Blog

  • HAUL ke 25 SESEPUH di Daerah GONDANG

    SORBANSANTRI.COMGondang, Tradisi dan Amaliyah Amaliyah NU yang Harus tetap dijaga dan di amalkan, seperti kegiatan Haul pendiri TPQ Nurul Huda ke 25 dan Haul Sesepuh Desa Kemasan Tani yang diketahui sudah menjadi agenda Tahunan diadakannyaDiketahui pada hari Sabtu, 7 Desember 2019 Agenda Haul di Isi Dengan Seni Hadrah ISHARI, meriahnya kegiatan dengan Mengundang ISHARI Se Kecamatan Gondang.Adapun pada hari Minggu, 8 Desember 2019 dilanjutkan pada pagi hari ada acara Khotmil Qur’an, kemudian setelah Maghrib diisi acara Tahlil Bersama Masyarakat sekitar. Pada saat memasuki waktu isya’ pentas seni oleh santri TPQ Nurul Huda.SORBANSANTRI.COMAcara inti dari Haul yaitu Pengajian atau ceramah agama Yang di isi oleh, Ulama Ulama NU, diantaranya:1. Oleh Hj. Li’izzah Diana ahmad dari Trawas2. KH. Agus Ali Mashuri dari Sidoarjo, Pengasuh Ponpes Bumi Shalawat.SORBANSANTRI.COMKegiatan yang penuh makna dan sakral tersebut, dengan kehadiran undangan umum yang hadir, Peran Keamanan sangat Penting, dan Alhamdulillah berjalan lancar didukung keamanan dari Banom NU yaitu BANSER SE Kecamatan Gondang, yang berperan aktif dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.Kegiatan kegiatan seperti ini yang kemudian perlu kita jaga, kaderisasi kepada generasi penerus sebagai Perjuangan Kecintaan Kepada Mbah KH. Hasyim Asy’ari.(WakGenk/Infokom) If documentation for kegiatan or agenda tahunan ever involves digital tools, protocols on learn more can clarify software activation and licensing.

  • BANSER TANAM POHON

    BANSER TANAM POHON

    SORBANSANTRI.COM

    Mojokerto, Cyber Aswaja.online Gerakan Pemuda Ansor Pimpinan Anak Cabang Gondang Mengikuti Agenda menanam sebanyak 200 pohon jenis beringin, Pinus dan Akasiya. Bersama Pemerintahan dan Karangtaruna Desa Ngembat, beserta Para Relawan Pecinta Alam. Mereka menempatkan pohon yang dibawah oleh Pemerintahan Desa Ngembat itu di Sepanjang Lereng Gunung Buthok Dusun Blentreng Desa Ngembat Kecamatan Gondang, Mojokerto, Ahad (8/12).

    SORBANSANTRI.COMPenanaman pohon dilakukan guna Menghijaukan kembali lahan kritis dan lahan bekas kebakaran hutan. Meminalisir terjadinya Longsor serta melakukan upaya aset Masyarakat untuk Generasi Penerus.
    Pengurus GP Ansor Kecamatan Gondang, Menugaskan Satuan Kordinasi Rayon Banser nya untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Bibit pohon yang dberikan Perangkat Desa dan Karangtaruna tersebut sebanyak 400 pohon, yang akan ditanam. “Diberikan 400 pohon bibit, namun yang ditanam 200 pohon, sisanya nanti setelah musim hujan 200 pohon tersebut akan kembali ditanam,” kata Satkorkel Banser sahabat Sanusi.

    Dipilihnya kegiatan tersebut, merupakan bentuk Salah satu Kecintaan Banser Terhadap alam semesta ini, kegiatan yang di mulai pukul 07:00-11:00 WIB, mendapatkan respon yang positif dan Harapan masyarakat semoga generasi Penerus bisa memelihara dan selalu menjaganya.

    (WakGenk/Infokom)

  • BANSER 2.500 HADIR RAKORNAS

    BANSER 2.500 HADIR RAKORNAS

    SUKOHARJO — Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Banser Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama (Banser GP Ansor NU) akan menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2019 di Kartasura, Sukoharjo, Sabtu-Minggu (7-8/12/2019).

