Tag: sorbansantri

  • Foto Perempuan Pengurus BEM Diblur, Pengurus NU sebut Mirip Yahudi Orthodox

    Foto Perempuan Pengurus BEM Diblur, Pengurus NU sebut Mirip Yahudi Orthodox

    Viral Foto Perempuan Pengurus BEM UGM dan UNJ Diblur, Pengurus NU sebut Mirip Yahudi Ultra Orthodox
    di kutib dari TRIBUN-MEDAN.com –  Foto tangkapan layar yang berisi akun Instagram BEM Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta mem-blur pengurus perempuannya viral di media sosial.
    Unggahan BEM UNJ tersebut menjadi sorotan netizen di media sosial baik Twitter maupun Instagram.
    Kemunculan tangkapan layar tersebut di Twitter pertama kali diunggah oleh akun @Nadyazura pada hari ini (10/02/2019).

    Dalam cuitannya, Nadya mengaku kaget dengan tindakan yang diunggah oleh akun resmi BEM UNJ tersebut. Nadya bahkan menyebut hal ini sebagai ‘penghapusan eksistensi perempuan dari sejarah.’

    Komentar-komentar di cuitan Nadya pun banyak yang sependapat. Namun, tidak semua netizen setuju dengan ucapan @Nadyazura tersebut.

    Ada juga netizen yang meminta Nadya untuk melihat fenomena ini dari sisi yang berbeda.

    Bahkan ada juga netizen yang menyertakan tangkapan layar komentar Instagram dari seorang anggota BEMFT UNJ.
    Di dalam tulisannya, @ferdhinar mengklaim bahwa tindakan mem-blur tersebut merupakan permintaan pengurus perempuan BEMFT UNJ sendiri.

    https://www.instagram.com/p/B8WebbHBVoC/?utm_source=ig_embed

    Hingga berita ini ditulis yaitu pada pukul 15.03 WIB, cuitan @Nadyazura telah memperoleh 3.000 retweet dan 4.700 likes.

    Di kolom komentar tersebut, ada juga yang menambahkan informasi bahwa BEMFT UNJ telah melakukan blurring terhadap pengurus perempuannya setiap tahun.
    Setelah ramai blur foto pengurus BEM UNJ ini, muncul lagi sorotan pada foto BEM UGM yang juga melakukan hal serupa bagi pengurus Perempuannya.

    Seperti yang diunggah Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Antoni Raja di akun Twitetrnya.

    Dalam caption foto unggahanya dia pun meminta pendapat teman-temannya untuk memberikan tanggapan soal foto perempuan yang menjadi pengurus di BEM UGM.

    “Fiqh apa yang mengajarkan foto perempuan harus diblur Gus @na_dirs @sahaL_AS @Ayang_Utriza?,” cuitnya.

    Beberapa pengikut Antoni Raja pun memberikan tanggapan yang tidak dapat menerima foto pengurus perempuan diblur.

    “Almamater saya… miris sekelas mahasiswa UGM bisa2nya skr begini…intelektualitas tidak lg dikedepankan,” komentar Mingfan.

    “Herannya tuh cewe2 yang harusnya “super pinter dan cerdas”, krn bisa diterima di UGM, kok gak protest!! Mengiyakan saja direndahkan #miris dgn generasi skrg,” Komentar Ciopi.

    Beberapa komentar pun ada yang menyebutkan akan lucu jika perempuan yang menjadi rektor di Kampus tersebut, karena tentu akan diblur.

    “Ini kalau Rektor nya perempuan bisa LUCU ini he he he,” komentar Kang Aziz Tuban.

    Ahmad Sahal, Pengurus Cabang Istimewa NU yang dimintai Antoni Raja komentarnya untuk foto tersebut memberikan komentarnya.

    sumber

  • ANSOR PACET – ANSOR KUAT

    ANSOR PACET – ANSOR KUAT

    Sorbansantri.com – GP Ansor sebagai salah satu banom NU terus berusaha untuk meningkatkan kualitas organisasi, baik dari tingkat pusat, wilayah, cabang hingga tingkat PAC dan ranting. PAC GP Ansor Kecamatan Pacet pada Jum’at (12/02/2021), bertepatan dengan hari raya IMLEK serta awal masuknya bulan Rojab, telah sukses melaksanakan pelantikan pengurus dan lembaga PAC GP Ansor Kec. Pacet Kab. Mojokerto periode 2021-2023.

    Acara berlangsung sederhana dan dan tetap mentaati anjuran pemerintah untuk mentaati protokol covid-19. Hal itu nampak dalam tulisan yang terpampang di area pelantikan yang menghimbau kepada peserta dan undangan agar mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak selama prosesi pelantikan. Nampak hadir dalam pelantikan tersebut perwakilan dari KORAMIL Pacet, ketua MWCNU kecamatan Pacet, ketua Fatayat, ketua Muslimat, dan perwakilan dari Banom serta lembaga-lembaga NU di kecamatan Pacet.

