Tag: sorbansantri

  • Gus Yaqut: Ansor dan Banser Harus Dekat dan Membela Rakyat | 10.000 Ansor Banser Membanjiri Kudus

    Gus Yaqut: Ansor dan Banser Harus Dekat dan Membela Rakyat | 10.000 Ansor Banser Membanjiri Kudus

    InfokomBanserNU- Senin 20 Januari 2020 18:00 WIB Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas saat memberikan pengarahan pada acara Konfercab XII PC GP Ansor Kudus. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor, H Yaqut Cholil Qoumas meminta pimpinan, pengurus, dan kader Ansor maupun Banser di Kudus memegang teguh 4 karakter pemuda. Seluruh karakter tersebut juga harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. “Keempat karakter tersebut yakni:

    Pertama, karakter kepemudaan, karakter kerakyatan, karakter keislaman, dan karakter keindonesiaan. Ini semua harus dilaksanakan,” kata Gus Yaqut, sapaannya, Senin (20/1). Keterangan disampaikan saat memberi pengarahan pada acara Konferensi Cabang (Konfercab) XII Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Kudus, di Pesantren Miftahul Falah, Cendono, Kudus, Jawa Tengah. Menurut Gus Yaqut, sebagai kader Banser dan Ansor harus tetap memiliki jiwa muda. Semangat para kader Ansor dan Banser, ujarnya, harus menyala, sigap, dan penuh optimisme.

    Karakter kedua, yakni karakter kerakyatan meminta kader Ansor dan Banser harus bermanfaat bagi rakyat sekitar, menolong sesama tanpa membeda-bedakan. “Kader Ansor Banser harus dekat dengan rakyat. Membela kepentingan rakyat. Suarakan kemarahan atas segala sesuatu yang merugikan rakyat. Marah kepada korupnya sistem hukum kita, marah kepada eksploitasi sumber daya alam, dan sejenisnya,” tegasnya. Gus Yaqut menjelaskan,

    karakter keislaman menuntut para kader untuk menebarkan kedamaian, mendakwahkan Islam Ahlusunnah wal Jama’ah yang adem, sejuk, rahmatan lil alamin. “Dan yang penting lagi, istikamah, mengawal para ulama dan kiai NU,” ucapnya. Selanjutnya,

    karakter keindonesian mengharuskan para kader Ansor Banser berada di garis terdepan terhadap semua ancaman bagi keberlangsungan tegak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gus Yaqut juga menyampaikan, selama ini Ansor dan Banser telah dikenal masyarakat luas, serta disegani oleh kawan maupun lawan dibanding organisasi lain. Ia mengatakan, dengan konsistensi kaderisasi dan konsolidasi saat ini anggota tercatat Ansor Banser telah mencapai 7 juta orang. Dengan jumlah besar itu, lanjut Gus Yaqut, para anggota dan kadernya tetap istikamah dan tunduk dalam satu komando pimpinan dan para kiai. “Sebab itulah, dalam Konfercab ini juga harus satu komando. Biasakan musyawarah. Kalau ada tiga calon, rembugan siapa yang akan menjadi ketua, sekretaris, dan Kasatkorcab Bansernya. Nggak usahlah voting-voting segala. Rembugan, jadi nanti tidak aka nada yang kecewa, sakit hati karena kalah,” ujar Gus Yaqut. Sementara itu, Konfercab Ansor Kudus pada akhirnya secara aklamasi memilih Dasa Susila sebagai Ketua PC GP Ansor Kudus masa khidmah 2020 hingga 2024 menggantikan ketua sebelumnya, Sarmanta Hasyim. Hadir dalam kesempatan itu selain Ketua Umum PP GP Ansor, Plt Bupati Kudus Hartopo, Ketua PCNU Kudus KH Asyrofi Masyito, jajaran Pimpinan Pusat GP Ansor, Ketua PW Ansor Jateng Sholahuddin Aly dan pengurus, pejabat TNI/Polri, serta undangan lainnya.

    (Ansor Pejogol)

  • Cinta NU Cinta Indonesia

    Cinta NU Cinta Indonesia

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com –Mendengar NU tentu orang akan langsung teringat pada sebuah organisasi keagamaan terbesar di negeri ini, bahkan terbesar di dunia. Tentu tak mengherankan ketika NU diusik maka para Nahdliyyin akan langsung bereaksi untuk membelanya. Pembelaan warga Nahdliyin bentuknya juga bermacam-macam, tergantung dari kapasitas keilmuan, pengalaman berorganisasi maupun faktor usia. Faktor keilmuan, pengalaman dan usia inilah yang menyebabkan keluarnya tanggapan berbeda dalam menilai atau menyikapi suatu masalah.

    Warga NU sepuh yang ada di jajaran struktural maupun kultural tentu lebih dewasa dalam menanggapi suatu masalah. Langkah yang ditempuh pun lebih solutif, mengarah pada manfaat dan menghindari madlarat yang lebih besar. Para sesepuh NU lebih memilih jalan tabayyun (klarifikasi), membuka ruang dialog, diskusi mencari solsui, bahkan jika harus debat pun pasti dengan cara yang santun.

