Kategori: Religius

berita yang fokus pada aspek keagamaan, seperti ajaran agama, praktik keagamaan, perkembangan dalam komunitas keagamaan, dan isu-isu terkait keagamaan. Berita ini dapat mencakup liputan tentang acara keagamaan, ceramah agama, perayaan agama, dan pandangan agama terhadap isu-isu kontemporer. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi yang mendalam dan mendukung pemahaman yang lebih baik tentang aspek keagamaan dalam masyarakat.

  • Iman dan Kesalehan Mematangkan Kepribadian

    Iman dan Kesalehan Mematangkan Kepribadian

    إنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفرهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنُعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللّه فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِل فَلاَ هَادِي لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إلاّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ والصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى حَبِيْبِنَا وَحَبِيْبِ رَبِّ العالمَيْنَ إمامِ المتقين وقَائدِ الغُرِّ المُحَجَّلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وأنصاره وأحْبَابِه وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمّا بَعْدُ».

    فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
    يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    KHUTBAH I

    Jamaah Jum’at rahimakumullah

    Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah banyak mengaruniai kita rahmat dan nikmat-Nya. Terutama nikmat iman, islam dan ihsan. Shalawat beserta salam marilah sama-sama kita haturkan kepada manusia terbaik, suri tauladan kita, Nabi Muhammad saw. Juga kepada seluruh keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh pengikut setianya hingga akhir zaman. Semoga kelak kita termasuk dari pengikutnya yang mendapatkan syafaat baginda Rasulullah saw.

    Waktu merupakan sebuah karunia Allah Swt yang diberikan kepada hamba-Nya. Setiap insan diberikan waktu masing-masing. Sejatinya semua kita hanya memiliki waktu terbatas di dunia. Maka beruntunglah orang yang mampu mengatur waktunya dengan baik. Waktu yang dipakai untuk menambah keimanan dan kesalehan akan mengantar kepada ridha Allah Swt. Firman Allah Ta’ala dalam Alquran,

    إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ يَهۡدِيهِمۡ رَبُّهُم بِإِيمَٰنِهِمۡۖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. Yunus : 9)

    Mendapat petunjuk Allah Swt tentu ditandai dengan adanya proses menuju kepada sesuatu yang lebih baik. Dari kelemahan menjadi kekuatan. Selanjutnya menjadi kematangan. Khususnya dalam kepribadian. Semakin saleh dan matang pribadi seseorang bisa terlihat salah satunya dari pengakuan dan kebanggaannya sebagai muslim. Bangga dengan jati dirinya yang merupakan seorang agen kebaikan risalah Islam.

    Jamaah jum’at rahimakumullah

    Di antara tanda kematangan diri seseorang selain bangga sebagai muslim adalah ia senang dan betah hidup dalam suasana berjamaah. Dengan bekal keimanan, hatinya selalu terpaut dengan masjid. Ia menjadi Ahlul Masajid. Aktif dalam banyak kegiatan yang menghidupkan masjid. Mulai dari shalat berjamaah atau hingga menjadi bagian pengurus masjid.

    Dalam hadits, Nabi Muhammad saw menjelaskan,

    إِذا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ المَسَاجِد فاشْهدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ

    “Apabila kalian melihat seseorang rajin ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia orang beriman” (HR Tirmidzi).

    Maka, apabila seseorang ingin masuk ke level mukmin, ia harus berlatih supaya menjadi Ahlul Masajid. Pribadi yang selalu terpaut dengan masjid itu menghadirkan sosok yang senantiasa menjadi sumber keamanan dan kenyamanan. Sebagaimana hadits  rasulullah saw yang dikutip oleh Imam Ahmad dalam musnad beliau,

    المُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاس

    “Seorang mukmin itu adalah yang mampu memberikan keamanan di masyarakat”  (HR Ahmad)

    Itulah poin penting dari pribadi yang senantiasa dekat dengan masjid. Ia menjadi sumber keamanan dan kenyamanan. Ia mampu menjaga kondusivitas di lingkungannya. Baik di dalam maupun di luar masjid. Sebab ia tahu dan paham bahwa fungsi utama masjid adalah untuk sujud. Nyaman di dalam masjid dan aman di luar masjid.

    Jamaah jum’at rahimakumullah

    Seorang mukmin adalah orang yang bisa menjamin keamanan dan kenyamanan manusia sekitarnya. Yaitu selamat dari perbuatan lisan dan tangannya. Kemudian seiring perjalanan waktu, iman dan amal saleh akan senantiasa bertumbuh dan mendorong pribadi tersebut. Menguatkan sosok pribadi dan menjadikannya selektif. Sebab orang yang bertakwa adalah orang yang selektif. Ia mampu menghindari apa yang umumnya tidak mampu dihindari manusia. Bagi orang yang bertakwa, selektif dalam beramal adalah satu keharusan.

    Meskipun di mata awam orang yang bertakwa akan terlihat berbeda dan tidak jarang akan dicap aneh atau tidak gaul karena tidak mengikuti tren disebabkan selektifitas nilai yang dipegangnya. Sebab yang menjadi standar dan pertimbangan orang bertakwa adalah nilai kemanfaatan dan ridha Allah. Semakin kuat ketakwaan seseorang maka akan semakin tinggi selektifitasnya. Sebab pada satu sisi, selektif pada hal yang tidak maslahat atau negatif akan memberikan energi untuk hal-hal yang bernilai positif. Tenaga yang dimilikinya akan diarahkan untuk melakukan sesuatu yang baik dan positif.

