Penulis: Sorban Santri

  • MUKTAMAR NU KE-14 DI MAGELANG

    MUKTAMAR NU KE-14 DI MAGELANG

    SORBANSANTRI.COM

    Kemandirian organisasi kaum sarungan

    Selalu ada sisi menarik dari perjalanan organisasi NU. Ketika Muktamar NU ke-13 dilaksanakan di Menes, Banten tahun 1938, diputuskan bahwa Muktamar selanjutnya akan digelar di Magelang pada tahun berikutnya. Muktamar NU pada zaman itu memang dilaksanakan setiap tahun.

    Yang menarik, pengambilan tempat di Magelang menjadi aneh karena saat diputuskan, di Magelang belum terbentuk kepengurusan NU. Terlebih lagi, Magelang dikenal pusat konsentrasi penyebaran Kristen di tanah Jawa. Setelah penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang yang menandai berakhirnya Java Oorlog (perang Jawa), diketahui banyak ulama yang pindah dari wilayah Bagelen itu. Pindahnya para ulama dan kyai dari Magelang tentu membuat api Islam meredup. Sebaliknya penyebaran agama Nasrani semakin pesat.

    Dalam buku Berangkat Dari Pesantren, KH. Saifudin Zuhri menyebutkan, usulan Magelang sebagai lokasi pertemuan akbar NU se-Hindia Belanda dilakukan oleh RH Muhtar, Konsul NU Banyumas. Saat menyampaikan usulan, beliau tidak menyebutkan bahwa di Magelang belum ada pengurus NU. Seandainya kondisi itu disampaikan, tentu ditolak muktamirin.

    Sebagai konsekwensi usulannya, Konsul NU Banyumas atau Jawa Tengah bagian Selatan, segera turun meratakan jalan menuju muktamar Magelang. Satu persatu para Ulama didatangi dengan dibantu ketua NU Cabang Purworejo dan Temanggung. Dengan mendekati para tokoh yang ternyata masih keturunan orang-orang yang pernah berjuang bersama Diponegoro, usaha itu membuahkan hasil.

    Hasilnya, organisasi NU Magelang dibentuk pada bulan Mei 1939, atau 3 bulan sebelum pelaksanaan Muktamar. Tulang punggung berdirinya NU disana adalah Kyai R Hadi Alwi dan KH Fathoni dari pesantren Tonoboyo. Ada juga nama H Kodri yang menjabat lurah Kauman Magelang dan anaknya, Abdulwahab, seorang pengusaha. Di samping itu terdapat KH Baidlowi, imam Masjid Jami’ Magelang dan Kyai Moh Siraj, guru ngaji di Wates. Mereka mendapat dukungan dari Mbah Dalhar dari pesantren Watucongol.

    Berkat perjuangan mereka, gairah umat Islam bisa dibangkitkan. Beberapa hari sebelum pelaksanaan, sumbangan berupa barang dan bahan makanan berdatangan. Rakyat memikul beras, sayuran, kayu bakar, menuntun kambing atau membawa beberapa ekor ayam mendatangi panitia muktamar di Hotel Semarang yang lokasinya ada di kampung Pacinan Magelang. Seluruh sumbangan itu kemudian dibacakan dalam pembukaan muktamar.

    Muktamar itu sendiri dilaksanakan pada tanggal 1-7 Juli dengan peserta sebanyak 358 utusan syuriah, 123 tanfidziyah, dan 33 perwakilan barisan ansor NU. Pembukaan dilakukan dengan dihadiri oleh 2000 orang dari peserta, tamu undangan dan panitia. Undangan yang datang antara lain dari perwakilan Muhammadiyah, Jong Islaminten Bond (JIB), GIA, PII, Wal Fajri Jogja dan lain-lain.

    Keputusan penting yang dihasilkan adalah rekomendasi yang mendesak agar aturan guru (guru ordonansi) 1925 dicabut dan juga menghapus subsidi pemerintah Hindia Belanda kepada semua agama. Kebijakan ordonansi guru, semacam sertifikasi oleh pemerintah kolonial memang merugikan lembaga pendidikan milik NU. Karena kebanyakan gurunya lukisan pesantren yang tidak memiliki ijazah formal. Mereka yang tidak memiliki ijazah formal yang disertifikasi tidak boleh melakukan kegiatan mengajar. Sementara subsidi pendidikan juga senada, dimana yang banyak dibantu adalah lembaga pendidikan non-muslim. Keputusan bidang organisasi adalah mengesahkan Pandu NU, Muslimat, dan departeman Ma’arif yang dipimpin oleh KH Wahid Hasyim.

    Hasil keputusan lain yang ditetapkan adalah mengenai kedudukan penghulu, masalah pembacaan qunut Nazilah, soal sembahyang dalam perjalanan kereta api serta masalah hukum agama lainnya. Ikut dibahas pula persoalan pemisahan tanah makam bagi orang muslim dan non muslim.

    Masalah luar negeri juga ikut dibicarakan, yaitu soal bantuan dan penggalangan dana bagi perjuangan Palestina. Termasuk menjadi topik diskusi adalah soal import barang dari Jepang yang saat itu sedang melakukan ekspansi dagang dengan sistem dumping.

