Penulis: Sorban Santri

  • KONFLIK PALESTINA DAN PENGALAMAN NU MENGELOLA PLURALITAS

    KONFLIK PALESTINA DAN PENGALAMAN NU MENGELOLA PLURALITAS

    Sorbansantri.com – Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah secara khusus meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membantu menggagalkan rencana Israel menganeksasi wilayah Palestina di Tepi Barat. Permintaan itu disampaikan pemimpin Hamas itu melalui surat dikirim ke Jokowi selasa lalu (2/6) sebagaimana yang dilansir albalad.id. https://albalad.co/palestina/2020A9968/surati-jokowi-pemimpin-hamas-minta-indonesia-gagalkan-rencana-aneksasi-israel-di-tepi-barat/.

    Belum ada kabar tentang bagaimana respon Pak Jokowi. Dari surat itu, tersirat sikap Hamas yang sudah putus asa dengan sikap negara-negara Arab dan Turki dalam penyelesaian konflik di Palestina. Hamas pun memilih bekerjasama dengan Iran karena Iran bersedia memberi bantuan pelatihan militer dan persenjataan. Pada akhirnya, perbedaan madzhab harus dikesampingkan, demi mewujudkan perdamaian.

    Tidak lama berselang, pemerintah Palestina melalui Duta Besarnya untuk Indonesia, Zuhair al-Shun, mengundang Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjadi pembicara Diskusi Virtual pada Senin (29/6) mendatang. https://www.nu.or.id/post/read/121020/palestina-undang-ketum-pbnu-jadi-pembicara-soal-perdamaian.

    Kepercayaan pemerintah Palestina ini menunjukkan kepercayaan mereka bahwa pembelaan NU kepada Palestina lebih bersih, murni, orisinal dan proporsional ketimbang kelompok-kelompok radikal yang sejatinya cuma mempolitisir isu Palestina untuk kepentingan politik kelompok mereka.

    Hamas dan pemerintah Palestina yang dipegang faksi Fatah, sulit bersatu. Di sana juga ada Hizbut Tahrir dan partai Komunis. Mereka saling berseteru, menjadikan Palestina bumi konflik sepanjang masa. Membuat mereka sulit bersatu melawan penjajahan Israel.

    NU dinilai mampu, berpengalaman dan berhasil menjaga perdamaian di Nusantara, yang jauh lebih kompleks perbedaannya dibandingkan Palestina. Nusantara sangat plural. Namun, oleh NU pluralitas dipandang sebagai realitas yang tidak perlu dipermasalahkan.

    Karena pluralitas adalah sunnatullah yang mesti dikelola dengan benar agar membawa kerukunan dan keharmonisan dalam kehidupan manusia. Bukan malah dijadikan alasan untuk membuat kerusakan dimuka bumi. Pluralitas tidak sepatutnya menjadi kambing hitam konflik antarumat beragama dan kelompok.

    Dari sejak awal agama ini mewujud dalam sebuah Daulah Nabawiyah di Madinah, Rasulullah Muhammad Saw telah membuat perjanjian untuk mengelola pluralitas agar tercipta kerukunan dan keharmonisan kehidupan di Madinah. Perjanjian ini yang dikenal dengan nama Piagam / Konstitusi Madinah. Secara sosiologis saat itu di Madinah terdiri komunitas Muslim, komunitas Yahudi dan orang-orang musyrik.

    Salah satu isi perjanjian itu berbunyi: “Bahwa bangsa yahudi dari bani ‘Auf merupakan sebuah umat bersama orang-orang yang beriman (muslim), bagi bangsa Yahudi agama mereka dan bagi umat Islam agama mereka….” Piagam Madinah ini merupakan pengakuan secara de jure Islam atas eksisitensi komunitas Yahudi dan otonomi keagamaannya.

    Robert N Bella Sosiolog Amerika dalam buku Beyond Belief mengatakan, konstitusi Madinah ini “terlalu modern untuk ukuran zamannya.” Ketika wilayah daulah Islam meluas sampai ke Najran yang dihuni umat Kristen, negara Islam menjadi lebih pluralistik. Umat Kristen Najran tetap memeluk agamanya lalu Muhammad Saw memperlakukan mereka sama seperti Yahudi yaitu diberikan kebebasan beragama dan status otonomi untuk mengatur urusan keagamaan mereka.

    Sikap politik Muhammad Saw ini termaktub dalam perjanjian dia dengan suku Najran yang berbunyi: “Suku Najran dan sekitarnya mendapat perlindungan Allah dan tanggungan Nabi Muhammad Rasulullah, atas diri mereka, agama, tanah, harta, yang hadir dan tidak hadir, rumah-rumah peribadatan dan salat-salat mereka. Mereka tidak berhak mengubah seorang uskup dari keuskupannya dan seorang pewakaf dari wakafannya, juga segala sesuatu yang ada di bawah kekuasaan mereka, sedikit maupun banyak….

    Apabila diantara mereka menuntut suatu hak, maka diantara mereka berlaku keadilan tidak ada yang menzalimi dan dizalimi…Tidak seorangpun dituntut atas kesalahan pihak lain. Perjanjian ini menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya selamanya hingga Allah memutuskan ketentuan-Nya dengan syarat jika mereka tulus dan setia terhadap kewajiban mereka…”

    Perjanjian-perjanjian sejenis juga dibuat Rasulullah Muhammad Saw kepada komunitas non Islam lainnya seperti dengan Bani Junbah di teluk Aqaba, Bani Ghadiya, Yahudi Bani Uraid, penduduk Jarba dlll. Sikap toleran Islam terhadap non Islam pasca Rasulullah Muhammad Saw dilanjutkan oleh para Khalifah setelah Beliau saw.

    Jika akhir-akhir ini pluralitas antar umat beragama dan madzhab di dalam satu agama menjadi masalah maka bisa dipastikan bahwa itu bukan berasal dari ajaran agama. Pasti ada kepentingan-kepentingan politik di baliknya. Guna tercipta perdamaian, persoalannya tinggal, apakah ajaran agama tentang toleransi mau ditegakkan atau tidak?! Termasuk di Palestina. (Ayik Heriansyah)

  • JILBAB SYAR’IE MANA DALILNYA?

    JILBAB SYAR’IE MANA DALILNYA?

    wp.sorbansantri.com – Ketika terjadi sakralisasi jilbab secara berlebihan sehingga dimasukkan ke wilayah formalisasi dalam aturan baku sebuah institusi umum, maka yang terjadi adalah pelanggaran hak berbusana.
    Padahal, sebaiknya menutup aurat dan batas-batasnya merupakan kesepakatan sosial tanpa paksaan dan setiap individu memiliki kebebasan menentukan sampai di mana batas auratnya harus ditutup.
    Pengalaman yang cukup unik ketika penulis hendak membeli kerudung, maka memilih sesuai keperluan. Tiba-tiba ada seorang ibu yang menasehati supaya pakai jilbab syar’i. Tentu dengan gaya khas penghakiman.
    Kemudian penulis tanya: Bu, mana dalil yang menyebut kata jilbab syar’i? Beliau gelagapan karena memang tidak ada. Istilah itu baru muncul belakangan. Tidak pernah dijumpai di literatur salaf manapun sebelumnya.
    Penulis memberi kuliah kilat kepada beliau. Bahwa pada jaman dulu, perempuan diminta untuk menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, bahkan sampai ada yang wajahnya juga ditutup karena memiliki beberapa fungsi.
    Pertama, membedakan perempuan merdeka dan perempuan hamba sahaya.
    Kedua, supaya tidak diganggu orang. Artinya, jilbab itu pakaian kehormatan.
    Bahkan, jika ditilik pada budaya yang ada sebelum Islam, tradisi menutup seluruh tubuh sudah dikenal jauh sebelumnya.
    Jika melanggar ketentuan itu, maka yang dilanggar adalah norma susila dan norma sosial yang berlaku di masyarakatnya. Sedangkan saat ini, sudah tidak ada perbedaan mana perempuan merdeka, mana perempuan hamba sahaya.
    Dalam kenyataannya, juga tidak ada kaitan lagi secara signifikan bahwa memakai jilbab akan terhindar dari godaan pria hidung belang. Maka, dikembalikan lagi ke asalnya bahwa jilbab adalah busana kehormatan. Sebagai bagian dari ikhtiyar menutup aurat. Tidak perlu berlebihan memaknai.
    Karena nanti kembalinya keseluruhan pada tataran sosial kultural itu ada di akhlaqul karimah. Bukan pada rukun Islam atau rukun Iman. Jilbab tempo dulu dalam ramah sosial bisa dikaitkan dengan akhlaqul karimah. Artinya, jaman dulu, perempuan berjilbab bisa cenderung dididentikkan dengan derajat kesalehan, derajat kealiman, dan derajat akhlak yang patut diteladani.
    Namun ketika terjadi jilbabisasi apalagi dengan tambahan predikat syar’i maka justru semakin tidak ada korelasi dengan akhlaqul karimah. Sebab, selalu saja yang diusung ialah wajibnya jilbab. Namun, tidak dibarengi dengan penjelasan bahwa akhlaqul karimah lebih wajib daripada jilbab.
    Sehingga tidak perlu heran jika ada sebagian jilbaber yang tega meninggalkan akhlaqul karimah dengan memaki sesama perempuan Muslimah yang memilih tidak berjilbab. Bahkan definisi jilbab diperumit pula sedemikian rupa sehingga yang berkerudung juga tetap dihakimi dengan tidak kalah sadisnya, ditelisik kekurangan demi kekurangannya tanpa ampun, hingga asesoris dan pendukungnya juga dibahas dan ditabrakkan dengan nash suci.
    Lucunya, sebagian lagi garang sekali menghakimi perempuan Muslimah yang tidak berjilbab sebagai serupa dengan perempuan kafir. Namun, lebih lucu lagi, belakangan ini diantara mereka yang memiliki jabatan malah ada yang membuat aturan kewajiban agar siswi nonMuslimah memakai jilbab juga disamping yang siswi Muslimah. Dan baru mengaku khilaf setelah dikeroyok orang se Indonesia Raya.
    Selamat datang di negara serba syar’i nan lucu ini. Belakang juga muncul sandal syar’i kan? Siap-siap saja berantem lagi sembari obral dalil. Ntar kalau terpojok tinggal kabur atau ngaku khilaf saja selesai perkara. (Shuniyya Ruhama)
  • Kisah sahabat Banser yang selalu membuatku kangen berada di tengah2 mereka. Inspiratif dan tak kenal lelah untuk kemanusiaan

    Kisah sahabat Banser yang selalu membuatku kangen berada di tengah2 mereka. Inspiratif dan tak kenal lelah untuk kemanusiaan

    wp.sorbansantri.com – Saya sempat kehilangan kontak beberapa saat lamanya dengan mereka. Sebagian anggota tim juga resah.

    Rencananya mereka akan melakukan survei lokasi sekaligus membuka jalan menyisir posko pengungsian di Kota Mamuju. Sekaligus melaporkan titik penyaluran logistik sebelum kami datang.

