Tag: nu

  • ESENSI KHITTAH NU -bag 2-

    ESENSI KHITTAH NU -bag 2-

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- KH. Wahid Hasyim (Ayahanda Gus Dur) adalah tokoh pertama yang menyuarakan Khittah. Dan ini di pahami dengan benar oleh penerus sanad keilmuan beliau , yakni KH. Ahmad Shiddiq. Beliau inilah yang memformulasikan konsepsi Khittah NU bersama Gus Dur, putra KH. Wahid Hasyim.

    NU TIDAK KEMANA², TAPI ADA DI MANA².
    Ungkapan ini sangat terkenal di awal era pemberlakuan Khittah (Pemilu 1987). Ungkapan ini sebenarnya segaris dengan gerakan yang digagas oleh tokoh-tokoh NU saat itu, yakni ; PENGGEMBOSAN PPP.

    Sebuah ungkapan, seyogyanya kita pahami makna yang tak tertulis. Satu contoh ; “Islam kami adalah Islam tanpa sekat, tanpa memperhatikan golongan”
    Ungkapan ini, sebenarnya ingin menghilangkan sekat golongan, melepas sekat madzhab dan mengajak semua orang Islam untuk masuk ke dalam golongan mereka.

    NU yang sejak tahun 1972 – 1984 berfusi di dalam sebuah partai, dengan ungkapan tersebut, NU membebaskan Nahdliyin untuk memilih, tentu dengan maksud utama adalah menghabiskan kekuatan partai tersebut, yang tidak “memperhatikan NU”

    Kalau di cermati dalam perjalanan sejarah, ungkapan NU TIDAK KEMANA-MANA, TAPI ADA DI MANA-MANA ini tidak lagi di dengungkan saat reformasi datang, pada tahun 1998. (abi sorban)

    #santri nderek kyai
    #nderek kyai sampai mati
    #nujamaah-nujamiyah

  • MALAM RENUNGAN SANTRI DIPERINGATAN HARI SANTRI 2020

    MALAM RENUNGAN SANTRI DIPERINGATAN HARI SANTRI 2020

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Ditengah maraknya perang ideologi yang ada di Negara Indonesia ini dirasakan sangat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi sudah banyak pemikiran yang sudah masuk dalam tubuh organisasi NU itu sendiri. Mengingat NU adalah organisasi yang besar maka, banyak pula permasahalan – permasalahan kecil yang berpotensi merusak marwah NU.

    Dalam peringatan hari santri 22 Oktober 2020, semua banom NU yang ada di Kecamatan Pacet Mojokerto seperti Fatayat, muslimat,IPNU,IPPNU,Pagar Nusa, Ansor Banser dll, berpumpul menjadi satu dengan tekat 1 komando Dalam Menjaga Ideologi Aswaja Annahdliyah. Sebagai penggerak kader, tentunya Ansor dan Banser kec.pacet mojokerto sangat bersemangat menyatukan semua kader NU sebagai perwujudan benteng yang kokoh dengan maraknya perang ideologi yang ada di Negara Indonesia khususnya kawasan Pacet Mojokerto dan sekitarnya.

    Selasa, 21 Oktober 2020, semua kader berkumpul di Gedung Ghara MWC NU Pacet untuk mengikuti acara peringatan hari santri 2020. Dimulai dari pengurus dan para kader berkumpul ± 200 kader yang menghadiri kegiatan tersebut. Acara dimulai dari pukul 18.30 wib dan selesai dini hari pukul 00.00 wib. Semuanya kompak dan semangat dalam mengikuti setiap tahapan acara seperti Pembacaan kitab Tarqiyatul Mujarrob Bilwaliyil Muqorrob, Makhallul Qiyam, dan Pembicara yang bertemakan PERAN KADER DALAM MENJAGA IDEOLOGI ASWAJA ANNAHDLIYAH.

