Tag: Nahdlatul Ulama

  • SARUNG, IDENTITAS PELAMPAU JAMAN

    SARUNG, IDENTITAS PELAMPAU JAMAN

    Perlawanan Budaya dan Ideologi para Kyai

     

    SORBANSANTRI.COM

    Pada suatu hari, protokol Istana Negara datang ke kediaman Mbah Wahab Hasbullah. Dia menyampaikan jika akan ada kegiatan Presiden Soekarno yang juga mengundang Rois Syuriah Partai NU untuk hadir. Dan karena itu diharuskan para undangan mengenakan pakaian jas lengkap dengan dasinya.

    Pada hari pelaksanaan, Mbah Wahab pun muncul di Istana. Kehadiran beliau ternyata membuat para undangan lainnya terkesima. Mereka heran sebab Mbah Wahab memakai jas dan sekaligus berdasi tetapi tidak memakai celana dan bersepatu. Mbah Wahab seperti biasa memakai sarung dan sendal saja untuk menggantikan celana panjang dan juga sepatu sebagai padanan jas yang dikenakannya. Maka jadilah Mbah Wahab satu-satunya peserta acara yang beda diantara yang lainnya.

    Sarung memang tidak pernah lepas dari Mbah Wahab dalam kegiatan apapun, tidak peduli meski itu kegiatan resmi dengan aturan protokoler kenegaraan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung maupun anggota DPR-RI beliau tetap setia dengan sarungannya. Karena itu beliau dikenal sebagai politisi sarungan. Istilah yang awalnya dibuat oleh golongan modernis untuk menunjuk kelompok islam tradisionalis. Istilah konotasi dengan tujuan merendahkan.

    Perjalanan sarung sebagai sebuah identitas NU ternyata memiliki sejarah panjang. Sarung ditengarai datang ke Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim asal Gujarat. Mereka berdagang di pelabuhan-pelabuhan dengan memakai kain sarung. Karena itu mereka disebut sebagai Orang Selam atau orang Islam dengan sarung sebagai identitasnya. Setelah Islam berkembang di Nusantara maka sarung pun ikut menjadi salah satu atributnya. Maka kain sarung itu bersanding dengan kain batik yang dililitkan seperti yang biasa dikenakan oleh orang Jawa.

    Secara pemakaian, sarung tentu lebih praktis dibandingkan dengan lilitan kain batik. Sarung bisa cepat dikenakan maupun di lepas. Demikian pula dengan fungsinya yang dapat digunakan sebagai selimut tubuh bila malam datang. Bagi masyarakat pantai atau, kain sarung seolah menjadi barang wajib yang harus dibawa ketika bekerja hingga melahirkan istilah “cul dayung adol sarung”, jika berhenti melaut terpaksa jual sarung yang dimiliki.

    Saat penjajahan Belanda semakin menguat maka sarung menjadi sebuah identitas perlawanan budaya. Belanda memang gencar mengenalkan gaya hidup barat dengan jas dan celana selaku atribut kemodernan. Para priyayi mulai banyak meninggalkan lilitan kain batik untuk bertukar dengan celana. Kampanye tersebut mendapatkan perlawanan dari para kyai dan ulama yang tidak ingin rakyat hanyut oleh arus ke-Belanda-belandaan.

    Untuk melakukan perlawanan budaya maka dipakailah sarung sebagai ciri pembeda. Untuk menguatkan perlawanan itu dikaitkan dengan hadits “Mantasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum”. Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia akan digolongkan sebagai kaum tersebut.

    Meskipun penerapan dalil tersebut mendapat perlawanan dari kelompok Islam yang tidak sepakat, para kyai terus menerapkannya. Maka dijadikanlah sarung sebagai pakaian “wajib” bagi para santri yang belajar di pesantren. Pesantren itu sendiri juga merupakan simbol perlawanan terhadap pola pendidikan sekolah kolonial. Klop sudah identitas perlawanan yang digagas.

    Dalam sebuah artikel di Koran Jawa Pos yang terbit pada 1 September 1989 menulis jika di Jawa pernah terjadi gerakan swadesi pada tahun 1932. Gerakan yang bertujuan melawan atau menolak membeli produk asing itu menjadikan sarung sebagai pakaian rakyat. Sarung buatan Pekalongan pun menjadi naik produksinya.

    Setelah Indonesia merdeka, dibentuklah sebuah organisasi politik yang mewadahi aspirasi umat Islam yang dinamakan Masyumi. Hampir semua organisasi Islam masuk dalam Masyumi tersebut, termasuk NU. Pada awalnya persoalan perbedaan pandangan politik tidak mengemuka di Masyumi saat Mbah Hasyim ditunjuk sebagai pucuk pimpinan Masyumi. Sikap merendahkan NU muncul setelah Mbah Hasyim wafat pada tahun 1947. Dalam Konggres Masyumi di Jogjakarta, Desember 1949, Walikota Jogjakarta, Muhammad Saleh, yang juga tokoh Muhammadiyah mulai menyerang secara verbal dengan kalimat, “Politik adalah luas, Politik ini, saudara-saudara, tidak bisa dibicarakan sambil memegang tasbih, jangan dikira scope-nya politik ini hanya di sekeliling pondok dan pesantren saja..”.

