Penulis: Sorban Santri

  • KADERISASI ANSOR DENGAN DIROSAH KADER ULA DI NGORO

    KADERISASI ANSOR DENGAN DIROSAH KADER ULA DI NGORO

    Cyberaswaja.online | Ngoro. PIMPINAN ANAK CABANG (PAC) GP ANSOR NGORO, pertama kalinya melaksanakan DIROSAH KADER ULA angkatan ke dua, di Ponpes SABILILLAH desa Jedong Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. 

    Untuk Memperkuat pemahaman Ahlusunnah Waljamaah (ASWAJA) di kalangan anak muda NU, seiring Perkembangan zaman Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mojokerto memberikan intruksi kepada ketua GP ANSOR masing-masing kecamatan untuk mengirimkan kader-kader terbaiknya mengikuti DIROSAH KADER ULA. (24/01/2020)

    Foto:kiri Ketua PAC GP ANSOR NGORO, baju Putih; Bpk, DR, Didik Khusnul Yaqin,
    Foto:kiri Ketua PAC GP ANSOR NGORO, baju Putih; Bpk, DR, Didik Khusnul Yaqin.

    “Kegiatan pelaksanaan ini nantinya mampu Memunculkn da’i-da’i muda dari kader Rijalul Ansor, serta Memanfaatkan media sosial untuk berdakwa dengan model moderat untuk membentengi dari model dakwa Ekstrim-radikal, Memunculkan Tabib-Tabib muda dari kader Rijalul Ansor untuk pengobatan alternatif dan Ruqyah metode Tibbun Nabawi, serta Metode kajian Inteljen dan membentuk benteng Ediologi Aswaja NU dan NKRI”, Tegas Ahmad Surotin ketua PAC GP ANSOR Ngoro dua periode ini.

    Foto; Kanan, Gus Mualimin (ASNUTER PC NU), tengah; Ketua PC GP ANSOR, kiri; Santoso Pengurus Harian PC GP ANSOR
    Foto; Kanan Coklat, Gus Mualimin (ASNUTER PC NU), tengah; Gus ALi Ketua PC GP ANSOR, kiri; Santoso Pengurus Harian PC GP ANSOR
    Foto: Hijau: Ketua PC GP ANSOR, Putih; Ketua RIJALUL ANSOR PC GP ANSOR
    Foto: kiri Hijau: Ketua PC GP ANSOR Gus Ali Bersama Ketua RIJALUL ANSOR PC GP ANSOR Gus Lutfi Hakim (kanan Putih)

    Sebanyak 120 peserta ikut dalam kegiatan DIROSAH KADER ULA ini, perwakilan dari berbagai kecamatan seluruh kabupaten Mojokerto, akan menginap selama tiga hari dua malam, untuk menerima materi selama kegiatan berlangsung. 

    Foto: Kanan; Ketua PC GP ANSOR bersama DR. DIDIK KHUSNUL YAQIN (putih)
    Foto: Kanan; Ketua PC GP ANSOR bersama DR. DIDIK KHUSNUL YAQIN (putih kiri)

    Pada Kesempatan Selanjutnya sambutan Pimpinan Cabang “Alhamdulilah pada sore ini kita bisa bertemu ditempat yang penuh barokah ini, Kami perlu sampaikan bahwa pertama kali kami menjabat PC GP Ansor, dan pertama kali kami mengawali DTD banser juga disini, dan alhamdulillah pada tanggal 24 kita Adakan Dirosah Kader Ula angkatan ke-2 ini. Yang mana Dirosah Kader Ula merupakan Pendidikan bagi kader kader ansor, yang di dalamnya adalah dari kyai kyai muda, gus gus dari ponpes, karena mereka masih berdarah muda, darah yang disalurkan pada gerakan pemuda ansor, ingat Ansor hari ini adalah NU masa depan”. Tegas Ketua PC GP ANSOR, Gus Ali Moh.Nasikh. 

    FOTO: Kasatkorcab Banser bersama Jajarannya
    FOTO: Kasatkorcab Banser bersama Jajarannya

    Selama kegiatan, tidak terlepas dari Kawalan Banser sebagai Garda Terdepan Mejaga NKRI yang menurunkan semua Biro-Bironya yang ada di jajaran Satkorcab Banser kabupaten Mojokerto, agar kegiatan berjalan Aman lancar sesuai dengan Jadwal yang telah ditetapkan panitia. (gp/infokom)