    Harapan dari kegiatan ini adalah, menjaga marwah NU, memperkokoh Ideologi NU khususnya warga dan kader NU dikecamatan Pacet Mojokerto agar tidak mudah diporak porandakan oleh semua yang mengancam organisasi NU. Selain itu juga, kegiatan ini bermaksud untuk meluruskan lagi saudara-saudara kader NU yang lalai dalam berjuang dan berkhidmat di NU, sehingga benar-benar di akui menjadi santri oleh mbah hasyim asy’ari selaku pendiri organisasi terbesar di Dunia, yaitu Nahdlotul Ulama’.

    Alhamdulillah, kegiatan ini sudah berjalan ke 11 kali belum genap 1 bulan, yang dilaksanakan secara bergilir dari desa ke desa se Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto. dan diharapkan bisa istiqomah dalam Giat Rutin Kader Penggerak NU. (abi sorban)

  • PKS dan Anies Baswedan Mendekati Warga NU dan Kader NU

    PKS dan Anies Baswedan Mendekati Warga NU dan Kader NU

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Mereka sadar untuk menghadapi kontestasi 2024 tanpa dukungan warga NU, mereka akan sangat berat untuk memenangkan pertarungan.

    PKS DKI mulai massif mengadakan kajian rutin kitab Hadlratusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Pencitraan politik semacam ini sudah lumrah dilakukan partai politik untuk menggaet simpatisan dan massa. Pak Anies Baswedan, Gubernur DKI yang kini digadang-gadang bakal maju di 2024 juga telah melakukan berbagai kunjungan ke tokoh-tokoh NU.

    Mereka sadar bahwa kekuatan PKS tak akan mampu dapat menarik simpati Bangsa Indonesia yang plural. Citra PKS sebagai partai yang tertutup dan cenderung mendukung gerakan HTI. Kader-kadernya di medsos paling getol melakukan ujaran kebencian terhadap pemerintah dan Pak Jokowi, menyebarkan fitnah dan hoax terhadap Kyai-kyai NU dan banomnya.

    Semua itu adalah catatan merah PKS yang tak kan hilang begitu saja dari ingatan Bangsa Indonesia yang cinta damai, cinta kerukunan, dan cinta persatuan Bangsa khususnya warga NU.

    NU dan Banomnya itu tidak berpolitik, namun bisa bersinergi dengan pemerintah pusat dan daerah dalam membangun bangsa. Sinergi ini positif dalam tataran hubungan kebangsaan.

    Secara individu, apakah warga NU mudah begitu saja melupakan kontestasi Pilpres di 2019 dan pilgub di 2017?

    NU, Kyai-kyai NU, banom-banom NU, dan kader-kader NU di medsos selalu menjadi korban dan target ujaran kebencian oleh kelompok pendukung PKS dan Pak Anies. Sungguh tak bisa dilupakan.

    Siapa yang paling bisa memenangkan hati warga NU, dia lah pemenangnya.

    Sebagai warga NU tentu tak mudah melupakan apa yang sudah terjadi. (Ansor Banser Ngemplak)

    #NUdanNKRI #Pancasila
    #BhinnekaTunggalIka #TolakKhilafah

  • SUSAHNYA MENGHANCURKAN ISLAM DI NUSANTARA

    SUSAHNYA MENGHANCURKAN ISLAM DI NUSANTARA

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah keluarga orang yang sudah meninggal : setiap hari dikirimi doa dan tumpeng. Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.
    Akhirnya semua ingin kesini, seperti apa Islam di Indonesia kok masih utuh. Akhirnya semua sepakat: utuhnya Islam di Indonesia itu karena memiliki jamiyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa.
    Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda yang sudah menceritakan santri NU, namanya Christia Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.
    Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.
    Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.
    Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.
    Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.
    Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.
    Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego). Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .
    Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.
    Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice.
    Begitu diambil cicak satu, disini namanya upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.
    Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.
    Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).
    Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab.
    Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi. (abi sorban)
  • PENGUATAN KADER NU MELALUI WIRID

