Kategori: Opini dan Analisis

Artikel opini, analisis mendalam, dan editorial tentang berbagai topik yang relevan.

  • Syekh Sudais: Islam Agama Toleransi dan Kasih Sayang

    Syekh Sudais: Islam Agama Toleransi dan Kasih Sayang

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI-  Kepala Presidensi Umum untuk Urusan Dua Masjid Suci, Syekh Abdurrahman As-Sudais mengatakan Islam bersih dari label tuduhan terorisme.

    “Karena Islam adalah agama toleransi, kasih sayang dan merapatkan antara satu sama lain,” ujar Sheikh Sudais dalam mimbar Jumat (30/10), Masjidil Haram Makkah, Arab Saudi.

    Tidak ada pada Islam, lanjut dia, tindakan terorisme atau radikalisme atau sabotase atau ejekan atau olokan atau membedakan antara nabi-nabi dan rasul-rasul Allah SWT.

    Syekh Sudais juga menyerukan agar menahan emosi, provokasi, maupun berbagai aksi serta tindakan. Tindakan lalim tersebut tidak akan dapat menyentuh sedikit pun kedudukan para nabi dan risalah. “Allah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 67, dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia.),” ujar Syekh Sudais.

    Presiden Macron pada 2 Oktober 2020 menyampaikan pidato di hadapan anggota dewan, kepala daerah, dan perwakilan kelompok masyarakat sipil, terkait pentingnya mempertahankan nilai-nilai mendasar di Prancis. Dia turut menyampaikan beberapa pernyataan terkait Islam dan radikalisme.

    Berselang beberapa pekan kemudian dan setelah kematian Samuel Paty, seorang guru di Prancis, Presiden Macron kembali menegaskan pemerintah bersama rakyat Prancis akan terus mempertahankan nilai-nilai kebebasan yang jadi dasar terbentuknya republik.

    Lewat pidatonya yang disampaikan di Les Mureaux, Macron menyebut ancaman masyarakat Prancis adalah “Islam separatis”.

    Istilah itu, menurut Macron, merujuk pada sekelompok penganut Islam ekstremis/fanatik yang “melenceng” dari nilai-nilai republik. (abi sorban)

    sumber

  • Mengaji Kepada Kiai Fuad Jazuli, Ploso

    Mengaji Kepada Kiai Fuad Jazuli, Ploso

    SORBANSANTRI.COM
    Foto KH Fuad Jazuli
    SORBAN SANTRI- Sudah menjadi kebiasaan saya setiap Hari Santri menulis sekilas catatan saya berguru kepada para kiai di Ploso. Periode pertama menulis tentang KH Nurul Huda Jazuli dan kedua tentang KH Zainuddin Jazuli. ابقاهما الله بالسلامة والعافية.
    Tahun ini tentu giliran adik beliau berdua, KH Fuad Jazuli. Tulisan kali ini berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Saat menulis pun mata saya penuh air mata, di leher terasa berat menahan tangis. Sebab hari ini bersamaan dengan 7 hari wafat beliau namun saya belum bisa ziarah dan takziah ke Pondok Ploso, Kediri.
    Saya menjadi santri di Ploso sejak 1994. Saat itu saya menjumpai para kiai sedang tinggi-tingginya semangat mengaji disertai kesehatan yang prima. Jarang kami temukan Kiai Zainuddin Jazuli libur ngaji Taqrib sore hari. Bisa dihitung dalam setahun atau nyaris tidak ada liburnya Kiai Nurul Huda Jazuli dari ngaji Sahih Bukhari di sore hari dan Tafsir Jalalain setelah Maghrib.
    Kecuali saat Yai Zainuddin melaksanakan ibadah haji maka lebih dalam 1 bulan pengajian beliau digantikan sementara oleh adik beliau, Yai Fuad Allahu yarhamhu. Di situlah pertama kali saya mengikuti pengajian beliau. Kalau sowan kepada beliau sudah diantar oleh Abah saya saat pertama kali mondok.
    Bagi para santri pemula seperti saya terasa cocok ngaji kepada Yai Fuad, cara bacanya pelan, ada nada khas, memiliki retorika, kadang lafaz diulang lagi, setelah diberi penjelasan beliau bertanya: “Mpun tam (selesai), Gus?”, baru beliau melanjutkan bacaan berikutnya.
    Pada sebuah kesempatan saat beliau ngaos, dengan bahasa Jawa beliau dawuh: “Ngaji Fathul Qarib niki luwih gampang timbangan maen skak. Menawi skak tasih mikir, Gus. Moco Fathul Qarib mpun boten perlu mikir”. Artinya: “Ngaji kitab Fathul Qarib ini lebih mudah dari pada catur. Kalau catur masih perlu mikir berat. Kalau baca kitab Fathul Qarib tidak perlu mikir”, tentu maksud beliau adalah motivasi agar kita rajin belajar dan membiasakan membaca kitab.
    Sayangnya saya tidak bisa mengaji lebih banyak kepada beliau kecuali Ramadhan, karena saya keburu boyong pada 2002. Dan Yai Fuad ini menggantikan Yai Zainuddin mengaji Fathul Qarib setelah Yai Zainuddin mencapai usia uzur dalam membaca kitab, dan alhamdulilah hingga saat ini beliau dikaruniai panjang umur. (ABI SORBAN)
  • SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK SOESILO BAMBANG YUDHOYONO

    SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK SOESILO BAMBANG YUDHOYONO

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI – Mantan kader partai Demokrat mengirim surat terbuka melalui media sosial, berikut Surat yang beredar dan sudah banyak dibagikan di media sosial Facebook atas nama Tito Gtsu.
    Kepada Yth
    Bp. Jend. (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, M.A., GCB., AC
    Presiden Republik Indonesia Ke – 6
    Di Puri Cikeas.
    Dengan Hormat,
    Teriring Do’a serta Salam, semoga Bapak beserta keluarga besar dalam keadaan sehat, panjang usia serta bahagia. Izinkan pada kesempatan ini saya sebagai Mantan Kader Partai Demokrat memohon beberapa hal kepada Bapak.
    1. Presiden Republik Indonesia saat ini adalah Ir. H. Joko Widodo dan bukan Soesilo Bambang Yudhoyono lagi. Jadi dengan segala hormat, mohon Bapak berkenan diam dan serta tidak banyak nyinyir terhadap segala macam bentuk kebijakan yang dilakukan Pemerintahan Presiden Jokowi, baik dalam masalah luar negeri maupun dalam negeri. Saya mohon Bapak berkenan menjadi Negarawan Sejati yang baik, tidak mencampuri Pemerintahan lagi. Contohlah Almarhum BJ. Habibie Presiden Republik Indonesia Ke – 3 serta Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri Presiden Repblik Indonesia Ke – 5 yang tidak pernah nyinyirin pemerintahan Bapak sewaktu bapak menjabat sebagai Presiden RI.
    2. Berdasarkan Hasil Survei Lembaga Internasional milik Perserikatan Bangsa – Bangsa ( PBB ) Yaitu Gallup Word Pull, Pemerintahan Presiden Ir. H. Joko Widodo menduduki PERINGKAT PERTAMA DUNIA sebagai Pemerintahan Paling Dipercaya Masyarakatnya, yaitu sebesar 80%. Dan Prestasi ini BELUM PERNAH Bapak capai saat Bapak menjabat Presiden Republik Indonesia.
    3. Organisasi Perserikatan Bangsa – Bangsa ( PBB ), Organisasi Kerjasama Islam ( OKI ) yang merupakan Organisasi Terbesar Kedua Di Dunia setelah Perserikatan Bangsa – Bangsa ( PBB ) juga telah mengakui bahwa Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo sebagai 4 BESAR PEMIMPIN NEGARA yang PALING DISEGANI DI DUNIA setelah Donald Trump ( Presiden Amerika Serikat ), Vladimir Putin ( Presiden Rusia ), serta Ram Nath Kovind ( Presiden India ). Dan prestasi Presiden Jokowi ini BELUM PERNAH BAPAK RAIH saat 10 menjabat Presiden RI.
    4. Presiden Republik Indonesia Ir, H. Joko Widodo tercatat sebagai 13 Besar Tokoh Muslim Paling Berpengaruh Di Dunia dari 500 Tokoh Muslim Dunia versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre ( RISSC). Dan prestasi inipun BELUM PERNAH BAPAK DAPATKAN selama 10 tahun Bapak menjadi Presiden Republik Indonesia 2004 – 2014.
