Kategori: Opini dan Analisis

Artikel opini, analisis mendalam, dan editorial tentang berbagai topik yang relevan.

  • Ngaji dan Menyebarkan Ilmu Tidak Harus Disatu Waktu

    Ngaji dan Menyebarkan Ilmu Tidak Harus Disatu Waktu

     

    SORBANSANTRI.COMSORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Sejak ngaji online bisa dilakukan oleh setiap Ustadz dan caranya juga gampang, cukup pakai hp, tripod dan headset, langsung bisa ngaji. Tidak perlu tim dakwah, tidak usah pakai jasa profesional dan sebagainya. Di satu sisi ada nilai positifnya.

    Di sisi lain ada semangat yang berlebih sehingga ingin ngaji terus di akun Medsosnya. Ngaji dan menyebarkan ilmu memang baik. Tapi kita lihat dulu bagaimana dahulu para Sahabat yang ngaji kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

    ﻛَﺎﻥَ ﻋَﺒْﺪُ اﻟﻠَّﻪِ ﻳُﺬَﻛِّﺮُ اﻟﻨَّﺎﺱَ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺧَﻤِﻴﺲٍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺭَﺟُﻞٌ: ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﻋَﺒْﺪِ اﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﻟَﻮَﺩِﺩْﺕُ ﺃَﻧَّﻚَ ﺫَﻛَّﺮْﺗَﻨَﺎ ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡٍ؟

    Abdullah bin Mas’ud mengajarkan ilmu setiap hari Kamis (seminggu sekali). Ada yang bertanya: “Wahai Abu Abdirrahman, saya senang jika kamu mengajar kami tiap hari”

    ﻗَﺎﻝَ: ﺃَﻣَﺎ ﺇِﻧَّﻪُ ﻳَﻤْﻨَﻌُﻨِﻲ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﻧِّﻲ ﺃَﻛْﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﺃُﻣِﻠَّﻜُﻢْ، ﻭَﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺗَﺨَﻮَّﻟُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﻤَﻮْﻋِﻈَﺔِ، ﻛَﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ اﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺘَﺨَﻮَّﻟُﻨَﺎ ﺑِﻬَﺎ، ﻣَﺨَﺎﻓَﺔَ اﻟﺴﺂﻣﺔ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ”

    Ibnu Mas’ud menjawab: “Bukan aku tak mau. Tapi aku takut kalian jadi bosan. Saya carikan waktu ceramah untuk kalian seperti yang dilakukan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam kepada kami, karena takut kami jadi bosan” (HR Bukhari)

    ﻋَﻦِ اﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ، ﻗَﺎﻝَ: «ﺣَﺪِّﺙِ اﻟﻨَّﺎﺱَ ﻛﻞ ﺟﻤﻌﺔ ﻣَﺮَّﺓً، ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺑَﻴْﺖَ ﻓَﻤَﺮَّﺗَﻴْﻦِ، ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﻛْﺜَﺮْﺕَ ﻓَﺜَﻼَﺙَ ﻣِﺮَاﺭٍ، ﻭَﻻَ ﺗُﻤِﻞَّ اﻟﻨَّﺎﺱَ ﻫَﺬَا اﻟﻘُﺮْﺁﻥَ … »

    Ibnu Abbas berkata: “Ajari ilmu kepada umat setiap Jum’at sekali. Jika tidak, boleh 2 kali. Jika ingin menambah maka 3 kali (dalam sepekan). Jangan jadikan umat Islam bosan terhadap Al-Qur’an” (Sahih Bukhari)

    Alam Medsos tidak sama dengan Santri yang menetap di pondok. Tiap hari ngaji kitab, bahas ilmu dan seterusnya, karena memang dunianya bergelut dengan ilmu. Di alam Medsos terlalu banyak jenis manusia.

    Jangan-jangan saya yang menulis tiap hari di FB ini juga cepat membosankan netizen? ” kata KH. Ma’ruf Khozin di beranda FB”

    (red)

  • Ketika Sedekah Lebih Utama Dari Pada Ibadah Haji

    Ketika Sedekah Lebih Utama Dari Pada Ibadah Haji

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Peristiwa ini dialami oleh seorang ulama besar di masa Tabi’in, beliau bernama Ibnu Mubarak [lahir 118 H]. Kisahnya disampaikan oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam kitab sejarah Al-Bidayah Wa An-Nihayah 10/191:

    خرج عبد الله بن المبارك مرة إلى الحج فاجتاز ببعض البلاد، فمات طائر معهم فأمر بإلقائه على مزبلة هناك، وسار أصحابه أمامه وتخلف هو وراءهم

    Abdullah bin Mubarak hendak pergi haji. Ia melewati sebuah negeri, lalu ada burung mati. Ia menyuruh agar burung itu dibuang ke tempat sampah. Murid-muridnya berangkat di depan dan dia berjalan di belakang mereka.

    فلما مر بالمزبلة إذا جارية قد خرجت من دار قريبة منها فأخذت ذلك الطائر الميت ثم لفته ثم أسرعت به إلى الدار

    Ketika Ibnu Mubarak melewati tempat sampah, lalu ada anak perempuan keluar dari sebuah rumah di dekatnya, ia mengambil bangkai burung itu. Ia membungkusnya dan segera membawa pulang

    فجاء فسألها عن أمرها وأخذها الميتة، فقالت: أنا وأخي هنا ليس لنا شيء إلا هذا الإزار، وليس لنا قوت إلا ما يلقى على هذه المزبلة، وقد حلت لنا الميتة منذ أيام، وكان أبونا له مال فظُلم وأخذ ماله وقتل.