    PENGUATAN KADER NU MELALUI WIRID

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Jum’at, 16 Oktober 2020. Sudah ke-8 kali giat rutin kader NU di Kecamatan Pacet Mojokerto melalui Wirid TARQIYATUL MUJARROB BIL WALI MUQORROB sebagai sarana benteng pertahanan semua kader NU yang berguna untuk pemantapan kader dalam mejaga ideologi ASWAJA Annahdliyah. Kitab yang ditulis oleh Syeikh Mahmud Muhtar Plambon Cirebon ini, berisi semua nama-nama waliyulloh dan harus dibaca secara jama’ah.

    Untuk mewujudkan dalam menasionalkan kitab tersebut maka, Semua BANOM dan LEMBAGA NU sekecamatan Pacet Mojokerto seperti Ansor Banser Pagar Nusa, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU dll berkumpul menjadi satu untuk membaca Kitab TARQIYATUL MUJARROB BIL WALI MUQORROB. Yang tersusun mulai dari Sambutan, Tawassul, Pembacaan Kitab, Mahallul Qiyam, Penjelasan Materi dalam penguatan kader dan yang terakhir ngobrol santai silaturrokhim antar kader.

    Alhamdulillah., di Kecamatan Pacet Mojokerto ini sudah 8 kali diadakan belum genap satu bulan ini. Dan diharapkan bisa istiqomah dalam mengamalkan kitab tersebut dengan cara bergilir merata dari desa ke desa sekecamatan. Gerakan Giat Rutin TARQIYATUL MUJARROB BIL WALI MUQORROB ini alhamdulilah sudah ada ranting yang melakukan giat tersebut.

    Adapun tujuan dari wirid TARQIYATUL MUJARROB BIL WALI MUQORROB ini adalah sebagai sarana silaturrakhim antar kader NU biar tidak kocar kacir, tercerai berai dengan keadaan yang saat ini dirasa banyak yang masuk baik secara halus atau terang-terangan menyerang aqidah annahdliyah. Bahkan sudah banyak yang tersusupi secara tidak terasa walaupun itu didepan mata, entah itu karena kepentingan,ragu-ragu,balas budi, rayuan atau yang lain.

    Semua kader NU dalam berkhidmat harus satu sanad, satu arah, dan satu komando dari pusat sampai tingkat ranting. Jangan menjadi kader NU yang punya kepentingan untuk dirinya atau golongan. Jangan menjadi kader NU yang ragu-ragu dalam berkhidmat, Jadilah kader NU yang kokoh menjaga ideologi dengan gerakan satu komando dari pusat sampai bawah. Apalagi dalam setiap pengkaderan sudah dibaiat.

    NU itu organisasi besar, atas dasar isyaroh para wali begitu juga kitab TARQIYATUL MUJARROB BIL WALI MUQORROB. Mbah KH. Hasyim Asy’ari dalam mendirikan NU itu baru direstui oleh Mbah Kholil Bangkalan dan baru dapat jawaban setelah 1 Tahun, jadi NU itu bukan sembarang organisasi dan siapa yang merusak  NU akan kualat. (abi SORBAN)

