbang yang di daerah perkebunan tersebut disembunyikan Soenarjo dari penangkapan serdadu Belanda.

    Nama Soenarjo Gondokoesoemo tidak begitu terdengar pada jaman revolusi kemerdekaan. Aktifitas politiknya mengapung kembali pada tahun 1954 dia diangkat menjadi anggota DPR Sementara (DPRS) oleh Presiden Soekarno dari Fraksi Parindra yang memiliki 7 kursi parlemen. Kedudukan itu didapat dari pergantian antar waktu (PAW) karena RP. Soeroso, ketua umum Parindra, ditunjuk sebagai menteri sosial dalam kabinet Ali Sastroamidjojo. Dalam kepengurusan Partai Parindra Soenarjo Gondokoesoemo tercatat sebagai pimpinan pusat partai pada bagian sosial dan ekonomi.

    Karir politik Soenarjo Gondokoesoemo berakhir karena perolehan suara Parindra jatuh dalam pemilu 1955. Partai dengan lambang dua tangan memegang tangkai padi dan pena itu hanya mendapatkan 2 kursi di parlemen yang salah satunya diduduki oleh R.P. Soeroso. Perjalanan panjang Soenarjo sebagai tokoh pergerakan selesai karena dia meninggal pada tahun 1963.

    Lalu apa hubungannya dengan A.H. Nasution dan Mojokerto ?. A.H. Nasution yang merupakan alumni akademi militer Belanda di Bandung dengan pangkat letnan muda pernah ditampung oleh keluarga Soenarjo. Nasution yang saat itu disersi dari kesatuannya menjadi buronan baik oleh Belanda maupun Jepang. Setelah menempuh perjalanan dari Jember hingga Bandung dan sempat mampir ke rumah RP. Soeroso di Mojokerto, kemudian bersembunyi di rumah Soenarjo. Karena hubungan baik Soenarjo dengan pihak Jepang maka Nasution tidak ditangkap.

    Nasution tinggal bersama keluarga tersebut sekitar 3 bulan. Dari sana kemudian tumbuh benih asmaranya pada Soenarti yang memang cantik jelita. Perjumpaan keduanya berlanjut ketika Soenarti melanjutkan sekolah di Jogjakarta ikut di rumah pamannya, R.P. Soeroso. Keduanya kemudian menikah pada tahun 1947.

    Kaitannya dengan Mojokerto adalah karena salah satu putra Soenarjo yang ikut kakekkya menikah dengan anak bungsu Kyai Rofi’i Pekuncen. Oleh menantu Kyai Rofi’i, yaitu Kyai Sholeh Penarip, pernikahan itu diberi syarat terlebih dahulu. Syaratnya pengantin pria harus belajar ngaji terlebih dahulu. Setelah dianggap memenuhi syarat keduanya diberi tanggung jawab mengajar ngaji di langgar Sinoman, langgar yang didirikan Kyai Sholeh. Kisah pernikahan mereka tertulis dalam buku Kyai Sholeh Pesantren Penarip karya H.A. Yazid Qohar.

    Karena ada tali persaudaraan itulah kemungkinan A.H. Nasution sempat beberapa kali datang ke Mojokerto untuk mengunjungi kakak iparnya.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • SYUHADA YANG TERLUPA

    SYUHADA YANG TERLUPA

    SORBANSANTRI.COM

    Jasadnya masih segar saat dibongkar

    Pertempuran besar terjadi di sekitar jembatan Ngembeh Kecamatan Dlanggu. Pertarungan terbuka antara para perjuangan dengan serdadu Belanda itu menimbulkan korban besar dari kedua belah pihak. Diantara korban itu terdapat dua orang syuhada, Ahmad Qosim dan Madjid Asmara. Mereka gugur sebagai Kusuma Bangsa tanpa penanda.

    Selama meneliti masa perjuangan kemerdekaan di Mojokerto, banyak tempat sudah terdatangi. Lokasi dimana pernah terjadi pertempuran mempertahankan kemerdekaan itu acap kali diberi tanda atau monumen. Tugu dan bangunan itu dimaksud untuk pengingat bahwa tempat itu memiliki riwayat yang harus tetap diingat. Sebagian besar monumen itu ada di wilayah selatan Mojokerto, tempat dimana pernah dibentuk pasukan Komando Hayam Wuruk pada akhir tahun 1948.

    Ada monumen Gumeng yang dibuat untuk mengenang gugurnya Kapten Soenarjo dari Batalyon Bambang Yuwono. Monumen Jatidukuh yang dipersembahkan bagi gugurnya Kapten Hartono. Monumen Padusan dibangun untuk mengingat keberanian Kapten Soemadi. Monumen Kepuh Arum yang dibuat untuk Batalyon Tjipto. Dan beberapa monumen lainnya.

