Blog

  • MENGENAL KH. MIFTAHUL AKHYAR ( Ketua Umum MUI Periode 2020 – 2025 ) DAN KH. AFIFUDDIN MUHAJIR (Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat periode 2020 – 2025 )

    MENGENAL KH. MIFTAHUL AKHYAR ( Ketua Umum MUI Periode 2020 – 2025 ) DAN KH. AFIFUDDIN MUHAJIR (Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat periode 2020 – 2025 )

    SORBANSANTRI.COM

    KH Miftachul Akhyar

    ( Ketua Umum MUI Periode 2020 – 2025 )

    wp.sorbansantri.com- KH Miftachul Akhyar tentu saja bukan nama baru di kalangan NU. Terutama Nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur. Ia lahir dari tradisi dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Tak heran kemudian hari ini mengemban puncak kepemimpinan NU, sebagai Penjabat Rais Aam.  

    Kiai Miftah adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Ia adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni. Ia lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara.

      Di NU ia pernah menjabat sebagai :

    – Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005,

    – Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018 dan

    – Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai

    – Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020, di Gedung PBNU, Sabtu (22/9).

    Menurut catatan PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi, genealogi keilmuan KH Miftachul Akhyar tidak diragukan lagi. Ia tercatat pernah nyantri di :

    – Pondok Pesantren Tambak Beras,

    –  Pondok Pesantren Sidogiri (Jawa Timur),

    –   Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, dan

    – mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

    Masih menurut Karomi, penguasaan ilmu agama KH Miftachul Akhyar ini membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga ia diambil menantu oleh oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas.

    Kemudian KH Miftachul Akhyar mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol. Awalnya ia hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya “nilai religius” di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian. Apa sebab? “Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki KH Miftachul Akhyar, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu sehingga kampung yang “gelap” menjadi “terang dan sejuk” seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat,” tulis Karomi.

    Kesederhanaan KH. Miftachul Akhyar, menurut Karomi, yang terekam dengan jelas adalah bentuk penghormatan terhadap tamu. Kiai Miftah tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan cemilan kepada tamunya.

    “Akhlak ini beliau dapat dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni,” lanjut Karomi.

      Karomi mengutip penuturan Gus Tajul Mafakhir, bahwa ayah KH Miftachul Akhyar  merupakan karib KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang.

      Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar. “Tepatlah kiranya pepatah mengatakan: “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

      KH Abd Ghoni dalam pandangan Abah Thoyib Krian merupakan salah satu kiai ampuh yang ditutupi oleh keindahan akhlak. Acapkali KH Abd Ghoni mengadukkan wedang, menyuguhkan dan mempersilahkan kepada tamunya. Nah, “lelaku sae” inilah yang oleh KH Miftachul Akhyar tetap dilestarikan,” tulis Karomi. (Abdullah Alawi)

    Biografi KH. Afifuddin Muhajir

    ( Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat, Periode 2020 – 2025 )

    KELAHIRAN

    1. Afifuddin Muhajir lahir pada tanggal 20 Mei 1955, di Jerengoan Sampang Madura Jawa Timur. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Muhajir dan Nyai Zuhriyah. Beliau dikenal juga sebagai keturunan Bani Ahmad, tokoh Jerengoan Sampang .

    PENDIDIKAN

    1. Afifuddin Muhajir memulai pendidikannya dengan belajar di Sukorejo, dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah sampai Strata I, Fakultas Syariah di Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII), di bawah naungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Menempuh magister di Universitas Islam Malang (Unisma).

    Selain itu, KH. Afifuddin Muhajir belajar ke beberapa kiai Jawa Timur. Guru-guru beliau diantaranya:

    1. R. As’ad Syamsul Arifin
    2. Ghazali Ahmadi
    3. Qasdussabil Syukur

    MENGASUH PESANTREN

    1. Afifuddin Muhajir adalah wakil pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Asembagus Situbondo.

    KIPRAH DI NU

    1. Afifuddin Muhajir sering diundang menjadi nasumber diskusi ilmiah berskala regional, nasional dan internasional. Dalam forum Bahtsul Masail tingkat PBNU beliau dikenal sebagai muṣhaḥiḥ. Selian itu beliau pernah menjabat sebagai :

    – Katib Syuriah PBNU 2010-2015, dan menjadi

    – Rais syuriyah PBNU antar waktu 2019 – 2020.

    TELADAN

    1. Afifuddin Muhajir adalah sosok kiai yang berpenampilan sederhana. Suaranya lembut dan terkesan hemat bicara. Intonasinya datar. Pembawaan dirinya tak mengecoh orang untuk segera memperhatikannya. Namun, ketika ia tampil sebagai pembicara di forum-forum seminar, audiens tak bisa mengabaikannya. Ia tampak powerfull.

