Faham Dan Tradisi Spesifik , Pagar Nusa sebagai bagian dari Kultur dan Tradisi Nahdlatul Ulama, Menganut asas ketaatan menjalankan tradisi keagamaan dan petunjuk dari Ulama sebagai pihak yang memiliki Otoritas Keagamaan.
Persaudaraan dikalangan Anggota Pagar Nusa yaitu persaudaraan dalam pengertian Luas ,Persaudaraan sesama warga NU ( Ukhuwah Nahdliyah ) , Persaudaraan sesama Muslim ( Ukhuwah Islamiyah ) , Persaudaraan antar sesama Bangsa ( Ukhuwah Wathoniyah ), Persaudaraan sesama Manusia ( Ukhuwah Basyariyah).
Pagar Nusa memiliki filosofi “Pertahanan lebih Utama dari pada Penyerangan” dalam artian bahwa kemampuan Beladiri yang dikembangkan Pagar Nusa adalah kemampuan untuk mempertahankan jika terjadi penyerangan. Penyerangan yang dilakukan Pagar Nusa adalah untuk melumpuhkan , sebagai shock theraphy yang menjadikan lawan menyerah tanpa harus mematikan lawan, Inilah beladiri dengan menggunakan Akhlaqul Karimah.
Infokom NU Mojokerto. Pada tanggal 3 feb bersama relawan2 di wilayah Mojokerto,BAGANA Banser Kab.Mojokerto siap-sigap membantu pengamanan korban bencana banjir hingga mencapai 1 meter di sekitar wilayah Kec.Sooko,Mojokerto.
Masyarakat yang terkena banjir merasa aman dan nyaman karna dibantu Banser BAGANA dan para relawan.dalam membantu mengevakuasi Banjir.
Cyberaswaja.online|Jetis. Semarak Harla NU ke-94 di seluruh Nusantara begitu ramai dengan ragam kegiatan yang dilakukan. Seperti halnya di salah satu kabupaten Mojokerto. Dalam rangka Harlah NU ke-94 GP Ansor Canggu Kecamatan Jetis mengadakan kegiatan diantara Pelatihan Bekam Tibbun Nabawi yang dilaksanakan oleh Rijalul Ansor Canggu.
FOTO: PANITIA HARLAH NU-94 Desa Canggu-Jetis
Terkait biaya, serta pelatihan ini, tidak dipungut biaya sepersen pun alias gratis. Bekam Tibbun Nabawi dilakukan pada Hari sabtu malam ini, berada di tempat Kopi Gladak, Tepatnya Di Dusun Balongsono Desa Canggu, Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. (01/02/2020).
Foto: pengurus GP Ansor Jetis Bersama Muspika di Harlah NU ke-94
Pada pelatihan ini, merupakan semangat kader dalam rangka menyambut Harlah Nu ke-94 ini, kordinasi untuk mempermudah agenda ini dibentuk, agar memudahkan peserta dalam mengikuti kegiatan tersebut.
“Harla NU ke-94 merupakan kebanggan kita sebagai kader untuk berperan mewarnainya, GP Ansor Canggu benar mengadakan pelatihan Bekam Tibbun nabawi, kita sudah menentukan kordinatornya untuk mempermudah peserta mengikutinya”. Tegas Abah Alim Banser Jetis ini.
Tidak mau ketinggalan, PAGAR NUSA Canggu dalam rangka Harla Nu ke-94, diketahui pada hari Minggu, pukul 08:30 WIB juga mengadakan Latihan Gabungan (LATGAB) yang dikuti oleh 500 orang Pendekar Pagar Nusa yang dilaksanakan di Lapangan Canggu. (02/02/2020).
Foto: Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah Nu-94
Para pendekar-pendekar Pagar Nusa ini dalam Atraksi Melakukan; Pemecahan Benda Keras, Bambu Gila, Kekebalan, Jurus Yaa Hayyuu Yaa Qoyyum. Yang didampingi oleh senior-senior Ahli dari Pagar Nusa.
Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94
Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94
Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94
Foto: Atraksi Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94
Foto: Menyanyikan Mars Subulul Wathon oleh Pagar Nusa Canggu Jetis Mojokerto di Harlah NU-94
Antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut pecah, dengan menonton atraksi yang diberikan oleh Pasukan Pagar Nusa, tepuk tangan riyuh melihat atraksi ini. Skill dan kompetensi yang dimiliki peserta sudah melalui tahap latihan latihan yang telah diberikan bekal sebelumnya.