    5. Suka atau tidak suka, 6 tahun Pemerintahan Jokowi jauh lebih bagus peningkatannya dibanding 10 tahun Pemerintahan Bapak sendiri. Bahkan tidak sedikit tokoh papan atas partai kita, saudara seperjuangan saya di Partai Demokrat masuk penjara karena kasus korupsi di masa kepemimpinan Bapak sebagai Presiden. Dari Muhammad Nazaruddin, Andi Alfian Malarangeng, Hartati Murdaya, Jero Wacik, Almarhum Sutan Bhatoegana, Angelina Sondakh, Amrun Daulay, Sarjan Tahir, As’ad Syam, Bahkan Ketua Umum Anas Urbaningrum masuk penjara. Dan hampir semuanya DPP Partai Demokrat, orang – orang dekat Bapak semua.
    6. Justru Bapak SBY harus belajar banyak tentang Kesabaran, Ketegaran, Kesederhaan, Ikhlas serta Kebijaksanaan pada Presiden Jokowi. Saat Mas AHY diserang netizen karena cuitannya yg nyinyirin Presiden Jokowi, Bapak SBY langsung ngamuk tidak karuan melalui medsos menyerang para netizen yang membully Mas AHY, bahkan menyalahkan Bapak Jokowi.
    Apa hubungannya dengan Bapak Jokowi ?
    Justru Mas AHY yang menyerang Presiden Jokowi sesaat setelah Mas AHY dilantik sebagai Ketum Partai Demokrat. Presiden Jokowi diserang habis – habisan dan bertubi – tubi oleh pembencinya, dikatain Komunis, Anak Haram, PKI, termasuk orang tuanya juga difitnah serta di bully habis – habisan. Bahkan saat Ibundanya meninggal, masih diserang fitnah.
    NAMUN Bapak Jokowi tidak pernah membalas, tidak pernah menanggapi dan tetap fokus bekerja untuk rakyatnya.
    Dari klausal 1 – 6 diatas, saya memohon sekali lagi pada Bapak SBY yang Terhormat, untuk berkenan menjaga wibawa, tidak lagi mencampuri permasalahan pemerintahan Jokowi.
    Jika ingin menyampaikan masukan ke Bapak Jokowi selaku Presiden, lebih elegan jika Bapak berkenan menyampaikan langsung kepada Beliau, baik bertemu sillaturahmi dan atau melalui telepon.
    Demikian surat terbuka ini saya sampaikan, karena bapak pernah menjadi Ketua Umum saya di Partai Demokrat.
    Terima Kasih
    Hormat Saya,
    Deka Surya Abadi
  • KETUA PC GP ANSOR MOJOKERTO HADIR DALAM GIAT RUTIN KEBANSERAN

    KETUA PC GP ANSOR MOJOKERTO HADIR DALAM GIAT RUTIN KEBANSERAN

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI-Sabtu, 10 Oktober 2020. Untuk kesekian kalinya Satkoryon Banser Kec. Pacet melakukan giat rutin manaqib banser serta Sharing keBanseran yang harus ada untuk maksimalnya jalannya organisasi.
    Kali ini Musholla Pandan Sili Dsn.Treceh Ds.Sajen menjadi tempat berlangsungnya kegiatan tersebut yang disertai dengan selamatan tumpengan adanya pengurus Ranting yang baru.