    Pelantikan pengurus PAC GP Ansor Pacet yang diadakan di Gedung Graha NU Pacet ini, sesuai dengan jadwal yang telah direncakan. Acara berjalan lancar dan hikmat mulai pukul 13:30 hingga selesai pada pukul 18:30.
    “Meski Covid 19 belum usai, kegiatan ini kami laksanakan sebagai bentuk tanggung jawab kami kepada organisasi. Tentu dengan ketat mematuhi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Semoga di tangan Sahabat Huda (Ketua PAC baru) PAC GP Ansor Pacet semakin maju dan berkembang”, Kata Sahabat Mujibur Rohman, Ketua PAC GP Ansor Pacet periode 2018-2021.
    Saat memberikan sambutan, Ketua MWC NU Pacet berpesan agar ANSOR sebagai garda terdepan generasi muda NU selalu kompak, inovatif dan cerdas menyikapi banyaknya informasi hoax, mendidik masyarakat untuk pandai menggunakan teknologi informasi.
    Selesai prosesi pelantikan, acara diakhiri dengan doa kemudian dilanjutkan dengan acara tasyakuran potong tumpeng dan makan bersama. Ki-Sorban

  • DISTRIBUSI PWNU JAYAPURA BERSAMA BANSER PEDULI BENCANA BANJIR KEEROM

    DISTRIBUSI PWNU JAYAPURA BERSAMA BANSER PEDULI BENCANA BANJIR KEEROM

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – Minggu, 14 Februari 2021. Jajaran PWNU beserta Banser Jayapura mengirimkan bantuan sembako kepada warga terdampak banjir di kabupaten Kerom Papua. Ada 20 personil Banser dan 30 pengurus PWNU Jayapura yang telah siap mengirimkan bantuan yang rencananya akan disalurkan ke korban dampak banjir di Arso 7 Arso 1 distrik Arso Barat dan PIR 1 distrik Arso.

    “Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh kita semua, akan bisa bermanfaat bagi warga yang terdampak banjir”, kata Gus Adip yang didampingi korlap Sahabat Sori dalam giat amal tersebut.

    SORBANSANTRI.COM
    Selain dikumpulkan di kantor PWNU Jayapura, dana bantuan iuran warga juga dikumpulkan di dua titik pos pendistribusian. Pos pertama di Masjid Baiturrohmah Kampung Yanamaa Arso Keerom sebagai tempat pendistribuasian wilayah Arso 7, Arso PIR 1 dan pos kedua berada di Masjid Fisabilillahyang nantinya akan langsung dikirim menggunakan mobil MWC NU Arso Barat.

    “ Mohon doa semoga dalam pelaksanaannya nanti bisa berjalan lancar dan maanfaatnya bisa lansung dirsakan oleh korban banjir di kabupaten Kerom Papua . (Budi WXXV – sorban)

  • ANSOR KUAT !! PELANTIKAN PENGURUS PAC GP ANSOR KEC. PACET

    ANSOR KUAT !! PELANTIKAN PENGURUS PAC GP ANSOR KEC. PACET

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com – GP Ansor sebagai salah satu banom NU terus berusaha untuk meningkatkan kualitas organisasi, baik dari tingkat pusat, wilayah, cabang hingga tingkat PAC dan ranting. PAC GP Ansor Kecamatan Pacet pada Jum’at (12/02/2021), bertepatan dengan hari raya IMLEK serta awal masuknya bulan Rajab, telah sukses melaksanakan pelantikan pengurus dan lembaga PAC GP Ansor Kec. Pacet Kab. Mojokerto periode 2021-2023.

    Acara berlangsung sederhana dan dan tetap mentaati anjuran pemerintah untuk mentaati protokol covid-19. Hal itu nampak dalam tulisan yang terpampang di area pelantikan yang menghimbau kepada peserta dan undangan agar mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak selama prosesi pelantikan. Nampak hadir dalam pelantikan tersebut perwakilan dari KORAMIL Pacet, ketua MWCNU kecamatan Pacet, ketua Fatayat, ketua Muslimat, dan perwakilan dari Banom serta lembaga-lembaga NU di kecamatan Pacet.

    Pelantikan pengurus PAC GP Ansor Pacet yang diadakan di Gedung Graha NU Pacet ini, sesuai dengan jadwal yang telah direncakan. Acara berjalan lancar dan hikmat mulai pukul 13:30 hingga selesai pada pukul 18:30.
    “Meski Covid 19 belum usai, kegiatan ini kami laksanakan sebagai bentuk tanggung jawab kami kepada organisasi. Tentu dengan ketat mematuhi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Semoga di tangan Sahabat Huda (Ketua PAC baru) PAC GP Ansor Pacet semakin maju dan berkembang”, Kata Sahabat Mujibur Rohman, Ketua PAC GP Ansor Pacet periode 2018-2021.

    Saat memberikan sambutan, Ketua MWC NU Pacet berpesan agar ANSOR sebagai garda terdepan generasi muda NU selalu kompak, inovatif dan cerdas menyikapi banyaknya informasi hoax, mendidik masyarakat untuk pandai menggunakan teknologi informasi.
    Selesai prosesi pelantikan, acara diakhiri dengan doa kemudian dilanjutkan dengan acara tasyakuran potong tumpeng dan makan bersama. (abi sorban)

  • MASIH BEREDAR BUKU SD YANG SEBUT NU RADIKAL

    MASIH BEREDAR BUKU SD YANG SEBUT NU RADIKAL

    Surabaya – PCNU Kota Surabaya meminta Dindik setempat untuk menyelesaikan masalah buku SD yang menyebutkan NU sebagai organisasi radikal. Ketua PCNU Kota Surabaya Muhhibin Zuhri bersyukur Dindik bertindak cepat.

    Ia menjelaskan, pada Februari 2019, protesnya sudah sampai ke PBNU dan Menteri Pendidikan. Kemudian sudah ditindaklanjuti oleh Menteri Pendidikan kala itu. Namun di lapangan, ternyata buku tersebut masih beredar dengan muatan yang dianggap tidak tepat.

