Kategori: Opini dan Analisis

Artikel opini, analisis mendalam, dan editorial tentang berbagai topik yang relevan.

  • PERJUANGAN KYAI DAN SANTRI TAK PERNAH TERCATAT DALAM BUKU SEJARAH

    PERJUANGAN KYAI DAN SANTRI TAK PERNAH TERCATAT DALAM BUKU SEJARAH

    SORBANSANTRI.COM

    SorbanSantri – Saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para kiai pesantren memahami dan menerapkan betul kalimat “Hubbul wathan minal iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Sehingga apapun akan mereka lakukan untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa sekalipun.
    Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh PBNU menjadi titik tolak perjuangan para kiai – tentu, beserta santri-santrinya -. Pada 21-22 Oktober, NU mengumpulkan semua kiai dan konsul NU se-Jawa Madura untuk memusyawarahkan tentang sikap yang akan diambil terkait masuknya kembali pasukan Belanda dan sekutu ke Indonesia. Dari pertemuan tersebut, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa fardlu ain bagi umat Islam untuk memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia.
    Sontak saja, Resolusi Jihad tersebut segera disambut angkat senjata oleh segenap warga nahdliyin, baik kiai, santri maupun simpatisannya. Tak terkecuali di Banyuwangi. Menyambut seruan tersebut, para kiai kembali mengorganisir para laskar, baik yang tergabung dalam pasukan Hisbullah, Sabilillah, maupun laskar-laskar lokal lainnya.

    Di Banyuwangi Kota muncul beberapa nama Kiai yang terlibat dalam mengorganisir massa untuk menghadapi gempuran NICA, baik di pertempuran 10 November di Surabaya maupun pertempuran-pertempuran lain di Banyuwangi. Nama Kiai Saleh Lateng terdengar nyaring dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Selain melakukan tirakat (riyadlah) demi mewujudkan kemerdekaan bangsa, Kiai Saleh menjadi tempat jujukan para santri dan pejuang lainnya untuk meminta nasehat dan doa. Kiai Saleh juga mengirimkan para santrinya untuk ikut perang di Surabaya. Bahkan, pada peperangan yang kelak dikenal sebagai hari pahlawan tersebut, beliau tampak ikut bertempur di medan laga.

    Kiai Syamsuri Singonegaran dan Kiai Abdul Wahab Penataban juga merupakan punggawa pasukan Sabilillah Banyuwangi. Kedua orang tersebut merupakan sahabat karib dan seperjuangan Kiai Saleh. Masjid Riyadus Sholihin Singonegaran yang didirikan oleh Kiai Syamsuri kerap menjadi jujukan para laskar Hisbullah. Konon, ada beberapa anggota laskar yang terluka dan dibawa kesana, lalu akhirnya meninggal dan dimakamkan tak jauh dari sana.

    Sedangkan Kiai Wahab sendiri memiliki kemampuan kanuragan yang luar biasa. Bom-bom yang berjatuhan dari pesawat tempur Belanda, tak satu pun yang meledak. Mungkin hal ini terdengar mustahil, namun hal ini nyata adanya. Surat kabar “Kedaulatan Rakjat” tertanggal 26-11-1945, mengkonfirmasi hal tersebut.
    “Kesaktian kijai2 di medan pertempoeran, ternyata boekan hanja berita lagi, tapi kita saksikan sendiri. Banjak mortier jang melempem, bom tidak meledak dsbnja lagi.”
    Selain nama-nama di atas, juga muncul seorang kiai muda asal Tukangkayu, Kiai Harun. Pendiri PP Darunnajah yang juga menjadi ketua cabang NU Banyuwangi ini menjadi semacam kordinator penggerak santri dan laskar ke medan tempur. Pesantrennya yang tak jauh dari stasiun Banyuwangi Lama (Pasar Karangrejo) menjadi meeting point sebelum berangkat ke Surabaya. Konon, ada dua rombongan dari Banyuwangi, ada yang turun di stasiun Gedangan, Surabaya lalu langsung terlibat pertempuran. Ada pula yang menuju ke Parakan terlebih dahulu untuk memohon barakah bambu runcing ke Kiai Subkhi.
    Geser ke Selatan, ada nama Kiai Abdullah Faqih di Cemoro, Songgon. Sebagai salah satu kiai sepuh, Kiai Faqih juga menjadi bagian dari pasukan Sabilillah yang bagian mendoakan dan berperang dengan mendayagunakan kekuatan spritualnya. Kisah yang beredar turun temurun, Kiai Faqih memimpin beberapa peperangan di Banyuwangi, baik perang Bedewang maupub perang Laban hanya dengan memendam dirinya disebuah bukit di desa Parangharjo, Songgon.

    Tak hanya Kiai Faqih, putra-putra dan para santrinya pun ikut serta dalam pertempuran. Dengan nama Laskar Santri Cemoro dibawah pimpinan Gus Sholeh dan Gus Idris, segenap jiwa raga mereka persembahkan untuk ibu pertiwi Indonesia. Bahkan, Gus Idris syahid di tengah medan tempur.
    Di Srono adapula kiai kharismatik yang menggerakkan masyarakat dan santrinya untuk berjuang. Kiai Dimyati Syafi’i namanya. Rois Syuriah NU Blambangan ini tanpa ragu memfatwakan warga nahdliyin untuk ikut berjihad sebagaimana instruksi dari PBNU kala itu. Tak ayal, ketika perjuangan beliau terendus Belanda, seketika langsung dibumi hanguskan pesantrennya, PP. Nahdlatut Thullab, Kepundungan, Srono.

    Tak jauh dari Srono, di Muncar muncul dua kiai pejuang asal satu desa yang sama, Sumberberas. Yaitu duet Kiai Askandar (Mambaul Ulum) dan Kiai Abdul Manan (Minhajut Thullab). Waktu pengepungan Belanda ke pesantren, Kiai Abdul Manan berhasil lolos dengan bersembunyi di rumah salah satu warga.
    Beranjak ke daerah Pesanggaran juga muncul nama Kiai Muhammad dan Kiai Musaddad yang memimpin Front Kayangan Alaspurwo dan Sukomade. Di pasukan yang senantiasa bergerilya inilah, Kiai Mukhtar Syafaat (PP. Darussalam, Blokagung) muda ikut bergabung.
    Di sisi barat Banyuwangi, muncul nama Kiai Junaidi Genteng. Pengasuh PP. Bustanul Makmur ini kerap kali mengajak para santrinya untuk bergerilya. Atas perjuangannya inilah, kerap pula pasukan Belanda melakukan razia.