    Dengan alasan itu akhirnya mereka berangkat mendahului tim kami mengikuti rombongan pengangkut logistik kampungnya, Desa Kasano Kecamatan Baras.

    Namun sampai pemberangkatan bantuan logistik tahap pertama Malam Minggu yang lalu. Atau 48 jam paska gempa, mereka tak berkabar. Padahal signal di Kota Mamuju aman-aman saja.

    Sampai kami menerima rekaman ini, barulah diketahui kalo mereka berada jauh diluar Kota Mamuju.

    Posisinya mendekati daerah pusat gempa. Daerah yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Majene dan Mamuju, Desa Mekatta namanya di Kecamatan Malunda.

    Daerah ini merupakan salah satu daerah dengan titik kerusakan parah.

    Perlu diketahui dua hari setelah gempa, Malunda bukannya daerah yang susah ditembus tapi mustahil ditembus.

    Selain longsor sebelum Malunda dari arah Kota Majene menyebabkan akses jalur darat dari arah selatan lumpuh sehingga menyebabkan bantuan harus memutar melewati Kabupaten Mamasa bila ingin ke Kota Mamuju.

    Dari arah utara juga susah karena jembatan Bolong rusak dan tebing di sekitarnya sering longsor. Akhirnya daerah ini jadi terisolir. Logistik pun Tak ada yang sampai ke pengungsi.

    Kemarin siang saya menerima kabar dari sahabat Yudhy, Banser Pasangkayu yang membawa Logistik ke Mamuju. Katanya mereka berada di Malunda dan akan turun gunung menemani beberapa orang pengungsi untuk menjemput logistik di Sekretariat PMII Mamuju.

    SORBANSANTRI.COM

    Saya lega. Tim lega. Akhirnya kader hilang itu ditemukan. Mereka sukses menjadi relawan pertama yg masuk ke sana dan membuka akses ke pengungsi untuk mendapat logistik.

    Tapi ada satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, bagaimana caranya mereka bisa menembus jalur utara lewat tapalang dan jembatan bolong dengan mudah? Entahlah, nanti kalo mereka datang akan saya tanyakan.

    Salut sahabat Rusdi dan Sardin. Kalian Luar biasa. (rosyid sorban)

    Sumber:
    Abdul Hakim Madda
    Ketua PC GP Ansor Pasangkayu, Prov. Sulawesi Barat.

  • Rutinan Senin Kliwon MWCNU Kec.Mojosari

    Rutinan Senin Kliwon MWCNU Kec.Mojosari

    Mojosari,20/01/2020: Kegiatan Senin kliwon ini selalu rutin diadakan oleh NU dan Banom2 nya di kec.Mojosari.

    SORBANSANTRI.COM

    Selain pengajian rutin,juga diadakan baksos oleh Banser Basada (Banser Husada) PAC.Mojosari. juga tak lupa Banser selalu berperan aktif pada kegiatan di NU sebagai pengamanan supaya lancar dan aman dalam kegiatan tersebu.

    SORBANSANTRI.COM
  • Banser Husada

    Banser Husada

    Mojokerto,20/01/2020:BANSER…… Bukan hanya berguna dan digunakan pada waktu PAM di pengajian saja.

    Banser Husada (Basada) Kab.Mojokerto mengadakan Rapat di Tempuran kec.Pungging dengan beberapa keputusan. Diantaranya adalah Selain mengadakan pengobatan gratis ada saat ada pengajian/giat NU,Basada juga akan mengadakan Baksos tiap sebulan sekali di wilayah Kab.Mojokerto.

    Pengobatan ini Gratis warga/masyarakat yang berobat tidak dipungut biaya sepeserpun.

    #Salam Basada.

    #Banser Jaya.

  • MONUMEN SEDATI NGORO PENANDA PERANG YANG TERHALANG

    MONUMEN SEDATI NGORO PENANDA PERANG YANG TERHALANG

    SORBANSANTRI.COM

    Patung pejuang kemerdekaan berdiri di sekitar pertigaan Ngoro Indutrial Park (NIP). Penanda peristiwa masa revolusi itu merupakan salah satu monumen terbaik di Kabupaten Mojokerto karena bentuknya berbeda dengan bentuk monumen yang sering kita lihat hanya berupa tugu berbentuk peluru. Namun sayang tidak banyak yang tahu mengapa monumen itu didirikan disana ?

    Ketika belanda melakukan gerakan militer pada bulan september 1948, para pejuang republik terpaksa mengalami perubahan posisi. Serdadu Belanda menyerang hampir semua kedudukan militer RI, bahkan ibukota Jogjakarta jatuh dan para petinggi pemerintahan ditawan. Belanda mengambil momentum saat kedudukan militer Indonesia kacau akibat peristiwa Musi di Madiun yang dikenal sebagai Madiun Affair. Dalam analisa militer Belanda, pada saat itu kekuatan militer Indonesia lemah akibat pertikaian internal republik. Namun perkiraan itu meleset sebab para pejuang menolak menyerah dan menyerang balik menggunakan taktik gerilya. Maka berkobarlah perang Kemerdekaan jilid 2.

    Suatu hari di bulan Pebruari 1949, satu kompi pasukan dibawah pimpinan Kapten Budiman Sumantri membuat barikade. Kompi Budiman merupakan bagian dari kesatuan tempur Batalyon Bambang Yuwono (BY) yang saat itu ditempatkan di wilayah Ngoro-Mojosari. Kompi itu menggunakan bekas bangunan Pabrik Gula Sedati sebagai markasnya. Misi sebenarnya dari batlayon BY adalah masuk ke wilayah Sidoarjo dengan sasaran akhir bersama kesatuan perjuangan lainnya merebut Surabaya. Namun misi itu terhalang oleh kuatnya penjagaan lawan di jembatan Ngerame, Tanjangrono maupun jembatan porong. Sedangkan masuk ke Sidoarjo dengan cara menyeberangi Kali Porong juga riskan karena airnya besar pada saat musim hujan saat itu.