  • KISRUH OMNIBUS LAW JANGAN SAMPAI DI TUNGGANGI OKNUM YANG BERTUJUAN POLITIK PRAKTIS

    KISRUH OMNIBUS LAW JANGAN SAMPAI DI TUNGGANGI OKNUM YANG BERTUJUAN POLITIK PRAKTIS

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Undang-Undang Cipta kerja yang baru saja di sahkan menuai polemik, banyak pro-kontra bukan hanya di kalangan elit parpol, bahkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pun ikut menyoroti kebijakan tersebut, PBNU menilai kebijakan tersebut sangat sarat ketidakadilan bagi kaum buruh, perlu evaluasi tetapi dengan cara yang baik tidak Demonstrasi atau sampai mogok kerja, sementara di pihak lain seperti Bapak Dahlan Iskan menilai kebijakan tersebut cukup tepat sebagai titik awal kebangkitan ekonomi Indonesia disaat negara lain seperti vietnam, malaysia dan negara kawasan berlomba-lomba menarik investor, dan menurut Pakar Pemerhati Kebijakan Publik Bapak Trubus Rahadiansyah menilai kebijakan tersebut bisa menarik investor yang beberapa tahun ke belakang banyak yang memilih hengkang dari Indonesia, beliau juga menilai kebijakan itu bisa membuat perputaran investasi yang merata bukan hanya di kota-kota besar saja, tetapi akan menyasar ke daerah-daerah lain dalam memilih upah minimum regional daerah.
    Tidak sedikit pula yang menilai kisruhnya kebijakan ini sangat sarat campur tangan kepentingan politik yang menunggangi serikat buruh, seperti yang di beritakan Serikat buruh KSPN pastikan tidak akan terlibat dalam aksi mogok kerja nasional, banyak yang menilai jaringan buruh yang ngotot demo dan mogok nasional adalah jaringan buruh dari Said Iqbal (Kader PKS) yang sempat gagal di Pemilihan Legislatif, Bukan hanya itu saja, Gatot Nurmantyo yang sempat kontroversi tentang isu kebangkitan Komunis (PKI) pun mendukung Demonstrasi kaum buruh, termasuk mogok kerja nasional, Gatot Nurmantyo juga menyatakan bahwa banyak para ulama yang mendoakan beliau agar menjadi presiden untuk menyelamatkan Indonesia dalam acara jaringan KAMI yang sempat di tolak berbagai daerah tersebut.
    Mentri Ketenagakerjaan Republik Indonesia pun membuka suara kepada semua Serikat pekerja / buruh, bahwa mogok kerja bukan jalan yang tepat untuk menemukan solusi yang tepat.
    “Saya dengan antusias menunggu teman-teman di meja dialog, bukan di jalanan.saya percaya kita selalu bisa menemukan jalan tengan yang saling menenangkan”
    “Kita sedang berupaya menyalakan lilin, bukan menyalahkan kegelapan” ujar Ida Fauziyah (Kemenaker RI)
    – Haddi VJB | Aswaja Media
  • INI 9 KOMANDAN PERANG YANG PERNAH DIMILIKI NU

    INI 9 KOMANDAN PERANG YANG PERNAH DIMILIKI NU

    SORBAN SANTRI- Kontribusi Nahdlatul Ulama dalam membebaskan bumi pertiwi dari penjajahan, tidak dapat ditanggalkan begitu saja dari alur sejarah kemerdekaan Indonesia. Hizbullah menjadi salah satu motor penggerak para pejuang kala itu. Dari pergolakan perjuangan inilah muncul nama-nama besar para komandan perang NU yang patut kita teladani bersama.

    1. KH. ZAINUL ARIFIN
    Postur tubuhnya yang tegap, gagah dan berparas tampan menguatkan profil dirinya sebagai seorang pejuang sejati. Pria kelahiran Barus, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tahun 1909 ini memang identik dengan Hizbullah. Tampuk kepemimpinan organisasi ini juga pernah dijabatnya sejak awal Januari 1945. Sebagai seorang komandan dirinya selalu memberikan contoh yang baik kepada para bawahannya.Geliat perjuangannya memang tidak terekam jelas dalam sejarah. Namun, dengan diangkatnya Kiai Zainul sebagai Komandan Hizbullah menandakan dirinya berperan besar dalam pergulatan perjuangan NU melawan penjajah. Pria yang masih keturunan dari Raja Barus (Sutan Ramali Pohan bin Sutan Sahi Alain) ini juga telah banyak terkontribusi baik bagi NU maupun negara. Jabatan sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Kerja III (1962-1963) menjadi satu komitmen khusus kesetiaannya kepada negara. Di akhir hayatnya (2 Maret 1963) ia tercatat sebagai Pahlawan Nasional dan penyandang penghargaan Mahaputera dari pemerintah.