Disisi lain, Harlah NU ke-94 ini juga dimeriahkan oleh MUSLIMAT dan FATAYAT desa Canggu Kecamatan Jetis, dengan mengadakan TAHLIL bersama, di Hari Minggu Paginya, yang dilaksakan di Musholla “Baitul Muttaqin” Balonsono, Jetis kabupaten Mojokerto. (02/02/2020).
Foto: Jamaah Muslimat dan Fatayat NU Canggu-Jetis-Mojokerto di Harla NU-94
Kemeriahan giat Harla NU ke 94 ini, sudah direcanakan sejak awal, sehingga agenda tersebut dipersiapkan matang-matang oleh salah satu Banom NU ini. Terlihat jamaah yang memadati dari Mushollah tersebut.
Foto: Jamaah Muslimat dan Fatayat NU Canggu-Jetis-Mojokerto di Harlah NU-94
Kirim do’a dengan pembacaan Tahlil Bersama, menyambut Harlah NU-94 juga untuk keuntuhan NKRI juga, merupakah salah satu amaliyah NU yang sudah menjadi tradisi untuk setiap tahunya dalah memperingati Harlah NU-94, untuk dilaksanakan, dilestarikan yang dilaksanakan kader-kader selanjutnya.
Meriahnya kegiatan HarlahNU-94 ini, juga diwarnai dengan giat “Gebyar Sholawat” oleh IPNU dan IPPNU Canggu Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. (02/02/2020).
Foto: IPNU dan IPPNU Gebyar Shalawat di Harlah NU-94
Bertempat di Kopi Gladak pada Minggu Malam, salah satu banom NU dari IPNU dan IPPNU melaksanakan Pembacaan sholawat untuk kedamaian bangsa Indonesia pada Harlah NU-94 kali ini.
Sholawat yang dibawakan oleh Generasi penerus ini, bertujuan juga untuk semangat meraih ridho ALLOH dengan akhir khusnul khotimah. Serta menyatukan tekat untuk mejaga NKRI dengan berkhidmat di NU. (WG-Infokom)
Makam dengan nomer kode 244 ada di jajaran paling selatan Taman Makam Pahlawan (TMP) Gajah Mada Mojokerto. Pada nisannya tertulis nama Mat Jatim. Pada makam itulah tertanam jasad seorang syuhada, dia mati syahid.
Ditulis oleh Pamoe Rahardjo, komandan Pasukan Komando Hayam Wuruk, bila jenazah Mat Jatim dipindahkan dari Ngembeh sekitar tahun 1950. Saat dibongkar kondisi jasad dan pakaiannya dalam kondisi utuh. Padahal Mat Jatim gugur dalam pertempuran tanggal 12 Pebruari 1949.Subhanallah.
Jenazah yang masih mengenakan baju saat meninggal dengan peluru menembus dada itu dipindah ke belakang Kantor Kecamatan Kutorejo. Prakarsa pemindahan makam syuhada tersebut datang dari Mayor Mansyur Solikhi yang saat itu menjabat Komandan KDM Mojokerto sekaligus merangkap selaku Bupati Militer Kab. Mojokerto. Mayor Mansyur adalah atasan Mat Yatim pada pertempuran tanggal 12 Pebruari yang menyebabkan dia gugur. Tahun 1980-an makam Mat Yatim dipindahkan lagi ke TMP Gajah Mada Mojokerto.
Informasi penghuni TMP bisa kita lihat setelah melewati pintu gerbang. Pada dinding marmer yang memuat nama jenazah yang dimakamkan di lokasi itu tertulis nama Achmad Khosim. Nama itu adalah nama asli komandan Kompi IV Bn 03 Mansyur Sholikhi. Mat Jatim merupakan nama panggilan karena dia memang anak yatim. Kemungikinan dia gugur pada usia muda, sekitat 20 tahun.