    Muktamar kemudian ditutup dalam sebuah rapat umum di Lapangan Tidar Magelang. Tercatat lebih dari 50 ribu orang hadir pada kegiatan yang dipimpin oleh Zainul Arifin, Konsul NU Jawa Barat. Beberapa orang kyai menyampaikan pidato di hadapan warga yang hadir, antara lain, KH. Wahab Hasbullah, KH. Abdul Karim Pasuruan, KH. R. Asnawi Kudus, KH. Mustaqim, KH. Abdul Manap Surabaya, S. Abdullah Gathmyr, dan KH. Hasjim Asy’ari. Sementara pembacaan do’a dipimpin oleh KH. Kholil Lasem.

    Sekarang dapat kita bayangkan sebuah kepanitiaan baru dibentuk 3 bulan menjelang kegiatan. Panitia itu harus bertanggung jawab atas seluruh akomodasi selama seminggu penuh. Kemampuan panitia untuk mengorganisir semua potensi yang dimiliki merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan Muktamar. Dan itu mampu dilakukan oleh sebuah organisasi bernama NU Magelang.

    Dari kisah penyelenggaraan Muktamar tersebut dapat ditarik pelajaran tentang kemandirian organisasi NU. Warga NU dengan ikhlas memberikan bantuan harta bendanya demi suksesnya Muktamar tersebut.

    Sumber : Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • HUKUM SHALAT DHUHA BERJAMAAH

    HUKUM SHALAT DHUHA BERJAMAAH

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Admin yang terhormat, saya mau bertanya seputar fenomena yang terjadi di beberapa pesantren di sekitar tempat tinggal saya. Yaitu praktek shalat sunah Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah. Bahkan sebagian pesantren ada yang menjadikan kegiatan tersebut sebagai rutinitas wajib yang harus diikuti oleh seluruh santrinya. Bagaimana fiqih menanggapi hal demikian?, terima kasih atas penjelasannya.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
    Maimun Najib, Pasuruan.
    _______________________
    Admin– Wa’alaikumsalam Wr.Wb. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih dan apresiasi kepada saudara Maimun Najib karena setidaknya Anda telah mampu bersikap kritis melihat apa yang terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal. Apalagi ini berkaitan dengan hukum agama.
    Sebagaimana telah diketahui, bahwa shalat Dhuha merupakan kategori shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah. Artinya, shalat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian (munfarid). Rumusan ulama dalam hal ini berlandaskan pada sebuah hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw melaksanakan shalat Dhuha sendirian. Abdurrahman Bin Abi Laila meriwayatkan:
    مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ، فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فَلَمْ أَرَ صَلاَةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ
    “Tidak ada seorangpun selain Ummi Hani’ yang mengabariku bahwa ia melihat Nabi Saw melakukan shalat Dhuha. Dialah yang menceritakan bahwa Nabi Saw pernah masuk rumahnya ketika masa penaklukan kota Mekah. Lalu beliau mandi dan mendirikan shalat delapan rakaat, dan aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat yang lebih ringan daripada itu, kecuali beliau menyempurbakan ruku’ dan sujudnya.”[1]
    Meskipun konsep awal mengatakan demikian, pelaksanaan shalat Dhuha yang dikerjakan secara berjamaah tidak serta merta menimbulkan hukum makruh atas jamaah tersebut. Sebab secara umum, shalat-shalat sunah yang tidak dianjurkan untuk dilakukan secara munfarid (tidak berjamaah) tetap boleh dilaksanakan secara berjamaah. Namun dalam konteks ini, praktek yang demikian tetap saja menyelisihi terhadap hal yang lebih utama (khilaful afdhol).[2]
    Bahkan, kalau praktek shalat Dhuha yang dilaksanakan secara berjamaah memiliki tujuan yang baik dan dapat dibenarkan menurut syariat justru akan menjadikan nilai pahala dari tujuan tersebut. Salah satu contoh tujuan yang baik yang dibenarkan menurut syariat adalah melaksanakan shalat Dhuha secara berjamaah dalam rangka mendidik dan membiasakan anak kecil atau para santri dalam masa pendidikan agar terbiasa melakukan shalat Dhuha.
    Dengan catatan, praktek tersebut dapat dibenarkan dan bernilai pahala apabila tidak menimbulkan unsur-unsur yang dilarang, misalkan meninggalkan perkara yang sudah menjadi kewajiban.
    Dalam kitab Bugyah Al-Mustarsyidin, Habib Abdur Rahman Al-Masyhur berkata:
    (مسألة : ب ك) تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِيْ نَحْوِالْوِتْرِوَالتَّسْبِيْحِ فَلَا كَرَاهَةَ فِي ذَلِكَ وَلَا ثَوَابَ, نَعَمْ إِنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ الْمُصَلِّيْنِ وَتَحْرِيْضَهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ وَأَيُّ ثَوَابٍ بِالنِّيَّةِ الْحَسَنَةِ فَكَمَا يُبَاحُ الْجَهْرُ فِيْ مَوْضِعِ الْإِسْرَارِ الَّذِيْ هُوَ مَكْرُوْهٌ لِلتَّعْلِيْمِ فَأَوْلَى مَا أَصْلُهُ الِإْبَاحَةُ وَكَمَا يُثَابُ فِي الْمُبَاحَاتِ إِذَا قُصِدَ بِهَا الْقُرْبَةَ كَالتَّقَوِّيِّ بِالْأَكْلِ عَلَى الطَّاعَةِ. هَذَا إِذَا لَمِ يَقْتَرِنْ بِذَلِكَ مَحْذُوْرٌ كَنَحْوِ إِيْذَاءٍ أَوْ إِعْتِقَادِ مَشْرُوْعِيَّةِ الْجَمَاعَةِ وَإِلَّا فَلَا ثَوَابَ بَلْ يُحْرَمُ وَيُمْنَعُ مِنْهَاـ
    “Diperbolehkan melaksanakan semacam shalat Witir atau shalat Tasbih secara berjamaah. Maka hal tersebut tidak manjadi makruh dan tidak pula mendapatkan pahala. Namun apabila praktek demikian bertujuan untuk mengajari/mendidik orang-orang yang sholat dan bertujuan memotivasi mereka, maka akan mendapatkan pahala. Dan setiap pahala juga diberikan atas niat atau tujuan yang baik. Misalkan mengeraskan bacaan pada shalat yang seharusnya dibaca secara pelan-pelan dengan tujuan pembelajaran, meskipun hukum asalnya adalah boleh (ibahah).
    Begitu juga perkara-perkara mubah apabila diniati dengan dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah Swt maka juga mendapatkan pahala, contohnya adalah makan dengan tujuan menghasilkan kekuatan untuk mengerjakan ketaatan. Namun semua itu apabila tidak menimbulkan hal-hal yang dilarang seperti berdampak menyakiti orang lain atau menimbulkan prasangka orang awam bahwa sholat itu harus berjamaah. Apabila menimbulkan hal-hal yang demikian maka tidak mendapatkan pahala, bahkan menjadi haram.”[3]
    Kesimpulannya, sholat Dhuha lebih baik dikerjakan sendirian. Namun boleh dikerjakan secara berjamaah, apalagi ketika memiliki tujuan yang baik dan benar, seperti mendidik dan memotivasi. Maka hal tersebut justru bernilai pahala dan sangat dianjurkan dalam syariat.
    Sekian, waAllahu A’lam Bis Shawab.
    Refrensi:
    [1] Shahih Al-Bukhori, juz 2 hal 58.
    [2] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 4 hal 55.
    [3] Bugyah Al-Mustarsyidin, hal 67. Cet. Al-Hidayah.