    Tak jauh dari situ, ada pula kiai sepuh yang juga menjadi jujukan para santri dan pejuang untuk memohon doa dan karomah. Kiai Abbas Hasan, Sempu namanya. Mortir-mortir Belanda yang dijatuhkan di pesantrennya – PP. Al-Azhar – tak ada yang meledak. Meleset dan melempem semua.
    Di Kalibaru, juga muncul kiai muda yang tergabung dalam laskar Hisbullah, Kiai Abdul Latif Syuja. Tak hanya didaerah Banyuwangi, Kiai Abdul Latif bergerak pula hingga ke wilayah Keresidenan Basuki lainnya. Saat itu, dibawah komando KHR. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo.

    Selain nama-nama di atas, juga masih banyak kiai-kiai lain yang ikut serta berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di ujung timur pulau Jawa. Mereka berjuang tanpa pamrih. Semata-mata untuk mengharap ridlo Allah dalam menegakkan Agama dan sejahteranya tanah air. Hanya dengan pekik “Allahu Akbar” dan “Indonesia Merdeka” mereka berjuang hingga titik darah penghabisan.
    Sebagai generasi penerus, hanya doa dan segenap usaha mengisi kemerdekaan ini yang bisa kami persembahkan untuk para pejuang. Teruntuk semua pejuang, Alfatihah….!!!

    Keterangan foto:

    1. Mbah KHR. AS’AD SYAMSUL ARIFIN SITUBONDO saat perang kemerdekaan
    2. PASUKAN SANTRI
  • ATAS DASAR APA ANDA BENCI YANG TIDAK SEIMAN?

    ATAS DASAR APA ANDA BENCI YANG TIDAK SEIMAN?

    SORBANSANTRI.COM

    “Kebenaran selalu menemukan jalannya,”

    SORBAN SANTRI – Kalimat itu selalu saya ingat dan jadikan pegangan hidup. Saya yakin bahwa apapun yang terjadi dunia ini, termasuk hoax dan fitnah, cepat atau lambat, semua itu akan terjawab kebenarannya.

    Hari ini kita dikejutkan dengan ulah sekelompok orang yang mirip dengan khawarijh di zaman dulu. Khawarij itu bernama Abdurrahman bin Muljam. Dia yang membunuh syaidina Ali bin Abi Thalib, menantu sekaligus sepupu Rosulullah SAW.

    Syaidina Ali adalah suami dari Syaidah Fatimah Azzahra, putri kesayangan Rosulullah yang dibunuh karena dianggap Syiah dan menyimpang. Padahal Ali adalah khalifah ke empat yang sangat dekat dengan Rosulullah. Bahkan Ali selalu mendampingi Rosulullah berdakwah selama belasan tahun.

    Ketahuilah, Khawarijh bukanlah orang yang tidak beragama, bukan komunis dan bukan juga atheis. Khawarijh ini hafal quran dan ahli agama, tapi dia dengan kejam membunuh Syaidina Ali saat sedang sholat.

    Kejadian penyerangan sekelompok orang di Solo adalah kejadian yang tak bisa dibiarkan. Mereka harus ditindak tegas!

    Coba bayangkan, dengan barbar mereka nekat mau membubarkan acara doa menjelang pernikahan yang digelar di rumah Almarhum Assegaf bin Jufri karena dianggap syiah. Bahkan beberapa orang menjadi korban kekerasan kelompok khawarijh ini. 3 korban dilarikan ke rumah sakit.

    Kelompok khawarijh ini memang susah untuk menerima perbedaan. Mereka merasa paling benar. Bahkan saat melakukan kekerasan, mereka pun selalu mengatasnamakan demi menegakkan ajaran agama. Padahal agama tidak mengajarkan demikian.

    Sebenernya apa yang terjadi di Solo, kita bisa melihat sejarah pada masa kekhalifahan Syaidina Ali pada masa lalu. Jika segala perbedaan ini sudah atas kehendak Tuhan, lantas atas dasar apa Anda membenci yang tidak seiman?

    Sampai disini sudah paham?
    (Yusuf Muhammad)

  • HADIRKAN 3 ULAMA AHLUSSUNAH DUNIA, PUSKOHIS IAIN SURAKARTA SUKSES ADAKAN SEMINAR INTERNASIONAL

    HADIRKAN 3 ULAMA AHLUSSUNAH DUNIA, PUSKOHIS IAIN SURAKARTA SUKSES ADAKAN SEMINAR INTERNASIONAL

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Dalam rangka memperingati Hari Konstitusi Nasional yang jatuh pada 18 Agustus 2020, Rektor IAIN Surakarta meresmikan Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam (Puskohis) IAIN Surakarta. Setelah diresmikan Puskohis menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema “Meneguhkan Konstitusi di NKRI”. Seminar Internasional tersebut diselenggarakan secara virtual melalui aplikasi Zoom pada Selasa, 4 Agustus 2020 ini, diikuti oleh peserta dari Indonesia berjumlah 770 orang dan Cendekiawan serta Ilmuan dari 32 Negara antara lain Australia, Amerika Serikat, Belanda, Yaman, Turki, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Maroko, Sri Langka, Nigeria, Qatar, Abu Dabi, Hongkong, dan Singapura.

    Dalam acara ini panitia juga mengundang beberapa instansi yang memiliki lembaga Fatwa Hukum misalnya PBNU dengan LBM nya, Lembaga Bantuan Hukum ( LBH ), MUI, Majelis Taklim, Majelis Muwasholah Jawa Tengah, Kementrian Agama Jawa Tengah serta Pondok Pesantren yang ada disekitar Soloraya.
    Bertindak sebagai moderator sekaligus menjadi Penerjemah Bahasa adalah Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, S. H. , M. H. yang merupakan Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam IAIN Surakarta dan juga Ketua LBM PCNU Surakarta. Seminar dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. H. Mudhofir, S.Ag., M.Pd. selaku Rektor IAIN Surakarta.