    Peran politik NU di Masyumi kian dipinggirkan setelah kekuasaan Syuriah atau dewan syuro dipangkas dan Masyumi dikendalikan oleh kaum Islam Modernis. Dengan begitu peran kyai tidak lagi dijadikan rujukan penentuan sikap politik Masyumi lagi. Hubungan itu semakin meruncing saat posisi menteri agama yang biasa diberikan pada NU kemudian dialihkan pada Fakih Usman dari Muhammadiyah dalam kabinet Wilopo tahun 1952. Sebelum itu, kedudukan anggota parlemen NU hanya diberi jatah 7 kursi oleh Masyumi. Karena peristiwa politik yang menyakitkan itulah NU mengambil keputusan keluar dari Partai Masyumi.

    Sebuah keputusan yang bukan hanya mengagetkan Masyumi bahkan kalangan NU pun sebagian menentanghnya. Meskipun banyak orang yang meragukan kemampuan NU untuk mengarungi dunia politik, namun Mbah Wahab yang menjadi Rois Syuriah Partai NU tidak bergeming. Dalam rapat partai NU, Mbah Wahab menegaskan, “Kalau tuan-tuan ragu kepada kebenaran sikap yang kita ambil, nah silahkan saja tuan-tuan tetap duduk dalam Masyumi. Biarlah saya sendiri pimpin NU sebagai partai politik yang memisahkan diri dari Masyumi. Saya cuma minta ditemani satu orang pemuda, cukup satu orang, sebagai sekretaris saya. Tuan-tuan boleh lihat nanti,”.

    Tahun 1955, hanya dalam waktu 3 tahun setelah keluar dari Masyumi, NU harus bertarung dalam kerasnya pemilu yang pertama setelah merdeka. Dengan mengenakan kain sarung Mbah Wahab berkeliling menjadi juru kampanye. Pun demikian dengan para kyai yang berdiri dibelakangnya. Dan dunia menyaksikan kenaikan kursi yang luar biasa dari hasil kerja kaum sarungan tersebut. Partai NU menduduki posisi ketiga dalam jumlah suara yang berhasil dikumpulkannya. Meski masih kalah dengan partai Masyumi namun bergaining politik NU naik mengalahkan Masyumi.

    Kini istilah kaum sarungan yang dulu dipakai untuk merendahkan dengan bangga dipakai sebagai identitas diri santri. Kaum sarungan tidak lagi dianggap kecil, apalagi setelah Partai Masyumi dibubarkan karena ikut dalam pemberontakan PRRI. NU sebagai partai memang sudah selesai namun perannya terus lestari.

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • Si Mbah Kyai Moh. Mustofa, Kyai Dungdeng Anak Singokerto Asal Kedungsumur

    Si Mbah Kyai Moh. Mustofa, Kyai Dungdeng Anak Singokerto Asal Kedungsumur

    SORBANSANTRI.COM

    Canggu, selain memiliki jejak jejak sejarah Majapahit yang berlimpah, juga menyimpan sejarah agung seorang ulama yang pernah lahir di wilayah itu. Namanya Mustamin anaknya Singokerto, ki Lurah Kedungsumur Canggu Jetis Mojokerto. Di mulai dari kenakalan Mustamin saat masih muda. Ia berguru kanuragan dari berbagai guru. Tidak hanya ilmu putih, ilmu hitam pun ia serap. Dan yang menjadi cirinya kala itu, ilmu itu harus bisa dibuktikan. Cara membuktikannya dengan bertarung, mencuri, dan perbuatan asusila lainnya.

    Perbuatan Mustamin itu membuat banyak orang resah. Keamanan terganggu. Dan semua orang menjadi takut kepadanya. Akhirnya menggiring kepada para tokoh bermusyawarah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Ki Lurah Singokerto pun hadir. Ia menjadi gundah gulana saat mengetahui bahwa anaknyalah yang ternyata berulah. Kepada peserta musyawarah itu Ki Lurah Singokerto berjanji akan menyelesaikannya sendiri terkait ulah anaknya. Pak Lurah pun pergi menemui anaknya, dan menanyakan tujuan dari keonaran yang ia perbuat. Dari percakapan antara bapak dan anak itu, akhirnya Ki Lurah Singokerto faham, bahwa anaknya ingin menjadi dungdeng (sakti). Dan Ki Lurah berjanji akan mencarikan guru yang hebat yang bisa membuat ia menjadi orang yang sakti mandraguna.

    Mustamin kemudian dibawa mondok ke Pondok Sidosermo -Surabaya. Pada saat itu yang menjadi pengasuh adalah KH. Baidlowi. Di Pondok Sidosermo itu Mustamin tidak diajar mengaji, tetapi hanya ditugasi menabuh beduk untuk sholat lima waktu. Karena Mustamin tidak pernah ngaji dan hanya menabuh beduk selama nyantri, maka ia sering diejek teman temannya, akan memperoleh ilmu apa kelak kalau nyantrinya hanya menabuh beduk saja. Tetapi dijawab oleh Mustamin, kalau yang ia perbuat hanya menaati perintah gurunya.

    Mustamin nyantri ke Pondok Sidosermo selama satu tahun. Setelah itu ia melanjutkan nyantri di daerah Pati. Di pondok Pati Jawa Tengah itu pun, ia tidak diajar ngaji oleh gurunya. Ia hanya ditugasi untuk menata dampar para santri yang hendak mengaji. Ia sendiri saat dimulai ngaji, selalu diusir oleh gurunya. Perlakuan gurunya itu membuat nestapa Mustamin. Ia pun nekat untuk ikut ngaji. Setiap Kyainya memberi ngaji kepada santri-santrinya, ia pun naik ke atas genting, mendengarkan isi pengajiannya. Hal itu dilakukan terus menerus. Tetapi pada suatu saat, ia tertidur. Dan kemudian terjatuh dari atap sampai ke bawah di depan pintu.

    Bertepatan pula sang Kyai telah selesai dan melangkahkan kaki ke pintu keluar. Sang Kyai kaget dan memarahi Mustamin. Mustamin meminta maaf. Ia mengaku melakukan itu semua karena ingin mengaji. Kyainya tetap memarahi dan mengusirnya sambil mengatakan, “Kalau begitu ilmuku ambil semua”

    Kata kata Kyai itu yang kemudian menjadi sebab ilmu laduni diperoleh oleh Mustamin. Mustamin memiliki ilmu tingkat tinggi. Ia pun pandai membaca kitab kuning. Perbendaharaan kitabnya pun begitu melimpah.

    Kata Ustad Nur Aliman, Ketua Takmir Masjid Al Mustofa yang saya temui, tentang ilmu laduni itu dan penguasaan teks Arab KH. Muh. Mustofa, dibuktikan dengan pengakuan santri santri KH. Muh. Mustofa sendiri yang pernah ngaji kitab kitab berbahasa Arab. Koleksi kitab dari perpustakaan peninggalan KH. Mustofa sendiri juga berjimbun. Bahkan KH. Muh. Mustofa sendiri juga memiliki karya kitab berbahasa Arab tentang Thoriqoh. Sayangnya Ustad Nur Aliman tidak menyimpannya.

    Setelah dari Pati, Mustamin nyantri ke Pondok di Jrebeng Krian Sidoarjo. Entah pondoknya namanya apa. Ustad Nur Aliman menyebut bahwa waktu itu yang menjadi pengasuhnya bernama KH. Dasuki. Dengan KH. Dasuki ini, Mustamin berbaiat thoriqot Naqsabandiyah Kholidiyah. Ada juga yang bilang kalau thoriqotnya adalah Naqsabandiyah Qodiriyah.

    Tetapi sebelum berbaiat, Mustamin memperoleh perlakuan mengenaskan dari santri santrinya KH. Dasuki. Ia tidak diperkenankan untuk tidur di Pondok. Pun di Masjid. Para santri pernah mendengar sepak terjang Mustamin sebelumnya. Konon, Mustamin, ketika mempelajari ilmu tertentu, pernah meminum darahnya anjing. Karena hal itulah, kemungkinan para santri itu menganggap Mustamin itu najis.

    Perlakuan para santri itu dihadapi dengan sabar. Mustamin kemudian tidur di lapangan.

    Saat KH. Dasuki hendak melaksanakan sholat malam, ia terkaget kaget melihat sinar silau yang menembus langit di tengah lapangan. Dan ternyata sinar itu berasal dari seseorang yang tidur di lapangan. Akhirnya KH. Dasuki menandai santri yang tidur itu dengan memberi tali pada sarungnya. Dan pada akhirnya KH. Dasuki siapa yang tubuhnya bersinar menembus langit itu.

    Selesai berguru ke KH. Dasuki, Mustamin pulang ke rumahnya. Kepada ayahnya ia meminta untuk dibuatkan Masjid. Dan permintaan itu dikabulkannya. Warga berduyun duyun ikut membangunkan Masjid. Dan di Masjid al Mustofa itulah Mustamin memulai dakwahnya. Ia mulai menerima santri.

    Ditengah kesibukannya mengajar ngaji para santrinya, ia merasa belum sempurna perjalanannya sebelum berangkat haji. Ia pun izin kepada ibunya, dan diberi izin untuk melaksanakan haji. Usai menjalankan ibadah haji itulah namanya berubah. Ia kemudian dikenal dengan nama KH. Muhammad Mustofa.

    Nama KH. Muhammad Mustofa semakin harum ditengah masyarakat. Banyak santri dari berbagai daerah ikut ngaji dan mengikuti thoriqohnya. Santrinya pun beragam macam. Maling maling celuring pun ditaklukan dan seketika berubah menjadi santrinya. Pun dengan orang orang sakti, mampu ditandinginya dan kemudian menjadi santrinya.

    Apabila kamisan, mungkin semacam khususiyah, dzikir khusus bagi pengikut thoriqoh, kata Ustad Nur Aliman menirukan salah satu santri KH. Muhammad Mustofa yang pernah ditemuinya, Masjid Al-Mustofa bagaikan pasar. Semua orang tumplek blek menjadi satu. Mereka ikut thoriqohan dan ngaji kepada KH. Muhammad Mustofa.

    Ada cerita menarik, ada salah satu santrinya yang berguru kepada KH. Muhammad Mustofa dengan tujuan ingin sakti. Kemudian oleh KH. Muhammad Mustofa, ia ditempatkan disebuah ruangan, semacam suluk, disuruh berdzikir dan riyadoh selama empat puluh hari. Selama riyadoh itu, ia dibukakan hijab hijabnya. Sampai selesai riyadohnya, ia kemudian menyatakan tidak ingin sakti lagi. Ia hanya ingin memandang Allah semata. Subhanallah.

    KH. Achyat Halimi dari pengakuan santri KH. Muhammad Mustofa, Mbah Aman, Sesepuh Masjid Tiban, menyatakan bahwa KH. Achyat Chalimi juga pernah menjadi santri KH. Muhammad Mustofa. Bahkan beberapa waktu pernah menggantikan posisi imam saat khususiyah.

    Pun Kyai Bajuri, si Mbah Kyai-nya IAI Uluwiyah Mojosari, juga tercatat sebagai santri dari KH. Muhammad Mustofa. Beliau belajar kanuragan dalam upaya ikut berjuang menghadapi Belanda.

    Bisa jadi pula, pejuang pejuang kemerdekaan, menjadikan KH. Muh. Mustofa sebagai jujugan selama perang kemerdekaan. Mengingat pada usia itu, KH. Muhammad Mustofa tergolong Kyai yang disepuhkan. Juga terkenal akan ke-dongdengan-nya.

    Ustad Nur Aliman menceritakan pengalamannya menemui santri santri KH. Muhammad Mustofa yang masih ada. Hampir saat ditemui dan menceritakan sosok KH. Muhammad Mustofa, rata rata menangis tersedu sedan. Ada rasa rindu yang menyeruak. Lidah seakan kelu untuk mengucapkan keagungan dari KH. Muhammad Mustofa.

    Satu dua ada yang dengan jelas bercerita. Seperti KH. Ach Qusyairi Mansur, generasi kedua dari Pondok Pesantren Darul Hikmah Sawahan Mojosari. Saat KH. Muhammad Mustofa memiliki seorang anak. Sang Kyai memperoleh isyarah kalau anaknya akan kelak ketika besar akan menjadi nakal dan tidak memiliki jalan taubat. Karenanya KH. Muhammad Mustofa mengumpulkan para santri untuk berdoa kepada Allah dengan membacakan al-Fatihah agar Allah memberikan yang “terbaik” untuk anaknya. Kecuali KH. Ach Qusyairi Mansur. Ia tidak mau membaca al-Fatihah. Katanya setelah ketahuan dan ditanya oleh KH. Muhammad Mustofa, ia tidak tega kalau seorang anak didoakan meninggal dunia. Ia pun dihukum oleh KH. Mustofa dengan membaca Al Fatihah seribu kali. Usai membaca Al-Fatihah itu, KH. Mustofa mendoakannya menjadi Kyai. Dan terbukti kemudian ia menjadi Kyai besar.

    Dari peristiwa itu, pada akhirnya anak dari KH. Muhammad Mustofa itu memang benar benar meninggal dunia. KH. Muhammad Mustofa tidak memiki keturunan setelah itu. Dan ia pun tidak benar benar pula secara sareh menunjuk khalifah pengganti beliau. Sehingga sempat terjadi kevakuman dalam keberlanjutan throriqohnya. Namun dikemudian hari ada salah satu santrinya bermimpi dan diberi tongkat sebagai penanda estafet kepemimpinan berikutnya. Kata Ustad Nur Aliman, namanya Mustofa dan punya anak yang bernama Mustamin. Asal Sawahan Bangsal.

    Tercatat, KH. Muhammad Mustofa meninggal pada tanggal 27 September 1955. Makamnya berada dibelakang Masjid al Mustofa Canggu. Tiap tahun, khususnya pada bulan Saffar, peringatan Haul dilakukan. Pada saat haul inilah anak dan cucu cucu santrinya dulu masih berkumpul untuk memperingati Mbah Kyai Mustofa. Wallahu alam.

    Isno El Kayyis
    Ketua LTN NU Kab. Mojokerto

    Sumber Tulisan dari Wawancara dengan Ustad Nur Aliman di rumahnya, Desa Canggu, pada tanggal 21 Januari 2020. Ustad Nur Aliman saat ini adalah Ketua Takmir Masjid Al Mustofa. Beliau juga tercatat sebagai anggota Jamaah Qura wal Huffad NU Kab. Mojokerto.

  • SELAMAT HARI LAHIR NU KE-94

    SELAMAT HARI LAHIR NU KE-94

    SORBANSANTRI.COM

    Dibentuk di Surabaya pada 31 Januari 1926. Tercatat sebagai Badan Hukum (Rechtpersoon) pada 6 Pebruari 1930. Pada awalnya lambang organisasi NU tulisan Nahdlatoel Oelama masih menggunakan huruf latin, belum memakai huruf Arab seperti sekarang.

    Sumber: Joehan Nafiq

    SORBANSANTRI.COM
    SORBANSANTRI.COM
  • MUKTAMAR NU KE-14 DI MAGELANG

    MUKTAMAR NU KE-14 DI MAGELANG

    SORBANSANTRI.COM

    Kemandirian organisasi kaum sarungan

    Selalu ada sisi menarik dari perjalanan organisasi NU. Ketika Muktamar NU ke-13 dilaksanakan di Menes, Banten tahun 1938, diputuskan bahwa Muktamar selanjutnya akan digelar di Magelang pada tahun berikutnya. Muktamar NU pada zaman itu memang dilaksanakan setiap tahun.

    Yang menarik, pengambilan tempat di Magelang menjadi aneh karena saat diputuskan, di Magelang belum terbentuk kepengurusan NU. Terlebih lagi, Magelang dikenal pusat konsentrasi penyebaran Kristen di tanah Jawa. Setelah penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang yang menandai berakhirnya Java Oorlog (perang Jawa), diketahui banyak ulama yang pindah dari wilayah Bagelen itu. Pindahnya para ulama dan kyai dari Magelang tentu membuat api Islam meredup. Sebaliknya penyebaran agama Nasrani semakin pesat.

    Dalam buku Berangkat Dari Pesantren, KH. Saifudin Zuhri menyebutkan, usulan Magelang sebagai lokasi pertemuan akbar NU se-Hindia Belanda dilakukan oleh RH Muhtar, Konsul NU Banyumas. Saat menyampaikan usulan, beliau tidak menyebutkan bahwa di Magelang belum ada pengurus NU. Seandainya kondisi itu disampaikan, tentu ditolak muktamirin.

    Sebagai konsekwensi usulannya, Konsul NU Banyumas atau Jawa Tengah bagian Selatan, segera turun meratakan jalan menuju muktamar Magelang. Satu persatu para Ulama didatangi dengan dibantu ketua NU Cabang Purworejo dan Temanggung. Dengan mendekati para tokoh yang ternyata masih keturunan orang-orang yang pernah berjuang bersama Diponegoro, usaha itu membuahkan hasil.

    Hasilnya, organisasi NU Magelang dibentuk pada bulan Mei 1939, atau 3 bulan sebelum pelaksanaan Muktamar. Tulang punggung berdirinya NU disana adalah Kyai R Hadi Alwi dan KH Fathoni dari pesantren Tonoboyo. Ada juga nama H Kodri yang menjabat lurah Kauman Magelang dan anaknya, Abdulwahab, seorang pengusaha. Di samping itu terdapat KH Baidlowi, imam Masjid Jami’ Magelang dan Kyai Moh Siraj, guru ngaji di Wates. Mereka mendapat dukungan dari Mbah Dalhar dari pesantren Watucongol.

    Berkat perjuangan mereka, gairah umat Islam bisa dibangkitkan. Beberapa hari sebelum pelaksanaan, sumbangan berupa barang dan bahan makanan berdatangan. Rakyat memikul beras, sayuran, kayu bakar, menuntun kambing atau membawa beberapa ekor ayam mendatangi panitia muktamar di Hotel Semarang yang lokasinya ada di kampung Pacinan Magelang. Seluruh sumbangan itu kemudian dibacakan dalam pembukaan muktamar.

    Muktamar itu sendiri dilaksanakan pada tanggal 1-7 Juli dengan peserta sebanyak 358 utusan syuriah, 123 tanfidziyah, dan 33 perwakilan barisan ansor NU. Pembukaan dilakukan dengan dihadiri oleh 2000 orang dari peserta, tamu undangan dan panitia. Undangan yang datang antara lain dari perwakilan Muhammadiyah, Jong Islaminten Bond (JIB), GIA, PII, Wal Fajri Jogja dan lain-lain.

    Keputusan penting yang dihasilkan adalah rekomendasi yang mendesak agar aturan guru (guru ordonansi) 1925 dicabut dan juga menghapus subsidi pemerintah Hindia Belanda kepada semua agama. Kebijakan ordonansi guru, semacam sertifikasi oleh pemerintah kolonial memang merugikan lembaga pendidikan milik NU. Karena kebanyakan gurunya lukisan pesantren yang tidak memiliki ijazah formal. Mereka yang tidak memiliki ijazah formal yang disertifikasi tidak boleh melakukan kegiatan mengajar. Sementara subsidi pendidikan juga senada, dimana yang banyak dibantu adalah lembaga pendidikan non-muslim. Keputusan bidang organisasi adalah mengesahkan Pandu NU, Muslimat, dan departeman Ma’arif yang dipimpin oleh KH Wahid Hasyim.

    Hasil keputusan lain yang ditetapkan adalah mengenai kedudukan penghulu, masalah pembacaan qunut Nazilah, soal sembahyang dalam perjalanan kereta api serta masalah hukum agama lainnya. Ikut dibahas pula persoalan pemisahan tanah makam bagi orang muslim dan non muslim.

    Masalah luar negeri juga ikut dibicarakan, yaitu soal bantuan dan penggalangan dana bagi perjuangan Palestina. Termasuk menjadi topik diskusi adalah soal import barang dari Jepang yang saat itu sedang melakukan ekspansi dagang dengan sistem dumping.

    Muktamar kemudian ditutup dalam sebuah rapat umum di Lapangan Tidar Magelang. Tercatat lebih dari 50 ribu orang hadir pada kegiatan yang dipimpin oleh Zainul Arifin, Konsul NU Jawa Barat. Beberapa orang kyai menyampaikan pidato di hadapan warga yang hadir, antara lain, KH. Wahab Hasbullah, KH. Abdul Karim Pasuruan, KH. R. Asnawi Kudus, KH. Mustaqim, KH. Abdul Manap Surabaya, S. Abdullah Gathmyr, dan KH. Hasjim Asy’ari. Sementara pembacaan do’a dipimpin oleh KH. Kholil Lasem.

    Sekarang dapat kita bayangkan sebuah kepanitiaan baru dibentuk 3 bulan menjelang kegiatan. Panitia itu harus bertanggung jawab atas seluruh akomodasi selama seminggu penuh. Kemampuan panitia untuk mengorganisir semua potensi yang dimiliki merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan Muktamar. Dan itu mampu dilakukan oleh sebuah organisasi bernama NU Magelang.

    Dari kisah penyelenggaraan Muktamar tersebut dapat ditarik pelajaran tentang kemandirian organisasi NU. Warga NU dengan ikhlas memberikan bantuan harta bendanya demi suksesnya Muktamar tersebut.

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • PEMBAIATAN DAN PEMBARETAN KADER BANSER.

    PEMBAIATAN DAN PEMBARETAN KADER BANSER.

    SORBANSANTRI.COM

    Prosesi Pembaiatan dan Pembaretan peserta Diklatsar Banser Pimpinan Anak Cabang Kecamatan Sudimoro Kabupaten Pacitan. Ahad, 12 Januari 2020, Sebagai kegiatan Kaderisasi Gerakan Pemuda Ansor Pacitan di awal tahun ini.

    SORBANSANTRI.COMAda moment menarik sekaligus mengharukan, peserta yang berstatus suami – istri Pembaretan secara simbolis oleh putra kecilnya sendiri. Sebagai wujud ikrar siap mengabdikan atas nama diri dan keluarganya untuk Ansor – Banser – NU dan NKRI.

    Dengan diiringi dawuh yang sangat mendalam dari pembina apel “Mugo-mugo klambi regetmu kui iso dadi saksi awakmu sesuk iso husnul khotimah”…

    Aamiin.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

  • NGAJI AHADAN LDNU MWCNU PACET

    NGAJI AHADAN LDNU MWCNU PACET

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM
    Ahad, 12 Januari 2020 telah dilaksanakan Pengajian Rutin oleh LDNU PCNU Kabupaten Mojokerto bekerjasama dengan LDNU MWCNU Kecamatan Pacet. Pengajian yang bertempat di Masjid Al Ikhlas Desa Petak Kecamatan Pacet ini dihadiri kurang lebih 2000 jamaah dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, Pengurus LDNU tiap-tiap Kecamatan, Pengurus MWCNU Pacet, Bapak Camat Pacet, Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor dan IPNU-IPPNU dan jamaah rutin dari berbagai Kecamatan di wilayah Kabupaten Mojokerto.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM

    Sebelum acara dimulai dibuka dengan Khotmil Qur’an oleh PAC JQH (Jam’iyyatul Qurra wal Huffaz) Kecamatan Pacet dan Pembacaan Sholawat Nabi oleh PAC ISHARI Kecamatan Pacet.

    SORBANSANTRI.COM

    Kesuksesan itu tidak luput dari koordinasi yang baik antara pengurus NU dan masyarakat khususnya warga Desa Petak sebagai tuan rumah.
    Pengurus MWCNU Pacet dan LDNU-nya jauh-jauh hari telah mempersiapkan dan berkoordinasi dengan Banom-banom, Takmir Masjid dan pihak keamanan.

    Mengingat masjid Al Ikhlas lokasinya tepat ditepi jalan raya utama Mojosari – Pacet Maka tidaklah heran kalau urusan keamanan Lalu lintas dibackup oleh Satkoryon Banser Kecamatan Pacet dan juga dibantu Linmas setempat, pastinya tak luput dari pantauan Polsek Pacet.

    SORBANSANTRI.COM

  • WASIAT KH. FUAD HASYIM BUNTET

    WASIAT KH. FUAD HASYIM BUNTET

    Seminggu sebelum KH. Fuad Hasyim Buntet Cirebon wafat, beliau berwasiat kepada putra-putri dan murid-muridnya: “Jangan sekali-kali kalian meninggalkan NU dan jangan sekali-kali kalian keluar dari NU. Jika kalian memaksa keluar dari NU, maka Bapak tidak ridha dunia akhirat.”

    SORBANSANTRI.COM

    Foto dalam kenangan, ki-ka: KH. Luthfi (Mudir JATMAN), KH. Endin Fakhrudin Masthuro (Wakil Rais Aam PBNU), KH. Muhaimin Gunardo (PP Parakan Temanggung), KH. Fuad Hasyim (PP Buntet Cirebon), Habib Luthfi Bin Yahya (Pekalongan) dan Prof. KH. Tolhah Hasan (Malang).

    Sumber: LapakNU

  • KEHEBATAN ULAMA NUSANTARA

    KEHEBATAN ULAMA NUSANTARA

    SORBANSANTRI.COM

    Sosok satu ini asli produk Nusantara. Meskipun secara nasab berjalur ke Hadhramaut Yaman. Namun beliau lahir di Indonesia, tepatnya Surabaya, bahkan ayahnya juga Indonesia yakni Sulawesi. Wafat tahun 1969, sejaman dengan para pendiri NU. Kakak kelas dari ulama kebanggaan Nusantara Syaikh Yasin al-Faddani. Diantara alasan inilah beliau Habib Salim Bin Jindan sangat mencintai Indonesia.

    Dibuktikan setiap kali menulis kitab setelah membubuhi al-Alawy al-Husaini di belakang namanya selalu mencantumkan al-Indonesia. Tidak kurang dari 400 ulama seluruh dunia yang menjadi gurunya. Hingga dirinya menjadi ulama pakar sejarah (muarrikh), hadits (muhaddits), nasab (munsib), sanad (musnid), dsb.

    Terhitung karya tulisnya sebanyak 133 buah kitab. Dimana satu contoh kitabnya saja yang berjudul asy-Syamikh disebut oleh Syaikh Abdul Halim Mahmud memiliki 28 jilid. Sedangkan yang masih tersisa ada di tangan sang cucu, Habib Ahmad bin Novel bin Salim Bin Jindan, hanya 4 jilid. Sedangkan satu jilidnya saja mencapai 1000-an halaman. Kitab yang memuat biografi para gurunya Habib Salim ini ditulis detail. Urut dari abjad alif, ba’, ta, dst. Dari 4 jilid itu saja baru sampai huruf kho’.

    Habib Ahmad Novel Jindan mengungkapkan bahwa jumlah manuskrip karya ulama Nusantara asal Hadhramaut (para sadah Alawiyyin) jauh lebih banyak dibanding negara asalnya. Dari segi suku (fam/marga) pun banyak yang di negara asalnya sudah punah namun di Nusantara masih ada, misalnya Khoneiman dan Bin Jindan. Bahkan ulama-ulama Nusantara itu hebat-hebat dan jauh lebih banyak dari ulama-ulama Timur Tengah. Tapi entah kenapa para ulama Nusantara jarang disebut oleh ulama-ulama Timur Tengah.

    Menurut Habib Ahmad Bin Jindan, sedikitnya ada dua alasan; karena jaraknya yang jauh di ujung dunia dan faktor bahasa yang berbeda. India masih banyak disebut karena jaraknya cukup dekat dengan Timur Tengah. Adapun ulama Nusantara yang menjadi rujukan ulama Timur Tengah semisal Syaikh Nawawi Banten, Syaikh Mahfudz Termas dan Syaikh Yasin Padang, pun dikarenakan mereka berhijrah dari Nusantara ke negara Arab.

    Alhasil, wallahu a’lam. Inilah bagian dari rahasia Allah yang belum terungkap. Apalagi besok tanggal 8-10 April akan berlangsung Konferensi Ulama Sufi Internasional terbesar di dunia. Acara yang diinisiasi oleh JATMAN NU dan Menhan ini membuktikan negara ini benar-benar negara yang dipenuhi keberkahan, gudangnya ulama, dan ummat Islam terbesar di dunia. Saya bangga menjadi Indonesia. Kita NU. Pancasila Jaya. NKRI Harga Mati!

    Tulisan ini saya resume dari sedikit cuplikan pembahasan dalam acara Islam Nusantara Center – INC di Perpusnas bersama Habib Ahmad Jindan, Syaikh Faishal an-Najjar dan TG. Ajengan KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban.

    Silakan dishare, halal semua tanpa perlu ijin. Sampai jumpa di Pekalongan. (Ditulis oleh: Syaroni As-Samfuriy)

    Selengkapnya bisa disimak di video ini: https://youtu.be/XTx4OkP7Pgs

    Sumber: LapakNU

  • 1 Tahun Khidmat KH. ABD. ADHIM di NAHDLATUL ULAMA’

    1 Tahun Khidmat KH. ABD. ADHIM di NAHDLATUL ULAMA’

    SORBANSANTRI.COM

    SURAT ANAK KEPADA BAPAK

    Di Ultah Satu Tahun kepemimpinan KH. Abdul Adhim sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Mojokerto Tahun 2019 ini, kami PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto Menyampaikan SELAMAT dan SUKSES atas capaian Bapak Saat ini yang luar biasa seperti Tim Aset, Tim Sarpras, Tim Pengkaderan, Tim pergerakan Lembaga dan Banom Hampir semua lini bergairah ghiroh perjuanganya nampak bergerak dan masife, Meskipun ada yg perlu disupport lagi.

    SORBANSANTRI.COM

    Kami sebagai Anak hanya bisa mendoakan Dalam kepemimpinan Bapak Kiyai kedepan, agar senantiasa diberikan kemudahan, kelancaran dan Kekuatan Baik Moriil Maupun Materiil tak kalah pentingnya kesehatan dan panjang umur Bapak Kiyai sehingga perjalanan Kepemimpinan Bapak Kiyai mengemban tugas dan Amanah bisa terselesaikan dengan baik dan menjadikan PCNU Kabupaten Mojokerto sebagai salah satu percontohan bagi PCNU yang lain.
    Amin…

    SORBANSANTRI.COM

    #AliKetuaPC.GP.AnsorKab.Mojokerto.
    #SalamTakdhimWolakWalik.

  • RENUNGAN JELANG AKHIR TAHUN DI HAUL DUS DUR

    RENUNGAN JELANG AKHIR TAHUN DI HAUL DUS DUR

    SORBANSANTRI.COM

    FAIDAH-FAIDAH YANG BISA DIPETIK DARI HAUL KE-10 KH. ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR) DI PP. TEBUIRENG JOMBANG

    1. Sambutan Anita Wahid, putri ke-3 Gus Dur

    ✓ Gus Dur mewariskan 9 nilai utama: ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekesatriaan, dan kearifan lokal.

    1. Sambutan Dr. KH. Sholahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang
      ✓ Islam dan Indonesia layaknya Bapak dan Ibu. Orang yg mengatakan “Saya orang Indonesia yg beragama Islam” ataupun “Saya pemeluk agama Islam yg tinggal di Indonesia” itu sama dengan anak durhaka yg ingin kedua orangtuanya bercerai.
      Maka katakanlah, “Saya 100% Islam, 100% Indonesia. Tidak lebih condong ke salah satunya”.

    2. Testimoni dr. Marsilam Simanjuntak, Sekretaris Kabinet Pemerintahan Gus Dur
      ✓ Tak ada bidang pengetahuan yg tidak dipelajari Gus Dur. Gus Dur fasih berbicara agama, sosial, ekonomi, politik, bahasa, kesenian, bahkan olahraga.
      ✓ Karena stok lelucon Gus Dur tak terbatas, maka Gus Dur seringkali tak dapat menahan diri untuk tidak melucu. Namun lelucon Gusdur memiliki level yg berbeda.

    3. Testimoni Ir. Sarwono Kusumaatmadja, Menteri Eksplorasi Kelautan Kabinet Pemerintahan Gus Dur
      ✓ Gus Dur memiliki 2 keistimewaan:
      • Mampu menghubungkan satu gejala dengan gejala lainnya yang sebenarnya tampak tidak berhubungan, dgn cara jenaka.
      • Omongan Gus Dur baru bisa dimengerti beberapa bulan bahkan bertahun-tahun kemudian setelah diutarakan, krn kita ternyata menggunakan perangkat pengetahuan yg parsial untuk memahami pemikiran Gus Dur yg integral. Gus Dur punya “rezim pengetahuan” tersendiri yg tidak dimiliki orang lain.
      ✓ Ramalan Gus Dur bersifat definitif, bukan spekulatif. Dulu, dia pernah berkata pada saya, “Saya kelak akan menjadi presiden”. Saya tertawa. Dan ternyata terjadi.

    4. Testimoni Prof. Dr. KH. Nasihin Hasan, sahabat Gus Dur
      ✓ Tidak lagi sebagai individu, tapi Gus Dur adalah sebuah institusi, school of integrity. Gus Dur adalah lembaga demokrasi itu sendiri.
      ✓ Jarak kehidupan dan kematian hanya sejengkal. Tapi Gus Dur berhasil mengisi jarak sejengkal tsb dgn 3 hal secara bernas: Keagamaan, keummatan, kebangsaan.”
      ✓ 5 bulan setelah Gus Dur wafat, KH. Maimoen Zubair mendatangi saya dgn heran dan bertanya mengapa makam Gus Dur diziarahi orang-orang tanpa henti. Barangkali Gus Dur pernah punya ajian tertentu semasa hidupnya. Dengan rendah hati saya menghibur Mbah Moen dgn menjawab bahwa Gus Dur memiliki 4 ajian:
      • kesederhanaan hidup (nrimo ing pandum). Gus Dur pernah menjadi penasehat informal LP3ES. Kesana kemari naik bis. Gus Dur tidak pernah punya dompet. Saat mengetik artikel/buku, Gus Dur menggunakan kertas bekas karena tidak mau menjadi bagian dari para pelaku penggundulan hutan.
      • suka sekali silaturrahim sampai ke pelosok-pelosok, ke orang yg masih hidup maupun yg sudah meninggal.
      • Dermawan. Suka memberi sesuatu berharga pada orang yg dikenal maupun yg tidak dikenal.
      • Out of the box (khariqul ‘adah)

    Lalu Mbah Moen menjawab dalam bahasa Jawa: “Ora kuat aku niru Gus Dur. Iku lakune sufi!” Kata Mbah Moen, Gus Dur berhasil membantinkan nilai menjadi laku, intelektualitas mewujud spiritualitas, jamali sekaligus tajalli, roso jadi rosa (perasaan menjadi kekuatan).

    1. Pembicara Inti: KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha’)
      ✓ Gus Baha’ diundang datang ke Tebuireng, karena selain sanad fiqihnya tersambung ke atas sampai KH. Hasyim Asy’ari, via Mbah Moen, juga karena memiliki silsilah leluhur yg sama dgn leluhur KH. Hasyim Asy’ari.
      ✓ Gus Baha’ mengagumi Gus Dur dalam perspektif fiqih, yakni kemampuan Gus Dur mengelola konflik tanpa pertumpahan darah. Gus Baha’ menganggap Gus Dur berhasil meniru sifat visioner Nabi Muhammad saw. yg bersikeras menempuh jalan damai meskipun (seakan) dirugikan dalam Perjanjian Hudaibiyah.
      ✓ Kata Gus Baha’, Cucu mewarisi Kakek. Pemikiran out of the box Gus Dur tidak muncul begitu saja, namun memiliki sanad dari kakeknya, Hadrotusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari yg perannya dalam kemerdekaan Indonesia dijelaskan secara detil dalam kitab karya Muhammad Asad Shihab berjudul

    العلامة محمد هاشم أشعري: واضع لبنة استقلال إندونيسيا

    (Gus Baha mewakafkan kitab ini untuk dikaji di Tebuireng). Maka, membicarakan Gus Dur harus melibatkan KH. Hasyim Asy’ari, karena membicarakan Nabi Muhammad saw. pasti membicarakan Nabi Ibrahim as. Itulah barokahnya moyang.
    ✓ Banyak sekali hal penting yg diutarakan Gus Baha’, tapi tidak terkait langsung dengan Gus Dur.

    Alfaqir Habiburrahman

    SORBANSANTRI.COM