  • KH. SYA’RONI KUDUS MINTA IJAZAH AGAR NAIK HAJI KEPADA KH. BISRI MUSTOFA

    KH. SYA’RONI KUDUS MINTA IJAZAH AGAR NAIK HAJI KEPADA KH. BISRI MUSTOFA

    wp.sorbansantri.com – Suatu hari di tahun 1960-an, KH M Sya’roni Ahmadi mengadu kepada gurunya, KH Bisri Musthofa, ayahanda Gus Mus, tentang keinginan berangkat ke tanah suci yang belum juga terpenuhi. Singkat cerita, KH Bisri Musthofa memberikan trik khusus kepada murid kesayangannya itu supaya keinginan untuk beribadah ke tanah suci segera terwujud .
    KH. Sya’roni pun segera mengamalkan apa yang dipesankan oleh sang guru. Singkat kata, setelah istiqamah menjalankan ijazah dari sang guru. Tak terduga, atas karunia Allah, datanglah rezeki min haitsu laa yahtasib. Lantaran itulah KH. Sya’roni akhirnya bisa menunaikan ibadah haji. KH. Sya’roni lantas mengajak kita, masyarakat muslim secara umum turut juga melaksanakan ijazah tersebut .
    Ijazahnya antara lain :
    1. Sholat Tahajud setiap malam, cukup 2 rakaat saja membaca surat Al-kaafirun dan Al-Ikhlas
    2. Setelah salam membaca wirid istighfar 70X, sholawat Nabi 100X serta lafal “Ya Syakuur” 1000X .
  • ROMBONGAN JIN BAGHDAD NGAJI DI TEBUIRENG, HADRATUSSYAIKH JADI REFERENSI ULAMA DUNIA