    Rektor IAIN Surakarta memiliki harapan besar dengan adanya PUSKOHIS ini kedepan IAIN Surakarta akan mampu memberikan kontribusi lebih kepada Negara dan dunia umumnya.
    Dalam sambutannya, beliau juga meresmikan berdirinya Puskohis. Adapun keynote speaker yang semula akan disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah adalah K.H. Taj Yasin Maimun diwakili oleh Kabiro Kesra dengan tema “Meneguhkan Konstitusi NKRI demi Ketaatan Masyarakat kepada Konstitusi dan Syariat Agama”.
    “UUD NRI 1945 adalah kontrak sosial atau perjanjian bersama tertinggi dalam suatu negara,” ujar Kabiro Kesra. Menurut beliau, perumus telah mengikhtiarkan agar kontitusi dibangun sesuai karakter bangsa meskipun disusun berdasarkan referensi konstitusi dari berbagai negara.

    SORBANSANTRI.COM

    “Tata Hukum negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD telah memberikan landasan dan arah politik hukum terhadap pembangunan bidang hukum Islam dengan jelas dengan merujuk pada Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa,” tambah beliau.
    Sebelum mengakhiri penyampaiannya, beliau mengajak semua elemen bangsa termasuk mahasiswa, kaum akademisi, budayawan, ulama, seniman, wartawan, tokoh adat dan semua komunitas untuk menjadikan Pancasila dan UUD 1945 menjadi titik temu nilai bersama.

    Pembicara pertama, Prof. Dr. Syekh Maher Al Munajid menyampaikan tentang ketaatan kepada pemerintah, setelah Allah Swt. dan Rasulullah saw.
    Dalam penyampaiannya, Guru Besar dari Universitas Abi Nur Damaskus Suriyah itu mendoakan agar Negara Indonesia serta IAIN Surakarta menjadi senantiasa diberkahi oleh Allah. Selain itu, beliau juga mendoakan agar semua urusan kampus dimudahkan oleh Allah dan siapa pun yang membantu dan memuliakan kampus IAIN Surakarta diangkat derajatnya oleh Allah SWT.

    Dalam kehidupan bernegara, Syekh Maher mengingatkan kita untuk memperhatikan lima hal yang sangat urgensi agar kehidupan kita mulia dunia akhirat.

    Pertama, iman kepada Allah SWT.
    “Barangsiapa yang beriman dan mengikuti perintah Allah Swt., akan mendapat kemuliaan dan arah hidup yang benar serta hidup bahagia dunia dan akhirat. Adapun orang yang berkhianat dan tidak beriman, akan mendapat kesusahan dalam hidupnya,” ucap beliau.

    Kedua, Pentingnya Persatuan, nasihat-menasihati dalam kebeneran. Dalam penyampaian materinya, beliau juga mengajak pemerintah untuk meneladani Sahabat Rasulullah.
    “Hendaknya pemerintah mengikuti teladan Sayidina Umar bin Khotob dan Sayidina Umar bin Abdul Aziz, yaitu mendahulukan kepentingan rakyatnya. Persatuan negara harus diutamakan, bukan kepentingan pribadi.”

    Ketiga, as-syuro atau musyawarah. Apa yang kita lakukan hendaknya kita musyawarahkan dengan cara demokrasi. Beliau juga menyampaikan bahwa mencitai tanah air adalah suatu keniscaayaan dan kewajiban.

    Keempat, keadilan sosial. Kita harus menerapkan sikap adil kepada siapa pun, baik dalam hal kenegaraan maupun keagamaan.

    Kelima, menjaga kemuliaan setiap manusia. Hal itu bisa dilakukan dengan cara tidak mengambil barang yang bukan hak kita, melakukan sumpah palsu, mengurangi timbangan, hendaknya tidak memberi tugas seseorang melebihi dari kemampuannya dan memberikan hak setiap manusia.

    Ada satu hadist penting yang mendasari Argumentasi beliau yaitu dari Auf ibn Malik, berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian.”
    “Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga yang kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian. Lalu, Auf berkata: “Ya Rasulullah, bolehkah kita memberontak kepada mereka?” Rasulullah SAW bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah kalian.”
    (HR Muslim). Dari hadist ini jelas bagaimana kita bersikap sebagai pemimpin atau warga negara.

    Pemateri kedua, Prof. Dr. Syekh Fahthi Al Hijazi Al Husaini, Guru Besar Universitas Al Azhar Cairo Mesir. Beliau menyampaikan bahwa agar menjadi manusia yang bahagia dunia akhirat, kita harus memperhatikan tiga hal, yaitu taat kepada Allah, Rasulullah, dan pemerintah. “Ketaatan kepada ketiganya mutlak, tidak bisa dipisahkan. Pemerintah yang kita pilih adalah pemrintah yang memiliki keilmuan dalam pemerintahan. Seperti Sayidina Abubakar, dan tiga khulafaurrasyiddin yang lain.”

    Berdasarkan penuturan beliau, hendaknya pemerintah taat kepada Allah, meminta nasihat seperti Sayidina Umar yang selalu meminta pendapat atau nasihat Sayidina Ali. Seperti yang disampaikan oleh pemateri pertama, beliau juga menyampaikan bahwa aturan yang dibuat oleh pemerintah tidak boleh berseberangan dengan syariat. Selain itu, pemerintah harus menghargai bawahannya.

    “Apabila ada masalah dalam kehidupan kita, kembalilah kepada Allah dan Rasulullah! Selagi tidak memerintahkan kemaksiatan, wajib taat kepada pemerintah,” ungkap beliau.
    Sebelum menutup materinya, Syekh Fahthi yang merupakan salah seorang “Sayyid” atau keturunan Rasulullah itu mengajak kita untuk memperhatikan tiga hal penting.

    Pertama, pastikan kita adalah orang yang menaati hukum negara, kontitusi, dan syariat Allah.

    Kedua, mencintai dan memuliakan orang lain.

    Ketiga, selalu berusaha husnudzan atas apa yang ditentukan oleh Allah SWT.

    Beliau mengintakan kepada kita tentang bahayanya menentang pemerintah bahwa Rasulullah SAW bersabda :“Barangsiapa melihat sesuatu yang tidak disenangi dari pribadi pemimpinnya ( Kepala Negaranya ), hendaklah ia bersabar. Karena tidak ada seorangpun yang memisahkan diri dari jama’ah ( tidak mau mengakui kepemimpinan seorang Kepala Negara ) bila ia mati ia akan mati secara jahiliyah.” H.R. Thabrany.