    KARYA-KARYA

    – Fungsionalisasi Uṣūl Fiqh dalam Bahtsul Masail NU, Judul buku: Kritik Nalar Fikih NU, Penerbit: Lakpesdam.

    – Fikih Anti Korupsi, Judul Buku: Korupsi kaum Beragama, Penerbit: P3M.

    – Fikih Menggugat Pemilihan Langsung, Penerbit: Pena Salsabila.

    – Kitab Fatḥul Mujīb Al-Qarīb Syaraḥ at-Taqrīb li Abī Syuja’, Penerbit: Maktabah As’adiyah.

    – Al-Luqmah As-Sā’igah, Penerbit: Maktabah As’adiyah.

    – Metodologi Kajian Fikih, Penerbit: Ibrahimy Press.

    – Maslaḥah sebagai Cita Pembentukan Hukum Islam, Penerbit: Ibrahimy Press.

    Sumber : laduni.id

    #HubbulWathonMinalIman

  • KOPI GLADAK CANGGU MEMPERINGATI MAULID NABI DENGAN MENYANTUNI DAN MEMBAGIKAN SEMBAKO

    KOPI GLADAK CANGGU MEMPERINGATI MAULID NABI DENGAN MENYANTUNI DAN MEMBAGIKAN SEMBAKO

    SORBAN SANTRI — majelis dzikir yaa HAYYUU yaa QOYYUM KOPI GLADAK yang beralamatkan di desa Canggu Jetis Mojokerto mengadakan peringatan maulid nabi MUHAMMAD SAW (24/11/2020) dengan menyantuni dan berbagi sembako kepada 100 yatim piatu, fakir miskin dan dhuafa serta membangun sebuah rumah warga yang tidak mampu

    SORBANSANTRI.COM
    Santunan yatim piatu

    Gus ALIM selaku pengasuh saat di temui redaksi SORBAN SANTRI menerangkan bahwa peringatan maulid tahun ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, yang semula KOPI GLADAK hanya mengadakan pengajian umum tahun ini di tambah dengan menyantuni dan membagikan sembako kepada 100 yatim piatu, fakir miskin dan dhuafa serta membiayai pembangunan rumah warga yang tidak mampu, untuk santunan yatim piatu di lakukan pagi hari sekitar jam 09:00, majelis mengundang 20 yatim piatu dan di hadiri oleh ketua RT dan RW setempat, untuk yang 80 kita antar ke rumah masing masing.

    SORBANSANTRI.COM
    Gus ALIM saat memberikan sambutan santunan yatim piatu

    Untuk siang hari jamaah KOPI GLADAK mengisi kegiatan dengan khotmil QUR’AN dengan tujuan mendoakan jamaah, donatur, anak yatim piatu, fakir miskin dan dhuafa yang di santuni serta seluruh ahli khuburnya mendapatkan barokah dan syafaat Baginda nabi MUHAMMAD SAW

    SORBANSANTRI.COM
    Khotmil Qur’an

    Saat redaksi SORBAN SANTRI hadir setelah sholat isya’ masih berlangsung pengajian umum dengan menhadirkan mubaliq dari Mojokerto sendiri yaitu Gus ROFIK dengan pengawalan BANSER JETIS, untuk pembangunan rumah Gus ALIM menginformasikan akan di laksanakan tgl 26 November 2020, beliau juga mengatakan ” untuk biaya pembangunan rumah selain dari jamaah dan donatur juga ikut mendukung komunitas Saudara Facebook Jempol (SFJ) serta Alumni Mts Malik Ibrahim 94 (AMMI94) bahkan warga sekitar pun banyak yang ikut membantu”

    SORBANSANTRI.COM
    Gus ROFIK di dampingi BANSER
    SORBANSANTRI.COM
    Gus ALIM bersama komunitas SFJ saudara facebook jempol

    Harapan kami dari majelis semoga beban mereka semua bisa agak ringan meskipun bantuan yang kami berikan tidak sebegitu banyak

    By: Sodikin sorban

  • MBAH HAMID TAK BERDAYA MELIHAT NABI MUHAMMAD SAW

    MBAH HAMID TAK BERDAYA MELIHAT NABI MUHAMMAD SAW

    SORBANSANTRI.COM
    Mbah Yai Abdul Hamid sareng Mbah Yai Ahmad Shiddiq.

    wp.sorbansantri.com- Suatu hari Kyai Hamid mengadakan peringatan maulid Nabi mengundang para masayich, diantaranya Kyai As’ad, kebetulan kyai As’ad duduk disebelah kanan Kyai Hamid sedang sebelah kiri adalah Kyai Ahmad Sidiq .

