Kategori: Opini dan Analisis

Artikel opini, analisis mendalam, dan editorial tentang berbagai topik yang relevan.

  • MUDAH BAGI ALLAH MEMBUKA TOPENG ORANG YANG TAK PUNYA ADAB DI NEGERI INI.

    MUDAH BAGI ALLAH MEMBUKA TOPENG ORANG YANG TAK PUNYA ADAB DI NEGERI INI.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Terlihat spektakuler, Alhamdulillah menemukan video Panjangnya, tidak sepotong-sepotong, ini Felix sedang membahas Pancasila, dia seakan akan paham betul dan menjelaskan ngalor dan ngidul dengan sangat baik, para pendengarnya juga sangat Khidmat dalam mendengarkannya.

    Sepintas terlihat sangat ‘Alim melebihi ‘Alimnya Hadrotu Syaikh K.H Hasyim Asy’ari yang merestui Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia. Ya saya pun terpana mendengarnya, dengan bahasa yang ringan dia mencoba menelaah Pancasila.

    Kebodohannya dibuka oleh Allah saat ia berkata : “Nggak mungkin khidmah bisa diartikan kalau orang tidak membaca Al-Qur’an”

    Lalu membaca Surat Al Jum’at ayat 1, bukan hanya membaca tetapi ia juga mencoba tuk menafsirkannya sendiri, menurut seleranya.

    https://youtu.be/AwlmR6e8uDc

    Saran aja buat Felix: “Lain kali kalau ingin terlihat pintar di depan orang jangan membaca Al Qur’an, cukup terjemahan aja, Oke! Soalnya kalau kamu baca Al Qur’an seketika terlihat sangat bodoh sekali, dari segi apapun, Makhrojnya, Tajwidnya, dan Nahwunya. Membedakan Harokat nggak bisa, bahkan membedakan Ma’rifat dan Nakiroh saja kau tak bisa, tapi seakan sudah merasa lebih hueeebat dari Guru kami Hadrotusysyaikh K.H Hasyim Asy’ari yang menanamkan Cinta Pancasila & Tanah Air.

    Bila ayat Al Qur’an saja kau berani permainkan dengan santainya (tidak takut dosa merubah-rubah ayat) bagaimana dengan orang awam yang tidak tau apa-apa? Dan mereka tahunya kau panutan? Sedang kau sangat berantakan membaca ayat Al Qur’an, betapa beratnya bebanmu di akhirat, belum ngaji tapi sudah semangat menggurui.

    Mengapa Felix Siauw Berani Sembarangan Membaca Qur’an?

    Wallahu A’lamu.

    Penulis: Gus Abdul Haris, Ketua Rijalul Ansor Ranting Ansor NU Wonokromo Pleret Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pengasuh Pesantren Nurul Istadz Wonokromo Pleret Bantul

  • GUS BAHA CENDEKIAWAN RAKYAT MELAWAN HEGEMONI

    GUS BAHA CENDEKIAWAN RAKYAT MELAWAN HEGEMONI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Fenomena Gus Baha cukup riuh. Saya sangat suka. Ada oase. Segar penuh harapan. Menerangi juga hangat. Nakal, cerdas, jenaka, solutif, berani dan jujur apa adanya. Khas cendekiawan kampung.

    Entah sejak kapan keilmuan hanya diklaim perguruan tinggi semacam collage, universitas, akademi atau institut— lalu hanya mereka yang berhak mengeluarkan ijazah. Melakukan sertifikasi. Menentukan lulus dan tidak lulus. Ilmu terpenjara dalam sebuah birokrasi dan keangkuhan buku-buku di rak perpustakaan. Yang ditumpuk untuk meraih banyak gelar dan pujian.

    Sejak kapan lembaga Pendidikan berubah menjadi yang paling absah merumuskan masa depan—menentukan benar salah, baik dan buruk. Meniadakan atau mengadakan.

    Pendidikan menjadi sangat angkuh. Kaku dan rigid. Mengira padanya terdapat segala yang dibutuhkan. Tapi Ironisnya ilmu kedokteran yang mahal dan dibanggakan itu nyatanya tak cukup mampu dan kebingungan melawan kofid-19. Ilmu ekonomi juga tak kunjung berhasil mewujudkan hidup lebih baik. Bukankah ini indikator kegagalan ? Pun dengan ilmu-ilmu yang lain. Sama. Tak mampu mengurai masalah kemanusian, bahkan menjadi beban, tulis Bertrand Russel.

    Gus Baha bukan hanya menguasai bahasa, metodologi, brrbagaj ilmu alat atau literatur berlimpah. Tapi juga punya perspektif yang luas. Karakter yang kokoh. Dan padanan lain semisal. Simbol Ilmuwan rakyat yang lahir dan besar dari rahim didikan rakyat. Ini yang membedakan Gus Baha dengan ilmuwan lain yang bergelar.

    Gus Baha tak perlu gelar. Tak perlu tunduk pada aturan baku para akademisi yang kaku berbelit dan boros kata karena ditindas footnote dan jurnal scopus. Pikiran-pikiran Gus Baha mudah dimengerti, gampang di dapat dan relevan dengan kehidupan.

    Seperti halnya para nabi. Maka cendekiawan sebagai pewaris para nabi berbicara dengan bahasa rakyatnya. Jadi Gus Baha tak perlu ‘ke-marab’ atau ‘ke-minggris’ agar terlihat pintar, terlihat ilmiah kemudian bicara dengan kata-kata yang sulit di mengerti. Gus Baha tidak bicara dengan bahasa buku atau jurnal. Ia hadir ditengah.