    Pembicara ketiga, Prof. Dr. Makhrus, S.H., M.Hum, yaitu Guru Besar Ilmu Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau memaparkan materi “Meneguhkan Kontitusi di NKRI Perspektif Syariat Islam”.
    Prof. Makhrus menyampaikan bahwa Indonesia dengan dasar Pancasila adalah bentuk atau hasil dari perjanjian politik yang memiliki tiga poin penting. Pertama, Pancasila sebagai pilar atau penyangganya. Kedua, negara wajib ada karena kebhinekaan. Ketiga, komponen bangsa wajib menjaga keutuhan negara.

    Mengutip penyataan Imam Ghozali, beliau mengutarakan hubungan antara negara dan agama.
    “Negara dan agama adalah dua sisi yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan bernegara,”
    Umar bin Khattab pernah berkata
    “Bahwasanya tidak ada Islam kecuali dengan jama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan keamiran, dan tidak ada keamiran kecuali dengan ketaatan.”
    Kata beliau bahwa Negara Indonesia menjadikan Agama sebagai sendi dalam kehidupan bernegara. Sehingga Negara tidak boleh meninggalkan Agama.
    Negara tidak boleh mencampuri setiap warga yang beribadah sesuai agama, akan tetapi Negara Wajib melindungi setiap warga negara yang beribadah sesuai agamanya. ( LBM PCNU Surakarta )

    Kontributor: Mokh. Yahya, M.Pd. dan AM. Mustain Nasoha (Dosen IAIN Surakarta)

  • PKPNUNYA  JELAS, TERKADANG ORANGNYA YANG GAK JELAS

    PKPNUNYA JELAS, TERKADANG ORANGNYA YANG GAK JELAS

    SORBAN SANTRI- Dalam artikel ini kalau bahasannya di Orangnya atau Personnya jadi bisa saja Pematerinya, Pemimpinnya, Penggeraknya, kiainya SIAPAPUN!! tidak terkecuali Sesosok GUS DUR sekalipun yang bilang dan  memerintahkan..

    Ada cerita pengalaman saiya sendiri dengan beliau ( salah satu penggugus dan penggerak PKPNU dan NU ONLINE ) dengan berbicara keras kepada saiya. KAMU BUKAN KADER PKPNU YA?!
    terkait arah politik yang saiya nilai jauh dari IDEOLOGI. ( mulanya saiya heran, kok beliau ngerti saiya bukan kader PKPNU ? padahal beliau belum tau dan kenal saiya itu siapa? Tapi gak apalah yang penting bangga bisa sowan pada beliau walaupun via telp dan merasa tergerak hati ini dengan adanya kejadian yang akan kita (warga NU) kedepan terkait arah politik di Mojokerto ) .

    Dari situ setiap saat saiya merenung dan berfikir dengan KOK BISA YA?! KOK TAU YA?! di pikiran masih bingung dengan arah kemana-mana dan berbuat apa..

    Alhamdulillah Minggu, 02 Agustus 2020 saiya diajak salah satu sahabat SORBAN (anSOR BANser) Kec. Pacet Mojokerto untuk sowan ke salah satu tokoh kiai yang mana beliau adalah salah satu sosok yang memberikan jawaban atas keburaman pikiran saiya tersebut. Apa yang beliau katakan?!
    ” SAAT INI MOJOKERTO DIKASIH UJIAN YANG SANGAT BERAT SEKALI TERKAIT SIAPA LAWAN SIAPA KAWAN TERKAIT ARAH POLITIK DI MOJOKERTO “ dan beliau juga menyampaikan ” AWAL DARI RAHMATALLIL’ALAMIN ITU DARI NU AWALNYA INSYAALLOH DARI MOJOKERTO “

    Dari rentetan peristiwa itu, saiya pulang dengan sudah bisa tersenyum dan sudah menemukan jawaban dari yang selama ini saiya pikirkan bahwa:

    MOJOKERTO INI LAGI MENGHADAPI UJIAN, DAN SIAPAPUN YANG MENYIMPANG DAN BERBELOK ARAH JANGAN DI IKUTI, SIAPAPUN ITU… MESKIPUN DIA ITU PEMIMPIN BAHKAN SESOSOK GUS DUR SEKALIPUN… SUNGGUH PERANG IDEOLOGI ITU ADA DAN NYATA!! TIDAK BISA DIUTARAKAN LEWAT BAHASA!! SEDERHANANYA BEGINI ” BERBICARA SALAH SAMBIL MENGEDIP KEDIPKAN MATA .

    Dan dari deretan cerita itu juga, saiya mengerti dan sudah tidak lolos PKPNU paling pertama kali ketika salah satu penggugus sekaligus penggerak PKPNU bilang, “KAMU BUKAN KADER PKPNU YA?! dan Alhamdulillah sekarang saiya bisa tersenyum dan mengerti yang Beliau katakan. Bahasa sederhananya begini ” SAYA (KIAI YANG BILANG KAMU BUKAN KADER PKPNU) ITU SALAH, DAN KAMU ( SAIYA SENDIRI ) ITU BENAR DALAM PENEGAKAN IDIOLOGI, SEKARANG INI UJIAN KAMU ” seperti itu kira-kira bahasa yang saiya tangkap, dan saiya sadar dan gak lolos dalam ujian itu.

    Hikmahnya adalah saiya tahu bahwa OKNUM-OKNUM, pelaku pemanfaatan nama besar organisasi, kader pemalu, kader penakut, kader kepentingan,kader ragu-ragu, kader pamrih, kader balasbudi dsb, tidak akan lolos dalam ujian ini dalam menegakkan IDIOLOGI. Dan dari situ saiya benar-benar faham SIAPA KAWAN .. SIAPA LAWAN ..
    Dan saiya termasuk kader ragu-ragu dalam arah IDIOLOGI ini.. sehingga saiya tidak lolos dalam ujian ini.

    Mudah-mudahan cerita ini bisa difahami oleh sahabat-sahabat dan jangan sampai terpancing ujaran dan slogan-slogan gak jelas… MOJOKERTO DALAM UJIAN, JADI HARAP TENANG!!

    (abi SORBAN)

    Salam 1 Komando
    #NKRIHARGAMATI
    #ASJAWAAQIDAHKITA

    #SORBANSANTRINU

  • INDONESIA SEBAGAI BANGSA YANG BERBUDI LUHUR

    INDONESIA SEBAGAI BANGSA YANG BERBUDI LUHUR

    SORBANSANTRI.COM
    SORBAN SANTRI- Indonesia adalah negara beragama bukan negara agama dan setiap agama tentu mengajarkan agar sesama manusia saling menjalin kasih sayang karena manusia sejatinya adalah mahluk sosial.