    Kedewasaan sikap di atas juga bisa kita lihat pada badan otonom (banom) NU seperti GP ANSORdan banom lainnya. Sering kita melihat bagaimana Gerakan Pemuda Ansor diuji dengan beragam masalah di negeri ini. Hujatan, cacian bahkan hinaan yang mengarah pada Ansor sebagai garda terdepan NU, mampu diselesaikan tanpa adanya pertumpahan darah. Tidak seperti di Timur Tengah, dimana setiap perbedaan berpotensi pada kerusuhan yang akhirnya menimbulkan pertumpahan darah berlarut-larut. Hal ini menunjukkan bahwa Ansor sudah dewasa dalam bersikap dan memahami perbedaaan tapi tetap tegas dalam menjaga perdamaian.

    Memang ada sebagian kecil generasi muda NU yang terkesan keras dalam menanggapi sikap permusuhan, ujaran kebencian, dan hal-hal yang berpotensi menyebabkan perpecahan. Tentu sikap keras dan kaku ini tidak mewakili sikap warga NU. Hal itu bisa saja disebabkan oleh kurangnya pengetahuan agama, terbatasnya pemahaman ke-NU-an dan minimnya pengalaman dalam berorganisasi. Sikap generasi muda (yang baru tahu) NU seperti ini bisa jadi muncul karena dorongan kecintaan yang besar pada NU tapi tanpa dibekali keilmuan yang mumpuni. Hal ini bisa diatasi dengan cara mengenalkan generasi muda pada tujuan gerakan NU, meningkatkan kajian-kajian ke-NU-an, menyebarluaskan konten-konten Aswaja An Nahdliyyah dan secara langsung memberikan contoh sikap dewasa dalam menyikapi perbedaan.

    Kita layak bersyukur bahwa sebagai organisai terbesar di negeri ini, NU masih setia mengajarkan jargon “cinta tanah air adalah sebagian dari iman” dan senantiasa memberikan uswah cara beragama Islam yang rahmah bagi semesta alam. Tentu tidak berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa selama NU masih kokoh di negeri ini, maka insyaallah Indonesia akan tetap aman dan damai.(Ki Narto)

  • SRI MULYANI HADIRI LAILATUL IJTIMA’ MWC NU PURI

    SORBANSANTRI.COM

    Kegiatan rutin bulanan Lailatul Ijtima’ MWC NU Kecamatan Puri kali ini digelar pada hari Sabtu malam (08/02) di Masjid Darussalam Desa Mlaten. Dalam kesempatan ini dihadiri ketua PCNU Kabupaten Mojokerto KH. Abdul Azdim Alwi sekaligus memberikan tausiah. Hadir juga Kapolsek Puri yang baru yakni Ibu Sri Mulyani sekaligus memberikan sambutan mewakili Forkopimca Puri.

    Ibu Kapolsek Puri, Sri MulyaniDalam memberikan sambutan, Ibu Sri Mulyani sempat membuka dengan sedikit canda bahwa namanya sama seperti nama Menteri Keuangan. “Iya nama saya Sri Mulyani sama seperti nama Menteri Keuangan”. Canda Ibu Sri yang disambut tawa jamaah.

    Selain memperkenalan diri, kesempatan sambutan itu juga ia gunakan untuk wadah bersilaturrahim serta memohon dukungan, kerjasama dan do’a agar wilayah Kecamatan Puri tercipta suasana yang aman dan kondusif. Terlebih dalam menangani berbagai macam kasus besar maupun kecil yang baru-baru ini terjadi agar senantiasa diberikan kelancaran dalam mengungkap kasus-kasus tersebut. Juga meminta do’a dalam rangka menyongsong perhelatan Pilkada mudah-mudahan selalu tercipta suasana yang aman, lancar dan kondusif.

    Selanjutnya tausiah KH. Abdul Adzim. Di antara poin penting yang ia sampaikan adalah siapa saja yang ingin selamat maka dekatlah dengan orang-orang ‘Alim (berilmu) atau para kiai. Ia menyitir hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Man qarraba ‘Aliman kana saliman… Sopo wonge sing cidek marang wong-wong ‘alim, poro kiai mongko selamet. Camat’e Slamet, Kapolsek’e slamet, Lurahe Slamet, kabeh slamet”. (Siapa yang dekat dengan orang-orang ‘alim atau para kiai, maka selamat. Camatnya selamat, Kapolseknya selamat, Lurahnya selamat, semuanya selamat). Terang Kiai Adzim.

    Sebaliknya, “Man qarraba bajingan kana ketularan… barang siapa dekat dengan bajingan maka ketularan”. Lanjut kiai Adzim yang menyampaikan kata-kata yang pernah ia dapatkan dari Gus Miek (KH. Hamim Djazuli).

    Kia Adzim juga menyampaikan nasihat agar kegiatan Lailatul ijtima’ senantiasa terus diikuti karena ini merupakan identitas yang dimiliki NU dan merupakan peninggalan para ulama’ terdahulu. Kemudian, berkenaan dengan pesta domokrasi agar selalu mementingkan persatuan. Jangan sampai karena beda pilihan tidak lagi ikut lailatul ijtima’.

    Di tengah acara lailatul ijtima’ ini juga terdapat momen penyerahan Sertifikat/Akta Tanah Wakaf Gedung MWC Puri. Dalam serah terima terbut diwakili oleh Agus Zainal Abidin (Gus Zen).

    SORBANSANTRI.COM

    Kegiatan ini berjalan lancar sesuai yang diharapkan semua pihak khususnya panitia. “Alhamdulillah cuaca terang, ora udan, akeh sing teko sekitar 1200 jamaah.” (Alhamdulillah, cuaca terang, tidak hujan, banyak yang hadir sekitar 1200 jamaah). Ungkap Siswoyo selaku Ketua Ranting GP Ansor Desa Mlaten yang juga bertindak sebagai panitia.

    SORBANSANTRI.COMSORBANSANTRI.COMSORBANSANTRI.COM
    Warga nahdliyyin Kecamatan Puri mulai dari Muslimat, Fatayat, GP Ansor-Banser, ISHARI, CBP IPNU-IPPNU tampak hadir berkhidmat menyatu dalam acara tersebut.

    (Red: Fahrulirwan/Infokom)

  • MBAH MANSYUR MENGANGKAT SEPOOR

    MBAH MANSYUR MENGANGKAT SEPOOR

    SORBANSANTRI.COM

    Kaitan Masjid Brangkal dan Pondok Ndresmo

    Daya linuweh yang dimiliki seseorang bukanlah sebuah hal yang aneh. Kelebihan itu didapatkan dari proses lelaku dan kedekatan pada Sang Pencipta. Kejadian yang tidak mungkin bagi mereka dapat dilakukan. Mbah Mansyur salah seorang yang memiliki daya linuweh tersebut.

    Mbah Mansyur adalah seorang dai yang berasal dari Sidoresmo Surabaya. Dia menetap dan mendirikan sebuah masjid di dekat Kali Brangkal. Lokasi masjid itu langsung berhadapan dengan pabrik gula Brangkal milik Eachauzier. Pendirian. Pabrik itu merupakan pabrik gula terbesar yang ada di Mojokerto. Oleh masyarakat sekitar Mbah Mansyur dikenal sebagai orang sakti.

    Ketika membangun masjid Brangkal, ada sebuah peristiwa aneh yang dilakukan oleh Mbah Mansyur. Pada saat menaikkan kap bangunan ternyata diketahui bahwa ada blandar yang kurang panjang. Kayu yang tersedia sudah tidak ada lagi yang bisa digunakan menyambungnya. Menebang kayu lainnya juga tidak mungkin karena butuh waktu untuk mengeringkan kayu tersebut. Mendapatkan laporan dari para tukang, Mbah Mansyur segera turun ke lapangan. Kayu jati yang kurang panjang beliau pegang dan ditariknya. Seperti karet saja, kayu jati itu molor mengikuti tarikan Mbah Mansyur. Setelah itu kayu dipasang dan bangunan dapat diselesaikan tanpa tertunda lagi.

    Salah satu keanehan Mbah Masyur adalah kekuatannya saat menarik gerbong kereta. Diceritakan bahwa pada suatu hari gerbong kereta terjebur ke kali Brangkal. Gerbong kereta barang tersebut milik perusahaan kereta api Oost Java Stoomtram (OJS). Seperti biasanya jika ada kecelakaan semacam itu, maka didatangkalah kereta derek dari stasiun besar Mojokerto.

    Seharian penuh upaya evakuasi dilakukan dengan alat mekanis. Untuk kebutuhan itu maka jalur transportasi kereta dari arah Mojoagung harus dihentikan. Sayangnya gerbong tidak bisa ditarik dari dalam kali. Derek seolah tidak mampu mengangkat berat gerbong kosong tersebut. Para pekerja sudah kehabisan akal mengatasi hal itu.

    Pada saat itulah ada seorang warga yang menyarankan agar minta tolong pada Mbah Mansyur. Saran itu dilakukan dengan mendatangi beliau dan kesediaanpun dudapatkan. Untuk mengangkat gerbong dari dalam kali, Mbah Mansyur tidak butuh alat bantu apapun kecuali seutas benang. Dengan daya linuwehnya, gerbong berhasil ditarik sendiri oleh Mbah Mansyur. Ditarik sendiri dengan seutas benang.

    Peristiwa anjloknya gerbong kereta api OJS di Brangkal itu sendiri terjadi pada bulan Maret 1926. Berita kecelakaan tersebut sempat dimuat dalam koran Sumatra Post tanggal 15 Maret.

    Masyarakat memang tidak heran dengan kesaktiannya. Beliau berasal dari keluarga pesantren Ndresmo yang kondang dengan ilmu kanuragan. Sejak muda terbiasa dengan lelalu dan tirakat untuk menempa dirinya.

    Tokoh sakti itu hidup pada tahun 1930-an. Seperti tokoh yang memiliki kelebihan atau kasekten, maka Mbah Mansyur juga berusaha untuk menjauhkan diri dari keramaian dunia. Sebuah pondok beliau dirikan di Brangkal. Pesantren itu memang tidak sebegitu besar pada waktu diasuh oleh Mbah Mansyur dan mengalami kemajuan pesat saat dipegang oleh KH Khusen Ihsan. Karena itu pesantren tersebut dinamakan Al Ikhsan. Mbah Mansyur kembali ke Sidoresmo pada kisaran tahun 1940-an. Masjid dan pesantren diteruskan oleh Kyai Ihsan dan nantinya dilanjutkan oleh putranya, KH Khusen Ihsan.

    Pada mimbar khutbah di Masjid Brangkal tertulis bila masjid itu didirikan pada bulan Oktober 1938. Pendiriannya tepat pada bulan Ramadhan 1357 Hijriyah. Berdasarkan catatan tahun itu maka dapat dipastikan bahwa Mbah Mansyur tinggal di Brangkal pada kisaran tahun tersebut.

    Saat tinggal di Mojokerto Mbah Mansyur sering mengunjungi makam ulama di sekitar Mojokerto. Salah satu makam yang kerap dikinjungi adalah Makam Mbah Sinari Manting. Oleh karena itu makam mbah Manting hingga saat ini dihormati oleh keluarga Sidosermo.

    Ketetkaitan Mbah Mansyur dengan Pesantren Brangkal terjadi lagi tahun 1946. Keluarga Mbah Mansyur yaitu Kyai Mas Muhajir Masyur mengungsi ke Brangkal. Selain mengungsi beliau juga ikut mengajar disana. Aktifitas yang berhenti saat serdadu Belanda menyerang Brangkal dan menjadikan masjid Brangkal menjadi pos tentara Belanda.

    *photo dari www.Ndresmo.blogspot.

    Sumber : Catatan Serpihan Ayuhanafiq

  • Warga Nahdliyin dalam membela NU

    Warga Nahdliyin dalam membela NU

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Ada banyak cara kaum Nahdliyin dalam membela NU. Ada yang masuk dalam struktural atau kepengurusan tingkat pusat hingga ranting, Badan Otonom (Banom) hingga NU akar rumput atau NU kultural.

    Usia kaum Nahdliyin yang beragam beserta kapasitas intelektualnya juga mempengaruhi ekpresi ke-NU-annya. Warga NU yang sudah sepuh, sudah lama berkiprah di NU atau intelektualitasnya teruji, membela NU dengan cara yang dewasa. Membuka ruang dialog, kajian-kajian Aswaja,diskusi hingga debat santun.

    Berbeda dengan kaum muda NU yang mungkin warga baru atau pengetahuannya masih standar, membela NU sesuai dengan seleranya dan sesukanya. Yang penting menang. Hajar sana-sini tak peduli apakah sikapnya sudah sesuai dengan metode dakwah NU atau belum. Pokoknya yang penting hajar.

    Tentu tidak semua kaum muda NU yang demikian. Kaum muda NU yang paham tentang metode dakwah NU, santri NU yang sudah belajar akhlak dan adab, matang dalam pemikiran tentu akan membawakan NU sesuai dengan ketinggian ilmunya. NU itu mulia maka berupaya menjunjung tinggi kemuliaan NU dan tidak akan merusak citra NU dengan sikap yang buruk.

    Ketidaksinkronan antara semangat yang meletup-letup dengan pengetahuan inilah yang ternyata membawa dampak buruk bagi marwah dan kehormatan NU. NU yang selama ini dipandang sebagai ormas besar yang toleran, humoris, santuy bahkan dikenal sebagai rumah besar bagi kebhinnekaaan harus menanggung risiko dan stigma negatif.

    Saya berprasangka baik bahwa apapun yang dilakukan oleh kaum Nahdliyin, baik kaum tua maupun kaum muda, pengurus struktural maupun kultural semuanya adalah cinta NU. Semuanya mengekspresikan kecintaan pada NU meskipun dengan cita rasa yang berbeda. Dengan style yang beraneka. Tidak berharap pamrih dan nama besar. Sebagai manusia biasa tentu punya batas dan kapasitas kemampuan yang berbeda-beda. Jika ada yang kurang dari warga Nahdliyin maka yang salah bukan NU-nya karena NU tidak ada masalah.