    “Sampai hari ini pun masih beredar dan digunakan di sekolah-sekolah. Oleh karena itu, saya sampaikan ke Pak Pomo (Kadindik Kota Surabaya) bahwa buku itu masih beredar. Kemudian Pak Pomo, kemarin sudah mulai lusa menginstruksikan kepada semua jajaran untuk menyobek halaman itu. Menarik lha dari peredaran,” kata Muhhibin Zuhri, Selasa (11/2/2020).

    Buku pelajaran yang dimaksud ditulis pada 2013. Muhhibin menjelaskan, pada salah satu halaman buku itu disebutkan bahwa NU sebagai salah satu organisasi radikal.

    “Ini (kemarin) melakukan pertemuan dengan kepala-kepala sekolah SD di kantor dinas (pendidikan) menindaklanjuti. Mulai pagi melakukan penyobekan terhadap buku yang sudah setahun yang lalu disampaikan oleh Menteri Pendidikan Pak Muhajir (Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia 2016-2019) untuk dicabut. Tapi di lapangan kan tidak dicabut bukunya,” imbuhnya.

    Muhhibin juga mengapresiasi langkah Dindik Kota Surabaya yang dinilai responsif. Dindik memerintahkan kepada seluruh kepala sekolah untuk melakukan pencabutan buku ajaran yang menyebutkan NU sebagai organisasi radikal.

    “Responsif Pak Pomo untuk langsung memerintahkan kepada seluruh sekolah untuk menyobek halaman buku itu. Kemarin ada penyobekan massal di sekolah-sekolah,” lanjutnya.

    Pada Februari 2019, Mendikbud Muhadjir Effendy akan menarik buku SD tersebut. Ia mengatakan, pihaknya akan merevisi buku tersebut.

    “Jadi begini, buku ini ditulis pada 2013. Kemudian karena ada berbagai masukan, akhirnya pada 2016 ditulis kembali. Dan dalam penulisan itu kemudian kita ada masalah ini. Terkait dengan itu, kita tadi sudah bertemu dengan pimpinan PBNU dan LP Ma’arif. Kami dari Kesekjenan dan Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan), termasuk Humas dan Pustekkom (Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan), menyimpulkan bahwa buku ini akan ditarik, dihentikan, ditarik, kemudian kita revisi. Kemudian dalam proses revisi itu akan dimitigasi, supaya secara sistematika benar. Secara substansi juga benar,” kata Muhadjir di kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (6/2/2019).

    (sumber)

  • BANSER HUSADA BAKSOS PENGOBATAN KORBAN BANJIR

    BANSER HUSADA BAKSOS PENGOBATAN KORBAN BANJIR

    Cyberaswaja.online| Sooko. Dalam rangka meringankan para korban dampak banjir yang berlangsung pada awal bulan Februari 2020 lalu di salah satu Desa Kecamatan Sooko Kabupuaten Mojokerto, SATUAN KHUSUS BANSER HUSADA ( SATSUS HUSADA ) menggelar Bakti Sosial (Baksos).

    Pada kesempatan baksos kali ini, SASTUS BASADA bersama Biro Satsus lainnya ditingkatan Satuan Kordinasi Cabang Barisan Ansor Serba Guna (SATKORCAB BANSER) Kabupaten Mojokerto, bergerak mendatangi Dusun Tempuran Desa Bekucuk, Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto untuk melaksanakan pengobatan Gratis. (11/02/2020).

    FOTO: Baksos Banser Husada korban banjir
    Foto: Kanan: Moch. Sokib Wakasatkorcab Banser bersama Banser Husada Kab.Mojokerto di Balai Desa Bekucuk-Sooko

    Kasatsus BASADA Kabupaten Mojokerto, mengatakan bahwa kegiatan ini sudah tugas kita semua menjadi Banser, kita laksanakan sesuai Instruksi Satu Komando dari Panglima tertinggi kita, yaitu ketua GP Ansor kabupaten Mojokerto, dan sebelumnya kita sudah koordinasi dengan pemerintahan setempat dan berkomunikasi dengan baik.

    “Pelaksanaan Baksos ini kita dilaksanakan pagi, mulai pukul 08:00-14:00 WIB, dan bertempat di Balai desa Bekucuk, dan sebelumnya kita sudah berkoordinasi dengan pemerintahan setempat, dan alhamdulillah kegiatan ini mendapatkan respon cukup baik sekali oleh warga yang terdampak banjir”. Ucapnya sahabat Sabarudin Selaku Kepala Satsus Basada.

    FOTO: Baksos Banser Husada korban banjir
    Foto: Baksos Pengobatan Banser Husada korban banjir peserta Emak-Emak Muslimat
    foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir
    Foto: Baksos Pengobatan Banser Husada korban banjir

    Wakasatkorcab Banser Kabupaten Mojokerto mengatakan, bukan hanya Satsus BASADA saja yang telah terjun disini, sebelumnya sudah dilaksanakan oleh PC NU, beserta Banom-Banomnya diantaranya, BAGANA (Banser Tanggap Bencana), LBPI dan relawan-relawan lain untuk membantu evakuasi atas banjir yang terjadi.

    “Satsus Basada Baksos mengobati korban banjir, dan sebelumnya awal kejadian banjir, Banser Tanggap Bencana  (BAGANA) sudah terjun dahulu untuk membantu evakuasi bersama relawan-relawan yang lainnya”. Tegas Moch.Sokib selaku Wakasatkorcab Banser kab.Mojokerto.

    Bantuan Sosial berupa pengobatan diberikan BASADA, bermacam-macam, mulai dari pijat, tensi darah, bekam, terapi dan lain-lain, dan diberikan Gratis kepada warga yang sudah antri sejak pagi hari.