    Dalam kegiatan tersebut sempat hadir Ketua PC GP Ansor Kab. Mojokerto Sahabat Gus Ali M. Nasih untuk memberikan wawasan dalam penguatan IDEOLOGI yang harus dijaga, dari hulu sampai hilir harus satu barisan, satu komando dalam gerakan karena ANSOR hari ini adalah tanggung jawab kita.

    Untuk pesta demokrasi yang akan diadakan 9 Desember 2020, kader-kader Ansor Banser harus bisa memilih pemimpin yang bisa memberikan manfaat besar untuk organisasi bukan untuk pribadi dan kepentingan kelompok. Kita pertahankan IDEOLOGI kita, Kita ramaikan Masjid-masjid kita, dengan kegiatan Amaliyah-amaliyah Annahdliyah. IDEOLOGI itu nomor satu dan menjadi dasar dalam menjalankan organisasi dan beragama.

    Beliau juga berpesan agar dalam rapat atau group group whatsapps, Jangan apatis dalam menyikapi setiap kegiatan seperti yang sudah banyak dan jadi budaya adalah kata PASRAH. Hal yang seperti itu tidak dianjurkan dalam membahas dan merencanakan kegiatan. Kader Ansor Banser diharapkan punya gagasan dan ide untuk keberlangsungan dan kelancaran setiap kegiatan.

    Pasrah (Ngepas No Arah) itu cuma ada 4 :
    1. Satu garis lulus dengan guru
    2. Satu arah dengan Orang tua
    3. Satu Jalan dengan Rosulullah SAW
    4. Pasrah terhadap Alloh SWT

    Mudah-mudahan realita dalam keAnsoran keBanseran masih 1 Barisan, 1 Komando dan semua sahabat-sahabat diluangkan waktunya oleh Alloh SWT dan diberikan rizki yang barokah sehingga bisa istiqomah dalam setiap kegiatan. Aamiin Ya Robbal’alamiin. (abi sorban)

  • Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    Kritikan Gus Baha Untuk Orang-orang NU

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
    Saya gak mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
    Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
    Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
    Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet. Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan. Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur. Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
    Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
    Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
    Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
    Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
    Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
    Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
    Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
    Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
    Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik. Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak. Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
    Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
    Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
    Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis. (abi sorban)
    Penjelasan Gus Baha; ( KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) dalam pengajian beliau
  • Kitab Titik Nol Penuh Kenangan, Kisah KH. Ma’ruf Khozin Waktu Santri