    Gus Baha meski NU tapi pikiran, wawasan, ide dan gagasannya sudah jauh melampaui— sebab kebenaran ilmu memang tak punya mazhab, aliran atau kelompok. Kebenaran itu universal tidak mengenal ruang dan waktu. Atau klaim para petualang ilmu.

    Ibarat kata, Gus Baha sukses menyajikan menu kampung ke hotel bintang 10– saya tidak mengatakan bahwa Gus Baha adalah ulama yang paling ‘ngalim’. Tapi Ia punya keberanian melawan hegemoni, merubah kemapanan dan manawarkan nuansa.

    Melihat Gus Baha mengaji pikiran saya melambung jauh — membayangi Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad mengajar dikitari para santrinya —yang ta’dzim menyimak, mendengar dan mengaji. Tidak kemrungsung menyalahkan yang tidak sepandangan. Kemudian sesekali riuh tertawa bersama — nyantai tapi dapat banyak . @nurbaniyusuf – Komunitas Padhang Makhsyar ( ASWAJA DEWATA)

  • BUKAN KRIMINALISASI ULAMA TAPI ULAMANYA YANG KRIMINAL

    BUKAN KRIMINALISASI ULAMA TAPI ULAMANYA YANG KRIMINAL

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Sejak terkuaknya skandal dugaan penggunaan ijasah palsu oleh Tengku Zulkarnaen ketika dirinya akan diangkat sebagai anggota MUI, publik masih menunggu kejelasan tindak lanjut dari kasus ini. Sepekan berlalu namun belum juga ada klarifikasi dari pihak-pihak terkait, baik dari pihak Tengku Zul maupun MUI, keduanya diam tak bergeming.

    MUI adalah lembaga independen yang mewadahi para ulama dan cendekiawan Islam. Mereka bertugas untuk membimbing, membina, dan mengayomi umat Islam di Indonesia. Fungsi pokok lain dari MUI yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang berkualitas (Khoirul Ummah), agar dapat terwujud negara yang aman, damai, adil makmur rohaniah dan jasmaniah yang diridhai Allah SWT.

    Mengingat tujuan dan fungsinya tersebut, seharusnya MUI diisi oleh orang-orang dengan kredibilitas tinggi, yaitu orang yang memiliki pengetahuan cukup tentang agama serta dapat menjadi contoh yang baik (Uswatun Hasanah) bagi seluruh umat. Bukan diisi oleh oknum seperti Tengku Zulkarnaen ini yang suka menyampaikan opini sesat dan beragam narasi provokatif di tengah masyarakat. Bahkan tak jarang pula dia mengekspos berita hoax untuk menyerang pihak yang tidak sependapat dengannya, termasuk pemerintah.

    Banyak orang ketika mendengar informasi tersebut kemudian kaget dan terheran-heran bagaimana mungkin lembaga keagamaan sekelas MUI bisa kecolongan sampai memposisikan seorang penipu dalam struktural kepengurusan lembaganya.

    Ini tentu saja menjadi pertanyaan banyak pihak. Apakah MUI tidak selektif pada saat menyeleksi calon pengurusnya? Atau mungkin sudah ada kerjasama kong-kalikong antara MUI dan Tengku Zulkarnain? Karena sampai saat ini belum juga ada klarifikasi ataupun bantahan baik dari pihak MUI maupun dari Tengku Zulkarnain sendiri.

    Jika informasi itu benar, maka sejatinya MUI segera mengambil sikap tegas untuk memecat Tengku Zulkarnain dari struktural kepengurusan MUI. Karena ini sangat berbahaya bagi masyarakat dan juga bagi MUI sendiri. Jika dibiarkan, maka konsekuensinya adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap MUI.

    Majelis Ulama Indonesia adalah lembaga terhormat dan untuk menjaga kehormatannya harus diisi dan dipimpin oleh orang-orang terhormat. Bukan penipu yang berijazah palsu apalagi orang yang hanya ngaku-ngaku sebagai ulama.

    Jika informasi tersebut salah dan tak bisa dibuktikan kebenarannya, maka sebaiknya Tengku Zulkarnain dan juga para pendukungnya agar mengklarifikasi atau membantah tuduhan itu. Jika diam adalah pilihan maka jangan salahkan rakyat kalau kemudian menjustifikasi dan berasumsi bahwa MUI selain wadah ulama juga merupakan wadah pembohong.

    Perlu diingat bahwa tuntutan klarifikasi kasus ijasah palsu Tengku Zul ini tak ada kaitannya dengan pemerintah, karena yang menyuarakan ini adalah bukan pemerintah tapi segenap rakyat Indonesia yang benci dengan kebohongan yang dilakukan oleh pejabat. Janganlah nanti diframing seolah pemerintah anti Islam, pemerintah anti ulama dan ujung-ujungnya nanti menyalahkan Jokowi dan menuduhnya telah melakukan kriminalisasi ulama.

    Bagaimana Bisa Dikatakan Kriminalisasi Ulama Jika Ulamanya Saja Berbuat Kriminal..?
    (Rudi Bintang)

  • Siapa Presiden Ihwanul Muslimin dan PKS

    Siapa Presiden Ihwanul Muslimin dan PKS

     

    SORBAN SANTRI- Sebelum kemunculan HRS, tak ada catatan mengenai “konflik” antara habaib dan nahdliyin kecuali kasus individual Habib Husein al-Habsyi yg menyerukan penggulingan Gus Dur dari kursi kepresidenan, pada 2001.