    Jamaah jum’at rahimakumullah

    Dengan terus mengasah sikap selektif, kita dapat menjadi pribadi yang Ihsan. Keimanan dan ketakwaan akan terus meningkat lagi. Diri kita akan lebih condong pada kebaikan. Rasa empati kita akan juga semakin meningkat. Itulah Ihsan. Gambaran sederhana dari ihsan adalah ketika seseorang bersikap minus atau kurang baik,  kita membalasnya dengan perlakuan yang plus atau baik. Apalagi jika seseorang memperlakukan kita dengan baik, orang yang ihsan pasti akan membalasnya dengan yang lebih baik lagi. Sebagimana firman Allah SWT dalam Alquran,

    وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ

    Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. (QS. Fussilat : 34)

    Dengan sikap ihsan, akan tercipta lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif. Dalam mencapai derajat Ihsan tentu butuh kesabaran.

    وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيْمٍ

    (Sifat itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar (QS. Fussilat: 35)

    Dari ayat diatas kita dapat mengerti bahwa ihsan ditopang dengan kesabaran. Balasan kesabaran tentu saja tak terhingga. Tidak semata di dunia namun juga kelak di akhirat.

    إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ 

    Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas” (QS az-Zumar: 10)

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ تِلاَوَتَه فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحِين إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. واسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. 

    KHUTBAH II

     اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، أَمَّا بَعْدُ،

    فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

     اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ

    اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وشَمَاتة الأعْداَء وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً،

    اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

    عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ الْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر   

    Penulis : KH. Dr.Surahman Hidayat, MA

  • Penulis Qasidah Sa’duna Fiddunya yang Menginspirasi

    Penulis Qasidah Sa’duna Fiddunya yang Menginspirasi

    wp.sorbansantri.com – Pasca wafatnya Syaikhina Maimun Zubair, Qasidah Sa’duna Fiddunya mendadak viral dan disenandungkan di berbagai majelis. Qasidah kesukaan Mbah Mun ini bahkan ramai di-cover di YouTube, termasuk oleh Nissa Sabyan. Meski banyak yang mengira bahwa qasidah ini adalah karangan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki atau Mbah Mun sendiri, faktanya penulis asli qasidah ini adalah Al-Habib Ahmad Bin Muhammad Al-Muhdhor dari Hadhramaut.

    Habib Ahmad adalah ayah dari Habib Muhammad Al-Muhdhor Bondowoso, seorang wali besar yang wajahnya dikatakan mirip dengan Baginda Rasulullah Saw. Habib Muhammad dimakamkan di Qubah Ampel, Surabaya, dan dikenal sebagai sosok yang sangat dihormati.

    Habib Ahmad Al-Muhdhor dikenal sebagai ulama yang memiliki ikatan luar biasa erat dengan Al-Quran. Beliau telah menghafal Al-Quran sebelum usia tujuh tahun dan berhasil menghatamkan Al-Quran sebanyak 8000 kali selama hidupnya. Inspirasi ini datang dari biografi Robi’ah Adawiyah, seorang wali wanita yang mencapai 7000 hataman. Beliau termotivasi untuk melebihi pencapaian Robi’ah dengan berkata, “Aku tidak mau kalah oleh seorang wanita.”

    Habib Ahmad juga memiliki kecintaan yang luar biasa kepada Sayyidah Khodijah. Salah satu kejadian terkenal adalah ketika beliau menampar khotib di Mekkah yang memanjangkan khutbah dan memendekkan sholat, melanggar sunnah Rasulullah Saw. Setelah kejadian ini, beliau melarikan diri ke pemakaman Ma’la dan diselamatkan secara ajaib oleh Sayyidah Khodijah.

    Kecintaan Habib Ahmad kepada Sayyidah Khodijah juga terlihat dalam acara tahunan Haul Sayyidah Khodijah yang beliau adakan, dikenal sebagai “Ihda Asyariah”. Warisan qasidah dan kecintaannya terus menginspirasi banyak orang, termasuk ulama besar seperti Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki dan Syaikhina Maimun Zubair.

    Kisah hidup Habib Ahmad penuh dengan keajaiban, humor, dan cinta sejati yang dituangkan dalam bait-bait qasidahnya. Hingga saat ini, qasidah beliau seperti Sa’duna Fiddunya masih terus dibaca dan menginspirasi banyak orang, membuktikan bahwa kekuatan cinta adalah kekuatan sejati yang abadi.

    PENA MAJELIS ILMU HABIB’NA MAKASSAR

  • Kembalilah pada Khittah: Mengapa Kita Harus Menghormati Fatwa Mu’tamar Situbondo 1984

    Kembalilah pada Khittah: Mengapa Kita Harus Menghormati Fatwa Mu’tamar Situbondo 1984

    wp.sorbansantri.com Situbondo, 1984 – Di tengah gegap gempita suasana Mu’tamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27, lahirlah sebuah keputusan besar yang mengubah arah organisasi. Para ulama besar dengan penuh ketulusan dan hati nurani yang bersih sepakat untuk mengembalikan NU ke Khittah 1926, melepaskan diri dari politik praktis demi menjaga murninya perjuangan agama dan kemasyarakatan.