    Kitab Titik Nol Penuh Kenangan, Kisah KH. Ma’ruf Khozin Waktu Santri

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Entah kenapa pagi ini tiba-tiba saya membuka lemari dan mendapatkan kitab Tarsyih Mustafidin, sebuah kitab yang penuh kenangan bagi saya. Karena di dalam Kitab inilah tercatat perubahan drastis dalam diri saya.
    Sebelumnya saya sama seperti kebanyakan santri yang dibiayai oleh orang tua, yang boleh dibilang berkecukupan. Kalau mau minta uang dipenuhi oleh orang tuanya. Dan segala fasilitas pondok yang lain juga diwujudkan. Saat itu antara tahun 1994 sampai tahun 2000.
    Saya sama seperti santri yang lain. Tidak terlalu menonjol dalam prestasi. Kalau dibangunin sulit, tidurnya juga sampai larut malam. Subuhnya bangun paling lambat, kecuali kalau kiai langsung yang keliling pondok sambil membangunkan santri.
    Kebiasaan saya nongkrong di kantin, sering ‘khoyal’ (cangkrukan) di dapur dengan 1 gelas kopi dijoin 3-4 teman, kadang di bawah jemuran untuk menghindari dari keamanan pondok (termasuk Gus Umronuddin dan Ust Agha  lladzifie / Pak Ghofur).
    Kenyamanan bagi santri nakal semacam itu tiba-tiba terhenti ketika Abah saya wafat, tepat 2 hari setelah pergantian Milenium tahun 2000. Sejak saat itu saya merasa kehidupan sudah berakhir. Sudah tidak bisa melanjutkan kehidupan. Sudah terasa berat menjalani hari-hari tanpa Abah. Saat kembali ke pondok pun tidak ada semangat, tidak ada gairah.
    Selama di pondok saya berusaha untuk melupakan hal-hal yang berkaitan dengan Abah saya, tapi saat berada di kantin Pondok yang teringat hanya wajah Abah saya. Ketika bercengkrama dengan teman-teman yang lain yang terbayang juga Abah saya. Ketika di dapur pun yang terbesit di dalam pikiran adalah kenangan bersama Abah. Semua diliputi perasaan yang terus menghantui itu.
    Belum saya temukan bagaimana caranya supaya hilang. Tapi ketika membuka kitab tiba-tiba lenyap pikiran itu. Semakin lama membuka kitab semakin tidak ingat terhadap Abah. Maka saya pun terus membuka kitab dan kebetulan di kamar saya ada Kamus Munawir besar, saya cari makna kitab yang tidak saya ketahui di kamus tersebut.
    Saya pun kemudian meminjam kepada kakak saya, Mas Nasihudin, kitab Fathul Muin yang sudah penuh dengan makna dari ngaji beliau kepada Kiai Fuad Jazuli. Lalu saya salin ke kitab saya ini yang bernama kitab Tarsyih Al-Mustafidin, yang bagian atasnya adalah Syarah dan Matan dari Fathul Mu’in.
    Di situlah saya merasakan nikmat betul memaknai kitab, sama sekali tidak ada ingatan terhadap orang tua yang sudah wafat. Ketika kemudian terbangun malam saya pun kemudian memaknai kitab ini. dan terasa nikmat kalau ditemani oleh kopi khas anak pondok, namanya kopi Brontoseno. Ada teman yang kebetulan mengetahui saat itu, di antaranya Mas Amin (Zinedine).
    Terus saya lakukan itu beberapa bulan. Sampai memaknai kitab Fathul Mu’in ini khatam (13 Agustus 2000, walaupun sudah khatam di hari-hari aktif saya masih ngaji Fathul Mu’in kepada Gus Zidni dan Gus Ma’mun). Setelah itu berlanjut ke beberapa kitab yang lain.
    Dari situlah saya merasa ada perubahan dalam hidup saya. Saya tidak menyalahkan kalau ada teman-teman yang menjumpai kehidupan saya di Pondok pada kisaran di bawah tahun 2000, menganggap Ma’ruf itu tukang tidur, itu sukanya di kantin bla bla bla. Tidak salah anggapan itu.
    Tetapi terkadang Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk berubah dan memperbaiki diri. Dari perjalanan hidup saya tersebut saya belajar tidak meremehkan orang lain. Mereka masih berpeluang besar diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi lebih baik. Justru kitalah yang tidak boleh terlalu ujub, bangga diri, sebab boleh jadi tergelincir dalam kesombongan. Naudzubillah. (abi sorban)
    Sumber KH. Ma’ruf Khozin
  • Habib Umar bin Hafidz tentang Indonesia yang Diberkahi Allah

    Habib Umar bin Hafidz tentang Indonesia yang Diberkahi Allah

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Penjelasan dari Al Habib Umar bin Hafidz bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengabarkan bahwa ada suatu tempat di bumi yang diberikan keberkahan oleh Allah.

    Tempat itu ditandai oleh pusaka merah dan putih, di mana penduduk di dalamnya dianggap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai umatnya dan sangat mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut adalah penjelasan dari Habib Umar bin Hafidz.

    Al Habib Umar Bin Hafidz berkata,

    Sebelum Indonesia menjadi sebuah negara. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memberitakan kabar ini, 1400 tahun lalu, bahwa nanti adanya sebuah tempat di bumi ini yang di anugerahi keberkahan yang besar dari Allah SWT yang ditandai oleh (Pusaka putih dan merah) mereka lah umatku yang mencintai diriku dan ahlulbaitku.