    Saat itu, seruan habib yang pernah mendekam di penjara selama 10 tahun dengan dakwaan terlibat peledakan candi Borobudur itu, ditentang oleh banyak habib lainnya. Di antaranya oleh sekumpulan habib yang tergabung dalam Forum Habib Jawa Timur.

    Selain dinilai menyeret kehabiban ke dalam konflik kepentingan politik, Habib Husein al-Habsyi dianggap sebagai provokator yang ingin memisahkan habaib dari para kiai.

    Terpidana Bom Candi Borobudur adalah Habib Husein Al Habsyi, ia mendirikan Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI) kisaran tahun 2001. Ikhwanul Muslimin versi Habib Husein Al Habsyi bukanlah IM ‘cabang’ dari Ikhwanul Muslimin yang di Mesir itu.

    Ada juga, bahkan banyak juga salah faham ketika menyebut (nama) Habib Husein Al Habsyi Presiden IMI itu. Karena namanya sama dengan pendiri YAPI Bangil (Syi’ah). Ini adalah Foto Habib Husein Al Habsyi yang mengklaim dirinya sebagai Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI).

    Sedangkan Habib Husein Al Habsyi Pendiri Pesantren YAPI Bangil yang beraliran Syiah. Ikhwanul Muslimin yang versi resmi di bawa oleh kelompok gerakan Tarbiyah yang kini mendirikan Parpol: PKS.

    Jadi PKS (dulu PK) itu sejatinya adalah kepanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin yang berpusat di Mesir Ketika Habib Husein Al Habsyi mendeklarasikan ormas dengan nama Ikhwanul Muslimin. Di cibir oleh kalangan Tarbiyah (PKS). Menyikapi itu, tokoh utama Gerakan Tarbiyah Ust. Rahmat Abdullah berkata ” Ia (Hb Husein AlHabsyi) hanya mendapat Klaim saja.

    Yusuf Supendi salah satu pendiri PK (PKS) membenarkan kalau PKS adalah Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Bahkan Yusuf Supendi mengatakan saat Pemilu ’99 Partainya 90% dana kampanye Pemilu di bantu oleh Ikhwanul Muslimin.

    Yusuf Qardawi juga pernah menyebut bahwa PKS adalah kepanjangan tangan Ikhwanul Muslimin. Tapi petinggi PKS no comment. PKS tentu tutup mulut karena di negeri kita parpol di larang menerima bantuan dari asing. Apalagi kepanjangan tangan dari asing

    Tidak ada memang bukti struktural bahwa PKS di bawah naungan Ikhwanul Muslimin Mesir. Tapi ideologi tidak bisa di sembunyikan. Lihatlah sikap kader PKS melihat konflik Ikhwanul Muslimin/Mursi di mesir sekarang. Karena memang PKS adalah Ikhwanul Muslimin.

    SORBANSANTRI.COM
    Kembali ke Habib Husein Al Habsyi, saya juga heran kenapa dia mendirikan ormas bernama Ikhwanul Muslimin. Habib Husein Al Habsyi – IM Yang jelas, dia memang akrab di kalangan Islam Radikal. dengan Habib Rizieq, juga dgn Abu Bakar Ba’asyir.

    Karena dalam perjalanannya di Ikhwanul Muslimin ada 2 arus besar. Salah satunya adalah Ikhwan Quthbiyah. Yakni Ikhwan Garis Keras tokoh utamanya adalah Sayyid Quthub. Bahkan Yusuf Qardawi mengatakan Sayyid Quthub harus bertanggung jawab atas berkembangnya Islam Radikal di dunia

    SORBANSANTRI.COM
    Sayyid Quthb akhirnya di hukum mati, digantung (pada 29 Agustus 1966). Karena ideologi radikalnya. Sayyid Quthub awalnya moderat, termasuk ketika menulis kitab Tafsir fi Dzilalil Qur’an. Tapi Akhirnya Radikal,Beliau memang pujangga, kitab lainnya adalah kitab Ma’alim fi at-Thariq

    Itulah Ikhwanul muslimin dan menjelma menjadi PKS..

    Muhibbul fillah..
    Salam takdziim.

    (GusNadjb)

  • SOAL BANGKITNYA PKI ALA GATOT, KALAU KATA GUS DUR: KENAPA TAKUT? PKI AJA DITAKUTI

    SOAL BANGKITNYA PKI ALA GATOT, KALAU KATA GUS DUR: KENAPA TAKUT? PKI AJA DITAKUTI

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Gatot Nurmantyo mengarahkan tudingan serius kepada pencabut TAP MPRS 1966 soal PKI dan ajaran komunisme. Padahal sosok yang mencabut itu adalah Gus Dur. Nah lho?

    Ada yang serius dari tudingan Gatot Nurmantyo mengenai kekhawatiran soal kebangkitan PKI ketika diwawancarai Rosiana Silalahi dalam acara Rosi di Kompas TV.

    Salah satunya adalah tudingan bahwa pencabutan TAP MPRS merupakan upaya yang dilakukan oleh PKI, iya, PKI yang Partai Komunis Indonesia itu, yang kalau kata Pak Kivlan Zen sudah bangkit dan punya anggota sebanyak 60 juta—jauh lebih banyak dari yang ikut demo 212.

    Berikut kutipannya, ”Habis itu tuntutan soal pencabutan TAP MPRS nomor 1966, siapa lagi kalau bukan itu? Siapa lagi kalau bukan PKI itu?”