    Dengan beragamnya karakter, pengetahuan dan latar belakang warganya, mau tidak mau NU harus siap menampung itu semua. Kaum sepuh maupun muda, alim maupun awam, ada didalam tubuh NU. NU sebagai ormas besar bahkan diusianya jelang satu abad, harus legowo menghimpun segala karakter manusia dengan tetap berpijak pada jati dirinya. Moderat, mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

    NU itu kekal dalam arti ormas yang hidup disetiap zaman. Eksis dimasa Soekarno, Tertatih-tatih dimasa Soeharto dan kini beberapa kader NU ada dipemerintahan Jokowi. Setia mengawal pemerintahan tak pernah khianat pada NKRI. NU sudah ada sebelum kita ada, NU ada saat kita ada dan NU akan tetap ada saat kita nanti tiada. NU akan hidup sampai hari kiamat.

    Dengan kenyataan itu, kita harus siap menerima berbagai macam watak orang NU. Kaum sepuh dan alim ulama harus tetap sabar membimbing umat, mengayomi umat dengan kesederhanaan dan welas asih. Jika kaum sepuh dan alim ulama meninggalkan umat lantas siapa yang akan membimbing umat kedepan.

    Kaum sepuh, ulama dan pengurus struktural harus siap sabar dengan sikap kaum muda yang kadang agak keras, terlalu agresif dalam membela NU. (Sinkqy Cah Bali)

  • Ustadz Maaher Meninggal Dunia di Rutan Mabes Polri

    Ustadz Maaher Meninggal Dunia di Rutan Mabes Polri

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Soni Ernata atau Ustadz Maaher meninggal dunia di Rutan Mabes Polri. Dia meninggal pada pukul 19.00 WIB tadi.

    “Betul, beliau meninggal sekira jam 7 malam di Rutan Mabes Polri,” ujar kuasa hukum Ustaz Maaher Djudju Purwantoro saat dihubungi, Senin (8/2/2021).

    Jenazah Ustaz Maaher langsung dibawa ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur pada pukul 20.00 WIB.

    “Dan sekitar jam 8 dibawa ke RS Polri. Ba’da Isya. Dan saya saat ini menuju RS Polri Kramat Jati,” terangnya.

    Djudju mengungkapkan Ustaz Maaher meninggal karena sakit. Seminggu lalu almarhum baru saja kembali ke rutan dari RS Polri untuk mendapat perawatan.

    “Meninggal kan di berita-berita banyak sakitnya beliau dan kami mohon dibantarkan. Dan beliau seminggu yang lalu baru pulang dari RS Polri habis perawatan. Dan 3 hari lalu sudah dialihkan dilimpahkan ke kejaksaan dan Kamis saya sudah kirim surat atas nama kuasa saya mintakan yang bersangkutan melihat kondisi sakit untuk kembali dirawat,” tandasnya.

    Ustadz Maaher ditahan di Rutan Bareskrim Polri setelah menjadi tersangka kasus ujaran kebencian di media sosial. Dia ditangkap pada 4 Desember 2020 lalu.

    Di dalam tahanan, Ustadz Maaher sempat mengeluhkan sakit. Dia kemudian dibantarkan ke RS Polri. (sumber)

  • Jenazah ABK Kapal China Asal Banyumas Tiba di Indonesia

    Jenazah ABK Kapal China Asal Banyumas Tiba di Indonesia

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com
    – Jenazah Anak Buah Kapal (ABK) asal Banyumas, Dzul Faqih pada Kamis (4/2/2021) sekira pukul 11.30 WIB tiba di rumah duka di Desa Karang Kemiri, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas.
    Suasana seketika itu pecah dengan derai air mata yang tak bisa dibendung oleh keluarga almarhum Dzul Faqih dan tetangga.
    Setelah dikabarkan meninggal pada hari Kamis (9/4/2020), jenazah Dzul Faqih sempat tidak jelas keberadaan dan kapan dipulangkan ke tanah air.

    “Memang agak sulit karena terkendala adanya pandemi dan sempat adanya lockdown jadi tidak bisa kemana-mana.
    Akhirnya kita saling kontak dengan agensi dan BNP2MI,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja Koperasi dan UMKM Banyumas, Joko Wiyono kepada Tribunbanyumas. Minggu (7/2/2021).

    Dzul Faqih adalah anak dari pasangan Rudi Hermawan dan Sri Lestari yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal FV Ming Xiang No.878 yang berbendera China dengan nomor Paspor C3702084 melalui agensi PT. Agung Semilir Bahari, Pemalang.
    Almarhum bekerja sebagai ABK sejak Juli 2019, dan dikabarkan meninggal karena kecelakaan kerja pada 9 April 2020. Karena keadaan yang belum memungkinkan dipulangkan akibat pandemi Covid-19, membuat keluarga merasa khawatir dan cemas terkait keberadaan jenazah di kapal tersebut.