    “Pengobatan yang kita berikan diantaranya, tensi darah, pijat, bekam, terapi dan lain-lain, ini dilakukan oleh anggota Basada yang sudah mengikuti pelatihan-pelatihan sebelumnya, artinya mereka sudah punya skill dan kompetensi”. Tegas sahabat Basori Wakabiro Basada.

    FOTO: Baksos Banser Husada korban banjir
    Foto: Baksos Banser Husada Balai Desa Bekucuk
    baksos basada
    Foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir
    foto: Banser husada pengobatan kepada korban banjir
    Foto: Banser Husada Tensi Darah kepada korban banjir
    foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir
      foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir
    baksos basada
    foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir

    foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir

    Foto: Banser Husada pengobatan kepada korban banjir

    Perlu diketahui, Bahwasannya Kaderisasi masing-masing Kecamatan se Kabupaten Mojokerto, alhamdulillah sudah terbentuk. Kehadiran Banser dalam kegiatan-kegiatan sosial agama, tampil dengan sesuai instruksi pimpinannya.

    Semoga banjir yang berada di wilayah Kabupaten Mojokerto ini cepat, surut dan masyarakat kembali melakukan rutinitas seperti biasanya. (wg/Infokom)

    nb: mohon maaf apabila salah tulis nama dan gelar dan tempat.
  • IJAZAH “UMUM ” SURAT AL-FATIHAH DARI SIMBAH KH. ABDUL HAMID PASURUAN.

    IJAZAH “UMUM ” SURAT AL-FATIHAH DARI SIMBAH KH. ABDUL HAMID PASURUAN.

    SORBANSANTRI.COM
    Oleh : yai Abi Husna
    wp.sorbansantri.com – Beberapa kali saya membuat status tentang ijazah ini, selalu dibagikan ratusan kali, begitu juga denga akun2 lainnya yg Copas selalu dibagikan banyak sekali, bahkan ada yg menggunggah di Youtube. Oleh karena itu saya berusaha mencari file aslinya yg ditanda tangani pengurus Ahli Thariqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdhiyah (JATMAN) dgn setempel asli.
    Akhirnya bisa menemukan file aslinya setelah berbulan2 mencari diantara ribuan arsip Simbah KH. Mudhoffar Fatkhurrohman Kriyan Kalinyamatan Jepara yg pada waktu itu menjadi sekertaris JATMAN.
    Amalan ini saya terima dari Simbah KH. Mudhoffar dan beliau menerima dari Simbah KH. Abdul Hamid Pasuruan. Menurut buku biografi beliau “Percik-percik keteladan Kiai Hamid Pasuruan.” diterangkan beliau “mendapatkan langsung ” dari Syeh Abdul Qodir Al-Jailani. Lalu amalan ini kami jadikan wirid di acara Rutin Kenduri Syafa’at di PP. Nailun Najah Kriyan Kalinyamatan Jepara setiap malam Senin Kliwon.
    Menurut Simbah KH. Abdul Hamid, siapa orangnya yg membaca amalan tersebut secara istiqomah maka dia akan melihat keajaiban2 yang belum pernah terlihat”tersembunyi”.
    Simbah KH. Mudhoffar, menambahkan, siapa yg mengamalkan secara istiqomah maka ia akan diberi ilmu langsung dari Allah dan “tidak akan kehabisan”uang.
    Cara mengamalkan ijazah surat Al-Fatihah dari Simbah KH. Abdul Hamid, sebagai berikut:
    sesudah shalat Subuh 30x, sesudah Dluhur 25x, sesudah Asyar 20x, sesudah Maghrib 15x dan sesudah Isya, 10x, sehingga dalam satu hari berjumlah 100x dan jika ada kebutuhan yg sangat penting dan mendesak dibaca 100x setiap selesai shalat. Sebelum membaca Surat Al-Fatikah diawali dgn membaca ” Ala niyyatissyeh abdul qadir al-jailani radhiaallahu anhu”..lalu membaca Fatikhah sesuai hitungan.
    Alangkah lebih baiknya sebelum mengamalkan, membacakan Surat Al-Fatikhah dikhususkan kepada :
    1. Nabi Muhammad,
    2. Syah Abdul Qadir Jailani,
    3. KH. Abdul Hamid Pasuruan
    4. KH. Mudhoffar Fatkhurrohman.
     ( abi sorban)
  • PELATIHAN PAGAR NUSA RANTING PANDAN

    PELATIHAN PAGAR NUSA RANTING PANDAN

    SORBANSANTRI.COM

    Mojokerto.InfokomBanserNU- “PAGAR NUSA adalah pagar NU dan Bangsa pagar nusa dibentuk pada tanggal 3 januari 1986 yang di dibentuk oleh KH.ABDULLAH MAKSUM JAUHARI di pondok pesantren Lirboyo Kediri ,jawa timur tujuan dibentuknya PAGAR NUSA adalah untuk membentengi para ulama dan kyai bangsa indonesia pada masa pemberontakan PKI”

    SORBANSANTRI.COM
    SORBANSANTRI.COM

    Ora ono kemenangan tanpo pertolongan dari allah swt

    Pelatihan pagar nusa gasmi di pandan,pelatihan ini dibentuk oleh oleh romo Dedyriyanto asal nganjuk yang bertujuan untuk mengembangkan melestarikan pencak silat Nu untuk benteng para ulama dan kyai,pelatihan di pagar nusa tidak di ajarkan fisik”dan fisik namun di ajarkan kesopan tanggung jawab dan keagamaan itu penting dan tidak membedakan aliran”yang ada di pagar nusa,pelatihan di pandan di adakan pada hari selasa dan jum,at latian di mulai pukul 18.00malamdi tempat balai desa pandan arum,sebelum latian kita diajarkan untuk thawasul atau berdoa agar latian di beri barokah/manfaat ,untuk semua orang NU atau orang non muslim boleh ikut organisasi pagar nusa karena pagar nusa tidak membedakan satu sama lain

    #monggo dolor”seng kajenge tomot langsung ten balai desa pandan 😁

    (red.iksan)

  • PESAN KH. ANWAR ZAHID KEPADA BANSER PURI: BANSER-BANSER, SEMANGAT.