    Rakornas ini tetap berjalan sesuai jadwal kendati sempat muncul kericuhan antara dua kelompok massa di depan Kantor PCNU Solo pada Jumat (6/12/2019).

    Acara tersebut bakal diikuti 300 peserta yang terdiri atas Kepala Satuan Koordinator Wilayah (Kasat Korwil) se-Indonesia dan Kasat Koordinator Cabang (Korcab) se-Jawa.

    Setiap Kasat Korwil akan membawa delapan satuan khusus Banser yang meliputi Datasemen Khusus 99 (Densus 99) Asmaul Husna, Banser Tanggap Bencana (Bagana), Banser penanggulangan Kebakaran (Balakar), Banser Lalu Lintas (Balantas), Barisan Ansor Serbaguna Husada (Basada), Banser Maritim (Baritim), Banser Provost, dan Banser Protokoler.

    Sekretaris Panitia Rakornas lokal, Gangga Bagus Bagaswara, mengatakan acara pembukaan Rakornas bakal dibuka langsung Ketua Umum PP GP Ansor, H. Yaqut Cholil Qoumas, atau yang sering dikenal Gus Tutut, pada Sabtu (7/12/2019) pukul 13.00 WIB.

    “Pada acara pembukaan akan dihadiri oleh para kiai se-Soloraya dan anggota Banser se-Soloraya sebanyak 2.500 anggota. Selain itu juga akan dihadiri pengurus PP GP Ansor,” kata dia saat ditemui Solopos.com di Pondok Pesantren Al-Istiqomah, Pucangan, Kartasura, Jumat (6/12/2019).

    Menurutnya, acara pembukaan Rakornas akan dilaksanakan di Gedung PKP Desa Ngabeyan, Kartasura. Sementara itu untuk kegiatan selama dua hari diadakan di Pondok Pesantren Al-Istiqomah.

    “Pada Rakornas kali ini mengusung tema Solid Satu Komando. Pada intinya Rakornas ini bertujuan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Banser di seluruh Indonesia,” kata Gangga

  • Belajar dari Akhlak dan Strategi Dakwah Nabi

    Belajar dari Akhlak dan Strategi Dakwah Nabi

    Ahmad saefuddin _Belakangan kita sering melihat di berbagai media massa, orang yang mengaku berjuang menegakkan agamanya dengan cara yang cenderung mengancam dan menakut-nakuti kelompok lain yang berbeda.
    Mereka melakukannya karena merasa itu bagian dari dakwah.
    Apakah dakwah dengan cara-cara seperti ini dianjurkan dan sesuai dengan strategi dakwah Nabi?
    Cara paling mudah untuk menjawabnya adalah dengan membandingkan dengan akhlak Nabi Muhammad selama ia hidup.

    Jauh sebelum mendapat wahyu kenabian dari langit, masyarakat Mekah sudah mengenal Nabi Muhammad sebagai pribadi yang mengesankan.
    Salah satu buktinya adalah gelar Alamin (orang yang dipercaya) yang disematkan kepadanya. Gelar ini didapatkannya ketika berhasil meredakan sebuah perselisihan di kalangan kaum Quraisy.

    Akhlak terpuji secara konsisten dicontohkan Nabi ketika sudah menjadi rasul, bahkan sampai akhir hayat.
    Terkait hal ini bahkan dengan gamblang ia katakan, “aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

    Banyak contoh yang bisa kita dapatkan dari kisah hidup Nabi sehari-hari.
    Mulai dari caranya bersikap kepada para sahabat, sikap kepada orang yang berbeda agama, bahkan sikap kepada para pembencinya.
    Bekal kepribadian yang memikat inilah yang secara natural menjadi bagian dari strategi dakwah Nabi.

    Ada sebuah cerita populer tentang seseorang yang begitu membenci Nabi Muhammad, sampai setiap hari ia melempari Nabi dengan kotoran.
    Tapi ketika orang itu sakit, Nabi adalah orang pertama yang menjenguknya.
    Karena perlakuan Nabi yang begitu manusiawi, orang itu memutuskan untuk memeluk Islam.