    2. KH. MASJKUR
    Lahir di Singosari, Malang, 1315 H/30 Desember 1900 M. Masa mudanya banyak ia habiskan untuk merantau dari pesantren ke pesantren. Pengembaraannya dimulai dari Pesantren Bungkuk di Singosari, berlanjut ke Pondok Sono, Siwalanpanji, Tebuireng hingga berguru kepada Syaikhona Cholil Bangkalan.

    Di masa-masa perjuangan revolusi pembebasan atas penjajahan, Kiai Masjkur aktif turut berjuang sebagai seorang pejuang. Tak ayal jabatan sebagai Ketua Markas Tertinggi Sabilillah (1945-1947) diamanahkan kepada dirinya. Dan di masa Mr. Amir Syarifuddin ia ditunjuk secara resmi untuk menjadi anggota Badan Pembela Pertahanan Negara.

    Banyak perjuangan lain yang ia tunjukkan demi mengabdi pada negara. Bahkan dirinya juga tercatat pernah menjabat sebagai seorang Menteri Agama hingga 4 kabinet. Pada 19 Desember 1992 dirinya harus berpulang ke Rahmatullah. Dan di waktu pemakaman itulah dirinya mendapat penghormatan secara militer, berkat jasa-jasanya yang besar terhadap negara.

    3. KH. MUNASIR ALI
    Dilahirkan di daerah Modopuro, Mojasari, Mojokerto pada 2 Maret 1919 dari seorang ayah bernama H. Ali yang merupakan seorang kepala desa yang dihormati di daerahnya. Selama perang kemerdekaan meletus Kiai Munasir aktif sebagai seorang pejuang dan berkarir di dunia kemiliteran.

    Karirnya dimulai dengan mengikuti latihan kemiliteran prajurit Jepang dengan masuk sebagai anggota penerangan Heiho. Aktif sebagai pasukan Hizbullah dengan menjadi Komandan Batalyon Condromowo dan turut andil dalam mendirikan Hizbullah Cabang Mojokerto. Dan ketika Hizbullah melebur ke dalam barisan TNI, Kiai Munasir juga terdaftar sebagai anggota aktif, hingga dirinya diangkat menjadi Komandan Batalyon 39 TNI AD.

    Di akhir hayatnya pada 1 Januari 2002 pelbagai penghargaan pernah diberikan kepadanya mulai dari Satya Lentjana peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II, Bintang Gerilya dan lain sebagainya.

    4. KH. SULLAM SYAMSUN
    Dia adalah satu-satunya penyandang pangkat tertinggi kemiliteran dari para tokoh NU yang pernah aktif di sana. KH. Sullam Syamsun begitulah nama lengkapnya dilahirkan di Malang 29 April 1922.

    Pada masa karir keaktifannya di dunia kemiliteran pelbagai jabatan telah ia rengkuh mulai dari Komandan Kompi I merangkap Wakil Batalyon I Brigade IV Brawijaya, Komandan Keamanan Malang Kota, Komandan Batalyon 523, 514, Pa Teritorium V/Brawijaya dan pada tahun 1977 pensiun penuh dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI.

    5. KH. ISKANDAR SULAIMAN
    Terlahir dari nasab keturunan bangsawan yang kaya raya. Iskandar Sulaiman tak menampakkan sedikitpun raut kepongahan. Justru ia dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan.

    Selepas perjalanannya menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, dengan kekayaannya digunakannya untuk memakmurkan masyarakat sekitar sekaligus memperkenalkan NU kepada masyarakat. Beberapa unit pendidikan seperti madrasah dan kegiatan penunjang lain turut didirikannya.

    Namun, karirnya tidak hanya berhenti sebagai seorang pengajar saja. Di masa menjelang dan setelah masa kemerdekaan ia aktif di dunia kemiliteran. Semangat nasionalisme selalu terpancar dari sosoknya. Perjuangan itu terus ia lakukan hingga pangkat terakhir yang pernah ia raih sebagai seorang kolonel.