    Semenjak berita itu, para Wali Allah dari golongan para Ahlulbait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman dulu diperintahkan untuk hijrah dan berdakwah menyebarkan agama Allah (di Indonesia).

    Maka beruntunglah kalian para penduduk yang lahir di negara Indonesia karena 1400 tahun lalu sudah didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh para Malaikat Allah.

    (Al Habib Umar Bin Hafidz)

    اللهم صل علی سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

  • Dosa Jariyah Yang Dapat Menghapus Semua Amal Shalih

    Dosa Jariyah Yang Dapat Menghapus Semua Amal Shalih

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Kyai menyampaikan bahwa jika budaya lokal Korea (K-Pop) saja bisa meng-internasional bahkan digemari hingga Amerika. Maka anak muda Indonesia mestinya mampu menjadikan budaya lokal Indonesia menjadi menginternasional pula. Termasuk “Budaya Santri”, agar diupayakan menjadi budaya nasional dan bahkan menginternasional.
    Nasihat beliau sangat simpel dan sekaligus sangat visioner. Namun para “pembuat” berita dan para tukang “fitnah” telah dengan sengaja menggoreng informasi ini untuk tujuan membuat narasi fitnah dan menyebar kebencian.
    Akibatnya para Netizen yang sebagian bersumbu pendek dan kurang cermat membaca terburu-buru menghujat beliau. Narasi negatif berbentuk gambar dibagikan ribuan kali di berbagai akun media sosial. Hingga terwujudlah Dosa Jariyah yang dapat menghapus semua amal shalih.
    Ketahuilah, Bahwa menghina Kyai Ma’ruf Amin telah mengakibatkan tiga dosa besar, yakni Menghina Sulthan, Menghina Ulama dan Menghina Orangtua.
    1. MENGHINA UMARO’ (SULTHON):
    Menghina Pemerintah adalah dosa besar
    dan sama saja telah menghina Allah. Nabi Saw bersabda:
    مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللهُ. رواه الترمذي
    “Barangsiapa yang menghina
    seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR al-Tirmidzi, no. 2224).
    2. MENGHINA ULAMA.
    Darah dagingnya ulama adalah racun, maka menghinanya sama saja makan racun. Kyai Ma’ruf bukan ulama biasa, tetapi beliau adalah “Al-Kubarâ’” (الكبراء), yakni ulama besar, sesepuh dan sangat dituakan oleh kaum muslimin di Indonesia. Para ustadz-ustadz muda saja kita hormati, apalagi beliau selaku Ulama Kubara’. Al-Hafidz Ibnu Asakir
    dalam “Tabyin Kadzib Al-Muftari” berkata:
    ” واعْلَمْ يَا أخِي، أَنَّ لُحُومَ العُلَماءِ مَسْمُومَةٌ، وَعَادةُ اللهِ في هَتْكِ أسْتَارِ مُنْتَقِصِيهِمْ مَعْلُومَةٌ، لأنَّ الوَقِيعَةَ فِيهِمْ بِمَا هُمْ مِنْهُ بَرَاءٌ أمْرُهُ عَظِيم ٌ، والتَّناوُلُ لأعْراضِهِم بالزُّورِ والافْتِراءِ مَرْتَعٌ وَخيمٌ ، والاختِلاقُ عَلَى من اخْتارهُ اللهُ مِنْهُم لِنَعْشِ العِلْمِ خُلُقٌ ذَمِيمٌ “.