    Dzul Faqih adalah kader Ansor-Banser Kabupaten Banyumas, dan telah mengikuti jenjang kaderisasi Diklatsar Banser yang diadakan di Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas pada 2019.
    Pihak keluarga didampingi pengurus PAC GP Ansor dan Satkoryon Banser meminta PC GP Ansor Kabupaten Banyumas melalui LBH Ansor untuk melakukan advokasi atas kejadian kecelakaan kerja tersebut dan meminta untuk dilakukan upaya pemulangan jenazah.

    LBH Ansor yang ditugaskan oleh Ketua PC GP Ansor Banyumas sekaligus ditunjuk sebagai kuasa hukum pihak keluarga melalui Ketua LBH Ansor menugaskan secara langsung kepada sahabat Febrian Rosa Pratama, S.H. untuk melakukan advokasi secara tuntas.

    Pengumpulan berkas serta data-data yang dibutuhkan dilakukan, melakukan klarifikasi dan penggalian informasi langsung ke Kantor PT. Agung Semilir Bahari di Pemalang dilakukan secara cepat sambil melakukan upaya-upaya lainnya.

    Setelah semua data dan informasi terkumpul, LBH Ansor melakukan Press realese melalui PC GP Ansor Banyumas pada awal Januari 2021 dan melakukan upaya hukum dengan jalan meminta ketegasan kepada PT. Agung Semilir Bahari dan pihak Kementrian Luar Negeri di Jakarta.
    Sebelum melakukan pertemuan dengan pihak kemenlu, LBH Ansor, berkomunikasi dengan Pimpinan Pusat GP Ansor di Kantor Jl. Kramat Raya Jakarta.

    Setelah 9 bulan sejak kabar meninggalnya almarhum Dzul Faqih dan setelah melakukan berbagai upaya, kabar kejelasan kepulangan jenazah almarhum didapatkan dari pihak Kemenlu RI.
    Kemenlu menerangkan bahwa almarhum akan diterbangkan dari bandara Shanghai International pada Rabu, 3 Februari 2021.

    Jika tidak ada halangan sampai di rumah duka pada Kamis, 4 Februari 2021.
    Almarhum di salatkan di Masjid Jami’ Desa Karangkemiri sebelum diberangkatkan di tempat peristirahatan terakhirnya.

    Almarhum Dzul Faqih adalah Pahlawan nyata bagi keluarga dan negara. GP Ansor- Banser bangga memiliki kader seperti dia yang bekerja di luar negeri dengan niatan baik untuk membantu perekonomian keluarga.
    Tugas LBH Ansor Banyumas belumlah selesai, karena masih harus melakukan advokasi terkait kewajiban PT. Agung Semilir Bahari berupa asuransi pekerja.

    Setelah momen dimakamkannya Dzul Faqih, PC GP Ansor Banyumas mengucapkan Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu berupaya penuh terkait pemulangan jenazah.
    Terutama Pimpinan Pusat GP Ansor, pihak Kemenlu RI, BP2MI, pihak PT. Agung Semilir Bahari sebagai agensi penyalur Dzul Faqih. (Ansor Banyumas)

  • Gus Dur dan Ilmu Kasyafnya yang Tinggi

    Gus Dur dan Ilmu Kasyafnya yang Tinggi

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Istilah ilmu kasyaf itu sangat familiar bagi masyarakat santri pengamal dan pengkaji ilmu tasawuf.
    Kasyaf/mukasyafah secara gampang bisa diartikan dengan tersingkapnya tabir yang menutupi hal-hal ghaib pada seseorang karena tingginya derajat spiritualitasnya sehingga orang tersebut bisa melihat hal-hal ghaib yang bagi orang pada umumnya tidak tampak/tertutupi.

    Nah, suatu ketika Gus Dur berangkat haji dengan “bolo-bolo plek” nya alias teman-teman akrabnya.
    Ada Abah saya (Abah Amanulloh Tambakberas), ada Kyai Mu’adz dan Kyai Nukman Tohir Kajen Pati, ada H. Masnuh Waru Sidoarjo, dan beberapa orang lainnya. Keberangkatan haji rombongan ini sangat istimewa karena membawa misi khusus dari sesepuh sesepuh NU untuk wiridan menjelang muktamar.
    Di tengah-tengah suasana wukuf di padang Arafah, tiba-tiba Gus Dur mengajak H. Masnuh untuk keluar dari tenda dan menggelar sajadah di samping tenda.

    Mereka berdua berdzikir dan berdoa di luar tenda tanpa atap yang menghalangi panasnya matahari di Arafah.
    Tiba-tiba Gus Dur berbisik kepada H. Masnuh : “Ji, lihat ke langit ya. Kalau langitnya terbelah segera beritahu saya dan kita langsung berdoa. Sampeyan baca doa Sapu Jagat saja sampai langit itu menutup kembali.”
    Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba H. Masnuh tergopoh-gopoh dan bilang ke Gus Dur.
    “Gus.. Gus.. Langitnya sudah membelah.”
    Dan Gus Dur segera merapal doa-doa.