    Ketika mahalul qiyam semua pada berdiri, cuma Kyai Hamid tidak berdiri, semua tamu yang jumlahnya ribuan terheran dengan sikap Kyai Hamid .
    Setelah selesai acara, semua pulang tinggallah kyai-kyai sepuh dan para masyayich, lalu Kyai As’ad menegur beliau: “Gimana njenengan niki Yai baca sholawat kok nggak mau berdiri ?”. Kyai Hamid menangis terseduh sambil menjawab:
    “SAYA GAK PUNYA DAYA UNTUK BERDIRI SEBAB KANJENG NABI BERDIRI TEPAT DIDEPANKU, SAYA MERASA KEHABISAN AKHLAK, JANGANKAN ILMU, IBADAH DAN MUJAHADAH SAYA, DARI PAKAIANPUN SAYA MALU BERTEMU KANJENG NABI,,”
    (Dikisahkan oleh Kyai As’ad dalam suatu majelis beliau).
    Wallahu a’lam.
    (abi sorban)
  • Pesta Demokrasi bagi warga NU adalah Perang IDEOLOGI

    Pesta Demokrasi bagi warga NU adalah Perang IDEOLOGI

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com- Urusan PILKADA bukan hanya memilih sahabat, sosok atau pemimpin tapi ada 1 hal yang pokok yang sangat penting dalam pesta demokrasi!! apa itu?, yaitu sesuatu yang sangat mendasar dan sering kita lalaikan bahkan ada yang mengabaiakan hanya untuk kepentingan sesaat atau tahunan yaitu IDEOLOGI.

    Banyak yang belum memahami susahnya mempertahankan IDEOLOGI apalagi mendirikan IDEOLOGI suatu negara ditempuh dengan banyak pengorbanan dari darah sampai nyawa menjadi taruhan.

    Untuk itu, bagi warga Nahdliyin khususnya. Jangan sampai IDEOLOGI ASWAJA NU ini disepelekan, apalagi dimanfaatkan untuk kepentingan tahunan. Hanya memperoleh janji manis dan tipu daya paslon PILKADA, kita taruhkan IDEOLOGI ASWAJA. Ingat !! menciptakan ideologi itu dengan pertaruhan nama besar dan nyawa.

    Kita warga Nahdliyin seharusnya lebih merapatkan barisan dengan adanya momen pilkada serentak yang akan di adakan pada Hari Rabu 9 Desember 2020. Jangan sampai ada celah ideologi yang jelas-jelas bersebrangan dengan ASWAJA NU masuk dalam barisan.

    Lantas dengan cara apa dan bagaimana agar susah ditembus? jawabannya adalah mau atau tidaknya kita ada dalam barisan NU dengan 1 komando para kiai yang sudah jelas statusnya di struktur organisasi NU. 1 komando dari pusat sampai bawah,rapatkan barisan jangan sampai ada celah. bersambung…

    #NKRI_harga_MATI #santri_nderek_kiai #sorbansantri

    oleh : (abi sorban)

  • MWCNU WANAREJA BERBAGI SEMBAKO KE WARGA TARISI YANG TERDAMPAK BANJIR

    MWCNU WANAREJA BERBAGI SEMBAKO KE WARGA TARISI YANG TERDAMPAK BANJIR

    SORBAN SANTRI — MWCNU WANAREJA kabupaten Cilacap jawa tengah bersama sama BANOMnya membagikan semua sembako yang terkumpul di 4 posko pantau banjir  kepada warga yang terdampak musibah banjir di desa Tarisi kecamatan Wanareja kabupaten Cilacap (25/11/2020) karena banjir sudah surut dan 4 posko pantau banjir di tutup

    SORBANSANTRI.COM
    Kh MUHTAR bersiap siap mengantarkan sembako

    Menurut bpk kiyai MUHTAR selaku ketua tanfidziyah MWCNU dan ketua posko mengatakan “karena banjir sudah surut maka posko pantau banjir yang di dirikan sekitar satu Minggu yang lalu akan di tutup maka seluruh sembako yang terkumpul di posko semuanya harus di distribusikan kepada warga oleh karena itu kami pengurus MWCNU dan seluruh BANOM BANOM NU baik dari MUSLIMAT, FATAYAT, ANSOR BANSER, PAGARNUSA, IPNU IPPNU bergerak bersama sama mulai jam 08:30wib dan selesai sekitar jam 11:30wib, semoga bisa meringankan beban warga”