    Kepada para sahabatnya Nabi dikenal sebagai sosok yang bersahabat, bisa berkelakar di saat-saat tertentu, dan tak ingin lebih dihormati lebih tinggi dari orang-orang di sekitarnya.
    Tapi pada saat yang diperlukan, ia bisa bersikap tegas pada sahabatnya, seperti pada kasus Mu’adz bin Jabal.

    Mu’adz ditegur Nabi karena membaca surat yang panjang (Albaqarah) saat mengimami shalat Isya, sementara di antara makmum ada yang tidak punya banyak waktu dan ada juga yang kelelahan.
    Nabi menganjurkan agar melihat kondisi para makmum lebih dulu sebelum memilih ayat yang dibaca.

    Ada juga kisah tentang pengemis buta yang selalu menghina Nabi Muhammad setiap hari. Ia tidak tahu bahwa Nabi yang selalu dihinanya adalah orang yang menyuapi setiap hari. Sampai ketika Nabi wafat dan kebiasaan menyuapi ini diteruskan Abu Bakar Shidiq, pengemis itu baru tahu bahwa selama ini yang menyuapinya adalah Nabi.

    Memang kita juga tahu Nabi berkali-kali terlibat peperangan dengan kelompok Quraisy.
    Tapi ini dilakukan untuk mempertahankan diri saat tak ada pilihan lain, bukan sebagai praktik dakwah.
    Peperangan terjadi biasanya karena kelompok lawan lebih dulu menyerang, atau menyudutkan posisi kelompok muslim. Misalnya saat kaum Quraisy memberlakukan embargo perdagangan pada kelompok muslim.

    Salah satu kemenangan Nabi yang paling dihormati justru adalah peristiwa pembebasan kota Mekah (Fathu Makkah) yang dilakukan tanpa pertempuran.
    Saat itu Nabi memutuskan kembali ke Mekah setelah 10 tahun di Madinah dan sudah memiliki kekuatan yang besar.
    Mekah ditaklukkan dengan damai, tanpa setetes darah pun tumpah.

    Kunci keberhasilan Nabi Muhammad dalam berdakwah adalah akhlaq terpuji.
    Kita melihat pribadi Nabi Muhammad yang ramah dan bukan pendendam.
    Dia tidak berdakwah dengan kekuatan fisik, atau dengan menakut-nakuti orang, baik di saat masih menjadi minoritas, maupun ketika sudah menjadi mayoritas.

    Untuk belajar cara berdakwah, mari kita ingat lagi akhlak mulia dan strategi dakwah Nabi Muhammad.

  • RIYANTO BANSER NU

    RIYANTO BANSER NU

    Sederhana namanya mudah di ingat. Seorang banser nu yg rela berkorban nyawa demi menyelamatkan ratusan jemaah gereja yg sedang melaksanakan misa natal. Banyak orang bertanya kenapa seorang RIANTO mau berkorban nyawa demi jemaah gereja tersebut. Tapi yg jelas RIANTO adalah sosok yg pantas di banggakan bukan karena aksi heroiknya membawa lari bom dari dalam gereja tapi demi berjalannya ibadah jemaah gereja. Memang tidak salah kalo dia diberi predikat pahlawan toleransi. Semoga pengorbananmu menjadi contoh bagi kami generasi muda.

    SORBANSANTRI.COM

    19 tahun RIANTO. Kami akan selalu mengingat jasamu. #riyanto_bansernu

    #riyanto_pahlawan_toleransi

  • POLDA JATIM  “Himbauan”  Melihat Ormas Sweping??? Mendengar Ormas Anarkhis??? Laporan kepada kami :

    POLDA JATIM “Himbauan” Melihat Ormas Sweping??? Mendengar Ormas Anarkhis??? Laporan kepada kami :

    Call Center Polda Jatim : 110
    Ditreskrimum/CIC : 031-82518263
    Ditlantas/RTMC : 031-8292333
    Bidhumas : 081359238929
    Ditlantas/RTMC/WA : 082140060000