    Begitupun dalam Islam Rosulullah SAW bersabda “Tidak akan sempurna iman seseorang hingga yang bersangkutan sanggup mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

    Seseorang tidak akan mungkin mau dirinya susah, menderita, menanggung kerugian, dan apalagi celaka, begitu pula, sebagai bentuk kecintaan terhadap sesama, semestinya orang lain pun tidak boleh menanggung perasaan yang ia sendiri membencinya.

    Agama sebagai ajaran yang mulia, ternyata belum selalu ditangkap oleh umatnya dengan baik, seseorang yang telah mengaku sebagai seorang beriman kepada yang diyakini, tentu akan memiliki perilaku yang baik dalam keseharianya, ketika bergaul begitupun saat dia berkomunikasi dengan orang lain.

    Tema besar yang diusung pada HUT RI Ke 75 ini adalah menciptakan Indonesia Maju, yang merepresentasikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Logo HUT RI ke-75 terinspirasi dari simbol perisai di dalam lambang Garuda Indonesia. Logo ini juga menggambangkan Indonesia sebagai negara yang mampu memperkokoh kedaulatan, menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.
    Dan sebagai simbol arti dari kesetaraan dan pertumbuhan ekonomi untuk rakyat Indonesia dan progres nyata dalam bekerja untuk mempersembahkan hasil yang terbaik bagi semua rakyat Indonesia.

    #JayalahIndonesiaku
    #JanganLelahCintaiIndonesia
    #BhinekaTunggalIka
    #BersatuUntukIndonesiaMaju

    ( Ontoseno )

  • DOSAKAH MENJADI INDONESIA?

    DOSAKAH MENJADI INDONESIA?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Sudah 75 tahun Indonesia merdeka, ternyata masih ada “agen asing” di Indonesia yang secara psikologi politik merasa malu, risih, bahkan berdosa mengakui Indonesia sebagai negara dan bangsanya. “Orang” di Indonesia lahir, besar, hidup dan mencari penghidupan di sini tanpa bangsa dan negara. Mereka bukan warga negara asing yang memiliki paspor luar negeri. Karena di luar Indonesia mereka juga tidak punya bangsa dan negara.

    “Agen asing” di Indonesia kebanyakan bagian dari komunitas transnasional. Komunitas transnasional merupakan komunitas yang identitas budaya, kesetiaan politik dan orientasi psikologisnya melampaui batas-batas nasional. (Andrew Heywood, terj. 2016:326). Di antara komunitas transnasional yang menonjol adalah ISIS, HTI dan sebagian Salafi Wahabi.

    “Agen asing” di Indonesia memandang Indonesia dari perspektif komunitas mereka. Dari doktrin, nilai, norma dan standar mereka. Persepsi-persepsi ini sudah jadi dogma yaitu keyakinan tertutup yang tidak diuji, diverifikasi dan dikonfirmasi dengan kenyataan. Keyakinan yang ditanamkan sebagai materi pembinaan.

    “Agen asing” di Indonesia memandang Indonesia dari perspektif komunitas mereka. Dari doktrin, nilai, norma dan standar mereka. Persepsi-persepsi ini sudah jadi dogma yaitu keyakinan tertutup yang tidak diuji, diverifikasi dan dikonfirmasi dengan kenyataan. Keyakinan yang ditanamkan sebagai materi pembinaan.

    Ciri khas “agen asing” di Indonesia menjadi bagian dari komunitas transnasional mereka mencita-citakan kehidupan kosmopolitanisme melintasi bangsa dan negara bangsa. Kosmopolitanisme secara harfiah berarti keyakinan terhadap kosmopolis atau negara dunia. Kosmopolitanisme moral adalah keyakinan bahwa dunia seharusnya terdiri atas satu komunitas moral tunggal di mana setiap orang memiliki kewajiban kepada orang lain apapun nasionalitasnya, agama, budaya dan etnisnya. (Andrew Heywood, terj. 2016:327). Kosmopolitanisme dalam bentuk Khilafah.

    Hal mendasar yang membuat “agen asing” di Indonesia tidak bisa menjadi Indonesia karena faktor ideologi dan sejarah. Menurut mereka ideologi negara Indonesia, ideologi kufur, pemerintahannya thaghut, hukumnya hukum jahiliyah, penguasanya pengkhianat, antek-antek Barat, sejarah terbentuknya buah dari gerakan separatis (bughat) terhadap Khilafah Utsmaniyah dan proyeksi masa depan Indonesia yang tidak sesuai dengan Nubuwwah Nabi saw tentang Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah.

    Sebenarnya sudah banyak kajian ilmiah fiqhiyah yang membantah persepsi mereka. Nah, tidak ada salahnya dibongkar kembali persepsi mereka guna mengurai kekusutan nalar, meluruskan pemahaman dan menghilangkan beban serta hambatan psikologi politik “orang” di Indonesia menjadi orang Indonesia seutuhnya.

    Secara global kesalahan fatal “agen asing” di Indonesia seperti HTI dan ISIS, mereka mencampuradukkan fakta bentuk negara, sistem pemerintahan, sejarah berdirinya negara dan perilaku penguasa. Akibatnya, nalar mereka kusut. Tentu tidak sesuai tradisi berpikir fiqih Islam “menghukumi fakta per fakta secara terperinci”. Apakah karena kedangkalan ilmu mereka atau karena kemalasan berpikir serius, sistematis, metodis dan mendalam atau karena ghirah keberislaman yang over dosis, yang pasti mereka keliru menilai Indonesia.

    Mengingat pembahasan syar’i tentang negara, pemerintahan dan penguasa sudah banyak, kali ini saya mau meluruskan pemahaman “agen asing” di Indonesia tentang masa lalu dan masa depan Indonesia. Masa lalu terkait dengan sejarah pembentukan negara Indonesia, sedangkan masa depan membahas positioning Indonesia berhubungan dengan Nubuwwah Nabi saw.

    Nasionalisme: Unifikasi Anti Kolonial
    Bagi “agen asing” di Indonesia, Khilafah Turki Utsmani negara ideal yang jadi standar untuk menilai keabsahan negara lain. Meskipun idealisme ini jauh dari kenyataan, “agen asing” di Indonesia menyalahkan keberadaan negara muslim selain Khilafah Turki Utsmani.