    Dalam pasukan Komando Hayam Wuruk yang dipimpin Mayor Pamoe Rahardjo intinya ada pada 4 Batalyon. Batalyon Bambang Yuwono (BY), Batalyon Tjipto (T), Batalyon Mansyur Solikhi (M) dan Batalyon Isa Idris (I). Tiga Batalyon pertama merupakan pasukan tempur dan satu batalyon, Batalyon I, adalah pasukan teritorial. Belakangan muncul bantuan dari Batalyon Moenasir yang menggantikan posisi Batalyon I yang tidak begitu aktif di Mojokerto. Isa Idris memilih berkonsentrasi di perbatasan Mojokerto – Jombang.

    Setelah berhasil menguasai wilayah Mojokerto selatan, pasukan Hayam Wuruk mendapat tekanan dari lawan. Mereka terkepung di barat Pesanggrahan. Dari Pugeran hingga Dlanggu berjajar tank Belanda dan dari Pacet serta Mojosari pasukan infantri menjepit posisi para pejuang.

    Pada rapat tanggal 11 Malam di sebuah mushola di selatan Mojosari, Mayor Pamoe Rahardjo memutuskan pasukannya untuk mundur ke daerah pegunungan Anjasmoro di selatan atau masuk kembali ke Trowulan. Daerah itu masih dalam kontrol kekuatan pejuang. Masing-masing Batalyon diperintahkan untuk mencari jalan menerobos kepungan lawan.

    Pagi tanggal 12 Pebruari, pecah pertempuran terbuka. Pertempuran yang menjurus satu lawan satu seperti pada pertempuran Surabaya. Pertempuran yang sudah jarang terjadi setelah penerapan taktik gerilya. Seluruh Batalyon memang berhasil lolos dari kepungan itu, namun banyak anggotanya yang gugur dalam pertarungan. Tidak tercatat berapa besar korban, tetapi informasi menunjuk pada angka lebih dari 1000 nyawa melayang.

    Diantara korban itu terdapat nama Mayor Madjid Asmara, kepala staf Batalyon M. Ada pula komandan kompi IV Batalyon M, Kapten Ahmad Qosim yang lebih sering dipanggil Mat Yatim. Mereka merupakan alumni pendidikan Hizbullah di Cibarusa. Kamp pelatihan yang dididik langsung oleh Kapten Yanagawa pada awal tahun 1945. Madjid Asmara mewakili Kabupaten Gresik dan Mat Yatim berangkat atas nama Mojokerto. Mat Yatim dikenal keberaniannya saat menghadapi pasukan Jangkar Merah atau pasukan Marinir Belanda dalam pertempuran Kembangsore Pacet pada tanggal 1 Januari 1949.

    Mat Yatim gugur dengan tubuh tertembus peluru di desa Sawo. Jenazahnya kemudian dimakamkan oleh rakyat desa tersebut setelah pertempuran berakhir. Madjid Asmara tertembak dan coba diselamatkan oleh kawan-kawannya. Upaya penyelamatan perwira Batalyon itu gagal karena Madjid meninggal karena kehilangan banyak darah di dekat jembatan Ngembeh.

    Tepat setahun kemudian, 12 Pebruari 1950, makam Mat Yatim dibongkar dan jenazahnya dipindahkan ke halaman kecamatan Kutorejo. Anehnya, jenazah itu masih utuh dan jelas terlihat lobang peluru di badannya. Demikian pula dengan pakaian yang dikenakan tidak rusak sama sekali, sama seperti saat dia pertama dikebumikan. Peti jenazah yang disiapkan menjadi sesak karena dikira jenazahnya akan menyusut. Ternyata jasad syuhada itu tidak mengalami perubahan sama sekali. Subhanallah.

    Makam Kapten Mat Yatim diketahui berada di TMP Gajah Mada Mojokerto. Kondisinya tidak terawat, seperti tidak pernah ada yang mengunjunginya. Hal itu mungkin dikarenakan tidak ada keluarga yang mengunjunginya sebab dia gugur sebelum berkeluarga. Sedangkan makam Madjid Asmara entah dimana. Dalam buku daftar makam di TMP tidak terdapat nama Madjid Asmara.

    Madjid Asmara dan Achmad Qosim adalah seorang syuhada yang merelakan jiwanya demi tegaknya Indonesia. Pertempuran di selatan Mojosari menjadi pertarungan sengit yang menelan banyak korban. Tentu jumlahnya lebih besar dibanding dengan peristiwa Gumeng dan penyergapan di Jatidukuh. Yang gugur juga terdapat perwira berpangkat Mayor. Entah kenapa pemerintah tidak membuatkan monumen penanda.

    Semoga catatan kecil ini menjadi pengingat bagi generasi nanti. Mengingat syuhada yang terlupa.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq