Tag: Nahdlatul Ulama

  • GP Ansor Payungrejo Gelar Giat Rutinan Ansor dan Sosialisasi Koin NU

    GP Ansor Payungrejo Gelar Giat Rutinan Ansor dan Sosialisasi Koin NU

    SORBANSANTRI.COM

    Mojokerto– Rabu (09/06/2021) GP Ansor Payungrejo Kutorejo mengadakan kegiatan rutinan Ansor sekaligus sosialisasi Koin NU, hadir dalam kegiatan tersebut Abah Khoiruddin perwakilan MWC Kutorejo, H. Munadi Ketua Lazis NU Care MWC NU Kutorejo, Gus Ahmad Syaifuddin Ketua PAC GP Ansor Kutorejo, Sudarto Ketua Ansor Ranting Payungrejo dan seluruh anggota Ansor Payungrejo di kediaman sahabat Sudarto Desa Payungrejo Kecamatan Kutorejo.

    Kegiatan Rutinan Ansor ini diawali dengan pembacaan tahlil dan dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, sosialisasi Koin NU dan penguatan Ansor.

    Sambutan awal disampaikan oleh Abah Khoiruddin mewakili MWC, dalam sambutannya abah Din menyatakan bahwa Koin NU ini merupakan kegiatan gotong royong yang dihimpun dari infaq para donator kemudian hasil donasinya di sampaikan kepada mustahik.

    “Koin NU yang sudah berjalan di Kecamatan Kutorejo ini, dibeberapa desa sudah berjalan, dan ini dampaknya untuk masyarakat bagus sekali. Koin NU ini adalah kegiatan gotong royong untuk menghimpun dana, infaq, shodaqoh dari donator dan kemudian setelah terkumpul akan ditasorrufkan/ didistribusikan kepada mustahik “, tutur Abah Din memberikan arahan dan motivasi.

    Di sambutan selanjutnya H. Munadi, Ketua Lazis NU Care Kecamatan Kutorejo, juga menuturkan mengenai teknis dan manfaat serta dampak adanya Koin NU.

    “…jadi untuk lebih optimalnya Koin NU, memang harus dibentuk pengurus, nanti pengurus mensosialisasikan program Koin NU ini kepada masyarakat sekitar, bisa melalui pengajian, jamaah tahlil atau yang lainnya. setelah program ini tersosialisasikan langkah selanjutnya memberikan omplong (red. toples) kepada masyarakat yang mau, dan nanti setiap bulannya pengurus keliling untuk mengambil hasil koin dan dihimpun kemudian didistribusikan “, ujarnya.

    “…manfaat Koin NU ini luar biasa untuk membantu masyarakat, banyak yang bisa dilakukan dengan hasil Koin NU, membantu yatim piatu, dhuafa, pembangun masjid/musholla dan lainnya, ini alhamdulillah sudah berjalan di beberapa desa di Kecamatan Kutorejo, diantaranya NU Ranting Pesanggrahan, NU Ranting Singowangi, NU Ranting Sawo dan seterusnya, yang semuanya berjalan baik, dan terus harus ditingkatkan “, imbuhnya.

    “…saya berharap di Ranting NU Payungrejo Koin NU yang sudah berjalan ini bisa dioptimalkan kembali, alhamdulillah, untuk lebih mengoptimalkan gerakan dari Lazis NU Care Kutorejo, bekerjasama dengan PAC GP Ansor Kutorejo untuk lebih menggerakkan program Koin-isasi di setiap ranting NU di wilayah Kutorejo… “, tuturnya memberikan arahan serta menginformasikan telah terjalinnya kerja sama antara Lazis NU Care dengan PAC GP Ansor Kutorejo.

    Ahmad Saifuddin, Ketua PAC GP Ansor Kutorejo juga menuturkan telah terjalinnya sinergi dan kolaborasi antara Lazis NU Care Kutorejo dengan Ansor.

    “…. ketika saya (Ansor) diminta untuk sinergi dan kolaborasi dengan Lazis NU Care Kutorejo, saya langsung iyakan, saya berharap seluruh sahabat-sahabat Ansor untuk mendukung program ini, dan ikut berkontribusi untuk optimalnya program, ini adalah program bagus untuk bisa membantu masyarakat…”, katanya.

    Selain itu, Ahmad Saifuddin berharap disetiap rutinan bulanan di GP Ansor selain kegiatan seperti biasa, juga mengadakan santunan.

    “…Ansor juga harus memiliki peran kepada masyarakat secara nyata, kegiatan rutinan sudah dilakukan, kalau bisa ditambah, disetiap rutinan GP Ansor ada kegiatan santunan, ini sangat baik dan semoga bisa terlaksana…”, tuturnya menambahkan dan menguatkan anggota Ansor yang hadir.

     

    (HR/99)

  • Perkuat Kaderisasi, PR IPNU IPPNU Pekukuhan Gelar Maulid Bersama

    Perkuat Kaderisasi, PR IPNU IPPNU Pekukuhan Gelar Maulid Bersama

    Kamis, 3 Juni 2021 || Pukul 18.30 – 20.30 || di Masjid Al-Itiihad Pekukuhan.

    SORBANSANTRI.COM

    Mojosari – Warnai Malam Jum’at Legi, Grup Al-banjari ASM dan IPNU IPPNU Ranting Pekukuhan Mojosari Gelar Rutinan Maulid Diba’ di Masjid Al-ittihad , guna perkuat kaderisasi kader NU di Ranting Pekukuhan.

    Kegiatan tersebut setidaknya melibatkan 55 peserta dari Pengurus Ranting Fatayat Pekukuhan, Remaja Masjid Al-Itiihad, perwakilan pengurus PAC IPNU IPPNU Mojosari, juga tak lupa personil Al Banjari grup Asshuffah Al – Munawwaroh.

    Kegiatan ini merupakan acara rutinan Maulid Diba’ yang diselenggarakan Ranting NU Desa Pekukuhan Mojosari dalam 1 minggu sekali dengan menyasar Masjid dan Mushola didaerah setempat.

    ” kegiatan ini sangat positif, juga menimbulkan kerukunan di desa Pekukuhan, khususnya remaja-remaja di sini “, ungkap Rekanita Erlinda, pengurus ranting IPPNU Pekukuhan.

    Kegiatan ini dimulai pukul 18.15 WIB selesai shalat Magrib langsung merapat ke tengah shaff Masjid kemudian mengawali Maulid Diba dengan pembacaan Tawasul ke Muasis pendiri NU dan penggurus NU didesa setemoat yang telah gugur.

    Pada pukul 20.30 kegiatan Maulid Diba’ telah usai dan kemudian ditutup dengan ramah tamah keakraban dan tak lupa penggurus Masjid telah menyiapkan Makan kemudian dilahap bersama-sama.

    Jurnalis : Feri dwi sukamto

  • Merajut kebersamaan MWCNU JETIS beserta LEMBAGA dan BANOM Ziaroh wali jatim

    Merajut kebersamaan MWCNU JETIS beserta LEMBAGA dan BANOM Ziaroh wali jatim

    Sorbansantri.com — setelah pengurus MWCNU JETIS MOJOKERTO di lantik awal bulan maret kemarin, seluruh pengurus MWCNU dan perwakilan BANOM, LEMBAGA, melakukan ziarah ke makam pengurus MWCNU yang telah tiada dan di lanjut ziaroh wali 9 jawa timur pada hari kamis (01/04/2021)

    SORBANSANTRI.COM

    Sekitar 130 jamaah berkumpul di MI FATHUL ULUM desa KUPANG dengan mengendarai 2 bus dan 2 mini bus, jam 14:00 semua kendaraan di berangkatkan

    H. USAIL S.Pd.i selaku ketua tanfidyah MWC NU Jetis menginformasikan bahwa kegiatan ziaroh kali ini di ikuti oleh pengurus dan perwakilan dari LEMBAGA, BANOM seMWCNU JETIS dengan harapan bisa merajut ukhuwah diantara sesama pengurus baik Banom, lembaga beserta jajaran di semua tingkatannya, selain itu kami juga mengharapkan untuk menyamakan misi untuk maju ke depan.

    SORBANSANTRI.COM
    Saat jamaah berziarah

    Beliau juga sempat berkata dengan tegas “perjuangan NU yang tidak lain adalah Li i’laai kalimatillah orep-orep tinggalane poro kyai, berjuang bersama, maju terus, semangat menyongsong 100 tahun Nahdlatul Ulama, maju 1 abad NU semakin bermartabat dan bermanfaat”

    Tak lupa beliau mengucapkan terima kasih kepada bapak2 Pengurus Ranting NU, PAC MUSLIMAT, PAC FATAYAT, PAC GP ANSOR , BANSER, PAC IPNU/IPPNU dan LEMBAGA MWCNU, utamanya Bpk. HADI FATHUR ROHMAN dan Bpk H. EDI IKHWANTO atas peran setianya dlm acara GIAT ZIARAH
    Semoga menjadi wasilah diakuinya panjenengan sedoyo menjadi santyinya para muassis NU dan santrinya mbah Hasyim Asy’ri yg dido’a kan sugih dunyo akhirat, tentrem rumah tanggae, Barokah anak putune dan khusnul khotimah.

    SORBANSANTRI.COM
    H. MASLIHUL AMIN ketua LESBUMI MWCNU JETIS

    H MASLIHUL AMIN selaku ketua LESBUMI MWCNU JETIS menyampaikan pendapatnya ke team sorban “acara ziaroh kali ini menguatkan kembali rasa kebersamaan, persatuan dan ghirroh ke NU an yg semakin tinggi, serta meneladani perjuangan para pendahulu, terutama para wali 9 di tanah jawa khususnya, sehingga kami selaku pengurus MWCNU, BANOM, LEMBAGA tidak pernah mengenal halangan dan rintangan serta maju teros tanpa lelah” kata beliau sambil mengepalkan tangan. (Dikin sorban)

  • BERDIRINYA ANSOR MOJOKERTO

    BERDIRINYA ANSOR MOJOKERTO

    SORBANSANTRI.COM

    Tangan dingin Kyai Achyat Chalimy

    Kyai Achyat Chalimy, biasa dikenal dengan panggilan Abah Yat. Beliau adalah sosok yang selalu ada dalam denyut organisasi NU di Mojokerto. Sebagai santri Tebu Ireng, Achyat Chalimy langsung terlibat dalam kepengurusan Jam’iyah yang didirikan oleh gurunya, Mbah Hasyim Asy’ari. Abah Yat sangat disegani karena rendah hati.

    Lahir di Mojokerto pada tanggal 23 Maret 1918, Achyat sudah ditinggalkan ayahnya sejak dalam kandungan. H. Chalimy meninggalkan janin dalam kandungan Hj Marfuah ketika usia 6 bulan. Karena sudah tidak miliki ayah maka Achyat berdua dengan kakaknya, Aslan diasuh oleh ibunya.

    Pendidikan formal diterima di Volkschool Miji atau Sekolah Rakyat. Sekolah yang hanya diperuntukkan bagi orang pribumi itu dilaluinya hingga lulus tahun 1926. Meskipun berasal dari keluarga yang cukup mampu, seorang anak seperti Achyat tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Beliau tidak memiliki darah priyayi sebagai syarat meneruskan sekolahnya. Selanjutnya pendidikan pesantren menjadi pilihannya dengan mondok di Tebu Ireng Jombang. Tahun 1933, tujuh tahun kemudian pemuda Achyat meninggalkan pesantren Tebu Ireng.

    Jiwa sosial sudah tampak ketika ada di Tebu Ireng. Meskipun dikenal sebagai anak Yatim, Achyat senang memberi sedekah. Tidak jarang beliau mengundang kawan-kawannya untuk makan nasi liwet yang dimasaknya sendiri. Sikap semacam itu yang terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Kyai Achyat tidak pernah menonjolkan diri untuk tampil di depan. Peran sebagai “tukang masak” itu yang terus diperankan hingga akhir hayatnya.

    Jenjang organisasi pertama yang ditapaki Achyat adalah sebagai ketua Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) Mojokerto. Pada tahun 1934 secara resmi ANO berdiri atas prakarsa Achyat bersama beberapa pemuda sekitar Mojokerto. Dengan memanfaatkan jaringan santri ANO Mojokerto cepat menyebar ke daerah lainnya di wilayah Mojokerto.

    Pada saat itu, daerah Mojokerto secara administratif terdiri dari empat wilayah kawedanan. ANO juga mengikuti pola tersebut saat membentuk kepengurusannya. Para pimpinan ANO kawedanan tercatat nama Moenasir, Munadi dan Mustaqim dari kawedanan Mojosari. Wilayah kawedanan Jabung dipimpin oleh Sofwan dan Abdul Halim. Mansyur Solikhi bersama Imam Mahdi memimpin ANO Mojokasri. Sementara dari Kawedanan Mojokerto dibawah kendali Achyat Chalimy, Ahmad Rifai dan Samsumadyan.

    Pada suatu hari para pemuda itu berkumpul di langgar panggung Kradenan. Mereka datang atas undangan Mahfudz sebagai tuan rumahnya. Pertemuan yang diawali dengan rujakan itu pada akhirnya menunjuk Achyat Chalimy selaku nahkoda organisasi pemuda yang baru berdiri tersebut.

    Perkembangan ANO Mojokerto dalam waktu relatif singkat dapat diterima kalangan pemuda. Kemampuan manajerial Achyat Chalimy mulai tampak dan diperhitungkan orang. Selain sikap kepemimpinan, beliau juga memiliki ketrampilan mengetik dengan menggunakan sepuluh jari. Kemampuan yang langka saat itu, karena kecepatannya menggunakan perangkat tulis itu Achyat sempat ditunjuk sebagai sekretaris Majelis Diskusi Pesantren Tebu Ireng yang dipimpin oleh Wahid Hasyim.

    Berawal dari keberhasilan membangun ANO tersebut, Achyat selanjutnya diminta menjadi sekretris di NU Mojokerto. Tahun 1938 terbentuk kepengurusan NU yang dipimpin oleh Kyai Zainal Alim dan Kyai Nawawi sebagai Rois dan wakil Rois Syuriah. Pada jajaran Tandfidziyah, Ketua :Kyai Achmad Dimyati, Sekretaris : Achyat Chalimy dan Kamad sebagai Bendahara.

    Sebelumnya, jajaran pimpinan NU Mojokerto yang terbentuk tahun 1928 dipimpin oleh Kyai Zainal Alim dan Kyai Nawawi selaku Syuriah. Tandfidziyah diketuai oleh Maslam, Sekretaris : Den Hafi, Bendahara : Kamad.

    Dengan ditunjuk sebagai sekretris NU maka praktis Achyat memimpin dua organisasi di NU tersebut. Posisi yang dipegang hingga Jepang datang.

    SORBANSANTRI.COM

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • KYAI NAWAWI YANG MENEPATI JANJI

    KYAI NAWAWI YANG MENEPATI JANJI

    SORBANSANTRI.COMKisah pemakaman Syuhada Kemerdekaan

    Selasa, 23 Agustus 1946, Mojokerto diliputi duka. Seorang syuhada telah tiada, pergi menghadap padanya. Keinginannya untuk gugur di medan perjuangan tercapai dan kepergiannya diiringi berjuta doa.

    Kyai Nawawi adalah Rois Syuriah NU Mojokerto kedua setelah meninggalnya Kyai Zainal Alim. Kyai berpostur kecil itu dikenal memiliki keberanian yang besar. Meskipun menduduki berbagai jabatan tetapi dia tidak pernah tinggal diam di garis belakang. Beliau lebih senang ikut bertempur di garis depan untuk memberi tauladan pada anak buahnya, para anggota Lasykar Sabilillah Mojokerto yang dipimpinnya.

    Kerap kali ulama asal Desa Kemantren Mojokerto itu berkata, “Kalau kalian kurang giat saya pimpin, kalian akan saya tinggal. Saya ingin bertemu bidadari di akhirat nanti..”. Kalimat yang beliau tunjukkan dengan menolak mundur ketika lawan mengepungnya di dusun Botokan Desa Plembungan Sukodono Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 22 Agustus 1946.

    Pada tubuhnya terdapat beberapa tusukan bayonet, salah satunya tepat di lehernya. Darah segar terus mengucur dari tubuhnya. Kyai pemberani itu memang menjadi incaran lawan. Dan hari itu, di belakang rumah H. Nur Hasan, jenazahnya diketemukan.

    Jasad Kyai Nawawi berhasil diselamatkan setelah pasukan pejuang membunuh semua pasukan lawan yang mengeroyok sang kyai. Pada hari itu juga jenazahnya dibawa pulang ke Mojokerto.

    Gugurnya Kyai Nawawi cepat menyebar di daerah asalnya. Ribuan orang sudah menyambut memenuhi halaman stasiun Mojokerto. Ketika diturunkan dari gerbong kereta api yang membawanya dari stasiun Tarik langsung disambut dengan Isak tangis kesedihan. Cucuran air mata yang berbaur dengan tetesan darah segar yang masih keluar saat Kyai Nawawi dibawa ke langgar Jagalan, rumahnya.

    Esok pagi, pemakaman sudah ditetapkan. Keluarga beliau memilih komplek pemakaman umum Losari Gedeg sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Tawaran untuk dimakamkan di Taman Bahagia Mojokerto, sekarang disebut Taman Makam Pahlawan Gajah Mada, ditolak dengan alasan pesan Kyai Nawawi yang ingin dimakamkan bersama warga lainnya. Ya, beliau ingin tetap bersama warga lainnya sebagai orang biasa.

    Proses pemakaman berlangsung haru. Ribuan pelayat berdatangan dari berbagai penjuru. Saat keranda diberangkatkan, pengiring berjejal di sepanjang jalanan dari rumah hingga komplek makam yang berjarak sekitar 2 kilo meter tersebut. Saking banyaknya orang, untuk masuk dan menyaksikan pemakaman pun sulit sekali.

    Upacara pemakaman dipimpin oleh Kyai Abdul Ghani, penghulu Mojokerto. Para pejabat pemerintahan dan komandan militer ikut menyaksikan untuk memberi penghormatan terakhir pada Kyai yang berprofesi sebagai tukang jahit tersebut. Dan ribuan orang menjadi saksi bahwa beliau adalah syuhada yang gugur membela negeri. Kyai Nawawi menepati janji sekaligus menunjukkan bagaimana melaksanakan Fatwa Jihad gurunya, Mbah Hasyim Asy’ari.

    Besarnya perhatian rakyat Mojokerto saat pemakaman berlangsung menunjukkan betapa beliau sangat dihormati. Sebagai tokoh penting kala itu, Kyai Nawawi tidak segan mendampingi langsung para pejuang republik bertempur di garis depan. Wafatnya beliau sedemikian heroik dengan tidak menyerah meski telah dikepung musuh. Pada akhirnya, seperti yang dinadzarkannya, Kyai Nawawi memenuhi takdirnya sebagai syuhada, syahid di medan laga

    Untuk mengenang jasa Kyai Nawawi dibuatlah monumen sederhana di lokasi gugurnya sang Syuhada. Monumen itu dibuat atas prakarsa Kyai Achyat Chalimy, Ketua NU Mojokerto yang sekaligus meresmikannya dengan menandatangani prasasti.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • Kiai Maksum Lasem dan “Rahasia” Shalawat Nariyyah

    Kiai Maksum Lasem dan “Rahasia” Shalawat Nariyyah

    SORBANSANTRI.COM

    Ada tiga tokoh besar dari Lasem, Rembang, yang memainkan peranan penting dalam sejarah pendirian NU: Kiai Maksum (ayahanda dari Kiai Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta), Kiai Baidlawi, dan Kiai Kholil (ini bukan Kiai Kholil Kasingan; beliau juga pendiri dan pengasuh Pondok al-Nur Lasem).

    Ketiga sosok ini adalah salah satu pendiri NU, dan hidup segenerasi dengan Hadlratusysyaikh Hasyim Asy’ari (kakek Gus Dur). Konon, Mbah Hasyim (begitu beliau sering dipanggil) memanggil Kiai Maksum dengan sebutan “Kangmas”, karena dari segi umur, beliau satu tahun lebih muda dari kiai Lasem itu.

    Berkat jasa-jasa mereka ini, Lasem diberikan status “istimewa” hingga sekarang sebagai Cabang Khusus NU (PCNU Lasem). Padahal status “cabang” hanya berlaku untuk daerah setingkat kabupaten, sementara Lasem hanyalah kota kecamatan. Status ini jelas untuk menghargai kota Lasem yang telah “menyumbangkan” tiga kiai penting dalam barisan pendiri NU.

    Kisah berikut ini saya terima dari Gus Zaim (cucu Kiai Maksum Lasem, dan putera Kiai Ahmad Syakir bin Kiai Maksum). Sementara Gus Zaim menerima kisah ini dari Kiai Imron Hamzah (pernah menjabat sebagai Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur). Kisah berikut ini berkaitan dengan tradisi salawat Nariyyah yang amat populer di kalangan nahdliyyin.

    Di Lasem dan beberapa pesantren di seluruh Jawa, ada tradisi membaca salawat Nariyyah sebanyak 4444 kali dengan “kaifiyyah” atau cara tertentu (kalau kaifiyyah-nya ndak pas, tentu kurang “mandi” alias efektif). Tetapi, model salawat Nariyyah yang di-ijazah-kan oleh Kiai Maksum, menurut penuturan Gus Zaim, berbeda dari (berbeda “dari”, bukan “dengan”) versi yang umum beredar.

    Versi Kiai Maksum: “โ€ฆ ‘ala Muhammadin tanhallu bihi al-‘uqadโ€ฆ,” tanpa kata sambung “alladzi” sebagaimana versi yang biasa kita dengar.

    Konon, ini adalah versi salawat Nariyyah yang diwarisi oleh Kiai Maksum dari leluhurnya yang berasal dari tanah Minangkabau: Sultan Mahmud atau Sunan Mingkabau (dimakamkan di kawasan Bonang, sebelah timur Lasem). Menurut beliau, versi ini lebih “cespleng” dari “versi alladzi” yang umum dipakai.

    Suatu saat, Kiai Imron Hamzah yang juga santri Kiai Maksum itu, memberanikan diri untuk bertanya: “Kiai, kenapa kok salawat ini dibaca 4444? Kenapa harus sebanyak itu? Apa alasannya?”

    “Begini ya, Cung,” kata Kiai Maksum, menjawab dengan sabar pertanyaan Imron Hamzah muda. “Setiap angka itu ada sirr-nya, ada rahasianya.” Kiai Maksum berhenti sejenak. Tetapi Imron Hamzah muda ndak sabar, lalu menyergah dengan nada agak meninggi:

    “Apa RAHASIANYA, Kiai?”

    Dengan santai, Kiai Maksum menjawab: “Ya saya ndak tahu. Kalau saya tahu, namanya bukan sirr, bukan rahasia lagi.”

    Lemaslah Kiai Imron Hamzah. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    Penulis: Kiai Ulil Abshar Abdalla

  • Nekat! Hadiri Muktamar NU di Banyuwangi Kiai Mukti Ngontel dari Ngawi

    Nekat! Hadiri Muktamar NU di Banyuwangi Kiai Mukti Ngontel dari Ngawi

    SORBANSANTRI.COM

    Jarak Desa Beran, Kecamatan Ngawi dengan Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi jika dilihat di google map jaraknya tak kurang dari 456 KM. Jarak yang demikian jauh itu, ditempuh oleh Kiai Abdul Mukti dengan mengendarai sepeda ontel alias sepeda angin demi menghadiri Muktamar ke-9 NU pada April 1934.

    Bersepeda pada zaman itu, bukanlah hal yang menyenangkan sebagaimana hobi orang gowes dewasa ini. Selain kenyamanan bersepeda sangat terbatas, keamanan pun sangat rawan. Jika misalnya Kiai Mukti harus melewati pantura atau jalur Deandles, ia harus melewati hutan Baluran sebelum mencapai Banyuwangi. Sedangkan jika menempuh perjalanan lewat Jember, mau tak mau harus menempuh Gunung Gumitir. Dua pilihan yang tak mudah, dua jalur yang masih banyak binatang buas dan rampok pada masa itu.

    Kesaksian yang diungkapkan oleh KH. Muchit Muzadi dalam biografinya โ€œBerjuang Sampai Akhir: Kisah Seorang Mbah Muchitโ€ itu, menggambarkan bagaimana kecintaan Kiai Mukti pada Nahdlatul Ulama. Organisasi yang didirikan oleh gurunya, KH. Hasyim Asyโ€™ari.

    Kiai Mukti sebenarnya berasal dari Jetis, Ponorogo. Ia lahir pada 12 Desember 1908 dari pasangan Asfai dan Markamah. Orang tuanya tersebut tak lebih hanyalah petani kecil. Meski berasal dari keluarga kelas bawah, Mukti yang merupakan anak terakhir dari empat bersaudara itu memiliki semangat belajar yang tinggi.

    Sejak berusia delapan tahun, Mukti memulai petualangan intelektualnya ke sejumlah pesantren. Sebagaimana diungkapkan oleh Hengki Puastono dalam skripsinya di UIN Sunan Ampel yang berjudul โ€œKH. Abdul Mukti dan Pengembangan Islam di Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawiโ€ itu, pesantren yang pertama kali dituju adalah Pesantren Banjarsari, Minggiran, Kediri. Lalu, ia melanjutkan ke Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu masih diasuh pendirinya, KH. Hasyim Asyโ€™ari. Di sini lah kelak, kecintaan Mukti kepada NU mulai bersemi.

    Setelah dari Jombang, Mukti muda menimba ilmu di Pesantren Tawangsari, Sepanjang, Sidoarjo. Juga pernah di Pesantren Mangunsari dan Pesantren Langitan di Tuban. Sebelum kembali ke kampung halamannya, Mukti juga sempat ngalap barokah di Pesantren Kasingan, Rembang.

    Kedalaman ilmu dan keluruhan akhlaq dari Mukti muda, memantik kepercayaan masyarakat Jetis. Pada usia yang masih relatif muda, 20 tahun, Mukti telah dipercaya untuk mengajar di Madrasah yang ada di kampung halamannya. Tak lama kemudian ia diambil menantu oleh KH. Imam Iskandar asal Kebonsari, Dalopo, Kabupaten Madiun. Ia dinikahkan dengan Sariatun.

    Tak seberapa lama dari pernikahannya tersebut, tepatnya pada 1930, ia pindah ke Desa Beran, Ngawi. Kepindahannya tersebut atas ajakan dari Kiai Thohir. Nama terakhir tersebut adalah seorang yang memiliki perhatian yang tinggi terhadap agama serta banyak mewakafkan kekayaannya demi syiar Islam. Kiai Mukti diberikan fasilitas guna mengajarkan Islam kepada penduduk Beran dan sekitarnya.

    Seiring waktu, Kiai Mukti tak sekadar menjadi guru ngaji biasa. Ketokohannya mulai muncul. Lebih-lebih ketika beliau aktif di Nahdlatul Ulama. Beliau termasuk salah satu tokoh yang merintis NU di Kabupaten Ngawi. Pada 1936, beliau disebutkan menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Ngawi sebagaimana tertulis di skripsi tersebut di atas.

    Wabaโ€™du, kegigihan dan kecintaan Kiai Mukti tersebut kepada NU, tak luntur sepanjang hayat. Hingga ajal menjemput pada 6 Maret 1976 dengan meninggalkan banyak monumen perjuangan. Seperti halnya madrasah dan masjid. (M.Ha)

  • LAZISNU MWCNU JETIS RUTIN MENYANTUNI YATIM PIATU DAN DHUAFA

    LAZISNU MWCNU JETIS RUTIN MENYANTUNI YATIM PIATU DAN DHUAFA

    Sorbansantri.com — NU CARE LAZISNU MWCNU JETIS teros bergerak menebar kemanfaatan kepada masyarakat, hari ini jum’at (26/02/2021) menyantuni 25 yatim piatu di TPQ AL FURQON desa kupang kecamatan jetis kabupaten mojokerto berupa uang dan sembako serta snack.

    Acara di mulai jam 16:00wib, dengan awali pembukaan, sambutan pengurus ranting NU KUPANG, pengurus LAZISNU MWCNU JETIS di sambung pembagian bantuan dengan di iringi pembacaan sholawat nabi, setelah semua anak yatim piatu menerima bantuan di tutup dengan doa di lanjutkan makan bersama, nampak kegembiraan yang terpancar dari wajah para pengurus yang menyaksikan anak anak yatim piatu yang ceria saat menikmati hidangan yang di sajikan

    SORBANSANTRI.COM
    Bersama sama menikmati hidangan

    Bapak YANTO selaku ketua ranting NU dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada pengurus atas kepeduliannya terhadap anak anak yatim piatu yang ada di desa kupang dan memohon maaf bila ada sesuatu yang tidak berkenan di hati para jamaah semua

    SORBANSANTRI.COM
    Bapak YANTO ketua ranting NU
    Bersama bapak MAHMUD BUKHORI S.Ag

    Dalam sambutannya bapak MAHMUD BUKHORI S.Ag selaku ketua LAZISNU MWCNU JETIS menyampaikan bantuan yang di berikan mudah mudahan bisa sedikit meringankan beban ekonomi bunda yatim, beliau juga meminta doa kepada seluruh yang hadir mudah mudahan LAZISNU MWCNU JETIS teros bisa menebar kemanfaatan serta seluruh pengurus dan donatur di berikan kesehatan, di lapangkan rezekinya oleh ALLOH SWT.

    Kh. SHOLIKHIN selaku rois syuriah MWCNU JETIS sebelum memimpin doa beliau memberikan semangat kepada yatim piatu bahwa nabi MUHAMMAD SAW juga yatim piatu, tapi beliau adalah manusia tersukses dan termulia maka dari itu di harapkan anak anak nanti tetap semangat belajar dan mengaji supaya bisa menjadi sukses dan mulia. (Dikin sorban)

  • “MENITIPKAN SHOLAWAT LEWAT TUMBUH KEMBANG PEPOHONAN”

    “MENITIPKAN SHOLAWAT LEWAT TUMBUH KEMBANG PEPOHONAN”

    SORBANSANTRI.COM

    Tanam pohon dan bersholawat,,
    Iya mungkin sekilas agak bersebarangan, tapi menurut kami tidak.

    Penulis berfikir bahwa ini adalah hal yang selaras, dari segi amaliah nya. Teringat tentang kisah ketika Nabi melewati sebuah makam, Nabi Muhammad berhenti, kemudian berdo’a dan menaburkan bunga yang masih segar, lalu Nabi Berkata, “bahwa do’a ku akan terus tercurah selagi bunga-bunga ini masih segar dan belum mengering”.

    Lalu kita kembali ke kegiatan di atas dengan mengacu pada kisah ini, apakah salah ketika kita menanam pohon dengan bersholawat dengan harapan agar sholawat kita tetap tercurah selama apa yang kita tanam tumbuh dan membesar?

    Lalu di lihat dari sisi yang lain, menjaga kelestarian alam adalah tugas kita semua, karena di akui atau tidak kita bisa hidup juga berkat rahmat Alloh lewat pepohonan. Jadi tidak ada yg bersebarangan dengan kegiatan ini.

    Semoga ISHARI NU tetap tumbuh dan berkembang layaknya pepohonan yang mendistribusikan rahmat Alloh untuk kelangsungan.

  • 4 FONDASI NAHDLATUL ULAMA

    4 FONDASI NAHDLATUL ULAMA

    SORBANSANTRI.COM

    Banyak orang yang mengaku NU mengira bahwa menjadi NU itu sudah cukup dengan Qunut, Tahlil, Maulidan, Ziarah Kubur dan lain sejenisnya. Padahal, itu hanya sebagian kecil fondasi Ke-NU-an dari segi Amaliyah.
    Sebab, sejatinya menjadi Nahdlatul Ulama’ itu harus memiliki 4 (empat) fondasi utama. Yakni fondasi yang sudah diwariskan oleh para ulama’ pendiri NU.
    APA SAJA 4 (EMPAT) FONDASI ITU ?

    1. AMALIYAH
    Nahdlatul Ulama’ merupakan organisasi islam yang mengusung ideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah. Yakni ideologi yang menjaga kemurnian islam dengan berpegang pada Sunnah Nabi dan Para Sahabat. Dengan terdisiplin melalui sanad ilmu yang jelas, dengan ciri-ciri termudah :

    Bermadzhab pada salah satu Madzhab Fiqih yang 4 (empat) ; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.
    Ber-akidah sesuai dengan akidah islam yang diajarkan Rasulullah SAW. Disiplinannya sesuai dengan Manhaj Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi.
    Ber-tasawuf disiplinnya sebagaimana telah dirumuskan Imam Al-Ghazali dan Imam Junaidi Al-Baghdadi.
    Sehingga bisa dikatakan, bukan orang NU apabila amaliyahnya bukan amaliyah Ahlussunnah Wal Jam’ah. Apalagi bila sampai menyerang amaliyah Ahlussunnah Wal Jama’ah, itu jelas bukan NU.

    2. FIKROH (Pemikiran)
    Dalam cara pandang atau berfikir, Nahdlatul Ulama’ senantiasa mengusung nilai-nilai yang berhaluan pada konsep Tasammuh (toleran), Tawassuth (pertengahan), Tawazun (seimbang) dan Mu’addalah (adil).
    NU harus senantiasa teduh. Tidak condong pada pemikiran liberal, tidak pula pada radikal. Bersama konsep tersebut, orang NU sejatinya tidak akan mudah kagetan. Dan tidak akan terjebak pada jurang pemikiran yang kaku.
    Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa bukan NU apabila ada orang yang berfikir liberal, apalagi radikal. Orang yang melakukan aksi terorisme, meyimpan bom untuk melakukan kerusakan, mudah menyembelih orang (bahkan divideo) akibat pemikiran sadisnya, maka itu bukan cara berfikir orang NU.

    ูˆ ุนุณู‰ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽูƒู’ุฑูŽู‡ููˆุง ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ูˆู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูƒูŽู…ู’ ูˆูŽุนูŽุณู‰ ุฃูŽู†ู’ ุชูุญูุจูู‘ูˆู’ุง ุดูŽูŠู’ุฆุง ูˆู‡ูˆ ุดุฑูŒู‘ ู„ูƒู… ูˆุงู„ู„ู‡ู ูŠุนู„ู…ู ูˆุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู„ุง ุชูŽุนู’ู„ู…ููˆู’ู†ูŽ

    โ€œBisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.โ€(QS. Al Baqarah: 216)

    3. HAROKAH (Gerakan)

    Menjadi NU tentu harus bergerak sesuai dengan cara NU.
    Gerakan NU yang baik adalah gerakan yang selaras dan satu koordinasi dengan keorganisasian NU. Siapapun bisa bergerak untuk NU. Bisa berjuang bersama struktural, maupun hanya sebagai kultural.
    Maka tidak dibenarkan, ada orang mengaku NU namun malah masuk dalam gerakan atau organisasi yang justru bertentangan dengan gerakan NU. Terlebih masuk gerakan yang ingin menghancurkan NU, maka hal demikian adalah celaka besar. Na’udzubillah.
    Sebagai contoh, ada orang mengaku NU namun masuk dalam gerakan / organisasi yang berafiliasi dengan saudara muslim kita, wahabi. Maka itu tidak dibenarkan. Sebab wahabi masuk dalam kategori gerakan radikalis, dan bukan bagian dari Ahlussunnah Wal Jama’ah. Wahabi bahkan ingin menghancurkan dan membinasakan faham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Banyak amaliyah NU dituduh bid’ah, musyrik, sesat, dan bahkan diantaranya menyatakan halal untuk dibunuh. Di timur tengah, gerakan wahabi menjadi gerakan yang menciderai umat islam dunia.
    Sehingga, jika mengaku NU, tentu harus bergerak bersama NU. Bukan dalam gerakan lain yang membunuh NU.

    ุฅูุฐูŽุง ูˆูุณู‘ูุฏูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ุบูŽูŠู’ุฑู ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ู ููŽุงู†ู’ุชูŽุธูุฑู’ ุงู„ุณู‘ูŽุงุนูŽุฉูŽ

    โ€œJika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamatโ€ (HR. al Bukhary)

    4. GHIROH (Semangat)

    Untuk Nahdliyyin semua “Kuatkan hati kita, tetapkan iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT”.
    Kita yakini bahwa NU adalah rumah besar kita. Rumahnya para ulama’, kiyai, santri, dan bahkan seluruh masyarakat muslim Indonesia yang sebagian besarnya adalah masyarakat NU.
    Kita yakini bahwa kita lahir sebagai orang NU, tumbuh besar sebagai orang NU, dan akan mati sebagai orang NU. Jangan ada keraguan dalam hati kita untuk merawat NU dan menetapkannya.
    Kuatkan semangat kita..
    Ujian dan cobaan yang kita hadapi saat ini sangatlah berat..
    Berbagai fitnah dari luar maupun dari dalam sungguh kentara..
    Jangan sekali kita lari, bahkan mengabaikan perjuangan ini..
    Ini jihad kita..
    Ini rumah kita..

    ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ููŽุนู ู…ูŽุงู„ูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุจูŽู†ููˆู†ูŽ (88) ุฅูู„ูŽู‘ุง ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุจูู‚ูŽู„ู’ุจู ุณูŽู„ููŠู…ู (89)

    โ€œ(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersihโ€ (QS. Asy Syuโ€™aroโ€™: 88).

    Segala yang baik harus kita pertahankan..
    Segala yang buruk mesti dibenahi, harus kita benahi..
    Karena ini rumah kita..
    Nahdlatul Ulama’..