  • NU dan Muhammadiyah Ibarat Bumi dan Matahari

    NU dan Muhammadiyah Ibarat Bumi dan Matahari

    Oleh Ahmad Tsauri

    wp.sorbansantri.com
    – Saya kenal orang yang kebaikannya, amal solihnya itu banyak sekali, banyak sekali masjid yang dibangun tapi tidak digelari tokoh seribu masjid, karena sedekah beliau juga bermiliar-miliar, tapi tidak juga digelari orang dermawan, karena membantu masyarakat dengan berbagai kebutuhan juga tak terhitung jumlahnya, tapi juga tidak dipuji jiwa sosialnya bagus, karena juga taat ibadah tapi belum mendengar orang menyebutnya ahli ibadah, karena juga tidak pernah menggunjing orang, tapi tidak dipuji dengan baik Budi. Saya menemukan banyak sekali orang seperti ini. Karena kebaikannya dahsyat, banyak ia tidak diidentifikasi oleh orang lain dengan salah satu atribut atau kerja sosialnya.
    Begitulah NU dan Muhammadiyah, ibarat matahari tidak lagi perlu dijelaskan bahwa ia bersinar, karena puluhan ribu pesantren dan sekolahnya, ribuah rumah sakit dan lembaga sosial lainnya tak terhitung.
    Ibarat matahari cukuplah bunga-bunga yang bermekaran, manusia hewan yang beranak pinak, ekosistem yang terus berjalan menunjukkan matahari itu memberi manfaat.
    Apa jadinya bumi tanpa matahari, seperti apa jadinya Indonesia tanpa NU dan Muhammadiyah. NU dan Muhammadiyah menyiapkan orang-orang yang menginisiasi sekaligus mengisi kemerdekaan baik di Eksekutif, maupun dilegislatif. Apa anda kira bung Karno dan Jenderal Sudirman itu anggota ormas gurem itu? Bukan beliau kader Muhammadiyah.
    Indonesia tanpa ormas bodong itu terbukti baik-baik saja, tapi terbukti tanpa kontribusi NU Muhammadiyah ini kemerdekaan nyaris tidak bisa diraih dan tidak bisa dipertahankan.
    Jadi maklumi saja kalau ada ormas abal-abal selalu disanjung karena foto mereka dilokasi bencana 10 tahun silam, mungkin kebaikannya hanya itu sementara keburukannya yang menyengsarakan dan melukai hati masyarakat tak terhitung.
    Di era seperti ini, semua kegiatan sosial NU-Muhamadiyah dan badan otonom dibawahnya, yang banyak itu, harus dipublikasikan terutama ditempat bencana, supaya simpatisan ormas piaraan Cendana itu sadar telah salah memilih pelabuhan dalam berorganisasi. (abi sorban)
  • PC GP Ansor Sidrap Membawa Logistik Bantuan Sulawesi Barat

    PC GP Ansor Sidrap Membawa Logistik Bantuan Sulawesi Barat

    wp.sorbansantri.com – Sahabat Relawan Denwatser GP Ansor Sulawesi Barat. Begitu ramah terhadap anak2 memberikan makanan sambil jongkok. Sahabat lainnya Membantu bagikan bantuan ke masyarakat Karangpuang Mamuju – Sulawesi Barat Membawa Logistik Bantuan.
    Banser dan Keluarga Besar NU Teluk Bintuni, Sumbawa bantuan dari Karangtaruna The Green Singgani Sigenti Desa Aigenti Kecamatan Tinombo Selatan Kab.Parigi Mauton Prop.Sulawesi Tengah, Bantuan Pc.Ansor Kab.Gowa dan FSN Kab.Gowa.
    Bantuan, Pc.Ansor Kab.Sidrap. membawa logistik dan 250 Paket Sembako untuk masyarakat Di pulau karangpuang Mamuju dengan Melibatkan personil sebanyak 22 orang.
    Dan menyisir 5 Dusun dari 11 Dusun Di Karangpuang dan menambatkan jangkar di 3 Dermaga.(Fapih Fa’qis Sha)
  • ISTIMEWANYA DIROSAH KADER ULA KE-2

    ISTIMEWANYA DIROSAH KADER ULA KE-2

    Cyberaswaja.online|Ngoro. Pengkaderan LMDS Rijalul Ansor yang terkemas dalam agenda Dirosah Kader Ula yang dimulai tanggal 24 Januari 2020 hingga saat ini berjalan lancar.
    Kondisi peserta nampak sehat dan antusias ketika mengikuti materi yang diberikan oleh semua intruktur.
    Sejauh ini hanya ada 3 orang peserta yang terserang flu karena menyesuaikan dengan cuaca dingin Pondok Pesantren Sabilillah yang berada di kaki Gunung Penanggungan ini.

    ketua panitia bersama biro infokom, biro balantas, biro bagana
    Foto: kanan kepala Biro Infokom (Choirul) ketua panitia (putih: Ki Narto), bersama biro, biro balantas (biru) dan biro bagana (orange)

    Hampir seluruh peserta Dirosah mengatakan bahwa baru kali ini mendapatkan materi-materi istimewa terkait pengetahuan aswaja an Nahdliyyah, tujuan organisasi, dan langkah kongkrit Rijalul Ansor ke depan. Pengetahuan dan pengalaman baru yang dirasakan oleh peserta ini memang masuk akal. Karena para intruktur Dirosah ini diambilkan langsung dari intruktur Nasional dan wilayah yang tentu mempunyai segudang pengalaman dalam menyampaikan materi pengkaderan, Di antaranya KH. Ma’ruf Khozin (Ketua ASNUTER Jawa Timur), Gus Mahfudz Hamid (Ketua PP Rijalul Ansor), Moh. Nailur Rohman (Ketua PW Rijalul Ansor Jawa Timur) dan Gus Muwafi (Kader Ansor Jatim dan DPRD Kabupaten Pasuruan).

