
Jasadnya masih segar saat dibongkar
Pertempuran besar terjadi di sekitar jembatan Ngembeh Kecamatan Dlanggu. Pertarungan terbuka antara para perjuangan dengan serdadu Belanda itu menimbulkan korban besar dari kedua belah pihak. Diantara korban itu terdapat dua orang syuhada, Ahmad Qosim dan Madjid Asmara. Mereka gugur sebagai Kusuma Bangsa tanpa penanda.
Selama meneliti masa perjuangan kemerdekaan di Mojokerto, banyak tempat sudah terdatangi. Lokasi dimana pernah terjadi pertempuran mempertahankan kemerdekaan itu acap kali diberi tanda atau monumen. Tugu dan bangunan itu dimaksud untuk pengingat bahwa tempat itu memiliki riwayat yang harus tetap diingat. Sebagian besar monumen itu ada di wilayah selatan Mojokerto, tempat dimana pernah dibentuk pasukan Komando Hayam Wuruk pada akhir tahun 1948.
Ada monumen Gumeng yang dibuat untuk mengenang gugurnya Kapten Soenarjo dari Batalyon Bambang Yuwono. Monumen Jatidukuh yang dipersembahkan bagi gugurnya Kapten Hartono. Monumen Padusan dibangun untuk mengingat keberanian Kapten Soemadi. Monumen Kepuh Arum yang dibuat untuk Batalyon Tjipto. Dan beberapa monumen lainnya.
Dalam pasukan Komando Hayam Wuruk yang dipimpin Mayor Pamoe Rahardjo intinya ada pada 4 Batalyon. Batalyon Bambang Yuwono (BY), Batalyon Tjipto (T), Batalyon Mansyur Solikhi (M) dan Batalyon Isa Idris (I). Tiga Batalyon pertama merupakan pasukan tempur dan satu batalyon, Batalyon I, adalah pasukan teritorial. Belakangan muncul bantuan dari Batalyon Moenasir yang menggantikan posisi Batalyon I yang tidak begitu aktif di Mojokerto. Isa Idris memilih berkonsentrasi di perbatasan Mojokerto – Jombang.
Setelah berhasil menguasai wilayah Mojokerto selatan, pasukan Hayam Wuruk mendapat tekanan dari lawan. Mereka terkepung di barat Pesanggrahan. Dari Pugeran hingga Dlanggu berjajar tank Belanda dan dari Pacet serta Mojosari pasukan infantri menjepit posisi para pejuang.
Pada rapat tanggal 11 Malam di sebuah mushola di selatan Mojosari, Mayor Pamoe Rahardjo memutuskan pasukannya untuk mundur ke daerah pegunungan Anjasmoro di selatan atau masuk kembali ke Trowulan. Daerah itu masih dalam kontrol kekuatan pejuang. Masing-masing Batalyon diperintahkan untuk mencari jalan menerobos kepungan lawan.
Pagi tanggal 12 Pebruari, pecah pertempuran terbuka. Pertempuran yang menjurus satu lawan satu seperti pada pertempuran Surabaya. Pertempuran yang sudah jarang terjadi setelah penerapan taktik gerilya. Seluruh Batalyon memang berhasil lolos dari kepungan itu, namun banyak anggotanya yang gugur dalam pertarungan. Tidak tercatat berapa besar korban, tetapi informasi menunjuk pada angka lebih dari 1000 nyawa melayang.
Diantara korban itu terdapat nama Mayor Madjid Asmara, kepala staf Batalyon M. Ada pula komandan kompi IV Batalyon M, Kapten Ahmad Qosim yang lebih sering dipanggil Mat Yatim. Mereka merupakan alumni pendidikan Hizbullah di Cibarusa. Kamp pelatihan yang dididik langsung oleh Kapten Yanagawa pada awal tahun 1945. Madjid Asmara mewakili Kabupaten Gresik dan Mat Yatim berangkat atas nama Mojokerto. Mat Yatim dikenal keberaniannya saat menghadapi pasukan Jangkar Merah atau pasukan Marinir Belanda dalam pertempuran Kembangsore Pacet pada tanggal 1 Januari 1949.
Mat Yatim gugur dengan tubuh tertembus peluru di desa Sawo. Jenazahnya kemudian dimakamkan oleh rakyat desa tersebut setelah pertempuran berakhir. Madjid Asmara tertembak dan coba diselamatkan oleh kawan-kawannya. Upaya penyelamatan perwira Batalyon itu gagal karena Madjid meninggal karena kehilangan banyak darah di dekat jembatan Ngembeh.
Tepat setahun kemudian, 12 Pebruari 1950, makam Mat Yatim dibongkar dan jenazahnya dipindahkan ke halaman kecamatan Kutorejo. Anehnya, jenazah itu masih utuh dan jelas terlihat lobang peluru di badannya. Demikian pula dengan pakaian yang dikenakan tidak rusak sama sekali, sama seperti saat dia pertama dikebumikan. Peti jenazah yang disiapkan menjadi sesak karena dikira jenazahnya akan menyusut. Ternyata jasad syuhada itu tidak mengalami perubahan sama sekali. Subhanallah.
Makam Kapten Mat Yatim diketahui berada di TMP Gajah Mada Mojokerto. Kondisinya tidak terawat, seperti tidak pernah ada yang mengunjunginya. Hal itu mungkin dikarenakan tidak ada keluarga yang mengunjunginya sebab dia gugur sebelum berkeluarga. Sedangkan makam Madjid Asmara entah dimana. Dalam buku daftar makam di TMP tidak terdapat nama Madjid Asmara.