    ROMBONGAN JIN BAGHDAD NGAJI DI TEBUIRENG, HADRATUSSYAIKH JADI REFERENSI ULAMA DUNIA

    wp.sorbansantri.com – Hadratus Syaikh Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah(14 Februari 1871 – 25 Juli 1947 M), pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang juga pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, merupakan ulama besar yg menjadi referensi ulama internasional. Hadratussyaikh banyak mencetak ulama besar di Jawa dan Luar Jawa serta dikenal alim dan hafal ribuan hadits. Hadratussyaikh juga dikenal sbg ulama pengayom seluruh umat Islam dan tidak partisan.
    Banyak santri dari berbagai penjuru nusantara dan dunia belajar mengaji kepada Hadratussyaikh di Tebuireng. Bahkan santri Hadratussyaikh tidak hanya terdiri dari unsur manusia, tapi juga makhluk halus yaitu jin. Karena itu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari melarang santrinya di Tebuireng mengaji di bawah bedug masjid.
    “Kiai Hasyim pidato, jangan ngaji di bawah bedug. Karena di bawah bedug itu ada rombongan jin dari Baghdad ikut mengaji,” kata KH Abdul Qoyyum Mansur saat menyampaikan Mauidhoh Hasanah pada acara Wisuda Takhassus dan Bin Nadhor Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, Selasa malam (30/4/2019).
    “Jadi Kiai Hasyim itu maraji’ umat Islam dan ulama dunia,” kata Gus Qoyyum, panggilan KH. Abdul Qoyyum Mansur. Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem Rembang Jawa Tengah itu menegaskan bahwa jin ngaji kepada Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari itu fakta. “Ya, ini beneran,” tegas Gus Qoyyum di depan para wisudawan dan wali santri yg hadir di halaman Pesantren Tebuireng pada malam itu.
    Dari mana Gus Qoyyum dapat info itu? “Dari abah saya yg dulu mondok di Tebuireng. Kamar abah saya itu dekat bedug,” kata Gus Qoyyum. Ayah Gus Qoyyum adalah KH Mansur Kholil, pendiri Pondok Pesantren An-Nur Lasem Rembang Jawa Tengah yang kini diasuh Gus Qoyyum.
    Berita santri dari unsur jin di Tebuireng memang populer. Bahkan santri jin di Tebuireng itu tidak hanya pada era kepemimpinan Hadrassyaikh Hasyim Asy’ari. Tapi juga saat Tebuireng diasuh KH Abdul Wahid Hasyim, putra sulung Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, santri jin di Tebuireng juga banyak.
    “Tempat santri jin itu dulu ada di kamar atas yg bawahnya ada jeding (kamar mandi) itu,” ungkap KH Sueb Hasy, alumnus Pesantren Tebuireng yang dikenal banyak memelihara jin di kawasan Pucang Adi Surabaya. Kamar yg dimaksud adalah kamar di bagian belakang sebelah kanan masjid Tebuireng yg kini bagian bawahnya jadi tempat wudlu berdekatan dgn kamar tamu.
    “Kalau mereka (jin) ramai, Kiai Wahid Hasyim biasanya datang menyuruh mereka diam. Mereka langsung diam,” tambah Kiai Sueb Hasy.
    Kiai A Wahid Hasyim selain dikenal sbg salah satu pendiri Republik Indonesia juga dikenal sbg ulama alim yg pernah menjadi penerus Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam memimpin pengajian Hadits Shahihul Bukhari dan Muslim. Bahkan Kiai A Wahid Hasyim inilah yg jadi “asisten” Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. “Kalau Kiai Hasyim ada acara, Kiai Abdul Wahid Hasyim yg mengganti ngaji Shahih Bukhari dan Muslim,” tutur Gus Qoyyum.
    Menurut Gus Qoyyum, ada dua ulama Tebuireng yg selalu jadi asisten Hadratussyaikh dalam pengajian Shahihul Bukhari dan Muslim. Yaitu Kiai A Wahid Hasyim, putranya sendiri. Satunya lagi, KH Idris Kamali, santri Hadratussyaikh yg kemudian diambil menantu.
    Kiai Idris Kamali, dikenal sbg ulama alim dan zuhud. Ia banyak belajar di Makkah. Sepulang dari Makkah ia nyantri ke Hadratussyaikh di Tebuireng.
    Yang menarik, ia sangat disegani kaum jin. Bahkan di Pesantren Kempek Jawa Barat, tempat Kiai Idris Kamali berasal, jika ada ribut2 tentang jin, begitu disebut nama Kiai Idris Kamali, jinnya langsung kabur.
    Kiai Idris Kamali ini menikah dgn Nyai Azzah, salah satu putri Hadratussyaikh, dan dikarunai satu putra Gus Abdul Haq. Kiai Idris Kamali juga pernah menjadi penerus Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam mimpin pengajian Shahihul Bukhari dan Muslim di Tebuireng.
    Menurut Gus Qoyyum, abahnya yakni Kiai Mansur Kholil ngaji kitab Hadits Shahihul Buchari dan Muslim langsung kepada Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Kiai Mansur selalu menulis secara detail apa saja yg disampaikan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam kitab Shahihul Buchari dan Muslim yg dikajinya. Bahkan mana hadist yg diajarkan Hadratussyaikh dan mana yg diajarkan asistennya, yakni Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Kiai Idris Kamali, diberi catatan.
    Sehingga Gus Qoyyum bisa mengikuti semua catatan2 tentang pengajian yg diberikan langsung oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.
    Menurut Gus Qoyyum, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mengajar ngaji Shahihul Buchari dan Muslim secara rutin pada bulan Ramadlan. Dalam mengkaji hadits itu Hadratussyaikh selalu mutobiqotul bab. Artinya, setiap mengkaji hadits selalu dijelentrehkan dgn kontek kekinian.
    Kisah 9 Wali Nyantri Di Tebuireng
    Gus Qoyyum juga menuturkan bahwa abahnya, Kiai Mansur Kholil, saat mondok di Pesantren Tebuireng satu kamar dengan 9 orang santri dari Banten. Nah, 9 santri ini aneh. Karena saat itu usia mereka sudah jauh lebih tua dari usia Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. “Usia mereka sudah 80 tahunan,” kata Gus Qoyum mengutip penuturan abahnya.
    Yang lebih aneh lagi, tutur Gus Qoyyum, selama bulan Ramadan mereka berpuasa tapi tak pernah sahur, tak pernah berbuka dan tak pernah tidur. Kiai Mansur Kholil, abah Kiai Qoyyum, akhirnya menyadari bahwa 9 santri itu bukan santri biasa tapi 9 wali yg nyantri ke Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Karena itu Kiai Mansur Kholil dan Kiai Qoyyum pun berkesimpulan bahwa Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari itu seorang auliya’ullah yg dijaga para wali
    Ila Ruhi Hadrotusy Syaih Hasyim Asy’ari Wa Usulihi Wa Furu’ihi
    Lahumul Fatihah
    (sahabat imam mahdi)
  • ISLAM: AGAMA KASIH SAYANG