    KH. Anwar Zahid memberikan tausiah
    KH. Anwar Zahid memberikan tausiah

    PURI – Sekitar 50 personil pasukan banser dikerahkan oleh Satkoryon Banser PAC GP Ansor Puri dalam tugas pengamanan kegiatan Khotmil Qur’an ke XVII TPQ Al-Mutaqin dan pengajian umum oleh KH. Anwar Zahid dari Bojonegoro pada hari Selasa malam (11/02), di pelataran jalan raya Plososari depan TPQ Al-Muttaqin Dusun Tirim, Desa Plososari Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.
    Jumlah personil Banser yang diturunkan tergolong cukup banyak. Tentu hal ini mengacu pada skala jenis kegiatan sesuai dengan surat yang diterima oleh Kasatkoryon Banser PAC GP Ansor Puri dari Panitia kegiatan. Ketika surat diterima, maka segera mengkoordinasikan kepada jajaran pengurus untuk segera dipersiapkan bentuk pengamanannya. “Acara ini tergolong acara besar karena ada pengajian umum yang akan diisi oleh KH. Anwar Zahid. Antisipasi pengunjung yang membludak maka untuk pengamanan dibutuhkan banyak personil dan alhamdulillah personil kami bisa hadir lebih dari 50 personil.” Kata Tujin Mujianto selaku Kasatkoryon Banser Puri. “Kami siap sedia membantu pengamanan apalagi di situ ada para kiai yang hadir dan itu sudah menjadi tugas kami dalam upaya memberikan rasa nyaman, aman dan kondusif kepada orang lain khususnya kiai ataupun kelompok secara terorganisir dan sistematis” Lanjut sahabat ndan Muji, begitu ia biasa disapa.

    Satkoryon Banser Puri
    Satkoryon Banser Puri

    Dari jumlah pasukan banser yang diturunkan sudah ada ploting atau pembagian tugas sesuai pos masing-masing. “Ya, tentu dari jumlah 50 banser yang hadir itu ada tugasnya masing-masing, sudah kami atur, kami bagi dan persiapkan strategi pengamanan”. Kata Sulistiohadi (Ndan Sulis) yang bertugas sebagai Korlap Banser. “Setidaknya ada 3 ploting: (1) Penjemputan Kiai 6 personil (2) Penjagaan sekitar panggung dan area pengunjung 10 personil dan selebihnya bertugas (3) Pengawalan Kiai.” lanjut Ndan Sulis.
    Tugas Banser fokus pada pengamanan dan prngawalan kiai. Turut hadir juga Corp Barisan Pelajar (CBP) IPNU PAC Puri membantu dalam pengamanan di sekitar area pengunjung. Sedangkan untuk keamanan lalu lintas sudah diperbantukan dari pihak kepolisian (Polsek Puri) dan Linmas Desa Plososari.
    Acara berjalan lancar di mulai sejak pukul 18.00 WIB (selesai Maghrib) s.d. pukul 24.00 WIB. Meski pada awal acara sempat hujan namun setelah isya hujan mereda sehingga semakin banyak pengunjung yang hadir sekitar tiga ribu jamaah.

    SORBANSANTRI.COM
    Tampak hadir di barisan tamu undangan Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Kiai Ahmad Zaini, KH. Hafidz Muslih (Gus Hafidz), Forkopimca Ibu Nalurita (Camat Puri), Ibu Sri Mulyani (Kapolsek Puri), Koramil dan lain-lain.

    Tokoh Agama dan Jajaran Forkopimca Puri
    Tokoh Agama dan Jajaran Forkopimca Puri

    Pada akhir acara, saat apel banser Bu Camat berpesan kepada segenap banser Puri, “Jangan lupa ya tanggal 17 Februari, untuk bantu pengamanan”. “Siaaap”. Jawab banser kompak.
    Tampaknya Bu Camat mengingatkan agenda banser Puri selanjutnya untuk bantu pengamanan kegiatan tanggal 17 Februari 2020 yaitu pada Pengajian umum oleh Habib Haidar Al Haddad dari Surabaya dan Gus Miftah Maulana dari Yogyakarta bertempat di Lapangan depan Kantor Kecamatan Puri, pukul 19.00 WIB.
    Kemudian, KH. Anwar Zahid diakhir acara sebelum masuk mobil menyampaikan terimakasih kepada banser atas pelayanan pengawalan serta berpesan agar banser Puri tetap semangat. “Banser-banser semangat semangat semangat”. Pesan Kiai Anwar Zahid.