    Salah satu tudingan—dari banyak tuduhan sebenarnya—ada hal yang cukup unik mengenai pencabutan TAP MPRS 1966 yang disebutkan Gatot tersebut. Seperti yang kita juga sudah tahu, undang-undang ini berisi (salah satu di antaranya) mengenai larangan ajaran marxisme-komunisme dan PKI beserta dampak diskrimatif terhadap simpatisan maupun keturunannya.

    Tudingan Gatot ini sangat bisa dimaknai langsung mengarah ke K.H. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan Gus Dur. Ya jelas, salah satu tokoh yang getol dengan pencabutan TAP MPRS pada zaman itu adalah Gus Dur ketika menjabat sebagai presiden. Hal yang pada perkembangannya jadi salah satu sebab (di antara sebab-sebab lain) Gus Dur dilengserkan dari kursi kepresidenan.

    Silogisme sederhananya ya seperti ini;

    TAP MPRS 1966 merugikan orang-orang PKI
    Orang PKI tidak suka dengan TAP MPRS 1966
    Kalau ada yang tidak suka dengan aturan ini berarti dia PKI
    Gus Dur mencabut TAP MPRS 1966
    _____ (silakan isi sendiri)

    Ketika wawancara berlangsung, Rosi sebenarnya sudah mewanti-wanti Gatot untuk memikirkan ulang jawaban ini. Sebab, tentu saja, tudingan ini sangat serius. Mengarahkan simpulan sederhana membabi buta kepada orang yang mencabut TAP MPRS adalah PKI jelas mencederai banyak ”santri-santri” Gus Dur.

    Pertanyaan seputar pilihan yang Gus Dur lakukan saat itu masih jadi perbincangan hangat—terlebih sampai saat ini. Apalagi ketika isu kebangkitan PKI selalu digaungkan setiap tahun di Indonesia.

    Jika sebelumnya Indonesia mengenal dua musim; musim hujan dan kemarau, belakangan ini kita ketambahan satu musim lagi, yakni; musim isu kebangkitan PKI, yang terjadi pada periode akhir September sampai awal Oktober.

    ”Sebab bertentangan dengan Undang-undang Dasar, Mas,” kata Gus Dur saat menjawab alasan di balik dirinya mencabut aturan tersebut.

    Undang-undang yang mana memangnya, Gus? Bukannya muncul kesan Gus Dur bisa saja dianggap melindungi orang-orang PKI?

    ”Ha terserah, kesan nggak kesan. Terserah,” jawab Gus Dur lagi seperti tidak peduli ketika diwawancara Andy F. Noya pada 2005 silam. “Undang-undang melindungi semua,” lanjut Gus Dur yang kemudian menjelaskan bahwa undang-undang itu merupakan turunan praktik dari Pancasila ketika belum ada, yang lebih dikenal dengan: Bhinneka Tunggal Ika.

    Ketidakpedulian Gus Dur mengenai citra yang diterimanya dari masyarakat inilah yang sebenarnya menggambarkan bagaimana Gus Dur lebih peduli kepada kemanusiaan ketimbang urusan politik atau urusan hukum. Bahkan sampai pada titik tertentu, Gus Dur tidak peduli dirinya harus dimusuhi oleh banyak orang. Entah apa persepsi masyakat, Gus Dur selalu berujar, ”Biar sejarah nanti yang membuktikan.”

    Dan benar, kita bisa merunut pada sejarah bagaimana sosok seorang Gus Dur dididik untuk punya rasa kepekaan terhadap sesama melebihi siapapun di republik ini. Jika dirunut dari latar pendidikannya kepekaan ini justru lahir bukan dari masa ketika Gus Dur sekolah di Mesir, Irak, atau bahkan sampai ”nyasar” ke Eropa, melainkan dari sebuah kota di Jawa Timur: Jombang.

    Di Pondok Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, Gus Dur diamanahi untuk menjadi keamanan pondok. Mengurus santri-santri yang nakal. Dan sebagaimana lumrahnya bagian keamanan pondok, Gus Dur pun tak segan-segan menghukum santri-santri yang melanggar peraturan. Penegakan hukum di pondok ada di tangan Gus Dur muda saat itu.

    Sampai suatu ketika muncul kasus yang menggegerkan. Seorang santri putra ketahuan menyimpan kutang di dalam lemarinya. Iya, kutang, daleman untuk perempuan itu. Sudah barang tentu hal ini segera dilaporkan oleh Gus Dur ke pengasuh, Kiai Abdul Fattah Hasyim. Harapan Gus Dur, si santri ini bisa segera dikeluarkan saja dari pondok karena kenakalannya sudah mengarah pada perbuatan mesum.

    Tapi apa kemudian tanggapan Kiai Fattah di hadapan Gus Dur muda ketika menerima laporan?

    Santri nakal itu malah diminta untuk tinggal bersama Kiai Fattah. Benar memang dikeluarkan dari pondok, tapi justru dimasukkan ke ndalem. Ke kediaman pengasuh di kamar khusus.

    Tentu saja muncul berbagai macam pertanyaan dari keputusan Kiai Fattah ini. Bukannya muncul kesan kalau Kiai justru malah melindungi santri-santri yang nakalnya kelewatan? Uniknya, kelihatan benar Kiai Fattah tidak peduli dengan kesan dari orang lain soal pilihannya ini.

    ”Ha terserah, kesan nggak kesan. Terserah.”

    Si santri ini pun tinggal bersama Kiai Fattah. Sepanjang malam jadi ”terpaksa” ikut tahajud karena dibangunkan langsung oleh kiainya, ketika mengaji kitab jadi petugas yang mengurus kitab-kitab apa yang akan dikaji oleh kiainya, sampai kemudian si santri ini berubah benar-benar jadi orang saleh. Kenakalannya hilang tidak serta-merta, melainkan melebur karena berkumpul langsung dengan orang paling saleh dan bijak di lingkungan pesantren tersebut selama bertahun-tahun. Sosok yang tak lain tak bukan adalah Kiai Fattah sendiri.