    SORBANSANTRI.COM
    BANSER BAGANA berperan aktif saat membagikan sembako

    Salah satu anggota BANSER biro BAGANA sahabat EKO PURWANTO yang ikut peran dalam kegiatan tersebut menginformasikan kegiatan pembagian paket sembako kali ini sebagai bentuk kepedulian terhadap warga masyarakat  desa Tarisi  dari jajaran MWCNU WANAREJA Cilacap dan BANOM NU serta melakukan dakwah kepada masyarakat  bahwa lembaga NU memiliki peran di masyarakat  dalam bentuk pemberian paket sembako dan semoga bermanfaat serta bisa membantu meringankan beban masyarakat desa Tarisi yang terkena musibah banjir  walaupun tidak bayak

    SORBANSANTRI.COM
    Pelajar NAHDLATUL ULAMA saat membagikan sembako
    SORBANSANTRI.COM
    Pelajar NAHDLATUL ULAMA saat membantu membagikan sembako

    NU memang selalu bergerak di segala bidang untuk menebar kemanfaat umat di sekitarnya

  • Butir-Butir Beras Shalawat Ibu Nyai untuk Durrahman (Gus Dur)

    Butir-Butir Beras Shalawat Ibu Nyai untuk Durrahman (Gus Dur)

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com– Tirakat Nyai Sholichah setiap malam memilih dan memilah biji-biji beras terbaik dari karung, sembari terus melantunkan shalawat, satu shalawat untuk sebiji beras, tahap demi tahap hingga periuk nasi pun terisi dan siap untuk dimasak di pagi hari.

    Tidak ada yang boleh menyentuh nasi yang mengandung shalawat itu selain ayah mertuanya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, suaminya KH Wahid Hasyim, dan anak sulungnya Abdurrahman Ad Dakhil. Hanya untuk ketiga laki-laki istimewa itu. Dan, nasi itu pelan namun pasti menumbuhkan Durrahman hingga cukup usia. Ya, Abdurrahman Addakhil itulah Gus Dur.

    “Saya benar-benar tidak tahu hingga usia berapa #GusDur kecil mendapat perilaku istimewa seperti itu dari ibundanya. Saya hanya penasaran, selain Gus Dur memang sosok jenius secara personal, sosial, dan spiritual, faktor apakah yang menjadikan Presiden Republik Indonesia ke-4 ini bisa sehebat itu semasa hidupnya. Dan, saya memperoleh jawaban dari Dr Ngatawi al-Zastrouw, asisten Gus Dur. “Bu Nyai Solichah betul-betul men-shalawati beras itu sebiji demi sebiji,” ucapnya.” [Candra Malik]

  • CACING-PUN BERSHALAWAT 1000 KALI

    CACING-PUN BERSHALAWAT 1000 KALI

    SORBANSANTRI.COM

    wp.sorbansantri.com-  Dikisahkan,..

    Suatu ketika nabi Daud as sedang duduk di tempat ibadah beliau sambil membaca kitab Zabur. Tiba-tiba beliau melihat ada seekor cacing merah sedang berjalan di tanah.

    Hati kecil beliau pun berbisik,

    “Apa yang Alloh inginkan dari cacing ini? Untuk apa Alloh menciptakan cacing in?”

    Dengan izin Alloh, cacing itupun dapat berbicara. Iapun berkata,

    “Wahai Nabi Alloh, jika di siang hari, Alloh memerintahkanku untuk berzikir:

    سبحان الله والحمد لله و لا اله الا الله 1000x

    ‘Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh’ seribu kali,

    Sedangkan dimalam hari Alloh memerintahkanku untuk bersholawat

    اللهم صل على محمد النبي الامي و على اله و صحبه و سلم 1000x

    ‘Allohumma sholli ‘ala muhammad nabiyyil ummi wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam’ seribu kali setiap malam.

    Sedangkan engkau wahai Nabi Daud, apa yang engkau ucapkan, agar aku dapat mengambil manfaat darimu?”

    Nabi Daud pun menyesal telah meremehkan seekor cacing. Dan beliau pun kemudian bertaubat, memohon ampun kepada Alloh SWT.

    Ternyata,…

    Demikian indah hidup seekor cacing yang acapkali kita remehkan,…

    Ternyata, lisannya senantiasa basah dengan dzikir dan sholawat…

    Padahal, ia tak pernah bermaksiat,..

    Lantas,..

    Bagaimana dengan lisan kita???

    Seberapa sering lisan ini berdzikir??

    Seberapa banyak sholawat yang keluar dari lisan yang penuh maksiat ini???

    Akankah kita, yang diberi begitu banyak kelebihan oleh Alloh, kalah dengan seekor cacing dalam ketaatan kepada Alloh???