Perkiraan umur itu bisa ditentukan dari syarat pendaftaran Hizbullah pada awal tahun 1945. Untuk bisa berangkat ke kamp pelatihan adalah seorang pemuda muslim, usia sekurangnya 17 tahun, masih lajang dan mendapatkan ijin dari orang tua atau walinya. Karena hidup di Panti Asuhan ijin tertulis didapatkan dari pengurus panti. Perkiraan Khosim lahir pada tahun 1928
Pendidikan militer dia dapatkan tentara Jepang tahun 1945. Mat Jatim merupakan salah satu peserta pelatihan Hizbullah di Cibarusa Bekasi. Syarat menjadi peserta adalah pemuda dwngan usia minimal 17 tahun. Peserta juga harus lajang, belum berumah tangga. Disanalah dia digembleng untuk memperoleh sertifikat yang ditandatangani Mbah Hasyim Asyari. Dan setelahnya dia setia bergabung dalam kesatuan Lasykar Hizbullah Mojokerto hingga dilebur dalam TNI tahun 1947.
Bila melihat kondisi makamnya, tampak bahwa tidak pernah ada yang menziarahi. Ada banyak rumput tumbuh di atas pusaranya. Rerumputan itu segera dicabuti oleh petugas makam saat menunjukkan lokasi makam tersebut. Sepertinya makam yang tidak pernah didatangi keluarga tidak begitu diperhatikan oleh petugas kebersihan TMP.
Sayangnya niat mencari makam Kapten Madjid Asmara, Kepala staf Bn 03 tidak ketemu. Pada buku daftar nama makam tidak tercantum nama mantan Komandan Hizbullah Gresik yang menjadi korban pertempuran di jembatan Ngembeh tersebut. Sebelum bergabung dalam Lasykar Hizbullah, Madjid Asmara pada jaman Jepang merupakan anggota sukarelawan PETA.
Kemungkinan besar Kapten Madjid Asmara adalah korban pertempuran dengan jabatan tertinggi saat itu. Jabatan Kepala Staf Batalyon merupakan orang kedua setelah Mansyur Sholikhi, komandan yang berpangkat Mayor. Karena itu, Mansyur sangat berduka atas gugurnya Madjid Asmara.
Jika menilik dari pemindahan makam para pahlawan yang ada di seluruh wikayah Mojokerto untuk disatukan di TMP, harusnya makam Madjid Asmara ada di tempat itu juga. Setidaknya tidak jauh dari makam Kapten Mat Jatim. Entah dimana makamnya setelah proses pemindahan. Ataukah nisannya diberi nama “tidak dikenal” seperti makam lainnya. Memang ada banyak makam tertulis tanpa nama di TMP Gajah Mada itu.
Seorang syuhada jelas tidak butuh makam karena sudah disediakan tempat oleh Allah. Seperti juga saat berjuang yang tidak memikirkan jabatan. Namun adalah tugas generasi kini untuk merawatnya sebagai bentuk penghormatan. Rasa hormat atas pengorbanan para syuhada
Sorbansantri.com – NU CARE LAZISNU MWCNU JETIS MOJOKERTO memberikan bantuan kepada 20 yatim piatu dan dhuafa di masjid al hidayah desa sawo kecamatan jetis kabupaten mojokerto(31/01/2021), acara di mulai dari ba’da sholat magrib, selain dari para anak yatim piatu dan dhuafa yang hadir juga dari pengurus masjid serta warga sekitar.
Ustadz MAHMUD BUKHORI S.Ag selaku ketua, saat memberikan sambutan menjelaskan kepada warga yang hadir tentang keberadaan LAZISNU MWCNU JETIS di wilayah jetis dan mengharapkan warga jetis bila menyalurkan zakat, infaq, shodaqohnya ke LAZISNU, cukup dengan menghubungi pengurus via whatsapp maka team khusus akan hadir untuk mengambil donasi, beliau juga menjelaskan untuk warga yang ingin berinfaq shodaqoh ke LAZISNU meskipun 10.000 team khusus siap untuk mengambil.
Ustadz MAHMUD BUKHORI S.Ag saat memberikan sambutan
“Untuk santunan saat ini adalah progam lanjutan tahun 2020 yaitu menyantuni yatim piatu dhuafa ke seluruh desa yang ada di kecamatan jetis secara bergilir, dengan harapan bisa meringankan beban mereka meskipun yang di berikan NU CARE LAZISNU JETIS tidak seberapa” kata Ustadz MAHMUD S.Ag kepada team SORBAN.