    ISLAM: AGAMA KASIH SAYANG

    wp.sorbansantri.com – PCNU BREBES

    Khutbah I
    اْلحَمْدُ للهِ ذِي اْلجَلاَلِ وَاْلِاكْرَامِ، اَّلذِيْ أَعَزَّنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَأَكْرَمَنَا بِاْلاِيْمَانِ، وَنَوَّرَ قُلُوْبَنَا بِاْلقُرْآنِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَان، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَبِي اْلقَاسِمِ الَّذِيْ عَلاَ النُّجُوْمَ وَاْلكَوَاكِبَ الْعِظَامَ، وَعَلىَ ءَالِهِ وَأَصْحَابِهِ اْلكِرَامِ بُدُوْرِ التَّمَامِ، وَمَصَابِيْحِ الظَّلَامِ وَشُمُوْسِ دِيْنِ اْلاِسْلاَمِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلاَ مَثِيْلَ لَهُ وَلاَ ضِدَّ وَلاَ نِدَّ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ.
    أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ اْلعَظِيْمِ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً, وَأُحَذِّرُكُمْ مِنْ عِصْيَانِهِ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ مَنِ اسْتَبْدَلَ بِالطَّاعَةِ اْلمَعْصِيَةَ وَءَاثَرَ اْلفَانِيَةَ عَلىَ اْلبَاقِيَةِ يَقُوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالى فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ ( وَاْلعَصْرِ، إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّلِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِاْلحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
    Marilah kita memperkuat keimanan kita dengan taqwa, senantiasa berusaha menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Allah di manapun dan kapanpun kita berada.
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
    Bagi kita, Islam adalah rahmat terbesar bagi manusia. Karena seseorang yang mati dalam keadaan muslim dijamin masuk surga oleh Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
    مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ اْلجَنَّةَ
    Maknanya: Barang siapa yang akhir perkataannya adalah “Tidak ada yang disembah dengan benar selain hanya Allah” maka dia masuk surga.
    Sebanyak apapun dosa yang pernah dilakukan oleh seorang muslim di dunia jika dia mati dalam keadaan muslim maka ia tidak akan abadi di dalam neraka, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
    يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لَاإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيْمَانٍ
    Maknanya: “Akan keluar dari dari neraka orang yang mengatakan “Tidak ada yang disembah dengan benar selain hanya Allah” dan di dalam hatinya terdapat keimanan yang sangat kecil sebesar biji dzarroh”
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
    Bagi orang yang beriman, Islam juga merupakan modal utama di dalam beramal sholeh, karena hanya atas dasar iman dan Islam sekecil apapun amal kebaikan seseorang akan diterima oleh Allah dan berpahala. Allah ta’ala berfirman:
    وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلاَ يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
    Maknanya: Dan barang siapa yang beramal shalih, baik laki-laki atau perempuan sedangkan dia adalah seorang mukmin maka mereka akan masuk surga dan sedikitpun mereka tidak akan didzalimi sedikitpun.
    Al Imam al Ghazali rahimahullah mengatakan:
    لاَتَصِحُّ اْلعِبَادَةُ إِلاَّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ اْلمَعْبُوْدِ
    Tidak sah suatu ibadah kecuali setelah mengenal Tuhan yang wajib disembah (beriman)
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
    Sebagai agama rahmat, Islam mengajarkan manusia kebaikan, perdamaian, saling mencintai dan mengajak kepada sikap tarahum (saling menyayangi) sesama manusia. Islam menjadikan rahmat sebagai salah satu bukti kesempurnaan iman seseorang. Seorang muslim jika bertemu dengan orang maka di hatinya terpendam rasa kasih sayang dan tersimpan niat baik di relung hatinya. Dia akan berbuat baik kepada mereka, meringankan beban mereka dan mengasihi mereka. Rasa kasih sayang yang dituntut bukanlah terbatas untuk orang yang dikenal, kerabat atau teman dekat, tetapi yang dituntut adalah rahmat yang menyeluruh yang mencakup umumnya orang. Hadits-hadits Rasulullah menunjukkan keumuman ini dalam memberikan kasih sayang dan menganjurkan untuk menyebarkan rahmat (kasih sayang). Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
    لا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لا يَرْحَمُ النَّاسَ
    Maknanya: “Allah tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi sesama manusia” (H.R. al-Bukhari)
    Dalam riwayat lain:
    مَن لا يَرْحمْ لاَ يُرْحَمْ
    Maknanya: “Orang yang tidak menyayangi (sesamanya), tidak dirahmati” (H.R. al Bukhari dan Muslim).
    Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih al Bukhari pada kitab al Adab bab “Menyayangi Manusia dan Binatang” mengatakan: “Ibnu Baththal berkata: Dalam hadits ini terdapat anjuran agar memberikan kasih sayang kepada semua makhluk, termasuk dalam hal ini; orang mukmin, orang kafir, binatang-binatang baik yang dimiliki atau yang tidak dimiliki. Juga masuk dalam pengertian rahmah (menyayangi); merawat binatang dengan memberinya makan, minum, meringankan beban barang bawaan dan tidak berlaku zhalim dengan memukulnya“.
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
    Di dalam al Qur’an, Allah ta’ala memerintahkan kita untuk berlaku lemah lembut dan dilarang bersikap kasar kepada orang lain, kita juga diperintahkan untuk berbesar hati memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain kepada kita. Allah ta’ala berfirman:
    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّه إِنَّ اللّهَ يحيِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
    Maknanya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (Q.S. Ali ‘Imran: 159)
    Rasulullah sendiri -sebagai suri tauladan bagi umat Islam- adalah pribadi yang rendah hati dan lemah lembut kepada orang lain, sehingga dakwah beliau dapat diterima dengan mudah oleh umatnya. Allah berfirman:
    لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
    Maknanya: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (Q.S. at-Taubah: 128)
    إِنَّ أَحْسَنَ اْلكَلاَمِ كَلاَمُ اللهِ اْلمَلِكِ اْلعَلاَّمِ .وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِىْ اْلمُهْتَدُوْنَ وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ , اَعُوذُ بِاللهِ من الشيطَان الَرجيم يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
    بَاَرَك اللهُ لي ولَكُمْ فىِ اْلْقُرْأَنِ اْلْعَظِيْمِ ونَفَعِني وإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وِلَكُمْ وِلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوُ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
    Khutbah II
    اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ اْلفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ اْلحَسَنُ، وَصَلَوَاتُ اللهِ اْلبَرِّ الرَّحِيْمِ وَاْلمَلَائِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى سَائِرِ اْلأَنْبِيَاءِ وَاْلمُرْسَلِيْنَ، وَأَهْلِ بَيْتِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ وَسَلاَمُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدَ فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَأُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ). وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى نَبِيِّهِ اْلكَرِيْمِ, فَقَالَ عَزَّ منْ قَائِل: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)
    اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ.
    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ, اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلِاسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ اْلكَفَرَةَ وَاْلمُبْتَدِعَةَ وَاْلمُنَافِقِيْنَ, اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, اللّهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُّهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ, اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَءَامِنْ رَوْعَاتِنَا وَاكْفِنَا مَا أَهَمَّنَا وَقِنَا شَرَّ مَا نَتَخَوَّفُ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلغَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالشَّدَائِدَ وَاْلِمحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاطْرُدِ الشَّيْطَانَ مِنْ بَيْنِنَا وَآتِ كَلاَمَنَا مُرَادَهُ وَسُؤْلَهُ فِيْمَا يُرْضِيْكَ يَا أَكْرَمَ اْلأَكْرَمِيْنَ, رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
    عِبَا دَ اللهِ: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ.
  • Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gus Dur di PCNU Kab Mojokerto

    Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gus Dur di PCNU Kab Mojokerto

    Cyberaswaja.online | Sooko. Halaman parkir penuh dan Aula PCNU Kab Mojokerto ramai, dilangsungkan Ngaji Kebangsaan Satu Dekade Haul Gusdur dengan tema “KEBUDAYAAN MELESTARIKAN KEMANUSIAAN”. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.00 wib tersebut, dihadiri Tokoh lintas Agama, diantaranya Walikota Mojokerto, BUPATI Mojokerto, KAPOLRES Kabupaten Mojokerto, DANDIM dan Seluruh ORMAS serta Lintas Komunitas. 25/01/2020.

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade oleh Ning Alisa Wahid

    Acara tersebut sangat penting bagi bangsa dan negara mengingat dari pribadi GUS Dur yang selalu dirindukan dan menjadi marwah NU sebagai satu-satunya ormas yang sudah tidak diragukan lagi dengan Politik Kebangsaannya, sebagai pemersatu bangsa yang berbeda-beda dan merupakan elemen penting dalam berdirinya suatu bangsa.

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    Foto: Pengurus PC NU bersama jajaran Forkopimda Mojokerto pada Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade

    foto: Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade
    Foto: Peserta Ngaji Kebangsaan Haul Gusdur satu dekade

    Dengan pemateri semua tokoh lintas agama se Kabupaten Mojokerto, keistimewaan acara ini turut juga dihadiri Neng Alisa Wahid, beliau menyampaikan pesan dan kesan, serta bercerita tentang kisah kehidupan almarhum Gus Dur perihal Kebangsaan dan Bernegara. (red-fio)

  • Gus Latif Mengingatkan Tugas Berat Rijalul Ansor di Dirosah Kader Ula II

    Gus Latif Mengingatkan Tugas Berat Rijalul Ansor di Dirosah Kader Ula II

    Cyberaswaja.online|Ngoro — Pimpinan Pusat Rijalul Ansor (PP RA) Gus Abdul Latif nampak bahagia dan terharu dengan semangat para kyai muda NU dan Ustadz-ustadz Muda di Mojokerto.
    Saat memberikan sambutan pada penutupan Dirosah Kader Ula II (DKU-II) yang digelar Pengurus Anak Cabang Rijalul Ansor Kec. Ngoro Kab. Mojokerto tersebut beliau menyatakan syukur dan kekagumannya atas antusias ratusan peserta dari Jumat (24/1) siang hingga Ahad (26/1) sore ini. Beliau juga mengingatkan tugas berat Rijalul Ansor. 26/01/2020

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Kanan: PW Rijalul Ansor (Shbt.Anjab), Tengah (Gus Abdul latif), kiri Ketua RA PC (Gus Lutfi Hakim)

    Selain Gus Latif, hadir juga Ketua PW Rijalul Ansor Jatim dan jajaran pimpinan PC GP ANSOR dan MWC NU Kec. Ngoro berserta badan-badan otonom, termasuk pengasuh Pondok Pesantren Sabilillah, KH. Muallimin.