    Namun, kini pada tahun 2024, kita menyaksikan sesuatu yang menyayat hati. Para pengurus NU secara terang-terangan mendeklarasikan dukungan politik. Lebih menyedihkan lagi, tindakan ini dipimpin oleh seseorang yang mengaku sebagai dzurriyah pendiri NU. Mereka, yang seharusnya menjadi penjaga warisan leluhur, justru mengkhianati amanat suci tersebut.

    SORBANSANTRI.COM
    Gus Dur – KH Ahmad Shiddiq – KH Asad Syamsul Arifin.png

    Fatwa Mu’tamar ke-27 menegaskan bahwa NU harus berdiri di atas segala golongan, bebas dari kepentingan politik praktis. Fatwa ini bukanlah sekadar dokumen, melainkan pesan dari hati para pendiri NU yang berharap agar kita tetap teguh pada jalan yang benar, tanpa terjebak dalam pusaran politik yang bisa mengaburkan misi suci kita.

    Sebagai warga Nahdliyin, mari kita renungkan dengan hati yang jernih. Apakah kita akan mengingkari fatwa para muassis yang telah memberikan segalanya untuk NU? Ataukah kita akan terbuai oleh pendatang baru yang mengingkari Khittah yang telah ditetapkan dengan penuh perjuangan dan doa?

    Tanyakan pada hati nurani kita masing-masing. Apakah kita mau menghormati warisan para pendiri atau justru menghancurkannya demi kepentingan sesaat? Kembali ke Khittah bukan hanya tentang mengikuti aturan, tetapi juga tentang menjaga kehormatan dan keluhuran nilai-nilai yang telah diwariskan kepada kita.

    Mari, dengan segenap hati dan jiwa, kita kembalikan NU pada jalur yang benar. Kita jaga amanat para pendiri dan teruskan perjuangan mereka dengan tulus dan ikhlas. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan keberkahan untuk tetap istiqamah di jalan yang diridhoi-Nya. (AI Sorban)

  • Ijazah Rais ‘Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar (DOA QUNUT NAZILAH) untuk mendoakan warga Palestina

    Ijazah Rais ‘Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar (DOA QUNUT NAZILAH) untuk mendoakan warga Palestina

    اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ، وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، نَشْكُرُكَ وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللّٰهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ إِخْوَانَنَا اْلمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، خُصُوْصًا فِيْ غَزَّةَ، وَاحْقِنْ دِمَائَهُمْ. اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ، الصُهْيُوْنِيِّيْنَ الْمَلْعُوْنِيْنَ، وأَنْزِلْ غَضَبَكَ عَلَيْهِمْ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Allâhumma innâ nasta‘înuka wa nastaghfiruka wa nastahdîka wa nu’minu bika wa natawakkalu ‘alayka wa nutsnî ‘alaykal khayra kullahu, nasykuruka wa la nakfuruka wa nakhla‘u wa natruku may yafjuruka. Allâhumma iyyaka na‘budu wa laka nushallî wa nasjudu wa ilayka nas‘â wa naḫfidu, narjû raḫmataka wa nakhsyâ ‘adzâbaka, inna ‘adzâbakal jidda bil kuffâri mulḫiqun. Allâhumma tsabbit ikhwânanal mujâhidîna fi Filistin, khusushan fi Ghazzah, waḫqin dimâ’ahum. Allâhumma ‘alayka bil Yahûd, ash-shuhyûniyyîna, al-mal‘ûnîna, wa anzil ghadhabaka ‘alayhim. Allâhumma-nshur dînaka wa kitâbaka wa sunnata nabiyyika Muḫammadin shallallûhu ‘alayhi wa sallam.

    Artinya, “Ya Allah, kami memohon pertolongan-Mu, kami memohon ampunan-Mu, kami memohon petunjuk-Mu, kami beriman kepada-Mu, kami bertawakal kepada-Mu, kami memuji-Mu dengan segala kebaikan, kami bersyukur kepada-Mu dan tidak kufur kepada-Mu. Kami berlepas diri dan meninggalkan orang yang mendurhakai-Mu. Ya Allah, kepada-Mu kami menghamba, kepada-Mu kami berdoa dan bersujud, kepada-Mu kami berusaha dan bergegas. Kami mengharap rahmat-Mu, dan kami takut akan siksa-Mu. Sesungguhnya azab-Mu yang berat melekat pada orang-orang kafir. Ya Allah, kuatkanlah saudara-saudara mujahidin kami di Palestina, khususnya di Gaza, dan jagalah darah mereka. Ya Tuhan, hukumlah orang-orang Yahudi Zionis yang terkutuk, dan turunkan murka-Mu kepada mereka. Ya Tuhan, dukunglah agamamu, kitabmu, dan sunnah Nabi-Mu, Muhammad—semoga Allah melimpahkan rahmat pengagungan dan memberi kedamaian kepada beliau.”

    اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

    Allâhummanshuril muslimînal mustadl‘afîna fî kulli makân(i). Allâhumma-rḫamil mustadh‘afîna min ‘ibâdik(a). Allâhummaksyifil ghummah ‘an ummatina. Allâhumma innâ nas’aluka an tarfa‘al balâ-a ‘an Ghazzah wa ahliha, wa an tanshurahum ‘alâ ‘aduwwihim, wa an tarḫamal mustadl‘afîna min ‘ibâdika, wa an taksyifal ghummah ‘an ummatinâ. Allâhumma ‘âfina walthuf binâ waḫfadhnâ wanshurnâ wa farrij ‘annâ wal muslimîn(a). Allâhummakfinâ wa iyyâhum jamî‘an syarra mashâ-ibid dun-yâ wad dîn(i)

    Artinya, “Ya Allah, bantulah umat Islam yang tertindas di mana pun. Ya Allah, kasihanilah orang-orang yang tertindas di antara hamba-hamba-Mu. Ya Tuhan, hilangkan duka dari umat kami. Ya Allah, kami mohon agar Engkau mengangkat bencana dari Gaza dan rakyatnya, memberi mereka kemenangan atas musuh mereka, mengampuni mereka yang tertindas di antara hamba-hamba-Mu, dan semoga duka disingkirkan dari bangsa kami. Ya Allah, berilah kami kesehatan, berbaik hatilah kepada kami, lindungi kami, dukung kami, dan bebaskan kami begitu juga kaum muslimin. Ya Allah, lindungilah kami dan mereka semua dari kejahatan musibah dunia dan agama.”

    اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ مَنْ فِيْ صَلَاحِهِ صَلاَحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ لاَ تُهْلِكْنَا وَأَهْلِكْ مَنْ فِيْ هَلَاكِهِ صَلاَحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَالرَّحْمَةَ مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَافِيَةِ وَالْبَرَكَةِ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُوْمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ وَاصْرِفْ عَنَّا وَعَنِ الْمُسْلِمِيْنَ الْأَذَى وَالْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْقَحْطَ وَالْحُمَّى وَالْجَدْبَ وَالْجَوْرَ وَالظُّلْمَ وَجَمِيْعَ أَنْوَاعِ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ وَالْأَمْرَاضِ وَالْأَسْقَامِ وَالشَّدَائِدِ وَالزَّيْغِ وَالضَّلَالِ وَالزَّلَازِلِ وَالرِّيْحِ وَالْجَهْلِ وَالْبَلَاءِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وأَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ وَالْمَنْكُوْبِيْنَ وَالْمَكْرُوْبِيْنَ وَالْمَظْلُوْمِيْنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاكْلَأْهُمْ وَصُنْهُمْ وَتَوَلَّهُمْ وَارْعَهُمْ وَأَلْهِمْهُمْ رُشْدَهُمْ، وَوَفِّقْنَا وَإِيَّاهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَالْطُفْ بِنَا وَبِهِمْ فِيْ مَا يَجْرِيْ بِهِ الْقَضَاءُ، وَاصْرِفْ وَادْفَعْ وَأَبْعِدْ وَأَزِلْ عَنَّا وَعَنْهُمْ شَرَّ الطَّاغِيْنَ وَالْبَاغِيْنَ وَالظَّالِمِيْنَ وَالْمُعْتَدِيْنَ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَالْمُؤْذِيْنَ وَالْعَائِنِيْنَ وَالسَّاحِرِيْنَ بِمَا شِئْتَ عَاجِلاً غَيْرَ اٰجِلٍ فِيْ عَافِيَةٍ وَسَلَامَةٍ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    Allâhumma ashliḫnâ wa ashliḫ man fî shalâḫihi shalâḫul muslimîn(a). Allâhumma lâ tuhliknâ wa ahlik man fî halâkihi shalaḫul muslimîn(a). Allâhumma-sqinal ghaytsa war raḫmata ma‘al luthfi wal ‘âfiyati wal barakati wa lâ taj‘alnâ minal maḫrumin. Allâhummarfa’ washrif ‘annâ wa ‘anil muslimînal adzâ wal ghalâ-a wal balâ-a wal qaḫtha wal ḫumma wal jadba wal jawra wadh dhulma wa jamî‘a anwâ‘il fitani wal miḫani wal amrâdhi wal asqâmi wasy-syadâ-idi wazzayghi wadl dlalâli waz zalâzili war rîḫi wal jahli wal balâ-i mâ dhahara minhâ wa mâ bathana. Wa anjil mustadh‘afîna wal mankûbîna wal makrûbîna wal madhlûmîna minal muslimîna wakla’hum washunhum wa tawallahum war‘ahum wa alhimhum rusydahum wa waffiqnâ wa iyyahum limâ tuḫibbu wa tardlâ, wal-thuf binâ wa bihim fî mâ yajrî bihil qadhâ-u, washrif wadfa’ wa ab‘id wa azil ‘annâ wa ‘anhum syarrath thâghîna wal bâghîna wadh dhâlimîna wal mu‘tadîna wal mufsidîna wal mu’dzîna wal ‘â-inîna was sâḫirîna bimâ syi’ta ‘âjilan ghayra âjilin fî ‘âfiyatin wa salâmatin biraḫmatika yâ arḫamarrâḫimîna.