Sebelum pembagian bantuan di serahkan kepada para yatim piatu dan dhuafa, ada arahan, penjelasan dari pengurus PC LDNU KAB MOJOKERTO yaitu KH MAHRUS ALI kepada semua yang hadir dan masyarakat jetis untuk sadar zakat, meskipun pada awalnya dengan memaksakan diri untuk mengeluarkan zakat dan kalau sudah terbiasa akan hadir ke iklasan dari hati, beliau juga menharapakan warga jetis untuk menyalurkan zakat, infaq dan shodaqohnya melalui lembaganya NU yaitu LAZISNU
Beliau juga menjelaskan pentingnya zakat dan shodaqoh di musim pandemi berdasarkan hadits rosululloh
وقال صلى الله عليه وسلم: {حَصِّنُوا أموالَكم بالزَّكاةِ وَدَاووا مَرْضَاكُمْ بالصَّدَقَةِ وأَعِدُّوا لِلْبَلاءِ الدُّعَاءَ} Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: {“Jagalah harta kalian dengan zakat, obatilah orang-orang sakit dengan sedekah dan siapkanlah do`a untuk menolak bencana.”}
Para jamaah yang hadir mendengarkan penyampaian dari pengurus LAZISNU dan KH MAHRUS ALI dengan khitmad dan tidak ada yang meninggalkan lokasi sampai acara selesai (Dikin sorban)
والذي يوجب الغسل ستة أشياء
ثلاثة تشترك فيها الرجال والنساء وهي التقاء الختانين وإنزال المني والموت
وثلاثة يختص بها النساء وهي الحيض والنفاس والولادة.
Terjemah :
Perkara yang mewajibkan mandi junub (ghusl) ada 6 (enam).
Tiga diantaranya berlaku untuk laki-laki dan perempuan, yaitu :
Senggama
Keluar sperma
Meninggal dunia atau mati
Tiga lainnya khusus untuk perempuan, yaitu :
Haid
Nifas
Melahirkan (wiladah).
Penjelasan :
Senggama adalah pertemuan dua kemaluan/kelamin.
Yaitu memasukkan hasyafah/kepala penis atau kira-kira hasyafah dari penis yang terpotong hasyafahnya seseorang yang jelas kelaminnya (laki-laki) ke dalam farj (kemaluan perempuan).
Seseorang yang hidup yang kemaluannya dimasuki hasyafah juga menjadi junub. Tidak dengan orang yang meninggal/mati.
Mayat yang sudah dimandikan, tidak perlu dimandikan lagi ketika dimasuki hasyafah.
Seorang yang tidak jelas identitas kelaminnya, yaitu khuntsa musykil (pemilik dua jenis kelamin), tidak wajib baginya melakukan mandi sebab memasukkan hasyafahnya atau kemaluannya dimasuki hasyafah.
Penyebab wajib mandi nomer dua adalah keluar sperma, baik laki-laki ataupun perempuan.
Walaupun sperma yang keluar hanya sedikit seperti satu tetes. Walaupun berwarna darah. Walaupun sperma keluar sebab jima’ atau selainnya, dalam keadaan terjaga atau tidur, disertai birahi ataupun tidak, dari jalur yang normal (kelamin) ataupun bukan dari kelamin seperti punggungnya belah kemudian spermanya keluar dari sana.
Penyebab wajib mandi (wajib dimandikan) nomer tiga adalah meninggal dunia atau mati. Kecuali orang yang mati syahid, maka tidak wajib mandi (dimandikan).
Penyebab mandi khusus bagi wanita diantaranya haid.
Maksud haid adalah darah normal yang keluar dari kemaluan seorang wanita yang telah mencapai usia minimal sembilan tahun.
Penyebab kedua khusus wanita adalah nifas.
Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan.
Penyebab nomer tiga khusus wanita adalah melahirkan.
Melahirkan yang disertai dengan basah-basah mewajibkan mandi secara pasti.
Sedangkan melahirkan yang tidak disertai basah-basah mewajibkan mandi menurut pendapat tersahih.