    Artinya: “Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya daging para ulama itu beracun (menggunjingnya adalah dosa besar), dan kebiasaan Allah dalam menyingkap kedok para pencela mereka (ulama) telah diketahui bersama.
    Karena mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka, merupakan petaka besar, dan melecehkan kehormatan mereka dengan cara dusta dan mengada-ada merupakan kebiasaan buruk, dan menentang mereka yang telah Allah pilih untuk menebarkan ilmu, merupakan perangai tercela”.
    3. MENGHINA ORANGTUA.
    Beliau adalah Syaikh al-Kabir dan telah berjasa banyak buat bangsa dan negara ini. Maka menghina beliau sungguh sama saja telah menghina Orangtua sendiri. Nabi Saw bersabda:
    لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
    Artinya: “Bukan termasuk ummatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang
    lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan memuliakan hak-hak orang alim (Ulama).”
    WARNING (PERINGATAN) Kepada segenap netizen mari bijak bermedia sosial dan bijak menelaah informasi. Telitilah setiap informasi yang datang dan jangan cepat percaya. Apalagi hanya berupa judul berita dan gambar-gambar editan. Kita harus menyadari bahwa hari ini ada gerombolan politik yang menghalalkan fitnah untuk menjatuhkan pihak lain.
    Mungkin bagi mereka ada istilah “Fitnah Syariah”. Bahkan sekali waktu mereka teriak “Bela Ulama”, namun disisi lain mereka “mencaci ulama yang lain”. Bagi mereka Para Ulama yang sejalan dengan gerbong politik mereka itulah yang dipuja-puja seperti “Malaikat”. Sebaliknya ulama yang tidak berada di gerbong yang sama akan terus dituduh
    Ulama Sû’ dan mereka sebarkan fitnah atasnya.
    Kelompok ini sewaktu-waktu tampak seperti bertuhan dan bahkan menjual nama “Tuhan” agar umat mau berpihak kepada mereka. Tapi kadang-kadang mereka seperti tidak bertuhan, karena menggunakan FITNAH demi tujuan politik. Kader-kader mereka getol menyebarkan fitnah itu dan mereka merasa bahwa itulah JIHAD.
    Seolah mereka lupa bahwa ada ALLAH yang selalu mengawasi kelakuan mereka. Padahal Allah Ta’ala berfirman: “FITNAH ITU LEBIH KEJAM DARI PEMBUNUHAN”.
    Percayalah bahwa kebenaran tidak akan pernah diperjuangkan dengan cara BATHIL.
    Kepada segenap “Santri”, Mari kita berjihad di media sosial untuk meluruskan semua fitnah atas ulama kita.
    Sesuai dengan pesan Mbah Yai (K.H. Ma’ruf Amin), Mari kita menginternasionalkan “BUDAYA SANTRI”. Kalau K-Pop saja bisa, SANTRI mengapa tidak. (abi sorban)
  • HIDUP ITU UNTUK MEMPERBAIKI DIRI