    Sudah menjadi fakta sejarah, negara-negara Arab modern terbentuk dari konspirasi Eropa dengan penguasa lokal untuk memberontak terhadap Khilafah Turki Utsmani. Ide nasionalisme yang diusung penguasa Arab saat itu, nasionalisme separatisme anti Turki Utsmani pro kolonial Eropa. Kenyataan ini membuat “orang” di Indonesia mengharamkan nasionalisme.

    Lain halnya dengan sejarah Arab modern, rakyat Indonesia kemerdekaannya 17 Agustus 1945, 21 tahun setelah runtuhnya Khilafah Turki Utsmani. Khilafah Turki Utsmani resmi dibubarkan pada tanggal 3 Maret 1924. Jadi tidak masuk akal jika Indonesia berdiri sebagai hasil pemberontakan (separatisme) terhadap Khilafah Turki Utsmani karena ketika Indonesia berdiri Khilafah Turki Utsmani sudah tidak ada.

    Selain gagal paham soal proses pembentukan negara Indonesia, “agen asing” di Indonesia mewacanakan persatuan umat sebagai alasan syar’i untuk mendirikan Khilafah.

    Mereka mengambil fakta unifikasi negara Eropa ke dalam Uni Eropa sebagai bukti kemungkinan unifikasi umat dalam bingkai Khilafah. Unifikasi Eropa secara terbatas pertama kali tahun 1957. Sampai sekarang baru bisa menggabungkan 27 negara. Unifikasi Eropa sebentuk asosiasi negara-negara Eropa bukan leburan yang membentuk satu negara kesatuan baru.

    Lagi-lagi “agen asing” di Indonesia gagal membaca sejarah Indonesia. Indonesia 12 tahun lebih dulu dari unifikasi Eropa. Indonesia berdiri hasil unifikasi dari berbagai kesultanan di nusantara, ormas-ormas Islam dan kalangan non Islam.

    Hasil riset Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada 2012, ada 186 kerajaan yang masih eksis secara fisik, yakni wilayah, bangunan, budaya, dan struktur monarki, namun tidak berdaulat lagi karena bergabung dengan NKRI.

    Di antara 186 kesultanan yang secara garis keturunan dan budaya masih kuat di antaranya Kesultanan Yogyakarta, Kesultanan Surakarta, Kasultanan Cirebon, Kerajaan Ternate, dan Kesultanan Kanoman. Berbeda dengan nasionalisme Arab, nasionalisme Indonesia bersifat unifikasi dan anti kolonial.

    Indonesia Makmur Tanpa Khilafah
    Dari 400-an hadits tentang Nubuwwah akhir zaman, tidak ditemukan hadits yang menyebut Indonesia secara spesifik. Juga tidak ada hadits yang menunjuk langsung atau dengan qarinah (indikasi) bahwa Indonesia akan jadi Khilafah. Sehingga positioning Indonesia di masa depan dapat diprediksi dari keumuman dalil tentang keadaan negeri-negeri di akhir zaman.

    Jumhur ulama sepakat bahwa Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua akan terjadi di bawah kepemimpinan Imam Mahdi didampingi Nabi Isa as. Adapun pendapat yang mengatakan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua terwujud sebelum Imam Mahdi, pendapat ini masih khilafiyah karena bersandar pada dalil-dalil umum tentang kemakmuran umat di akhir zaman. (Al-Hajj: 40; Ash-Shaffat: 171-173; Muhammad; 7; Al-Mujadilah; 21; Al-A’raf: 128; Al-Anbiya: 105; Al-Mu’min: 51; An-Nur: 55).

    Sedangkan Khilafah yang dipimpin oleh Imam Mahdi secara khusus disebutkan dalam sejumlah hadits. Imam Mahdi dibai’at di Makkah dekat Ka’bah antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim (HR. Nu’aim bin Hammad, Hakim dan Ath-Thabari dalam Ausath dari Ummu Salamah. Abu Dawud kitab al-Mahdi no. 4286 dan al-Hakim kitan al-Fitan wal Malahim no. 8326). Kemudian Imam Mahdi melakukan ekspansi di jazirah Arab, menaklukkan Persia dan malhamah kubra di A’maq dan Dabiq dekat Damaskus.

    Adapun Nabi Isa bin Maryam akan turun di menara putih bagian timur kota Damaskus (HR. Muslim, kitab al-Fitan wa Asyrath As-Sa’ah, ban Dzikr ad-Dajjal 18: 67-68). Kemudian Nabi Isa as membunuh Dajjal dekat Baitul Maqdis (HR. Ahmad, Baqi Musnad al-Mukatstsirin hadits no. 14965, Ibnu Majah, hadits no. 4077).

    Berdasarkan keumuman dalil-dalil kemenangan, kejayaan dan kemakmuran umat Islam dan merujuk pada kekhususan hadits-hsdits tentang Imam Mahdi dan Nabi Isa as di mana setting lokasinya di kawasan Arab yaitu Makkah, Madinah, Hijjaz, Syam, A’maq, Dabiq, Damaskus dan Baitul Maqdis, maka bisa diprediksi umat Islam di Indonesia juga mengalami masa kemakmuran gemah ripah loh jenawi walaupun bukan pusat Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

    Dengan demikian di masa depan Indonesia makmur dan sejahtera tanpa harus jadi Khilafah. Perjuangan “agen asing” di Indonesia akan sia-sia karena bertentangan dengan hadits-hadits tentang Imam Mahdi dan Nabi Isa as. Belum terlambat untuk kembali ke Indonesia. Jadilah Indonesia lahir batin. Menjadi Indonesia kewajiban syar’i bagi pribumi dan warga negaranya. (Oleh Ayik Heriansyah )

  • ADA YANG MAU MEMBAKAR NEGERI INI

    ADA YANG MAU MEMBAKAR NEGERI INI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Pernahkah kita memperhatikan cara kerja lampu atau kompor minyak tanah? Kenapa api hanya membakar ujung atas sumbunya saja? Karena sifat api hanya membakar apa yang ada diatasnya.

    Kalau begitu, bukankah posisi api itu sudah paling atas, dan seharusnya ia akan padam? Betul, seharusnya ia padam jika tidak ada bahan bakar.

    Minyak tanah itulah yang akan membuat api itu akan terus menyala. Dan api hanya mengikuti sifat alamiah atau hukum alam saja.