Cyberaswaja.online|Gedeg. Memperingati HARLAH NU ke-94 BANSER GELAR BAKSOS di MAKAM Rois Syuriah Pertama PC NU – Sesuai namanya, BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) pasukan elit Nahdlatul Ulama (NU) ini dididik untuk siap siaga dalam kondisi dan situasi apapun. FOTO: Kepala Banser bersama jajarannya di Makam Rois Syuriah Pertama PC NU Kab.Mojokerto.
Satuan Koordinasi Cabang (SATKORCAB) Banser kabupaten Mojokerto. Pada hari Jumat mereka menggelar Bhakti Sosial di kawasan makam panjang Desa Losari kecamatan Gedeg Mojokerto. Sejak pagi, ratusan anggota BANSER tersebut nampak semangat membersihkan area makam KH. Zainal Alim (Rois Syuriyah pertama PCNU kabupaten Mojokerto). 31/1/2020. FOTO: Banser membersihkan Makam KH. ZAINAL ALIM, Rois Syuriah Pertama PC NU Kab.Mojokerto
Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor kabupaten Mojokerto, Ali Mohammad Nasih memang telah mengintruksikan kepada KASATKORCAB agar selain kegiatan pam keamanan, apel kebangsaan dan ngaji organisasi, BANSER juga bergerak aktif kegiatan social kemasyarakatan seperti ini. Terlebih ini adalah makam Kyai NU. “Kegiatan bersih makam ini dilakukan untuk menyambut HARLAH NU ke-94 dan sebagai bentuk bhakti santri pada Kyainya”Ungkap KASATKORCAB BANSER Mojokerto H. Moh. Yunus. FOTO: Baksos BANSER di MAKAM ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM “BANSER itu juga santri. Jadi harus khurmat Kyai, lah. Apalagi ini kan HARLAH NU,”Tambah Abah Yunus, sapaan akrabnya, Jumat (31/1/2020).
Kegiatan sosial ini dilaksanakan guna menumbuhkan serta menguatkan rasa kebersamaan dan kegotong-royongan khususnya sesama anggota BANSER, umumnya kepada masyarakat.
“Banser jaman sekarang dituntut semangat dan kesadarannya. Selain ngalap barokah (mencari berkah) kegiatan seperti ini dilakukan juga untuk uri-uri tradisi NU. Orang NU sejak dulu kan suka gotong royong dan menjaga kebersamaan,”imbuhnya. FOTO: BANSER Tabur Bunga di makam ROIS SYURIAH KH. ZAINAL ALIM
Kegiatan Baksos di Makam ini dihadiri sekitar 110 personil BANSER dari perwakilan seluruh PAC (Pimpinan Anak Cabang) se-Kabupaten Mojokerto, yang turut serta dalam kegiatan ini. Rencananya kegiatan ini akan dijadikan agenda rutin tahunan dan akan disebar ke makam para Kyai NU di kawasan Mojokerto. (wg/infokom)
Pada suatu hari, protokol Istana Negara datang ke kediaman Mbah Wahab Hasbullah. Dia menyampaikan jika akan ada kegiatan Presiden Soekarno yang juga mengundang Rois Syuriah Partai NU untuk hadir. Dan karena itu diharuskan para undangan mengenakan pakaian jas lengkap dengan dasinya.
Pada hari pelaksanaan, Mbah Wahab pun muncul di Istana. Kehadiran beliau ternyata membuat para undangan lainnya terkesima. Mereka heran sebab Mbah Wahab memakai jas dan sekaligus berdasi tetapi tidak memakai celana dan bersepatu. Mbah Wahab seperti biasa memakai sarung dan sendal saja untuk menggantikan celana panjang dan juga sepatu sebagai padanan jas yang dikenakannya. Maka jadilah Mbah Wahab satu-satunya peserta acara yang beda diantara yang lainnya.
Sarung memang tidak pernah lepas dari Mbah Wahab dalam kegiatan apapun, tidak peduli meski itu kegiatan resmi dengan aturan protokoler kenegaraan. Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung maupun anggota DPR-RI beliau tetap setia dengan sarungannya. Karena itu beliau dikenal sebagai politisi sarungan. Istilah yang awalnya dibuat oleh golongan modernis untuk menunjuk kelompok islam tradisionalis. Istilah konotasi dengan tujuan merendahkan.