    Dari sanalah kemudian Gus Dur mendapatkan pelajaran paling berharga dalam hidupnya—dan juga bagi bangsa ini. ”Ternyata di atas hukum, ada yang lebih penting lagi, yakni kemanusiaan,” begitu kira-kira pelajaran yang bisa dipetik.

    Secara aspek hukum dan peraturan pondok pesantren, si santri sudah sangat layak untuk dikeluarkan. Perbuatannya melebihi kenalakan santri pada umumnya. Melakukan perbuatan mesum—jangankan di pesantren—di luar pesantren sekali pun seseorang bisa berurusan secara pidana. Tapi apa yang dilakukan Kiai Fattah ini tidak seperti itu.

    Bisa saja paman Gus Dur ini memilih mengeluarkan si santri. Secara citra, Kiai Fattah bisa saja mendapatkan predikat sebagai pengasuh yang tegas, berani, dan tidak pandang bulu, tapi ada aspek lain yang diajarkan untuk mendidik para santrinya. Yakni: rasa kemanusiaan. Bahwa semua manusia selalu punya peluang untuk bisa berubah jadi lebih baik, asal kamu rela untuk memilih jalan pedang yang tidak disukai oleh banyak orang. Layaknya pilihan yang dilakukan Kiai Fattah, yang nanti ditiru Gus Dur saat jadi Presiden.

    Secara pengetahuan dan keilmuan, apa yang didapatkan Gus Dur mungkin tidak sebanyak dengan pendidikan Gus Dur di luar negeri. Namun di Tambakberas ini, Gus Dur mendapatkan pelajaran bagaimana caranya memerlakukan seorang manusia dengan sebaik-baiknya.

    Entah itu seorang mesum, entah itu seorang suporter beringas, bahkan entah itu seorang PKI sekalipun. Mereka semua manusia. Dan karena manusia, mereka pantas menerima hak-hak kemanusiaan yang tidak didapatkan dari aturan-aturan diskriminatif terhadap dosa yang belum tentu mereka pernah lakukan sebelumnya.

    ”Kalau belakangan ini ada kekhawatiran PKI akan bangkit?” tanya Andy F. Noya kemudian—sekitar 13 tahun yang lalu—kepada Gus Dur. Hadirin terdiam dengan pertanyaan yang menakutkan itu.

    ”Kenapa takut? PKI aja ditakuti,” jawab Gus Dur santai. Hadirin tertawa, ketakutan barusan hilang seketika. (SANTRINU)

  • Ketika Para Ulama Besar Bertemu.

    Ketika Para Ulama Besar Bertemu.

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Merendahlah, karena sebagaimana air, ilmu tak akan pernah mengalir ke tempat yang lebih tinggi…. Ini sejumput cerita tentang seorang ulama besar bernama Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi (393–476 H/1003–1083 M).

    Nama lengkap ulama besar mazhab Syafi’i ini adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf bin Abdillah Asy-Syirazi Al-Fayruzabadi. Kitab Al-Muhazzab karya Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi adalah salah satu kitab rujukan utama dalam mazhab Syafi’i sampai abad ke 6 hijriah.

    Al-Muhazzab banyak menjadi bahan kajian ilmiah bagi para ulama, sehingga muncul banyak karya ilmiah yang didasarkan darinya baik berupa Syarah dan Hasyiah. Yang paling termasyhur tentu saja kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab karangan Imam Nawawi.

    Suatu ketika Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi menjadi utusan Khalifah ke Bastam dalam menyelesaikan ketegangan yang terjadi antara Sultan Malik Syah dengan ‘Amid Abu al-Fath bin Laits, seorang pejabat di Iraq.

    Demikian dikisahkan dalam al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283). Ini artinya Khalifah al-Muqtadi sangat mempercayai Syekh Abu Ishaq Asy-Syirazi.

    Nama besar Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi, sebagai utusan Khalifah, menjadi magnet tersendiri. Para ulama keluar menemui beliau, termasuk Syekh Juwaini yang dikenal sebagai Imam al-Haramain, guru dari Imam al-Ghazali. Rakyat juga berbondong-bondong menyambut sambil membawa roti dan buah-buahan.

    Dikisahkan seorang Syekh Sufi bernama as-Sahlaki mendatangi Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi. Ibn al-Atsir menyebut Sahlaki ini sebagai “Syaikhun Kabirun”. Abu Ishaq yang diberitahu kedatangan Syekh as-Sahlaki ini langsung keluar menemuinya dengan berjalan kaki.

    Syekh as-Sahlaki segera turun dari kendaraannya dan mencium tangan Syekh Abu Ishaq. Syekh Abu Ishaq membalas penghormatan ini dengan mencium kaki Syekh as-Sahlaki, lantas menempatkan Syekh as-Sahlaki di kursinya, sementara Syekh Abu Ishaq memilih duduk di bawah di antara kedua tangan Syekh as-Sahlaki.

    Jelas tampak kedua orang ulama besar berbeda disiplin ilmu ini saling menghargai. Yang satu ahli fiqh; satunya lagi seorang sufi. Syekh as-Sahlaki memberi hadiah, yang disebut-sebut merupakan perbendaharaan dari masa Syekh Abu Yazid al-Busthami, seorang sufi agung generasi sebelumnya. Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi menerimanya dengan gembira.