    Polres/Ta/Tabes
    Restabes Surabaya SPKT : 031-3539481
    Res Pel Tj Perak : 031-70975110
    Resta Sidoarjo : 031-8955556
    Res Gresik : 031-3974110
    Res Malang : 0341-398656/0341-395300
    Res Malang Kota : 0341-325555
    Res Pasuruan : 0343-742721
    Res Pasuruan Kota : 0343-424256
    Res Probolinggo : 0335-842413
    Res Probolinggo Kota : 0335-435827
    Res Lumajang : 0334-881110
    Res Batu : 0341-599045
    Res Bondowoso : 081 23584235
    Res Situbondo : 0338-676534
    Res Banyuwangi : 0333-421110
    Res Jember : 0331-424699
    Res Kediri : 0354-396872
    Res Kediri Kota : 0354-773650
    Res Tulunggagung : 0355-3211334
    Res Nganjuk : 0358-786777
    Res Trenggalek : 0355-791110
    Res Blitar Kota : 0342-801110
    Res Blitar : 0342-693074
    Res Madiun : 0351-498905
    Res Madiun Kota : 0351-454771
    Res Ngawi : 0351-748173
    Res Magetan : 0351-891587
    Res Ponorogo : 0352-481110/0352-481010
    Res Pacitan : 0357-881110
    Res Bojonegoro : 0353-8810601
    Res Lamongan : 0322-321110
    Res Tuban : 0356-321290
    Res Mojokerto : 0321-392258/0321-322059
    Res Mojokerto Kota : 0321-330400
    Res Jombang : 0321-861184
    Res Pamekasan : 0324-328142
    Res Bangkalan : 031-3095007
    Res Sampang : 0323-21510
    Res Sumenep : 0328-662110

    Bila masyarakat menemukan atau memperoleh informasi tentang ormas yang akan maupun sedang melakukan sweeping maupun aksi anarkhis silahkan melapor melalui no telepon diatas.

  • KHOWARIJ JAMAN NOW

    KHOWARIJ JAMAN NOW

    Saat Sayidina Ali bin Abi Thalib ,
    mendengar kelompok Khawarij meneriakkan slogan “Tidak ada hukum kecuali dari Allah”, beliau langsung berkata, “Kalimatnya benar, tetapi tujuannya batil (buruk).”

    Bahkan, tak lama berselang
    beliau pun dibunuh oleh kaum Khawarij
    dengan mengatasnamakan slogan tersebut.

    Dari peristiwa ini setidaknya bisa
    diambil hikmah bahwa ada orang-orang
    yang tulus menghormati kalimat suci dan ada
    pula orang-orang yg hanya mempolitisasinya.

    Politisasi agama semacam ini
    juga pernah disinggung oleh Gustave
    Le Bon dalam bukunya “The Crowd” (1895).
    Ia mengungkap bahwa massa kerumunan bisa dibentuk oleh figur agamawan, di mana mereka dipersatukan oleh ide2sederhana dan dangkal Sang agamawan menganggap dirinya dewa, sedangkan para pengikutnya tunduk dalam ketaatan buta.

    Mereka laksana zombie yg dengan mudah digiring menuju intoleransi dan kekerasan.

    Hizbut Tahrir (HTI) jelas
    bukan organisasi kemarin sore.
    Mereka tahu betul bagaimana mempolitisasi simbol-simbol agama, demi menciptakan massa dan opini publik.

    Pada peristiwa Garut misalnya,
    HTI seketika menggorengnya menjadi
    isu pembakaran bendera tauhid. Umat Islam
    di negeri ini sejenak dibuat kaget oleh stigma tersebut yang semakin dikobarkan oleh kubu oposisi.

    Massa pun dikerahkan untuk berdemonstrasi dengan tajuk “Aksi Bela Tauhid” dan sekaligus menyisipkan pesan politik “Ganti Presiden”.

    Banser NU selama ini,
    Memang dianggap penghalang besar
    bagi kelompok-kelompok radikal intoleran di negeri ini dalam mewujudkan agenda khilafah mereka.