    Ya Robb berilah taufiqMu untuk kami…

    Jadikan kami termasuk golongan ahli dzikir, yang senantiasa membasahi lisan kami dengan dzikir dan sholawat,

    Jangan biarkan sedikitpun waktu kami berlalu kecuali bertambah amal kami untuk hari perjumpaan denganMu…

    اللهم اعنا على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك

    “Ya Alloh tolong kami untuk senantiasa mengingatMu, mensyukuri nikmat-nikmatMu, dan beribadah dengan baik kepadaMu”

    Sumber: Mukasyafatul Qulub – Imam Ghozali r.a

     

  • PENTINGNYA PENGAKUAN DARI GURU

    PENTINGNYA PENGAKUAN DARI GURU

    SORBANSANTRI.COM
    Abdul Aziz Manshur (Alm) adalah pengasuh pondok pesantren Tarbiyatun Nasyiin, Pacul Gowang Diwek, Jombang, yang juga masih keturunan Lirboyo.

    wp.sorbansantri.com- Pada saat tiga atau empat hari sebelum wafat, KH. Abdul Karim terbaring sakit di tempat tidur ditunggui oleh putri-putrinya.

    Sambil menangis beliau mengeluarkan kata-kata.

    “Dongakno yo! Mugo-mugo aku mbesuk neng kono diakoni dadi santrine Mbah Kholil.” (Doakan ya! Semoga saya kelak di sana diakui menjadi santrinya Mbah Kholil).

    Permintaan doa ini sangat mengherankan. Biasanya permintaan seseorang sebelum meninggal adalah minta didoakan agar husnul khotimah, diampuni dosanya atau masuk surga. Tapi ini tidak. Kiai Abdul Karim justru meminta didoakan supaya diakui sebagai santri dari guru beliau, Kiai Kholil Bangkalan. Itupun disampaikan sambil menangis. Bukti bahwa hal itu adalah sesuatu yang tidak main-main dan sangat penting untuk diungkapkan. Apa sebenarnya maksud dari permintaan doa itu? Jawabanya adalah dawuh beliau setelahnya.

    “Tanpo aku diakoni santrine Mbah Kholil, aku gak iso mlebu swargo.” (Tanpa saya diakui santrinya Mbah Kholil, saya tidak bisa masuk surga).

    Ini adalah sikap tawadlu yang luar biasa. Kiai Abdul Karim tidak merasa dirinya mempunyai amal yang bisa mengantarkan beliau masuk syurga. Beliau tidak percaya diri dengan amal ibadah yang dilakukan semasa hidup. Harapan masuk surga hanya dengan mendapatkan pengakuan santri dari gurunya yang masyhur sebagai wali Allah. Sehingga diharapkan Kiai Kholil memberikan syafaat kepada beliau agar bisa masuk surga.()

    *Disarikan dari ceramah KH. Abdul Aziz Manshur saat khataman kitab Jauharul Maknun tahun 2014. (abi sorban)

    #LIRBOYO

  • KEISTIMEWAAN ROSULLULLOH DALAM QOSIDAH

    KEISTIMEWAAN ROSULLULLOH DALAM QOSIDAH

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM – Pada setiap hari Ahad sekitar jam 11 sampai jam setengah satu, Syaikhona Maimoen Zubair mengajarkan kitab tafsir Al-Jalalain di Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar.