    PENGURUS RIJALUL ANSOR
    Foto; PENGURUS RIJALUL ANSOR Cabang Mojokerto Bersama Wilayah Jawatimur

    Selain itu, pembekalan rohani juga diisi langsung oleh jajaran Kyai sepuh tingkat Nasional dan wilayah.
    KH. Ali Mas’adi (Wakil JATMAN pusat) dan KH. Azizi Hasbullah (Dewan Pakar LBMNU Pusat).
    Sore ini (Ahad, 26 Januari 2020) proses penutupan sekaligus baiat kader akan dilaksanakan oleh Pengurus Rijalul Ansor PW Jawa Timur.

    Foto; Pengurus Rijalul Ansor Cabang
    Foto; Pengurus Ponpes Sabilillah bersama Pengurus Rijalul Ansor Cabang Mojokero pengurus Wilayah Jawa Timur

    Ke depan diharapkan seluruh alumni Dirosah Kader Ula II mampu menjadi kader Ansor yang tangguh dalam keilmuan dan pergerakan demi menjaga tegaknya akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah an Nahdliyyah dan menjadi pelopor dalam perdamaian dan peradaban dunia. (Ki NartoPanitia Dirosah Kader Ula II)

    SORBANSANTRI.COM SORBANSANTRI.COM SORBANSANTRI.COM SORBANSANTRI.COM SORBANSANTRI.COM SORBANSANTRI.COM

  • BAKSOS BASADA pada Kaderisasi DIROSAH KADER ULA

    BAKSOS BASADA pada Kaderisasi DIROSAH KADER ULA

    Cyberaswaja.online | Ngoro. Kaderisasi DIROSAH KADER ULA PC GP ANSOR, yang digelar oleh PAC GP ANSOR Ngoro pertama kali ini, merupakan kehormatan sekaligus kebanggaan bagi Kader untuk membantu mensukseskan kegiatan tersebut. 

    BANSER HUSADA KABUPATEN MOJOKERTO
    FOTO: BANSER HUSADA KABUPATEN MOJOKERTO

    Berada di Lereng Gunung Penanggungan yang konon banyak situs situs peninggalan Kerajaan Mojopahit ini, berdiri Ponpes Sabilillah, tepatnya di dusun Watusari desa Wotanmasjedong kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto Jatim DIROSAH KADER ULA ini kemudian digelar. (24/01/2020)

    FOTO: SATKORCAB BANSER KABUPATEN MOJOKERTO
    FOTO: JAJARAN SATKORCAB BANSER KABUPATEN MOJOKERTO.

    Kasatkorcab Banser (kepala Satuan Kordinasi Cabang Barisan Ansor Serba Guna) Menerjunkan Semua Biro yang ada di struktural nya. diantaranya Biro INFOKOM, BASADA, BALANTAS, BAGANA turut menghadiri dalam agenda pembukaan tersebut.

    BAGANA KABUPATEN MOJOKERTO
    FOTO: Anggota BAGANA SATKORCAB BANSER MOJOKERTO
    FOTO: JAJARAN SATKORCAB BANSER PEMBUKAAN DIROSAH KADER ULA
    FOTO: JAJARAN SATKORCAB BANSER pada Pembukaan DIROSAH KADER ULA

    Baksos BASADA BANSER pada DIROSAH KADER ULA ini, membuat posko untuk mengawal selama kegiatan berlangsung. Dengan berbagai Skill dan kompetensi yang dimiliki BANSER HUSADA tampil untuk membantu pengobatan dalam hal medis maupun non medis. (gp/infokom)

  • Soal Ekstremisme dan Salah Paham Memaknai Jihad

    Soal Ekstremisme dan Salah Paham Memaknai Jihad

    InfokomBanserNU-Bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan, Sumatera Utara.Kejahatan bom bunuh diri yang terjadi di Markas Polres Kota Besar (Mapolrestabes) Medan, Sumatera Utara pada Rabu, 13 November 2019 yang lalu sekitar pukul 08.45 WIB kembali menghentak pandangan mata bangsa Indonesia. Tragedi tersebut menambah daftar panjang kasus terorisme di Indonesia. Kriminal yang dilakukan oleh kelompok ekstremis ini tidak terlepas dari pola pemahaman keagamaan dan ideologi ekstrem dalam memandang nash (Al-Qur’an dan Hadits) secara tekstual sehingga mereka mau meledakkan dirinya sendiri dan melukai serta membunuh orang lain demi jaminan surga dan bidadari menurut doktrin yang berkembang di kalangan jihadis-ekstrem tersebut. Disebut jihadis-ekstrem karena dengan doktrin jihadnya yang keliru, mereka rela menjadi ‘pengantin’ bom bunuh secara ekstrem sehingga biasa disebut para ekstremis.