    Karena itu, cara yang paling ampuh untuk melumpuhkan Banser adalah membunuh karakternya dan membenturkannya dengan umat Islam. Oleh sebab itu, provokasi sistematis kerap dilakukan oleh HTI di acara-acara NU, seperti acara pengajian Habib Lutfi bin Yahya sebulan yang lalu dan puncaknya di momen besar Hari Santri Nasional.

    Saya rasa, Banser adalah langkah awal,
    tujuan utamanya adalah pelumpuhan NU.

    Dengan demikian, para kader
    Banser dan NU mesti bermain cantik
    dan cerdik dalam menghadapi provokasi tersebut. Jangan sampai terjerat emosi dan masuk kedalam jebakan HTI dan kroni-kroninya

    Namun demikian,
    Terlepas dari itu semua, ada
    hikmah lain di balik peristiwa Garut tersebut.

    Para pentolan dan kader HTI
    beserta kelompok-kelompok sejawatnya,
    yang selama ini aman bersembunyi, kini menjadi terbongkar identitasnya melalui aksi-aksi mereka sendiri. Foto dan video mereka telah tersebar dalam media sosial.

    Ini tentu memudahkan pihak Kepolisian
    untuk mengawasi dan menindak mereka.

    Wallahu A’lam.

  • DI/TII Bunuh Kyai NU karena NU Bela NKRI tidak Bela Negara Islam

    DI/TII Bunuh Kyai NU karena NU Bela NKRI tidak Bela Negara Islam

    Ibnu Muljam kita dapati yg belajar agama namun bukan dari guru yg bersanad , bersambung ilmunya sampai Nabi SAW. Sehingga zaman nabi dan salaf pun mereka cendrung khawarij suka memberontak. Untungnya umumnya kyai bersanad ilmu agamanya, ini yg dibenci para khawarij. Berbeda dg ustadz2 Muhammadiyah dapat kita lihat punya semangat yg dekat dg ghirrah DI TII, khilafah HTIatau NII, akibat tidak bermadzhab dan tidak bersanad.

    Sepulang dari Bandung menuju Jakarta, Idham Chalid, Ketua I PBNU, menginap di Puncak. Tiba-tiba gerombolan DI/TII menembakinya dari arah perbukitan. Dia tiarap di kolong ranjang. Untungnya, segera datang bantuan tentara dari Cipanas. Kontak senjata berlangsung berjam-jam. Malam menjadi bising karena desingan peluru. Mereka lari menjelang subuh dengan menderita banyak korban jiwa dan luka-luka. Di pihak tentara juga ada yang terluka.

    Pengalaman lain yang dialami Idham ketika naik kereta api menuju Jawa Timur. Dia ditembaki gerombolan DI/TII antara Gambir dan Pegangsaan. Beruntung peluru hanya mengenai ujung kopiah ajudannya, H. Djumaksum. “Sasaran tembakan pastilah saya, menteri yang mengurusi keamanan,” kata Idham dalam biografinya, Tanggungjawab Politik NU dalam Sejarah.

    Dari 24 Maret 1956 hingga 9 April 1957, Idham menjabat Wakil Perdana Menteri merangkap Kepala Badan Keamanan. Salah satu perhatian utama Kabinet Ali Sastroamidjojo II itu adalah pemulihan keamanan dari DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, dan Sulawesi Selatan.

    “Tugas saya yang paling berat adalah menghadapi gerombolan yang membawa dalil-dalil agama Islam, yaitu Darul Islam Kartosuwiryo di Jawa Barat, Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, dan Tengku Daud Beureueh di Aceh,” kata Idham.

    Menurut Idham, DI/TII merugikan Islam. Banyak umat Islam yang menjadi korban kekejaman mereka. Mungkin di Aceh tidak terjadi perbuatan seperti di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan di mana gerombolan DI/TII membakar madrasah dan masjid yang tidak sependapat dengan mereka.

    “NU yang dianggap sebagai pengkhianat Islam karena keluar dari Masjumi juga dianggap musuh utama DI/TII. Mereka menganggap NU membantu Republik Indonesia Kafir (RIK). Apalagi salah seorang ketuanya menjadi wakil perdana menteri yang memegang urusan keamanan. Beberapa orang pimpinan cabang NU di Jawa Barat dibakar rumahnya oleh DI/TII, bahkan ada yang ditembak mati. Suatu rapat NU pernah diserang mereka,” kata Idham.