    Begitu juga dalam kehidupan. Sifat api dalam hati kita hanya membakar apa yang ada diatasnya. Api iri, cemburu, dengki dsb hanya membakar akibat keinginan yang lebih tinggi.

    Hukum alam api di dalam hati kita hanya akan memiliki sifat iri kepada orang yang lebih sukses, pandai, kaya, rupawan, dsb. Intinya, hanya kepada orang-orang yang berada di atas level kita.

    Ini tidak hanya berlaku secara personal.

    Juga berlaku secara kelompok, organisasi bahkan sampai pada level negara.

    Hati kita dengan lampu minyak setidaknya sebuah analogi yang identik. Api itu harus tetap menyala namun terukur agar menjadi semangat dalam kehidupan.

    Api yang kecil akan menerangi, namun jika ia besar dan tak terkendali justru akan membakar dirinya sendiri dan apa yang ada disekitarnya.

    Pun begitu dengan minyaknya sebagai pembakar semangat. Ia juga harus terukur dan terarah. Itulah kenapa ia hanya boleh mengalir dalam sumbu dan bukan disiramkan yang bisa memicu kebakaran.

    Jika seperti ini, ia bukan sebagai penyemangat melainkan sebagai provokator yang sifatnya merusak.

    Dalam skala sosial, semangat itu sendiri manifestasinya bisa dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Contohnya, ketika ada fenomena pembakaran bendera PKI.

    Orang-orang yang memiliki nalar dan akal yang masih sehat, tentu bisa menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah rekayasa.

    Ideologi yang sudah tidak laku, tiba-tiba bangkit dan dikabarkan memiliki anggota 60 juta lebih di Indonesia.

    Disinilah perlunya ukuran nalar dan semangat kebangsaan yang terarah.

    Begitu pula dengan fenomena Klepon sebagai jajanan tradisional yang dianggap tidak Islami. Ini juga dituntut nalar dan semangat beragama yang terukur dan terarah.

    Dan terakhir tentang kejadian pembakaran baliho seorang tokoh.

    Bagi orang yang memiliki nalar dan akal yang masih sehat, tentu akan paham sifat api yang membakar apa yang ada di atasnya.

    Itulah kenapa dalam video pembakaran bendera PKI dengan baliho gambar tokoh itu akan terlihat perbedaan cara atau teknis membakarnya.

    Bendera dibakar dari bawah, sedangkan baliho dibakar dari atas.

    Yang satu akan mudah terbakar, sementara satunya akan padam.

    Apalagi terduga pelakunya terafiliasi pada kelompok yang sama.

    Perhatikan, pikirkan dan rasakan. Sudah jelas bahwa rupanya ada penyiram minyak dalam kehidupan berbangsa dan beragama di negeri kita ini.

    Tujuannya bukannya untuk menerangi, melainkan agar negeri ini terbakar oleh adu domba akibat “ghirah” yang tak terkendali.

    Semoga kita selalu cinta damai…
    Walaupun blakangan ini ada perbedaan dan perdebatan politik hingga membawa sejarah palsu dan saling tidak menghargai.

    Hentikan itu semua, kita 1 saudara seatap NKRI HARGA MATI

    Kalian yang berjiwa cinta damai ayo repost foto ini mari tumbuhkan lagi jiwa nasionalisme kita..! Untuk Indonesai Raya ( POST SANTRI NU)

  • Pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah Soal Membenahi Negara

    Pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah Soal Membenahi Negara

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Diskusi siang ini sedikit membuat saya nervous, sebab ini pertama kali saya satu forum dengan para Doktor, Mahasiswa S3 dan praktisi Ekonomi Syari’ah.

    Di sambutan pembuka, Dr. Imron Mawardi selaku Ketua Masyarakat Ekonomi Syari’ah menyampaikan bahwa tujuan menghadirkan saya agar ada tambahan referensi ke sumber dalil dari ulama klasik. Dari sini saya mulai merubah posisi duduk saya (pegel linu kambuh).

    40 menit saya menyampaikan materi, mulai wabah penyakit di masa Nabi, bentuk harta yang dikeluarkan dalam Islam, tetap mengeluarkan infaq dalam keamanan lapang atau sempit, terlebih praktik jaminan sosial yang dilakukan oleh Nabi baik selaku otoritas pembawa wahyu maupun pemimpin umat Islam dan sebagainya.

    Dilanjutkan dengan dialog, tanya jawab yang lebih dalam soal materi, ada yang beranjak ke soal Qurban, hingga bicara soal sistem negara.

    Penanya paling akhir menyuarakan kenapa tidak memakai sistem khilafah? Bukankah khilafah adalah solusi bagi masalah jaminan sosial? Hajat hidup manusia akan ditanggung oleh negara secara gratis dan sebagainya.

    Karena pertanyaan di injury time maka hanya saya yang menjawab. Saya sampaikan dengan memori sebuah buku disertasi Al-Ghazali VS Ibnu Taimiyah soal membenahi negara. Di buku tersebut dijelaskan bahwa cara Ibnu Taimiyah adalah revolusi. Artinya jika ada negara yang tidak sejalan dengan tujuan maka langsung ganti sistem.

    Sementara Imam Ghazali memilih pendekatan akomodatif, membenahi apa yang belum baik untuk menjadi baik. Saya kira pemikiran inilah yang diwarisi oleh para kyai yang terlibat dalam perjuangan di negeri ini. Negara terus berjalan dan apa yang kurang, atau bahkan Maqashid Syari’ah yang belum tercapai, dibenahi bersama agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.

    Sistem yang ada saat ini memang belum jadi yang terbaik, tetapi setidaknya sudah menjadi perekat keutuhan dalam menjalankan kehidupan beragama dan bernegara. Sementara sistem khilafah yang digadang-gadang jadi solusi, diterapkan di negara mana yang sudah berhasil saat ini? Jawabannya tidak ada satupun, bahkan ditolak banyak negara yang berpenghuni umat Islam.(post kh. Ma’ruf khozin)

  • HTI MELAKUKAN PERGERAKAN MEREKA DARI PERUMAHAN PERUMAHAN YANG MEREKA BUAT SENDIRI

    HTI MELAKUKAN PERGERAKAN MEREKA DARI PERUMAHAN PERUMAHAN YANG MEREKA BUAT SENDIRI

    SORBANSANTRI.COM

    oleh : UBK (Ustadz Brama Kumbara)

    SORBAN SANTRI – Tahukah anda dana oprasional dan pergerakan “HATEISME” yang masif itu dananya dari mana??
    Diantaranya Yang paling besar adalah Dunia Property,

    Mereka bahu membahu bekerja sama membeli lahan kita untuk dijadikan perumahan perumahan,
    Lalu mereka membangun mesjid sebagai sarana untuk menyampaikan pemahamannya dibuatlah pengajian pengajian dan pasti ustadz ustadznya pun dari kelompok mereka..