    Syekh as-Sahlaki ini, hasil pelacakan saya, nama lengkapnya adalah Abu al-Fadl Muhammad bin Ali bin Ahmad as-Sahlaki. Beliau mengumpulkan berbagai pernyataan dan ujaran Syekh Abu Yazid al-Busthami.

    Itulah contoh pertemuan antara seorang faqih dengan seorang sufi. Contoh ini menjadi penting karena seringkali terjadi pertentangan antara ahli Hadits dengan ahli Fiqh, dan juga antara ahli Fiqh dengan ahli Tasawuf. Maka jauh-jauh hari Imam Malik sudah mengingatkan:

    “Barang siapa bertasawuf tanpa berfikih maka dia zindiq. Barang siapa berfikih tanpa bertasawuf maka dia fasik. Barang siapa menggabung keduanya maka dia akan sampai pada hakikat.”

    Para ulama, apapun disiplin keilmuannya, bila bertemu akan saling menghormati.
    Bahkan kalaupun mereka saling berbeda pandangan.
    Tidak ada caci-maki yang keluar dari lisan mereka. Itulah akhlak yang diwariskan kepada kita semua.
    Maukah kita meneladaninya?
    Insya Allah.

    Sumber:
    Dalam kitab al-Kamil fit Tarikh (juz 8, halaman 283).

  • APA MAKSUDNYA CARA CEPAT BELAJAR AGAMA?

    APA MAKSUDNYA CARA CEPAT BELAJAR AGAMA?

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI- Melihat postingan ini, saya (kyai abdi Kurnia djohan) menduga bahwa penyampai informasi ini tidak membaca kitab Hadits Shahih al-Bukhari, walaupun sering mendaku sebagai pengamal sunnah. Apa pasal? Sebab, di dalam kitab shahih al-Bukhari dimuat hadits tentang tidak terburu-buru di dalam mempelajari ilmu agama atau belajar agama.

    Di sini saya hanya menampilkan sekelumit saja dari Shahih al-Bukhari. Bahwa sejak menerima wahyu surat al-Mudatsir, Rasulullah tidak mendapatkan wahyu selama beberapa bulan. Syaikh Ahmad Khudhori Beik di dalam kitab Nurul Yaqin menulis kira-kira 2 bulan Rasulullah tidak menerima wahyu.

    Rasulullah rindu dengan kedatangan malaikat Jibril alaihissalam. Beliau sangat mengharapkan datangnya wahyu. Di tengah tingginya semangat itu, Allah menegur beliau dengan ayat:

    (لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦۤ)

    Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.

    [Surat Al-Qiyamah 16]

    Peristiwa turunnya ayat ini diriwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari. Sejak turunnya ayat tersebut, Rasulullah menerapkan pola belajar tidak menambah pelajaran kepada para sahabat, sebelum mereka paham 10 ayat. Kabar tentang penerapan pola ini disampaikan oleh Sayyidina Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu.

    Dari situ, kita bisa menarik simpulan bahwa Rasulullah dan para sahabat tidak menerapkan cara cepat di dalam belajar agama. Rasulullah menerapkan sebuah pola yang mendorong umatnya untuk memahami muatan nilai yang terdapat di dalam al-Qur’an, termasuk juga sunnah beliau.

    Pola yang tidak mengutamakan kecepatan di dalam belajar itu pula yang dipahami oleh al-Imam Abdullah bin al-Mubarak yang mengatakan bahwa mempelajari adab lebih didahulukan daripada ilmu. Para ulama salaf menjelaskan bagaimana mereka berjuang selama puluhan tahun untuk memahami adab dan mempelajari ilmu selama beberapa tahun.

    Jadi, belajar agama tidak mengenal istilah cara cepat. Karena akhir dari rangkaian proses mempelajari ilmu agama bukan untuk mendapat sebutan syaikh, kiai, ustadz atau profesor. Tapi, akhir dari proses belajar agama adalah menjadi hamba Allah (abdullah). Dan sebutan itu, nanti Allah sendiri yang menyampaikan ketika semua berjumpa dengan Allah pada hari kiamat. Wallahu a’lam. (ALA_NU)

  • Gus Baha’: Agama Itu Dimulai dari Kesenangan

    Gus Baha’: Agama Itu Dimulai dari Kesenangan

    SORBANSANTRI.COM

    SORBAN SANTRI – Islam sebagai agama tidak pernah membuat penganutnya merasakan penderitaan. Hanya orang-orang yang tidak taat saja yang merasa gelisah dan menderita. Mereka menjebak dirinya dalam kesulitan, keresahan dan penderitaan. Padahal agama sudah memberi jalan dan ruang yang penuh dengan keceriaan, kenikmatan, ketenangan, bahkan ‘kepuasan’.

    Tidak heran jika Gus Baha’ menyampaikan “Agama itu dimulai dari kesenangan, happy, farah kalau dalam bahasa Arab” Karena Agama sendiri adalah jalan dan ruang yang indah penuh kedamaian. Maka memulainya tentu dengan kesenangan, sebab orang yang beragama melangkah di jalan kemudian masuk di ruang yang terang oleh cahaya kebahagiaan.

    Lebih tegas Gus Baha menghaturkan ayat,

    قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

    “Katakanlah, Wahai Muhammad, dengan fadhal Allah, anugerah Allah dan rahmat Allah. Kemudian dengan itu kamu harus senang. Sehingga dengan senang kepada Allah dan Rasul itu nikmatnya masyaallah“.