    Sejarawan Cornelis van Dijk mengungkapkan bahwa pada Juli 1953 DI/TII melancarkan aksi serentak. Komandan DI/TII di Ciamis Selatan, Uchjan Effendi, memerintahkan pasukannya meningkatkan aksi untuk mengacaukan musuh. Mereka melakukan tindakan apa pun untuk membuat kekacauan.

    “Angkatan Kepolisian Negara Islam, misalnya, ditugaskan untuk menghukum warga yang tidak sepakat dengan Darul Islam. Uchjan juga memberikan perintah kepada masing-masing satuan Angkatan Kepolisian yang beroperasi pada tingkat kecamatan. Mereka ditugaskan untuk membunuh paling sedikit satu orang warga dan membakar paling sedikit lima bangunan yang didirikan pemerintah Republik dalam waktu dua minggu. Ancamannya, bila ada anggota yang gagal melakukan aksi ini akan dituntut secara hukum,” tulis Van Dijk dalam Darul Islam: Sebuah Pemberontakan.

    Dalam menghadapi DI/TII, Idham melibatkan para kiai. Dia membentuk KPK (Kiai-Kiai Pembantu Keamanan) yang diketuai KH Muslich dari Jakarta. Anggotanya ditunjuk satu orang dari masing-masing wilayah di mana terdapat DI/TII. Khusus untuk Jawa Barat sebagai daerah yang paling luas dikuasai DI/TII, KPK menunjuk dua orang wakil yaitu KH Dimyati (Ciparai) dan Moh. Marsid.

    Anggota KPK lainnya antara lain KH Baidowi Tafsir (Jakarta), KH Malik (Jawa Tengah), KH As’ad Syamsul Arifin (Jawa Timur), KH Ahmad Sanusi (Kalimantan), KH Zahri (Lampung), KH Jusuf Umar (Sumatra Selatan), KH Kahar Ma’ruf (Sumatra Tengah), Tengku Mohammad Ali Panglima Pulen (Aceh dan Sumatra Utara), dan KH Abdullah Joesoef (Sulawesi).

    “Mereka dengan sungguh-sungguh melaksanakan panggilan kewajibannya sebagai seorang Islam dan warga negara untuk berbicara dengan rakyat tentang kesadaran mematuhi ajaran agama dan hidup bernegara,” kata Idham.

    Mereka menghubungi para kiai di daerah masing-masing untuk menyampaikan kesadaran itu karena gangguan keamanan yang berlarut-larut merugikan negara dan rakyat. Mereka melakukan kegiatannya melalui pengajian atau kegiatan lainnya.

    Panglima-panglima militer di daerah gembira dengan adanya KPK. Dalam setiap peninjauan maupun operasi militer mereka selalu mengikutsertakan KPK. Di daerah yang berhasil dikuasai, sang kiai memberikan ceramah kepada rakyat. Mereka juga memberikan penyadaran kepada anggota gerombolan DI/TII yang menyerah.

    “Mereka sama sekali tidak diganjar dengan nilai penghasilan tertentu, tetapi hanya mendapat sekadar uang jalan dan uang saku,” kata Idham. “Jasa kiai-kiai pembantu keamanan tidak bisa saya lupakan.”

  • Tradisi silat pesantren Berdirinya Ikatan Pencak Silat NU PAGAR NUSA

    Tradisi silat pesantren Berdirinya Ikatan Pencak Silat NU PAGAR NUSA

    Dilingkungan Pesantren NU,terdapat banyak aliran silat baik aliran silat jawa timur,jawa barat,jawa tengah,Banten,silat betawi,silek minang,silat Mandar,Silat Mataram,dan lain lain,oleh karena itulah untuk menyatukan semua aliran silat tersebut di bentuklah pagar nusa.sebagai wadah perkumpulan pencak silat yang masih dalam naungan NU.Wadah ini tetap membuka keragaman dan memberi keluasaan pada tiap-tiap perguruan untuk mengembangkan diri.artinya walaupun ada perbedaan namun tetap satu saudara.