    (Red: Fahrul Irwan/Infokom)

  • Jejak Kiai Istad Djanawi, Sang Penawar di Bumi Tawar

    Jejak Kiai Istad Djanawi, Sang Penawar di Bumi Tawar

    SORBANSANTRI.COM
    Kiai Istad Djanawi_Kertosono

    Tidak semua orang yang menjadi Kiai itu berasal dari keturunan seorang Kiai. Tetapi ada juga seseorang yang menyandang status ke-kiaiannya dari proses perjalanan riyadoh dan kealiman ilmunya. Selain kealiman dan kewibawannya, tentu pengakuan dari masyarakat juga menjadi factor penentu. Dan tentu saja itu bisa dimaknai bahwa proses seseorang menjadi Kiai karena adanya interaksi aktif dengan masyarakat. Dan masyarakat melihat kelebihan atau daya linuweh yang dimiliki seseorang itu yang kemudian pantas disebut sebagai seorang Kiai.

    Kiai, dimasa dulu, juga kini, selalu menjadi rujukan terhadap berbagai hal dalam kehidupan umat. Karena masyarakat menganggap, Kiai memiliki selain ilmu tentunya, juga kedekatan dengan Tuhan. Sehingga doa-doanya mustajabah. Karenanya selain meminta nasehat, biasanya masyarakat meminta wirid atau doa-doa mustajabah yang mampu menyelesaikan permasalahan umat.

    Dan tentu saja juga, penulis tidak mengingkari, apabila terjadi disrupsi terhadap penyebutan Kiai, tanpa ada prasyarat sebagai ahli riyadoh dan kealiman, misalnya pengurus structural di suatu ormas. Ini permasalahan lain. Tulisan ini akan menyuguhkan Kiai yang memiliki prasyarat ahli riyadoh dan alim. Dan contoh Kiai yang memiliki prasyarat ahli riyadoh dan kadar kealimannya yang tidak diragukan lagi itu ialah Kiai Istad Djanawi. Tulisan sederhana ini akan mengungkapkannya.

    Asal Muasal Kiai Istad Djanawi

    Kiai Istad Djanawi berasal dari Kertosono, tepatnya di Desa Kalianyar. Desa Kalianyar hingga sekarang dikenal dengan nama Desa Mbothe. Nama Mbothe ini mengingatkan pada sebuah tanaman yang bisa digunakan untuk makanan ringan bahkan juga bisa dipergunakan sebagai campuran untuk sayur makanan. Bisa jadi di desa ini dulu banyak tanaman Mbothenya sehingga lebih dikenal dengan nama desa Mbothe.

    Kiai Istad Djanawi Ia lahir pada tahun 1875 dari pasangan Djanawi dan Marsiyem. Djanawi sendiri adalah seorang petani yang taat. Pun Marsiyem, adalah ibu rumah tangga yang baik yang mengasuh anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

    Meskipun bukan berasal dari keluarga Kiai, tetapi Ayah Kiai Istad Djanawi merupakan petani taat, yang perhatian terhadap pendidikan putranya, khususnya pendidikan agama. Karenanya sejak kecil, Istad Djanawi sudah mengenyam pendidikan agama secara kuat. Baik pendidikan dari ayahnya langsung maupun ke Kiai Kiai dikampungnya yang alim.

    Sebagaimana diketahui, bahwa desa Mbothe adalah desa yang dekat dengan banyak pesantrennya. Seperti Pesantren Mojosari, Pesantren Mangunsari, Pesantren Sekar Putih, dan Pesantren Kedunglo Bandar Lord an lain lain. Karenanya desa ini memperoleh rembesan barokah dari banyaknya pesantren disekitarnya dengan banyaknya alumni pesantren yang berkiprah berdakwah mengembangkan Islam di desa ini. Sehingga kehidupan beragama dan pendidikan agamanya sangat berakar di tengah masyarakat.

    Dan saat Istad Djanawi berpamitan untuk melanjutkan pendidikan agamanya ke Pesantren, ayahnya pun mengizinkannya. Sebab, selain sudah menjadi kultur ditengah masyarakat, juga di pesantrenlah pendidikan alternative yang menjadi pilihan, ketika pendidikan Belanda yang diskriminasi, tak terjangkau oleh masyarakat kecil.

    Yang menjadi pilihan Istad Djanawi adalah Pesantren Mangunsari. Pesantren yang terletak di Desa Mangunsari Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk. Pengasuhnya waktu itu adalah Kiai Imam Bahri. Istad Djanawi memperdalam ilmu-ilmu alat, Fiqh, tasawuf, Aqidah Akhlak dan lain lain dalam waktu yang lama.

    Namun dahaga Intelektualnya belum terpuaskan. Ia kemudian melanjutnya nyantrinya ke Kiai Kholil Bangkalan-Madura. Seorang Kiai yang menjadi punjernya Kiai waktu itu, sehingga banyak Kiai yang memanggilnya Syaikhona. Di Syaikhona Kholil ini, Istad Djanawi memperdalam ilmu alat dan juga tasawuf serta kitab kitab salaf yang menjadi rujukan dalam ilmu agama.

    Meskipun sudah mumpuni ilmu agamanya, namun Istad Djanawi belum merasa puas apabila belum menemukan seorang mursyid yang akan membimbingnya menuju kepada Allah. Atas isyarat yang diterimanya, ia pun kemudian melakukan perjalanan menemui sang Mursyid. Dan di Desa Besuk Curahmalang Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang, Kiai Istad Djanawi menemukan mursyidnya. Beliau adalah Syeikh Umar Bisri, mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah. Pada Syeikh Umar Bisri ini, selain berbaiat pada thoriqohnya, Kiai Istad Djanawi juga belajar banyak riyadoh riyadoh taqarub ilalloh.