    Ibnu Mubarak bertanya kepada anak perempuan itu mengapa mengambil bangkai burung. Anak perempuan itu menjawab: “Aku dan adikku disini tidak memiliki apa-apa kecuali kain ini. Tidak ada makanan untuk kami kecuali yang ada di tempat sampah. Beberapa hari ini bangkai yang ditemukan (untuk dimakan). Kami punya ayah yang kaya raya. Tapi ia dizalimi, hartanya dirampok dan dibunuh.”

    فأمر ابن المبارك برد الأحمال، وقال لوكيله: كم معك من النفقة؟ قال: ألف دينار، فقال: عد منها عشرين ديناراً تكفينا إلى مرو وأعطها الباقي، فهذا أفضل من حجنا في هذا العام، ثم رجع.

    Ibnu Mubarak memerintahkan untuk mengembalikan harta bawaan. Ia bertanya kepada wakilnya: “Berapa bekal kita?” Wakilnya menjawab: “1000 Dinar”. Ibnu Mubarak berkata: “Ambil 20 Dinar, cukup untuk transportasi kita ke Marwa [Turkmenistan]. Sisanya berikan kepada anak perempuan itu. Ini lebih utama dari pada ibadah haji kita tahun ini”. Ibnu Mubarak kemudian pulang (tidak berangkat haji).

    •] Terjemah gambar: Jika tahun ini tidak ada haji dan umroh, maka tawaflah (kelilinglah) ke rumah-rumah orang fakir-miskin dan orang-orang yang memerlukan.(KH.ma’ruf Khozin)

  • HABIB LUTHFI ROADSHOW DI TEGAL, ANSOR-BANSER TURUT MENGAWAL

    HABIB LUTHFI ROADSHOW DI TEGAL, ANSOR-BANSER TURUT MENGAWAL

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- Sabtu 6 Juni 2020 Kota Tegal mendapatkan keistimewaan tersendiri dari Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Hari itu, setidaknya 5 titik tempat dihadiri oleh salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) tersebut.

    Pondok Pesantren A.P.I di Muarareja asuhan Rois Syuriah PCNU Kota Tegal KH. Misbachul Musthofa menjadi jujugan pertama. Di sana Abah (demikian Beliau akrab disapa) bersilaturahmi dengan pimpinan dan kader-kader NU Kota Tegal.

    Sebagai bentuk penghormatan, puluhan anggota Ansor-Banser menggemakan lagu Syubbanul Wathon untuk menyambut kedatangan Abah.

    SORBANSANTRI.COM

    Dari Ponpes A.P.I Abah berkunjung ke Markas Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Kota Tegal. Di sana beliau memberikan arahan dan semangat kepada prajurit TNI AL.

    Kunjungan dilanjutkan ke Komplek Balaikota untuk menemui ASN Pemkot Tegal yang telah menanti. Roadshow berakhir setelah Abah bersilaturahmi dengan anggota kepolisian di Mapolsek dan bertemu dengan anggota TNI AD di Markas Koramil.

    Ansor-Banser Kota Tegal turut terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan tersebut. Sebagai organisasi kepemudaan NU, bersama Polresta Tegal, Ansor-Banser proaktif dalam penjemputan kedatangan Abah dan mendampingi perjalanan Abah di Kota Tegal. Bahkan, penjemputan dan pengawalan dari Ansor-Banser tersebut dipimpin langsung oleh Ketua PC GP Ansor Kota Tegal sahabat Sarwo Edi bersama Kasatkorcab Banser Kota Tegal Habib Husein. (GP ANSOR KOTA TEGAL)

    #gpansor_kotategal

  • Pesan Al-Habib Umar Bin Hafidz Tentang Sosmed

    Pesan Al-Habib Umar Bin Hafidz Tentang Sosmed

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja.online- “Gunakan sosial-media untuk hal-hal yang bermanfaat.

    Jadikanlah televisi, handphone, internet, dan alat-alat lainnya sebagai pelayan dan pembantu untuk agamamu.

    Jika tidak, alat-alat itu akan menghancurkan dirimu, sedangkan engkau malah tertawa (karena tidak menyadarinya,) ia akan merusak hatimu, akalmu, akhlakmu, dan fikiranmu tanpa kau sadari.

    Engkau tertawa bahagia padahal alat-alat itu telah merusak hal-hal yang paling berharga yang kau miliki.”

    Al-Habib Umar Bin Hafidz

    يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق⁣

    Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh.

    Aamiin.
    .

    Credit: Ulama Nusantara

  • Kiat Hadapi Orang-orang Ragukan Amaliyah NU

    Kiat Hadapi Orang-orang Ragukan Amaliyah NU

    DnUqe9vUcAAcjBl
    cyberaswaja.online-
    Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur hadir mengisi kopdar nasional Netizen NU, Kamis (28/2) di Pesantren Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat. Ia memaparkan terkait penguatan Ahlussunnah wal Jama’ah untuk para netizen NU. KH Marzuqi Mustamar mengisahkan, ia pernah kebingungan kenapa kiai-kiai NU melakukan adzan-iqomah di kuburan saat hendak menguburkan jenazah? Padahal

    Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur hadir mengisi kopdar nasional Netizen NU, Kamis (28/2) di Pesantren Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat. Ia memaparkan terkait penguatan Ahlussunnah wal Jama’ah untuk para netizen NU.