    Kompi Budiman membuat barikade di jalan raya yang menghubungkan Sedati dengan Japanan yang saat itu dikuasai musuh. Barikade itu dibuat dengan cara menebang pohon-pohon dan meletakkannya melintang di jalanan, bebatuan atau benda apa saja yang dapat menghambat pergerakan lawan. Barikade harus dibuat sebab beberapa hari sebelumnya terjadi pertempuran sporadis di desa Jedong. Setelah kejadian itu kemungkinan serdadu Belanda akan melakukan pembersihan dan berusaha menguasai Sedari.

    Tidak lama setelah barikade terpasang, sekira pukul 10.00 mulai terlihat gerakan pasukan musuh. Sebuah brencarrier berjalan pelan disertai formasi pasukan agak jauh dibelakangnya. Kendaraan tempur itu merupakan pembuka jalan untuk serangan lebih besar. Barikade yang dipasang para pejuang cukup efektif menghambat laju lawan. Kedatangan panser ringan itu segera disambut dengan tembakan pejuang. Sebuah upaya yang kurang efektif sebab jarak kendaraan itu masih diluar jarak tembak efektif. Namun hujan peluru itu cukup mengagetkan lawan. Terjadi kontak senjata sekitar setengah jam.

    Rupanya serdadu Belanda tidak tahan tekanan hujan peluru dari para pejuang. Walaupun brencarrier sanggup menahan peluru, tetapi mereka memilih lari meninggalkan kendaraannya untuk bergabung dengan induk pasukannya. Rupanya sebelum lari, serdadu itu sudah merusak mesin peralatan tempur tersebut. Saat didekati oleh para pejuang kondisi kendaraan itu mesinnya mati. Dari pertempuran singkat itu berhasil disita sebuah radio komunikasi (LCR), sepucuk pistol suar/isyarat dan tentu kendaraan itu sendiri. Namun karena mesin mati kendaraan itu ditinggal setelah dirusak. Mutralieur yang terpasang juga tidak bisa dibawa sebab sulit melepasnya.

    Beberapa hari berselang sejak peristiwa itu, tepatnya tanggal 11 Pebruari, gerakan pasukan lawan kembali terlihat. Sebelum masuk ke wilayah Sedati, mereka sudah melepaskan tembakan meriam terlebih dahulu. Kedudukan pejuang menjadi porak poranda karena masing masing berusaha menyelamatkan diri tanpa menghiraukan formasi pasukannya. Setelah peluru meriam dan mortier berhenti, tank.dan panser bergerak masuk ke Sedati. Perlawanan sporadis dilakukan menyambut datangnya lawan. Namun perlawanan itu tak banyak berarti karena formasi pejuang sudah porak poranda. Pada hari itu Sedati jatuh ke tangan Belanda. Tidak lama kemudian Mojosari juga berhasil dikuasai tentara belanda.

    Rupanya Sedati dan Mojosari memang menjadi target serangan lawan. Dari kedua daerah itu kemudian dilakukan serangan besar-besaran terhadap kedudukan pejuang di daerah Kutorejo. Pasukan Belanda menyerang dari berbagai arah. Kedudukan pasukan republik yang tergabung dalam Pasukan Komando Hayam Wuruk terjepit. Pertempuran terjadi sejak pagi hingga malam pada tanggal 12 Pebruari 1949.

    Jika saja waktu itu Sedati bisa dipertahankan tentu para pejuang masih punya jalan untuk lolos dari kepungan. Pertempuran besar itu merupakan pertempuran terbuka, kedua kekuatan berhadapan mengadu senjata dan keberanian, mirip dengan pertempuran nopember 1945 di Surabaya. Tidak tercatat pasti berapa jumlah korban, namun setidaknya lebih dari 1000 nyawa melayang.

    Monumen Sedati dibangun untuk mengenang perjuangan pasukan pejuang dari kesatuan Batalyon Bambang Yuwono. Selain di Sedati, sebuah tugu peluru di Gumeng Gondang juga didirikan  sebagai penanda bagi Batalyon tersebut. Sayangnya monumen sebagai penanda perjuangan masa revolusi kemerdekaan itu keberadaannya tidak banyak diketahui. Patung pejuang tersebut terhalang pandang oleh bangunan yang tumbuh disekitarnya.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • BIJI DURIAN JUMADIL KUBRO

    BIJI DURIAN JUMADIL KUBRO

    SORBANSANTRI.COM

    Kisah tentang Sjech Jumadil Kubro sebagai penyebar Islam generasi awal tidaklah banyak. Tentu tidaklah mungkin tokoh sebesar beliau tidak memiliki cerita sejenis mitos yang banyak kita jumpai ada disekitar para wali. Tetapi jejak kewaliannya malah ada di negeri China.

    Alkisah, seorang muslim mendarat di negeri China. Tokoh itu ikut kapal dagang dari negeri Gujarat di tanah India. Perahu dagang China dan India memang telah memiliki jalur laut untuk melakukan niaga, selain ada jalur darat yang dikenal sebagai jalur sutera. Para pedagang muslim memang menjadikan Gujarat sebagai pangkalan dagang ke berbagai penjuru.