    Sebagaimana para salik, dalam perjalanan menuju kepada Allah selalu ada godaan dan rintangan. Tetapi karena ia dibimbing oleh guru Agung yang pernah menempuh lika liku perjalanan menuju kepada Allah, ia dapat diselematkan dari halangan dan rintangan itu. Suatu kali Kiai Istad Djanawi didatangi ular besar sekali. Ular itu menawarkan berbagai kesaktian yang tidak bisa diperoleh oleh manusia biasa. Ular itu menunjukkan berbagai kesaktian yang mengagumkan. Meskipun demikian, dikarenakan bimbingan gurunya, Kiai Istad Djanawi tidak tergoda sedikitpun. Ia tetap bersiteguh dalam jalan menuju kepada Allah.

    Usai memperoleh pencerahan dalam dunia spiritualnya, tidak menjadikan Kiai Istad Djanawi menyendiri bertapa menikmati keasyikan dunia spiritualnya. Namun tugas selanjutnya sesungguhnya lebih berat. Ia harus membumikan pesan-pesan langit ke bumi pertiwi.

    Kiai Istad Djanawi pun memperoleh petunjuk untuk menemukan suatu tempat yang kelak akan dipergunakan untuk mendakwahkan agama Allah. Ia pun melakukan perjalanan ke Mojokerto dengan sesekali mengunjungi makam-makam aulia sepanjang perjalanan. Karena perjalanan yang panjang dengan perbekalan yang telah habis, ketika sampai di Desa Melaten Kecamatan Mojosari, Kiai Istad Djanawi tidak sadarkan diri. Ia pun kemudian ditolong oleh warga setempat. Setelah kondisinya pulih, ia pun melanjutkan perjalanan.

    Sesampai di Desa Graji Kecamatan Dlanggu, Kiai Istad Djanawi singgah untuk beberapa lama. Bahkan ia pun memiliki seorang santri yang selalu melayani kebutuhannya. Namanya Karim. Di Desa ini, Kiai Istad Djanawi tak berhenti henti untuk melakukan mujahadah. Hingga pada suatu kali, ia memperoleh mimpi yang penuh makna. Ia bermimpi didatangi oleh berada di suatu mushola kecil. Di Depan Mushola kecil itu berdiri dua orang perempuan. Sedang dibelakang Mushola, terdapat makam yang diatasnya berdiri seorang laki-laki pendek memakai blangkon. Lelaki itu kemudian berbicara meminta bantuan kepada Kiai Istad Djanawi.

    Isyarat dalam mimpi itu membuat Kiai Istad Djanawi penasaran. Bersama dengan santrinya, ia menelusuri jejak jejak mimpinya. Setiap kampung dicari musholanya dan dicocokkan dengan mimpinya. Tetapi tak satu pun Mushola seperti dalam mimpinya. Hingga ia sampai di sebuah desa Tawar Kecamatan Gondang, ia menemukan sebuah Mushola yang mirip dengan mimpinya. Ia pun kemudian meminta izin untuk singgah di Mushola ini. Dari keterangan warga setempat, diketahui bahwa makam dibelakang Mushola adalah makamnya Kiai Burhani. Kiai Burhani memiliki seorang istri yang bernama Nyai Watiah. Dan Nyai Watiah itu memiliki tujuh anak. Dan salah satu anaknya itu kebetulan seorang janda tanpa anak.

    Kiai Burhani adalah pendakwah di desa tersebut. Hanya saja, dakwah yang dikembangkannya kurang berhasil dalam membina masyarakat. Masyarakat masih banyak yang awam dalam mengamalkan syariat syariat Islam. Namun belum banyak perubahan yang dilakukannya, Allah sudah menakdirkan ia kembali ke haribaan-Nya.

    Kiai Istad Djanawi kemudian berusaha menghidupkan kegiatan Mushola ini. Dengan sholat jamaah dan Ngaji. Bertepatan pula pada saat itu, sudah masuk pada bulan ramadhan. Mushola kecil itu pun semarak.

    Perubahan yang ada pada kehidupan religius di Mushola kecil itu setelah kedatangan Kiai Istad Djanawi sontak membuat Janda dari Kiai Burhani tertarik untuk meminangnya menjadi menantunya. Kiai Istad Djanawi dijodohkan dengan anaknya yang berstatus janda tanpa anak yang bernama Fathimah Jayun Yaumi. Gayung pun bersambut, Kiai Istad Djanawi yang sudah berumur 40 tahun pun menerima dengan lapang dada. Pernikahannya pun diberlangsungkan. Dari pernikahannya itu lahir dua belas anak yang bernama Haidlor Ali, Sulaiman Afandi, Khoirul Anam, Riyadlul Badiah, Muhajir, Zaenah, Muhayanah, Musyarofah, Baidlowi, Ahmad Syamsuddin, Isroil, dan Nur Roihanah.

    #

    Dalam kehidupan sehari-hari Kiai Istad Djanawi melakukan aktivitas seperti kebanyakan warga Tawar. Bahkan yang tidak umum, Kiai Istad Djanawi ba’da melakukan aktivitas ritual ibadah pagi, dari qiyamul lail, sholat subuh, dan pembacaan aurot thoriqoh yang berlangsung hingga waktu dhuha, jalan jalan ke pasar untuk sarapan dan berjualan. Kiai Istad Djanawi bahkan terkenal sebagai seorang makelar. Ia menjual padi, palawijo, bahkan juga rumah. Dari aktivitas jual beli dengan masyarakat itulah Kiai Istad Djanawi pelan pelan mengajak masyarakat untuk berkehidupan yang sesuai dengan agama tanpa menyinggung perasaan masyarakat.