    InfokomBanserNU-Tahun 1985, di Pesantren Tebuireng Jombang, beberapa Pengasuh Pondok Pesantren, perguruan-perguruan dan para Pendekar berkumpul berinisiatif membentuk organisasi pencak silat yang terdapat di pondok pesantren dan perguruan-perguruan. Tahun 1986, di Pesantren Lirboyo, bersama-sama Gus Maksum Jauhari membidani dan memepersiapkan lahirnya organisasi Pencak Silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama “PAGAR NUSA” yang merupakan akronim dari “Pagarnya NU dan Bangsa”. Tahun 1989, Musyawarah Nasional (MUNAS) pertama Lembaga Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa diselenggarakan di Pesantren Genggong Probolinggo, Jawa Timur. Dihadiri ratusan perguruan dengan segala macam kekayaan khasanah budaya, seni bela diri dan amaliahnya dari seluruh Indonesia.

    Tahun 2004, Muktamar NU ke-31 di Solo, Jawa Tengah. Pagar Nusa menjadi salah satu badan otonom NU yang membidangi pengembangan seni bela diri NU.

    Tahun 2007, Kongres pertama Ikatan Pencak Silat NU (IPS-NU) Pagar Nusa diselenggarakan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta timur.

    Tahun 2008, Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa menjadi anggota tetap Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

    Tahun 2010, Muktamar NU ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan menjadi “Pagar Nusa”.

    Tahun 2012, Kongres ke-2 di Pesantren Sunan Drajad Lamongan, Jawa Timur. Menetapkan perubahan menjadi “PENCAK SILAT NU (PSNU) PAGAR NUSA” dan “Pagar Nusa” menjadi trademark-nya

    Peran besar Gus Maksum
    Sebenarnya di kalangan NU banyak sekali Pendekar Silat,Kyai atau ajeungan yang memiliki ilmu kanuragan,namun nama Gus Maksum tidak bisa di pisahkan dari sejarah Pencak Silat Pagar Nusa.Kecintaan silat dan rasa keprihatinan Gus Maksum bahwa banyak sekali aliran silat yang ada di lingkungan NU tapi belum punya wadah yang mengikat sehingga menjadi keluarga yang bersama sama mengembangkan serta mempertahankan tradisi silat yang turun temurun dari Wali songo mengalir ke tokoh tokoh pesantren

    Hal inilah yang menginpirasi beliau mendirikan sebuah perguruan silat,ide pendirian silat ini rencananya diberi nama GASMI (Gabungan Aksi Silat Muslimin Indonesia) pada tahun 1965 walaupun belum resmi berdiri,beliau sudah mulai melakukan pelatihan silat.pada waktu itu pelatihan diadakan di komplek pesantren Lirboyo Kediri,selain bertujuan mengembangkan budaya silat di pesantren juga salah satu counter atas LEKRA ( lembaga kesenian rakyat ) lembaga di bawah naungan partai komunis indonesia PKI.Sebab LEKRA adalah otak dibalik aksi provokatif,sabotase,teror dan lain lain.Menghadapi aksi LEKRA ini,beliau mengatakan “Ada aksi ada Reaksi” artinya LEKRA beraksi GASMI bereaksi,Amar ma’ruf nahi mungkar selalu ditegakan.

    Karena kesibukan beliau mengabdi pada umat,ngurusin santri dan perjuangan melawan aksi aksi PKI baru setelah sintuasi mulai kondusif pada tanggal 14 januari 1970 GASMI secara resmi didirikan dikediaman beliau,dihadiri para pendekar se eks-karisidenan Kediri dan Ponorogo.

    GASMI inilah yang menginspirasi Gus Maksum untuk menyatukan silat yang ada di NU.dimulai dengan merangkul perguruan silat tradisional lokal seperti Jiwa Suci milik pesantren Al maruf bandar lor kediri,PORTUGAL silat tradisional Blitar,Asta Dahana perguruan silat Kediri.dan beberapa perguruan silat lokal lainnya.