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Pengurus RA Cabang dan Wilayah

    “Saya sangat terharu, kegiatan DKU ini diikuti ratusan kader Kyai Muda. Bahkan ada Peserta yang datang dari luar PC Mojokerto. Naik bus dari Lamongan kemari. Ada juga dari PC Gresik dan Sidoarjo. Menempuh berjam- jam perjalanan hanya untuk bisa mengikuti DKU-II ini. Sungguh semangat yang luar biasa untuk berkhidmad di Ansor. Apalagi kegiatan seperti ini tidak gratis. sahabat-sahabat harus membayar sendiri untuk bisa ikut Dirosah ini. Subhanallah, semoga ini menjadi bukti agar dipantaskan dan diakui menjadi santri Mbah Hasyim Asy’ari dan para Muassis NU,” kata Gus Latif memberikan sambutan pada hari Ahad (26/1/2020), disambut tepuk tangan para hadirin.

     

    Dihadapan ratusan peserta DKU-II Gus Latif juga mengatakan bahwa masa depan NU dan Indonesia ada di tangan kader-kader Ansor. Merekalah yang akan menjadi para pemimpin NU dan generasi masa depan.

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Gus Abdul Latif Penutupan Dirosah Kader Ula II

    “Pengkaderan seperti ini sangat penting, karena akan membuka pikiran dan menambah wawasan generasi muda NU agar lebih fokus dalam pergerakan, menyebarkan ideologi Islam Nusantara yang rahmatan lil alamin demi membendung laju ideologi yang membahayakan NKRI.
    Ini tugas berat tapi harus kita lakukan demi meneruskan perjuangan para masyayikh” tambahnya.

    Gus Latif mengatakan, kader muda NU di semua lini harus bergerak demi menjaga warisan yang agung ini. Terlebih lagi Rijalul Ansor yang memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk membentengi aqidah warga NU dari rongrongan ideologi yang memecah belah negeri ini.

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Pimpinan Pusat Rijalul Ansor
    Gus Abdul Latif

    ” NU dan Indonesia tidak bisa dipisahkan. Ini adalah warisan perjuangkan para muassis NU. Tanggung jawab kita untuk menjaganya. Di tangan ANSOR hal ini dipertaruhkan. Kita harus siap melawan segala bentuk gerakan yang membahayakan aqidah Aswaja An Nahdliyyah dan keutuhan NKRI”,pungkasnya.

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Pengurus Rijalul Ansor Cabang Mojokerto

    Upacara penutupan DKU-II yang dilaksanakan di halaman Pondok Pesantren Sabilillah, Watusari Ngoro ini ditutup dengan doa dari para Kyai NU dilanjutkan dengan pembacaan baiat kader.
    Keharuan pun terasa saat dimulainya prosesi siraman sebagai tanda kelulusan kader.

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: Panitia Dirosah Beserta Pengurus MWCNU Ngoro dan Banser

    Banyak peserta yang tak mampu lagi membendung air matanya saat lantunan sholawat mengiringi proses hormat dan mencium bendera merah putih, bendera NU dan Ansor. Banyak tamu undangan mengalami hal yang sama. Seolah turut merasakan betapa beratnya ingin menjadi santri yang diakui oleh Mbah Hasyim Asy’ari.

    SORBANSANTRI.COM
    Foto: proses Penutupan Dirosah Kader ula

    Menjelang Maghrib prosesi baiat selesai dan acara ditutup dengan sungkeman kepada para Kyai. (Ki Narto/Ketua Panitia/Pengurus Rijalul Ansor Cabang)

  • YANG WAJIB DILAKUKAN KETIKA MANDI JUNUB | kitab Matn al-Ghoyah Wa at-Taqrib

    YANG WAJIB DILAKUKAN KETIKA MANDI JUNUB | kitab Matn al-Ghoyah Wa at-Taqrib

    وفرائض الغسل ثلاثة أشياء النية وإزالة النجاسة إن كانت على بدنه وإيصال الماء إلى جميع الشعر والبشر

    TERJEMAH :
    Fardhu/rukun atau perkara yang mesti dilakukan saat mandi junub ada 3 (tiga), yaitu :
    (1) Niat
    (2) Menghilangkan najis yang terdapat pada badan (jika ada).
    (3) Mengalirkan air ke seluruh rambut dan kulit badan.