    6. KH. HASYIM LATIEF
    Dilahirkan di daerah Sumobito, Jombang pada 17 Mei 1928. Nama lengkapnya ialah Hasyim Latief, ia dikenal sebagai seorang tokoh Hizbullah. Awal karirnya di Hizbullah ia mulai di kala ia berstatus sebagai peserta pada pelatihan opsir Hizbullah di Cibarusa, Bogor (1945) Se-Jawa dan Madura.

    Di saat Hizbullah Jombang didirikan, Kiai Hasyim Latief lansung menjabat sebagai seorang komandan latihan. Dan ketika kisaran tahun 1947 terjadi peleburan antara TNI dengan Hizbullah, ia masuk ke dalam resimen 293 dengan komandan Letkol KH. A. Wahib Wehab. Pangkat terakhimya yang ia panggul adalah Komandan Kompi I Yon Munasir. Sayang, perjuangannya harus terhenti pada Mei 2005, pada usia 77 tahun dirinya dipanggil Sang Khalik.

    7. KH. ZAINAL MUSTOFA
    Nama kecilnya adalah Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Nyonya Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna. Dikenal sebagai salah satu tokoh NU yang memiliki banyak pengikut (baik dari kalangan santri dan masyarakat) sekaligus getol dalam menyemangatkan gerakan perlawanan terhadap penjajahan.

    Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Di masa penjajahan Jepang dirinya juga mengatur strategi perlawanan terhadap Jepang. Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustafa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H).

    Ia juga turut serta mengomandoi perlawanan terhadap Jepang di Sukamanah Tasikmalaya. Namun sayang perjuangannya harus berakhir di balik jeruji besi. Pesantren yang didirikannya harus ditutup oleh Jepang. Dan atas jasa-jasa itulah kini KH. Zainal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.

    8. H. ABDUL MANAN WIJAYA
    Namanya cukup melegenda di wilayah Kotatif Batu. Itu karena namanya telah dijadikan sebagai nama jalan, tepatnya Jl. Manan Wijaya, yang membentang di sepanjang daerah Pujon. Nama aslinya Rumpoko, lahir di Pujon pada 1910. Ayahnya seorang mandor jalan. Manan Wijaya adalah alumni Pesantren Tebuireng Jombang.

    Ketika PETA dibentuk, ia langsung bergabung dengan kesatuan militer Jepang tersebut meski sebagai tentara aktif, namun sosok santri selalu tampak. Ia juga rutin berlangganan Suara NU dan Suara Ansor dari Surabaya.

    Setelah menjadi pembicara dalam rapat akbar di Tebuireng (1967) dan menyebut “Hamid Roesdi itu Ketua Ansor” ia diMabeskan hingga pensiun.
    Pensiun dengan pangkat terakhir Brigjen. Jenazah dimakamkan di Desa Sisir Kecamatan Batu, atas permintaan sendiri, karena tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

    9. HAMID ROESDI
    Nama Hamid Roesdi telah menjadi legenda pahlawan masyarakat Kota Malang, sama halnya nama Bung Tomo untuk masyarakat Surabaya. Bahkan nama Hamid Roesdi tidak hanya dijadikan sebagai nama jalan di pusat kota, tapi juga nama terminal di Kedungkandang. Patungnya juga dapat dilihat di Malang.

    Lahir di Sumbermanjing Kulon (Pagak) Malang Selatan pada 1917. Ia putera ke empat H. Umar Roesdi.

    Di masa penjajahan Jepang ia masuk pendidikan perwira Bo Ei Gyugun Kanku Kyokutai di Bogor, kemudian menjadi Cudancho PETA di Malang Syu Dai I Daidan (Dai I Cudan) yang berkedudukan di Glagah Aren Sumbermanjing.