    Mereka tahu bahwa orang Yang membeli perumahan baru itu “biasanya” orang Yang baru berumah tangga Yang awam dan haus akan ilmu agama sebagai bekal rumah tangganya,

    Disitulah kesempatan mereka mencari mangsa untuk mencecoki paham paham “HATEISME”

    Dan kita sudah terlambat untuk mengambil alih mesjid tersebut
    tidak berdaya karena mesjid itu mereka sendiri Yang membangun dan dalam lingkungan penguasaan mereka,..

    Itulah real nyata Yang terjadi saat ini dilapangan…

    Sementara kita hanya meratapi tanah kita diambil dan mereka dengan leluasanya pula menghasud orang lain dengan ideologi ideologi mereka..

    Dan kita tak berdaya…

    Oleh karena itu sudah seharusnya kita warga NU terkhusus
    harus bisa menguasai lahan lahan atau setidaknya bisa mempertahankan diri dari cara cara main mereka..

    Karena ketika tanah sudah diambil dan dimiliki mereka kita tidak bisa berbuat apa apa…

    NKRI harga mati dan hubbul wathon minal iman slogan dan teriak dibibir saja tetapi, dalam kenyataan,
    Tanah sudah dikuasai dan dimiliki mereka mungkin anak cucu kita nanti yang akan sangat merasakan imbasnya .

    Sukabumi 20 Juli 2020

    “UBK”

    (abi SORBAN)

  • Ketua Ansor Jember Dibunuh PKI

    Ketua Ansor Jember Dibunuh PKI

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Habib Ali bin Abdullah Alhamid, Ketua Ansor Jember yang Dibunuh PKI. Habib Ali bin Abdullah Alhamid terhitung masih keponakan Habib Sholeh Tanggul, Jember. Beliau meninggal secara syahid di usia muda, sekitar 32 tahun, setelah diculik dan dieksekusi mati oleh kawanan PKI di kawasan Hutan Kumitir, sekitar tahun 1965. Hutan itu jadi saksi bisu kekejaman PKI kepada para ulama.

    Setelah ditembak mati, jasad Habib Ali Alhamid pertama kali ditemukan oleh perempuan paruh baya yang sedang mencari kayu bakar. “Ono wong mati Arab, ono wong mati Arab, ono wong mati Arab,” teriak perempuan itu sambil berlari memberitahu suami dan warga lain di sekitar hutan. Saksi hidup anak yang menemukan jasad habib masih ada hingga tulisan ini dibuat.

    Habib Ali bin Abdullah Alhamid pada waktu itu adalah Ketua GP Ansor Jember. Tragedi pembunuhan bermula dari kunjungan seorang tamu yang memberitahukan kalau jamaah dan santri beliau, saat itu, tengah ditangkap dan diamankan di kantor kepolisian setempat.

    Mendengar kabar mengejutkan tersebut, Habib Ali langsung berkemas menuju kantor kepolisian untuk memastikan kebenaran informasinya, karena memang saat itu situasi negara sedang tidak menentu. Tidak aman dan tidak kondusif.

    Di tengah perjalanan, ternyata Habib Ali diculik oleh gerombolan PKI, lalu diseret ke Gunung Kumitir atau Gunung Mrawan, yang terletak di perbatasan antara Jember dan Banyuwangi, Jatim. Tamu tersebut ternyata adalah suruhan PKI.

    Di lokasi yang telah ditentukan itu, Habib Ali hendak dieksekusi tembak oleh komplotan kejam PKI. Namun, peluru yang dihujamkan berkali-kali oleh PKI tidak mempan menembus dada sang habib. Habib Ali ternyata memiliki karomah kebal senjata. Tidak mempan senjata tembak.

    Pusing, tim eksekutor mengancam habib, yang isinya “jika pelurunya tidak tembus, maka, istri, anak dan semua keluarganya akan dibantai habis oleh PKI”. Dengan pelbagai pertimbangan, Habib Ali akhirnya hanya tersenyum dan menyerah, bersedia ikhlash dieksekusi mati.

    Namun, sebelum ditembak, Habib Ali bin Abdullah Alhamid berpesan agar setelah wafat nanti, jasadnya tidak dicampur dengan yang lain, sebagaimana kebiasaan PKI yang menumpuk mayat korbannya saat itu pasca eksekusi. Habib minta jasadnya disendirikan.

    Sebelum ditembak, Habib Ali mohon ijin untuk melaksanakan ibadah shalat sunnah dan berdoa. Usai shalat, habib memasrahkan dirinya ditembak demi menyelamatkan keluarga, para pengikut serta santri dan jama’ahnya. Atas kehendak Allah, peluru akhirnya bisa tembus dan Habib Ali Alhamid wafat dalam keadaan syahid di tangan PKI.

    Riwayat pembunuhan ini menjadi gamblang dan terang sejak ada seorang laki-laki tua yang ziarah ke makam Habib Ali lalu menangis sejadi-jadinya di sana. Sekitar tahun 2000-an. Ia datang ke makam untuk meminta ampunan dan mohon maaf kepada habib beserta seluruh keluarganya karena telah menembak mati sang habib.

    Ia datang ziarah setelah merasakan kalau hidupnya tidak tenang dan dirundung penyesalan tanpa akhir. Kepada keluarga, ia menceritakan kronologi tragedi tersebut dari awal hingga akhir. Keterangan yang didapatkan Duta Islam menyebutkan kalau laki-laki itu adalah seorang muslim yang terpaksa menuruti perintah PKI menembak Habib Ali.

    Saat ekseskusi, katanya, telinga kiri laki-laki itu sudah dicung senapan oleh anggota PKI. Jika dia tidak menembak habib, maka peluru di senapan yang dekat telinganya tersebut akan segera menyasar kepalanya sendiri. Karena takut atas ancaman tersebut, terpaksa dia mengeksekusi tembak Habib Ali. (sumber: dutaislam)