    Lambat laun, masyarakat pun banyak yang berguru kepada Kiai Istad Djanawi. Berbagai persoalan ditanyakan kepada Kiai Istad Djanawi. Dan Kiai Istad Djanawi melayani dengan sepenuh hati. Beliau sabar menghadapi masyarakat yang berbeda beda karakternya.

    Dalam soal Aqidah, seperti karakter dakwah awal di daerah abangan, biasanya akan berhadapan dengan keyakinan suatu tempat yang diyakini akan kesakralannya. Dahulu di Desa Tawar ada puthuk, semacam tempat yang penuh pohon dengan gundukan tanah, yang disakralkan. Tempat ini juga angker. Saking angkernya, banyak orang kemudian menghubungkan semua kejadian dengan tempat ini. Bahwa sebab marabahaya juga berasal dari puthuk ini. Agar kehidupan berjalan normal, maka mereka akan memberikan sesajen. Dan disinilah masyarakat tanpa sadar tergelincir dalam kesesatan aqidah.

    Maka, Kiai Istad Djanawi membongkar tempat ini. Santri santrinya dikerahkan. Sayangnya, ada satu kejadian yang membuat orang orang membenarkan keangkeran puthuk ini. Salah satu murid terkubur terkena longsoran tanah puthuk ini. Namun beruntung, dengan kekeramatan Kiai Istad Djanawi, sang murid bisa ditemukan tubuhnya yang terkubur di tanah, dalam keadaan masih hidup.

    #

    Pada tahun 1947, Kiai Istad Djanawi mulai membuka baiat Thariqah Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah. Tentu saja atas izin dari guru yang pernah mengijazahinya yakni Syekh Umar Bisri Curah Malang. Banyak masyarakat yang turut berbaiat kepadanya. Tiap hari senin malam dan kamis malam diadakan khususiyah untuk murid murid thoriqoh. Karena pelaksanaan khususiyah hingga larut malam, maka para murid yang rumahnya jauh, bermalam hingga pagi hari. Dan dipagi hari, Kiai Istad Djanawi memberikan hidangan sarapan secara gratis.

    Lambat laun, murid murid thoriqohnya pun semakin banyak. Tidak hanya di wilayah Mojokerto saja bahkan sampai diluar Mojokerto. Thoriqoh ini hingga saat ini masih dilanjutkan oleh putranya yakni KH. Syamsudin sepeninggal Kiai Istad Djanawi.

    #

    Pada tahun 1947 Kiai Istad Djanawi mendirikan Madrasah Ibtidaiyah di Desa Tawar. Banyak sambutan atas berdirinya Madrasah Ibtidaiyah ini. Orang tua banyak yang mendaftarkan anak-anaknya ke Madrasah Ibtidaiyah ini. Sehingga pembelajaran di gedung yang dididirikan tidak memuat jumlah siswanya. Pembelajaran dilakukan sampai di serambi Masjid dan di rumah Kiai Istad Djanawi sendiri.

    Pada tahun 1953, Kiai Istad Djanawi mendirikan bangunan sekolah dengan biaya sendiri. Sebab tempat yang digunakan untuk pembelajaran Madrasah Ibtidaiyah sudah tidak memadai lagi. Kiai Istad Djanawi mendirikan tiga bangunan lagi. Meskipun semi permanen, tetapi sudah dikatakan layak pada masanya.
    Di Madrasah Ibtidaiyah ini, kurikulum yang digunakan kurikulum klasik berkhas pesantren. Yakni berbasis kitab kuning. Kiai Istad Djanawi mengajarkan Kitab Talim Mutaalim dalam bentuk nadzam nadzam yang dihafal oleh santri santrinya. Juga mengajarkan kitab Safinatun Najah, kitab fiqh dasar yang memuat dasar dasar hukum Islam sehari hari. Pada tingkat lanjut, Kiai Istad Djanawi juga mengajarkan Tafsir Jalalain.

    Selanjutnya Madrasah Ibtidaiyah ini dikembangkan oleh putra putrinya, hingga berkembang seperti sekarang ini. Di Desa Tawar telah berdiri MI, MTS, hingga MA dan Pondok pesantren tentunya.

    Tentang Pondok Pesantren, sebenarnya sejak era Kiai Istad Djanawi, sudah ada rencana membangun pesantren. Hanya saja, belum terlaksana proses pendiriannya, Kiai Istad Djanawi telah berpulang ke rahmatullah. Di tangan putra putranyalah dikemudian pesantren itu berdiri besar, hingga sekarang ini.

    Tepat diusianya yang ke 80, yakni pada tanggal 5 November 1959, Kiai Istad Djanawi menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang dari sakit paru parunya. Isak tangis dari putra putrinya mengiringi jenazahnya. Pun kerabat serta santri santrinya.

    Berita kematiannya menyebar luas. Masyarakat merasakan duka yang mendalam atas wafatnya seorang ulama yang mengayomi. Berduyun duyun pentakziyah memenuhi rumah Kiai Istad Djanawi.

    Pukul 10.00 WIB, jenazah diberangkatkan oleh KH. Kholil dari Simping Dlanggu. Diiringi pula oleh para Kiai yang Masyhur di Mojokerto seperti KH. Ismail Ibrahim (Pengasuh PP. Kedungmaling Sooko), KH. Ahyat Chalimi (Pengasuh PP. Sabilul Muttaqin), dan KH. Yahdi Matlab (Pengasuh PP. Mojogeneng) dan lain lain.

    Penulis :
    Isno Woeng Sayun
    Ketua LTN NU Kab. Mojokerto