    Begitu juga H. Masnuh membaca doa yang diperintah Gus Dur untuk membacanya, sampai langit tertutup kembali.
    Setelah langit menutup kembali, Gus Dur segera mengajak H. Masnuh untuk kembali masuk tenda.
    Gus Dur bilang: “Ji, ayo kembali dan kita tidur saja di dalam tenda”.
    Kemudian H. Masnuh menjawab : “Lho Gus, Ini waktu wukuf masih lama. Kenapa kok tidur?” “Gak papa, biarkan mereka terus berdzikir dan berdoa. Saya mau tidur saja. Karena langit sudah tutup”, jawab Gus Dur sambil terkekeh khas beliau.

    Itulah tanda kasyafnya Gus Dur, hamba Allah istimewa yang diberi kemampuan melihat tanda-tanda alam yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Dan pada tahun 2015, setelah 20 tahun lebih peristiwa itu terjadi, air mata H. Masnuh masih saja menetes deras ketika menceritakan hal itu pada saya. Beliau masih hidup dan cerita ini bisa dicrosscek ke beliau.
    Ila hadlroti ruhi Gus Dur, Al Fatihah…

    (Penulis: Gus Wafiyul Ahdi, Tambakberas Jombang)

  • Muhammadiyah dan NU Cabang Nasrani

    Muhammadiyah dan NU Cabang Nasrani

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Tokoh-tokoh Muhammadiyah sering bercanda dengan istilah “Krismuha”, karena sebagian dari Lembaga Pendidikan Muhammadiyah yang berada di daerah Papua, NTT, ternyata sebagian murid-muridnya adalah orang Kristen. Tidak aneh, jika ada sebagian dari pengurusnya ternyata beragama Nasrani. Yang jelas, murid-murid sekolah yang dibangun Muhammadiyah bukan beragama Islam. Wajar jika ada yang berkata “Muhammadiyah Cabang Kristen” atau yang lebih keren dengan istilah “Krismuha”.

    Tidak mungkin organisasi yang berbasis Al Quran dan hadits bisa berkembang dengan baik di Papua dan NTT, kecuali harus merangkul masyarakat yang beragama lain. Di dalam sekolah yang didirikan Muhammadiyah, telah disediakan guru khusus yang beragama Katolik atau Kristen, yang disesuaikan dengan kebutuhan agama masyarakat setempat.

    Profesor Munir Mulkan, Begawan Pendidikan Muhammadiyah justru membagi Muhammadiyah dengan empat bagian, (1) Muhammadiyah Purifikasi, atau yang sering saya sebut dengan “Muhammadiyah Garis Lurus”. (1) Muhammadiyah Kultural Tradisional (3) MUNA (Muhammadiyah Nahdhatul Ulama) (4) Muhammadiyah Marhaenisme, dengan kata lain Muhammadiyah abangan. Dan yang terakhir adalah Krismuha (Kristen Muhammadiyah).

    Tokoh Muhammadiyah Abdul Mu’ti menggambarkan bahwa Muhammadiyah ikut serta membangun toleransi antar umat beragama di Indonesia, khususnya terhadap masyarakat yang minoritas Islam di daerah Papua, NTT, Manada. Di mana daerah-daerah tersebut mayoritas beragama Kristen baik Katolik maupun Protestan dalam pendidikan yang berada di naungan organisasi Muhammadiyah.

    Istilah dan ijtihad tokoh Muhammadiyah dengan menggunakan istilah “Krismuha”, sudah membumi. Muhammadiyah yang lantang menyuarakan Al Quran dan Sunnah tidak banyak protes dengan istilah ini, bahkan tidak keberatan menyediakan guru-guru agama Kristen dan Katolik di sekolah-sekolah di Papua, NTT. Padahal, menurut pemahaman Islam Garis Lurus, menyediakan guru agama katolik atau Kristen bisa dikategorikan membantu menyebarkan agama, bahkan bisa dikatakan sebagai bentuk pengakuan terhadap agama Kristen atau Katolik.

    Namun karena Muhammadiyah tidak terlalu seksi, walaupun Krismuha (Kristen Muhammadiyah) sudah terwujud, dan membumi, namun tidak terlalu menarik untuk dikecam dan dikomentari. Sebaliknya, ketika NU membuat candaan “NU Cabang Nasrani” sangat menghebohkan. Lebih menarik lagi, yang paling banyak komentar itu rata-rata bukan NU. Bahkan, secara personal pengikut Muhammadiyah ikut-ikutan menyesatkan “NU”. Ini menjadi bukti, bahwa NU itu memang paling seksi.

    Sejak dulu, NU sangat keren dan mengasyikkan. Banyak ulama dan yang dekat dengan para pemabuk, penjudi, kemudian ada yang nyinyir “Kyai kok berteman dengan penjudi dan pembakuk”. Sebenarnya, Kyai NU bukan sekedar berteman, tetapi pertemanan itu bertujuan mengajak mereka kembali ke jalan Allah SWT. Hanya dengan bertemanan, seorang kyai itu bisa memahami suasana hati masyarakat yang tercebur dalam maksiat, sehingga dengan mudah mengajak kembali.