    Setelah selesai ngaji “Ahadan”, beliau bersama dengan para santri membaca qoshidah yang berisi tentang sifat-sifat Rosululloh (Syama’il).
    Qoshidah itu juga terdapat dalam kitab Maroqil Ubudiyyah karya Syaikh Nawawi Banten.
    Berikut kami tulis dengan terjemahan.
    لَمْ يَحْتَلِمْ قَطُّ طٰـهَ مُطْـلَقًا أَبَدًا # وَمَا تَثـَائَبَ أَصْـلاً فِىْ مَدَى الزَّمَنِ
    Rosululloh tidak pernah mimpi bersetubuh baik sebelum jadi nabi atau setelahnya. Beliau juga sama sekali tidak pernah menguap sepanjang masa.
    مِنْهُ الدَّوَابُ فَـلَمْ تَهْرَبْ وَمَـا وَقَعَتْ # ذُبَابَةٌ أَبَـدًا فِى جِسْمِـهِ الْحَسَنِ
    Tidak ada satu pun binatang yang melarikan diri (liar) dari beliau. Dan tidak pernah ada lalat hinggap di tubuh beliau yang mulia.
    بِخَلْـفِهِ كَأَمَـامٍ رُؤْيَةٌ ثَـــبَتَتْ # وَلَا يُرٰى أَثْـرُ بَوْلٍ مِـنْهُ فِيْ عَلَنِ
    Beliau bisa mengetahui sesuatu yang ada di belakangnya, seperti beliau melihat sesuatu itu yang ada di hadapannya. Bekas air kencing beliau tidak pernah dilihat di permukaan bumi.
    وَقَلْبُهُ لَمْ يَنَـمْ وَالْعَيْنُ قَدْ نَعَسَتْ # وَلَا يرٰى ظِـلَّهُ فِى الشَّمْسِ ذُوْ فَـطِنِ
    Hati beliau tidak pernah tidur, walaupun mata beliau mengantuk. Bayangan beliau tidak bisa dilihat ketika beliau kena sinar matahari. Beliau juga memiliki kecerdasan.
    كَـتْفَاهُ قَدْ عَلَـتَا قَوْمًا إِذَا جَلَسُوْا # عِنْـدَ الْوِلَادَةِ صِـفْ يَا ذَا بِمُخْتَتَنِ
    Dua pundak beliau selalu terlihat lebih tinggi dari pundak orang-orang yang duduk bersama beliau. Ceritakanlah sifat beliau bahwa beliau telah dikhitan semenjak dilahirkan
    هَذِه الْخَصَائِصَ فَاحْفَظْهَا تَكُنْ أٰمِنًا # مِنْ شَرِّ نَـارٍ وَسُرَّاقٍ وَمِـنْ مِحَنِ
    Ini semua merupakan keistimewaan beliau, hendaknya engkau hapalkan bait tersebut, niscaya engkau mendapat perlindungan dari bahaya kebakaran, pencurian dan musibah.
    Dari Qoshidah tersebut dapat kita ketahui beberapa keistimewaan Rosululloh sebagai berikut:
    1. Tidak pernah bermimpi basah.
    2. Tidak pernah pula menguap.
    3. Tidak ada binatang yang lari karena takut dari beliau.
    4. Tidak pernah dihinggapi lalat.
    5. Nabi melihat belakang sama seperti melihat depan.
    6. Tidak berbekas tatkala buang hajat.
    7. Hatinya tidak pernah tertidur, walau mata terpejam.
    8. Tak ada bayangan meskipun berjalan di bawah terik matahari.
    9. Dua pundak beliau selalu lebih tinggi dari para sahabat (walaupun dengan sahabat yang dikenal tinggi).
    10. Sudah terkhitan tatkala dilahirkan ke dunia.
    والله أعلم بالصواب
  • EMPIRISME SOSIAL KURIPANSARI: KAJIAN “STUDENT NAHDLIYYIN”

    EMPIRISME SOSIAL KURIPANSARI: KAJIAN “STUDENT NAHDLIYYIN”

     

    SORBANSANTRI.COM

    SORBANSANTRI.COM- Kearifan lokal dan kebeneran kontekstual dalam tataran kehidupan manusia mulai merambah dewasa, tak ada yang menolak keabsahan momentum itu sekalipun antar individu banyak yang bersinggungan rasa, contoh saja pada ranting yang selama ini dipandang kebaikannya dimata konsumen ghibah, disitu banyak mengandung unsur anion dan kation molekul arif dan naïf, hal ini dibuktikan pada saat ranting baru terbentuk dua tahun lalu, tepatnya 18 Maret 2018 banyak yang men-support kehadiran para Pelajar Ranting dan bahkan masyarakat setempat menampakkan tangannya saat berteplok-teplok (tidak ada yang bersinggungan secara Nampak).

    Namun kian kedua mulailah Nampak perubahan hasil tangan bersama ini, banyak masyarakat yang meras risih jika mendengar kata pelajar NU saja, mulai dari yang beralasan pelajar NU didikannya kurang matang, dan hanya membahas perkumpulan antara lelaki dan wanita di usia pelajar. Banyak para pelajar yang kerjaannya membuang-buang waktu sampai lupa tugas pokok di rumah masing-masing, proposal yang bertebaran dimana-mana saat menjelang PHBI, dan bahkan tak segan-segan bersikap sentimen kepada kawan-kawan sejawatnya dikampung yang tidak ikut organisasi hanya karena sungkan, seolah para pelajar itu memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada yang lainnya. Sementara itu etika yang tumbuh dari gerak dan lisan, baik secara implisit maupun eksplisit para pelajar menggiring kawan sejawat yang ikut andil didalamnya semakin terperosok dalam gelamor fanatis.