    KH Marzuqi Mustamar mengisahkan, ia pernah kebingungan kenapa kiai-kiai NU melakukan adzan-iqomah di kuburan saat hendak menguburkan jenazah?

    Padahal cari di hadits-hadits sahih tidak ada. Setelah ditanyakan ternyata ada alasan di balik adzan-iqomah itu, yakni untuk mengusir jin. Banyak hadits sahih yang menyebutkan bahwa makanan jin adalah tulang belulang.

    Maka para kiai NU tidak mau kuburan yang akan ditempati jenazah masih ada jinnya. Untuk mengusir jin digunakanlah adzan, ini sebagaimana diterangkan pula dalam hadits-hadits yang sahih.

    Ada orang yang tetap kekeh mempertanyakan keabsahan adzan-iqomah di kiburan. Dengan sedikit menyindir dia mengatakan, “Masa orang yang sudah mati diajak salat?” ucapnya di hadapan hadirin.

    Kiai Marzuki menegaskan kepada warga NU, jika ada pertanyaan tersebut, jawab saja dengan bertanya balik, “Kamu meyakini saat bayi baru dilahirkan disunnahkan untuk diadzan-iqomahi. Lalu untuk apa bayi diajak salat?”

    Hal itu, seperti dikutip nu-online, merupakan jurus jitu KH Marzuki Mustamar menghadapi orang-orang yang masih meragukan validitas amaliah-amaliah NU. Nyata, bahwa mayoritas ummat Islam di dunia adalah pengikut ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

    “Mayoritas pula di dunia pengikut madzhab Syafi’iyyah. Mayoritas pula menjadi warga NU! Perintah Nabi SAW, ikutilah golongan yang mayoritas,” jelas Kiai Marzuki. (nu-online/Red)

  • 25 KATA-KATA MUTIARA GUS BAHA’ YANG PENUH MAKNA DAN MENYEJUKKAN HATI

    25 KATA-KATA MUTIARA GUS BAHA’ YANG PENUH MAKNA DAN MENYEJUKKAN HATI

    101534732_565954444112264_7420087574762356736_n

    cyberaswaja.online- KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau biasa dikenal GUS BAHA’ merupakan salah satu ulama muda yang populer di Indonesia. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al Quran di Narukan, Kragan,Rembang, Jawa Tengah. Kyai yang lahir pada tahun 1970 ini terkenal di kalangan anak muda lantaran ceramahnya banyak ditemui di channel Youtube.

    Gus Baha sejak kecil sudah mendapat ilmu dan hafalan Al-Quran dari ayahnya sendiri yaitu KH. Nursalim Al-Hafidz. Maka tidak heran apabila GUS BAHA’ menjadi ahli tafsir Al-Quran. Sehingga beliau sangat diidolakan anak-anak muda atau yang biasa disebut kaum millennial.

    Tidak hanya itu, metode ceramah nya yang menggunakan bahasa-bahasa sederhana dan menyejukkan hati menjadikan kyai yang murah senyum ini juga dikagumi semua kalangan.

    GUS BAHA’ merupakan salah satu santri kesayangan KH. Maemun Zubair di Rembang, Jawa Tengah. Pasalnya, Gus Baha menjadi salah satu ulama muda yang dikenal memiliki pengetahuan mendalam tentang Al-Quran.

    Berikut ini kata-kata mutiara GUS BAHA’ yang penuh makna:

    1. Jangan pernah putus asa saat merasa dalam kesulitan, sebab Allah menyertakan kemudahan setelah kesulitan.

    2. Cinta adalah sebuah perhatian kecil yang selalu hadir setiap saat.

    3. Seberapa besar pengorbanan yang ia lakukan, maka dari situlah kita akan tahu betapa besar cintanya kepadamu.

    4. Cinta ialah sebuah pupuk yang dapat menyuburkan segala rasa tandus pada hati.

    5. ALLAH akan mengganti semua luka yang pernah engkau rasakan dengan kebahagiaan yang tak pernah terduga.

    6. Terkadang, mungkin ALLAH membuat hamba-Nya merasa kecewa, namun percayalah Ia hanya ingin engkau kembali berharap hanya kepada-Nya.

    7. Untuk menjadi yang terbaik. Kamu harus mempunyai mimpi yang besar serta semangat untuk mewujudkannya.

    8. Sebuah langkah kecil merupakan sebuah awal yang begitu panjang.

    9. Harapan dan keinginan ini seharusnya sejalan. Ya sejalan dengan betapa besar usaha yang kamu lakukan dalam mewujudkannya.