    Awal 1947 diangkat sebagai komandan Resimen Infantri 38 Divisi VII Untung Suropati dan sebagai Komandan Pertahanan Daerah Malang berkedudukan di Pandaan Pasuruan. Pada waktu penumpasan PKI Muso (Madiun Affair) ia menjabat Komandan Komando Penumpasan PKI Muso di daerah Malang Selatan (Turen-Donomulyo).

    Menghadapi Clash II Belanda menjabat Komandan Sub Wherkreise I dan memimpin gerilya di daerah pendudukan Malang Timur dengan pangkat mayor. Pada 8 Maret 1949 ia gugur bersama pasukannya di daerah Wonokoyo, Kedungkandang pukul 03.00 dinihari. (abi sorban)

  • GIAT RUTIN KADER PENGGERAK NU, MENASIONALKAN TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB

    GIAT RUTIN KADER PENGGERAK NU, MENASIONALKAN TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Jum’at, 02 Oktober 2020. Pertama kalinya kegiatan rutin kader penggerak NU di adakan di Kecamatan Pacet Mojokerto, tepatnya di Masjid Nurul Iman Pacet Nggapuk Pacet Mojokerto. yang bertujuan untuk membentengi serta menjaga IDEOLOGI bagi semua kader-kader NU dengan mengamalkan TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB yang oleh KH. Adnan Anwar diperintah unuk di NASIONALKAN.

    SORBANSANTRI.COM
    pembacaan TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROBTIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB di Masjid Nurul Iman Pacet Mojokerto

    Kegiatan yang dimulai ba’da isya’ tersebut, dihadiri oleh kader-kader yang pernah mengikuti pelatihan dan bimbingan dalam lembaga dan banom NU seperti PKPNU – MKNU – DTD – DIKLATSAR – PKD – DIKLATAMA – MAKESTA – LKD Fatayat- DLL. Uniknya dalam acara tersebut adalah banyaknya silaturrakhim antar kader dengan sedikit acara ceremonial karena kegiatan ini hanya ada 3 acara inti yaitu Tawassul, pembacaan TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB dan Makhallul Qiyam selebihnya itu adalah acara silaturrokhin dan santai ngobrol sesama kader.

    Dan dalam tema serta pokok bahasan dalam kegiatan tersebut adalah NKRI Harga Mati… Nderek NU sak lawase (ikut NU selamanya). Tema ini sangat dikedepankan dalam kegiatan ini sebagai wadah dan pemantapan IDEOLOGI kader Agar mandiri dalam menjalani Berbangsa dan Bernegara, tetap berpegang teguh dalam IDEOLOGI ASWAJA NU.

    Semoga kita tetap kompak, semangat dalam ber NU, tidak goyah dalam menjalani cerita berbangsa dan bernegara. Bukan Kader NU dalam Kepentingan, Bukan Kader NU dalam Balas Budi, Bukan Kader NU yang Ragu-ragu, tetapi Sebagai Kader NU yang KOKOH. (abi sorban)

    BACAAN TIRYAQUL MUJARROB BIL WALIL MUQORROB

  • Kepada NU Dan Banser Mojokerto. Bersediakah Kalian Menolong Kami Lagi?

    Kepada NU Dan Banser Mojokerto. Bersediakah Kalian Menolong Kami Lagi?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Lagi-lagi terjadi di Indonesia. Hak beribadah dijadikan musyawarah. Musyawarahnya pun musyawarah tanpa peri kemanusiaan dan peri keadilan. Sama sekali tidak ada perwakilan dari gereja, lembaga Kristen, Bimas Kristen atau setidaknya dari FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Lalu setelah itu pihak desa sok bijak meminta Sumarmi memenuhi persyaratan SKB dua menteri sebelum melakukan pembangunan rumah ibadah. Sementara sebelumnya, renovasi rumah Sumarmi tiba-tiba jadi polemik setelah berhembus kabar bahwa kediaman Sumarmi akan dijadikan gereja gara-gara bentuk renovasi rumahnya menyerupai gereja lengkap dengan glassblock salib di eksterior depan bagian atas. Sumarmipun sudah mengalah menghilangkan glassblock itu sehingga tidak ada salib.