    Sifat fanatis disini tidak saya imbuhi –tif sebab tak semuanya ternodai sifat, boleh jadi prosentasenya dibawah saparuh dari jumlah total. Maka dari itu terkadang sebutan rekan rekanita pula yang menjatuhkan pamor mereka dalam tataran usia pelajar, namun perlu kita garisbawahi bahwa ini hanya wacana masyhur yang tumbuh di tembok sosial Kuripansari.

    ENIGMA WACANA
    Cobalah merenung sejenak, seorang pelajar yang notabenenya masih meminta-minta uang saku pada orang tuanya masih angkuh berbagi kebaikan dalam berorganisasi, padahal dalam Islam sudah jelas dalih sosial seperti;
    Tafsir Al-Muyassar
    اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ،  لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِـيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ ، كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ ، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًـا ، سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَة.
    Artinya; “Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh membiarkannya diganggu orang lain (bahkan ia wajib menolong dan membelanya).”

    Dari hadis tersebut menjelaskan bahwa orang Islam antara satu dengan yang lain itu dipandang sebagai saudara. Sehingga satu sama lain tidak boleh saling menganiaya. Dan jika kita mendapati seseorang dalam penderitaan ataupun mendapat musibah, hendaknya kita membantunya untuk meringankan penderitaan yang sedang ia alami. Sebagai mu’min sejati, hendaklah merasa bahwa dirinya tidak hidup sendiri,karena teman-teman sesama muslim akan membantu dan mendukungnya baik sedang dalam keadaan senang maupun susah.

    Afirmasi otentik dari Q.S Al-Hujurat ayat 10
    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُون
    Artinya; “(Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

    Sudah jelas bahwa dalam suatu ekosistem maupun populasi makhluk memiliki etika dalam memanusiakan manusia. Sepertihalnya studi kasus empiris yang pernah dialami oleh rekan-rekanita kuripansari (sebut saja Rizkillah, Yusril, Nanang, Alpindang, Hendra, Hasan, Lelly, Dian, Jihan, Intan, Nopret, dsb). Mereka merupakan salah satu kader yang pernah merasakan dinamika naik turunnya tangga, mulai dari cibiran konyol, motifatif, menjatuhkan, dan lebihparahnya khianat dari teman sejawat. Hal tersebut bukan malah menurunkan muru’ah mereka, melainkan sebaliknya derajat mereka mulai dapat sorotan. Saya yakin itu masih permulaan.

    PERADABAN SINGKAT
    Sentiment pun disikapi dalam memandang orang yang takpunya bakat lebih atas dirinya, padahal segala bentuk bakat organisingnya timbul dari belajar bersama kawan sejawat organisasi. Kemudian pertentangan keluarga, hal fatal ini timbul boleh jadi setelah ataupun sebelum dua hal sebelumnya muncul, sejatinya organisasi memang sangat penting untuk belajar bersosial dan beradaptasi hablu minan nash, namun realitanya keluarga sendiri mangkrak tak terpedulikan kemakmurannya, tidak mungkinah suatu pelajar akan belajar secara intens dan absolute, pada akhirnya nanti akan jelas bahwa segalanya akan kembali kepada keluarga.

    Sudah kian 31 bulan telah mereka lalui sebagai pelajar Nahdliyyin, terhitung semenjak dideklarasikannya IPNU-IPPNU tahun 2018, kini sudah waktunya melahirkan generasi neo. Neo disini dimaksud bahwa pembaharu zaman-zaman adalah kader baru, yang dimana kader terbentuk ini nantinya akan membina rumah tangga baru di dalam masyarakat majemuk. Kita tahu pula bahwa masyarakat majemuk Kuripansari yang notabenenya terdiri dari 6 dusun yang tiap dusunnya punya karakteristik istimewa.

    Katakanlah dusun Sumbergayam yang sebenarnya semangat mengadakan kegiatan, hanya saja terkendala dengan gesekan wacana tetanggan. Keduanya ialah Kandangan, amat semangat kader putrinya jika dibandingkan dengan pelajar puteranya, kita tahu juga bahwa di Kandangan pula hari inilah yang memiliki top global kader terbanyak se Kuripansari, wajar saja secara kuantitas jumlah KK di sana memang paling banyak di Kelurahan. Hanya saja terkendala transport dan geografi yang kurang mendukung di pelbagai kegiatan. Kedungpeluk adalah ketiganya, yang merupakan dusun tersering mendapatkan sorotan struktural, sebut saja IYA. Memang kebiasaan santri selalu melakat di dusun ini, sehingga sejarah mencatat kampung ini sebagai kampong yang nyantrik dan fanatic agama, (dulu).