    Ada juga yang sinis terhadap kyai NU, ada yang berkata dengan lantang “Kyai kok dekat dengan pejabat”. Sambil menggunakan dalil-dalil. Kyai NU, sudah kenyang dengan dalil-dalil, mereka ahli usul fikih, sehingga dengan cara masuk di pemerintahan, seorang kyai bisa memberikan kontribusi kepada negara Indonesia. Seperti, KH Wahid Hasyim, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdurrahman Wahid, mereka benar-benar memberikan kontribusi paling besar terhadap Indonesia.

    Kendati demikian, tokoh-tokoh NU tetap menerima kritik karena itu akan menambah khazanah, dan juga tetap membangun silaturahmi dengan tokoh-tokoh yang demen mengkritik. Dalam tubuh NU, banyak kyai yang sering bercanda ria, ada juga yang sangat serius. Sehingga akhirnya muncul kelompok-kelompok anekdot yang sangat gemesin, seperti NU Garis Lurus, NU Garis Lucu, NU Garis Diagonal, Liberal. Namun, mereka bukanlah bagian dari organisasi NU, melainkan serpihan-serpihan masyarakat NU yang tetap ingin diakui menjadi NU.

    Sampai kapanpun, organisasi NU yang didirikan oleh Mbah Hasyim Asy’ari akan tetap menggunakan teologi Asy’ari, dan Al-Syafii sebagai mazhabnya, dan tasawuf sebagai pandangan moralnya. Candaan “NU Cabang Nasrani”, tidak akan mampu mengubah akidah wong NU. Walaupun di kafir-kafirkan dan di syirikkan, NU tidak berubah, tetap akan tahlilan, manakiban, shalawatan, dan istighotsahan. Walaupun dikatakan anti Arab, NU tetap akan mempertahankan ngaji dengan menggunakan kitab-kitab bahasa Arab. Karena sanad ilmu kyai NU, mulai Al Quran dan tafsir, hadits, fikih, tasawuf nyambung (ittishol) hingga Rasulullah SAW. (Abdul Adzim Irsad)

  • Penipuan Mengatasnamakan Bantuan untuk Pesantren

    Penipuan Mengatasnamakan Bantuan untuk Pesantren

    SORBANSANTRI.COM
    wp.sorbansantri.com –
    Pringsewu, NU Online Seiring bergulirnya bantuan pemerintah ke pesantren untuk penanganan Covid-19, masih saja ada pihak-pihak yang tega melakukan penipuan pada pesantren atas nama bantuan tersebut. Modusnya pun terbilang baru dan cukup meyakinkan pihak pesantren. Praktik penipuan ini di antaranya terjadi di Kabupaten Pringsewu, Lampung dan mengakibatkan beberapa pesantren menjadi korban. Sekretaris Rabitah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Kabupaten Pringsewu, Hizbullah Huda (Gus Hiz) mengatakan bahwa awalnya penipu menghubungi pihak pesantren dan mengaku dari pemerintah daerah. Kemudian penipu meminta nomor rekening resmi pesantren yang akan digunakan untuk mentransfer dana bantuan.
    Gus Hiz mensinyalir penipu meminta nomor rekening resmi atas nama pesantren karena biasanya rekening tersebut tidak menggunakan SMS ataupun Internet Banking. Sehingga tidak ada notifikasi (pemberitahuan) jika ada dana yang masuk ke rekening dan tidak bisa dicek langsung keadaan saldonya. “Selang waktu tak lama, penipu mengirimkan foto bukti/slip transfer palsu yang tertulis bahwa dana bantuan telah ditransfer ke nomor rekening pesantren. Jumlahnya bervariasi mulai dari 8 juta sampai 14 juta rupiah lebih,” katanya kepada NU Online, Ahad (7/2).
    Setelah itu, lanjut Gus Hiz, oknum penipu ini meminta pesantren untuk mentransfer dana dalam jumlah tertentu, dengan alasan untuk membantu anak yatim piatu. Dikarenakan pengurus pesantren tidak mengecek terlebih dahulu keadaan saldo terakhirnya, maka mereka pun tertipu dengan modus ini. “Penipu meminta dana berkisar 2,5 juta rupiah dari pesantren,” ungkapnya. Gus Hiz mengatakan bahwa pihaknya sudah mendapatkan laporan dari beberapa pesantren di Pringsewu yang dihubungi oknum penipu ini. Mengetahui hal ini, pihaknya dengan cepat melakukan koordinasi dan mengingatkan pengurus pesantren di daerahnya untuk waspada. “Kita sudah melakukan koordinasi dengan melaporkan kasus ini ke aparat hukum untuk ditindaklanjuti,” katanya. (Muhammad Faizin)