    10. ALLAH tidak pernah ingkar pada hamba-Nya, meski sekecil biji Zarrah pun janji ALLAH selalu ditepati.

    11. Saat kamu merasa tidak ada orang yang berada di pihakmu, tenanglah karena ALLAH selalu bersamamu.

    12. Sering kali kita mengabaikan hal-hal kecil, padahal dari sanalah sesuatu yang besar lahir dan tumbuh.

    13. Kebodohan itu merusak, tetapi merasa dirinya paling pintar lebih merusak.

    14. Yang abadi adalah yang kita sedekahkan.

    15. Jangan membenci orang yang sedang kafir saat ini, bisa saja suatu saat orang tersebutlah yang mensyafaati kamu. Tirulah Kanjeng Nabi MUHAMMAD SAW yang berdoa kepada ALLAH SWT untuk Sayyidina Umar Bin Khatab yang saat itu sedang kafir.

    16. Sebesar apapun dosa seseorang, tidak ada yang berhak menghalangi rasa cinta hamba pada Tuhannya, meski cara yang digunakan untuk menunjukkan rasa cinta itu terasa aneh di mata kita.

    17. Kalau malaikat datang dan memberitahu saya bahwa kelak saya akan masuk neraka selamanya, apakah saya akan berhenti menyembah Tuhan? Tidak. Saya akan terus menyembah Tuhan.

    18. Sanad ilmu itu penting! Karena teks itu terbatas ruang dan waktu. Sekarang ini banyak aliran yang memahami hanya lewat teks. Ini bahaya, karena yang bisa menerjemahkan teks itu ahwal. Ahwal itu perilaku atau karakter. Nah itulah Sanad. Makannya ada pepatah: Man ta’allama wabila syaikhin fasyaikhuhu syaithan. Barang siapa belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan.

    19. Untuk memperbaiki manusia itu butuh proses, tidak bisa langsung dihabisi. Jika tugas kenabian hanya untuk menghabisi keburukan, tentu bermitra dengan Izrail jauh lebih efektif ketimbang bermitra dengan Jibril.

    20. Tak masalah saat ini kamu miskin. Bisa jadi itu alasan ALLAH kelak untuk membawamu ke surga-Nya.

    21. Di akhirat, kenangan yang paling indah di dunia adalah, seberapa sering kita sujud kepada ALLAH SWT.

    22. Dosa terbesar istri adalah Nggoblokno suami.

    23. Salah satu kebiasaan buruk manusia ialah suka membawa-bawa nama ALLAH untuk kepentingan dirinya, seolah-olah apa yang ada dipikirannya selalu sesuai dengan yang dikehendaki oleh ALLAH.

    24. Kita harus curiga dengan otak dan pikiran kita.

    25. Cinta mungkin terkadang membuatmu rapuh, tetapi berterima kasihlah kepadanya, karena cinta darinya bisa membuatmu lebih kuat dari sebelumnya.

    Source: santrinu
    Santri GUS BAHA’
    #SantriNU

     

  • Gus Baha Itu Aset NU Yang Patut Dibanggakan

    Gus Baha Itu Aset NU Yang Patut Dibanggakan

    96372997_2936737383083581_2336329065037824_n

    Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A

    cyberaswaja.online- Warga Nahdiyyin Indonesia sudah tidak asing dengan Gus Baha, yang bernama lengkap KH. Ahmad Bahauddin, putra KH. Noer Salim, pengasuh pondok pesantren Al-Qur’an, Narukan, Kragan, Rembang. Kiai Noer Salim sendiri adalah teman akrab Gus Miek atau KH. Hamim Jazuli, Ploso, Kediri. Mereka berdua pendiri Jantiko-Mantab atau Dzikrul Ghafilin.

    Kedekatan Kiai Noer Salim dan Gus Miek karena nasab ayahanda Gus Baha itu memang jalur ulama besar tanah Jawa. Dari garis ibunya, Gus Baha adalah bagian dari keluarga besar ulama Lasem, Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu. Sedangkan menurut penuturan Kiai Said Aqiel Siradj (Ketum PBNU), garis nasab Gus Baha bersambung pada raja tanah Jawa, Brawijaya V Raja terakhir Majapahit.

    Selain keturunan raja dan ulama Jawa, Gus Baha juga terkenal sangat alim di bidang fikih, hadits, dan tafsir Al-Qur’an. Pria kelahiran 1970 ini sejak kecil sudah menghafal Al-Qur’an di bawah bimbingan langsung ayahandanya, yang memiliki sanad kepada Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam Pati. Kefasihan dan makharijul huruf membaca Al-Qur’an menjadi titik tekan jalan sanad ini. Baru setelah menginjak remaja, Kiai Nur Salim menitipkan Gus Baha kepada Kiai Maimoen Zubair, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

    Tahun 2000 atau ketika usia mencapai 33 tahun, Gus Baha mengembara ke Yogyakarta. Beberapa mushalla di Bantul memiliki jamaah yang setia menyelenggarakan pengajian. Kota pelajar itu mengagumi Gus Baha karena keluasan ilmunya yang dibawa dari Pondok Al-Anwar.

    Kealiman Gus Baha di bidang Al-Qur’an mendapatkan apresiasi dari ulama-ulama besar di bidang Al-Qur’an seperti Professor Quraish Shihab, Professor Zaini Dahlan dan Professor Shohib. Bahkan, Professor Quraish Shihab menyebutkan, “Di Tim Dewan Tafsir Nasional, Gus Baha tidak saja dikenal sebagai mufassir tetapi juga mufassir-faqih, yang paham detail aspek hukum dalam setiap ayat Al-Qur’an.”