    Artinya, “Ya Allah perbaikilah kami dan perbaiki orang-orang yang dalam kebaikannya ada kebaikan kaum muslimin. Ya Allah, jangan hancurkan kami dan hancurkan siapa pun yang pada kehancurannya ada kebaikan kaum muslimin. Ya Allah, limpahkanlah kami hujan dan rahmat, kebaikan, kesehatan, dan keberkahan, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang terhalang. Ya Allah, angkatlah dan jauhkan dari kami dan kaum muslimin mara bahaya, bala, kesengsaraan, kekeringan, demam, kemandulan, kezaliman, kejahatan, dan segala macam bencana dan kesengsaraan, penyakit, kesakitan, kemalangan, penyimpangan, kesesatan, gempa bumi, angin yang merusak, kebodohan, dan kesengsaraan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Tolonglah umat Islam yang tertindas, dijahati, dipersulit, dan dizalimi. Lindungilah mereka, jagalah mereka, dukung mereka, peliharalah mereka, dan ilhamilah mereka petunjuk. Tuntunlah kami dan mereka kepada apa yang Engkau sukai dan ridhai, lembutlah kepada kami dan mereka pada apa yang Engkau putuskan. Jauhkan, hindarkan serta hilangkan kami dari keburukan orang-orang zalim yang suka melanggar dan menindas, juga orang-orang yang menyerang, merusak, menyakiti, beserta para penolong mereka dan tukang sihirnya sesuai apa saja yang Engkau kehendaki, secepatnya tanpa penundaan, dalam keadaan sehat dan selamat dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

    Editor: Patoni

    Penulis: Muhammad Syakir NF

  • Ketua PC GP Ansor Sidoarjo Hadiri RAKER II PAC Buduran di Pacet Mojokerto

    Ketua PC GP Ansor Sidoarjo Hadiri RAKER II PAC Buduran di Pacet Mojokerto

    Sorbansantri.com – Sabtu, 18 Mei 2024, Ketua PC GP Ansor Sidoarjo, H. Rizza Ali Faizin, menghadiri Rapat Kerja (RAKER) II PAC GP Ansor Buduran yang diselenggarakan di Villa Green Peace, Pacet, Mojokerto. Kehadiran H. Rizza Ali Faizin memberikan semangat dan motivasi kepada para anggota Ansor yang hadir dalam acara tersebut.

    Dalam sambutannya, H. Rizza Ali Faizin menekankan pentingnya peran GP Ansor sebagai organisasi yang tidak hanya berbasis keagamaan, tetapi juga bergerak di bidang sosial. “Ansor merupakan organisasi yang tidak hanya berbasis keagamaan, namun juga merupakan organisasi yang bergerak di bidang sosial. Jadi, saya harap kegiatan-kegiatan Ansor harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar beliau.

    H. Rizza Ali Faizin juga berharap agar RAKER II ini dapat menghasilkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam memajukan GP Ansor di Kecamatan Buduran. “Semoga raker ini menghasilkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama bisa memajukan GP Ansor di Kecamatan Buduran,” tambahnya.

    Acara RAKER II PAC GP Ansor Buduran ini diharapkan menjadi momentum penting dalam merumuskan program kerja yang inovatif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, GP Ansor dapat terus berkontribusi secara positif dalam pembangunan sosial dan keagamaan di Kabupaten Sidoarjo. (AI Sorban)


  • Mukibul Pura-Pura Lupa Pada Sejarah

    Mukibul Pura-Pura Lupa Pada Sejarah

    Mojokerto, SorbanSantri.com – Sejarah mencatat bahwa awal kemerdekaan Indonesia diwarnai oleh berbagai perjuangan dan pengkhianatan. Salah satunya adalah kisah Muso Al-Musawwa Klan Balawi, seorang habib yang mengajarkan ideologi komunisme. Muso, yang terinspirasi oleh ideologi komunisme dari Yaman, terlibat dalam pembunuhan Gubernur pertama Jawa Timur, Suryo. TNI akhirnya menumpas Muso dan komplotannya, membakar mereka hidup-hidup di Alun-alun Purworejo.

    Tragedi ini seharusnya menjadi pelajaran penting bahwa rakyat Indonesia hanya menginginkan Pancasila sebagai dasar negara. Namun, ketika Muso menyebarkan komunisme, mengapa Rabithah Alawiyah (RA) tidak memperingatkannya? Pertanyaan ini kembali mengemuka ketika sejarah berulang di tahun 1965 dengan tokoh Achmad Ja’far Al-Aidid atau D.N. Aidit, serta para habaib lainnya yang memperjuangkan sistem komunisme di Indonesia. Mereka juga berakhir tragis, seperti Aidit yang ditembak mati di Boyolali.

    Tidak hanya pada masa awal kemerdekaan, propaganda radikal kembali muncul. Rizieq Shihab, misalnya, mempengaruhi umat Islam di Indonesia untuk mendukung ISIS. Namun, RA tidak mengambil tindakan tegas untuk memperingatkannya. Demikian pula pada tahun 2012, ketika keterlibatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam Front Pembela Islam (FPI) terjadi, RA dan habaib lainnya tidak melakukan pencegahan yang diperlukan.