    Melihat kelakuan mereka yang seperti ini, mungkinkah ijin mendirikan gereja di rumah Sumarmi didapatkan? Sementara melihat salib doang berupa glassblock, mereka sudah ketakutan kejang-kejang begitu. Trus gaya-gaya mau mengijinkan sebuah gereja berdiri di sana? Ngga mungkin banget khan.
    Yang menyakitkan adalah saat kegiatan ibadah dan doa bersama umat Kristen dianggap sebagai kegiatan yang meresahkan warga. Sekarang mari kita bayangkan jika ada warga minoritas mengatakan ibadah dan doa bersama umat mayoritas adalah kegiatan yang meresahkan warga. Pasal penistaan pasti langsung bicara. Dari kasus inilah saya menumpahkan semua isi hati saya dalam artikel ini. Sejahat itukah kalian memperlakukan orang lain, sementara diri kalian sendiri tak suka diperlakukan seperti itu? Lalu kepada siapakah kami warga minoritas bisa mengadu tentang ketidakadilan seperti ini selain kepada Tuhan?
    Mengadu pada Presiden Jokowi sudah sering kami lakukan lewat banyak tulisan. Tapi tampaknya Jokowi terlalu sibuk dengan pembangunan berderet-deret infrastruktur yang ada. Mengadu pada Menteri Agama “Islam” RI juga sama saja. Inilah yang dinamakan salah mengadu.
    Dari sinilah saya langsung teringat pada teman-teman NU dan Banser yang selama ini sangat baik pada kami umat minoritas. Saya terkenang pada Banser Riyanto dari Mojokerto. Atas dasar inilah saya memberanikan diri minta tolong “lagi” pada teman-teman NU dan Banser Mojokerto untuk membantu menyelesaikan masalah intoleransi di sana. Semoga kali ini saya tidak salah mengadu. Amin. Terpujilah Tuhan.
    (Berikut adalah berita yang redaksi peroleh dari Group FB yang bersumber dari seword)
    (ABI SORBAN)
  • Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar

    Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – 3 Shofar 1442 H / 21 September 2020 M. Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar diadakan di Pondok Pesantren DARUL ‘ULUMISY-SYAR’ IYYAH Bo’de Plumbon Cirebon Jawa Barat. Beliau adalah pengarang kitab Tarjamah Ajrumiyah yang banyak dipakai kalangan pesantren, madrasah, dan sekolah diniyah. Kitab ini merupakan terjemah dari kitab Matan al-Ajruymiyyah yang ditulis dalam bentuk syair berbahasa Jawa dengan menggunakan bahar Rajaz.

    SORBANSANTRI.COM
    Syeikh Mahmud Mukhtar

    Pada hari ini senin 21 September 2020 sudah sejak pagi dihadiri tamu rombongan dari berbagai wilayah, seperti Warga NU Mojokerto yang hadir sekitar 150 jamaah yang datang pada pukul 07.00 wib. Acara tersebut dimulai dengan ramah tamah yang di lanjutkan dengan khotmil quran sekaligus doa.

    Acara Haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud Mukhtar ini akan berlangsung sampai malam nanti. Untuk mengantisipasi banyaknya tamu yang hadir, kesigapan Satkoryon Banser Weru sangat diperlukan apalagi sekarang musim pandemi covid-19 jadi pemeriksaan dan pengamanan sangat diperlukan.

    Alhamdulillah Sahabat Aroyan selaku kasatkoryon Ba ser Weru dapat melakukan koordinasi yang bagus dengan anggotanya, Mudah”an acara haul ke-12 Al Maghfurlah Syeikh Mahmud berjalan dengan lancar Aamiin Ya Robbal’alamiin. (abi-sorban)