    Pujian tidak saja datang dari ilmuan senior melainkan juga dari ustadz-ustadz muda milenial. Ustadz Abdul Somad (UAS), misalnya, mengatakan bahwa Gus Baha sebagai Hafidzul Qur’an, ahli tafsir, dan diberikan ilham oleh Allah, banyak gagasan-gagasan baru dari beliau. Selain UAS, Ustadz Adi Hidayat juga mengapresiasi kedalaman ilmu Gus Baha dengan menyebutnya sebagai “manusia Al-Qur’an”.

    Penulis sendiri lebih cenderung melihat Gus Baha sebagai aset Nahdlatul Ulama (NU) di masa depan. Beliau adalah penjaga turats Islam. Terminologi turats mengacu kepada seluruh khazanah intelektual Islam sejak awal abad Hijriyah hingga perkembangan mutakhir yang sudah berusia 14 abad lebih ini. Tidak banyak ulama muda NU yang berjuang di wilayah turats klasik ini.

    Wacana kembali pada turats sempat dikumandangkan oleh Prof. Dr. Ahmad Thayeb, Universitas Al-Azhar, Mesir, sebagai kekuatan tunggal umat muslim. Karena mayoritas umat muslim sudah mengabaikan urgensi menjaga turats Islam ini, menurut Grand Syeikh Al-Azhar itu, banyak negara Islam dan kampus-kampus Islam di seluruh dunia tertinggal di belakang dibanding Barat. Selalu membebek buta dan terbelalak kagum pada segala pencapaian Barat.

    Di Indonesia, Gus Baha tampil sebagaimana diharapkan oleh Dr. Ahmad Thayeb. Bisa dibilang, Gus Baha adalah representasi ulama Nusantara yang patut diandalkan.

    Belakangan, satu video ceramah Gus Baha mengajak para santri untuk memberanikan diri menjelaskan kepakaran diri mereka, sebagaimana banyak para pekerja profesional, misal dokter gigi, bidan, dan lainnya terang-terangan menjelaskan profesi dan keahlian mereka. Sementara santri, menurut Gus Baha, tidak ada yang berani membuat pengakuan tegas ahli fikih, ahli kitab Fathul Wahhab, dan lainnya.

    Candaan Gus Baha semacam itu adalah ide brilian yang serius, karena menyangkut soal mentalitas kaum santri yang harus percaya diri, bangkit, menyaingi kepercayaan diri kaum akademisi lulusan perguruan tinggi. Gagasan Gus Baha perlu direspon serius karena tidak saja menyangkut persaingan kepakaran dalam bidang ilmu, tetapi juga potensial untuk menyelamatkan publik dari belajar kepada ustadz yang tidak memiliki keahlian dalam bidang agama.

    Agama yang jatuh pada tangan orang yang tidak ahli bukan saja berdampak buruk secara personal melainkan meluas pada urusan sosial dan politik. Sering kali atas nama agama, publik jatuh pada fanatisme, dan ujung-ujungnya proyek politik kekuasaan. Agama selalu dijual setiap 5 tahun sekali, lebih-lebih mendekati pesta demokrasi seperti Pileg dan Pilpres.

    Hanya saja, segala pemikiran dan prestasi Gus Baha tersebut tidak serta merta dapat dinikmati publik yang lintas batas. Hal ini bisa dilihat dari daftar 15 Ustadz-ustadz/Gus-gus yang populer di generasi milenial; suatu generasi baru yang akrab dengan dunia digital, dan memiliki karakter yang jauh lebih sederhana, tidak mau rumit, dan mencari rujukan-rujukan agama yang jauh lebih menghibur. Salah satu buktinya, followers, subscribers, dan viewers Gus Baha kalah jauh dari ustadz-ustadz seperti Khalid Basalamah, Syafiq Riza Basalamah, Firanda Andirja, bahkan di bawah Gus Muwafiq, Gus Miftah, dan Ustadz Yusuf Mansur sebagai representasi NU.

    pandangan penulis, setidaknya ada tiga persoalan utama: Pertama, Selain kedalaman berpikir dan keluasan pengetahuan, dominasi bahasa Jawa menjadi karakter khasnya, Bahasa lokal Jawa seakan menjadi “kerangkeng” dan sekaligus bahan material mendefinisikan komunitas atau jamaah Gus Baha. Audiens yang mendengarkan via media sosial terbatas pada mereka yang berkultur Jawa, setidaknya paham bahasa Jawa, sehingga mau tidak mau terbentuk identitas yang Jawa Sentris. Ini membuat kapasitas intelektual Gus Baha tidak bisa dinikmati komunitas/audiens lintas batas di Indonesia.

    Kedua, tema-tema khazanah klasik yang berat bagi sebagian orang awam, tentu hanya cocok untuk kalangan santri yang sudah mengenyam pendidikan pesantren. Hal ini tidak perlu dipermasalahkan, karena selain jadi kekurangan tapi juga keunggulan. Perlu ada penjaga gawang wacana-wacana turats klasik sekalipun itu susah dicerna publik luas yang jauh dari tradisi pesantren.

    Ketiga, manajemen media sosial yang lemah. Dari berbagai channel yang mendokumentasikan ceramah-ceramah Gus Baha, jumlah subscribers, followers, dan viewersnya kalah bila dibanding beberapa ustadz yang disebut di atas. Hal ini adalah persoalan manajemen media, dan tidak terkait sama sekali dengan profil dan konten ceramah Gus Baha.