    Siapa yang tidak menginginkan anuegrah dan berharap rahmat Allah? Siapapun pasti menunggu ini semua. Karena ketika seorang hamba mendapatkan anugerah dan merasakan rahmat Allah, dia akan mendapatkan kenikmatan yang tiada tara. Apalagi sampai larut dalam kesenangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sungguh tidak ada apapun yang bisa menandinginya.

    Dawuh Gus Baha’ “Andaikan senang itu bisa ditakar, orang yang sedang tahajjud, menangisi dosanya. Itu senengnya jika dibandingkan dengan orang yang sedang dugem, mesti kalah, mesti senengan sedang tahajjud. Karena orang-orang maksiat itu sebenarnya orang-orang yang susah”

    Ya, sungguh senang tiada kata yang sanggup menjelaskannya, jika seseorang sudah menemukan manisnya beribadah kepada Allah. Dan tidak ada orang yang merasa, kesenangan yang didapatkan dari kemaksiatan menjadi kesenangan yang membuat dirinya bahagia, justru dia gelisah dan susah. Sungguh berbeda antara kesenangan yang dirasakan dari ketaatan dan kemaksiatan.

    Gus Baha’ menggambarkan orang yang shalat tahajjud, “Sementara orang yang tahajjud senengnya sangat terasa dan terus diingat. Semisal tadi malam bagaimana menangisi dosa, menangisi nasib. Kemudian menjadi tenang karena kembali ingat kepada Allah dan Rasul. Itu luar biasa senengnya”

    Alhasil, kunci mendapatkan kesenangan beribadah adalah dimulai dengan rasa senang. Jika sudah dimulai dengan kesenangan, ibadah pun menjadi nyaman dilaksanakan. Kemudian berbuah menjadi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang dilakukan oleh para ulama kita.

    Karena para ulama sangat mengerti bahwa agama itu adalah jalan kesenangan, maka memulainya harus dengan rasa senang sehingga merasakan manisnya beribadah. Berbeda dengan orang yang melakukan ibadah karena merasa beban atau sekedar menggugurkan kewajiban. Sehingga bukan dengan rasa kesenangan untuk memulai beribadah, melainkan karena keterpaksaan. Mana bisa orang yang dalam keterpaksaan dan tak ada rasa senang akan merasakan kesenangan. Untuk merasakan senang harus diawali dengan senag juga.

    Sama juga seseorang yang menyampaikan dakwah agama. Ketika ia berdakwah dengan main klaim salah sana sini, ditambah dengan kata yang tidak pantas alias umpatan caci maki, bisa saja dia memulai dakwah agama berdasarkan kebencian bukan kesenangan. Na’udzubillah.

    Disarikan dari ngaji bareng Gus Baha pada link video https://www.youtube.com/watch?v=xj0WuVOLA10

    Semoga kita bisa meneladani orang-orang saleh! (Gus tama)

  • BARANGKALI AMERIKA DAN PALESTINA BUTUH PANCASILA

    BARANGKALI AMERIKA DAN PALESTINA BUTUH PANCASILA

    SORBANSANTRI.COM

    cyberaswaja- Belum selesai dihantam virus COVID-19, Amerika dilanda kerusuhan rasial. Rasialisme menjadi aib demokrasi terbesar di patung Liberty tersebut.

    Menurut Aljazeera, jumlah orang yang ditangkap paling sedikit sudah 5.600 orang berbagai di kota seluruh Amerika Serikat. Sejak demonstrasi meletus memprotes kematian George Floyd. Selain itu, korban jiwa juga sudah berjatuhan di berbagai tempat. https://wartakota.tribunnews.com/2020/06/02/).

    Amerika adidaya dunia yang mulai goyah. Krisis ekonomi dan politik kali ini, menjadi masalah domestik yang tidak berimbas kepada situasi global, menunjukkan pengaruh Amerika semakin melemah. Konstelasi politik global menuju titik kesetimbangan yang hampir sempurna.

    Indonesia diprediksi menjadi kekuatan global baru sebagai penyeimbang salah satu indikasinya, permintaan Hamas kepada Presiden Jokowi. Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah secara khusus meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membantu menggagalkan rencana Israel menganeksasi wilayah Palestina di Tepi Barat. Permintaan itu disampaikan pemimpin Hamas itu melalui surat dikirim ke Jokowi selasa lalu. Dalam surat bertanggal 5 Juni 2020 yang diterima redaksi albalad.co. (https://albalad.co/palestina/2020A9968/).

    Ideologi Pancasila sebenarnya yang menjadi rahasia di balik kekokohan Indonesia di tengah ancaman krisis domestik, regional dan global sampai Hamas minta tolong ke Indonesia, bukan negara-negara Arab. Karena isi 5 sila itu adalah manifestasi tertinggi dari ajaran agama-agama di Indonesia.

    Pancasila menjadi titik temu, titik kumpul dan titik simpul dari puncak-puncak ajaran agama di Indonesia. Artinya seorang penganut agama belum mencapai maqam tertinggi jika belum menjadi insan Pancasila seutuhnya.

    Karena puncak ajaran agama-agama di Indonesia merupakan bagian integral dari Pancasila membuat Pancasila menjadi ideologi yang kental dengan aura spiritualitasnya dan juga sangat primordial bagi penganut agama-agama di Indonesia.

    Agama dan Pancasila satu ruh, satu jiwa, bersenyawa. Inilah yang membedakan ideologi Pancasila dengan ideologi Kapitalisme dan Komunisme. Di dalam ideologi Kapitalisme dan komunisme, agama bagian luar dari ideologi, sedang di dalam Pancasila, agama built in dan include.