    Ideologi mereka hanya satu: kekerasan. Karena tidak ada agama di dalam kekerasan sehingga agama yang mereka pahami hanya dijadikan alat legitimasi guna mengembangkan dan menarik pengikut untuk melakukan kejahatan serupa dengan dalih ketidakadilan, dan lain-lain. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran (1996) menyatakan bahwa kata jihad terambil dari kata jahd yang berarti letih/sukar. Jihad memang sulit dan menyebabkan keletihan. Namun demikian Quraish Shihab menegaskan bahwa jihad yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan tidak dibenarkan. Fitrah kemanusiaan di antaranya menjaga hak hidup seluruh manusia sehingga melakukan kekerasan, apalagi mengebom dirinya sendiri dengan melukai orang lain atas nama agama jelas jihad yang tidak bisa dibenarkan dalam ajaran agama mana pun.

    Kesalahpahaman tentang makna jihad itu diperparah juga melalui sekian banyak kitab, bahkan melalui terjemahan beberapa ayat Al-Qur’an. Misalnya kata qitâl tidak jarang mereka pahami dalam arti pembunuhan, padahal kata itu bermakna peperangan/kutukan, sikap tegas yang tidak selalu mengakibatkan pembunuhan. Kata anfusikum diartikan sebagai jiwa/nyawa, padahal ia berarti seluruh totalitas manusia dan kemanusiaan, yakni nyawa, atau fisik, ilmu, tenaga, pikiran, bahkan waktu karena semua hal itu tidak dapat dipisahkan dari totalitas manusia. Menurut Quraish Shihab dalam Pemaknaan Makna Jihad (2015) menjelaskan, para ekstremis dan radikalis memahami iman sebagai pembenaran hati atas apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. disertai dengan pengamalannya sehingga menurut mereka seseorang tidaklah dinilai beriman apabila tidak melaksanakan ajaran Islam secara baik dan benar. Mereka menilai bahwa kemusyrikan bukan sekadar keyakinan tentang berbilangnya Tuhan, tetapi juga yang mengakui keesaan-Nya tanpa mengamalkan syariat adalah seorang yang boleh dibunuh. Mereka mengumandangkan bahwa La hukma illâ lillâh.

    Semua pemerintahan yang tidak menetapkan hukum berdasar ketentuan Allah adalah Thagût (melampaui batas ajaran Islam) dan dinilai kafir, lagi harus diperangi. Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, Pemerintahannya pun mereka nilai Thagût/Tirani dan kafir. Mereka merujuk pada firman Allah: “Siapa yang tidak menetapkan sesuai dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir” (QS. al-Mâ’idah [5]: 44). Kekeliruan mereka menurut para pakar di bidang Al-Qur’an dan Hadits adalah memahami kata kafir dalam arti sempit, padahal Al-Qur’an menggunakan kata itu untuk berbagai makna, seperti “tidak bersyukur” (QS. Ibrâhîm [14]: 7) atau “berpecah belah” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 106). Makna kekufuran memang beraneka ragam dan bertingkat-tingkat sehingga pada akhirnya kekufuran dapat disimpulkan dalam arti melakukan kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai dan tujuan. Puncaknya adalah mengingkari wujud atau Keesaan Allah, dan inilah yang menjadikan seseorang dinilai keluar dari agama, itu pun tidak serta merta harus dibunuh.

    Melihat fenomena pemahaman makna jihad yang salah kaprah, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan perlunya memahami jihad secara kontekstual, bukan tekstual. Pada hakikatnya perintah untuk berperang sebagai salah satu makna jihad di dalam ayat Al-Qur’an, tidaklah dibutuhkan oleh Allah dan tidak juga oleh Rasul-Nya Muhammad. Karena Allah telah membela dan mendukung umat Islam ketika ia sendiri atau pun berdua. Namun, jika manusia mengetahui betapa banyak sisi kebajikan yang disiapkan oleh Allah bagi mereka yang berjihad dan taat kepada Allah, tentu umat Islam akan melaksanakan perintah tersebut. Hal ini jika ditinjau dari berbagai aspek duniawi dan ukhrawi sebagaimana dipahami dari bentuk nakirah atau indefinitif kata khoir atau kebajikan. Makna sebenar-benarnya jihad (haqqa jihadih) pada penjelasan di atas adalah bukan sekadar jihad.