    PENJELASAN :
    1. Seorang yang mandi junub mesti berniat.
    2. Boleh niat mandi untuk menghilangkan hadats janabat, menghilangkan hadats besar atau niat-niat semacamnya.
    3. Untuk wanita haidl dan wanita nifas, niatnya mandi untuk menghilangkan hadats haidl atau hadats nifas.
    4. Niat dilakukan harus bersamaan dengan awal kefardhuan, yaitu awal bagian badan yang terbasuh, baik dari badan bagian atas atau bagian bawah.
    5. Kalau berniat setelah membasuh bagian badan, maka wajib untuk mengulangi membasuh bagian dibasuh sebelum berniat tersebut.
    6. Fardhu/rukun kedua adalah menghilangkan najis, jika terdapat di badannya.
    7. Menghilangkan najis adalah pendapat yang dikuatkan (tarjih) oleh imam ar-Rafi’i.
    8. Berdasarkan pendapat ini, maka satu basuhan tidak cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus. Mesti melakukan basuhan untuk menghilangkan najis dan kemudian basuhan untuk menghilangkan hadats.
    9. Namun, al-Imam an-Nawawi mentarjih (menguatkan) bahwa satu basuhan sudah dianggap cukup untuk menghilangkan hadats dan najis sekaligus.
    9. Kedua pendapat sejatinya bisa dipertemukan, yaitu pendapat al-mam an-Nawawi ini adalah ketika najis yang berada di badan adalah najis hukmiyah (tidak ada materi najisnya). Sedangkan jika berupa najis ‘ainiyah (ada materi najisnya), maka wajib melakukan dua basuhan, yaitu untuk najis dan untuk hadats.
    10. Rukun ketiga adalah mengalirkan air ke seluruh bagian permukaan badan, yaitu kulit dan rambut.
    11. Tidak ada perbedaan antara rambut kepala dan selainnya, antara rambut yang tipis dan yang lebat. Semuanya wajib dibasuh hingga basah sampai kulit.
    12. Rambut yang digelung, jika air tidak bisa masuk ke bagian dalamnya kecuali dengan diurai, maka wajib untuk diurai.
    13. Yang dimaksud dengan kulit adalah kulit bagian luar.
    14. Wajib membasuh bagian luar lubang pada badan, misalnya bagian yang nampak dari lubang kedua telinga, hidung yang terpotong dan celah-celah badan.
    15. Bagi laki-laki yang belum disunat, wajib mengalirkan air ke bagian bawah “kulup” (kulit yang menutupi kepala/ujung kemaluan).
    16. Bagi wanita, wajib mengalirkan air ke bagian farji/kemaluan yang nampak terlihat saat ia duduk untuk buang hajat.
    17. Diantara bagian badan yang wajib dibasuh adalah “masrabah” (tempat keluarnya kotoran). Karena bagian itu nampak saat buang hajat sehingga dianggap termasuk dari bagian luar badan.

    #NgajiFikih
    #KajianFikihPemula
    #MatnGhayahWatTaqrib
    #LDNUBanjar
    #AbuZeinFardany

  • LEMBAGA MAJLIS DZIKIR DAN SHOLAWAT RIJALUL ANSOR PAC GP ANSOR KEC. PACET

    LEMBAGA MAJLIS DZIKIR DAN SHOLAWAT RIJALUL ANSOR PAC GP ANSOR KEC. PACET

    Pacet-InfokomBanserNU-Giat rutin MDSRA  PAC GP ANSOR Pacet yang diadakan di Masjid Soso Ds. Cepokolimo pada tanggal 26 Januari 2020  Ahad legi dihadiri 100 orang melibatkan seluruh anggota Ansor, Banser, RA serta Jama’ah Masjid setempat. Acara tersebut dimulai pukul 18.00 dengan sholat magrib berjama’ah di lokasi.

    Tampak hadir juga tokoh-tokoh Agama dan dukungan Pemerintah Desa  Bapak Mahfud Sulaiman selaku lurah di Desa Cempokolimo Kec. Pacet Kab. Mojokerto, sambutan Ketua GP ANSOR PAC Pacet Sahabat Mujibburohman yang mengajak istiqomahkan kegiatan untuk mempertahankan amaliyah aswaja annahdliyah dan menerangkan NU adalah organisasi besar selain memikirkan perjuangan keagamaan juga tdk lupa negara. Pembacaan Kitab oleh Sekretaris MWC NU Ustad Agus Santoso dan Pembacaan Darissalamah oleh Sahabat Kusman Ali.

    Acara tersebut berakhir dengan Latihan Banjari oleh Pemuda Ansor, Banser, RA PAC GP Ansor Pacet.

    (mjb-red)

  • DIROSAH KADER ULA PAC GP ANSOR NGORO MOJOKERTO

    DIROSAH KADER ULA PAC GP ANSOR NGORO MOJOKERTO

    Cyberaswaja.online|Ngoro, Kaderisasi dilaksanakan terus menerus oleh PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto. pada LEMBAGA MAJLIS DZIKIR DAN SHOLAWAT RIJALUL ANSOR (LMDS RA) Pendidikan Kader kali ini dilakukan untuk mencetak kader kader Muda khususnya Wilayah Keagamaan.

    Tepat Dusun Watusari Desa Jedong Kecamatan Ngoro kegiatan ini dilaksanakan, lokasi tepat di Lereng Gunung Penanggungan ini berdiri Pondok Pesantren Sabilillah, ditempat ini yang kemudian terlaksana kegiatan Dirosah Kader Ula Angkatan ke-2. (24/01/2020).

    Dirosah Kader Ula ini dilaksanakan selama Tiga hari Dua malam, peserta yang berasal dari utusan masing masing kecamatan se kabupaten mojokerto, ini menginap untuk meneri materi yang telah disiapkan.

    “DIROSAH KADER ULA ANGKATAN KE-2 INI bertujuan mencetak Da’i Da’i Muda Milenial, karena Ansor Hari ini adalah NU masa depan”. Tegas Gus Ali Nasikh, Selaku Ketua PC GP Ansor Kab.Mojokerto