    Diketahui orang muslim itu bernama Sjech Jumadil Akbar atau Jumadil Kubro. Dia telah banyak berkelana di daerah India untuk menyebarkan risalah Islam pada penduduk negeri yang belum mengenal Islam. Sebagai tokoh yang namanya sudah kondang maka Jumadil Kubro memiliki banyak relasi dari kalangan atas, baik pejabat maupun saudagar. Salah seorang saudagar kenalannya bersedia memberi tumpangan ke negeri China. Bahkan saudagar tersebut tidak berkeberatan mengenalkannya dengan penguasa negeri China.

    Seperti lazimnya, rombongan saudagar segera menghadap penguasa pelabuhan untuk mendapat ijin kapalnya bersandar. Setelah itu dia akan sowan pada penguasa guna menyerahkan upeti demi mendapatkan ijin menjual barang dan membeli komoditi untuk dibawa pulang. Saat menyerahkan upeti itulah Jumadil Kubro ikut serta.

    Singkat cerita, Jumadil Kubro menyampaikan maksudnya untuk menyampaikan tentang Agama Islam yang akan disyiarkannya ke penduduk Kota Raja. Pada akhirnya Jumadil Kubro juga mengajak agar Kaisar menjadi pemeluk Islam.

    Kaisar China terperanjat karena ada orang yang berani menyebut bila raja China adalah orang biasa seperti manusia lainnya. Kaisar China mempercayai bila dirinya adalah penguasa keturunan langsung dari para dewa. Kekuasaan yang ada di tangannya adalah kekuasaan turunan yang harus disembah seperti rakyat menyembah dewa. Dalam pikirannya akan kehilangan martabat bila dirinya ikut menjadi muslim. Agama Islam memandang semua manusia sama dengan pembeda pada nilai ketaqwaannya.

    Situasi memanas karena Kaisar seolah merasa ditantang oleh tamunya itu. Bila orang itu diijinkan berkeliaran di negaranya tentu akan menjadi api yang jika membesar akan membakar kekuasaannya. Pun demikian pula dengan Jumadil Kubro yang berpikir jika sudah tidak mungkin menjalankan dakwah saat penguasa sudah ada kecurigaan. Firasatnya, Kaisar China akan menghalangi dirinya dengan berbagai cara.

    Untuk menunjukkan siapa yang benar apakah Kaisar sebagai putra dewa ataukah Jumadil Kubro yang membawa kebenaran agama, maka Kaisar membuat uji kesaktian. Dia memiliki biji buah durian yang disebutnya sebagai buah paling nikmat di dunia. Kaisar ingin sekali memiliki tanaman durian di istananya. Tetapi biji durian itu tidak pernah bisa tumbuh karena memang habitatnya di daerah panas atau tropis.

    “Jika tuan bisa menanam biji durian ini hingga tumbuh di sini, saya akan ijinkan tuan menyebarkan Agama Islam di negeri China. Bahkan saya tidak berkeberatan ikut Agama tuan”. Tantang Kaisar China.

    “Baiklah, saya bersedia menanam biji durian itu. Saya akan berdoa pada Allah agar biji itu segera tumbuh di istana tuan Kaisar”. Balas Jumadil Kubro.

    “Ingat selama biji itu belum tumbuh tuan dilarang keluar dari wilayah pelabuhan”, ujar Kaisar mengingatkan.

    Dengan disaksikan oleh para petinggi kerajaan, Jumadil Kubro menuju alun-alun depan Istana Kaisar. Tangannya menggali tanah dan meletakkan biji durian yang dia terima dari Kaisar. Saat biji ditimbuni serta disiram air, saat itulah Jumadil Kubro memanjatkan doa agar biji durian menjadi jalan turunnya hidayah bagi rakyat negeri China.

    Sesuai kesepakatan, Jumadil Kubro hanya boleh tinggal di sekitar pelabuhan saja. Namun Jumadil Kubro tidak menunggu hingga biji durian itu tumbuh. Dia tahu jika Kaisar tidak akan pernah mau menerima ajaran Islam yang akan menurunkan derajatnya dihadapan rakyat yang bertahun-tahun memuliakan Kaisar seperti dewa. Jumadil Kubro memilih keluar dari negeri China.

    Beberapa hari kemudian, Istana Kaisar menjadi gempar. Di alun-alun ada pohon durian tumbuh. Pertumbuhan pohon baru itu juga cepat membesar. Kaisar menjadi bimbang, dalam hatinya mengakui kebenaran ajaran agama yang di dengarnya dari Jumadil Kubro. Biji durian itu menjadi bukti betapa doa Jumadil Kubro lebih didengar dari pada doanya. Walaupun pengalaman dan logika sulit biji durian itu hidup di tanah China yang memiliki iklim dingin, tetapi Kaisar kuatir bila dirinya kalah bertaruh dengan Jumadil Kubro.

    Biji Durian itu bukan hanya persoalan siapa yang benar, lebih jauh lagi biji durian itu menyangkut kepercayaan. Jika rakyat tahu Kaisar kalah tentu akibatnya bisa melunturkan kepercayaan pada dirinya selaku putra dewa. Kaisar China lalu melakukan ritual agar dewa tidak memberi kehidupan pada biji durian tersebut. Namun kini dia melihat sendiri ada pohon durian dekat istananya.

    Kaisar segera memerintahkan patih agar mencari Jumadil Kubro di pelabuhan. Tentu saja Patih tidak menemukannya karena orang di pelabuhan bilang jika Jumadil Kubro sudah pergi meninggalkan China. Dia ikut menumpang kapal dagang milik orang Jawa. (Red. M.Ha)

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • R.P. SOENARJO GONDOKOESOMO TOKOH PERGERAKAN ASAL MOJOKERTO

    R.P. SOENARJO GONDOKOESOMO TOKOH PERGERAKAN ASAL MOJOKERTO

     

    SORBANSANTRI.COM

    Pernah satu tanya terlintas dalam pikiran ketika menerima informasi jika Jendral AH. Nasution dulu sering ke Mojokerto. Untuk keperluan apa dia datang ke Mojokerto ?. Dan kata tanya itu terjawab saat ditemukan benang merahnya dengan seorang tokoh asal Mojokerto bernama Raden Panji Soenarjo Gondokoesoemo.