Madjid Asmara dan Achmad Qosim adalah seorang syuhada yang merelakan jiwanya demi tegaknya Indonesia. Pertempuran di selatan Mojosari menjadi pertarungan sengit yang menelan banyak korban. Tentu jumlahnya lebih besar dibanding dengan peristiwa Gumeng dan penyergapan di Jatidukuh. Yang gugur juga terdapat perwira berpangkat Mayor. Entah kenapa pemerintah tidak membuatkan monumen penanda.
Semoga catatan kecil ini menjadi pengingat bagi generasi nanti. Mengingat syuhada yang terlupa.
Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq












Sebuah jalan yang membentang dari pasar Dlanggu hingga ke pertigaan Pesanggrahan diberi nama Jalan Mayjen Soemadi. Siapakah dia hingga namanya diabadikan seperti seorang pahlawan ?Menurut informasi, Soemadi adalah pejuang yang lahir di wilayah Kutorejo. Rumah tempat kelahirannya masih ada dan terjaga hingga saat ini. Selain rumah dan nama jalan yang dikaitkan dengannya, beberapa monumen juga dibuat untuk mengenang perjuangannya. Salah satu monumen itu dinamakan Monumen Kompi Macan Putih yang terbuat dari batu hitam di barat Kutorejo.Nama Soemadi mulai dikenal ketika terjadi restrukturisasi TNI pada tahun 1948. Kompi Soemadi tergabung dalam Batalyon Soenandar yang bermarkas di Kediri. Pada waktu agresi militer Belanda ke-2, Kompi Soemadi ditugaskan menjaga PLTA di Mendalan Kasembon. Dia diperintahkan untuk menghancurkan instalasi listrik terbesar di Jawa Timur tersebut jika tidak bisa dipertahankan dari serangan musuh.Tanggal 21 Desember 1948 Belanda menyerang Mendalan. Sesuai dengan intruksi, pasukan Soemadi menyalakan 10 bom yang total berkekuatan 250 kg. Bom itu memang tidak bisa menghancurkan keseluruhan, tetapi akibat ledakan itu Belanda tidak bisa menguasai Mendalan secara utuh. Empat hari kemudian, tanggal 25 Desember 1949 Kompi Soemadi dan Kompi Mistar mengadakan serangan pada pasukan Belanda yang menjaga mendalan. Pertempuran sengit terjadi antara pejuang dengan pasukan Gajah Merah yang dipimpin Kapten Van De Vries. Serangan itu tidak berhasil merebut Mendalan tetapi mampu menggoyahkan kedudukan lawan. Pasukan tambahan kemudian dikirim oleh Belanda lewat udara. Belanda memperkuat pertahanannya di Mendalan.Sejak itu, kompi Soemadi yang dikenal dengan sebutan Macan Putih sering mengganggu musuhnya. Untuk mengakhiri gangguan itu maka dilakukan operasi militer. Pasukan dengan peralatan tempur tank dan panzer menjepit dari arah Pare, Ngoro dan Kandangan. Letda Moestadjab, komandan peleton andalan Kompi Soemadi gugur dalam peristiwa itu. Dan akhirnya Kompi Soemadi harus mundur dari Mendalan. Arah gerak mundur menuju ke Pacet guna memperkuat pasukan Komando Hayam Wuruk yang berusaha masuk ke Surabaya.Kompi Soemadi sampai ke Desa Padusan dan bermarkas sementara di desa tersebut. Esok harinya pasukan itu sudah menyerang pos Belanda di desa Sajen. Serangan yang menyebabkan beberapa serdadu musuh meninggal. Belanda membalas dengan serangan udara ke Padusan. Bom dijatuhkan dan peluru mitralyur ditembakkan dari pesawat P-51 Mustang. Serma Fakih gugur dan di makamkan di kuburan desa Padusan.Kompi Soemadi kemudian bergerak keluar dari Padusan untuk menghindari serangan susulan. Sampai di pertigaan Pacet, dihadang oleh musuh hingga terjadi tembak menembak di depan SD Pacet. Kompi Soemadi berhasil lolos ke Claket dan selanjutnya bergabung dengan Pasukan Komando Hayam Wuruk di Dlanggu. Kehadiran kompi Soemadi menambah kekuatan pasukan gabungan yang dipimpin oleh Mayor Pamoe Rahardjo tersebut.Pada akhirnya sejarah mencatat Pasukan Komando Hayam Wuruk harus menghadapi serangan besar-besaran. Korban berjatuhan pada kedua belah pihak. Bahkan rakyat sipil juga dikorbankan oleh Belanda sebagai tameng hidup dalam pertempuran sehari semalam pada tanggal 12 Pebruari 1949 itu. Kompi Soemadi kembali lolos dari sergapan dengan menerobos pertahanan musuh di sisi selatan. Kapten Soemadi memimpin anak buahnya kembali masuk ke wilayah Kediri dengan melintas hutan gunung Anjasmoro.Setelah kemerdekaan, Soemadi tetap berkarir di dunia militer. Dia pernah menjabat sebagai Komandan Korem 083 DSJ Malang. Sempat menjadi Panglima Kodam Mulawarman ketika terjadi operasi militer menumpas Gerakan Komunis Kalimantan Utara. Soemadi mengakhiri karirnya dengan menyandang pangkat Mayor Jendral. Tidak berlebihan jika namanya diabadikan di daerah kelahirannya sebagai nama jalan. Soemadi menjadi pejuang asli Mojokerto yang berhasil meniti jenjang hingga perwira tinggi.Sumber: Serpihan Catatan Ayuhanafiq