    Seperti halnya ia diperintahkan untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa (haqqa tuqatih). Meski demikian, tidak berarti setiap Muslim wajib dengan pengertian fardhu‘ain untuk berperang setiap saat. Pengertian haqqa jihadih sangat luas, antara lain menurut pakar Tafsir Muqatil, beramal dan beribadah dengan sungguh-sungguh semata-mata karena Allah, dan menurut Abdullah Ibn al-Mubarak, berjihad melawan hawa nafsu. Jihad berarti sebuah upaya sungguh-sungguh yang dilakukan oleh seorang Muslim dalam melawan kejahatan dan kebatilan. Mulai dari yang terdapat dalam jiwa akibat bisikan dan godaan setan, sampai pada upaya memberantas kejahatan dan kemungkaran dalam masyarakat.

    Upaya tersebut dapat dilakukan, antara lain,

    pertama, melalui kerja hati berupa kebulatan tekad dan niat untuk berdakwah.

    Kedua, kerja lisan berupa argumentasi dan penjelasan tentang hakikat kebenaran ajaran Islam.

    Ketiga, kerja akal berupa perencanaan yang matang, dan kerja badan yang berupa perang atau lainnya.

    Arena jihad sendiri dalam Al-Qur’an amat luas. Pertama, bil maal dengan harta kekayaan yakni zakat, infak, sedekah, wakaf, maupun berbagai pengeluaran di jalan Allah. Jihad harta termasuk dengan memberikan nafkah bagi keluarga, menolong saat bencana, jihad menuntut ilmu, dan lain-lain. Kedua, bi anfasikum yakni dengan kekuatan pada diri seperti jihad lisan (memberikan nasihat atau petunjuk), mengajar, membuat tulisan bermanfaat, dan memberikan contoh yang baik. Paling sulit berjihad dengan memberikan contoh baik kepada lingkungan karena kebesaran Islam kerap ditutupi kaum Muslim sendiri. Ada perkataan terkenal dari Muhammad Abduh yang menyatakan, “al-Islaam mahjuubun bil muslimiin” (kebesaran Islam tertutup perilaku kaum Muslimin). Perilaku kaum Muslimin yang dimaksud di sini ialah tindakan kekerasan atau tindakan tak terpuji yang kerap memunculkan stigma negatif bagi agama Islam itu sendiri. Wallahu a’lam bisshawab

  • SILATURRAHMI IPNU IPPNU GILING BELAJAR TENTANG AKHLAQ

    SILATURRAHMI IPNU IPPNU GILING BELAJAR TENTANG AKHLAQ

    wp.sorbansantri.com – Ahad,24 Januari 2021, Alhamdulillah pada kesempatan kali ini bisa bersilaturahmi kepada rekan rekanita PR IPNU IPPNU Desa Giling. Terimakasih kehadiran dari rekan-rekanita atas kehadirannya. Semoga tetap istiqomah dalam menjalankan semua kegiatan,aminnn.
    SORBANSANTRI.COM
    Dan kesempatan pertemuan ini kita dihadiri oleh pemateri yang luar biasa. Oleh Bpk. Ngatwi sekaligus demisioner IPNU Kec Gunungwungkal. Tak lupa dari sebuah pertemuan pasti akan ada sebuah kesimpulan didalam forum tsb.
    Nah kali ini kita membahas tentang akhlaq. Dimana ilmu tanpa akhlaq seperti api tanpa kayu bakar,dan akhlaq tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh. Karena sesukses apapun dia sekaya apapun dia dari nasab apapun dia jika tanpa akhlaq tidak ada apa apanya. Dan tidak ada bedanya dengan orang bodoh tanpa ilmu tanpa akhlaq.
    Buat rekan rekanita semua tempat itu sekolah dan semua orang itu guru.
    Tetap jaga kesehatan,jaga jarak,dan cuci tangan dan pakai masker
    Stay save rekan dan rekanita✨
    Alhamdulillah bismillah istiqomah (ipnu ippnu giling)
  • NU dan Masyarakat Ibarat Santan

    NU dan Masyarakat Ibarat Santan

    oleh : Hamdan Suhaemi

    wp.sorbansantri.com – Riwayat sentimen atas NU dan ulamanya adalah riwayat panjang yang jika kita kembali ke masa lalu, sentimen, benci dan menghina NU tersebut cukup sadis, provokatif dan cenderung agitatif. Tak ada ceritanya peci KH. Idham Chalid tertembus peluru jika bukan bencinya pada NU, untung masih selamat. Peluru itu ditembakkan oleh anggota TII ( Tentara Islam Indonesia ), kesatuan dari DI ( Darul Islam ) pimpinan M. Kartosuwiryo, ketika sang Ketum NU tersebut turun dari kreta api dari Surabaya. Dasar kebencian itu tentunya disebabkan Kiai Idham menolak dukungan atas tegaknya Darul Islam.