Perjalanan sarung sebagai sebuah identitas NU ternyata memiliki sejarah panjang. Sarung ditengarai datang ke Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim asal Gujarat. Mereka berdagang di pelabuhan-pelabuhan dengan memakai kain sarung. Karena itu mereka disebut sebagai Orang Selam atau orang Islam dengan sarung sebagai identitasnya. Setelah Islam berkembang di Nusantara maka sarung pun ikut menjadi salah satu atributnya. Maka kain sarung itu bersanding dengan kain batik yang dililitkan seperti yang biasa dikenakan oleh orang Jawa.
Secara pemakaian, sarung tentu lebih praktis dibandingkan dengan lilitan kain batik. Sarung bisa cepat dikenakan maupun di lepas. Demikian pula dengan fungsinya yang dapat digunakan sebagai selimut tubuh bila malam datang. Bagi masyarakat pantai atau, kain sarung seolah menjadi barang wajib yang harus dibawa ketika bekerja hingga melahirkan istilah “cul dayung adol sarung”, jika berhenti melaut terpaksa jual sarung yang dimiliki.
Saat penjajahan Belanda semakin menguat maka sarung menjadi sebuah identitas perlawanan budaya. Belanda memang gencar mengenalkan gaya hidup barat dengan jas dan celana selaku atribut kemodernan. Para priyayi mulai banyak meninggalkan lilitan kain batik untuk bertukar dengan celana. Kampanye tersebut mendapatkan perlawanan dari para kyai dan ulama yang tidak ingin rakyat hanyut oleh arus ke-Belanda-belandaan.
Untuk melakukan perlawanan budaya maka dipakailah sarung sebagai ciri pembeda. Untuk menguatkan perlawanan itu dikaitkan dengan hadits “Mantasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum”. Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia akan digolongkan sebagai kaum tersebut.
Meskipun penerapan dalil tersebut mendapat perlawanan dari kelompok Islam yang tidak sepakat, para kyai terus menerapkannya. Maka dijadikanlah sarung sebagai pakaian “wajib” bagi para santri yang belajar di pesantren. Pesantren itu sendiri juga merupakan simbol perlawanan terhadap pola pendidikan sekolah kolonial. Klop sudah identitas perlawanan yang digagas.
Dalam sebuah artikel di Koran Jawa Pos yang terbit pada 1 September 1989 menulis jika di Jawa pernah terjadi gerakan swadesi pada tahun 1932. Gerakan yang bertujuan melawan atau menolak membeli produk asing itu menjadikan sarung sebagai pakaian rakyat. Sarung buatan Pekalongan pun menjadi naik produksinya.
Setelah Indonesia merdeka, dibentuklah sebuah organisasi politik yang mewadahi aspirasi umat Islam yang dinamakan Masyumi. Hampir semua organisasi Islam masuk dalam Masyumi tersebut, termasuk NU. Pada awalnya persoalan perbedaan pandangan politik tidak mengemuka di Masyumi saat Mbah Hasyim ditunjuk sebagai pucuk pimpinan Masyumi. Sikap merendahkan NU muncul setelah Mbah Hasyim wafat pada tahun 1947. Dalam Konggres Masyumi di Jogjakarta, Desember 1949, Walikota Jogjakarta, Muhammad Saleh, yang juga tokoh Muhammadiyah mulai menyerang secara verbal dengan kalimat, “Politik adalah luas, Politik ini, saudara-saudara, tidak bisa dibicarakan sambil memegang tasbih, jangan dikira scope-nya politik ini hanya di sekeliling pondok dan pesantren saja..”.
Peran politik NU di Masyumi kian dipinggirkan setelah kekuasaan Syuriah atau dewan syuro dipangkas dan Masyumi dikendalikan oleh kaum Islam Modernis. Dengan begitu peran kyai tidak lagi dijadikan rujukan penentuan sikap politik Masyumi lagi. Hubungan itu semakin meruncing saat posisi menteri agama yang biasa diberikan pada NU kemudian dialihkan pada Fakih Usman dari Muhammadiyah dalam kabinet Wilopo tahun 1952. Sebelum itu, kedudukan anggota parlemen NU hanya diberi jatah 7 kursi oleh Masyumi. Karena peristiwa politik yang menyakitkan itulah NU mengambil keputusan keluar dari Partai Masyumi.