    Laman: 1 2

  • PENJELASAN SINGKAT TENTANG 4 DASAR/DALIL ISLAM AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH (NU)

    PENJELASAN SINGKAT TENTANG 4 DASAR/DALIL ISLAM AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH (NU)

    wp.sorbansantri.com – Ahlussunah wal Jamaah, atau yang sering dikenal sebagai Nahdlatul Ulama (NU), memiliki empat dasar atau dalil yang menjadi pedoman dalam menetapkan hukum-hukum Islam. Empat dasar ini adalah Al-Qur’an, Hadits, Ijma’, dan Qiyas. Berikut penjelasan singkat mengenai masing-masing dasar tersebut: Cara penetapan hukum yang mengacu pada dalil seperti Ijma’ dan Qiyas juga dapat ditemukan dalam sistem verifikasi transparan yang digunakan oleh bitcoin casinos untuk memastikan keadilan dan kepercayaan pengguna.

    1. Al-Qur’an:
      Al-Qur’an adalah firman Allah yang menjadi petunjuk hidup bagi umat manusia. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril untuk diajarkan kepada umatnya. Sebagai sumber utama hukum Islam, Al-Qur’an memberikan panduan yang jelas dan lengkap untuk berbagai aspek kehidupan.
    2. Hadits:
      Hadits adalah perkataan, perbuatan, dan penetapan dari Nabi Muhammad SAW. Hadits berfungsi sebagai penjelas dan pelengkap Al-Qur’an. Melalui hadits, umat Islam dapat memahami lebih dalam mengenai cara-cara menjalankan ajaran Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
    3. Ijma’:
      Ijma’ adalah konsensus atau kesepakatan dari para ulama. Dalam hal ini, ijma’ merujuk pada kesepakatan empat imam besar dalam fiqh: Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali. Ijma’ digunakan untuk menetapkan hukum-hukum yang tidak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits.
    4. Qiyas:
      Qiyas adalah analogi atau menyamakan hukumnya sesuatu yang tidak ada dalam nash (teks) Al-Qur’an dan Hadits dengan hukum sesuatu yang sudah tercantum dalam nash tersebut. Qiyas digunakan untuk menerapkan hukum pada masalah-masalah baru yang tidak ditemukan secara langsung dalam Al-Qur’an dan Hadits.

    Cara Penetapan Hukum:

    1. Al-Qur’an sebagai Sumber Utama:
      Jika suatu hukum dapat ditemukan dalam Al-Qur’an, maka hukum tersebut langsung diambil dari Al-Qur’an.
    2. Hadits sebagai Sumber Kedua:
      Jika suatu hukum tidak ditemukan dalam Al-Qur’an, maka beralih ke Hadits. Contohnya, Al-Qur’an menyuruh shalat, tetapi tidak menjelaskan jumlah shalat yang harus dilakukan sehari semalam. Maka, kita beralih ke Hadits yang menjelaskan hal tersebut, yaitu shalat lima kali sehari semalam.
    3. Ijma’ sebagai Sumber Ketiga:
      Jika dalam Hadits tidak ditemukan penjelasan yang dibutuhkan, maka beralih ke Ijma’ ulama. Misalnya, cara atau praktik shalat yang spesifik ditetapkan melalui ijma’ ulama empat mazhab. Tanpa ijma’ ulama, umat Islam tidak akan bisa mempraktekkan shalat dengan benar.
    4. Qiyas sebagai Sumber Terakhir:
      Jika tidak ditemukan dalam Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’ ulama, maka beralih ke Qiyas. Qiyas digunakan untuk menyamakan hukum sesuatu yang tidak tercantum dalam nash Al-Qur’an dan Hadits dengan hukum yang sudah tercantum dalam nash tersebut. Contoh Qiyas:
    • Al-Qur’an mengharamkan membentak orang tua. Namun, hukum menjotos orang tua tidak disebutkan secara eksplisit. Maka, haramnya menjotos orang tua disamakan dengan haramnya membentak orang tua yang tercantum dalam nash Al-Qur’an.
    • Hukum haramnya minum sabu-sabu tidak tercantum dalam nash Al-Qur’an. Namun, haramnya minum sabu-sabu disamakan dengan haramnya minum khamr (sesuatu yang memabukkan) yang sudah tercantum dalam nash Al-Qur’an.

    Oleh: Tim SorbanSantri.com


  • SELAPANAN: TRADISI PINISEPUH MENJAGA SILATURAHMI

    SELAPANAN: TRADISI PINISEPUH MENJAGA SILATURAHMI

    wp.sorbansantri.com – Diantara cara yang digunakan para pinisepuh untuk menjaga silaturahmi dengan sanak saudara dan sahabat adalah dengan mengadakan pertemuan “Selapanan”. Selapanan ini biasanya diadakan secara bergilir dari satu rumah keluarga ke rumah keluarga lain setiap selapan ndina sekali. Misalnya, malam ini Jum’at Wage di rumah Kang Solikin, maka Jum’at Wage berikutnya (35 hari kemudian) akan digelar di rumah saudara yang lain. Hal ini dilakukan dengan perhitungan agar jarak waktunya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lama. Dengan begitu, sesama saudara tumbuh rasa kangen dan terhindar dari rasa bosan.