    Masalah dominasi Bahasa Jawa dan manajemen media sosial ini perlu segera dipecahkan. Sebagai langkah strategis untuk melebarkan sayap dakwah NU pada umumnya dan untuk meluaskan jangkauan ceramah Gus Baha pada khususnya. Wallahu a’lam bis shawab.

    (Sumber: TRIBUNNEWS.COM dengan beberapa editan yang diperlukan)

    *Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

  • Quraish Shihab Lebih Memilih Dipanggil Ustadz dari pada Habib

    Quraish Shihab Lebih Memilih Dipanggil Ustadz dari pada Habib

    m-quraish-shihab-jelaskan-lailatul-qadar (1)

    Penulis: Moh. Syahri

    cyberaswaja.online – Seorang Quraish Shihab yang memiliki ilmu dan wawasan luas tentang agama bukan orang sembarangan. Selain dikenal alim dan pemikir agama yang progresif beliau juga keturunan habib yaitu Habib Ali bin Abdurrahman dari Hadramaut.

    Lantas kenapa orang-orang kok tidak memanggil beliau dengan gelar habib, Habib Quraish Shihab. Dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab, dituliskan ternyata Quraish shihab memang tidak senang dipanggil Habib dan lebih senang dipanggil Ustaz.

    Menurutnya, sebutan ustaz lebih lazim disematkan pada seseorang yang memiliki rekam jejak pengabdian dan pengamalan ilmu keagamaan.
    Sebagai tokoh, tentu beliau tidak ingin terjebak pada gelar yang berat dan
    tanggungjawab moralnya luas. Gelar habib memang banyak dipandang sebagai kelebihan dan kemulian dari seorang tokoh. Namun, tidak sedikit yang bergelar habib justru kehilangan marwah kehormatannya di tengah masyarakat karena perbuatannya yang sudah melenceng dari pendahulunya.

    Pada tataran stratifikasi sosial memang gelar “Ustaz” banyak dipandang remeh dan derajatnya sangat jauh dari “habib”. Fakta berbicara, bahwa
    ketika seorang habib masuk dalam suatu majelis walaupun hanya bisa memimpin shalawat dan tahlil dan tidak bisa menyampaikan ilmu agama atau ceramah kepada masyarakat, tetap akan mendapatkan penghormatan lebih daripada ustaz kampung yang alim-allamah.

    Kenapa bisa demikian?

    Secara historis habib memang memiliki keterkaitan genealogis dengan para pendahulunya. Alim atau tidak, ahli ilmu atau tidak, seorang habib akan tetap mendapatkan penghormatan masyarakat sepanjang dirinya masih lurus dijalan para pendahulunya. Sedangkan Ustaz merupakan kategori achieved yang diperoleh melalui proses pencaharian keilmuan, yang sesuai dengan kompetensi yang digeluti dan pengalaman keberagamaan yang ditempa oleh waktu dan ruang yang memadai.

    Quraish shihab lebih senang dipanggil ustaz karena merujuk pada guru yang memiliki kompetensi di bidang keagamaan. Dan hal ini, sangat relevan dengan rekam jejak akademis beliau sebagai orang terdidik, dan prestasi akademisnya berjibun yang diperjuangkan selama puluhan tahun yang berkecipung di bidang alquran, baik sebagai hafiz maupun mufassir.

    Itulah sosok Quraish Shihab yang tidak ingin bernaung dibawah
    panggilan habib untuk menghindari kesombongan dan riya’ (pamer) maupun over confident daripada harus bergelut dengan panggilan habib.

    Wallahu a’lam

    Tulisan ini sebelumnya dimuat di islami.co

  • KENAPA HABIB LUTHFI BIN YAHYA FANATIK KEPADA NU? INI JAWABANNYA

    KENAPA HABIB LUTHFI BIN YAHYA FANATIK KEPADA NU? INI JAWABANNYA

    SORBANSANTRI.COM

    Oleh : Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya

    SORBAN SANTRI – Dulu saya sering duduk di rumahnya Kyai Abdul Fattah, untuk mengaji. Di situ ada seorang wali, namanya Kyai Irfan Kertijayan. Kyai Irfan adalah sosok yang nampak hapal keseluruhan kitab Ihya Ulumiddin, karena kecintaannya yang mendalam pada kitab tersebut. Setiap kali ketemu saya beliau pasti memandangi dan lalu menangis. Di situ ada Kyai Abdul Fattah dan Kyai Abdul Adzim.

    Lama-kelamaan akhirnya beliau bertanya, “Bib, saya mau bertanya. Cara dan gaya berpakaian Anda kok sukanya sarung putih, baju dan kopyah putih, persis guru saya.”

    “Siapa Kyai?” jawabku.

    “Habib Hasyim bin Umar,” Jawab Kyai Irfan.

    Saya mau ngaku cucunya tapi kok masih seperti ini, belum menjadi orang yang baik, batinku dalam hati. Mau mengingkari/berbohong tapi kenyataannya memang benar saya adalah cucunya Habib Hasyim. Akhirnya Kyai Abdul Adzim dan Kyai Abdul Fattah yang menjawab, “Lha beliau itu cucunya.”