    Barangkali sekarang beda, walaupun beberapa sumber suara burung menerangkan bahwa muharrik NU mayoritas lahir di dusun tersebut. Lanjut ke Kahuripan atau biasa dipanggil Kuripan, dusun yang menjadi pusat kajian dan kegiatan ini ternyata masih belum masuk kategori kader tanak, jika dibandingkan dengan dusun yang lain, dusun ini hanya memiliki 3 kader militan dan receh. Hebatnya di dusun Kuripanlah yang mengalami gerakan besar dalam pengelolaan event ranting.

    Untuk panjunan dan binatur, sengaja tak memberikan kesan, karna bagian ini kami rasa kurang dari pelbagai macam aspek. Untuk memangkas fenomena antropologi ini perlu berjilid-jilid memerhatikan esensinya. Esensi ialah suatu hakikat hal yang pokok dalam disiplin ilmu filsafat. Esensi yang dimaksud yakni segala bentuk kejadian manusia ataupun kausa manusia dalam menjalani hidup selalu memiliki motif, disitulah motif akan terbentuk dengan komoditas masing-masing individu pelajar Nahdliyyin, baik horizontal maupun vertikal.

    EFEKTIFITAS TEORI
    Banyak masyarakat yang tahu bahwa 2020 ini merupakan catatan besar revolusi sejarah dari modern menuju post modern. Sehingga mengusung pula perubahan pola gerakan organisasi di pelbagai klaster masyarakat. Sebagai contoh IPNU IPPNU di massa berdirinya tahun 1954 dan 1955, kala itu organisasi yang pro kontra dengan kader lanjutan masyumi dan beberapa ormas lainnya mengalami dilematis akut. Antara memposisikan sebagai santri pengabdi ataupun santri pembela, lambat laun mengalami perubahan mulai nama dan ditambah lagi sisi administrasinya (lihat sejarah perkembangan IPNU-IPPNU), pun diperkukuh demi kesatuan ideologi “nderek kiyahi”. Sehingga sampai detik ini saya yakin bahwa kelemahan organisasi santri kolektif dan kompetitif ini dapat ditutupi dengan teori Clifford Greetz.

    Dalam bukunya Daniel L. Pals, Greetz menceritakan bahwa kebutuhan organisasi religi abad 20 kemarin terlalu fokus pada peletakkan posisi organisasi diantara teoritikus yang dibahas dalam karangan budaya spiritual, sehingga menurut pandangan masyarakat majemuk, organisasi ini terlalu kolot dan tak bermartabat dihadapan bangsa pemeluk Pancasila. Sebagai solusinya pemuka ataupun pegiat ormas ini harus menawarkan konsepsi sebagai tokoh antropologi interpretative di abad 21.

    Sedang menurut Emil Durkheim, jika berbicara soal religi basis masa lebih tepat mensubordinasikan religi hanya sebatas “implikasi logis” dari terciptanya struktur masyarakat. Senada dengan hal itu Karl Marx menjastifikasi madzab atau kepercayaan hari ini menjadi kaca mata kuda bagi para pecandu pengikutnya.
    Titik tolak aksipoma (pernyataan yang diterima tanpa bukti) seseorang yang memposisikan teori organisasi adalah dengan menempatkan karya-karyanya dibarengi dengan aktualisasi logis. Karena adanya pemikiran primitif menimbulkan rangsangan ekstase pada kebutuhannya akan candu organisasi. Sedang kebutuhan teori haruslah tetap konsisten dengan instruksi hierarkis masing-masing organisasi, sepertihalnya efektifitas PR Kuripansari menahan problematika atasnya (PAC dst). Lain daripada hal itu, dilihat dari argumentasi alumni tak selalu dapat dianggap sebagai kegagalan, hanya saja dari sudut pandang ini akan menimbulkan paradigma pembanding untuk kekayaan dinamika organisasi.

    KONKLUSI
    Sebagai seorang pengamat organisasi Nahdliyyin yang baik, seharusnya seorang kader lebih mendahulukan toleransi, dan meninggalkan obyektifitas lingkup keluarga. Seperti ujar Abdur Rahman Wahid dalam skripsi Wahyu Setiawan (mhs. UIN Lampung/pengamat pemikiran Gus Dur), yakni segi-segi toleransi meliputi; 1) mengakui hak setiap orang, 2) saling menghormati keyakinan setiap orang, 3) agree in disagreement “setuju dalam perbedaan”, 4) saling mengerti dalam pelbagai kondisi sosial. Hal ini dapat diterapkan di ormas basis religi “IPNU-IPPNU”, sebab nilai tasammuh (toleransi) yang dibawa dapat mendorong potensi basis massa dan mensublim cibiran akut sosial.(rizkillah ipnu pacet)