    Acara selapanan ini dikemas sederhana, ala kadarnya, dengan isi njagong biasa, saling bertukar kabar, dan guyonan. Agar acaranya lebih terarah, biasanya para tetua mengawalinya dengan doa bersama, disambung dengan Marhabanan yang membuat suasana menjadi regeng gayeng (hangat dan meriah).

    Dengan selapanan seperti ini, biasanya kekeluargaan dan persahabatan menjadi lebih akrab dan saling srawung (bergaul). Tradisi ini bukan hanya sekedar berkumpul, tetapi juga mempererat hubungan antar keluarga dan menjaga kebersamaan yang sudah terjalin sejak lama.

    Oleh: Tim SorbanSantri.com


  • MENJAGA AKIDAH

    MENJAGA AKIDAH

    oleh (KH DR Surahman Hidayat MA) SCC Pusat

    إنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفرهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنُعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللّه فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِل فَلاَ هَادِي لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إلاّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ والصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى حَبِيْبِنَا وَحَبِيْبِ رَبِّ العالمَيْنَ إمامِ المتقين وقَائدِ الغُرِّ المُحَجَّلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وأنصاره وأحْبَابِه وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمّا بَعْدُ».

    فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
    يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    KHUTBAH I

    Jamaah Jum’at rahimakumullah

    Alhamduillahi rabbil ‘alamin, puji dan syukur hanya milik Allah Swt yang telah memberikan banyak nikmat dan rahmat-Nya kepada kita. Terutama nikmat Iman, Islam, dan Ihsan. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan umat manusia, baginda Nabi Muhammad saw, kepada seluruh keluarga, para sahabat, serta seluruh ummatnya hingga akhir zaman.

    Di antara keistimewaan yang Allah berikan kepada umat Muhammad saw adalah umat ini dijadikan oleh Allah sebagai khairu ummah (umat terbaik) yang dihadirkan untuk memberikan maslahat kepada umat manusia. Allah befirman,

    كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ

    Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah (QS Ali Imran: 110)

    Posisi umat terbaik tersebut bukan pilihan pribadi dan bukan pula keinginan manusia. Namun merupakan pilihan dan ketetapan Allah berdasarkan hikmah dan pengetahuan-Nya. Karena itu sudah seyogyanya umat Islam bangga dan bersyukur atas posisi terhormat yang Allah berikan. Mereka harus menunjukkan identitas dan jati dirinya sebagainya umat yang terbaik dan mulia, baik dalam hal ibadah, akhlak, muamalah, dan terutama dalam hal akidah.

    Tauhid sebagai pondasi utama akidah umat harus benar-benar ditunjukkan dan dijaga dengan baik. Ia adalah bagian dari jalan Islam dan jalan yang lurus yang senantiasa menjadi satu-satunya doa dalam surat al-Fatihah yang dibaca pada setiap shalat dan berbagai kesempatan lainnya.

    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

     صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ


    “Tunjuk
    i kami jalan yang lurus, jalan orang yang Kauberi nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurka, dan bukan (jalan) mereka yang sesat” (QS. Al-Fatihah ayat 7).

    Jalan Islam atau jalan yang lurus inilah yang akan mengantarkan pada nikmat Allah yang kekal abadi. Ia adalah jalan keselamatan dan kebahagiaan. Kelurusan dan keistikamahan akidah menjadi kuncinya. Tidak boleh mengikuti jalan keyakinan kelompok lain yang dimurka atau jalan keyakinan kelompok lain yang tersesat jalan. Dengan kata lain, tidak boleh meniru, menyerupai, dan mencontoh hal-hal yang terkait dengan keyakinan dan akidah umat di luar Islam.

    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

     Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari mereka. (HR Abu Daud)

    Karena itu, umat Islam harus bangga dengan akidahnya sendiri. Salah satunya dengan memuliakan dan mengagungkan syiar-syiar dan ajaran Islam. Pasalnya, itu adalah salah satu bentuk ketakwaan dalam hati. Allah befirman,

    ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

    Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS al-Hajj: 32).

    Wujud lain dari bangga dengan akidah Islam adalah tidak menyembah dan tidak meminta kecuali kepada-Nya (iyyaka na’budu wa iyyaka na’sta’in). Dialah Tuhan dan sandaran satu-satunya. Dialah yang layak disembah dan diminta. Hanya Dia yang dapat memenuhi seluruh harapan baik hamba. Serta hanya Dia yang dapat memberikan apresiasi dan balasan terbaik kepada amal saleh manusia.

    Oleh sebab itu, beribadah, berdoa, dan bersandar harus kepada-Nya semata. Itulah yang dilakukan oleh Nabi saw. Pada saat-saat genting, di antaranya pada saat perang Badar, Nabi saw bangkit berdiri di saat malam untuk berdoa bermunajat kepada-Nya. Tiada lagi harapan dan sandaran kecuali kepada Allah Swt.

    إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

    (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS al-Anfal: 9-10).