    Lain, Kiai Idham lain pula KH. Saefudin Zuhri yang dibenci habis-habisan oleh elit PKI hanya karena pasang badan membela HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam ), karena hendak dibubarkan oleh Presiden Soekarno atas hasutan dan liciknya Polit Biro PKI. Padahal KH. Saefudin Zuhri, bukan tokoh HMI bukan pula pendiri HMI, beliau Istiqomah mengembangkan GP Ansor sejak zaman revolusi 1945.

    Bahkan KH. Wahab Chasbullah disebut penghianat, penjilat atau oportunis setelah Dekrit 5 Juli 1959 dikeluarkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno, dijadikan bulan-bulan oleh tokoh Masyumi karena Kiai Wahab dan NU memilih bergabung dalam koalisi Nasakom ( Nasionalis Agamis Komunis ), padahal KH. Wahab Chasbullah dan KH. Idham Chalid berdebat dengan Aidit dan elit PKI untuk mempertahankan dan membela Masyumi, sebelum Masyumi dibubarkan.

    Era 1960-an era dimana PKI sangat powerfull atas negara. Strategi PKI dalam upaya menuju kudeta hampir sempurna. Tak kurang kiai – kiai NU baik yang ada di pemerintahan maupun di DPR GR, terutama sekali KH. Subhan ZE terus diburu, dimatikan langkahnya, diadudomba. Korban kiai-kiai NU, dan Kader Ansor banyak yang gugur akibat kesadisan PKI. Meski demikian dengan konsistensi KH. Idham Chalid dalam menahkodai NU diramu secara cerdas, lentur, cemerlang dan heroik akhirnya NU dan Banom-nya dapat menumpas dan memberangus PKI dan underbouw-nya hingga ke akar-akarnya, bersama RPKAD dibawah Kolonel Sawo Eddhie Wibowo.

    Masuk era Orde Baru, nasib NU seperti jasad berjalan tapi tanpa kepala. Padahal NU punya jasa besar atas pemberantasan PKI dan antek-anteknya, namun Jenderal Soeharto lebih memilih mengamputasi peran NU relasinya dengan negara selama hampir 32 tahun, itu karena Jenderal Soeharto benci kepada Subhan ZE sebagai rival dalam suksesi kepemimpinan nasional pasca Presiden Soekarno.

    Kekuatan NU

    NU, didirikan oleh kaum ulama hasil restu dari Syaikhona Kholil Bangkalan Madura, dan restu Wali Songo ( secara lahiriah memang tiada ). Hingga NU dipimpin langsung oleh ulama besar yang pakar hadits, musnid kutub al-sittah, pengasuh pesantren Tebuireng yakni Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Kekuatan NU adalah spiritualitas agama dan tradisi sanad ilmu agama. Yang tak pernah bisa dimiliki oleh kelompok atau organisasi manapun.

    NU dan Masyarakat

    Amaliyah kita, seperti doa qunut di sholat subuh, perayaan maulid Rosulullah صلعم , tahlilan, rajaban, kirim doa, istigosah, selametan, semaan, manaqiban, marhabanan, baca syekh, rebo wekasan, dan ziarah kubur itu semua masyarakat memperaktikan dari dulu hingga sekarang, dan itu adalah amaliyah nahdliyyah ( amal ibadah warga Nahdliyyin.

    Meskipun, masyarakat tidak mengaku NU apakah aktif di Jam’iyyah NU sebagai pengurus maupun tidak, tetap amaliyah nya adalah amaliyah yang biasa diajarkan oleh ulama NU, bahkan sudah menjadi tradisi kuat sejak Wali Songo menyebarkan Islam di tanah Jawa secara moderat, santun, hikmah dan halus dibarengi Budi pekerti sufistik, hingga sampai sekarang.

    NU dan masyarakat ibarat air santan, hasil perasan kelapa dan air. Tidak mungkin dipisahkan antara air dan ampas kelapa ketika sudah jadi air santan. Itu adalah gambaran tentang NU dan masyarakat Indonesia umumnya.

    Jika, ada yang bilang NU jauh dengan masyarakat. Tentunya orang tersebut tidak tahu sejarah, tidak paham NU, tidak ta’dhim pada ulama NU, Bahksn sudah menciderai perasaan para ulama yang ikhlas dan gigih bersama masyarakat, hingga 24 jam hidupnya di tengah masyarakat dan selalu mengayomi masyarakat. Begitu teganya bilang NU jauh dari masyarkat, dan terlalu congkak membandingkan dengan FPI yang sudah dibubarkan itu.

    Membandingkan NU dengan ormas lainya ibarat membandingkan sosok ayah dengan anak balita. Jadi jauh sekali, jangankan sama, dekat pun tidak.

    Sekali lagi NU itu sudah lama ada di tengah masyarakat, apakah ia sebagai personal dari kiai-kiai NU, maupun secara keorganisasian. NU dan ulamanya rutin menggelar pengajian-pengajian, dzikir bersama, istigosah, dan perayaan hari besar Islam lainnya.