    Khilafah tidak mungkin bisa mengganti posisi Pancasila, karena khilafah bukan puncak ajaran agama-agama di Indonesia. Khilafah hanya fiqih ranting kecil dari ajaran agama Islam. Khilafah terlalu kecil dan lemah untuk bisa mempertemukan puncak-puncak dari ajaran agama di Indonesia.

    Kecuali dengan sistem paksa di bawah todongan senjata. Akan tetapi itu hanya teori di atas kertas. Pada kenyataannya sistem paksa di bawah todongan senjata memicu perlawanan bersenjata juga. Melahirkan konflik kekerasan tak berujung. Walhasil khilafah menjadi sumber konflik. Bandung, 13 Juni 2020. (post)

    Oleh Ayik Heriansyah
    Pengurus LD PWNU Jabar

     

  • KYAI ABDUL HAQ, TOKOH ASWAJA IDOLA ZAMAN

    KYAI ABDUL HAQ, TOKOH ASWAJA IDOLA ZAMAN

    SORBANSANTRI.COM
    (Oleh ; Maemun Abdul Ghofur)
    SORBAN SANTRI- Pertama Saya mengaji pada beliau adalah tahun 2003 di Lirboyo. Saya ngaji ushul fiqh saat itu. Dan sekarang, alhamdulillah walaupun melalui medsos, Saya masih dapat melanjutkan belajar pada beliau.

    Tulisan ini dipersembahkan untuk mereka yang mencari sosok panutan dalam bertauhid. Di sini Saya sekaligus ingin berbagi pengalaman mengaji kepada beliau.

    Sepanjang mengikuti pengajian beliau yang disiarkan di Facèbook secara live, ada 3 kelebihan beliau yang selalu membuat saya ketagihan mengikutinya.

    1. Kekayaan Bahasa

    Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya akan makna. Bahkan dari sekian banyaknya bahasa, Allah memilihnya sebagai ‘penerjemah’ untuk menyampaikan pesan kepada umat manusia. Sebagai santri tulen, Kang Abdul Haq memiliki segudang wawasan tentang ilmu bahasa Arab, keunggulan balaghoh dan kekayaan mufrodat. Kita bisa melihatnya ketika beliau menyampaikan sebuah dalil ataupun mengenalkan istilah. Terkadang dalam satu istilah beliau menerjemahkannya dengan beberapa pilihan bahasa sehingga penyimak seperti disuguhi ‘makanan’ mana yang ia mau.
    Beliau selalu menempatkan bahasa sesuai pada muqtadho-nya. Dengan keluasan wawasan, kekayaan bahasa dan pengetahuan riwayat yang valid, beliau selalu tepat dalam memilih kata untuk menerjemahkan uniknya bahasa Arab dengan tetap menyediakan kata yang murodif yang mungkin bisa lebih difahami.

    2. Kekayaan Maqolah

    Dalam menjelaskan kitab, beliau bukan hanya sekedar membantu menerjemahkan, namun juga memberi ta’liqot dan tidak jarang mengutip maqolah-maqolah dari luar kitab sehingga kitab yang kecil-pun terasa sekali kekayaan faidahnya. Cara beliau menjabarkan seperti sedang ‘menyuapi’ kita dengan tambahan ‘lauk-pauk’ yang gurih, sehingga kita disadarkan dari berbagai hal yang dulu mungkin pernah terlintas namun sudah terlupa. Metode seperti inilah yang membuat pengajian beliau tidak membosankan seperti yang umumnya kita temui dari pengajian-pengajian kitab kuning. Seakan-akan beliau mengajari kita cara yang benar dalam ber-turats.
    Beliau juga tidak pelit untuk menceritakan khilafiyah-khilafiyah secara detil berikut referensinya. Contohnya ketika beliau berbicara tentang ayat yang terakhir diturunkan, secara gamblang beliau terangkan berikut riwayat-riwayat valid yang dinukil. Lagi-lagi ini menyadarkan kita bahwa mengaji tidak cukup dengan membaca dan mengiyakan, namun juga harus kritis, rewel menyelidiki validitas riwayat dan terbuka dengan khilafiyah.

    3. Pengayom Aqidah

    Dalam ber-teologi, beliau tergolong guru yang bijak namun tegas. Tidak jarang beliau mengingatkan kesalahan-kesalahan kita dalam mengucapkan kata yang berkaitan dengan tauhid. Contohnya dalam menjelaskan kata “Al Qoyyum”, beliau menjelaskan makna Qoyyum sekaligus mengingatkan kita bahwa “Qayyum” itu nama/ sifat Allah yang tidak semestinya kita gunakan untuk memanggil seseorang bernama Abdul Qoyyum.

    Sebagai pentolan Aswaja, beliau juga tergolong kyai yang sangat mengayomi aqidah umatnya, terutama dari pemikiran-pemikiran yang bathil. Dalam pengajian-pengajiannya, Saya sering menyaksikan kelihaian beliau dalam mendemonstrasikan argumen burhani ketika membahas isu-isu khilafiyah dengan madzhab-madzhab yang dianggap keluar dari jalur Aswaja. Beliau tidak perlu ngotot, mengejek atau nyinyir dalam menelanjangi kebathilan maupun menunjukkan lemahnya argumentasi lawan. Kemahiran dan akhlak yang terkawinkan dalam diri beliau, menjadikannya sosok yang amat patut menjadi idola kaum Aswaja masa-kini.

    Semoga Allah panjangkan umurnya, berkahi halaqahnya dan juga murid-muridnya.
    (PCNU BREBES)