    Soenarjo Gondokoesoemo lahir di Mojokerto pada 2 Nopemer 1892. Ayahnya bernama R.P. Djayusman Gondokoesoemo yang berkedudukan sebagai Patih Kabupaten Mojokerto. Sedangkan ibunya bernama R. Ajoe Ngalipah yang masih memiki hubungan darah dengan para penguasa Surabaya. Soenarjo memiliki beberapa saudara yang salah satunya bernama R.A. Soekarsinah yang kemudian dinikah oleh R.P. Soeroso.

    Dengan status sebagai keturunan priyayi maka Soenarjo memiliki hak untuk sekolah sampai tingkat lanjutan. Menurut Suhario Padmodiwiryo atau yang dikenal dengan julukan Hario Ketjik, Soenarjo bukan hanya menuntut ilmu di Indonesia, dia juga sempat sekolah ilmu akuntansi di Negeri Belanda. Dan setelah kembali ke Indonesia, Soenarjo bekerja pada perusahaan asuransi “Blom Van Der A” di Surabaya. Data diri Soenarjo yang terdapat pada buku Orang Jang Terkemoeka di Jawa menyebutkan dia pernah menjadi pegawai dinas pengairan di Probolinggo sebelum pindah ke perusahaan kereta api SCS, SDS dan juga OJS.

    Selain itu Soenarjo juga sempat berkarir di Asuransi Boemi Poetra di Surabaya hingga kemudian dipindah ke Bandung. Selama di Surabaya dia pernah menjadi direktur Harian Soeara Oemoem yang dimiliki oleh Parindra. Serta mengurus Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Bubutan Surabaya.

    Tahun 1924 Soenarjo menikah dengan seorang perempuan Belanda bernama Hendrika Maria Rademeker, anak seorang insinyur yang pernah berdinas di Mojokerto. Pasangan itu kemudia memiliki 3 orang anak, dua laki-laki dan seorang perempuan bernama Soenarti Gondokoesoemo.

    Rupanya hubungan sebagai saudara ipar dengan R.P. Soeroso, ketua Sarekat Islam Mojokerto, ikut mempengaruhi pemikiran politik Soenarjo. Saat R.P. Soeroso keluar dari SI dan mendekat pada PBI yang didirikan oleh dr. Soetomo, maka langkah tersebut diikuti pula oleh Soenarjo. Bahkan Soenarjo kemudian dikenal sebagai orang dekat dari pendiri organisasi Budi Utomo tersebut. Kedekatan itu dapat dibuktikan dengan ditunjuknya Soenarjo sebagai ketua Studie Club’ yang dibentuk Soetomo pada bulan Juli 1928 di Surabaya.

    Pada bulan Desember 1935, Soetomo mengadakan pertemuan untuk menyatukan partai tengah, yaitu PBI dan Budi Utomo yang dipimpin oleh R. Wuryoningrat. Pada pertemuan di Solo itu disepakati peleburan keduanya dengan membentuk partai baru yang diberi Partai Indonesia Raya yang disingkat Parindra. Soetomo dipilih sebagai ketua dan Wuryoningrat sebagai wakilnya. Ternyata Parindra mendapatkan dukukngan dengan masuknya beberapa organisasi seperti, M.H. Thamrin dengan Perkumpulan Kaum Betawi, Ratulangi (Serikat Minahasa/Celebes), Latuharhary (serikat Ambon), Dahlan Abdullah (Serikat Sumatra), dan Roeslan Wongsokusumo (Serikat Madura).

    Ideologi politik Soetomo yang ada pada garis kanan tengah sangat mewarnai diri Soenarjo. Dia tidak canggung untuk bekerja sama dengan Belanda demi memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Karena itu gerakan ala Soetomo itu dapat diterima oleh pemerintah kolonial dan sekaligus memperoleh dukungan dari rakyat, terutama di Jawa Timur. Parindra kemudian mendirikan Rukun Tani, Rukun Nelayan, serta membentuk lumbung tani. Untuk memberikan pinjaman pada anggotanya yang terus berkembang juga didirikan Bank Nasional Indonesia denga menunjuk Soenarjo sebagai direkturnya.

    Dan yang paling dikenal adalah organisasi pemuda yang diberi nama Surya Wirawan. Organisasi yang beratribut seperti tentara itu dilatih disiplin. Mereka bukan hanya sebagai pandu namun juga bersikap semi militer. Sebuah foto tentang sikap militeristik terlihat saat mereka memberi penghormatan ala Nazi saat pemakaman M.H. Thamrin, Januari 1941.

    Soenarjo Gondokoesoemo kemudian pindah ke Bandung untuk memimpin Asuransi Boemi Poetra disana pada tahun 1937. Kepindahannya juga dimaksudkan guna memperkuat kepengurusan Parindra di Jawa Barat. Dia bekerja sama dengan R. Otto Iskandar Dinata yang memutuskan bergabung dengan Parindra. Duet keduanya membuat Parindra bisa berkembang di tanah Pasundan.