    Jadi, tidak benar NU jauh dari masyarkat. Justru NU lah ormas yang paling dekat dan selalu bersama masyarakat.
    Hanya yang dengki pada NU, benci NU, dan memusuhi NU akan binasa dan hancur.

    Gang Vinus III, 19-1-2021
    Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
    Ketua PW Rijalul Ansor Banten
    (ansor palu)

  • ALASAN INGGRIS MELINDUNGI HT, IM DAN AHMADIYAH

    ALASAN INGGRIS MELINDUNGI HT, IM DAN AHMADIYAH

    Oleh Ayik Heriansyah

    wp.sorbansantri.com – Tidak banyak yang tahu kalau pusat gerakan Hizbut Tahrir dunia ada di negara Inggris, negara yang jelas tidak memakai sistem khilafah. Selain HT, pusat pergerakan Ikhwanul Muslimin (IM) dan Ahmadiyah juga ada di London, Inggris. Mengapa?

    Alasan-alasan Inggris melindungi gerakan-gerakan Islam yang di negeri asalnya ditolak habis, Inggris punya kepentingan politik global untuk membuat gerakan-gerakan Islam yang mereka lindungi sebagai kekuatan penyeimbang, oposisi, atau pengacau bagi dominasi dan kepentingan rival utamanya, yakni Amerika.

    Inggris saudara tua Amerika yang pernah menjadi negara Super Power. Inggris menyimpan ambisi untuk mengembalikan supremasi Pax Britanica. Namun terhalang oleh kekuatan Amerika.

    Tapi Inggris tidak menunjukkan secara terbuka rivalitasnya kepada Amerika. Karena bagaimana pun, Amerika adalah saudara se-bangsa dan sekutu yang baik.

    Inggris memandang gerakan/organisasi Islam tersebut bisa dijadikan proxi untuk menghantam negara lawan di negeri-negeri muslim dengan kompensasi mengizinkan London menjadi pusat dari gerakan-gerakan tersebut. (abi sorban)

  • MUSLIM PRIBUMI TAPI BUKAN WNI

    MUSLIM PRIBUMI TAPI BUKAN WNI

    Oleh Ayik Heriansyah

    wp.sorbansantri.com – Kebalikan dari materi bahtsul masa’il Munas NU 2019 di Banjar yang membahas non-Muslim bukan kafir, tapi warga negara, saya sudah mempermasalahkan status kewarganegaraan kaum Muslim radikal takfiri di beberapa tulisan saya “Dosakah Menjadi Indonesia” (dutaislam.com, 5/8/2017) dan “Golput Takfiri” (ltnnujabar.or.id, 16/1/2019). Momen di setiap forum yang saya isi tentang HTI, saya sampaikan ke audiens persoalan status syar’i kewarganegaraan anggota HTI.

    Berdasarkan pengalaman pribadi waktu menjadi pengurus HTI, saya dan teman-teman secara psikologis ruhiyan wa bathinan tidak menganggap Indonesia sebagai negara kami. Kami punya negara sendiri yaitu Khilafah yang sebentar lagi akan berdiri. Kami punya konstitusi sendiri. Kami punya pemimpin sendiri yaitu Amir Hizbut Tahrir. Yang ketaatan, kepercayaan tsiqah dan loyalitas kami berikan.

    [su_youtube url=”https://youtu.be/Bmdf6GAfbzc”]

    Suasana batin yang sama dialami juga oleh pengikut al-Qaeda, NII dan lSIS. Ketiga kelompok radikal takfiri ini juga mempunya negara dan pemimpinnya sendiri. ISIS dan NII mengklaim telah punya negara. Sedangkan al-Qaeda masih dalam tahap berjuang. Satu hal yang sama dari kelompok-kelompok radikal takfiri ini, mereka sama sekali tidak mengakui NKRI beserta seluruh perangkat pemerintahannya sebagai negara dan pemerintah mereka.

    Bahkan mereka berjuang menggulingkan pemerintah lalu mengganti NKRI menjadi negara seperti yang mereka inginkan. Mereka sama sekali tidak mau memberi loyalitas kepada NKRI. Mereka Muslim dan pribumi. Lahir, tumbuh besar, sekolah, kuliah, berkeluarga dan mencari nafkah di sini akan tetapi mereka bukan warga negara Indonesia.

    Mengapa demikian, karena status kewarganegaraan berbeda dengan status keagamaan. Status keagamaan ditentukan oleh akidah yang diyakini dan syariah yang dianut. Status keagamaan sangat pribadi dan berdimensi ruhiyah, sehingga tidak terikat ruang dan waktu. Status keagamaan berkonsekuensi pada aturan-aturan agama (ibadah, akhlak dan muamalah). Status keagamaan tidak dipengaruhi oleh negara dan pemerintahan. Murni hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

    Sedangkan status kewarganegaraan tidak berhubungan dengan agama seseorang. Ini status politik yang ditentukan oleh dua hal: tempat tinggal muqimah yang digunakan untuk menetap dan loyalitas wala’ kepada negara dan pemerintah. Status kewarganegaraan terkait hak dan kewajiban warga terhadap negaranya. Status ini banyak berhubungan dengan kehidupan seseorang di ruang publik. Memisahkan status agama dan status kewarganegaraan penting, karena dua hal ini berbeda meskipun tidak bertentangan.