Sebuah keputusan yang bukan hanya mengagetkan Masyumi bahkan kalangan NU pun sebagian menentanghnya. Meskipun banyak orang yang meragukan kemampuan NU untuk mengarungi dunia politik, namun Mbah Wahab yang menjadi Rois Syuriah Partai NU tidak bergeming. Dalam rapat partai NU, Mbah Wahab menegaskan, “Kalau tuan-tuan ragu kepada kebenaran sikap yang kita ambil, nah silahkan saja tuan-tuan tetap duduk dalam Masyumi. Biarlah saya sendiri pimpin NU sebagai partai politik yang memisahkan diri dari Masyumi. Saya cuma minta ditemani satu orang pemuda, cukup satu orang, sebagai sekretaris saya. Tuan-tuan boleh lihat nanti,”.
Tahun 1955, hanya dalam waktu 3 tahun setelah keluar dari Masyumi, NU harus bertarung dalam kerasnya pemilu yang pertama setelah merdeka. Dengan mengenakan kain sarung Mbah Wahab berkeliling menjadi juru kampanye. Pun demikian dengan para kyai yang berdiri dibelakangnya. Dan dunia menyaksikan kenaikan kursi yang luar biasa dari hasil kerja kaum sarungan tersebut. Partai NU menduduki posisi ketiga dalam jumlah suara yang berhasil dikumpulkannya. Meski masih kalah dengan partai Masyumi namun bergaining politik NU naik mengalahkan Masyumi.
Kini istilah kaum sarungan yang dulu dipakai untuk merendahkan dengan bangga dipakai sebagai identitas diri santri. Kaum sarungan tidak lagi dianggap kecil, apalagi setelah Partai Masyumi dibubarkan karena ikut dalam pemberontakan PRRI. NU sebagai partai memang sudah selesai namun perannya terus lestari.
wp.sorbansantri.com – selasa, 2 Februari 2021. Setelah hujan yang berhari-hari mengguyur kawasan pacet mojokerto dan sekitarnya, akhirnya terjadi juga tanah longsor yang disertai pohon bambu. yang mana kejadian tersebut menutup jalan raya antara Pacet dan trawas. Peristiwa tersebut terjadi di Dsn Kambengan Ds Cempokolimo Kecamatan Pacet Kab. Mojokerto.(2/2/2021)
Tim relawan Banser Tanggap Bencana (BAGANA) bersama relawan lainnya berhasil mengevakuasi longsoran tersebut dengan memakai alat seadanya. Kawasan Pacet pada bulan-bulan ini memang sering diguyur hujan deras dari siang sampai malam hari, terkadang disertai angin kencang yang membuat rasa was-was bagi warga, apalagi pengguna jalan raya” kata sahabat sulistiawan yang merupakan anggota ansor dan banser di PAC Pacet Mojokerto.
Peranan masyarakat apalagi pemerintah sangat diperlukan dalam hal ini. Apabila sewaktu-waktu ada bencana lagi seperti tanah longsor, pohon tumbang yang memang sangat rawan dan memungkinkan terjadinya bencana di Kawasan Pacet ini. Namun sangat disayangkan karena Relawan dengan potensi serta tenaga seperti BAGANA yang ada di Pacet Mojokerto, belum mempunyai peralatan yang mendukung dalam setiap kegiatan terutama di bidang kebencanaan. (abi sorban)
wp.sorbansantri.com – PSNU Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat pada tanggal 31 Januari 2021 di mulai dr pukul 08.30 sampai 12.00 di Ponpes Nuhuyiah Pambusuang Polman menggelar HAULx ke 35 tahun dirangkaikan dgn HAUL NU ke 95 tahun, dalam acara tersebut di laksanakan dalam bentuk NU bershalawat untuk keselamatan bangsa.
Moment ini di rangkaikan dengan mendoakan saudara2 kita yg telah tertimpa musibah gempa bumi di Sulbar, banjir di Kalimantan selatan, dab Manado dan seluruh warga negara Indonesia yang tertimpa musibah Kegiatan tersebut dihadiri pengurus PCNU POLMAN, PSNU POLMAN,PSNU SULBAR dan banom2 NU lainnya.
Sumber: Panitia pelaksana Abd.Wahid, M.Pd. Alumni ISNTITUT KH.ABD.CHALIM MOJOKERTO Dan ketua tanfidziyah PCNU Polman ustadz Arsyad.