    Saat tentara Jepang datang, Soenarjo memiliki relasi yang cukup baik dengan penguasa yang menyebut dirinya sebagai saudara tua. Hubungan baik itu dikarenakan Soenarjo sempat menyelamatkan seorang penerbang Jepang yang pesawatnya tertembak jatuh. Penerbang yang di daerah perkebunan tersebut disembunyikan Soenarjo dari penangkapan serdadu Belanda.

    Nama Soenarjo Gondokoesoemo tidak begitu terdengar pada jaman revolusi kemerdekaan. Aktifitas politiknya mengapung kembali pada tahun 1954 dia diangkat menjadi anggota DPR Sementara (DPRS) oleh Presiden Soekarno dari Fraksi Parindra yang memiliki 7 kursi parlemen. Kedudukan itu didapat dari pergantian antar waktu (PAW) karena RP. Soeroso, ketua umum Parindra, ditunjuk sebagai menteri sosial dalam kabinet Ali Sastroamidjojo. Dalam kepengurusan Partai Parindra Soenarjo Gondokoesoemo tercatat sebagai pimpinan pusat partai pada bagian sosial dan ekonomi.

    Karir politik Soenarjo Gondokoesoemo berakhir karena perolehan suara Parindra jatuh dalam pemilu 1955. Partai dengan lambang dua tangan memegang tangkai padi dan pena itu hanya mendapatkan 2 kursi di parlemen yang salah satunya diduduki oleh R.P. Soeroso. Perjalanan panjang Soenarjo sebagai tokoh pergerakan selesai karena dia meninggal pada tahun 1963.

    Lalu apa hubungannya dengan A.H. Nasution dan Mojokerto ?. A.H. Nasution yang merupakan alumni akademi militer Belanda di Bandung dengan pangkat letnan muda pernah ditampung oleh keluarga Soenarjo. Nasution yang saat itu disersi dari kesatuannya menjadi buronan baik oleh Belanda maupun Jepang. Setelah menempuh perjalanan dari Jember hingga Bandung dan sempat mampir ke rumah RP. Soeroso di Mojokerto, kemudian bersembunyi di rumah Soenarjo. Karena hubungan baik Soenarjo dengan pihak Jepang maka Nasution tidak ditangkap.

    Nasution tinggal bersama keluarga tersebut sekitar 3 bulan. Dari sana kemudian tumbuh benih asmaranya pada Soenarti yang memang cantik jelita. Perjumpaan keduanya berlanjut ketika Soenarti melanjutkan sekolah di Jogjakarta ikut di rumah pamannya, R.P. Soeroso. Keduanya kemudian menikah pada tahun 1947.

    Kaitannya dengan Mojokerto adalah karena salah satu putra Soenarjo yang ikut kakekkya menikah dengan anak bungsu Kyai Rofi’i Pekuncen. Oleh menantu Kyai Rofi’i, yaitu Kyai Sholeh Penarip, pernikahan itu diberi syarat terlebih dahulu. Syaratnya pengantin pria harus belajar ngaji terlebih dahulu. Setelah dianggap memenuhi syarat keduanya diberi tanggung jawab mengajar ngaji di langgar Sinoman, langgar yang didirikan Kyai Sholeh. Kisah pernikahan mereka tertulis dalam buku Kyai Sholeh Pesantren Penarip karya H.A. Yazid Qohar.

    Karena ada tali persaudaraan itulah kemungkinan A.H. Nasution sempat beberapa kali datang ke Mojokerto untuk mengunjungi kakak iparnya.

    Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq

  • JARINGAN ULAMA DAN PESANTREN SUNDA YANG TERLUPAKAN

    JARINGAN ULAMA DAN PESANTREN SUNDA YANG TERLUPAKAN

    InfokomBanserNU- Dibanding dengan jaringan ulama dan pesantren Jawa, pengetahuan kita mengenai jaringan ulama dan pesantren Sunda amat sangat sedikit. Hanya para peneliti tertentu saja yang mengetahuinya. Masyarakat umum, apalagi di luar Sunda, hampir tidak mengenalnya secara baik dan benar.

    Beberapa hari kemarin saya dan sejumlah dosen UNUSIA Jakarta berkesempatan mengunjungi makam para ulama Sunda dan pesantrennya. Kami memulai perjalanan dari Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasik, dan berakhir di Ciamis. Banyak hal yang kami dapatkan, bahkan sebagiannya terdengar mengejutkan.

    Misalnya soal peranan KH Abdullah bin Nuh yang seringkali diklaim oleh HTI sebagai ulama yang mendukung khilafah. Setelah membaca tulisan beliau sendiri yang kami dapatkan di pesantren Al-Ghozali, Bogor, klaim tersebut ternyata menipu. Secara jelas dan tegas beliau menyatakan Pancasila adalah “jalan tengah” bagi Indonesia.

    Sementar itu, di Cianjur kami menziarahi makam KH Ahmad Syathibi yang lebih dikenal sebagai Mama Gentur. Meskipun setiap haulnya diziarahi ribuan orang, banyak orang, apalagi generasi milenial, tidak lagi mengenalnya. Padalah beliau adalah salah satu simpul utama ulama Sunda pada awal abad ke-20. Pandangan keagamaannya yang khas masih tercermin dalam aturan di sekitar pemakamannya hingga sekarang. Para peziarah tidak boleh membawa hape melewati gerbang yang gambarnya bisa dilihat di bawah.

    Memahami konstelasi keagamaan di Jawa Barat, khususnya Priangan, hari ini tidak bisa dilakukan tanpa memahami jaringan ulama dan pesantrennya. Sayang banyak hal belum tergali. Keberadaan pesantren Fauzan di Garut, misalnya, jarang diekspos oleh media. Kajian-kajian akademis juga melupakannya. Padahal kita tidak akan mengerti mengapa terjadi ketegangan di Garut ketika terjadi pembakaran bendera HTI dua tahun lalu jika tidak tahu bagaimana peranan penting pesantren Fauzan di sana. Dalam amatan saya, tidak ada pesantren yang lebih gagah berani membela NU di Priangan melebihi pesantren Fauzan.