    Lalu Kyai Irfan merangkul dan menciumiku sembari menangis hebat saking gembiranya. Kemudian beliau berkata, “Mumpung saya masih hidup, saya mau cerita Bib. Tolong ditulis.”

    “Cerita apa Kyai?” jawabku.

    “Begini,” kata Kyai Irfan mengawali ceritanya. Mbah Kyai Hasyim Asy’ari setelah beristikharah, bertanya kepada Kyai Kholil Bangkalan, bermula dengan mendirikan Nahdlatut Tujjar dan Nahdlah-nahdlah yang lainnya, beliau merasa kebingungan. Hingga akhirnya beliau ke Mekkah untuk beristikharah di Masjidil Haram. Di sana kemudian beliau mendapat penjelasan dari Kyai Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi, ulama Jawa yang sangat alim. Kitab-kitab di Mekkah kalau belum di-tahqiq atau ditandatangani oleh Kyai Ahmad Nahrawi maka kitab tersebut tidak akan berani dicetak. Itu pada masa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekkah pada waktu itu.

    Syaikh Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi dawuh kepada Kyai Hasyim Asy’ari, “Kamu pulang saja. Ini alamat/pertanda NU bisa berdiri hanya dengan dua orang. Pertama Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya Pekalongan, dan kedua Kyai Ahmad Kholil Bangkalan (Madura).”

    Maka Kyai Hasyim Asy’ari pun segera bergegas untuk pamit pulang kembali ke Indonesia. Beliau bersama Kyai Asnawi Kudus, Kyai Yasin dan kyai-kyai lainnya langsung menuju ke Simbang Pekalongan untuk bertemu Kyai Muhammad Amir dengan diantar oleh Kyai Irfan dan kemudian langsung diajak bersama menuju kediaman Habib Hasyim bin Umar.

    Baru saja sampai di kediaman, Habib Hasyim langsung berkata, “Saya ridha. Segeralah buatkan wadah Ahlussunnah wal Jama’ah. Ya Kyai Hasyim, dirikan, namanya sesuai dengan apa yang diangan-angankan olehmu, Nahdlatul Ulama. Tapi tolong, namaku jangan ditulis.” Jawaban terakhir ini karena wujud ketawadhuan Habib Hasyim.

    Kemudian Kyai Hasyim Asy’ari meminta balagh (penyampaian ilmu) kepada Habib Hasyim, “Bib, saya ikut ngaji bab hadits di sini. Sebab Panjenengan punya sanad-sanad yang luar biasa.” Makanya Kyai Hasyim Asy’ari tiap Kamis Wage pasti di Pekalongan bersama Hamengkubuwono ke sembelian yang waktu itu bernama Darojatun, mengaji bersama. Jadi Sultan Hamengkubowono IX itu bukan orang bodoh, beliau orang yang alim dan ahli thariqah.

    Setelah dari Pekalongan Kyai Hasyim Asy’ari menuju ke Bangkalan Madura untuk bertemu Kyai Ahmad Kholil Bangkalan. Namun baru saja Kyai Hasyim Asy’ari tiba di halaman depan rumah Kyai Kholil sudah mencegatnya seraya dawuh, “Keputusanku sama seperti Habib Hasyim!” Lha ini dua orang kok bisa kontak-kontakan padahal Pekalongan-Madura dan waktu itu belum ada handphone. Inilah hebatnya.

    Akhirnya berdirilah Nahdlatul Ulama. Dan Muktamar NU ke-5 ditempatkan di Pekalongan sebab hormat kepada Habib Hasyim bin Umar. Jadi jika dikatakan Habib Luthfi kenceng (fanatik) kepada NU, karena merasa punya tanggungjawab kepada Nahdlatul Ulama dan semua habaib. Dan ternyata cerita ini disaksikan bukan hanya oleh Kyai Irfan, tapi juga oleh Habib Abdullah Faqih Alattas, ulama yang sangat ahli ilmu fiqih.

    Maka dari itu Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas dengan Habib Hasyim Bin Yahya tidak bisa terpisahkan. Kalau ada tamu ke Habib Hasyim, pasti disuruh sowan (menghadap) dulu kepada yang lebih sepuh yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas. Dan jika tamu tersebut sampai ke Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib maka akan ditanya, “Kamu suka atau tidak kepada adikku Habib Hasyim bin Umar?” dengan maksud agar sowannya ke Habib Hasyim saja. Itulah ulama memberikan contoh kepada kita tidak perlunya saling berebut dan sikut, tapi selalu kompak dan rukun.

    Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas wafat tahun 1347 Hijriyah bulan Rajab tanggal 14, dan haulnya dilaksanakan tanggal 14 Sya’ban. Tiga tahun setelahnya, tahun 1350 Hijriyah, Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya wafat. Setahun kemudian (1351 H) adalah wafatnya Habib Abdullah bin Muhsin Alattas Bogor. Waktu itu banyak para ulama besar seperti Mbah Kyai Adam Krapyak dan Kyai Ubaidah, merupakan para wali Allah dan samudera keilmuan.

    (Dokumentasi ceramah Habib Luthfi Bin Yahya pada Haul Pakisputih Kedungwuni Pekalongan)

    (Dialih bahasakan oleh Syaroni As-Samfuriy).