    HIDUP ITU UNTUK MEMPERBAIKI DIRI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Hidup Bukan untuk Berdebat, Tapi Memperbaiki Diri Bahwasanya di dalam diri ada 4 jiwa (nafs); jiwa amarah, jiwa lawwamah, jiwa sufiah, dan jiwa muthmainah yang didalamnya lagi bersembunyi hati nurani. Di dalam diri juga ada pikiran, kalimat, hati, jiwa, dan perilaku, yang harus ditata.

    Manusia Jawa kerap menyebutnya “Sedulur Papat Limo Pancer”. Dengan mengenal jiwa jiwa dalam diri, di situlah manusia mengenal siapa sejatinya diri, yang mana automaticly pasti bakal mengenal Tuhannya. Karena, sesungguhnya setelah mengenal diri, bergeraklah hati nurani sebagai pancer diri dalam laku hidup manusia. Hati nurani menjadi pengendali pikiran, kalimat, jiwa dan perilaku, termasuk empat jiwa (amarah, lawwamah, sufiah, dan mutmainah). Karenanya, memperbaiki diri menjadi fokus utama manusia menjalani hidup di alam ‘semu’ ini, tentu saja menggunakan ilmu.

    Ilmu yang disaranani dengan laku (Ngelmu sarana ing laku, Laku sarananing ngelmu). Ingat, kanjeng rasul udah memberikan petunjukNya secara jelas cetha melo melo, bahwa “Musuh (perang) terbesar manusia (umatnya) adalah diri sendiri”. Lha klo ndak tau alias tak mengenal dirinya, ya ndak bakal tau musuh mana yg diperangi. Lha, sama diri sendiri aja ndak kenal, eh mau ndandani orang lain.

    Logis, simpel aja…tapi paten! So, jalani hidup untuk memperbaiki diri, bukan memperbaiki orang lain. Ndak perlu ndakik-ndakik, sederhana saja tapi paten, fokus pada perbaikan diri dan keluarga dengan menata kalimat, pikiran, hati, jiwa, dan perilaku.

    Ilmu Gusti Allah itu keren kok kalau mau dipelajari secara kaffah, lahiriah dan batiniah.

    Gunakan hati sebagai pengendali diri, bukan akal (logika) yang mengaturnya. (abd Hamid)

  • Akan Hancur Negara Indonesia Jika Beri Peluang Manhaj Takfiriyah, HTI, PKS

    Akan Hancur Negara Indonesia Jika Beri Peluang Manhaj Takfiriyah, HTI, PKS

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI-
    Awal dari segalanya adalah Manhaj Takfiriyah, yang sekarang bisa berkembang di Indonesia ini menjadi Organisasi seperti HTI, menjadi Partai seperti PKS. Banyak sekarang ini mempunyai pemikiran mengkafirkan orang di luar keyakinan dia. Sedikit-sedikit kalau melakukan ini dibilang kafir, sedikit-sedikit dibilang bid’ah, sehingga yang masuk surga cuma dia saja. Kok ndak takut masuk surga sendirian? inilah bedanya Wali Songo Waliyulloh dengan wali jenggot salafy wahabi.

    Yang sekarang terjadi adalah agama dihadapkan kepada negara, maka akan memberikan suasana kalau negara akan menjadi penindas agama kemudian agama akan menjadi pemberontak dalam suatu negara.

    Dalam kondisi tersebut, dalam jangka panjang pasti akan membahayakan Kesatuan Negara Republik Indonesia.

    Seharusnya NU dan Muhammadiyah yang dimodali oleh negara, untuk mendeteksi Manhaj Takfiriyah tadi. Tapi masih banyak mereka yang tampak dalam gerakan mengkafirkan orang, membidahkan orang, itu masih dimodali oleh Pemerintah dan asing. Bahkan diberi kesempatan kebebasan menjalankan doktrin-doktrinnya yang jauh dari ajaran ASWAJA ANNAHDLIYAH NU dan PANCASILA. Lebih ironisnya lagi mereka masih diberi kedudukan di pemerintahan, seperti Gubernur, Bupati, DPR, dan lain-lain.

    Jadi kita tidak usah anti asing sementara kita menerima uang asing. yang tidak asing dan yang betul-betul asli made in Indonesia itu NU dan Muhammadiyah.

    ini kalau sudah kena Manhaj Takfiriyah tadi, Semuanya akan Bubar semua, Negara Kacau, banyak Demo menentang pemerintah, mudahnya mengkafirkan, sering tuduh menuduh dan lain-lain.

    Sehingga pengrusakan adalah bagian dari ibadah seperti demo 212, demo 411, demo bela ulama’, padahal pengertian aman itu adalah anamu wa amilus sholihat tapi bagaimana Amanu itu bisa dilakukan dengan wafasaadu??! ini semuanya menjadi renungan kita.

    tapi karena sekarang bukan ketuhanan yang maha esa tapi keuangan yang maha kuasa, Maka ini merayap dan mewabah sampai mana mana di bumi nusantara ini.Dijadikan agitasi oleh para teroris untuk terus melawan negara.

    Rata-rata rakyat minta Bagaimana cara Indonesia Aman dalam satu kesatuan NKRI, bagaimana caranya? ya dimulai dari HULUnya, dilaksanakan pelan-pelan melalui pendidikan ketegasan hukum dll. (abi sorban)