    Masih banyak hal lain yang sesungguhnya ingin saya ceritakan. Di Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, kami juga mendengarkan informasi menarik. Dalam pengakuan pengasuhnya, karena dulu almarhum KH Choer Affandi sebagai pendiri pernah bergabung dengan DI (Darul Islam), maka sekarang terdapat stigma terhadap mereka. Seolah-olah Miftahul Huda anti-NU, padahal, menurut KH Abdul Aziz Affandi, pengasuhnya sekarang, “kami ini Nahdliyyin!”

    Insya Allah saya dan teman-teman UNUSIA akan menuliskan cerita perjalanan yang sebenarnya terlalu singkat itu. Termasuk dalam hal ini temuan-temuan mengenai kesalahpahaman terhadap “Islam Nusantara” di sebagian masyarakat, khususnya di Jawa Barat. Semoga ini bisa menambah pengetahuan, meski sedikit, tentang jaringan ulama dan pesantren Sunda yang terlupakan.

    Amin Mudzakkir

    (Ansor Kebunjeruk)

  • Hukum Membakar Kemenyan atau Dupa

    Hukum Membakar Kemenyan atau Dupa

    Dalam sebuah majelis dzikir ataupun majelis Maulid terkadang ada tradisi pembakaran dupa (bukhur). Tradisi ini bukan sesuatu yang tanpa dasar, inilah penjelasannya :
    Imam Nawawi mensyarahi hadits di atas sebagai berikut:
    ﺍﻻﺳﺘﺠﻤﺎﺭ ﻫﻨﺎ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺐ ﻭﺍﻟﺘﺒﺨﺮ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﺄﺧﻮﺫ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺠﻤﺮ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺒﺨﻮﺭ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻷﻟﻮﺓ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻻﺻﻤﻌﻲ ﻭﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪ ﻭﺳﺎﺋﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﻭﺍﻟﻐﺮﻳﺐ ﻫﻲ ﺍﻟﻌﻮﺩ ﻳﺘﺒﺨﺮ ﺑﻪ
    Yang di maksud dengan istijmar di sini ialah memakai wewangian dan berbukhur “berdupa” dengannya. Lafadz istijmar itu diambil dari kalimat al-majmar yang bermakna al-bukhur “dupa” adapun Uluwah itu menurut Al Ashmu’i dan Abu Ubaid dan seluruh pakar bahasa arab bermakna kayu dupa yang di buat dupa.
    (Syarh Nawawi ala Muslim: 15/10. )
    Di tambah pula komentar oleh Imam Nawawi tentang hadits tersebut:
    ﻭﻳﺘﺎﻛﺪ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺑﻪ ﻟﻠﺮﺟﺎﻝ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﺍﻟﻌﻴﺪ ﻭﻋﻨﺪ ﺣﻀﻮﺭ ﻣﺠﺎﻣﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻣﺠﺎﻟﺲ ﺃﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ
    Dan sangat kuat kesunahan memakai wewangian (termasuk istijmar) bagi laki-laki pada hari jumat dan hari raya, dan saat menghadiri perkumpulan kaum muslimin dan majlis dzikir dan majlis ilmu.
    (Syarah Nawawi ala Muslim: 15/10)
    Membakar dupa saat majlis dzikir, atau majlis pengajian itu juga dicontohkan oleh Imam Malik RA, seperti yang dijelaskan dalam biografi Imam Malik yang ditulis di belakang kitab Tanwirul Hawalik Syarah Muwattha’ malik imam Suyuthi Juz 3 no 166, yang artinya sebagai berikut :
    “Mutrif berkata: ketika orang-orang mendatangi kediaman Imam Malik, maka mereka disambut oleh pelayan wanita beliau yang masih kecil dan berkata kepada mereka, “Imam Malik bertanya apakah anda semua mau bertanya tentang hadits atau masalah keagamaan?
    Jika mereka menjawab “masalah keagamaan” maka imam malik akan keluar kamar dan berfatwa, jika mereka menjawab “hadits” maka beliau mempersilahkan mereka untuk duduk, kemudian beliau mandi, memakai minyak wangi, memakai pakaian yang bagus, memakai sorban, dan beliau memakai selendang panjang di atas kepalanya. Kemudian di hadapan beliau di letakkan mimbar (dampar) dan setelah itu beliau keluar menemui mereka dengan khusu’ lalu di bakarlah dupa hingga selesai dari menyampaikan hadits Rasulullah SAW”.
    Tambahan dari kitab Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab juz 5, halaman 160
    ﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﺒﺨﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ ﺣﻴﻦ ﻳﻤﻮﺕ ﻻﻧﻪ ﺭﺑﻤﺎ ﻇﻬﺮ ﻣﻨﻪ ﺷﺊ ﻓﻴﻐﻠﺒﻪ ﺭﺍﺋﺤﺔ ﺍﻟﺒﺨﻮﺭ
    “Sahabat-sahabat kita (dari Imam Syafi’i) berkata: “Sesungguhnya disunnahkan membakar dupa di dekat mayyit karena terkadang ada sesuatu yang muncul maka bau kemenyan tersebut bisa mengalahkan menghalanginya.”

    SenimanNU #Kemenyan #Dupa #Bukhur #Wewangian #Ikhtilafiyah #Aswaja #Ahlussunnahwaljamaah #IslamNusantara #Nahdliyin