    Demikianlah, doa dan munajat yang tulus disertai dengan ikhtiar dan ibadah yang benar akan menghasilkan pengabulan yang luar biasa. Allah memberikan kabar gembira, ketenangan sikap optimis, dan keyakinan bahwa hanya Allah yang dapat menghadirkan kemenangan meskipun dalam kondisi yang sulit dan tampak mustahil.

    Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dia Mahakuasa melakukan apa saja. Yang penting ada  keikhlasan dalam beramal ibadah, disertai dengan ikhtiar yang maksimal, serta doa dengan penuh keyakinan, dengan itu semua insya Allah Dia akan mengabulkan dan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.

    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ تَـنۡصُرُوا اللّٰهَ يَنۡصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ اَقۡدَامَكُمۡ

    Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

    Itulah janji Allah. Sangat mudah bagi Allah untuk melindungi dan menjaga bangsa ini dari kehancuran. Sangat mudah bagi Allah untuk menolong dan membela agama-Nya. Sangat mudah bagi Allah mewujudkan kemuliaan agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam mewujudkan tujuan nasional. Yang harus dilakukan oleh kita selaku umat-Nya adalah memenuhi perintah-nya, menjauhi larangan-Nya, memantaskan diri untuk mendapat janji-Nya disertai prasangka baik pada-Nya.

    أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي

    Sesungguhnya Aku berdasarkan pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku.(HR al-Bukhari)

    Semoga taufik dan inayah Allah membersamai kita semua.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ تِلاَوَتَه فِي كُلِّ وَقْتٍ وَحِين إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. واسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

    KHUTBAH II

     اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، أَمَّا بَعْدُ،

    فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

     اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

    اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ

    اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وشَمَاتة الأعْداَء وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً،

    اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

    عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ الْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

  • Mempelajari Bacaan Al-Quran dengan Tajwid yang Baik dan Benar

    Mempelajari Bacaan Al-Quran dengan Tajwid yang Baik dan Benar

    wp.sorbansantri.com – Dalam membaca Al-Quran, penting untuk melafalkan setiap huruf Arab dengan benar. Salah satu ilmu yang membantu dalam hal ini adalah ilmu tajwid. Dalam bahasa Arab, tajwid berasal dari kata “jawwada, yujawwidu, tajwiidin” yang secara harfiah memiliki makna sesuatu yang elok, indah, atau membaguskan.

    Para ulama menyatakan bahwa mempelajari ilmu tajwid hukumnya fardhu kifayah, sementara mengamalkan ilmu tajwid dalam membaca Al-Quran hukumnya fardhu ‘ain atau wajib bagi setiap Muslim yang telah dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.

    Tajwid terdiri dari berbagai hukum bacaan, antara lain:

    1. Hukum Bacaan Sukun dan Tanwin:
    • Idzhar: terdiri dari 6 huruf yaitu ا, ع, غ, ح, خ, ه. Contoh:
      • Nun mati bertemu huruf ه: “فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ”
      • Nun mati bertemu huruf ع: “بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ”
      • Nun mati bertemu huruf غ: “مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ”
      • Tanwin bertemu huruf ح: “أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ”
      • Tanwin bertemu huruf خ: “كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ”
    • Iq’lab: apabila nun mati atau tanwin bertemu huruf ب (BA’), maka bunyi nun atau tanwin berubah menjadi bunyi م (MIM).
    • Ikhfa Haqiqi: berlaku apabila huruf nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf seperti ت, ث, ج, د, ذ, ز, س, ش, ص, ض, ط, ظ, ف, ق, ك dan dibaca dengan samar.
    • Idgham Bighunnah: terdiri dari huruf ي, ن, م, و dan dibaca dengan mendengung.
    • Idgham Billagunnah: terdiri dari huruf ل, ر dan dibaca tanpa mendengung.
    1. Hukum Bacaan Mim Sukun:
    • Ikhfa Syafawi: terdiri dari huruf ب (BA’), dibaca dengan samar dan mendengung.
    • Idgham Mimi: terdiri dari huruf م (MIM), dibaca dengan melebur menjadi satu.
    • Idzhar Syafawi: terdiri dari huruf-huruf selain ب dan م, dibaca dengan jelas.
    1. Hukum Bacaan Mim Tasydid dan Nun Tasydid:
    • Mim tasydid dan nun tasydid dibaca dengan dengungan.
    1. Hukum Bacaan Lam Ta’rif:
    • Idzhar Qomariyah: terdiri dari huruf ء, ب, ج, ح, خ, ع, غ, ف, ق, ك, م, و, ه, ي dan dibaca dengan jelas.
    • Idgham Syamsiyah: terdiri dari huruf ت, ث, د, ذ, ر, ز, س, ش, ص, ض, ط, ظ, ل, ن dan dibaca seperti di-tasydid-kan atau dimasukkan ke huruf berikutnya.
    1. Hukum Qalqalah:
    • Terdiri dari huruf ب, ج, د, ط. Qalqalah dibagi menjadi dua, yaitu Qalqalah Sugra (di pertengahan kalimat) dan Qalqalah Kubra (di akhir kalimat).

    Menguasai tajwid adalah kunci untuk membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu ini, setiap Muslim dapat memperindah bacaan Al-Quran mereka dan mendapatkan pahala dari Allah SWT. (AI Sorban)