  • Saat Sebelum Kemerdekaan, Tan Malaka Sowan Mbah Hasyim

    Saat Sebelum Kemerdekaan, Tan Malaka Sowan Mbah Hasyim

    SORBANSANTRI.COM

    Sorban Santri-Pada saat itu Tan Malaka merasa tertarik dengan gaya pengajaran Mbah Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng yang mengajari santrinya untuk hidup mandiri tanpa ketergantungan pada kedua orang tua yakni dengan cara berladang, bertani dan bahkan berternak seagai sumber penghidupan para santri dibilik-bilik kecil pondok pesantren.

    Inilah alasan ketertarik Tan Malaka kepada Mbah Hasyim yang selanjutnya diaktualisasikan di tempatnya Semarang dengan Sekolah Rakyatnya, di mana infrastruktur dari sekolah tersebut dari kerja keras peserta didik dan sumbangan para saudagar.

    Mbah Hasyim juga mengatakan kepada Tan Malaka sebagai tokoh penganut Sosialis, bahwa ada korelasi atau hubungan yang serasi antara Sosialis dan Islam. Yakni Sosialis mengajarkan orang untuk bersikap adil dan melindungi kaum marginal yang tertindas, pun begitu dengan pengajaran Islam terdapat kewajiban Zakat untuk dibagikan kepada rakyat miskin dan Islam mengajari untuk bersikap adil dan melindungi orang lemah.

    Kyai tersohor kelahiran Jombang Jawa Timur ini selama hidupnya pernah belajar di berbagai Pondok Pesantren di Jawa, Madura bahkan sempat mendalami ilmu agama di Makkah Al-Mukaromah sampai beberapa tahun lamanya. Diantara guru Beliau yang termasyhur seantero negeri ialah Ulama Hijaz asal Banten yakni Syeikh Muhammad Nawawi Bin Umar Tanara Al-Bantani yang mengarang ratusan kitab, dari fiqh, tashawwuf, maupun tafsir al Qur’an, Syeikh Nawai juga melahirkan tidak sedikit ulama dan pejuang-pejuang kemerdekaan tanah air tercinta ini.

    Sebagai satu contoh, saat Kyai Hasyim Asy’ari muda nyantri kepada Kiai Soleh Darat di Semarang, Beliau bertemu dan bersahabat akrab dengan Muhammad Darwis atau yang lebih populer dikenal dengan nama KH Ahmad Dahlan, pimpinan sekaligus pendiri organisasi besar di Indonesia yakni Muhammadiyah. Beliau bersahabat akrab sampai masa dewasa dan tuanya, yaaa meskipun berbeda pandangan atau pendapat tetapi, kerukunan dan kearifan yang Beliau contohkan kepada para santri sungguh luar biasa dan menakjubkan.

    Menurut Beliau, perbedaan ialah hal yang bersifat fitrah dan memang manusiawi, di dunia ini tidak ada yang sama oleh sebab itu harus saling mengerti dan memahami satu sama lain untuk membentuk tatanan kemasyarakatan yang rukun dan bersatu dalam perjuangan melawan penjajajah. Itulah yang kiranya bisa kita contoh dari para tokoh tersebut. tak pernag kendur semangat.

    Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sebelumnya, Mbah Hasyim sempat menyerukan kepada rakyat Jombang untuk mogok kerja di perkebunan Tebu milik kolonial Belanda. Alasannya, tanah yang dipakai koloni sejatinya ialah milik rakyat, namun dalam praktiknya disewa Belanda secara paksa, sehingga rakyat sendiri memeras keringat dengan bekerja sehingga hasilnya disetorkan kepada Belanda dan rakyat hanya mendapatkan sebagian kecil dari hasil tersebut. Hati Mbah Hasyim benar-benar tak tega melihat keadaan rakyat yang sangat menderita saat itu.

    Tidak sedikit rintangan dan halangan yang beliau hadapi, bahkan sampai-sampai bilik Pondok Pesantren Tebuireng dibakar habis oleh pihak koloni Belanda. Memang perubahan dan perjuangan penuh dengan pengorbanan dan Mbah Hasyim menyadari hal itu. Mbah Hasyim tidak serta merta merasa putus asa dan takut menghadapi akibat dari perjuangan yang dilakukannya, karena menurut beliau berjuang membela Tanah Air memang sudah semestinya dilakukan oleh semua orang di Negara ini tanpa terkecuali.

    Mempelajari kisah dan perjuangan dari para pendahulu bangsa, salah satunya dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari inilah, yang semestinya kita sebagai bagian dari Bangsa dan Negara ini insyaf dan sadar akan pentingnya sebuah perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan dengan melakukan hal-hal yang positif saat mengisi kemerdekaan seperti perjuangan membela kaum-kaum yang termarjinalkan. Dengan penuh rasa nasionalisme dan kesadaran Kebhinekaan antara satu dengan yang lainnya untuk bersatu membangun Bangsa dan Negara ini agar senantiasa Maju, Makmur dan Sejahtera.

    Petuah KH Hasyim Asy’ari :

    “Agama Dan Nasionalisme Adalah Dua Kutub Yang Tidak Berseberangan. Nasionalisme Adalah Bagian Dari Agama Dan Keduanya Saling Menguatkan.” (KH. Hasyim Asy’ari)