    Pertemuan awal para pendekar PAGAR NUSA
    Akhirnya dengan usaha dan pendekatan yang intensif kepada para pendekar dan Kyai pimpinan pondok pesantren , tokoh silat dan tokoh masyarakat membuahkan hasil berupa kesepakatan untuk mengadakan pertemuan pertama pada tahun 1986 di Tebu Ireng Jombang Jawa Timur.Di hadiri ulama sepuh dan kaum pendekar.Di antara kyai sepuh itu adalah KH.Syansuri Badawi.

    Pertemuan bersejarah ini dihadiri beberapa pendekar antara lain,Gus Maksum sendiri,KH.Abdurahman Ustman Jombang,KH.muhajir Kediri,H.Atoillah Surabaya,Drs.Lamro Ponorogo,Timbul Jaya SH pendekar Lumajang dan beberapa pendekar lainnya,tokoh tokoh inilah yang berada dibalik berdirinya pagar nusa.

    Pertemuan pertama ini menghasilkan kesepakatan yang sangat penting yaitu :
    1.Adanya Fatwa Ulama KH.Syansuri Badawi bahwa,”Mempelajari Silat Hukumnya boleh dipelajari dengan tujuan perjuangan.
    2.Di sepakati dibentuknya suatu ikatan bersama untuk mempersatukan berbagai aliran silat dibawah naungan NU.

    Pertemuan Bersejarah ke 2 Pagar Nusa
    Selanjutnya pada Tahun 1989 diadakan MUNAS Pagar Nusa yang ke1 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Zainul Hasan,Genggong,Kraksaan,Probolinggo.Di hadiri pendekar silat NU seluruh Nusantara ,Munas itu mengangkat Langsung KH.M.Abdullah Maksum Jauhari sebagai ketua umum pertama Pagar Nusa,dan Prof.Dr.H.Suharbillah sebagai ketua Harian SekJen.H.Kuncoro ( H.Masyhur )

    Sikap Jati diri Pagar Nusa
    Jati diri Pagar Nusa sama dengan jati diri NU itu sendiri (baca posting Jati diri NU ) yaitu Persaudaraan antar Pagar Nusa Artinya Persaudaraan tanpa membedakan aliran dan perguruan silat,di Pagar Nusa makanya di kenal dengan istilah “Bhineka Tunggal Ika” biarpun berbeda tapi tetap satu juga” berbeda aliran tapi tetap dalam satu ikatan pagar nusa.

    Pandangan Pagar Nusa pada aliran perguruan lain senatiasa menganggap saudara,sahabat,bahkan keluarga karena langsung atau tidak langsung semua aliran silat terutama di Nusantara masih punya pertalian ikatan yang sama,apalagi jika kita menapak tilas sejarah kerajaan di Nusantara kemudian ke Abad 14 adanya penyebar islam Wali songo yang banyak mengajarkan tuntunan hidup dengan jalan damai diantaranya melalui seni silat,jelas banyak pendekar di Nusantara adalah murid Wali Songo.

    Kini saatnya Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa Menjadi wadah Ikatan Para Pendekar,Jawara,Pesilat dari berbagai aliran di bawah naungan NU.Amin

  • Muslimah sejawa Timur mengadakan manaqib qubro dan maulid nabi di sepanjang jalan ikan gurami surabaya

    Muslimah sejawa Timur mengadakan manaqib qubro dan maulid nabi di sepanjang jalan ikan gurami surabaya

    Infokom banser – perayaan maulid nabi sejawa Timur diadakan siang hari ini minggu 1 desember 2019. Dengan peserta dari seluruh perwakilan cabang di Jawa timur.

    SORBANSANTRI.COM
    Muslimat manaqib disurabaya
    SORBANSANTRI.COM
    Sahabat isal perwakilan pagar Nusa

    Panas terik seakan tidak terasa dengan acara yang diadakan begitu hikmat. Dengan seragam putih jama’ah muslimat, berdatangan dari pagi tadi.

    Peserta diperkirakan 45 bus yang datang dari berbagai daerah sekitar 4 ribuan peserta. Dan dihadiri wartawan dari tv 9 dan jtv

    (abi infokom)