    Forum bahtsul masa’il NU kembali menunjukkan kelasnya sebagai forum ilmiah yang bermutu tinggi di Munas Banjar yang baru usai. Setelah membahas status Indonesia sebagai darul Islam di Muktamar Banjarmasin 1936, 9 tahun sebelum Indonesia merdeka, di Munas Cianjur 1954 NU mengukuhkan pemimpin Indonesia sebagai waliyul amri dharuri bi syaukah di tengah polemik tentang DI/TII dan Imamul A’zham, NU di Munas 1983 menerima Pancasila sebagai asas tunggal, di Munas 2019 NU menyegarkan kembali pemikiran umat Islam dengan melontarkan ide non-Muslim bukan kafir, mereka warga negara.

    Pembahasan non-Muslim jangan disebut kafir karena mereka warga negara merupakan ide cerdas dari pemikiran jernih para kiai NU dalam memahami fakta non-Nuslim dalam sejarah NKRI, fakta fiqih siyasah klasik serta trend radikalisasi makna konsep-konsep Islam akibat maraknya gerakan radikalisme.

    Radikalisme sedikit demi sedikit berhasil menggeser makna konsep-konsep Islam dari tempat asalnya. Oleh para kiai NU, makna-makna tersebut mau dikembalikan ke tempat asalnya secara tepat, sehingga tidak menimbulkan kekacauan ilmu pengetahuan Islam mulai dari lapis epistemis sampai ke tataran praktis.

    Perlu diingat, kekacauan persepsi umat Islam terhadap konsep-konsep dasar agama mereka membawa implikasi kepada kekacauan pemikiran umat dalam merespon problematika mereka kemudian berujung kepada kekacauan amaliah mereka. Pengkategorian negara dan warga negara menurut fiqih siyasah klasik tidak akurat jika digunakan untuk fakta Indonesia. Indonesia didirikan oleh bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan agama.

    Indonesia bukan tanah khorojiah yang pernah ditaklukkan oleh khilafah Islam. Indonesia juga bukan lahir dari gerakan separatisme dari khilafah layak negara-negara Arab modern. Umat Islam Nusantara memeluk Islam secara sukarela, sehingga status tanah Indonesia adalah tanah ‘usyriyah tanah yang tetap dimiliki pribumi sampai hari kiamat, baik Muslim maupun non-Muslim. Status tanah ‘usyriyah yang sama seperti jazirah Arab.

    Sebab itu Indonesia darul Islam, tapi bukan daulah Islamiyah. Negara-negara lain tidak bisa disebut darul harb sepenuhnya. Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Muslim maupun non-Muslim. Indonesia terikat perjanjian damai dengan negara-negara tersebut. Jadi sangat tepat kiranya NU mencetus satu paradigma baru tentang negara dan kewarganegaraan. Sangat dimengerti jika memancing pro kontra di tengah masyarakat khususnya ulama dan tokoh umat, karena mereka masih memaknai kata kafir dalam perspektif aqidah teologi.

    Padahal NU membahasnya dalam konteks fiqih siyasah. Salah besar komentar beberapa tokoh yang mengatakan NU mau mengamandemen al-Qur’an. Yang dilakukan NU justru ingin mengembalikan makna kata ‘kafir’ ke tempat asalnya yakni akidah setelah sempat digeser oleh kaum radikal menjadi bermakna politis.

    Inti dari ide NU tersebut adalah jangan mengkafirkan warga negara bukan Muslim, karena sesama warga negara semua orang berkedudukan sama terlepas dari agama yang dianutnya. Islam memandang kewarganegaraan ditentukan oleh loyalitas wala’ seseorang kepada negara dan pemerintah bukan oleh akidah yang diyakininya.

    Piagam Madinah yang dianggap konstitusi negara Islam pertama, disebutkan Rasulullah saw menggunakan kata “Yahudi” bukan kata “kafir” untuk suku-suku Yahudi di sana.

    Di kemudian hari suku-suku Yahudi tersebut diperangi, karena mereka melepas loyalitas sebagai warga negara dengan cara berkhianat dan bersekongkol untuk menghancurkan negara Medinah. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, kaum Khawarij hilang hak-hak politik mereka sebagai warga negara setelah mereka melepas loyalitas mereka terhadap khalifah dengan cara memberontak.

    Terakhir, kita harus bersabar menghadapi nyinyiran pihak-pihak yang salah menempatkan kata ‘kafir” utamanya kaum radikal. Bagi mereka jangankan non-Muslim, Muslim pun mereka kafirkan. Harap maklum. (abi sorban)